akademika - STFK Ledalero

advertisement
ISSN 1412-8713
VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
AKADEMIKA
Membaca
Realitas Sosial
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ledalero – Maumere
AKADEMIKA
ISSN 1412-8713
Majalah Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero
VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Diselenggarakan dan diterbitkan oleh
Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STFK Ledalero
Maumere – Flores
Penasihat/Pelindung: Ketua STFK Ledalero
Moderator: Dr. Philipus Ola Daen
REDAKSI
Ketua: Sififaldus Foya
Wakil: Fransiskus Arun
Anggota: Ervan Mau, Arnold Jemadu, Jovan Tonda,
Fandy Wutun, Har Yansen, Sello Lamatapo, Venan Meolyu
Desain Cover: Krispin Pandalewa
Alamat Redaksi:
Sekretariat SEMA STFK Ledalero – Maumere – Flores – NTT
Tlpn/Fax (0582) 21895
Website: stfkledalero.ac.id
E_mail: [email protected]
SUARA REDAKSI
Pembaca yang Budiman,
Realitas sosial yang tengah kita hadapi saat ini sangat beragam.
Keberagaman realitas itu dapat ditemukan dalam pelbagai fenomena
yang terjadi. Mulai dari gelombang rasuah yang semakin pelik dihadapi,
arus kekerasan yang semakin bergelimang, aksi protes dan demonstrasi
massa, dan distorsi kekuasaan politik pada lembaga-lembaga negara
hingga sejumlah apresisasi terhadap kinerja sosok tertentu yang sangat
fenomenal, prestasi perorangan dalam pelbagai kompetisi tingkat global,
dll, menjadi panorama yang khas dan unik serta menarik untuk dikaji
secara kontinu. Sejak berdirinya sebagai suatu bangsa yang mandiri,
Indonesia memang sudah dikaruniai faktum pluralitas yang berbeda
dari bangsa lain di dunia. Pluralitas itu dapat ditemukan dalam pelbagai
etnis, kultur, religiositas, dan keyakinan-keyakinan tradisional yang
menyebar di seantero jagat Indonesia. Tentu, hal ini menjadi satu daya
tarik tersendiri bagi siapapun untuk mengkaji dan menelitinya secara
sistematis, kritis, rasional dan holistik. Namun, perlu diingat bahwa
penelitian dan penemuan yang ada tidak serentak memberikan suatu
kepastian pengetahuan tentang suatu hal tertentu. Oleh karena itu,
sebagian penelitian tersebut sebenarnya menjadi titik berangkat untuk
Suara Redaksi
3
melakukan penelitian selanjutnya, dan lebih dari pada itu, realitas sosial
in se tidak dapat ditarik dengan suatu premis-premis baku dan ketat tetapi
dari keseriusan dan ketekunan untuk meneliti secara terus menerus.
Dari kalangan akademisi, kenyataan-kenyataan ini menjadi runyam
dibicarakan justru karena fakta tersebut tak berhenti memunculkan
kejutan-kejutan. Pelbagai analisis sosial dan tinjauan kritis yang banyak
tersebar di pelbagai Buku, Majalah, Surat Kabar, Skripsi, Tesis dan
Disertasi, sedikit banyak mau membahasakan bahwa memang realitas
sosial yang kita hadapi selalu memicu kelahiran bermacam-macam
perspektif. Terdorong oleh hasrat yang sama, maka Civitas Akademika
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores-NTT
juga turut berpartisipasi dalam melahirkan aneka tinjauan dan analisis
kritis melalui penerbitan esai-esai dalam Majalah AKADEMIKA. Esaiesai yang termuat dalam Majalah AKADEMIKA edisi ini merupakan
kajian pribadi dan kelompok dari beberapa mahasiswa dan akademisi.
Karena itu, cita rasa dasar dari esai-esai kali ini adalah perspektif filosofisteologis. Oleh karena itu, kami akan menyatukan aneka pandangan
filosofis dan teologis tersebut dalam satu tema dasar yakni: “MEMBACA
REALITAS SOSIAL.” Metode pembacaan juga ini menggunakan kajian
kepustakaan dan pengamatan fenomenal, sehingga terbuka terhadap
segala kritikan dan tanggapan yang bersifat membangun.
Selain itu, terkait dengan penomoran edisi majalah Akademika
mengikuti penomoran pada edisi sebelumnya yang bertema “INGAT 65.”
Hal ini dipakai karena penerbitan AKADEMIKA kadang berubah dari
tahun ke tahun. Karena itu, kami sangat mengharapkan kerjasama dari
pelbagai pihak agar penerbitan AKADEMIKA selanjutnya bisa terjadi secara
konsisten. Dan pada akhirnya, kami mengucapkan SELAMAT MEMBACA!
REDAKSI
4
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Editorial
MEMBACA REALITAS
SOSIAL
Oleh: Sififaldus Foya
D
i panggung kontemporer kajian geopolitik, diskursus seputar
realitas sosio-politis masyarakat postmodern (sekular) masih
gencar-gencarnya terjadi. Ada pelbagai macam fakta yang tersaji
secara berbeda di hadapan publik dan turut membentuk peradaban
suatu kelompok masyarakat yang berada dalam lingkarannya bahkan
bisa melampaui sesuatu yang lebih besar yakni negara. Dalam konteks
geopolitik Indonesia, beragam realitas sosio-politis itu mengalami
mobilisasi dalam pelbagai gelombang sejarah yang kian hari kian mencari
format yang tepat. Mulai dari gelombang-gelombang kekerasan yang
semakin hari semakin menunjukkan wajah yang berbeda, pelbagai ritual
ratapan publik yang banyak bermunculan dalam kancah peradaban,
hingga persoalan distorsi kekuasaan dan identitas mayoritas yang sedang
ngtrend saat ini, sedikit banyak memberikan gambaran bagaimana situasi
dan kondisi terkini bangsa Indonesia. Menanggapi hal ini, pelbagai
pandangan coba mengintervensi ke dalamnya. Dari kalangan akademis
yang berkonsentrasi pada fakta-fakta sosial dan humaniora – mulai dari
ilmu politik, antropologi, sosiologi, ekonomi, sejarah- hingga sastra
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
5
filsafat, teologi, dan kajian budaya, sedang mencoba bagaimana harus
membahasakan sepak terjang realitas yang tengah dihadapi.
Aneka pandangan semacam ini sebenarnya mengungkapkan
betapa fenomena yang kita temukan memiliki kadar penampakan yang
unik bagi setiap orang. Dengan demikian, tidak ada klaim kebenaran
yang pasti yang dapat ditentukan oleh seseorang. Hal ini mengafirmasi
keyakinan klasik yang berkembang hingga kini bahwa spekulasi murni
tentang dunia dan segala yang ada padanya tidak dapat memberikan
kepada kita pengetahuan yang pasti dan terpercaya. Karena spekulasi
murni itu sendiri masih terpaut dengan suatu upaya objektivasi atas
realitas dan dengan demikian, realitas seolah-olah dibungkus dalam satu
kerangka teoretis yang baku. Tentu, berbeda dengan pergumulan sosial
sebagaimana kinerja ilmu-ilmu sosial, letak keabsahan dari pengetahuan
yang ditemukan sangat bergantung kepada analisis yang kontinu
atas realitas. Di sini, pergumulan sosial itu berusaha mengeksplorasi
kemungkinan untuk mencari sebuah pendekatan alternatif yang cocok
bagi setiap dinamika sosial.
Terdorong oleh suatu ekpektasi akan adanya komunitas yang
diimpikan (imagine commnity), maka beberapa esai-esai lepas yang
coba dimuat dalam akademika kali ini hendak mendedah secara kritis
dan analitis pelbagai pergumulan sosial tersebut. Hal ini pertama-tama
dimulai dengan gagasan dari Ino Mansur yang mengungkapkan peran
sastra sebagai advocatus diaboli, yakni suatu cara untuk mencintai dengan
kritis bahkan sesekali melawan karena mencintai. Ino Mansur menulis:
“Dalam sejarah dunia, ada banyak sastrawan menggunakan
kemampuan sastranya untuk mengecam tindak-tanduk distortif dan
sistem politik yang menyangkal kemanusiaan serta mengabaikan
moralitas. Salah satunya adalah Nadine Gordimer. Perempuan kulit
putih ini terutama dikenal karena menulis tentang antirasisme dan
ketidakadilan sosial di Afrika Selatan akibat politik apartheid. [...]
6
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Selain itu, beberapa penyair terkemuka Indonesia seperti Chairil
Anwar, Amir Hamzah, W. S. Rendra, Wiji Tukul merupakan sebagian
contoh dari beberapa penyair yang menelisik konteks sosial politik
Indonesia dengan kata-kata puitik. Mereka tak sekadar berpuisi,
tetapi berpuisi tentang keprihatinan sosial. [...] Mereka memberikan
kritik serentak menawarkan terobosan dengan menggunakan katakata sastra. Terkadang dengan gaya berkata yang sarkastik, mereka
“menangisi” realitas dan secara amat elok menyerang beberapa
kebijakan sosial yang menyandera kebebasan rakyat. Mereka
“bersembunyi” dibalik kata-kata manis, tetapi sesekali dan dengan
serta merta nan efektif “menyelinap” diantara kerumunan persoalan
sosial, tampil seperti orang gila yang berteriak dan menyebabkan
suara mereka mendapat sorotan dan perhatian. Mereka juga acapkali
memberi ancaman agar persoalan yang mereka tanggisi itu segera
dicari solusinya. Mereka terkenal, bukan hanya karena jago meramu
kata, tetapi juga pandai menghadirkan diskursus kritis atas berbagai
problem sosial lewat pilihan kata-kata bernuansa sastra.”
Keyakinan ini serentak menjelaskan betapa dari satu matra
akademis sudah berusaha mencermati realitas sosial dengan pelbagai
cara. Barangkali ini yang kita boleh namakan dengan mobilisasi
peradaban. Sementara Gusti Fahik, lebih lanjut membaca bagaimana
wacana kekuasaan bisa dibahasakan dalam karya-karya sastra seperti
dalam karya Pramoedia Ananta Toer. Melalui karya Arok Dedes, Pram
menampilkan sebuah tradisi persaingan yang bisa berujung pada
pembantaian berdarah-darah demi sebuah nama yakni kekuasaan.
Terhadap karya ini, Gusti menulis:
Arok Dedes dalam pandangan saya menjadi sebuah karya sastra yang
memberi analisis wacana kekuasaan atas peristiwa yang terjadi di
Tumapel pada abad XIII yakni ketika Ken Arok merebut kekuasaan
dari tangan Tunggu Ametung lewat kudeta berdarah. Peristiwa ini
punya kesejajaran dengan peristiwa 1965 sebab kedua peristiwa
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
7
sejarah itu berujung pada jatuhnya kekuasaan ke tangan satu tokoh
saja. Yang menarik dari Arok Dedes ialah penggambaran tentang
terciptanya lingkaran kekuasaan yang dibangun oleh sang tokoh
utama, Ken Arok dalam mengendalikan momentm, menciptakan
pra kondisi dan mengambil alih kekuasaan. Ken Arok memanfaatkan
setiap unsur yang dia anggap perlu untuk membangun legitimasi
bagi kekuasaannya. Selain kelima unsur yang saya sebutkan di muka,
ada unsur lain yang dipakai Ken Arok yakni unsur mistis di sekitar
kemunculannya. [...] Ken Arok digambarkan sebagai titisan Batara
Brahma lewat peran seorang perempuan desa bernama Ken Endok.
Sebagai titisan dewa, Ken Arok berbeda dari manusia kebanyakan.
Ia bukan bagian dari dunia manusia, meski ia berada di dalam dunia
manusia. Kehadiran Ken Arok adalah pengejahwantahan kehendak
ilahi bagi kelangsungan sejarah kerajaan-kerajaan besar di Tanah
Jawa, dan kelak di Nusantara. Dhakidae menguraikan dengan sangat
detil unsur-unsur ilahi yang dimiliki Ken Arok dengan merujuk pada
apa yang ditulis dalam Serat Pararathon, sebuah data pustaka kuno
tentang sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Campur tangan ilahi dalam
kelahiran dan kemunculan Ken Arok pada panggung politik dan
perebutan kekuasaan di Tumapel menjadi ciri khas konsep kekuasaan
dalam kaca mata Timur.
Dalam karya yang lain dari Pram, seperti tetralogi “Bumi Manusia”
Marto Lesit, dkk coba membahas tentang Nasionalisme yang terkandung
dalam karyanya tersebut. Menurut Marto dkk, Pram dalam karyanya ini
ingin mengeritik suatu fenomena yang terjadi sepanjang sejarah Indonesia,
terutama feodalisme yang menghambat perkembangan dan kemajuan.
Bagi Pram langgengnya penjajahan kemanusiaan yang berlanjut usai
kemerdekaan dipengaruhi oleh kultur feodal yang rigit dan kaku sampaisampai seorang harus sudah dikondisikan untuk bertekuklutut di hadapan
seorang Raja atau penguasa. Atau dalam bahasa yang lebih praktisnya,
tunduk tanpa sikap kritis. Marto dkk mengutip kata-kata Pram:
8
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
“Apa guna belajar ilmu pengetahuan Eropa, bergaul dengan orangorang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti
keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf
pula? God, God! Menghadap seorang bupati sama dengan bersiap
menampung penghinaan tanpa boleh membela diri.
Dengan ini terlihat kritik pedas dari Pram atas tradisi feodal Jawa
yang mengharuskan seorang manusia harus ngesot (semi merangkak)
saat menghadap pembesar. Bagi Pram, justru langgengnya kejahatan
semasa Orde Baru pertama-tama dilatari oleh kepatuhan tanpa dasar
ini. Oleh karena itu, pesan nasionalisme yang diharapkan Pram dan
bisa menjadi acuan bagi setiap warga Indonesia adalah dekonstruksi
atas konsep nasionalisme klasik menuju sesuatu .yang progresif dan
revolusioner. Pram,- demikian Marto, dkk, -menolak tunduk-bungkam
terhadap penguasa yang menindas rakyat.
Selain dalam matra Sastra, beberapa esai di dalam akademika kali
ini juga coba mencermati pelbagai realitas sosial pada matra politik
terutama meninjau sejauhmana kiprah generasi muda dalam ranah
politik kebangsaan Indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam esai Dony
Koli, dkk yang mencoba menepis keenggan kaum muda dalam ikhtiar
partisipatifnya pada ranah politis. Mereka menegaskan bahwa, generasi
muda yang menjadi pundak masa depan bangsa tidak lantas menjadi
penonton atau penikmat dalam setiap konstelasi politik terlebih khusus
dalam pelbagai kontestasi dan komeptisi yang baik. Dony Koli dkk
menulis:
“Problem partisipasi politik kaum muda menjadi santer didiskursuskan
lantaran saat ini absensi kaum muda dalam banyak model percaturan
politik hampir pasti sampai pada titik nadir. Survei Transparency
Indonesia (TI) tahun 2014 menunjukkan 48 persen pemilih pemula
mengaku jarang mencari informasi mengenai pemilu, 33 persen
menyatakan tidak pernah, dan sisanya mengaku sering mencari
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
9
informasi. Fenomena keengganan berpolitik kaum muda memang
pantas untuk diantar ke hadapan perbincangan publik. Jika ditelisik
dari sisi historis, peran kaum muda bangsa Indonesia tidak dapat
dilepaspisahkan dari perjuangan panjang mencapai kemerdekaan.
Begitu banyak gerakan pemuda yang mengambil bagian dalam
bermacam cara untuk merebut kemerdekaan. Sebut saja peristiwa
Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah perjuangan kaum
muda bangsa Indonesia. Selain peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda
28 Oktober 1928, militansi dan kualitas tekanan kaum muda dalam
berpolitik tidak diragukan lagi ketika pada medio 1998 silam mereka
berhasil menurunkan Soeharto, sang penguasa rezim Orde Baru yang
melanggengkan kekuasaannya secara ‘brutal’ selama lebih dari tiga
puluh tahun. Dengan demikian, merupakan suatu hal yang wajar jika
banyak orang saat ini berada dalam ‘kecemasan’ kolektif, entahkah ‘taji’
kaum muda yang dahulu konon merebut kemerdekaan dibiarkan hilang
begitu saja atau mesti sesegera mungkin menepis keengganan ini.”
Dengan ikhtiar semacam ini, Dony dkk yakin bahwa generasi muda
hendaknya perlu menyadari sumbangsih mereka dalam aras sejarah
bangsa Indonesia sejak tanggal 28 Oktober 1928. Tak dapat disangkal
bahwa, perjalanan bangsa Indonesia tidak terlepas dari pelbagai gerakan
generasi muda. Oleh karena itu, membaca adanya tendensi untuk
mengurangi tingkat partisipasi kaum muda dalam berpolitik yang
dipicu oleh pesimisme sosial lantaran merasa muak dengan konstelasi
perpolitikan bangsa yang sedang mengalami carut marut, demikian
Dony, adalah sebuah pilihan yang tidak relevan, sehingga perlu dicarikan
sebuah solusi praktis.
Dalam rangka menjawabi sekelumit persoalan yang sedang mendera
kaum muda sebagaimana ditampilkan oleh Dony dkk, Frano Kleden
coba mendedahnya dengan membaca posisi generasi muda masa kini
yang berada di persimpangan jalan. Menurut Frano, posisi kaum muda
saat ini sedang digempur oleh dua pengaruh besar yakni pengaruh
10
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
barat (modernisasi dan globalisasi) dan pengaruh budaya nasional, yang
dipandang sebagai antitesis kebudayaan barat. Frano menulis:
“Sekarang kaum muda mengalami sebuah keadaan dilematis.
Mereka sedang berada di persimpangan jalan di mana globalisasi
mempersempit jurang antara ruang dan waktu, sementara pertemuan
budaya nasional dan kebudayaan Barat modern menghadapkan
mereka pada pertanyaan, apakah mereka harus menetap pada nilai
universal (budaya nasional) yang telah menyatukan mereka sejak
kecil?”
Pertanyaan ini dijawab Frano dengan beberapa kemungkinan yakni:
Pertama, kaum muda perlu menyadari identitasnya sebagai sebuah
bangsa yang berbudaya serentak berusaha mempertahankan keasliannya.
Orang tidak bisa memahami keberadaan, kalau tidak mengenal identitas
dirinya. Kedua, membangun dialog. Dialog merupakan jawaban atas
tanda-tanda zaman sekaligus bentuk kerasulan kategorial dewasa
ini. Ketiga, keterbukaan untuk saling mengembangkan. Kebudayaankebudayaan saling membutuhkan sebab semua kebudayaan ada dalam
solidaritas. Yang dibutuhkan adalah usaha saling mengembangkan di
antara kebudayaan-kebudayaan.
Arah dari kiblat yang demikian menurut Har Yansen, adalah untuk
meminimalisasi kemunculan pelbagai tindakan radikalisme yang sering
memakai jasa generasi muda. Har menegaskan bahwa, dalam episode
terakhir ini, pelbagai tindak kejahatan seringkali dilakoni oleh kaum
muda. Dengan mengangkat situasi yang terjadi di Timur Tengah semisal
kemunculan ISIS, Har berpretensi bahwa sebenarnya dengan darah
muda yang mereka miliki, kaum muda akan dengan cepat terpengaruh
dalam pelbagi input-input negatif seperti radikalisme. Oleh karena itu,
untuk menjawabi pelbagai kecemasan akan bahaya radikalisme, Har
meganjurkan pentingnya keterlibatan yang penuh dari keluarga dan
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
11
sekolah. Dua institusi yang memiliki peran paling fundamental dalam
merevolusi mental kaum muda ini harus sedapat mungkin menjalankan
perannya dengan baik. Keluarga yang menjadi lokus pertama bagi
seorang anak manusia dalam memperoleh nilai-nilai kehidupan dan
sekolah yang berperan membentuk dan mendidik kawula muda harus
bisa bekerja sama.
Jika kedua institusi ini bisa bekerja dengan baik, maka ranah politik
yang beradab sebagaimana diharapkan oleh Arsen, dkk bisa tercipta.
Arsen percaya bahwa kita masih bisa menggagas peran sentral kaum
muda dalam membangun politik yang beradab. Hal ini pertama-tama
dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena kita tidak mungkin
mencari pihak lain di luar generasi muda yang bisa membawa bangsa
kita pada masa depan yang baik. Justru karena ekspektasi yang baik
akan masa depan itu adalah sesuatu yang bersifat bayangan maka, hal
penting yang kita lakukan adalah membentuk generasi muda kita dengan
memberikan input-input positif dan membangkitkan kesadaran mereka
bahwa mereka telah memberi sumbangan yang banyak bagi sejarah
perkembangan bangsa. Arsen, dkk menulis:
“Sejarah perkembangan bangsa-bangsa menempatkan kaum
muda sebagai pelopor perubahan. Kaum muda adalah garda masa
depan bangsa. Ortega Y. Gasset menyebut kaum muda sebagai
agen perubahan.1 Keberadaan kaum muda berpotensi luar biasa
dalam pembangunan bangsa. Dalam konteks politik, kaum muda
memiliki pengaruh yang besar dalam pembangunan politik yang
beradab. Untuk mewujudkan pembangunan politik yang beradab
tersebut maka hal pertama yang harus dilakukan kaum muda adalah
merekontruksi sistem-sistem politik. Ini menjadi fokus perjuangan
kaum muda. Setiap sistem yang salah harus digugat dan dicari solusi
1
Heremias Dupa, “Belajar dari Sejarah Evaluasi Kritis atas Peran dan Kiprah Intelektual
Kaum Muda” Jurnal Akdemika 6:1 (Ledalero: 2009/2010), P.83.
12
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
praktis. Politik harus digiring pada porsinya dan harus sejalan dengan
nilai-nilai pancasila. Kaum muda tidak boleh membiarkan bangsanya
terpasung dibawah sistem politik yang tidak beradab. Generasi muda
harus membangun suatu hawa politik yang beradab.”
Harapan ini yang menurut Rio Nanto pertama-tama harus dipegang
oleh Mahasiswa sebagai kelompok akademisi yang sedang bergulat
dengan perkuliahan, penelitian, ataupun kerja. Dengan meletakkan
tanggungjawab tersebut, Rio mengharapkan bahwa setelah ditemukan ada
distorsi dalam tubuh perpolitikan yang turut mendegradasi peradaban
bangsa, kaum muda harus mampu membuat upaya pembalikan dari
desakralisasi politik menuju sakralisasi politik. Rio berkeyakinan bahwa
arti dasariah dari politik sebagai sesuatu yang mulia, suci, harus sesegera
mungkin ditegakkan. Jangan sampai, pandangan yang bertahan sampai
kekal hanyalah soal distorsi-distorsi dan penyelewengan-penyelewengan
dalam tubuh politik, dan dengan demikian, seolah-olah itulah esensi
dasar politik.
Menurut Rio, atensi perpolitikan yang dicita-citakan bersama adalah
coba memangkas pelbagai fakta dekadensi nilai politik yang sudah kita
terima sejak dahulu. Hal itu bisa ditempuh dengan merevitalisasi potensi
mahasiswa untuk membangkitkan sense of critis, suatu daya yang punya
kekuatan untuk menggempur pelbagai penyelewengan sosial. Ada
beberapa tawaran yang dianjurkan oleh Rio yakni adanya penguatan dalam
pendidikan agama, pendidikan pancasila, pendidikan multkulturalisme,
pembudayaan kejujuran, dan pendidikan kewarganegaraan sehingga
kompleksitas pengetahuan dari mahasiswa bisa mumpuni untuk
berkiprah dalam taraf yang lebih besar yakni dalam suatu bangsa.
Dalam skala lokalitas, Adrian Naur menggariskan harapannya akan
perubahan di NTT melalui gerakan kaum muda. Di tengah nestapa dan
duka derita yang dialami oleh NTT dengan pelbagai kasus dan persoalan
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
13
yang menimpanya pada episode akhir-akhir ini, Adrian menyodorkan
sebuah agenda harapan akan kehadiran dari kaum muda sebagai daya
dobrak dalam memutuskan mata rantai duka nestapa tersebut. Adrian
menulis:
“Kaum muda menjadi satu-satunya harapan sekaligus agen perubahan
dalam menanggapi dentuman ledakan persoalan masyarakat NTT.
Dikatakan harapan dan satu-satunya agen perubahan karena tanpa
mengesampingkan peran formal masyarakat, kaum muda dalam
kiblatnya bersih dari intrik politik dan geliat bahaya destruktif politik
praksis. Politik kita telah banyak dicemari oleh pengaruh kekuasaan
dan uang. Dan mereka yang terjebak dalam ‘lingkaran setan’ itu adalah
para elitis. Jika kita kembali pada fakta sejarah Indonesia sebelum dan
pasca kemerdekaan telah banyak yang dilakukan oleh kaum muda.
[...] Beberapa tindakan alternatif yang bisa dilakukan oleh kaum
muda, -seturut Adrian- adalah Pertama, kaum muda menjadi medium
komunikasi serentak komunikator publik, Kedua, kaum muda sebagai
penyalur sekaligus pengamplifikasi aspirasi, Ketiga, kaum muda harus
menjadi kekuatan kritis.”
Di akhir esai-esai ini, Reinard L. Meo dan Mariano Leonard Leta
mengangkat tokok Kosuke Koyama, untuk melihat cara pembacaan
atas realitas secara induktif. Dengan esai berjudul, “Berteologi dari
Bawah Bersama Kosuke Koyama,” Reinard dan Mariano menampilkan
ikhtiar Koyama untuk mengubah arah kiblat berteologi. Teologi harus
berangkat dari fakta real yang ditemukan dalam setiap perjumpaan
dengan manusia, lingkungan dan sesama ciptaan. Dengan itu, kiprah kita
di dalam dunia menjadi lebih orisinal karena kita benar-benar berbicara
tentang dunia dan penampakkannya. Itulah hakikat pengetahuan ilmiah
yang digandrung oleh para saintis sejak penelitian eksperimental yang
paling dasyat dari Galileo Galilei, dan para pengikut mereka ketika
revolusi pengetahuan abad ke 17 sedang membuncah.
14
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Dan pada akhirnya, tulisan-tulisan yang termuat dalam Akademika
kali ini masing-masing memiliki aneka perspektif terkait realitas sosial
yang terjadi. Tujuannya bukan untuk menyelesaikan segala problematika
yang ditemukan, melainkan untuk memperkaya dan memperdalam daya
jangkau kita akan persoalan yang kita hadapi bersama. Lebih spesifik,
esai-esai ini terikat oleh keyakinan bahwa tidak semua perspektif
dapat menjelaskan satu fenomena dengan kepastian tertentu, sehingga
keanekaragamana dalam membahasakan sepak terjang realitas yang
digumuli bersama dalam konteks kebangsaan hanyalah ungkapan
kekayaan pandangan. Banyak di antara esai-esai ini yang menijau kiprah
kaum muda dalam membaca faktum peradaban Indonesia baik dari segi
politik, sastra, filsafat, maupun dalam matra lainnya.
Berhubung inspirasi dasar Akademika Edisi ini adalah bagaimana
memandang dan memikirkan realitas sosial dan politik di tengah
masyarakat dan terutama bangsa Indonesia, maka kami dari redaksi
coba membingkai semua tulisan ini dengan satu tema besar yakni,
“MEMBACA REALITAS SOSIAL,” sembari memperhatikan bahwa
pembacaan yang dimaksud tidak bertujuan untuk mendefinisikan
realitas dan atau mencari solusi-solusi yang tepat bagi setiap pergolakan
yang ditemukan. Kami menyadari bahwa kajian-kajian ini masih terbatas
pada analisis-kritis dari hasil pengamatan fenomenal dari setiap para
penulis, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kadar kualitasnya.
Akhirnya, selamat membaca.
Sififaldus Foya – Editorial - Membaca Realitas Sosial
15
DAFTAR ISI
SUARA REDAKSI................................................................................................3
EDITORIAL — MEMBACA REALITAS SOSIAL
Sififaldus Foya...................................................................................................................... 5
DAFTAR ISI........................................................................................................................ 16
SASTRA NTT SEBAGAI “ADVOCATUS DIABOLI”
Inosentius Mansur............................................................................................................... 17
MEMBEDAH WACANA KEKUASAAN BERSAMA
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Agustinus Fahik, S.Fil., MA............................................................................................... 35
NASIONALISME DALAM ROMAN BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA
ANANTA TOER
Marto R Lesit, Rico W, Eka Nggalu, Troy, Simpli, dan Dion (Tkt. IV)........................ 49
KAUM MUDA DI PERSIMPANGAN JALAN: ANTARA KEBUDAYAAN
NASIONAL DAN KEBUDAYAAN BARAT
Frano Kleden........................................................................................................................ 60
KAUM MUDA DAN RADIKALISME
Har Yansen........................................................................................................................... 70
KAUM MUDA DALAM KEKACAUAN POLITIK: MENGGAGAS
SOLUSI MENEPIS KEENGGANAN BERPOLITIK KAUM MUDA
Oleh: Kelas 1 Kelompok A (Doni Koli, Anno Susabun, Calvin Pala,
Dimas Pangkur)................................................................................................................... 83
MENILIK URGENSI MAHASISWA DALAM RANAH POLITIK
(Pembentukan Diri Mahasiswa: Dari Desakralisasi menuju Sakralisasi Politik)
Rio Nanto............................................................................................................................. 99
MENGGAGAS (KEMBALI) PERAN POLITIS KAUM MUDA DALAM
MEMBANGUN POLITIK BERADAB
Arsen Jemarut, dkk............................................................................................................. 115
KAUM MUDA DAN HARAPAN PERUBAHAN DI NTT
Adrian Naur ........................................................................................................................ 130
‘Berteologi dari Bawah’ bersama Kosuke Koyama
Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo........................................................................ 142
BOX — IDOLA.................................................................................................................. 151
16
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
SASTRA NTT SEBAGAI
“ADVOCATUS DIABOLI” 1
Oleh Inosentius Mansur2
I. PENDAHULUAN
H
arus diakui bahwa geliat dunia sastra Nusa Tenggara Timur
(NTT) mengalami perkembangan signifikan. Perkembangan itu
tak hanya dalam bidang kuantitas, tetapi juga dalam bidang kualitas.
Kalau kita perhatikan secara sungguh-sungguh, banyak sekali sastrawan3
yang muncul diimbangi dengan publikasi hasil karya mereka. Para
sastrawan itu masing-masing menampilkan karakter lewat cara mereka
membedah tema dan menyampaikan pesan yang tentu saja ditelisik
dari perspektif sastra.4 Buku-buku sastra hasil karya mereka pun mulai
1
Makalah ini dibawakan dalam Seminar Bertajuk: “Sastra dan Penindasan” yang
diselenggarakan oleh STFK Ledalero, 29 Oktober 2016.
2
Penulis adalah Formator pada Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.
3
Saya tidak memiliki kompetensi untuk menilai siapa yang layak disebut sebagai
sastrawan dan siapakah yang tidak. Kata sastrawan yang dimaksudkan di sini lebih
berdasarkan pemahaman saya bahwa sastrawan adalah orang yang menghasilkan
karya sastra baik penulis maupun sastra lisan.
4
Informasi tentang naman-nama Sastrawan bisa baca Yohanes Sehandi, Mengenal Sastra
dan Sastrawan NTT (Yogyakarta: Penerbit Unversitas Sanata Dharma, 2012), hal. 35-75
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
17
menyebar di jagat NTT. Belum lagi dengan berbagai karya sastra dalam
bentuk puisi dan cerpen yang tersebar di media cetak (Flores Pos dan
Pos Kupang) dan berbagai media online (Floresa. co, Floressastra) dan
media internal sekolah, kampus, komunitas ilmiah tertentu ataupun
yang hanya dipublikasikan lewat blog pribadi, Facebook serta sastra lisan
yang berkembang di daerah-daerah tertentu. Semua ini mau mengatakan
bahwa dunia sastra kita mengalami perkembangan. Tidak berlebihan
kalau saya mengatakan bahwa kita (baca: NTT) sedang memasuki sebuah
“peradaban” sastra, suatu masa dimana diskursus sastra sedemikian
menjadi interese publik dan digemari oleh begitu banyak orang. Sastra
kini telah menjadi topik hangat, tema aktual dan menarik serta dijadikan
sebagai sarana untuk melibatkan diri dalam perdebatan bersama.
Berkaitan dengan dengan perkembangan itu, apresiasi dan kritikan
pelan-lelan mulai tampak.5 Jadi, tak hanya kemunculan berbagai
sastrawan dengan sejumlah karya sastra mereka, tetapi juga beberapa
kali (meskipun tidak banyak) kritik serta tafsir sastra yang bertujuan
mempertajam makna dan memperlebar diskursus tentang sastra.
Meskipun harus diakui bahwa kritik sastra belum menjadi kultur integral
yang sudah lazim dari dunia sastra kita, tetapi tidak bisa diingkari bahwa
hal itu telah dimulai. Sekali lagi, betapapun itu (baca: kritik dan tafsir
sastra) barangkali belum terlalu signifikan. Selain itu, perdebatan tentang
dunia sastra di media massa – meskipun dalam bentuk artikel opini - juga
menjadi bukti bahwa sastra kini menjadi fokus perhatian. Hal tersebut
mesti diapresiasi sebab “tafsir yang terbuka amat dibutuhkan untuk
membedah karya sastra”. 6 Ini adalah indikasi adanya kultur demokratis
dalam dunia sastra kita. Agar sastra semakin menukik, kontekstual dan
efektif, maka hasil karya sastra perlu “ditentang” dan “ditantang” dengan
5
Akhir-akhir ini, ruang Imajinasi Pos Kupang tidak hanya menyajikan cerpen, tetapi
juga kritik atas cerpen itu.
6
Suwardi Endraswara, Teori Kritik Sastra (Yogyakarta: CAPS, 2013), hal. 81
18
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
paradigma berpikir alternatif, opositif agar solutif. Sastra akan semakin
menjadi sesuatu yang bernilai jika ditelisik dari berbagai perspektif,
baik itu yang sejalan maupun itu berseberangan. Sastra akan menjadi
semacam milik publik dan berguna bagi publik jika publik memiliki
kepekaan yang darinya publik tak hanya memberikan makna, tetapi juga
mengambil maknanya untuk kehidupan sosial.
Dalam tulisan ini, saya tidak sedang memilih posisi sebagai pengamat
ataupun kritikus sastra, tetapi hanya coba melihat relevansi antara
sastra, politik dan kepedulian sosial. Yang mau ditelaah dalam tulisan
ini adalah sejauh mana sastra bisa menjadi sarana liberatif, terutama
untuk konteks sosial politik NTT. Sastra tak hanya terbatas pada teks.
Nyatanya karya sastra terdiri atas teks (sistem relasi intratekstual) dalam
relasinya dengan realitas ekstra-tekstual: dengan norma-norma sastra,
tradisi dan imajinasi.7 Tentu saja hal tersebut tidak bisa berdiri sendiri
tanpa sebuah realitas sosial yang menjadi rujukan imajinasi sastra. Sastra
memang mengenal tiga kutub utama yaitu pengarang, teks dan pembaca
(penikmat).8 Namun demikian, saya hanya sebagai “penikmat amatiran”
yang berusaha untuk melihat sejauhmana sastra itu bisa menjadi
“advocatus diaboli” bagi setiap kebijakan sosial yang salah kaprah dan
berpotensi merugikan masyarakat. Sastra mesti menjadi pengawas
dan pemberi kritik dan bila perlu selalu menjadi tukang kritik sosial.
Sastra selalu berusaha agar pemimpin mesti mendengarkan kritik; dan
mengembangkan salah satu prinsip yang perlu ditegakan dalam ruang
publik yaitu Auditer et altera pars (hendaknya pihak lain pun didengar).9
7
D. W. Fokema&Elrud Kunne-Ibsch, J. Praptadiharja dan Kepler Slaban (Penterj.), Teori
Sastra Abad Kedua Puluh (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), hal. 174
8
Suwardi Endraswara, Op. Cit., hal. 93
9
Pius Pandor, Ex Latina Claritas, Dari Bahasa Latin Muncul Kejernihan (Jakarta: Obor,
2010), hal. 246
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
19
II. S
ASTRA SEBAGAI “ADVOCATUS
DIABOLI”
2.1 Penjelasan Terminologi “Advocatus Diaboli”
Istilah advocatus diaboli yang saya pakai dalam tulisan ini memiliki
arti sebagai setan pembela atau setan pengganggu.10Advocatus diaboli
adalah sebutan bagi orang yang ditugasi menyampaikan ‘argumen
perlawanan’. Sebagaimana dalam pemahaman biasa, advocatus diaboli
adalah orang yang mengambil sudut pandang berlawanan atau cara
pandang yang berbeda dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih
menyeluruh tentang suatu hal. Cara ini tak jarang digunakan sebagai
‘tekhnik diskusi’ agar peserta diskusi tetap dalam perspektif sehingga
perdebatannya konstruktif. 11
Dengan demikian, dalam tulisan ini saya memakai istilah advocatus
diaboli dan mengartikannya sebagai setan pembela serentak pengganggu,
yang selalu berpikir lain, selalu melihat dari sisi lain, selalu bersedia dan
tidak takut untuk berkonfrontir, tidak begitu saja “seia-sekata” dan tidak
menerima begitu saja apa yang terjadi. Advocatus diaboli merupakan
paradigma berpikir kritis serentak menawarkan kritik, tetapi selalu
bersifat diskursif, membangun dan solutif. Advocatus diaboli tidak sama
dengan cara melawan dengan selalu mencari titik lemah untuk kemudian
menjatuhkan lawan. Advocatus diaboli yang dipakai di sini adalah sebuah
ungkapan dan bentuk “mencintai dengan cara kritis”, bahkan sesekali
“melawan karena mencintai”.
