Jemaat Jemaat Allah Al Maséhi
[200]
Kasih dan Struktur Hukum [200]
(Edisi 1.1 19970830-19990610)
Makalah ini membahas secara khusus penjelasan dikeluarkannya hukum dari sudut karakter
Allah. Makalah ini membahas mengenai struktur hukum dalam dua perintah utama dan
sepuluh hukum yang disimpulkan menjadi dua perintah. Kasih kepada Allah dan kasih
kepada sesama menjadi dasar dari semua hukum-hukum turunan yang lain yang dihasilkan
dari kedua perintah utama dan kesepuluh perintah Allah pertama, dan dengan demikian, pada
kedua perintah utama bergantunglah semua hukum Taurat dan kitab para nabi.
Christian Churches of God
PO Box 369, WODEN ACT 2606, AUSTRALIA
E-mail: [email protected]
(Hak Cipta  1997, 1999 Wade Cox)
Karya ini dapat diperbanyak dan didistribusikan secara bebas dengan syarat bahwa disalin secara
utuh tanpa perubahan ataupun penghapusan kata. Nama dan alamat penerbit serta pernyataan Hak
Cipta harus disertakan. Tidak ada biaya yang dikenakan pada penerima salinan yang
didistribusikan. Kutipan sigkat dapat dimasukkan ke dalam artikel kritik ataupun resensi tanpa
melanggar ketentuan hak cipta.
Karya tulis ini tersedia di situs World Wide Web:
http://www.logon.org and http://www.ccg.org
Hal. 2
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Allah adalah kasih (1Yohanes 4:8,16).
1Yohanes 4:7-21 Saudara-saudaraku yang
kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab
kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang
mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal
Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah
kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu
bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang
tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup
olehNya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah
mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah
mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya
sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah
sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita
juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun
yang pernah melihat Allah. Jika kita saling
mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan
kasihNya sempurna di dalam kita. 13 Demikianlah
kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam
Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah
mengaruniakan kita mendapat bagian dalam
RohNya. 14 Dan kami telah melihat dan bersaksi,
bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi
Juruselamat dunia. 15 Barangsiapa mengaku,
bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap
berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita
telah mengenal dan telah peercaya akan kasih
Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan
barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap
berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 17
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam
kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian
percaya pada hari penghakiman, karena sama
seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 18 Di
dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang
sempurna
melenyapkan
ketakutan;
sebab
ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa
takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 19 Kita
mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi
kita. 20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi
Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia
adalah pendusta, karena barangsiapa tidak
mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak
mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. 21
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa
mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi
saudaranya.
Kutipan ayat dari 1Yohanes mengembangkan
tema bahwa Allah adalah kasih dan bahwa
kasih terhadap sesama adalah sebuah
demonstrasi dari kesempurnaan kasih Allah
di dalam diri kita, dan kenyataan bahwa Allah
tinggal di dalam diri kita. Kita melihat dari
kutipan ayat tersebut bahwa Allah adalah
kasih dan bahwa tidak ada seorangpun yang
pernah melihat Allah. Allah mengirim
anakNya ke dalam dunia supaya kita dapat
hidup melalui Dia.
Dari karya tulis Perbedaan Dalam Hukum
[096] dan Pemerintahan Allah [174] kita
melihat bahwa ada dua elemen dalam iman.
Yang pertama adalah pengetahuan akan
Allah. Inilah yang disebut dengan istilah
Teologia. Elemen yang ke dua adalah
pengetahuan akan kehendak Allah. Kehendak
ini merupakan perpanjangan dari karakter
Allah yang kudus dan diistilahkan dengan
ekonomi keselamatan sebagai sistem
pengaturan hukumNya. Hukum ini adalah
hukum Eloah (Ezra 7:14) dan Ia adalah obyek
dari penyembahan dan korban di baitNya
dimana Ia telah membuat namaNya tinggal di
dalam
bait
itu
(Ezra
6:8,9,10,12).
Demikianlah kita membicarakan tentang satusatunya Allah yang benar (Yohanes 17:3)
yang secara keseluruhan bersifat tunggal dan
yang adalah Eloah.
Kita juga mengetahui bahwa Allah adalah
benar (Ezra 9:15), sempurna (Matius 5:48),
kudus (Imamat 19:2), baik (Mazmur 34:8),
adil (Ulangan 32:4). Kita tahu bahwa hukum
Allah adalah benar (Mazmur 119: 172),
sempurna (Mazmur 19:7), kudus (Roma
7:12), baik (Roma 7:12), adil (Mazmur
119:142).
Dari kutipan ayat-ayat tersebut, kita
memperoleh deduksi bahwa karakter Allah
dicerminkan melalui hukumNya. Oleh sebab
itu, kenyataan bahwa Allah adalah kasih
harus dicerminkan juga melalui hukum Allah
adalah kasih. Allah tidak pernah berubah
(Maleakhi 3:8). Secara spesifik Allah
menghubungkan ayat ini dengan perpuluhan,
karena perpuluhanlah yang oleh sebagian
besar manusia dirusak, ketika mereka
mengganti sistem yang telah ditentukan oleh
Allah. Perpuluhan adalah sebuah tanda
tentang kedatangan Allah kembali dan
seluruh bangsa dikutuk dari sudut ini karena
kegagalan mereka dalam mempelajari
hukum. Mereka yang terpilih ikut mangambil
bagian dalam karakter Allah (2Petrus 1:4).
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Dunia perlu menjaga hukum-hukum Allah
dan dihukum karena mereka tidak menjaga
hukum (Mazmur 55:19, lihatlah makalah
Perbedaan Dalam Hukum [096].
Mentaati kesemua perintah Allah adalah
penting dalam mengenal kasih Allah
(1Yohanes 2:3-4; 3:22; 5:3) dan juga Kristus
(Yohanes 14:15,21). Merupakan faktor yang
penting juga dalam kita menerima dan
memelihara Roh Kudus (Yohanes 14:21;
1Yohanes 3:24; Kisah Para Rasul 5:32).
Pelanggaran atau pengajaran yang sesat atau
meremehkan hukum Allah dilarang oleh
Kristus (Matius 5:19). Sunat atau tidak
bersunat tidak berarti apapun selain mentaati
perintah Allah. Perbedaan dalam hukum yang
ditunjukkan dalam ayat Alkitab seperti dalam
Galatia 3:10 diterangkan dalam makalah
Perbedaan Dalam Hukum [096] dan juga
dalam Cara Kerja Hukum Allah – atau MMT
[104].
