PERILAKU ORGANISASI - Repodig Untan

advertisement
TEORI PERILAKU
ORGANISASI PUBLIK
Dr. H. Ngusmanto, M.Si
Mitra
Wacana
Media
P E N E R B I T
TEORI PERILAKU ORGANISASI PUBLIK
Dr. H. Ngusmanto, M.Si
Editor: Bima Sujendra, S.IP., M.Si
Mitra
Wacana
Media
P E N E R B I T
Edisi Asli
Hak Cipta © 2017, Mitra Wacana Media
Telp.
: (021) 824-31931
Faks.
: (021) 824-31931
Website : http//www.mitrawacanamedia.com
E-mail : [email protected]
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk
memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa
izin tertulis dari Penerbit.
UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA
1.
2.
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan
atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/
atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerekan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Ngusmanto
Teori Perilaku Organisasi Publik/Ngusmanto
—Jakarta: Mitra Wacana Media, 2017
1 jil., 17 x 24 cm, 154 hal.
ISBN: 978-602-318-237-4
1. Organisasi
I. Judul
2. Teori Perilaku Organisasi Publik
II. Dr. H. Ngusmanto, M.Si
Kata Pengantar
A
lhamdullilah Wasyukurilah segala puji serta memohon ridha ke hadirat Allah
SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan karya ilmiah dalam bentuk buku yang berjudul: Teori Perilaku
Organisasi Publik. Isi buku ini penting untuk dipelajari karena banyak argumentasi
yang membenarkan pernyataan ini. Salah satu hal penting yang diungkapkan dalam
buku ini berhubungan dengan pentingnya pedekatan perilaku organisasi. Pendekatan
perilaku menjelaskan bahwa manusia dalam organisasi merupakan unsur yang sangat
penting dan komplek, sehingga pendekatan ini berusaha menjelaskan, menganalisis
dan memprediksi tindakan-tindakan, aktivitas-aktivitas dan sikap-sikap manusia di
dalam organisasi untuk dikelola, ditata, diarahkan, dikontrol, dimotivasi dan dipenuhi
kebutuhannya dalam rangka mengoptimalkan peran manusia dalam organisasi,
sekaligus sebagai upaya untuk mempercepat pencapaian tujuan organisasi seoptimal
mungkin.
Di sisi lain, pembaca buku juga akan mengetahui bahwa organisasi publik
mempunyai 2 (dua) ciri utama yaitu organisasi yang memberikan pelayanan atau
melayani publik sebagai tugas utamanya dan pelayanan publik yang diberikan tidak
bermotifkan mencari keuntungan (profit), sebagai tujuan akhir. Untuk itu, ruang
lingkup perilaku organisasi (organization behavior) mendasarkan kajiannya pada
perilaku manusia sebagai individu, dengan pusat perhatian pada tingkah laku,
tindakan, perbuatan, sikap dan aktivitas manusia dalam organisasi publik. Boleh juga
ruang lingkup perilaku organisasi mencakup 2 (dua) komponen atau kajian yaitu:
(1) Komponen individu-individu yang berperilaku, baik itu perilaku secara individu,
perilaku kelompok, dan perilaku organisasi; dan (2) Komponen organisasi formal
iii
Teori Perilaku Organisasi Publik
sebagai wadah dari perilaku individu-individu terebut. Oleh karena itu, Perilaku
Organisasi Publik dapat memainkan peranan penting dan sangat menentukan terhadap
perkembangan organisasi dan keberhasilan kerjanya di masa kini dan mendatang,
dalam rangka untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi, setiap
organisasi dalam perjalanan kiprahnya dituntut untuk melakukan perubahan dan
mengantisipasi perubahan global yang terjadi, sebagai upaya menyesuaikan diri
dengan lingkungannya yang terus berubah, semakin komplek dan canggih.
Penulis dalam hal ini juga menyadari sepenuhnya bahwa isi buku ini pasti belum
sempurna, sehingga pembaca yang kritis akan mengetahui banyak kelemahan dan
kekurangannya, sebagai akibat keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis.
Untuk itu, penulis dengan segala kerendahan hati sangat berharap adanya kritik,
saran dan masukan dalam perbaikan isi buku, sehingga isi buku ini dapat memenuhi
kelayakan akademik. Sungguhpun begitu, penulis tetap berharap bahwa isi buku ini
dapat menjadi bahan bacaan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Teori Perilaku
Organisasi dan Perilaku Organisasi Publik serta sumber daya aparatur (birokrasi),
sekaligus melengkapi buku-buku Perilaku Organisasi yang telah terbit lebih dahulu.
Selain itu, proses penulisan dan penyusunan buku ini berlangsung kurang lebih
selama 2 (dua) tahun satu bulan, sebagai konsekuensi kesibukan kerja penulis. Dalam
proses penulisan buku, banyak pihak yang membantu dan terus memotivasi penulis.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menghaturkan banyak terima kasih serta
penghargaan kepada unsur pimpinan Untan dan Fisip, dosen dan mahasiswa Fisip
Untan. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat bagi mahasiswa, pejabat birokrasi dan
masyarakat secara umum. Aamiiin.
Pontianak, Januari 2017
Penulis,
Dr. H. Ngusmanto, M.Si
iv
Daftar Isi
KATA PENGANTAR .............................................................................................................
DAFTAR ISI . .................................................................................................................
iii
v
BAB 1.
PENDAHULUAN ................................................................................................
1.1. Gambaran Umum ...................................................................................
1.2. Metodologi...............................................................................................
1
2
4
BAB 2.
PEMAHAMAN TENTANG TEORI DAN PERILAKU ORGANISASI PUBLIK ....................
2.1
Teori ..........................................................................................................
2.2
Perilaku ....................................................................................................
2.3
Organisasi ................................................................................................
2.4. Perilaku Organisasi Publik ....................................................................
11
11
17
20
28
BAB 3.
RUANG LINGKUP PERILAKU ORGANISASI PUBLIK ...............................................
3.1. Keterkaitan Dengan Disiplin Lain ........................................................
3.2. Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik ........................................
3.3. Gambaran Ringkas Aspek Kajian ........................................................
35
36
39
41
BAB 4.
TERBENTUKNYA PERILAKU ORGANISASI PUBLIK ................................................
4.1
Ahli Perilaku Organisasi ........................................................................
4.2
Terbentuknya Perilaku Organisasi .......................................................
47
48
53
v
Teori Perilaku Organisasi Publik
BAB 5.
TEORI PERILAKU ORGANISASI DAN BIROKRASI ..................................................
5.1
Teori Perilaku Organisasi......................................................................
5.2
Teori Perilaku Birokrasi .......................................................................
61
61
67
BAB 6.
KONFLIK DALAM ORGANISASI PUBLIK ...............................................................
6.1. Konsep Konflik........................................................................................
6.2. Konflik Dalam Organisasi .....................................................................
6.3. Teori Konflik............................................................................................
6.4. Resolusi Konflik ......................................................................................
77
77
82
85
90
BAB 7.
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI PUBLIK ........................................................ 95
7.1. Pengertian komunikasi Dalam Organisasi .......................................... 95
7.2. Proses Komunikasi ................................................................................. 97
7.3. Komunikasi dalam Organisasi ............................................................. 98
7.4. Arti Penting Komunikasi Dalam Organisasi ...................................... 103
BAB 8.
MOTIVASI DALAM ORGANISASI PUBLIK .............................................................. 107
BAB 9.
BUDAYA ORGANISASI PUBLIK ................................................................................. 113
9.1. Konsep Dan Terbentuknya Budaya Organisasi ................................. 114
9.2. Peran Budaya Organisasi ....................................................................... 122
BAB 10 PENUTUP .............................................................................................................. 131
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 135
DAFTAR ISTILAH ............................................................................................................... 141
INDEK
................................................................................................................. 143
vi
BAB 1
Pendahuluan
B
ab pendahuluan dalam banyak karya ilmiah sepertinya merupakan Bab wajib
atau pembuka yang suka atau tidak suka serta mau tidak mau selalu ada.
Persoalan dan isi perdebatannya bukan membicarakan ada pendahuluan atau
tidak, melainkan berdebat seputar apa isi Bab pendahuluan yang sebenarnya? Jawaban
atas pertanyaan ini cukup beragam. Ada yang mengisi sebagai bab pengantar atau
pemanasan dalam setiap memulai menulis buku atau karya ilmiah lainnya, ada yang
mengisi sebagai bab gambaran umum tentang isi suatu buku, Bab ringkasan isi buku
dan entah apalagi. Intinya bahwa isi Bab pendahuluan tidak sama atau sangat beragam
pada masing-masing penulis karya ilmiah. Dalam Bab pendahuluan ini, penulis
terinsfirasi dari buku Riggs (1994) yang berjudul Administrasi Pembangunan, Sistem
Administrasi dan Birokrasi. Bab pendahuluan dari buku tersebut menurut pemahaman
penulis berisi tentang garis besar isi buku pada masing-masing bab. Untuk itu, bab
pendahuluan buku ini juga berisi gambaran umum dari masing-masing bab dan
ditambah metodologi.
Jadi, ada 2 (dua) hal penting yang menjadi isi dari Bab pendahuluan buku yang
diberi judul Teori Perilaku Organisasi Publik yaitu: (1) Gambaran umum dan (2)
Metodologi. Gambaran umum berisi tentang isi buku secara garis besar yang disajikan
mulai dari Bab 1 tentang pendahuluan sampai dengan Bab 10 tentang penutup,
sedangkan metodologi berisi tentang pendekatan yang dipergunakan penulis buku
dalam rangka memahami isi buku yang diberi judul atau tema teori perilaku organisasi
publik. Penjelasan kedua hal ini diuraikan seperti penjelasan berikut.
1
Teori Perilaku Organisasi Publik
1.1.
GAMBARAN UMUM
Ngusmanto (2015) menegaskan bahwa kerangka pikir dan isi suatu karya ilmiah akan
dapat dipahami oleh pengguna karya atau buku secara lebih baik apabila mereka
berusaha membaca semua bab yang dipersiapkan oleh penulis. Realitas menunjukkan
bahwa tuntutan demikian menjadi persoalan tersendiri bagi mereka yang memiliki
waktu sempit atau sibuk. Untuk mengatasi persoalan tersebut ada 2 (dua) pilihan.
Pertama membaca daftar isi buku dan hanya memilih dan membaca pada Bab yang
diperlukan saja. Kedua membaca Bab pendahuluan yang umumnya telah memberikan
ringkasan isi buku secara garis besar. Dalam bab pendahuluan yang dituangkan dalam
Bab I pada buku ini, si pengguna atau pembaca akan mengetahui tema-tema sentral apa
saja yang akan dibahas, sehingga pembaca buku akan mendapat gambaran awal atau
garis besar tentang isi buku serta metodologi yang dipergunakan oleh penulis buku.
Penegasan ini perlu mendapat perhatian karena banyak pembaca buku yang seringkali
melewatkan untuk membaca isi bab pendahuan dan banyak yang berpendapat bahwa
bab pendahuluan tidak penting. Pada hal isi bab pendahuluan sesungguhnya sangat
penting dan dapat membantu si pembaca buku.
Tentang pilihan sub-sub pembahasan atau tema pokok dalam buku Teori
Perilaku Organisasi Publik oleh penulis banyak terkait dengan kebutuhan mahasiswa
yang menekuni kajian ilmu sosial, khususnya matakuliah Teori Perilaku Organisasi
Publik. Pilihan tema dan sub tema dalam buku ini harus dilakukan karena untuk
menggambarkan perilaku organisasi publik dalam satu buku yang konprehensif tidak
mudah. Salah satu penyebabnya karena banyak tema yang saling terkait dan sudah
pasti bukunya (isi buku) akan menjadi begitu tebal. Untuk itu, tidak semua tema yang
dikaji dalam buku Teori Perilaku Organisasi Publik ditulis dalam buku ini. Tema-tema
yang dipilih, dapat penulis jelaskan seperti uraian berikut.
Bab 1 sebagai bab pendahuluan berisi 2 (dua) hal penting yaitu gambaran umum
dan metodologi. Gambaran umum memberikan informasi tentang tema pokok masingmasing bab mulai dari Bab 1 sampai dengan Bab 10, sedangkan metodologi berisi
tentang hampiran atau pendekatan yang dijadikan dasar pijakan untuk memahami isi
penting tentang perilaku organisasi dan beberapa sub bab yang dijadikan tema. Bab
2 diberi tema Pemahaman Tentang Teori dan Perilaku Organisasi Publik. Isi subbab
dari Bab 2 membahas dan menganalisis 4 (empat) hal penting yang akan dibicarakan
yaitu: (1) Teori; (2) Perilaku, (3) Organisasi, dan (4) Perilaku Organisasi Publik.
