BAB II LANDASAN TEORI A. Kemampuan Berbicara 1. Kemampuan

advertisement
12
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kemampuan Berbicara
1. Kemampuan Berbicara sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa (language skill) dikelompokkan oleh Nida
dan Harris (dalam Tarigan, 1998 : 1) menjadi empat komponen, yaitu :
a. Keterampilan menyimak ( listening skills )
b. Keterampilan berbicara ( speaking skills )
c. Keterampilan membaca ( reading skills )
d. Keterampilan menulis ( writing skills )
Keempat
keterampilan
berbahasa
tersebut
pada
dasarnya
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, artinya antara
komponen yang satu dengan komponen yang lainnya memiliki kaitan yang
erat, saling mendukung, dan saling menunjang. Oleh karena itu, keempat
keterampilan berbahasa tersebut sering disebut catur tunggal.
Pemerolehan keterampilan berbahasa biasanya melalui suatu
urutan hubungan yang teratur, yaitu mula-mula pada waktu kecil kita
belajar menyimak, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca
dan terakhir kita belajar menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari
sebelum memasuki sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari
sesudah memasuki sekolah.
13
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara
merupakan salah satu komponen keterampilan berbahasa. Kemampuan
berbicara ini merupakan proses perubahan bentuk pikiran, perasaan atau
ide yang mewujudkan bunyi bahasa yang bermakna. Kemampuan
berbicara merupakan keterampilan yang produktif, terjadi secara
langsung dan ekspresif.
2. Batasan Berbicara
Masing-masing pakar memiliki pengertian tentang berbicara
berbeda-beda. Tarigan ( 1998 : 5 ) mengatakan bahwa berbicara adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan,
dan perasaan. Batasan ini diperluas sehingga berbicara merupakan sistem
tanda-tanda yang dapat didengar
(audible) dan yang dapat kelihatan
(visible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia demi maksud,
tujuan-tujuan, gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lebih luas lagi,
berbicara merupakan bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktorfaktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik secara luas
sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi
kontrol sosial. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan
berbicara terjadi proses perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi
wujud ujaran atau bunyi bahasa yang bermakna. Berbicara bukan hanya
mengucap tanpa makna, melainkan berbicara sebagai kegiatan berbahasa,
yaitu menyampaikan pikiran atau perasaan kepada orang lain melalui
14
ujaran atau dengan bahasa lisan, berbicara merupakan suatu alat untuk
mengkomunikasikan gagasan, pikiran , ide yang disusun serta
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan si pendengar.
Sementara Kartini ( dalam Yuanita, 1996 : 15 ) mengungkapkan
bahwa berbicara merupakan suatu peristiwa penyampaian maksud,
gagasan, ide, pikiran, perasaan seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dipahami oleh
orang lain.
Berbicara
menghasilkan
menurut
bahasa
Kridalaksana
untuk
adalah
berkomunikasi
perbuatan
sebagai
yang
salah
satu
keterampilan dasar dalam berbahasa. Menurut Ahmadi ( 1990 : 18 )
memberi pengertian sebagai suatu keterampilan memproduksi arus sistem
bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan,
dan keinginan kepada orang lain. Kemudian Badudu-Zain (1994 : 180)
mengartikan berbicara dengan kata-kata, berpidato, dan bercakap-cakap.
Selanjutnya
pengertian
berbicara
yang
terdapat
dalam
speech
communication in the classroom ( dalam Yuanita, 1996 : 16 ) berbunyi
“speech is an activity wilst language is the structural pattern or system
we use to convey our messege in speech”. Sedangkan berbicara menurut
Webster Third New International Dictionary adalah “the factually of
uttering articulate sound; the power of speaking”.
Mengacu pada beberapa pengertian berbicara yang diungkapkan
para ahli di atas, maka batasan-batasan yang dapat dijadikan kerangka
15
konsep berpikir dalam penelitian ini adalah pendapat Kartini yang
mengungkapkan berbicara merupakan suatu peristiwa penyampaian
maksud, gagasan, ide, pikiran, perasaan seseorang kepada orang lain
dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dipahami
oleh orang lain.
3. Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi. Agar dapat
menyampaikan pikiran secara efektif maka seyogyanya si pembicara
memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikannya, dia
harus
mampu
mengevaluasi
efek
komunikasinya
terhadap
para
pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari
segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
Ochs dan Winker (dalam Tarigan, 1998 : 16) serta Keraf (1989 :
320) mengatakan bahwa pada dasarnya berbicara mempunyai tiga tujuan
umum sebagai berikut :
a. Memberitahukan, melaporkan ( to inform )
Bila pembicara ingin memberitahukan atau menyampaikan sesuatu
kepada pendengar agar mereka dapat mengerti tentang suatu hal, atau
memperluas bidang pengetahuan mereka, maka tujuan pembicaraan
tersebut adalah memberitahukan. Reaksi yang diinginkan dari jenis uraian
ini adalah agar pendengar mendapat pengertian yang tepat, menambah
pengetahuan
diketahuinya.
mereka
tentang
hal-hal
yang
kurang
atau
belum
16
Berbicara untuk melaporkan atau memberi informasi (informative
speaking) dilaksanakan jika seseorang berkeinginan untuk : 1) Memberi
atau menanamkan pengetahuan, 2) Menetapakan atau menentukan
hubungan antara benda-benda, 3) Menginterpretasikan atau menafsirkan
suatu persetujuan ataupun menguraikan suatu tulisan ( Tarigan,1998:27 ).
Semua hal tersebut merupakan situasi-situasi informativ karena
masing-masing ingin membuat pengertian-pengertian menjadi jelas. Jenis
atau sifat uraian ini adalah Instruktif atau komposisi yang mengandung
ajaran (Keraf, 1989 : 322).
b. Menjamu, menghibur ( to entertain )
Bila pembicara bermaksud menghibur atau menyenangkan atau
menimbulkan suasana gembira pada suatu pertemuan atau jamuan, maka
tujuan pembicaraan tersebut adalah menghibur. Pembicaraan, khususnya
bercerita semacam ini biasanya ditemukan ketika orang tua akan
menidurkan anaknya, seorang nenek menceritakan pengalaman masa
lalunya kepada cucu-cucunya, dan pertemuan gembira lainnya. Kesegaran
dan originalitas memainkan peranan yang sangat penting. Humor
merupakan alat yang sangat penting dalam penyajian semacam ini. Reaksi
yang diharapkan adalah menimbulkan minat dan kegembiraan hati
pendengarnya. Jenis dan uraian ini adalah rekreatif, atau menimbulkan
kegembiraan dan kesenangan pendengarnya.
17
c. Membujuk, mengajak, mendesak atau meyakinkan ( to persuade )
Menurut Tarigan ( 1998 : 31 ), Aristoteles pernah mengatakan
bahwa “persuasi (bujukan,desakan,peyakinan) adalah seni penanaman
alasan-alasan atau motif-motif yang menuntun ke arah tindakan bebas
yang konsekuensi”. Persuasi merupakan tujuan kalau kita menginginkan
tindakan atau aksi. Pembicaraan yang besifat persuasi disampaikan kepada
pendengar bila kita menginginkan penampilan suatu tindakan atau
pengajaran suatu bagian dari suatu tindakan.
Berkaitan dengan hal ini, Keraf (1989 : 321 ) mengatakan bahwa
bila pembicara berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap
mental atau intelektual pendengar, maka pembicaraan ini bertujuan untuk
meyakinkan. Pada umumnya bercerita yang disampaikan mengandung
tujuan dan alat yang esensial dari komposisi lisan semacam ini adalah
narasi, karena itu komposisi semacam ini biasanya disertai bukti-bukti atau
fakta-fakta yang kongkret atau bahkan juga bisa berupa ilustrasi saja.
Dengan demikian reaksi yang diharapkan dari pendengar adalah timbulnya
kesesuaian cerita.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan terhadap tujuan berbicara
di atas, maka dalam penelitian ini yang akan digunakan yaitu
memberitahukan, meyakinkan, dan bahkan menyenangkan.
18
4. Ciri Khusus Berbicara
Berbicara memiliki beberapa ciri-ciri khusus,Soedirman (dalam
Yunita,1996: 50) mengemukakan tujuh macam ciri khusus dalam
berbicara. Ciri-ciri tersebut adalah :
a. Bertujuan
Kegiatan berbicara membawa seseorang untuk mencapai tujuannya.
