bab 2 tinjauan pustaka - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Stres
2.1.1 Pengertian Stres
Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stres dapat diartikan sebagai :
1.
Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang
menimbulkan stres atau disebut juga dengan stresor.
2.
Respon, yaitu stres merupakan suatu respon atau reaksi individu yang
muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon
yang muncul dapat secara fisiologis, seperti: jantung berdebar, gemetar,
dan pusing serta psikologis, seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan
mudah tersinggung.
3.
Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu
secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah
laku, kognisi maupun afeksi.
Rice (1987) mengatakan bahwa stres adalah suatu kejadian atau stimulus
lingkungan yang menyebabkan individu terasa tegang. Stres merupakan keadaan
psikologis yang timbul jika ada ketidakseimbangan antara persepsi individu
mengenai tuntutan yang harus dihadapi dibandingkan dengan kemampuan mereka
untuk mengatasi tuntutan tersebut (Sarafino, 2006). Menurut Feldman (2007), stres
adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam,
menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level
fisiologis, emosional, kognitif, dan perilaku.
Universitas Sumatera Utara
2.1.2 Penggolongan Stres
Selye (1974, 1979) dalam Rice (1992) menggolongkan stres menjadi dua
golongan. Penggolongan ini didasarkan atas persepsi individu terhadap stres yang
dialaminya :
a)
Distress (Stres Negatif)
Selye menyebutkan distress merupakan stres yang merusak atau bersifat
tidak menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu
mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir, atau gelisah sehingga individu
mengalami keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan, dan timbul
keinginan untuk menghindarinya.
b)
Eustress (Stres Positif)
Selye
menyebutkan
bahwa eustress
bersifat
menyenangkan dan
merupakan pengalaman yang memuaskan. Eustress dapat meningkatkan
kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi, dan performansi individu. Eustress
juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu.
2.1.3 Sumber-sumber Stres
Menurut Tumer & Helms (1995) dalam Melly (2008) sumber stres adalah
semua kejadian atau kondisi eksternal yang dapat mengganggu keseimbangan
seseorang. Ketidakseimbangan yang terjadi baik disebabkan oleh perubahan fisik,
lingkungan, maupun sosial, dapat memicu terjadinya stres.
Sumber stres merupakan suatu keadaan yang dianggap mengancam dan
menimbulkan ketegangan, antara lain :
1.
Peristiwa dalam Hidup (Life Event)
Menurut Rice (1992) kejadian penting secara psikologis yang terjadi pada
kehidupan seseorang seperti perceraian, kelahiran, atau perubahan pada
posisi/jabatan. Kejadian utama dalam hidup kita dapat menyebabkan stres,
Universitas Sumatera Utara
meskipun itu positif maupun negatif. Pada umumnya, penyebab dari stres dalam
hidup kita adalah karena hal-hal berikut ini:
a.
Kriminal, kekerasan seksual, dan saksi kejahatan
b.
Kehilangan anggota keluarga (loss of a family member)
c.
Pisah dengan orang tua
Soewadi (1999) dalam Dhona (2007) menyatakan bahwa stres merupakan
ketimpangan dalam menyesuiakan antara tuntutan lingkungan dengan
kapasitas respon individu. Sehingga anak yang secara tiba-tiba hidup
terpisah dengan orang tuanya jika tidak dapat beradaptasi dengan cepat
dengan lingkungan tempat tinggalnya yang baru dapat mengalami stres.
Penelitian Sliegman (1994) dalam Nuriana (2010) menyatakan bahwa
sebanyak 36,4% remaja mengalami gangguan psikiatri akibat pisah
dengan orang tua.
d.
Bencana alam (natural disasters)
e.
Terrorism
f.
Daily hassles
2.
Frustrasi
Frustrasi adalah situasi apa pun di mana individu tidak dapat mencapai
tujuan yang diinginkan. Frustrasi dapat terjadi apabila usaha individu untuk
mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan
dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Frustrasi dapat juga diartikan
sebagai efek psikologis terhadap situasi yang mengancam, seperti misalnya
timbul reaksi marah, penolakan maupun depresi (Santrock, 2003).