Ada sebuah struktur dalam hukum yang
menunjukkan seluruh aspek mengenai kasih
Allah. Aspek kasih ini diidentifikasikan
sebagai sesuatu dalam dua aspek yang
berbeda
tentang
hukum.
Kristus
mengidentifikasi hukum sebagai sesuatu yang
berlandaskan kasih.
Matius 22:34-40
Ketika orang-orang Farisi
mendengar, bahwa Yesus telah membuat orangorang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35
dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat,
bertanya untuk mencobai Dia: 36 “Guru, hukum
manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 37
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39
Dan hukum yang ke dua, yang sama dengan itu
ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Dari ayat ini kita melihat bahwa seluruh
struktur hukum Allah dan kitab para nabi
bergantung pada kedua Perintah Utama.
Dengan demikian kita melihat bahwa bahkan
kesepuluh hukum Taurat dibentuk dalam
kedua perintah utama ini. Berarti ada sebuah
struktur atau hirarki di dalam hukum yang
berasal dari kedua perintah utama ini, yang
berjalan dan yang terus berjalan melebihi
Hal. 3
kesepuluh hukum Taurat, hingga kepada
hukum-hukum yang lain. Contohnya,
percabulan dan homoseksualitas tidak
ditemukan atau dilarang di dalam kesepuluh
hukum Taurat. Mereka ditemukan sebagai
bentuk yang diturunkan dari hukum yang
tidak berhubungan dengan keduanya namun
bergantung pada kesepuluh hukum yang
kemudian ternyata bergantung pada pada
kedua perintah utama (karya-karya tulis Seri
Hukum [252-263]).
Perintah Utama yang pertama ditemukan di
dalam kitab Ulangan 6:5 “Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.” Yang ke dua mirip seperti yang
pertama. Dengan demikian, kedua hukum ini
mencerminkan karakter Allah yang sama dan
penerapan hukum yang sama. Yang ke dua
tertulis di dalam kitab Imamat 19:18
“Janganlah engkau menuntut balas, dan
janganlah menaruh dendam terhadap orangorang sebangsamu, melainkan kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Tuhan”.
Interpretasi kutipan ayat ini dalam pengertian
yang sempit dibuat oleh para rabi atau para
guru agar mereka tidak perlu memperdalam
pengertian hukum kepada orang awam.
Dengan
demikian
mereka
telah
menyalahgunakan hukum. Sistem Katolik
lama mencoba melakukan yang sama pada
zaman abad pertengahan, dengan membuat
pernyataan bahwa perikatan-perikatan yang
dibuat oleh non-Katolik tidak perlu dipatuhi.
Lebih khusus lagi, mereka memperjualbelikan toleransi terhadap pelanggaranpelanggaran yang belum dibakukan dalam
nilai-nilai ketentuan resmi. Hal ini, tentu saja
merupakan pencemoohan yang memalukan
terhadap hukum-hukum Allah. Kristus
menjawab perbantahan palsu tentang hukum
dengan jawaban yang sangat tegas.
Lukas 10:25-37 Pada suatu kali berdirilah seorang
ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya:
“Gruru, apa yang harus kuperbuat untuk
memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus
kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum
Taurat? Apa yang kaubaca disana?” 27 Jawab
orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap
akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia
Hal. 4
Kasih dan Struktur Hukum [200]
seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya:
“Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka
engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan
dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan
siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus:
“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke
Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun
yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah
itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan
itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari
seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi
datang ketempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia
melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang
seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan,
ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu,
tergeraklah harinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi
kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia
menyiraminya dengan minyak dan anggur.
Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai
tunggangannya sendiri lalu membawanya ke
tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan
harinya ia menyerahkan dua dinar kepada kepada
pemilik penginapan itu, katanya; Rawatlah dia dan
jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya waktu aku kembali. 36 Siapakah di
antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu,
adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu; “Orang
yang telah
menunjukkan belas
kasihan
kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah,
dan perbuatlah demikian!”
28
Perintah Utama yang pertama dibagi menjadi
empat elemen yang tercerminkan di dalam
empat perintah pertama yang terdapat di
dalam kitab Keluaran 20 dan juga kitab
Ulangan 5.
Keluaran 20:1-11 Lalu Allah mengucapkan segala
firman ini: 2 “Akulah Tuhan Allahmu, yang
membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari
tempat perbudakan. 3 Jangan ada padamu allah lain
di hadapanKu. 4 Jangan membuat bagimu patung
yang menyerupai apapun yang ada di langit di
atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang
ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud
menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,
sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang
cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa
kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ke
tiga dan ke empat dari orang-orang yang
membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih
setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang
mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintahperintahKu. 7 Jangan menyebut nama Tuhan,
Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan
memandang bersalah orang yang menyebut
namaNya dengan sembarangan. 8 Ingatlah dan
kuduskanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya
engkau akan bekerja dan melakukan segala
pekerjaanmu, 10 tetapi hari ke tujuh adalah hari
Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan
sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki,
atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki,
atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau
orang asing yang di tempat kediamanmu. 11 Sebab
enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan
bumi, laut dan segala isinya dan Ia berhenti pada
hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati
hari Sabat dan menguduskannya.
Gereja Katolik Roma mencoba untuk
menggabungkan hukum yang ke dua dengan
yang pertama, dan oleh karena itu maksud
dari hukum yang ke dua menjadi tidak jelas.
Hal ini menyebabkan mereka hanya memiliki
sembilan hukum. Oleh sebab itu mereka
memecah hukum ke sepuluh menjadi dua
dengan menggunakan versi dalam kitab
Ulangan yang meletakkan kata istri sebelum
kata rumah, dan dengan demikian hukum ke
sepuluh yang menyangkut masalah keinginan
dipecah menjadi dua hukum – satu tentang
mengingini istri dan yang lain tentang
mengingini barang-barang. Masalahnya, versi
dalam kitab Keluaran menuliskannya
demikian untuk menunjukkan bahwa
meskipun kata istri ditulis di depan kata
rumah namun isi hukum ke sepuluh adalah
tetap mengenai keinginan. Kita akan
menelitinya di bawah.
Perintah untuk mengasihi Tuhan Allahmu
dengan segenap hatimu dan segenap akal
budimu dan dengan segenap jiwamu
diterangkan dalam ke empat perintah pertama
dari sepuluh perintah Allah. Dari ke empat
perintah ini telah diturunkan sejumlah aspek
hukum yang bergantung, atau memberi arti,
pada penerapannya. Dengan demikian,
kesepuluh perintah Allah tidak berdiri sendiri
sementara hukum Tuhan tidaklah terpisah
dari yang kesepuluh perintah tersebut.