Dengan berbicara dapat dicapai tujuan yang telah direncanakan siswa,
seperti memberitahukan, membujuk, meyakinkan, dan menyenangkan.
b. Bersifat interaktif
Kegiatan berbicara bersifat interaktif. Artinya kegiatan berbicara itu
tidak hanya mengisyaratkan hadirnya pembicara dan pendengar saja,
melainkan diperlukan adanya dialog, tanya jawab, interaksi atau saling
menanggapi antara kedua belah pihak selama proses komunikasi
berlangsung.
c. Kesementaraan
Proses komunikasi atau kegiatan berbicara ini bersifat sementara,
artinya komunikasi tersebut hanya berlangsung selama proses berbicara
atau proses komunikasi itu terjadi. Seudah itu tidak dapat ditemukan dan
diulang lagi, pengulangan sebuah proses komunikasi atau berbicara selalu
tidak akan sama dengan aslinya, sedangkan yang bersifat nonsuara, seperti
gerak-gerik, mimik tidak mungkin masuk ke dalam rekaman atau kaset.
Disinilah letak kesementaraannya.
19
d. Terjadi dalam bingkai khusus
Soedirman ( dalam Yunita, 1996 : 22 ) mengatakan bahwa
bingkai khusus berbicara terdiri dari empat macam. Keempat macam
bingkai khusus tersebut adalah : 1) komunikasi hanya terjadi dalam waktu
tertentu, 2) komunikasi mengambil tempat tertentu, 3) komunikasi selalu
mengambil topik tertentu, dan 4) kedua belah pihak dalam keadaan siap.
Kegiatan berbicara ini umumnya dilakukan pada saat-saat tertentu,
artinya kegiatan berbicara selalu memilih wadah tertentu dan tidak
bersifat setiap saat. Memilih wadah tertentu maksudnya memerlukan halhal seperti tempat,waktu, dan topik.
e. Alfa tanda baca
Dalam kegiatan berbicara, tanda baca tidak begitu dihiraukan
seperti halnya dalam menulis. Hal ini disebabkan karena tanda baca
bukanlah tanda bunyi, oleh karena itu tidak diucapkan oleh pembicara.
Dengan demikian, dalam komunikasi lisan banyak terjadi pengulangan
kata-kata yang bersifat menekankan, mengulang, dan menanyakan. Ciriciri khusus ini ditandai dengan adanya pemakaian aksen dan intonasi,
banyaknya kalimat yang panjang, struktur kalimat yang panjang, dan
adanya penyimpangan kaidah bahasa.
f. Kata-kata terbatas
Selama pembicaraan berlangsung, terjadinya penggunaan katakata yang terbatas sering terjadi dan sukar dihindari. Hal ini disebabkan
tidak adanya waktu bagi pembicara untuk memilih kata-kata. Di samping
20
itu,tuntutan spontanitas diharapkan oleh pendengarnya, akibatnya sering
kita temukan pemakaian kata atau frase tertentu dengan frekuensi
pemakian yang sama. Beberapa hal yang menyebabkan keterbatasan ini
adalah waktu yang sangat terbatas dan lawan bicara yang langsung
berhadapan.
Memilih
kata-kata
berarti
menghambat
kelancaran
komunikasi dan banyak waktu yang terbuang, akhirnya kata-kata tertentu
memiliki frekuensi yang cukup besar.
g. Pengalaman
Pengalaman yang dimiliki seorang pembicara akan menentukan
mahir tidaknya seorang pembicara di muka umum. Makin banyak variasi
pengalaman yang dimiliki pembicara tersebut, makin banyak pula variasi
berbicara
yang
dimilikinya.
Karena
itu,
orang
yang
kurang
berpengalaman dalam berbicara di muka umum akan mengalami
kesukaran bila terpaksa harus terlibat di dalam kegiatan berbicara
tersebut.
5. Metode Penyajian Berbicara
Maksud dan tujuan pembicaraan, kesempatan, pendengar, ataupun
waktu untuk persiapan dapat menentukan metode penyajian atau
pembicara sendiri dapat menentukan yang terbaik dari empat metode
yang mungkin dipilih, yaitu : 1) metode penyampaian secara mendadak,
2) metode ekstemporan (penyampaian tanpa persiapan naskah), 3) metode
naskah, dan 4) metode menghafal atau penyampaian dari ingatan ( Keraf,
1989: 316; Tarigan 1998 : 24).
21
Beberapa metode-metode di atas dapat digabungkan untuk
mencapai hasil yang lebih baik dan yang paling sering dilakukan adalah
penggabungan antara metode naskah dengan metode ekstemporan.