3.
Konflik
Konflik merupakan munculnya dua kecenderungan yang bertentangan
secara simultan. Konflik dapat muncul karena adanya kebutuhan internal atau
motif yang bertentangan, karena tuntutan eksternal yang bertentangan, atau
karena motif internal yang berlawanan dengan tuntutan eksternal. Keadaan
Universitas Sumatera Utara
dimana terdapat dua atau lebih motif yang tidak terpuaskan karena motif-motif
itu saling berkaitan satu sama lain (Rice, 1992).
Konflik berkaitan erat dengan konsep frustrasi. Psikologi menggunakan
‘pendekatan’ dan ‘penghindaran’ dalam usaha menghadapi konflik. Dalam hal
ini, kita akan ‘mendekati’ sesuatu yang kita harapkan dan ‘menghindari’ sesuatu
yang tidak kita harapkan. Menurut Miller (1959) dalam Sarafino (2006) ada
empat jenis utama dari konflik yang meliputi ‘pendekatan’ dan ‘penghindaran’:
a)
Approach-approach conflict (konflik mendekat-mendekat)
Konflik ini terjadi pada saat seseorang diharuskan memilih dua alternatif
yang sama-sama menarik tapi saling bertentangan serta ingin dipenuhi pada saat
yang bersamaan.
Misalnya, seseorang harus memilih diantara dua tawaran pekerjaan yang
diberikan kepadanya, dimana kedua pekerjaan ini sama-sama baik, bergengsi
dan dengan gaji yang cukup layak.
b)
Avoidance-avoidance conflict (konflik menghindar-menghindar)
Konflik ini muncul pada saat seseorang terjebak dalam dua pilihan yang
tidak diinginkan, namun pilihan harus tetap ditentukan. Misalnya, seorang
remaja yang harus memilih presentasi di depan kelas atau tidak datang dan
mendapat nilai nol.
c)
Approach-avoidance conflict (konflik mendekat-menghindar)
Konflik ini terjadi apabila seseorang menerima suatu tujuan yang positif
yang juga akan menghasilkan satu akibat yang negatif.
Misalnya, seorang siswa SMA yang akan melanjut ke perguruan tinggi
yang terletak di luar kota, tapi harus meninggalkan keluarganya.
d)
Multiple approach-avoidance conflict
Konflik yang menginginkan individu untuk memilih diantara dua pilihan,
dimana masing-masing memiliki dampak yang positif dan konsekuensikonsekuensi yang negatif.
Universitas Sumatera Utara
Misalnya, pilihan antara masuk ke tim basket yang terkenal, menjadi
langganan juara, tetapi pelatih dan beberapa pemain dalam tim itu tidak kamu
sukai. Atau masuk ke tim basket yang tidak terkenal, sering melakukan
permainan yang memalukan, tetapi pelatih dan pemain timnya kamu sukai.
4.
Tekanan (Pressure)
Tekanan terjadi karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai sasaran atau
tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah laku tertentu. Secara umum, tekanan
mendorong individu untuk meningkatkan performa, mengintensifkan usaha atau
mengubah sasaran tingkah laku. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan
sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada tiap individu. Tekanan
dalam kasus tertentu dapat menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki
dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah
pada perilaku maladaptive serta menimbulkan stres (Sarafino, 2006).
Tekanan dapat berasal dari dua sumber, yaitu:
a.
Sumber internal
Sumber tekanan yang berasal dari dalam diri seseorang, antara lain adalah
konsep diri dan komitmen personal.
b.
Sumber eksternal
Sumber tekanan eksternal banyak berkaitan dengan tekanan waktu, peran
yang dijalani, juga berkaitan dengan tuntutan-tuntutan orang lain,
misalnya, seorang siswa yang mengejar target agar lulus dalam ujian
masuk perguruan tinggi favorit atau dapat berupa tuntutan orang tua.
5.
Kondisi lingkungan
Faktor lingkungan tempat tinggal, misalnya temperatur, polusi udara,
kebisingan, kelembaban juga bisa menjadi sumber dari stres (Sarafino, 2006).
