7 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori 1. Bola Basket a

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Bola Basket
a. Permainan Bola Basket
Permainan bola basket ditemukan pada bulan Desember 1981 oleh
Dr. A. James Naismith seorang anggota sekolah pelatihan YMCA (Young
Men’s Christian Association) di Spring field Massachusetts). Permainan
bola basket dimainkan oleh dua regu, masing-masing regu terdiri lima
orang pemain. Masing-masing regu berusaha memasukkan bola ke ring
lawan secara sah dan berusaha mencegah regu lawan memasukkan bola
atau membuat skor ke dalam ring basket timnya. Permainan bola basket,
dapat dimainkan bola dengan satu tangan atau dua tangan dengan cara
bola dioper, dilempar sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Berkaitan dengan bola basket Hal Wissel (2000 : 2) menyatakan:
Bola basket dimainkan oleh dua tim dengan 5 pemain per tim.
Tujuannya adalah mendapatkan nilai (skor) dengan memasukkan
bola ke keranjang dan mencegah tim lain melakukan hal serupa.
Bola dapat diberikan hanya dengan passing (operan) dengan tangan
satu dengan mendribblenya (batting, pushing atau tapping)
beberapa kali pada lantai tanpa menyentuhnya dengan dua tangan
secara bersamaan.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, bola basket merupakan
suatu bentuk permainan yang di dalamnya terdapat beberapa macam
bentuk keterampilan memainkan bola di antaranya passing, dribbling,
shooting yang mempunyai tujuan akhir yaitu memasukkan bola ke dalam
ring basket lawan untuk mendapatkan angka. Untuk mencapai
keterampilan bermain bola basket, maka setiap pemain harus menguasai
macam-macam teknik dasar bola basket.
7
8
b. Macam-Macam Teknik Dasar Bola Basket
Bola basket merupakan cabang olahraga yang memiliki unsur
gerakan yang cukup kompleks dan menuntut skill yang tinggi dalam
pelaksanaan permainannya. Hal ini karena, pelaksanaan permainannya
selalu berubah-ubah yang menuntut keterampilan memainkan macammacam teknik dasar yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, setiap pemain
bola basket harus menguasai macam-macam teknik dasar bola basket.
Teknik dasar permainan bola basket merupakan komponen
fundamental dan harus dikuasai oleh setiap pemain bola basket.
Kemampuan atau penampilan seorang pemain bola basket sangat
dipengaruhi oleh tingkat penguasaan teknik dasar. A. Sarumpaet, Zulfar
Djazet, Parno dan Imam Sadikun (1992: 223) menyatakan, “Keterampilan
bermain bola basket dapat dicapai sampai tingkat tinggi apabila gerak
dasarnya baik. Oleh karena itu, gerak (teknik) dasar perlu dilakukan
dengan cara yang benar, agar keterampilan dapat ditingkatkan”. Menurut
Hal Wissel (2000: 15) bahwa, “Meskipun bola basket adalah permainan
tim, namun penguasaan teknik dasar individual sangatlah penting sebelum
bermain di dalam tim”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukkan, menguasai
teknik dasar bola basket secara individu merupakan kemampuan yang
harus dimiliki setiap pemain bola basket. Penguasaan teknik dasar bola
basket yang baik akan dapat mendukung penampilan seorang pemain baik
secara individu maupun secara tim. Dapat dikatakan, menang atau
kalahnya suatu tim dapat dipengaruhi oleh tingkat penguasaan teknik dasar
para pemainnya. Berkaitan dengan teknik dasar permainan bola basket,
Soebagio Hartoko (1993: 22-25) menyatakan “Teknik dasar permainan
bola basket terdiri dari: (1) operan, (2) menangkap, (3) menembak, (4)
menggiring, (5) olah kaki, (6) gerakan berporos, (7) melompat/meloncat,
(8) gerak tipu”. Menurut Hal Wissel (2000: 15) bahwa, “shooting, passing,
dribbling, rebounding, defending bergerak dengan bola dan bergerak tanpa
bola adalah teknik dasar yang harus dikuasai”
9
Pada prinsipnya pendapat yang dikemukakan dua ahli tersebut
mempunyai pengertian yang hampir sama, sehingga dapat disimpulkan,
teknik dasar permainan bola terdiri dua macam yaitu teknik dasar tanpa bola
dan teknik dasar dengan bola. Teknik dasar tanpa bola meliputi olah kaki,
gerakan berporos, melompat/meloncat dan, gerak tipu. Sedangkan teknik
dengan bola meliputi operan, menangkap, menembak dan, menggiring.
Kedua teknik dasar tersebut merupakan komponen-komponen dalam
permainan bola basket yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan
dalam pelaksanaan permainan. Keterlibatan teknik tanpa bola dan teknik
dengan bola didasarkan kebutuhannya atau situasi yang terjadi di dalam
permainan. Teknik-teknik tersebut di atas harus dikuasai oleh setiap pemain
agar dapat mendukung penampilannya dalam bertanding. Dengan menguasai
macam-macam teknik dasar bermain bola basket dengan baik memberi
peluang besar untuk dapat memenangkan pertandingan. Berikut ini
dipaparkan secara singkat teknik dasar bola basket sebagai berikut:
1) Teknik Dasar Passing
Passing atau operan merupakan teknik dasar permainan bola baket
yang paling sering dilakukan dalam permainan bola basket. Passing
saling berkaitan dengan tangkapan atau menerima bola, sehingga kedua
teknik ini tidak dapat dipisahkan. Hal Wissel (2000: 71) menyatakan,
“Operan dan tangkapan yang baik penting bagi permainan tim, dan
keahlian seperti itulah yang membuat bola basket menjadi permainan tim
yang indah”. Hal senada dikemukakan Imam Sadikun (1992: 76 bahwa,
“Istilah melempar mengandung pengertian mengoper bola dan
menangkap berarti menerima bola. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat
berlangsung silih berganti, maka selalu dilakukan berteman biasanya
disebut operan. Apabila seorang pemain bola basket memegang bola,
maka ia harus melempar bola, sedangkan apabila ia dalam posisi tidak
memegang bola, ia bersiap-siap untuk menerima atau menangkap bola”.
10
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukkan bahwa, passing
dalam permainan bola basket selalui disertai dengan tangkapan
(catching). Kedua hal ini harus betul-betul dikuasai dengan baik. Banyak
manfaat yang diperoleh, jika pemain bola basket menguasai passing
dengan baik. Hal Wissel (2002: 71) menyatakan:
Kegunaan khusus operan bola basket adalah:
1) Mengalihkan bola dari daerah padat pemain (contoh setelah
rebound atau dijaga ketat).
2) Menggerakan bola dengan cepat pada fast break.
3) Membangun permainan yang ofensif.
4) Mengoper bola ke rekan yang sedang terbuka (tanpa dijaga
lawan) untuk penembakan dan,
5) Mengoper dan memotong untuk melakukan tembakan sendiri.
Passing bola basket mempunyai kegunaan yang cukup luas yaitu:
sebagai upaya mengalihkan bola dari permainan yang cukup padat, dapat
dijadikan sebagai serangan yang cepat dan, sebagai umpan untuk
mencetak angka. Untuk itu, setiap pemain bola basket harus menguasai
jenis-jenis passing bola basket: Jenis-jenis passing bola basket sebagai
berikut:
a) Chest Pass (Passing dari Depan Dada)
Chest pass merupakan cara melakukan passing dari depan
dada. Menurut Imam Sadikun (1992: 78) teknik passing dari depan
dada sebagai berikut:
1) Sikap kaki berdiri wajar (enak) dengan lutut sedikit ditekuk
dan badan sedikit condong ke depan, pandangan ke arah
lemparan. Kaki boleh sejajar atau salah satu di depan.
2) Pegang bola dengan kedua telapak tangan dan jari-jari
terbuka menutupi bagian samping dan belakang dari bola.
Ibu jari hampir mendekat, semua telapak tangan dan jari
menyentuh bola.
3) Tekuk kedua siku dengan mendekati badan dan aturlah bola
setinggi dada.
4) Operan dimulai dengan melangkahkan satu kaki ke depan ke
arah sasaran. Bersamaan dengan melangkahkan kaki, kedua
lengan menolak lurus ke depan disertai dengan lekukan
pergelangan tangan dan diakhiri dengan lecutan jari-jari
tangan.
11
5) Operan diarahkan setinggi dada si penerima secara mendatar
dan bola sedikit berputar.
6) Bersamaan dengan irama gerak perlepasan bola, berat badan
dipindahkan ke depan, langkahkan kaki belakang setelah
bola lepas dari tangan (followthrough).
Berikut ini disajikan ilustrasi gambar passing dari depan dada
(chest pass) sebagai berikut:
Gambar 1. Chest Pass
(Sumber: Imam Sadikun, 1992: 81)
b) Overhead Pass
Overhead pass merupakan cara passing bola basket dari atas
kepala. Menurut Imam Sadikun (1992: 81) teknik overhead pass
bola basket sebegai berikut:
1) Posisi bola berada di atas kepala dengan dipegang dua tangan
dan cenderung agak di belakang kepala.
