BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akuntansi Sosial Di Indonesia

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Akuntansi Sosial
Di Indonesia sendiri, permasalahan akuntansi sosial memang bukanlah hal
yang baru, para pakar akuntansi di Indonesia juga telah melakukan analisis dan studi
tentang kemungkinan penerapan akuntansi sosial di Indonesia (Harahap, 1988); lihat
juga Bambang Sudibyo (1988); Hadibroto (1988) dalam Arief Suadi (1988), hanya
saja akuntansi sosial menjadi kurang popular karena kemungkinan perusahaanperusahaan di Indonesia memanfaatkan laporan tahunan hanya sebagai laporan
kepada shareholders dan stakeholders atau bagi calon investor (Muslim Utomo,
2000). Sebuah analisis yang dilakukan oleh bambang Sudibyo (1988) dalam Arief
Suadi (1988) menyimpulkan bahwa terdapat dua hal yang menjadi kendala sulitnya
penerapan akuntansi sosial di Indonesia, yaitu (1) lemahnya tekanan sosial yang
menghendaki pertanggungjawaban sosial perusahaan dan (2) rendahnya kesadaran
perusahaan
di
Indonesia
tentang
pentingnya
pertanggungjawaban
sosial
(www.resum.wordpress.com, 2011).
2.1.1
Pengertian Akuntansi Sosial
Hadibroto (1988); Bambang Sudibyo (1988) dan para pakar akuntansi di
Indonesia menggunakan istilah Akuntansi pertanggung jawaban sosial (APS) sebagai
akuntansi yang memerlukan laporan mengenai terlaksananya pertanggungjawaban
12
13
sosial perusahaan. Hendriksen (1994), menggambarkan akuntansi sosial
sebagai suatu pernyataan tujuan, serangkaian konsep sosial dan metode
pengukurannya, struktur pelaporan dan komunikasi informasi kepada pihak–pihak
yang berkepentingan. Pernyataan Hendriksen (1994) tersebut memberikan gambaran
tentang hubungan mendasar antara konsep akuntansi sosial dengan informasi yang
dihasilkan, sehingga secara kongkrit informasi tersebut dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan (www.resum.wordpress.com, 2011).
Berdasarkan beberapa uraian diatas, pada dasarnya definisi yang diberikan
oleh para pakar akuntansi mengenai akuntansi sosial memiliki karakteristik yang
sama, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi
(1988), yaitu Akuntansi sosial berkaitan erat dengan masalah : (1) Penilaian dampak
sosial dari kegiatan entitas bisnis, (2) mengukur kegiatan tersebut (3) melaporkan
tanggungjawab sosial perusahaan, dan (4) sistem informasi internal dan eksternal atas
penilaian terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan dampaknya secara sosial
ekonomi (www.resum.wordpress.com, 2011).
2.1.2
Tujuan Akuntansi Sosial
Tanggungjawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan mendasari timbulnya
akuntansi sosial menurut Hendriksen (1994) adalah untuk memberikan informasi
yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di
evaluasi. Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988) juga menguraikan tiga tujuan
dari akuntansi sosial yaitu : (1) mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial
13
neto periodik suatu perusahaan, yang meliputi bukan hanya manfaat dan biaya sosial
yang di internalisasikan keperusahaan, namun juga timbul dari eksternalitas yang
mempengaruhi segmen-segmen sosial yang berbeda, (2) membantu menentukan
apakah strategi dan praktik perusahaan yang secara langsung mempengaruhi
relatifitas sumberdaya dan status individu, masyarakat dan segmen-segmen sosial
adalah konsisten dengan prioritas sosial yang diberikan secara luas pada satu pihak
dan aspirasi individu pada pihak lain, (3) memberikan dengan cara yang optimal,
kepada semua kelompok sosial, informasi yang relevan tentang tujuan, kebijakan,
program, strategi dan kontribusi suatu perusahaan terhadap tujuan-tujuan sosial
perusahaan (www.resum.wordpress.com, 2011).
Berdasarkan tujuan akuntansi sosial yang diuraikan diatas dapat dipahami
bahwa akuntansi sosial berperan dalam menjalankan fungsinya sebagai bahasa bisnis
yang mengakomodasi masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh perusahaan,
sehingga pos-pos biaya sosial yang dikeluarkan kepada masyarakat dapat menunjang
operasional
dan
pencapaian
tujuan
jangka
panjang
perusahaan
(www.resum.wordpress.com, 2011).
2.2
Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Tanggungjawab sosial perusahaan merupakan konsep yang terus berkembang.
Hingga saat ini tanggungjawab sosial belum memiliki sebuah definisi standar maupun
seperangkat kriteria spesifik yang diakui secara penuh oleh pihak-pihak yang terlibat
didalamnya (Edi Suharto, 2010).
13
Menurut Ali Darwin (2004) dalam Reni Retno Anggraini (2006) menyatakan
bahwa pertanggungjawaban sosial perusahaan atau tanggungjawab sosial adalah
mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian
terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan
stakeholders, yang melebihi tanggungjawab organisasi di bidang hukum.
Selain itu, International Organization for Standardization (ISO) 26000
mengenai
Guidance
on
Social
Responsibility
juga
memberikan
definisi
tanggungjawab sosial. Meskipun baru sebatas draft, pedoman ini selalu dijadikan
rujukan. Menurut ISO 26000 dalam Edi Suharto (2010) adalah:
“Tanggungjawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari
keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan
lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan
etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan termasuk
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan
pemangku kepentingan, sejalan dengan hokum yang ditetapkan dan
norma-norma perilaku internasional; serta integrasi dengan organisasi
secara menyeluruh.”
Pengertian tanggungjawab sosial juga terdapat dalam Undang-undang PT No.
40 tahun 2007 pasal satu butir tiga (2007) yang menyatakan bahwa:
“Tanggungjawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan
untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan
guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang
bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun
masyarakat pada umumnya.”