Pembicara menyiapkan uraiannya secara mendalam dan terperinci
dengan menyiapkan sebuah naskah tertulis, namun ia tidak membaca
seluruh naskah itu karena menguasai bahan dalam naskah itu. Pembicara
akan berbicara secara bebas, sedangkan naskah itu hanya dipakai untuk
membantunya dalam urutan-urutan gagasan yang akan dikemukakan.
6. Jenis- jenis Berbicara
Kegiatan komunikasi ( diantaranya berbicara ) pada dasarnya
adalah peristiwa penyampaian pesan dari pembicara kepada pendengar.
Secara teoritis, pesan itu merupakan inti atau pokok komunikasi. Hal ini
dikemukakan oleh Marie M. Stewart dan Zimmer ( dalam Yunita, 1996 :
4)
dalam
kalimat
singkatnya
yang
berbunyi,“The
heart
of
communication in the massage”.
Berdasarkan pesan yang merupakan pokok komunikasi, berbicara
dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, pembicara hanya
menyampaikan pesan kepada pendengarnya yang kemudian dipahami
oleh pendengar yang bersangkutan. Dalam hal ini tidak terjadi reaksi
atau tanggapan dari pendengar. Yang termasuk kelompok ini diantaranya
ceramah, berpidato, berkhotbah, penyampaian berita, pembawa acara,
pendongeng dan lain-lain. Kelompok kedua, pembicara menyampaikan
pesan kepada pendengarnya yang kemudian disusul dengan timbulnya
22
reaksi atau tanggapan atau respon pendengar, sehingga terjadi interaksi
antara pembicara dengan pendengar dan posisi sebagai pembicara dan
pendengar diduduki silih berganti. Yang termasuk dalam kelompok ini
diantaranya diskusi, seminar, simposium, rapat organisasi, dan lain-lain.
Selanjutnya Ragan (dalam Yunita, 1996 : 25) mengemukakan
beberapa bentuk ekspresi lisan. Ekspresi lisan tersebut, antara lain:
a. cakap informal, b.diskusi dalam maksud dan tujuan tertentu,
c.
menyampaikan
berita,
mengumumkan,
dan
melaporkan,
d.
memainkan drama, e. khotbah, f. bercerita, g.cakap humor dan bertekateki, h. mengisi acara radio, i. rapat organisasi, dan j.memberikan
pengarahan.
Pembagian yang hampir sama dengan Ragan juga dikemukakan
Lee yang mengatakan bahwa yang termasuk ke dalam jenis komunikasi
lisan, yaitu :
a. percakapan dan diskusi, b. berita, pengumuman, dan laporan,
c. rencana dan evaluasi, d. kegiatan dramatis, e. penampilan kesenangan
masyarakat, f. khotbah, g. bercerita informasi tentang lelucon dan tekateki, h. pembicaraan dalam dewan, i. rapat organisasi, j. acara radio dan
televis, dan k. mempersiapkan rekaman.
Jika kita perhatikan bentuk-bentuk komunikasi lisan yang telah
dikemukakan oleh Ragan dan Lee di atas, belum mencakup semua jenis
peristiwa berbicara. Di dalamnya masih belum ditemukan bentuk-bentuk
23
seperti wawancara, percakapan antara penjual dan pembeli, meendikte,
dan lain-lain.
7. Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
Berbicara pada dasarnya merupakan kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi
artikulasi
atau
mengucapakan
kata-kata
untuk
mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan
perasaan. Berbicara memiliki tujuan utama yaitu untuk berkomunikasi.
Menurut Arsjad dan Mukti ( 1993 : 17 ) agar dapat menyampaikan
informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi
pembicaraannya, di samping itu juga harus dapat mengevaluasi efek
komunikasinya terhadap pendengar. Jadi bukan hanya apa yang akan
dibicarakan tetapi bagaimana mengemukakannya. Hal ini menyangkut
masalah bahasa dan pengucapan bunyi-bunyi bahasa tersebut. Yang
dimaksud ucapan adalah seluruh kegiatan yang kita lakukan dalam
memproduksi bunyi bahasa yang meliputi, artikulasi, yaitu bagaimana
posisi alat bicara, seperti lidah, gigi, bibir, dan langit-langit pada waktu
kita membentuk bunyi, baik vocal maupun konsonan.
