bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Havighurst (Nurihsan & Agustin, 2011: 19), bahwa tugas
perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat periode tertentu dari
kehidupan individu, jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa
ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Tugas
perkembangan remaja pada usia 12-21 tahun perkembangan di antaranya adalah
mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang lainnya, dan secara sosial
menghendaki dan mencapai kemampuan bertindak secara bertanggung jawab.
Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode
dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam
kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
Menurut Harold Alberty (Nurihsan dan Agustin, 2011: 55), masa remaja
merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang
terbentang semenjak berakhirya masa kanak-kanak sampai datang masa dewasa
awal. Dalam pembentukan kepribadian, remaja dihadapkan pada kebingungan
mengenai dirinya, sehingga remaja membutuhkan bantuan, serta bimbingan dari
orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan teman sebayanya (Nurihsan dan
Agustin, 2011: 19).
Masa remaja awal berlangsung pada usia 12 sampai 15 tahun, masa remaja
madya berlangsung pada usia 15 sampai 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir
berlangsing pada usia 17 sampai 21 tahun. Pada masa remaja, menurut teori krisis
psikososial Erikson (dalam Desmita, 2005: 35) memberikan perhatian pada
identity vs identitu confusion. Identity merupakan penentuan “siapa” dan “apa”
yang diinginkan seorang remaja di masa yang akan datangnya, sedangkan identity
confusion merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kebingungan identitas
yang dapat menyebabkan seseorang merasa terisolasi, hampa, cemas dan
bimbang, masa dimana mencari identitas dan mencoba untuk melakukan segala
hal.
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2
Remaja lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan sekolah daripada
di rumah, sehingga pengaruh lingkungan sekolah akan lebih besar berpengaruh
pada remaja. Dengan begitu para remaja lebih banyak menghabiskan waktunya
bersama kelompok teman di sekolah (Santrock, 1996: 50), yaitu dengan siapa
mereka merasa nyaman dan dapat mengidentifikasi diri mereka, identifikasi bias
dikatakan bahwa seseorang yang meniru penampilan atau tingkah laku dari orang
lain yang bias menjadi idolanya.
Dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada, sebagai manusia yang
tergabung di dalamnya dan menimbulkan perasaan-perasaan untuk menegaskan
dirinya bahwa kita adalah bagian dari kelompok tertentu, dari perasaan seperti itu
akan timbul tingkah laku yang disebut dengan konformitas.
Konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial yang dimana individu
mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial.
Konformitas sebagai bentuk perilaku sama dengan orang lain yang didorong oleh
keinginan sendiri. Adanya konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku atau
keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada
maupun yang dibayangkan saja.
Konsep konformitas seringkali digeneralisasikan untuk masa remaja
karena dari banyak penelitian terungkap bahwa pada masa remaja konformitas
terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa
pertumbuhan lainnya. Dari beberapa pendapat yang sudah dijelaskan konformitas
adalah ketika individu melakukan aktivitas dimana terdapat dorongan yang kuat
untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang lainnya, walaupun tindakan
tersebut merupakan cara-cara yang menyimpang. Remaja yang mempunya tingkat
konformitas tinggi akan lebih banyak tergantung pada aturan dan norma yang
berlaku dalam kelompoknya, sehingga remaja cenderung ikut berkontribusi dalam
setiap aktivitas sebagai usaha kelompok.
Salah satu tugas perkembangan siswa yaitu mencapai hubungan baru dan
yang lebih matang dengan teman sebaya serta mencapai peran sosial baik sebagai
pria maupun wanita. Menurut Syamsu Yusuf (2009: 55) salah satunya memiliki
kemampuan berinteraksi sosial (human relationship) yang diwujudkan dalam
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3
bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan dengan sesama, remaja harus
menyesuaikan diri dengan orang di luar lingkungan keluarganya, seperti
kelompok teman sekolah.
Condry, Simon dan Bronfenbrenner (Santrock, 1996: 57) melakukan suatu
penelitian yang menyatakan bahwa dalam satu minggu, remaja menghabiskan
waktu dua kali lebih banyak dengan kelompok teman sebayanya dibandingkan
dengan orangtuanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa seorang remaja lebih
banyak berinteraksi dengan teman sebayanya dibandingkan dengan anggota
keluarganya.
