REFLEKSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

advertisement
REFLEKSI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
SEBAGAI MISIONARIS DI DALAM PENDIDIKAN
Sarah Andrianti1
Abstraksi
Amanat Agung Tuhan Yesus merupakan tugas untuk memberitakan
Injil ke seluruh penjuru dunia yang harus menjadi tanggung jawab setiap
orang percaya. Perintah itu tidak hanya diberikan kepada para rasul dan
para pengikut Yesus pada saat Dia memberikan amanat-Nya. Pada saat
sekarang ini siapapun yang percaya Yesus adalah Tuhan dan mengakuiNya sebagai Juruselamat yang tunggal wajib turut andil dalam
melaksanakan amanat ini. Terlebih lagi bagi guru Pendidikan Agama
Kristen; mereka adalah ujung tombak dalam memberitakan Injil di
dalam dunia pendidikan. Guru PAK tidak hanya melaksanakan tugas
kewajiban akademis saja. Sebagai agen penginjilan guru harus mampu
menjelaskan apakah Injil itu dan memotivasi peserta didik untuk percaya
dan menerima berita Injil tersebut.
Guru juga harus menyaksikan kebenaran kepada para muridnya
dalam pimpinan Roh Kudus. Setelah murid menerima dan percaya
kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, guru harus tetap terlibat
dan selalu mendampingi murid untuk bertumbuh. Karena guru harus
menyadari bahwa tujuan PAK untuk memenuhi Amanat Agung Tuhan
Yesus; tidak hanya meberitakan Injil saja melainkan juga menjadikan
“murid” Yesus. Perlu bagi guru untuk mengajarkan dan mendorong anak
untuk terlibat dalam penginjilan. Guru menanamkan prinsip ini pada
siswanya bahwa Allah datang bukan hanya untuk dia saja tetapi juga
untuk anak-anak yang lain.
Kata kunci: Guru Pendidikan Agama Kristen, penginjilan, misi,
misionaris
Reflection of Christian Education Teacher as a missionary
in Education Context
Abstract
The Great Comission which constitutes duty of preaching gospel to
the whole world is burden for all believers. The command was not only
given to the apostles and followers at time it was spoken by Jesus. At
present time, whoever believe in Jesus as Lord and confess Him as only
Savior would take this charge. Every teacher of Christian Education has
1
Dosen dan Puket II STT Intheos Surakarta
special task as spearhead for preaching gospel in educational world.
Christian Education teachers do not only do their academic duties. As
evangelistic agent, a Chrisitian Education teacher has to be able to
explain Gospel and motivate student to believe and accept that good
news.
Teacher must bear witness to the student by Holy Spirit’s leading.
After students has received and believed Jesus as Lord and Savior,
teacher has to self-involve and accompany them in growing up. Teacher
must realize that Christian Education purpose is to fulfill Jesus’ Great
Comission; not only to preach gospel but also make “disciple” of Jesus.
It is neccesary for teacher to teach and motivate students to involve
their-selves in evangelism. Teacher engraft this tenet to students, that
God has come not only for them, but for others as well.
Keyword: Christian Education Teachers, evangelism, mission,
missionary
Agama Kristen pun memiliki tugas
PENDAHULUAN
Sebelum Tuhan Yesus naik ke
memberi
kesaksian
sorga, Ia memberi Amanat Agung
memberitakan
Injil
kepada
memenuhi
murid-murid-Nya
memberitakan
Injil.
untuk
“Karena
itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku
dan
di
samping
kewajiban
sebagai
seorang guru akademis.
Seorang guru harus mengetahui
mereka
cara yang “benar” untuk memimpin
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
seorang anak kepada keselamatan
Kudus,
mereka
melalui iman dalam Yesus Kristus.
melakukan segala sesuatu yang telah
Masa-masa anak-anak adalah masa
Kuperintahkan
Dan
terbaik untuk menyampaikan rencana
ketahuilah, Aku menyertai kamu
penyelamatan Allah kepada mereka.
senantiasa
Guru
dan
baptislah
dan
ajarlah
kepadamu.
sampai
kepada
akhir
harus
memulai
dengan
zaman” (Matius 28: 19–20). Amanat
pemahaman mereka sendiri tentang
ini harus dilaksanakan oleh para
proses dan dasarnya dalam Alkitab.
murid sebagai pengikut Yesus. Lebih
Seorang
dari pada itu perintah ini juga
menangkap
diberikan
orang-orang
terdapat dalam keselamatan, namun
ini
belum tentu berarti anak memiliki
percaya
kepada
pada
saat
untuk
melaksanakannya. Guru Pendidikan
anak
mungkin
bisa
konsep-konsep
yang
keinginan untuk melakukannya di
dengan
dalam tindakan.
mentransfer ilmu pengetahuan dan
Guru
memiliki
didik
untuk
untuk
teknologi sekaligus mendidik dengan
menyampaikan kasih Allah kepada
nilai-nilai positif melalui bimbingan
setiap anak sesuai dengan tingkat
dan
pemahaman
segala-galanya,”
terhadap
peran
peserta
mereka
kesiapan
dan
peka
anak
untuk
keteladanan.
diungkapkan
“Guru
demikian
adalah
yang
Pullias dan Young,
menanggapi kasih itu dan menerima
yang dikutip oleh Sidjabat2 dalam
berita Injil. Tugas selanjutnya adalah
bukunya
guru perlu mampu membimbing dan
Profesional. Artinya guru sangat
mendorong anak dalam pertumbuhan
memegang peranan penting dalam
imannya.
setiap
dalam pembentukan dan peningkatan
pelayanannya sebagai guru harus
kualitas peserta didiknya dan guru
berada
yang berkualitas sangat menentukan
Namun,
dibawah
Kudus
dalam
pimpinan
karena
mengarahkan
Roh
keberhasilan
hati
anak
kepada
Tuhan menjadi bagian Roh Kudus.