2) Bola dilempar dengan lecutan pergelangan tangan arahnya
agak menyerong ke bawah disertai dengan meluruskan
lengan.
3) Lepaskan bola dari tangan juga menggunakan jentikan jari
tangan.
4) Posisi kaki berdiri tegak, tetapi tidak kaku. Bila berhadapan
dengan lawan, untuk mengamankan bola dapat dilakukan
dengan meninggikan badan, yaitu dengan mengangkat tumit.
Berikut ini disajikan ilustrasi gambar passing dari depan dada
(chest pass) sebagai berikut:
12
Gambar 2. Overhead Pass
(Sumber: Imam Sadikun, 1992: 82)
a) Operan Memantul (Bounch)
Operan memantul atau bounch merupakan cara melakukan
operan dengan bola dipantulkan ke lantai. Menurut Imam Sadikun
(1992: 83) teknik operan memantul (bounch) sebagai berikut:
1) Sikap permulaan dilakukan seperti pada posisi operan
dengan dua tangan.
2) Bola dilepaskan dengan tolakan dua tangan menyerong ke
bawaah dari letak badan.
3) Bola dilepaskan dari setinggi pinggang dan harus diarahkan
pada suatu tempat (titik) kira-kira 1 meter di depan si
penerima, disesuaikan dengan jarak dan kekuatan lemparan.
Agar arah bola dapat diterima pada daerah antara lutut dan
perut.
4) Bila berhadapan dengan lawan, maka sasaran pantulan bola
berada di samping kanan atau kiri kaki lawan.
Berikut disajikan ilustrasi gambar gerakan passing bola basket
dengan dipantulkan (bounch) sebagai berikut:
Gambar 3. Bounch Pass
(Sumber: Imam Sadikun, 1992: 83)
b) Operan Samping (Inside Pass)
Operan samping merupakan cara mengoperkan bola dari
samping dengan menggunakan satu tangan. Menurut Imam Sadikun
(1992: 85) teknik peran samping bola basket sebagai berikut:
13
1) Sikap berdiri enak dengan posisi kaki kanan di belakang.
2) Bola dipegang dengan tangan kanan, tetapi tangan kiri tetap
ikut menjaga supaya bola tidak jatuh dan keseimbangan bola
terjaga.
3) Sikap tangan kanan dengan siku ditekuk dan telapak tangan
menghadap ke atas.
4) Lemparan bola ke depan melambung sesuai dengan sasaran,
gerakan terakhir melepas bola sampai lecutan jari-jari tangan.
5) Setelah bola lepas dari tangan, langkahkan kaki kiri ke depan
bersamaan dengan gerakan lanjutan (followthrough) tangan.
6) Bagi pemain yang melempar bola dengan tangan kiri (kidal),
dilakukan kebalikan gerakan dengan tangan kanan)
Berikut ini disajikan ilustrasi operan dari samping (inside pass)
bola basket sebagai berikut:
Gambar 4. Inside Pass
(Sumber: Imam Sadikum, 1992: 87)
2) Teknik Dasar Menangkap Bola
Teknik dasar menangkap bola toidak dapat terlepas dari teknik
dasar passing atau operan. Menurut Imam Sadikun (1992: 90) teknik
menangkap bola dalam permainan bola basket sebagai berikut:
1) Sikap kaki berdiri kuat dengan dua tangan lurus ke depan dan
kedua telapak tangan menghadap ke depan serta jari-jari tangan
terbuka (kedua ibu jari tangan saling mendekat).
2) Setelah bola menyentuh ujung jari dan telapak tangan, bawalah
bola ke dada dan tahanlah dengan mencengkeram bola yaitu,
semua telapak tangan dan permukaan jari-jarinya menempel
dengan bola di samping kanan dan kiri.
3) Selanjutnya kuasailah bola dengan baik sambil menunggu
gerakan berikutnya (melempar, menggiring atau menembak).
14
Berikut ini disajikan ilustrasi gambar teknik menangkap bola
dalam permainan bola basket sebagai berikut:
Gambar 5. Teknik Dasar Menangkap Bola
(Sumber: Imam Sadikum, 1992: 91)
1) Teknik Dasar Menembak
Menembak (shooting) merupakan usaha seorang pemain bola
basket untuk memasukkan bola ke dalam ring basket lawan. Hal Wissel
(2000: 43) menyatakan, “Shooting (menembak) adalah keahlian yang
sangat penting di dalam olahraga bola basket”. Menurut Soebagio
Hartoko (1993: 38) bahwa, "Teknik dasar terpenting dalam bola basket
adalah kemahiran menembak, karena kemenangan suatu pertandingan
ditentukan dengan jumlah tembakan yang dibuat oleh suatu regu".
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukkan, menembak
merupakan teknik dasar yang paling penting dalam permainan bola
basket, bahkan dapat menentukan menang atau kalahnya suatu tim.
Kemenangan suatu tim ditentukan oleh jumlah tembakan yang masuk ke
dalam ring lawan dan dinyatakan sah berdasarkan peraturan yang
berlaku. Oleh karena itu, seorang pemain bola basket harus mahir dalam
melakukan tembakan dalam permainan bola basket.Berkaitan dengan
teknik dasar menembak, dalam penelitian ini dipaparkan tembakan bebas
(free throw shoot).
Tembakan bebas bola basket merupakan salah satu jenis tembakan
hukuman dalam permainan bola basket. Melalui tembakan bebas, maka
mempunyai peluang untuk mencetak angka. A. Sarumpaet, Zulfar Djaset, Parno
dan Imam Sadikun. (1992: 209) menyatakan:
15
Tembakan bebas merupakan hadiah yang diberikan kepada
seorang pemain untuk mendapatkan 1 angka. Hadiah ini diberikan
sebagai akibat diganggunya dengan kasar (persinggungan) oleh
pemain lawan terhadap usaha tembakan lapangan. Bila terjadi
kesalahan perorangan dan perlu diberikan tembakan bebas, pemain
yang dirugikan tersebut diberikan kesempatan untuk melakukan
tembakan bebas sebanyak dua kali.
Pendapat tersebut menunjukkan, tembakan bebas dilakukan jika
pemain mendapat pelanggaran yang kasar saat akan melakukan
tembakan. Melalui tembakan bebas pemain mendapat kesempatan
mendapatkan nilai atau point 1 angka. Pemain yang mendapat
kesempatan tembakan bebas diberikan dua kali kesempatan. Agar
tembakan bebas berhasil dengan baik, maka pemain yang mendapat
kesempatan melakukan tembakan bebas harus menguasai teknik
tembakan bebas dengan baik dan benar. Menurut Hal Wissel (2000: 53)
teknik tembakan bebas bola basket sebagai berikut:
1) Fase persiapan:
a) Penegasan yang positif
b) Letakkan kaki untuk menembak di luar tanda
c) Lakukan dengan rutin
d) Sikap yang seimbang
e) Tangan yang tidak menembak di bawah bola
f) Ibu jari rileks
g) Siku masuk ke dalam
h) Bola antara telinga dan bahu
i) Bahu rileks
j) Napas dalam, rileks
k) Visualkan tambahan yang berhasil
l) Konsentrasikan pada target
2) Fase pelaksanaan
a) Lihat target
b) Ucapkan kata-kata kunci secara berirama
c) Rentangkan kaki, punggung, bahu
d) Rentangkan siku
e) Lenturkan pinggang dan jari-jari ke depan
f) Lepaskan jari telunjuk
g) Tangan penyeimbang pada bola sampai terlepas
3) Fase Follow-Through
a) Lihat target
b) Lengan terentang
c) Jari telunjuk menunjuk pada target
16
d) Telapak tangan ke bawah saat shooting
e) Seimbang dengan telapak tangan ke atas
f) Posisi lengan tetap di atas bola masuk ke dalam ring
Gambar 6. Free Shoot Bola Basket
(Sumber: Wissel Hal, 2000: 53)
3) Dribbling (Menggiring Bola)
Menurut Vic Ambler (2005: 10) bahwa, “Dribbling adalah
membawa bola dengan cara memantul-mantulkannya”. Sedangkan A.
Sarumpaet dkk., (1992: 229) bahwa, “Dribble bola diperbolehkan hanya
dengan satu tangan kanan saja atau kiri saja dan secara bergantian antara
tangan kanan dan kiri”.
Dribbling bola basket pada prinsipnya cara memainkan bola
dengan dipantul-paltulkan menggunkan satu tangan atau dua tangan
secara bergantian sambil berjalan atau berlari. Teknik dribbling bola
basket menurut Soebagio Hartoko (1994: 36) sebagai berikut:
1) Peganglah bola dengan kedua tangan yang relax, tangan kanan
di atas bola, sedang tangan kiri menjadi tempat terletaknya bola.
2) Berdirilah seenaknya dengan kaki kiri agak sedikit di depan
kaki kanan
3) Condongkan badan ke depan mulai dari pinggang.
4) Mulai pantulkan bola dengan tangan kanan, (sebagai permulaan
sebaiknya mata masih melihat bola).
5) Gerakan lengan hampir sepenuhnya.
6) Jangan memukul bola dengan telapak tangan, tetapi pantulkan
(tekankan) dengan jari-jari dibantu dengan gerakan pergelangan
tangan.