Pengertian tanggungjawab sosial yang relatif mudah dipahami dan
diopersionalkan adalah dengan mengembangkan Triple Bottom Lines (profit, planet,
dan people) yang digagas John Elkington (1998), dia menegaskan bahwa perusahaan
13
yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit), melainkan
memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan
masyarakat (people), hal tersebut memiliki tujuan agar tanggungjawab sosial harus
mampu meningkatkan laba perusahaan, menyejahterakan karyawan dan masyarakat,
serta meningkatkan kualitas lingkungan (Edi Suharto, 2010). Namun Edi Suharto
(2010) menambahkan satu konsep tambahan, yakni procedure. Dengan demikian,
tanggungjawab sosial merupakan kepedulian perusahaan yang menyisihkan sebagian
keuntungan (profit) bagi kepentingan pembangunan manusia (people) dan lingkungan
(planet) secara berkelanjutan berdasarkan prosedur (procedure) yang tepat dan
profesioanl.
2.2.1
Pelaksanaan Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Menurut Norhadi (2011), tanggungjawab yang harus dimiliki perusahaan
terbagi menjadi empat konsep, yaitu:
1. Ethic responsibility, maksudnya perusahaan berkewajiban melakukan
aktivitas bisnis didasarkan etika bisnis yang sehat. Dalam konteks ini,
perusahaan tidak benar melakukan aktivitas yang menyimpang secara etika,
baik dilihat aspek norma bisnis, masyarakat, agama, budaya, lingkungan.
2. Legal responsibility, maksudnya perusahaan sebagai bagian dari masyarakat
yang lebih luas memiliki kepentingan untuk memenuhi aturan legal formal,
sebagaimana yang diisyaratkan oleh pemangku kekuasaan. Operasional
13
perusahaan juga hendaknya dilakukan sesuai dengan kaidah peraturan
perundang-undangan.
3. Economic
responsibility,
maksudnya
secara
ekonomi
tanggungjawab
perusahaan adalah menghasilkan barang dan jasa kepada masyarakat dan
memberikan keuntungan kepada perusahaan. Dengan menghasilkan barang
dan jasa, maka perusahaan diharapkan memberikan pekerjaan yang produktif
terhadap masyarakat sekitarnya, menyumbangkan sebagian keuntungan dalam
bentuk pajak kepada masyarakat.
4. Citizenship responsibility, perusahaan bukan hanya bertanggungjawab
terhadap pemegang saham, namun juga bertanggungjawab terhadap
masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Keberadaan perusahaan bukan bersifat
independen terhadap lingkungan dan masyarakat, melainkan memiliki
ketergantungan dan membutuhkan lingkungan masyarakat yang lebih besar.
Dengan demikian, perusahaan harus melakukan tindakan tanggungjawab
sosial dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan operasionalnya.
Sedangkan menurut John Elkington (1998) dalam Sedoyono Hasibuan (2006)
menyatakan bahwa tanggungjawab sosial dibagi menjadi tiga komponen utama yang
dikenal dengan konsep triple bottom line, yaitu:
1. People, sebuah bisnis harus
bertanggungjawab untuk memajukan dan
menyejehterakan sosial serta seluruh stakeholders. Hal ini bisa dibuktikan
dengan kegiatan kedermawanan yang dilakukan secara tulus untuk
13
membangun masyarakat dan sumberdaya manusi, seperti memberikan
beasiswa pendidikan dan pelayanan kesehatan.
2. Profit, perusahaan tidak boleh hanya memiliki keuntungan bagi organisasinya
saja tetapi harus dapat memberikan kemajuan ekonomi bagi para stakeholder.
Hal ini dapat dibuktikan dengan cara perusahaan terjun lanngsung ke
masyarakat untuk memperkuat ketahanan ekonomi, seperti pembinaan Usaha
Kecil Menengah (UKM), bantuan modal dan kredit serta pemberdayaan
tenaga lokal.
3. Planet, perusahaan harus dapat menggunakan sumberdaya alam dengan
sangat bertanggungjawab dan menjaga keadaan lingkungan serta memperkecil
jumlah limbah produksi. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara penerapan proses
produksi yang besih, aman dan bertanggunjawab, contohnya seperti
pengelolaan limbah, penanaman pohon, dan kampanye lingkungan hidup.
13
Tabel 2.1 The Triple Bottom Line of Corporate Social Responsibility
People
Definisi
Sebuah
Profit
Planet
bisnis Perusahaan
harus
boleh
bertanggungjawab
memiliki
tidak Perusahaan harus
hanya dapat
untuk memajukan keuntungan
menggunakan
bagi sumberdaya alam
masyarakat sosial organisasinya saja dengan
serta
sangat
seluruh tetapi harus dapat bertanggungjawab
stakeholdersnya
memberikan
dan
menjaga
kemajuan ekonomi keadaan
bagi
para lingkungan
stakeholdersnya
serta
memperkecil
jumlah
limbah
produksi
Jenis kegiatan
Kegiatan
Tindakan
kederamawanan
perusahaan untuk produksi
yang
Penerapan proses
yang
dilakukan terjun langsung di bersih, aman dan
secara tulus untuk dalam masyarakat bertanggungjawab
membangun
masyarakat
sumberdaya
untuk memperkuat
dan ketahanan
ekonomi
manusia
Contoh
• Beasiswa
pendidikan
• Pelayanan
kesehatan
• Sumbangan
• Pembinaan
UKM
• Bantuan modal
dan kredit
• Pemberdayaan
• Pengelolaan
limbah
• Penanaman
pohon
• Kampanye
13
bencana alam
tenaga lokal
lingkungan
hidup
Sumber: Sedoyono Hasibuan (2006)
Menurut ISO 26000 dalam Achmad Daniri (2008) bahwa prinsip-prinsip
dasar tanggungjawab sosialyang menjadi dasar bagi pelaksanaan yang menjiwai atau
menjadi informasi dalam pembuatan keputusan dan kegiatan tanggungjawab sosial,
melliputi:
1. Kepatuhan kepada hukum
2. Menghormati instrumen atau badan-badan internasional
3. Menghormati stakeholders dan kepentingannya
4. Akuntabilitas
5. Transparansi
6. Perilaku yang beretika
7. Melakukan tindakan pencegahan
8. Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia
2.2.2
Manfaat Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Menurut Edi Suharto (2010) jika dikelompokan terdapat empat manfaat
diterapkannya tanggungjawab sosial yang dapat diperoleh perusahaan, yaitu:
1. Brand Differentiation
Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, tanggungjawab sosial bisa
memberikan citra perusahaan yang khas, baik, dan etis dimata publik yang
pada gilirannya menciptakan customer loyalty.