Dan
melalui
makalah
dijelaskan
lebih
bagaimana
refleksi
ini
lanjut
peran
akan
tentang
guru
bagi
Mengajar
Secara
pengembangan
kualitas
pendidikan dan pengajaran.
Setiap
guru
memandang
Kristen
tugasnya
perlu
sehari-hari
dengan kacamata profesionalisme.
Istilah
”profesional”
menurutnya
sebagai missionaris dalam dunia
tidak saja diartikan berkaitan dengan
pendidikan yang menjadi wilayah
”pekerjaan” tetapi juga dari segi ”ciri
perkerjaannya.
khas”
(karakteristik).
Istilah
profesional berasal dari kata to
profess
GURU PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN
(Inggris)
mengakui,
Guru dalam konteks pendidikan
yang
menyatakan
artinya
dan
memiliki. Maka guru Kristen secara
mempunyai peranan yang besar dan
khusus
strategis. Hal ini disebabkan gurulah
Kristen,
guru
bila
Pendidikan
Agama
hendak
dinilai
yang berada di barisan terdepan
dalam
pelaksanaan
pendidikan.
Gurulah yang langsung berhadapan
2
Pullias dan Young dalam B.S.Sidjabat,
Mengajar Secara Profesional Mewujudkan
Visi Guru Profesional (Bandung:Yayasan
Kalam Hidup, 2009), 68.
profesional
dalam
tugasnya,
nilai
kehidupan
sebagai
hendaklah tahu soal bagaimana dan
Yesus;
mengapa dari pekerjaannya (profess
berbagai
to know). Motivasi kerjanya (his
peningkatan visi dan kemampuan
primary
pengembangan metodologi dalam
motivation)
adalah
Mampu
murid
hasil
menggunakan
penelitian
demi
pelayanan kasih terhadap sesama. Ia
mengajar;
punya otoritas untuk bertindak (he or
prinsip-prinsip
she has the authority to act) sesuai
Mampu membangun karakter dan
dengan pengetahuan yang Allah
integritas
3
Ciri khas guru PAK profesional
: Memiliki sejumlah
menguasai
evaluasi
yang
profesionalitas
berikan kepadanya.
antara lain
Mampu
belajar;
baik.4
Jadi
seorang
guru
Pendidikan Agama Kristen sangat
menentukan di dalam pendidikan.
kompetensi yaitu mampu memahami
Selain guru Agama Kristen harus
isi Alkitab secara baik dan benar;
profesional, ada tuntutan yang lain
Mampu
antara
yang harus dimiliki seorang guru
persoalan seharihari yang dihadapi
Pendidikan Agama Kristen. Dalam
oleh peserta didik dengan berita
Peraturan Pemerintah Nomor 19
Alkitab;
Tahun
menjembatani
Menguasai
Menguasai
pendidikan;
bahan
ajar;
prinsip-prinsip
Mampu
2005,
Tentang
Standar
Nasional Pendidikan, pada pasal 28,
mengelola
ayat 3 disebutkan bahwa kompetensi
program belajar-mengajar; Mampu
yang harus dimiliki guru sebagai
menggunakan beragam media dan
agen pembelajaran pada jenjang
sumber
rangka
pendidikan dasar dan menengah serta
belajar-
pendidikan anak usia dini meliputi;
belajar
keberhasilan
dalam
proses
mengajar; Mampu mengelola kelas;
(1)
Mampu membangun interaksi positif
kompetensi
antara pengajar dengan peserta didik;
kompetensi kepribadian, dan, (4)
Mampu
kompetensi sosial.5 Namun sebagai
membimbing
dan
kompetensi
pedagogik,
profesional,
(2)
(3)
mendampingi peserta didik dalam
proses mencapai transformasi nilai3
Norman De Jong, Educational In The
Truth (Phillipsburg: Presbiterian and
Reformed Publishing Company, 1979), 195.
4
Janse Balandina Non Serrano,
Profesionalisme Guru & Bingkai Materi
PAK SD,SMP,SMA (Bandung. Bina Media
Informasi, 2009), 47-56.
5
Presiden Republik Indonesia,
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
guru yang bersifat khusus dalam
Tuhan yang menjadi bagian hidup
kelompok mata pelajaran agama dan
dari manusia. Sebab manusia juga
akhlak mulia, maka selain keempat
makhluk
komponen
PAK
sekaligus padanya terdapat substansi
sebagai pribadi yang utuh harus juga
non-material yakni roh atau jiwa,
memiliki
pikiran dan hati nurani.
tersebut,
guru
kompetensi
spiritual,
mengingat bahwa spiritual tersebut
material
(fisik),
yang
Pandangan yang lain menurut
senantiasa melingkupi dan melekat
Nainggolan
pada setiap komponen kompetensi
adalah gaya hidup seseorang sebagai
yang
guru
hasil dari kedalaman pemahamannya
Jadi
tentang Allah secara utuh. Allah
Guru Agama Kristen harus memiliki
dipahami sebagai yang transenden
lima kompetensi yaitu: kompetensi
sekaligus sebagai yang imanen.8
pedagogik, kompetensi profesional,
Pengertian
kompetensi kepribadian, kompetensi
bahwa pola hidup seseorang dalam
sosial dan kompetensi spriritual.
dunia
menunjang
profesi
Pendidikan Agama Kristen.