7) Jinakkan bola dengan sedikit mengikuti bergeraknya ke atas
sebentar dengan jari-jari dan pergelangan tangan, kemudian
dipantulkan kembali.
17
8) Setelah rahasia gerak, watak dan irama dari pantulan dapat
dirasakan (get the feeling) dengan sikap berdiri ditempat,
memulailah dengan bergerak maju.
9) Mulailah jangan melihat bola, dan percepatlah gerak.
10) Kemudian menggiring dengan agak rendah, rendah, maju,
mundur cepat, secepatnya, berliku, berkelok dengan rintangan
dan lawan.
Berikut ini disajikan ilustrasi gambar gerakan dribbling bola basket
sebagai berikut:
Gambar 7. Dribbling Bola Basket
(Sumber: Soebagio Hartoko, 1994: 36)
4) Pivot (Gerakan Berporos)
Pivot atau gerakan berporos merupakan usaha seorang pemain bola
basket untuk mengubah arah dari hadangan lawan dengan satu kaki tetap
berpijak atau menempel pada lantai lapangan permainan. Imam Sadikun
(1992: 100) menyatakan,
Gerakan berporos (pivot) adalah suatu usaha mengubah arah hadap
badan ke segala arah dengan satu kaki tetap tinggal di tempat
sebagai poros (as). Kaki poros ini tidak boleh terangkat atau
tergeser dari tempatnya, sementara kaki yang lain boleh bergerak
atau melangkah ke depan, ke belakang, kiri, kanan dan kesegala
arah. Khususnya pada saat-saat memegang bola, sebab
dipergunakan agar bola dapat dijauhkan dari jangkauan lawan.
Berikut ini disajikan ilustrasi gambar gerakan pivot bola basket
sebagai berikut:
18
Gambar 8. Gerakan Pivot
(Sumber: Imam Sadikun, 1992: 103)
5) Rebound (Merebut Bola)
Menurut Imam Sadikun (1992: 107) bahwa, “Rebound merupakan
suatu usaha untuk mengambil atau menangkap bola yang datangnya
memantul dari papan pantul atau ring basket akibat dari tembakan yang
tidak berhasil atau gagal”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, rebound sangat berperan
penting untuk menguasai bola jika lawan gagal melakukan tembakan.
Kemampuan seorang pemain bola basket menangkap bola saat tembakan
lawan gagal, maka mempunyai kesempatan untuk melakukan serangan
balik. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan ilustrasi gambar gerakan
rebound bola basket sebagai berikut:
Gambar 9. Rebound Bola Basket
(Sumber: Imam Sadikun, 1992: 107)
19
2. Lay Up Shoot Bola Basket
a. Pengertian Lay Up Shoot Bola Basket
Menembak atau shooting merupakan teknik dasar bola basket yang
sangat penting. Nilai atau angka tercipta dalam permainan bola basket
melalui tembakan-tembakan yang tepat dan akurat pada ring lawan.
Dalam melakukan tembakan permainan bola basket dapat dilakukan
dengan beberapa macam, di antaranya tembakan lay up.
Dibandingkan dengan jenis tembakan lainnya, tembakan lay up
memiliki prosentase yang lebih besar dapat masuk ke dalam ring lawan.
Seperti dikemukakan John Oliver (2007: 13) bahwa:
Meskipun banyak pemain banyak pemain bola basket terus
mencoba
melakukan
tembakan
tiga
angka,
statistik
mengungkapkan bahwa para penembak tiga angka terbaik pun
hanya 40 hingga 45 persen dari semua usaha lemparan tiga angka
mereka. Persentase tembakan tertinggi adalah tembakan dalam,
seperti lay up yang dilakukan oleh seorang pemain penyerang yang
berada dalam jarak sekitar satu meter dari ring basket. Para pemain
bola basket yang melakukan sebagian tembakan mereka dari posisi
yang dekat dengan ring basket biasanya memiliki ketepatan
tembakan paling tinggi (persentase bola masuk) 55 hingga 60
persen berhasil dari semua usaha tembakan mereka.
Pendapat tersebut menunjukkan, tembakan lay up bola basket
memiliki peluang yang besar untuk masuk ke dalam ring basket lawan.
Karena tembakan lay up dilakukan sedekat mungkin dengan ring basket.
Imam Sadikun (1992: 103) menyatakan, “Tembakan lay up adalah jenis
tembakan yang efektif, sebab dilakukan pada jarak yang sedekat-dekatnya
dengan ring basket”. Menurut Hal Wissel (2000: 61) berpendapat,
“Tembakan lay up dilakukan dekat dengan ring setelah menangkap bola
atau menggiring bola”. Menurut Agus Mukholid (2004: 44) bahwa, “Lay
up atau melangkah melayang adalah melangkah yang dilakukan dengan
melayang mendekati basket (keranjang), biasanya setelah lay up
dilanjutkan dengan tembakan ke arah basket (keranjang) dengan tenaga
yang sedikit, sehingga seolah-olah bola itu diletakkan ke dalam basket
(keranjang)”.
20
Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa,
tembakan lay up merupakan tembakan yang dilakukan dengan melayang
untuk mencapai ring sedekat mungkin agar lebih mudah memasukkan
bola ke dalam ring basket. Dengan kata lain, lay up shoot adalah
tembakan melayang, karena sebelum melakukan tembakan, pemain
melakukan langkah panjang, langkah pendek sebagai persiapan untuk
melompat dan melakukan tembakan sedekat mungkin dengan ring basket.
Rangkaian gerakan dari lay up shoot inilah seolah-olah melayang,
sehingga lay up shoot dikatakan tembakan melayang. Untuk dapat
melakukan tembakan lay up dengan baik, maka harus menguasai teknik
tembakan lay up.
b. Teknik Lay Up Shoot Bola Basket
Peningkatan prestasi dalam olahraga menuntut adanya perbaikan
dan pengembangan unsur teknik untuk mencapai tujuannya. Teknik
dikatakan baik apabila ditinjau dari segi anatomis, fisiologis, mekanika,
biomeknika dan mental terpenuhi persyaratannya secara baik, dapat
diterapkan dalam praktek dan memberikan sumbangan terhadap
pencapaian prestasi maksimal.
Lay up shoot dapat dilakukan dengan baik, jika seorang pemain
bola basket menguasai teknik lay up shoot dengan baik dan benar. Imam
Sadikun (1992: 104) menyatakan, “Teknik tembakan lay up ada dua cara,
yaitu (1) melalui operan dan (2) menggiring bola”. Hal senada
dikemukakan Agus Mukholid (2004: 44) bahwa, “Gerakan melangkah
pada lay up shoot dapat dilakukan dari menerima bola atau gerakan
menggiring bola”.
Prinsip teknik tembakan lay up ada dua cara yaitu, melalui operan
dan diawali dengan menggiring bola. Tembakan lay up melalui operan
yaitu, operan dilakukan oleh teman seregunya secara tepat (bola setinggi
dada), pemain berusaha menjemput bola sambil melompat dan pada saat
21
melayang inilah bola ditangkap. Setelah itu menumpu dengan kaki yang
lain lagi untuk melompat sambil membawa bola untuk ditembakkan.
Tembakan lay up yang diawali dengan menggiring bola yaitu,
pemain menggiring bola sendiri menuju ke ring basket. Setelah dekat
dengan basket, kemudian melakukan tembakan lay up tergantung pada
perkiraan dan keterampilan masing-masing pemain. Menangkap bola dari
menggiring bola tersebut dilakukan dari pantulan bola dari lantai sambil
melayang (melompat), melangkah, melompat untuk menembak seperti
pada gerakan lay up yang dilakukan dengan operan dari teman seregunya.
Perbedaannya hanyalah pada saat menerima bola dari diri sendiri saat
menggiring bola.
Teknik tembakan lay up pada prinsipnya dilakukan melalui operan
teman seregunya atau diawali dari menggiring bola (dribbling). Hal
terpenting dan harus diperhatikan saat akan melakukan tembakan lay up
harus tepat
menangkap bola, melakukan
langkah
lay up
dan
menembakkan bola ke dalam ring basket. Arma Abdoellah (1981: 103)
menyatakan, “Yang perlu diperhatikan dalam tembakan lay up adalah (1)
saat menerima bola, (2) saat melangkah, (3) saat melepaskan bola”. Untuk
lebih jelasnya berikut ini disajikan ilustrasi gambar rangkaian gerakan lay
up shoot sebagai berikut:
Gambar 10. Rangkaian Gerakan Lay Up Shoot
(Sumber: A. Sarumpaet dkk., 1992: 234)
22
c. Pelanggaran yang Sering Terjadi dalam Lay Up Shoot Bola Basket
Lay up shoot merupakan keterampilan yang menuntut skill yang
tinggi. Bagi siswa sekolah, lay up merupakan salah satu teknik tembakan
bola basket yang sulit untuk dikuasai, sehingga sering sekali melakukan
kesalahan atau pelanggaran Hal Wissel (2000: 62-63) menyatakan:
Pelanggaran yang sering terjadi dalam lay up shoot yaitu:
1) Pada saat mengambil ancang-ancang menggunakan lompatan
jauh (imbang ke depan atau ke samping) ketimbang melompat
tinggi.
