BAB II - Widyatama Repository

advertisement
13
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan telaah pustaka yang
berasal dari penelitian- penelitian yang sudah pernah dilakukan.
Dalam penelitian terdahulu ini diuraikan secara sistematis
mengenai hasil-hasil penelitian yang didapat oleh peneliti
terdahulu dan
berhubungan
dengan
penelitian
yang
dilakukan. Pada bagian ini dijelaskan tentang objek yang
diteliti oleh peneliti terdahulu, model yang digunakan, hasil
penelitian, serta hubungan antara penelitian yang dilakukan ini
dengan penelitian terdahulu. Fakta-fakta atau data yang
dikemukakan diambil dari sumber aslinya.
Penelitian mengenai analisis kepuasan konsumen dengan
metode experiential marketing dan kualitas pelayanan yang
pernah dilakukan antara lain sebagai berikut :
14
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
1
2
Nama
Peneliti
Moh. Agung
Surianto,
Nurul
Aisyah
(2009)
Dini
Anggraini
(2007)
Judul penelitian
Pengaruh
Penerapan
Expriential
Marketing
Strategic dan
kualitas pelayanan
Terhadap
Kepuasan
Konsumen
Pengaruh Persepsi
Pelanggan Atas
Experiential
Marketing
Terhadap Loyalitas
Model
penelitian
Analisis
Regresi
Berganda
Metode
Survey
Eksplanato
ri
Hasil penelitian
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
ada pengaruh secara
simultan yang nyata
antara experiential
marketing strategic
dan kualitas
pelayanan terhadap
kepuasan konsumen
sense, feel dan think
berpengaruh terhadap
loyalitas pelanggan
Hubungan dengan
penelitian
Penelitian ini
sama-sama mengeksplorasi
pengaruh experiential
marketing dan kualitas
pelayanan terhadap
kepuasan konsumen
Penelitian ini
sama-sama mengeksplorasi
pengaruh experiential
marketing terhadap
loyalitas konsumen
15
3
Aryatama,
Praditya
(2008)
Pelanggan Pada
J.Co Donuts
Cihampelas Walk
Di Bandung
Pengaruh Persepsi
Pelanggan Atas
Strategi
Experiential
Marketing
Terhadap Positive
Word Of Mouth
Melalui Kepuasan
Pelanggan Songa
Adventure
Probolinggo
Metode
Analisis
Kuantitatif
Startegi
eksperiential
marketing
berpengaruh terhadap
kepuasan pelanggan
Penelitian ini
sama-sama mengeksplorasi
pengaruh experiential
marketing terhadap
kepuasan konsumen
16
2.2 Experiential Marketing
Experiential
marketing
adalah
suatu
konsep
pemasaran bertujuan untuk membentuk pelanggan-pelanggan
yang loyal dengan menyentuh emosi mereka dan memberikan
suatu feeling yang positif terhadap produk dan service
(Kertajaya, 2004) Experiential marketing menurut (Schmitt
1999 dalam Amir Hamzah 2007) menyatakan bahwa pemasar
menawarkan produk dan jasanya dengan merangsang unsurunsur
emosi
konsumen
yang
menghasilkan
berbagai
pengalaman bagi konsumen.
Experiential marketing merupakan pendekatan pemasaran
yang melibatkan emosi dan perasaan konsumen dengan
menciptakan pengalaman-pengalaman positif yang
tidak
terlupakan sehingga konsumen mengkonsumsi dan fanatik
terhadap produk tertentu (Schmitt, 1999 dalam Sudarmadi dan
Dyah Hasto Palupi, 2001)
Pendekatan pemasaran experiential marketing merupakan
pendekatan yang mencoba menggeser pendekatan pemasaran
tradisional, pendekatan tradisional ini menurut (Schmitt, 1999
dalam Rahmawati 2003) memiliki empat karakteristik yaitu:
1. Fokus pada feature dan benefit dari produk/jasa
2. Kategori produk dan persaingan didefinisikan secara sempit
yaitu hanya pada perusahaan sejenis
17
3. Konsumen dianggap sebagai pembuat keputusan yang rasional
4. Metode dan alat yang digunakan bersifat analitikal, kuantitatif,
dan verbal
Di dalam pendekatan Experientiel Marketing juga terdapat
karakteristik yang menonjol yaitu:
1. Mengutamakan pengalaman konsumen, baik pengalaman
panca indra, pengalaman perasaan, dan pengalaman pikiran
2. Memperhatikan
situasi
pada saat mengkonsumsi seperti
keunikan layout, pelayanan yang diberikan, fasilitas-fasilitas
yang disediakan
3. Menyadari bahwa konsumen adalah makhluk rasional dan
sekaligus emosional, maksudnya bahwa konsumen tidak
hanya menggunakan rasio tetapi juga mengikutsertakan emosi
dalam melakukan keputusan pembelian.
Adapun pergeseran daripendekatan pemasaran tradisional
ke pendekatan pemasaran experiential terjadi karena adanya
perkembangan tiga faktor di dunia bisnis (Schmitt, 1999 dalam
Rahmawati, 2003) yaitu:
1. Teknologi informasi yang dapat diperoleh di mana-mana
sehingga
revolusi
kecanggihanteknologi
kecanggihan
informasi
teknologi
akibat
dapat menciptakan suatu
pengalaman dalam diri seseorang dan membaginya dengan
orang lain dimanapun berada.
18
2. Keunggulan dari merek, melalui kecanggihan teknologi
informasi maka informasi mengenai brand dapat tersebar luas
melalui berbagai media dengan cepat dan global. Dimana
brand atau merek memegang kendali, suatu produk atau jasa
tidak lagi sekelompok fungsional tetapi lebih berarti sebagai
alat pencipta experience bagi konsumen.
3. Komunikasi dan banyaknya hiburan yang ada dimana-mana
yang mengakibatkan semua produk dan jasa saat ini
cenderung bermerek dan jumlahnya banyak.
Menurut Schmitt (1999:64) mendeskripsikan tiga tipe
pengalaman pelanggan yang merupakan dasar dari Experiential
marketing, ketiga tipe tersebut adalah sense, feel, dan think.
1. Sense (perasaan yang timbul melalui pengalaman panca indra)
Sense
marketing
merupakan
salah satu untuk
menyentuh emosi konsumen melalui pengalaman yang
dapat diperoleh konsumen lewat panca indra (mata,
telinga, lidah, kulit, dan hidung) yang mereka miliki
melalui produk dan service (Kertajaya, 2005 dalam Amir
Hamzah, 2007). Pada dasarnya sense marketing yang
diciptakan oleh produsen dapat berpengaruh positif maupun
negatif terhadap kepuasaan. Munkin saja suatu produk dan
jasa yang ditawarkan oleh produsen tidak sesuai dengan
selera konsumen atau mungkin juga konsumen
menjadi
19
sangat puas, dan akhirnya harga yang ditawarkan oleh
produsen tidak menjadi masalah bagi konsumen.
Dalam sense marketing terdapat tiga kunci strategi
yang dapat digunakan untuk menstimulasi sense marketing,
yaitu:
a.
Sense as Differentiator
Pengalaman yang diperoleh dari sense (panca
indra) mungkin melekat pada konsumen karena tampil
dengan cara yang unik dan spesial. Cara yang
dilakukan untuk menarik konsumen melebihi batas
normal sehingga produk dan jasa tersebut sudah
memiliki
cara khusus yang sudah ada di benak
konsumen.
b.
Sense as Motivator
Sense
yang dapat
memotivasi
konsumen
dengan tidak terlalu memaksa konsumen tetapi juga
jangan terlalu acuh terhadap keinginan konsumen.
c.