13
2. Human Resources
Program tanggungjawab sosial dapat membantu dalam perekrutan karyawan
baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi.
3. Licences to Operate
Perusahaan yang menjalankan tanggungjawab sosial dapat mendorong
pemerintah dan publik memberi “izin” bisnis, karena dianggap telah
memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan
masyarakat luas.
4. Risk Management
Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan. Reputasi
perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh
skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau kerusakan lingkungan.
Menurut Jalal (2010), tanggungjawab sosial dapat memberikan berbagai
manfaat potensial bagi organisasi, diantaranya:
1. Bisnis yang bertanggungjawab sosial (socially responsibility business)
dianggap sebagai satu-satunya cara berbisnis yang dapat diterima dimasa
mendatang
2. Bisnis dengan cara tersebut akan mendatangkan manfaat bagi pemagku
kepentingan dan menguntungkan perusahaan
3. Keuntungan
penghematan
perusahaan
biaya
produksi,
peningkatan nilai saham
itu
dating
dari
peningkatan
peningkatan
pemasaran
produktivitas,
produk,
serta
13
4. Bentuk-bentuk sumbangan berupa uang tunai semakin jarang perannya dalam
tanggungjawab sosial digantikan bentuk-bentuk yang lebih stratejik.
2.2.3
Pengungkapan tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Menurut Mathews (1995) dalam Edi Rismanda Sembiring (2005) bahwa
pengungkapan tanggungjawab sosial atau yang sering disebut dengan social
disclosure, corporate social reporting, social accounting merupakan proses
pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi
terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara
keseluruhan, hal tersebut memperluas tanggungjawab perusahaan, diluar peran
tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal,
khususnya pemegang saham. Perluasan tersebut dibuat dengan asumsi bahwa
perusahaan mempunyai tanggungjawab yang lebih luas disbanding hanya mencari
laba untuk pemegang saham menurut Grey, dkk (1987) dalam Edi Rismanda
Sembiring (2005).
Menurut ACCA (2004) dalam Reni Retno Anggraini (2006) menerangkan
bahwa pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan dalam laporan yang
disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai
kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan
produknya
di
dalam
konteks
pembangunan
berkelanjutan
(Sustainability
Development). Sustainability Reporting meliputi pelaporan mengenai ekonomi,
lingkungan dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi. Menurut Norhadi (2011)
13
menyatakan bahwa laporan tanggungjawab sosial menjadi tidak terpisahkan dengan
laporan tahunan (annual report) yang dipertanggungjawabkan direksi.
Menurut Ali Darwin (2004), terdapat dua jenis pengunggkapan dalam
pelaporan keuangan yang telah ditetapkan oleh badan yang memiliki otoritas dipasar
modal, yaitu:
1. Mandatory disclosure atau pengungkapan wajib, yaitu informasi yang harus
diungkapkan oleh emiten yang diatur oleh peraturan pasar modal disuaru
negara.
2. Voluntary disclosure atau pengungkapan sukalera, yaitu pengungkapan yang
dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh standar yang
ada.
Menurut Edi Suharto (2010) untuk perusahaan yang mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia, pengungkapan kegiatan sosial seperti tanggungjawab sosial
telah diatur dalam peraturan Bapepam No. KEP-134/BI/2006 tanggal 7 Desember
2006 sebagai pengganti peraturan Bapepam No KEP-38/PM/1996. Peraturan
Bapepam tersebut diupayakan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang
kinerja menejemen kepada publik, sedangkan menurut Ali Darwin (2004)
pengungkapan sosial dalam tanggungjawab perusahaan sangat perlu dilakukan,
karena bagaimanapun juga perusahaan memperoleh nilai tambah dari kontribusi
masyarakat disekitar perusahaan termasuk dari penggunaan sumber-sumber sosial.
Alasan perusahaan membuat laporan tanggungjawab sosial dan lingkungan antara
lain:
13
1. Untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi dan untuk menunjukan
adanya pertanggungjawaban dan keterbukaan
2. Bagi stakeholders, membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan serta
komunikasi
3. Mengurangi resiko korporat dan melindungi nama baik (reputasi)
4. Analisa investasi bagi investor (social responsible investment)
5. Memicu penyempurnaan secara terus menerus dalam perusahaan
6. Menghasilkan daya saing yang tinggi dalam perolehn pinjaman, SDM,
pemasok, dan pelanggan
Global Reporting Intiative menekankan pentingnya enam prinsip yang perlu
diperhatikan dalam membuat pelaporan tanggungjawab sosial yang baik (Edi
Suharto, 2010), yaitu:
1. Accuracy, informasi harus lengkap dan cukup detail agar bisa dinilai oleh
pemangku kepentingan secara jelas, tepat dan akurat
2. Balance, mencermikan aspek-aspek positif dan negatif dari tanggungjawab
sosial yang dilakukan
3. Comparability, variable yang digunakan dan dilaporkan harus konsisten agar
dapat diperbandingkan antar waktu
4. Clarity, informasi harus tersedia dalam bentuk yang mudah dipahami dan bisa
diakses oleh pemangku kepentingan
5. Reliability, informasi dapat dipercaya berdasarkan cara atau metodologi yang
dapat dipertanggungjawabkan
13
6. Timeliness, laporan tersedia tepat waktu bagi pemangku kepentingan dan
pihak-pihak lain yang memerlukan
Item pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan mengacu pada hasil
penelitian terdahulu, menurut hasil penelitian Hackston dan Milne (1996) dalam Edi
Rismanda Sembiring (2005), item-item pengungkapan tanggungjawab sosial
perusahaan dibagi kedalam tujuh kategori, yaitu: lingkungan, energi, kesehatan dan
keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat dan
umum, ketujuh kategori tersebut terbagi dalam 90 item pengungkapan. Berdasarkan
peraturan Bapepam No. VIII.G.2 tentang laporan tahunan dan kesesuaian item
tersebut untuk diaplikasikan di Indonesia, maka penyesuaian kemudian dilakukan.