2) Sebelum melakukan tembakan memutar bola ke arah dalam
dan sehingga gampang dihalangi atau dicuri lawan.
3) Kehilangan perlindungan dan kontrol pada bola karena terlalu
cepat menarik tangan penyeimbang pada bola.
4) Tembakan berputar dari samping menghasilkan gerakan bola
yang memutar menjauhi ring.
5) Bola memantul rendah pada papan dan keluar. Dengan sedikit
sentuhan dengan tangan, tembakan jatuh rendah.
6) Setelah melakukan lay up tidak siap merebutnya kembali atau
gagal melakukan rebound.
Lay up shoot bola basket dapat dilakukan dengan baik, jika
pelanggaran-pelanggaran seperti di atas dapat dihindari. Kesalahan dari
gerakan lay up shoot akan merugikan, karena bola akan menjadi hak
lawan. Lebih lanjut Hal Wissel (2000: 63) menyarankan hal-hal dalam
gerakan lay up shoot sebagai berikut
1) Jaga posisi kepala tegak dan fokuskan pada target. Jalan
beberapa langkah sebelum memulai (take off) sehingga dapat
cepat menekuk lutut take off dan memeperoleh momentum
gaya angkat. Sewaktu take off angkat lutut yang satu lagi lurus
bersamaan dengan melompat bola ke dalam keranjang.
Kombinasi dari mengangkat lutut ke atas dan gerakkan tangan
akan mendorong tubuh melompat lebih tinggi.
2) Angkat bola lurus ke atas ketika menembak.
3) Jaga tangan penyeimbang pada bola sampai melepasnya.
4) Tembak dengan tangan yang berada di belakang bola agar
diperoleh spin dan selanjutnya masukkan bola ke dalam
keranjang.
23
5) Tembakan bola lebih tinggi dari papan sehingga bola terpantul
masuk ke dalam keranjang. Walaupun tidak tepat tetapi ada
kemungkinan bola akan masuk
6) Mendarat di tempat yang sama–posisi kaki dengan lutut
dibengkokkan dan siap melakukan rebound.
Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam gerakan
lay up shoot harus segera dibetulkan dan diberi contoh gerakan lay up
yang benar. Kesalahan yang dibiarkan akan membentuk pola gerak yang
salah, sehingga kualitas lay up shoot yang dihasilkan tidak sesuai yang
diharapkan.
3. Belajar
a. Hakikat Belajar
Belajar pada prinsipnya merupakan suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan dalam dirinya.
Nana Sudjana (2005: 28) menyatakan, “Belajar adalah proses yang aktif,
belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar
individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses
berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat,
mengamati, memahami sesuatu”. Menurut M. Sobry Sutikno (2009: 4)
bahwa, “Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk
memperoleh
suatu
perubahan
yang
baru
sebagai
hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Menurut
Hamdani (2011: 21) bahwa, “Belajar merupakan perubahan tingkah laku
atau penampilan dengan serangkaian kegiatan”.
Berdasarkan batasan belajar yang dikemukakan tiga ahli tersebut
dapat disimpulkan bahwa, belajar merupakan suatu proses yang terjadi di
dalam diri masing-masing individu. Seseorang dikatakan telah belajar
sesuatu, apabila terdapat perubahan-perubahan yang bersifat lebih baik
daripada sebelumnya. Perubahan yang terjadi pada diri seseorang
24
disebabkan karena adanya usaha belajar untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
b. Ciri-Ciri dan Tujuan Belajar
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan yang lebih baik. Hal ini artinya, dalam
kegiatan belajar terdapat ciri-ciri di dalamnya. Aunurrahman (2012: 35)
menyatakan,
Beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:
1) Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang
disadari atau disengaja.
2) Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya.
3) Hasil belajar ditandai denagn perubahan tingkah laku.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, seseorang
dikatakan belajar apabila kegiatan belajar tersebut disadari atau disengaja,
berinteraksi dengan lingkungannya dan terjadi perubahan tingkah laku
yang lebih baik dalam dirinya. Perubahan dari hasil belajar inilah yang
merupakan tujuan dari kegiatan belajar. Menurut Gagne (1985) yang
dikutip M. Sobry Sutikno (2009: 7) bahwa:
Ada lima macam tujuan atau hasil belajar yaitu:
1) Keterampilan intelektual atau keterampilan prosedural yang
mencakup belajar diskriminasi, konsep, prinsip dan pemecahan
masalah yang kesemuanya diperoleh melalui materi yang
disajikan oleh guru di sekolah.
2) Startegi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan
masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal
masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat dan
berpikir.
3) Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan
sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasiinformasi yang relevan.
4) Keterampilan motorik, yait kemampuan untuk melaksanakan
dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan
dengan otot.
5) Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang mempengaruhi
tingkah laku seseorang didasari oleh emosi, kepercayaankepercayaan serta faktor intelektual.
25
Hal senada dikemukakan Bloom, Krathwol & Simpson yang dikutip
Aunurrahman (2012: 48-49) bahwa,
Tingkatan jenis perilaku belajar terdiri dari tiga ranah atau kawasan
yaitu:
1) Kognitif terdiri enam jenis perilaku yaitu: pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
2) Ranah afektif terdiri lima perilaku yaitu: penerimaan,
partisipasi, penilaian, organisasi dan pembentukan.
3) Ranah psikomotor, terdiri tujuh perilaku yaitu: persepsi,
kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan
kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa,
tujuan kegiatan belajar meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
yang lebih baik dari sebelumnya. Ketiga aspek tersebut merupakan satu
kesatuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Seseorang
diakatakan telah belajar apabila terjadi perubahan yang lebih baik dari
sebelumnya baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c. Unsur-Unsur dan Prinsip Belajar
Dalam kegaitan belajar banyak unsur yang terlibat di dalamnya dan
harus dipahami oleh guru dan siswa. M. Sobry Sutikno (2013: 5)
menyatakan, “Ada tujuah unsur utama dalam proses belajar, yaitu: (1)
tujuan, (2) kesiapan, (3) situasi, (4) interprestasi, (5) respons, (6)
konsekuensi dan (7) reaksi terhadap kegagalan”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, ada tujuh hal yang harus
dipahami dalam kegiatan belajar. Belajar dimulai karena adanya tujuan
yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk memenuhi sesuatu
kebutuhan. Untuk melakukan kegiatan belajar dengan baik, siswa harus
memiliki kesiapan fisik dan psikis. Kesiapan yang berupa kematangan
untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan
kecakapan-kecakapan yang mendasar. Dalam kegiatan belajar harus dalam
situasi yang kondusif, baik tempat, lingkungan sekitarnya, alat dan bahan
yang dipelajari, orang-orang yang terlibat dalam kegiatan belajar dan
26
kondisi siswa yang belajar. Interprestasi berkaitan dengan melihat
hubungan di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna
hubungan
tersebut
dan
menghubungkannya
dengan
kemungkinan
pencapaian tujuan dari belajar. Respon berkaitan dengan hasil dari
interprestasi apakah siswa mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan
yang diinginkan. Dari hasil tersebut siswa dapat memberikan responnya
sesuai dengan hasil yang diperolehnya. Perlu dipahamkan kepada siswa
bahwa, setiap usaha atau belajar akan memiliki konsekuensi, baik itu
keberhasilan maupun kegagalan. Oleh karena itu, siswa harus diberi
semangat untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Berdasarkan
kegagalan dari belajar akan menuai reaksi dari siswa. Reaksi ini dapat
bersifat positif maupun negatif. Reaksi negatif di antaranya: sedih,
kecewa, semangat belajar menurun, frustasi dan lain sebagainya. Reaksi
positif di antaranya: dapat membangkitkan semangat belajar yang lebih
tinggi agar tidak terulang lagi kegagalan, bahkan lebih optimis untuk
memperoleh hasil belajar yang maksimal.
Hal yang tak kalah pentingnya agar belajar diperoleh hasil belajar
yang maksimal harus didasarkan prinsip-prinsip belajar yang tepat. Lebih
lanjut M. Sobry Sutikno (2013: 7) menyatakan:
Delapan (8) prinsip belajar yang harus diketahui yaitu:
1) Belajar harus memiliki pengalaman dasar.
2) Belajar harus bertujuan yang jelas dan terarah.
3) Belajar memerlukan situasi yang problematis.
4) Belajar harus memiliki tekat dan kemauan yang keras dan tidak
mudah putus asa.
5) Belajar memerlukan bimbingan, arahan serta dorongan.
6) Belajar memerlukan latihan.
7) Belajar memerlukan metode yang tepat.
8) Belajar memebutuhkan waktu dan tempat yang tepat.
Prinsip-prinsip belajar tersebut mengandung makna bahwa, belajar
akan mudah dilakukan jika sebelumnya memiliki pengalaman terlebih
dahulu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Tujuan merupakan sasaran
khusus yang hendak dicapai dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu,
dalam kegiatan belajar harus dirumuskan dengan jelas tujuan dan arahnya
27
yang hendak dicapai. Dalam kegiatan belajar pasti muncul situasi yang
problematis yang dapat membantu membangkitkan motivasi belajar.