10
Untuk mempertajam pemahaman kita tentang advocatus diaboli, saya menganjurkan
membaca dan membandingkannya dengan tulisan Tony Kleden, “Pers Sebagai
Advocatus Diaboli” dalam Paul Budi Kleden dan Otto Gusti Madung, Menukik Lebih
Dalam (Maumere: Ledalero, 2009), hal. 279-292
11
Bdk. B.J. Marwoto & H. Witdarmono, “Proverbia Latina” Kompas, 2004, yang diakses
dari https://kutukamus.wordpress.com/2014/02/27/advocatus-diaboli/, 25/10/2016
20
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
2.2 Sastra dan Politik
Apakah sastra dan politik itu berkawan erat ataukah mereka mesti
ditempatkan pada posisi dan ruang yang berbeda? Apakah sastra berbeda
secara signifikan dengan politik ataukah kedua-duanya merupakan sejoli
yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain? Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang muncul dalam benak saya ketika hendak mencari titik pijak
agar menemukan titik temu antara sastra dan politik. Tanpa bermaksud
mengabaikan pertanyaan-pertanyaan ini, saya meyakini bahwa sastra
berpilin erat dengan politik. Seseorang bisa bersastra tentang politik.
Selanjutnya politik akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetis,
esensial dan mendalam jika dianalisis dengan memakai pisau analisis
sastra. Jadi, bagaimana pun juga, sastra tidak pernah berpisah ataupun
tidak dapat dipisahkan dengan politik. Politik selalu berkaitan dengan
moral dan karya sastra yang baik selalu memberi pesan kepada pembaca
untuk berbuat baik. Pesan ini dinamakan “moral”. 12 Politik yang
mengabaikan moral pada ghalibnya adalah apolitik dan sastra yang baik
mesti selalu berkaitan dengan politik yang memperhatikan aspek moral.
Dalam hal ini, moral kerapkali harus mendapat perhatian khusus, hingga
dengan membaca karya-karya sastra itu, para pembaca tidak semakin
merosot melainkan dipertinggi kebudannya. 13 Moral selalu berkaitan
dengan sikap dan tindakan serta kebiasaan-kebiasaan yang baik; kondisi
atau suasana hati, semangat atau spirit; juga berkaitan dengan ajaran
tentang sesuatu (nilai) yang baik. 14 Sastra dan politik mesti selalu merujuk
pada nilai luhur, nilai yang baik dan menjadi panduan moral-etis bagi
terciptanya kehidupan sosial yang layak. Sastra bisa beperan mengawasi
12
Budi Darma, “Moral dan Sastra” dalam Selo Soemardjan, dkk. Budaya Sastra (Jakarta:
CV Rajawali, 1984), hal. 79
13
Andre Hardjana, Kritik Sastra, Sebuah Pengantar (Jakarta: Gramedia, 1981), hal. 44
14
Peter. C. Aman, Moral Dasar, Prinsip-Prinsip Pokok Hidup Kristiani (Jakarta: Obor,
2016), hal. viii
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
21
salah kaprah dan kekhilafan sosial yang disebabkan oleh ambisi politik
yang mengabaikan moral, mengabaikan nilai luhur. Sastra dan politik
menempatkan moralitas pertimbangan substansial.
Dalam sejarah dunia, ada banyak sastrawan menggunakan
kemampuan sastranya untuk mengecam tindak-tanduk distortif dan
sistem politik yang menyangkal kemanusiaan serta mengabaikan
moralitas. Salah satunya adalah Nadine Gordimer. Perempuan kulit
putih ini terutama dikenal karena menulis tentang antirasisme dan
ketidakadilan sosial di Afrika Selatan akibat politik apartheid. Banyak
karyanya yang mengambil tema polits tentang penindasan orang kulit
putih atas mayoritas kulit hitam di negaranya sebelum naiknya Nelson
Mandela sebagai Presiden Afrikan Selatan kulit hitam pertama pada 1994.
Dalam kesempatan penyerahan hadiah Nobel sastra 1991 di Stockholm,
dia menegaskan bahwa tugas seorang penulis adalah menyuarakan
pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun.15
Selain itu, beberapa penyair terkemuka Indonesia seperti Chairil Anwar,
Amir Hamzah, W. S. Rendra, Wiji Tukul merupakan sebagian contoh dari
beberapa penyair yang menelisik konteks sosial politik Indonesia dengan
kata-kata puitik. Mereka tak sekadar berpuisi, tetapi berpuisi tentang
keprihatinan sosial. Mereka tak sebatas bersyair, tetapi bersyair tentang
kepedihan dan air mata yang barangkali tidak digubris oleh siapapun.
Lewat kata-kata puitik, mereka mengafirmasi diri sebagai ens sociale.
Mereka memberikan kritik serentak menawarkan terobosan dengan
menggunakan kata-kata sastra. Terkadang dengan gaya berkata yang
sarkastik, mereka “menangisi” realitas dan secara amat elok menyerang
15
Karena kecendrungan politik dan kritik keras dalam karyanya, sejumlah buku Nadine
pernah dilarang beredar ole Rezim apartheid Afrika Selatan, termasuk Novel The Late
Bourgeois World (1996) dan Burger’ss Daugthter (1997). Bdk. Anton Kurnia, Mencari
Setangkai Daun Surga, Jejak Perlawanan Manusia Atas Hegemoni Kuasa, Esai-Esai
Sastra, Politika dan Budaya (Yogyakarta: IRCioD, 2016), hal. 135-136
22
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
beberapa kebijakan sosial yang menyandera kebebasan rakyat. Mereka
“bersembunyi” dibalik kata-kata manis, tetapi sesekali dan dengan
serta merta nan efektif “menyelinap” diantara kerumunan persoalan
sosial, tampil seperti orang gila yang berteriak dan menyebabkan suara
mereka mendapat sorotan dan perhatian. Mereka juga acapkali memberi
ancaman agar persoalan yang mereka tanggisi itu segera dicari solusinya.
Mereka terkenal, bukan hanya karena jago meramu kata, tetapi juga
pandai menghadirkan diskursus kritis atas berbagai problem sosial lewat
pilihan kata-kata bernuansa sastra. Kombinasi sebagai seniman kata
dan pengelaborasi konteks politik, membuat mereka dikenang sebagai
seniman besar yang berjasa.
Begitu juga dengan beberapa nama lain, seperti Y. B. Mangunwijaya
dan Pramoedya Ananta Toer seringkali menghasilkan karya sastra
yang merupakan hasil kajian dan refleksi mereka tentang kondisi sosial
politik. Pramoedya Ananta Toer misalnya, dalam Bumi Manusia pernah
melontarkan kritik sosial Nyai Ontosoro sebagai wanita pribumi yang
mesti mendapat perlakuan yang sama dengan wanita Eropa, dan tidak
boleh dipandang sebelah mata. Semua manusia, termasuk wanita pribumi
tidak boleh diperlakukan berbeda.16 Hal inilah yang menjadi pertanda
kepekaan sosial politiknya. Mereka (Mangunwijaya dan Pramoedya)
memang tidak menjadikan sastra “berafiliasi” ataupun menjadi
subordinasi dari politik, tetapi menunjukan betapa karya sastra memiliki
daya bagi politik pembebasan rakyat. Mereka berhasil menunjukkan
independensi sastra tanpa mengabaikan kepedulian terhadap berbagai
kondisi politik. Mereka mampu menampilkan otonomi sastra dengan
selalu membongkar berbagai aip pembangunan dan menggonggong
tindakan serta kebijakan kontra-politik. Sastra yang mereka ciptakan
16
Bdk. Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia (Jakarta: Lentera Dipantara, 2005), hal.
33-34
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
23
justru semakin menunjukan, taring, orisinal dan berkarakter saat
kegelisahan, kritikan, pemberontakan, desakan dan disposisi hati nurani
lahir dari keprihatinan atas konteks sosial politik yang mendegradasi
dan mendekonstruksi sakralitas kekuasaan. Kata-kata dan paragraph
sastra yang mereka desain, lahir dari pengalaman, pergolakan dan
pemberontakan batin serentak kemauan luhur sebagai “peringatan”
akan adanya kebijakan salah kaprah dari para pemimpin. Dengan dan
melalui sastra, mereka membombardir tindak-tanduk distortif elite-elite
politik. Mereka memang bukan politikus, tetapi melibatkan diri dalam
pergulatan sosial politik dengan mengelaborasinya dari kacamata sastra.
Mereka masuk dalam kategori “pemerhati” sosial politik, kendatipun
mereka sendiri tak pernah mengatakannya. “Selipan-selipan” mereka
seringkali menggelitik, mengganggu dan menjadi “hantaman” terhadap
berbagai distorsi sosial. Mereka layak diberi gelar “pahlawan” sosial.
Contoh-contoh ini mau mengatakan bahwa sastra dan politik
berjalan dalam relasi simbiosis mutualisme. Dengan dan melalui
sastra, politik bukan sekadar instrumen untuk mendapatkan kekuasaan
ataupun yang berkaitan dengan kekuasaan sebagaimana tesis Andrew
Heywood17, tetapi juga sarana untuk mencapai kebaikan bersama. Sastra
bagi mereka adalah matra bagi liberalisasi sosial. Sastra berusaha untuk
menyadarkan elite-elite politik bahwa berpolitik adalah panggilan mulia
untuk mewujudkan kesejahteraan.18 Sastra berusaha untuk menentang
praktik-praktik yang mendekonstruksi politik untuk kepentingan
parsial-pragmatis. Sastra bukan hanya tentang seni berkata, tetapi juga
merupakan nyanyian tentang “kesadisan” sosial. Sastra bukan hanya
tentang irama-irama, diksi-diksi ataupun kumpulan paragraph yang
17
Adrew Heywood mengatakan “All politics is about power: semua politik adalah
mengenai kekuasan. Bdk. Ikhsan Darmawan, Mengenal Ilmu Politik (Jakarta: Kompas,
2015), hal. 15
18
Guenche Lugo, Manifesto Politik Yesus, (Yogyakarta: ANDI, 2009), ha. 108
24
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
mengikuti kaidah penulisan sastra, tetapi juga membuat kehidupan dan
dunia sosial menjadi lebih berirama dan dengan demikian menjadi lebih
bermakna.
Sastra bukan hanya tentang kepandaian memintal kata-kata puitis,
atau sekadar meramu kalimat-kalimat bermakna, tetapi juga membidik
berbagai kekeliruan yang telah menghancurkan esensi demokrasi. Sastra
menjadi sarana untuk melindungi rakyat kecil, melawan kuasa hegemonik
dan berusaha menyadarkan elite politik agar tidak mengorbankan rakyat
demi keinginan parsial-pragmatis. Benarlah kata Waluyo bahwa katakata kadang-kadang lebih tajam daripada pedang dan lebih runcing dari
peluru.19 Kata, terutama kata yang ditulis sastrawan dan telah menjadi
sastra, kiranya tidak hanya menjadi sekumpulan “onggokan” yang hanya
diposisikan di emperan realitas, tetapi mesti menjadi sebuah permata
yang terlahir dari pergolakan batin tentang kekacauan sosial dan
kemudian melahirkan tawaran-tawaran positif bagi pembangunan.
Sastra mesti mengembalikan asas demokrasi sebagaimana
mestinya. Sastra mesti “memungkinkan semua warga Negara memiliki
kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam
proses pengambilan putusan politik dan mengontrol pemerintah”.20 Hal
ini penting, sebab dalam sebuah Negara yang lahir dari kesepakatan
bersama (contract social), rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi.
Sebagai pemangku kekuasaan tertinggi, tidak ada dan boleh ada kuasa
lain yang melampaui dan melangkahi kekuasaan rakyat. 21 Tugas sastra
adalah menjaga agar rakyat sungguh-sungguh diperlakukan sebagai
pemilik kekuasaan. Rakyat adalalah otoritas tertinggi dan tidak boleh
19
Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, cet. 2 (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 43
20
Efriza, Ilmu Politik Cet. 3 (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 135
21
Richard Muga Buku, “Demokrasi dan Etika Perwakilan” dalam Scintila Conscientiae,
Letupan Nurani (Maumere: Ledalero, 2014), hal. 22
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
25
dipermainkan. Rakyat bukan subordinasi dari penguasa apalagi sekadar
dijadikan objek politik untuk memenuhi hasrat kekuasaan.
2.3 Sastra NTT dan Peran Adocatus Diaboli
2.3.1 Sastra: Mengadvokasi Hak Rakyat
Kondisi masyarakat dapat diketahui dari karya sastra. Alasannya,
karya sastra selalu merupakan cerminan dari fakta masyarakat dengan
memasukkan unsur fiksi didalamnya.22 Sastra dianggap dianggap
seperti roh leluhur, yang tidak berumah dalam kehidupan masyarakat
di dunia ini. tetapi bisa diundang – dengan ilham dan kreativitas – dan
diwadahkan dalam bentuk material dalam bentuk karya sastra di dunia
untuk memberi wejangan dan menyelamatkan manusia dari roh jahat,
angkara murka, penindasan penguasa atau ketidakadilan sosial. 23 Sastra
tak boleh eksklusif, tetapi selalu terbuka dan membuka diri terhadap
realitas dan harus membuka tabir kegelapan hidup yang disebabkan oleh
hegemoni tertentu.
Merujuk pada pendapat ini serta argumentasi sebagaimana telah
dijabarkan sebelumnya, sangat diharapkan agar sastra mesti selalu
menjalankan peran advocatus diaboli. Sastra yang berperan sebagai
advocatus diaboli adalah sastra yang senantiasa membela rakyat dari
berbagai bentuk marginalisasi dan mengganggu berbagai kebijakan
publik yang tidak mengakomodasi kepentingan rakyat. Sastra harus
mengadvokasi kepentingan rakyat. Sastra tidak boleh membiarkan
rakyat ditindas. Sastra selalu kritis terhadap penguasa ataupun eliteelite politik yang menindas rakyat. Saat rakyat tidak mampu berkata,
maka sastra harus mengatakan apa yang tak terkatakan itu. Saat rakyat
22
Ulasan lengkap lengkap tentang hal ini, baca Rene Wellek dan Austin Warren, Teori
Kesustraan, Cet. 5, Melani Budianta (Penterj.), (Jakarta: Gramedia, 2014), hal. 98-120
23
Ariel Heryanto, “Keadilan Sosial dan Sastra” dalam Kompas, 30 Maret 1984
26
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dibungkam, sastra harus menjadi ruang atau menyediakan ruang bagi
mereka untuk berbicara jujur, berbicara bebas tanpa represi. Saat rakyat
dilokalisir dan menjadi “kerbau bercocok hidung”, sastra harus tampil
membawa mereka keluar dan bersama-sama menyerukan pekikan
perlawanan tanpa kekerasan. Untuk maksud mulia ini, sensibilitas sosial
sastrawan amat dibutuhkan. Dia harus menjadi sastrawan kreatif, yang
memperhatikan lingkungannya, dibutuhkan pengorbanan yang besar,
dengan insentif yang sangat minimal. 24 Sastrawan seperti ini hanya
memikirkan lingkungan sosial, dan tidak terlalu peduli pada apa yang
akan diterimanya. Kalkulasinya populis dan bukan pragmatis.
2.3.2 Sastra NTT: Kepedulian Sosial -Kontekstual
Sastra sebagai advocatus diaboli mesti berbicara tentang kepedulian
sosial, terutama lagi kepedulian tentang konteks sosial politik lokal NTT.
Karena itu, perlu sekali kita mengembangkan apa yang disebut sebagai
sastra kontekstual.25 Sastra kontekstual adalah sastra yang menulis dan
berbicara tentang konteks masyarakat lokal tertentu. Dalam sastra jenis
ini, para sastrawan sadar benar bahwa dia mencipta untuk kelompok
konsumen tertentu.26 Tujuanya jelas yaitu melakukan sesuatu untuk
anggota sosial. Karena itulah sastranya mesti terlahir dari permenungan
mendalam tentang apa yang terjadi dan berpotensi akan terus terjadi
dalam sebuah kelompok masyarakat. Hal ini berlaku pula untuk sastra
NTT.
Ada banyak persoalan di NTT yang mesti menjadi titik acuan
sastra. Persoalan itu antara lain: korupsi, kemiskinan, pengangguran,
human trafficking, pembangunan yang tidak merata, penguasa yang
24
Ariel Heryanto Budiman “Sastra yang Berpublik” dalam Perdebatan Sastra Kontekstual
(Jakarta: CV. Rajawali, 1985), hal. 86
25
Ibid., hal. 98
26
Ibid.,
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
27
sewenang-wenang, persoalan kesehatan, pencaplokan ruang publik
untuk kepentingan tertentu, ketiadaan sense of crisis dan sederetan
problem lainnya. Adalah amat bagus jika persoalan-persoalan ini
menjadi tema sastra dan juga tema kritik sastra. NTT memang telah
memiliki orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang sastra.
Hal ini terbukti dari banyaknya sastrawan NTT. Namun lebih dari itu,
NTT juga tetap dan akan terus membutuhkan sastrawan yang tampil
sebagai “masyarakat alternatif ” demi penguatan civil society. Mereka
harus menjadi penggagas politik kemanusiaan dan pencentus kelompok
yang secara kritis menggonggong berbagai kekhilafan publik. Mereka
mesti selalu menyadari bahwa karya sastra merupakan pekikan tentang
kebebasan, tanpa mengabaikan unsur fiksi. Dialektika antara unsur fiksi,
fakta dan kepedulian sosial akan menjadikan sastra itu berdaya liberatif.
Selain itu, karya sastra juga diharapkan merupakan manifestasi
dan artikulasi suara rakyat akar rumput. Sastra mesti mengakomodir
suara kaum tak bersuara. Sastra NTT tak boleh hanya untuk dinikmati
segelintir orang – semisal para sastrawan ataupun orang yang memiliki
kemampuan dalam bidang sastra - tetapi mesti memberi pengaruh bagi
pemerdekaan rakyat dari berbagai bentuk penderitaan. Dengan demikian,
setiap sastra selalu mempertimbangkan dampak bagi konteks dan selalu
melihat bagaimana efek sosialnya. Sastra tak pernah berdiri sendiri
apalagi menyendiri. Wajah kepenulisan sastra NTT adalah wajah yang
ramah pada perjuangan menegakan kemanusiaan di bumi Flobamora. 27
Itu berarti sastra NTT tidak boleh mengabaikan pembangunan manusia
NTT. Hal ini penting sebab locus pembangunan juga sudah bergeser dari
pusat-pusat ekonomi dan politik menuju komunitas lokal yang memiliki
karakter khusus, pada dua dekade terakhir. Maka salah satu proposal
27
Redem Kono, “Menolak Adorno, Menerima Rorty, Catatan Untuk Yohanes Sehandi”
dalam media Floressatra, 28/07/2016.
28
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
politik yang coba diajukan dan diperjuangkan adalah menganalisis
peran komunitas lokal (daerah) dalam politik pembangunan.28 Di saat
pemerintah tidak menjabarkan program pembangunan demi terciptanya
masyarakat sejahtera, maka sastra harus menjadi intrumen untuk
menyadarkan pemerintah agar selalu fokus pada kebaikan bersama. Sastra
adalah “kawan” sekaligus “lawan” penguasa, tetapi dia bukanlah advokat
tanpa dasar yang begitu saja membela kepentingan rakyat tanpa secara
kritis mendalami substansi pembelaannya. Sastra juga mesti membantu
komunitas lokal (daerah) untuk keluar dari penderitaan hidup dan sebisa
mungkin – bersama mereka – mendesak pemerintah lokal (NTT) untuk
selalu memperhatikan nasib rakyat.
Karena itu - sekali lagi - karya sastra mesti lahir dari kondisi sosial
politik yang kontekstual dan harus merupakan narasi tentang kepedulian
sosial. Kata Sapardi Djoko Damono: “satu-satunya hal yang bisa dilakukan
penulis masa kini adalah bersikap lebih bersungguh-sungguh dalam
memperhatikan persoalan masyarakat di sekitarnya”. 29 Dengan begitu,
sastra menjadi instrumen penting yang menjadi bagian integral dari
dinamika demokrasi. Saya tidak bermaksud, untuk menafikan berbagai
karya sastra di NTT yang selama ini mulai bersemi secara militan, tetapi
menginginkan juga agar sastra kita menjadi representasi desakan rakyat.
Sastra harus berdiri pada posisi “orang-orang kalah” yang tidak berdaya
berhadapan kuasa hegemonik. Kuasa hegemonik itu, sebagaimana
seringkali dipraktikan dalam politik dan dalam pembangunan adalah
“power over”, kuasa atas, kuasa yang mencaplok, yang mendominasi.30
28
Max Regus, “Politik Pembangunan dan Perlawanan Lokal” dalam Paul Budi Kleden dan
Otto Gusti, Op. Cit., hal. 185.
29
Sapardi Djoko Damono, “Kritik Sosial dalam Sastra Indonesia: Lebah Tanpa Sengat”
dalam Prisma, No. 10 (Oktober), Th VI, 1997, hal 53-61
30
Cyipri Jehan Paju Dale, “Kerangka Aksi dan Agenda Revolusi Kita” dalam Cypri Jehan
Paju Dale dan Kris Bheda Somepers, Masa Depan Revolusi Kita, Pemikiran dan Agenda
Aksi (Labuan Bajo: Sunspirit, 2014), hal. 148
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
29
Dalam konteks seperti inilah sastra mesti menawarkan konsep
dan agenda aksi liberatif-emansipatif demi menggapai perubahan,
menciptakan kekuasasan yang produktif, yang selalu berjuang agar rakyat
menikmati keadilan sosial dalam segala dimensi kehidupan. Karena itu,
setiap kata dalam sastra, tak hanya lahir dari olahan dan reproduksi atas
imajinasi, tetapi juga lahir dari kajian dan analisis kritis atas berbagai
kondisi sosial yang memprihatinkan. Imajinas mesti diolah berdasarkan
realita dan berorientasi pembebasan. Geliat signifikan sastra kita
menjadi peluang bagi terciptanya sastra tentang kepedulian sosial yang
kontekstual. Sastra pada ghalibnya selalu berdimensi “sosial-karitatif ”,
tidak pernah ego dan selalu altruis. Sastra - betapapun hanya kumpulan
kata – tidak pernah individualistik-egoistik. Sastra tak boleh diam
apalagi mendiamkan berbagai persoalan yang jelas-jelas mengorbankan
rakyat. Sastra mestilah sastra rakyat, sastra tentang rakyat, sastra yang
bersuara tentang kepentingan rakyat. Rakyat adalah “detak nadi” sastra
dan penderitaan mereka adalah “helaan nafas”nya. Inspirasi sastra adalah
tangingan rakyat dan “penanya” adalah disparitas antara yang kaya dan
yang miskin. Sastra mesti berorientasi etis, moral dan transformatif.
Titik pijak dan titik tuju sastra adalah kemanusiaan. Karenaya, sastra
mesti memastikan bahwa kemanusiaan tidak boleh dipreteli apalagi
dikorbankan demi mencapai kepentingan-kepentingan politik tertentu.
Tepatlah apa yang dikatakan Abdul Hadi bahwa tanah air sastra adalah
kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.31 Dia tak pernah lepas atau
melepaskan diri dari realitas kehidupan manusia. Sastra bertolak dari dan
bertolak kepada kemanusiaan, tetapi tidak boleh menolak kemanusiaan.
Sastra mesti mengarungi samudra kehidupan dan membantu manusia
agar tidak terhanyut goncangan dan badai “lautan-samudra” kehidupan.
31
Abdul Hadi, “Realisme Sosial dan Humanisme Universal: Sastra Indonesia 1959-1965”,
Horison, No. 9, Th. XVII, 1982 halaman 244-250.
30
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
III. PENUTUP
NTT seringkali dipelesetkan sebagai: “Nanti Tuhan Tolong” atau
“Nasib Tidak Tentu”. Pelesetan ini bukan tanpa alasan. Kita menyaksikan
bagaimana sebagian besar rakyat NTT masih menderita. Impian untuk
hidup sejahtera masih jauh dari harapan. Berbagai janji politik yang
pernah diberikan kepada rakyat tentang hidup baik, belum sepenuhnya
direalisasikan. Di saat seperti ini, rakyat membutuhkan pembela
yang mengadvoksi hak-hak mereka untuk mendapatkan hidup layak.
Rakyat membutuhkan wakil yang bisa menyuarakan pekikan hati
untuk mendapatkan pertolongan agar segera keluar dari sandera sosial.
Memang bahwa di Negara kita – termasuk di NTT - telah memiliki
dewan perwakilan rakyat yang bertugas untuk menyuarakan kepentingan
rakyat. Namun demikian, akkhir-akhir ini, kepercayaan terhadap dewan
terhormat itu mulai stagnan. Hal tersebut disebabkan karena suara rakyat
seringkali digadaikan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka
menggadaikan rakyat dan bahkan seringkali berlawanan atau lebih
tepatnya melawan rakyat yang harus mereka wakili.
Di sinilah peran sastra NTT dibutuhkan. Sastra NTT mesti tampil
sebagai advocatus diaboli. Sastra NTT mesti selalu berdiri pada posisi
orang-orang kalah, orang-orang yang tertindas. Sastra tidak boleh tega
membiarkan rakyat dimarginalisasi. Sastra mesti mengembalikan politik
sebagai matra sakral dan tidak dibiarkan didesakralisasi demi kepentingan
pragmatis. Singkat kata, sastra mesti selalu memiliki kepedulian sosialpolitik. Dengan demikian, sastra NTT dapat diharapkan serentak
diandalkan untuk menjadi sarana liberatif. Sastra memang tidak memiliki
kesanggupan teknis-operasional dan otoritas legal dalam melakukan
usaha pembebasan. Sastra bukanlah institusi, tetapi “ sekumpulan ideide” yang (mesti) lahir dari pergulatan atas pergolakan. Sastra memiliki
kekuatan kata-kata yang lebih tajam dari pedang bermata dua dan pasti
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
31
memberi efek positif bagi pemerdekaan rakyat. Sastra NTT mesti kritisdiskursif yang berpihak serta berpijak pada kepentingan rakyat NTT.
Sastra mesti menjadi simbol perjuangan rakyat. Refleksi sastra NTT
mesti selalu berkiblat pada politik partisipatif serta pembelaan terhadap
hak-hak asali rakyat yang (telah – akan) dicaplok oleh elite-elite politik
dalam konspirasinya dengan kaum kapitalis.
DAFTAR PUSTAKA
I. BUKU DAN ARTIKEL BUKU
Aman, Peter. C., Moral Dasar, Prinsip-Prinsip Pokok Hidup Kristiani.
Jakarta: Obor, 2016
Buku, Richard Muga “Demokrasi dan Etika Perwakilan” dalam Scintila
Conscientiae, Letupan Nurani. Maumere: Ledalero, 2014
Darma, Budi. “Moral dan Sastra” dalam Selo Soemardjan, dkk. Budaya
Sastra. Jakarta: CV Rajawali, 1984, hal. 79
Darmawan, Ikhsan Mengenal Ilmu Politik. Jakarta: Kompas, 2015
Dale, Cyipri Jehan Paju “Kerangka Aksi dan Agenda Revolusi Kita” dalam
Cypri Jehan Paju Dale dan Kris Bheda Somepers, Masa Depan
Revolusi Kita, Pemikiran dan Agenda Aksi. Labuan Bajo: Sunspirit,
2014, haL. 148
Efriza, Ilmu Politik Cet. 3. Bandung: Alfabeta, 2013
Endraswara, Suwardi. Teori Kritik Sastra. Yogyakarta: CAPS, 2013
Fokema, D. W. &Elrud Kunne-Ibsch, J. Praptadiharja dan Kepler Slaban
(Penterj.), Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1998
Hardjana, Andre. Kritik Sastra, Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia,
1981
Heryanto, Ariel. “Keadilan Sosial dan Sastra” dalam Kompas, 30 Maret
1984
32
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Heryanto, Ariel “Sastra yang Berpublik” dalam Perdebatan Sastra
Kontekstual. Jakarta: CV. Rajawali, 1985.
Kleden, Tony “Pers Sebagai Advocatus Diaboli” dalam Paul Budi Kleden
dan Otto Gusti Madung, Menukik Lebih Dalam. Maumere:
Ledalero, 2009, hal. 279-292
Kurnia, Anton. Mencari Setangkai Daun Surga, Jejak Perlawanan Manusia
Atas Hegemoni Kuasa, Esai-Esai Sastra, Politika dan Budaya.
Yogyakarta: IRCioD, 2016
Lugo, Guenche. Manifesto Politik Yesus. Yogyakarta: ANDI, 2009
Pandor, Pius. Ex Latina Claritas, Dari Bahasa Latin Muncul Kejernihan.
Jakarta: Obor, 2010
Regus, Max. “Politik Pembangunan dan Perlawanan Lokal” dalam Paul
Budi Kleden dan Otto Gusti Madung, Menukik Lebih Dalam.
Maumere: Ledalero, 2009, hal. hal. 185
Sehandi, Yohanes. Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Yogyakarta:
Penerbit Unversitas Sanata Dharma, 2012
Toer, Pramoedya Ananta. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara,
2005
Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, cet. 2.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003
Wellek, Rene dan Austin Warren, Teori Kesustraan, Cet. 5, Melani
Budianta (Penterj.). Jakarta: Gramedia, 2014
II. MAJALAH
Damono, Sapardi Djoko “Kritik Sosial dalam Sastra Indonesia: Lebah
Tanpa Sengat” dalam Prisma, No. 10 (Oktober), Th VI, 1997, hal
53-61
Hadi, Abdul, “Realisme Sosial dan Humanisme Universal: Sastra
Indonesia 1959-1965”, dalam Horison, No. 9, Th. XVII, 1982.
Inosentius Mansur — Sastra NTT Sebagai “Advocatus Diaboli”
33
III. MEDIA ONLINE
Kono, Redem “Menolak Adorno, Menerima Rorty, Catatan Untuk
Yohanes Sehandi” dalam media Floressatra, 28/07/2016.
IV. INTERNET
B.J. Marwoto & H. Witdarmono, “Proverbia Latina” Kompas, 2004,
yang diakses dari https://kutukamus.wordpress.com/2014/02/27/
advocatus-diaboli/, 25/10/2016
34
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
MEMBEDAH WACANA
KEKUASAAN BERSAMA
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Agustinus Fahik, S.Fil., MA.1
“Seluruh ilmu dan pengetahuan, milik paling berharga dari kaum
brahmana yang tak dapat diragukan ini, dikerahkan hanya untuk
memburuk-burukkan yang tidak disukai, tidak menjadi kekuatan
yang mengungguli yang lain-lain.” (Pram – Arok Dedes)
I. CATATAN AWAL
S
etelah Ken Arok menggulingkan Tunggul Ametung dengan
menimpakan seluruh kesalahan pada Kebo Ijo, untuk pertama kalinya
Ken Dedes membiarkan air matanya berlinang. Ia menangis, bukan
lantaran kehilangan Tunggul Ametung, ayah dari anak yang sedang
1
Agustinus I. Fahik. Lahir di Tulatudik, 5 Agustus 1986 Menyelesaikan S1 di STFK
Ledalero dan S2 di Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM. Aktif
menulis di berbagai media cetak dan online utk berbagai isu politik, sosial, budaya,
sastra, media, pendidikan, dll. Terlibat di institute Sophia, yg menaruh perhatian
pada persoalan agraria di Timor Barat. Kini menjadi desainer dan wartawan majalah
Bulanan Kabar NTT
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
35
dikandungnya. Ia sedang menangisi kekuasaannya sebagai Pramesywari
Tumapel yang kini sudah tidak lagi utuh. Ken Dedes mungkin tidak
bisa lari dari kenyataan bahwa meski tidak pernah mencintai Tunggul
Ametung, ia toh menikmati kekuasaan yang diberikan kepadanya sebagai
isteri seorang akuwu di Tumapel. Malah ia menjalankan kekuasaan itu
lebih baik dari sang akuwu sendiri, sebab ia berpengetahuan. Ia menguasai
pengetahuan yang diturunkan ayahnya, Mpu Parwa, bukan saja dalam
bahasa Jawa, tetapi juga bahasa Sansekerta. Pengetahuan itulah yang
membuat dia lebih leluasa menunjukkan sikap memberontak terhadap
suaminya, yang tidak bisa baca tulis, apalagi berbahasa Sansekerta.
Barangkali karena Ken Dedes seorang perempuan maka ia mengalami
kegoncangan yang demikian, tetapi apakah hasrat kekuasaan mengenal
jenis kelamin? Bukankah Ken Arok pun mempunyai hasrat yang sama,
dan memuaskannya dengan sebuah intrik yang lalu dicontoh oleh banyak
penguasa yang muncul kemudian? Apakah ia mesti disalahkan ketika
menolak kehadiran yang lain untuk berbagi kekuasaan yang selama ini
digenggamnya sebagai ratu di Tumapel?
Bagian paling akhir dari roman Arok Dedes karya sastrawan terbesar
Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) yang saya ulas dalam
dua paragraf awal makalah ini, sekiranya bisa dengan jelas menunjukkan
apa yang disasar Pram dalam karya itu, yakni relasi pengetahuan dan
kekuasaan. Ketika Pram mendedahkan relasi pengetahuan dan kekuasaan
dalam Arok Dedes, ia serentak menggumuli sebuah persoalan lain, yakni
bagaimana kekuasaan itu dibentuk. Pram keluar dari pandangan Timur
tentang kekuasaan sebagai sesuatu yang diturunkan dari langit, sesuatu
yang diberikan para dewa sebagai warisan yang mengalir dalam urat nadi
kaum bangsawan berdarah biru.
Lewat Arok Dedes, Pram membalikkan pandangan tradisional Timur
itu dengan menunjukkan bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang bisa
36
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dikonstruksi dengan bertumpu pada pengetahuan. Namun, pengetahuan
sendiri belum menjadi jaminan diraihnya kekuasaan. Diperlukan empat
faktor lain, yakni teman, kesetiaan, uang dan senjata. Keempat hal ini
ditambah pengetahuan akan mampu memanipulasi berbagai prakondisi
lain yang memungkinkan kekuasaan itu direbut, kemudian dijalankan.
Kini kita akan melihat bagaimana pertalian antara pengetahuan
utamanya pemahaman sejarah dengan kekuasaan, ditambah kehadiran
empat faktor dalam anggapan Pram di atas, serta relevansinya bagi situasi
sosial politik terkini yang melanda tanah air.
II. P
ENGETAHUAN (PEMAHAMAN
SEJARAH) DAN KEKUASAAN
Kepentingan kekuasaan terhadap pemahaman atas masa lalu tidak
lain dari upaya memberi legitimasi terhadap kekuasaan itu sendiri.
Artinya pemahaman sejarah pada level tertentu memang dibentuk,
bahkan diarahkan untuk mengukuhkan kekuasaan yang disandang
oleh tokoh atau golongan tertentu. Sejarah dikonstruksi untuk memberi
semacam bukti bahwa kekuasaan yang pada masa kini disandang oleh
sebuah golongan adalah keniscayaan yang memang perlu diterima
sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan.
Konstruksi pengetahuan sejarah oleh kekuasaan selalu bertalian
dengan paling kurang dua faktor (Nordholt et al., 2008): pertama,
penguasaan terhadap sejumlah sumber daya institusional yang
memungkinkan rekonstruksi, produksi, dan sirkulasi pengetahuan
mengenai masa lalu. Hal ini terkait dengan bagaimana pengetahuan
mengenai masa lalu itu diproduksi, entah melalui buku pelajaran sekolah,
film dokumenter, pemberian nama jalan, pembangunan tugu/monumen
peringatan, yang tujuannya ialah menanamkan ingatan kolektif tertentu
dalam kepala masyarakat. Kedua, tantangan terhadap narasi besar sejarah
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
37
berupa narasi-narasi alternatif yang berasal dari kaum intelektual dan
anggota masyarakat yang berada di pinggir kekuasaan.
Faktor pertama di atas memang memengaruhi kontrol atas
kesadaran kolektif masyarakat. Untuk itu, arsip-arsip sejarah sebisa
mungkin diseleksi untuk diambil bagian-bagian yang berfungsi
mengokohkan kekuasaan dan melenyapkan unsur-unsur yang berpotensi
mengganggu kekuasaan yang sedang berlangsung. Peran tokoh tertentu
ditonjolkan sedemikian rupa, sementara tokoh yang lain dieliminasi
perannya, bahkan dibalikkan menjadi pengkhianat bahkan pecundang
dalam sejarah. Hal ini dapat dilihat pada Orde Baru Soeharto ketika
mengendalikan narasi tentang peristiwa 1965, dan rentetan kejadian
yang mengikutinya kemudian. Pemahaman atas apa yang terjadi pada
masa itu seluruhnya dikendalikan oleh mesin kekuasaan Orde Baru dan
dijalankan lewat institusi-institusi resmi negara, terutama militer dan
departemen pendidikan yang berfungsi memproduksi pengetahuan.
Pram sendiri diisolasi dari sejarah ketika ia disingkirkan ke pembuangan
di Pulau Buru. Nama dan karyanya tidak banyak dibahas di dalam negeri
seiring larangan atas peredaran karya-karyanya dari hadapan pembaca sastra
tanah air. Di sini terihat bagaimana perluasan dominasi medan kekuasaan
politik ke dalam medan sastra yang dikendalikan oleh Orde Baru.
Pada titik ini, Pram adalah representasi paripurna mereka yang
dikorbankan dalam peristiwa 1965. Bukan saja pribadinya yang ditindas
melainkan karya-karyanya juga turut dilindas oleh mesin kekuasaan Orde
Baru. Ia dianggap sebagai panglima dari para seniman yang bergabung
dalam Lekra dan dituduh menyebarkan Marxisme meski tidak pernah
dibuktikan sampai tuntas dan diberi kesempatan membuat pembelaan
diri di hadapan pengadilan.