Keempat konsep ini penting untuk dipahami terlebih dahulu, agar sidang pembaca
memiliki pegangan yang jelas tentang konsep atau pengertian keempatnya, sekaligus
untuk membantu pemahaman yang lebih baik terhadap tema besar buku tentang
Teori Perilaku Organisasi Publik. Apabila si pembaca buku mempelajari Bab 2 akan
diperoleh banyak informasi seputar pengetian atau definsi masing-masing konsep.
2
Bab 1 – Pendahuluan
Bab 3 memilih tema ruang lingkup perilaku organisasi publik. Sub-sub tema yang
dibicarakan dalam Bab 3 berkaitan dengan: (1) Keterkaitan atau hubungan disiplin
teori perilaku organisasi publik dengan disiplin lain; (2) Ruang lingkup teori perilaku
organisasi publik dan (3) Gambaran ringkas beberapa aspek yang dikaji dalam ruang
lingkup. Tema-tema penting yang dipilih secara subjektif oleh penulis buku adalah
komunikasi dalam organisasi dan organisasi publik, etika perilaku organisasi publik
atau birokrasi, motivasi dalam perilaku organisasi, konflik dalam perilaku organisasi
dan budaya organisasi. Untuk pembicaraan organisasi publik lebih menekankan pada 2
(dua) ciri utamanya yaitu organisasi yang memberikan pelayanan atau melayani publik
dan pelayanan publik yang diberikan tidak bermotifkan mencari keuntungan (profit),
sebagai tujuan akhir. Oleh karena itu, organisasi publik yang banyak dibicara adalah:
(1) Organisasi negara atau pemerintah pusat atau birokrasi negara atau pemerintah
sampai dengan organisasi pemerintah daerah; (2) Yayasan; (3) Organisasi pendidikan
seperti sekolah-sekolah dan (4) Kesehatan seperti (Palang Merah Indoneisa (PMI),
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), dan rumah sakit; serta (5) Organisasi tempat
peribadatan seperti Masjid, Gereja, Vihara, Kuil, Kleteng, Pura dan lainnya. Ada pula
kajian organisasi publik yang diperluas atau ditambah dengan: (1) Badan usaha milik
negara atau daerah (BUMN/BUMD) seperti Pegadaian, DAMRI, Garuda Indonesia,
BNI, Pertamina dan masih banyak lainnya, (2) organisasi partai politik (Parpol), serta (3)
lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang beraneka ragam. Apabila 3 (tiga) organisasi
terakhir masuk kategori organisasi publik maka ciri utama organisasi publik berfolus
pada pemberian pelayanan kepada publik, sedangkan ciri yang berhubungan tidak
bermotifkan mencari keuntungan akan gugur dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan
atau menggambarkan kepada kita semua bahwa ruang lingkup organisasi publik sangat
luas. Sungguhkan begitu, organisasi publik yang banyak dibicarakan dalam buku ini
lebih difokuskan pada organisasi publik/negara/pemerintah daerah/birokrasi.
Pemahaman penting berikutnya yang disajikan pada Bab 4 memilih tema
Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik. Dalam Bab ini akan dikaji dan dianalisis
tentang tokoh-tokoh yang membidani lahirnya perilaku dan perilaku organisasi
serta inti pemikirannya, sekaligus digambarkan bagaimana terbentuknya perilaku
organisasi publik/birokrasi. Bab 5 memilih tema Teori Perilaku Organisasi Publik. Hal
mendasar yang dibahas adalah teori perilaku organisasi dan perilaku birokrasi atau
organisasi publik, bagaimana inti pemikirannya dan contoh aplikasi teori dimaksud.
Bab 6 mengambil tema Konflik Dalam Organisasi. Untuk Bab konflik dalam organisasi
akan dikaji dan dianalisis apa itu konflik, mengapa kebanyakan orang Indonesia tidak
siap menerima kehadiran konflik secara wajar, dijelaskan juga mana konflik fungsional
dan mana konflik disfungsional, teori konflik dan resolusinya.
Bab 7 memilih tema Komunikasi Dalam Organisasi. Dalam tema ini akan diulas
dan dianalisis tentang konsep komunikasi, perbedaan komunikasi dalam arti umum
3
Teori Perilaku Organisasi Publik
dengan komunikasi dalam organisasi, proses komunikasi, ruang lingkup komunikasi
dalam organisasi dan komunikasi yang efektif. Bab 8 dipilih dan ditetapkan tema
Motivasi Dalam Organisasi. Beberapa hal penting yang akan dikaji dan dianalis adalah
konsep motivasi, dan pentingnya motivasi serta hubungan perilaku dengan motivasi.
Bab 9 berisi tentang Budaya Organisasi. Dalam bab ini akan mengulas tentang konsep
budaya organisasi, terbentuknya budaya organisasi, arti penting budaya organisasi
bagi perkembangan dan kemajuan organisasi. Bab 10 merupakan bab penutup yang
akan menjelaskan tentang Masa Depan Perilaku Organisasi Publik, dikaitkan dengan
kemajuan global.
1.2.
METODOLOGI
Untuk memahami isi buku yang diberi judul Teori Perilaku Organisasi Publik ini,
selain seperti yang telah dijelaskan maka langkah berikutnya perlu mengetahui tentang
pendekatan-pendekatan yang digunakan oleh penulis buku. Dengan pernyataan
lain, pendekatan yang dipergunakan dapat membantu pembaca buku tentang logika
berpikir, cara atau sudut pandang atau metodologi atau kerangka berpikir si penulis
buku dalam menganalisis dan menjelaskan suatu tema atau sub tema, sehingga si
pembaca akan memahami apa yang harusnya dipahami. Untuk itu, kita bisa bertanya,
di mana nilai penting dari suatu pendekatan dalam penulisan buku? Ngusmanto (2015)
menegaskan bahwa nilai penting suatu pendekatan yang dipergunakan dalam penulisan
buku adalah setiap pendekatan yang dipergunakan dapat membantu pembaca, untuk
menjawab pertanyaan mengapa isi buku Teori Perilaku Organisasi Publik, dengan
tema-tema yang sama dengan buku lain, tetapi uraian yang dikaji tidak sama antara
satu penulis dengan penulis buku lainnya. Isi buku satu dengan buku lain dengan topik
sama, tetapi isinya berbeda karena penulis buku tersebut memiliki pendekatan yang
berbeda. Pemahaman inilah yang dapat membantu pembaca buku atau karya ilmiah,
sekaligus menyadarkan tentang pentingnya metodologi dalam menulis suatu karya
ilmiah, sebagai suatu pembelajaran.
Pendekatan atau hampiran utama yang dipergunakan dalam buku teori perilaku
organisasi publik sudah pasti adalah pendekatan perilaku. Pendekatan perilaku
menjelaskan bahwa manusia dalam organisasi merupakan unsur yang sangat
penting dan komplek, sehingga pendekatan ini berusaha menjelaskan, menganalisis
dan memprediksi tindakan-tindakan, aktivitas-aktivitas dan sikap-sikap manusia
di dalam organisasi untuk dikelola, ditata, diarahkan, dikontrol, dimotivasi dan
dipenuhi kebutuhannya dalam rangka atau upaya untuk mempercepat tercapai tujuan
organisasi seoptimal mungkin. Sebelum pendekatan perilaku manjadi kajian dalam
perilaku organisasi, manajer atau birokrat dalam waktu yang relatif lama memahami
dimensi manusia dalam organisasi melalui asumsi-asumsi ekonomi, suasana kerja
4
Bab 1 – Pendahuluan
dan keamanan, yang kemudian dikenal sebagai pendekatan tradisional, sehingga
pendekatan-pendekatan hubungan kerja kemanusiaan (human relations) dan psikologi
industri menjadi pendekatan utama di masa itu, sebagai upaya memahami dimensi
manusia dalam organisasi.
Raymond Miles dalam Thoha (2007) menegaskan bahwa pendekatan hubungan
kemanusiaan secara sederhana menempatkan karyawan sebagai manusia dan
tidak sama dengan mesin (yang tidak mengenal capek) yang dipergunakan dalam
berproduksi, perlu dipahami kebutuhan-kebutuhannya dan mereka harus merasa
diperhatikan dengan cara didengarkan dan diperhatikan keluhan-keluhannya dan
melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kondisi
pekerjaannya atau masalah-masalah lainnya. Hal demikian diharapkan dapat
meningkatkan semangat kerja karyawan, termasuk dalam bekerja sama mencapai
produksi yang lebih baik. Siagian (1997:39) juga menegaskan bahwa pelopor utama
gerakan ini adalah Elton Mayo, seorang ahli psikologi dari Harvard University. Ia
membuktikan hipotesis bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi
sikap, perilaku dan produktivitas karyawan. Temuannya menunjukkan bahwa sikap
dan perilaku positif serta produktivitas para karyawan tidak terlalu dipengaruhi oleh
fasilitas dan kondisi kerja, melainkan lebih dipengaruhi oleh perhatian yang diberikan
oleh manajemen pada mereka. Temuan kedua ditegaskan bahwa perilaku seorang
pekerja sangat ditentukan oleh dan terikat pada norma-norma kelompok kerja dimana
seseorang menjadi anggotanya.
Selanjutnya Thoha (2001: 41-46) menegaskan bahwa hampiran (approach)
untuk memahami perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu: (1)
Kognitif; (2) Penguatan (reinforcement) dan (3) Psikoanalitis. Pendekatan kognitif
sama dengan formula P=F (I.L) (P=Perilaku; F= Fungsi; I=Individu dan L=lingkungan)
yang bermakna bahwa perilaku adalah fungsi dari interaksi antara seseorang individu
dengan lingkungannya. Jadi, manusia dapat mempengaruhi lingkungan dan lingkungan
dapat mempengaruhi manusia. Pendekatan atau hampiran kognitif memfokuskan ide
pada kegiatan mental yang sadar seperti berpikir, mengetahui, memahami, menilai,
bersikap, kepercayaan dan pengharapan. Pendekatan kognitif percaya bahwa perilaku
seseorang timbul karena disebabkan oleh adanya rangangan (stimulus). Jadi perilaku
yang timbul merupakan respon atau jawaban atas rangsangan.
Pedekatan penguatan seperti yang dijelaskan oleh Thoha (2001) merupakan
gagasan Pavkov dan Thorndike. Pendekatan ini sebagai pendekatan lanjutan dari
kognitif. Inti pemikirannya adalah stimulus yang diberikan untuk mengubah perilaku
seseorang. Contoh stimulus antara lain dapat berbentuk uang, pangkat, jabatan
dan bahkan wanita. Stimulus dalam hal ini berfungsi sebagai penguat. Pejabat yang
berkunjung ke suatu daerah akan diberikan service (uang, penginapan, pelayanan
yang baik akan jadi penguat) dan apabila service direspon positif maka praktek service
5
Teori Perilaku Organisasi Publik
demikian akan diulang-ulang kembali dan bahkan bisa menjadi kebiasaan. Hampiran
psikoanalitis memiliki gagasan bahwa perilaku manusia dikuasai oleh personalitasnya
atau kepribadiannya. Freud dalam Thoha (2001: 59-61) menegaskan bahwa konsep
psikoanalitisnya merangkum 3 (tiga) hal yaitu Id, Ego dan Superego.
Id merupakan subsistem dari kepribadian. Id adalah penampungan dan sumber
dari semua kekuatan jiwa yang menyebabkan berfungsinya suatu sistem. Dalam praktek,
Id dipandang sebagai kawah mendidih yang bersisi pengharapan-pengharapan dan
keinginan-keinginan yang memerlukan pemuasan secepatnya, sehingga manusia akan
mendapatkan penghargaan, pemuasan dan kesenangan. Dalam pemenuhan pemuasan,
perilaku manusia tidak terbelenggu atau faktor pembatas seperti etik, moral, alasan atau
logika, sekaligus sebagai sumber ketidaksadaran manusia. Ego sendiri menunjukkan
sebaliknya atau sumber rasa sadar manusia. Ego berfungsi ganda yakni melayani dan
sekaligus mengendalikan Id dan Superego, sehingga menjadikan manusia belajar
dan bertindak sesuai dengan lingkungannya. Superego sendiri merupakan kekuatan
moral dari personalitas. Superego menetapkan suatu norma yang memungkinkan
ego memutuskan apakah sesuatu benar atau salah, sekaligus dapat bertindak sebagai
mediator terhadap hukuman dari penyimpangan-penyimpangan norma. Orang
tua, guru dan tokoh-tokoh masyarakat menjadi salah satu faktor penting di dalam
pengembangan superego dari anak dan atau manusia.
Pemahaman penting berikutnya agar penelaahan atau kajian perilaku organisasi
semakin dimengerti dan dipahami lebih baik maka pendekatan perilaku organisasi
berikutnya menurut Otomo (1998: 4-5) ditambah beberapa pendekatan lagi yaitu:
(1) pendekatan sumber daya manusia (supportif); (2) pendekatan kontingensi;
(3) pendekatan produktivitas dan (4) pendekatan sistem. Pendekatan sumber daya
manusia dapat membantu manusia (birokrat) agar berprestasi lebih baik, menjadi
orang yang lebih bertanggung jawab, dan kemudian berusaha menciptakan suasana di
mana mereka dapat menyumbang sampai pada batas kemampuan yang mereka miliki,
sehingga mengarah kepada peningkatan keefektifan pelaksanaan tugas. Pendekatan ini
seringkali disamakan dengan pendekatan suportif yang bermakna bahwa orang yang
lebih baik akan mencapai hasil yang lebih baik pula.
