Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Manajemen dan Manajemen Sumber Daya Manusia
2.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur.
Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsifungsi manajemen itu. Jadi manajemen itu merupakan suatu proses untuk
mewujudkan tujuan yang diinginkan.
Manajemen mempunyai arti yang sangat luas, dapat berarti proses seni
maupun ilmu, dikatakan proses karena dalam manajemen terdapat beberapa
tahapan untuk mencapai tujuan perencanaan, pengorganisasiaan, pengarahan, dan
pengawasan. Dikatakan seni karena merupakan suatu cara atau alat untuk
seseorang manajemen untuk mencapai tujuan. Dikatakan ilmu karena manajemen
dapat dipelajari dan dikaji sebagai berikut.
Untuk memahami tentang manajemen, akan dikemukakan beberapa ahli
diantaranya adalah sebagai berikut :
Menurut Pangabean (2007:13) mengatakan bahwa :
“Manajemen merupakan sebuah proses yang terdiri atas fungsifungsi
perencanaan,
pengorganisasian,
pemimpinan,
dan
pengendalian kegiatan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan secara efisien”.
Menurut Musselman dan Jakson yang dikutip oleh Sirait (2006:60) mengatakan
bahwa:
“Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan,
perorganisasian, pengarahan dan pengendalian aktivitas-aktivitas
perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu”.
Menurut Rivai (2009:22) pengertian manajemen adalah:
“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pendayagunaan
sumber daya lainnya secara efisien, efektif, dan produktif merupakan
hal yang paling penting untuk mencapai suatu tujuan”.
2.1.2 Pengertian manajemen Sumber daya Manusia
Manusia merupakan sumber daya yang paling penting dalam suatu
organisasi. Hal tersebut dapat menunjang keberhasilan suatu organisasi.
Keberhasilan
pengelola
organisasi
sangat
ditentukan
oleh
kegiatan
pendayagunaan sumber daya manusianya. Dibawah ini dirumuskan definisi
manajemen sumber daya manusia yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan (2010:9) mengatakan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien
membantu
terwujudnya
tujuan
perusahaan,
karyawan,
dan
masyarakat”.
Menurut Marihot Tua Efendi Hariandja, Drs., M.Si (2005) mengatakan bahwa
:
“Manajer
sumber
daya
manusia
adalah
kegiatan
untuk
meningkatkan konstribusi sumber daya manusia dalam mencapai
tujuan organisasi”.
Menurut Hj Ike Kusdyah Rachmawati, SE, MM (2008) mengatakan bahwa :
“Manajemen sumber daya manusia merupakan konsep luas tentang
filosofi, kebijakan, prosedur, dan praktik yang digunakan untuk
mengelola individu atau manusia melalui organisasi”.
2.1.3 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber daya manusia adalah proses menangani berbagai masalah
pada ruang lingkup karyawan, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk
dapat menunjaung aktifitas organisassi atau perusahaan demi mencapai tujuan
yang telah ditentukan. Jika melihat dari beberapa definisi manajemen sumber
daya manusia diatas, maka manajeman sumber daya manusia dapat dibedakan
menjadi dua fungsi manajerial dan fungsi operasional. Fungsi manajemen sumber
daya manusia menurut Hasibuan (2010:22-23), mengungkapkan bahwa fungsi
Manajemen Sumber Daya Manusia terdiri dari:
1. Fungsi manajerial:
a. Perencanaan
Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien
agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu mewujudkan
tujuan.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan
dengan
menetapkan
pembagian
kerja,
hubungan
kerja,
delegasi
wewenang, intregasi, dan koordinasi dalam bagian organisasi.
c. Pengarahan
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan, agar mau
berkerja sama dan berkerja sama dan berkeja efektif seta efisien dalam
membantu tercapainya tujuan perusahaan.
d. Pengendalaian
Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar
menaati peraturan-peraturan perusahaan dan berkerja sesuai dengan
rencana.