Kata
spiritualitas
6
menurut
bahwa
di
atas
kehidupan
spiritualitas
menjelaskan
sehari-harinya
merupakan buah dari hubungannya
Sidjabat, berasal dari akar kata
dengan
spiritus (Latin) atau spirit (Inggris),
keakraban hubungan manusia dengan
menunjuk
non
Yesus secara transenden tampak
material atau makhluk (being) yang
dalam sikap hidup terhadap orang-
substansinya
orang yang adalah imanensi/ wujud
kepada
substansi
tidak
material.
Yesus.
Substansi tidak berwujud material
kehadiran Yesus.
adalah Tuhan Allah. Allah itu Roh
Kedekatan
7
Kedekatan
hubungan
atau
dengan
Jadi, istilah
Yesus adalah satu hal yang tidak bisa
spiritualitas berkaitan dengan hal-hal
dipisahkan dari Guru Pendidikan
yang berasal atau bersumber dari
Agama Kristen. Menurut Stephen
adanya (Yoh.4:24).
Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan, Hal.21.
6
Lidya Yulianti, Profesionalisme,
Standar Kompetensi, Dan Pengembangan
Profesi Guru PAK (Bandung: Bina Media
Informasi, 2009), 38.
7
B. Samuel Sidjabat, Strategi
Pendidikan Kristen (Yogyakarta: Yayasan
Andi, 1996), 138.
Tong dalam buku Arsitek Jiwa II
menjelaskan bahwa guru Pendidikan
Agama Kristen harus dibedakan dari
8
John M. Nainggolan, Menjadi Guru
Agama Kristen (Bandung: Generasi Info
Media, 2007), 2.
guru bukan agama. Ia adalah seorang
menjadi sumber cahaya dan mampu
yang dalam dirinya sendiri memiliki
membakar
semangat
10
para
Spiritualitas seorang
keyakinan, kepercayaan yang teguh,
muridnya.
ibadah yang baik, memiliki sifat
guru akan memberikan dampak bagi
moral yang baik dan hidup dalam
para murid. Bukan hanya materi
kesucian, memiliki kebajikan yang
yang bisa diberikan kepada para
sesuai dengan agamanya sehingga
murid,
mengerjakan segala sesuatu dengan
sehari-hari dengan spiritualitas yang
bertanggung
cukup juga menjadi teladan.
9
jawab
untuk
tetapi
pengalaman
hidup
Berdasarkan pendapat
Di samping hidup spiritual maka
tersebut guru Pendidikan Agama
guru Pendidikan Agama Kristen
Kristen memiliki perbedaan khusus
harus menyadari bahwa menjadi
dengan guru mata pelajaran yang
Guru
lain. Peran guru Pendidikan Agama
panggilan
Kristen adalah membimbing anak
Jansen H.Sinamo11, panggilan adalah
didiknya mengenal Allah di dalam
suara Sang Pemanggil Agung yang
Yesus
bertumbuh
mengundang atau menugaskan kita
dalam iman juga dalam karakter
untuk mengemban dan melaksanakan
Kristus.
tugas, misi, atau pekerjaan tertentu.
kekekalan.
Kristus,
serta
Seorang guru yang memiliki
Agama
Kristen
Allah
yang
adalah
istimewa.
Guru yang profesional adalah guru
spiritualitas, bukan hanya mereka
yang
yang taat memeluk agama tertentu
kewajiban
saja, namun mereka yang memahami
kesempatan, bukan sebagai mata
bahwa
pencaharian
tujuan
beragama
adalah
mengajar
bukan
sebagai
melainkan
sebagai
melainkan
sebagai
menemukan siapa dirinya, dan peran
panggilan
apa yang harus dimainkannya di
setengah hati melainkan dengan
alam
spenuh
semesta
memahami
ini,
bahwa
karena
ia
yang memiliki spiritualitas
cukup, ibarat api yang mampu
9
hati,
bukan
bukan
dengan
asal
jadi
kehidupannya
kelak akan berakhir dimana seorang
guru
hidup,
Stephen Tong, Arsitek Jiwa II
(Surabaya: Momentum, 2008), 9.
10
http://bloggerbekasi.com/2009/10/22/menja
di-guru-yang-konstruktif-%E2%80%93bagian-1.html. Diunduh Tgl. 1 April 2011
11
Jansen H.Sinamo,
www.lrckesehatan.net/evenpenting/rakon/20
10/Etos-Depkes, Diakses tgl 15 September
2013.
melainkan
dengan
kesungguhan,
James
R.