Pada tahun 1995, ketika nama Pram diumumkan sebagai pemenang
Penghargaan Ramon Magsaysay, sejumlah sastrawan melayangkan
38
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
surat keberatan. Seperti dicatat Dhakidae (2015), Mochtar Lubis
yang menjadi penggalang dukungan untuk memboikot penghargaan
terhadap Pram, menganggap Pram pernah terlibat dalam membunuh
karya orang lain pada masa kejayaan Lekra dan karena itu tidak pantas
mendapatkan apapun, bahkan perlu diketok kepalanya. Tuduhan bahwa
Pram membakar karya orang lain dan turut melarang peredaran karya
sastrawan tertentu dijawab Pram bahwa yang berhak melarang peredaran
sebuah buku adalah Jaksa Agung, bukan sesama sastrawan.
Jawaban Pram ini oleh Dhakidae diartikan sebagai cara Pram
menunjukkan keterlibatan medan kekuasaan politik (negara) ke dalam
medan sastra (kebudayaan). Dengan demikian, sastra kehilangan
kebebasannya karena telah terlampau jauh didominasi oleh kepentingan
kekuasaan politik. Medan sastra dikontrol oleh kekuasaan politik
dan digiring menjadi alat bagi lenggengnya kekuasaan itu. Di tengah
hantaman yang dilatari sentimen pribadi dan kepentingan politik Orde
Baru, Pram membuktikan kelasnya dengan menerbitkan salah satu
karya terbesarnya yakni Arus Balik. Sebagai seorang yang berada di
pinggir kekuasaan politik, Pram konsisten menggunakan medium sastra
untuk membuktikan dirinya sebagai mutiara yang tetap berkilau meski
dicampakkan ke dalam lumpur sekalipun.
Apa yang dialami Pram menjadi cerminan bagaimana kekuasaan
Orde Baru mengontrol kesadaran kolektif masyarakat luas terhadap
sejarah bangsanya sendiri. Persitiwa sebenarnya yang terjadi pada
September 1965 tetap menjadi sesuatu yang simpang siur meski berbagai
buku telah ditulis untuk mengurai benang kusut peristiwa itu. Arok
Dedes menjadi narasi yang meski tidak berbicara tentang peristiwa
September 1965, tetapi memiliki beberapa kesejajaran yang relevan
untuk memahami peristiwa yang dikaitkan dengan persaingan antara
PKI dan militer khususnya Angkatan Darat itu.
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
39
III. P
RAM DAN ANALISIS WACANA
KEKUASAAN
Arok Dedes dalam pandangan saya menjadi sebuah karya sastra yang
memberi analisis wacana kekuasaan atas peristiwa yang terjadi di Tumapel
pada abad XIII yakni ketika Ken Arok merebut kekuasaan dari tangan
Tunggu Ametung lewat kudeta berdarah. Peristiwa ini punya kesejajaran
dengan peristiwa 1965 sebab kedua peristiwa sejarah itu berujung pada
jatuhnya kekuasaan ke tangan satu tokoh saja. Yang menarik dari Arok
Dedes ialah penggambaran tentang terciptanya lingkaran kekuasaan
yang dibangun oleh sang tokoh utama, Ken Arok dalam mengendalikan
momentm, menciptakan pra kondisi dan mengambil alih kekuasaan.
Ken Arok memanfaatkan setiap unsur yang dia anggap perlu untuk
membangun legitimasi bagi kekuasaannya. Selain kelima unsur yang
saya sebutkan di muka, ada unsur lain yang dipakai Ken Arok yakni
unsur mistis di sekitar kemunculannya.
Ken Arok digambarkan sebagai titisan Batara Brahma lewat peran
seorang perempuan desa bernama Ken Endok. Sebagai titisan dewa, Ken
Arok berbeda dari manusia kebanyakan. Ia bukan bagian dari dunia
manusia, meski ia berada di dalam dunia manusia. Kehadiran Ken Arok
adalah pengejahwantahan kehendak ilahi bagi kelangsungan sejarah
kerajaan-kerajaan besar di Tanah Jawa, dan kelak di Nusantara. Dhakidae
menguraikan dengan sangat detil unsur-unsur ilahi yang dimiliki Ken
Arok dengan merujuk pada apa yang ditulis dalam Serat Pararathon,
sebuah data pustaka kuno tentang sejarah kerajaan-kerajaan Jawa.
Campur tangan ilahi dalam kelahiran dan kemunculan Ken Arok pada
panggung politik dan perebutan kekuasaan di Tumapel menjadi ciri khas
konsep kekuasaan dalam kaca mata Timur.
Pram sebagaimana dituturkan Dhakidae melampaui konsep Timur
ini dengan menunjukkan bahwa kekuasaan itu bukan sesuatu yang murni
40
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
diturunkan dari langit, melainkan sesuatu yang dikonstruksi sendiri
dengan memanfaatkan tangan manusia. Ken Arok merebut kekuasaan
bukan semata-mata dengan memanfaatkan narasi tentang campur tangan
ilahi dalam menggambarkan ihwal kelahirannya, melainkan dengan
memanfaatkan lima hal lain yang diupayakan sendiri oleh manusia yakni
pengetahuan, teman, kesetiaan, uang dan senjata.
Ken Arok memperoleh pengetahuan setelah ia diangkat menjadi
murid di padepokan milik Mpu Parwa, salah satu Guru yang menguasai
agama Hindu, juga seorang pemuja Syiwa. Mpu Parwa pulalah yang
memberi gelar Sang Pembangun kepada Ken Arok (bandingkan dengan
gelar Bapak Pembangunan yang diberikan Suharto kepada dirinya
sendiri). Di bawah bimbingan Mpu Parwa, Ken Arok menjadi murid
paling cemerlang yang menguasai bahasa Sansekerta dan memahami
hampir seluruh isi Kitab Suci. Diam-diam ia mempelajari niat kaum
Brahmana pemuja yang telah sekian tahun merasa dizolimi oleh Raja
Kretajaya di Kediri yang memuja Wisynu. Ia menangkap kekecewaan
kaum Brahmana yang kehilangan kekuasaan akibat tidak diberi tempat
oleh Raja yang menyembah Wisynu, bukan Syiwa. Di sini, terlihat bahwa
Pram sedang menarasikan pertentangan antar penganut kepercayaan,
yang ternyata direkayasa untuk kepentingan segelintir golongan (dalam
hal ini kaum Brahmana) saja.
Jusuf Wanandi (2014) salah satu pendiri Center for Strategic and
International Studies (CSIS), lembaga yang menjadi think tank Soeharto
hingga akhir 1980-an, mengisahkan bahwa ketika situasi memanas di Jakarta
menjelang peristiwa September 1965, intelektual muda Islam memilih
merapat kepada kalangan intelektual muda Katolik. Menurut Wanandi,
kekuatan Islam dan Katolik lebih ditakuti PKI daripada kekuatan Protestan
yang dinilai mudah dihadapi karena sudah terpecah-pecah ke dalam
berbagai kelompok (denominasi) kecil. Hal ini bisa jadi benar mengingat
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
41
selama masa Orde Baru, paling tidak hingga sebelum terbentuknya ICMI,
kaum intelektual di Indonesai terkesan tidak terlalu berurusan dengan
agama. Ini bisa dimaklumi sebab Orde Baru telah menyatakan Pancasila
sebagai ideologi tunggal bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk
partai-partai politik dan berbagai ormas yang dibentuk di Indonesia.
“Persaingan” antar agama baru menguat kembali setelah Soeharto
memilih merapat ke kaum intelektual Islam yang tergabung dalam
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dimotori tokohtokoh seperti Habibie, Amien Rais, dan menjelang berakhirnya rezim
Soeharto muncul tokoh-tokoh muda seperti Hatta Rajasa. Meski tidak
kelihatan, sebetulnya ada persaingan antara CSIS dan ICMI dalam
merebut pengaruh untuk menjadi think tank Soeharto. Kekalahan CSIS
dalam persaingan ini seperti diafirmasi Wanandi bermula ketika Benny
Moerdani dilengserkan dari jabatan panglima ABRI.
ABRI sendiri terlebih Angkatan Darat telah menjadi kekuatan utama
yang dimanfaatkan Suharto untuk melindungi kekuasaannya sejak awal
hingga 32 tahun kemudian. Kematian perwira-periwira Angkatan Darat
dalam peristiwa September 1965 meninggalkan dendam membara
angkatan ini terhadap PKI. Sebetulnya persaingan antara Angkatan Darat
dan PKI telah dimulai jauh-jauh hari, sejak masa perjuangan revolusi.
Dalam narasi sejarah yang ditulis kemudian oleh tokoh militer seperti
Nugroho Notosusanto, peran PKI dikecilkan menjadi pengkhianat
bangsa, meski PKI adalah partai politik pertama yang menggunakan
nama Indonesia dan yang melakukan pemberontakan terhadap
kekuasaan kolonial Belanda pada tahun 1926.
Imbasnya ialah, negara ini dinarasikan sebagai hasil perjuangan
militer, karena peran militer yang terlalu dibesar-besarkan oleh para
penulis sejarah. Peran sipil yang berjuang lewat jalur diplomasi dan partai
politik dikecilkan untuk memuluskan berjalannya doktrin dwifungsi
42
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
ABRI, dimana ABRI tidak hanya terlibat dalam urusan pertahanan
negara melainkan turut masuk dalam ranah sipil guna mengurusi
persoalan sosial politik negara ini.
Sampai di sini masih terlihat sebuah benang merah antara Ken
Arok dan Soeharto, terutama kelihaian memanfaatkan pengetahuan
dan senjata untuk memuluskan langkah memegang kekuasaan tunggal.
Dua unsur lain, uang dan teman didapatkan Soeharto dari konglomeratkonglomerat besar seperti Liem Soei Liong dan Bob Hasan. Pertemanan
Soeharto dengan para pemilik uang ini telah terjalin pada tahun 1950-an
ketika Soeharto menjadi Pangdam Diponegoro.
Soeharto membangun jaringan pertemanan yang menguntungkan
dirinya serentak menyingkirkan mereka yang menjadi saingannya.
Ia menarik ke dalam lingkarannya orang-orang yang bisa diandalkan
loyalitasnya seperti Ali Murtopo, Sumitro, Sudomo, Alamsjah, tetapi diamdiam membiarkan mereka bersaing untuk berebut pengaruh, sehingga
ia sendiri aman dari rongrongan janderal-jenderal kepercayaannya itu.
Ia membiarkan orang-orang di sekitar lingkaran kekuasaannya saling
bersaing agar ia bisa sendirian berdiri pada pusat kekuasaan.
Sementara itu, penumpasan terhadap mereka yang dianggap bagian
atau yang bersimpati terhadap PKI dilakukan di tengah desas-desus
bahwa PKI akan merebut kekuasaan di Jakarta, mengganti Pancasila
dengan komunisme dan memegang daftar nama orang-orang yang
akan dibantai hingga ke daerah-daerah. Dalam kenyataan, pembantaian
terhadap mereka yang dianggap bagian dari PKI tidak melulu dilakukan
atas dasar perbedaan ideologi atau haluan politik, tetapi bercampur
dengan sentimen-sentimen pribadi dan persaingan antar golongan yang
tersisa setelah tersingkirnya PKI.
Soeharto bersikap seperti yang ditulis Pram dalam nasehat yang
disampaikan Mpu Parwa kepada Ken Arok sebelum merebut kekuasaan
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
43
Tunggul Ametung, “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan
tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu
harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau
mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” Soeharto menggunakan
tangan Sarwo Edhie untuk menumpas PKI di Jawa. Sarwo Edhie termotivasi
bukan saja oleh semangat anti komunisme tetapi juga oleh sentimen
pribadi akibat kematian Jend. Ahmad Yani. Keduanya sama-sama berasal
dari Purworejo-Jawa Tengah. Sarwo Edhie merasa berhutang budi pada
Ahmad Yani yang berjasa mengorbitkan karier militernya.
Dengan melihat berbagai kesejajaran antara kisah Ken Arok dengan
Soeharto, maka roman Arok Dedes saya anggap sebagai sebuah analisis
wacana kekuasaan di Jawa pada abad XIII. Namun, Pram menggunakan
persitiwa itu untuk menyasar peristiwa lain yang terjadi pada abad XX
di sebuah negara bernama Indonesia. Relevansi dari analisis ulang yang
dibuat Pram atas perebutan kekuasaan di Tumapel dapat ditemukan
dalam kejadian-kejadian terkini yang mendera Indonesia hingga saat ini.
IV. BEBERAPA RELEVANSI DAN SIMPULAN
Jika roman Arok Dedes dipakai untuk melihat situasi sekarang,
maka saya memilih fenomena tampilnya Ahok sebagai calon gubernur
petahana DKI Jakarta yang kerap dihantam dengan isu SARA oleh lawanlawan politiknya. Sebagian orang menganggap Ahok adalah bagian dari
sedikit pemimpin jujur dan tegas yang mengusung semangat anti korupsi
dalam menjalankan pemerintahannya. Namun, perlu diingat bahwa
Ahok sendiri memiliki setidaknya 5 dari 6 unsur yang digambarkan
Pram dalam analisisnya terhadap peristiwa Tumapel. Ahok punya
pengetahuan, teman, kesetiaan, senjata dan uang. Ahok memang tidak
memiliki latar belakang kemunculan mistis, tetapi Ahok menemukan
penggantinya yang sepadan yakni media.
44
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Bila kontestasi pada pusat kekuasaan di DKI Jakarta ini kita pahami
lagi dengan melihat kembali kontestasi pada pemilihan presiden 2014
lalu akan muncul kesamaan aktor-aktor yang terlibat di dalamnya,
dengan peran yang berbeda, meski isu yang diusung masih tetap sama.
Kala itu Prabowo misalnya, menggunakan silsilah keluarganya untuk
membuktikan diri sebagai pewaris darah penguasa, menampilkan diri
layaknya ksatria Jawa dengan menunggang kuda dan menyelipkan keris
di pinggangnya. Jokowi melawan cara Prabowo ini dengan memanfaatkan
media. Jokowi tidak menyibukkan diri dengan silsilah kebangsawanan,
sehingga ia memilih mencitrakan diri sebagai pemimpin yang berasal
dari bawah, bukan yang turun dari atas. Kehadirannya di antara orangorang kecil dan kunjungannya ke kampung-kampung kumuh menjadi
santapan media untuk disajikan ke hadapan publik. Orang menerima
Jokowi oleh karena keberaniannya tampil seperti orang kebanyakan,
menumpang pesawat kelas ekonomi, hingga menggunakan becak ketika
mendaftar ke KPU.
Kekuasaan dikonstruksi bukan lagi berdasarkan silsilah dan warisan
darah bangsawan yang tidak mungkin bercampur dengan kaum pinggiran,
tetapi oleh aneka cerita dan berita yang dirangkai media tentang sang
tokoh sendiri. Konstruksi media tentang Jokowi, mengalahkan unsurunsur mistis yang coba dieksploitasi oleh kubu Prabowo, bahkan ketika
Prabowo diklaim oleh salah seorang pendukungnya sebagai titisan Allah.
Kembali ke persoalan Ahok, isu terakhir yang menghantam Ahok
ialah penistaan agama yang menyebabkan ormas-ormas keagamaan
seperti FPI dengan legitimasi fatwah MUI terus menggalang dukungan
massa untuk membawa Ahok ke pengadilan. Terlibatnya ormas-ormas
keagamaan ini perlu dicari akarnya jauh ke belakang, terlebih persaingan
antara ICMI dan CSIS yang hingga kini belum sepenuhnya selesai.
Sebagian faksi di kalangan Islam menganggap Islam terlalu dipinggirkan
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
45
dalam wacana kekuasaan sejak era Soeharto, dan mencari momentum
yang tepat untuk kembali meraih kekuasaan mengingat mayoritas
masyarakat Indonesia adalah penganut Islam (bdk. Kekecewaan penganut
Syiwa dalam Arok Dedes).
Sekilas terlihat permainan isu SARA dalam perseteruan FPIAhok di Jakarta, tetapi sebetulnya isu itu hanya bungkus luarnya saja.
Substansi yang ada di balik permainan isu itu tidak lain adalah persoalan
kekuasaan, entah kekuasaan politik maupun kekuasaan ekonomi. Medan
kekuasaan ekonomi mendominasi medan politik, sehingga isu-isu yang
dianggap mudah dieksploitasi untuk menimbulkan simpati massa akan
lebih dahulu ditampilkan ke permukaan. Masing-masing pihak bisa
saja memiliki lima unsur yang ada dalam kaca mata Pram, tetapi unsur
terakhir yakni media, masih memberi keunggulan kepada Ahok.
Poin terakhir yang coba saya angkat ialah, dimana posisi kaum
intelektual yang berpengetahuan? Jika pengetahuan dianggap bertalian
dengan kekuasaan, maka kaum intelektual yang punya pengetahuan jelas
memiliki peran kunci dalam sebagian atau keseluruhan proses merebut
kekuasaan itu. Persoalannya ialah, apakah keberpihakan (pemilihan
posisi) itu dilakukan dengan bebas oleh subjek intelektual itu, atau ia
didikte oleh kekuatan lain yang barangkali jauh lebih besar melebihi sang
subjek sendiri? Dengan kata lain, apakah pengetahuan sendiri sudah bisa
menjamin kebebasan berpihak seorang intelektual, ataukah ia terikat dan
bergantung pula pada unsur-unsur lain, di luar pengetahuan?
Seperti pandangan Pram, pengetahuan yang tidak turun ke bumi,
yang tidak memanfaatkan teman, kesetiaan, uang dan senjata akan jadi
tidak berguna, dan tidak bisa dioperasikan dalam wacana kekuasaan.
Fenomena yang terjadi di Indonesia selama 32 tahun kekuasaan Soeharto
menunjukkan secara gamblang bagaimana kekuasaan dioperasikan
dengan instrumen-instrumen yang dianalisis oleh Pram dalam Arok
46
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Dedes sebagaimana kita bahas secara singkat dalam makalah ini.
Saya tidak ingin menutup makalah ini dengan simpulan apapun,
selain membiarkan ruang diskusi tetap terbuka untuk menganalisis
lebih jauh, apa yang terjadi dalam dinamika kekuasaan di Indonesia
pasca-reformasi dengan kaca mata yang pernah digunakan Pramoedya.
Keterbukaan ruang diskusi ini menjadi sebuah jalan bagi para intelektual
muda yang sibuk melengkapi diri dengan aneka pengetahuan filsafat dan
analsis sosial untuk menentukan posisinya dalam wacana sosial-politik
yang ada di Indonesia saat ini. Apakah pengetahuan itu hanya akan
digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak lain, atau diarahkan untuk
memperoleh aneka perangkat lainnya yang bisa dioperasikan sebagai
instrumen analsis wacana kekuasaan.
Materi ini disajikan dalam
Seminar Senat Mahasiswa STFK Ledalero – Maumere
29 Oktober 2016
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Dhakidae, Daniel. 2015. Menerjang Badai Kekuasaan. Jakarta: Gramedia.
Ricklefs, M.C. 2011. Sejarah Modern Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Schulte Nordholt, Henk., Purwanto, Bambang., dan Saptari, Ratna., eds.
2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia dan KITLV, Denpasar: Pustaka Larasati.
Toer, Pramoedya Ananta. 2002. Arok Dedes. Yogyakarta: Hasta Mitra.
Agustinus Fahik, S.Fil., MA. — Membedah Wacana Kekuasaan ...
47
Van Klinken, Gerry. 2015. The Making of Middle Indonesia, Kelas
Menengah di Kota Kupang, 1930-an – 1980-an. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor dan KITLV.
Wanandi, Jusuf. 2014. Menyibak Tabir Orde Baru. Memoar Politik
Indonesia 1965-1998. Jakarta: Kompas.
Artikel dan Majalah
Aidit, Asahan. “Pramoedya, Sastrawan Tanpa Panglima” dalam
Indoprogress, 11 Januari 2008.
Nugroho, Ragil. “Pram dan Arok” dalam Indoprogress, 05 Februari 2012.
Tempo, 2008. Edisi Khusus Soeharto.
48
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
NASIONALISME DALAM
ROMAN BUMI MANUSIA
KARYA PRAMOEDYA
ANANTA TOER
Oleh: Marto R Lesit, Rico W, Eka Nggalu, Troy,
Simpli, dan Dion (Tkt. IV)
1. PENGANTAR
P
erjuangan mencapai kemerdekaan dan kebebasan dalam hidup
berbangsa dan bernegara selalu menemui rintangan baik dari luar
maupun dari dalam negara-bangsa Indonesia sendiri. Keberadaan
penjajah baik dari pihak colonial maupun dari para pribumi pengkhianat
membuat hawa kemerdekaan yang sesungguhnya sulit dirasakan. Namun
nasionalisme lahir dan terus ada sebagai sebuah keteguhan untuk
merdeka. Ia adalah roh yang menjiwai seluruh sejarah dan perjalanan
bangsa Indonesia. Ia bukan paham kebangsaan yang muncul tiba-tiba,
melainkan jadi bagian panjang dari deret perjuangan dan refleksi anak
bangsa dalam mengatasi egoisme kelompok, entah kelompok etnik
kebudayaan maupun religious dan lain sebagainya.
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
49
Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah salah satu tokoh pejuang
nasionalisme Indonesia yang layak dikenang bukan saja karena
pribadinya yang revolusioner namun kontroversial. Melainkan terutama
karena segala gagasan, pemikiran dan perjuangannya. Bagi sastrawan
besar Indonesia bahkan dunia, kelahiran Blora-Jawa Timur Tahun
1925 ini, menulis bisa jadi sebuah perjuangan membebaskan bangsa.
Pramm adalah wajah berbeda dari Indonesia. Ya, beda karena berani
bersikap dan berpendirian tetap. Barangkali buatnya seni, dalam hal ini
karya sastra, adalah ledakan. Sehingga, Pramm tak kenal kecut biarpun
harus membentur seraya menghancur tembok dekolonisasi Belanda,
pemerintahan Soekarno hingga rezim Soeharto. Selalu berkepala tegak
memperjuangkan cita nasionalis untuk sunguh-sunguh “menjadi
Indonesia”. Pramm menginspirasi banyak orang terutama kaum muda
untuk menjadi semakin Indonesia melalui karya-karyanya. Salah satu
karya Pram bercorak Nasionalis yakni roman Bumi Manusia.
2. SINOPSIS1
Novel Bumi Manusia menampilkan tokoh central Minke
(berdasarkan Tirto Adisuryo) sebagai pahlawan. Ia adalah seorang
bangsawan, seorang berpendidikan dengan kebajikan yang mulia. Di
awal novel, diceritakan bahwa Minke tengah menempuh tahun terakhir
pada jenjang pendidikan menengah di sekolah menengah bergengsi
Belanda, HBS (Hoogere Burgerschool).
Dikisahkan bahwa Minke, seorang bangsawan jawa yang dilahirkan
pada hari yang sama dengan Ratu Wilhelmina, kemudian sangat
1
Selain hasil pembacaan dan riset pemakala, keseluruhan sinopsis Novel Bumi Manusia
ini ditulis berdasarkan hasil penelitian Savitri Scherer untuk kepentingan disertasi
PhD-nya berjudul From Culture to Politics: The Writings of Pramoedya A. Toer, 19501965 (Dari kebudayaan ke Politik: Tulisan Pramoedya Ananta Toer, 1950-1965) yang
dijukan ke Australian National University Juli 1981.
50
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
terobsesi kepada sang ratu. Minke (sebuah nama panggil berbau rasis
yang diberikan oleh seorang guru kepadanya: Monkey) adalah putra
bupati, yang membuatnya masuk daftar orang non-eropa yang dapat
masuk HBS. Di tahun terakhir pendidikannya ia berkenalan dengan
Anelis Mellema, gadis cantik berdarah campuran. Segera, Anelis menjadi
idolanya menggantikan Ratu Wilhelmina. Atas dorongan ibu si gadis,
minke tinggal di tempat mereka. Nyai Ontosoroh adalah gundik ayah
Anelis dan setelah sang ayah meninggal Nyai Ontosoroh sendiri yang
mengelola perusahaan pertaniannya yang makmur. Terlepas dari
penjelasan mengenai masa-masa awal Minke di sekolah dan permulaan
kisah cintanya dengan anelis, yang menjadi tema utama dalam novel ini
adalah gambaran penderitaan dan kemelaratan rakyat jelatah dibawah
baying-bayang kuasa colonial. Selain itu juga digambarkan sebuah
penghargaan yang tinggi terhadap seorang wanita pribumi, yaitu nyai
Ontosoroh, ibu Anelis.
Nama Ontosoroh berasal dari kesalahan penyebutan masyarakat
terhadap kata Buitenzorg, nama sebuah perkebunan yang ia jalankan.
Nama aslinya adalah Sanikem. Ia anak pengawas pabrik gula dekat
Surabaya. Adalah ayahnya yang menjual Sanikem sebagai juru bayar
di pabrik. Sanikem kemudian diserahkan kepada penguasa pabrik
(Mellema) demi karir dan jabatan sang ayah diperusahaan. Awalnya,
Mellema bersikap sangat baik kepada Sanikem. Ia menghormati dan
mencintai wanita itu. Berkat Mellema juga sanikem belajar membaca
dan menulis yang dan menjadi akrab dengan sastra pada masanya. Tidak
hanya menguasai bahasa Belanda, Sanikem juga menguasai bahasa Inggris
dan Perancis. Tapi kemudian, Mellema berubah menjadi monster yang
banyak menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan di pelacuran,
dan meninggalkan perkebunanya untuk ditangani istrinya, Nyai
Ontosoroh (nama baru Sanikem). Bagian ini tidak terlalu menjelaskan
karakter Mellema. Satu-satunya penjelasan mengenai riwayat hidup
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
51
Mellema dinarasikan oleh Nyai Ontosoroh sendiri. Kelakuan Mellema
berubah menjadi sangat buruk dan ketika ia mati terungkap fakta bahwa
saat itu ia masih berada dalam status pernikahan dengan seorang wanita
Belanda yang memberinya seorang putera. Anak lelaki ini, saudara
Anelis, menantang Nyai Ontosoroh dan puterinya untuk kepemilikan
lahan perkebunan.
Selain Annelis, Nyai Ontosoroh dan Mellema juga memiliki seorang
putera yakni Robert. Jika Annelis digambarkan sebagai anak yang baik
dan berbakti, maka Robert adalah kebalikannya. Anak laki-laki itu
seorang hidung belang, pemalas, dan tiak mau berbakti kepada ibunya
yang adalah seorang pribumi (Indonesia). Dalam banyak kasus, dua
karakter ini tidak digambarkan secara jelas dan memuaskan. Annelis
pada awalnya digambarkan sebagai seorang yang bebas, ceria dan lincah.
Ia penunggang kuda yang baik, pekerja yang efisien, dan wanita praktis
yang dapat menjadi andalan ibunya. Tetapi di tengah novel Annelis tibatiba digambarkann sebagai wanita melankolis. Cintanya kepada Minke
diungkapkan dengan cara yang tidak seimbang. Ia sangat bergantung
kepada ibunya bahkan untuk menyatakan atau memutuskan hal kecil
sekalipun. Sebaliknya, tokoh Ontosoroh digambarkan sebagai wanita
yang teguh, kokoh, kuat, super dan mendominasi. Nyai ontoh soroh
tampak lebih cocok bagi Minke yang cerdas.
Meskipun banyak ruang yang coba diberikan untuk mengeksplorasi
ketiga tokoh ini, namun karakter ketiganya msih kurang maksimal. Bahakan,
jika dibandingkan dengan novel sebelumnya (Gadis Pantai) ada kesan
penokohan dalam karya ini mengalami kemunduran. Tetapi meskipun
bisa ditemukan lemahnya penggambaran tiga tokoh tersebut, Pramoedya
sukses menyampaikan gaya hidup kelas borjuis di jawa dengan sangat baik.
Dengan detil yang teliti, Pramm tidak hanya menggambarkan penampilan
luar seperti kehidupan dengan kenyamanan materi dan kekayaan, tetapi
52
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
juga nuansa dingin, kekosongan, dan tekanan-tekanan psikologis dalam
duniameterialistis pada sebuah rumah tangga borjuis. Permusuhan antara
Nyai dan anaknya disajikan secara rinci dan meyakinkan. Bagaimana Minke
merasa agak canggung- sebagai pribumi jawa- ketika bertemu dengan
keluarga Nyai Ontosoroh pada pertama kalinya dan pertuam pertama
kalinya dengan seorang gadis Eurasia yang berbicara kepadanya tanpa
memandang status, juga digambarkan dengan sangat bagus. Dengan tajam
Pramm juga menggambarkan secara tajam tentang perbedaan hukum yang
diberlakukan pada kelompok yang berbeda. Mereka yang adalah bangsawan
asli menikmati hak istimewah tertentu yang tidak dirasakan oleh pribumi
jelata dan juga kaum blasteran. Hingga akhirnya warga Eurasia adalah warga
kelas dua dibandingkan dengan warga eropa murni.
Minke terpesona oleh Nyai Ontosoroh. Sebagai gadis pribumi
yang masih muda, ia tidak hanya mampu berbahasa Belanda tetapi
juga memiliki pengetahuan yang luas tentang kebiasaan dan kesusilaan
Eropa. Yang menggelitik pada perempuan ini ialah bahwa dengan segala
kemampuan yang ada di dalam dirinya ia mampu berprasangka terhadap
kaum penjajah. Bahakan, ia mempu menimbang, menilai bahkan
mengkritisi secara terang-terangan prihal berbagai kebobrokan Bangsa
Eropa (kaum penjajah) tersebut.
Dalam perjalanan kisah roman ini, ternyata ditemukan bahwa
prasangka tersebut memiliki dasar-dasarnya. Orang pribumi secara
yuridis sama sekali tak memiliki hak. Ketika Annelis yang belum dewasa
oleh saudara tirinya yang berkulit puth dibawa secara paksa ke Belanda,
tak satupun pribumi berhak menggugat. Walaupun Annelis dan Minke
menurut tradisi islam sudah menikah, undang-undang apartheid di
Hindia yang colonial tidak mengakui perkawinan itu.
Di akhir cerita, Minke menikahi Annelis. Namun sangat disayangkan
bahwa orang pribumi secara yuridis sama sekali tak memiliki hak. Ketika
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
53
Annelis yang belum dewasa oleh saudara tirinya yang berkulit puth
dibawa secara paksa ke Belanda, tak satupun pribumi berhak menggugat.
Walaupun Annelis dan Minke menurut tradisi islam sudah menikah,
undang-undang apartheid di Hindia yang colonial tidak mengakui
perkawinan itu. Novel ini akhirnya ditutup dengan kekalahan di pihak
Minke dan Nyai Ontosoroh. Keduanya tidak mampu mempertahankan
Annelis, sebagai istri sah Minke dan anak kandung Nyai Ontosoroh.
Sebenarnya, Annelis dipaksa oleh kakak tirinya untuk dating ke
eropa, hidup bersamanya, dan meninggalkan suami yang dinikahinya
dengan sah. Secara hokum kakaknya memiliki kuasa lebih besar atas
Annelis, karena secara teoritis dialah wali Annelis. Karena Annelis
menikah dengan seorang pria pribumi, kakak tirinya yang berdarah
eropa murni, memiliki kekuasaan lebih atas dirinya dibandingkan
suaminya sendiri
Sedangkan dari tokoh-tokoh lain yang dijumpai oleh Minke,
berangsur-angsur justru lebih banyak lagi dikisahkan gambaran tentang
masyarakat di sekitar masa itu. Tokoh-tokoh cerita yang penting adalah
seorang sahabat Minke, yang lewat perang Aceh telah mengungkapkan
kebiadaban system colonial; seorang guru perempuan yang radikal;
seorang asisten residen Belanda yang telah mengalami pencerahan dan
kedua anak perempuannya yang telah “modern”; dan seorang pelacur
Jepang.
3. N
ASIONALISME PRAM DALAM NOVEL
BUMI MANUSIA
Dalam majalah Jurnal Kritik, Koh Young Hun, Profesor Sastra
Indonesia-Malaysia, mengatakan bahwa tetralogi Bumi Manusia
merupakan tonggak baru dalam pengkaryaan Pramodya maupun dalam
gelanggang sastra Indonesia. Kemunculan tetralogi Bumi Manusia
54
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
memperlihatkan kenyataan bahwa perhatian Pram terhadap sejarah
sangat serius2. Sebagaimana tulisan-tulisan Pram yang lain yang selalu
mengangkat tema kebangsaan, tetralogi Bumi Manusia secara sangat
tegas dan terperinci hendak menegaskan kembali citra ideal bagaimana
menjadi manusia Indonesia. Dengan novel ini, Pram tidak saja
mengangkat kembali tema sejarah kebangsaan dalam sastra Indonesia
tetapi lebih dari itu, ia mendekonstruksinya kembali dan meneropong
sejarah dan kebudayaan Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.
Berhadapan dengan sejarah pergerakan Indonesia, bisa dikatakan,
Pram sangat kritis terhadapnya dan sekaligus konstruktif. Ia tidak
semata-mata berhenti pada kritik. Ia juga kemudian memberi solusi dan
pandangannya tentang kebangsaan yang jauh lebih progresif. Berkaitan
dengan ini, ia punya alasan tersendiri; Pertama, semata-mata pengajaran
sejarah di sekolah tidaklah cukup untuk membudayakan kecintaan pada
sejarah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Kedua, tanpa kecintaan tersebut, semua ucapan tentang patriotisme,
kecintaan pada tanah air dan bangsa—baik melalui pembicaraan, pidato,
nyanyian—tinggal sekedar slogan tanpa isi, tanpa pembelajaran dan juga
tanpa kejujuran3.
Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah awal kebangkitan
Indonesia yang ditampilkan dalam karya itu bukan untuk ditunggangi,
dimanfaatkan atau diperalat sebagai hiasan bagi cerita, melainkan
dipersoalkan, dikaji kembali, dan direvisi sesuai pandangan Pramoedya.
Dengan demikan, Pramoedya telah menolak dengan tegas sebagian dari
versi resmi resmi sejarah nasional Indonesia yang telah dikenal secara
baku. Meskipun demikian, penolakan itu bukanlah sekedar bantahan
dengan argumentasi tak berdasar, melainkan sebuah wawasan baru untuk
2
Koh Young Hun, ‘Sastra dan Sejarah dalam Dunia Pengkaryaan Pramoedya Ananta
Toer’, dalam Jurnal Kritik, No. 3, 2012, p. 10.
3
Ibid.,
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
55
bangsanya sendiri4. Bahkan menurut Agus R. Sarjono, sosok maupun
semangat sejarah yang diangkat dan dijadikan latar belakang novel-novel
tersebut bukanlah sosok dan semangat yang lazim dalam sejarah resmi.
Yang cukup jelas adalah bagaimana novel ini menjadikan Minke, sang
protagonis, sebagai sosok pembawa misi nasionalisme sebagaimana yang
memang diidealkan oleh Pramoedya5.
Minke sebagai putera pembesar Jawa yang bersekolah di sekolah
Belanda dan memiliki semua syarat untuk menjadi elit politik Bumi
Putera di masa kolonial, menolak semua tawaran dan kemungkinan
hidup makmur sejahtera, aman dan berkuasa sebagaimana menjadi citacita sebagian besar orang Indonesia, khususnya para elitnya khususnya
para priyayinya. Ia justru memilih menjalani kehidupan keras dan sulit
sebagai pejuang kemerdekaan. Dalam bahasa Minke sendiri:
“Kepriayian bukanlah duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantri
cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku
bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan? Duniaku bumi manusia
dengan persoalannya.”
Bila ditelaah secara teliti dan komprehensif, keseluruhan novel
Bumi Manusia justru menggariskan beberapa nada dasar yakni
pemberontakan, tanggapan warisan budaya bangsa, kebangkitan nasional
dan kemanusiaan.
Pramoedya memaparkan persoalan pemberontakan terhadap
ketidakadilan kekuasaan kolonial melalui tokoh utama Minke dan
tokoh-tokoh lainnya dalam tetralogi Bumi Manusia. Dalam pengolahan
cerita, Pramoedya jelas tidak mengabaikan bahan dasar dan memberikan
4
Ibid.,
5
Agus R Sarjono, ‘Pramoedya Ananta Toer; Mewacakan Kelahiran Bangsa’, dalam 33
Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, Jamal D. Rahman dkk., (Jakarta, KPG),
2014, p. 314
56
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
kenikmatan estetik. Ia berhasil mempertahankan kualitas seni sastranya
dalam mengungkapkan pemikirannya yang menyentuh berbagai
pemberontakan terhadap kebijakan kolonial, budaya dan masyarakat
secara jujur dan terbuka.
Permasalahan pemberontakan yang dipaparkan dalam karya sastra,
biasanya terbagi pada dua jenis, yaitu pemberontakan dalaman dan
pemberontakan luaran. Pemberontakan dalaman adalah pemberontakan
yang meninjau sebab musabab kekakalahannya, di samping menyentuh
usaha-usaha untuk mencapai kemajuan bangsa sebagai salah satu cara
pemulihan keadaan. Sedangkan pemberontakan luaran bermakna
sebagai pemberontakan yang mengecam tindakan penindasan kekuasaan
kolonial dengan tetap berpegang pada pandangan bahwa hanya dengan
mengusir, menyisihkan, dan mengalahkan kekuasaan kolonial sajalah
pemulihan keadaan dapat dijamin. Berdasarkan argumentasi ini
ternyata bahwa gambaran pemberontakan dalam tetralogi itu adalah
pemberontakan dalaman, karena Pramoedya meninjaunya dari sebab
musabab kekalahan bangsanya.