Hubungan dengan teman sebaya yang ditujukan dengan interaksi yang
terjalin di dalamnya, sehingga membuat remaja mempersepsi dirinya berdasarkan
cerminan dari penilaian teman sebayanya. Kekurangmampuan remaja dalam
membina hubungan secara interpersonal berakibat terganggunya kehidupan sosial.
Seperti malu menarik diri, berpisah atau putus hubungan dengan seseorang yang
pada akhirnya menyebabkan kesepian.
Kompetensi
interpersonal
merupakan kunci
bagi
individu
untuk
mengkomunikasikan ide-ide cemerlangnya kepada orang lain. Orang yang
memiliki kemampuan sosial dan dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam
waktu yang lama cenderung lebih berhasil dibandingkan dengan mereka yang
tidak memiliki kemampuan tersebut dan salah satu faktor yang banyak
menentukan keberhasilan dalam menjalin komunikasi dengan orang lain adalah
kompetensi interpersonal.
Keberhasilan remaja dalam menjalin hubungan secara interpersonal
dengan orang lain berpengaruh dalam menciptakan kebahagiaan hidup individu,
karena melalui hubungan interpersonal kebutuhan akan pengakuan dari orang lain
berupa tanggapan yang menunjukkan bahwa dirinya normal, sehat dan berharga
dapat terpenuhi. Menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain tidak hanya
penting bagi remaja, tapi juga bagi orang-orang dalam setiap tahapan. Ada
beberapa segi positif yang bisa diambil dari menjalin hubungan interpersonal
dengan orang lain, pertama, hubungan interpersonal membantu perkembangan
intelektual dan sosial individu. Perkembangan intelektual dan sosial ini sangat
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4
ditentungan oleh kualitas hubungan interpersonal individu dengan orang lain.
Ketika kualitas hubungan interpersonal seseorang sudah baik akan terlihat dari
banyaknya teman yang dimilikinya dan mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
Kedua, melalui hubungan interpersonal dengan orang lain identitas atau
jati diri seseorang akan terbentuk. Selama proses hubungan dengan orang lain
secara sadar maupun tidak disadari individu mulai mengamati, memperhatikan
dan mencatat dalan hati semua tanggapan yang diberikan oleh orang lain terhadap
dirinya.
Ketiga, hubungan interpersonal dengan orang lain khususnya dengan
orang yang memiliki peran penting dalam kehidupan setiap individu seperti ayah,
ibu, saudara kandung akan berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya juga.
Keempat,
hubungan
interpersonal
memabantu
remaja
melakukan
perbandingan sosial dalam rangka memahami kenyataan di sekelilingnya dan
menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang dimiliki mengenai dunia di
sekitarnya, individu membandingkannya dengan orang lain mengenai kenyataan
yang sama.
Terlihat banyak sekali manfaat yang diperoleh oleh seorang remaja dalam
menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain akan tetapi tidak semua
remaja mampu memiliki kemampuan menjalin hubungan interpersonal yang baik
dengan ornag lain. Dapat dilihat dari fenomena yang sekarang terjadi, perkelahian
pelajar yang pelakunya adalah remaja sekolah menengah pertama yang jika
ditelusuri motif-motif yang melatarbelakangi mereka melakukan perkelahian
hanya hal-hal sepele, misalnya saling ejek di dalam kelas, saling melotot
kemudian tersinggung dan terjadi perkelahian. Selanjutnya ketika satu pihak tidak
terima, dilain waktu atau di luar sekolah mereka bersama teman-temannya
beramai-ramai menyerang dan perkelahian pun tidak dapat terelakkan lagi.
Individu pada masa remaja mengalami hubungan yang kurang harmonis dengan
anggota keluarganya yang biasanya disebabkan oleh kesalahan kedua belah pihak
(Hurlock, 1991: 231).
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5
Situasi kehidupan pada sekarang ini memiliki pengaruh yang besar pada
dinamika kehidupan remaja, secara psikologis remaja pada masa pencarian jati
diri. Fenomena yang nampak akhir-akhir ini seperti perkelahian antar pelajar,
penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, reaksi emosional yang
berlebihan dan berbagai perilaku yang mengarah kepada kriminal. Terlihat dari
beberapa penelitian yang menyatakan bahwa banyak keluhan yang diutarakan
oleh remaja, gejala negatif yang terlihat antara lain kurang mandiri dalam belajar
yang berakibat pada gangguan mental setelah memasuki perguruan tinggi, karena
kebiasaan belajar yang kurang baik yaitu tidak tahan lama, baru belajar setelah
menjelang ujian, membolos, menyontek dan mencari bocoran soal ujian.
