BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori yang

advertisement
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1
Teori yang menjelaskan Hubungan antara CSR dengan Kinerja
Keuangan
2.1.1.1 Teori Legitimasi
Menurut teori ini suatu perusahaan beroperasi dengan ijin dari masyarakat,
dimana ijin ini dapat ditarik jika masyarakat menilai bahwa perusahaan tidak
melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya. Dalam konteks ini CSR
dipandang sebagai suatu kewajiban yang disetujui antara perusahaan dengan
masyarakat . Masyarakat yang telah memberikan ijin kepada perusahaan untuk
menggunakan sumber daya alam dan manusianya serta ijin untuk melaksanakan
fungsi dan produksinya (Donaldson(1983, Balbanes et al(1998)), namun harus
diingat bahwa ijin tersebut tidaklah tetap sehingga kelangsungan hidup dan
pertumbuhan perusahaan bergantung pada bagaimana perusahaan secara terus
menerus berevolusi dan beradaptasi terhadap perubahan keinginan dan tuntutan
dari masyarakat (Walden dan Schwartz (1997)).
2.1.1.2 Teori Stakeholder
Stakeholder theory merupakan kumpulan kebijakan dan praktik yang
berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum,
penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk
berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. Jones dalam buku Ismail
Solihin (2008) menjelaskan bahwa stakeholder dibagi dalam dua kategori:
10
a. Inside stakeholder, terdiri atas orang-orang yang memiliki kepentingan
dan tuntutan terhadap sumber daya perusahaan serta berada di dalam
organisasi perusahaan. Pihak-pihak yang termasuk dalam kategori inside
stakeholder ini adalah pemegang saham (stockholders), manajer, dan
karyawan
b. Outside stakeholder, terdiri atas orang-orang maupun pihak-pihak yang
bukan pemilik perusahaan, bukan pemimpin perusahaan, serta bukan pula
karyawan perusahaan, namun memiliki kepentingan terhadap perusahaan
di pengaruhi oleh keputusan serta tindakan yang dilakukan oleh
perusahaan.
Pihak-pihak
yang
termasuk
dalam
kategori
outside
stakeholder ini adalah pelanggan (customers), pemasok (supplier),
pemerintah, masyarakat lokal, dan masyarakat secara umum.
Berdasarkan penjelasan dari stakeholder theory ini, maka perusahaan tidak
hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri, namun harus memberikan
manfaat bagi stakeholdernya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier,
pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain). Untuk memenuhi keinginan para
stakeholder, corporate social responsibility bisa menjadi salah satu strategi
perusahaan. Para stakeholder akan memberikan dukungan penuh kepada aktivitas
perusahaan apabila pengungkapan corporate social responsibility dapat dilakukan
dengan baik, sehingga tujuan perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan
mencapai laba dapat tercapai. Menurut Deegan (2004), dalam perspektif teori
legitimasi, suatu perusahaan akan secara sukarela melaporkan aktifitasnya jika
manajemen menganggap bahwa hal ini adalah yang diharapkan komunitas.
11
Dengan kata lain teori ini menempatkan persepsi dan pengakuan publik sebagai
dorongan utama dalam pengungkapan suatu informasi dalam laporan keuangan.
2.1.2
Kinerja Keuangan
2.1.2.1 Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan merupakan suatu pengakuan baik itu pendapatan
maupun biaya yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang memperlihatkan
sesuatu yang dapat dikatakan perusahaan itu baik atau buruk dalam
operasional dan aktivitas kegiatan yang dilakukannya. Selain itu, kinerja
keuangan juga mampu memperlihatkan penilaian sehat atau tidak sehatnya
suatu perusahaan.
Menurut Mulyadi (2007:2) menjelaskan bahwa kinerja keuangan adalah
penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi dan
karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang ditetapkan
sebelumnya.