Sense as Value provider
Sense sebagai nilai tambah dapat memberikan
nilai unik kepada konsumen, sense dipengaruhi oleh
panca indra melalui panca indra konsumen dapat
menentukan nilai suatu produk.
2. Feel (perasaan yang timbul melalui pengalaman emosi)
20
Feel Marketing ditunjukan terhadap perasaan dan
emosi konsumen dengan tujuan mempengaruhi pengalaman
yang dimulai dari suasana hati yang lembut sampai dengan
emosi yang kuat terhadap kesenangan dan kebanggaan
(Schmitt dalam Amir Hamzah, 2007). Feel adalah suatu
perhatian-perhatian
kecil
yang
ditunjukkan
kepada
konsumen dengan tujuan untuk menyentuh emosi pelanggan
secara luar biasa (Kertajaya, 2004).
Affective experience adalah tingkat pengalaman yang
merupakan perasaan yang bervariasi dalam intensitas, mulai
dari perasaan yang positif atau pernyataan mood yang
negatif sampai emosi yang kuat. Jika pemasar bermaksud
untuk menggunakan affective experience sebagai bagian dari
strategi
pemasaran,
maka ada dua hal yang harus
diperhatikan dan dipahami, yaitu :
1.
Suasana hati (moods), Moods merupakan affective
yang tidak spesifik. Suasana hati dapat dibangkitkan
dengan
cara
memberikan
(Schmitt, 1999). Suasana
stimuli
yang
spesifik
hati merupakan keadaan
afektif yang positif atau negatif. Suasana hati seringkali
mempunyai dampak yang kuat terhadap apa yang
diingat konsumen dan merek apa yang mereka pilih.
2.
Emosi (emotion), lebih kuat dibandingkan suasana
21
hati dan merupakan pernyataan afektif dari stimulus
yang spesifik, misalnya marah, irihati, dan cinta.
Emosi-emosi tersebut selalu disebabkan oleh sesuatu
atau seseorang (orang, peristiwa, perusahaan, produk,
atau komunikasi).
3.
Think
Think marketing merupakan tipe experience yang
bertujuan
untuk
menciptakan kognitif, pemecahan
masalah yang mengajak konsumen untuk berfikir kreatif
(Schmitt dalam Amir Hamzah, 2007). Think marketing
adalah salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan
untuk
membawa
komoditi
menjadi
pengalaman
(experience) dengan melakukan customization secara
terus-menerus (Kertajaya, 2004).
Tujuan
dari
think
marketing
adalah
untuk
mempengaruhi pelanggan agar terlibat dalam pemikiran
yang kreatif dan dapat menciptakan kesadaran melalui
proses berfikir yang berdampak pada evaluasi ulang
terhadap perusahaan, produk dan jasanya.
Berdasarkan uraian diatas
bisa
disimpulkan bahwa
Experiential marketing melaui sense, feel, think, merupakan
strategi untuk membentuk pengalaman pelanggan. Untuk
menciptakan
pengalaman
yang
mengesankan
(memorable
22
experience), pemasar harus merangsang ketiga panca indra
pelanggan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan, dengan
mnegusahakan supaya pelanggan merasa feel good dan membuat
emosi pelanggan sama dengan apa yang diinginkannya.
pemasaran berdasarkan pengalaman dapat menciptakan preferensi
konsumen yang mebedakan suatu produk/jasa dengan produk/jasa
yang lainya. Konsep pemasaran yang menekankan adanya
pengalaman pelanggan ini merupakan salah satu keunggulan
jangka panjang yang sulit ditiru oleh pesaing.
2.3 Kualitas Pelayanan
Modernitas
dengan
kemajuan
teknologi
akan
mengakibatkan persaingan yang sangat ketat untuk memperoleh
dan mempertahankan pelanggan. Kualitas pelayanan menjadi
suatu keharusan yang harus dilakukan perusahaan supaya mampu
bertahan dan tetap mendapat kepercayaan pelanggan. Pola
konsumsi dan gaya hidup pelanggan menuntut perusahaan
mampu memberikan pelayanan yang berkualitas. Keberhasilan
perusahaan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dapat
ditentukan dengan pendekatan service quality yang telah
dikembangkan oleh Parasuraman, Berry dan Zenthaml (dalam
Lupiyoadi, 2006:181).
Service Quality adalah seberapa jauh perbedaan antara
23
harapan dan kenyataan para pelanggan atas layanan yang mereka
terima. Service Quality dapat diketahui
dengan
cara
membandingkan persepsi pelanggan atas layanan yang benarbenar mereka terima dengan layanan sesungguhnya yang mereka
harapkan.
Kualitas
pelayanan
menjadi
hal
utama
yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh
sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Menurut Wyckof kualitas jasa adalah tingkat keunggulan
yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
untuk memenuhi keinginan pelanggan. Apabila jasa yang
diterima sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas jasa
dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima
melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan
ideal. Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah dari pada
yang diharapkan, maka kualitas jasa dianggap buruk (Tjiptono,
2005:121).
Mengacu pada pengertian kualitas layanan tersebut
maka
konsep kualitas layanan adalah suatu daya tanggap dan
realitas dari jasa yang diberikan perusahaan. Kualitas pelayanan
harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada
persepsi pelanggan (Kotler, 1997). Hal ini berarti bahwa kualitas
yang baik bukanlah berdasarkan persepsi penyediaan jasa,
melainkan berdasarkan persepsi pelanggan.
24
Kualitas
layanan
mengacu
pada
penilaian-penilaian
pelanggan tentang inti pelayanan, yaitu si pemberi pelayanan itu
sendiri atau keseluruhan organisasi pelayanan, sebagian besar
masyarakat sekarang mulai menampakkan tuntutan terhadap
pelayanan prima, mereka bukan lagi sekedar membutuhkan
produk yang bermutu tetapi mereka lebih senang menikmati
kenyamanan pelayanan (Roesanto, 2000). Oleh karena itu
dalam merumuskan strategi dan program pelayanan, organisasi
harus berorientasi pada kepentingan pelanggan dan sangat
memperhatikan dimensi kualitasnya.
2.3.1 Dimensi Kualitas Layanan
Parasuraman, et al. (1988) mengidentifikasikan lima
dimensi dari kualitas pelayanan (service quality), antara lain:
a) Bukti Fisik (Tangibles)
Berfokus
pada
elemen-elemen
yang merepresentasikan
pelayanan secara fisik yang meliputi fasilitas fisik (gedung,
warna, dekorasi, dan lain sebagainya), lokasi (jarak yang sulit
dijangkau atau tidak), perlengkapan dan
peralatan
yang
dipergunakan (teknologi).
b) Keandalan (Reliability)
Kemampuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
yang telah dijanjikan dengan tepat yang meliputi kesesuaian
25
kinerja dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan, sikap
simpatik dan akurasi yang tinggi.
c) Ketanggapan (Responsiveness)
Kemauan untuk membantu dan memberikan pelayananan
yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan dengan
informasi yang jelas. Dimensi ini menekankan pada perilaku
personel yang memberi pelayanan untuk memperhatikan
permintaan, pertanyaan, dan keeratan dari para pelanggan.
d) Jaminan (Assurance)
Kemampuan untuk melahirkan kepercayaan dan keyakinan
pada
diri
pelanggan
yang
meliputi
pengetahuan,
kesopansantunan dan kemampuan untuk menumbuhkan rasa
percaya para pelanggan.
e) Empati (Empathy)
Menekankan pada perlakuan konsumen sebagai individu yang
meliputi syarat untuk peduli, memiliki pengertian dan
pengetahuan
pelanggan
tentang
secara
pelanggan,
spesifik,
memahami
serta
kebutuhan
memiliki
waktu
pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.