2. Fungsi Manajemen Operasional:
a. Pengadaan
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan.
b. Pengembangan
Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknik teoritis,
konseptual dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
c. Kompensasi
Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung,
uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan
kepada perusahaan.
d. Pengintregrasian
Pengintregasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi
dan saling menguntungkan.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan
kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka tetap berkerja
sama sampai pensiun.
f. Kedisiplinan
Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk menaati peraturanperaturan perusahaan dan norma-norma sosial.
g. Pemberhentian
Pemberhentian
adalah
putusnya
hubungan
kerja
seseorang
dari
perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan,
keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab
lainnya.
2.2 Kompensasi
2.2.1 Pengertian kompensasi
Kompensasi merupakan salah satu fungsi manajemen personalia yang
paling sulit dan membingungkan, tidak hanya karena pemberian kompensasi
merupakan salah satu tugas paling kompleks tetappi juga salah satu aspek yang
paling berarti baik bagi pegawai maupun organisasi, meskipun kompensasi harus
mempunyai dasar yang logik, rasional dan dapat dipertahankan hal ini
menyangkut banyak faktor emosional dari sudut pandang karyawan.
Kompensasi merupakan pengeluaran dan biaya bagi perusahaan.
Perusahaan mengharapkan agar kompensasi yang dibayarkan memperoleh
imbalan pretasi kerja yang lebih besar dari karyawan. Jadi nilai pretasi kerja
karyawan harus lebih besar dari kompensasi yang dibayar perusahaan supaya
perusahaan mendapatkan laba dan kontinuitas perusahaan terjamin.
Untuk jelasnya penulis akan mengutip pengertian kompensasi menurut
beberapa ahli :
Menurut Hasibuan (2010:116) mengatakan bahwa :
“Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang
langsung atau tidak langsung atau tidak langsung yang diterima
karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada
perusahaaan”.
Menurut Andrew F.sikula (2010) yang dikutip oleh Hasibuan mengatakan
bahwa:
“Kompensasi adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau
dianggap sebagai suatu balasan jasa atau ekuivalen”.
2.2.2 Macam-macam kompensasi
Pada dasarnya kompensasi dapat dikelompokan dua bentuk kompensasi
yaitu kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung.
A. Kompensasi lansung
Kompensasi langsung yaitu suatu balas jasa yang diberikan kepada
karyawan karena telah memberikan prestasinya demi kepentingan
perusahaan. kompensasi ini diberikan karena berkaitan secara langsung
dengan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tersebut. Kompensasi ini
terdiri dari gaji, upah, insentif/bonus.
a. Gaji
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara(2008:85) mengatakan bahwa:
“Gaji merupakan uang yang dibayarkan kepada pegawai atas jasa
pelayanannya yang diberikan secara bulanan”.
Menurut Wilujeung (2006:104) mengatakan bahwa:
“Gaji merupakan uang yang dibayarkan kepada karyawan pada
setiap periode tertentu yang jumlahnyacenderung tetap”.
Menurut Rivai (2010:360) mengatakan bahwa:
“Balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan sebagai
konsekuensi dari kedudukan sebagai karyawan yang memberikan
sumbangan dan pikiran dalam mencapai tujuan perusahaan”.
b. Upah
Menurut Mutiara (2007:77) mengatakan bahwa:
“Upah merupakan imbalan finansial langsung yang dibayarkan
kepada para pekerja berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang
dihasilkan atau banyaknya pelayanan yang diberikan”.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara(2008:85) mengatakan bahwa:
“Upah adalah pembayaran berupa uang untuk pelayanan kerja atau
uang yang biasanya dibayarkan kepada pegawai secara per jam, per
hari, dan per setengah hari”.
Menurut Flippo(2006:184) yang dikutip oleh Sirait mengatakan bahwa:
“Upah adalah harga untuk jasa yang telah diberikan oleh seseorang
kepada orang lain”
B. Kompensasi tidak lansung
Kompensasi tidak langsung. Kompensasi jenis ini terdiri dari benefit dan
service. Contohnya : Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan bantuan
perumahan.
a. Benefit (keuntungan) dan pelayanan
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara(2008:85) mengatakan bahwa:
“Benefit adalah nilai keuntungan (moneter) langsung untuk pegawai
yang secara cepat dapat ditentukan. Sedangkan pelayanan adalah
nilai keuntungan (moneter) langsung untuk pegawai yang tidak dapat
secara mudah ditentukan”.