Berdasarkan penelitian Asch (dalam Moesono, 2001: 79-87) menunjukkan
adanya kecenderungan konformitas pada orang, sehingga keputusan yang dibuat
secara individual dapat berubah ketika dipengaruhi kelompok. Keputusan
seseorang cenderung bergeser lebih berani kearah putusan yang beresiko karena
berada dalam pengaruh keputusan kelompok, dibandingkan keputusan individual.
Begitu pentingnya kompetensi interpersonal untuk dimiliki oleh remaja,
dari pemaparan di atas, diasumsikan bahwa semakin baik interaksi yang terjadi
dalam kelompok teman sebayanya maka akan semakin tinggi kompetensi
interpersonal yang dimilikinya. Menurut Hurlock (1991: 213) karena remaja lebih
banyak berada di luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai
kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman sebaya terhadap sikap,
pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar pengaruhnya daripada
pengaruh keluarga. Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelaahan lebih lanjut yang berkenaan dengan Kontribusi
Konformitas terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa (Studi Deskriptif terhadap
siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 15 Bandung Tahun Ajaran
2013 / 2014).
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Menurut Camarena, et.al. 1991 (Santrock, 1996: 44) mengatakan
bahwa konformitas dengan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja
dapat bersifat positif maupun negatif. Umumnya remaja terlibat dalam semua
bentuk perilaku konformitas yang negatif. Akan tetapi banyak sekali
konformitas teman sebaya yang tidak negatif dan keinginan untuk dilibatkan
di dalam dunia teman sebaya, seperti berpakaian seperti teman-ternan dan
keinginan untuk meluangkan waktu dengan anggota-anggota suatu klik.
Selama masa remaja, khususnya awal masa remaja, remaja lebih
mengikuti standar-standar teman sebaya daripada yang remaja lakukan pada
masa anak-anak: Para peneliti Berndt, et.al. 1979, telah menemukan bahwa
pada kelas delapan dan sembilan, konformitas dengan teman-ternan sebaya
khususnya dengan standar-standar antisosial mereka memuncak dan pada
kelas 11 dan 12 remaja menunjukkan tanda-tanda berkembangnya gaya
kompetensi interpersonal yang lebih bebas dari pengaruh orang tua dan teman
sebaya (Santrock, 2003: 222).
Menurut Hurlock (1991: 217) karena remaja lebih banyak berada di
luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka
dapat dimengerti bahwa pengaruh teman sebaya terhadap sikap, pembicaraan,
minat, penampilan, dan perilaku lebih besar pengaruhnya daripada pengaruh
keluarga. Santrock (2003: 220) menuliskan bahwa
Ditolak atau tidak diperhatikan oleh teman sebaya dapat
mengakibatkan para remaja merasa kesepian dan timbul rasa permusuhan.
Selanjutnya penolakan dan pengabaian dari teman sebaya ini berhubungan
dengan kesehatan mental individu dan masalah kriminal. Beberapa ahli
teori juga menggambarkan budaya teman sebaya remaja sebagai pengaruh
merusak yang mengabaikan nilai-nilai dan kontrol orang tua. Teman
sebaya juga dapat mengenalkan remaja dengan alkohol, obat-obatan,
kenakalan, dan bentuk tingkah laku lain yang dianggap oleh orang dewasa
sebagai maladaptif.
Kompetensi interpersonal pada remaja merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi perkembangan pada masa remaja awal.
Kompetensi interpersonal akan membantu remaja mempunyai rasa percaya
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
7
diri untuk melakukan komunikasi secara efektif dengan orang lain.
Kompetensi interpersonal memungkinkan seseorang untuk mengembangkan
dan mempertahankan hubungan-hubungan lain yang akan mereka jalani di
dalam kehidupannya, selain itu dapat membantu seseorang untuk mengurangi
kecemasan dan depresi ketika tidak memiliki hubungan dengan orang lain.