Estep
Jr,
bukan hanya dengan otak melainkan
mengemukakan tentang panggilan
juga dengan hati sanubari. Bagi guru
keguruan
yang profesional mengajar adalah
Theology for Christian Education.
bagian dari dirinya, bahkan mengajar
Menurut Estep, menjadi guru bukan
adalah dirinya.12 Sebagai seorang
hanya
guru terutama guru Kristen tidak
sesungguhnya ada banyak peran
boleh seenaknya memandang dan
yang dilakukan guru sehubungan
melaksanakan pekerjaannya sebagai
dengan
suatu hal yang biasa-biasa saja,
terutama sebagai guru Kristen. Pada
hanya
dasarnya guru Kristen, memiliki
sekedar
imbalan
untuk
darinya,
mendapat
tetapi
harus
peran
dalam
sekedar
karyanya
mengajar
panggilan
yang
tidak
A
tetapi
keguruannya,
hanya
untuk
dipahami bahwa profesinya sebagai
mengajar tetapi guru juga merupakan
guru adalah panggilan yang berasal
instrumen Allah. Artinya bahwa guru
dari
dalam melaksanakan pekerjaannya
Allah,
karena
itu
harus
dipertanggung jawabkan juga kepada
harus
Allah.
benar-benar
karena otoritas mereka, pesan, posisi,
memahami arti panggilannya tidak
dan panggilan untuk melayani semua
akan merasa pekerjannya sebagai
datang dari Allah.13
Guru
yang
sebuah beban, dan melaksanakannya
dengan
kerendahan
hati,
Melalui panggilan keguruan yang
dengan terpaksa sekalipun banyak
Allah
masalah yang dihadapi. Guru akan
Pendidikan
merasa senang jika melihat anak
diharapkan
didiknya
bertumbuh,
sangat
Pendidikan Agama Kristen yaitu
berbahagia
jika
anak
membawa anak agar percaya dan
didiknya berhasil kelak, dan akan
menerima Yesus Kristus sebagai juru
merasa bangga bahkan meneteskan
selamat pribadi, dan tugas ini dikenal
air
dengan istilah penginjilan. Meskipun
mata
bila
melihat
melihat
mantan
muridnya menjadi orang berguna.
12
Andar Ismail, Selamat Menabur 33
Renungan tentang Didik Mendidik
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 58.
tetapkan
untuk
Agama
salah
guru
Kristen,
satu
tugas
ruang kerjanya di sekolah, seorang
13
James R.Estep Jr, Michael J.Anthony
&Gregg R.Allison, A Theology for
Christian Education (Tennesse: B&H
Nashville, 2008), 269-272.
guru Pendidikan Agama Kristen juga
diperbuat Allah di dalam dan melalui
harus
Yesus Kristus, bagi kepentingan
mengambil
peran
sebagai
penginjil atau misionaris.
pengampunan
dosa-dosa
manusia
serta penebusannya. Kabar baik ini
Tugas Misioner
khususnya adalah seperti yang telah
David J. Bosch memberikan
beberapa definisi misi, antara lain;
misi
Kristen
mengungkapkan
hubungan yang dinamis antara Allah
dan dunia, yang digambarkan dalam
sejarah
Israel
yang
kemudian
puncaknya pada diri Yesus Kristus.14
Misi adalah mencakup penginjilan
sebagai salah satu dimensinya yang
esensial.
Penginjilan
adalah
pemberitaan keselamatan di dalam
Kristus kepada mereka yang tidak
percaya
mereka
kepada-Nya,
untuk
memanggil
bertobat
dan
meninggalkan hidup yang lama,
memberitakan pengampunan dosa
dan
mengundang
mereka
untuk
menjadi anggota-anggota yang hidup
dari komunitas Kristus di bumi dan
untuk memulai kehidupan pelayanan
kepada orang lain di dalam kuasa
Roh Kudus.15
Penginjilan adalah penyampaian
kabar baik bagi orang, atas apa yang
disampaikan Paulus, “Sebab yang
sangat penting telah kusampaikan
kepadamu, yaitu apa yang telah
kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus
telah mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia
telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah
dibangkitkan, pada hari yang ketiga,
sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor
15:3-4). Kabar baik ini biasanya
diringkas menjadi empat konsep
yaitu: dosa, kematian rohani atau
keterpisahan
dengan
Allah,
tiga
penebusan oleh Allah dan empat
kebangkitan. Tidak ada seorangpun,
termasuk pengkhotbah besar yang
memiliki hak untuk mengubah berita
yang Allah telah berikan kepada kita.
“Seperti yang telah kami katakan
dahulu, sekarang kukatakan sekali
lagi:
jikalau
ada
orang
yang
memberitakan kepadamu suatu injil,
yang berbeda dengan apa yang telah
kamu
terima,
terkutuklah
dia.”
(Galatia 1:9).
14
David J. Bosch, Transformasi Misi
Kristen Sejarah Teologi Misi yang
Mengubah dan Berubah (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2000), 13.
15
Ibid., 16.
Mengabarkan Injil adalah upaya
orang Kristen melayankan kabar
kesukaan
ihwal
Yesus
Kristus
menerima kabar ini; Kedua, Para
kepada seseorang, sedemikian rupa,
misionaris mengenalkan cara hidup
sehingga ia berpaling dari dosa-
baru yang menggantikan, paling
dosanya dan percaya kepada Allah
tidak sebagian, norma sosial dan pola
melalui Anak-Nya – Yesus Kristus,
tingkah
dengan kuasa Roh Kudus. Dengan
orang yang baru percaya telah
demikian ia dapat menerima Yesus
bertobat.dan Ketiga, Para misionaris
Kristus sebagai Juruselamatnya, lalu
menyatukan orang yang baru percaya
taat melayani Dia sebagai Raja-nya
ke dalam komunitas baru. Hal itu
dalam persekutuan gereja.