Benefit dapat dibagi menjadi:

Insurance benefit, yang terdiri dari asuransi kesehatan, asuransi
jiwa, asuransi kecelakaan, dan lain-lain.

Employe security benefit, yang terdiri dari uang pensiun dan
uang pesangon.

Work schedulling benefit, misalnya waktu kerja yang lebih
pendek, waktu kerja yang fleksibel.

Work-off benefit, seperti waktu istirahat dalam bekerja, libur
cuti, istirahat karena keperluan kesehatan.
2.2.3 Tujuan pemberian kompensasi
Berikut adalah tujuan organisasi memberikan kompensasi pada karyawan
menurut Ike Kusdyah Rachmawati (2008) :
1. Mendapatkan karyawan yang berkualitas
Organisasi saling bersaing di pasar tenaga kerja untuk mendapatkan
karyawan yang berkualitas dan memenuhi standar yang diminta organisasi.
2. Mempertahankan karyawan yang sudah ada
Dengan
adanya
kompensasi
yang
kompetitif,
organisasi
dapat
mempertahankan karyawan yang pontensial dan berkualitas untuk tetap
bekerja. Hal ini untuk mencegah tingkat perputaran kerja karyawan yang
tinggi dan kasus pembajakan karyawan oleh organisasi lain dengan imingiming gaji yang tinggi.
3. Adanya keadilan
Adanya administrasi kompensasi menjamin terpenuhinya rasa keadilan
pada hubungan antara manajemen dan karyawan. Dengan pengikatan
pekerjaan, sebagai balas jasa organisasi atas apa yang sudah diabdikan
karyawan pada organisasi, maka keadilan dalam pemberian kompensasi
mutlak dipertimbangan.
4. Perubahan sikap dan perilaku
Adanya kompensasi yang layak dan adil bagi karyawan hendaknya dapat
memperbaiki sikap dan perilaku yang tidak menguntungkan serta
mempengaruhi produktivitas kerja. Perubahan-perubahan sikap dan
perilaku ini tercermin dari rasa tangggung jawab, pengalaman kesetiaan
pada perusahaan, serta motivasi dan pretasi yang meningkat dalam
bekerja.
5. Efisiensi biaya
Program
kompensasi
yang
rasional
membantu
organisasi
untuk
mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusia pada tingkat
biaya yang layak. Dengan upah kompetitif, organisai dapat memperoleh
keseinbangan dari etos kerja karyawan yang meningkat.
6. Administrasi legalitas
Dalam administrasi kompensasi juga terdapat batasan legalitas karena
diatur oleh pemerintah dalam sebuah undang-undang. Tujuannya agar
organisasi tidak sewenang-wenang memperlakukan karyawan sebagai aset
perusahaan.
2.2.4 Metode Kompensasi
Metode kompensasi (balas jasa) menurut Hasibuan (2010:123) terdapat dua
macam yaitu metode tunggal dan metode jamak.
a. Metode tunggal
Metode tunggal yaitu suatu metode yang dalam penetapannya gaji pokok
hanya didasarkan atas ijazah terakhir dari pendidikan formal yang dimiliki
karyawan. Jadi, tingkat golongan dan gaji pokok seseorang hanya
ditetapkan atas ijazah terakhir yang dijadikan standarnya.
b. Metode jamak
Metode jamak yauitu suatu metode yang dalam gaji pokok didasarkan atas
beberapa pertimbangan seperti ijazah, sifat pekerjaan, pendidikan
informal, bahkan hubungan keluarga ikut menentukan besarnya gaji pokok
seseorang. Jadi standar gaji pokok yang pasti tidak ada. Ini terdapat pada
perusahaan-perusahaan swasta yang di dalamnya masih sering terdapat
diskriminasi.
2.2.5 sistem kompensasi
Sistem pembayaran kompensasi
yang umumnya menurut Hasibuan
(2010:122) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia
adalah sistem waktu, hasil dan borongan, sebagai berikut:
a. sistem kompensasi waktu
Dalam sistem waktu, besarnya kompensasi (gaji, upah) diterapkan
berdasarkan standar waktu seperti jam, minggu, atau bulan. Administrsi
pengupahan sistem waktu relatif mudah serta diterapkan kepada karyawan
tetap maupun pekerjaan harian. Sistem waktu biasanya ditetapkan jika
prestai kerja sulit diukur perunitnya dan bagi karyawan tetap
kompensasinya dibayar atas sistem waktu hanya berdasarkan kepada
lamanya bekerja bukan di kaikan kepada prestasi kerja.