Universitas Sumatera Utara
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi terhadap Stres
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari ditemui orang-orang yang memiliki
reaksi yang berbeda terhadap stres yang sama. Menurut Lazarus (1976) dalam
Melly (2008) hal ini terjadi karena stres yang dialami tidak hanya bergantung
pada kondisi eksternal tetapi juga karekteristik individu.
Reaksi seseorang terhadap stres yang dihadapinya dipengaruhi beberapa
faktor (Sarafino, 2006). Faktor-faktor tersebut antara lain:
1)
Pengalaman awal dengan stres
Reaksi stres pada umumnya tidak akan terlalu kuat ketika seseorang
pernah mempunyai pengalaman terhadap stres. Ada studi yang mengatakan
bahwa pengalaman awal terhadap stres dapat memberikan efek ke masa yang
akan datang.
2)
Kehadiran stres lain
Diasumsikan bahwa kehadiran suatu sumber stres ternyata tidak hanya
menimbulkan reaksi terhadap sumber stres itu sendiri tetapi juga membuat
Individu menjadi lebih mudah terganggu oleh sumber stres yang lain.
3)
Intensitas dan lamanya stres
Semakin kuat dan semakin lama stres itu berlangsung maka reaksi yang
muncul juga akan semakin serius. Kematian atau kehilangan seseorang
merupakan contoh stres yang kuat dan berlangsung lama, yang dapat
memunculkan reaksi yang serius misalnya dapat mengalami depresi.
4)
Faktor perkembangan
Manusia memiliki perbedaan secara psikologis pada umur dan tingkatan
perkembangan yang berbeda. Sama halnya dengan dampak stres yang akan
berbeda pada umur dan tingkat perkembangan yang berbeda pula.
5)
Prediksi dan kontrol
Kemampuan tiap individu untuk memprediksi atau mengontrol situasi
stres merupakan faktor yang mempengaruhi perbedaan individu dalam bereaksi
Universitas Sumatera Utara
terhadap stres. Kejadian
yang sudah dapat diprediksi dan dapat dikontrol,
biasanya memberikan dampak stres yang lebih rendah terhadap individu
daripada kejadian yang tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dikontrol.
6)
Dukungan sosial (social support)
Adanya dukungan sosial dan hubungan yang baik dengan teman atau
keluarga merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi perbedaan
reaksi individu terhadap stres. Individu yang hidup sendirian ataupun yang
mempunyai masalah dengan anggota keluarganya cenderung memperlihatkan
reaksi berupa tingkah laku menyimpang dibandingkan dengan individu yang
hidup bersama keluarga dan mendapat dukungan sosial.
7)
Person variable in reactions to stress
Semua karakteristik pribadi individu penting dalam menentukan respon
seseorang terhadap stres (person variable). Karakteristik-karakteristik itu terdiri
dari:
a)
Faktor kognitif
Lazarus (1993) dalam Santrock (2003) menggunakan istilah penilaian
kognitif untuk menggambarkan interpretasi individu terhadap kejadian-kejadian
dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang berbahaya, mengancam, atau
menantang dan keyakinan mereka apakah mereka memiliki kemampuan untuk
menghadapi suatu kejadian dengan efektif.
b)
Karakteristik kepribadian
Karakteristik kepribadian yang muncul sangat berperan penting dalam
mempengaruhi konsekuensi kesehatan dari stres yang disebut dengan pola
tingkah laku Tipe A. Pola tingkah laku Tipe A adalah pola tingkah laku yang
ditandai dengan sikap yang sangat kompetitif, mudah marah, tidak sabar, sikap
bermusuhan, terlalu bekerja keras dan selalu terburu-buru seperti dikejar waktu.