16
Jadi
untuk
laku
masyarakat
menyatakan
realitas
tempat
yang
usaha
mengubahkan yang menghubungkan
orang percaya yang menyampaikan
semua orang sebagai “anak-anak
Injil kasih karunia Allah kepada
Allah”
seseorang yang belum percaya.
mereka menyembah Allah dan Yesus
mengabarkan
Seorang
Injil
adalah
misionaris
adalah
dalam
komunitas
tempat
Kristus.
seorang yang tidak pernah merasa
Dari sini dapat dimengerti bahwa
tenang mendengar suara langkah
tugas misionaris adalah menjalin
kaki orang yang belum percaya yang
hubungan dengan orang non-Kristen,
sedang dalam perjalanan menuju
memberitakan kabar tentang Yesus,
kekekalan tanpa Kristus.
jawatan
realitas
17
Ada tiga
pekerjaan
misi
Sang
Mesias
(pemberitaan,
dan
Juruselamat
khotbah,
ajaran,
sebagaimana pada model rasul-rasul
instruksi), menuntun orang kepada
di gereja mula-mula.18 Pertama, Para
Yesus Kristus (pertobatan, baptisan),
misionaris memberitakan kabar baik
dan menyatukan orang-orang yang
tentang
dan
baru percaya ke dalam komunitas
orang-orang
lokal pengikut Yesus (Perjamuan
Yesus
Juruselamat
yang
belum
Mesias
kepada
mendengar
atau
Tuhan, transformasi sikap sosial dan
moral, beramal).
16
D.W. Ellis, Metode Penginjilan
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 1999), 117.
17
M. David Sills. Panggilan Misi
(Surabaya: t.p., 2011), 15.
18
Eckhard J. Schnabel, RasulPaulus
Sang Misionaris (Yogyakarta: ANDI,
2010), 10.
Tugas misionaris adalah tugas
semua
orang
percaya.
Kristus
menugaskan sendiri kepada gerejaNya, orang-orang percaya, untuk
mengabarkan Injil “sampai ke ujung
anggota biasa dapat dipakai juga oleh
bumi”
Kristus.
“semua
bangsa”
“akhir
zaman”
LeRoy Eims mengatakan bahwa
dengan kuat kuasa dari kehadiran
orang percaya harus memberitakan
Kristus yang disalibkan dan bangkit
Injil,
dalam Roh dalam kehidupan dunia
adalah
dan gereja-Nya (Mrk 1:17; 3:14;
membawa berita mengenai kuasa
16:15-16; Kis 1:8; 1 Kor 1:17, 23).
Allah
Dengan demikian, panggilan dan
memberontak
tanggung jawab untuk mengabarkan
bahwa
Injil diterima dan dipikul oleh semua
termasuk
warga gereja, setiap orang percaya,
pendidikan Agama Kristen memiliki
sebagai pembawa amanat kesukaan
tugas sebagai seorang misionaris
yang membebaskan.
atau penginjil.
sampai
kepada
kepada
“Kita
bagaimanapun
orang-orang
kepada
yang
di
harus
dunia
ini.”19
semua
juga
Itu
orang
yang
berarti
percaya
dalamnya
guru
disebutkan
Hal yang sama juga diungkapkan
ketika perjalanan ke Yerusalem itu
Sidjabat20 bahwa sebagai seorang
Yesus
guru Pendidikan Agama Kristen
Dalam
Lukas
10
menentukan
tujuh
puluh
murid “yang lain” (jadi kedua belas
maka
rasul itu tidak turut) ke tiap-tiap
berbagai peran yang melekat pada
negeri dan tempat, yang hendak
dirinya yaitu:
disinggahi-Nya
pelatih,
Dengan
(ay.
1-12,
demikian
mengajarkan,
bahwa
16).
Yesus
tugas
harus
mengembangkan
Sebagai pengajar,
penginjil,
motivator,
fasilitator, pemimpin, komentator,
evaluator,
komunikator,
agen
mengabarkan Injil memang terutama
sosialiasasi. pelajar, imam, nabi,
diserahkan kepada rasul-rasul dan
konselor
pejabat-pejabat, tetapi di samping itu
Agama Kristen sebagai teolog.
tiap orang percaya dapat dipanggil
Mengingat
sewaktu-waktu untuk mengabarkan
satunya adalah sebagai penginjil
Injil. Bukan hanya pendeta atau
penatua
yang
dipanggil
untuk
menyiarkan berita Injil, tetapi tiap
dan
Guru
peran
Pendidikan
guru
salah
19
LeRoy Eims, Penuai yang
Diperlengkapi (Malang: Gandum Mas,
1988), 65.
20
Samuel B.Sidjabat, Mengajar Secara
Profesional Mewujudkan Visi Guru
Profeional (Bandung: Kalam Hidup, 2009),
101-131.
maka
tugas
sebagai
seorang
sebagaimana
diungkapkan
oleh
misionaris haruslah terus disadari
Hombrighaunsen
dan
pendidikan Agama Kristen haruslah
dikembangkan
oleh
guru
Pendidikan Agama Kristen.