Diharapkan semakin sukar problem yang dihapadi siswa, maka akan
semakin keras berusaha dan berfikir untuk memecahkannya. Dalam
kegiatan belajar seseorang harus memiliki tekat dan kemauan yang keras
untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Tanpa tekat dan kemauan
yang keras, maka sia-sia dari belajar yang telah dilakukan. Bimbingan dan
arahan serta dorongan sangat penting dalam kegiatan belajar. Karena siswa
yang belajar pasti mengalami kesulitan, sehingga sangat dibutuhkan
bimbingan, arahan serta dorongan yang baik agar siswa memahami dan
menguasai dari kegiatan belajar yang dilakukan. Memberikan latihan
secara terus menerus dan berulang-ulang sangat penting dalam kegiatan
belajar. Melalui latihan yang rutin, maka dapat membantu menguasai
materi yang dipelajari, bahkan dapat mengurangi kelupaan dan
memperkuat daya ingat. Metode belajar memegang peran penting untuk
memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dalam menggunakan metode
belajar harus disesuaikan dengan materi pelajaran dan siswa yang belajar
agar metode yang digunakan efektif untuk menguasai materi yang
dipelajari. Waktu dan tempat merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
hasil belajar. Dalam kegiatan belajar, waktu harus dimanfaatkan seefektif
mungkin untuk menguasai materi pelajaran. Sedangkan tempat belajar
harus dalam kondisi yang nyaman dan kondusif. Tempat belajar yang
nyaman dan kondusif menjadikan kegiatan belajar berjalan dengan baik
dan akan membantu pencapaian hasil belajar lebih optimal.
d. Tujuan Belajar
Kegiatan belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas
belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu siswa dan guru.
Dari segi siswa, belajar merupakan suatu proses internal yaitu, seluruh
mental yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan
dari segi guru, proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung,
28
tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut dapat dilihat dari
perilaku atau tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa. Perilaku
belajar tersebut merupakan respon siswa terhadap tindakan pembelajaran
dari guru. Menurut Gagne (1985) yang dikutip M. Sobry Sutikno (2013: 6)
bahwa:
Ada lima macam tujuan atau hasil belajar yaitu:
1) Keterampilan intelektual atau keterampilan prosedural yang
mencakup belajar diskriminasi, konsep, prinsip dan
pemecahan masalah yang kesemuanya diperoleh melalui
materi yang disajikan oleh guru di sekolah.
2) Startegi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan
masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal
masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat dan
berpikir.
3) Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan
sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasiinformasi yang relevan.
4) Keterampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan
dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan
dengan otot.
5) Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang mempengaruhi
tingkah laku seseorang didasari oleh emosi, kepercayaankepercayaan serta faktor intelektual.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, ada lima aspek yang harus
dicapai dalam kegiatan belajar. Aspek pertama dari hasil belajar yaitu
keterampilan
intelektual
atau
prosedural.
Keterampilan
intlektual
mencakup belajar diskriminasi, konsep, prinsip pemecahan masalah. Halhal dalam keterampilan intelektual diperoleh melalui materi yang
disampaikan oleh guru. Aspek yang kedua tujuan atau hasil belajar yaitu
aspek strategi kognitif. Hal ini artinya, kemampuan kognitif merupakan
sebuah bentuk kemampuan siswa dalam memecahkan masalah-masalah
baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam
memperhatikan, mengingat dan berpikir. Aspek informasi verbal berkaitan
dengan kemampuan mendeskripsikan sesuatu dengan jalan mengatur
informasi yang relevan. Aspek psikomotorik merupakan kemampuan
untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang
29
berhubungan dengan otot. Sedangkan aspek sikap berhubungan dengan
kemampuan internal yang mempengaruhi tingkat laku seseorang yang
dilandasi emosi, kepercayaan serta faktor intelektual.
Berdasarkan dengan tujuan dan hasil belajar, aspek yang
dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran yaitu aspek afektif, kognitif
dan psikomotirik. Ketiga aspek tersebut merupakan komponen yang saling
berkaitan dan harus dikembangkan agtau dikuasai siswa sesuai dengan
materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Dapat dikatakan bahwa, siswa
dikatakan tuntas pada salah satu materi pelajaran jika nilai yang dicapai
dari aspek afektif, kognitif dan psikomotorik minimal sama atau lebih dari
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.
4. Mengajar
a. Hakikat Mengajar
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu aktivitas atau perbuatan
yang dilakukan oleh seorang guru. Dari kegiatan mengajar tersebut tentu
ada siswa yang belajar. Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks.
Guru berperan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi kepada
siswa, tetapi juga berusaha agar siswa mau belajar. Karena mengajar
sebagai upaya yang disengaja, maka guru terlebih dahulu harus
mempersiapakan bahan yang akan disajikan kepada siswa. Upaya yang
dilakukan guru tersebut agar tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai.
Berkaitan dengan mengajar Husdarta & Yudha M. Saputra (2000: 3)
menyatakan,
“Mengajar
adalah
upaya
guru
dalam
memberikan
rangsangan, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar
terjadi proses belajar. Arah yang akan dituju dalam proses belajar adalah
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan guru dan diketahui oleh
siswa”. Menurut Nana Sudjana (2005: 29) bahwa, “Mengajar pada
hakikatnya adalah suatu proses yakni proses mengatur, mengorganisasi
lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan
30
mendorong siswa melakukan proses belajar”. Hal senada dikemukakan
Jamil Suprihatininrum (2013: 60) mengajar dapat dilihat dari tiga sudut
pandang yaitu:
1) Secara Kuantitatif: mengajar berarti the transmission of
knowledge, yaitu penularan/pemindahan pengetahuan dari guru
kepada siswa.
2) Secara Kualitatif: sebagai the fasilitation of learning, yaitu
upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Guru
berperan memfasilitasi siswa untuk aktif belajar dan
menciptakan situasi dan kondisi yang mendukungterciptanya
kegiatan belajar oleh siswa.
3) Secara Instutisional: mengajar berarti the efficient orchestration
of teaching skill, yaitu penataan segala kemampuan mengajar
secara efisien. Guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasi
berbagai teknik mengajar untuk bermacam-macam siswa yang
berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya.
Berdasarkan pengertian mengajar yang dikemukakan dua ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa, mengajar merupakan suatu kegiatan
yang kompleks yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang saling
berkaitan yang bertujuan untuk mempengaruhi atau meningkatkan
pengetahuan atau keterampilan siswa menjadi lebih baik.
b. Tahapan-Tahapan Mengajar
Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru
yang di dalamnya terdapat beberapa tahapan.
Menurut Jamil
Suprihatiningrum (2013 : 62) menggambarkan tahapan-tahapan mengajar
sebagai berikut:
Prainstruksional
Instruksional
Assessment
Follow-up
Gambar 11. Tahapan-Tahapan Mengajar
(Sumber: Jamil Suprihatiningrum, 2013: 62)
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, tahapan
mengajar secara prinsip ada empat (4) tahapan, yaitu: prainstruksional,
31
instruksional, assessment dan follow-up. Tahapan-tahapan mengajar
dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1) Prainstruksional
Prainstruksional merupakan tahap persiapan sebelum mengajar
dimulai. Beberapa hal yang harus dilakukan guru sebelum memulai
mengajar sebagai berikut:
a) Memeriksa kehadiran siswa. Kehadiran siswa dicatat pada buku
kehadiran, sekaligus mengecek kesiapan siswa.
b) Mengecek kondisi kelas. Kondisi kelas dicek baik, meja, kursi dan
kebersihan kelas.
c) Mengecek peralatan yang tersedia. Misalnya papan tulis, OHP,
LCD, proyektor dan peralatan penunjang lainnya.
d) Mengadakan apresepsi. Apresepsi merupakan kegiatan awal yang
berguna untuk menggali pengetahuan awal siswa tentang materi
atau pun memberikan pengantar tentang materi yang akan
diberikan.
e) Mengadakan pretest/tes diagnostik. Untuk mengecek pengetahuan
awal siswa dengan pasti, guru dapat mengadakan pretest atau tes
diagnostik. Pretest atau tes diagnostik dapat dilangsungkan ketika
awal masuk materi baru. Hasil pretest atau tes diagnostik dapat
digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi dan metode
pembelajaran yang akan digunakan.
2) Instruksional (saat mengajar)
Instruksional atau saat mengajar ada suatu kegiatan utama pada
tahap instruksional yaitu:
a) Inti mengajar. Berupa penyampaian materi dengan berbagai
macam
strategi
pembelajaran.
Guru
melaksanakan
desain
pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat
sebelumnya.
32
b) Membuat kesimpulan. Guru dan siswa bersama-sama membuat
kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
3) Assesment
Assesment dilakukan untuk mengecek pemahaman siswa
tentang materi yang telah dipelajari. Macam-macam assesment yang
dapat dilakukan antara lain: kuis, postest, ulangan harian dan ulangan
blok.