Universitas Sumatera Utara
c)
Perbedaan gender dalam respon terhadap stres
Menurut Davis (1999) dalam Sarafino (2006), wanita umumnya memiliki
stresor lebih banyak dibanding pria. Wanita lebih mudah mengalami
kecemasan, depresi dan gangguan tidur, namun akan kembali membaik setelah
peristiwa itu sudah berlalu. Sedangkan pria membutuhkan waktu yang lebih
lama untuk kembali membaik meskipun peristiwa itu telah berlalu (Earle, 1999
dalam Sarafino, 2006).
d)
Perbedaan gender dalam keuntungan dari pernikahan (benefits of
marriage)
Menikah
menguntungkan
bagi
pria
dan
wanita,
tetapi
lebih
menguntungkan bagi kaum pria. Alasannya yaitu: (1) pria cenderung untuk
lebih percaya kepada pasangan mereka dalam hal dukungan sosial untuk
menahan mereka dari pengaruh stres, (2) wanita lebih ingin mendesak pasangan
mereka untuk lebih menjaga kesehatan.
e)
Fight-or-flight dan Tend-and-befriend
Fight-or-flight merupakan respon yang diberikan dalam bentuk tindakan
‘lari’ atau ‘hadapi’. Biasanya ini ditunjukkan oleh kaum pria. Sedangkan pada
wanita adalah ‘tend-and-befriend’, yaitu sikap ‘melindungi’ atau ‘menjadi
teman bagi orang lain’.
f)
Perbedaan etnis
Anggota kelompok ras/suku minoritas yang berada pada suatu masyarakat
akan mengalami stres lebih tinggi daripada kelompok mayoritas. Menurut Clark
(1999) dalam Sarafino (2006) kelompok minoritas mempunyai banyak tekanan
atau peristiwa yang menyebabkan mereka stres.
Universitas Sumatera Utara
2.2
Remaja
2.2.1 Pengertian Remaja
Menurut Piaget dalam Hurlock (1999), masa remaja adalah usia di mana
individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa
di bawah orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama,
sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Sadock & Sadock (2007) membagi remaja menjadi tiga tahap, yaitu:
1)
Remaja awal
Dari usia 12-14 tahun. Pada tahap ini, remaja mulai mengkritik
kebiasaan-kebiasaan di keluarga, mempunyai kesadaran yang lebih tinggi
terhadap penampilan, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan
teman sebaya.
2)
Remaja pertengahan
Dari usia 14-16 tahun. Pada tahap ini, remaja berusaha untuk mencapai
tujuan-tujuan mereka secara mandiri, prilaku seksual meningkat, bergaul
dengan teman yang memiliki ketertarikan yang sama, sering terjadi
konflik dengan orang tua menyangkut otonomi remaja.
3)
Remaja lanjut
Dari usia 17-19 tahun. Pada tahap ini, minat remaja meningkat pada
fungsi intelektual, prestasi akademik, berpartisipasi dalam aktivitas
olahraga, mengambil tanggung jawab dalam suatu kelompok sosial.
Universitas Sumatera Utara
2.2.2 Stres pada remaja
Menurut Windle dan Mason (2004) dalam Indri (2007) ada empat faktor yang
dapat membuat remaja menjadi stres, yaitu penggunaan obat-obat terlarang,
kenakalan remaja, pengaruh negatif, dan masalah akademis.
Menurut Walker (2002), ada tiga faktor yang dapat menyebabkan remaja
menjadi stres, yaitu:
1.
Faktor biologis, yaitu :
a.
Sejarah depresi dan bunuh diri di dalam keluarga
b.
Penggunaaan alkohol dan obat-obatan di dalam keluarga
c.
Siksaan secara seksual dan fisik di dalam keluarga
d.
Penyakit yang serius yang diderita remaja atau anggota keluarga
e.
Sejarah keluarga atau individu dari kelainan psikiatri seperti
skizofrenia, manik depresif, gangguan perilaku dan kejahatan
2.
f.
Kematian salah satu anggota keluarga
g.
Ketidakmampuan belajar atau ketidakmampuan mental atau fisik
h.
Perceraian orang tua
i.
Konflik dalam keluarga
Faktor kepribadian, yaitu :
a.
Tingkah laku impulsif, obsesif, dan ketakutan yang tidak nyata
b.