Ia mengkritisi feodalisme kolot bangsa Indonesia dan
mempersalahkan mental feodal ini sebagai penyebab mundurnya
peradaban bangsa kalau tidak mau dikatakan terbelakang. Dari watak
Minke yang bebas, anti-feodalisme dan berpikiran progresif, Pram
hendak menjungkirbalikan feodalisme yang ia sendiri anggap sebagai
salah satu pupuk yang menyuburkan kolonialisme dan imperealisme
Belanda di bumi Indonesia. Feodalisme yang tabiatnya menguntungkan
penguasa membentuk mental masyarakat menjadi lemah dan tiada
semangat juang.
Kritiknya yang pedas atas tradisi feodal Jawa yang mengharuskan
seorang manusia ngesot (semi merangkak) saat menghadap pembesar
dan cambuk kemaluan sapi jantan yang dipegang sang penguasa untuk
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
57
menegakka ketertiban menjadi bahan kebencian Minke muda yang tetap
tertanam sampai akhir hayatnya:
Apa guna belajar ilmu pengetahuan Eropa, bergaul dengan orangorang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti
keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf
pula? God, God! Menghadap seorang bupati sama dengan bersiap
menampung penghinaan tanpa boleh membela diri.
Boleh dibilang, sejak itu Minke secara definitif memutuskan
hubungannya dengan tradisi tanpa ada gelagat untuk kembali lagi.
August Hans den Boef dan Kees Snoek pernah mewawancarai
Pramoedya dalam salah satu kesempatan. Dalam wawancara itu, Pram
mengungkapkan bahwa Bumi Manusia lebih dari sekedar riwayat cinta di
masa penjajahan dengan akhir yang tidak bahagia. Lewat berbagai tokoh
yang dijumpau oleh Minke, berangsur-angsur kita mendapat gambaran
tentang masyarakat Hindia di sekitar awal abad ini. Tokoh-tokoh cerita
yang penting adalah sahabat Minke, orang Perancis yang lewat perang
Aceh telah mengungkapkan kebiadaban kolonialisme, lalu ada seorang
guru perempuan yang radikal, seorang asisten residen Belanda yang
telah mengalami pencerahan dan kedua perempuannya yang modern;
dan seorang pelacur Jepang. Malalui mereka, Minke kemudian mulai
berpikir dan bertindak; ia mulai menjejakan kaki dalam dunia sastra dan
jurnalistik.
Tema sentral Bumi Manusia ialah bahwa Minke secara berangsurangsur menjadi sadar akan adanya pertentangan antara kaum penjajah
kolonial dengan penduduk asli. Proses pemberian nuansa ini tidak
menghasilkan pandangan dunia yang lesu berupa jalan tengah emas,
melainkan suatu wawasan pribadi. Cara bercerita ini tentu mengasyikan
bagi pembaca yang tidak mengetahui sejarah nasionalisme Indonesia.
Sebagaimana Minke, pembaca juga tidak tahu apa yang terjadi. Oleh
58
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
karena perkembangan Minke berjalan lambat laun, pembaca mampu
mengikuti dengan cermat tumbuhnya perentangan di dalam masyarakat
pribumi.
4. PENUTUP
Pramoedya Ananta Toer adalah seorang tokoh besar, tidak hanya
dalam dunia sastra tetapi juga dalam sejarah pergerakan nasional bangsa
Indonesia. Tulisan-tulisan realisme sosialnya menunjukan keberpihakan
dan visinya terhadap cita-cita nasionalisme. Khususnya melalui Bumi
Manusia, Pram hendak memaparkan sebuah konsep nasionalisme dari
sudut pandang progresif yakni mendekonstruksi budaya dan sejarah
Indonesia serta menampilkan potret revolusionernya. Pram menolak
tunduk terhadap penguasa yang semena-mena; penguasa feodalisme dan
kolonialisme yang menindas rakyat.
DAFTAR PUSTAKA
Hun, Koh Young. ‘Sastra dan Sejarah dalam Dunia Pengkaryaan
Pramoedya Ananta Toer’, dlm.: Jurnal Kritik, No. 3, 2012.
Sarjono, Agus R. ‘Pramoedya Ananta Toer; Mewacanakan Kelahiran
Bangsa’, dlm.: Rahman, Jamal D. dkk., 33 Tokoh Sastra Indonesia
Paling Berpengaruh. Jakarta: KPG, 2014.
Scherer, Savitri. From Culture to Politics: The Writings of Pramoedya A.
Toer, 1950-1965 (Dari kebudayaan ke Politik: Tulisan Pramoedya
Ananta Toer, 1950-1965). Australia: Australian National University,
Juli 1981.
Marto R Lesit, dkk — Nasionalisme dalam Roman Bumi Manusia ...
59
KAUM MUDA DI
PERSIMPANGAN JALAN:
ANTARA KEBUDAYAAN
NASIONAL DAN
KEBUDAYAAN BARAT
Oleh: Frano Kleden1
I. PENGANTAR
D
i awal abad ke-21, kita tidak bisa berpaling dari sebuah dunia yang
ditandai oleh gempuran arus modernisasi yang membentuk ulang
pola pikir dan cara hidup bangsa kita. Modernisasi itu sendiri tak bisa
dilepaspisahkan dari pengaruh budaya Barat sebab segala yang modern
lebih dahulu lahir dari Barat. Ujung-ujungnya, dengan laju modernisasi,
kita dihantar pada pertemuan antarbudaya, baik antarbudaya daerah
dalam lingkup nasional, maupun dengan kebudayaan Barat.
Di tengah pertemuan yang terjadi, “Apakah Anda masih merasa
memiliki sebuah tanah air yang bernama Indonesia?”2 Di tengah pengaruh
1
Mahasiswa Semester V STFK Ledalero
2
Pertanyaan reflektif ini ditulis oleh Rm. Max Regus, Pr pada HUT Indonesia ke-57.
60
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Barat, kaum muda Indonesia lahir dan hidup. Kemajuan, kemudahan,
keterbukaan dan pluralitas menjadi hidup mereka. Sebagai kategori
manusia yang hidup dalam rentang peralihan, kaum muda pun terseret
dalam arus realitas kemodernan tersebut. Setiap produk budaya Barat
dimaksudkan untuk membantu hidup manusia, namun ia tetap tidak
mampu menutup kekurangannya di sana-sini. Degradasi paling menonjol
terasa sangat kuat dalam pergeseran kebudayaan. Entitas kebudayaan
mengalami banyak pergeseran yang signifikan. Pergeseran kebudayaan
ini teraktualisasi dalam diri kaum muda sebab mereka merupakan sasaran
paling ideal serta pusat perhatian terbesar dari sebuah perubahan.
Berangkat dari pemikiran di atas, penulis terdorong untuk mencoba
melihat dan menjawab persoalan kaum muda Indonesia dalam kaitannya
dengan pengaruh budaya Barat. Fokus kaum muda menjadi aktual dalam
tulisan ini sebab kaum mudalah pemegang kunci peradaban Indonesia
kini dan nanti. Tujuan utama tulisan ini ialah mencari cara bagaimana
kaum muda Indonesia dengan budaya aslinya berusaha memetakan
dirinya di tengah keberadaan budaya Barat ini.
II. K
EBUDAYAAN BARAT DALAM
PERSOALAN
Perlu diingat bahwa kebudayaan tidak selalu berarti sesuatu yang
dilahirkan bersama dengan kita, tetapi lebih dari segala sesuatu yang
dipelajari, malah sebagian besar memengaruhi kita melalui pikiran,
perkataan dan perbuatan. Kebudayaan juga membantu kita untuk
menentukan derajat sebuah kepentingan (mana yang penting dan mana
Beliau menulis: apa artinya Indonesia yang sedang berada dalam lingkaran usia emas,
namun toh masih dipenuhi krisis dan persoalan hidup. Pertanyaan ini baginya begitu
mendesakkan sesuatu, tentang sebuah ziarah bangsa yang menemui jalan buntu.
Max Regus, “Aku Mencari Indonesia (57 Tahun Ibu Pertiwi)”, Republik Sialan Memburu
Kejernihan di Tengah Belantara Kerancuan, (Maumere: Ledalero, 2003), hlm. 50.
Frano Kleden — Kaum Muda di Persimpangan Jalan: Antara Kebudayaan ...
61
yang tidak penting).3 Kebudayaan Barat asli sebenarnya tidak menjadi
persoalan bagi bangsa kita. Yang menjadi persoalan di sini adalah
bagaimana tanggapan kita (Indonesia) terhadap kebudayaan Barat
tersebut. Memang kita cenderung menghubungkan kebudayaan Barat
sebagai budaya yang buruk, padahal belum tentu.
Menurut Prof. Franz Magnis Suseno, kebudayaan Barat yang
sungguh-sungguh menjadi persoalan yang mengancam kita adalah
“kebudayaan modern tiruan”.4 Ia mengancam justru karena tidak
sejati, tidak substansial. Yang ditawarkannya bukanlah kebudayaan
yang sungguh-sungguh, melainkan semu. Kebudayaan itu membuat
kita menjadi ‘manusia plastik’, manusia tanpa kepribadian, manusia
terasing, manusia kosong atau manusia latah. Kebudayaan modern
tiruan itu terwujud dalam lingkungan yang nampaknya mencerminkan
kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya ia
hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriahnya saja.
Secara nyata, anak “kebudayaan modern tiruan” ini adalah
konsumerisme. Orang ketagihan untuk membeli, bukan karena ia
membutuhkan atau ingin menikmati apa yang akan dibeli, melainkan
demi membelinya sendiri. “Kebudayaan modern tiruan” hidup dari ilusi
bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, orang
menjadi modern. Padahal, dunia artifisial itu tidak menyumbangkan
sesuatu apa pun terhadap identitas kita. Identitas kita malah semakin
kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita,
kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin
dimanipulasi. Akibatnya, kita semakin tidak memiliki diri sendiri, kita
kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh3
Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003),
hlm. 233.
4
Franz Magnis Suseno, Filsafat Kebudayaan Politik (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm. 51.
62
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
sunggguh. Itulah sebabnya, kebudayaan ini tidak nyata (tiruan).5
Singkat kata, “kebudayaan modern tiruan” itu sangat berbahaya.
Ia bagaikan drakula6. Ia menawarkan kemewahan-kemewahan yang
dulu bahkan tidak dapat kita impikan. “Kebudayaan modern tiruan”
itu menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau
berhenti berpikir sendiri dan berhenti membuat penilaian sendiri.
Tepatnya, “kebudayaan modern tiruan” membuat kita kehilangan keduaduanya: kita lepas dari ‘kebudayaan tradisional/nasional7’ kita sendiri,
dan sekaligus juga tidak menyentuh ‘kebudayaan teknologis modern8’
sungguhan. Kita menjadi orang modern-modernan, bukan orang modern.
5
Ibid., hlm. 48.
6
Drakula adalah tokoh dalam cerita horor di Eropa yang suka menghisap darah
manusia yang menjadi mangsanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dalam kaitan
dengan dengan ‘kebudayaan modern tiruan’ yang mentereng, ia mempunyai daya
tarik luar biasa, namun ia dapat menyedot (menghisap) pandangan asli kita tentang
nilai, dasar harga diri dan status.
7
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan seluruh rakyat Indonesia. Ia merupakan
puncak kebudayaan tradisional/ daerah. Kebudayaan nasional mengandung unsur
budaya daerah yang sifatnya diakui secara nasional, mencerminkan nilai luhur dan
kepribadian bangsa serta mengandung unsur-unsur yang mempersatukan bangsa.
Contoh kebudayaan nasional antara lain sifat gotong royong, pakaian nasional (kebaya
dan batik) serta bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Semua itu menjadi identitas
khas serentak kebanggaan tersendiri sebagai Indonesia. Raymundus Sudhiarsa, (ed.),
“Membangun Masyarakat Multikultural dalam Terang Iman”, Kearifan Sosial Lintas
Budaya, (Yogyakarta: Lamalera, 2008), hlm. 72.
8
Kebudayaan Barat modern adalah kebudayaan asli Barat. Kebudayaan-kebudayaan
itu berkembang berdasarkan pengalaman-pengalaman dalam sejarah sebuah
bangsa, terungkap dalam cara pergaulan, berpikir, dalam arsitektur dan seni, dalam
filsafat dan gaya makan mereka. Menurut Prof. Franz Magnis Suseno, kebudayaan
Barat yang asli tidak merupakan tantangan. Kita mempunyai kebudayaan sendiri dan
tidak perlu menjadi orang-orang Barat (misalnya orang Jerman atau orang Prancis).
Akan tetapi, orang kita yang berbudaya akan beruntung apabila mengenal dan akrab
dengan beberapa kebudayaan Barat. Hal tersebut sama dengan orang-orang Barat
yang mengenal dan mencintai kebudayaan-kebudayaan Timur. Bagi kita orang-orang
Timur, pertemuan dengan kebudayaan lain selalu memperkaya kita sendiri. Membaca
sastra Rusia, mengagumi karya-karya seni Italia atau menelusuri filsafat Prancis
pasti sangat menarik. Memang benar, pelancongan ke dalam kebudayaan lain tidak
cenderung memiskinkan persepsi tentang kebudayaannya sendiri, tetapi dapat pula
memperkaya. Franz Magnis Suseno, op. cit., hlm. 46.
Frano Kleden — Kaum Muda di Persimpangan Jalan: Antara Kebudayaan ...
63
III.KAUM MUDA DI PERSIMPANGAN JALAN
Kaum muda sekarang akan harus memanggul beban, membawa
bangsa ini beserta budayanya ke dalam abad ke-21. Budaya akan terus
memengaruhi eksistensi kaum muda sebagai anak bangsa serentak insan
berbudaya. Kaum muda juga merupakan masa depan dunia. Kehilangan
kaum muda sama artinya dengan menutup lembar terakhir dari kitab
kehidupan.9
Alex Inkeles, sosiolog pada universitas Harvard, dalam teorinya
sebagaimana dikutip Suwarsono dan Alvin Y. So, mengatakan bahwa
manusia modern akan memiliki berbagai karakteristik berikut. Pertama,
manusia modern itu terbuka terhadap pengalaman baru. Ini berarti, bahwa
manusia modern selalu berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru.
Kedua, manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan termasuk
percaya akan kemampuannya untuk menundukkan alam semesta. Ketiga,
manusia modern memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang
tinggi. Mereka berkehendak untuk meniti tangga jenjang pekerjaannya.
Keempat, manusia modern memiliki rencana jangka panjang. Mereka
selalu merencanakan sesuatu jauh di depan dan mengetahui apa yang
akan mereka capai dalam waktu lima tahun ke depan misalnya. Dan yang
terakhir, manusia modern aktif terlibat dalam percaturan politik. Mereka
bergabung dengan berbagai organisasi kekeluargaan dan berpartisipasi
aktif dalam urusan masyarakat lokal.10
Sekarang kaum muda mengalami sebuah keadaan dilematis. Mereka
sedang berada di persimpangan jalan di mana globalisasi mempersempit
jurang ruang dan waktu, sementara pertemuan budaya nasional dan
9
Reynard L. Meo. “Fatherless Generation: Sebuah Realitas yang Mencemaskan”, Buletin
Iman Anak-Anak Sang Sabda, 2:2, Desember 2011, hlm. 30.
10
Suwarsono dan Alvin Y. So, Perubahan Sosial dan Pembangunan (Jakarta: PT. Pustaka
LP3ES Indonesia, 1994), hlm. 31.
64
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
kebudayaan Barat modern menghadapkan mereka pada pertanyaan,
apakah mereka harus menatap pada nilai universal (budaya nasional)
yang telah menyatukan?
Berada di persimpangan jalan berarti berada pada dua pilihan yang
ada dan berbeda. Tampak di hadapan kaum muda dua jalan yang mesti
dilalui. Berjalan melalui jalan yang benar tentu membawa mereka pada
arah hidup yang benar, begitupun sebaliknya, jalan yang salah bisa
membawa kita ke dalam jurang petaka. Menghadapi realitas demikian,
kaum muda tak boleh tinggal diam bahkan berlarut-larut dalam
kebingungan. Mereka harus berani memilih satu jalan untuk ditempuh.
Antara jalan pertama: konsisten mempertahankan dan mengikuti
kebudayaan nasional, atau jalan kedua: masuk dalam lalulintas jalan
kebudayaan Barat.
Hal ihwal meninggalkan kebudayaan sendiri dan membaurkan diri
dengan kebudayaan lain tidak selalu diterima. Banyak orang mengatakan
bahwa batas-batas budaya jelas mutlak perlu untuk menggariskan jati diri
orang dan pengelompokan orang. Para pakar sosial menegaskan bahwa
tanpa batas yang jelas dan tanpa tradisi yang tegas, manusia terombangambingkan dan bahasa serta kebudayaannya terancam punah.11
Dengan memilih bertahan pada kebudayaan nasional berarti kaum
muda bersedia untuk menjaga warisan budaya dari golongan tuanya,
sedangkan menerima kebudayaan Barat yang baru menunjukkan sikap
keterbukaan kaum muda terhadap adanya perubahan serta siap menjadi
manusia-manusia modern. Lalu, manakah jalan terbaik yang harus
dilalui kaum muda itu?
11
John Mansford Prior, Berdiri di Ambang Batas: Pergumulan Seputar Iman dan Budaya
(Maumere: Ledalero, 2008), hlm. viii.
Frano Kleden — Kaum Muda di Persimpangan Jalan: Antara Kebudayaan ...
65
IV. K
AUM MUDA MENYIKAPI TANTANGAN
BUDAYA BARAT
Kita pada umumnya dan kaum muda khususnya harus tetap
ingat bahwa obor modernisasi dalam sejarah modern dipegang oleh
bangsa-bangsa Barat. Kebudayaan Barat memang kebudayaan modern,
tapi kebudayaan modern bukan hanya kebudayaan Barat saja. Tiap
kebudayaan yang menerima, mengembangkan dan menerapkan ilmu
dan teknologi modern menjadi kebudayaan modern, tidak perlu menjadi
kebudayaan Barat.12 Sekarang kita perlu merespons posisi dilematis yang
dialami oleh kaum muda dalam tantangan kebudayaan Barat.
Pertama, kaum muda perlu menyadari identitasnya sebagai sebuah
bangsa yang berbudaya serentak berusaha mempertahankan keasliannya.
Orang tidak bisa memahami keberadaan, kalau tidak mengenal identitas
dirinya.13 Mempertahankan identitas tidak berarti tidak berubah,
sebab setiap bangsa, begitu pula setiap orang terus-menerus tumbuh,
berkembang, dan berubah. Justru identitas kita akan menjadi mantap
dengan perubahan. Kaum muda yang dengan mata terbuka menghadapi
segala tantangan tentu berubah, tetapi di dalam perubahan dia tidak mesti
dikemudikan oleh budaya Barat atau ikut-ikutan saja. Dia menentukan
dirinya sendiri sambil memahami bahwa kebudayaan lamanya ‘mungkin’
memuat pelbagai kelemahan, segi-segi yang membuatnya kurang kuat
untuk mempertahankan diri. Dalam hal ini, dia perlu mempelajari sikapsikap dan cara berpikir baru sambil tetap setia pada dirinya sendiri.
Kedua, membangun dialog. Dialog merupakan jawaban atas tandatanda zaman sekaligus bentuk kerasulan kategorial dewasa ini.14 Dalam setiap
12
Sidi Gazalba, op. cit., hlm. 43.
13
Mathias Daven, Metafisika (ms.), (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero,
2015-2016), hlm. 60.
14
Philipus Tule, Mengenal & Mencintai Muslim & Muslimat (Maumere: Ledalero, 2008),
hlm. 287.
66
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dialog, kedua belah pihak mesti berubah. Dalam proses itu, masing-masing
pihak dapat saling menyangkal dan mengoreksi. Saling menyangkal bukan
berarti saling meniadakan.15 Pada taraf selanjutnya, kaum muda Indonesia
akan berubah secara mendalam dan dapat tetap mempertahankan identitas
diri dan budayanya sendiri. Terhadap pengaruh “kebudayaan teknologis
modern”, kaum muda tidak mesti menolak secara kaku, tetapi menerimanya
sesuai dengan kebutuhan. Pelbagai peralatan teknologis modern sebagai
produk “kebudayaan teknologis modern” dapat membantu kehidupan
kaum muda setiap hari, pun dapat memecahkan masalah-masalah yang
berhubungan dengan aktivitasnya. Di sisi lain, yang paling penting, kaum
muda perlu menolak tegas adanya “kebudayaan modern tiruan” sebab
kebudayaan ini dapat membuat kaum muda kehilangan keduanya: lepas
dari ‘kebudayaan tradisional-nasional’ milik sendiri dan sekaligus juga tidak
menyentuh ‘kebudayaan teknologis modern’ sungguhan. Alhasil, menyitir
kata Prof. Magnis Suseno, kita (baca: kaum muda) akan menjadi orang
modern-modernan, bukan orang modern.16
Ketiga, keterbukaan untuk saling mengembangkan. Kebudayaankebudayaan saling membutuhkan sebab semua kebudayaan ada dalam
solidaritas. Yang dibutuhkan adalah usaha saling mengembangkan di
antara kebudayaan-kebudayaan.17 Pada tahap ini, kita tengah berhadapan
dengan budaya Barat. Agar kebudayaan Barat itu dapat mengembangkan
dan memperkaya kaum muda kita, kaum muda sebagai pelaku budaya pun
harus menghargai, menghindari semua kendala seperti rasa takut, angkuh,
sikap mengabaikan, keinginan menguasai dan menjadi pemenang. Dengan
demikian, sesuatu yang baru dapat dibangun dan dikembangkan.
15
Franz Magnis Suseno, op. cit., hlm. 53.
16
Ibid., hlm. 52.
17
Fransiskus Ceunfin, “Filsafat Lintas Budaya dan Kritik Kebudayaan”, VOX, 45:2, 2001.
Frano Kleden — Kaum Muda di Persimpangan Jalan: Antara Kebudayaan ...
67
V.PENUTUP
Adalah tepat ketika kaum muda kita berhasil meresapkan kebudayaan
Barat sembari mempertahankan identitas kebudayaan nasional yang
telah ada. Pertemuan dengan kebudayaan Barat hanya dapat berhasil
jikalau kaum muda memiliki sikap positif terhadap identitas, sejarah dan
kebudayaannya sendiri. Apabila kaum muda begitu saja menyesuaikan
diri dengan budaya orang Barat, mereka akan kehilangan identitasnya.
Sikap menutup diri terhadap adanya budaya Barat pun tidak mampu
menyelamatkan kaum muda, karena dengan demikian, identitas mereka
menjadi cerminan negatif dari harapan lingkungan.
Mempertahankan identitas, membangun dialog dalam suasana
keterbukaan menjadi syarat yang perlu dipenuhi oleh kaum muda agar
realitas budaya Barat yang modern tidak menjadi ancaman bagi mereka.
Sebagai warga Indonesia yang berbudaya, kaum muda mesti merasa
bangga atas budayanya sendiri dan mengidentifikasikan diri dengan
kelemahan-kelemahannya. Lalu dalam tantangan budaya Barat tersebut,
kaum muda harus mempelajari dan meminatinya secara kritis. Keyakinan
tentang diri sendiri, kesadaran harga diri yang kuat disertai keterbukaan
memungkinkan kaum muda Indonesia menjadi tulung punggung bangsa
yang modern tanpa kehilangan jiwanya.
DAFTAR PUSTAKA
Ceunfin, Fransiskus. “Filsafat Lintas Budaya dan Kritik Kebudayaan”,
dlm.: VOX, 45:2, 2001.
Daven, Mathias Metafisika (ms.). Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat
Katolik Ledalero, 2015-2016.
Liliweri, Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: Pustaka
Pelajar, 2003.
68
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Meo, Reynard L. “Fatherless Generation: Sebuah Realitas yang
Mencemaskan”, dlm.: Buletin Iman Anak-Anak Sang Sabda, 2:2,
Desember 2011.
Prior, John Mansford. Berdiri di Ambang Batas: Pergumulan Seputar
Iman dan Budaya. Maumere: Ledalero, 2008.
Regus, Max. Republik Sialan Memburu Kejernihan di Tengah Belantara
Kerancuan. Maumere: Ledalero, 2003
Suseno, Franz Magnis. Filsafat Kebudayaan Politik. Jakarta: Gramedia,
1992.
Sudhiarsa, Raymundus (ed.), “Membangun Masyarakat Multikultural
dalam Terang Iman”, dlm.: Kearifan Sosial Lintas Budaya.
Yogyakarta: Lamalera, 2008.
Suwarsono dan So, Alvin Y. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta:
PT. Pustaka LP3ES Indonesia, 1994.
Tule, Philipus. Mengenal & Mencintai Muslim & Muslimat. Maumere:
Ledalero, 2008.
Frano Kleden — Kaum Muda di Persimpangan Jalan: Antara Kebudayaan ...
69
KAUM MUDA DAN
RADIKALISME
Har Yansen1
I. PENGANTAR
F
enomena radikalisme semakin marak akhir-akhir ini. Sebut saja
negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Berbicara soal ISIS kini tidak
hanya tertuju pada basis dan organisasi utama pimpinan Abu Bakar alBaghdadi di dua Negara itu (Irak dan Suriah), tetapi telah menjadi jaringan
yang meluas ke penjuru dunia dan merepotkan pemerintah di banyak
Negara. Di Mesir misalnya, kelompok radikal Ansar Beit al-Maqdis kini
tengah beroperasi di Semenanjung Sinai Utara di bawah payung ideologi
NIIS. Di Libya kelompok radikal Ansar al-Shariah tengah beroperasi di
Libya Timur. Negara-negara Eropa pun tidak luput dari milisi ISIS ini.
Pusat Kontra Terorisme Nasional (NCTC) AS mencatat, lebih dari 20.000
orang dari sedikitnya 90 negara masuk ke Suriah. Dari jumlah itu, 3.400
datang dari Negara Barat, termasuk 150 warga Negara Amerika Serikat
(Kompas, Minggu 15 Februari 2015).2 Tidak hanya itu, Pos Kupang 17
1
Penulis adalah Mahasiswa Semester V STFK Ledalero
2Berita, Kompas [Jakarta], 15 Februari 2015.
70
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Januari 2016 yang lalu memberitakan, bahwa di Asia sudah terdapat lima
negara yang menjadi penyumbang terbesar bagi keanggotaan ISIS yakni;
China sudah sebanyak 300 orang, Pakistan tercatat sebanyak 330 orang,
Afganistan yang pada Desember 2015 yang lalu tercatat 23 orang dan
Australia sudah 250 orang hijrah ke Suriah demi ISIS, dan yang tidak
kalah heboh ialah aksi Ivan Armadi Hasugihan yang membawa tas berisi
bom rakitan di Gereja Katolik St. Yosef, Medan-Sumatera Utara (Pos
Kupang, Senin 29 Agustus 2016). Indonesia pun tidak luput dari incaran
kelompok radikal itu dalam ekspansinya. Menurut catatan Mantan Kepala
BNPT Ansyaad Mbay, jumlah orang Indonesia yang sudah tergabung di
dalam gerakan NIIS itu sudah sekitar 251 orang lebih.3 Kenyataan ini mau
membuktikan bahwa ideologi yang dibawa oleh ISIS itu bagaikan magnet
yang menarik organisasi-organisasi anarkis dan militan di seluruh dunia.
Seiring bergulirnya kasus, muncul hipotesis bahwa rata-rata yang
terlibat dalam aksi-aksi seperti ini berusia muda, 17-40 tahun. Tentu
masih terekam baik dalam memori kita sederetan peristiwa horor
sekelompok orang muda yang mengaku dirinya adalah bagian dari ISIS
selama ini. Sebut saja para pelaku bom bunuh diri di kota Paris, Perancis
yang mengakibatkan150 orang tewas pada 15 November 2015 yang lalu.
Atau sebelumnya dua orang pemuda bersenjata yang menyerang kantor
majalah Charlie Hebdo di kota Paris yang menewaskan 12 orang. Di
Maiduguri, Nigeria Timur laut, milisi Boko Haram menggunakan anak
perempuan berusia 10 tahun dijadikan sebagai pelaku bom bunuh diri.
Aksi tersebut menewaskan 19 orang.4 Atau juga aksi teror di Sarinah,
Jalan Thamrin Jakarta yang diaktori oleh sekelompok pemuda hingga
menewaskan 7 orang dan 24 orang lainnya terluka. Pertanyaan mendasar
di sini ialah mengapa kaum muda begitu rentan terlibat dengan aksi-aksi
3Berita, Pos Kupang [Kupang], 17 Januari 2016.
4Berita, Kompas [Jakarta] 25 November 2015.
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
71
radikalisme seperti itu? Tesis utama tulisan ini ialah hendak menelusuri
lebih jauh fenomena kerentanan kaum muda terhadap berbagai aksiaksi anarkisme, termasuk di dalamnya terorisme ISIS, yang semakin
menjadi-jadi belakangan ini. Sebagai negara yang berwajah pluralistik,
keberadaan jumlah kaum muda yang begitu banyak saat ini, jika tidak
berhasil mengelolanya maka bisa menjelma menjadi bencana demografis
yang melumpuhkan bangsa ini ke depan.
II. SEKILAS TENTANG KAUM MUDA
Kaum muda hidup dalam sebuah kurun waktu (baca:generasi) tertentu.
Dalam pandangan umum, generasi kaum muda adalah sebuah generasi
peralihan dan sekaligus perubahan menuju ke tingkat yang lebih tinggi
(baca: dewasa). Peralihan atau perubahan ini ditandai dengan mencuatnya
berbagai persoalan yang tentunya menantang identitas kepemudaan mereka.
Di masa peralihan kaum muda mempertaruhkan identitasnya untuk sebuah
perubahan. Untuk memahami lebih jauh tentang kaum muda, berikut ini
dibeberkan beberapa definisi kaum muda, antara lain:
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefenisikan kata “muda”
sebagai belum sampai setengah umur, belum cukup umur, belum lama
ada. Sedangkan kata “kaum” diartikan sebagai suku bangsa, golongan,
kelompok. Oleh karena itu, kaum muda dapat diartikan sebagai
kelompok orang yang masih muda umurnya atau anak yang masih
muda. Menurut Undang-Undang Kepemudaan Nomor 40 Tahun 2009,
yang disebut pemuda adalah yang berusia 16-30 tahun. Sedangkan
menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, kaum muda mencakup anak-anak
manusia dari umur 15 sampai 24 tahun. Selain itu juga, undang-undang
perkawinan RI, tahun 1974, kaum muda meliputi para muda-mudi yang
sudah melewati umur kanak-kanak dan belum mencapai umur yang
oleh UU diperbolehkan menikah: bagi pemuda minimal berumur 19
72
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
tahun dan bagi pemudi minimal berumur 16 tahun. Sedangkan dalam
organisasi pemuda, kaum muda dapat mencakup semua muda-mudi
yang berumur antara 15-40 tahun.
Perkembangan usia kaum muda sangat berpengaruh juga terhadap
tingkat pemahaman mereka akan realitas yang dihadapi. Menurut Jean
Piaget, perkembangan pemahaman pada tingkat usia seperti ini mempunyai
tingkat ekuilibrium yang tinggi, di mana mereka (kaum muda) sudah
dapat berpikir fleksibel dan efektif, serta mampu menghadapi persoalan
yang kompleks. Dengan demikian, kaum muda secara kualitatif sudah bisa
berpikir rasional terhadap realitas yang dihadapi.5
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kaum
muda merujuk pada suatu kelompok individu yang dalam tahapan
perkembangan biologis dan psikisnya ditandai oleh perubahan yang
sangat signifikan. Pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuh
dan pola pikirnya itu membuat kaum muda tampil energik dan kuat. Hal
inilah yang membuat kaum muda itu dipandang sebagai harapan dan
generasi penerus kehidupan suatu masyarakat, dan dalam konteks yang
lebih luas yaitu bangsa dan negara.
III. POTENSI-POTENSI KAUM MUDA
Seperti yang telah dikemukan di atas bahwa orang muda adalah
salah satu agen dalam membawa perubahan (agent of change). Dikatakan
demikian karena berbagai karakter yang inheren pada kepemudaan itu
sendiri seperti: energik, kreatif, dinamis, empatik, kritis, dan berani
mengambil resiko. Philip Tangdilintan merumuskan empat potensi yang
dimiliki kaum muda antara lain:6
5
Paul Suparno, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Yogyakarta: Kanisius, 2001),
hlm. 209.
6
Philip Tangdilintin, Pembinaan Generasi Muda (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 2829.
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
73
Pertama, dinamis. Kaum muda berciri dinamis, penuh dengan emosi
dan semangat luap. Jiwa muda adalah jiwa dalam taufan dan nafsu (strum
und drang), jiwa yang penuh gairah dan gelora hidup. Oleh karena itu
mereka senang berpetualang dan bereskperimen dalam upaya mencari
nilai-nilai baru; dalam hal ini mereka tidak mau didikte.
Kedua, berorientasi ke masa depan. Berbeda dari pola berpikir anakanak, kaum muda dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara
abstrak dan hipotetis. Mereka dapat memandang diri dan persoalan dari
berbagai segi. Berlainan juga dengan kaum tua yang umumnya senang
mengenang masa silam, kaum muda mempunyai pandangan jauh ke
depan dan sarat dengan cita-cita masa depan.
Ketiga, terbuka. Kaum muda memiliki sikap terbuka terhadap setiap
pembaruan dan perkembangan yang dianggap dapat mempercepat
proses realisasi masa depan yang menjadi dambaannya (terlepas dari
soal apakah gambaran masa depan itu tepat atau tidak). Oleh karena itu,
kaum muda sering disebut sebagai “generasi pembaru” yang berbeda dari
kaum tua yang suka akan kemapanan dan nilai-nilai lama. Perbedaan ini
seringkali menimbulkan bentrok antara kaum tua dan kaum muda.
Keempat, Kreatif. Kaum muda pada umumnya tidak puas dengan
keadaan dan nilai-nilai lama dan haus akan segala sesuatu yang baru.
Mereka sering mengerahkan daya cipta untuk mencari terobosan baru.
Apabila menemukan iklim yang kondusif, kepercayaan yang diberikan
dapat mendorong lahirnya kreativitas pada diri orang muda. Hal ini
dapat kita lihat dari hasil kerja mereka yang tak terduga dan luar biasa.
Sebaliknya, dalam iklim pendidikan yang mendikte, serba membatasi,
penuh larangan dan umpatan, kreativitas kaum muda justru akan
mandul.
74
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
IV. DISKONTINUITAS
Sejarah Indonesia mencatat bahwa peristiwa bersejarah yang
berpuncak pada proklamasi kemerdekaan serta peristiwa-peristiwa politik
selanjutnya itu tidak bisa dipikirkan tanpa peran penting kaum muda.
Sumpah pemuda, yang menjadi jejak sejarah monumental menempatkan
pemuda sebagai entitas penting. Momentum tersebut menjadi penanda
dan batas antara era pencarian dan penegasan jati diri sebagai sebuah
bangsa. Peneliti Sejarah, Keith Foulcher (2000), menyebut Sumpah
Pemuda sebagai hasil akumulasi nilai dan ideologi.7 Pergolakan politik
pada pertengahan tahun 1960 misalnya telah menyeret pemuda dalam
pusaran perebutan kekuasaan. Dalam hegemoni rezim militer, kaum
muda ikut serta menggulingkan kekuasaan Soekarno dan menegakkan
rezim Orde Baru. Namun selama tiga dasawarsa selanjutnya, kaum
muda tak luput dari pergulatan bersama kelompok-kelompok marginal
menentang otoritarianisme Orde Baru. Puncak perlawanan mengkristal
dalam gerakan mahasiswa dan rakyat menuntut lengsernya Soeharto
pada tahun 1998.8
Kendatipun menghadapi ancaman kehilangan nyawa (dan
memang ada banyak korban jiwa dan sampai sekarang masih polemik)
tetapi kepekaan sosial menyebabkan mereka bersatu padu melawan
otoritarianisme. Yang mereka perjuangkan adalah kepentingan bangsa,
bukan kepentingan golongan tertentu. Berbagai peristiwa revolusioner
itu sebenarnya tidak terlepas dari kekuatan idealisme yang tertanam
kuat dalam diri mereka. Perjuangan itu sebenarnya bermula dari ideide kreatif yang terserak yang dimiliki oleh minoritas kaum muda. Ideide potensial tersebut kemudian terangkum jelas di dalam tiga entitas
7
Gagasan Keith Foulcher ini dikutip pada Jajak Pendapat, Kompas [Jakarta], 28 Oktober
2013, p. 5, kol. 3.
8
Ibid.
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
75
kesatuan: Tanah Tumpah Darah, Bangsa, dan Bahasa. Tridarma Sumpah
Pemuda ini merupakan sintesis dari idealisme minoritas kaum muda
yang sebelumnya terserak, tetapi kemudian menjadi kekuatan progresif
menuju perubahan.
Pengamat Politik Yudi Latif kemudian menandaskan bahwa isi
tridarma generasi Sumpah Pemuda itu terjadi melalui wacana dan
penciptaan ruang publik. Ruang publik itulah yang mempersatukan
ide-ide perjuangan mereka menjadi katalis bagi perwujudan politik
perubahan itu sendiri.9 Di dalam ruang bersama itu, mereka melepaskan
interese-interese subjektif, intimidasi, primordialisme, suku, agama,
dan ras mereka masing-masing, serta tindakan-tindakan anarkis dan
semacamnya. Perjuangan mereka terutama terletak dalam idealisme yang
terserak, tetapi kemudian menjadi kolektivitas yang ampuh, penuh daya,
dan transformatif. Maka dapat dikatakan bahwa mereka telah berperan
sebagai tokoh protagonis dalam peradaban bangsa Indonesia.