Dua belas item dihapuskan karena kurang sesuai untuk diterapkan dengan kondisi di
Indonesia sehingga secara total tersisa 78 item pengungkapan. 78 item tersebut
kemudian disesuaikan kembali dengan masing-masing sektor industri sehingga item
pengungkapan yang diharapkan dari setiap sektor berbeda-beda.
Item-item pengungkapan tanggungjawab sosial menurut Edi Rismanda
Sembiring (2005), adalah sebagai berikut:
A. Lingkungan
Bidang ini meliputi aktifitas pengendalian pencemaran dan lingkungan hidup,
hal tersebut meliputi pengendalian terhadap kerusakan lingkungan, konversi
alam dan pengungkapan lain yang berkaitan dengan lingkungan. Item-itemnya
adalah:
13
1.
Pengendalian
polusi
kegiatan
operasi,
pengeluaran
riset
dan
pengembangan untuk pengurangan polusi
2.
Pernyataan
yang
menunjukan
bahwa
operasi
perusahaan
tidak
mengakibatkan polusi atau memenuhi ketentuan hukum dan peraturan
polusi memenuhi ketentuan hukum dan peraturan polusi
3.
Pernyataan yang menunjukan bahwa polusioperasi telah atau akan
dikurangi
4.
Pencegahan atau perbaikan kerusakan lingkungan akibat pengolahan
sumber alam, misalnya reklamasi daratan atau reboisasi
5.
Konversi sumber alam, misalnya mendaur ulang kaca, besi, minyak, air
dan kertas
6.
Penggunaan material daur ulang
7.
Menerima penghargaan berkaitan dengan program lingkungan yang
dibuat perusahaan
8.
Merancang fasilitas yang harmonis dengan lingkungan
9.
Kontribusi dalam seni yang bertujuan untuk memeperindah lingkungan
10. Kontribusi dalam pemugaran bangunan bersejarah
11. Pengolahan limbah
12. Mempelajari dampak lingkungan untuk memonitor dampak lingkungan
perusahaan
13. Perlindungan lingkungan hidup
13
B. Energi
Bidang ini meliputi aktivitas dalam pengaturan penggunaan energi dalam
hubungannya operasi perusahaan dan penignkatan efisiensi terhadap produk
perusahaan, meliputi konservasi energi, efisiensi energi, dll. Itemnya adalah:
14. Menggunakan energy secara lebih efisien dalam kegiatan operasi
15. Memanfaatkan barang berkas untuk memproduksi energi
16. Penghematan energi sebagai hasil produk daur ulang
17. Membahas upaya perusahaan dalam mengurangi konsumsi energi
18. Peningkatan efisiensi energi dari produk
19. Riset yang mengarah pada peningkatan efisiensi energi dari produk
20. Kebijakan energi perusahaan
C. Kesehatan dan Keselamatan Tenaga Kerja
Bidang ini meliputi aktivitas dalam pelaksanaan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam hubungannya dengan operasi perusahaan dan peningkatan
terhadap efisiensi pelaksanaan kegiatan perusahaan. Itemnya adalah:
21. Mengurangi polusi, iritasi atau resiko dalam lingkungan kerja
22. Mempromosikan keselamatan tenaga kerja dan kesehatan fisik atau
mental
23. Statistik kecelakaan kerja
24. Mentaati peraturan standar kesehatan dan keselamatan kerja
25. Menerima penghargaan berkaitan dengan keselamatan kerja
26. Menetapkan sutau komite keselamatan kerja
13
27. Melaksanakan riset untuk meningkatkan keselamatan kerja
28. Pelayanan kesehatan tenaga kerja
D. Lain-lain dengan Tenaga Kerja
Segala kegiatan lainnya yang berhubungan dengan tenaga kerja, itemnya
adalah:
29.
Perekrutan atau memanfaatkan tenaga kerja wanita/orang cacat
30.
Presentase jumlah tenaga kerja wanita/orang cacat dalam tingkat
manajerial
31.
Tujuan penggunaan tenaga kerja wanita/orang cacat dalam pekerjaan
32.
Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat
33.
Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu di tempat kerja
34.
Memberi bantuan keuangan pada tenaga kerja dalam bidang pendidikan
35.
Mendirikan suatu pusat pelatihan tenaga kerja
36.
Bantuan atau bimbingan untuk tenaga kerja yang dalam proses
mengundurkan diri atau yang telah membuat kesalahan
37.
Perencanaan kepemilikan rumah karyawan
38.
Fasilitas untuk aktivitas rekreasi
39.
Presentase gaji untuk pensiun
40.
Kebijakan penggajian dalam perusahaan
41.
Jumlah tenaga kerja dalam perusahaan
42.
Tingkatan menejerial yang ada
43.