Sementara itu, pendekatan kontingensi mengandung pengertian bahwa adanya
lingkungan yang berbeda menghendaki praktek perilaku yang berbeda pula untuk
mencapai keefektifan. Jadi, lingkungan mempunyai pengaruh yang besar. Pendekatan
produktivitas dimaksudkan sebagai ukuran seberapa efisien suatu organisasi dapat
menghasilkan keluaran yang diinginkan. Jadi, produktivitas yang lebih baik merupakan
ukuran seberapa baik penggunaan sumber daya organisasi. Dalam hal ini, kita perlu
memahami bahwa konsep produktivitas tidak hanya diukur dalam kaitannya dengan
masukan dan keluaran ekonomis, tetapi masukan manusia dan sosial juga merupakan
hal yang penting. Dengan demikian, apabila perilaku organisasi yang lebih baik dapat
6
Bab 1 – Pendahuluan
mempertinggi kepuasan kerja, maka hal ini akan dihasilkan keluaran manusia yang baik
pula. Akhirnya, perilaku tersebut akan menghasilkan produktivitas yang diinginkan.
Pendekatan sistem diterapkan dalam sistem sosial, di mana di dalamnya terdapat
seperangkat hubungan manusia yang rumit yang berinteraksi dalam banyak cara. Hal
ini berarti bahwa manajer yang akan mengambil keputusan harus mengkaji banyak hal
atau pertimbangan dalam rangka menentukan dampaknya terhadap sistem yang lebih
besar, sehingga ia memerlukan analisis biaya dan manfaat (cost-benefit analysis).
Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan sejarah. Pendekatan sejarah
dipergunakan untuk menjelaskan perkembangan pemikiran perilaku organisasi, yang
berkaitan dengan tokoh-tokoh atau ahli-ahli yang menekuni dan atau membidani
lahirnya penggunaan pendekatan perilaku organisasi, sedangkan pendekatan ekologi
dipergunakan untuk menjelaskan bahwa organisasi publik itu harus tetap eksis,
jadi dewasa, maju dan terus berkembang. Oleh karena itu, manusia (semua anggota
organisasi) wajib dan harus selalu berinteraksi dengan lingkungannya (lingkungan
fisik, abiotik, lingkungan sosial, ekonomi dan budaya). Dengan pernyataan lain, sukses
atau tidaknya organisasi publik, hidup atau matinya organisasi dalam mencapai tujuan
organisasi publik sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor ekologi (lingkungan)
mulai dari aspek atau variabel politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan
keamanan yang membentuk perilaku manusia dalam organisasi publik.
Hampiran terakhir adalah budaya. Siklus kehidupan organisasi yang demikian
dapat terjadi pada organisasi apapun, termasuk organisasi publik. Salah satu faktor
penentu di antara faktor-faktor yang ada adalah budaya organisasi. Budaya organisasi
dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku anggota organisasi publik. Anggota
organisasi itu sendiri akan dipengaruhi oleh budaya setempat atau budaya organisasi
di mana manusia (anggota) bekerja. Budaya di luar organisasi dan budaya anggota
organisasi yang dibawa ke dalam organisasi juga dapat mempengaruhi budaya
organisasi.
Berdasarkan beberapa pendekatan atau hampiran seperti telah dijelaskan maka
manfaat utama dari penggunaan pendekatan tersebut dapat menjelaskan tindakantindakan, aktivitas-aktivitas, sikap-sikap dan gerak-gerik manusia di dalam organisasi.
Mengapa demikian? Jawabannya adalah pendekatan perilaku selalu berusaha
menjelaskan, memprediksi, mengarahkan, mengendalikan dan mengelola tingkah
laku manusia sebagai upaya untuk mewujudkan perilaku yang baik secara individu,
dalam kelompok dan perilaku dalam organisasi sebagai upaya mewujudkan tujuan
organisasi secara optimal. Kajian tentang perilaku manusia sengaja dipelajari karena
mempunyai maksud dan tujuan untuk mengenali atau menjelaskan tingkah laku
7
Teori Perilaku Organisasi Publik
manusia dan sebagai puncaknya, manajemen dapat memanej perilaku manusia pada
umumnya serta perilaku manusia dalam organisasi dan organisasi publik. Perilaku
organisasi merupakan ilmu yang interdisipliner, yang dapat menarik sumber-sumber
dari ilmu-ilmu yang lain. Jadi, perilaku organisasi menjadi lebih berorientasi pada
pelaksanaan kerja. Tujuan yang sangat penting dalam mempelajari perilaku organisasi
adalah mengendalikan perilaku-perilaku dalam organisasi. Jika pimpinan organisasi
dapat memahami dan menjelaskan perilaku-perilaku yang terjadi dalam organisasi,
maka ia akan dapat menciptakan situasi yang menghasilkan perilaku-perilaku yang
diinginkan dan mengurangi perilaku-perilaku yang tidak diinginkan. Kemampuan
manusia untuk mengendalikan moralitas dan perilaku dari anggota organisasi menjadi
isu yang sangat penting pada masa sekarang dan mendatang.
Selain itu, penulisan buku yang berjudul Teori Perilaku Organisasi Publik
diinspirasi oleh pengalaman penulis yang mengajar mata kuliah Teori Perilaku
Organisasi Publik sejak tahun 2000 di S1 dan S2 Program Studi Administrasi
Publik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak
Kalimantan Barat (Kalbar) serta Institut Pemerintahan Dalam Negeri Kelas Kalbar
dan universitas Terbuka di Kalbar. Dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh
penulis seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa seperti bagaimana
membedakan antara organisasi dengan organisasi publik, untuk apa atau apa nilai
penting mempelajari perilaku organisasi publik, apa yang salah dengan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik yang banyak prof (guru besar) dan Doktor di bidang administrasi
publik, tetapi beberapa perilaku manusia dalam organisasi publik tidak mendukung
pencapaian tujuan organisasi secara optimal dibandingkan fakultas lainnya, mengapa
organisasi publik belum dapat memberikan pelayanan yang optimal dan atau belum
dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat yang optimal, malahan jadi penghambat
pembangunan, mengapa persaingan dalam banyak hal di organisasi publik semakin
tidak sehat dan tidak rasional di negara kita. Mengapa konflik, komunikasi dan budaya
organisasi menjadi bagian ruang lingkup organisasi publik.
Beberapa pertanyaan yang muncul menimbulkan tantangan tersediri, dan
sekaligus mendorong penulis untuk menulis buku ini. Di sisi lain, penulisan buku ini
juga diinspirasi dari beberapa penulis buku tentang perilaku organisasi yang berasal
dari dalam dan luar negeri, yang sekaligus menjadi sumber literatur yang diacu oleh
penulis. Hal penting berikutnya, ada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh
penulis buku, sehingga isi buku ini sebagian mengambil atau bersumber dari hasil
penelitian, khususnya penelitian tentang perilaku birokrasi. Tidak ketinggalan pula
bahwa isi buku ini sebagian bersumber dari diskusi dengan beberapa staf pengajar yang
mengampu matakuliah Teori Perilaku Organisasi Publik, terutama dalam pembicaraan
pokok-pokok bahasan. Oleh karena itu, secara metodologi atau kerangka pemikiran
penulisan buku dapat dilihat dari pendekatan yang dipergunakan, pengalaman
8
Bab 1 – Pendahuluan
mangajar dan berinteraksi dengan mahasiswa strata 1 dan 2, studi literatur dan temuan
penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis serta hasil diskusi dengan beberapa staf
pengajar matakuliah Teori Perilaku Organisasi Publik.
9
Teori Perilaku Organisasi Publik
10
BAB 2
Pemahaman Tentang Teori
Dan Perilaku Organisasi Publik
A
da 4 (empat) hal penting yang akan dibicarakan dalam Bab 2 ini dan sekaligus
menjadi sub tema Bab. Keempat hal atau sub tema penting Bab ini yaitu:
(1) Teori; (2) Perilaku, (3) Organisasi, dan (4) Perilaku Organisasi Publik.
Keempat konsep ini penting untuk dipahami terlebih dahulu, agar sidang pembaca
memiliki pegangan yang jelas tentang konsep atau pengertian keempatnya, sekaligus
untuk membantu pemahaman yang lebih baik terhadap tema besar buku yaitu Teori
Perilaku Organisasi Publik. Penjelasan secara rinci keempat konsep dimaksud seperti
uraian berikut.
2.1
TEORI
Pengalaman penulis dalam berinteraksi dengan banyak kalangan yang terkait dengan
pembicaraan teori menemukan realita atau fakta bahwa: (1) Ada keengganan banyak
orang untuk membicarakan apa itu teori; (2) Sebagian orang tidak paham apa itu
teori; dan (3) Mereka tidak mau belajar untuk mengetahui berbagai teori-teori yang
ditemukan oleh para ahli (pakar). Realita demikian, khususnya Ilmu Sosial terjadi
karena untuk memahami teori itu sendiri tidak mudah, memerlukan waktu dan
konsentrasi khusus. Di sisi lain, ada kesenjangan antara teori dengan dunia empiris
(kesajangan antara harapan dengan kenyataan atau antara yang tertulis dengan
prakteknya) atau ada kesenjangan antara Das Sollen (harusnya atau teorinya, kaidah
atau normanya), sedangkan Das Sein (prakteknya, kenyataan atau implementasinya).
Beberapa hal ini menjadi salah satu pertimbangan orang kurang tertarik mempelajari
teori. Untuk itu, timbul pertanyaan: Apa itu teori, untuk apa teori dipelajari dan apa
manfaat teori itu sendiri.
11
Teori Perilaku Organisasi Publik
Sebelum menjawab apa itu teori, banyak anggapan atau pandangan bahwa teori
itu merupakan segala sesuatu yang tertulis dalam buku, pernyataan atau bahkan
disamakan dengan isi undang-undang (UU). Ada pula pandangan bahwa teori
merupakan sesuatu yang idial atau idealnya. Kelompok ini berpandangan bahwa teori
itu sulit dipraktekkan dan kebanyakan orang hanya bisa berteori (pandai bicara yang
bagus dan ideal), tetapi aplikasi atau prakteknya hanya pepesan kosong atau nol besar.
Jadi apapun yang tertulis dalam tulisan atau pernyataan para ahli dan isi peraturan
perundang-undangan itu dianggap teori. Bermula dari sini lantas muncul pandangan
bahwa ada kesenjangan antara teori dengan kenyataan. Hal inilah yang dalam dunia
Ilmu Pengetahuan disamakan dengan pernyataan tertulis yang ditulis oleh para ahli
dalam bentuk buku, artikel di jurnal ilmiah atau tulisan ilmiah lainnya. Oleh karena
itu, banyak pandangan dan pernyataan bahwa teori itu sulit dipraktekkan atau teori
berkaitan dengan kesenjangan antara harapan (teori) dengan kenyataan (praktek) atau
banyak gagasan atau ide bagus atau ideal (disamakan dengan teori), tetapi sangat sulit
untuk diimplementasikan.
Pandangan yang telah diungkap sudah pasti menimbulkan pro dan kontra dalam
memahami apa itu teori. Penulis sendiri setuju bahwa apa yang telah didiskusikan
di atas merupakan salah satu bentuk atau wujud dari teori itu sendiri. Di sisi lain,
teori itu sendiri terus-menerus mengalami perkembangan, sesuai dengan hasil-hasil
temuan para ahli. Awal mula penemu teori didominasi dan berasal dari ahli-ahli ilmu
alam (sains) atau ilmu pasti, baru kemudian berkembang dalam ilmu-ilmu sosial dan
budaya. Menurut para ahli, perkembangan teori selalu mengikuti suatu proses yang
dimulai dari description, prediction, explanation (penggambaran atau mendeskripsikan,
pendugaan/peramalan atau memprediksi dan penjelasan). Tiga hal terakhir inilah
yang dikenal sebagai fungsi utama suatu teori hingga dewasa ini. Selanjutnya, untuk
menjawab pertanyaan apa itu teori maka penulis buku akan menjelaskan beberapa
pengetian atau definisi tentang teori menurut pendapat para ahli. Kerlinger (2006:
14-15) menegaskan bahwa teori ialah seperangkat konstruk (konsep), batasan dan
proposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis tentang fenomena
dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan
memprediksikan gejala itu. Lebih lanjut Kerlinger menjelaskan bahwa definisi teori
yang telah diungkap mengandung tiga hal yaitu: (1) Sebuah teori adalah seperangkat
proposisi yang terdiri atas konstruk-konstruk yang terdefinisikan dan saling
tergantung; (2) Teori menyusun antar hubungan seperangkat variabel (konstruk).