4) Follow Up (tindak lanjut)
Follow up dilakukan berdasarkan assesment yang telah
dilakukan. Ada dua hal dalam kegiatan follow up yiatu:
1) Siswa yang telah tuntas materi yang dipelajari dapat diberikan
materi pengayaan (enrichment)
2) Siswa yang belum tuntas dapat diberikan perbaikan (remidial).
3) Bentuk tindak lanjut antara lain: diskusi kelompok informal,
penyusunan ikhtisar, pemberian PR dan lain-lain.
b. Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru Penjaskes
Guru mempunyai tugas yang kompleks, tidak hanya sekedar
menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Untuk itu, seorang guru
harus mengembangkan profesinya. Mengembangkan profesi guru pada
dasarnya merupakan tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai,
menghargai, menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab
profesinya.
Seorang
guru
dituntut
agar
selalu
meningkatkan
pengetahuannya, kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas profesinya.
Seorang guru harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi,
khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan pada masyarakat
pada umumnya. Guru harus dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga dalam pelaksanaan pengajaran sesuai
dengan tuntutan perkembangan jaman. Rusli Lutan, Rusli Ibrahim, Adang
Suherman & Yudha M. Saputra, (2002: 68-69) menyatakan:
33
Berdasarkan tinjauan literatur dalam pendidikan jasmani sekurangkurangnya terdapat 5 kompetensi guru pendidikan jasmani yaitu:
1) Pemahaman dan pengahayatan etika dan tindakan moral yang
melandasi profesi dalam pendidikan jasmani, utamanya dalam
pemberian perlakuan (misalnya, memberikan instruksi,
mengoreksi dan lain-lain) yang dapat dipertanggungjawabkan
secara etik, termasuk nilai-nilai agama.
2) Penguasaan keterampilan gerak dan atau dasar-dasar
keterampilan beberapa cabang olahraga, termasuk pengetahuan
yang berkaitan dengan cabang atau aktivitas jasmani yang
bersangkutan (misalnya, peraturan dan ketentuan khusus dalam
cabang olahraga).
3) Penguasaan konsep dan teori dalam beberapa subdisiplin ilmu
keolahragaan yang bersifat integrative, sebagai landasan ilmiah
pendidikan jasmani dan olahraga guna memfasilitasi proses
pembelajaran, terutama disesuaikan dengan asas pentahapan
pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
4) Kompetensi dalam menerapkan kurikulum dalam konteks
metode dan strategi umum atau khusus dalam pembelajaran,
termasuk kompetensi dalam melaksanakan asesmen hasil
belajar.
5) Kompetensi sosial yang melibatkan keterampilan sosial, seperti
kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan
kerjasama dalam tim.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, kompetensi
yang harus dimiliki seorang guru Penjasorkes cukup kompleks, baik secara
umum maupun secara spesifik sebagai guru pendidikan jasmani. Seorang
guru yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang studinya, maka akan
mampu bekerja secara maksimal. Kinerjanya menjadi lebih baik, karena
mengetahui dan menguasainya tugas dan tanggungjawab yang harus
dilakukan sesuai dengan bidangnya. Pendapat lain dikemuakakn Nana
Sudjana (2005: 19) bahwa,
Kompetensi yang banyak berhubungan dengan usaha
meningkatkan proses dan hasil belajar dikelompokkan ke dalam
empat kemampuan yaitu: (1) Merencanakan program belajar
mengajar, (2) melaksanakan dan memimpin, (3) menilai kemajuan
proses belajar mengajar, (4) menguasai bahan pelajaran dalam
pengertian menguasai bidang studi atau mata pelajaran yang
dipegangnya/dibinannya.
34
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, proses dan hasil belajar
dapat ditingkatkan seorang guru Penjaskes harus memiliki kemampuan
merencanakan program pembelajaran, melaksanakan dan memimpin,
menilai kemajuan proses belajar mengajar dan menguasai bahan pelajaran
yang diajarkan. Seorang guru yang memiliki keempat kompetensi tersebut,
maka akan mampu mengajar dengan baik dan akan dicapai hasil belajar
yang optimal. Namun sebaliknya seorang guru Penjaskes yang tidak
memiliki kompetensi dibidangnya, maka tidak mungkin dicapai hasil
belajar yang optimal.
c. Karakteristik Keberhasilan Pengajaran
Tujuan pembelajaran merupakan target yang ditetapkan oleh guru
dan harus dicapai siswa. Tujuan pembelajaran telah ditetapkan oleh guru
pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Untuk mencapai tujuan
pembelajaran, seorang guru telah merancang pelaksanaan pembelajaran
sebaik mungkin agar materi yang disampaikan dapat diserap dan dikuasai
oleh siswa. M. Sobry Sutikno (2013: 161) menyatakan:
Keberhasilan pembelajaran apabila diikuti ciri-ciri sebagai berikut:
1) Daya serap terhadap bahan pembelajaran mencapai prestasi
tinggi, baik secara individu maupun kelompok.
2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah
dicapai oleh siswa baik secara individu maupun kelompok.
3) Terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial
mengantarkan materi tahap berikutnya.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, ciri dari keberhasilan
pengajaran yaitu: daya serap terhadap materi pelajaran mencapai prestasi
yang tinggi, baik secara individu atau kelompok. Perilaku yang
dikembangkan siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan
memperoleh nilai yang tinggi baik secara individu atau kelompok.
Terjadinya
proses
pemahaman
materi
mengantarkan pada materi berikutnya.
secara
sekuensial
untuk
35
5. Gaya Mengajar
a. Hakikat Gaya Mengajar
Bagaimanakah gaya mengajar guru yang terbaik dan ideal agar
tujuan mengajar yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal.
Masalahnya gaya mengajar bukan tentang bagaimana gaya mengajar guru
yang paling baik, melainkan mengenai gaya mengajar guru yang tepat dan
sesuai. Gaya mengajar yang sesuai maksudnya yaitu, sesuai dengan
dengan karakteristik siswa dan sesuai dengan kebutuhan pengajaran.
Gaya mengajar muncul dari gagasan Muska Mosston pada tahun
1966. Berkaitan dengan gaya mengajar, Muhamad Ali (2004: 57)
menyatakan, “Gaya
mengajar
yang dimiliki oleh seorang guru
mencerminkan pada cara melaksanakan pengajaran, sesuai dengan
pandangannya sendiri. Di samping itu landasan psikologis, terutama teori
belajar yang dipegang serta kurikulum yang dilaksanakan juga turut
mewarnai gaya mengajar guru yang bersangkutan”. Menurut Muska
Mosston yang dikutip Adang Suherman & Agus Mahendra (2001: 149)
bahwa, “Guru dan siswa dapat saling tawar menawar dalam memperoleh
kesempatan. Dalam memperoleh kesempatan dalam perihal perencanaan,
pelaksanaannya. Dalam istilah lain disebutkan setting pre impact, impact
set dan post impact”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukkan bahwa, dalam
gaya mengajar ada tiga hal yang menjadi pokok dalam pengajaran, yaitu
setting pre impact, impact set dan post impact. Dalam gaya mengajar
siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan dalam kegiatan
pembelajaran. Lebih Lanjut Adang Suherman & Agus Mahendra (2001:
150) menjelaskan ketiga hal pokok dalam mengajar sebagai berikut:
1) Pre impact set, mencakup semua keputusan yang harus dibuat
sebelum terjadinya tatap muka antara guru dengan siswa.
Keputusan dalam setting ini mencakup tugas gerak yang harus
dipelajari,
waktu,
pengorganisasian,
alat,
tempat
berlangsungnya gerak, kriteria keberhasilan serta prosedur dan
materi penilaian. Keputusan ini menegaskan tentang maksud.
36
2) Impact set, meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan
dengan pelaksanaan maksud di atas, atau hal-hal yang
diputuskan pada tahap pra impact set. Keputusan dalam tahap
ini menentukan aksi.
3) Post impact set, memasukkan keputusan-keputusan yang
berhubungan dengan penilaian penampilan atau pelaksanaan
tugas pada masa impact set serta kesesuaian antara maksud dan
aksi. Pemberian koreksi dan umpan balik serta penilaian,
termasuk pada setting ini.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, dalam gaya
mengajar, baik guru maupun siswa memiliki membuat keputusan dalam
setiap setting pembelajaran. Srijono Brotosuryo, Sunardi dan M. Furqon
(1994: 250) menyatakan, “Gaya mengajar didefinisikan dengan keputusankeputusan yang dibuat oleh guru dan dibuat oleh siswa di dalam episode
atau peristiwa belajar yang diberikan”. Menurut Husdarta & Yudah M.
Saputra (2000: 21) bahwa, “Gaya mengajar merupakan interaksi yang
dilakukan oleh guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar agar
materi yang disajikan dapat diserap oleh siswa”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, gaya
mengajar pada dasarnya merupakan seperangkat keputusan yang diambil
dalam pelaksanaan proses pengajaran. Baik guru maupun siswa memiliki
kemungkinan untuk membuat keputusan dalam proses pengajaran.
Perbedaan antara satu gaya dengan gaya lainnya ditentukan oleh besarnya
pengalihan keputusan dari guru kepada siswanya. Pada sisi lain dapat
dilihat gaya mengajar yang semua keputusannya dibuat oleh guru, tetapi
ada juga gaya mengajar siswa juga dapat mengambil keputusan.