Disposisi astaff dimana staff ditempatkan
13
44. Jumlah staff, masa kerja dan kelompk usia mereka
45. Statistik tenaga kerja, misalnya penjualan pertenaga kerja
46. Kualifikasi tenaga kerja yang direkrut
47. Rencana kepemilikan saham oleh tenaga kerja
48. Rencana pembagian keuntungan lain
49. Informasi
hubungan
manajemen
dengan
tenaga
kerja
dalam
meningkatkan kepuasan dan motivasi kerja
50. Informasi stabilitas pekerjaan tenaga kerja dan masa depan perusahaan
51. Laporan tenaga kerja yang terpisah
52. Hubunga perusahaan dengan sertifikat buruh
53. Gangguan dan aksi tenaga kerja
54. Informasi bagaimana aksi tenaga kerja dinegosiasikan
55. Kondisi kerja secara umum
56. Reorganisasi perusahaan yang mempengaruhi tenag akerja
57. Statistik perputaran tenaga kerja
E. Produk
Meliputi keamanan, pengurangan polisu, dll. Itemnya adalah:
58. Pengembangan produk perusahaan termasuk pengemasan
59. Gambaran pengeluaran riset dan pengembangan produk
60. Informasi proyek riset perusahaan untuk memperbaiki produk
61. Produk memenuhi standar keselamatan
62. Membuat produk lebih aman untuk konsumen
13
63. Melaksanakan riset atau tingkat keselamatan produk perusahaan
64. Peningkatan kebersihan/kesehatan dalam pengolahan dan penyiapan
produk
65. Informasi dan keselamatan produk perusahaan
66. Informasi mutu produk yang dicerminkan dalam penerimaan penghargaan
67. Informasi yang dapat diverifikasi bahwa mutu produk telah meningkat
(ISO 9000)
F. Keterlibatan masyarakat
Meliputi segala kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang berhubungan
dengan masyarakat. Itemnya adalah:
68. Sumbangan tunai, produk, pelayanan untuk mendukung aktivitas
masyarakat, pendidikan dan tunai
69. Tenaga kerja paruh waktu dari mahasiswa/pelajar
70. Sebagai sponsor utnuk proyek kesehatan masyarakat
71. Membantu riset medis
72. Sponsor untuk konversi pendidikan, seminar atau pameran seni
73. Membiayai program beasiswa
74. Membuka fasilitas perumahan untuk masyarakat
75. Sponsor kampanye nasional
76. Mendukung pengembangan industry local
13
G. Umum
Meliputi kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan tanggungjawab sosial
perusahaan. Itemnya adalah:
77. Tujuan
kebijakan
pemisahan
secara
umum
berkaitan
dengan
tanggungjawab sosial perusahaan kepada masyarakat
78. Informasi berhubungan dengan tanggungjawab sosial perusahaan selain
yang disebutkan diatas
Pengukuran tingkat pengungkapan tanggungjawab pada annual report
dilakukan dengan metode content analysis. Metode content analysis merupakan
metode pengumpulan data melalui teknik observasi dari analisis terhadap isi atau
pesan dari suatu dokumen untuk
menghasilkan deskripsi yang objektif dan
sistematik, seperti kategori isi, telaah, pemberian kode berdasarkan karakteristik
kejadian atau transaksi yang terdapat dalam dokumen (Nur Indriantoro dan Bambang
Supomo, 2002). Total CSRI adalah 78 item. Pendekatan untuk menghitung CSRI
pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi yaitu setiap item tanggungjawab
sosial dalam instrument penelitian diberi nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai 0 jika
tidak diungkapkan. Selanjutnya, skor dari setiap item dijumlahkan untuk memperoleh
keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus perhitungan CSRI adalah sebagai
berikut (Yosefa Sayekti dan Ludovicus Sensi Wondabio, 2007):
CSRIj = Xij
nj
13
Dimana:
CSRIj : Corporate Social Responsibility Disclosure Index Perusahaan j
nj
: Jumlah item untuk perusahaan j, nj < 78
Xij : Dummy variable; 1 = jika item i diungkapkan, 0 = jika item i tidak
diungkapkan
Menurut Ali Darwin (2004), tujuan dari pengungkapan tanggungjawab sosial
adalah:
1. Mengidentifikasi dan mengukur kontribusi sosial perusahaan tiap periode,
yang tidak hanya berupa internalisasi social cost dan social benefit, tetapi juga
pengaruh eksternalitas tersebut terhadap kelompok sosial yang berbeda
2. Membantu dan menentukan apakah strategi dan praktek perusahaan secara
langsung mempengaruhi sumber daya dan status kekuatan dari individu,
masyarakat, kelompok sosial dan generasi yang berkonsisten dengan prioritas
sosial disatu sisi dengan aspirasi individu dipihak lain
3. Menyediakan secara optimal mengenai informasi-informasi yang relevan
dengan unsur-unsur sosial dalam tujuan, kebijakan, program, kinerja dan
sumbangan perusahaan terhadap tujuan sosial
2.2.4
Peraturan Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Undang-undang tentang CSR di indonesia tertuang dalam UU PT No. 40
tahun 2007 pasal 74 ayat 1 yaitu perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya
dibidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
13
tanggungjawab social dan lingkungannya, pereseroan yang tidak melaksanakan
kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan lain yang menyentuh tanggungjawab sosial perusahaan adalah UU No.25
Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa ”Setiap
penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.”
Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan
usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan tanggungjawab sosial pasal 16 ayat
d mengatakan setiap penanaman modal bertanggung jawab menjaga kelestarian
lingkungan. Artinya perusahaan penanaman modal berkewajiban memprogramkan
kegiatan tanggungjawab sosial sehingga dapat meningkatkan jaminan kelangsungan
aktivitas perusahaan karena adanya hubungan yang serasi dan saling ketergantungan
antara pengusaha dan masyarakat, dan Pasal 34, UU ini baru mampu menjangkau
investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal tanggungjawab sosial bagi
perusahaan nasional.
Dengan dasar-dasar hukum mengenai tanggungjawab sosial maka parusahaan
tidak
bisa
memandang
sebelah
mata
tentang
tanggung
jawabnya
dalam
pengembangan masyarakat, selain kedaan masyarakat indonesia yang miskin dan
tidak secara cepat dapat ditanggulangi oleh pemerintah, maka perusahaan yang hasil
produksinya digunakan oleh masyarakat, harus memberikan kontribusi dalam
kesejahteraan masyarakat karena walaupun perusahaan sudah membayar kewajibanya
dalam bentuk membayar pajak, tidak jarang aliran dana yang dihasilkan dari pajak
13
tidak langsung diterima oleh masyarakat miskin, maka dari itu perusahaan dirasa
perlu mengembangkan tanggung jawab sosialnya dalam membantu masyarakat.