Dengan cara ini, seperti yang dikatakan
Kristus, tidak ada satu iota atau titik (tanda
koma yang terkecil atau tanda baca yang lain
yang digunakan untuk menulis ayat tersebut),
yang akan hilang dari hukumNya sebelum
semua hukum itu terpenuhi.
Matius 5:17-20 Janganlah kamu menyangka,
bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum
Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk
meniadakannya,
melainkan
untuk
menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan
bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Hal. 5
ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya
terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling
kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang
lain, ia akan menduduki tempat yang paling
rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang
melakukan dan mengajarkan segala perintahperintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat
yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 20 Maka Aku
berkata kepadamu; Jika hidup keagamaanmu tidak
lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6
Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini
haruslah engkau perhatikan, 7 haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anakanakmu dan membicarakannya apabila engkau
duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam
perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
engkau bangun. 8 Haruslah juga engkau
mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan
haruslah itu menjadi lambang didahimu, 9dan
haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu
rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ayat ini mengatakan kepada kita bahwa
Kristus taat kepada Allah dan bahwa hukum
yang diberikan di gunung Sinai akan terus
digunakan untuk membawa pertobatan dan
penghakiman kepada dunia. Demikianlah
hukum tersebut berdiri sendiri dalam konteks
waktu secara fisik. Oleh sebab itu
argumentasi Kristen modern yang menentang
hukum tersebut adalah sesat.
Demikianlah, kesepuluh perintah bergantung
pada perintah yang pertama, dan yang
pertama merupakan turunan dari Perintah
Utama yang pertama. Elemen pertama dari
perintah yang pertama ini memiliki strukturstruktur berikut yang membuatnya menjadi
sebuah matriks yang berhubungan dengan
yang lain. Struktur-struktur tersebut adalah:
komitmen total secara fisik, intelektual, dan
rohani kepada satu Allah yang benar yang
adalah Bapa. Sebagai contoh, komitmen ini
ditunjukkan dalam: penyembahan melalui
etika berpakaian. Hukum ini harus
dimasukkan ke dalam hati dan dengan
demikian
akan
tercerminkan
melalui
perkataan dan perbuatan. Harus diajarkan
kepada anak-anak melalui kehidupan seharihari, baik di dalam rumah maupun di luar.
Hukum itu sendiri akan menjadi sebuah tanda
bagi bangsa perjanjian milik Allah. Prinsip
dasar dari Shema tercerminkan dalam aspek
tunggal Allah – Shema Israel Yahovah
Elohenu Yahovah Ehad (Companion Bible
dan Soncino commentaries). Konsep ini
melarang Tritunggal sebagai penyembahan
yang sesuai hukum. Rushdoony gagal dalam
menangkap aspek ini (lihat karya tersebut di
atas, hal 16). Konsekwensi untuk filosofi
hukum dan struktur hukum adalah bahwa
hanya ada satu pembuat hukum yang
mungkin dan itu berarti Satu Allah: Satu
Hukum. Polytheism membolehkan adanya
sejumlah sistem hukum, dan sifatnyapun
tidak universal karena bukan Allah yang
mengeluarkannya dan dengan demikian
hukum menjadi sebuah metode. Hukum
dihasilkan dari karakter Allah seperti yang
telah kita lihat dan oleh sebab itu hanya ada
satu pembuat hukum yang mungkin. Jadi,
satu perubahan didalam hukum melibatkan
satu perubahan didalam karakter Allah dan
Allah telah berkata melalui hamba-hambaNya
Hirarki hukum, didasarkan pada struktur
turunan seperti berikut: pertama adalah
Perintah Utama yang pertama, perintah yang
pertama, perintah yang ke dua, perintah yang
ke tiga, perintah yang ke empat.
Perintah yang pertama telah diteliti dalam
makalah Perintah Allah Yang Pertama: Dosa
Iblis [153] dan Hukum Dan Perintah Yang
Pertama [253]. Perintah yang pertama yang
mengatakan untuk tidak memiliki allah lain di
hadapan Allah bersifat sangat umum seperti
halnya perintah-perintah yang lain.
Hukum-hukum yang berhubungan bahkan
sampai pada pengenaan pita biru pada
pakaian, diidentifikasikan sebagai bagian
yang sangat penting dalam perintah ini (lihat
J R Rushdoony Institutes of Biblical Law,
Presbyterian and Reformed Publishing
Company, 1973, hal 22); (juga karya tulis
Pita Biru [273]).
Perintah yang pertama disusun sebagai
berikut: Perintah Pertama: Jangan ada
padamu allah lain dihadapanKu. Struktur
turunan: Shema (doa harian Yudaisme) dan
prinsip-prinsip dari sub-struktur Kesepuluh
Perintah Allah.
Ulangan 6:4-9 Dengarlah hai orang Israel: Tuhan
itu Allah kita, Tuhan itu esa! 5Kasihilah Tuhan
Hal. 6
yaitu para nabi bahwa ia tidak pernah
berubah (Maleakhi 3:6). Oleh sebab itu,
hukumNyapun tidak berubah, demikian juga
dengan janji-janjiNya.
Filosofi dari hukum manusia mendasarkan
dirinya sendiri pada segala sesuatu yang
positif dan dengan demikian berarti tidak
bersifat absolut. Hukum itu mencoba untuk
memaksakan
sebuah
sistem
legal
internasional di bumi ini, yang didasarkan
pada struktur yang tidak memiliki
kesempurnaan dan pasti akan gagal.
Perjuangan untuk memiliki kontrol atas
sistem legal internasional dapat dilihat pada
esensinya adalah pertentangan politis dan
agama. Agar pemerintahan dunia baru dapat
diterima, maka absolutisme agama harus
ditiadakan dan dengan demikian teologi
proses modern dari sistem multi-faset
Gerakan Jaman Baru (New Age Movement)
dikembangkan. Isinya menyatakan bahwa
tidak ada kebenaran dalam pengertian
kebenaran yang sempurna dan menyangkal
hak pengakuan kebenaran dari semua sistem
keagamaan. Yang berarti, tidak boleh ada
kegiatan penginjilan yang diijinkan oleh
sistem manapun. Tentu saja hal ini sangat
keliru dan hanya akan menghasilkan
peperangan dan penghancuran final terhadap
bumi ini. Inilah titik klimaks final dari
peperangan yang dimulai di surga yang
dikobarkan oleh mereka yang telah jatuh ke
dalam dosa. Oleh sebab itu, Shema adalah
pusat dari struktur dalam kedua tingkat
eksistensi ini. Hanya ada satu hukum dan dan
satu pemerintahan dan satu kebenaran (lihat
karya tulis Kebenaran [168]) dan segala yang
lain harus lalu.