Dari pendapat
para ahli tentang dimensi
kualitas
pelayanan, dapat disimpulkan beberapa dimensi yang kredibel
yaitu
dengan
memenuhi
syarat
agar
sebuah
pelayanan
26
memungkinkan untuk menimbulkan kepuasan pelanggan. Para
peneliti seperti Parasuraman, et al. (1988) telah terlebih dahulu
menyatakan bahwa kualitas pelayanan yang tinggi menghasilkan
kepuasan pelanggan yang tinggi pula. Bitner dalam Bei dan Chiao
(2001) juga mengatakan bahwa kualitas pelayanan yang baik
dapat
menimbulkan
kepuasan
dan
kepuasan
pelanggan
meningkatkan evaluasi terhadap kualitas pelayanan kembali.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan pelanggan
sesuai
atau bahkan
melebihi
harapan pelanggan,
maka
pelayanan tersebut dianggap berkualitas dan memuaskan.
Namun apabila pelanggan mendapati bahwa pelayanan yang
diterima itu tidak sesuai atau berada di bawah harapan
pelanggan, maka pelayanan dapat dianggap tidak berkualitas dan
mengecewakan.
Adapun dimensi-dimensi tersebut yaitu: Tangibles atau
bukti fisik, Reliability atau keandalan Responsiveness atau
ketanggapan.
2.4 Kepuasan Pelanggan
Kepuasan
konsumen
didefinisikan
sebagai
tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil)
yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya (Kotler, 2005).
Perbandingan antara
harapan dan
kinerja
tersebut
akan
27
menghasilkan
pelanggan.
perasaan
Apabila
senang
atau
kecewa
dibenak
kinerja sesuai atau bahkan melebihi
harapan, maka pelanggan akan merasa senang atau puas.
Sebaliknya apabila kinerja berada di bawah harapan, maka
pelanggan akan merasa kecewa atau tidak puas. Kepuasan
konsumen merupakan keseluruhan sikap yang ditunjukkan
pelanggan atas barang atau jasa setelah mereka memperoleh dan
menggunakannya (Mowen, et al, 2002). Kepuasan konsumen
juga didefinisikan sebagai tahapan pelanggan, yaitu penilaian
atas fitur-fitur suatu produk atau jasa, bahkan produk atau jasa
itu sendiri, yang memberikan tingkat kesenangan.
Kotler
dan
Armstrong
(dalam
Tjiptono,
2006)
mengungkapakan harapan konsumen dibentuk dan didasarkan
oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman berbelanja dimasa
lampau, opini teman dan kerabat serta informasi dan janji-janji
perusahaan dan pesaing. Secara konseptual, kepuasan konsumen
dapat digambarkan sebagai berikut :
28
Gambar 2.1
Konsep Kepuasan Konsumen
Tujuan
Perusahaan
Kebutuhan &
keinginan
pelanggan
Produk
Nilai produk
bagi pelanggan
Tingkat kepuasan
konsumen
Harapan
konsumen
terhadap
produk
Sumber : Fandy Tjiptono, 1999
Konsumen memulai aktifitas dalam interaksi pasar
berdasarkan pada kebutuhan dan keinginan akan barang dan jasa,
dan kebutuhan ini mendorong produsen yaitu perusahaan untuk
menyediakan barang dan
jasa
tersebut. Sejalan dengan
munculnya kebutuhan dan keinginan, maka dalam diri pelanggan
juga muncul harapan-harapan mengenai barang dan jasa yang
nantinya akan dia terima dari produsen. Tujuan perusahaan
adalah memberi kepuasan pada konsumen melalui produk yang
ditawarkan, produk yang memiliki nilai lebih akan memberi
kepuasan lebih juga bagi konsumen. Nilai produk dapat dipenuhi
29
melalui peningkatan kegunaan produk. Hal inilah yang menjadi
dasar bagi suatu produsen atau perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan dan harapan konsumen akan barang dan jasa sehingga
tercapai kepuasan konsumen.
Menurut Tjiptono (2006), di tengah beragamnya cara
mengukur kepuasan konsumen, terdapat kesamaan paling tidak
dalam enam konsep inti mengenai objek pengukuran sebagai
berikut :
1. Kepuasan
Konsumen
Keseluruhan
(Overall
Customer
Satisfaction)
Cara yang paling sederhana untuk mengukur kepuasan
konsumen adalah langsung menanyakan kepada konsumen
seberapa puas mereka dengan produk atau jasa spesifik
tertentu.
Biasanya
pengukuranya.
konsumen
ada
Pertama,
terhadap
bersangkutan.
Kedua,
dua
bagian
mengukur
produk
atau
menilai
dan
dalam
tingkat
jasa
proses
kepuasan
perusahaan
membandingkannya
dengan tingkat kepuasan keseluruhan terhadap produk atau
jasa pesaing.
2. Dimensi Kepuasan Pelanggan
Berbagai penelitian memilah kepuasan konsumen ke dalam
komponen- komponennya. Umumnya, proses semacam ini
terdiri
atas
empat
langkah. Pertama, mengidentifikasi
30
dimensi-dimensi kunci kepuasan konsumen. Kedua, meminta
konsumen menilai produk atau jasa perusahaan berdasarkan
item-item spesifik, seperti kecepatan layanan, fasilitas
layanan, atau keramahan staf layanan konsumen. Ketiga,
meminta konsumen menilai produk
atau jasa pesaing
berdasarkan item-item spesifik yang sama. Dan keempat,
meminta para pelanggan untuk menentukan dimensi-dimensi
yang menurut mereka paling penting dalam menilai kepuasan
konsumen keseluruhan.
3. Konfirmasi Harapan (Confirmation of Espectation)
Dalam konsep ini, kepuasan tidak diukur langsung, tetapi
disimpulkan berdasarkan kesesuaian/ketidaksesuaian antara
harapan konsumen dengan kinerja aktual produk perusahaan
pada sejumlah atribut atau dimensi penting.
4. Minat Pembelian Ulang (Repurchase Intent)
Kepuasan konsumen diukur secara behavioral dengan cara
menyatakan
apakah
pelanggan
akan
berbelanja
atau
menggunaakan jasa perusahaan lagi.
5. Kesediaan untuk Merekomendasi (Willingness to Recommend)
Dalam kasus produk yang pembelian ulangnya relatif lama
atau bahkan hanya terjadi satu kali pembelian, kesediaan
konsumen untuk merekomendasikan produk kepada teman
atau keluarganya menjadi ukuran yang penting untuk
31
dianalisis dan ditindak lanjuti.
6. Ketidakpuasan Konsumen (Customer Dissatisfaction)
Beberapa macam aspek yang sering ditelaah guna mengetahui
ketidakpuasan pelanggan, meliputi komplain, retur atau
pengembalian
produk,
biaya
garansi,
product
recall
(penarikan kembali produk dari pasar), gethok tular negative,
dan defections (konsumen yang beralih ke pesaing).
2.5 Loyalitas Pelanggan
Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari
semua
perusahaan
selain
laba.
Tetapi
kebanyakan
dari
perusahaan atau produsen tidak mengetahui bahwa loyalitas
pelanggan melalui beberapa tahap. Loyalitas secara harfiah
diartikan kesetiaan,yaitu kesetiaan seseorang terhadap suatu
objek.
Menurut Fandy Tjiptono (2000:111) menyatakan bahwa
: “loyalitas sebagai situasi dimana konsumen bersikap positif
terhadap produk atau produsen (penyedia jasa) yang disertai pola
pembelian ulang yang konsisten”.