Sedangkan menurut Fahmi (2012:2) menjelaskan “kinerja keuangan
adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu
perusahaan
telah
melaksanakan
dengan
menggunakan
aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
Dalam melihat suatu kinerja keuangan, terdapat suatu alat ukur yang
biasa disebut sebagai rasio keuangan. Rasio keuangan merupakan alat ukur
yang digunakan perusahaan untuk menganalisis laporan keuangan. Rasio
menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah
12
tertentu dengan jumlah yang lain. Penggunna alat analisis berupa rasio
keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa
tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan
dari satu periode ke periode berikutnya (Yunanto : 2008).
Analisis rasio keuangan adalah proses penentuan operasi yang penting
sebagai salah satu karakteristik keuangan dari perusahaan dengan melihat
data akuntansi dan laporan keuangan.
2.1.2.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan
Menurut (Munawir, 2007:30) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
keuangan adalah sebagai berikut:
1. Likuiditas, yang mampu menunjukkan kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada
saat ditagih.
2. Solvabilitas, yang mampu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi
baik keuangan jangka pendek maupun keuangan jangka panjang.
3. Rentabilitas atau profitabilitas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba selama periode tertentu.
4. Stabilitas ekonomi, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
melakukan
usahanya
dengan
stabil,
yang
diukur
dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban
13
bunga dan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen secara teratur
tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan.
2.1.2.3
Analisis Kinerja Keuangan
Analisis terhadap kinerja keuangan perusahaan pada umumnya
dilakukan dengan melakukan suatu analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan tersebut, teknik analisis laporan keuangan perusahaan tersebut
dilakukan dengan menggunakan suatu alat pengukur melalui rasio atau analisis
rasio keuangan yang merupakan suatu alat ukur dalam mengukur kinerja
keuangan perusahaan.
Menurut Mulyadi (2007:67) Analisis rasio
keuangan tersebut
diantaranya sebagai berikut :
1. Rasio Likuiditas, yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya. Meliputi cash ratio,
current ratio, acid test ratio atau quick ratio.
2. Rasio Laverage, yang digunakan untuk mengukur seberapa besar
kebutuhan dana perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Meliputi debt to
total assets ratio, debt to equity ratio dan time interest earned.
3. Rasio Aktivitas, yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan
dalam memanfaatkan sumber dananya. Meliputi inventory turnover,
receivable turnover, fixed asset turnover, dan other asset turnover.
4. Rasio
Profitabilitas,
yang
digunakan
untuk
mengukur
perusahaan dalam mendapatkan keuntungan. Meliputi
efektivitas
profit margin,
14
Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), Return on Assets
(ROA), earning per share.
5. Rasio Penilaian, yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam menciptakan nilai kepada para investor atau pemegang saham.
Meliputi Price Earning Ratio (PER), dan market to book value ratio.
6. Market Value Added (MVA),merupakan perbedaan antara nilai pasar
ekuitas dengan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan oleh investor.
7. Economic Value Added (EVA), merupakan nilai tambah kepada pemegang
saham oleh manajemen selama satu tahun tertentu. Jadi, EVA difokuskan
pada efektivitas manajerial selama satu tahun tertentu.
8. Analysis Du Pont, dirancang untuk menunjukan hubungan antara
pengembalian atas investasi, perputaran aktiva, margin laba, dan leverage.
Meliputi ROA dan Earning Power.
Dalam penelitian ini, alat pengukur kinerja keuangan yang digunakan oleh
penulis adalah rasio profitabilitas dengan ROA dan NPM.
Menurut Kasmir (2011:196) menyatakan bahwa rasio profitabilitas
merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari
keuntungan.
Sedangkan, menurut Susan (2006:58) menyatakan bahwa :
rasio keuntungan atau rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk
mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan atau merupakan kemampuan
suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (biasanya
15
semesteran, triwulanan dan lain-lain) untuk melihat kemampuan perusahaan
dalam beroperasi secara efisien.
