Perbandingan Jenis Pekerjaan dan Kebiasaan Merokok pada Pria

advertisement
9
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1
PENGERTIAN TUBERKULOSIS
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang
umumnya disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Meskipun dapat menyerang hampir semua organ tubuh,
namun penyakit TB lebih sering menyerang organ paru (8085%). Tuberkulosis yang menyerang organ paru disebut
tuberkulosis paru dan yang menyerang organ selain paru
disebut tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis paru dengan
hasil
pemeriksaan
sputum
menunjukkan
BTA
positif,
dikategorikan sebagai tuberkulosis paru (Depkes, 2005).
2.2
PENYEBAB TUBERKULOSIS
Penyebab
penyakit
tuberkulosis
adalah
bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Mycobacteria termasuk dalam
famili
Mycobacteriaceae
dan
termasuk
dalam
ordo
Actinomycetales. Mycobacterium tuberculosis adalah suatu
basil gram-positif tahan asam dengan pertumbuhan sangat
lamban (Tjay dan Rahardja, 2007).
9
10
2.3
CARA PENULARAN
Tuberkulosis menyebar dari orang ke orang, yaitu dari
penderita TB paru BTA positif kepada orang yang berada di
sekelilingnya, terutama kontak erat. Kuman menyebar melalui
udara dalam bentuk percikan kecil (droplet nuclei) yaitu
berupa partikel berdiameter sekitar 5 µm, setiap droplet dapat
mengundang sekitar 3 kuman. Droplet diproduksi penderita
TB paru BTA positif saat batuk, bersin, berbicara atau
menyanyi. Berbicara selama 5 menit menghasilkan sekitar
3000 droplet, menyanyi menghasilkan sekitar 3000 droplet
per menit, sedangkan bersin menghasilkan droplet lebih
banyak dan terlontar lebih jauh sehingga dapat menyebar
sampai 10 kaki (Jansen, 2005).
Kuman yang terdapat pada droplet dapat bertahan
hidup di udara pada suhu kamar selama beberapa jam dan
dapat menginfeksi orang lain apabila terhirup dan masuk ke
dalam
sistem
pernafasan.
Bahkan
bakteri
ini
dapat
mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar
getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ
tubuh lain seperti otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang,
kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak
adalah organ paru (dapat dilihat pada gambar berikut ini).
11
Gambar 2.I : Penyebaran bakteri TB
Sumber : http://www.kesimpulan.co.cc/2009/04/tuberkulosistb-paru.html
Tingkat penularan dari penderita tergantung pada
konsentrasi kuman yang dikeluarkannya. Derajat positif hasil
pemeriksaan dahak, dapat menunjukkan tingkat keparahan
penyakit, makin tinggi derajat positif makin menular penderita
tersebut (Depkes, 2005).
2.4
GEJALA-GEJALA TUBERKULOSIS
Keluhan pada penderita tuberkulosis paru dapat dibagi
menjadi gejala lokal di paru dan keluhan pada seluruh tubuh
secara umum.
12
2.4.1. Batuk
Gejala batuk timbul paling awal dan merupakan
gangguan yang paling sering dikeluhkan. Biasanya
batuknya ringan sehingga dianggap batuk biasa atau
akibat
rokok.
Proses
yang
paling
ringan
ini
menyebabkan sekret akan terkumpul pada waktu
penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun
pagi hari. Bila proses destruksi berlanjut, sekret
dikeluarkan terus-menerus sehingga batuk menjadi
lebih dalam dan sangat mengganggu penderita pada
waktu siang maupun malam hari. Bila yang terkena
trakea atau bronkus, batuk akan terdengar sangat
keras, lebih sering atau terdengar berulang-ulang
(paroksimal).
Bila
laring
yang
terserang,
batuk
terdengar sebagai hollow sounding cough, yaitu batuk
tanpa tenaga dan disertai suara serak.
2.4.2. Batuk Darah
Darah yang dkeluarkan penderita mungkin berupa
garis atau bercak-bercak darah, gumpalan-gumpalan
darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak
(profus).
Batuk
darah
jarang
merupakan
tanda
permulaan dari penyakit tuberkulosis atau initial
symptom karena batuk darah merupakan tanda telah
13
terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah
pada dinding kavitas. Batuk darah pada pemerisaan
radiologis tampak ada kelainan. Sering kali darah yang
dibatukkan pada penyakit tuberkulosis bercampur
dahak yang
mengandung basil tahan asam. Batuk
darah juga dapat terjadi pada tuberkulosis yang sudah
sembuh karena robekan jaringan paru atau darah
berasal dari bronkiektasis yang merupakan salah satu
penyulit tuberkulosis paru. Pada saat seperti ini dahak
tidak mengandung basil tahan asam (negatif).