Kebaikannnya dari sistem kompensasi waktu adalah administrasi
pengupahan mudah dan besarnya kompensasi yang akan di bayar tetap.
Sedangkan kelemahan sistem waktu adalah sistem waktu adalah pekerja
yang malas pun kompensasinya telah dibayar sebesar perjanjian.
b. Sistem hasil (output)
Dalam sistem hasil, besarnya kompensasi upah ditetepkan atas
kesatuan unit yang dihasilkan pekerja.
Dalam sistem hasil, besar kompensasi yang dibayar selalu
didasrkan kepada banyaknya hasil yang dikerjakan bukan kepada lamanya
wakyu mengerjakannya. Sistem hasil ini tidak mempunyai standar fisik,
seperti bagi karyawan administrasi.
Kebaikan dari sistem ini adalah memberikan kesempatan kepada
karyawn yang bekerja sungguh-sungguh serta berprestasi baik akan
memperoleh balas jasa yang lebih besar. Jadi prinsip keadilan betul-betul
ditetapkan.Adapun kelemahannya dari sistem ini adalah kualitas barang
yang dihasilkan kurang baik dan karyawan yang kurang mampu balas
jasanya kecil sehingga, sehingga dianggap kurang manusiawi.
c. Sistem borongan
Sistem borongan adalah suatu cara pengupahan yang penetapan
besarnya
jasa
didasarkan
atas
volume
pekerjaan
dan
lama
mengerjakannya. Penetapan balas jasa berdasarkan sistem ini cukup rumit,
karena lama mengerjakannya, banyak alat untuk mengerjakannya.
Jadi, dalam sistem borongan pekerja biasa mendapat balas jasa
yang besar atau kecil tergantung atas kecermatan kalkulasi mereka.
2.2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi
Dalam pemberian kompensasi harus memperhatikan bahwa setiap
karyawan mempunyai kebutuhan, keinginan yang berbeda-beda satu dengan yang
lainnya. Menurut Melayu S.P Hasibuan dalam menetapkan suatu kebijakan
kompensasi terdapat faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan selain faktor
selain besarnya jumlah antara lain:
a. Penawaran dan permintaan tenaga kerja.
Jika pencari kerja (penawaran) lebih banyak daripada lowongan pekerjaan
(permintaan) maka kompensasi relatif kecil. Sebaikknya jika pencari kerja
lebih sedikit dari pada lowongan perkerjaan, maka kompensasi relatif
semakin besar.
b. Kemampuan dan kesediaan perusahaan
Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
baik maka tingkat kompensasi akan semakin besar. Tetapi sebaliknya, jika
kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar kurang maka
tingkat kompensasi relatif kecil.
c. Serikat buruh/organisasi karyawan
Apabila serikat buruhnya kuat dan terpengaruh maka tingkat kompensasi
semakin besar. Sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang
berpengaruh maka tingkat kompensasi relatif kecil.
d. Produktivitas kerja karyawan
Jika produktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi
semakin besar. Sebaliknya kalau produktivitas kerjanya buruk serta sedikit
maka kompensasinya kecil.
e. Pemerintah dengan undang-undang dan Keppres
Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya
batas upah/balas jasa minimum. Peraturan pemerintah ini sangat penting
supaya pengusaha tidak sewenang-wenang menetapkan besarnya balas
jasa bagi karyawan. Pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat dari
tindakan sewenang-wenang.
f. Biaya hidup/Cost of Living
Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi/upah
semakin besar. Sebaliknya, jika tingkat biaya hidup di daerah itu rendah
maka tingkat kompensasi/upah relatif kecil. Seperti tingkat upah di jakarta
lebih besar dari pada Bandung, karena tingkat biaya hidup di Jakarta lebih
besar dari pada Bandung.