Darsono
dan
Ashari
(2005:56-59)
menyebutkan
bahwa
metode
perhitungan profitabilitas perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1. Gross Profit Margin, dicari dengan penjualan bersih dikurangi harga
pokok penjualan dibagi penjualan bersih. Rasio ini berguna untuk
mengetahui
keuntungan
kotor perusahaan dari setiap barang yang
dijual. Jadi dapat diketahui untuk setiap barang yang dijual, perusahaan
memperoleh
keuntungan kotor sebesar x rupiah.
2. Net Profit Margin (NPM), rasio ini menggambarkan besarnya laba
bersih yang
diperoleh oleh perusahaan pada setiap penjualan yang
dilakukan.
3. Return on Asset (ROA), merupakan salah satu rasio untuk mengukur
profitabilitas perusahaan, yaitu merupakan perbandingan antara laba
bersih dengan rata-rata total aktiva.
4. Return on Equity (ROE), merupakan salah satu rasio untuk mengetahui
besarnya kembalian yang diberikan oleh perusahaan untuk setiap rupiah
modal dari pemilik
5. Earning Per Share (EPS), merupakan alat analisis yang dipakai untuk
melihat keuntungan dengan dasar saham adalah earnings per share yang
dicari dengan
laba
menggambarkan
satu lembar saham.
bersih
dibagi
saham
besarnya pengembalian
beredar.
Rasio
ini
modal untuk setiap
16
6. Payout Ratio (PR), merupakan rasio yang menggambarkan persentase
deviden kas yang diterima oleh pemegang saham terhadap laba bersih
yang
diperoleh perusahaan.
7. Retention Ratio (RR), merupakan rasio yang menggambarkan
persentase
laba bersih yang digunakan untuk penambahan modal
perusahaan.
8. Productivity Ratio (PR), merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan operasional perusahaan dalam menjual dengan menggunakan
aktiva yang dimiliki.
Model perhitugan profitabilitas yang akan digunakan peneliti yaitu
ROA (Return On Assets) dan NPM (Net Profit Margin). Alasan penggunaan
ROA dan NPM untuk dijadikan sebagai proksi dalam profitabilitas adalah karena
ROA dan NPM merupakan salah satu rasio profitabilitas yang paling sering
disoroti dan mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan sebagai suatu kinerja yang ingin dicapai perusahaan. ROA dan NPM
mampu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntugan pada masa
lampau untuk kemudian diproyeksikan di masa yang akan datang. Selain itu, ROA
dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur untuk mengetahui prestasi dan
kinerja keuangan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki perusahaan untuk
memperoleh laba.
Berikut pengertian dari ROA dan NPM sebagai salah satu model yang
digunakan oleh peneliti, diantaranya :
17
1. Return on Assets (ROA)
ROA adalah salah satu rasio untuk mengukur profitabilitas perusahaan,
yaitu dengan membagi laba bersih dengan rata-rata total aktiva. Dimana rata-rata
total aktiva dapat diperoleh dari total aktiva awal tahun ditambah total aktiva akhir
tahun dibagi dua. ROA juga dapat dicari dengan
mengalikan
Net
Profit
Margin dengan asset turnonver. Asset turnonver adalah penjualan bersih dibagi
rata-rata total aktiva. ROA disebut juga Earning Power
karena
rasio
ini
menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari
setiap satu rupiah asset yang digunakan. ROA mengukur berapa persentase laba
bersih terhadap total aktiva perusahaan tesebut. Dengan mengetahui
rasio
ini dapat dinilai apakah perusahaan telah efisien dalam memanfaatkan aktivanya
dalam kegiatan operasional perusahaan.