Kecenderungan yang terjadi dalam proses pengajaran adanya kesadaran
bahwa pengajaran sebaiknya jangan terlalu didominasi oleh keputusan
guru. Tetapi harus secara proporsional memberikan kesempatan kepada
siswa dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian pelaksanaannya.
37
b. Macam-Macam Gaya Mengajar Penjaskes
Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus memiliki
perbendahaan gaya mengajar, agar materi yang akan disampaikan dapat
dipilih gaya mengajar yang tepat agar diperoleh hasil belajar yang optimal.
Menurut Muka Mosston yang dikutip Adang Suherman & Agus Mahendra
(2001: 150) gaya mengajar pendidikan jasmani sebagai berikut:
1) Gaya mengajar komando (commando style) yaitu, semua
keputusan dikontrol guru. Murid hanya melakukan apa yang
diperintahkan guru.
2) Gaya latihan (practice style) yaitu, gurtu memberikan beberapa
tugas, siswa menentukan dimana, kapan, bagaimana dan tugas
mana yang akan dilakukan pertama kali. Guru memberi umpan
balik.
3) Gaya berbalasan (reciprocal style) yaitu, satu siswa menjadi
perilaku, satu siswa lain menjadi pengamat dan memberikan
umpan balik. Setelah itu bergantian.
4) Gaya menilai diri sendiri (self check style) yaitu, siswa diberi
petunjuk untuk bisa menilai penampilan dirinya sendiri. Pada
saat latihan siswa berusaha menentukan kekurangan dirinya
dan mencoba memperbaikinya.
5) Gaya partisipatif atau inklusi (inclusion style) yaitu, guru
menentukan tugas pembelajaran yang memiliki target atau
kriteria yang berbeda tingkat kesulitannya dan siswa diberi
keleluasan untuk menentukan tingkat tugas mana yang sesuai
dengan kemampuannya. Dengan begitu setiap anak akan
merasa berhasil dan tidak ada yang merasa tidak mampu.
6) Gaya penemuan terbimbing (guided discovery) yaitu, guru
membimbing siswa ke arah jawaban yang benar melalui
serangkaian tugas atau permasalahan yang dirancang guru.
Guru setiap kali meluruskan atau memberikan petunjuk untuk
mengarahkan anak pada penemuan itu.
7) Gaya pemecahan masalah (problem solving) yaitu, guru
menyediakan satu tugas atau permasalahan yang akan
mengarahkan siswa pada jawaban yang bisa diterima untuk
memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu, jawaban atau
pemecahan masalah yang diajukan siswa bersifat jamak.
8) Gaya yang dirancang siswa/inisiatif siswa (learner designed
program/learner initeated/self teaching yaitu, siswa mulai
mengambil tanggungjawab untuk apa pun yang akan dipelajari
serta bagaimana hal itu akan dipelajari.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, gaya mengajar Penjaskes
terdiri dari delapan (8) macam, yaitu:
gaya mengajar komando
38
(commando style), gaya mengajar latihan (practice style), gaya berbalasan
(reciprocal style), gaya menilai diri sendiri (self check style), gaya
partisipasi atau inklusi (inclusion style), gaya penemuan terbimbing
(guided discovery), gaya pemecahan masalah (problem solving) dan gaya
yang dirancang siswa(learner designed program/learner initeated/self
teaching). Ke delapan gaya mengajar Penjaskes tersebut penting untuk
diperhatikan dan dikuasai seorang guru Penjaskes dalam proses
pembelajaran. Seorang guru Penjaskes dapat mengkombinasikan antara
gaya yang satu dengan gaya lainnya menurut kebutuhannya. Karena tidak
ada satu gaya mengajar yang dianggap paling berhasil karena bergantung
pada situasi. Rusli Lutan (2000: 30) menyatakan, “Alasan digunakannya
beberapa macam gaya mengajar dalam proses pembelajaran yaitu, “(1)
untuk mendorong terciptanya suasana belajar yang mengajarkan siswa
untuk belajar, (2) agar guru dan siswa sama-sama termotivasi dan giat
melaksanakan tugas masing-masing”.
Mengkombinasikan antara gaya mengajar satu dengan gaya
mengajar lainnya pada dasarnya bertujuan untuk mendorong terciptanya
suasana belajar yang kondusif. Selain itu, antara guru dan siswa
termotivasi untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Proses belajar
mengajar yang kondusif dan masing-masing mampu melaksanakan
tugasnya dengan baik, maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal.
Tetapi tidak menutup kemungkinan dalam kegiatan pembelajaran hanya
dengan menggunakan satu macam gaya mengajar saja.
c. Susunan Spektrum Gaya Mengajar dalam Penjasorkes
Menurut Agus Kristiyanto, Hanik Liskustyowati & Budhi
Satyawan (2011: 8) bahwa, “Spektrum gaya mengajar adalah suatu
konsepsi teoritis, sekaligus suatu rancangan operasional mengenai
alternatif atau kemungkinan dari suatu gaya mengajar. Spektrum tersebut
menggambarkan adanya suatu pergeseran atau penyebaran peran guru dan
siswa kaitannya dengan pencapaian tujuan pembelajaran”.
39
Pendapat tersebut menunjukkan bawa, penerapan gaya mengajar
sangat berpengaruh terhadap peran guru maupun siswa. Hal ini artinya,
dalam penerapan gaya mengajar akan terjadi pergeseran antara peran guru
dan peran siswa bergantung berdasarkan gaya mengajar yang digunakan
saat pembelajaran. Menurut Mosston (1991) yang dikutip Agus
Kristiyanto dkk., (2011: 8) menggambarkan spektrum gaya mengajar
sebagai berikut:
Theoretical limits
Minimum
A
Style
Maksimum
The target: An independent
individual
B
C
D
E
F
G
H
Gambar 12. Spektrum Gaya Mengajar dan Pergeseran Peran Guru-Siswa
(Sumber: Agus Krsitiyanto dkk., 2011:8)
Berdasarkan spektrum gaya mengajar model Mosston tersebut
menunjukkan bahwa, gaya mengajar tersusun dalam dua kelompok yaitu:
gaya A – E dan gaya F – H. Kedua kelompok tersebut berbeda dalam
perilaku guru, perilaku siswa dan sasaran. Gaya A – E berhubungan
dengan penampilan kegiatan yang telah dikenal, sedangkan gaya F – H
lebih menekankan pada eksplorasi aktivitas-aktivitas baru.
Termasuk dalam kelompok gaya A – E yaitu: (1) gaya A atau
komando, (2) gaya B atau latihan, (3) gaya C atau resiprokal, (4) gaya D
atau self check dan (5) gaya E atau gaya cakupan/inklusi. Sedangkan yang
termasuk dalam kelompok gaya mengajar F – H yaitu: (1) gaya F atau
penemuan terpimpin, (2) gaya G atau divergen dan g(3) gaya H atau going
beyond.
40
6. Pembelajaran Lay Up Shoot Bola Basket dengan Gaya Mengajar Inklusi
a. Pengertian Gaya Inklusi
Gaya mengajar inklusi atau partisipasi (inclusion style) merupakan
gaya mengajar dengan rancangan kegiatan pembelajaran yang dibuat oleh
guru dari tingkatan mudah atau sederhana hingga pada tingkatan yang sulit
dan siswa diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya. Srijono
Brotosuryo, Sunardi dan M. Furqon (1994: 278) bahwa, “Gaya mengajar
inklusi (cakupan) yaitu memperkenalkan berbagai tingkat tugas. Gaya
inklusi memberikan tugas yang berbeda-beda dan dalam gaya ini siswa
didorong untuk menentukan tingkat penampilannya”. Menurut Adang
Suherman & Agus Mahendra (2001: 151) bahwa,
Gaya inklusi (inclusion style) yaitu, guru menentukan tugas
pembelajaran yang memiliki target atau kriteria yang berbeda
tingkat kesulitannya dan siswa diberi keleluasan untuk menentukan
tingkat tugas mana yang sesuai dengan kemampuannya. Dengan
begitu setiap anak akan merasa berhasil dan tidak ada yang merasa
tidak mampu.
Mengenai gaya mengajar inklusi hal senada juga diungkapkan
oleh Agus Kristiyanto, Hanik Liskustyawati & Budhi Satyawan (2011: 11)
menyatakan,
Karakteristik gaya mengajar inklusi (cakupan) yaitu:
1) Tugas yang diberikan kepada siswa berbeda-beda, karena pada
hakikatnya setiap individu memiliki perbedaan kemampuan
dalam melaksanakan tugas. Gaya ini memberikan kesempatan
individu untuk memulai dari tingkat kemampuannya sendiri.
2) Guru diharuskan merancang tugas dalam berbagai tingkat
kesulitan yang disesuaikan dengan perbedaan individu.
Rancangan tugas juga harus memungkinkan siswa bergerak
dari tugas yang mudah ke tugas yang sulit.