Dari
mengacu
pengertian
pada
suatu
tersebut
terlihat
bahwa
loyalitas
perilaku yang ditunjukan dengan
pembelian rutin yang didasarkan pada unit pengambilan
keputusaan.
32
Griffin (2005 ; 5) juga menyatakan bahwa loyalitas
menunjukkan
kondisi
dari
durasi
waktu
tertentu
dan
mensyaratkan bahwa tindakan pembelian terjadi tidak kurang
dari dua kali. Selain itu, Griffin mengungkapkan bahwa terdapat
dua kondisi penting yang berhubungan dengan loyalitas, antara
lain :
1. Retensi pelanggan (customer retention). Retensi pelanggan
menjelaskan lamanya hubungan dengan pelanggan. Tingkat
retensi pelanggan adalah persentase pelanggan yang telah
memenuhi sejumlah pembelian ulang selama periode waktu
yang terbatas.
2. Total pangsa pelanggan (total share of customers). Pangsa
pelanggan suatu perusahaan menunjukkan persentase dari
anggaran pelanggan yang dibelanjakan ke perusahaan
tersebut.
Selanjutnya Griffin (2005 ; 16) juga mengemukakan
bahwa loyalitas merupakan hasil mencurahkan perhatian pada
apa yang perlu dilakukan untuk mempertahankan pelanggan dan
kemudian terus melakukannya. Loyalitas pelanggan yang
meningkat menyebabkan profitabilitas yang lebih tinggi, retensi
pegawai yang lebih tinggi, dan basis keuangan yang lebih stabil.
33
2.5.1 Karakteristik Loyalitas
Pelanggan yang loyal merupakan asset penting bagi
perusahaan, hal ini dapat
dimilikinya,
sebagai
dilihat dari
karakteristik
yang
mana diungkapkan Griffin (2005:31)
pelanggan yang loyal memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Melakukan pembelian ulang secara teratur
artinya
pembelian
berulang
secara
regular
kontinuitas
pelanggan dalam melakukan pembelian atau konsumsi atas
produk yang ditawarkan.
b. Membeli diluar lini produk
artinya pembelian yang dilakukan oleh pelanggan atas berbagai
lini produk.
c. Merekomendasikan kepada orang lain
artinya kesediaan pelanggan dalam memberikan referensi
kepada pihak lain untuk mengkonsumsi produk.
d. Menunjukan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari
pesaing.
artinya
kekebalan
atau
tidak
terdapatnya
ketertarikan
pelanggan terhadap pelayanan sejenis dan bentuk-bentuk
promosi pesaing.
Semua karakteristik diatas dapat terwujud, jika pelanggan
yang menggunakan produk/jasa tertentu merasa terpuaskan oleh
produk atau jasa tersebut. Pelanggan yang puas terhadap
34
kualitas jasa/pelayanan yang baik akan senang melakukan
pembelian atau menggunakan jasa secara berulang-ulang, lebih
lanjut mereka akan dengan mudah merekomendasikan kepada
orang lain mengenai keunggulan suatu produk atau jasa.
Sedangkan menurut Damadi dalam situs www.swa.co.id
loyalitas pelanggan diindikasikan dalam beberapa dimensi, antara
lain:
1. Kemauan membayar harga lebih
2. Adanya pembelian ulang
3. Punya komitment dan rasa memiliki yang tinggi terhadap
produk.
Griffin (2005 ; 22) juga menggolongkan loyalitas pelanggan
berdasarkan tingkat pembelian ulang dan tingkat ketertarikan
yang digambarkan sebagai berikut :
Tabel 2.2
Empat jenis loyalitas
Pembelian
Berulang
Tinggi
Rendah
Tinggi
Loyalitas Premium
Loyalitas Tersembunyi
Rendah
Loyalitas yang Lemah Tanpa Loyalitas
Ketertarikan
Relatif
35
Berdasarkan klasifikasi di atas, terdapat empat golongan loyalitas,
yaitu :
1. Tanpa Loyalitas (No Loyality)
Keterikatan yang rendah dikombinasikan dengan pembelian
berulang yang rendah menunjukkan tidak adanya loyalitas,
perusahaan harus menghindari membidik para pembeli jenis
ini karena mereka tidak akan pernah menjadi pelanggan yang
loyal, mereka hanya berkontribusi sedikit pada kekuatan
keuangan perusahaan.
2. Loyalitas yang Lemah (Inertia Loyalty)
Keterikatan
yang rendah digabung dengan pembelian
berulang yang tinggi menghasilkan loyalitas yang lemah,
pelanggan ini membeli karena kebiasaan. Dengan kata lain,
faktor nonsikap dan faktor situasi merupakan alas an untuk
membeli. Loyalitas jenis ini paling umum terjadi pada produk
yang sering dibeli.
3. Loyalitas Tersembunyi (Latent Loyalty)
Tingkat preferensi yang relatif tinggi digabung dengan tingkat
pembelian berulang yang rendah menunjukkan loyalitas
tersembunyi. Pelanggan ini melakukan pembelian berulang
karena faktor situasi dan bukan karena pengaruh sikap.
4. Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas jenis ini merupakan jenis loyalitas yang paling
36
dapat ditingkatkan, loyalitas ini terjadi bila ada tingkat
keterikatan yang tinggi dan tingkat pembelian berulang yang
tinggi juga. Pada tingkat preferensi paling tinggi tersebut,
konsumen
merasa
bangga
karena
menemukan
dan
menggunakan produk tertentu dan dengan senang hati berbagi
pengetahuan mereka dengan rekan dan keluarga.
Selanjutnya Griffin (2005:11) mengemukakan keuntungan
keuntungan keuntungan
yang
akan
diperoleh
perusahaan
apabila memiliki pelanggan yang loyal antara lain:
a. Dapat mengurangi biaya pemasasaran (karena biaya untuk
menarik pelanggan yang baru lebih mahal dari pada biaya
untuk mempertahankan pelanggan)
b. Dapat
mengurangi
biaya
transaksi
seperti
negosiasi
kontrak dan pemrosesan order.
c. Dapat mengurangi biaya turn over konsumen (karena
penggantian konsumen yang lebih sedikit)
d. Dapat
meningkatkan
penjualan
silang,
yang
akan
memperbesar pangsa pasar perusahaan.
e. Mendorong word of mouth yang relative pesotive, dengan
asumsi bahwa pelanggan yang loyal juga berarti mereka
merasa puas.
f. Dapat
mengurangi
penggantian, dll )
biaya
kegagalan
(seperti
biaya
37
Loyalitas berkembang mengikuti tiga tahap yaitun
kognitif, afektif dan konatif. Biasanya pelanggan menjadi setia
lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian pad aspek afektif,
dan akhrnya pada aspek konatif. Ketiga aspek tersebut
biasanya sejalan, meskipun tdak semua kasus mengalami hal
yang sama.
1. Tahap Pertama: Loyalitas Kognitif
Pelanggan yang mempunyai loyalitas tahap pertama ini
menggunakan informasi
produk
lainya.
keunggulan
Loyalitas
suatu
rpoduk
atas
Konitif lebih didasarkan pada
karakteristik fungsional, terutama biaya,manfaat, dan kualitas.
Jika ketiga factor tesebut tidak baik, pelanggan akan mudah
pindah keproduk lain. Pelanggan yang hanya mengatifkan
tahap kognitifnya dapat dihipotesiskan sebagai pelanggan
yang paling rentan terhadap perpindahan karena adanya
rangsangan pemasaran.