Rumus return on assets adalah sebagai berikut :
ROA =
x 100 %
2. Net Profit Margin (NPM)
NPM merupakan rasio profitabilitas yang
perusahaan dalam menghasilkan laba yang berasal
menggambarkan kemampuan
dari
hasil
kegiatan
operasionalnya. Menurut Darsono dan Ashari (2005:56), mendefinisikan NPM
sebagai berikut: “NPM adalah laba
bersih dibagi penjualan bersih. Rasio ini
menggambarkan besarnya laba bersih yang diperoleh oleh perusahaa pada setiap
18
penjualan yang dilakukan. Bila disangkutkan dengan pengungkapan Corporate
Social Responsibility (CSR) tanggung jawab sosial, maka dapat dilihat bagaimana
pengaruh pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan terhadap profit atau
keuntungan yang didapat perusahaan itu sendiri. Rasio ini merupakan
perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan penjualan. NPM
menunjukkan persentase dari setiap rupiah penjualan tersisa setelah di kurangi
semua biaya, beban, dan termasuk juga bunga dan pajak seperti yang ditunjukkan
dengan rumus sebagai berikut:
NPM =
2.1.3
x 100 %
Tanggung Jawab Sosial (Corporate Social Responsibility)
2.1.3.1 Pengertian Tanggung Jawab Sosial (Corporate Social Responsibility)
Definisi mengenai Corporate Social Responsibility sangatlah beragam
bergantung pada visi dan misi perusahaan yang disesuaikan dengan needs, desire,
wants, dan interest komunitas. Berikut adalah beberapa definisi Tanggung Jawab
Sosial.
“Corporate Social responsibility is the continuing commitment by business to
behave ethicallt and ontribute to eonomic development while improving the
quality of life of the workfore and their families as well as the loal ommunity and
soiety at large”
19
The World Business Council for Sustainable Development
“Tanggung Jawab Sosial adalah tanggung jawab suatu perusahaan atas dampak
dari berbagai keputusan dan aktivitas mereka terhadap masyarakat dan
lingkungan melalui suatu perilaku yang terbuka dan etis, yang konsisten dengan
pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat, memerhatikan
ekspektasi para pemangku kepentingan, tunduk kepada hukum yang berlaku dan
kondidten dengan norma perilaku internasional dan diintregasikan ke dalam
seluruh bagian organisasi.
Sedangkan menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007 pasal
satu butir tiga (2007:2) menyatakan bahwa :
“Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk
berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna
meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik
bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada
umumnya”.
Selain itu, ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility juga
memberikan definisi CSR. Menurut ISO 26000 (draft 3, 2007) dalam Rista
(2009), CSR adalah:
“Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari
keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatanya pada masyarakat dan
lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis
yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan
masyarakat, mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan
dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional,
serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh”.
Pada intinya tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social
Responsibility) adalah kewajiban organisasi bisnis untuk mengambil bagian dalam
20
kegiatan yang bertujuan melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
secara keseluruhan sehingga timbul suatu brand awareness yang dapat
memberikan keuntungan terhadap perusahan.
Dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 tahun 2012
tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas dalam pasal
2 dan pasal 3 dengan merujuk pada ketentuan pasal 74 ayat (4) Undang-Undang
No. 40 tahun 2007 yang menjelaskan sebagai berikut :
Setiap Perseroan selaku subjek hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan
lingkungan.
(1) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
menjadi kewajiban bagiPerseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam berdasarkan Undang-Undang.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan baik di dalam
maupun di luar lingkungan.
Oleh karena itu, sejak diwajibkannya tanggung jawab sosial perusahaan
bagi perusahaan bagi perusahaan publik, CSR merupakan suatu hal yang sangat
penting keberadaanya untuk kesejahteraan stakeholder maupun citra atau brand
awareness perusahaan itu sendiri.
2.1.3.2 Pengungkapan
Tanggung
Jawab
Sosial
(Corporate
Social
Responsibility)
Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan yang sering juga disebut
sebagai social disclosure, corporate social reporting, social accounting,
merupakan cara mengkomunikasikan informasi sosial kepada stakeholder.
Dengan adanya hal ini maka akan dapat diketahui apa saja aktivitas sosial yang
dilakukan oleh perusahaan. Hal ini sangat penting mengingat dampak-dampak
21
yang mungkin timbul akibat aktifitas perusahaan.