Jadi, teori merupakan suatu pandangan sistematis mengenai fenomena-fenomena
yang dideskripsikan oleh variabel-variabel itu; dan terakhir (3) Teori menjelaskan
fenomena. Penjelasan itu diajukan dengan cara menunjuk secara rinci variabelvariabel tertentu yang terkait dengan variabel-variabel tertentu lainnya.
12
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
Untuk memperluas wawasan tentang apa itu teori, dijelaskan juga pendapat ahli
lainnya. Sukmadinata (1999: 17) menyatakan bahwa teori merupakan suatu set atau
sistem pernyataan (a set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal; Durbin
(1988) menegaskan bahwa teori merupakan pernyataan karena teori adalah bagian
dari upaya ilmuwan untuk mengungkapkan pemikiran atau idenya. Pernyataan itu
ditujukan untuk memperjelas atau memahami serangkaian fakta dan data yang semula
terkesan rumit atau bahkan tidak bermakna; Schwandt (2001) memakai pengertian
teori bukan hanya sebagai suatu penjelasan, melainkan juga sebagai suatu orientasi atau
perspektif (cara pandang) peneliti dalam melihat masalah, memecahkan masalah, dan
memahami serta menjelaskan realitas sosial atau dunia kehidupannya (world view).
Untuk melengkapi pengertian teori seperti yang telah diungkapkan, Sugiyono
(2013: 83-84) sendiri mengutif beberapa definisi tentang teori menurut beberapa ahli
yaitu: (1) Wiliam Wierma (1986) menyatakan bahwa a theory is a generalization or
series of generalization by which we attempt generalization to explain some phenomena
in a systematic manner (teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat
digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik); dan (2) Cooper
dan Schindler (2003) menegaskan bahwa a theory is a set of systematically interrelated
conceps, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena
(fact). (Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara
sistematis, sehingga teori dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena;
Berdasarkan beberapa pengertian teori yang diungkapkan oleh ahli-ahli di atas
dapat ditegaskan bahwa teori adalah generalisasi, definisi, pernyataan, pandangan
dan dalil yang dapat menggambarkan atau mendeskripsikan, meramalkan atau
memprediksi dan menjelaskan secara sistematis dan logis tentang berbagai fenomena
kehidupan. Mengacu pada beberapa definisi teori seperti yang telah diungkapkan maka
ada beberapa bentuk konkrit dari suatu teori, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Definsi atau pengertian. Jadi, suatu definsi atau pengertian dalam banyak
fenomena atau fakta merupakan salah satu bentuk kongkrit dari suatu teori.
Contoh definisi: Baucer dan gergen dalam Dunn (2000:1) menegaskan bahwa
analisis kebijakan adalah aktivitas menciptakan pengetahuan tentang dan dalam
proses pembuatan kebijakan. Dalam menciptakan pengetahuan tentang proses
pembuatan kebijakan, analisis kebijakan berupaya meneliti sebab, akibat dan
kinerja kebijakan dan program publik; Dye (1992:2) mendefinisikan public policy
is whatever governments choose to do or not to do. Public policy may deal with a wide
variety of substantive areas: defense, energy, environment, foreign affairs, education,
welfare, police, highway, taxation, housing, social security, health, economic
opportunity, urban development, inflation and recession, and so on; Price (1968:28)
mendefinisikan proses pembuatan kebijakan adalah “a process of interaction
13
Teori Perilaku Organisasi Publik
amang scientists, professional leaders, administrators and politicians”; Djohan
dan Milwan (2007: 27) menyatakan bahwa tanggung jawab adalah norma yang
menuntut kesediaan moral setiap penyelenggaran negara untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya secara profesional dan tekat untuk terus-menerus
meningkatkan mutu profesionalisme, Kehati-hatian dan kecermatan dalam setiap
sikap, perilaku, tindakan maupun ucapannya baik di dalam lingkungan kerjanya
maupun di luar lingkungan kerja, memikul akibat resiko dan tanggung jawab yang
terpaut pada kedudukan, kewenangan dan tugas yang dilaksanakan, kewajiban
untuk mengakui kesalahan, kesediaan untuk memperbaiki kesalahnnya secepat
mungkin dan memikul akibat dari perilaku, tindakan, keputusan dan ucapan
yang salah.
b. Hipotesis. Secara umum hipotesis dipahami sebagai jawaban sementara terhadap
masalah penelitian berdasarkan pada suatu teori yang akan diuji secara empiris.
Beberapa contoh hipotesis sebagai bentuk teori antara lain: (1) Ngusmanto (2012):
“Keterlambatan formulasi kebijakan umum anggaran berkaitan dengan tanggung
jawab, respon, komitmen dan konsistensi dari tim anggaran pemerintah dan
badan panggaran DPRD.”; (2) Tingkat Pendidikan dan kekayaan berpengaruh
terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa; (3) Orang tua,
guru dan masyarakat berkontribusi dalam membentuk perilaku anak.
c. Dalil. Bentuk teori berikutnya adalah dalil. Contoh dalil antara lain: Ngusmanto
(2012): (1) Baik buruknya proses formulasi kebijakan umum anggaran menjadi
tanggung jawab tim anggaran pemeritah dan badan anggaran DPRD; (2) Kerjasama
secara profesional antara tim anggaran dengan badan anggaran merupakan salah
satu cara mengatasi keterlambatan formulasi suatu kebijakan; (3) Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi informasi menjadi pemicu peningkatan kualitas
pelayanan publik; (4) Keberhasilan organisasi pemerintah dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya memerlukan dukungan organisasi swasta dan
organisasi kemasyarakatan, (5) Perilaku birokrasi dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya selalu dimotivasi kepentingan pribadi dan pihak lain; (6)
Kehidupan bangsa Indonesia makin terpuruk karena banyak anak bangsa yang
meninggalkan nilai-nilai Pancasila; dan (7) Pendidikan Pancasila harus dapat
membudayakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara
Hubungan antar variabel atau proposisi. Beberapa contoh bentuk teori dalam hal
ini antara lain: (1) Teori perilaku birokrasi menurut Muchlas (2005:12): Perilaku
seseorang tidak terjadi secara kebetulan, tetapi muncul karena pertimbanganpertimbangan tertentu. Dalam psikologi ditemukan bahwa setiap perilaku pasti
mempunyai alasan-alasan yang umumnya berhubungan dengan kebutuhan manusia;
(2) Teori persekongkolan atau teori konspirasi (conspiracy theory) adalah teori-teori
14
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian
peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial atau sejarah) adalah suatu rahasia,
dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orangorang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh http://id.wikipedia.
org/wiki/Teori_persekongkolan; (3) Teori Elit Mosca dalam Varma (1987: 204-205)
menyatakan bahwa dalam semua masyarakat selalu muncul dua kelas yaitu kelas yang
memerintah dan kelas yang diperintah. Kelas pertama memiliki jumlah lebih sedikit,
tetapi mereka memegang semua fungsi politik, monopoli kekuasaan dan menikmati
keuntungan-keuntungan dari kekuasaan. Sementara kelas yang kedua memiliki
jumlah lebih besar, tetapi mereka diatur dan dikontrol oleh kelas yang pertama; (4)
Chalid (2006): Teori pertumbuhan ekonomi merupakan penjelasan mengenai faktorfaktor apa yang menentukan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang dan
penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain,
sehingga terjadilah proses pertumbuhan; dan Teori pertumbuhan ekonomi tidak lain
merupakan suatu cerita (yang logis) mengenai bagaimana pertumbuhan terjadi; (5)
Ngusmanto (2012) menyatakan: Keterlambatan formulasi Kebijakan Umum Anggaran
Kota Pontianak Tahun 2011 disebabkan oleh lemahnya tanggung jawab, respon yang
kurang, lemahnya komitmen dan kurangnya kosistensi dari tim anggaran pemerintah
kota dan badan anggaran DPRD kota Pontianak; “Kerjasama secara profesional
antara tim anggaran dengan badan anggaran merupakan salah satu cara mengatasi
keterlambatan formulasi suatu kebijakan”.
Pernyataan-pernyataan. Contoh pernyataan sebagai bentuk suatu teori antara
lain: (1) Kepatuhan membuang sampah pada tempatnya lebih berhubungan dengan
masalah mental manusia, bukan masalah kaya dan miskin; (2) Kehadiran handphone
melahirkan sikap dan perilaku yang makin individualis dari manusia Indonesia; dan (3)
Harga kebutuhan pokok yang terus berajak naik dapat semakin menyulitkan keluarga
miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok secara layak.
Selanjutnya Sukmadinata (1999: 17) menegaskan bahwa ada tiga kelompok
karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori. Pertama, pernyataan dalam
suatu teori bersifat memadukan (unifying statement). Kedua, pernyataan tersebut
berisi kaidah-kaidah umum (universal preposition). Ketiga, pernyataan bersifat
meramalkan(predictive statement). Rose dalam Sukmadinata (1999:18) menyatakan
bahwa karakteristik pernyataan (set of statement) tersebut meliputi definisi, asumsi,
dan kaidah-kaidah umum. Dalam rumusan yang lebih kompleks, teori ini juga
menyangkut hukum-hukum, hipotesis, dan deduksi-deduksi yang logis-sistematis.
Teori harus mampu menjangkau ke depan, bukan hanya menggambarkan apa adanya
tetapi mampu meramalkan (prediktif) apa yang akan terjadi atas suatu hal.
Pandangan Sukmadinata dan Rose seperti yang telah diungkapkan menegaskan
bahwa tidak semua pernyataan merupakan bentuk teori. Selanjutnya, Nazir (2005:19)
15
Teori Perilaku Organisasi Publik
menyatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori.
Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang sudah
didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut
secara jelas pula.
b. Teori menjelaskan hubungan antar variabel atau antar konstruk (construct)
sehingga teori merupakan pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena
yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan.
c. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana yang
berhubungan dengan variabel mana.
Setelah pertanyaan tentang teori itu apa selesai dijelaskan jawabannya seperti
yang telah diungkapkan maka pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah untuk
apa teori dipelajari dan apa manfaat teori itu sendiri. Nazir (2005: 19-20) menegaskan
bahwa teori sebagai alat dari ilmu, sehingga teori mempunyai peran dan fungsi sebagai
berikut:
a. Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi
terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya.
b. Teori memberikan rencana (scheme) konseptual, dengan rencana mana fenomenafenomena yang relevan disistematiskan, diklarifikasikan, dan dihubunghubungkan.
c. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan
sistem generalisasi.
d. Teori memberikan prediksi terhadap fakta.
e. Teori memperjelas celah-celah di dalam pengetahuan kita.
Nazir (2005: 19-20) menjelaskan lebih lanjut tentang teori sebagai orientasi
utama dari ilmu bermakna bahwa teori memberikan batasan terhadap ilmu dengan
cara memperkecil jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari. Oleh karena
banyak fenomena yang dapat dipelajari dari berbagai aspek, maka teori membatasi
aspek mana saja yang akan dipelajari dari suatu fenomena tertentu. Dengan adanya
teori, maka kita dapat terbantu dan menentukan jenis fakta mana yang relevan dengan
aspek tertentu. Hal ini dapat dicari dan ditentukan. Teori sebagai konseptualisasi dan
klasifikasi menekankan bahwa tugas dari ilmu juga mengembangkan sistem klasifikasi
dari struktur konsep. Jadi, ilmu memegang peranan penting, karena konsep serta
klasifikasi selalu berubah, sebagai konsekuensi pentingnya suatu fenomena yang juga
berubah-ubah. Teori meringkaskan fakta atau sama dengan menyusun generalisasi
hasil penelitian. Teori juga dapat memadukan generalisasi-generalisasi satu sama
lain secara empiris, sehingga hal ini dapat diperoleh suatu ringkasan hubungan antar
generalisasi atau pernyataan. Teori memprediksi fakta-fakta. Jadi, teori dalam hal ini
16
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan adanya
uniformitas tersebut, maka teori dapat membuat prediksi terhadap fakta-fakta yang
akan datang. Terakhir, teori menjelaskan celah kosong. Maksud dari pernyataan
menjelaskan celah kosong bermakna bahwa teori dapat memberikan petunjuk dan
memperjelas daerah mana dalam khazanah ilmu pengetahuan yang belum dieksplorasi.
Misalnya, adanya teori kriminalitas yang dirumuskan berdasarkan pengamatan
terhadap perilaku kelas bawah. Penegasan dan pernyataan demikian telah memperjelas
celah bahwa kini dipertanyakan apakah teori tersebut juga berlaku untuk kriminalitas
yang terjadi pada anak-anak golongan atas, golongan terdidik, dan generasi muda di
kota atau desa sekedar contoh.