Selain itu masyarakat saat ini sudah mengetahui berbagai informasi dan kritis
terhadap hal-hal yang terjadi, maka dari itu masyarakat saat ini lebih cerdas, kritis dan
variatif dalam memilih barang yang akan dibelinya, meraka akan memperhatikan
image yang diciptakan oleh perusahaan tersebut, misalnya apakah perusahaan telah
berkontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, apakah
keberadaan perusahaan tidak menjadi bencana di tengah masyarakat baik jangka
pendek maupun jangka panjang. Dengan kritis konsumen juga selektif melihat apakah
suatu perusahaan tidak melakukan hal-hal tidak terpuji seperti perusakan lingkungan,
eksploitasi sumberdaya alam, manipulasi pajak dan penindasan terhadap hak-hak
buruh (www.csrindonesia.com).
2.3
Pelaporan Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Ketiadaan standar pada akhirnya menimbulkan intepretasi yang berbeda-
beda. Ini tentu bisa menjadi kontraproduktif dalam upaya menciptakan
pemahaman
yang
sama
mengenai
tanggungjawab
sosial
dan
konsep
keberlanjutan dunia usaha. Adalah kenyataan bila kini masing-masing
perusahaan yang berbeda membuat laporan tanggungjawab sosial dalam format
yang tidak sama. Ini tentu saja akan menyulitkan pembaca laporan dalam
membuat analisis kinerja tanggungjawab sosial antar perusahaan yang satu
13
dengan yang lainnya. Prinsip komparabilitas sulit dilakukan apabila standar
pelaporan yang digunakan tidak sama (Wazli Darwin, 2010).
2.3.1
Sustainability Reporting
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan dalam laporan yang
disebut sustainability reporting. Sustainability reporting adalah pelaporan mengenai
kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan
produknya
didalam
konteks
pembangunan
berkelanjutan
(sustainability
development). Sustainability reporting meliputi pelaporna mengenai ekonomi,
lingkungan, dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi (ACCA, 2004 dalam
Reni Retno Anggraini, 2006).
Laporan keberlanjutan menurut Global Reporting Initiative (2006), adalah
sebagai berikut:
“laporan keberlanjutan adalah praktek pengukuran, pengungkapan dan upaya
akuntabilitas dari kinerja organisasi dalam mencapai tujuan pembangunan
berkeberlanjutan kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun
eksternal. Laporan keberlanjutan juga merupakan sinonim untuk
menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan
sosial.”
Ada tiga tipe standar pengungkapan menurut Global Reporting Initiative (
2006) yang harus dimasukkan dalam laporan keberlanjutan, yaitu:
1. Strategi dan profil
Pengungkapan yang membentuk keseluruhan konteks untuk dapat memahami
kinerja organisasi, seperti strategi yang dimiliki, profil, dan tata kelola
13
2. Pendekatan manajemen
Pengungkapan yang mencakup bagaimana sebuah organisasi menggunakan
topic tertentu untuk memberikan konteks dalam memahami kinerja pada
sebuah bidang spesifik tertentu
3. Indikator kerja
Indikator yang memberikan perbandingan informasi terkait kinerja ekonomi,
lingkungan, dan sosial organisasi
Laporan keberlanjutan yang disusun berdasarkan kerangka pelaporan
mengungkapkan keluaran dan hasil yang terjadi dalam suatu periode laporan tahunan
tertentu dalam konteks komitmen organisasi, strategi, dan pendekatan manajemennya.
Laporan keberlanjutan dapat digunakan untuk tujuan sebagai berikut (Global
Reporting Initiative, 2006):
1. Patok banding dan pengukuran kinerja keberlanjutan yang menghormati
hokum, norma, kode, standar kinerja, dan initiative sukarela
2. Menunjukan bagaimana organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
harapannya mengenai pembangunan berkelanjutan
3. Membandingkan kinerja dalam sebuah organisasi dan diantara berbagai
organisasi dalam waktu tertentu
13
2.3.2
Laporan Tahunan
Menurut Norhadi (2011) menyatakan bahwa laporan tanggungjawab sosial
menjadi tidak terpisahkan dengan laporan tahunan (annual report) yang
dipertanggungjawabkan direksi. Laporan tahunan merupakan laporan perkembangan
dan pencapaian yang berhasil diraih organisasi dalam setahun. Isi dari laporan
tahunan tersebut mencakup laporan keuangan dan prestasi akan kinerja organisasi
selama satu tahun (www.wikipedia.com).
Mengutip dari www.inventoryglossary.com, definisi annual report adalah
sebagai berikut:
“annual report is a document that the SEC requires all publicy, traded
companies to provide to shareholders each fiscal year. The annual report
contains a balance sheet, income summary and a detailed description of the
companies business operations. The annual report also contains profections
for the companies future performance.”
Laporan tahunan di Bursa Efek Indonesia diatur oleh keputusan Ketua
Bapepam No. Kep-134/BL/2006 tentang Laporan Tahunan yang hanya mengikat bagi
perusahaan publik saja (www.bapepam.go.id). Bentuk dan isi laporan tahunan
menurut BAPEPAM-LK secara garis besar dibagi menjadi sepuluh bagian, yaitu:
1. Ketentuan umum, yang berisi peraturan fisik dan informasi yang wajib
disampaikan oleh emiten
2. Ikhtisar data keuangan yang penting, yaitu bagian dari laporan tahunan yang
berisi informasi perbandingan keuangan 5 tahun buku atau sejak memulai
usahanya jika perusahaan tersebut menjalankan kegiatan usahanya selama
kurang dari 5 tahun
13
3. Laporan Dewan Komisaris, sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai
berikut: penilaian terhadap kinerja direksi mengenai pengelolaan perusahaan,
pandangan atas prospek usaha perusahaan yang disusun oleh direksi; komitekomite yang berada dibawah pengawasan dengan komisaris; dan perubahan
komposisi anggota dewan komisaris (jika ada), laporan manajemen, yang
berisi penjelasan umum dan penjelasa khusus mengenai perusahaan.