2.4.3. Nyeri Dada
Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri
pleuritik yang ringan. Bila nyeri bertambah berat berarti
telah terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah
aksila, di ujung skapula).
2.4.4.
Sesak Napas
Sesak napas pada tuberkulosis disebabkan oleh
penyakit
yang
luas
pada
paru
atau
oleh
penggumpalan cairan di rongga pleura sebagai
komplikasi TB Paru. Penderita yang sesak napas
sering mengalami demam dan berat badan turun.
14
2.4.5. Demam
Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling
penting. Sering kali panas badan sedikit meningkat
pada siang maupun sore hari. Panas badan meningkat
atau menjadi lebih tinggi bila proses berkembang
menjadi progresif sehingga penderita merasakan
badannya hangat atau muka terasa panas.
2.4.6. Menggigil
Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat,
tetapi
tidak
diikuti
pengeluaran
panas
dengan
kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu
reaksi umum yang lebih erat.
2.4.7. Keringat Malam
Keringat malam bukan gejala yang patognomonis
untuk penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam
umumnya baru timbul bila proses telah lanjut, kecuali
pada orang-orang dengan vasomotor labil, keringat
malam dapat timbul lebih dini. Nausea, takikardi dan
sakit kepala timbul bila ada panas.
2.4.8. Anoreksia
Anoreksia yaitu tidak selera makan dan penurunan
berat badan merupakan manifestasi lebih sering
dikeluhkan bila proses progresif. Rendahnya asupan
15
makanan
yang
disebabkan
oleh
anoreksia,
menyebabkan peningkatan metabolisme energi dan
protein dan utilisasi dalam tubuh. Asupan yang tidak
kuat menimbulkan pemakaian cadangan energi tubuh
yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis
dan mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan.
2.5
PERJALANAN PENYAKIT
2.5.1. Tuberkulosis primer
Merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi
Mycobacterium tuberculosis pada pasien non-sensitif
yaitu
mereka
yang
sebelumnya
belum
pernah
terinfeksi. Pasien biasanya tanpa gejala (Rubenstein,
2008). Tuberkulosis primer sering terjadi pada anak
(Hidayat, 2006), tetapi bisa terjadi pada orang dewasa
dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti
penderita HIV, DM, orang tua, dan sebagainya (Luhur,
2008). TB paru primer dimulai dengan masuknya
Mycobacterium tuberculosis secara aerogen ke dalam
alveoli yang mempunyai tekanan oksigen tinggi, atau
melalui traktus digestivus (Malueka, 2007). Bakteri
yang terhirup membentuk satu fokus infeksi di paru,
disertai keterlibatan kelenjar limfe hilus (kompleks
16
primer). Biasanya hanya timbul sedikit gejala, dan
pemulihan sering terjadi secara spontan. Individu yang
bersangkutan tidak menular bagi orang lain dan
bereaksi negatif terhadap uji bakteriologis walaupun uji
kulit tuberkulinnya (Heaf test) mungkin sensitif. Waktu
antara
terjadinya
infeksi
sampai
pembentukan
kompleks primer adalah 4-6 minggu. Adanya infeksi
dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi
tuberkulin dari negatif menjadi positif (Zulkoni, 2010).
Kompleks primer
ini
selanjutnya
dapat
menjadi
sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat,
sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa
garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus, keadaan ini
terdapat pada lesi pneumoni, berkomplikasi dan
menyebar secara per kontinuitatum yakni menyebar ke
sekitarnya,
secara
bronkogen
pada
paru
yang
bersangkutan maupun paru di sebelahnya, secara
limfogen, ke organ tubuh lainnya, secara hematogen,
ke organ tubuh lainnya (Sudoyo, 2007).
2.5.2. Tuberkulosis post primer
Merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi
Mycobacterium
tuberculosis
pada
yang
pernah
terinfeksi dan oleh karenanya pasien sensitif terhadap
17
tuberkulin (Rubenstein, 2008). TB paru post primer
biasanya terjadi akibat dari infeksi laten sebelumnya.
Infeksi ini dapat menimbulkan suatu gejala TB bila
daya tahan tubuh host menurun. Mikroorganisme yang
laten dapat berubah menjadi aktif dan menimbulkan
nekrosis.