Tingkah laku agresif dan antisosial
c.
Penggunaan dan ketergantungan obat terlarang, tertutup
d.
Hubungan sosial yang buruk dengan orang lain, menyalahkan diri
sendiri dan merasa bersalah
e.
Masalah tidur atau makan
Universitas Sumatera Utara
3.
Faktor psikologis dan sosial, yaitu :
a.
Kehilangan orang yang dicintai, seperti kematian teman atau anggota
keluarga, putus cinta, kepindahan teman dekat atau keluarga
b.
Tidak dapat memenuhi harapan orang tua, seperti kegagalan dalam
mencapai tujuan, tinggal kelas, dan penolakan sosial.
c.
Tidak dapat menyelesaikan konflik dengan anggota keluarga, teman
sebaya, guru, pelatih, yang dapat mengakibatkan kemarahan,
frustrasi, dan penolakan
d.
Pengalaman yang dapat membuatnya merasa rendah diri dapat
mengakibatkan remaja kehilangan harga diri atau penolakan
e.
Pengalaman buruk seperti hamil atau masalah keuangan
Sedangkan menurut Needlmen (2004) ada beberapa sumber stres yang dialami
remaja :
1.
Biological Stress
Tubuh remaja berubah secara cepat, remaja merasa bahwa semua orang
melihat dirinya. Jerawat juga dapat membuat remaja stres, terutama bagi
mereka yang mempunyai pikiran sempit tentang kecantikan yang ideal. Saat
yang sama, remaja menjadi sibuk di sekolah sehingga dapat membuat remaja
kekurangan tidur.
2.
Family Stress
Salah satu sumber stres utama pada remaja adalah hubungannya dengan
orang tua, karena remaja merasa bahwa mereka ingin mandiri dan bebas, tetapi
dilain pihak mereka juga ingin diperhatikan.
Universitas Sumatera Utara
3.
School Stress
Tekanan dalam masalah akademis cenderung tinggi pada dua tahun
terakhir di sekolah, keinginan untuk mendapat nilai tinggi, atau keberhasilan
dalam bidang olahraga, dimana remaja selalu berusaha untuk tidak gagal, ini
semua dapat menyebabkan stres.
4.
Peer Stress
Stres pada teman sebaya cenderung tinggi pada pertengahan tahun
sekolah. Remaja yang tidak diterima oleh teman-temannya biasanya akan
tertutup dan mempunyai harga diri yang rendah. Pada beberapa remaja, agar
dapat diterima oleh teman-temannya, mereka melakukan hal-hal negatif, seperti
merokok, minum alkohol, dan menggunakan obat terlarang.
5.
Social Stress
Remaja tidak mendapat tempat pada pergaulan orang dewasa, karena
mereka tidak diberikan kebebasan mengungkapkan pendapat mereka, tidak
boleh membeli alkohol secara legal.
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (1995), mahasiswa yang berada di masa remaja
lanjut menghadapi berbagai kesulitan penyesuaian dan tidak semua mampu
mengatasinya sendiri sehingga cenderung untuk mengalami stres. Kesulitan
penyesuaian tersebut berkisar pada:
1.
Perbedaan sifat pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dengan
Perguruan Tinggi (PT)
a.
Kurikulum
Isi kurikulum PT biasanya lebih sedikit tetapi lebih mendalam. Jika
kebetulan senang dengan bidang yang dipilih, kelanjutan dan kegairahan
belajar akan lebih lancar. Sebaliknya jika tidak sesuai, kegairahan akan
menurun, bahkan bisa menimbulkan gangguan pada kepribadian.
Universitas Sumatera Utara
b.
Disiplin
Di PT biasanya tidak sedisiplin di SLTA karena dianggap sudah lebih
dewasa dan tanggung jawab diserahkan kepada mahasiswa yang
bersangkutan. Hal ini mengubah cara belajar dan bisa menyebabkan
kesulitan tersendiri.
c.