Akan tetapi dalam rentang waktu 87 tahun sejak Kerapatan Besar
Pemuda Indonesia (KBPI), 28 Oktober 1928, serta 70 tahun Indonesia
merdeka, peran kaum muda justru semakin merosot. Ada semacam
garis kontinuitas dan diskontinuitas antara generasi muda hari ini dan
generasi Sumpah Pemuda. Tentang hal ini dalam nada yang paradoks
Yudi Latif, sebagaimana dikutip oleh Risaldo Baeng, menandaskan bahwa
kaum muda Indonesia dewasa ini makin menggandrungi mentalitas
budak. Mentalitas budak ini tertuang dalam ekpresi dangkal dan picik
seperti kaum muda yang terlibat dalam demonstrasi anarkis, perjudian,
KKN, pelecehan seksual dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.10
Mentalitas budak ini pun mengusung perjuangan yang bertajuk logika
9
Yudi Latif, “Tantangan Idealisme Muda”, dalam Kompas, Senin, 28 Oktober 2013, hlm.
6.
10
Risaldo Baeng, “Kaum Muda dan Pendidikan”, dalam Kata Pengantar Musafir Ziarah
Mencari Jati Diri Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Vol. 01. Thn. XXXVII, 2011-2012.
76
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
kekuatan serentak mengistirahatkan perjuangan yang bertaring kekuatan
logika.
V. RENTAN TERLIBAT
Fenomena radikalisme yang semakin mengglobal dan ramai
diperbincangkan belakangan ini memang bukan fenomena baru dalam
sejarah kehidupan manusia. Seiring bergulirnya kasus muncul hipotesis
bahwa kelompok yang berusia muda rentan terlibat di dalamnya.
Pertanyaannya ialah mengapa harus kaum muda? Sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya, bahwa kaum muda hidup dalam sebuah kurun
waktu (baca:generasi) tertentu. Mereka hidup pada suatu masa transisi
atau masa peralihan dari tahapan perkembangan hidup manusia.
Peralihan atau perubahan ini juga diwarnai oleh berbagai persoalan yang
tentunya menantang identitas kepemudaan mereka. Di masa peralihan
itu kaum muda mempertaruhkan identitasnya untuk sebuah perubahan.
Psikolog Jean Piaget melihat perkembangan pemahaman pada tingkat
usia seperti ini mempunyai tingkat ekuilibrium yang tinggi, di mana
mereka (kaum muda) sudah dapat berpikir fleksibel dan efektif, serta
mampu menghadapi persoalan yang kompleks. Dengan demikian, kaum
muda secara kualitatif sudah bisa berpikir rasional terhadap realitas yang
dihadapi.11 Perkembangan pola pikir inilah yang membuat mereka (baca:
kaum muda) selalu kritis terhadap situasi yang ada. Sehingga tidaklah
mengherankan jika pada masa ini kaum muda acapkali membentuk
kelompok atau grup untuk menegaskan identitas mereka. Di sana akan
terjadi pemilahan kawan dan lawan. Yang lain dianggap sebagai musuh
yang harus dilenyapkan. Dan dalam ranah yang lebih luas, dalam konteks
kehidupan berbangsa dan bernegara, ketika ada yang janggal dalam
kehidupan bermasyarakat atau bernegara tersebut maka orang-orang
11
Paul Suparno., Loc. cit.
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
77
muda yang selalu menjadi orang pertama dalam melakukan perubahan.
Dari sejarah kita mengetahui bahwa gerakan ekstrimisme dan
radikalisme itu timbul karena adanya rasa tidak puas. Tidak puas dengan
penguasa, pemerintah ataupun ideologi negara yang sedang berlaku.
Karena merasa dipinggirkan dan diisolasi, maka gerakan ekstrimisme itu
digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, terhadap raja,
terhadap penguasa. Negara yang menindas, raja yang lalim, penguasa
yang tiran, itulah yang dilawan dalam menuntut keadilan. Kenyataan ini
justru semakin parah dan akut ketika agama memberi legitimasi untuk
membenarkan gerakan anarkis atau radikalisme tersebut. Noor Huda
Ismail dalam tulisannya yang dimuat pada Media Kompas beberapa waktu
yang lalu menyitir gagasan tentang campuran mematikan, terkait tiga
faktor yang mendorong orang terlibat dalam kekerasan atau terorisme,
yakni: individu yang termarjinalkan, kelompok yang memfasilitasi
dan ideologi yang membenarkan. Menurut Ismail akar-akar sosial
psikologis yang menyediakan ramuan bagi ketiga faktor tersebut adalah
ideologi yang membenarkan.12 Tujuan ideologis ini dicapai dengan
cara destruktif, demonstratif, dan bahkan terorisme bunuh diri yang
mengakibatkan kematian bagi orang-orang yang tidak bersalah. Dan
hemat saya, persis seperti inilah yang dilakukan oleh sekelompok orang
muda yang sudah tergabung dalam gerakan radikalisme ISIS selama ini.
Hal ini merupakan sebuah bahaya yang harus segera diatasi, sebab jika
tidak akan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan.
VI. REVOLUSI MENTAL KAUM MUDA
Terhadap persoalan ini, upaya deradikalisasi melalui penyadaran
dan pemberdayaan kaum muda adalah sebuah keniscayaan. Hal itu
12
Noor Huda Ismail, “Je Suis Charlie dan Terorisme di Perancis”, dalam Kompas, Senin 15
Januari, 2015, hlm. 7.
78
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dapat dilakukan melalui investasi pendidikan yang memadai bagi
kaum muda. John W. Gardner menyatakan bahwa tidak ada Negara
bangsa yang dapat menjadi besar kalau tidak menyakini sesuatu dan
kalau sesuatu yang diyakininya itu tidak memiliki ajaran moral untuk
membawa kemajuan peradabannya. Seperti John W. Gardner, penulis
pun menyakini diperlukan cara yang efektif untuk membangun integritas
dan kepribadian bangsa dalam diri kaum muda. Untuk itu sebagai solusi,
penulis menawarkan dua institusi berikut yang memiliki peran yang
sangat fundamental dalam merevolusi mental kaum muda kita saat ini:
Pertama, Keluarga. Keluarga adalah satuan unit terkecil dalam
kehidupan bermasyarakat. Kendatipun dipandang sebagai satuan unit
yang paling kecil, tetapi keluarga mempunyai kontribusi yang sangat besar
dalam pembentukan karakter dan mental seorang anak. Keluarga menjadi
lokus pertama yang memungkinkan seorang anak meramu nilai-nilai dan
pengetahuan dalam cara berpikir dan bertindak dengan orang lain. Proses
internalisasi nilai yang pertama dan utama terjadi di dalam keluarga.
Keluarga perlu mengembangkan nilai iman dan menghidupkan nilai moral.
Itu berarti ajaran (agama) dan moral mesti disampaikan sedini mungkin
kepada anak-anak. Dengan demikian mereka memiliki basis pertahanan
pertama dan terakhir dalam menghadapi pengaruh ajaran-ajaran sesat yang
berseliweran muncul di tengah masyarakat, dan menggunakan bendera
agama atau ideologi tertentu sebagai basis legitimasinya. Apabila keluargakeluarga bersikap permisif terhadap hal-hal yang berbau kekerasan di
tengah masyarakat, maka anak-anak cenderung mencari orientasi nilai di
luar, yang membuat mereka rentan terabsorsi pengaruh kelompok radikal.
Kedua, Sekolah. Sekolah adalah tempat utama untuk membentuk
gagasan mengenai kebangsaan. Tugas sekolah tidak hanya mengajarkan
peserta didik tentang moralitas yang baik, meningkatkan ilmu
pengetahuan dan keterampilan, tetapi lebih dari itu mendidik dan
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
79
membentuk kepribadian kawula muda sebagai orang Indonesia sejati.
Untuk menyukseskan hal ini maka keterlibatan pemerintah baik dari
pusat hingga ke daerah-daerah harus terus digalakkan. Di sini pemerintah
harus benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran
pemerintah tidak cukup hanya dengan pendekatan penindakan, seperti
selama ini melalui Densus 88, tetapi lebih dari itu harus dimulai melalui
pendidikan bagi kawula muda Indonesia. Pemerintah harus memastikan
bahwa nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika diajarkan di seluruh
tingkatan pendidikan. Dalam rangka itu maka perlu disiapkan kurikulum
khusus dengan tenaga pengajar yang handal. Ratu Rania Al-Abdullah
mengatakan bahwa peluru tidak cukup untuk mengalahkan kelompok
radikalisme seperti ISIS karena ada ideologi yang hidup dalam hati
mereka. Sekali lagi, yang lebih penting adalah investasi dalam kualitas
pendidikan. Hal itu dilakukan untuk mencegah kebodohan yang akan
membawa anak muda menjadi radikal.13 Ingat apa yang terjadi ketika
Osama Bin Laden dibunuh. Ia memang sudah mati, tetapi warisannya
lebih kuat, lebih menggerakan gerakan ekstrimis. Dalam aras ini, kita
patut mengapresiasi langkah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
(Mendikdasmen) beberapa waktu lalu yang telah menarik sejumlah buku
pelajaran (agama) di sekolah-sekolah yang disinyalir mengandung bibitbibit radikal di dalamnya.14 Jika hal ini terus dilakukan maka niscaya
kaum muda Indonesia akan bebas dari pengaruh-pengaruh ideologi
radikalisme yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.
VII. PENUTUP
Bibit-bibit radikalisme yang dibawa oleh ISIS akhir-akhir ini telah
merebak pengaruhnya di seluruh penjuru dunia. Ideologi radikal yang
13
Berita Kompas [Jakarta], 23 Januari 2015.
14
Frans Nala, “Radikalisme dan Moralitas Publik”, dalam Opini Flores Pos, Selasa 28 April
2015, hlm. 12.
80
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
disebarkan oleh ISIS tersebut telah merepotkan pemerintah di banyak
negara, tak terkecuali Indonesia. Hingga saat ini tercatat bahwa sudah
ada ribuan orang di seluruh dunia yang sudah bergabung dengan negara
Islam Irak dan Suriah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi tersebut. Dari
ribuan angka yang dilaporkan tersebut terdapat sekitar ratusan orang
dari Indonesia yang sudah bergabung dengan ISIS.
Hingga saat ini berdasarkan laporan media massa dan kasus-kasus
yang dipertontonkan kepada kita belakangan ini, orang-orang yang rentan
terlibat dalam gerakan ekstrimis ini didominasi oleh kelompok berusia
muda. Ada begitu banyak kaum muda yang sudah menggabungkan diri
dalam kelompok radikal ini. Hal ini terbukti dari berbagai aksi teror dan
bom bunuh diri yang telah dipraktikkan oleh segerombolan orang muda
selama ini. Dapatlah dikatakan bahwa ideologi yang disebarkan oleh ISIS
tersebut bagaikan magnet yang menarik sejumlah orang muda di seluruh
dunia. Aksi radikalisme yang dipraktikkan kaum muda itu semakin akut
dan memuncak tatkala agama memberikan legitimasi yang membenarkan
tindakan mereka. Konteks Indonesia yang pluralistik, tentu problem ini
dapat merusakkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Oleh karena
itu, upaya deradikalisasi melalui revolusi mental kaum muda sangat
diniscayakan pada titik ini. Peran keluarga dan sekolah dalam membina
dan membentuk mental dan akhlak kaum muda mendapat posisi yang
sangat penting. Hal itu perlu supaya mencegah kebodohan kaum muda
itu sendiri.
Har Yansen — Kaum Muda dan Radikalisme
81
DAFTAR PUSTAKA
Baeng, Risaldo. “Kaum Muda dan Pendidikan”, dlm.: Pengantar Musafir.
Vol. 01. Thn. XXXVII, 2011-2012.
Ismail, Noor Huda. “Je Suis Charlie dan Terorisme di Perancis”, dlm.:
Kompas, Senin 15 Januari, 2015.
Latif, Yudi. “Tantangan Idealisme Muda”, Dlm.: Kompas, Senin, 28
Oktober 2013.
Nala, Frans. “Radikalisme dan Moralitas Publik”, dlm.: Opini Flores Pos,
Selasa 28 April 2015.
Suparno, Paul. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta:
Kanisius, 2001.
Tangdilintin, Philip. Pembinaan Generasi Muda. Yogyakarta: Kanisius,
1986.
Kompas [Jakarta] 25 November 2015.
Kompas [Jakarta], 15 Februari 2015.
Kompas [Jakarta], 23 Januari 2015.
Kompas [Jakarta], 28 Oktober 2013, p. 5, kol. 3.
Pos Kupang [Kupang], 17 Januari 2016.
82
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
KAUM MUDA DALAM
KEKACAUAN POLITIK:
MENGGAGAS SOLUSI
MENEPIS KEENGGANAN
BERPOLITIK KAUM MUDA
Oleh: Kelas 1 Kelompok A
(Doni Koli, Anno Susabun, Calvin Pala,
Dimas Pangkur)
D
emokrasi dan perwujudannya di Indonesia hingga kini masih
menjadi sebuah diskursus yang senantiasa diperdebatkan.
Pembacaan terhadap demokrasi berdasarkan kualitas perpolitikan
bangsa dewasa ini, telah menimbulkan sebuah diktum paradoks bahwa
usaha berdemokrasi sepertinya kontra produktif. Pelbagai skenario sesat
yang dimainkan aktor-aktor politik kita telah membumikan semacam
pesimisme publik bahwa militansi berpolitik hanya dijangkarkan pada
usaha-usaha oportunis serentak memunggungi kepentingan rakyat.
Parahnya lagi, lembaga-lembaga penegak keadilan dan perpolitikan yang
anti korupsi seperti lembaga anti rasuah (KPK) senantiasa mendapat
resistensi dari banyak elit politik. Revisi terhadap UU KPK yang santer
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
83
diperjuangkan anggota parlemen di DPR dengan tendensi melemahkan
serta memangkas wewenang DPR adalah bukti nyata kontinuitas usaha
untuk mempertahankan aktus berpolitik yang non demokratis.
Pada tempat lain, ada semacam kerinduan kolektif yang dimunculkan
bahwa para kaum muda kita dapat membawa bangsa kita menuju prospek
berdemokrasi yang baik. Berkaca pada faktum historis terkait peran
kaum muda dalam kancah perpolitikan bangsa sebagaimana dinarasikan
dalam deklarasi sumpah pemuda, usaha mewujudkan kemerdekaan, dan
gerakan mematahkan rezim pemerintahan represif dan non-demokratis,
diyakini bahwa kaum muda punya peran strategis dan deterministik
dalam mewujudkan demokratisai secara masif. Namun, di sisi lain
timbul sebuah keprihatinan bahwa cerita sejarah tersebut hanya menjadi
romantisme masa lalu yang spiritnya turut tergerus puluhan tahun lalu.
Ada kecemasan bahwa militansi berpolitik kaum muda kehilangan
taringnya. Melalui tulisan ini hendak dibaca “dua fenomen” diferensial
antara faktum terdistorsinya kualitas politik serta pesimisme kaum muda
untuk kembali berpartisipasi dalam politik. Sehingga, keniscayaan usaha
untuk kembali kembali mengonstruksi paradigma reformatif kaum muda
untuk kembali bermilitansi dalam politik perlu digalakkan.
I. C
ARUT-MARUT PERPOLITIKAN
INDONESIA
Radhar Panca Dahana, seorang budayawan dan cendekiawan
nasional, dalam sebuah opininya pada harian Kompas berjudul
Demokrasi Kusir Delman pernah mempromulgasikan sebuah kepayahan
atau distorsi akut terkait percaturan politik Indonesia. Demokrasi
sebagai sistem politik yang kita pakai dilukiskan sebagai sebuah delman
dengan kusir yang gelap identitasnya. Sementara itu, jutaan rakyat
yang berkendara di dalam delman tersebut hanya bisa pasrah, ketika
84
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
sang kusir mengatur dan membawa delmannya kemana saja. Mungkin
ke pelbagai mitos tentang mayoritas, hak-hak asasi, kedaulatan rakyat,
dll, yang sebenarnya adalah permainan simbolik manipulatif oleh
konspirasi para elit. Sehingga, usaha-usaha berdemokrasi di dalamnya
hanyalah sebuah aktus ilusif semata.1 Berikutnya, realitas ini determinan
terhadap regresivitas dalam proses pendemokrasian bangsa. Secara
gamblang, setiap kita telah menyaksikan kompleks permasalahan yang
menarasikan agenda hitam kriminalisasi politik oleh banyak aktor-aktor
politik dalam negeri. Diktum mengguritanya patologi korupsi pada level
kekuasaan adalah representasi paling nyata atas terdegradasinya kualitas
perpolitikan kita. Maraknya kasus korupsi telah membangun pesimisme
kolektif warga akan sebuah daya akomodasi politik yang bermoral. Dalam
artian, telah terbentuk sebuah predikasi kolektif masyarakat bahwa
politik dan praksisnya hanya dijangkarkan pada term ini, korupsi. Kasus
korupsi yang secara masif terjadi di Indonesia hemat kelompok berhulu
pada sebuah prima causa yakni kapitalisasi politik. Penjungkirbalikan
nilai serta relevansi politik negara kita saat ini dinarasikan dalam faktum
mengguritanya praktik korporasi yang kuat antara pemangku kekuasaan
dan pengusaha. Politik kita memang seringkali tercampuaraduk dengan
kepentingan modal. Ada korporasi intensif antara pionir parpol dan
pemilik modal yang berikutnya mengenduskan determinasi modal serta
kalkulasi keuntungan maksimal dalam akomodasi politik kita. Banyak
kasus korupsi dalam negeri kita yang berkedok kesepakatan senyap
dengan pemodal. Jelas bahwa pola relasi yang mengultuskan entitas
modal seperti ini akan menjadi prakondisi yang adequat bagi aneka
manifestasi kriminalisasi politik termasuk korupsi. Disini klaim Mark E
Warren (1999) dalam Democracy and Trust sebagaimana dikutip seorang
cendekiawan nasional, Max Regus bahwa serangan sistematis terhadap
1
Radhar Panca Dahana, “Demokrasi Kusir Delman”, Kompas, Kamis, 23 Januari 2014,
hlm. 6.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
85
demokrasi justru muncul dari salah satu stakeholder utama demokratisasi;
pada level kekuasaan, justru mendapat justifikasinya.2 Negativitas ini
berikutnya paralel dengan diktum regresivitas kredibilitas rakyat akan
sebuah perhelatan politik yang senantiasa dijangkarkan pada citacita volonto generale. Berdasarkan infografis yang dilansir Selasar.com
pada Februari 2015 lalu diafirmasi bahwa beberapa institusi pada level
kekuasaan dipersepsikan paling korup oleh rakyat. Kepolisian Indonesia
menempati posisi teratas dengan persentase sebesar 91% diikuti DPR
89% serta pengadilan dan Kejaksaan dan Parpol dengan persentase yang
sama yaitu 86%.3 infografis ini secara jelas telah mengafirmasi pesimisme
rakyat akan institusi-institusi dalam level kekuasaan. Berikutnya corak
pemerintahan kita yang tampak adalah penguatan sistem plutokrasi
dimana sistem politik dikuasai oleh pemilik modal/kapitalis.
II.KIPRAH KAUM MUDA; TINJAUAN
HISTORIS
Pada bagian ini akan dielaborasi peran serta rekam jejak militansi
berpolitik kaum muda berdasarkan fakta historis dan situasi kontemporer.
Siapakah pemuda dan apakah kepemudaan itu ? Mengutip pendapat
Dr. H.A.R. Tilaar tentang pertanyaan ini, Ir.H.Eddy Kurniady menulis:
Dalam khazanah ilmu pendidikan dan psikologi, pemuda dan
kepemudaan bukanlah topik yang baru. Malah seumur dengan ilmuilmu itu sendiri. Pendekatan–pendekatan dari segi pedagogis dan
psikologis menurut Tilaar, ditandai dengan satu sifat: Pemuda identik
dengan pemberontak: berani tapi pendek akal: dinamik tetapi sering
kali hantam kromo. Penuh gairah tetapi sering kali berbuat yang anehaneh. Pendek kata pemuda dan kepemudaan sama dengan romantik.
2
Max Regus, Tobat Politik Mengetuk Pintu Hati Kekuasaan (Jakarta Selatan: Pahresia
Institute, 2011), hlm. 77.
3
Alia Faridatus Solikha, “Stop Kriminalisai KPK”, Jurnal Youth Proactive, 2:1, hlm. 8.
86
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Masa yang menarik tetapi juga yang perlu dikasihani, setidak-tidaknya
dari kaca mata orang dewasa.4
Jelas sekali bahwa pemuda dipandang sebagai anggota masyarakat
yang keambivalenannya begitu mencolok. Pada satu sisi, pemuda
punya gairah yang begitu kuat untuk mengusung sebuah progresivitas.
Namun di sisi lain ternyata semangat pemuda ini juga dapat membawa
keresahan dalam masyarakat lainnya khususnya para golongan tua yang
lebih menyukai ketenangan dan pertimbangan matang dalam keputusan
- keputusan. Lebih lanjut, menurut Tilaar dari sifat pemuda yang
bertendensi subversif ini dapat timbul suatu konflik idealisme antara
golongan muda yang idealismenya non-paralel dengan apa yang ada (das
sein) atau yang terjadi sekarang sebagai manifestasi dari pretensi para
golongan tua. Namun, kita tak serta-merta memvonis bahwa militansi
para pemuda hanya dijangkarkan pada usaha mengamini pretensi ideal
mereka sendiri. Tidak sedikit kaum muda yang rela berjuang, memprotes
ketidakadilan, bahkan melawan aparat keamanan dengan risiko nyawa
mereka sebagai taruhan. Bagi mereka keadilan harus ditegakkan,
kebobrokan tak pantas dipertahankan. Satu hal yang mereka inginkan,
yaitu menciptakan tatanan kehidupan yang baik walaupun terpaksa
menentang mereka yang berkuasa.
Dalam tulisan ini, kita akan bernostalgia tentang bagaimana kaum
muda Indonesia punya andil yang besar bagi perkembangan bangsa
Indonesia khususnya dalam kancah perpolitikan yang penuh dengan
kontroversinya. Kita akan memutar ulang memori – memori lama tentang
tokoh-tokoh muda, momen-momen krusial, serta gerakan-gerakan yang
juga menjadi penentu perkembangan politik pada masa itu.
4
Ir. H. Eddy Kurniadi, PERANAN PEMUDA dalam PEMBANGUNAN POLITIK di INDONESIA
(Bandung: Penerbit Angkasa,1987), hlm. 17.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
87
2.1 P
ERJUANGAN KAUM MUDA PRAKEMERDEKAAN
Sejarah mengklaim bahwa peran kaum muda bagi pergerakan
nasional tidak bisa dianggap sepele. Momen krusial yang menjadi
tonggak bangkitnya semangat kaum muda untuk bergerak maju adalah
didirikannya organisasi model barat pertama milik Indonesia dengan
nama Budi Utomo pada 20 mei 1908. Organisasi ini diprakarsai oleh
dua orang mahasiswa dari STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandsche
Ambtenaren, sekolah keterampilan untuk dokter pribumi) R. Sutomo dan
R. Gunawan Mangunkusumo. Pada tahap awal berdirinya, bidang politik
bukanlah sasaran dari didirikannya organisasi ini. Beberapa ahli sejarah
menuturkan bahwa sesungguhnya Budi Utomo hanya memusatkan
perjuangannya bagi kesejahteraan kaum priyayi (priyayi sentris). Visi
yang kaku ini yang memunculkan rasa tidak puas pada anggota – anggota
lain khususnya kaum muda.5
Sejumlah pergerakan ternyata tak hanya berlangsung di dalam negeri
saja tetapi juga di luar negeri. Perjuangan di luar negeri ini dipelopori oleh
para mahasiswa Indonesia yang bersekolah di luar negeri, khususnya di
Belanda. Pada tahun 1908, didirikan sebuah perhimpunan mahasiswa
dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Adapun
berdirinya organisasi ini awalnya untuk mengusahakan kesejahteraan
para rakyat yang bertempat di Belanda pula untuk membangun hubungan
yang baik dengan Hindia Belanda itu sendiri. Beberapa waktu lamanya
Perhimpunan Hindia kemudian mengalami sebuah revolusi pemikiran
yang serba baru. Ini dikarenakan oleh bergabungnya tiga orang
pendiri Indische Partij, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Douwes Dekker,
dan Suwardi Suryaningrat (Ki hajar Dewantara). Pemerintah Belanda
mengasingkan mereka ke Belanda oleh sebab ketakutan akan ide-ide
5
Ibid., hlm. 29 – 30.
88
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
mereka yang cenderung mengajak rakyat untuk menentang belanda.
Dalam Perhimpunan Hindia, mereka banyak kali memberikan gagasangagasan pembaharuan yang mendorong para mahasiswa pada gerakan
radikalisme. Kehadiran mereka secara mendalam juga mengekspresikan
bagaimana Indische Vereeniging mampu berpartisipaasi dalam ranah
politik. Salah satu contohnya dengan terpilihnya beberapa anggota
indische Vereeniging sebagai anggota parlemen di Belanda pada tahun
1916 sebagai perwakilan Golongan Sosialis.6
Secara mendasar, turut bergabungnya mahasiswa Indonesia dalam
kegiatan - kegiatan politik yang ada di Belanda mempunyai suatu maksud
khusus yaitu aksi memberontak terhadap paternalisme kekuasaan
Belanda. Mereka merasa terinjak harga dirinya setelah dianggap bahwa
kearifan budaya mereka dianggap rendah oleh peradaban Eropa. Perihal
ini menumbuhkan keyakinan diantara para pemuda bahwa jalan satu
– satunya supaya harga diri mereka dapat kembali pulih adalah dengan
jalan kemerdekaan.
Tahun 1923, telah begitu banyak organisasi yang lahir hasil
pemikiran kaum muda Indonesia. Tetapi hal yang mesti dijadikan
perhatian adalah efek dari menjamurnya organisasi kepemudaan ini
yaitu semakin meningkatnya kesepahaman tentang kesatuan bangsa
diantara para pemuda Indonesia. Komitmen akan persatuan bangsa yang
mengesampingkan ideal-ideal kelompok sendiri ini kemudian berujung
pada lahirnya kongres pemuda yang pertama di Batavia pada tanggal 30
april – 2 Mei 1926 yang dipimpin oleh M. Tabrani. Kongres yang pertama
ini telah menjadi cikal bakal bagi peristiwa yang lebih penting dua tahun
setelahnya. Kokohnya nasionalisme dalam jiwa para pemuda membuat
banyak organisasi-organisasi baru lahir dan ikut berkecimpung dalam
atmosfer politik nasional. Diantaranya adalah PPPI dan “Jong Indonesia”
6
Ibid., hlm. 33.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
89
yang kemudian akan menjadi pemrakarsa lahirnya sumpah pemuda
1928.
2.2 P
ERJUANGAN KAUM MUDA ERA
KEMERDEKAAN
Perjuangan politik kaum muda pasca sumpah pemuda sebenarnya
dapat dipetakan pada beberapa periode tertentu seperti pada angkatan
1945 dalam usaha untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pada
babak orde lama kekuasaan yang tidak demokratis dan kontra produktif
dengan kesejahtraan rakyat berhasil dilengserkan melalui demonstrasi
Tritura tahun 1996. Pada bagian ini secara khusus akan dijelaskan peran
kaum muda pada babak orde baru dan transisi menuju reformasi pada
tahun 1998.
Pada masa Orde Baru keterlibatan serta partisipasi kaum muda yang
dianggap membahayakan kedigdayaan pemerintah serta propaganda
hegemoni tafsir dan bahasa yang dimainkan rezim Soeharto dianggap
sebagai yang “mengganyang kesatuan”. Sehingga, peran serta kaum muda
dibungkam berhadapan dengan otoritarianisme orde baru. Dalam artian,
intervensi kaum muda ke dalam sebuah aktus partisipasi politik secara
aktif terdeformasi kala berhadapan dengan tindakan represi pemerintah.
Dalam rezim orde baru fenomena ini dikenal sebagai frase normalisasi
kampus. Peran kaum muda terlimitasi hanya pada taraf kuliah dan
persoalan kampus dan persoalan politik menjadi diskursus yang tabu
diinterupsi kaum muda.
Walaupun agenda normalisasi secara adekuat dikembangkan
pemerintah, namun tetap ada usaha resisten dari kaum muda melalui
mahasiswa untuk secara frontal mengkritisi rezim orde baru yang bobrok.
Ada dua jalan yang diambil mahasiswa untuk memperkuat basis massa
dalam usaha mematahkan kediktatoran Soeharto dan orba. Pertama,
90
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dengan mengorganisasikan berbagai demonstrasi untuk advokasi kasus
rakyat yang terjadi pada beberapa daerah seperti Belambuan, Pandega,
dll. Kedua, dengan melakukan pengorgnisasian di dalam kampus, lewat
penambahan jumlah anggota gerakan untuk memberikan penjelasan
dan pengaruh kepada rakyat tentang kepincangan sistem, sebagai akar
segenap ketimpangan.7 Alhasil, demonstrasi besar-besaran yang terjadi
pada 21 Mei 1998 berhasil membonsai rezim orba dan mengonstruksi
gerakan reformasi. Usaha untuk berdemokrasi secara masif pun dimulai.
III.KAUM MUDA PASCA REFORMASI DAN
PESIMISME KOLEKTIF
Menyaksikkan militansi berpolitik kaum muda dewasa ini ketika
berhadapan dengan realitas politik yang ada, timbul sebuah diktum
pesimistik bahwa spirit berpolitik kaum muda mengalami regresi. Kaum
muda sepertinya telah kehilangan taring dan sikap militannya dalam
usaha perwujudan demokrasi. Peran serta dan partisipasi politik kaum
muda selama ini hanya berada dalam jangkar permukaan saja tanpa
benar-benar menyentuh akar masalah dan secara mapan membongkar
proyek kriminalisasi yang terjalin dalam khazanah politik pada level
kekuasaan. Dalam artian, fakta historis terkait partisipasi politik aktifkonstruktif kaum muda hanya menjadi romantisme masa lalu yang
spiritnya tak dipertahankan hingga kini. Terlepas dari pelbagai faktor dan
kompleksitas sebab, hemat kelompok realitas ini tentu bisa kita katakan
sebagai konsekuensi logis yang timbul oleh carut-marutnya wajah
perpolitikkan bangsa. Penjungkirbalikan relevansi serta nilai politik luhur
oleh para aktor-aktor politik kondang berjiwa kapitalis dan punya pretensi
oportunistik telah membumikan semacam pesimisme kaum muda untuk
7
Budiman Sudjatmiko, “Gerakan Mahasiswa Kini”, dalam Pusat Informasi Kompas (ed),
Demokrasi, Kekerasan, Disintegrasi (Jakarta: Penerbit Buku kompas, 2001).
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
91
terlibat secara aktif dalam ranah politik. Apalagi, agenda demokratisasi
yang kembali dilecuti semangatnya dalam reformasi 1998 tidak kunjung
membuahkan hasil. Realitas paradoksal ini dapat kita baca dalam konteks
partisipasi kaum muda pada pemilu 2014 lalu. Berdasarkan data “Survei
Pemilih Pemula Pada Pemerintah, korupsi, dan Pemilu 2014” oleh
Transparency Indonesia, diketahui bahwa sebagian dari total pemilih di
Indonesia merupakan generasi muda yakni mencapai angka 30 %. Survey
TI pada tahun 2014 kembali menyebutkan bahwa 77 % pemilih pemula
bersedia menggunakan hak suaranya dalam pemilihan presiden 2014.
Juga dalam pemilihan legislatif 2014, 63% pemilih pemula menyatakan
bersedia memberikan hak suaranya. Fenomena ini menandakan bahwa
antusiasme kaum muda dalam partisipasi politik cukup tinggi. Namun,
jika ditilik dari kesediaan menggali informasi politik, pemilih pemula
cenderung minim minat. Nyatanya, 48% mengaku jarang mencari
informasi tentang pemilu, 33% pemilih menyatakan tidak pernah, dan
sisanya mengaku sering mencari informasi.8 Pada dua fenomen ini dapat
ditarik benang merahnya. Partisipasi politik yang tidak didukung dengan
usaha menggali informasi politik dapat memengaruhi kualitas pilihan
politik juga. Terlepas dari menguatnya determinasi modernisme dan
pola hidup pragmatis dalam khazanah kehidupan global dewasa ini serta
rendahnya atensi pendidikan untuk menginternalisasi nilai-nilai politik
dalam subjek-subjek pendidikan bangsa, diktum terdistorsinya moralitas
politik serentak usaha mewujudkan demokrasi secara masif yang tak
kunjung membuahkan hasil bisa menjadi pra kondisi yang adekuat di
balik terdegradasinya kualitas militansi serentak partisipasi politik kaum
muda kita. Carut-marut politik kaum muda menjadi antitesis yang
membayangi interese kaum muda terhadap politik itu sendiri.
8
Apriliyati Eka Subekti, “Meritokranian: Generasi Muda
Berintegritas”, dalam Jurnal Youth Proactive 2, hlm. 23.
92
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Pelopor
Demokrasi
IV.AGENDA SOLUTIF; KEMESTIAN
BERPOLITIK KAUM MUDA
Situasi politik yang kian hari kian tidak menentu yang tampil dalam
variasi wajah kejahatan sistemik tidak pelak menimbulkan pesismisme
publik akan presensi, bahkan eksistensi negara Indonesia. Setelah lebih
dari tujuh dekade silam memproklamasikan kemerdekaan serentak
secara tegas membaptis diri sebagai penganut demokrasi, kita mesti
mengakui betapa sampai saat ini idealisme bersama menjadi negara
demokratis semakian jauh panggang dari api. Pasalnya, apa yang selalu
dipertontonkan di panggung perpolitikan bukannya faktum praksis yang
lahir dari roh demokrasi melainkan sebaliknya begitu banyak cedera
yang kontradiktif dengan paham itu. Lantas, tatkala berkonfrontasi
dengan carut-marut perpolitikan tersebut satu-satunya jalan pintas yang
membuat orang merasa nyaman adalah dengan menarik diri dari politik.
Carut-marut perpolitikan itu jugalah yang ditengarai menjadi sebab
keengganan kaum muda dalam berpolitik.
Problem partisipasi politik kaum muda menjadi santer didiskursuskan
lantaran saat ini absensi kaum muda dalam banyak model percaturan
politik hampir pasti sampai pada titik nadir. Survei Transparency
Indonesia (TI) tahun 2014 menunjukkan 48% pemilih pemula mengaku
jarang mencari informasi mengenai pemilu, 33% menyatakan tidak
pernah, dan sisanya mengaku sering mencari informasi.9 Fenomena
keengganan berpolitik kaum muda memang pantas untuk diantar ke
hadapan perbincangan publik. Jika ditelisik dari sisi historis, peran kaum
muda bangsa Indonesia tidak dapat dilepaspisahkan dari perjuangan
panjang mencapai kemerdekaan. Begitu banyak gerakan pemuda yang
mengambil bagian dalam bermacam cara untuk merebut kemerdekaan.
Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah
9
Ibid.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
93
perjuangan kaum muda bangsa Indonesia. Selain peristiwa bersejarah
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, militansi dan kualitas tekanan kaum
muda dalam berpolitik tidak diragukan lagi ketika pada medio 1998
silam mereka berhasil menurunkan Soeharto, sang penguasa rezim Orde
Baru yang melanggengkan kekuasaannya secara ‘brutal’ selama lebih dari
tiga puluh tahun. Dengan demikian, merupakan suatu hal yang wajar jika
banyak orang saat ini berada dalam ‘kecemasan’ kolektif, entahkah ‘taji’
kaum muda yang konon merebut kemerdekaan dibiarkan hilang begitu
saja atau mesti sesegera mungkin menepis keengganan ini.
Situasi kekinian perpolitikan Indonesia yang telah dipaparkan pada
bagian sebelumnya dari tulisan ini secara implisit mempertontonkan ke
hadapan kita alasan-alasan logis mengapa kaum muda serentak menarik
diri dari percaturan politik. Korupsi dan problem oligarki kekuasaan,
perselingkuhan pemerintah dengan kapitalis (pemodal), manipulasi
konstitusional, dan lain-lain menjadi alasan yang cukup kuat bagi kaum
muda untuk merasa tidak perlu terlibat dalam politik. Pertanyaan yang
mungkin mencuat ialah, untuk apa berpolitik jika hanya untuk melayani
nafsu kekuasaan penguasa yang menekan lalu mengubur dalam-dalam
idealisme kaum muda?
Berhadapan dengan situasi krisis partisipasi kaum muda dalam
percaturan politik, adalah sangat bijaksana apabila kita secara bersamasama memikirkan beberapa alternatif solusi yang mungkin dalam rangka
menepis keengganan kaum muda tersebut.
Adalah Aristoteles, seorang filsuf termasyur Yunani kuno, yang
secara khusus melihat pentingnya partisipasi politik setiap warga negara.
Salah satu doktrin terkenal dari filsuf yang hidup antara tahun 385-322
ini adalah bahwa manusia adalah makhluk politik. Makhluk politik (Zoon
Politikon) secara harafiah berarti binatang yang hidup dalam sebuah polis
atau ‘polis animal’. Menurutnya, dari awal, manusia memiliki dorongan
94
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
politis yang menggerakkan mereka ke arah kehidupan bersama.10
Dengan kata lain, secara teleologis, manusia di dalam dirinya memang
mengandung suatu tujuan alamiah untuk senantias hidup bersama dalam
sebuah komunitas politik. Lebih lanjut, Aristoteles menandaskan bahwa
partisipasi politik merupakan suatu hal penting karena akan mengantar
manusia pada kebahagiaan sebagai tujuan utama hidupnya. Seperti
dikutip Koten, argumen ini didasarkan pada dua klaim utama.11
Pertama, Aristoteles menggambarkan manusia sebagai zoon politikon
atau makhluk politis. Manusia secara alamiah cocok bagi kehidupan
polis dan dapat mengembangkan potensi secara penuh hanya dengan
hidup dalam sebuah komunitas politis dan moral dengan yang lain.