TB
sekunder
progresif
menunjukkan
gambaran yang sama dengan TB primer progresif
(Icksan dan Luhur, 2008). Pemulihan spontan tidak
dijumpai pada tuberkulosis post primer dan pasien
mungkin menular bagi orang lain sebelum diterapi
secara efektif (Gould dan Brooker, 2003). Tuberkulosis
post primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan
atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena
daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau
status gizi yang buruk. Ciri khas tuberkulosis post
primer adalah kerusakan paru yang luas dan parah
(Zulkoni, 2010).
2.6
KLASIFIKASI TUBERKULOSIS PARU
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI
2006),
terdapat
beberapa
klasifikasi
TB
berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) :
paru,
yaitu
18
2.6.1.
Tuberkulosis paru BTA (+), yaitu :
1. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak
menunjukkan hasil BTA positif.
2. Hasil
pemeriksaan
satu
spesimen
dahak
menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologi
menunjukkan gambar tuberkulosis aktif.
3. Hasil
pemeriksaan
satu
spesimen
dahak
menunjukkan BTA positif dan perkembangbiakan
positif.
2.6.2. Tuberkulosis paru BTA (-), yaitu :
1. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA
negatif, gambaran klinis dan kelainan radiologi
menunjukkan tuberkulosis aktif.
2. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA
negatif dan perkembangbiakan M. tuberculosis
positif.
2.7
DIAGNOSA TUBERKULOSIS PARU
2.7.1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pertama terhadap keadaan
umum
pasien
mungkin
ditemukan
pucatnya
konjungtiva mata atau kulit pucat karena anemia, suhu
demam subfebril, badan kurus atau berat badan
19
menurun
(Amin,
2007).
Tempat
kelainan
lesi
Tuberkulosis paru yang paling dicurigai adalah bagian
apeks paru. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak
luas maka didapatkan perkusi yang redup dan
auskultasi suara nafas bronkial dan ditemukan juga
suara nafas berupa ronki basah, kasar dan nyaring.
Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura,
suara nafasnya menjadi vesikular melemah. Pada
keadaan
konsolidasi
dan
fibrosis
meningkatkan
penghantaran getaran sehingga pada palpasi didapati
frenitus meningkat serta pada auskultasi suara nafas
menjadi
bronkovesikuler
atau
bronkhial.
Bila
tuberkulosis mengenai pleura, sering terbentuk efusi
pleura dalam pernafasan perkusi akan memberikan
suara pekak (Halim, 1998).
2.7.2. Pemeriksaan Bakteriologik
Pemeriksaan
menegakkan
dahak
diagnosa,
berfungsi
menilai
untuk
keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan.
Pemeriksaan dahak untuk menegakkan diagnosis
dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang
berurutan
yaitu:
Sewaktu-Pagi-Sewaktu
(SPS)
20
(Depkes RI, 2006). Pemeriksaan bakteriologik dari
spesimen dahak dan bahan lainnya (cairan pleura,
CSF, bilasan bronkus, bilasan lambung, urin, feses
dan jaringan biopsi dapat dilakukan dengan cara
mikroskopis dan biakan) (PDPI, 2006). Pemeriksaan
mikroskopis dengan menggunakan pewarnaan ZiehlNielssen, sedangkan pemeriksaan biakan dengan
menggunakan Egg Base Media Lowenstein-Jensen
atau Ogama (PDPI, 2006).
2.7.3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang
sensitif tapi tidak spesifik untuk mendiagnosa suatu
tuberkulosis aktif (Barker, 2009). Beberapa bagian
kelainan yang dapat digunakan pada foto rontgen
adalah : 1. Sarang berbentuk awan dengan densitas
rendah atau sedang dan batas tidak tegas. Sarangsarang seperti ini biasanya menunjukkan bahwa
proses aktif, 2. Lubang (kavitas) selalu berarti proses
aktif kecuali bila lubang sudah sangat kecil yang
dinamakan lubang sisa (residual cavity), 3. Sarang
seperti garis-garis (fibrotik) atau bintik-bintik kapur
yang menunjukkan bahwa proses telah baik (Rasad,
2008).
21
2.7.4. Indikasi pemeriksaan foto toraks
Pada
sebagian
besar
TB
paru,
diagnosis
terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.
Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks
perlu disesuaikan dengan indikasi sebagai berikut
(Depkes RI, 2006) :
1.
Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto
toraks
dada
diperlukan
untuk
mendukung
diagnosis TB paru BTA positif.
2.
Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif
setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan
sebelumnya hasil BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
3.
Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi
sesak nafas berat yang memerlukan penanganan
khusus
(seperti:
pneumotoraks,
pleuritis,
eksudatif, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
pasien yang mengalami hemioptisis berat (untuk
menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat
ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA)
22
pada 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu
sewaktu-pagi-sewaktu
(SPS).