g. Posisi jabatan karyawan
Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerima
gaji/kompensasi lebih besar. Sebaliknya karyawn yang menduduki jabatan
yang lebih rendah akan memperoleh gaji/kompensasi yang kecil. Hal ini
wajar karena seseorang yang mendapat kewenangan dan tanggung jawab
yang besar harus mendapatkan gaji/kompensasi yang lebih besar pula.
h. Pendidikan dan pengalaman kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka
gaji/balas jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta
keterampilan lebih baik. Sebaliknya, karyawan yang berpendidikan rendah
dan pengalaman kerja yang kurang maka tingkat gaji/kompensasinya
kecil.
i. Kondisi perekonomian Nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju (boom) maka tingkat
upah/kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
employment. Sebaliknya, jika kondisi perekonomian kurang maju
(depresi) maka tingkat upah rendah, karena terdapat banyak pengangguran
(disqueshed unemployment).
j. Jenis dan sifat perkerjaan.
Kalau jenis dan sifat perkerjaan yang sulit dan mempunyai resiko
(finansial keselamatan) yang besar maka tingkat upah/balas jasanya
semakin besar karena membutuhkan kecakapan serta ketelitian untuk
mengerjakannya. Tetapi jika jenis dan sifat perkerjaanya mudah dan resiko
(finansial, kecelakaan) kecil, tingkat upah/ balas jasanya relatif rendah.
Dari pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak faktor
yang dapat mempengaruhi besar/kecilnya tingkat upah/kompensasi. Hal ini perlu
mendapat perhatian supaya prinsip pengupahan adil dan layak lebih baik dan
kepuasan kerja sama tercapai.
2.2.7 Proses penentuan Kompensasi
Menurut Mutiara (2007:82) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Manusia bahwa proses atau tahap-tahap yang dilalui dalam pemberian
kompensasi supaya terasa adil terdiri dari:
1. Menyelenggarakan survei gaji, yaitu survei mengenai jumlah gaji yang
diberikan bagi pekerja yangsebanding di perusahaan lain (untuk menjamin
keadilan eksternal).
2. Menentukan nilai tiap pekerjaan perusahaan melalui evaluasi pekerja
(untuk menjamin keadilan internal)
3. Mengelompokan pekerjaan yang sama/sejenis ke dalam tingkat upah yang
sama pula (untuk menjamin employe equity/keadilan karyawan)
4. Menetapkan harga tiap tingkatan gaji dengan menggunakan garis upah.
5. Menyesuaikan tingkat upah dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (menjamin gaji layak dan wajar)
2.3 Motivasi
2.3.1 Pengertian Motivasi
Motivasi penting bagi perusahaan, karena sebagai penyebab, penyalur, dan
pendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai
hasil yang optimal. Motivasi semakin penting, karena manejer membagikan
pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi pada
tujuan yang diinginkan.
Untuk mempermudah pemahaman motivasi kerja, penulis mengemukakan
pengertian motivasi menurut pendapat ahli dibawah ini:
Menurut Robbins yang dikutip oleh Sofyandi (2006:99) mengatakan bahwa:
“Motivasi adalah sebagai proses mengarahkan dan ketekunan setiap
individu dengan tingkat intensitas yang tinggi untuk meningkatkan
suatu usaha dalam mencapai tujuan”.
menurut Robbins dan Judge (2007) mengatakan bahwa:
“Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah dan
ketekunan seorang induvidu untuk mencapai tujuan”.
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja
merupakan suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan yang
menciptakan kegairahan seseorang untuk mencapai tujuan.
Motivasi kerja yang tinggi yang diberikan karyawan akan meningkatkan
produktifitas perusahaaan, sehingga akan memudahkan pencapaian tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan. Jadi jelas bahwa motivasi kerja besar
pengaruhnya dalam operasi perusahaan, oleh karena itu perusahaan selalu
mengharapkan karyawan-karyawannya memiliki motivasi kerja.