2. Tahap kedua: Loyalitas afektif
Sikap merupakan fungsi dari kognitif pada periode awal
pembelian (masa sebelum konsumsi) dan merupakan fungsi
dari sikap sebelumnya ditambah dengan kepuasan diperiode
berikutnya (masa setelah konsumsi). Munculnya loyalitas
afektif ini didorong oleh factor kepuasan yang menimbulkan
kesukaan dan menjadikan objek sebagai preferensi. Kepuasan
38
pelanggan berkorelasi tinggi dengan niat pembelian ulang
diwaktu mendatang. Pada loyalitas afektif, kerentanan
pelanggan lebih banyak terfokus pada tiga factor, yaitu
ketidakpusan dengan merek yang ada, persuasi dari pemasar
maupun pelanggan merek lain, dan upaya mencoba produk
lain.
3. Tahap Ketiga: Loyalitas Konatif
Konasi menunjukan suatu niat komitment untuk melakukan
sesuatu. Niat merupakan fungsi dari niat sebelumnya (pada
masa sebelum konsumsi) dan sikap pada masa setelah
konsumsi. Maka loyalitas konaktif merupakan suatu loyalitas
yang mencangkup komitmen mendalam untuk melakukan
pembelian. Jenis komitmen ini sudah melampaui afek. Afek
hanya menunjukan kecenderungan motivasional, sedangkan
komitmen untuk melakukan menunjukan suatu keinginan
untuk melaksanaakan tindakan. Keinginan untuk membeli
ulang atau menjadi loyal itu hanya merupakan tindakan yang
terantisipasi tetapi belum terlaksana. Untuk melengkapi
tuntutan loyalitas , satu tahap lagi ditambahkan pada model
kongitif afektif- kongitif, yaitu loyalitas tindakan.
4. Tahap keempat: loyalitas tindakan.
Aspek konatif atau niat untuk melakukan berkembang
untukmenjadi perilaku dan tindakan. Niat yang diikuti oleh
39
motivasi , merupakan kondisi yang mengarah pada kesiapan
bertindak dan keinginan untuk mengatasi hambatan dalam
melakukan tindakan tersebut. Jadi loyalitas itu dapat
menjadi kenyataan menjadi kenyataan melalui beberapa tahap,
yaitu pertama sebagai loyalitas kognitif, kemudian loyalitas
afektif, dan loyalitas konatif, dan akhirnya sebagai loyalitas
tindakan. Pelanggan yang terintegrasi penuh pada tahap
loyalitas tindakan dapat dihipotesiskan sebagai pelanggan
yang rendah tingkat kerentanannya untuk berpindah keproduk
lain. Dengan kata lain, loyalitas tindakan ini hanya sedikit
bahkan sama sekali tidak member peluang pada pelanggan
untuk berpindah keproduk lain. Pada kukonasi dan tindakan,
kerentanan pelanggan lebih berfokus pada factor persuasi dan
keinginan untuk mecoba produk lain.
2.5.2 Tahap pertumbuhan loyalitas
Untuk menjadi pelanggan yang loyal, seseorang harus
melalui beberapa tahapan dengan suatu proses yang dapat
berlangsung lama. Menurut Griffin (2005:35) tingkatan loyalitas
terdiri dari:
1. Suspect
Tersangka (suspect) adalah orang yang mungkin membeli
produk atau jasa anda. Kita menyebutnya tersangkan karena
40
kita percaya atau menyangkan mereka akan membeli, tetapi
kita masih belum cukup yakin.
2. Prospek
Prospect adalah orang yang membutuhkan produk atau jasa
anda dan kemampuan membeli.
3. Prospek yang diskualifikasi
Prospek yang didiskualifikasi adalah prospek yang telah
cukup anda pelajari untuk mengetahui bahwa mereka tidak
membutuhkan, atau tidak memiliki kemampuan membeli
produk anda.
4. Pelanggan pertama kali
Pelanggan pertama kali adalah orang yang telah membeli dari
anda satu kali.
Orang tersebut
bisa jadi
merupakan
pelanggan anda dan sekaligus juga pesaing anda.
5. Pelanggan berulang
Pelanggan berulang adalah orang orang yang telah membeli
dari dua kali atau lebih.
6. Klien
Klien membeli apapun yang anda jual dan dapat ia gunakan.
Orang ini membeli secara teratur. Anda memiliki hubungan
yang kuat dan berlanjut, yang menjadikan kebal terhadap
tarikan pesaing.
41
7. Penganjur (Advocate)
Seperti klien, penganjur membeli apapun yang anda jual
dan dapat ia gunakan serta membelinya secara teratur, tetapi
penganjur juga mendorong orang lain untuk membeli dari
anda. Ia membicarakan anda, melakukan pemasran bagi anda,
dan membawa pelanggan kepada anda.
Cara kerja Sistem Profit Generator di atas adalah sebagai
berikut : Perusahaan menyalurkan suspek ke dalam sistem
pemasarannya, dan tiap-tiap suspek dikualifikasikan sebagai
prospek berpotensi tinggi atau tidak memenuhi kualifikasi
(diskualifikasi). Sebaiknya perusahaan bisa mengidentifikasikan
prospek yang diskualifikasi secepat mungkin, karena mereka
hanya akan membuang waktu dan uang perusahaan, keadaan ini
dapat mengurangi laba perusahaan secara drastis.
Prospek yang memenuhi kualifikasi kemudian dijadikan
fokus dengan tujuan untuk mengubah mereka menjadi pelanggan
pertama kali, lalu menjadi pelanggan berulang, dan akhirnya
menjadi klien, dan penganjur. Tanpa perhatian yang tepat,
pelanggan pertama kali, pelanggan berulang, klien, dan
penganjur bisa hilang atau tidak aktif, yang mencerminkan
hilangnya laba.
42
2.5.3 Mengukur Loyalitas
Secara umum loyalitas dapat diukur dengan cara cara
berikut:
1. Urutan pilihan (Choice Sequence) metode urutan pilihan atau
disebut juga pola pembelian ulang ini banyak dipakai dalam
penelitian dengan menggunakan panel panel agenda harian
pelanggan lainya, dan lebih terkini lagi manfaat BlackBerry
untuk melakukan interaksi yang cepat dan mudah. Urutan itu
dapat berupa : Loyalitas yang tak terpisahkan (undividen
loyalty) dapat ditujukan dengan runtutan AAAAAA. Artinya
pelanggan hanya membeli suatu produk tertentu saja.
misalnya
pelanggan selalu memilih Blackberry setiap
pembelian handphone. Loyalitas yang terbagi (devided
loyalty) dapat ditunjukan dengan runtutan ABABAB. Artinya
pelanggan hanya membeli 2 produk atau merek secara
bergantian. Misalnya suatu ketika membeli handphone
BlackBerry dan berikutnya handphone Samsung. Loyalitas
yang tidak stabil (unstable loyalty) dapat ditunjukan dengan
runtutan AAABBB. Artinya pelanggan memilih sesuatu
merek untuk beberapa kali pembelian kemudian berpindah
kemerek lain untuk periode berikutnya. Misalnya selama
setahun pelanggan memilih handphone BlackBerry dan tahun
43
berikutnya handphone Samsung. Tanpa Loyality (No loyalty)
ditunjukan dengan tuntutan ABCDEF artinya pelanggan tidak
membeli suatu merek tertentu.
2. Proporsi pembelian (proportion of purchase)
Berbeda dengan runtutan pilihan , caara ini menguji proporsi
pembelian total dalam sebuah kelompok produk tertentu. Data
yang dianalisis berasal dari panel pelanggan.
3. Preferensi (preference)
Cara ini mengukur loyalitas dengan menggunakan komitment
psikologi atau pernyataan preferensi . dalam hal ini,
loyalitas dianggap sebagai “sikap yang positif “ terhadap
suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam istilah niat
untuk membeli.