Kedua, Aristoteles mendefinisikan kewarganegaraan sebagai syering
dalam tugas deliberatif dan yudisial. Hanya dengan menjadi anggota
aktif dari sebuah polis yang terorganisir secara baik, manusa dapat
menghidupi kehidupan yang penuh dan merealisasikan secara penuh
segala potensinya. Dengan kata lain, karena manusia secara alamiah
politis, mereka dapat memenuhi potensi alamiahnya dan menjadi
bahagia hanya dengan menjadi anggota sebuah komunitas politis
dan terlibat aktif di dalamnya. Lewat berpartisipasi dalam politik,
manusia memanfaatkan kemampuan distingtifnya, yaitu akal budi
dan berbicara.
Adapun solusi yang mungkin dalam rangka menepis keenganan
kaum muda dalam berpolitik yaitu: Pertama, mendorong optimisme
kaum muda dengan stimulus-stimulus edukatif, misalnya mengadakan
seminar. Membangun optimisme kaum muda dalam rangka menepis
keengganan berpolitik dapat dilakukan dengan mengadakan rangsangan
edukatif. Dengan kata lain, pendidikan politik berpotensi menjadi
10
Yosef Keladu Koten, Partisipasi Politik Sebuah Analisis Atas Etika Politik Aristoteles
(Maumere: Ledalero, 2010), hlm. 156-157.
11
Richard Mulgan, “Aristotle and the Value of Politic Participation”, dalam Political
Theory (Vol. 18, 1990) dikutip Yosef Keladu Koten, op. cit., hlm. 11.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
95
pendidikan penyadaran bahwa kaum muda tidak boleh begitu saja
menarik diri dari perpolitikan. Sebab seberapa pun hancur negara, kaum
muda tetap akan menjadi generasi penerus yang tidak mungkin mengelak
dari realitas politis. Rangsangan akademik yang diberikan kepada kaum
muda diharapkan mampu membangun kesadaran baru, merekonstruksi
pemahaman mereka tantang kotornya politik. Dalam kaitan dengan hal
ini, perguruan tinggi menjadi suatu wadah dengan peran paling sentral
mengingat kebanyakan kaum muda juga berafiliasi dalam kampuskampus. Maka, strategi paling efektif untuk menumbuhkan minat kaum
muda adalah dengan mendorong terciptanya situasi ilmiah, di mana
kampus benar-benar menjadi miniatur masyarakat yang di dalam dan
dari dalamnya mahasiswa dapat berpolitik. Menulis di media massa
adalah contoh konkret yang dapat dibuat. Selain itu, pendidikan politik di
kampus juga diharapkan menciptakan figur kaum muda intelektual yang
tidak hanya tahu berkoar-koar dan melakukan anarkisme demonstrasi
di jalanan tetapi lebih dari itu menekankan soal kedalaman pemahaman
dan daya kritis atas situasi politik.
Kedua, menepis keengganan kaum muda juga dapat dilakukan
dengan memfasilitasi partisipasi politik kaum muda secara lebih
terstruktur. Dalam kaitan dengan hal ini, adalah penting membangun
suatu kekuatan organisatoris kaum muda yang menjadi wadah perjuangan
kolektif mereka dalam perpolitikan. Roh Sumpah Pemuda 1928 silam
mestinya menjiwai pelbagai organisasi kaum muda sehingga idealisme
bersama dapat tertampung lalu menjadi suatu kekuatan kolektif yang
besar dan berpengaruh bagi kiprah politik negara Indonesia. Partai
politik merupakan salah satu institusi politik yang berpotensi mewadahi
partisipasi politik kaum muda.
Ketiga, regenerasi atau kaderisasi politik penting untuk dilakukan
mengingat generasi muda bangsa terbukti potensial dalam menggerakkan
96
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
roda perpolitikan. Kaderisasi politik merupakan sebuah keharusan
ketika peran kaum tua tidak lagi dapat diandalkan, terutama karena
kebanyakan skandal politik dilakukan kaum tua. Hal ini memang cukup
sulit, mengingat nantinya akan terjadi perang ide konservatisme kaum
tua yang cenderung mempertahankan status quonya dan ide progresif
revolusioner kaum muda yang ingin berubah. Otoritas kaum tua sejauh
ini sangat menentukan. Kaderisasi kaum muda, terutama yang terjadi
dalam ruang lingkup partai-partai politik, lebih berciri pragmatis bahkan
feodalistik dengan adanya dinasti politik dalam parpol.
V. PENUTUP
Usaha kaum muda dalam memanifestasikan hendaknya menjadi
sebuah kemestian militansi yang perlu digalakkan sekarang. Kaum muda
sebagai pelecut api intelektual tak bisa hanya terpekur pasif berhadapan
dengan konstelasi politik yang tak kunjung menempatkan kerangka
demokratisasi senagai keutamaan. Kaum muda punya tanggung jawab
untuk mengganyang pesimisme publik atas distorsi politik yang telah
mewujud menjadi sebuah prevalensi kolektif.
Kelas 1 Kelompok A — Kaum Muda dalam Kekacauan Politik: ...
97
DAFTAR PUSTAKA
Dahana, Radhar Panca. “Demokrasi Kusir Delman”. Kompas, 23 Januari
2014.
Koten, Yosef Keladu. Partisipasi Politik Sebuah Analisis Atas Etika Politik
Aristoteles. Maumere: Penerbit Ledalero, 2010.
Kurniadi, Ir. H. Eddy. Peranan Pemuda dalam Pembangunan Politik di
Indonesia. Bandung: Penerbit Angkasa,1987.
Mulgan, Richard. “Aristotle and the Value of Politic Participation”,
(Political Theory, Vol. 18, 1990) dalam Yosef Keladu Koten.
Partisipasi Politik Sebuah Analisis Atas Etika Politik Aristoteles.
Maumere: Penerbit Ledalero, 2010.
Regus, Max. Tobat Politik Mengetuk Pintu Hati Kekuasaan. Jakarta
Selatan: Pahresia Institute, 2011.
Solikha, Alia Faridatus, “Stop Kriminalisai KPK”. Jurnal Youth Proactive,
Vol. 2.
Subekti, Apriliyati Eka. “Meritokranian: Generasi Muda Pelopor
Demokrasi Berintegritas”.s Jurnal Youth Proactive, Vol 2.
98
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
MENILIK URGENSI
MAHASISWA DALAM
RANAH POLITIK 1
(Pembentukan Diri Mahasiswa: Dari Desakralisasi
menuju Sakralisasi Politik)
Rio Nanto2
I. PRAWACANA
D
alam lajur histori hingga era masa kini, kontribusi mahasiswa masih
diharapkan dalam mengusung agenda perubahan sosial. Posisi,
peran, dan pelbagai keunggulannya menjadikan mahasiswa sebagai agen
perubahan (agent of change). Mahasiswa memiliki modal kecakapan
intelektual sebagai landasan kritis untuk melakukan terobosan.
Pada tahun 1908, mahassiwa menjadi pelopor kebangkitan nasional.
Mahasiswa angkatan 1928 menjadi aktor sumpah pemuda yang
menyatukan tendensi-tendensi kedaerahan dalam unitas berbangsa,
berbahasa, dan bertanah air. Angkatan 1945 mengantar Indonesia
1
Tulisan ini merupakan materi seminar untuk kelas I Ruangan II pada 17 Oktober 2016.
2
Penulis adalah mahasiswa semester 1.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
99
ke pintu gerbang kemerdekaan. Pada tahun 1966, mahasiswa yang
terorganisasi mampu menggulingkan rezim Soekarno. Otoritarianisme
negara berupa pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup
mendapat perlawanan dari mahasiswa. Selain itu, banyak lagi tindakan
yang menyimpang atau menyeleweng dari ketentuan Undang-Undang
Dasar. Misalnya pada tahun 1960, Ir. Soekarno sebagai presiden
membubarkan DPR hasil pemilu, padahal dalam penjelasan UUD 1945,
secara eksplisit ditentukan bahwa Presiden tak mempunyai wewenang
untuk berbuat demikian.3
Hal yang sama terulang dalam Orde baru dengan tumbangnya
rezim Soeharto yang mampu menghantar Indonesia pada babak politik
reformasi. Namun, usaha ini menuntut darah mahasiswa sebagai kuitansi
pengesahan menuju babak politik yang baru tersebut. Hal ini bisa diamati
dalam pelbagai kasus4 seperti; Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998, Peristiwa
Semanggi I, 13-14 November 1998 dan Semanggi II, 23-24 September
1999 juga beberapa kasus lain yang menuntut nyawa mahasiswa. Bagi
mereka, pembangkangan terhadap seruan pemerintah yang kehilangan
legitimasi merupakan sebuah identitas baru yang disemat5. Pada akhirnya
revolusi demokrasi yang dipelopori oleh mahasiswa itu menuntaskan
sejarah baru dalam politik Indonesia di mana Soeharto mengundurkan
diri pada 21 Mei 1998 di hadapan bangsa Indonesia. Revolusi demokrasi
itu melegitimasi tiket check in menuju babak politik baru bernama era
reformasi. Masa ini menjamin perubahan basis material bagi kebebasan
3
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2012), p. 130
4
Nama-nama korban peristiwa tersebut antara lain Heri Hartanto, Elang Mulia
Lesmana, Hendriawan Sie, dan Hafidhin A. Royan (Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998);
Sigit Prasetyo, B. Realino Norman Irmawan, dan Teddy Mamadi ( Peristiwa Semanggi
I, 13-14 November 1998); Yap Yun Hap, dan Dani Yulian (Peristiwa Semanggi II, 23-24
September 1999)
5
Ibid,.
100
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dan melanggengkan kesetaraan politik.
Pengalaman sejarah itu membuktikan bahwa peran mahasiswa
sangat urgern dalam memperjuangan kepentingan politik. Melalui tulisan
sederhana ini, penulis menganalisis peran mahasiswa dalam menyibak
tirai desakralisasi politik yang telah kehilangan spirit reformasi. Selain
itu berhadapan dengan mental mahasiwa reformasi yang mengalami
paradoks kepentingan, akan ditawarkan pembentukan diri mahasiswa
dalam membentuk kedirian mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa.
II. DESAKRALISASI POLITIK
Esensi sakralitas politik mengalami dekadensi masif dalam format
politik Indonesia pada era kekinian. Politik tidak lagi menjadi instrumen
suci untuk mengabdi pada kesejahteraan umum. Politik diprivatisasi
untuk kepentingan parsial, pragmatis dan opurtunis dari elite kekuasaan.
Politik menjadi rahim yang melahirkan ketidakadilan multidimensi
kehidupan. Rakyat menjadi korban kebijakan politik. Sampai di sini
kita mengafirmasi bahwa politik telah didekonstruksi dan direduksi
untuk kepentingan elite yang memilki posisi strategis dan bersyahwat
kekuasaan.
Para politisi tampil di panggung politik dengan mempertontonkan
perilaku deviatif dan kontroversial. Hospitalitas ditunjukkan menjelang
perhelatan pemilu. Para politisi ‘merayu’ rakyat dengan janji-janji politik,
tetapi ketika menduduki jabatan strategis, rakyat dieksploitasi untuk
kepentingan ekonomi. Hal ini jamak terjadi dalam realitas politik dan
membuat rakyat mengidap “trauma politik”. Alasannya, politik telah
melupakan spirit dasar sebagai empati sosial yang mengabdi pada
kesejahteraan umum.
Dalam artikelnya “Merenungkan Keindonesiaan” Suwidi Tono
menuliskan kegelisahan politik Indonesia bahwa lanskap politik nasional
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
101
– lokal menampilkan pertanda buruk: mahal, permisif, gaduh, karbitan,
legitimasi rendah, tidak menumbuhkan optimisme dan mulai timbul
gejala feodal.6 Meminjam istilah Featherstone, dunia perpolitikan kita
menjadi dunia seolah-olah (virtual reality). Dibuat negara demokrasi
tetapi nepotisme bertumbuh subur. Fokus pada divestasi, namun
kebanyakan memperkaya kantong pribadi. Target pemberantasan
korupsi namun selalu ada jalan untuk berkonspirasi dengan koruptor.7
Maka benarlah dalam hal ini peringatan Lord Acton bahwa power tends
to corrupt, absolute power corrupts absolutely telah menjadi panorama
kekuasaan dalam lanskap politik Indonesia. Paham rule of law dalam
konteks politik Indonesia menjadi rule of man karena kepentingan
segelintir orang menjadi representasi kepentingan publik.8 Secara
intensif berbagai akrobat politik dipertontonkan tetapi secara substansi
menyangkal dan mengingkari realitas. Skenario semacam ini terus
digelar dan dipertontonkan dalam panggung politik negeri ini.9
Revolusi mental yang selalu menjadi jargon Jokowi menuai kehampaan
dan minus realisasi praksis. Bahkan rezim Jokowi telah mencetuskan
revolusi negatif yang menuai erosi harapan. Yang paling krusial proses
pendarahan harapan adalah korupsi10 yang kian kompleks dan mengerikan.
6
Kompas, Rabu 30 Desember 2015
7
Isidorus Lilijawa, Perempuan, Media dan Politik (Maumere: Ledalero, 2010), p. 217
8
Janedjri M. Gaffar, Demokrasi Konstitusional – Praktik Ketatanegaraan Indonesia
setelah Perubahan UUD 1945 (Jakarta: Konstitusi Press, 2012), p. xiii
9
Kompas, 14 Juni 2011
10
Data ICW tahun 2015 Tentang penanganan kasus korupsi ini berdasarkan wilayah di
Indonesia yang dibeberkan oleh Koordinator Divisi Kampanye Publik ICW Tama S.
Langkun. ICW mengurutkan 10 besar Provinsi terkorup, mulai dari Jawa Timur dengan
52 kasus dan kerugian negara Rp. 332, 3 miliar, disusul secara berturut Sumatera
Utara 43 kasus dan kerugian negara Rp 206,9 miliar, Jawa Barat 32 kasus dan kerugian
negara Rp. 72,1 miliar, NTT 30 kasus dan kerugian negara 26, 9 miliar, Jawa Tengah 26
kasus dan kerugian negara Rp. 98 miliar, Riau 22 kasus dan kerugian negara Rp. 323,
3 miliar, Lampung 22 kasus dan kerugian negara Rp. 14,9 miliar, Sulsel 21 kasus dan
kerugian negara Rp. 942 miliar, Sumatera Selatan 20 kasus dan kerugian negara Rp.
41,2 miliar, Sumatera Barat 19 kasus dan kerugian negara 45, 2 miliar.
102
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Pemberantasan korupsi dalam nawacita hanyalah utopia semu. Dalam
situasi kusut ini, berbagai agenda masuk dan memengaruhi kebijakan
publik. Ketimpangan ekonomi muncul sebagai konsekuensi asimetris
aspirasi politik. Satu persen orang terkaya Indonesia menguasai 50,3
persen keuangan nasional. Sepuluh persen penduduk terkaya menguasai
77 persen aset nasional, terutama dari sektor keuangan dan properti.11
Kapitalisasi politik dalam kasus papa minta saham yang didalangi
oleh Novanto menambah kehancuran esensi sakralitas politik. Konsep
kedirian sempit menjadikan kepentingan diri dan kelompok sebagai pusat
kehidupan. Demi pencapaian kepentingan diri, segala upaya dilakukan
mulai dengan cara halus hingga vulgar serta melawan kewarasan publik.
Kekuatan-kekutatan politik mengalahkan pernyataan nilai.12
Kecenderungan politik ini yang melupakan aspek utama (publik),
dengan segala kerumitan problem sosial ekonomi paling konkret,
menyiratkan perusakan demokrasi secara masif. Mencuat suatu infeksi
politik13 - Menurut Max Regus. Istilah Ivan Pavlov, pakar behaviorisme
peraih nobel asal Rusia: salivasi (salivate), selera menggiurkan, yang
meneguhkan semangat perubahan. Yang dilakukan dalam politik
Indonesia malah merusak refleks-refleks yang dikondisikan (conditioned
reflexes) masyarakat untuk tetap menjadikannya impian bagi Indonesia
baru.14 Kondisi ini membuat rakyat mengidap ‘trauma politik’. Rakyat
menghukum politik dengan apatisme dan anarkisme. Rakyat menaruh
skeptisisme pada politik. Politik menjadi identik dengan intrik-intrik
busuk, kotor dan menjijikkan.
11
Kompas, 9 Desember 2015
12
Kompas, 14 Desember 2015
13
Max Regus, Tobat Politik, Mengetuk Pintu Hati Kekuasaan, Membongkar Krisis
Demokrasi Tripolar (Jakarta: Parrhesia Institute, 2011), p. 38
14
Teuku Kemal Fasya, “Anomali Demokrasi Jokowi,” dlm.: Opini Kompas, 2 Mei 2015.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
103
III.MAHASIWA DAN POLITIK: REJUVINASI
SAKRALITAS POLITIK
Diskurusus politik menjadi suatu tema yang menarik karena
menyangkut kebijakan umum yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Pada hakikatnya politik memiliki 3 dimensi yakni policy, politics dan
polity.15Policy dalam arti luas berarti tindakan politik di segala bidang
dan mencakup arah, sasaran, isi dan program politik. Pelakunya adalah
politisi, organisasi dan pelaku masyarakat sipil seperti buruh, umat
beragama dan LSM. Politics merujuk pada tindakan politik dalam arti
sempit. Pelakunya adalah politisi, partai dan aparat negara. Sedangkan
polity menunjuk pada subsistem politik yang berkaitan dengan kerangka
tata institusional beserta struktur aturan main. Inilah esensi sakralitas
politik yang mengabdi pada kebaikan umum.
Namun pada tataran praksis esensi politik di Indonesia menjadi sumber
legitimasi monopoli kekuasaan. Politik menjadi kuda tunggangan dalam
menyuburkan patologi birokrasi, korupsi dan monopoli kebijakan destruktif.
Secara kasat mata politik telah membumikan tesis Niccolo Machiavelli
(1469-1527) bahwa “politik demi politik serta prinsip tujuan menghalalkan
cara”.16 Para politisi tampil sebagai Mafioso yang merasionalkan kepentingan
pragmatis-individual di atas kepentingan rakyat.
Fenomena desakrilitas politik inilah yang mendominasi lanskap
politik reformasi. Berhadapan dengan persoalan ini dibutuhkan
sinergisitas setiap komponen bangsa untuk mengusung kembali
sakralitas politik. Bahwasanya politik pada galibnya menjadi instrumen
pencapaian kesejahteraan umum.
15
Mathias Daven, Politik Pembangunan: Telaah Etis (ms) (STFK Ledalero: Maumere,
2014), p. 16.
16
Frans Ceunfin, Sejarah Pemikiran Modern I (ms) (STFK Ledalero: Maumere, 2003),
pp.32-33.
104
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Salah satu komponen penting dalam menggagas perubahan itu
adalah mahasiswa. Peran mahasiswa sangat besar dalam lajur histori
sejak kebangkitan Indonesia 1908 hingga sekarang ini. Mahasiswa adalah
kaum intelektual yang memiliki wawasan luas dan kecakapan akademis
mumpuni. Melalui pelbagai pengetahuan di perguruan tinggi dia menjadi
guardian of value dan agent of change dalam kehidupan berbangsa.
Berhadapan dengan fenomena politik Indonesia yang carut marut,
mahasiswa dapat mengusung perubahan dengan memberikan solusi
yang tepat. Mahasiswa memang identik dengan pemuda. Namun, tidak
semua pemuda berkesempatan mengenyam pendidikan di perguruan
tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa sendiri menanggung beban moral
yang lebih dalam memajukan bangsa. Jumlah pemuda yang menyandang
status mahasiswa sekitar 23% dari usia 18-23 tahun. Jumlah ini cukup
jika seluruh mahasiswa melaksanakan perannya dengan professional
di bidangnya masing-masing.17 Adapun usaha kritis mahasiswa dapat
dilaksanakan melalui seminar, diskusi dan penelitian.
Selain kegiatan ilmiah, gerakan mahasiswa juga dapat dilaksanakan
dalam bentuk petisi, pernyataan dan protes. Sejarah mencatat bahwa
usaha ini mampu menciptakan perubahan kebijakan politik. Mahasiswa
dapat melakukan gerakan untuk mengungkapkan aspirasi dari rakyat.
Gerakan mahasiswa ini merupakan bagian dari partisipasi politik yang
bertujuan untuk mempengaruhi atau mengubah kebijakan negara
yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Dengan kata lain, gerakan
massal mahasiswa adalah suatu aktivitas yang berintensi mengubah
tatanan kehidupan masyarakat. Menurut Gabriel Almond unjuk rasa
atau gerakan mahasiswa merupakan bagian dari partisipasasi politik
non-konvensional.18 Gerakan mahasiswa yang merupakan bagian dari
17
Novi Maulina, “Mahasiswa dan Permasalahan Bangsa”, dalam Belanja.Com, http://
www.blanja.com/kp/pesta-diskon, diakses pada 9 November 2016.
18
Gabriel Almond membagi partisipasi politik ke dalam dua bentuk, yaitu: (1) bentuk
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
105
gerakan sosial yang didefiniskan Nan Lin sebagai upaya kolektif untuk
memajukan sebuah masyarakat.19 Bahkan Erik Hoffler menilai gerakan
sosial bertujuan mengadakan perubahan.
Menurut Suwondo, secara garis besar ada dua pendekatan untuk
memahami gerakan mahasiswa, yaitu: (1) pendekatan kultural; (2)
pendekatan struktural. Pendekatan kultural melihat bahwa munculnya
gerakan mahasiswa berkaitan dengan perubahan sosial akibat modernisasi
di mana dalam perubahan tersebut terjadi transfer nilai-nilai politik,
pengetahuan dan sikap politik akibat adanya sosialisasi politik, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pendekatan struktural
melihat gerakan mahasiswa sebagai reaksi terhadap kesenjangan sosial
yang terjadi dalam masyarakat. Adanya kondisi tersebut menyebabkan
mahasiswa melakukan gerakan menuntut perubahan agar kesenjangan
tersebut berubah menjadi adil dan sejahtera. Gerakan mahasiswa kerap
disebut sebagai gerakan moral (moral movement). Sebagai gerakan
moral, apa yang dilakukan oleh mahasiswa adalah upaya menyuarakan
kebenaran universal, menolak segala bentuk pelanggaran HAM,
penindasan, kesewenang-wenangan, kezaliman dan otoritarianisme
kekuasaan. Gerakan moral adalah pernyataan politik yang bersisi kekuatan
moral (moral force). Selain gerakan moral, gerakan yang dilakukan oleh
mahasiswa juga ada yang bersifat politis, sehingga disebut sebagai gerakan
politik. Gerakan mahasiswa disebut sebagai gerakan politik karena tujuan
konvensional; (2) bentuk non-konvensional. Partisipasi politik konvensional antara
lain partisipasi politik dalam bentuk ikut dalam organisasi partai politik, menghadiri
kampanye, memilih dalam pemilu, kontak pribadi secara langsung dan lobi politik.
Sedangkan partisipasi politik nonkonvensional adalah partisipasi dalam bentuk unjuk
rasa atau demonstrasi, gerakan massa, kudeta, revolusi dan pembunuhan politik.
Lihat Gabriel Almond, “Sosialisasi, Kebudayaan, dan Partisipasi Politik”, dlm.: Mochtar
Ma’oed dan Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik (Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 1990).
19
Nan Lin, “Social Movement” dlm.: Encyclopedia of Sociology (New York: MacMillan
Publishing Company, 1992), p. 1880.
106
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dari gerakannya berkaitan dengan kepentingan politik dan ideologi. 20
Peran mahasiswa sebagai penggerak gerakan moral dan gerakan
massa untuk mendorong reformasi politik adalah bagian dari tanggung
jawab nyasebagai kaum intelektual. Keberhasilan dan efektifitas gerakan
mahasiswa menurut Orum sangat tergantung dari tiga faktor, yaitu:
(1) organisasi, (2) doktrin atau ideologi gerakan, dan (3) aksi-aksi
demonstrasi terhadap penguasa.21 Doktrin atau ideologi dikatakan
baik apabila memenuhi kriteria; (1) dapat meningkatkan antusiasisme
dan komitmen mendukung kegiatan politik; (2) dapat menciptakan
kelompok yang lebih terorganisasi; (3) dapat mengubah atau menguasai
organisasi-organisasi yang ada.22 Sementara organisasi mahasiswa dinilai
sangat efektif dibanding organisasi lainnya dalam melakukan gerakan
karena memiliki empat ciri (1) cenderung tertutup, (2) berbentuk faksifaksi, (3) sentralisasi kekuasaan, dan (4) aksi-aksi gerakan dan strategi
perjuangan yang harus dilakukan. Akan tetapi faktor lainnya yang
juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan gerakan mahasiswa
adalah aspek harapan dan ketidakpuasan individu mahasiswa terhadap
kelompok yang ditentangnya, yang dibangun oleh para politisi partai
politik, saat konsolidasi politik berlangsung.
IV. M
EMBANGUN MAHASIWA BARU:
SUATU KENISCAYAAN
Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan bangsa.
Namun, pada era masa kini banyak mahasiswa yang apatis, individualis dan
20
Iwan Gardono Sujatmiko, “Dampak Reformasi,” dlm.: Selo Soemardjan, Kisah
Perjuangan Reformasi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), pp. 261-266.
21
Orum, Introduction to Political Sociology; The Anatomy of the Body Politics (New Jersey:
Printice Hall, Inc, 1983), pp. 314-317.
22
Simamora (ed), Pembangunan Politik dalam Perspektif (Jakarta: Bina Aksara,1985), pp.
229-231.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
107
hedonis. Mereka memang punya kadar nilai akademik dengan kuantitas
IPK yang tinggi, tapi miskin daya kritis. Selain itu, mahasiswa cenderung
terlibat dalam aksi kekerasan yang berujung pada tawuran antara kampus,
maraknya perilaku seks bebas yang berdampak pada kehamilan di luar
nikah, aborsi, dan mengidap HIV/AIDS. Menurut data yang dihimpun
oleh BKKN terdapat 2, 3 juta kasus aborsi setiap tahun. Dari jumlah itu
30% adalah remaja yang berumur 19-25 tahun.23 Hal yang tak kalah
parahnya adalah mahasiswa cenderung mengkultuskan budaya kekerasan
dalam berdemonstrasi. Mereka mengidentikan demonstrasi dengan
membakar ban, memukul petugas dan tindakan anarkis lain bila negosiasi
tidak memenuhi keinginan mereka. Situasi ini berbeda dengan mahasiswa
di era reformasi yang berjuang membela kebenaran, menjunjung tinggi
persatuan dan memperjuangkan kebebasan walaupun nyawa menjadi
taruhannya.24 Oleh karena itu, menurut M. Hatta tugas perguruan tinggi
adalah membentuk insan akademis yang memiliki sense of crisis dan selalu
mengembangkan dirinya. Insan akademis yang memiliki sense of crisis akan
sangat peka dan peduli terhadap kondisi bangsanya sehingga mereka kerap
terdorong untuk menemukan solusi-solusi terhadap masalah tersebut.
Insan akademis selalu mengembangkan dirinya dengan mengembangkan
hard skill dan soft skill agar tercipta penerus bangsa yang berkualitas dan
mampu membawa kemajuan untuk bangsanya. Sekurang-kurangnya ada
beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti untuk menjadi seorang mahasiswa
yang berkualitas, yakni:
Pertama, pendidikan agama. Menurut Radcliffle Brown, agama
adalah salah satu bentuk ekspresi ketergantungan pada kekuatan di
23
Http. Kompas com. 2,3-juta-kasus-aborsi-di-kalangan-remaja. Diakses 24 September
2016
24
Kasus Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ada 4 mahasiswa meninggal; dalam Tragedi
Mei 1998, ratusan orang bahkan ribuan orang meninggal terbakar; dalam Tragedi
Semanggi I 13 November 1998, puluhan orang meninggal, di antaranya enam
mahasiswa; dalam Tragedi Semanggi II 24 seorang mahasiswa meninggal dunia.
108
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
luar diri sendiri yakni kekuatan yang dapat dikatakan sebagai kekuatan
spiritual atau kekuatan moral.25 Melalui pendidikan agama, moralitas
mahasiswa bisa terbentuk sehingga mampu membedakan hal yang
baik dan buruk. Menurut Dorma Kesuma perlu ada distingsi antara
kesadaran moral dan pengetahuan nilai moral.26Kesadaran moral
mempersyaratkan kemampuan menangkap langsung nilai moral dari
sebuah objek. Adapun pengetahuan nilai moral adalah kemampuan
yang terbentuk setelah orang belajar teori-teori nilai (bukan peristiwa
konkret) dalam rangka memahami teori-teori tersebut termasuk
memahami karakter. Melalui pendidikan agama diharapkan terbentuk
kesadaran moral yang termanifestasi dalam perbuatan moral.
Kedua, pendidikan Pancasila. Pancasila adalah pandangan hidup
bangsa Indonesia sejak beratus-ratus tahun sekaligus merupakan
rumusan filsafat politiknya. Sebagai pandangan hidup yang berakar
dalam kebudayaan Indonesia, Pancasila merupakan pandangan hidup
bangsa yang selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu kontinuitas nilainilai dan cita-cita. Dalam Pancasila terdapat nilai-nilai yang melandasi
kehidupan seperti toleransi, pluralisme, ketuhanan, demokrasi dan
keadilan. Dalam praksisnya begitu banyak kasus yang melanggar nilainilai Pancasila seperti korupsi, konflik agama, ras dan kebudayaan.
Hal ini karena kekayaan nilai Pancasila belum diinternalisasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Selain karena kurang sosialisasi juga
karena pembangkangan terhadap Pancasila. Pendidikan Pancasila
mengandaikan ada dua hal lagi, yakni: 1). Pendidikan Multikulturalisme.
Multikulturalisme tidak serta merta dimengerti sebagai ketersandingan
pluralitas pluralitas kultur, ragam etnis, perbedaan tradisi religius
beserta potensi konfliktualnya. Multikulturalisme sebaiknya dimengerti
dalam artian bahwa setiap kultur-kultur memiliki nilai yang tidak dapat
25
Bernard Raho, Sosiologi (Maumere: Ledalero, 2014), p.235.
26
Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di Sekolah
(Bandung: Rosda,2011), p. 72.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
109
dinegosiasi begitu saja. Alasannya setiap nilai mengandung unsur internal
yang berkenaan dengan martabat manusia.27 Karena itu mahasiswa
juga perlu dibekali dengan pendidikan multikulturalisme. Pendidikan
ini harus mengembangkan “semua kapasitas mahasiswa untuk melihat
diri mereka sebagai members of a heterogenous nation…..serta sanggup
memahami dimensi historis dan karakter dari kelompok-kelompok yang
tidak dikenal.”28
Dewasa ini pelbagai persoalan bangsa yang berujung pada kekerasan
fisik menjadi semacam ideologi baru. Ada sikap diskriminasi rasial yang
mendiskreditkan kelompok lain. Persoalan ini begitu sensitif dalam
konteks keberagaman di Indonesia. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali
pemahaman tentang “realitas diferensiasi” dalam rasa, budaya, agama
dan suku. Hal tersebut mengandaikan ruang publik mahasiswa ditata
dengan nuansa merayakan perbedaan agar semua orang menghargai
“keberlainan” orang lain sebagai sesuatu realitas faktual.
2). Pembudayaan Kejujuran. Pada tataran sosial persoalan korupsi
akhir-akhir ini menjadi sebuah trend dalam belantika perpolitikan
Indonesia.Pada tanggal 14 September 2016 lalu, KPK menangkap
Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Irman
Gusman, di rumah dinas kompleks pejabat tinggi negara Jalan Denpasar
Raya Blok C3 No. 8 Jakarta Selatan. Dia diduga menerima suap dari dua
orang pengusaha sebesar 100 juta29.
Hal ini bukanlah suatu peristiwa baru dalam birokrasi Indonesia.
Banyak pemimpin memiliki idealisme tinggi sebelum menduduki
suatu jabatan publik. Tapi tidak bisa bertahan lama ketika masuk dalam
27
Felix Baghi, Redeskripsi dan Ironi, Mengolah Cita Rasa Kemanusiaan (Maumere:
Ledalero, 2014), p.154
28
Ibid.
29
Kompas, 16 September 2016.
110
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
birokrasi karena serangan penyakit koruptif yang kompleks. Tersisa tiga
opsi yaitu birokrat itu menjadi bagian dari sistem yang sakit, dianggap
pesakitan karena tidak menjadi bagian dari sistem atau keluar dari
sistem birokasi. Reformasi birokrasi yang menjadi jargon utama pasca
lengsernya Soeharto telah kehilangan gema. Demokrasi kita telah
terinfeksi korupsi. Seturut penemuan Mark. E. Warren (2004:328-343)
korupsi berdampak langsung pada prospek demokrasi dan menciptakan
hilangnya kepercayaan pada Institusi Polri dan Pengadilan yang
mengabaikan penegakan hukum dan mendelegitimasi proses demokrasi
yang lebih luas. Karena itu, pembudayaan kejujuran penting untuk
diterapkan dalam perguruan tinggi. Ada beberapa hal penting yang bisa
dilakukan antara lain: membudayakan kejujuran dengan menindak tegas
pelaku plagiat, keteladanan para dosen dan menghindari nepotisme
antara dosen dan mahasiswa.
Ketiga, Pendidikan kewarganegaraan. Pemahaman tentang
kewarganegaraan akan menjadi lebih sempurna bila dilandaskan pada
pendidikan yang baik. Perguruan tinggi sebagai rahim pembentukan
mahasiswa perlu menyiapkan atmosfer pendidikan yang baik. Pendidikan
yang baik adalah pendidikan yang bisa membentuk pandangan hidup
yang baik tentang politik, kewarganegaraan dan demokrasi.30 Will
Kymlicka menggarisbawahi tugas dasar pendidikan bagi setiap generasi.
“Tugas dasar pendidikan adalah menyiapkan setiap generasi baru untuk
mengemban tanggung jawab mereka sebagai warga negara. Tanggung
jawab seorang mahasiswa di sini tidak sebatas hanya pada pelaksanaan
proses belajar mengajar secara baik, atau sebatas hanya pada ketekunan
mengumpulkan sejumlah pengetahuan dalam hidupnya.”31 Demikian Ia
30
Felix Baghi, Kewarganegaraan Demokratis, dalam Sorotan Filsafat Politik (ed)
(Maumere: Ledalero, 2009), p. xiii.
31
Will Kymlicha, Politics in the Vernacular. Nationalism, Multculturalism and Citizenship
(New York: Oxford University Press, 2001), p. 293.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
111
menegaskan pula bahwa “pendidikan kewarganegaraan bukan sekadar
persoalan mempelajari fakta-fakta dasar tentang berbagai pranata serta
prosedur kehidupan politik; ia mencakup pembelajaran serangkaian
disposisi, kebajikan dan loyalitas secara erat bertalian dengan praktik
kewarganegaraan demokratis.”
Pascawacana
Mahasiswa adalah generasi emas bangsa. Dalam diri mereka
terdapat pemikiran, idealisme dan pelbagai kecakapan pengetahuan.
Dalam sejarah Indonesia, eksistensi mahasiswa memiliki kontribusi
dalam mengusung perubahan dan kesejahteraan umum. Mereka
mendedikasikan diri sebagai pejuang kemanusiaan. Pelbagai prestasi
pun telah diraih mahasiswa melalui gerakan massa dalam menentang
kekuasaan yang menindas.
Dalam konteks kekinian, ketika praktek desakralisasi politik terasa
begitu gerah, mahasiswa dipanggil untuk berjuang bersama rakyat.
Mahasiswa tampil untuk mengkritisi pelbagai kebijakan dan perilaku
korup aparatur negara. Mahasiswa menjadi garda terdepan dalam proses
sakralisasi politik dengan mengusung transformasi kebijakan publik
yang berpijak pada kepentingan umum. Selain dengan analisis kritis
melalui tulisan di media, diplomasi serta diskusi ilmiah, mahasiswa
dapat melakukan gerakan masif untuk mempengaruhi kebijakan publik.
Hal ini terbukti ampuh dalam menciptakan perubahan dalam kehidupan
berbangsa.
Idealisme mulia mampu terealisasi mengandaikan mahasiswa
Indonesia cerdas dan bijaksana. Dalam artian, mahasiswa harus kritis
dan menujukkan citra diri sebagai mahasiswa bermartabat. Sebelum
mahasiswa menyuarakan kepentingan rakyat, mereka harus terbebas
dari patologi sosial seperti penyakit HIV/AIDS, kehamilan dan
perselingkuhan kepentingan parsial yang tersembunyi di balik gerakan
112
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
massa. Sebab ini menjadi skandal besar dalam diri mahasiswa reformasi
yang mengakibatkan gerakan massa berakhir ricuh dan anarkis. Karena
itu pembentukan diri mahasiswa menjadi suatu kemendesakan dalam
mencetak generasi muda Indonesia yang berintegritas dan berwawasan
kebangsaan.
DAFTAR PUSTAKA
Almond, Gabriel. “Sosialisasi, Kebudayaan, dan Partisipasi Politik”, dlm.:
Ma’oed, Mochtar dan MacAndrews, Colin. Perbandingan Sistem
Politik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990.
Baghi, Felix. Redeskripsi dan Ironi, Mengolah Cita Rasa Kemanusiaan.
Maumere: Ledalero, 2014.