Sebagai seorang pembicara yang baik, selain menguasai masalah
yang dibicarakan juga harus menunjukan keberanian dan semangat
dalam berbicara. Di samping itu juga harus jelas dan tepat mengingat hal
tersebut, sebaiknya pembicara memperhatikan hal-hal berikut :
a. Faktor kebahasaan, meliputi :
1) Ketepatan ucapan/pelafalan
24
2) Penempatan tekanan, nada sendi, dan durasi ( tempo ) yang sesuai
3) Pilihan kata ( diksi )
4) Ketepatan sasaran pembicaraan
b. Faktor non kebahasaan, meliputi :
1) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
2) Gerak-gerik dan mimik yang tepat
3) Kenyaringan suara/volume suara
4) Kelancaran jalannya bercerita
8. Strategi Pembelajaran Kemampuan Berbicara
Menurut Hidayat ( 1986 : 1 ) strategi adalah suatu landasan,
ancangan, atau approach, dari landasan itu lahirlah metode dan dari
metode lahirlah teknik. Approach, metode, dan teknik merupakan tiga
serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Dalam Longman Dictionary of
Applied Linguistics, Richards dkk. (dalam Sabana,1986:19) mengatakan
pengajaran bahasa sering dibicarakan dalam tiga aspek yang berkaitan,
yakni pendekatan, metode, dan teknik. Yang menjadi persoalan adalah
strategi pembelajaran berbicara seperti apakah yang dapat meningkatkan
kemampuan berbahasa siswa? Keterampilan berbicara menurut Ahmadi
(1990 :18) pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus
sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan,
perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Peralatan vocal seperti
selaput suara, lidah, bibir, hidung dan telinga merupakan persyaratan
alamiah yang dapat memproduksi suatu ragam yang luas dari bunyi
25
artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan lagu bicara. Keterampilan ini
pula harus didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar,
jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah
kejiwaan, seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah dan
sebagainya.
M.E Fowler ( dalam Ahmadi, 1990 : 19 ) menjelaskan bahwa
tujuan program pengajaran kemampuan berbicara meliputi:
a. Mudah dan lancar atau fasih
b. Kejelasan
c. Bertanggung jawab
d. Membentuk pendengaran yang kritis
Adapun
strategi
pembelajaran
kemampuan
berbicara
memiliki keterlibatan intelektual emosional siswa, antara lain :
a. Bermain peran
b. Berbagai jenis diskusi
c. Wawancara
d. Bercerita
e. Berpidato
f. Laporan lisan
g. Membaca nyaring
h. Merekam suara
i. Bermain drama
yang
26
9. Penilaian Kemampuan Berbicara
Dalam
pembelajaran
kemampuan
berbicara,
setelah
menyusun materi dan membuat strategi pembelajaran, maka faktor
yang cukup penting dalam pembelajaran adalah penilaian. Dalam
membuat penilaian, seseorang harus menyusun faktor-faktor apa saja
yang akan dinilai dan menyusun pedoman penilaian. Berikut akan
diuraikan faktor-faktor yang akan dinilai dan pedoman penilaian.
a. Faktor-faktor yang dinilai
Kemampuan berbicara merupakan keterampilan berbahasa
yang sifatnya produktif. Kemampuan berbicara adalah kemampuan
mengubah bentuk pikiran atau perasaan menjadi bentuk tuturan,
menjadi bentuk ujaran, dan menjadi bentuk bahasa lain.
Untuk mengetahui terampil bicara atau tidaknya seseorang,
tentu diperlukan faktor-faktor
yang menjadi tolak ukur
bagi
seseorang sehingga dikatakan terampil atau tidak. Menurut Arsjad
dan Mukti (1993:87) yang menjadi faktor penilaian dalam
keterampilan berbicara adalah faktor kebahasaan dan non
kebahasaan
yang
keduanya
merupakan
faktor
penunjang
keefektifan berbicara.
Faktor kebahasaan mencakup, 1) pengucapan vocal, 2)
pengucapan konsonan, 3) penempatan tekanan, 4)
penempatan
persendian, 5) penggunaan nada/irama, 6) pilihan kata, 7) pilihan
27
ungkapan, 8) variasi kata, 9) tata bentukan, 10) struktur kalimat,
dan 11) ragam kalimat.
Yang termasuk ke dalam non kebahasaan meliputi, 1)
keberanian dan semangat, 2) kelancaran, 3) kenyaringan suara, 4)
pandangan mata, 5) gerak-gerik dan mimik, 6) keterbukaan, 7)
penalaran, dan 8) penguasaan topik.