4. Komitmen (commitment)
Komitmen
lebih
terfokus
pada
komponen
emosional/perasaaan. Komitmen terjadi dari keterkaitan
pembelian yang merupakan akibat dari keterkaitan pembelian
yang merupakan akibat dari keterlibatan ego engan katagori
merek keterlibatan ego tersebut terjadi ketika sebuah produk
sangat berkaitan dengan nilai nilai penting, keperluan, dan
konsep diri pelanggan. Cara
pertama
dan
kedua
diatas
merupakan pendekatan perilaku
(behavioural
approach).
Cara
ketiga
dan
keempat
44
termasuk dalam pendekatan attitudinal (attitudinal approach)
2.6. Hubungan variabel
2.6.1 Hubungan Antara Experiential Marketing Dengan
Kepuasan Konsumen
Experiential Marketing : How to Get Customer to Sense,
Feel, Think, Act and Relate to Your Company and Brands
(Schmitt, 1999), ia mengajak para pemasar untuk keluar dari
kotak pendekatan pemasaran tradisonal yang terlalu bertumpu
pada produk (fitur) dan benefit dengan memasukkan unsur emosi
dalam bauran pemasaran untuk membujuk konsumen, dengan
pengalaman yang unik, positif dan mengesankan pada konsumen.
Bila konsumen terkesan dengan suatu produk, atau produk itu
menghadirkan pengalaman positif yang tak terlupakan, pastinya
konsumen juga akan merasakan kepuasan yang didapatkan. Sejak
tahun 1980-an, kepuasan pelanggan selalu menjadi sebuah
ukuran kesuksesan bisnis. Semua perusahaan berlomba-lomba
untuk dapat memuaskan pelanggannya dengan berbagai cara agar
pelanggan menjadi puas dan terpenuhi harapannya. Teorinya, jika
pelanggan puas, maka konsumen akan membeli lebih dan terus
membeli lagi. Perusahaan percaya bahwa kepuasan pelanggan
memberikan hasil yang positif secara keuangan, khususnya dalam
penjualan produk secara berulang. Namun, fokus perusahaan
45
jangan sekadar kepuasan konsumen, tetapi harus menuju loyalitas
konsumen. Inilah kata kunci yang harus mulai dipahami banyak
perusahaan agar dapat terus tumbuh. Pada dasarnya experiential
marketing yang diciptakan oleh produsen dapat berpengaruh
positif maupun negatif terhadap kepuasaan. Mungkin saja suatu
produk dan jasa yang ditawarkan oleh produsen tidak sesuai
dengan selera konsumen atau mungkin juga konsumen menjadi
sangat puas, dan
akhirnya
harga
yang
ditawarkan
oleh
produsen tidak menjadi masalah bagi konsumen.
Hubungan antara experiential marketing dengan kepuasan
konsumen yaitu experiential marketing dapat menciptakan
pengaruh terhadap kepuasan konsumen sehingga konsumen
merasa puas dan senang dalam menggunakan produk tersebut.
Semakin tinggi pengaruh experiential marketing maka kepuasan
konsumen yang tercipta juga semakin tinggi, dan sebaliknya jika
pengaruh
experiential
marketing
rendah
maka
kepuasan
konsumen yang tercipta berubah semakin rendah.
H1 : experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada pengguna produk BlackBerry.
2.6.2 Hubungan Antara Kualitas Pelayanan Dengan
Kepuasan Konsumen
Para peneliti seperti Parasuraman, et al. (1988) telah
46
terlebih dahulu menyatakan bahwa kualitas pelayanan yang
tinggi
menghasilkan
kepuasan pelanggan yang tinggi pula.
Bitner dalam Bei dan Chiao (2001) juga mengatakan bahwa
kualitas pelayanan yang baik dapat menimbulkan kepuasan dan
kepuasan pelanggan meningkatkan evaluasi terhadap kualitas
pelayanan kembali. Apabila pelayanan yang diterima atau
dirasakan pelanggan sesuai atau bahkan melebihi harapan
pelanggan, maka pelayanan tersebut dianggap berkualitas
dan memuaskan. Namun apabila pelanggan mendapati bahwa
pelayanan yang diterima itu tidak sesuai atau berada di bawah
harapan pelanggan, maka pelayanan dapat dianggap tidak
berkualitas dan mengecewakan.
Dari teori yang telah dijelaskan di atas dan berdasarkan
pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka dalam
penelitian ini diusulkan hipotesis sebagai berikut:
H2 : K ualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada pengguna produk BlackBerry.
2.6.3 Hubungan Antara Kepuasan pelanggan Dengan
Loyalitas pelanggan
Kepuasan
penyebab
adalah salah
terbentuknya
satu
loyalitas
di
antara beberapa
(Dharmayanti,
2006).
Anderson, Fornell dan Lehman (1994) maupun Kandampully &
47
Suhartanto (2000), menyatakan bahwa apabila pelanggan puas
terhadap barang atau pelayanan yang diterima, maka akan
menimbulkan kesetiaan / loyalitas konsumen. Demikian juga
dengan pendapat Assael (1995) bahwa kepuasan yang dirasakan
pelanggan dapat meningkatkan intensitas pembelian, dan dengan
tingkat kepuasan yang optimal ini akan mendorong terciptanya
loyalitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, hipotesis berikut
disajikan:
H3 : K epuasan konsumen berpengaruh signifikan Loyalitas
pelanggan pada pengguna pengguna BlackBerry.
2.6.4 Hubungan Antara Experiential Marketing Dengan
Loyalitas pelanggan
Setiap Perusahaan tentu menginginkan perusahaannya bisa
berjalan dan berkembang sesuai dengan rencana yang telah ada
dengan meningkatkan hasil penjualan dan dapat memasarkan
barang dan jasa hasil produksinya kepada masyarakat sebagai
konsumen.
Tujuan perusahaan akan tercapai yaitu memperoleh
keuntungan yang maksimal. karena pada hakekatnya pemasaran
bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Maksud Experiential
Marketing
untuk memberikan
pengalaman bagi pelanggan dan diharapkan pengalaman itu bisa
48
membekas dihati para pelanggan, yang selanjutnya manfaat
akhirnya harus dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan. Inti dari
experiential marketing adalah untuk membangun hubungan yang
langgeng dengan pelanggan, dimana pemasar melihat keadaan
emosi dari pelanggannya untuk mendapatkan dan menjaga
loyalitas. Secara keseluruhan tujuan Experiential Marketing
meningkatkan pembelian, kepuasan atau loyalitas pelanggan.
Oleh karena itu analisa pelanggan dan pesaing harus dapat
memberikan makna perbedaan guna meningkatkan nilai manfaat
yang sesuai dengan keinginan konsumen.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya pendapat yang di
kemukakan oleh:
Handi Chandra (2008: 166) Experiential marketing adalah
strategi pemasaran yang dibungkus dalam bentuk kegiatan
sehingga memberi pengalaman yang dapat membekas dihati
konsumen.
Experiential
marketing
diyakini
oleh
banyak
pemasaran sebagai salah satu startegi pemasaran yang bagus
untuk menumbuhkan loyalitas pelanggan dengan cepat.
Menurut Kertajaya (2006:168) berpendapat bahwa bumi
memasuki era Experiential economy dimana anda tak cukup lagi
kalau hanya punya produk dan layanan yang oke. Lebih dari
itu, produk anda harus mampu membangkitkan sensasi dan
pengalaman yang akan menjadi basis loyalitas pelanggan.