Porsi ke dua dari Shema dikumandangkan
dalam Ulangan 10:12-13.
Ulangan 10:12-13: “Maka sekarang hai orang
Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh
Tuhan Allah selain dari takut akan Tuhan
Allahmu, hidup menurut segala jalan yang
ditunjukkanNya, mengasihi Dia, beribadah kepada
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu, 13 berpegang pada
perintah dan ketetapan Tuhan yang kusampaikan
kepadamu pada hari ini supaya baik keadaanmu.”
Jadi, yang dituntut oleh Yehova adalah takut
kepadaNya, berjalan menurut jalanNya,
mengasihi Dia, beribadah kepadaNya dan
Kasih dan Struktur Hukum [200]
berpegang pada perintah dan ketetapan
Yehova untuk kebaikan kita.
Jadi, hukum memberikan kebaikan bagi umat
manusia. Manusia tidak memberikan
kebaikan kepada Allah dengan melakukan
hukumNya. Manusia memberkati dirinya
sendiri dengan mengenakan karakter Allah
dan melayaniNya agar Allah menjadi
segalanya di dalam segala sesuatu (Efesus
4:6).
Kasih Allah juga dicerminkan dalam
hubungan kita dengan sesama dalam
pernyembahan dan bukan hanya dalam
kehidupan kita sehari-hari.
Pelanggaran terhadap hukum yang pertama
terjadi bila penyembahan kita kurang
memiliki iman yang memproklamirkan
Firman Allah. Dengan demikian, bentuk doa
yang tidak memiliki arti dan diulang-ulang
melanggar perintah yang pertama. Hal serupa
juga berlaku pada kewajiban yang lain, yaitu
pendidikan
bangsa
perjanjian,
dalam
pelaksanaan
hukum
perjanjian
yang
diperlukan, seperti yang dinyatakan dalam
firman. Respon terhadap anugrah adalah
dengan memelihara hukum (lihat karya tulis
Hubungan Antara Anugrah Keselamatan Dan
Hukum Allah [082]. Pendidikan terhadap
umat pilihan didasarkan pada kenyataan
bahwa Allah membebaskan kita dari ikatan
agar Ia dapat memelihara kehidupan kita. Ia
memerintahkan kita untuk melakukan semua
ketetapanNya untuk selalu takut kepada Allah
demi kebaikan kita (Ulangan 6:20-25).
Kegiatan ini merupakan sesuatu yang
bersumber dari kasihNya kepada kita.
Rushdoony menyatakan tentang ayat dalam
Ulangan 6:20-25 dan khususnya ayat 24
bahwa tidak ada yang dapat digunakan
sebagai pembenaran untuk menyingkirkannya
dari isi Perjanjian Lama ataupun Baru
(Rushdoony, dalam karya tersebut di atas,
hal.23).
Dengan dasar ilmu relativitas atau hukum
pragmatika (baik tentang ilmu positif atau
relativitas atau keberadaan atau teologi
berjenis proses yang lain) tidak ada dasar
apapun untuk pemersatuan di bawah hukum.
Argumentasi seperti ini hanya terletak pada
penipuan oleh setiap individu, karena tidak
Kasih dan Struktur Hukum [200]
ada sistem pemerintahan hukum yang
sempurna. Pada masa Hakim-hakim, semua
orang melakukan apa yang benar menurut
pandangan matanya sendiri (Hakim-hakim
21:25; 17:6; 18:1; 19:1). Mereka telah
menolak Allah sebagai raja dan mereka
belum melihat logika dari kesulitan mereka.
Namun, mereka tidak kembali kepada Allah.
Mereka meminta seorang raja secara fisik dan
karena itu mereka menjadi semakin
tenggelam di bawah kelemahan sistem
tersebut. Pemisahan di bawah sususan sosial
ini sedang terjadi pada bangsa yang
berbahasa Inggris. Kapasitas mereka untuk
tetap berada sebagai orang yang bebas secara
serius sedang diragukan. Gereja-gereja
berjatuhan ke dalam anarkhi yang tidak
berakal yang disebabkan oleh kegagalan
untuk memahami pentingnya kesatuan dari
kebenaran dan ketunggalan Allah. Hukum
Allah itu konsisten karena Allah adalah
tunggal dan kebenaran adalah tunggal.
Hukum Allah merupakan satu kesatuan yang
utuh. Kekristenan telah menyimpangkan hal
ini dan kaum Trinitarianis tidak memahami
peranannya dalam hal ini (lihat sebagai
contoh Ruhdoony, hal 18-19).
Seseorang tidak dapat mengasihi Allah tanpa
ketaatan dan tanpa memelihara perintahperintahNya. Mereka itu, melalui kesetiaan,
adalah bukti kasih. Oleh sebab itu, melakukan
sesuatu yang benar tidak akan berarti apapun
kecuali jika kasih intrinsik kepada Allah
adalah elemen utamanya. Kasih itu adalah
jika kita memelihara perintah-perintahNya
(lihat karya Darby On the Law, hal 3-4).
Konsep bahwa hukum itu sendiri dapat
memberikan keselamatan adalah kesalahan
dari ilmu legalitas yang menyebabkan
Yehuda jatuh.