Brooks (dalam Hamner & Turner, 1996) memahami proses interaksi
yang berkelanjutan antara orangtua dan anak sebagai sebuah proses
pengasuhannya. Dalam proses ini orangtua akan melakukan proses
pemeliharaan, perlindungan dan mengarahkan anak pada perkembangannya.
Proses pengasuhan memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan
individu untuk menuju tahapan selanjutnya.
Pada perkembangan awal individu, orangtua memiliki peran yang
dominan sehingga bagaimana sikap ataupun pemikiran ornagtua akan sedikit
banyak mempengaruhi cara berperilaku, cara berpikir anak. Hanya ketika
anak sudah mulai bertambah usia, peran orangtua yang tadinya dominan akan
menjadi berkurang dan bahkan bergeser pada kelompok teman sebayanya.
Perubahan peran tersebut menegaskan bahwa meskipun pada awalnya
ornagtua merupakan sumber utama bagi dukungan sosial dan emosional anak
untuk masa-masa awal kehidupan anak, tetapi pada tahun berikutnya teman
sebaya memiliki peran pengganti yang cukup signifikan.
Dengan adanya teman sebaya menjadikan anak memodifikasi cara
berpikir, perasaan dan partisipasi, dan mereka terima atau sebarkan kepada
sesamanya. Dalam interaksi dengan teman sebayanya, seorang anak akan
saling mempengaruhi antar sesamanya. Interaksi dengan teman sebaya akan
menyediakan peluang untuk belajar cara berinteraksi dengan teman
seusianya, untuk mengontrol perilaku sosial, untuk mengembangkan
keterampilan dan minat yang sesuai dengan usia dan saling membagi
permasalahan atau perasaan yang sama. Interaksi antar teman sebaya pun
merupakan sumber utama bagi perkembangan kognitif dan sosial anak,
terutama bagi perkembangan pengambilan peran dan empati.
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8
Anak dengan teman sebayanya dapat lebih mengembangkan fantasi
yang dimilikinya, mencoba berbagai peran di antaranya, mempelajari dan
menerima cara pandang ornag lain, mengembangkan kompetensi sosialnya,
memahami berbagai aturan sosial, budaya dan norma yang ada di
lingkungannya. Hubungan di antara teman sebaya bukanlah hubungan satu
arah saja, tetapi lebih merupakan hubungan interaksi dua arah yang saling
memberi dan menerima, hal ini yang mengakibatkan anak dapat secara lebih
baik dalam mengembangkan nilai yang dimiliki serta kompetensi
interpersonalnya, interaksi dengan teman sebaya memiliki kontribusi
terhadap kompetensi interpersonal.
Dari penjelasan tersebut mengadakan interaksi antar sesamanya,
seorang anak akan banyak mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Kemampuan yang digunakan dalam proses berinteraksi dengan orang lain,
baik dalam kelompok sebayanya maupun dengan individu lainnya. Salah satu
kemampuan yang dikembangkan anak dalam interaksi dengan teman
sebayanya adalah kompetensi interpersonal yaitu sebuah kompetensi yang di
pandang memiliki peran penting dalam efektivitas kepemimpinan, efektivitas
kehidupan individu dan kehidupan pekerjaan seseorang.
Dapat diungkap bahwa kompetensi interpersonal dapat menjadi
penentu keberhasilan seseorang dalam berinteraksi dengan individu lainnya,
jika interaksi dan komunikasi antar individu dapat berjalan dengan baik,
maka diharapkan individu yang bersangkutan akan sukses di kehidupannya
dan tahapan perkembangan selanjutnya. Serta untuk menyeimbangkan
perilaku remaja dengan tata cara perilaku pergaulannya dengan teman sebaya,
tidak terjebak pada perilaku konformitas yang dapat menyebabkan kerugian
pada remaja itu sendiri.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan, maka didapatkan
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
9
a. Seperti apa gambaran perilaku konformitas siswa kelas VIII di
SMP Negeri 15 Bandung Tahun Ajaran 2013 / 2014?
b. Seperti apa gambaran kompetensi interpersonal siswa kelas VIII di
SMP Negeri 15 Bandung Tahun Ajaran 2013 / 2014?
c. Seberapa
besar
kontribusi
perilaku
konformitas
terhadap
kompetensi interpersonal siswa kelas VIII di SMP Negeri 15
Bandung Tahun Ajaran 2013 / 2014?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka
tujuan umum penelitian adalah untuk memperoleh gambaran empiris kontribusi
konformitas terhadap kompetensi interpersonal pada siswa SMP Negeri 15
Bandung kelas VIII Tahun Ajaran 2013 / 2014.