Refleksi Guru Pendidikan
Agama Kristen Sebagai Misionaris
Berdasarkan pemahaman tentang
guru
dalam
dunia
sebagai
pencipta
dan
pemerintah seluruh alam semesta ini,
dan Yesus Kristus sebagai penebus,
pemimpin dan penolong mereka”21
Guru Pendidikan Agama Kristen
pendidikan dan panggilan misi bagi
harus
semua orang percaya, maka salah
Alkitab
satu peran dan kompetensi yang
manusia
harus dikembangkan oleh seorang
terhukum,
guru
memberitahukan
mengenai
itu
sebagai
seorang
diperbudak
misionaris.
Walaupun
dalam
mengalami
kurikulum
Pendidikan
Agama
adalah
Tujuan
“membawa anak didik mengenal
Allah
pentingnya
bahwa
Dosa
kesaksian
fakta
berdosa
bahwa
sehingga
berada
dalam
maut,
hawa
nafsu,
serta
penyimpangan
membuat
hidup
moral.
mereka
Kristen tahun 2003 di kemukakan
menyimpang dari ukuran (standar)
bahwa Pendidikan Agama Kristen
Allah yang kudus. Namun, kasih
bukan sarana penginjilan, namun
Allah telah menyatakan anugerah
menurut
guru
besar kepada manusia, yaitu melalui
Pendidikan Agama Kristen ialah
kematian Yesus di salib dan oleh
memberitakan injil.
kebangkitan-Nya dari kematian, pada
Alkitab
tugas
Peran guru Pendidikan Agama
hari ketiga. Untuk selamat dari dosa
Kristen sebagai misionaris dapat
dan hukuman kekal, orang harus me-
terlihat:
nerima karya Kristus itu, percaya
Pertama, sebagai misionaris guru
dalam hati, dan mengaku dengan
Pendidikan Agama Kristen dapat
mulut (Rm. 10:9-10). Itulah tindakan
menjelaskan apakah Injil itu. Pada
berpaling kepada Kristus. Itu pula
saat guru Pendidikan Agama Kristen
yang disebut tindakan iman. Akibat
menyampaikan
percaya kepada Yesus Juruselamat,
materi
pelajaran,
maka guru dapat menjelaskan siapa
21
Yesus juru selamat orang berdosa,
Hombrighounsen dan Enklaar,
Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK,
1985), 138.
kepastian hidup kekal menjadi milik
dengan Yesus Kristus, Juru Selamat
orang percaya. Walaupun kematian
dan Penebus dosa pribadinya. Guru
menjemput, mereka diyakinkan oleh
Pendidikan
Roh Allah bahwa mereka akan
mempunyai tugas membantu anak
bersama-sama dengan Kristus di
untuk mengenal Allah dan percaya
rumah Bapa atau di surga yang
kepada-Nya.
Artinya,
mereka
nyaman dan damai (1 Yoh. 5:11-13,
membimbing
anak
untuk
Yoh. 5:24; 14:1-3).
mengembangkan hubungan pribadi
Anak memiliki potensi untuk
mengerti
dan
memahami
sesuai
Agama
Kristen
dengan Dia. Mildred Proctor dalam
tulisannya
Pendidikan
Agama
dengan tingkat kematangannya, oleh
Kristen untuk Anak-Anak, memberi
sebab itu guru Pendidikan Agama
pemahaman yang jelas mengenai
Kristen memiliki peran yang penting
pentingnya mengenal secara pribadi.
untuk menjelaskan injil kepada anak.
Menurut pendapatnya sebagaimana
Anak
penjelasan
dikutip Sidjabat, “Kita juga berusaha
tentang Injil dengan pemahaman dan
membantu si anak mengenal Tuhan
bahasa
dengan
Yesus, bukan saja tentang Tuhan
perkembangannya, Guru Pendidikan
Yesus, tetapi juga mengenal Tuhan
Agama
Yesus
membutuhkan
yang
Kristen
sesuai
dapat
memilih
berdasarkan
22
suatu
Dengan
metode dan cakupan materi tentang
perhubungan
berita Injil sehingga anak mengerti
demikian sangatlah penting peran
akan kebenaran berita Injil.
guru
Kedua, Sebagai misionaris, guru
dalam
pribadi.
memotivasi
dan
membimbing peserta didiknya untuk
Pendidikan Agama Kristen dapat
mempercayai
memotifasi
sungguh-sungguh menerima Yesus
peserta
didik
untuk
percaya dan menerima berita Injil,
berita
Injil
dan
sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
yaitu karya Yesus disalib untuk
Ketiga , Sebagai misionaris, guru
penebusan dosa (bd. 1 Kor 15: 3,4; 1
Pendidikan Agama Kristen dapat
Ptr 2:24, (Rom 10:9,10). Upaya
menyaksikan kebenaran kepada para
mengenal
erat
dengan
muridnya
hubungan
pribadi
Kudus. Pengetahuan berita Injil bagi
berkaitan
pembentukkan
dalam
pimpinan
yang akrab di antara peserta didik
22
Sidjabat, Op.Cit, 93.
Roh
seorang
guru
diperlukan
memang
dalam
sangat
memampukan
peserta
didik
pelayanan
memahami kebenaran rohani (bd 1
penginjillannya kepada anak-anak.