Global Reporting Initiative (GRI) adalah sebuah jaringan berbasis
organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak
menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terusmenerus
melakukann
perbaikan
dan
penerapan
di
seluruh
dunia
(www.globalreporting.org). Daftar pengungkapan sosial yang berdasarkan
standar GRI terdiri dari 3 fokus pengungkapan, yaitu sebagai berikut :
1. Ekonomi
Dimensi ekonomi menyangkut keberlanjutan organisasi berdampak pada kondisi
ekonomi dari stakeholder dan sistem ekonomi pada tingkat lokal, nasional, dan
tingkat global. Indikator ekonomi menggambarkan:
Arus modal di antara berbagai pemangku kepentingan; dan
Dampak ekonomi utama dari organisasi seluruh masyarakat
Kinerja keuangan merupakan hal yang mendasar untuk memahami organisasi dan
keberlanjutannya. Akan tetapi, informasi ini biasanya sudah dilaporkan dalam
laporan keuangan.
2. Lingkungan
Dimensi lingkungan menyangkut keberlanjutan organisasi berdampak pada
kehidupan, di dalam sistem alam, termasuk ekosistem, tanah, udara, dan air.
Indikator kinerja lingkungan terkait dengan input (bahan, energi, air) dan output
(emisi/gas, limbah sungai, limbah kering/sampah). Selain itu, kinerja mereka
mencakup kinerja yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati, kepatuhan
22
lingkungan, dan informasi yang berkaitan lainnya seperti limbah lingkungan dan
dampak dari produk dan jasa.
3.
Sosial
Dimensi sosial menyangkut keberlanjutan sebuah organisasi yang telah
berdampak di dalam sistem sosial yang beroperasi. Indikator kinerja sosial GRI
mengidentifikasikan kunci aspek kinerja yang meliputi praktek perburuhan/tenaga
kerja, hak asasi manusia, masyarakat/sosial, dan tanggung jawab produk.
Berdasarkan surat keputusan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan) yang menyatakan bahwa terdapat peraturan dalam
penyampaian laporan tahunan untuk emiten atau perusahaan publik yang wajib
memuat tanggung jawab sosial perusahaan dalam setiap laporan tahunan suatu
perusahaan publik atau emiten tersebut. Adapun bahasan mengenai tanggung
jawab perusahaan itu sendiri meliputi kebijakan, jenis program, dan biaya yang
dikeluarkan, antara lain terkait aspek :
a. lingkungan hidup, seperti penggunaan material dan energi yang ramah
lingkungan dan dapat didaur ulang, sistem pengolahan limbah perusahaan,
sertifikasi di bidang lingkungan yang dimiliki, dan lain-lain;
b. praktik ketenagakerjaan, kesehatan, dan keselamatan kerja, seperti kesetaraan
gender dan kesempatan kerja, sarana dan keselamatan kerja, tingkat perpindahan
(turnover) karyawan, tingkat kecelakaan kerja, pelatihan, dan lain-lain;
c. pengembangan sosial dan kemasyarakatan, seperti penggunaan tenaga kerja
lokal, pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan, perbaikan sarana dan
prasarana sosial, bentuk donasi lainnya, dan lain-lain; dan
23
d. tanggung jawab produk, seperti kesehatan dan keselamatan konsumen,
informasi produk, sarana, jumlah dan penanggulangan atas pengaduan konsumen,
dan lain-lain.
Untuk mengukur pengungkapan CSR diperlukan suatu indikator apa saja
yang dapat menentukan pengungakapan bentuk CSR, menurut Rismanda (2005)
dalam simposium nasional akuntansi, indikator untuk pengungkapan CSR adalah
sebagai berikut :
1) Lingkungan
1)
Pengendalian polusi kegiatan operasi, pengeluaran riset dan
pengembangan untuk mengurangi polusi.
2)
Operasi perusahaan tidak mengakibatkan polusi atau memenuhi
ketentuan hukum dan peraturan polusi.
3) Pernyataan yang menunjukkan bahwa polusi operasi telah atau akan
dikurangi.
4) Pencegahan atau perbaikan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan
sumber alam, misalnya reklamasi daratan atau reboisasi.
5) Konservasi sumber alam, misalnya mendaur ulang kaca, besi, minyak, air
dan kertas.