4. Laporan Direksi, sekurang-kurangnya memuat antara lain uraian singkat
mengenai kinerja perusahaan yang mencakup, antara lain kebijakan strategis,
perbandingan antara hasil yang dicapai dengan yang ditargetkan, dan kendalakendala yang dihadapi perusahaan, gambaran tentang prospek usaha;
penerapan tata kelola perusahaan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan;
dan perubahan komposisi anggota direksi (jika ada).
5. Profil perusahaan, sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut: nama
dan alamat perusahaan; riwayat singkat perusahaan; bidang dan kegiatan
usaha perusahaan meliputi jenis produk dan atau jasa yang dihasilkan; struktur
organisasi dalam bentuk badan; visi dan misi perusahaan; nama, jabatan, dan
riwayat hidup singkat anggota dewan komisaris; nama, jabatan dan riwayat
hidup anggota dewan direksi, jumlah karyawan dan deskripsi pengembangan
kompetensinya; uraian tentang nama pemegang saham dan presentase
kepemilikannya; nama anak perusahaan dan perusahaan asosiasi, presentase
kepemilikan saham, bidang usaha, dan status operasi perusahaan tersebut (jika
ada).
13
6. Analisis dan pembahasan umum oleh menejemen, yaitu bagian dari laporan
keuangan tahunan yang berisi uraian singkat yang membahas dan
menganalisis laporan keuangan dan informasi lain dengan penekanan pada
perubahan-perubahan material yang terjadi dalam periode laporan tahunan
terkahir atau sejak pernyataan pendaftaran diajukan.
7. Tata kelola perusahaan, laporan tahunan wajib memuat uraian singkat
mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang telah dan akan dilaksanakan
oleh perusahaan dalam periode laporan tahunan terakhir.
8. Tanggungjawab direksi atas laporan keuangan, laporan tahunan wajib
membuat surat pernyataan direksi tentang tanggungjawab direksi atas laporan
keuangan
9. Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, laporan tahunan wajib memuat
laporan keuangan tahunan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia dan Peraturan
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan di bidang akuntansi
serta wajib diaudit oleh akuntan yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan.
10. Tanda tangan anggota direksi dan anggota dewan komisaris, laporan tahunan
wajib ditandatangani oleh seluruh anggota direksi dan anggota dewan
komisaris yang sedang menjabat; tanda tangan dimaksud dituangkan pada
lembaran tersendiri dalam laporan tahunan dimana dalam lembaran dimaksud
wajib dicantumkan pernyataan bahwa direksi dan dewan komisaris
13
bertanggungjawab penuh atas kebenaran isi laporan tahunan; dalam hal
terdapat anggota direksi atau anggota dewan komisaris yang tidak
menandatangani
laporan
tahunan,
maka
yang
bersangkutan
harus
menyebutkan alasannya secara tertulis dalam surat tersendiri yang diletakkan
pada laporan tahunan.
2.4 Profitabilitas Perusahaan
Profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan
aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain, profitabilitas
adalah
kemampuan
suatu
perusahaan
untuk
mencapai
laba.
Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005) dalam Muchlisin Riadi (2012) menyatakan
bahwa profitabilitas adalah
kemampuan
perusahaan
memperoleh
laba
dalam
hubungan dengan penjualan total aktiva maupun modal sendiri. Dari definisi ini
terlihat jelas bahwa sasaran yang akan dicari adalah laba perusahaan.
2.4.1
Analisis Profitabilitas
Menurut Susan Irawati (2006), metode perhitungan profitabiliatas perusahaan
dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya:
1. Gross profit Margin, rumus yang digunakan adalah:
Gross Profit Margin = Net sales – COGS x 100%
Net sales
2. Operating Ratio, rasio ini dapat dicari dengan rumus:
Operating Ration = COGS – Operating Cost x 100%
Net Sales
13
3. Operating Profit Margin, rasio ini dapat dicari dengan rumus:
Operating Profit Margin =
EBIT x 100%
Net Sales
4. Net Profit Margin, rumus yang digunakan adalah:
Net Profit Margin = Earning After Tax x 100%
Net Sales
5. Return on Asset, merupakan kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh
modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba operasi perusahaan.
Return on Assets = Earning Before Income Tax x 100%
Total Assets
6. Return on Equity, merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal
sendiri yang digunakan oleh perusahaan tersebut.
Return on Equity = Earning After Tax x 100%
Total Equity
7. Return on Invesment, merupakan suatu cara untuk mengukur seberapa banyak
laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki
perusahaan.
Return on Investment = Earning AfterTax x 100%
Total Assets
8. Earning per share, rasio ini dapat dicari dengan rumus:
Earning per Share = Earning After Tax x 100%
Outstanding share
13
Sedangkan menurut Marcus Myers Brealey (2006), ada beberapa cara untuk
mengukur profitabilitas perusahaan, yaitu:
1. Profit Margin, bertujuan untuk mengetahui proporsi pendapatan yang
berhubungan dengan laba
Profit Margin = Laba Bersih x 100%
Penjualan
2. Return on Assets, bertujuan untuk mengukur kinerja perusahaan dengan rasio
laba bersih terhadap total asset
Return on Assets = Laba Bersih + Bunga
Rata-rata Total Assets
3. Return On Equity, tujuannya untuk mengukur profitabilitas yang memusatkan
pada pengembalian atas ekuitas pemegang saham
Return on Equity = Laba Bersih
Rata-rata Euitas
4. Payout Ratio, tujuannya untuk mengukur proporsi laba yang dibayar sebagai
deviden
Payout Ratio = Deviden
Laba
Selain itu Arief Sugiono, dkk (2009), menyatakan beberapa cara untuk
menghitung profitabilitas, diantaranya:
13
1. Gross Profit Margin, rasio ini menunjukan berapa besar keuntungan kotor
yang diperoleh dari penjualan produk
Gross Profit Margin = Laba Kotor
Penjualan
2. Net Profit Margin, rasio ini menunjukan berapa besar keuntungan bersih yang
diperoleh perusahaan
Net Profit Margin = Laba Bersih
Penjualan Bersih
3. Cash Flow Margin, adalah presentase aliran kas dari hasil operasi terhadap
penjualannya
Cash Flow Margin = Arus Kas hasil Operasi
Penjualan
4. Return on Asset, rasio ini mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas
seluruh asset yang ada
Return on Assets = Laba Bersih
Total aktiva
5. Return on Equity, rasio ini mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas
seluruh modal yang ada
Return on Equity = Laba Bersih
Total Ekuitas
13
2.5
Pengaruh Pengungkapan Tanggungjawab Sosial Perusahaan terhadap
Profitabilitas
Menurut Edi Suharto (2010) menyatakan pendapat bahwa tujuan ekonomi dan
sosial adalah terpisah dan bertentangan merupakan pandangan yang keliru. Faktanya,
kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing sangat bergantung pada keadaan lokasi
dimana perusahaan itu beroperasi. Selain itu menurut Yosefa Sayekti dan Ludovicus
Sensi Wondabio (2007) jika terjadi ketidakselarasan antara system nilai perusahaan
dan system nilai masyarakat, maka perusahaan akan kehilangan legitimasinya, yang
selanjutnya akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
Achmad Daniri (2008) menyatakan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada
tanggungjawab yang berpijak pada single bottom line saja (nilai perusahaan), tetapi
kini tanggungjawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines. Disini,
bottom lines lainnya selain finansial adalah sosial dan lingkungan, karena kondisi
keuangan saja tidak cukup menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan.