2.2
PERILAKU
Perilaku yang dibicarakan dalam bab ini sesuai dengan judul buku Teori Perilaku
Organisasi Publik, tentu hanya difokuskan pada perilaku manusia. Perilaku manusia
sama dengan atau tidak lain membicarakan tentang tingkah laku manusia. Kajian
tentang perilaku manusia sengaja dipelajari karena mempunyai maksud dan tujuan
untuk mengenali atau menjelaskan tingkah laku manusia, memprediksi, mengarahkan,
mengendalikan dan mengelolanya sebagai upaya untuk mewujudkan perilaku yang
baik secara individu, dalam kelompok dan perilaku dalam organisasi sebagai upaya
mewujudkan tujuan organisasi secara optimal. Oleh karena itu, perilaku yang harus kita
kenali, diprediksi dan dijelaskan bisa dalam level: (1) Individu, (2) Dalam Kelompok
dan atau Organisasi.
Dalam pengertian umum, perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang
dilakukan makhluk hidup. Perilaku adalah “tindakan atau perbuatan. Untuk itu,
Notoatmodjo (1987) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan
atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar. Lebih lanjut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (1987)
menegaskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar. Mengapa demikian? Karena perilaku itu sendiri
terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme
tersebut merespons, sehingga teori Skinner ini disebut sebagai teori “S-O-R” atau
Stimulus -Organisme -Respon. Skinner membedakan perilaku menjadi dua, yakni:
1. Perilaku yang alami (innate behaviour), yaitu perilaku yang dibawa sejak
organisme dilahirkan yang berupa refleks-refleks dan insting-insting.
2. Perilaku operan (operant behaviour) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses
belajar.
Khusus perilaku pada manusia maka perilaku operan atau psikologis inilah yang
lebih dominan. Sebagian terbesar perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk,
17
Teori Perilaku Organisasi Publik
perilaku yang diperoleh dan perilaku yang dikendalikan oleh pusat kesadaran atau
otak (kognitif). Dijelaskan lebih lanjut oleh Skinner dalam Notoatmodjo (1987)
bahwa ada tiga asumsi yang saling berkaitan mengenai perilaku manusia. Pertama,
perilaku itu disebabkan; Kedua, perilaku itu digerakan; Ketiga, perilaku itu ditujukan
pada sasaran/tujuan. Hal ini bermakna bahwa proses perubahan perilaku mempunyai
kesamaan untuk setiap individu, yakni perilaku itu ada penyebabnya, dan terjadinya
tidak dengan spontan, dan mengarah kepada suatu sasaran, baik secara ekslusif
maupun inklusif. “Secara umum, perilaku berorientasi pada tujuan (goal oriented)”.
Dengan perkataan lain, perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan
untuk mencapai tujuan tertentu”. Senada dengan itu Ndraha (2003) mendefinisikan
perilaku sebagai operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang atau suatu kelompok
dalam atau terhadap sesuatu (situasi atau kondisi) lingkungan (masyarakat, alam,
teknologi atau organisasi).
Selanjutnya, Santosa, (2010: 25) menegaskan bahwa setiap orang mempunyai
tingkah laku individual dan sosial. Tingkah laku individual terlihat dari tanggapan,
berpikir, dan perasaan, sedangkan tingkah laku sosial terlihat dari kerjasama, konflik,
kebiasaan sosial dan aktivitas-aktivitas sosial. Tingkah laku sosial dalam hal ini
sama dengan perilaku kelompok dan perilaku organisasi. Penelitian Rogers (1974)
mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru),
di dalam diri orang tersebut akan terjadi proses yang berurutan, yaitu:
1. Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari atau mengetahui stimulus
(objek) terlebih dahulu.
2. Interest (tertarik), yaitu orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation (menimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti
sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran,
dan sikapnya terhadap stimulus.
Mengacu pada pandangan Rogers seperti yang telah diungkapkan menegaskan
bahwa perubahan perilaku manusia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan ada
prosesnya. Sebagai contoh seorang pejabat negara (pemimpin) akan membangun
dan menginternalkan netralitras birokrasi pada setiap diri aparatur negara. Untuk
mewujudkan netralitas ini memerlukan waktu dan proses yang tidak mudah. Untuk
itu, Notoatmodjo (2003) menegaskan bahwa apabila penerimaan perilaku baru atau
adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran,
dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat
langgeng.
18
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
Perlu ditegaskan bahwa dalam lingkungan kita, perilaku seseorang dapat
dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan
perilaku menyimpang dari norma yang berlaku. Benjamin Bloom http://www.definisipengertian.com/2015/07/definisi-pengertian-perilaku-menurut-ahli.html,
seorang
psikolog pendidikan, membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni kognitif,
afektif, dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku yang
diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkat:
a. Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau
hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya.
b. Sikap (attitude). Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus
atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan.
c. Tindakan atau praktik (practice). Tindakan ini merujuk pada perilaku yang
diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari
pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.
Lantas timbul pertanyaan: Perilaku atau tingkah laku manusia yang baik itu seperti
apa? Jawatan atas pertanyaan ini bisa bermacam-macam, antara lain:
1. Perilaku yang baik merupakan tingkah laku yang sesuai dengan ajaran agama,
nilai-nilai Pancasila, norma, sesuai kode etik, aturan main atau peraturan serta
beretika dan atau bermoral, khusus untuk warga negara Indonesia (WNI).
2. Perilaku yang dapat menghantarkan tercapai tujuan pribadi dan keluarganya
serta para pemimpinnya
3. Perilaku yang dapat menghantarkan tercapainya tujuan kelompok dan atau
organisasi dan lebih jauh lagi tujuan masyarakat.
Ukuran perilaku yang baik seperti yang telah diungkapkan bisa saja ditambah
ukuran lainnya, di luar ukuran yang telah diungkapkan. Hal ini bermakna bahwa
ukuran yang telah disebutkan masih sangat terbuka untuk ditambah. Perilaku berasal
dari kata “peri” dan “laku”. Peri berarti cara berbuat, kelakuan perbuatan, dan laku
berarti perbuatan, kelakuan, cara menjalankan. Utuk itu, pengertian umum perilaku
menurut Notoatmodjo (1987:1) adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan
oleh makhluk hidup, sedangkan menurut Kwick (1972) dalam Notoatmodjo (1987)
menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang
dapat diamati dan bahkan dipelajari. Jadi, perilaku adalah tindakan atau aktivitas
organisme, khususnya manusia itu sendiri yang mempunyai bentuk yang sangat luas
seperti: Menonton olahraga, mencuci, berdiskusi, berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, bekerja, kuliah, berpidato, mendengar, menulis, membaca, dan sebagainya.
Oleh karena itu, bentuk perilaku manusia dapat diamati, melalui sikap, gerak-gerik dan
tindakannya (aktivitasnya).
19
Teori Perilaku Organisasi Publik
Berdasarkan penjelasan-penjelasan beberapa ahli yang telah diungkapkan, lantas
timbul pertanyaan penting yang perlu dijawab. Pertanyaan tersebut adalah: Apa
yang mendorong orang berperilaku tertentu? Pertanyaan ini dapat dijelaskan dalam
beberapa teori. Rakhmat (1985: 24) mencoba mengumpulkan gagasan dan pandangan
Kaum empirisme, Hedonisme dan Utilitarianisme (Aristoteles, John Locke dan Kaum
Empirisme di Inggris) menegaskan bahwa pada waktu manusia lahir tidak mempunyai
warna mental. Warna didapat dari pengalaman. Jadi secara psikologis seluruh perilaku
manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi.
Hedonisme merupakan salah satu paham filsafat etika yang memandang manusia
sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari
kesenangan dan menghindari penderitaan, sedangkan Utilitarianisme berpandangan
bahwa seluruh perilaku manusia tunduk pada prinsif ganjaran dan hukuman. Ketiganya
mejadi kelompok kaum Bihaviorisme.
2.3
ORGANISASI
Kehadiran dan pembentukan organisasi apapun dalam kehidupan umat manusia tidak
lain dan tidak bukan karena alasan keterbatasan kemampuan manusia dalam rangka
pemenuhan kebutuhan hidup dan kehidupannya. Realitas kehidupan manusia sejak
lahir sampai dengan berusia lanjut (mati) menunjukkan bahwa manusia mempunyai
kelemahan dan kebutuhan yang tidak terbatas. Jadi, manusia membentuk organisasi
dalam rangka mengatasi kelemahan dan pemenuhan kebutuhannya yang tidak terbatas
tersebut seperti kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan,
kebutuhan sosial, kebutuhan akan prestise dan realisasi diri serta kebutuhan lainnya.
Melalui organisasi yang mereka dirikan, manusia dapat bekerja sama untuk
mencapai tujuan. Mereka yang ingin memenuhi kebutuhan sosial budaya mendirikan
organisasi pendidikan, dan kesenian, mereka yang ingin memenuhi kebutuhan
keamanan mendirikan organisasi keamanan, sedangkan mereka yang ingin memenuhi
kebutuhan kesejahteraan, mereka dapat mendirikan organisasi ekonomi seperti
koperasi, CV, PT dan bentuk-bentuk usaha ekonomi lainnya. Hal ini juga bermakna
bahwa organisasi apapun yang didirikan oleh manusia harus dapat dijadikan
wadah atau kendaraan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menghantarkan
manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan sukses. Untuk itu, manusia modern
mempunyai kecenderungan tidak hanya aktif dalam satu organisasi, melainkan aktif
ke dalam beberapa organisasi sekaligus. Apabila organisasi yang didirikan tidak
dapat menghantarkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan sukses, maka
organisasi tersebut tidak dapat dijadikan wadah atau sarana atau kendaraan. Jadi, ukuran
keberhasilan organisasi bukan hanya dilihat dari dapat menghartarkan kesuksesan
pemimpinnya, melainkan juga semua anggota organisasi dan bila memungkinkan
bermanfaat bagi anggota masyarakat disekitarnya.
20
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
Dambaan demikian akan dapat diwujudkan apabila anggota organisasi bersedia
mematuhi aturan main yang telah ditetapkan dalam organisasi, dapat bekerja sama,
melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan kedudukannya, sekaligus dibarengi oleh
tumbuhnya rasa memiliki pada setiap diri anggota organisasi dan rasa tanggung jawab.
Semua tuntutan yang demikian akan dapat direalisasikan, apabila setiap anggota
organisasi merasakan bahwa organisasinya dapat dijadikan sarana atau kendaraan
menuju kehidupan yang lebih baik, sukses dan kebutuhannya dapat terpenuhi.
Demikianlah arti penting kehadiran organisasi bagi kehidupan manusia, secara garis
besar. Setelah mengetahui arti penting kehadiran organisasi bagi manusia, lantas kita
bisa bertanya: Apa itu organisasi?
Jawaban atas pertanyaan ini akan dimulai dari penjelasan tentang makna
organisasi. Pengertian atau definisi organisasi dapat dilihat dari segi yang statis
(teori Klasik) dan segi yang dinamis atau proses (pendekatan sistem). Teori klasik
memandang pengertian organisasi dari segi wadah atau wujud, sedangkan teori sistem
memandang organisasi sebagai suatu proses. Berdasarkan kedua pengertian tersebut
mengisyaratkan bahwa pengertian organisasi bisa bermacam-macam atau tergantung
dari mana mereka memandang, sehingga pemahaman terhadap organisasi semakin
lengkap. Pengertian organisasi ke dalam dua makna tersebut yang minimal perlu
diketahui, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengertian organisasi dalam makna yang statis.
Beberapa ahli yang diambil pendapatnya yaitu: (1) Arif (1995) menegaskan bahwa
organisasi adalah kerjasama orang-orang atau sekelompok orang untuk mencapai
tujuan yang ingin dicapai; (2) Malinowski (Dalam Arif, 1995) menegaskan bahwa
organisasi sebagai suatu kelompok orang yang bersatu dalam tugas-tugas atau
tugas umum, terikat pada lingkungan tertentu, menggunakan alat teknologi
dan patuh pada peraturan serta Henry L. Sisk (Dalam Arif, 1995) menegaskan
organisasi sebagai suatu kesatuan yaitu sekelompok orang terlibat secara bersamasama di dalam hubungan yang resmi untuk mencapai tujuan-tujuan; (3) Siagian
(2003) menegaskan bahwa organisasi adalah tempat di mana kegiatan-kegiatan
administrasi dan manajemen dijalankan. Sebagai wadah, organisasi bersifat
relatif statis dan memiliki pola dasar struktur organisasi yang relatif permanen;
(4) Soedjadi (1995) menegaskan organisasi pada pokoknya adalah sekelompok
manusia yang dengan sengaja dipersatukan dalam suatu kerja sama yang efisien
untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
2. Organisasi Sebagai Suatu Proses.
Pengertian organisasi sebagai suatu proses atau yang bersifat dinamis akan
dikutif beberapa pendapat antara lain: (1) Soedjadi (1995) menegaskan bahwa
organisasi dapat juga dipandang sebagai suatu sistem dan bentuk hubungan
antara wewenang dan tanggung jawab antara atasan dan bawahan dalam rangka
21
Teori Perilaku Organisasi Publik
pencapaian tujuan dengan cara yang sudah ditetapkan dan yang paling efisien; (2)
Siagian (2003) menegaskan organisasi sebagai proses interaksi antara orang-orang
di dalam organisasi. Organisasi sebagai proses menimbulkan dua jenis hubungan
di dalam organisasi yaitu hubungan formal yang menimbulkan organisasi formal
dan hubungan informal yang menimbulkan organisasi informal; (3) Barnard
(Dalam Arif, 1995) menegaskan organisasi merupakan suatu sistem sosial yang
dinamis dari hubungan kerjasama yang bertujuan untuk memuaskan keperluan
orang-orang.