Yohanes 5:30-47 Aku tidak dapat berbuat apa-apa
dari diriKu sendiri; Aku menghakimi sesuai
dengan
apa
yang
Aku
dengar,
dan
penghakimanKu adil, sebab Aku tidak menuruti
kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Dia
yang mengutus Aku. 31 Kalau Aku bersaksi
tentang diriKu sendiri, maka kesaksianKu itu tidak
benar; 32 ada yang lain yang bersaksi tentang Aku
dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang
diberikanNya tentang Aku adalah benar. 33 Kamu
telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia
telah bersaksi tentang kebenaran; 34 tetapi Aku
tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun
Aku mengatakan hal ini, supaya kamu
Hal. 7
35
diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan
yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati
seketika saja cahanya itu. 36 Tetapi Aku
mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting
dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala
pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu,
supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga
yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang
memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa
yang mengutus Aku. 37 Bapa yang mengutus Aku,
Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak
pernah mendengar suaraNya, rupaNyapun tidak
pernah kamu lihat, 38 dan firmanNya tidak
menetap didalam dirimu, sebab kamu tidak
percaya kepada Dia yang diutusNya. 39 Kamu
menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu
menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai
hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab
Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, 40 namun
kamu tidak mau datang kepadaKu untuk
memperoleh hidup itu. 41 Aku tidak memerlukan
hormat dari manusia. 42 Tetapi tentang kamu,
memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu
tidak mempunyai kasih akan Allah. 43 Aku datang
dalam nama BapaKu dan kamu tidak menerima
Aku; jikalau orang lain datang atas namanya
sendiri, kamu akan menerima dia. 44
Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang
menerima hormat seorang dari yang lain dan yang
tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang
Esa? 45 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan
mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang
mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang
kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. 46
Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu
kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah
menulis tentang Aku. 47 Tetapi jikalau kamu tidak
percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah
kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”
Yohanes 5:42 menunjukkan bahwa karena
Kasih Allah yang tidak berada di dalam diri
mereka membuat mereka tidak dapat
mendengar Musa dan mereka menyalahartikan maksud dari hukum yang diberikan
kepada Musa. Kristus sendiri berkata bahwa
kehidupan kekal tidak tinggal dalam ayat
Alkitab. Kehidupan kekal adalah suatu
pengetahuan mengenai satu Allah yang benar
dan Yesus Kristus yang Ia kirim (Yohanes
17:3). Oleh sebab itu, pengetahuan tentang
Allah adalah persyaratan yang penting.
Kemuliaan yang datang dari sesama manusia
bukanlah kemuliaan yang datang dari Allah
yang esa. Kristus berkata bahwa Bapa adalah
satu-satunya Allah yang benar seperti tertulis
dalam Yohanes 5:44. Dari kejatuhan Yehuda,
Musa mendakwa mereka di hadapan Bapa
karena mereka telah menyalah-artikan
Hal. 8
hukumNya yang diberikan kepada Musa
melalui Mesias. Perlu dicatat juga bahwa
Kristus menyatakan dengan jelas bahwa tidak
ada seorangpun yang pernah mendengar
suara Allah diwaktu kapanpun. Kemudian,
siapa yang telah berbicara pada saat Kristus
dibabtiskan (Matius 3:17; Markus 1:11)?
Kemungkinannya hanya dua, salah seorang
malaikat yang berbicara atas nama Bapa,
atau Roh Kudus yang membuat kesan dalam
pikiran orang-orang sebuah konsep yang
mereka dengar seperti sebuah suara.
Janji yang dibuat untuk para keturunan
Abraham tidak dibuat dalam konsep
pemeliharaan hukum, namun melalui konsep
iman. Allah adalah kasih dan kebebasan yang
terkandung di dalam hukum membuat kita
dibenarkan oleh iman dan diikat dengan
Allah di dalam Roh Kudus. Dari proses ini
kita melihat janji yang diberikan kepada
Abraham diturunkan kepada orang-orang
pilihan melalui iman.
Roma 4:13-25 Sebab bukan karena hukum Taurat
telah diberikan janji kepada Abraham dan
keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. 14
Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari
hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan
Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.
15
Karena hukum Taurat membangkitkan murka,
tetapi dimana tidak ada hukum Taurat, disitu tidak
ada juga pelanggaran. 16 Karena itulah kebenaran
berdasarkan iman supaya merupakan kasih
karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua
keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka
yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab
Abraham adalah bapa kita semua, 17 seperti ada
tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa
banyak bangsa” di hadapan Allah yang kepadaNya
ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang
mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa
yang tidak ada menjadi ada. 18 Sebab sekalipun
tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham
berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi
bapa banyak bangsa, menurut yang telah
difirmankan; “Demikianlah banyaknya nanti
keturunanmu.” 19 Imannya tidak menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah
sangat lemah, karena usianya telah kira-kira
seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah
tertutup. 20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak
bimbang karena ketidak-percayaan, malah ia
diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan
Allah, 21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah
berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia
janjikan.
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Kita dibenarkan oleh kebangkitan Yesus
Kristus, yang dibangkitan Allah. Karena iman
kita terletak didalam Dia yang telah
membangkitkan Yesus Kristus dari kematian.
Kristus dihukum mati karena pelanggaranpelanggaran kita dan dibangkitan untuk
pembenaran kita. Jadi, kita diselamatkan
bukan karena perbuatan-perbuatan kita.
Paulus
menjelaskan
persoalan
rumit
mengenai anugrah keselamatan oleh Yesus
Kristus ini di dalam Roma 5:1-21.
Roma 5:1-5 Sebab itu kita yang dibenarkan karena
iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah
oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita
juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih
karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan
kita bermegah dalam pengharapan akan menerima
kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita
malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena
kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan
ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan
tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan
pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah
telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus
yang telah dikaruniakan kepada kita.
Di dalam bagian yang pertama ini, Paulus
menunjukkan kepada kita bahwa karena kita
dibenarkan oleh iman, maka kita dapat hidup
damai dengan Allah melalui Tuhan kita
Yesus Kristus. Melalui Kristuslah kita
memperoleh jalan masuk ke dalam kasih
karunia yang diatasnya kita berdiri.
Pengharapan kita adalah ikut berbagi
kehidupan kekal di dalam kemuliaan Allah
seperti yang telah dikatakan Kristus di dalam
Yohanes 17:3,5,24. Kita belajar tekun oleh
perkara-perkara yang kita derita seperti
Kristus belajar tekun oleh apa yang
dideritaNya. Kita tidak dikecewakan oleh
pengharapan kita karena kasih Allah yang
dicurahkan di dalam diri kita melalui Roh
Kudus.
Roma 5:6-11 Karena waktu kita masih lemah,
Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka
pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 7 Sebab
tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang
benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada
orang yang berani mati – 8 Akan tetapi Allah
menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena
Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih
berdosa. 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah
dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan
diselamatkan dari murka Allah. 10 Sebab jikalau
kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan
Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita,
yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan
Kasih dan Struktur Hukum [200]
11
diselamatkan oleh hidupNya! Dan bukan hanya
itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh
Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita
telah menerima pendamaian itu.
Kita diperdamaikan dengan Allah melalui
kematian Kristus ketika kita masih seteru.