Senada dengan beberapa pendapat sebelumnya, Sapani
(1995 : 35 ) mengatakan bahwa pada umumnya penilaian
kemampuan berbicara bukan hanya penilaian lisan melainkan juga
penilaian perbuatan/penampilan. Pada kemampuan berbicara ada
sejumlah komponen yang biasanya dijadikan sasaran, yaitu :
1) Bahasa lisan yang digunakan meliputi : lafal dan intonasi, kosa
kata dan pilihan kata, struktur bahasa, gaya bahasa dan
pragmatik
2) Isi pembicaraan meliputi : hubungan topik pembicaraan dengan
isi, struktur isi, dan kualitas isi
3) Teknik dan penampilan meliputi : gerak-gerik mimik, volume
suara, dan jalannya bercerita.
B. Teknik Bercerita sebagai Salah Satu Ragam Berbicara
1. Pengertian bercerita
Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang
perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan
membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Pada kurikulum
28
1994, bercerita dinyatakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan
dalam proses belajar mengajar. Metode bercerita didefinisikan sebagai cara
memberikan penerangan atau bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan.
Siswa sangat menyukai cerita atau dongeng sehingga bentuk metode cerita
sangat cocok untuk mengajarkan moral pada siswa selain meningkatkan
kemampuan berbicara.
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang siswa secara tidak
langsung menceritakan pengalaman pribadi yang baru dialaminya kepada
temannya, seperti pengalaman salama liburan, pergi jalan-jalan bersama
keluarga atau kejadian yang dialami baik yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan.
Menurut Bacthiar S. Bachri, 2005 (dalam Nurlaily dkk, 2010),
bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya
mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang suatu (ide)
pengalaman.
Mengacu pada beberapa pengertian bercerita dari para ahli dapat
disimpulkan
bahwa
bercerita
adalah
media
komunikasi
untuk
mengungkapkan suatu gagasan, ide, perasaan, penyampai pesan sehingga
dapat mempengaruhi orang lain yang mendengarnya.
2. Manfaat bercerita
Cerita merupakan sarana pendidikan yang paling mudah dan
mengasyikan. Pada dasarnya siswa Sekolah Dasar sangat menyukai
cerita. Hal ini akan menjadi modal dasar yang sangat berarti. Dengan
29
memilih cerita yang tepat dan bercerita dengan cara memikat hati
siswa, kita dapat memasukkan berbagi informasi yang berguna untuk
mendidik mereka.
Bimo mengatakan bahwa menurut para ahli pendidikan, bercerita
kepada siswa-siswa memiliki beberapa fungsi yang amat penting,
yaitu:
a. Membangun kedekatan emosional antara pendidik dengan siswa
b. Media penyampai pesan nilai moral dan agama yang efektif
c. Pendidikan imajinasi/fantasi
d. Menyalurkan dan mengembangkan emosi
e. Membantu proses peniruan perbuatan baik tokoh dalam cerita
f. Memberikan dan memperkaya pengalaman batin
g. Sarana hiburan dan penarik perhatian
h. Menggugah minat baca
i. Sarana membangun watak mulia
Manfaat bercerita diungkapkan pula oleh Susilawani. D.
(2009), ada dua belas manfaat membacakan cerita atau mendongeng
untuk siswa, antara lain :
a. Menjadi fondasi dasar kemampuan berbahasa
b. Meningkatkan kemampuan komunikasi verbal
c. Meningkatkan kemampuan mendengar
d. Mengasah logika berfikir dan rasa ingin tahu
30
e. Menanamkan minat baca dan menjadi pintu gerbang menuju ilmu
pengetahuan
f. Menambah wawasan
g. Mengembangkan imajinasi dan jiwa petualang
h. Mempererat ikatan batin orang tua siswa dan siswa
i. Meningkatkan kecerdasan emosional
j. Alat untuk menanamkan nilai moral, etika, dan membangun
kepribadian
k. Menyelami berbagai budaya yang berbeda
l. Relaksasi jiwa
Sejalan dengan ungkapan di atas, Meydiaderni ( 2009 )
menyatakan
bahwa
bercerita
pada
siswa
berfungsi
untuk
mengembangkan potensi kemampuan berbahasa siswa melalui
pendengaran dan kemudian menuturkannya kembali dengan tujuan
melatih
keterampilan
siswa
dalam
bercakap-cakap
untuk
menyampaikan ide dalam bentuk lisan.