Berdasarkan pengertian gaya mengajar inklusi yang dikemukakan
tiga ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, gaya mengajar inklusi
merupakan bentuk pengajaran dengan merancang kegiatan-kegiatan
pembelajaran dari tingkat yang paling mudah hingga pada tingkat yang
lebih sulit. Dari rancangan pengajaran yang telah dibuat oleh guru siswa
diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
41
kemampuannya masing-masing. Seperti dikemukakan Husdarta & Yudha
M. Saputra (2000: 30) menyatakan, “Tujuan gaya mengajar inklusi adalah
untuk membelajarkan siswa pada level kemampuan masing-masing”.
b. Pelaksanaan Pembelajaran Lay Up Shoot Bola Basket dengan Gaya
Mengajar Inklusi
Gaya mengajar inklusi merupakan bentuk pembelajaran dengan
merancang kegiatan pembelajaran dari tingkat yang paling mudah hingga
pada tingkat paling sulit. Dari rangcangan pengajaran yang telah dibuat
oleh guru, siswa diberi kebebasan untuk melaksanakan tugas pembelajaran
sesuai dengan kemampuannya masing-masing siswa. Jika pada tahapan
sebelumnya telah dikuasai, kemudian dilanjutkan pada tingkatan
selanjutnya.
Berdasarkan karakteristik dari gaya mengajar inklusi, pelaksanaan
pembelajaran lay up shoot bola basket yaitu, guru merancang bentuk
pembelajaran lay up shoot kanan dan kiri dari tingkat paling mudah hingga
pada tingkat yang sulit. Rancangan pembelajaran lay up shoot bola basket
dalam penelitian ini sebagai berikut:
1) Rancangan tingkat mudah yaitu, pembelajaran langkah lay up
menggunakan tanda lingkaran dari kapur diawali berjalan, kemudian
langkah lay up baik dari kanan atau kiri.
2) Rancangan tingkat sedang yaitu, pembelajaran langkah lay up
menggunakan tanda lingkaran dari kapur diawali dribbling langkah
lay up dan melepaskan bola dengan meluruskan lengan yang
memegang bola tanpa ring basket.
3) Rancangan tingkat sulit yaitu, pembelajaran lay up shoot sebenarnya,
tanpa menggunakan tanda.
Berdasarkan rancangan pembelajaran lay up shoot bola basket dari
tingkat mudah, sedang dan sulit yang telah dibuat oleh guru, selanjutnya
guru menjelaskan dan memberikan contoh dari masing-masing rancangan
pembelajaran yang telah dibuat. Setelah siswa paham, selanjutnya diberi
42
kebebasan untuk memilih dan melaksanakan tugas pembelajaran sesuai
kemampuannya masing-masing, tetapi guru Penjaskes juga dapat
mengarahkan siswa untuk melakukan rancangan pembelajaran yang sesuai
dengan kemampuan siswa. Jika pada tingkatan rancangan pertama telah
dikuasai, dilanjutkan pada rancangan kedua. Jika siswa langusng memilih
pada rancangan yang sulit dan tidak berhasil (gagal terus), maka harus
melalui rancangan pembelajaran yang mudah terlebih dahulu. Berikut ini
disajikan ilustrasi pembelajaran lay up shoot bola basket dengan gaya
mengajar inklusi sebagai berikut:
1) Rancangan mudah, pembelajaran langkah lay up menggunakan tanda
lingkaran dari kapur tanpa menggunakan bola diawali berjalan

Berjalan – langkah panjang kaki kanan – langkah pendek kaki kiri - lompat kaki kanan sambil
meluruskan tangan ke atas seolah-olah melepaskan bola
2) Rancangan sedang, pembelajaran langkah lay up diawali dribbling
menggunakan tanda lingkaran dari kapur dilanjutkan melepaskan bola
tanpa ring basket

Dribbling – langkah panjang kaki kanan– langkah pendek kaki kiri - lompat kaki kanan dengan
melepaskan bola dengan meluruskan tangan yang memgang bola
3) Rancangan sulit, lay up shoot sebenarnya diawali dribbling
Ketinggian ring 3.05 m

ka
ki
ka
Dribbling – langkah panjang kaki kanan – langkah pendek kaki kiri - lompat & memasukkan bola
ke ring basket sebenarnya
Gambar 13. Ilustrasi Rancangan Pembelajaran Lay Up Shoot Bola Basket dengan
Gaya Mengajar Inklusi
43
c. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Lay Up Shoot Bola Basket
dengan Gaya Inklusi
Karakteristik gaya mengajar inklusi yaitu merancang tugas
pembelajaran dari yang mudah hingga yang sulit. Dari rancangan tugas
pembelajaran yang dibuat oleh guru, siswa dapat memilih tugas
pembelajaran sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Berdasarkan
karakteristik gaya mengajar inklusi dapat diidentifikasi kelebihan dan
kelemahannya. Kelebihan pembelajaran lay up shoot bola basket dengan
gaya mengajar inklusi antara lain:
1) Siswa dapat menentukan dan memilih tugas pembelajaran sesuai
dengan kemampuannya sendiri-sendiri.
2) Siswa dapat melaksanakan tugas pembelajaran dengan baik, karena
sesuai kemampuannya.
3) Belajar tahap demi tahap mempunyai dampak yang lebih baik, sehingga
akan memberi kemudahan untuk mempelajari tugas gerak yang lebih
sulit.
4) Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena merasa tertantang
dengan tugas ajar yang semakin sukar atau rumit.
5) Dapat meningkatkan persaingan yang sehat antar siswa, sehingga
proses belajar lebih kondusif.
Kelemahan pembelajaran lay up shoot bola basket dengan gaya
mengajar inklusi antara lain:
1) Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam pembelajaran, karena
tahapan sebelumnya harus dikuasai sebelum meningkat pada tahap
berikutnya.
2) Waktu yang dibutuhkan lebih lama, apabila pada tahap sebelumnya
siswa belum menguasai dengan baik.
3) Kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda-beda, siswa yang
terampil akan semakin berkembang, sedangkan yang kemampuannya
rendah peningkatan kemampuan lay up shoot agak lambat.
44
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan di atas dapat dibuat
skema kerangka berpikir sebagai berikut:
Kondisi Awal
Masalah
dalam
pembelajaran lay up shoot
bola basket
Penerapan gaya mengajar
inklusi dalam pembelajaran
lay up shoot bola basket
Tindakan
Kondisi Akhir
Melalui
penerapan
gaya
mengajar
inklusi
dapat
meningkatkan hasil belajar lay
up shoot bola basket
Akibatnya ke Siswa
Siklus pembelajaran lay up
shoot bola basket
Siklus I:
1. Tingkatan mudah
2. Tingkatan sedang
3. Tingkatan sulit
Siklus II:
1. Tingkatan mudah
2. Tingkatan sedang
3. Tingkatan sulit
Gambar 14. Bagan Konseptual Kerangka Berpikir
Berdasarkan kerangka konseptual kerangka berpikir yang digambarkan di
atas menunjukkan bahwa, dalam pembelajaran lay up shoot bola basket banyak
kesulitan atau permasalahan yang dihadapi siswa. Dari kesulitan yang dihadapi
dalam pembelajaran lay up shoot bola basket, mengakibatkan hasil lay up shoot
bola basket tidak optimal.
Kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran lay up shoot bola
basket antara lain: tidak dapat melakukan langkah lay up (walking), saat
melepaskan bola tangan kurang lurus, lompatan kurang maksimal. Kesulitan
dalam pembelajaran lay up shoot bola basket harus ditelusuri faktor penyebabnya
dan dicarikan solusi yang tepat. Karena permasalahan pembelajaran lay up shoot
bola basket berbeda-beda, maka dalam merancang pembelajaran lay up shoot bola
45
basket disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi siswa. Untuk merancang
pembelajaran lay up shoot bola basket yang berbeda-beda dari tingkatan paling
mudah, sedang dan sulit dapat diterapkan gaya mengajar inklusi.
Gaya
mengajar
inklusi
merupakan
bentuk
pembelajaran
dengan
merancang kegiatan pembelajaran dari yang paling mudah hingga pada tingkatan
yang sulit. Rancangan pembelajaran lay up shoot bola basket dengan gaya
mengajar inklusi antara lain: rancangan mudah, pembelajaran langkah lay up
menggunakan tanda lingkaran dari kapur tanpa menggunakan bola diawali
berjalan.Rancangan sedang, pembelajaran langkah lay up diawali dribbling
menggunakan tanda lingkaran dari kapur dilanjutkan melepaskan bola tanpa ring
basket. Rancangan sulit,
lay up shoot sebenarnya diawali dribbling. Dari
rancangan pembelajaran yang dibuat oleh guru siswa diberi kebebasan untuk
melaksanakan tugas pembelajaran sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Jika rancangan sebelumnya telah dikuasai, kemudian dilanjutkan pada rancangan
berikutnya hingga pada rancangan terakhir atau rancangan yang paling sulit.
Berdasarkan karakteristik gaya mengajar inklusi tersebut, gaya mengajar
ini memberikan kemudahan bagi siswa. Karena siswa melaksanakan tugas
pembelajaran sesuai kemampuannya, sehingga tidak merasa kesulitan. Selain itu,
belajar keterampilan (lay up shoot bola basket) yang dilakukan secara bertahap
akan memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar lay up shoot bola
basket lebih optimal.
46
Download