Penerapan tanggungjawab sosial diperusahaan akan menciptakan iklim saling percaya
yang akan menaikan motivasi dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor,
pemasok dan stakeholders yang lain juga telah terbukti lebih meningkatkan peluang
pasar dan keunggulan kompetitifnya. Dengan segala kelebihan itu, perusahaan yang
menerapkan tanggungjawab sosial akan menunjukan kinerja yang lebih baik serta
keuntungan (profitabilitas) perusahaan akan meningkat.
13
Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh penelitian terdahulu yang
menghasilkan kesimpulan mengenai pengaruh tanggungjawab sosial terdahap
profitabilitas perusahaan, yaitu terdapat pada table dibawah ini:
13
Tabel 2.2
Hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh corporate social
responsibility terhadap profitabilitas perusahaan
Nama Peneliti
Hasil Penelitian
Marisa Yaparto, Diame Frisko, Rizki Hasil peneilitian menunjukan bahwa
Eriandani (2013).
Judul:
Pengaruh
corporate social responsibility tidak
Corporate
Social memberikan pengaruh yang signifikan
Responsibility terhadap Kinerja Keuangan antara terhadap semua rasio keuangan
pada Sektor Manufaktur yang Terdapat yang digunakan.
pada Bursa Efek Indonesia tahun 2010 - Perbedaan:
2011
a. Subjek
penelitian
terdahulu
oleh
dilakukan
manufaktur,
penelitian
peneliti
di
sektor
sedangkan
pada
ini
dilakukan
di
perusahaan tambang batubara
b. Tahun
penelitian
oleh
peneliti
terdahulu dilakukan tahun 20102011, sedangkan pada penelitian ini
dilakukan tahun 2011-2013
c. Penilaian rasio profitabilitas yang
dilakukan oleh penelitian terdahulu
menggunakan ROA, ROE, dan EPS,
sedangkan
penelitian
ini
menggunakan ROE dan NPM
Dalam penelitian Samuel Ronaldi Marpaung (2010) menuliskan bahwa
manfaat yang diperoleh perusahaan dalam pelaksanaan tanggungjawab sosial antara
13
lain produk semakin disukai oleh konsumen dan perusahaan diminati investor.
Tanggungjawab sosial dapat digunakan sebagai alat marketing baru bagi perusahaan
bila itu dilaksanakan berkelanjutan. Dengan melaksanakan tanggungjawab sosial,
citra perusahaan akan semakin baik sehingga loyalitas konsumen semakin tinggi.
Seiring meningkatnya loyalitas konsumen dalam waktu yang lama, maka penjualan
perusahaan akan semakin membaik, dan pada akhirnya dengan pelaksanaan
tanggungjawab sosial, diharapkan tingkat profitabilitas perusahaan juga meningkat.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Goukasian dan Withney dalam
Elisabeth Inge Mawarani (2010) yang menganalisis kinerja keuangan dan operasional
perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan etis. Kesimpulan dari
penelitian Goukasian dan Withney mengindikasikan bahwa perusahaan yang
mengeluarkan biaya untuk bertanggung jawab secara sosial dan etis tidak
menyebabkan trade-off (pertukarannya) negatif dan tetap dapat menampilkan kinerja
sebaik perusahaan lain yang tidak mengimplementasi tanggungjawab sosial. Selain
itu Tsoursoura dalam Elisabeth Inge Mawarni (2010) juga menemukan bahwa
tanggungjawab sosial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Dari uraian diatas berikut ini kerangka pemikiran yang melandasi penelitian,
sebagai berikut:
13
Perusahaan
Undang-undang No 40
Tahun 2007
Akuntansi
Sosial
Laporan
Tanggungjawab
Perusahaan
Corporate Social
Responsibility
Marketing
Investor
Menanamkan
Modal
Laporan
Kinerja
Keuangan
Perusahaan
Perusahaan
Analisis Laporan
Keuangan
Perusahaan
Rasio-rasio
Keuangan
Net Profit Margin
Return on Equity
Profitabilitas
Perusahaan
13
2.5.1
Hipotesis
Pengertian hipotesis menurut Sugiyono (2012), hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian
telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban
yang diberikan baru didasarkan teori.
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan sejauh mana
pengaruh penerapan tanggungjawab sosial terhadap tingkat profitabilitas perusahaan,
yaitu:
Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dengan diterapkannya program
tanggungjawab sosial terhadap tingkat profitabilitas perusahaan.
H1 :
terdapat
pengaruh
yang
siginifikan
dengan
diterapkannya
tanggungjawab sosial terhadap tingkat profitabilitas perusahaan.
program
Download