49
Menurut
Endang
(2009:16)
bahwa
Experiential
Marketing dapat sangat berguna untuk sebuah perusahaan yang
ingin meningkatkan merek yang berada pada tahap penurunan,
membedakan produk mereka dari produk pesaing, menciptakan
sebuah
citra
dan
identitas
untuk
sebuah
perusahaan,
meningkatkan inovasi dan membujuk pelanggan untuk mencoba
dan membeli produk. Hal yang terpenting adalah menciptakan
pelanggan yang loyal.
Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keunggulan
sebuah perusahaan dapat dilakukan dengan cara Experiential
marketing, dimana Experiential marketing dapat memberikan
manfaat utama dan pengalaman yang diberikan produk/jasa dan
layanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan dapat
mempengaruhi loyalitas pelanggan.
H4
:
terhadap
E xperiential marketing berpengaruh signifikan
loyalitas
pelanggan
pada pengguna produk
BlackBerry.
2.6.5
Hubungan Antara Kualitas Pelayanan Dengan
Loyalitas pelanggan
Kualitas pelayanan merupakan tingkatan kondisi baik
buruknya sajian yang di berikan dari perusahaan dalam rangka
memuaskan konsumen, dalam perusahaan jasa tentu bukanlah
50
sesuatu yang mudah didefinisikan, karena hal tersebut sangat
berhubungan erat dengan pandangan konsumen. Hal ini sesuai
pernyataan
Lupiyoadi
(2006)
bahwa
salah
satu
yang
mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen adalah kualitas
pelayanan. Perusahaan perlu meningkatkan kualitas jasa untuk
mengembangkan loyalitas pelanggannya, karena produk atau jasa
yang berkualitas rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak
setia. Jika kualitas diperhatikan, maka loyalitas pelanggan akan
lebih mudah diperoleh.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
H5 : Kualitas Pelayanan berpengaruh signifikan terhadap
loyalitas pelanggan pada pengguna produk BlackBerry
2.7. Kerangka pemikiran
Globalisasi merupakan era dimana segala sesuatu, baik dari
segi benda, serta kebudayaan yang dapat memasuki kedalam
wilayah Negara manapun seperti masuknya media teknologi
komunikasi berupa handphone. Saat ini handphone sudah
menjadi
barang
primer
bagi
masyarakat.
Dulu
orang
berkomunikasi dengan berbicara langsung kepada pihak lain, dan
juga menggunakan surat jika jaraknya jauh. Sekarang seiring
dengan perkembangan zaman yang semakin maju, orang dapat
51
berkomunikasi melalui handphone saat ini banyak digunakan
dikalangan
masyarakat,
baik
dari
kalangan
mahasiswa,
perkantoran, maupun anak-anak sekolahan karena memudahkan
dalam berkomunikasi.
Seiring dengan kemajuan teknologi seluler yang diciptakan
oleh produsen dalam menciptakan berbagai merek dan fitur
dalam handphone, membuat masyarakat selalu mengikuti arah
keluaran handpone yang terbaru dan tercanggih agar dianggap
tidak ketinggalan zaman oleh orang lain salah satunya adalah
handphone smartphone yang bermerek BlackBerry. BlackBerry
adalah salah satu contoh dari produk handphone yang canggih
dan mempunyai nama yang terkenal. Adanya berbagai fitur yang
menarik yang ditawarkan dalam handphone tersebut membuat
masyarakat tertarik untuk membelinya. Misalkan seperti adanya
fitur BlackBerry Messenger, Yahoo! Messenger, push email,
facebook, uber twitter dan masih banyak lagi aplikasi lainnya.
Masuknya BlackBerry di Indonesia saat ini dijadikan
sebagai gaya hidup masyarakat, bagi gaya hidup yang positif
maupun yang negative. Adanya gaya hidup yang ditimbulkan dari
pengguna BlackBerry memberikan dampak bagi masyarakat yang
menggunakan BlackBerry.
Pada saat ini, konsumen tidak hanya menginginkan
keunggulan dan kelebihan kualitas produk dan sebuah brand
52
yang baik namun mereka membutuhkan juga sebuah produk,
komunikasi, dan pesan pemasaran yang dapat memberikan
pesona bagi perasaaan mereka, menyentuh hati mereka,
menterjemahkan apa yang ada dihati mereka, berhubungan
dengan gaya hidup mereka, dan dapat memberikan sebuah
pengalaman.
Startegi pemasaran berkembang dengan cepat, mulai dari
strategi pemasaran jasa hingga pemasaran experiental . dalam
kondisi sekarang, pemasar dituntut menjalani strategi pemasaran
experiental. Dalam pemasaran berdasarkan pengalaman, pemasar
tidak lagi hanya melakukan permintaan akan barang dan jasa
yang
berkualitas, tetapi juga manfaat emosional berupa
pengalaman tak terlupakan (memorable experience) yang
mempererat hubungan konsumen dengan prdusen memalui
produk atau jasa yang ditawarkan.
Salah satu strategi pemasaran yang dapat dilakukan
oleh suatu perusahaan adalah dengan menggunakan pendekatan
experiental marketing. Menurut Schmitt (1999:22) Experiental
marketing dalah konsep pemasaran yang menekankan kinerja
produk atau jasa dalam memberikan pengalaman emosi hingga
menyentuh hati dan perasaan pelanggan. Pemasar experiental
mengatakan bahwa para pelanggan bersifat emosional dan
rasional
dalam
mengkonsumsi
suatu
produk.
Meskipun
53
pelanggan sering menggunakan rasio dalam mengkonsumsi suatu
produk atau jasa, tetapi mereka sering terdorong oleh emosi
karena pengalaman konsumsi mereka untuk mencari hiburan
dan kesenangan. Hal yang penting adalah bahwa pelanggan tidak
menggunakan rasio saja dalam melakukan suatu pembelian atau
konsumsi. pelanggan menginginkan hiburan, stimulasi, dan
sentuhan emosional dan kreatifitas.
Jika konsumen mengalami pengalaman yang berkesan
(pengalaman positif) dan tak terlupakan, dan konsumen merasa
puas
akan
pelayanan atau produk kita maka hal itu akan
menciptakan keinginan konsumen untuk kembali lagi dan
mengkonsumsi produk atau jasa perusahaan tersebut atau
sebaliknya, jika konsumen mengalami pengalaman yang buruk
(pengalaman Negatif) dan mengecewekan, dan tidak merasa puas
akan produk dan pelayanan kita maka mereka tidak akan kembali
lagi mengkonsumsi produk atau jasa perusahaan tersebut dan
tidak akan menimbulkan loyalitas yang akhirnya akan merugikan
perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu
perusahaan sebaiknya
memberi pengalaman yang memberikan kesan positif dan tak
terlupakan kepada konsumennya, sehingga dari pengalaman
tersebut akan meningkatkan emosi pelanggan. Pada saat ini
perusahaan tidak cukup hanya menawarkan produk atau jasa
dengan merek yang terkenal, karena terdapat elemen yang lebih
54
penting yaitu nilai emosi. Jika perusahaan biasa membangkitkan
emosi pelanggan, maka mereka cenderung akan kembali lagi
untuk bertransaksi dengan perusahaan dan akhirnya konsumen
tersebut menjadi loyal terhadap perusahaan.
Meninjau uraian diatas maka perusahaan memerlukan
sebuah persepsi baru mengenai orientasi pemasaran yang
terfokus pada produk menjadi orientasi pemasaran terfokus pada
konsumen.
Faktor
emosi
dapat
mempengaruhi
perilaku
mengkonsumsi sebuah produk pada seseorang konsumen baik itu
emosi negative maupun positif terhadap pengalaman yang
mereka alami. Pola komunikasi pemasaran yang melibatkan
emosi konsumen terkenal dengan Experiential marketing. Setiap
konsumen akan dengan mudah mengingat pengalaman yang
mereka alami sendiri. Ingatan tersebut dapat bertahan untuk
waktu yang lama, semakin membengkas pengalaman tersebut
semakin sulit untuk dilupakan.