2.3.2 Alat-alat motivasi
Menurut Hasibuan (2010:148) terdapat beberapa alat motivasi, yaitu:
a. Material incentive
Alat motivasi yang diberikan ini berupa uang dan atau uang yang
mempunyai nilai pasar, jadi memberikan kebutuhan ekonomis, misalnya
kendaraan, uang, rumah, dan lainnya.
b. Nonmaterial incentive
Alat yang diberikan itu berupa barang/ benda yang tidak ternilai, alat ini
hanya memberikan kepuasan/kebanggaan rohani saja. Misalnya: mendali,
piagam, penghargaan, bintang jasa dan lain-lain.
c. Kombinasi incentive
Alat motivasi yang diberikan itu berupa materil (uang dan benda) dan
nonmateriel(mendali, piagam penghargaan), jadi memenuhi kebutuhan
ekonomis dan kepuasan/kebanggaan rohani.
2.4 Pretasi Kerja
2.4.1 Pengertian Prestasi kerja
Istilah kinerja berasal dari kata job perfomance atau actual performance
( pretasi kerja atau pretasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Dalam hal
ini penulis mengartikan pretasi kerja dieri batasan sebagai kesuksesan seseorang
di dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2008:67) mengatakan bahwa:
“prestasi kerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”
Menurut Hasibuan (2010:105) mengatakan bahwa:
“prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai seorang dalam
pelaksanaan
tugas-tugas
yang
dibebenkan
kepadanya
yang
berdasarkan atas kecakapan dan ketepatan waktu”
Menurut Sadili Samsudin (2006:94) mengatakan bahwa:
“Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melakukan tugas-tugas yang dibebenkan kepadanya yang didasarkan
atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu”.
Dari pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi kerja
merupakan hasil dari karyawan dalam menyelesikan pekerjaan yang diberikan
baik kuantitas secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu bertujuan
untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
Ada banyak faktor yang mempanguruhi prestasi kerja karyawan, karyawan
bekerja dalam produktif atau todak tergantung pada motivasi, kepuasan kerja,
tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan dan
aspek ekonomis teknis, serta keprilakuan lainnya. Pemahaman terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi prestasi dan produktivitas ini sangat penting. Karena
fungsi manajemen sumber daya manusia kemudian dapat memilih faktor-faktor
peningkatan produktivitas yang sesuai dengan situasu tertentu.
Pretasi kerja karyawan mencerminkan keberhasilan atau kegagalan dari
aktivitas-aktivitas manajemen sumber daya manusia. Apabila prestasi kerja buruk,
atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan, maka kemungkinkan
aktivitas-aktivits manajemen sumber daya manusia tertentu perlu ditinjau
kembali.
2.4.2 Pengertian penilaian prestasi kerja
Setiap perusahaan mengadakan penilaian terhadap prestasi kerja
karyawannya, hal ini dimaksud untuk melihat sejauh mana perkembangan kualitas
tenaga kerja yang dimiliki oleh suatu perusahaan.
Menurut Hasibuan (2010:87) mengatakan bahwa:
“Penilaian prestasi adalah menilai resio hasil kerja nyata dengan
standar kualitasmaupun kuantitas yang dihasilkan setiap karyawan.
Menetapkan kebijaksanaan apakah karyawan akan dipromosikan,
didemosikan, dan balas jasanya dinaikkan”.
Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa penilaian prestasi kerja
merupakan proses mengukur kinerja dan kecakapan pada suatu jangka waktu
tertentu.
2.2.3 Tujuan dan kegunaan penilaian prestasi
Penilaian prestaasi karyawan berguna untuk perusahaan serta harus
bermanfaat bagi karyawan.
Tujuan dan kegunaan penilaian prestasi sebagai berikut:
1. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk
promosi, demosi, pemberhentian, dan penetapan besarnya balas jasa.
2. Untuk mengukur prestasi kerja yaitu sejauh mana karyawan bisa sukses
dalam pekerjaannya.
3. Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektifitas seliruh kegiatan dalam
perusahaan.
4. Sebagai dasar untuk mengevakuasi program pelatihan dan keefektifan
jadwal kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi
kerja dan peralatan kerja.
5. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi
karyawan yang berada di dalam organisasi.
6. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga
dicapai tujuan untuk mendapatkan performance kerja yang baik.
7. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para atasan (supervisor,
manager,
adminisrator)
(subordinate)
supaya
untuk
diketahui
mengobservasi
minat
dan
perilaku
bawahan
kebutuhan-kebutuhan
bawahannya.
8. Sebagai alat untuk bisa melihat kekurangan atau kelemahan-kelemahan di
masa lampau dan meningkatkan kemampuan karyawan selanjutnya.