Hubungan dosen mahasiswa
Pola hubungan sangat berbeda dibandingkan ketika di SLTA. Dialog
langsung pada tingkat awal yang jumlah mahasiswanya besar, cenderung
jarang dilakukan di ruangan. Karena itu mahasiswa harus menyesuaikan
cara dosen memberi kuliah yang masih banyak mempergunakan cara
tradisional yakni dosen menerangkan tanpa memperdulikan apakah
mahasiswa mengerti atau tidak.
2.
Hubungan sosial
Pada remaja lanjut, pola pergaulan sudah bergeser dari pola pergaulan yang
homoseksual ke arah heteroseksual sehingga masalah pergaulan bisa menjadi
masalah yang penting, baik mengenai percintaan, kesulitan penyesuaian diri,
dan keterlibatan terhadap pengaruh kelompok pergaulan yang bisa bersifat
negatif.
3.
Masalah ekonomi
Sekalipun mahasiswa sudah bisa melepaskan diri dari ketergantungan psikis,
ketergantungan
ekonomi
masih
ada
karena
pada
umumnya
belum
berpenghasilan. Kelonggaran untuk mempergunakan uang tidak sebebas
menetukan tingkah laku dan sikap.
4.
Pemilihan jurusan
Antara bakat dan minat dengan kesempatan sering tidak sejalan sehingga
merasa salah pilih jurusan. Tahap mencoba-coba dan memilih jurusan sesuai
dengan keinginan orang tua sering dialami mahasiswa tahun pertama.
Universitas Sumatera Utara
Masalah yang dihadapi oleh mahasiswa (Gunarsa dan Gunarsa, 1995):
1.
Bersumber pada kepribadian
Aspek motivasi penting agar gairah untuk belajar dan menekuni ilmu bisa
berlangsung lancar. Kegairahan yang ditandai oleh disiplin diri yang kuat dan
ditampilkan dalam ketekunan belajar dan menyelesaikan tugas-tugas.
2.
Prestasi akademik
Kegagalan dalam prestasi akademik bisa disebabkan karena kemampuan
dasarnya tidak menyokong atau bakatnya kurang menunjang. Kegagalan juga
bisa disebabkan mahasiswa yang kurang bisa mempergunakan cara belajar yang
tepat atau kurangnya fasilitas.
3.
Kondisi yang kurang menunjang
Keadaan lingkungan perumahan yang tidak mendukung mahasiswa belajar
dengan baik, misalnya penerangan, ventilasi, meja belajar, bising. Demikian
pula keadaan psikologis di rumah, baik dalam hubungan dengan orang tua
maupun dengan saudara-saudara. Bahkan juga lingkungan sosial dengan
tuntutan yang memaksa untuk menyesuaikan diri. Kampus dengan ketersediaan
fasilitas bisa menjadi sumber yang menghambat kelancaran belajar mahasiswa.
2.3
Hassles Assessment Scale for Student in College (HASS/Col)
Stres merupakan suatu konsep yang sulit diartikan bahkan lebih sulit untuk
menilainya. Meskipun demikian, berdasarkan bukti yang ada, stres memiliki
hubungan yang moderat dengan kesehatan dan merupakan salah satu dari banyak
faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit (Sarafino, 2006).
HASS/Col adalah suatu skala yang terdiri dari kejadian umum yang tidak
menyenangkan bagi para mahasiswa (Sarafino dan Ewing, 1999).
Universitas Sumatera Utara
Setiap kejadian tersebut diukur berdasarkan frekuensi terjadinya dalam satu
bulan, dalam bentuk skala sebagai berikut:
1.
Tidak pernah diberi skor 0
2.
Sangat jarang diberi skor 1
3.
Beberapa kali diberi skor 2
4.
Sering diberi skor 3
5.
Sangat sering diberi skor 4
6.
Hampir setiap saat diberi skor 5
Semua penilaian diakumulasikan, kemudian disesuaikan dengan tingkatan stres.
Skor kurang dari 75 menunjukkan seseorang mengalami stres lebih rendah, skor 75135 menunjukkan seseorang mengalami stres menengah, skor lebih dari 135
menunjukkan seseorang mengalamin stres lebih tinggi.
Universitas Sumatera Utara
Download