Mengapa? Karena keinginan daging adalah
perseteruan dengan Allah (Roma 8:7). Kita
akan melihat bagaimana hal ini terjadi. Dosa
masuk ke dalam dunia bersama dengan
ketidak-taatan satu orang – Adam. Meskipun
demikian, ketidak-taatan itu tersebar kepada
semua manusia karena semua manusia
berdosa. Hal ini mempunyai implikasi yang
besar terhadap doktrin dosa asal. Doktrin
tersebut telah diteliti secara terpisah (Doktrin
Mengenai Tentang Dosa Asal Bagian I
Taman Eden [246] dan Doktrin Tentang
Dosa Asal Bagian 2 Generasi Adam [248]).
Roma 5:12-14 Sebab itu, sama seperti dosa telah
masuk ke dalam dunia oleh satuorang, dan oleh
dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
menjalar kepada seomua orang, karena semua
orang telah berbuat dosa. 13 Sebab sebelum hukum
Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu
tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum
Taurat. 14 Sungguhpun demikian maut telah
berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman
Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa
dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat
oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan
datang.
Dosa telah ada di dunia meskipun tidak
diperhitungkan karena tidak ada hukum
Taurat. Ada dosa, dan karenanya hukum
harus ada sebagai dasar alami penciptaan dan
pengaturan bumi. Dosa telah ada – meskipun
mereka tidak berbuat dosa sama seperti dosa
yang dibuat oleh Adam.
Roma 5:15-17 Tetapi karunia Allah tidaklah sama
dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena
pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di
dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih
karunia
Allah
dan
karuniaNya,
yang
dilimpahkanNya atas semua orang karena satu
orang, yaitu Yesus Kristus. 16 Dan kasih karunia
tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab
penghakiman atas satu pelanggaran itu telah
mengakibatkan
penghukuman,
tetapi
penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran
itu mengakibatkan pembenaran. 17 Sebab, jika oleh
dosa satu orang maut telah berkuasa oleh satu
orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang
telah menerima kelimpahan kasih karuia dan
anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh
Hal. 9
karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Dosa Adam dan dikutuknya bumi ini
dilakukan untuk menunjukkan bahwa
keselamatan bumi juga dapat dicapai oleh
satu orang – Yesus Kristus. Karena tanpa
pengertian akan kegagalan Adam yang
pertama, kita tidak akan dapat mengerti
keselamatan yang dengan sukses dilakukan
oleh Adam ke dua. Keselamatan oleh Kristus
melalui karunia dan anugerah Allah
memampukan kita untuk mencapai suatu
hubungan yang lebih tinggi dengan Bapa
dalam kesempurnaan hukum yang bebas.
Roma 5:18-21 Sebab itu sama seperti satu
pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,
demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran
semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 19
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang
semua orang telah menjadi orang berdosa,
demikian pula oleh ketaatan satu orang semua
orang menjadi orang benar. 20 Tetapi hukum
Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi
semakin banyak; dan di mana dosa bertambah
banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah,
limpah, 21 supaya sama seperti dosa berkuasa
dalam alam maut, demikian kasih karunia akan
berkuaa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal,
oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Oleh sebab itu, melalui ketaatan datanglah
keselamatan dan melalui kasih karunia
anugrah keselamatan diperluas untuk semua
sehingga kita dapat hidup untuk kemuliaan
Allah di dalam ketaatan yang kita temukan
melalui kasih karunia Allah. Kita tahu bahwa
kita dapat taat karena kasih Allah yang
dicurahkan kepada kita di dalam Roh Kudus
(Roma 5:5).
Lalu kasih karunia manakah yang akan tetap
tinggal jika kita terus berbuat dosa? Tidak
ada sama sekali. Kita telah mati terhadap
dosa. Bagaimana kita dapat hidup di
dalamnya? Dan dosa adalah pelanggaran
hukum.
Roma 6:1-4 Jika demikian, apakah yanghendak
kita katakana? Bolehkah kita bertekun dalam dosa,
supaya semakin bertambah kasih karunia itu? 2
Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi
dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup
didalamnya? 3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa
kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah
dibaptis dalam kematianNya? 4 Dengan demikian
kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti
Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati
oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan
Hal. 10
hidup dalam hidup yang baru.
Kita dibaptiskan dalam kematian Kristus.
Oleh sebab itu, manusia lama yang mati
dahulunya mati di hadapan Allah dan
kehidupan kekal dihidupkan oleh kasih Allah.
Kristus dibangkitkan sebagai anak Allah di
dalam kuasa kebangkitanNya dari kematian
(Roma 1:4). Ia dibangkitkan, seperti yang kita
lihat, dari kematian oleh kemuliaan Bapa dan
bukan oleh kekuatanNya sendiri. Demikian
juga, kita dibuat berjalan di dalam kehidupan
yang baru oleh kemuliaan Bapa yang
sekarang tinggal di dalam kita melalui kuasa
Roh Kudus. Kita mati terhadap dosa di dalam
Kristus, supaya tubuh kita tidak lagi
diperbudak di dalam dosa karena tubuh yang
penuh dosa telah dihancurkan; Kristus mati
untuk dosa sekali untuk selamanya. Hidup
yang Ia jalani, Ia jalani untuk Allah.
Demikian juga, kita hidup untuk Allah,
dimatikan di dalam dosa dan hidup untuk
Allah di dalam Kristus Yesus (Roma 6:5-11).
Roma 6:12-14 Sebab itu hendaklah dosa jangan
berkuasa lagi didalam tubuhmu yang fana, supaya
kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 13 Dan
janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota
tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai
senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu
kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu
mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah
anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk
menjadi senjata-senjata kebenaran. 14 Sebab kamu
tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu
tidak berada dibawah hukum Taurat, tetapi
dibawah kasih karunia.
Kasih Allah sekarang berada di dalam kita
melalui kasih karuniaNya dan oleh sebab itu
kita mampu untuk taat sampai mati karena
kita tidak lagi berada di bawah ikatan dosa.
Lalu, apakah kita masih berdosa? Tidak.
Dosa adalah pelanggaran hukum. Dengan
demikian, kita taat kepada Allah sebagai
hamba Allah. Jika kita berdosa, kita adalah
hamba dari dosa dan kedagingan dan
karenanya kita menjadi subyek kematian.
Kita adalah hamba ketaatan yang memimpin
ke dalam kebenaran (Roma 6:15-17). Lalu,
taat terhadap apa?
Roma 6:17-19 Tetapi syukurlah kepada Allah!
Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi
sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati
pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi
hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini
secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab
sama seperti kamu telah menyerahkan anggotaanggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan
kedurhakaan yang membawa kamu kepada
kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus
menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi
hamba kebenaran yang membawa kamu kepada
pengudusan.