6) Penggunaan material daur ulang
7) Menerima penghargaan berkaitan dengan program lingkungan yang dibuat
perusahaan.
8) Merancang fasilitas yang harmonis dengan lingkungan.
9) Kontribusi dalam seni yang bertujuan untuk memperindah lingkungan.
10) Kontribusi dalam pemugaran bangunan sejarah.
11) Pengelolaan limbah.
12) Riset mengenai pengelolaan limbah.
13) Mempelajari dampak lingkungan untuk memonitor dampak lingkungan
perusahaan.
14) Perlindungan lingkungan hidup.
2) Energi
1) Menggunakan energi secara lebih efisien dalam kegiatan operasi.
2) Memanfaatkan barang bekas untuk memproduksi energi.
3) Penghematan energi sebagai hasil produk daur ulang.
4) Membahas upaya perusahaan dalam mengurangi konsumsi energi.
5) Peningkatan efisiensi energi dan produk.
6) Riset yang mengarah pada peningkatan efisiensi energi dari produk.
7) Mengungkapkan kebijakan energi perusahaan.
3) Kesehatan dan Keselamatan Kerja
24
1) Mengurangi polusi, iritasi, atau resiko dalam lingkungan kerja.
2) Mempromosikan keselamatan tenaga kerja dan kesehatan fisik atau
mental.
3) Mengungkapkan statistik kecelakaan kerja.
4) Mentaati peraturan standar kesehatan dengan keselamatan kerja.
5) Menerima penghargaan berkaitan dengan keselamatan kerja.
6) Menetapkan suatu komite keselamatan kerja.
7) Melaksanakan riset untuk meningkatkan keselamatan kerja.
8) Mengungkapkan pelayanan kesehatan tenaga kerja.
4) Lain-lain Tentang Tenaga Kerja
1) Perekrutan atau memanfaatkan tenaga kerja wanita / orang cacat.
2) Mengungkapkan persentase/jumlah tenaga kerja wanita / orang cacat
dalam tingkat managerial.
3) Mengungkapkan tujuan penggunaan tenaga kerja wanita / orang cacat
dalam pekerjaan.
4) Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat.
5) Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu di tempat kerja.
6) Memberikan bantuan keuangan pada tenaga kerja dalam bidang
pendidikan.
7) Mendirikan suatu pusat pelatihan tenaga kerja.
8) Mengungkapkan bantuan atau bimbingan untuk tenaga kerja yang dalam
proses mengundurkan diri atau yang telah membuat kesalahan.
9) Mengungkapkan perencanaan kepemilikan rumah karyawan.
10) Mengungkapkan fasilitas untuk aktivitas rekreasi.
11) Pengungkapan persentase gaji untuk pensiun.
12) Mengungkapkan kebijakan penggajian dalam perusahaan.
13) Mengungkapkan jumlah tenaga kerja dalam perusahaan.
14) Mengungkapkan tingkatan manajerial yang ada.
15) Mengungkapkan disposisi staff dimana staff ditempatkan.
16) Mengungkapkan jumlah staff, masa kerja dan kelompok usia mereka.
17) Mengungkapkan statistik tenaga kerja, misalnya penjualan per tenaga
kerja.
18) Mengungkapkan kualifikasi tenaga kerja yang direkrut.
19) Mengungkapkan rencana kepemilikan saham oleh tenaga kerja.
20) Mengungkapkan rencana pembagian keuntungan lain.
21) Mengungkapkan informasi hubungan manajemen dengan tenaga kerja
dalam meningkatkan keputusan dan motivasi kerja.
22) Mengungkapkan informasi stabilitas pekerjaan tenaga kerja dan masa
depan perusahaan.
23) Membuat laporan tenaga kerja yang terpisah.
24) Melaporkan hubungan perusahaan dengan serikat buruh.
25) Melaporkan gangguan dan aksitenaga kerja.
26) Mengungkapkan informasi bagaimana aksi tenaga kerja dinegosiasikan.