Beberapa definisi organisasi pada point 1 yang telah diungkap mengkaji pengertian
organisasi sebagai suatu wadah kerjasama manusia untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Hal ini bermakna bahwa mereka memandang organisasi dalam pengetian
yang statis. Dalam makna yang demikian Soedjadi (1995) memandang bahwa
organisasi dapat memberikan kepastian dan ketentuan-ketentuan tentang pelaksanaan
hubungan kerjasama manusia, sedangkan pada point 2 memberikan makna organisasi
dari sudut dinamis atau menggunakan teori sistem.
Arif (1995) menyatakan bahwa organisasi sebagai suatu sistem yang berproses
terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu dengan yang lain menjadi satu
kesatuan secara keseluruhan. Bagian-bagian itu terdiri dari faktor-faktor luar dan
dalam organisasi. Faktor luar organisasi adalah faktor lingkungan di mana organisasi
itu berada seperti faktor politik, ekonomi, sosial dan budaya, teknologi, hukum,
demografi, sumber-sumber alam, langganan, nasabah dan lain sebagainya, sedangkan
faktor dalam antara lain orang-orang yang bekerja, tugas dan tanggung jawab,
hubungan kerja dan lain-lain.
Dengan demikian, makna organisasi dipandang dari segi proses dapat
menimbulkan dinamika organisasi. Siagian (2003) dan Soedjadi (1995) menyatakan
bahwa dinamika organisasi dapat terjadi karena disebabkan oleh pengaruh:
a. Faktor intern, yakni: (1) Adanya tujuan organisasi itu sendiri yang menyebabkan
organisasi harus dinamis dan bergerak maju untuk mencapai tujuan itu; (2)
Adanya manusia sebagai unsur terpenting dari setiap organisasi; (3) Adanya tata
hubungan atau relationship di dalam organisasi
b. Faktor ekologi atau faktor lingkungan, yakni yang bersifat: (1) Fisik atau geografis,
yaitu: keadaan alam, letak, tempat ataupun daerah di mana organisasi itu ada dan
beroperasi; (2) Nonfisik atau sosio-psikologis, yaitu termasuk: konstitusionalpolitis, sosial-politis; sosial-ekonomis; sosial-religius; sosial-budaya; dan teknisteknologis (kemajuan teknik dan ilmu pengetahuan).
Selain makna organisasi dapat dikaji sebagai suatu wadah dan sebagai proses,
organisasi dapat pula ditinjau dari aspek hubungan antara orang-orang. Dengan adanya
hubungan atau interaksi antar anggota organisisasi menimbulkan dua jenis hubungan
22
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
yaitu hubungan formal yang menimbulkan organisasi formal dan hubungan informal
yang menimbulkan organisasi informal. Perbedaan kedua jenis organisasi tersebut
dapat dinyatakan bahwa organisasi formal mempunyai struktur yang jelas dan dengan
sengaja dibentuk, dalam arti setiap tugas, wewenang dan tanggung jawab masingmasing anggota organisasi telah diatur secara resmi yang bersifat hierarkis, sehingga
kerja sama dapat dilaksanakan dengan setepat-tepatnya dalam rangka tercapainya
tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan demikian Siagian (2003) menegaskan bahwa
organisasi formal mempunyai ciri-ciri:
a. Ketentuan-ketentuan tentang pembentukan dan ketentuan-ketentuan yang
mengatur hubungan antara anggotanya, yang dalam organisasi pemerintah ada
Peraturan Pemerintah, Surat Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, dan lainlainnya; sedangkan untuk organisasi-organisasi nonpemerintah ada anggaran
dasar, anggaran rumah tangga, keputusan direksi dan sebagainya.
b. Terdapat penggolongan jabatan, analisis jabatan dan uraian jabatannya.
c. Ada penegasan soal sistem wewenang dan tanggung jawabnya.
d. Ada penegasan soal pelimpahan wewenang serta lingkup pengendaliannya (span
of control).
e. Ada hierarki atau echelonering hubungan staf dan lini serta hubungan-hubungan
antara atasan dan bawahan, yang kesemuanya itu secara jelas digambarkan
melalui suatu bentuk skema organisasi.
Untuk organisasi informal timbul karena tidak semua kebutuhan anggota
organisasi dapat dipenuhi melalui hubungan yang bersifat formal. Organisasi informal
mengandung makna bahwa hubungan yang terjadi tidak diatur dalam dasar hukum
perincian organisasi, tidak terlihat dalam struktur organisasi dan tidak terlihat
dalam produk-produk resmi. Siagian (2003) dan Soedjadi (1995) menyatakan bahwa
hubungan informal terjadi karena didasarkan pada:
a. Adanya persamaan kebutuhan, perasaan, kegemaran di luar organisasi, sikap dan
tabiat para anggotanya.
b. Adanya persamaan tugas dan tanggung jawab dan kepentingan dari orang-orang
tertentu.
c. Sifat hakikat dari orang-orang itu sebagai manusia baik sebagai individu, sebagai
makhluk sosial (social animal) maupun sebagai makhluk serakah (wanting
animal)
d. Hubungan yang didasarkan pada hubungan-hubungan pribadi
e. Adanya kesamaan keahlian para anggota organisasi
Namun demikian, adanya hubungan-hubungan informal tersebut dapat
menimbulkan dampak negatif dalam wujud menyuburkan adanya perasaan-perasaan
pilih kasih atau perasaan-perasaan senang dan benci (personal like and dislike), apabila
23
Teori Perilaku Organisasi Publik
hubungan tersebut tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, perasaan-perasaan yang
demikian sejauh mungkin harus dihindarkan. Setiap pimpinan harus berlaku tepat,
bijaksana dan objektif, terlepas dari segala perasaan likes and dislikes. Demikian juga
di antara para bawahannya haruslah diusahakan jangan sampai ada personal likes and
dislikes itu. Hal ini penting sekali diperhatikan, lebih-lebih mengingat bahwa organisasi
adalah alat manajemen untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Sungguhpun demikian, Siagian (2003) dan Soedjadi (1995) menegaskan dan
harus diakui bahwa organisasi informal justru diperlukan dalam rangka menerapkan
teknik-teknik human relations yang setepat-tepatnya termasuk:
a. Menambah pengertian-pengertian yang tepat tentang sifat dan tabiat para
bawahan.
b. Mengadakan pendekatan yang tepat di dalam proses menggerakkan para
bawahan.
c. Meningkatkan semangat kerja para bawahan.
d. Mengokohkan dedikasi setiap anggota terhadap organisasi.
Jadi hubungan informal yang mengarah kepada terlaksananya hal-hal yang
demikian itulah yang harus dilaksanakan dan dipelihara oleh setiap pimpinan. Namun,
jangan sampai melampaui batas, sebab bagaimanapun juga hubungan informal yang
dibatasi oleh hierarki, echlonering dan ketentuan-ketentuan sebagai diutarakan di muka
selamanya harus tetap ada dalam setiap organisasi. Untuk itu, ukuran sukses tidaknya
seorang pimpinan dalam mengelola organisasinya terletak pada dapat tidaknya
pimpinan itu memadukan nilai-nilai positif atau nilai kebaikan yang dihasilkan oleh
adanya kedua macam hubungan itu.
Hal mendasar lain yang tidak kalah penting berhubungan dengan keberhasilan
pimpinan. Pimpinan yang berhasil ialah pimpinan yang dapat menggabungkan nilainilai positif dari hubungan-hubungan formal dan informal. Organisasi adalah alat bagi
pimpinan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Jadi, pimpinan yang bijak
(arif) adalah pimpinan yang mampu menciptakan dan memelihara adanya organisasi
yang sehat, tepat dan sempurna (sound orgianization), yakni suatu organisasi yang
baik di dalam proses pembentukannya (organizing) maupun di dalam eksistensi
dan operasinya. Jadi, organisasi yang baik adalah organisasi yang dapat memenuhi
prinsip-prinsip organisasi. Fayol (1949) menegaskan ada 14 Prinsif organisasi yaitu:
(1) Pembagian kerja (Division of work); (2) Wewenang (Authority and responsibility);
(3) Disiplin (Discipline); (4) Kesatuan komando (Unity of command); (5) Kesatuan arah
(Unity of direction); (6) Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan individu
(Subordinasi kepentingan individu); (7) Remunerasi; (8) Sentralisasi (Centralization);
(9) Rantai scalar (Hierarki/Rantai Skalar/Garis Otoritas (tingkatan); (10) Tata tertib
atau Ketertiban (Order); (11) Keadilan dan kejujuran; (12) Stabilitas masa kerja para
24
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
pegawai atau Jenjang Karir Personel; (13) Inisiatif atau Prakarsa (Inisiative) dan (14)
Esprit de corps atau Semangat kesatuan dan semangat korps. Prinsip-prinsip tersebut,
menurut Fayol dapat dijelaskan secara garis besar seperti uraian berikut.
1. Pembagian kerja (Division of work);
Pembagian kerja untuk menjamin semua pekerjaan ada bagian yang menangani,
sehingga prinsif ini akan melahirkan spesialisasi pekerjaan, setiap anggota
organisasi akan terus bertambah pengalaman dan keahlian, semakin produkstif
dan efisien.
2. Wewenang (Authority and responsibility);
Prinsif wewenang dalam bentuk memberikan perintah atau wewenang penting
lainnya harus selalu disertai dengan tanggung jawab. Jika wewenang manajer
atau piminan digunakan maka bersamaan itu akan timbul tanggung jawab.
Agar penggunaan wewenang efektif wajib dibarengi dengan tanggung jawab
yang seimbang, sehingga pemilik wewenang tidak akan menyalahgunakan
wewenangnya. Sebaliknya, jika tanggung jawab tidak seimbang atau lebih
besar dari wewenang maka tugas dan fungsinya tidak akan dapat dilaksanakan
dengan efektif dan efisien. Tanggung jawab terbesar terletak pada top manager
atau manajer puncak. Oleh karena itu, kegagalan suatu usaha atau pelaksanaan
tugas dan fungsi bukan terletak pada bawahan atau karyawan, melainkan lebih
besar ada pada puncak pimpinannya karena ia yang mempunyai wewemang
terbesar. Hal ini bermakna bahwa manajer puncak harus mempunyai keahlian
dan kepemimpinan dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi yang telah
ditetapkan secara optimal.
3. Disiplin (Discipline);
Semua anggota organisasi, baik unsur pimpinan maupun staf harus atau wajib
mentaati dan menghormati peraturan yang mengatur organisasi. Komitmen ini
harus menjadi bagian budaya organisasi. Hal ini akan melahirkan disiplin. Di sisi
lain, disiplin yang baik menjadi cermin atau hasil dari suatu kepemimpinan yang
efektif. Mereka yang tidak disiplin dan menjunjung tinggi peraturan organisasi
harus diberikan hukuman (punishments) yang tegas dan adil, sedangkan
mereka yang disiplin juga diberikan rewards. Disiplin juga berhubungan erat
dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka
disiplin akan hilang. Oleh karena ini, pemegang wewenang (manajer atau unsur
pimpinan) harus dapat menanamkan disiplin terhadap dirinya sendiri, sehingga
ia dapat menjadi contoh atau teladan, sekaligus mempunyai tanggung jawab
terhadap pekerjaan sesuai dengan wewenangnya. Banyak anggota organisasi yang
bercermin atau melihat yang di atas. Jika yang di atas tidak dapat memberikan
contoh yang baik maka bawahan atau karyawan akan mencontohnya.
25
Teori Perilaku Organisasi Publik
4. Kesatuan komando (Unity of command);
Prinsif kesatuan komando atau perintah harus menjadi perhatian setiap anggota
organisasi. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai
dengan wewenang yang diperolehnya. Tuntutan demikian akan menjelaskan
dan mempertegas kepada setiap anggota organisasi atau karyawan dari mana
mereka mendapat perintah dan kemana ia harus mempertangung jawabkan.
Setiap pegawai seharusnya menerima perintah hanya dari seorang atasan. Dalam
melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan
perintah atau komando, sehingga pelaksanaan kerja dari karyawan tersebut
dapat dijalankan dengan baik. Apabila perintah yang diterima oleh karyawan
datang dari manajer unit lain maka hal ini akan merusak jalannya wewenang dan
tanggung jawab serta pembagian kerja.