3. Isi cerita
Sebelum bercerita, pendidik harus memahami terlebih dahulu
tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan
dengan karakteristik pendengarnya. Agar dapat bercerita dengan tepat,
pendidik harus mempertimbangkan materi ceritanya. Pemilihan cerita
antara lain ditentukan oleh:
31
a. Pemilihan tema dan judul yang tepat
Seorang pakar psikologis pendidikan bernama Charles Buhler
mengatakan bahwa siswa hidup dalam alam khayal. Siswa-siswa
menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya
“menari-nari”. Bagi siswa-siswa, hal yang menarik berbeda pada setiap
tingkat usia, misalnya ;
1) Sampai pada usia 4 tahun, siswa menyukai dongeng fable dan
horor
2) Pada usia 4-8 tahun, siswa menyukai dongeng jenaka, tokoh
pahlawan dan kisah tentang kecerdikan
3) Pada usia 8-12 tahun, siswa menyukai dongeng petualangan
fantastis rasional (sage).
b. Waktu penyajian
Dengan
mempertimbangkan
daya
pikir,
kemampuan
bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap siswa, maka para ahli
dongeng menyimpulkan sebagai berikut:
1) Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
2) Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10-15 menit
3) Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit
Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita
menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap
siswa dirangsang oleh penampilan penceritayang sangat baik, atraktif,
komunikatif dan humoris.
32
c. Suasana ( situasi dan kondisi )
Suasana disesuaikan dengan acara atau peristiwa yang sedang atau
akan berlangsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar
nasional, ulang tahun, pisah sambut siswa didik, peluncuran produk,
pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain semua itu akan
berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dituntut untuk
memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan
suasana. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan,
bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana.
4. Teknik Bercerita
Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik
dalam olah vocal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi.
Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai
unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Berikut
macam-macam teknik bercerita menurut Moeslichatoen, 1996 yaitu :
a. Membaca langsung dari buku cerita
Teknik ini mebacakan langsung dari buku cerita yang dimiliki guru
dengan menyesuaikan kemampuan pemahaman siswa terhadap
cerita tersebut terutama dikaitkan dengan pesan-pesan yang tersirat
dalam cerita.
b. Bercerita menggunakan ilustrasi gambar dari buku
Teknik ini menggunakan ilustrasi gambar dari buku yang dipilih
guru, harus menarik dan lucu sehingga siswa dapat mendengarkan
33
dan memusatkan perhatian lebih besar daripada buku cerita.
Ilustrasi gambar yang digunakan sebaiknya cukup besar dilihat
oleh siswa dan berwana serta urut dalam menggambarkan jalan
cerita yang disampaikan.
c. Menceritakan dongeng
Mendongeng merupakan suatu cara untuk meneruskan warisan
budaya yang bernilai luhur dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Menceritakan dongeng pada siswa dapat membantu
siswa mengenal budaya leluhurnya dan menyerap pesan-pesan
moral yang terkandung didalamnya.
d. Bercerita dengan menggunakan papan flannel
Teknik ini menekankan pada urutan cerita serta karaktertokoh yang
terbuat dari papan flannel yang berwarna netral. Gambar tokohtokoh mewakili perwatakan tokoh cerita yang digunting dengan
pola kertas dan ditempelkan pada kain flannel.
e. Bercerita dengan menggunakan boneka
Pemilihan cerita dan boneka tergantung pada usia dan pengalaman
siswa. Boneka yang digunakan mewakili tokoh cerita yang akan
disampaikan.
f. Dramatisasi suatu cerita
Teknik ini digunakan untuk memainkan cerita perwatakan tokoh
dalam suatu cerita yang disukai siswa dan merupakan daya tarik
34
yang
bersifat
umum
(Gordon,
Browne,
dalam
Moeslichatoen,1996).
g. Bercerita sambil memainkan jari
Teknik ini memungkinkan guru berkreasi dengan menggunakan
jari-jari tangan, dan ini tergantung kreativitas guru dalam
memainkan jari-jarinya sesuai dengan perwatakan tokoh yang
dimainkannya.
Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus
dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut :
a. Narasi
b. Dialog
c. Ekspresi ( terutama mimik muka )
d. Visualisasi gerak/peragaan (acting)
e. Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim
f. Media/alat peraga (bila ada)
g. Teknik ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik dan
sebagainya.
Download