27) Peningkatan kondisi kerja secara umum.
28) Informasi reorganisasi perusahaan yang mempengaruhi tenaga kerja.
29) Informasi dan statistik perputaran tenaga kerja.
25
5) Produk
1) Pengungkafan informasi pengembangan produk perusahaan, termasuk
pengemasan.
2) Gambaran pengeluaran riset dan pengembangan produk.
3) Pengungkapan informasi proyek riset perusahaan untuk memperbaiki
produk.
4) Pengungkapan bahwa produk memenuhi standar keselamatan.
5) Melaksanakan riset atas tingkat keselamatan produk perusahaan.
6) Pengungkapan peningkatan kebersihan/kesehatan dalam pengolahan dan
penyiapan produk.
7) Pengungkapan informasi atas keselamatan produk perusahaan.
8) Pengungkapan informasi mutu produk yang dicerminkan dalam penerimaan
penghargaan
9) Informasi yang dapat diverifikasi bahwa mutu produk telah meningkat
(misalnya, ISO 9000).
6) Keterlibatan Masyarakat
1) Sumbangan tunai, produk, pelayanan untuk mendukung aktivitas
masyarakat, pendidikan, dan seni.
2) Tenaga kerja paruh waktu (part-time employment) dari mahasiswa/pelajar.
3) Sebagai sponsor untuk proyek kesehatan masyarakat.
4) Membantu riset media.
5) Sebagai sponsor untuk konferensi pendidikan, seminar atau pameran seni.
6) Membiayai program beasiswa.
7) Membuka fasilitas perusahaan untuk masyarakat.
8) Mensponsori kampanye nasional.
9) Mendukung pengembangan industri lokal.
7) Umum
1) Pengungkapan tujuan. Kebijakan perusahaan secara umum berkaitan
dengan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.
2) Informasi hubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan selain yang
disebut di atas.
3) Membuat produk lebih aman untuk konsumen.
2.2
Penelitian Terdahulu
Ibnu Dipraja
(2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh
Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan yang diproksikan
dengan ROA. Penelitian ini dilakukan pada 69 perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2010-2012. Data diolah
26
menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA sebagai
indikator dari kinerja keuangan mempunyai pengaruh positif terhadap produk
konsumen dan kemasyarakatan dan mempunyai pengaruh yang negatif terhadap
lingkungan dan ketenagakerjaan sebagai indikator dari CSR.
Helen Octavia (2014) melakukan penelitian mengenai pengaruh
Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan yang diproksikan
dengan ROA dan CAR. Penelitian ini dilakukan pada 56 perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011-2012. Data diolah
menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ROA sebagai indikator dari kinerja keuangan mempunyai pengaruh positif
terhadap CSR, sedangkan CAR berpengaruh negatif
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No.
Peneliti & Judul
1. Ibnu Dipraja
(2012)
Pengaruh Corporate
Sosial Responsibility
Terhadap Kinerja
Keuangan (studi
Empiris pada
Perusahaan manufaktur
Yang terdaftar di BEI
Periode 2010-2012)
2.