5. Kesatuan arah (Unity of direction);
Prinsif kesatuan arah atau sasaran harus menjadi pedoman atau pegangan setiap
anggota organisasi (pimpinan dan karyawan). Dalam melaksanakan tugas-tugas
dan tanggung jawab yang diberikan atasan atau manajer maka semua karyawan
wajib diarahkan menuju arah yang akan dituju atau menjadi sasarannya.
Kesatuan arah terkait dengan pembagian kerja dan kesatuan perintah. Hal ini
bermakna bahwa alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk
melaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang
dan tanggung jawabnya menjadi kunci kejelasan kemana arah karyawan dalam
pelaksanaan pekerjaan atau terhindar dari kesalahan.
6. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan individu (Subordinasi
kepentingan individu); Hal ini bermakna bahwa kepentingan seorang atau
kelompok pegawai tidak boleh ditempatkan di atas kepentingan organisasi atau
kepentingan umum (yang lebih besar). Setiap karyawan harus menyadari akan
tuntutan yang demikian, sehingga mereka siap menempatkan atau mengabdikan
kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi atau umum atau yang lebih
besar. Pengorbanan yang demikian bukan bermakna tidak memperhatikan
kepentingan pribadi dan kelompok. Hal ini menjadi syarat yang sangat penting,
agar setiap kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan dapat diwujudkan secara
optimal. Supaya tuntutan demikian dapat diwujudkan maka setiap anggota
organisasi (pimpinan dan karyawan) harus bangga dengan organisasi, merasa
senang dan mempunyai disiplin yang tinggi.
7. Remunerasi;
Salah satu konsekuensi dari bekerjanya karyawan adalah ia harus mendapat
imbalan (upah atau gaji). Mereka harus diberikan gaji sesuai dengan jasa yang
telah disumbangkan atau darma baktinya. Secara umum, upah atau gaji dapat
menjadi motivator penting dalam bekerja. Fayol (1987) menunjukkan bahwa
26
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
tidak ada sistem yang sempurna. Demikian juga sistem upah atau penggajian
yang dihubungan dengan beban kerja, tetap tidak ada yang sempurna. 8. Sentralisasi (Centralization);
Prinsip ini berkaitan dengan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, pertanyaan
yang diajukan dalam prinsif ini adalah seberapa besar anggota organisasi
dilibatkan atau terlibat dalam pengambilan keputusan. Apakah pengambilan
keputusan menggunakan pendekatan sentralisasi (pada manajemen) atau
desentralisasi (pada para bawahan). Semua pendekatan ada kelebihan dan
sekaligus kekurangan. Pemusatan wewenang akan menimbulkan pemusatan
tanggung jawab. Pemusatan wewenang dalam hal ini tidak menghilangkan asas
pelimpahan wewenang (delegation of authority).
9. Rantai Scalar (Hierarki/Rantai Skalar/Garis Otoritas (tingkatan);
Prinsif ini bermakna bahwa garis wewenang dari manajemen puncak sampai
ke tingkat yang paling rendah merupakan garis otoritas atau rantai scalar.
Komunikasi yang dibangun harus berpedoman dan mengikuti garis otoritas ini.
Sebuah hierarki diperlukan untuk kesatuan arah. Rantai skalar mengacu pada
jumlah tingkatan dalam hierarki dari otoritas tertinggi hingga tingkat terendah
dalam sebuah organisasi. Kuncinya, garis otoritas tidak boleh terlalu jauh jaraknya
atau banyak tingkatan otoritas.
10. Tata tertib atau Ketertiban (Order);
Prinsif ini merupakan syarat utama agar karyawan atau orang dapat bekerja
dengan tertib atau tidak dalam keadaan kacau balau. Ketertiban dalam suatu
pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan
mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat
dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
11. Keadilan dan kejujuran;
Tuntutan akan prinsif keadilan dan kejujuran bukan hanya ditujukan kepada
pimpinan, melainkan juga kepada seluruh anggota organisasi. Para manajer harus
selalu baik dan jujur terhadap para bawahan, sebaliknya bahawan harus juga jujur
kepada manajer. Dalam menjalankan bisnis atau tugas pokok dan fungsi maka
keadilan dan kejujuran harus selalu sinergis dan mutlak diperlukan. Hal ini akan
memajukan dan mengembangkan organisasi decara optimal.
12. Stabilitas masa kerja para pegawai atau Jenjang Karir Personel;
Manajemen organisasi harus menyediakan perencanaan personalia yang teratur
dan memastikan bahwa untuk mengisi kekosongan jabatan harus selalu memegang
prinsif jenjang karir personel yang pasti dan stabil. Mereka atau karyawan akan
bekerja lebih baik jika keamanan pekerjaan dan kemajuan karir medapat jaminan
organisasi.
27
Teori Perilaku Organisasi Publik
13. Inisiatif atau Prakarsa (Inisiative) dan
Prinsif ini sangat berpengaruh besar pada tumbuhnya inisiatif atau prakarsa
anggota organisasi. Prakarsa timbul dari dalam diri seseorang. Prakarsa
menimbulkan semangat dan keinginan untuk mewujudkan suatu yang berguna
bagi penyelesaian pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Jadi dalam prakarsa
terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang.
Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari karyawan harus dihargai.
Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya
manusia butuh penghargaan. Jadi, seorang manajer yang bijak akan menerima
dengan senang hati terhadap inisiatif atau prakarsa-prakarsa yang dilahirkan
anggota organisasi atau karyawan.
14. Esprit de corps atau Semangat kesatuan dan semangat korps.
Prinsif ini mengajarkan semangat kesatuan dan kebersamaan. Setiap anggota
organisasi harus dan berusaha memiliki rasa kesatuan, senasib sepenanggungan
dan seperjuangan, sehingga prinsif ini dapat menumbuhkan semangat kerja sama
yang baik. Manajer atau pemimpin harus mampu melahirkan semangat kesatuan
(esprit de corp), bukannya malah menimbulkan friction de corp (perpecahan
dalam korps) atau konflik-konflik yang tidak kondusif. Apabila Esprit de corps
diaplikasikan di lingkungan birokrat maka hal ini akan mendorong etos kerja
Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu
tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi
masyarakat atau Aparatur Sipil Negara (ASN), menumbuhkan dan meningkatkan
semangat, kesadaran, dan wawasan kebangsaan ASN, sehingga persatuan dan
kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat diwujudkan.
2.4.
PERILAKU ORGANISASI PUBLIK
Orang yang sudah belajar tentang organisasi akan dengan mudah membedakan apa itu
organisasi dan apa itu organisasi publik. Secara umum, organisasi akan selalu dianggap
atau dipandang lebih luas dari organisasi publik atau organisasi publik merupakan
bagian dari organisasi atau cabang dari organisasi. Hal ini berarti bahwa perbedaan
keduanya terfokus pada luasnya apa yang dikaji. Tegasnya, organisasi lebih luas
dibandingkan organisasi publik. Untuk itu, kita bisa mengenal ada organisasi publik
atau pemerintah dan organisasi non pemerintah. Bisa juga menyebut organisasi publik
dan organisasi privat. Boleh juga menyebut organisasi pemerintah dan organisasi
swasta. Sebutan lain lagi adalah ada organisasi publik atau non profit dan organisasi
yang mencari profit (keuntungan). Munculnya pengelompokkan jenis organisasi yang
beragam demikian dapat terjadi karena perbedaan fokus sasaran dan ada pula yang
mengkaji dari segi motif atau kepentingan (tujuan). Jika dilihat dari tujuannya maka
28
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
kita dapat mengenal pengelompokkan organisasi ke dalam organisasi politik, ekonomi
dan sosial. Organisasi politik mempunyai motif atau tujuan untuk mendapatkan
kekuasaan, organisasi ekonomi untuk mendapatkan atau mengejar keuntungan materi
yang sebesar-besarnya, sedangkan organisasi sosial tidak mencari keuntungan materi.
Perlu ditegaskan bahwa organisasi publik dalam pemahaman yang luas disamakan
dengan organisasi negara dan pemerintah atau birokrasi negara atau pemerintah
sampai dengan organisasi pemerintah daerah; organisasi partai politik (Parpol)
dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang beraneka ragam; organisasi yayasan;
organisasi pendidikan dan kesehatan seperti (Palang Merah Indoneisa (PMI), Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), rumah sakit, dan sekolah; Badan usaha milik
negara atau daerah (BUMN/BUMD) seperti Pegadaian, DAMRI, Garuda Indonesia,
BNI, Pertamina dan masih banyak lainnya, serta organisasi tempat peribadatan seperti
Masjid, Gereja, Vihara, Kuil, Kleteng, Pura dan lainnya. Pertanyaan yang perlu dijawab
adalah mengapa organisasi-organisasi tersebut dikategorikan sebagai organisasi publik?
Jawaban yang dijadikan argumentasi para ahli adalah organisasi tersebut memberikan
pelayanan untuk publik, sehingga organisasi dimaksud merupakan organisasi publik.
Dengan luas cakupan dari organisasi publik maka apa yang dikaji organisasi publik
sangat luas. Persoalan yang kemudian muncul, tidak semua ahli setuju memaknai
organisasi publik sedemikian luas seperti yang telah diungkapkan. Banyak pandangan
yang menganggap bahwa organisasi publik lebih menekankan pada organisasi negara
(birokrasi) atau organisasi pemerintah pusat sampai daerah. Dalam buku inipun
pembicaraan organisasi publik atau perilaku organisasi publik lebih difokuskan pada
organisasi negara (birokrasi) atau pemerintah pusat sampai ke daerah.
Oleh karena itu, sangat tepat apabila organisasi sektor publik sering diartikan
sebagai organisasi yang berorientasi pada kepentingan warga negara atau rakyat.
Berdasarkan orientasi pada kepentingan warga negara atau rakyat (publik) maka
organisasi publik biasanya tidak berorientasi mencari laba sebagai tujuan akhirnya.
Itulah karakteristik utama organisasi sektor publik yang identik atau lebih banyak
disamakan dengan organisasi negara atau pemerintah atau birokrasi negara atau
pemerintah, baik pemerintah pusat sampai dengan pemerintah daerah. Jadi, organisasi
publik merupakan organisasi negara atau pemerintah (birokrasi) yang dengan sengaja
dibentuk untuk mewujudkan pelayanan kepada publik/rakyat/masyarakat/warga
negara, sebagai tujuan utamanya dan sumber pembiayaan berasal dari pajak. Hal ini
bermakna bahwa organisasi publik mempunyai tujuan utama untuk memberikan
layanan kepada publik atau warga negara, bukannya untuk mencari keuntungan
materi. Pelayanan publik yang memuaskan warga negara menjadi komitment utama
organisasi publik/negara/pemerintah/birokrasi.
Agar pemahaman tentang organisasi publik bertambah baik, kita perlu
memahami karakteristiknya. Organisasi publik memiliki karakteristik: (1) Mempunyai
29
Teori Perilaku Organisasi Publik
tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan publik atau warga negara/rakyat; (2)
Tidak bermotifkan mencari keuntungan materi atau profit-oriented; (3) Pembiayaan
organisasi bersumber dari pemungutan atau pembayaran pajak oleh rakyat atau
retribusi; (4) Negara (organisasi publik) bisa memaksa warga negara untuk membayar
pajak, didenda dan dihukum/sanksi, serta (5) Peraturan yang dibuat pemerintah atau
negara berlaku untuk semua warga negara dan bisa menghukum (sebagai tindakan
legal atau syah) atau memberikan sanksi bagi pelanggarnya. Jadi, organisasi publik
yang memiliki 5 (lima) karakteristik seperti yang telah diungkapkan dapat dijadikan
dasar pegangan tentang ciri utama organisasi publik. Bentuk nyata dari organisasi
publik tercermin atau terlihat dari organisasi negara/pemerintah/birokrasi.
Pemahaman penting berikutnya adalah konsep atau pengetian atau definisi perilaku
organisasi. Ada beberapa pengertian perilaku organisasi yang coba dikumpulkan oleh
penulis buku. Middleton (2002: 81) menyatakan bahwa organizational behavior (OB)
– The study of human behavior, attitudes and performance within an organizational
setting. OB draws on theory, methods, and principles fromsuch disciplines as psychology,
sociology, and cultural anthropology to learn about individual perception, values, learning
capabilities, and actions while working with groups and within the total organization. OB
also can involve analyzing the external environment’s effect on the organization and its
learning resources, missions, objectives, and strategies.
Pengetian yang ditulis oleh Middleton tentang pengetian perilaku organisasi lebih
menekankan pada studi tentang sikap dan kinerja manusia dalam pengaturan organisasi,
dengan mengacu pada teori, metode dan prinsip-prinsip yang disumbangkan oleh
disiplin psikologi, sosiologi dan antropologi budaya. Pengertian perilaku organisasi
berikutnya menurut Thoha. Thoha (2001:1) menegaskan bahwa perilaku manusia yang
berada dalam suatu kelompok atau organisasi adalah awal dari perilaku organisasi.