Pada
program
TB
nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak
mikroskopis
merupakan
diagnosis
utama.
Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan, dan uji
kepekaan
dapat
digunakan
sebagai
penunjang
diagnosis sesuai dengan indikasinya, tidak dibenarkan
mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan
foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan
gambar yang khas pada TB paru, sehingga sering
terjadi over diagnosis (Depkes RI, 2006).
2.8
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA
TUBERKULOSIS PARU
2.8.1. Umur
Beberapa faktor resiko penularan penyakit TB
di Amerika yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara
bagian serta infeksi AIDS. Variabel umur berperan
dalam kejadian TB. Dari hasil penelitian
yang
dilaksanakan di New York pada panti penampungan
orang-orang
gelandangan
menunjukkan
bahwa
kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif
meningkat secara bermakna sesuai dengan umur.
23
Pada wanita prevalensi mencapai maksimum pada
umur 40-50 tahun kemudian berkurang, sedangkan
pada pria prevalensi terus meningkat sekurangkurangnya mencapai usia 60 tahun (Crofton, 2002).
Resiko untuk mendapatkan TB dapat dikatakan
hanya seperti kurva terbalik, yaitu tinggi ketika
awalnya, menurun ketika di atas dua tahun hingga
dewasa memiliki daya tangkal terhadap TB dengan
baik. Puncaknya pada dewasa muda dan menurun
kembali ketika seseorang atau kelompok menjelang
usia tua (Achmadi, 2005).
Hasil survei TB paru di Indonesia menunjukkan
bahwa prevalensi TB paru berbeda secara signifikan
berdasarkan kelompok umur, dimana kelompok umur
di bawah 45 tahun (74/100.000) lebih rendah dari
kelompok umur 45 tahun ke atas (211/100.000)
(Soemantri, 2005).
2.8.2. Jenis kelamin
Wanita pada usia reproduksi mempunyai resiko
lebih tinggi untuk menderita TB di bandingkan dengan
laki-laki pada usia yang sama. Prevalensi TB paru
pada
wanita
secara
keseluruhan
lebih
rendah
dibandingkan dengan pria. Peningkatan prevalensi
24
seiring
dengan
usia
yang
relatif
kurang
tajam
dibandingkan dengan peningkatan pada pria, namun
pada wanita prevalensi terus meningkat sampai
sekurang-kurangnya mencapai usia 60 tahun (Crofton,
2002). Hal ini sejalan dengan hasil prevalensi TB paru
di Indonesia tahun 2004, dimana prevalensi TB paru
pada
pria
adalah
138/100.000
lebih
tinggi
dibandingkan dengan prevalensi pada wanita sebesar
72/100.000.
2.8.3. Tingkat pendidikan
Tingkat
mempengaruhi
pendidikan
terhadap
seseorang
pengetahuan
akan
seseorang
diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat
kesehatan dan pengetahuan penyakit TB paru,
sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku
hidup bersih dan sehat. Selain itu tingkat pendidikan
seseorang
akan
mempengaruhi
terhadap
jenis
pekerjaannya (Helda, 2009), dan pada mereka yang
mempunyai tingkat pendidikan tinggi umumnya lebih
mudah dalam menyerap dan menerima informasi
masalah
kesehatan
dibandingkan
dengan
yang
berpendidikan lebih rendah, sehingga mempengaruhi
25
terhadap keputusan dalam memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang tersedia. Suatu studi kasus yang
dilakukan di Myanmar menunjukkan bahwa proporsi
kejadian TB banyak terjadi pada kelompok yang
mempunyai tingkat pendidikan rendah. Kelompok
tersebut juga lebih banyak mencari pengobatan
tradisional dibandingkan pada pelayanan medis yang
tersedia (WHO, 2002).
2.8.4. Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor resiko apa
yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja
bekerja di lingkungan yang berdebu terpapar partikel
debu
di
terjadinya
Paparan
daerah
terpapar
gangguan
kronis
pada
udara
akan
mempengaruhi
saluran
yang
pernafasan.
tercemar
dapat
meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala
penyakit saluran pernafasan.
Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi
terdapat pendapatan keluarga yang akan mempunyai
dampak terhadap pola hidup sehari-hari di antara
konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu
juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah
(kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai
26
pendapatan
dibawah
UMR
akan
mengkonsumsi
makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan
kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga
mempunyai status gizi yang kurang dan akan
memudahkan
untuk
terkena
penyakit
infeksi
diantaranya TB paru.