Helen Octavia
Variabel
Dependen:
Kinerja
Keuangan
(ROA)
Independen :
CSR
Metode
Analisis
Regresi
Hasil Penelitian
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
ROA sebagai
indikator dari kinerja
keuangan mempunyai
pengaruh positif
produk konsumen
dan kemasyarakatan
sedangkan lingkungan
dan ketenagakerjaan
tidak berpengaruh
(CSR diproksikan
kedalam produk
konsumen,
kemasyarakatan,
lingkungan dan
ketenagakerjaan)
Dependen:
Analisis
Hasil penelitian
27
(2014)
Pengaruh Corporate
Sosial Responsibility
Terhadap Kinerja
Keuangan (studi
Empiris pada
Perusahaan manufaktur
Yang terdaftar di BEI
Periode 2010-2011)
Kinerja
Keuangan
(ROA)
Independen :
CSR
Regresi
Berganda
menunjukkan bahwa
ROA sebagai
indikator dari kinerja
keuangan mempunyai
pengaruh positif
Terhadap CSR
Sedangkan CAR
Berpengaruh negatif
Terhadap CSR
Sumber: Data diolah, 2015
2.3
Kerangka Pemikiran
Perusahaan semakin menyadari bahwa kelangsungan hidup
perusahaan
tidak hanya tergantung dari operasional perusahaan saja,
tetapi hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan tempat
perusahaan beroperasi menjadi hal yang mempengaruhi keberlangsungan
perusahaan.Hal ini sejalan dengan legitimacy theory yang menyatakan
bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan
kegiatannya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan
menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan
perusahaan. Jika terjadi ketidakselarasan antara sistem nilai masyarakat,
maka perusahaan akan kehilangan legitimasinya yang selanjutnya akan
mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
Pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan merupakan
28
salah satu cara perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan
melegitimasi kontribusi perusahaan dari sisi ekonomi dan politis. Semakin
baik suatu perusahaan melakukan pengungkapan CSR maka akan semakin
kuat respon yang akan diberikan. Respon kuat yang akan ditunjukkan oleh
stakeholder dapat berupa kepercayaan akan produk yang dihasilkan oleh
perusahaan, sehingga akan meningkatkan profit, dan return on asset.
Respon kuat yang akan ditunjukkan oleh shareholder dapat berupa
pergerakan harga saham yang cenderung meningkat sehingga akan
mempengaruhi abnormal return perusahaan.
Laporan tahunan merupakan salah satu sumber informasi guna
mendapatkan gambaran kinerja perusahaan. Informasi ini diberikan oleh
pihak manajemen perusahaan untuk memberikan gambaran tentang kinerja
perusahaan kepada para stakeholder. Dalam penelitian ini, penulis akan
menggunakan ROA dan NPM
sebagai proksi kinerja keuangan
perusahaan. Penelitian ini akan mencoba mengungkapkan bagaimana
pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap kinerja
perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Khitam (2013) menjelaskan
bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan Corporate Social
Responsibility terhadap kinerja perusahaan yang diproksikan dengan ROA
(Return On Assets) dan NPM (Net Profit Margin).
29
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Kinerja Keuangan :
CSR
X
1. ROA (Return On Assets)
2. NPM (Net Profit Margin)
Y
Sumber : Landasan Teori
2.4
Perumusan Hipotesis
Banyak literatur yang menegaskan bahwa aktivitas CSR yang
tertuang dalam pengungkapan sosial perusahaan berpengaruh dan
memiliki hubungan positif dengan kinerja perusahaan. Dalam penelitian
empiris, beberapa peneliti telah mencoba untuk mengungkapkan hal ini
dalam berbagai perspektif yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
Perusahaan yang melaksanakan CSR yang dapat dilihat dari Corporate
Social Reporting akan mendapat banyak keuntungan seperti kesetiaan
pelanggan dan kepercayaan dari kreditor dan investor. Hal ini akan
memicu keuangan perusahaan menjadi lebih baik sehingga laba
perusahaan meningkat yang akan diikuti oleh kenaikan ROA dan NPM
perusahaan di tahun berikutnya.
Penelitian Heal dan Gareth (2004) menunjukkan bahwa aktifitas
CSR dapat menjadi elemen yang menguntungkan dalam strategi
perusahaan, memberikan kontribusi kepada manajemen risiko dan
memelihara hubungan yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang
bagi perusahaan. Sedangkan penelitian Siegel dan Paul (2006),
30
menunjukkan bahwa aktivitas CSR memiliki dampak produktif yang
signifikan terhadap efisiensi, perubahan teknikal, dan skala ekonomi
Perusahaan. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut
:
H0
:Pengungkapan
aktivitas
CSR
(CSR
disclosure)
tidak
berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan yang diproksikan
dengan ROA dan NPM
H1 : Pengungkapan aktivitas CSR (CSR disclosure) berpengaruh
positif terhadap Kinerja Perusahaan yang diproksikan dengan
ROA dan NPM
Download