Kor 2:14). Tidak semata-mata karena
Namun, hal tersebut tidaklah cukup
guru jika seorang siswa menerima
tanpa pimpinan Roh Kudus. Les
dan
Carter menegaskan bahwa orang
Kudus-lah yang paling berperan
percaya harus mempersilakan Roh
dalam keberhasilan penginjilan.
Kudus bekerja di dalam kehidupan,
Dengan demikian diharapkan Guru
sehingga
Pendidikan Agama Kristen tidak ada
orang
lain
merasakan
23
meyakini
Injil,
tetapi
Roh
kehadiran Kristus di dalam dirinya.
yang
Guru Pendidikan Agama Kristen
pembelajaran sebagai tugas saja dan
memiliki tanggung jawab khusus
bukan sebagai pelayanan jiwa-jiwa
juga
yang
dalam
pelayanannya,
yaitu
melakukan
kegiatan
seharusnya
memberikan
menyaksikan kebenaran kepada para
makanan rohani secara cukup kepada
muridnya
anak didiknya.
dalam
pimpinan
Roh
Kudus.
Keempat,
Syarat yang jauh lebih penting
Sebagai
misionaris,
guru Pendidikan Agama Kristen
untuk pelayanan pekabaran Injil dari
dapat
seorang guru, adalah peranan Roh
bertumbuh.
Kudus
sebagai "orang tua kedua" bagi para
dalam
hidupnya.
Tanpa
mendampingi murid untuk
Peran
seorang
guru
peranan Roh Kudus, maka seorang
siswa
guru yang profesional pun akan
diperlukan.
menjadi lemah. Akan tetapi, dengan
berkesempatan
peranan Roh Kudus, guru PAK dapat
pengetahuan kepada anak didiknya,
menjadi mampu, dan membuat murid
tetapi juga menjadi konselor atau
lebih bersedia menerima pengajaran
"sahabat" yang mendampingi dan
firman Tuhan dan kebenaran Alkitab.
membimbing mereka. Apalagi untuk
Roh
guru PAK ia juga harus mampu
Kudus
membantu
anak
membuka diri untuk belajar. Roh itu
di
medampingi
sekolah
Ia
sangatlah
tidak
hanya
mengajarkan
ilmu
dan
membimbing
mereka menurut iman Kristen dalam
23
Les Carter, Pembentukan Karakter:
Bagaimana Mencerminkan Sifat-Sifat
Kristus? (Bandung: Lembaga Literatur
Baptis, 1998), 22.
pengenalan
akan
Allah.
Dalam
kesempatannya yang guru sebagai
misionaris bagi anak didiknya, ia
menyadari bahwa tujuan Pendidikan
tidak hanya sekedar memberitakan
Agama Kristen adalah memenuhi
Injil,
memberi
Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat
pendampingan kepada mereka dalam
28:19-20). Dilihat dari ajaran kitab
pengenalan akan Allah dalam bentuk
Injil,
transformasi
menjadikan
tetapi
holistik,
juga
kehidupan
termasuk
secara
pembaruan
spiritual (2 Kor 5:17).
Dalam
Tuhan
PAK
peserta
Yesus,
seharusnya
didik
mengenal
murid
Dia,
memiliki relasi dengan Dia.
Up
Dalam Amanat Agung terdapat
Spiritual Champions", peneliti serta
perintah “Pergi dan jadikan murid”.
penulis George Barna menunjukkan
Menjadi
murid
bahwa hampir semua kepercayaan
mengikut
guru
permanen orang dewasa ditentukan
kehendaknya.
saat mereka berusia 13 tahun! Tugas
kehendak sang Guru, diharapkan
kita untuk membantu anak-anak
adanya buah yang ditunjukkan lewat
mengenal Yesus dan prinsip-prinsip-
perilaku sehari-hari, sehingga orang
Nya sejak usia muda sangat vital
lain yang melihatnya akan tertarik
bagi
rohani
dan mau menjadi murid Yesus.
mereka di masa depan. Anak-anak
Pertobatan adalah karya Roh Kudus,
akan
Allah
pemuridan adalah tanggung jawab
ketika firman itu membantu dalam
murid Kristus. Guru Pendidikan
pembentukan
muda
Agama Kristen di dalam tugasnya
mereka.24 Oleh sebab itu sangat
hendaknya setia pada tujuannya yaitu
penting guru Pendidikan Agama
menjadikan
Kristen dapat mendampingi murid
Kristus”.
sistem
buku
tujuan
"Raising
kepercayaan
memercayai
firman
karakter
untuk memiliki keyakinan yang kuat
di
sini
berarti
dan
melakukan
Dengan
melakukan
murudnya
“murid
Keenam, Sebagai misionaris guru
di dalam iman kepada Tuhan Yesus
Pendidikan
Agama Kristen agar
di masa pertumbuhannya.
mengajarkan anak untuk terlibat
Kelima, Sebagai misionaris, guru
dalam penginjilan. Sangat penting
Pendidikan Agama Kristen harus
anak mengerti mengapa kita harus
menginjili.