9. Sebagai kriteria di dalam menentukan seleksi dan penetapan karyawan.
10. Sebagai alat untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan personel dan
dengan demikian bisa sebagai pertimbangan agar bisa diikutsertakan
dalam program latihan kerja tambahan.
11. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan
karyawan.
12. Sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengembangkan uraian pekerjaan
(job description)
2.4.4 Manfaat penilaian prestasi kerja
Manfaat penilaian prestasi kerja menurut Hasibuan (2010) adalah :
1. Perbaikan prestasi kerja
Umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan karyawan, manajer dan
departemen personalia dapat membetulkan
kegiatan-kegiatan mereka
untuk memperbaiki prestasi.
2. Penyesuaian Kompensi
Membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah,
pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
3. Keputusan-keputusan pemerintah
Promosi, transfer, dan demosi biasanya didasarkan kepada prestasi kerja
masa lalu atau antsipasinya. Promosi sering merupakan bentuk
penghargaan terhadap prestasi kerja masa lalu.
4. Kebutuhan latihan dan pengembangan
Prestasi kerja jelek mungkin menunjukkan kebutuhan lainnya. Dengan
demikian prestasi yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus
dikembangkan.
5. Perencanaan dan pengembangan
Umpan balik prestasi mengarahkan keputusan-keputusan karir yaitu
tentang jalur karir tertentu yang diteliti.
6. Penyimpangan proses staffing
Prestasi kerja yang baik atau jelek mencerminkan kekuatan atau
kelemahan prosedur staffing departeman personalia.
7. Ketidakakuratan informasional
Prestasi kerja yangjelek mungkin menunjukkan kesalahan-kesalahan
dalam informasi analisis jabatan, rencana-rencana sumber daya manusia
atau komponen-komponen lain dalam sistem manajemen personalia.
8. Kesalahan-kesalahan desain pekerjaaan
Prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam
desain perkerjaan.
9. Kesempatan kerja yang adil
Prestasi kerja yang akurat akan menjamin kepuasan penetapan internal
diambil tanpa diskriminasi.
10. Tantangan eksternal
Kadang-kadang prestasi kerja mempengaruhi oleh faktor-faktor diluar
lingkungan kerja seperti keluarga, kesehatan, kondisi finansial atau
masalah-masalah pribadi.
2.4.5 Pengaruh Pemberian Kompensasi terhadap prestasi kerja karyawan
Adanya kebutuhan dasar mendorong seseorang untuk berkerja dan dengan
berkerja manusia akan memperoleh imbalan. Seperti yng kita ketahui imbalan
merupakn penghasilan baji pekerja. Pemberian imbalan pada setiap perusahaan
dapat menimbulkan semangat bekerja pada pekerjaaanya, dengan meningkatnya
semangat bekerja maka prestasi kerja karyawan pun dapat lebih meningkat lagi.
Dorongan ini meruapakan suatu keharusan bagi setiap perusahaan dapat
memberikan output yang maksimal bagi perusahaan..
Apabila kompensasi yang diterima karyawan dirasakan sesuai dengan
prestasi kerja mereka dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka akan
merasa puas atas pemenuhan kebutuhan tersebut. Tujuan suatu perurasahaan
untuk memberikan kompensasi kepada karyawan adalah untuk memberikan balas
jasa dan meningkatnya prestasi kerja karyawan akan bekerja lebih baik karena
adanya harapan mendapatkan balas jasa yang seimbang dengan jasa yang telah
dikorbankan kepada perusahaaan.
Dengan demikian pemberian kompensasi sangatlah penting bagi suatu
perusahaan, yang harus dilakukan dengan adil dan layak untuk memotivasi
karyawan sehingga akan bekerja lebih giat untuk memaksimalkan kemampuan
dan keakhian sehingga prestasi kerja meningkat. Jadi apabila suatu perusahaan
mampu meningkatkan prestasikerja karyawan maka akan memperoleh banyak
keuntungan bagi perusahaan seperti pekerjaan akan lebih cepat terselesaikan,
tingkat kegagalan dan kerusakan produk akan menurun, tingkat absensi akan
menurun dan sebagainya.
Download