Kebenaran adalah keadilan dan keadilan
adalah ketaatan kepada hukum Allah melalui
kuasa Roh Kudus. Kita tidak dapat berbalik
kepada hal-hal yang membuat kita merasa
malu karena akhir dari semua hal tersebut
adalah kematian (Roma 6:20-21).
Kita telah dibebaskan dari dosa dan
menerima anugrah hidup kekal. Anugrah itu
mengalir dari pengetahuan tentang Allah dan
anakNya Yesus Kristus.
Roma 6:22-23 Tetapi sekarang setelahkamu
dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi
hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa
kamu kepada pengudusan sebagai kesudahannya
ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah
maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Kita sekarang telah mati bagi hukum Taurat
supaya kita tidak melayani di bawah tulisan
kode tua namun di bawah roh hukum itu
sendiri (Roma 7:4-6).
Melalui hukum, kita mengerti dosa.
Keserakahan tidak datang dari pengertian
akan hukum. Pengetahuan mengenai apa
yang disebut dengan keserakahan datang dari
pengertian akan hukum. Kuasa untuk tidak
menjadi serakah tidak datang dari hukum,
namun dari anugrah Allah yang telah
memberikan Roh Kudus supaya kasih Allah
tinggal di dalam diri kita. Bagaimana kita
dapat mengasihi sesama kita jika kita serakah
terhadap apa yang ia miliki? Apabila kita
mengingini apa yang dimiliki sesama kita,
kita iri dan berarti kita kita telah membunuh
dan mencuri. Apabila kita meletakkan hal
lain di atas hukum Allah, berarti kita telah
melanggar hukum pertama, dan berarti
keseluruhan hukum juga telah kita langgar.
Tanpa Roh Kudus, dosa yang timbul dari
kejahatan pikiran menemukan kesempatan
dan membunuh seseorang karena tanpa kasih
Allah di dalam Roh Kudus, dosa telah
mengalahkan kapasitas seseorang untuk
Kasih dan Struktur Hukum [200]
mentaati hukum.
Dengan demikian, bukanlah hukum itu yang
menjadi persoalan; yang menjadi persoalan
adalah kelemahan seseorang yang tidak dapat
mengalahkan dosa tanpa kuasa Roh Kudus
yang diberikan oleh kasih Allah melalui
ketaatan anakNya. HukumNya adalah kudus
dan perintah-perintahNya adalah kudus dan
adil dan baik, karena Allah adalah kudus dan
adil dan baik. Roma 7:12. Jadi hukum Taurat
adalah kudus, dan perintah itu juga adalah
kudus, benar dan baik.
Paulus tidak dapat mengalahkan dosa secara
keseluruhan. Hawa nafsu kedagingan
berperang dengan keinginan hati dan kasih
Allah di dalam Roh Kudus.
Roma 7:13-25 Jika demikian, adakah yang baik
itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak!
Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka
dosa
mempergunakan
yang baik untuk
mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh
perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya
sebagai dosa. 14 Sebab kita tahu, bahwa hukum
Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging,
terjual di bawah kuasa dosa. 15 Sebab apa yang aku
perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang
aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang
aku benci, itulah yang aku perbuat. 16 Jadi jika aku
perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku
menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. 17
Kalau demikian bukan aku lagi yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang ada didalam
aku. 18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku yaitu
didalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu
yang baik. Sebab kehendak memang ada didalam
aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 19
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang
baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang yang
tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku
perbuat. 20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku
kehendaki, maka bukan lagi aku yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang diam didalam
aku. 21 Demikianlah aku dapati hukum ini; jika aku
menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu
ada padaku. 22 Sebab di dalam batinku aku suka
akan hukum Allah, 23 tetapi di dalam anggotaanggota tubuhku aku melihat hukum lain yang
berjuang melawan hukum akal budiku dan
membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang
ada didalam anggota-anggota tubuhku. 24 Aku,
manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan
aku dari tubuh maut ini? 25 Syukur kepada Allah!
Yesus Kristus, Tuhan kita. 26 Jadi dengan akal
budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan
tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.
Bukan dengan kekuatan kita sendiri kita
Hal. 11
dapat mengalahkan dosa melainkan dengan
kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.
Tidak ada lagi kutuk bagi mereka yang
tinggal di dalam Kristus. Apakah ini berarti
bahwa mereka tidak lagi berada di bawah
keperluan untuk taat kepada Allah karena Ia
telah memberikan hukum kebebasanNya
kepada Mesias melalui Musa? Tidak.
Hukum-hukum bait Allah dan persembahan
telah diberikan, digenapi sekali untuk
selamanya di dalam Kristus Yesus. Hukumhukum penyembahan kepada Allah tidak
digenapi sama seperti itu. Keseluruhan
masalah datang dari pikiran. Untuk
menetapkan pikiran kita pada kedagingan
adalah kematian namun menetapkan pikiran
kita pada Roh Kudus adalah kehidupan dan
damai (Roma 8:6).
Kita tidak berada didalam kedagingan kita
berada didalam Roh.
Roma 8:9-17 Tetapi kamu tidak hidup dalam
daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh
Allah diam didalam kamu. Tetapi jika orang tidak
memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 10
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka
tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah
kehidupan oleh karena kebenaran. 11 Dan jika Roh
Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara
orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia yang
telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara
orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu
yang fana itu oleh RohNya yang diam di dalam
kamu. 12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang
berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya
hidup menurut daging. 13 Sebab jika kamu hidup
menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh
Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan
tubuhmu, kamu akan hidup. 14 Semua orang yang
dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah. 15
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang
membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu
telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak
Allah. Oleh Roh itu kita berseru; “ya Abba, ya
Bapa!” 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan
roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. 17 Dan
jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli
waris, maksudnya orang-orang yang berhak
menerima
janji-janji
Allah,
yang
akan
menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu
jika kita menderita bersama-sama dengan Dia,
supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama
dengan Dia.
Lalu bagaimana kita hendak mengendalikan
diri kita sendiri? Apakah seperti orang tua
yang mati untuk kemuliaan Allah dan kuasa
kebangkitanNya? Tidak. Kita adalah anak-
Hal. 12
anak Allah dan ahli waris Allah seperti
halnya Kristus sebagai ahli waris. Oleh sebab
itu, tentulah ada sebuah tujuan di dalam
hukum Allah yang diwujudkan dari
karakterNya.