Ini
kesempatan
emas
merupakan
24
http://pepak.sabda.org/mengapa_mem
uridkan_anakanak. Diakses tgl. 20 Januari
2014.
bagi
guru
Pendidikan Agama Kristen untuk
Guru Pendidikan Agama Kristen
kembali mengingatkan kepada murid
untuk
membangkitkan
kerinduan
tentang misi Allah mengirimkan
murid
untuk
di
Yesus
pekabaran Injil.
Kristus
ke
dunia
untuk
terlibat
dalam
menyelamatkan manusia dari kuasa
dosa, inilah arti Injil. Untuk dapat
menginjili
dan
sungguh-sungguh
mengerti
dan
bersaksi
dengan
murid
harus
menyadari
akan
keselamatannya di dalam Yesus
KESIMPULAN
Tugas
pendidikan
penginjilan
dan
tidaklah
dapat
dipisahkan. Guru Pendidikan Agama
Kristen yang misioner adalah guru
Pendidikan Agama Kristen yang
Kristus,
Ketujuh, Sebagai misionaris guru
Pendidikan Agama Kristen dapat
menuntun anak untuk menyadari
bahwa Allah datang bukan hanya
untuk dia saja tetapi juga untuk anakanak yang lain. Ada banyak perintah
dalam Alkitab bahwa kita harus
bersaksi tentang kasihNya (Yoh
15:27). Guru Pendidikan Agama
Kristen dapat mendorong murid
untuk bersaksi melalui perkataan
(dengan cara bercerita kepada orang
lain baik itu teman, orang tua, atau
memiliki kesaksian yang baik bagi
Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti
guru Pendidikan Agama Kristen
menjalankan
fungsi
garam
dan
terang dalam lingkungan komunitas
yang
ada.
Guru
harus
mampu
mengabarkan
dan
menjelaskan
apakah
Dia
juga
Injil.
perlu
memotivasi peserta didiknya untuk
percaya dan menerima berita Injil
tersebut.
Guru
pun
memperhatikan
bahwa menyaksikan kebenaran kepada
para muridnya harus dengan pimpinan
Roh Kudus. Setiap murid yang telah
saudara tentang Kristus). Anak juga
menerima dan percaya kepada Yesus
dapat
sebagai Tuhan dan Juruselamat, harus
bersaksi
melalui
sikap,
tindakan dan perilaku kepada orang
dalam
lain. Disamping itu guru dapat
pertumbuhannya. Karena guru harus
mendorong murid untuk berdoa bagi
menyadari bahwa tujuan PAK untuk
pekerjaan
dan
memenuhi Amanat Agung Tuhan
mengunjungi pos perintisan gereja.
Yesus, tidak hanya meberitakan Injil
Ada banyak cara yang bisa dilakukan
saja melainkan juga menjadikan
penginjilan
pendampingan
dalam
“murid”
meneriman
Yesus.
Setelah
murid
bahwa Allah datang bukan hanya untuk
Injil,
guru
dia saja tetapi juga untuk anak-anak
berita
mengajarkan dan mendorong anak untuk
yang lain juga.
terlibat dalam penginjilan. Guru harus
menanamkan prinsip ini pada siswanya
DAFTAR PUSTAKA
Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen Sejarah Teologi Misi yang
Mengubah dan Berubah . Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
D. Ellis, W. Metode Penginjilan. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
1999.
De Jong, Norman Educational In The Truth. Phillipsburg NY: Presbiterian and
Reformed Publishing Company, 1979.
Eims, LeRoy. Penuai yang Diperlengkapi. Malang: Gandum Mas, 1988.
Estep Jr, James R. Michael J.Anthony &Gregg R.Allison, A Theology for
Christian Education. B&H Nashville:Tennesse, 2008.
Hombrighounsen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK, 1985.
Ismail, Andar. Selamat Menabur 33 Renungan tentang Didik Mendidik, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2009.
Les Carter, Pembentukan Karakter: Bagaimana Mencerminkan Sifat-Sifat
Kristus? Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1998.
Nainggolan, John M. Menjadi Guru Agama Kristen. Bandung: Generasi Info
Media 2007.
Presiden Republik Indonesia, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR
NASIONAL PENDIDIKAN.
Schnabel, Eckhard J. RasulPaulus Sang Misionaris . Yogyakarta: ANDI, 2010.
Serrano, Janse Balandina Non. Profesionalisme Guru & Bingkai Materi PAK
SD,SMP,SMA. Bandung. Bina Media Informasi. 2009.
Sidjabat, B. Samuel Strategi Pendidikan Kristen, Yogyakarta: Yayasan Andi,
1996.
Sidjabat, B.S. Mengajar Secara Profesional Mewujudkan Visi Guru Profesional
. Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 2009.
Sills, M. David. Panggilan Misi. Surabaya. 2011.
Stephen Tong, Arsitek Jiwa II. Surabaya: Momentum, 2008.
Yulianti, Lidya. Profesionalisme, Standar Kompetensi, Dan Pengembangan
Profesi Guru PAK. Bandung: Bina Media Informasi. 2009.
http://bloggerbekasi.com/2009/10/22/menjadi-guru-yang-konstruktif%E2%80%93-bagian-1.html. Diakses Tgl. 1 April 2011
http://www.lrckesehatan.net/evenpenting/rakon/2010/Etos-Depkes, Diakses tgl 15
September 2013.
http://pepak.sabda.org/mengapa_memuridkan_anakanak. Diakses tgl. 20 Januari
2014.
Download