Tujuan khusus penelitian ialah mengidentifikasi secara rinci hal berikut:
1. Memperoleh gambaran perilaku konformitas siswa kelas VIII di SMP Negeri
15 Bandung.
2. Memperoleh gambaran kompetensi interpersonal pada siswa di kelas VIII
SMPN 15 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014.
3. Mengetahui seberapa besar kontribusi konformitas terhadap kompetensi
interpersonal pada siswa di kelas VIII SMP Negeri 15 Bandung Tahun
Ajaran 2013/2014.
D. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi
dan memperkaya sumber referensi ilmu psikologi remaja dan ilmu bimbingan dan
konseling khususnya berkaitan dengan kajian teoretik konseptual mengenai
kompetensi interpersonal pada remaja dan pengembangan intervensi perilaku
melalui program bimbingan dan konseling untuk siswa Sekolah Menengah
Pertama. Secara praktis, hasil penelitian dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
10
1.
Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
Sebagaian besar guru bimbingan dan konseling di sekolah tidak
mengindahkan perkembangan para siswa, dapat menimbulkan beberapa
permasalahan yang akan terjadi terhadap siswa. Kompetensi interpersonal pada
siswa akan berpengaruh besar terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya dan
berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, sehingga posisi guru Bimbingan
dan Konseling di sekolah sangat strategis dalam mengembangkan kompetensi
interpersonal, sikap percaya diri siswa, memiliki rasa tanggung jawab terhadap
keputusan yang sudah diambilnya.
2.
Bagi Siswa
Membiasakan diri untuk memahami perbedaan antara perasaan dan
tindakan dalam melakukan aktivitas sehari-hari baik di sekolah maupun di luar
lingkungan sekolah, sehingga siswa mampu meningkatkan kompetensi
interpersonal, kepercayaan diri, memiliki rasa tanggung jawab terhadap
keputusan yang sudah dilakukannya.
E. Struktur Organisasi Penulisan
Penyusunan skripsi ini terdiri atas lima bab. Adapun uraian mengenai isi dari
penulisan setiap babnya adalah sebagai berikut:
Dalam BAB I Pendahuluan, berisi uraian tentang pendahuluan dan merupakan
bagian awal dari penyusunan skripsi ini. Bab ini tersusun atas latar belakang
penelitian, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
penelitian mengenai korelasi konformitas dengan kompetensi interpersonal siswa
kelas VIII di SMP Negeri 15 Bandung dan struktur penulisan.
Selanjutnya dalam BAB II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran. Bab ini
berfungsi sebagai landasan teoritik dalam menyusun pertanyaan penelitian, tujuan,
serta hipotesis mengenai korelasi konformitas dengan kompetensi interpersonal
siswa kelas VIII di SMP Negeri 15 Bandung.
Kemudian BAB III berisi penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian
termasuk komponen berikut: lokasi dan subjek populasi / sampel penelitian,
desain penelitian, definisi operasional yang dirumuskan untuk setiap varibelnya,
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
11
hipotesis, instrumen penelitian, proses pengembangan instrumen, teknik
pengumpulan data dan alasan rasionalnya serta analisis data.
Selanjutnya BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, berisi tentang dua hal
utama, yaitu pengolahan atau analisis data (untuk menghasilkan temuan berkaitan
dengan masalah penelitian, tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, hipotesis,
tujuan penelitian) dan pembahasan atau analisis temuan (untuk mendiskusikan
hasil temuan yang dikaitkan dengan dasar teoritik yang telah dibahas dalam BAB
II).
Dan yang terakhir adalah BAB V Kesimpulan dan Saran. Bab ini menyajikan
penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian
mengenai kontribusi konformitas dengan kompetensi interpersonal siswa kelas
VIII di SMP Negeri 15 Bandung. Kemudian saran atau rekomendasi yang ditulis,
ditujukan kepada pengguna hasil penelitian, seperti pihak dari jurusan PPB, pihak
dari sekolah, dan peneliti selanjutnya.
Rizzta Dwi Delviyanti, 2014
Kontribusi Konformitas Terhadap Kompetensi Interpersonal Siswa
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Download