Baghi, Felix. (ed.), Kewarganegaraan Demokratis, dalam Sorotan Filsafat
Politik. Maumere: Ledalero, 2009.
Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2012.
Ceunfin, Frans. Sejarah Pemikiran Modern I (ms). STFK Ledalero:
Maumere, 2003.
Data ICW tahun 2015.
Daven, Mathias. Politik Pembangunan: Telaah Etis (ms). STFK Ledalero:
Maumere, 2014.
Fasya, Teuku Kemal. Anomali Demokrasi Jokowi, dalam Opini Kompas
edisi 2 Mei 2015.
Gaffar, Janedjri M. Demokrasi Konstitusional – Praktik Ketatanegaraan
Indonesia setelah Perubahan UUD 1945. Jakarta: Konstitusi Press,
2012.
Kesuma, Dharma. dkk, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di
Sekolah. Bandung: Rosda, 2011.
Rio Nanto — Menilik Urgensi Mahasiswa dalam Ranah Politik
113
Kymlicha, Will. Politics in the Vernacular. Nationalism, Multculturalism
and Citizenship. New York: Oxford University Press, 2001.
Lilijawa, Isidorus. Perempuan, Media dan Politik. Maumere: Ledalero,
2010
Lin, Nan. “Social Movement” dlm.: Encyclopedia of Sociology. New York:
MacMillan Publishing Company, 1992.
Novi Maulina, “Mahasiswa dan Permasalahan Bangsa”, dalam Belanja.
Com, http://www.blanja.com/kp/pesta-diskon, diakses pada 9
November 2016
Orum, Introduction to Political Sociology; The Anatomy of the Body
Politics. New Jersey: Printice Hall, Inc, 1983.
Raho, Bernard. Sosiologi. Maumere: Ledalero, 2014.
Regus, Max. Tobat Politik, Mengetuk Pintu Hati Kekuasaan, Membongkar
Krisis Demokrasi Tripolar. Jakarta: Parrhesia Institute, 2011.
Sujatmiko, Iwan Gardono. “Dampak Reformasi,” dlm.: Soemardjan, Selo.
Kisah Perjuangan Reformasi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999.
Simamora (ed), Pembangunan Politik dalam Perspektif. Jakarta: Bina
Aksara,1985.
Http. Kompas com. 2,3-juta-kasus-aborsi-di-kalangan-remaja. Diakses
24 September 2016
Kompas, edisi Rabu 30 Desember 2015
Kompas, 16 September 2016.
Kompas, edisi 14 Juni 2011
Kompas, 9 Desember 2015
Kompas, 14 Desember 2015
114
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
MENGGAGAS (KEMBALI)
PERAN POLITIS KAUM
MUDA DALAM MEMBANGUN
POLITIK BERADAB1
Arsen Jemarut, dkk2
I. LATAR BELAKANG
K
aum muda adalah tonggak penting dalam perjalanan sejarah suatu
bangsa. Mereka adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa.
Pola pikir kaum muda dapat menolong terjadinya perubahan dalam tatanan
kehidupan bernegara dari berbagai aspek. Salah satu peranan penting kaum
muda adalah dalam bidang politik. Indonesia adalah salah satu negara yang
sangat memperhatikan peran serta kaum muda dalam menentukan kemajuan
peradabannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah bangsa Indonesia.
Kaum muda memiliki peran sentral dalam memperjuangkan kemerdekaan
bangsa ini. Jauh sebelum berdirinya bangsa ini kaum muda Indonesia telah
berperan untuk mewujudkan persatuan bangsa yang beradab. Gerakan kaum
1
Materi ini pernah dibawakan dalam seminar kelas dalam rangka memeriahkan
Sumpah Pemuda tahun 2016 di STFK Ledalero
2
Penulis adalah Mahasiswa Semester III.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
115
muda di Indonesia telah menunjukkan kemajuan pesat dalam membangun
bangsa ini menjadi suatu bangsa yang beradab dengan melepaskan diri dari
berbagai bentuk penjajahan. Gerakan kaum muda di Indonesia dimulai
sejak peristiwa sumpah pemuda hingga era reformasi.
Sejak awal kaum muda telah terlibat aktif dalam politik dan turut
membangun bangsa ini hingga menjadi korban demi mencapai pembangunan
yang maju di bumi nusantara. Gema kaum muda menjadi dasar pijakan bagi
pembangunan bangsa yang beradab. Ketegasan dan konsistensi yang dimiliki
kaum muda menjadikan mereka sebagai pahlawan yang berani berkorban
demi suatu nilai yang luhur. Nilai luhur dan mulia dari kaum muda telah
terbentuk dalam hati kaum muda yang sadar akan pentingnya persatuan
dalam mewujudkan peradaban bangsa yang jaya dan makmur.
Bidang politik adalah salah satu aspek yang patut menjadi perhatian bagi
kaum muda. Generasi muda kelak akan menjadi generasi penerus yang akan
memimpin bangsa ini. Keterlibatan kaum muda dalam bidang politik sedapat
mungkin harus menunjukkan periodisasi yang signifikan bagi situasi politik
di Indonesia saat ini. Perlu diingat bahwa kaum muda sangat berpengaruh
dalam bidang politik di Indonesia. Sejak zaman penjajahan, mereka berjuang
demi kemerdekaan dan berusaha untuk mempertahankan kemerdekaan itu.
Situasi nyata yang patut dicatat dalam sejarah adalah peristiwa berdarah
dengan berakhirnya masa Orde Lama-Baru menuju masa reformasi. Kaum
muda memegang kunci dalam perpolitikan saat itu.
II. K
AUM MUDA DAN POLITIK YANG
BERADAB
II.1 KAUM MUDA
Terminologi kaum muda dapat diperoleh dari beberapa sudut
pandang. Sudut pandang tertentu melihat kaum muda sebagai individu
116
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
yang sedang mengalami perkembangan emosional sehingga kaum
muda merupakan sumber daya manusia pembangunan yang ideal di
masa yang akan datang. Lembaga internasional menyebutnya sebagai
young people dengan batas usia 10-20 tahun. Sedangkan International
Youth Year yang diselenggarakan pada tahun 1985 memberi batasan
usia antara 10-24 tahun. Batasan usia ini bukan menjadi satu patokan
yang pasti dalam menentukan usia bagi kaum muda. Kaum muda
saat ini bisa berusia lebih dari batasan yang telah ditetapkan. Hal yang
dipandang sebagai patokan orang muda adalah jiwa dan semangat
yang mendasari perjuangan setiap orang demi kepentingan dan
pencerahan seturut semangat kaum muda.
Selain pengertian di atas, kaum muda dapat dikategorikan ke dalam
kelompok individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak
dan optimis namun belum memilki pengendalian emosi yang stabil.
Rancangan Undang-Undang kepemudaan, memberi defenisi tentang
kaum muda sebagai mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun. Kaum muda
memiliki perkembangan baik dalam segi biologis maupun psikologis.
Sehingga, mereka selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi
masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain aspirasi kaum muda lebih
dikenal sebagai semangat pembaharu. Oleh karena itu, kaum muda
adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif.
2.2 POLITIK YANG BERADAB
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adab berarti kehalusan,
kebaikan aklak dan kesopanan3. Maka politik yang beradab bisa
diartikan sebagai sebuah bentuk politik yang dijalankan secara halus dan
beraklak serta tidak menimbulkan efek yang negatif bagi masyarakat
atau warga negara (polites). Selain itu, politik yang beradab adalah dapat
pula dipandang sebagai sebuah bentuk pekembangan dan kemajuan
3
U. Chulsum dan W. Novia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya: Kashiko, 2014),
hlm. 13.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
117
budaya dan pemikiran dalam masyarakat yang berhubungan dengan
warga masyarakat. Setiap negara yang ada dibelahan dunia ini memiliki
peradaban politiknya masing-masing, termasuk di negara kita ini. Di
Indonesia, peradaban politiknya selalu bersumber dan atau bertolak dari
Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Pancasila menjadi tolak
ukur dalam pembentukan undang-undang yang beradab. Politik yang
berdasar pada pancasila memiliki cita-cita yang adil dan beradab, serta
menjujung tinggi keadilan sosoal bagi seluruh masyarakat(politikos).
Kekuasaan sebagai anugerah dan tanggung jawab yang diembankan oleh
yang Maha Esa harus dijalankan dengan penuh ketulusan.
Secara universal politik yang beradab harus dilandaskan pada etika
politik. Etika politik dapat diartikan sebagai etika tindakan dalam bidang
politik (yaitu motivasi, cara dan tujuan membentuk dan mengggunakan
kekuasaan politis, membina konsensus dan memecahkan pententangan
atau konflik) baik yang dilakukan oleh orang perseorangan maupun
kelompok, instansi dan lembaga. Dalam arti yang lain etika politis
dapat juga diartikan sebagai etika yang diwarnai oleh pandangan politis
tertentu (mis. etika kapitalis atau etika komonis)4. Politik yang beretika
adalah politik yang tidak meluluh pada Etatisme, atau bahkan sampai
pada absolutism kekuasaan. Sebuah perpolitikan yang demokratis harus
memberikan ruang gerak yang bebas bagi setiap warga negara. Demokrasi
sejati memiliki ciri-ciri yang khas antara lain hak asasi manusia di jamin,
semua warga negara sama kedudukannya, pemerintah dikontrol oleh
wakil rakyat yang dipilih dengan bebas, undang-undang yang diadakan
sesuai dengan Undang-Undang Dasar, pemerintah membiarkan tindakantindakanya dinilai dan bersedia menyerahkan kekuasaan kepada kelompok
yang mendapat mayoritas dalam pemilihan umum5.
4
Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, jld. A-E, (Jakarta: Kencana Dwi
Sarana Sajati, 1991), hlm. 308.
5
Ibid., hlm. 173.
118
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
III. S
EJARAH DAN AKTUALISASI PERAN
KAUM MUDA DALAM MEMBANGUN
POLITIK BERADAB
3.1 KETERLIBATAN
PEMUDA
MEMBANGUN BANGSA
DALAM
SEJARAH
Salah satu peristiwa sejarah Indonesia yang melibatkan kaum muda
adalah peristiwa Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan bukti
otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan.
Oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati
momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia,proses
kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat
yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis
pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong
para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat
harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi
komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai
kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.6
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu
untuk selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi
taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang
berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh.Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan
lain-lain dengan semangat penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa
dan negara. Dalam sebuah pidatonya, Sukarno pernah mengobarkan
semangat juang pemuda, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku
goncangkan dunia”. Lewat ungkapan ini, Sukarno membuktikan bahwa
pemuda peran yang sangat besar untuk memajukan sebuah negara.
6
http://kir-31.blogspot.co.id/2010/10/sejarah-dan-latar-belakang-seputar.html,
diakses tanggal 6 Oktober 2016.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
119
Peran pemuda dalam perjalanan bangsa ini sangat sentral. Pemuda
selalu menjadi garda terdepan dalam setiap perubahan sejarah. Dalam
catatan sejarah pembentuk negara Indonesia dimulai oleh kaum muda.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah inisiatif kaum muda.
Peran sentral kaum muda khususnya mahasiswa dirasakan ketika
mereka berjuang habis-habisan untuk meruntukan resim penguasa
Orde Baru yang sarat akan totaliter. Runtunya Orde Baru pada awalnya
dikarenakan krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia terjadi kurun waktu 1997-1998
merupakan sinyal terjadinya perubahan sistem politik besar-besaran di
tanah air dengan mahasiswa sebagai agennya. Meskipun pada awalnya
terlihat sebagai krisis moneter, tapi krisis ini ternyata mempunyai efek
serius dalam berbagai aspek yang luas di Indonesia. Saat itu, mahasiswa
terus meneriakkan tuntutan mereka yang pertama, yaitu “Turunkan
Harga”. Namun, semakin lama kondisi perekonomian malah semakin
memburuk. Alhasil, tuntutan mereka pun berubah manjadi “Turunkan
Suharto”. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan
pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Gerakan
Mahasiswa Indonesia 1998 juga memulai babak baru dalam kehidupan
bangsa Indonesia, yaitu era Reformasi. Semua peristiwa di atas
merupakan bukti bahwa kaum muda mempunyai peran penting dalam
perkembangan negara Indonesia.
3.2 KETIMPANGAN (KEBIADABAN) PRAKTIK POLITIK
INDONESIA
Tuntutan gerakan reformasi untuk menghilangkan praktik
ketimpangan selama orde baru ternyata tidak terpenuhi. Ketimpangan
yang menggurita selama orde baru ternyata direduplikasi pula oleh orde
reformasi. Salah satu persoalan akut yang bisa diangkat ialah korupsi
dalam pemilu. Indonesia Corruption Watch (ICW) bidang korupsi dan
120
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
politik menemukan banyak indikasi kecurangan di dalam praktik pemilu
di negara kita selama ini. Adapun beberapa praktik kecurangan tersebut
antara lain :
•
•
•
•
•
7
Politik uang, politik uang selalu saja menyertai segala kegiatan
dalam Pilkada. Dengan memanfaatkan kondisi umum masyarakat
yang cenderung masih di bawah rata-rata, para bakal calon dan tim
seukses dari calon tersebut membagi-bagikan uang dengan syarat
harus memilih calon tersebut.
Intimidasi, dalam hal ini terlihat jelas dari anggota atau oknum
pemerintahan yang melakukan intimidasi langsung terhadap warga
dengan niat mempengaruhi warga dalam menentukan pilihan,
dalam hal ini pilihan terhadap calon pemimpin.
Pendahuluan start kampanye, tindakan ini sering terjadi dan sudah
mendapat tanggapan yang serius dari berbagai pihak. Hal ini terlihat
dari propaganda yang dilakukan oleh bakal calon di berbagai media
massa, kunjungan kerja (bagi calon yang masih Incumbent) yang
tentu saja melanggar aturan pemilu dan membuat beberapa paket
kebijakan menjelang pemilu yang tentunya bernuansa politis.
Kampanye negatif, hal ini banyak terjadi dalam Pilkada, ketika
bakal calon yang satu memperlihatkan kekurangan bakal calon yang
lain dengan maksud untuk menjatuhkan lawan. Ini menimbulkan
nuasan persaingan politik yang tidak sehat.7
Kecurangan Daftar Pemilih Tetap (DPT), adanya manipulasi terhadap
peserta pemilu. Hal ini masif terjadi karena ada beberapa oknum
“orang dalam” yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan bakal
calon tertentu.
http://www.suara.com/news/2015/11/09/190238/ini-dia-macam-macamkecurangan-pilkada. html, diakses pada 9 Oktober 2016.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
121
2.3 Kaum Muda Membangun Politik Beradab
“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati
rasa, matilah sejarah sebuah bangsa — Pramodya Ananta Toer dalam
Jejak Langkah. 8
Sastrawan Pramodya Ananta Toer memiliki pandangan yang
unggul tentang kaum muda. Pernyataan gugatan dari Pramodya di
atas tentu memiliki kaitan erat dengan konteks dan keberlangsungan
bangsa Indonesia. Pramoedya yang pernah hidup dalam kerangkeng
absolustisme kekuasaan Orde Baru pmendambakan jiwa dan semangat
kaum muda untuk membangun bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh
merdeka. Bagi Pram kaum muda adalah kekuatan sejarah sebuah bangsa
serta seluk beluk perkembangan yang berlangsung di dalamnya.
Pada tahun 1882 Ernest Renan telah mengungkapkan pendapatnya
yang paling memukau tentang paham ‘bangsa’ itu.9 Renan berpendapat
bahwa bangsa merupakan suatu nyawa, azas-akal, yang terjadi dari dua
hal yaitu kenyataan bahwa rakyat pernah mengalami riwayat secara
kolektif dan rakyat dalam konteks sekarang yang harus mempunyai
kemauan dan komitmen untuk hidup sungguh-sungguh. Pernyataan
Renan koheren dengan posisi kaum muda dalam alur sejarah sebuah
bangsa yang berlangsung di dalamnya. Tentu saja ia tidak sedang
mengabaikan keberadaan kaum muda dalam konteks adanya sebuah
‘bangsa’, melainkan tetap relevan eksistensi kaum muda sebuah bangsa.
Garis pendapat Renan di atas sangat bermakna terutama dalam
konteks peradaban politik bangsa Indonesia yang sudah dan sedang
diperjuangkan oleh kaum muda bangsa Indonesia sendiri. Dalam
8
Tofik Pram, The wisdom of Pramodya Ananta Toer (Depok: Penerbit Edelweiss, 2014),
halaman 190.
9
Iwan Siswo, Panca Azimat Revolusi I (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014),
halaman 5-6.
122
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
hal ini ada suatu gerakan ‘membangsa’ yang terus diperjuangkan oleh
kaum muda bangsa Indonesia. Gerakan ini memuat suatu proses yang
memupuk perasaan sebangsa terutama dalam diri kaum muda sendiri.10
Upaya memupuk perasaan kolektif sebagai sebuah bangsa menjadi
tanggung jawab kaum muda dengan cara membangun politik yang
beradab.
Berhubungan dengan hal ini gerakan ‘membangsa’ menjadi
suatu desakan terutama ketika berhadapan dengan suatu kenyataan
penyimpangan politik yang terjadi di negeri ini. Realitas percaturan politik
bangsa Indonesia seringkali mengalami distorsi dan penyelewengan dari
hakikatnya. Politik sebagaimana esensi dan tujuannya tidak lagi dihayati
secara jujur dan konsekuen untuk kemaslahatan bersama melainkan
seringkali dilecehkan untuk pencapaian kepentingan kelompokkelompok tertentu. Aneka praktik politik distortif yang seringkali
menggejala dan menyata di Indonesia antara lain pemakzulan suara
saat pemillu atau pilkada, praktik KKN, penyuapan, penggelembungan,
manipulasi kekuasaan, dan sederet daftar hitam kebiadaban politik
lainnya menjadi fakta kekacauan dan kemandegan politik bangsa
Indonesia.
Berbagai penyimpangan itu menjadi suatu penyakit yang berpotensi
mematikan keberadaan dan peradaban bangsa Indonesia. Fakta-fakta
miris yang menggerogoti eksistensi bangsa Indonesia tersebut jika tidak
segera diatasi dengan sungguh-sungguh bisa mengantar bangsa ini pada
sebuah ambang kemunduran dan kehancuran total. Penyimpanganpenyimpangan politik yang terus bergeliat itu dapat membawa bangsa
Indonesia ini menuju kematian. Asep Salahudin dalam sebuah opininya
menyatakan bahwa kematian dalam konteks ini tidak harus dipahami
secara harfiah sebagai proses terlepasnya nyawa dari tubuh. Ia dapat
10
Yonky Karman, “Pancasila Cita-Cita Indonesia” dlm.: Kompas, 1 Oktober 2016.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
123
bermakna metamorfosis sebagai lambang punahnya akal sehat, robohnya
intelektualisme, defisit moralitas, dan terlucutnya tanggung jawab
sosial.11 Pendapat Asep memiliki tingkat keakuratan yang tinggi apabila
dihubungkan dengan peristiwa dan aktivitas politik yang terjadi di
Indonesia. Dalam gagasannya Asep hendak menghimbau suatu adanya
gerakan untuk mencegah terjadinya kematian bangsa Indonesia. Dalam
arti keberadaan kaum muda mendapat tugas luhur untuk berupaya
mencegah terjadinya bencana kematian bangsa Indonesia. Upaya yang
bisa dilakukan untuk mencegah peristiwa ini menimpa bangsa Indonesia
yaitu dengan cara ‘menggali’ kembali nilai-nilai filosofis bangsa
Indonesia sendiri. Bung Karno pernah menyatakan dalam gagasannya
bahwa di dalam ‘menggali’ tersimpan sebuah upaya kesinambungan hari
ini dengan masa lalu. Perjuangan kaum muda pada masa silam menjadi
tonggak dan titik pijak bagi kaum muda bangsa Indonesia sekarang
untuk terus ‘menggali’ nilai-nilai kebangsaan itu.
Kaum muda diharapkan mesti mampu menempatkan diri pada
porsi yang tepat dan benar dalam kegiatan politik bangsa Indonesia.
Adanya keberanian yang teguh untuk menegakkan kebenaran, keadilan,
tanggung jawab sosial-politis, dan perlawanan terhadap despostisme
kekuasaan menjadi panggilan kaum muda bangsa Indonesia. Resistensi
kaum muda bangsa Indonesia untuk melawan penyelewengan kekuasaan
politik menjadi tanda nyata untuk mengarah kegiatan politik bangsa
Indonesia sesuai dengan nilai-nilai filosofis dan tata etika politik yang
seharusnya sebagaimana termaktub dalam dasar negara Pancasila.
3.4 REKOMENDASI DAN TINDAKAN KONKRET
Sejarah perkembangan bangsa-bangsa menempatkan kaum muda
sebagai pelopor perubahan. Kaum muda adalah garda masa depan
11
Asep Salahudin, “Mencegah Kematian Bangsa” dlm.: Kompas, 30 September 2016.
124
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
bangsa. Ortega Y. Gasset menyebut kaum muda sebagai agen perubahan.12
Keberadaan kaum muda berpotensi luar biasa dalam pembangunan
bangsa. Dalam konteks politik, kaum muda memiliki pengaruh yang
besar dalam pembangunan politik yang beradab. Untuk mewujudkan
pembangunan politik yang beradab tersebut maka hal pertama yang
harus dilakukan kaum muda adalah merekontruksi sistem-sistem politik.
Ini menjadi fokus perjuangan kaum muda. Setiap sistem yang salah harus
digugat dan dicari solusi praktis. Politik harus digiring pada porsinya
dan harus sejalan dengan nilai-nilai pancasila. Kaum muda tidak boleh
membiarkan bangsanya terpasung dibawah sistem politik yang tidak
beradab. Generasi muda harus membangun suatu hawa politik yang
beradab.
Gerakan kaum muda dalam konteks pembangunan politik beradab
dapat diwujudkan dalam beberapa tindakan konkret berikut; Pertama,
Otonomitas diri kaum muda. Gerakan kaum muda harus lahir dari
komitmen pribadi untuk menegakan kebenaran atas esensi politik.
Kaum muda harus sudah tanam di dalam dirinya rasa patriotisme dan
nasionalisme sebelum bergerak keluar dan melakukan suatu gerakan
perubahan. Intensi atau motivasi kaum muda tidak boleh berlandaskan
uang, jabatan, prestise atau sekadar hura-hura. Intensi kaum muda harus
lahir dari kesadaran politik dan komitmen untuk menegakan bangsa
yang beradab lewat sistem politik yang beradab pula. Dengan demikin
motivasi internal yang positif sangat menentukan kualitas gerakan kaum
muda-mahasiswa.
Kedua, melakukan demonstrasi terstruktur. Hal ini penting demi
perubahan kebijakan atau sistem politik yang dianggap tidak prorakyat. Melalui unjuk rasa (demonstrasi) kaum muda berjuang untuk
12
Heremias Dupa, “Belajar dari Sejarah Evaluasi Kritis atas Peran dan Kiprah Intelektual
Kaum Muda,” dlm.: Jurnal Akdemika 6:1 (Ledalero: 2009/2010), hlm.83.
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
125
menciptakan suatu sistem politik beraadab dan ideal. Demontrasi atau
unjuk rasa tidak boleh terkesan huru-hara tetapi harus efektif dan
berkualitas.
Ketiga, berpartisipasi dalam kehidupan organisasi, khususnya
organisasi politik. Lewat oragnisasi-organisasi kaum muda dilatih untuk
kritis terhadap setiap kebijakan dan sistem politik yang dibangun para
elite. Lewat organisasi kaum muda juga dilatih untuk berani mengajukan
ide terkait sesuatu hal yang dianggap merugikan banyak orang. Melalui
organisasi juga kaum muda mudah melakukan gerakan perubahan atas
kebijakan atau sistem politik yang digagas oleh pemerintah yang dinilai
menyimpang.
Keempat, melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat. Tujuannya
adalah agar masyarakat sungguh memahami politik. Tujuan lain adalah
agar masyarakat memiliki cara pandang yang positif terhadap politik.
Dalam kegiatan tersebut, kaum muda juga harus setia mendengarkan
keluhan masyarakat terkait kebijakan pemerintah yang cenderung tidak
pro-rakyat. Dari kegiatan ini, kaum muda terdorong untuk berjuang agar
sistem-sistem politik yang dibangun harus menyentuh seluruh lapisan
masyarakat.
Kelima, Pendidikan Politik. Kaum muda harus memiliki wawasan
dan pengetahuan yang banyak tentang politik. Hal ini penting agar kaum
muda tidak mudah diadu-domba oleh para elite yang licik. Gerakan kaum
muda-mahasiswa mengandaikan kaum muda memiliki wawasan politik
yang banyak. Setiap kritikan, idea atau gagasan yang dibangun kaum
muda, harus memiliki landasan teoritis dan berbasis data. Oleh karena
itu, kaum muda harus banyak membaca buku-buku politik, tulisantulisan ilmiah dan berita-berita seputar politik. Lewat media televisi
juga, kaum muda menimba banyak pengetahuan tentang perkembangan
politik bangsa Indonesia.
126
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
IV. PENUTUP
Kaum muda adalah wangsa masyarakat yang potensial, potensial dari
berbagai aspek kepribadian. Kaum muda adalah golongan masyarakat yang
menyimpan beragam potensi. Potensi berarti kemungkinan perubahan
menuju cara ‘berada’ tertentu dari benda yang bereksistensi. Sebagai kaum
yang potensial, kaum muda membutuhkan penanganan atau perhatian
khusus agar dapat berkembang baik. Potensi itu, apabila disentuh dan
diberdayakan, akan menjadi kekuatan dan jaminan perubahan diri atau
kelompok kaum muda juga perubahan bagi masyarakat umum.
Selain sebagai kaum potensial, dari uraian panjang bagian-bagian
di atas, ada beberapa ciri khas atau karakter inheren yang terdapat pada
kaum muda. Beberapa di antarnaya adalah energik, kreatif, kritis, inovatif,
idealis, pembaharu dan masih banyak citra positif laiinnya. Berbekal
beberapa karakter inheren itu, kaum muda mesti mempunyai pengaruh
yang besar dalam kehidupan masyarakat. Kaum muda sebagai bagian
fakta sosial kemasyarakatan atau negara harus turut memberi kontribusi
signifikan bagi peningkatan taraf kualitas kehidupan bermasyarakat.
Kaum muda mesti menyatakan atau mengkonkritkan kemampuannya
dan berharap dapat menjadi solusi bagi persoalan kehidupan.
Kaum muda harus terlibat aktif dalam urusan bermasyarak atau
kehidupan polis (negara-kota). Orang atau kaum muda terlibat mengurus
polis identik dengan aktif menunjukkan partisipasi politik. Harus diakui
bahwa dalam perkembangan yang termutakhir, urusan politik itu cukup
kompleks. Namun setidaknya, kaum muda menunjukkan perhatian
atau partisipasi politiknya dengan turut terlibat mengatasi persoalan
atau skandal kehidupan bernegara yang berkaitan dengan urusan atau
pelayanan dasar.
Kaum muda mesti bersinergi untuk menarik kembali praktik politik
bangsa Indonesia ke dalam koridor yang sebenarnya. Kaum muda mesti
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
127
mengusahakan agar praktik politik tidak boleh tercerabut dari fitrahnya
yaitu Pancasila. Usaha itu dapat diformulasikan dalam berbagai rupa
cara, sejauh kemampuan.
DAFTAR PUSTAKA
Kamus:
Bagus, Lorens. Kamus Fisafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2002.
Chulsum, U., dan W. Novia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya:
Kashiko. 2014
Buku:
Badrum, U. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2016.
H. E. Kurniadi, H. E. Peranan Pemuda Dalam Pembangunan Politik Di
Indonesia. Bandung: Angkasa, 1987.
Koten, Y.K. Partisipasi Politik, Sebuah Analisa Atas Etika Politik Aritoteles.
Maumere: Ledalero. 2010.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Anti-Korupsi
Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2011.
Pram, T. The wisdom of Pramodya Ananta Toer. Depok: Penerbit
Edelweiss. 2014.
Siswo, I. Panca Azimat Revolusi I. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia. 2014.
Ensiklopedi dan Jurnal
Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, jld. A-E, Jakarta:PT
Kencana Dwi Sarana Sajati,1991.
Heremias Dupa, Belajar dari Sejarah Evaluasi Kritis atas Peran dan
Kiprah Intelektual Kaum Muda. Jurnal Akdemika. 6:1, 2009/2010.
128
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Surat Kabar dan Internet
http://kir-31.blogspot.co.id/2010/10/sejarah-dan-latar-belakang-seputar.
html, diakses tanggal 6 Oktober 2016
http://www.suara.com/news/2015/11/09/190238/ini-dia-macammacam-kecurangan-pilkada. html, diakses pada 9 Oktober 2016.
Karman, Y. “Pancasila Cita-Cita Indonesia”. Dlm: Kompas, 1 Oktober
2016.
Salahudin, A. “Mencegah Kematian Bangsa”. Dlm: Kompas, 30 September
2016
Arsen Jemarut, dkk — Menggagas (Kembali) Peran Politis Kaum ...
129
KAUM MUDA DAN
HARAPAN PERUBAHAN
DI NTT
Adrian Naur1
I. PENGANTAR
N
TT merupakan wilayah kepulauan di bagian Timur Indonesia
yang memiliki khazanah tentang keberagaman. Keberagaman
masyarakat NTT begitu unik serentak kompleks. Keunikan dan
kompleksitas hidup masyarakat NTT begitu tampak mengalir di
permukaan, sehingga memantik tidak sedikit kalangan mendiskursuskan
masalah-masalah seputar kemanusian seperti politik, ekonomi, sosial,
agama, dan budaya. Salah satu yang rentan menjadi pokok perbincangan
banyak kalangan pada ranah sosial ialah, kaum muda atau orangorang muda. Tidak dimungkiri bahwa kaum muda turut memberikan
sumbangsih progresif terhadap perkembangan Provinsi NTT. Hampir
sebagian wilayah NTT “dikerumuni” kaum muda. Sepak terjang kaum
muda melejit semenjak wilayah kita ini memberi ruang dan otonomitas
1
Penulis adalah mahasiswa semester VII STFK Ledalero
130
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
kepada orang muda untuk berkembang secara demokrastis. Jika kita mau
jujur, kiblat kaum muda tidak boleh dipandang sebelah mata. Demokrasi
menginjinkan kepada siapa saja untuk dengan bebas berekspresi dan
tanpa dibatas ruang determinasi, sejauh yang dilakukan itu bermanfaat
bagi khalayak. Term “banal” yang kerapkali disandangkan kepada kaum
muda seyogyanya ditanggalkan.
Saya, melalui tulisan ini, berpretensi mengangkat peran kaum muda
di tengah prahara masyakarat demokratis nan plural ini. Demontrasi
dan turun ke jalan yang terjadi belakangan tidak cukup menggambarkan
peran kaum muda di tengah wajah kemajemukan. Berorasi dan
mendeklamasikan juga demikian. Lantas, apa yang menjadi harapan
khayalak selama ini sudah dilakukan oleh kaum muda. Banyak yang
sudah dibuat oleh kaum muda. Pertanyaannya, apakah kaum muda NTT
itu sendiri sudah menyadari potensi itu dalam diri mereka?
II. P
OTRET NTT: ANTARA KEBERHASILAN
DAN NESTAPA
Yang dikenang dari sejarah NTT adalah perjuangan masyarakat
NTT. Syukur karena hingga saat ini masyarakat NTT masih boleh
mengalami sukacita keberhasilan dan menempatkan keberhasilan itu
di atas pencapaian-pencapaian masyarakat. Masyarakat NTT memiliki
sejarah perjuangan yang panjang. Sangat beralasan bila disebutkan
keberhasilan itu. Namun, naif jika menyebutkan satu per satu. Deretan
panjang keberhasilan dan pencapaian kesuksesan-kesuksesan itu tidak
terukur jumlahnya, sebab NTT bukan baru mengalami restorasi. Saat ini
NTT sudah memasuki usianya yang ke 58. Itu artinya, pencapaian dan
keberhasilan sudah tidak ditakarkan dengan hitungan jumlah.
Terakhir yang diberitakan bahwa masyarakat NTT dinobatkan
sebagai masyarakat komunal yang menjunjung tinggi pluralitas dan
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
131
perdamaian di tengah diversitas. Gubernur NTT, yang mewakili
masyarakat diberikan apresiasi terkait hal tersebut. Tanpa dibendung
pemberitaan seperti ini, toh jauh-jauh hari kesadaran menjaga
perdamaian telah dijalankan oleh masyarakat NTT. Sentimen agama
dan budaya relatif terjadi di kalangan mereka yang tidak memahami dan
memaknai kebhinekaan. Namun, deretan keberhasilan itu bukan tanpa
rintangan. Isu agama dan budaya tetap menggema dan menjadi santapan
primodial segelintir orang. Di tengah kemajuan dan perjuangan itu tetap
terdapat golongan-golongan yang ingin memecahbelah kesatuan dan
integrasi masyarakat NTT. Dengan kata lain, sewaktu-waktu merubah
menjadi bom waktu.
Isu sentimen agama masih sangat sensitif dewasa ini. Selain kedua isu
ini, rentan juga dalam pembicaraan praksis ialah isu mengenai politik dan
ekonomi. Secara konkrit dikatakan bahwa percaturan politik NTT sedang
mengalami proses stagnanisasi. Proses itu dirasakan berjalan di tempat
karena tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Masalah pertumbuhan ekonomi masyarakat dialami oleh masyakat
NTT, sebab persoalan seperti kemiskinan, diskriminasi ekonomi, dan
praktik KKN masih kuat berakar dalam kehidupan. Merunut pada fakta
NTT digolongkan ke dalam wilayah terkorup di Indonesia dan masuk
ke dalam daftar dengan predikat wilayah rawan pangan dan kemiskinan.
Implikasi dari situasi ini sangat tampak melalui indikasi ketidakseriusan
aparat hukum dalam menangani kasus korupsi di NTT.
Ada dua faktor yang mendasari kelahiran korupsi di NTT. Pertama,
perencanaan anggaran tertutup. Secara empiris korupsi di NTT adalah
penyopotan anggaran dari APBN dan APBD secara tertutup. Dari
sekian banyak anggaran untuk proyek di NTT hanya 30% saja yang
benar-benar dipakai untuk kepentingan proyek, sisanya untuk pribadi
132
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
atau kelompok kepentingan.2 Korupsi semakin menguat ketika DPRD
ikut mendukung tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan
eksekutif. Di NTT banyak anggota DPRD yang rajin mendatangi kepala
dinas untuk mendapatan bagian proyek.3 Fakta ini kuat menunjukkan
bahwa kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua entitas yang rentan
dengan budaya korupsi yang diejawantahkan dari program fiktif kepada
tindakan manipulatif.
Kedua, kinerja para penegak hukum yang tidak kredibel. Para
koruptor di NTT kebal terhadap hukum. Di NTT ada indikasi
diskirminasi peradilan. Seorang petani yang melapor kehilangan kerbau
dan seorang ibu guru dilaporkan tidak menerima gaji diproses, sementara
seorang koruptor bisa membeli keputusan pengadilan berpotensi bebas
dari peradilan hukum. Hal ini mengindikasikan bahwa hukum tajam ke
bawah tumpul ke bawah.
Kedua pokok persoalan di atas bukan baru terjadi di NTT. Kasus
asosial serupa seperti human trafficking, menjamurnya HIV dan AIDS,
kemiskinan, pembunuhan, perampokan, dan putus sekolah telah
membuktikan kompleksitas NTT. Deretan kenestapaanini memberi
signal bahwa masyakarat NTT sedang dibayangi aneka persoalan
yang kian hari semakin menjulang. Pada tahun 2014, Global Slavery
Index memperkirakan sekitar 38,5 juta orang di dunia menjadi koban
perdagangan manusia. Dari 167 negara, Indonesia menempati posisi ke-9
sebagai negara dengan jumlah korban trafficking terbesar.4 Tim Bareskrim
Mabes Polri sebagaimana dilansir Pos Kupang telah menempatkan NTT
2
Alfensius Alwino, “Korupsi Dan Robohnya Lembaga Penegak Hukum di NTT”, dalam
50 Tahun NTT, Seri Buku VOX, 53/01/2009, hlm. 93.
3
Ibid.
4
Selcilius Riwu Nuga, “Six Millions Dollars: Membahas Kasus Human Trafficking di
Wilayah Kita”. Makalah yang disajikan dalam Seminar yang diselenggarakan oleh
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Maumere, Sabtu 7 Maret 2015.
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
133
sebagai provinsi penyumbang terbesar perdagangan manusia. NTT
merupakan salah satu dari enam provinsi di Indonesia yang menjadi
sumber perdagangan orang terbanyak.5
Miris melihat kenyataan trafficking di NTT. Manusia menjual
manusia terus menggeliat. Salah satu penyebab yang rentan juga dari
persoalan ini ialah adanya kesenjangan antara yang kaya dan mereka
yang miskin. Karena kemendesakan ekonomi masyarakat dengan mudah
melakukan tindakan perdagangan manusia. Secara kuantitatif, Biro pusat
statistik (BPS) NTT menyebutkan jumlah penduduk miskin pada tahun
2002 sebanyak 1,2 juta orang dari jumlah penduduk pada tahun 2003,
tetap sebanyak 1,2 juta orang dari 4,1 juta orang. Namun, data BPS NTT
sampai dengan per Januari menunjukkan bahwa di NTT terdapat 952.508
RT, dengan presentase 75,45% adalah RT miskin (718. 640 RT miskin).6
Di Indonesia pada tahun 2013, angka kemiskinan menjulang hingga
28,07 juta jiwa.7 Itu artinya, kemiskinan di NTT semakin parah dari tahun
ke tahun. Dan ironinya bahwa kemiskinan di NTT turut menambah
lubang kemiskinan pada tingkat nasional dan kebanyak itu berlangsung
lebih tinggi di desa jauh ketimbang di daerah perkotaan. Kenyataan ini
menunjukkan di pihak lain bahwa akibat ketimpang secara sturuktural
ekonomi, masyarakat NTT tidak mampu bangkit dari keterpurukan
dan pada pihak tertentu para aktor yang sejatinya memainkan peran
mendongkrak persoalan tersebut justru terjebak bahaya laten etatisme.