Kita mungkin dapat bersikap seperti sekte
Antonomian yang acuh tak acuh terhadap
hukum dengan memegang apa yang yang
tertulis dalam Kolose 2:14 bahwa dosa kita
telah dipalu di kayu salib. Namun kita tahu
bahwa apa yang dipaku di kayu salib adalah
surat tagihan hutang yang timbul dari
pelanggaran-pelanggaran kita. Dan bukan
hukum-hukum Allah itu sendiri, yang kudus,
benar dan baik.
Kita melihat bahwa hukum-hukum Allah
bersandar pada dua Perintah Utama (makalah
Perintah Utama Yang Pertama [252],
Perintah Utama Yang Kedua [257]). Kedua
perintah ini dibagi menjadi empat dan enam
perintah turunan. Dari keempat dan keenam
perintah, hukum-hukum lain yang mengatur
masyarakat sesuai dengan kehendak Allah,
diatur sesuai dengan kasih Allah yang
diinterpretasikan oleh kuasa Roh Kudus yang
hidup di dalam diri kita. Melalui kuasa Roh
Allah, baik Allah dan Kristus hidup di dalam
kita dan Allah menjadi segala di dalam
segalanya (Efesus 4:6).
Demikianlah filosofi dari hukum Alkitab
mempengaruhi hukum masyarakat. Namun
hanya ada satu struktur dimana hukum Allah
dapat diinterpretasikan dan dapat bekerja.
HukumNya tidak pernah berubah, karena
Allah tidak pernah berubah (Maleakhi 3:6).
Oleh sebab itu, hanya ada satu sistem yang
dapat mengatur masyarakat Allah. Kita
temukan dari struktur ini bahwa hukum lain
datang dari penyilangan bentuk dari matriks
perintah-perintah Allah. Kita lihat bahwa
tiang-tiang hukum menjadi satu tubuh di
dalam hukum-hukum dan peraturan-peraturan
yang membentuk matriks turunan dari kedua
Perintah Utama dan kesepuluh perintah
Allah. Kita temukan bahwa sistem politik
agama terlindungi, dan mengalir dari Perintah
Utama pertama. Dari hukum-hukum Allah
yang berhubungan dengan penyembahan dan
ketaatan padaNya, kita mengatur kalender
kehidupan harian kita dari perintah Allah
Kasih dan Struktur Hukum [200]
yang pertama, ke dua, ke tiga dan ke empat.
Lingkungan kita diatur juga oleh makanan
yang kita makan di bawah hukumNya dan
oleh wewenangNya. Hukum keluarga
mengalir dari perintah Allah yang ke lima, ke
enam, ke tujuh dan ke sepuluh khususnya,
dan diartikan oleh yang lain dalam
hubungannya dengan peraturan-peraturan
turunan lainnya. Kejahatan dan hukuman
(atau hukum kriminal) diatur sesuai dengan
sistem yang telah Ia letakkan. Hukuman yang
kejam dan tidak alamiah dilarang di bawah
hukum-hukum Allah. Hukum keadilan juga
diatur berdasarkan struktur tanah dan sosial.
Perdagangan diatur oleh hukum-hukum yang
berhubungan dengan hutang dan hormat
terhadap seseorang. Agar dapat mengerti
hukum turunan dari hukum dari bagaimana
masyarakat
diatur,
kita
perlu
mengembangkan Filosofi Hukum Alkitab
secara keseluruhan. Hal ini hanya dapat
dilakukan melaui eksposisi yang sangat teliti
mengenai seluruh struktur hukum selama
tahun Sabat mulai dari bulan pertama
(Abib/Nisan) dari tahun kudus yang berawal
pada tahun 1998.
Pembacaan hukum adalah tugas yang paling
penting yang dilakukan oleh para imam pada
tahun sabat pada sistem Yobel. Tahun-tahun
ini muncul setiap tujuh tahun dalam tahun ke
tujuh,
ke
empatbelas,
duapuluh-satu,
duapuluh-delapan dari siklus tahun tersebut
hingga tahun ke empatpuluh-sembilan. Pada
tahun pembebasan yaitu tahun keempatpuluhsembilan, Yobel ditutup dan berakhir hingga
tahun pembebasan yang berikutnya pada
tahun kelimapuluh di saat seluruh
pembaharuan sistem baru dikeluarkan dan
dimulai baru untuk panen pada tahun pertama
dari Yobel baru (makalah Serial Hukum
[252–263]).
Allah telah memberikan kepada kita RohNya
agar kita dapat melihat bagaimana kita kita
dapat membuat suatu sistem yang dapat
bekerja dengan benar, apabila kita memiliki
Roh yang benar dan kasih kepadaNya dan
juga kepada sesama sebagai anak-anak Allah
yang sesungguhnya. Kita memiliki kontrol
atas bumi ini di dalam sistem milenial agar
kita dapat menunjukkan kepada iblis cara
yang benar untuk mengontrol sesuai dengan
kehendak Allah Bapa kita (Wahyu 20:4-6).
Kasih dan Struktur Hukum [200]
Wahyu 20:4-6 Lalu aku melihat takhta-takhta dan
orang-orang yang duduk diatasnya; kepada mereka
diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga
melihat jiwa-jiwa mereka yang telah dipenggal
kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan
karena firman Allah; yang tidak menyembah
binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga
menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka;
dan mereka hidup kembali dan memerintah
sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk
masa seribu tahun. 5 Tetapi orang-orang mati yang
lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang
seribu tahun itu. Inilah kebangkitan yang pertama.
6
Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat
bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian
yang ke dua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi
mereka akan menjadi imam-imam Allah dan
Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja
bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.
Kita akan memerintah bersama Kristus
selama ribuan tahun dan menjalankan
pemerintahan atas bumi ini sesuai dengan
aturan hukum yang diberikan Kristus kepada
Musa di gunung Sinai. Allah tidak
memberikan kepada Musa setumpuk kartu
ketika Ia mengeluarkan hukumNya. Tidak
ada satu iota atau titikpun, atau dengan kata
lain tidak ada bagian terkecilpun dari hukum
yang akan hilang sampai semuanya terjadi
(Matius 5:18; Lukas 16:17). Kita akan
membuat bumi ini berfungsi sesuai dengan
hukum Allah selama periode 1000 tahun
dengan menggunakan Roh Allah yang akan
tersedia bagi semua orang di bawah
pengawasan Kristus dan Gereja. Semua akan
terjadi di saat Allah memerintah dari bumi di
dalam Kota Allah, di dalam diri kita semua,
sebagai Allah (lihat makalah Kota Allah
[180]).
Hal. 13
Download

Kasih dan Struktur Hukum [200] - Jemaat