2.8.5. Kebiasaan merokok
Menurut (Aditama, 2002), perilaku merokok
adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap
rokok. Seperti halnya perilaku lain, perilaku merokok
pun muncul karena adanya faktor internal (faktor
biologis dan faktor psikologis, seperti perilaku merokok
dilakukan untuk mengurangi stres) dan faktor eksternal
(faktor lingkungan sosial). Didapat bahan-bahan kimia
yang dikandung dalam rokok seperti nikotin, CO
(Karbonmonoksida) dan tar akan memacu kerja dari
susunan syaraf pusat dan susunan simpatis sehingga
mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak
jantung bertambah cepat, menstimulasi kanker dan
berbagai penyakit yang lain seperti penyempitan
pembuluh darah, tekanan darah tinggi, jantung, paruparu dan bronchitis kronis. Seseorang yang dikatakan
perokok berat adalah bila mengkonsumsi rokok lebih
27
dari 21 batang perhari dan selang merokoknya lima
menit
setelah
bangun
pagi.
Perokok
sedang
menghabiskan 11-21 batang dan perokok ringan
menghabiskan rokok kurang dari 10 batang (Aditama,
2002).
Merokok
diketahui
mempunyai
hubungan
dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan
kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis
kronik dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok
meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak
2,2 kali (Sitepoe, 2000).
Didapat data riset kesehatan dasar (Riskesdas,
2010) usia perokok di Indonesia adalah pada usia 5-9
tahun sebesar 1,7%, usia 10-14 tahun 17,5%, usia 1519 tahun sebesar 43,3%, usia 20-24 tahun sebesar
14,6%, usia 25-29 sebesar 4,3% dan usia ≥ 30 tahun
sebesar 3,95%.
2.8.6. Status gizi
Status gizi merupakan variabel yang sangat
berperan
dalam
timbulnya
kejadian
TB
paru.
Kekurangan gizi akan berpengaruh terhadap kekuatan
dan daya tahan tubuh dan respon imunologik terhadap
penyakit.
Beberapa
studi
menunjukkan
adanya
28
hubungan antara gizi dengan kejadian tuberkulosis.
Oleh sebab itu salah satu upaya untuk menangkalnya
adalah status gizi yang baik, baik untuk wanita, lakilaki, anak-anak maupun dewasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang
dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali
untuk menderita TB paru berat dibandingkan dengan
orang
yang
status
gizinya
cukup
atau
lebih.
Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh
terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon
immunologi terhadap penyakit (Achmadi, 2005).
2.8.7. Perilaku
Faktor
resiko
perilaku
lainnya
yang
berhubungan dengan kejadian TB paru adalah :
kebiasaan tidur dengan anggota keluarga lain yang
terinfeksi TB, tidak menjemur kasur dan bantal,
membuang ludah sembarangan, tidak membuka
jendela
kamar
tidur
setiap
hari,
tidak
pernah
membersihkan lantai, tidak menutup mulut saat bersin
atau batuk (Edwan, 2008).
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap
dan tindakan. Pengetahuan penderita TB paru yang
kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara
29
pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan
perilaku sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat
menjadi sumber penularan bagi orang di sekelilingnya
(Helda, 2009).
2.9
KERANGKA KONSEP
Kerangka penelitian ini menggambarkan bahwa angka
kejadian TB paru disebabkan oleh faktor lingkungan rumah,
jenis pekerjaan, kebiasaan merokok. Kerangka konsep dari
kejadiaan TB paru adalah sebagai berikut :
Skema 2.1 Kerangka Konsep Penelitian
Variabel bebas
Variabel terikat
Jenis pekerjaan
Kebiasaan merokok
Kejadian TB
paru pada pria
dan wanita
2.10 HIPOTESIS
Menurut (Sugiyono, 2010), hipotesis diartikan sebagai
jawaban sementara tehadap rumusan masalah penelitian.
Terdapat dua macam hipotesis yaitu : hipotesis nol dan
hipotesis alternatif. Hipotesis nol diartikan sebagai tidak
30
adanya perbedaan antara parameter dengan statistik, atau
tidak adanya perbedaan antara ukuran populasi dan ukuran
sempel.
Dalam penelitian ini, hipotesis yang ditetapkan adalah
sebagai berikut :
a. Ha
:
ada
perbandingan
jenis
pekerjaan
dan
kebiasaan merokok pada pria dan wanita yang
menderita penyakit TB paru di RSPAW Salatiga.
b. Ho: tidak ada perbandingan jenis pekerjaan dan
kebiasaan merokok pada pria dan wanita yang
menderita penyakit TB paru di RSPAW Salatiga.
Download