Bahaya laten etatisme melahirkan aneka persoalan sebagaimana yang
telah disebutkan di atas. Persoalan korupsi yang menjamur memberikan
5
Dokumentasi Provinsi Ende, “Dokumen Kapitel Provinsi SVD Ende XXII tahun 2015,
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 23-29 November 2015”, hlm. 33.
6
Silvester Ule, “Membangun Budaya Politik Demokratis: Menuju Masyarakat NTT yang
Sejahtera, dalam 50 Tahun NTT, Seri Buku Vox 53/01/2009, hlm. 54.
7
Bimo Nugroho, Indonesia Memilih Jokowi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
2014), hlm. 172.
134
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
pengakuan yang kuat kepada masyarakat bahwa sebenarnya dalang
dibalik kenestapaan masyarakat NTT ialah para elitis. Jika dikatakan
jujur, wilayah NTT ini menjadi lahan empuk bagi lahirnya kejahatankejahatan kemanusiaan. Kejahatan-kejahatan manusia itu menjelma
ke dalam pelbagai struktur ekonomi, politik, dan sosial, baik yang
didominasi oleh para pemegak modal maupun para “hantu ekonomi”.
Para pemilik modal yang dimaksud di sini ialah, selain mereka yang
memegang tampuk kekuasaan, tetapi juga mereka yang menanamkan
modal melalui program yang ditawarkan. Pertanyaan kita, apa yang
melatarbelakangi bahaya etatisme mendominasi NTT?
Pada hemat saya, alasan para pemilik modal mau bercokol dan
terus menancapkan geliatnya di NTT ialah karena adanya peluang.
Masyarakat NTT rentan terhadap pelbagai hal yang masuk dari luar.
Kemajuan dan peradaban yang kian menerjang saat ini tidak bisa
dibendung oleh karena peluang yang diciptakan oleh pemilik modal.
Peluang-peluang itu menyata dalam bentuk yang luas dan sempit.
Masyakarat NTT sangat melek terhadap kamajuan. Kemajuan alat
komunikasi handphone misalnya, tidak lagi menjadi konsumsi segelintir
orang, tetapi merambat hingga ke pelosok. Yang menjadi kecemasan
bagi kita dari perkembangan alat komunikasi ini, ialah masyarakat mulai
meninggalkan tradisi yang telah kuat berakar dalam kehidupan bersama.
Dugaan kita semakin menguat apabila kelak tradisi itu ditinggalkan dan
masyarakat mulai menjemurumuskan diri kepada kecenderungan yang
tidak manusiawi. Banyak bukti konkrit kecenderungan tidak manusiawi yang belakangan
telah menyeret dan menodai wajah masyarakat NTT. Kasus kematian para
TKI yang beberapa bulan lalu santer diberitakan membuktikan bahwa
masyarakat NTT masih dibayangi bahaya etatisme. Dugaan kita semakin
menguat dengan adanya kasus kematian para TKI NTT itu, para pemilik
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
135
modal yang bermain di baling layar itu tentunya tidak tersentuh atau jauh
dari panggang api pengadilan hukum. Sebab sebagaimana penjelasan
terdahulu, para pemilik modal dan penguasa mampu membeli pengadilan
dan mereduksi hukum. Tanpa kita sadari bahaya ini terus merebak dan
sewaktu-waktu akan membias hingga ke pelosok.
Ketakutan praksis kita yang saban hari sudah diperkirakan bahwa
NTT akan tetap diselimuti oleh aneka persoalan telah menyata dalam
kehidupan dewasa ini. Kita perlu mengakui bahwa persoalan-persoalan
itu telah menguat mengakar semenjak masa kolonialisme hijrah di wilayah
kita. Dengan tenggang waktu yang relatif lama pasca kemerdekaan
persoalan-persoalan nasional meletup kencang hingga membias sampai
pada periferi kehidupan masyarakat NTT. Yang terjadi sekarang pada
kehidupan masyakarat NTT seperti yang telah dilukiskan di atas.
Kehidupannya begitu kompleks, rumit, dan menggelisahkan di sisi lain.
Di satu sisi ironi perkembangan dan peradaban yang sedang dirasakan
tidak berkontribusi bagi masyarakat NTT. Apa yang terjadi terhadap
perkembangan kehidupan masyarakaat NTT saat ini disebabkan oleh
bahaya laten reduksifasi8 para pemilik modal dan kaum elitis.
III.MENAKAR HARAPAN KAUM MUDA
Pertanyaan paling fundamental yang bisa diajukan terhadap
konteks kita saat ini, ialah sanggupkah masyarakat menanggung dan
mendongkrak bahaya laten etatisme, persoalan sosial, pergolakan
8
Reduksifasi merupakan sebuah wujud dari proses pendangkalan. Disebut reduksifasi
dan bukan ajektif reduksif untuk memberi artikulasi pada proses pendangkalan. Dalam
ranah filsafat politik reduksifasi menjadi cetusan konkret kenaifan. Dikatakan naif,
sebab reduksifasi adalah kesempitan cara berpikir. Dalam konteksnya dengan politik,
misalnya, perkara politik dikamuflase oleh kepentingan sempit dan dinamikanya
berubah menjadi “seolah-olah”. Karena reduksifasi, politik yang bermakna mendalam
sebagai “tata kelola hidup bersama” terasa babak belur oleh dominasi perkaraperkara rekaan atau rekayasa yang tidak bermutu. Armada Riyanto, Berfilsafat Politik,
(Yogyakarta: Kanisius, 2015), hlm. 13-14.
136
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
ekonomi di NTT? Terhadap pertanyaan ini, pada hemat saya, terasa sulit
dijawab jika, Pertama masyarakat NTT masih enggan untuk bangkit
dari tidur berkepanjangan menyoal masalah-masalah kehidupan. Kedua,
masih adanya bahaya etatisme di kalangan masyarakat. Ketiga, tidak
adanya konstruksi cakrawala berpikir masyarakat yang luas tentang masa
depan NTT. Dan keempat, masih adanya bahaya primodialisme yang
kuat. Dikatakan bahwa masyarakat NTT masih sangat kental dengan
budaya mitos magis merujuk pada kazanah NTT yang hidup dalam
keberagaman kebudayaan.
Dengan melihat luas wilayah dan merunut pada area topografinya,
kepulauan NTT digolongkan ke dalam wilayah yang tertinggal. Selain
persoalan yang sudah disinggung di atas, indikator primodial masih kuat
mengakar pada masyarakat NTT. Tidak dimungkiri bahwa kedekatan
hubungan di antara masyarakat NTT sangat ditentukan oleh relasi
ikatan kebudayaan. Di NTT umumnya orang menggunakan bahasa
budaya. Bahasa budaya dilihat sebagai kekuatan yang disadari sebagai
fundator perekat pelbagai keberagaman di pihak lain, dan pada pihak
lain menunjukkan identitas. Bahasa budaya masyarakat Manggarai
berbeda dengan mereka dari budaya Bajawa, Ende, Maumere, Larantuka,
dan daratan Timor. Karena itu, identitas budaya sangat fundamen bagi
masyarakat NTT.
Namun, kenyataan seperti itu di atas berdampak negatif jika
tidak ada garis demarkasi. Masyarakat NTT yang kaya budaya dan
keanekaragaman bahasa itu cenderung terjebak oleh persoalan wilayah.
Persoalan itu mengandung arti bahwa wawasan primodial begitu luas
ketimbang memperhatikan cakrawala kemajuan bersama. Yang paling
mencolok dari fenomenan ini terlihat dalam pertarungan politik. Dalam
percaturan politik lokal ada satu bahaya yang tidak bisa ditampihkan lagi
ketika masyarakat berbicara mengenai pemimpin. Pemilihan pemimpin
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
137
dalam ranah ranah politik NTT masih berbauh primodial. Yang terjadi
adalah basis kedaerahan para calon pemimpin menjadi pertimbangan
fundamental dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan
politik. Fakta dari kenyataan itu bahwa yang mendominasi mayoritas
pemilih adalah adan wawasan keuntungan bagi kelompok dan daerahnya
sendiri.
Fenomena di atas mengandung dampak yang mendasar bagi demokrasi
di Indonesia umumnya, dan khususnya NTT. Adanya kesesatan berpikir
dan tindakan primodial sejatinya akan mencederai politik demokrasi. Itu
artinya, masyarakat NTT masih sangat mengaggungkan identitas wilayah
dan kebudayannya dibanding memilih secara rasional berdasarkan
ikhtiar demokrasi. Yang terjadi kemudian adanya letupan-letupan ikatan
emosional, karena orang lebih memilih berdasarkan konsensus primodial.
Menjadi menarik sewaktu pemilihan kepala daerah yang terlihat di
permukaan khalayak lebih memakai istilah kongsi atau politik balas budi.
Apa yang bisa dilakukan kaum muda untuk meretas persoalan ini?
Kaum muda menjadi satu-satunya harapan sekaligus agen
perubahan dalam menanggapi dentuman ledakan persoalan masyarakat
NTT. Dikatakan harapan dan satu-satunya agen perubahan karena
tanpa mengesampingkan peran formal masyarakat, kaum muda dalam
kiblatnya bersih dari intrik politik dan geliat bahaya destruktif politik
praksis. Politik kita telah banyak dicemari oleh pengaruh kekuasaan dan
uang. Dan mereka yang terjebak dalam ‘lingkaran setan’ itu adalah para
elitis. Jika kita kembali pada fakta sejarah Indonesia sebelum dan pasca
kemerdekaan telah banyak yang dilakukan oleh kaum muda. Yang paling
penting dalam ingatan sejarah Indonesia hingga saat ini ialah perjuangan
meruntuhkan rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Karena
itu, atas dasar perjuangan yang sama, pada hemat saya, ada beberapa
harapan yang bisa dilakukan kaum muda di NTT.
138
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Pertama, kaum muda menjadi medium komunikasi serentak
komunikator publik. Hal pertama yang dilakukan kaum muda ialah
menjadi perantara komunikasi. Peran utama kaum mudah yakni
mewadahi komunikasi baik antara masyarakat dan pemerintah, maupun
dalam antara elemen-elemen lainnya dalam masyarakat. Dampat
digambarkan dalam relasi seperti itu bahwa kaum tugas utama kaum
muda mengontrol penyelenggaran pemerintah di pihak lain. Pada
pihak lain menjembatani kepentingan masyarakat. Yang seyogya dibuat
oleh kaum untuk mempertemukan kedua elemen ini iala membangun
komunikasi dan dialog.
Kedua, kaum muda sebagai penyalur sekaligus pengamplifikasi
aspirasi. Konteks NTT masyarakat pada umumnya berada di bawah
jejaring pendidikan dengan mutu terendah. Tanpa mengampik hal ini,
mayarakat kita sejatinya merindukan elemen kaum muda agar segala
aspirasi mereka kemudian disampaikan kepada pemerintah. Karena itu,
kaum muda harus proaktif, merangkul, dan memengaruhi masyarakat
bawah. Yang dilakukan kaum muda bersuara di ruang publik.
Ketiga, kaum muda harus menjadi kekuatan kritis. Tanggung jawab
moral kaum muda yang paling fundamental, ialah menjadi semacam
dalam menyikapi aneka persoalan khalayak masyarakat. Masyarakat
membutuhkan tidak saja kecakapan kaum muda, tetapi lebih daripada
itu membutuhkan nalar rasional kritis dari kaum muda. Integritas dan
kredibilitas kaum muda justru akan diukur dari konsinstensi dalam
menyuarakan dan mengarahkan masyarakat.
Kita berharap banyak terhadap kaum muda. Penyelengaraan
politik dan kemajuan hanya akan terwujud apabila kita mengakui
penyelenggaraan demokrasi secara bersih dan murni. Kaum muda
menjadi tongkat estafet dalam mewujudkan misi itu. Karena itu, tidak
dikatakan naif jika dalam perjalanan waktu ada tindakan kaum muda
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
139
yang coba mengemplementasikan ketiga harapan di atas. Berdemontrasi
dan berorasi sudah lazim terjadi. Turun ke jalan dan mendramatisasi
kerapkali terjadi. Yang diharapkan dari semuanya itu agar kaum muda
tetap konsisten. Konsisten dengan pilihan, dan terutama konsisten untuk
tidak terkontaminasi dari bahaya reduksifasi.
IV. PENUTUP
Keseriusan pemerintah dalam meretas aneka persoalan di NTT
tidak cukup dengan hanya mengandalkan pelaku dari kalangan institusi
dan birokrasi. Secara institusional dan formal hal itu perlu, tetapi dipihak
lain diupayakan juga hal-hal positif dari masyarakat. Kemendasakan
seperti itu wajar adanya dewasa ini, sebab delik persoalan tidak tampak
mengendap pada permukaan, tetapi sudah menyentuh periferi kehidupan
masyarakat akar rumput. Karena itu, diperlukan daya imajinatif dan
revolusioner yang terbuka dari pemerintah melihat elemen-elemen
masyarakat kita. Kita tetap menunggu sepak terjang orang muda NTT di
masa-masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Alwino, Alfensius. “Korupsi Dan Robohnya Lembaga Penegak Hukum di
NTT”, dlm.: 50 Tahun NTT, Seri Buku VOX, 53/01/2009.
Dokumentasi Provinsi Ende, “Dokumen Kapitel Provinsi SVD Ende XXII
tahun 2015, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 23-29 November
2015.”
Nugroho, Bimo. Indonesia Memilih Jokowi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2014.
Riyanto, Armada. Berfilsafat Politik. Yogyakarta: Kanisius, 2015.
140
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Selcilius Riwu Nuga, “Six Millions Dollars: Membahas Kasus Human
Trafficking di Wilayah Kita”. Makalah yang disajikan dalam
Seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
(STFK) Ledalero-Maumere, Sabtu 7 Maret 2015.
Ule, Silvester. “Membangun Budaya Politik Demokratis: Menuju
Masyarakat NTT yang Sejahtera,” dlm.: 50 Tahun NTT, Seri Buku
Vox 53/01/2009.
Adrian Naur — Kaum Muda dan Harapan Perubahan di NTT
141
‘Berteologi dari Bawah’
bersama Kosuke Koyama1
Oleh: Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo2
I.PENDAHULUAN
“Saya mulai berbicara dari situasi konkret mereka. Setelah berbicara
tentang situasi manusia, saya melanjutkan dengan menghadirkan Allah
ke dalam situasi manusia yang riil ini.”3
(Kosuke Koyama, dalam Waterbuffalo Theology)
T
eologi Kosuke Koyama, oleh Stephen B. Bevans dikelompokkan
ke dalam salah satu model berteologi dalam konteks (teologi
kontekstual), yakni model sintesis. Koyama dan gagasan-gagasannya
begitu brilian dan secara amat valid mengindikasikan betapa konteks atau
1
Artikel ini diolah lagi dari makalah yang dipresentasikan dalam seminar mata kuliah
pilihan, Teolog-teolog Abad XX.
2
Penulis adalah Mahasiswa Semester VII
3
Dikutip oleh Bevans, dalam Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual,
penerj. Yosef Maria Florisan (Maumere: Ledalero, 2002), hlm. 177.
142
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
realitas merupakan semacam wadah yang memungkinkan terjadinya
sebuah eksplorasi teologis yang tentu juga mendalam dan berdaya gugah.
Dengan bertumpu pada kata kunci untuk memahami Koyama,
yakni ‘kontekstualisasi’, dalam artikel sederhana ini, kami sejauh dapat
memperkenalkan teolog (Kristen) Asia yang barangkali juga belum terlalu
popular di kalangan kita. Pertama kita akan merunut rekam jejak Koyama
yang berisi biografi, riwayat pekerjaan, dan sedaftar karya. Setelah itu, kita
akan menemukan pokok-pokok refleksi teologis Koyama yang termaktub
dalam sejumlah karyanya. Pada bagian berikut, karya dan penjelajahan
teologis yang paling terkenal dari Koyama akan diuraikan. Sekiranya
bagian inilah yang menjadi inti artikel sederhana ini. Selanjutnya, akan
ada beberapa catatan untuk Koyama dan teologinya, yang berakhir dengan
semacam kesimpulan dari seluruh pembahasan dalam artikel ini.
II. REKAM JEJAK KOSUKE KOYAMA4
Kosuke Koyama, hemat kami, masih mempraktikkan dinamika hidup
dan laju akademis yang nomaden. Tokyo, Jepang, 10 Desember 1929,
Koyama lahir. Tiga belas tahun sesudahnya, 1942, ia dibaptis menjadi
orang Kristen. Tahun 1960-1968, ia menjadi pengajar pada Seminari
Teologi Thailand. Kemudian, ia hijrah ke Singapura, antara tahun 19681974, menjadi direktur eksekutif pada Asosisasi Sekolah-sekolah Teologi
Asia Tenggara, dekan pada fakultas teologi, dan editor pada jurnal yang ia
kelolah, South East Asia Journal of Theology. Koyama pindah lagi menuju
Universitas Otago di Dunedin, Selandia Baru, pada tahun 1974, lalu sejak
1980, menjadi mahaguru dalam bidang ekumene dan kekristenan dunia
pada Union Theology Seminary di New York City. Pada tahun 1996, Koyama
pensiun dari Union. Sejak saat itu ia menetap di Minneapolis, Minnesota,
4
Ibid., hlm. 175-176. Sebagaimana terlampir, informasi untuk bagian ini kami olah
sedemikian rupa.
Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo — ‘Berteologi dari Bawah’ ...
143
Amerika Serikat. Sebagai seorang teolog Kristen, Koyama tutup usia pada
tanggal 25 Maret 2009 di Springfield, Massachusetts, United States, dengan
meninggalkan seorang istri bernama Lois, dua orang anak dan lima orang
cucu (mungkin sekarang sudah bertambah).
Koyama telah menulis dan menerbitkan ±6 buah buku terkenal,
antara lain: ‘Waterbuffalo Theology’ (1974), ‘Pilgrim or Tourist’ (1974),
‘Fifty Meditations’ (1975), ‘No Handle on the Cross’ (1977), ‘Three
Mile an Hour God’ (1980), dan ‘Mount Fuji and Mount Sinai’ (1985).5
Sebagian yang lain berisikan semacam antologi karangan, telaah Kitab
Suci, dan meditasi. Hanya ‘Mount Fuji and Mount Sinai’ yang menyajikan
suatu refleksi teologis yang berkesinambungan. Pelbagai karangan
dalam buku-buku ini pernah diterbitkan dalam beberapa jilid seri buku
Mission Trends, dalam buku Gerald H. Anderson berjudul Asian Voices
in Christian Theology, dan dalam karya Douglas J. Elwood yang berjudul
Asian Christian Theology. Aneka tulisan dan refleksinya yang lain
disiarkan juga dalam banyak jurnal, mulai dari Theological Education,
Missionalia, Missiology, hingga Christian Century.
III. K
OYAMA DAN BEBERAPA POKOK
DALAM KARYA-KARYANYA
Sebagai seorang yang bergiat aktif dalam gerakan ekumene,
gagasan-gagasan teologis Koyama dapat dirunut dalam buku-buku yang
dihasilkannya. Ini tentunya amat memudahkan siapa saja yang ingin
berkenalan lebih jauh dengan Koyama dan terlebih dengan refleksirefleksinya. Pada bagian ini, kami menyajikan secara ringkas aneka pokok
refleksi teologis Koyama yang termaktub dalam beberapa bukunya.6
5Lih. Kosuke Koyama (Online), (https://en.wikipedia.org/wiki/Kosuke_Koyama, diakses
31 Januari 2016).
6
Ibid.
144
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
a.Buku Waterbuffalo Theology diterbitkan tahun 1974 yang kemudian
direvisi pada tahun 1999. Pemikiran Koyama yang tertuang dalam
buku Waterbuffalo Theology ialah mengenai Teologi Ekologi, Teologi
Pembebasan, dan kontribusi terhadap dialog Kristen-Buddha.
Waterbuffalo Theology muncul karena kesadaran Teologi Kristen
di Asia terhadap dunia, dalam hal ziarah dan misi. Dalam buku
ini, Koyama mendorong pembaca untuk mematuhi panggilan
kekristenan dari kasih Allah.
b. Karya Koyama lainnya yakni Three Mile an Hour God masih
menekankan Teologi Lokal daripada Teologi Sistematik yang
hematnya, terlalu akademis. Selain itu, Koyama juga menampilkan
refleksi atas situasi yang terjadi di Jepang. Koyama menggambarkan
Tuhan dengan kecepatan tiga mil per jam dalam membimbing
refleksi yang mendalam untuk mengatasi jarak dan waktu. Dalam
buku ini, Koyama menampilkan sebuah harapan dari refleksi dengan
menganalogikan tanah perjanjian.
c.Buku No Handle on The Cross yang diterbitkan pada tahun 1977
berisikan elaborasi Koyama tentang bagaimana salib dapat dimaknai
sebagai simbol dari penderitaan orang-orang Kristen. Dalam buku ini,
ia juga mendeskripsikan adanya hubungan antara sejarah dan teologi.
Koyama menggunakan salib tanpa gagang untuk menggambarkan
bahwa pemikirannya telah bangkit sama seperti Yesus yang sudah
bangkit dan tidak lagi membutuhkan gagang pada salib-Nya.
d. Gagasan utama dalam Mount Fuji and Mount Sinai dilukiskan
demikian, “Pada akhirnya, baik gunung Fuji maupun gunung Sinai,
tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan. Kekuatan Allah
datang dari Dia yang diremukkan di gunung Kalvari.” Koyama secara
sungguh-sungguh mempertautkan atau mensintesiskan Kekristenan
dan kebudayaan Asia, khususnya Jepang.7
7
Lih. Stephen B. Bevans, op. cit., hlm. 181.
Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo — ‘Berteologi dari Bawah’ ...
145
IV. WATERBUFFALO THEOLOGY: ‘TEOLOGI
DARI BAWAH’
Kosuke Koyama, murid Kazoh Kitamori, merupakan satu dari empat
teolog terkenal Jepang yang dalam waktu lama hidup dan berkarya di
tengah realitas Thailand.8 Koyama menunjukkan metode yang ia pakai
dan ia tekankan dalam karya paling familiar ini, Waterbuffalo Theology,
sebagai ‘teologi dari bawah’. Artinya, hemat Koyama, pendekatan
terhadap teologi tidak ditentukan terutama oleh apa yang pernah
dikatakan teolog-teolog besar seperti Thomas Aquinas atau Karl Barth,
melainkan oleh kenyataan sehari-hari yang dialami oleh para petani
Thailand, semisal kerbau, marica, nanas, ayam, atau nasi pulut. Di sini,
Koyama tidak begitu saja mengabaikan atau menganggap sepi teologiteologi sistematik atau ‘yang lebih sulit’ sebagaimana digagas Aquinas,
Barth, dan yang lainnya. Koyama tetap membaca dan mempelajarinya
sebagai basis untuk kemudian mengambil jalan lain dan mulai fokus
pada arah teologi yang lebih tepat sasar sesuai konteks pewartaannya,
yakni ‘teologi dari bawah’ tersebut.
Kesaksian Koyama yang kemudian menjadi judul buku terkenalnya
ini lahir dari hidup dan pengalaman kerjanya di Asia. Koyama
menggambarkannya demikian,
“Dalam pejalanan saya ke gereja di pedesaan, saya selalu melihat
kawanan kerbau yang merumput di sawah yang berlumpur.
Pemandangan ini merupakan saat-saat yang penuh ilham. Mengapa?
Karena hal itu mengingatkan saya akan orang-orang yang kepada
mereka saya memberitakan Injil Kristus, mereka yang menghabiskan
sebagian besar waktunya dengan kerbau-kerbau di persawahan.
Kerbau-kerbau itu mengatakan kepada saya bahwa saya harus
8
Daniel J. Adams. Teologi Lintas Budaya. Refleksi Barat di Asia, penerj. Dachlan Sutisna
dan K. G. Hamakonda, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), hlm. 61. 146
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
berkhotbah kepada petani-petani itu dengan susunan kata dan cara
berpikir yang paling sederhana. Mereka mengingatkan saya supaya
saya membuang semua gagasan pikiran yang abstrak dan hanya
memakai objek-objek yang nyata.”9
Judul buku terkenal ini mengacu pada pendekatan teologis dan
hermeneutis Koyama, sementara pembagian pasal-pasalnya dengan
jelas mengindikasikan betapa buku ini merupakan suatu latihan
penafsiran alkitabiah. Bagian I berisi Penafsiran Sejarah, bagian II
Mengakar Injil, bagian III Penafsiran Kehidupan Buddhis Muangthai, dan
bagian IV Penafsiran Kehidupan Orang Kristen. Koyama mulai dengan
membicarakan keunikkan situasi historis di Asia pada umumnya,
kemudian mengkhususkannya pada setiap bangsa. Koyama berbicara
tentang pandangan Asia mengenai waktu yang berputar seperti
lingkaran (siklis), pengalaman Asia yang terjajah, dan reaksi Asia
terhadap teknologi. Setelah meletakkan dasar ini, Koyama menemukan
perlunya mengakarkan kembali iman Kristen di tanah Asia. Oleh
sebab konteks sejarah dan kebudayaan yang unik, Asia mempunyai
kesukaran-kesukaran teologis yang menuntut pendekatan-pendekatan
dan metodologi-metodologi yang cocok bagi kebutuhan-kebutuhannya.
Kendatipun tentunya dihadapkan juga pada sejumlah kesulitan atau
tantangan, satu aspek kreatif yang istimewa dalam teologi Koyama ialah
gambaran-gambarannya diambil dari kehidupan sehari-hari. Setelah
memulai dengan bagian yang singkat dari Alkitab, ia lalu mengaitkannya
dengan kehidupan Asia. Hal ini nyata dalam beberapa sub-judul yang
termaktub dalam Waterbuffalo Theology, antara lain, ‘Apakah Musim
Hujan Membuat Allah Basah’, ‘Senapan dan Balsem’, ‘Lada Aristoteles
dan Garam Buddhis’, dan ‘Arahant yang Dingin dan Allah yang Hangat’.10
9
Ibid., hlm. 63. Kesaksian ini tersurat pada bagian pengantar Waterbuffalo Theology.
10
Ibid., hlm. 62.
Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo — ‘Berteologi dari Bawah’ ...
147
Koyama dengan tegas mengatakan bahwa pesan Kristus harus
disampaikan dengan mengemukakan objek-objek yang dapat dikenali dan
dimengerti oleh para pendengar (dalam hal ini, para petani Muangthai
di Thailand). Koyama menempatkan kebutuhan-kebutuhan para petani
lebih tinggi daripada teologi Aquinas, Barth, atau yang lainnya. Ia
menggunakan gambaran-gambaran yang lebih hidup daripada ide-ide
abstrak dalam mengkomunikasikan Injil. Ia juga menegaskan bahwa
adalah tugasnya untuk membaca Alkitab dan karya-karya teologi dengan
memikirkan kebutuhan-kebutuhan para petani Muangthai. Koyama juga
menegaskan bahwa keprihatinan utama seorang teolog bukanlah agama
atau kebudayaan, melainkan manusia yang menjalankan suatu agama
dan yang hidup dalam suatu kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, orang
mempelajari agama dan/atau kebudayaan yang lain bukanlah untuk
kepentingannya sendiri, melainkan untuk dapat lebih baik memahami
umat dan agama serta budaya mereka. Koyama menunjukkan bahwa
agama Buddha tidak menderita, tidak berkeringat, tidak merasa lapar,
dan tidak menghendaki pemilikkan benda-benda, tetapi orang yang
beragama Buddha terlibat dalam semua hal itu, sebab mereka itu
manusia. Dengan demikian, Koyama berkonsentrasi pada orang Buddha,
bukan pada agama Buddha (sesuai konteks di Muangthai).11
V. C
ATATAN DAN RELEVANSI GAGASAN
TEOLOGIS KOYAMA
5.1 CATATAN
a. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Koyama tidak
menentang teologi sistematika. Ia tetap membaca teologi-teologi
yang sudah ada sejak lama tersebut, untuk selanjutnya terjun ke
11
Ibid., hlm. 64.
148
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
dalam konteks. Oleh sebab itu, model teologi Koyama merupakan
contoh model sintesis atau dialogal, yang merupakan salah satu
model dari teologi kontekstual.12
b. Dengan menunjukkan realitas yang paling sederhana (kerbau,
marica, nanas, ayam, atau nasi pulut), Koyama hendak menegaskan
bahwa Allah itu dekat dan ada di sekitar kita setiap waktu. Allah
tidaklah jauh, hanya tinggal bagaimana kita menyadari dan
merasakan kehadiran Allah itu.
c. Apakah semua penduduk Muangthai itu petani? Jika tidak,
semestinya pewartaan Injil itu universal, dalam arti, Koyama juga
mesti menunjukkan bagaimana ia berdialog dengan penduduk
Muangthai yang bukan petani. Namun, hal ini bukanlah persoalan,
karena fokus dan sasaran Koyama tampak amat jelas.
5.2 RELEVANSI
Teologi Koyama memang betul kontekstual, teologi yang terlibat
dalam konteks, berangkat dari konteks, sesuai konteks. Dengan begitu
benderang, Koyama hendak membongkar kemapanan berteologi kita
yang cenderung nyaman dalam cangkang konservatisme. Studi filsafat
dan teologi yang tengah kita gumuli, hanyalah dasar untuk selanjutnya
maju dalam ‘pertarungan’ konteks yang lebih riil. Sudah saatnya, bersama
Koyama, kita memeriksa kembali praktik berteologi kita. Hal ini pada
akhirnya menyata dalam bagaimana kita berpastoral di tengah realitas
di era post-(post-) modernisme ini. Konteks Flores pada khususnya dan
Indonesia pada umumnya, juga dunia universal pada skala yang paling
luas, hendaknya menjadi medan bagi kita untuk berteologi secara lebih
jujur dan tepat sasar. Yah, teologi yang sadar konteks.
12
Lih. Stephen B. Bevans, op. cit., hlm. 161-190.
Mariano Leonard Leta & Reinard L. Meo — ‘Berteologi dari Bawah’ ...
149
VI. PENUTUP
Amatlah baik apabila basis biblis yang digunakan Koyama - 1
Kor. 9:22-23 -, juga menjadi pedoman arah bagi kita dalam berteologi.
“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah,
supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua
orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin
memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku
lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”
Sudah saatnya teologi atau model berteologi kita tidak melulu nyaman
dalam menara gading konservatisme dan sebangsanya, melainkan
bersedia untuk terjun dalam konteks. Kita dipanggil untuk berteologi
secara lebih jujur dan tepat sasar di tengah dunia yang kian pelik, yang
kian ditandai aneka problema. Teologi kita hendaklah teologi yang sadar
konteks. Sebagaimana telah ditunjukkan Koyama, Paus Fransiskus juga
mengajak kita untuk bersedia menjadi kotor dan letih karena berada di
jalanan, berada di tengah kenyataan hidup yang membutuhkan jawaban,
bukannya nyenyak di ranjang yang datang dari keringat dan air mata
umat.
DAFTAR PUSTAKA
Adams, Daniel J. Teologi Lintas Budaya. Refleksi Barat di Asia, penerj.
Dachlan Sutisna dan K. G. Hamakonda. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1992
Bevans, Stephen B. Model-model Teologi Kontekstual, penerj. Yosef Maria
Florisan. Maumere: Ledalero, 2002
Kosuke Koyama (Online), (https://en.wikipedia.org/wiki/Kosuke_
Koyama, diakses 31 Januari 2016).
150
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Box
IDOLA
D
alam esainya, Goenawan Mohammad mencatat; “Seseorang pernah
bertanya apa pesan yang hendak diungkapkan Hemingway dalam
bukunya. ‘Tak ada pesan dalam novel-novel saya’, jawab penulis Farewell
to Arms itu. ‘Kalau saya mau sampaikan pesan, saya kirimkan lewat pos’”.
Candakah jawaban itu? Rendah hati yang munafikkah? Tidak.
Hemingway sadar, ia hidup bersama realitas bisu. Realitas yang tak akan
tuntas diungkai. Ahok yang ditersangkakan, kemenangan Donald Trump
sebagai Presiden Amerika Serikat, idealisme mahasiswa yang bungkam
ditelan sistem, demo bela agama yang berjilid-jilid, kuasa media
sosial, kelesuan berpikir, atau kebencian yang terpendam.
Akan tetapi, tidak ada alam semesta lain yang dipunyai. Ocehan
remeh-temeh sampai berujung teori tidak sia-sia. Semuanya tentang
realitas. Semuanya memperkaya. Hanya diktum; “akulah sumber
kebenaran” yang harus tersingkir. Itulah mengapa? Kala menyanggah teori
tradisional yang hanya ‘memandang’ realitas, tokoh-tokoh teori kritis
berkata; teori harus berdampak pada ‘perubahan’ apa yang dipandangnya.
Akan tetapi, ideal ini, -yang mulanya ingin menuju masyarakat yang
makin rasional- malah macet terjebak dalam irasionalitas. Habermas
kemudian menunjukkan bahwa penelusuran terhadap rasionalitas tidak
Box — Idola
151
cukup memperhatikan dimensi pekerjaan. Ada dimensi komunikasi,
yang tujuannya “saling pengertian.”
Respon tentang ‘mengapa harus menjelaskan realitas’ perlu diasah.
Mula-mula sudah ada jawabannya. Emansipasi! Emansipasi dari belenggu
kekuasaan yang tidak disadari. Bagaimana caranya? Kritis, bernyali, lalu
berjuang. Hal terakhir ini dilukiskan dengan indah dalam Tarian Bumi,
sebuah novel karangan Oka Rusmini. Dalam sebuah pasase, Luh Dalem,
salah seorang tokoh dalam novel itu, berkata kepada Luh Sekar, anaknya;
“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan
keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka
sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup dan terus hidup.”
Novel ini, walau berkarakter partikular, tawaran nilainya universal.
Bukan hanya Luh atau perempuan atau apalah. Manusia yang berjuang
itu minim keluh tetapi kaya peluh. Peluh itu simbol keenerjikan
manusia. ‘Yang enerjik’ jamak terlampir dalam golongan yang mudamuda. Alasannya, anak muda penuh dengan idealisme dan kata realitas;
‘berhakikat giat’.
Perihal idealisme, ada yang patut direfleksikan. Yang muda, kala
sekolah, panas idealismenya, kerap mencecar pemerintah dengan
‘tidak becus,’ ‘korup,’ ‘tidak berpihak,’ dan sebagainya. Selepas sekolah,
berbekal hidayah, masuklah dalam sistematika. Naasnya, yang muda,
yang diharapkan mengubah, kerap bungkam, tak mampu melawan, takut
bahaya. Ah, mereka telah jadi tua. Kala ditanya anak muda, dalihnya:
‘sistem itu sulit kamu ubah!’. Nekat melabrak, tamat sudah, bukan di luar,
ya di penjara. Lihatlah sirkularitas kemandekkan yang muda.
Lalu, apakah ini takdir bagi semua? Ini kisah bagi semua? Tidak juga.
Figur Jokowi dan Ahok, sejauh ini, masih terpercaya. Kerusakkan sistem
diperbaikinya. Ada bahaya, namun belum kalah-kalah. Mengapa tak
terbawa? Sistem imun mereka, tertempa sejak muda. Walau lingkupnya
152
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
rusak parah, kedegilan hati mereka, boleh dikata; gila. Di sana-sini, mulai
tampak hasilnya. Perlahan-lahan, wajah-wajah berwatak koruptif terkikis
moleknya. Ah, sejauh ini, bagi saya, mereka idola.
Idola. Rupanya, mengidolakan yang hidup, ada bahaya. Sekali idola
terantuk, harap itu purna sudah. Sejauh ini mereka teruji? Ya. Ujiannya
sudah purna? Belum. Namun, tak apalah. Sekurang-kurangnya sudah
terjejak kisah, rasa percaya yang makin langka, pernah diperkaya lagi
oleh tangannya.
Maka, siapakah idola? Tuhankah? Ya, Dia sempurna. Tapi, Tuhan
itu agama apa? Ganti. Idola harus manusia. Dia tidak hidup lagi dan
harus yang muda. Mengapa? Sekurang-kurangnya kenangan tentang
kemudaannya abadi, tak pernah rapuh, tak pernah jadi tua. Lalu, yang
sudah mati?
Kupilih Ibu Kartini. Ia perempuan. Pejuang. Katanya; sekolah bukan
domain kaum pria. Wanita juga. Maka, feodalisme Jawa abad ke-19
dirusakannya. Idealisme pribadinya yang penuh, –khas kaum mudayang terpatri dalam kemahsyuran surat-suratnya, sayangnya tak tiba. Ia
mati muda. Ia baru 25 tahun.
Yang ironis, mengapa ia disapa ibu, dan bukannya pejuang? Ah,
rupanya tradisi telah menjebak penunggang gelombang itu ke dalam
relung ketuaan. Potretnya bukan lagi bagian dari pergerakkan progresif,
tapi pengayom struktur yang konservatif. Sebuah tragedi tentang idola
kita. Benarlah Simone de Beauvoir; “lawan dari hidup bukanlah kematian
melainkan ketuaan.”
(Venancius Meolyu)
Box — Idola
153
154
Akademika — VOL. X, No. 1, Agustus-Desember 2016
Download