Para pemasar perlu membuat sebuah produk yang dapat
menyentuh perasaan, emosi, dan pikiran mereka dengan
menawarkan produk yang dapat memberikan pengalaman positif,
unik, dan mengesankan sehingga konsumen akan loyal terhadap
produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Schmitt (1999: 64)
juga mengatakan “Experiential marketing terdiri dari tiga unsure,
yaitu :sense (panca indra), feel (perasaan), think (pikiran).” Dari
55
unsur unsur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sense yaitu segala aspek dari produk atau jasa yang
berhubungan
dengan
panca
indra
manusia
melalui
penglihatan (sight), pendengaran (sound), perabaan (touch),
pengecapan (taste), dan penciuman (smell).
2. Feel yaitu perasaan dan emosi positif yang muncul
mempengaruhi pengalaman yang dimulai dari suasana hati
(mood).
3. Think yaitu intelektualitas yang menciptakan kesadaran
kognigtif dan mendorong konsumen dalam berfikir kreatif
serta bertujuan untuk memecahkan masalah (problem solving
experiences) yang mengikutsertakan konsumen terhadap
penilaian kembali (reevaluation) pada produk atau jasa.
Ketiga unsur tersebut menitik beratkan pada penciptaan
persepsi tertentu dimata konsumen. Pengalaman mengesankan
tersebut bias dihadirkan memalui Experiential provaiders, yaitu
komponen yang memungkinkan terbentuknaya memorable
experience, antara lain: komunikasi (iklan atau aktivitas
below the line), produk (kemasan dan isinya), identitas produk
memalui co branding, lingkungan, website, dan juga orang orang
yang bertugas menawarkan produk tersebut kepada konsumen.
Perusahaan yang menerapkan Experiential marketing
berusaha memberikan sebuah pengalaman yang sulit dilupakan
56
oleh konsumen dan mebuat produk tersebut melekat dibenak
konsumen. Harapan dari penerapan komunikasi pemasaran
semacam ini yaitu konsumen menjadi loyal, fanatic, dan dapat
mempromosikan
produk
pada
konsumen
lain.
Menurut
Kertajaya (2006:168) berpendapat bahwa bumi memasuki era
Experiential economy dimana anda tak cukup lagi kalau hanya
punya produk dan layanan yang oke. Lebih dari itu, produk
anda harus mampu membangkitkan sensasi dan pengalaman
yang akan menjadi basis loyalitas pelanggan.
Menurut Jill Griffin (2005:4) mengemukakan bahwa:
“loyalitas
pelanggan
adalah
perilaku
pembelian
yang
didefinisikan pembelian nonrandom yang diungkapkan dari
waktu ke waktu oleh beberapa unit pengambil keputusan. Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep loyalitas lebih
mengarah pada perilaku (behavior) dibandingkan dengan sikap
(attitude)
dan
seorang
konsumen
yang
loyal
akan
memperlihatkan perilaku pembelian yang didefinisikan sebagai
pembeli yang teratur dan diperlihatkan sepanjang waktu oleh
beberapa unit pengambil keputusan.
Pelanggan yang loyal merupakan asset penting bagi
perusahaan, hal ini dapat
dimilikinya,
sebagai
dilihat
mana
dari
karakteristik
yang
diungkapkan Griffin (2005:31)
pelanggan yang loyal memiliki karakteristik sebagai berikut:
57
a. Melakukan pembelian ulang secra teratur
artinya pembelian berulang secara regular kontinuitas
pelanggan dalam melakukan pembelian atau konsumsi atas
produk yang ditawarkan.
b. Membeli diluar lini produk
artinya pembelian yang dilakukan oleh pelanggan atas
berbagai lini produk.
c. Menunjukan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari
pesaing.
artinya
kekebalan
atau
tidak
terdapatnya
ketertarikan
pelanggan terhadap pelayanan sejenis dan bentuk-bentuk
promosi pesaing.
Oleh karena itu suatu perusahaan perlu menciptakan
ikatan
yang
kuat dengan para pelanggan dengan cara
menciptakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan dan
menyentuh emosi pelanggan pada produk atau jasa yang
ditawarkan.
Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (2001:133),
hubungan konsumen dengan perusahaan diperkuat ketika
konsumen mendapatkan hasil yang memadai tentang kualitas
layanan dan menjadi lemah ketika konsumen mendapatkan hasil
negative tentang kualitas layanan. Kualitas layanan akan
58
mengarah pada naiknya
kecendrungan untuk melakukan
pembelian. Kualitas layanan secara positif terkait dengan
kecendrungan untuk melakukan pembelian ulang, kecendrungan
memberi rekomendasi pada produk atau jasa, loyalitas dan
profitabilitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa kualitas layanan
dapat meningkatkan kemungkinan pembelian ulang.
Menurut
(Tjiptono,
2007:33),
kualitas
pelayanan
mendorong ke arah peningkatan kepuasan konsumen, kualitas
layanan memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan
konsumen, kualitas layanan yang tinggi menghasilkan kepuasan
konsumen yang tinggi pula. Sebaliknya ketidakpuasan atas
kualitas layanan dapat dijadikan alasan konsumen untuk
berpindah atau melakukan pembelian secara diskontinyu. Jadi
dapat disimpulkan bahwa kualitas layanan berpengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen.
Kualitas pelayanan merupakan tingkatan kondisi baik
buruknya sajian yang di berikan dari perusahaan dalam rangka
memuaskan konsumen, dalam perusahaan jasa tentu bukanlah
sesuatu yang mudah didefinisikan, karena hal tersebut sangat
berhubungan erat dengan pandangan konsumen. Hal ini sesuai
pernyataan
Lupiyoadi
(2006)
bahwa
salah
satu
yang
mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen adalah kualitas
pelayanan. Perusahaan perlu meningkatkan kualitas jasa untuk
59
mengembangkan loyalitas pelanggannya, karena produk atau jasa
yang berkualitas rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak
setia. Jika kualitas diperhatikan, maka loyalitas pelanggan akan
lebih mudah diperoleh.
Berdasarkan uraian di atas dan untuk memperjelas
hubungan antara variabel-variabel, berikut ini dikemukakan
kerangka pemikiran yang berfungsi sebagai penuntun sekaligus
mencerminkan
alur
berfikir
dan
merupakan
dasar
bagi
perumusan hipotesis, seperti terlihat dalam Gambar 2.2 berikut
ini:
Experientian
Marketing :
- Sense
- Feel
- Think
H4
H1
Kepuasan
Pelanggan
Kualitas Pelayanan
:
- Reliability
- Assurance
- Tangible
- Emphaty
- Responsiveness
H3
Loyalitas
Pelanggan
H2
H5
2.8 Hipotesis
Sumber : (Schmitt, 1999:64), (Parasuraman, 1988), Tjiptono (2006),
Hipotesis
merupakan
Jill (Griffin, 2005:31)
jawaban
sementara
terhadap
60
permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data
yang
dikumpulkan (Sugiyono, 1999) berdasarkan tinjauan di atas maka
hipotesis yang akan diuji dalam penelitian adalah :
H1 : Experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada pengguna produk BlackBerry
H2
: Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada pengguna produk BlackBerry
H3 : Kepuasan konsumen berpengaruh signifikan terhadap
loyalitas pelanggan pada pengguna produk BlackBerry
H4 : Experiential marketing berpengaruh signifikan terhadap
loyalitas pelanggan pada pengguna produk BlackBerry
H5 : kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas
pelanggan pada pengguna produk BlackBerry
61
Download