Perilaku organisasi mendasarkan diri pada ilmu perilaku yang dikembangkan dengan
pusat perhatian pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi. Pengetahuan ini
didukung oleh dua komponen yakni individu-individu yang berperilaku dan organisasi
formal sebagai wadah perilaku.
Lebih lanjut Thoha (2001:201) menegaskan bahwa perilaku organisasi merupakan
bidang studi yang berhubungan dengan semua aspek kegiatan manusia di dalam suatu
organisasi. Hal seperti ini termasuk pengaruh manusia terhadap organisasi dan pengaruh
organisasi terhadap manusia, dengan tujuan praktis untuk menentukan bagaimanakah
perilaku manusia dalam suatu organisasi dapat mempengaruhi proses pencapaian
tujuan organisasi. Hal ini bermakna bahwa keterampilan dan seni memanejemeni
orang menggunakan pendekatan perilaku organisasi (organizational behavior/
OB). Keterampilan hubungan antar manusia ini bagian dari perilaku organisasi dan
hubungan masyarakat. Jadi, ada tuntutan tentang keterampilan manusiawi. Tuntutan
dalam hal (keterampilan manusia) logis karena realitas menunjukkan bahwa banyak
30
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
masalah organisasi, masalah persaingan, tantangan teknologi dan tuntutan global,
serta tuntutan rakyat.
Pandangan yang tidak berbeda tentang perilaku organisasi diungkapkan oleh
Davis dan Newstrom (1989) yang menyatakan bahwa perilaku organisasi adalah bidang
ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan tentang bagaimana manusia
berperilaku atau bertindak di dalam organisasi. Demikian juga yang diungkapkan oleh
Muchlas yang juga sejalan dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Muchlas (2005:12)
menyatakan perilaku organisasi mempelajari apa saja yang dikerjakan orang-orang
dalam suatu organisasi dan bagaimana perilaku atau tindakan itu bisa mempengaruhi
penampilan organisasi. Selanjutnya, perilaku organisasi dalam arti luas mengkaji
hubungan antar manusia, kelompok, organisasi dan sistem sosial, sedangkan Thoha
(2008:197) menyatakan bahwa perilaku organisasi pada hakekatnya mendasarkan
pada ilmu perilaku itu sendiri yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada
tingkah laku manusia dalam suatu organisasi.
Davis dan Newstom (1985: 5) menyatakan pendapatnya bahwa perilaku organisasi
adalah telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang-orang bertindak
di dalam organisasi. Ia juga menegaskan bahwa unsur-unsur pokok perilaku organisasi
yaitu orang, struktur, teknologi dan lingkungan tempat organisasi beroperasi. Pendapat
Davis dan Newstom seperti yang telah diungkapkan makin mempertegas bahwa
perilaku organisasi tidak dapat melepaskan diri dari perilaku manusia sebagai anggota
organisasi atau mereka yang bukan anggota organisasi. Perilaku organisasi dapat
mempelajari perilaku perorangan, kelompok dan struktur seperti pandangan Robin
dan Scenmerhorn.
Lebih lanjut Davis dan Newstrom (2089) menegaskan bahwa perilaku organisasi
adalah bidang ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan tentang
bagaimana manusia berperilaku atau bertindak dalam organisasi. Robbins (1993)
menegaskan bahwa perilaku organisasi adalah bidang ilmu yang menyelidiki
dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap
perilaku orang-orang yang terlibat dalamnya yang bertujuan untuk mengaplikasikan
pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efektivitas organisasi. Muchlas (2005: 12)
menegaskan bahwa perilaku organisasi terutama mempelajari apa saja yang dikerjakan
orang-orang dalam sebuah organisasi dan bagaimana perilaku atau tindakan itu bisa
mempengaruhi penampilan organisasi. Perilaku yang dipelajari berkaitan dengan
pekerjaan, tugas-tugas tertentu, mangkir kerja, perpindahan kerja, produktivitas,
prestasi kerja dan manajemen.
Kesepakatan para ahli yang dikumpulkan oleh Muchlas (2005: 12) menegaskan
bahwa topik-topik yang dibahas dalam perilaku organisasi antara lain tentang motivasi,
perilaku kepemimpinan dan kewenangan, komunikasi antar manusia, stuktur dan
proses kelompok, proses belajar, pengembangan sikap dan persepsi, proses-proses
31
Teori Perilaku Organisasi Publik
perubahan, konflik, desain kerja dan tres di tempat kerja. Ada perilaku yang tidak
rasional menurut pandangan umum (common sense), tetapi orang yang bersangkutan
tidak perduli karena punya alasan pribadi yang kuat. Elemen-elemen kunci dalam
perilaku organisasi terdiri dari manusia, struktur, teknologi dan lingkungan tempat di
mana organisasi tersebut beroperasi. Ketiga elemen pertama selalu berinteraksi satu
dengan yang lain dan dipengaruhi oleh dan mempengaruhi lingkungan luarnya.
Schenmerhorn et al., (1991: 6) menyatakan bahwa organizational behavior is
the study of individuals and groups in organizations, sedangkan Robbin (2003: 1011) menegaskan bahwa perilaku organisasi mempelajari tiga determinan perilaku
dalam organisasi yaitu perorangan (individu), kelompok dan struktur. Di samping itu
perilaku organisasi menerapkan pengetahuan yang diperoleh mengenai perorangan,
kelompok dan efek dari truktur pada perilaku, agar organisasi bekerja lebih efektif.
Perilaku organisasi ialah studi mengenai (memperhatikan) apa yang dilakukan orangorang dalam suatu organisasi dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kinerja
organisasi.
Berdasarkan pendapat yang telah diungkapkan dapat diketahui bahwa mereka yang
tertarik untuk melakukan kajian perilaku sosial tidak terlepas dari perilaku individu.
Perilaku yang diamati tetap bersumber dari perilaku individu, tetapi perilaku tersebut
terjadi dalam situasi sosial atau dalam kontek kelompok. Demikian pula yang terjadi
dalam kajian perilaku birokrasi pemerintahan (publik) dan atau perilaku organisasi.
Selanjutnya, Santosa, (2010: 25) menegaskan bahwa setiap orang mempunyai tingkah
laku individual dan sosial. Tingkah laku individual terlihat dari tanggapan, berpikir,
dan perasaan, sedangkan tingkah laku sosial terlihat dari kerjasama, konflik, kebiasaan
sosial dan aktivitas-aktivitas sosial, sedangkan Belione (1980:1) menegaskan bahwa
Organization theory hypothesis about human behavior ranging from tribes to complex
government – and administrative theory-hypothesis about human behavior in work
groups as the bases of much public administration theory.
Pemikiran Belione mempertegas bahwa teori organisasi memiliki kajian
yang sangat luas yaitu membicarakan perilaku manusia mulai dari manusia dalam
kelompok suku ke manusia dalam pemerintahan, termasuk perilaku manusia dalam
kerja kelompok. Oleh karena itu, mengkaji perilaku manusia bisa mengambil unit
analisis individu ataupun kelompok. Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian
dalam rangka pemahaman organisasi terkait dengan paradigma yang diyakini.
Dalam mempelajari organisasi dikenal 2 paradigma yaitu paradigma mekanisme
dan paradigma organisme. Sesuai dengan kajian perilaku birokrasi (publik) maka
paradigma organisasi yang dipergunakan adalah paradigma organisme.
Thoha (2008:173) menegaskan bahwa paradigma organisme lebih menitik
beratkan pada manusianya dan cara manusia berperilaku dalam kegiatan-kegiatan
organisasi yang senyatanya. Perilaku manusia dalam hal ini banyak ditentukan oleh
32
Bab 2 – Pemahaman Tentang Teori Dan Perilaku Organisasi Publik
faktor lingkungan dan dirinya sendiri. Berdasarkan kedua konsep dasar organisasi
tersebut, selanjutnya melahirkan perilaku organisasi. Perilaku organisasi sebagaimana
telah dijelaskan termasuk ilmu yang interdisipliner. Hal ini dapat dilihat dari
perkembangan dan analisis perilaku organisasi yang sangat terbantu dari sejumlah
disiplin ilmu yaitu Psikologi, Sosiologi, Psikologi Sosial, Antropologi dan Ilmu Politik.
Bermula dari pemahaman yang demikian maka perilaku organisasi termasuk bidang
ilmu perilaku terapan dan merupakan kajian yang kompleks seiring dengan kemajuan
ilmu dan teknologi serta tuntutan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
sehingga perilaku organisasi merupakan bidang kajian yang sangat dinamis.
Pendekatan perilaku dalam organisasi mengkaji manusia dalam organisasi sebagai
unsur yang kompleks dan bagaimana mengelolanya secara efektif. Secara tradisional,
Thoha (2001:4) menegaskan bahwa manajer atau birokrat memahami dimensi manusia
dalam organisasi didekati dari asumsi ekonomi, sekuriti, suasana kerja dan lain-lain,
sehingga pendekatan hubungan kerja kemanusiaan (human relations), psikologi
industri dan keteknikan industri (industrial engineering) sebagai hampiran (approach)
utama dalam memahami dimensi manusia.
Penjelasan yang telah diungkapkan menegaskan bahwa tujuan utama mempelajari
perilaku atau tingkah laku manusia dalam organisasi atau perilaku organisasi untuk
mengetahui tingkah laku manusia, sehingga tingkah laku tersebut dapat diarahkan,
dikendalikan dan dikelola dengan baik dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.
Perilaku manusia itu sendiri pada dasarnya merupakan wilayah kajian dari psikologi,
psikologi sosial dan perilaku organisasi atau perilaku birokrasi pemerintahan (organisasi
publik). Perkembangan kajian perilaku juga dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain,
seperti Sosiologi, Antropologi dan Psikologi. Selain itu, setiap perilaku dalam birokrasi
pemerintahan atau organisasi, ada faktor-faktor yang turut berperan didalamnya.
Santosa, (2010:1) menegaskan bahwa psikologi sosial mempelajari tingkah laku
manusia di dalam suatu situasi sosial. Selanjutnya, Krech (1962) dalam Santosa, (2010:
2) menegaskan bahwa psikologi sosial mempunyai 2 (dua) tujuan yaitu tujuan teoritis
dan praktis. Tujuan teoritis berupaya memahami, mengendalikan dan memprediksi
tingkah laku sosial, sedangkan tujuan praktis untuk memecahkan masalah sosial
seperti konflik, prasangka, ketegangan sosial, kesukuan dan diskriminasi.
Hal mendasar berikutnya tentang perilaku organisasi banyak yang
mempertanyakan bagaimana pengaruh manusia terhadap organisasi dan pengaruh
organisasi terhadap manusia seperti Scenmerhorn; Robbin; Thoha; dan Muchlas;.
Jawaban atas pertanyaan ini adalah lingkungan berpengaruh besar terhadap perilaku
manusia. Untuk itu, tujuan utama kajian perilaku organisasi untuk mengkaji bagaimana
perilaku manusia mempengaruhi usaha pencapaian tujuan organisasi. Keterampilan
dan seni memanejemeni orang menggunakan pendekatan perilaku organisasi
(organizational behavior/OB). Keterampilan hubungan antar manusia ini bagian dari
33
Teori Perilaku Organisasi Publik
perilaku organisasi serta Hubungan masyarakat. Ada keterampilan manusiawi; banyak
masalah organisasi, masalah persaingan, tantangan teknologi dan global, tuntutan
rakyat.
Pendekatan tradisional memandang manusia itu malas, mereka (manusia) hanya
memikirkan uang. Jika kita bisa membuat mereka bahagia maka mereka akan bekerja
produktif. Jika ini benar maka masalah-masalah kemanusiaan dalam organisasi akan
lebih mudah diatasi. Muchlas (2005: 11) menegaskan bahwa manajemen hanya perlu
merekayasa bentuk-bentuk insentif uang, menjamin keamanan dan menjamin suasana
kerja yang baik, sehingga moral karyawan akan meningkat dan hasilnya adalah
produktivitas yang maksimal. Muchlas (2005: 11) menegaskan bahwa Kesalahan
dalam pendekatan tradisional adalah adanya asumsi-asusi yang melupakan banyak
aspek problim manusia. Perilaku manusia ditempat kerja ternyata lebih kompleks dan
bervariasi, jika hanya diselesaikan melalui pendekatan kesejahteraan finansial.
34
BAB 3
Ruang Lingkup Perilaku
Organisasi Publik
A
da beberapa buku tentang perilaku organisasi, tetapi tidak menjelaskan
apa isi dari ruang lingkup yang dikajinya. Di sisi lain, ada pula buku yang
menjelaskan apa isi ruang lingkup perilaku organisasi. Idealnya, setiap buku
harus memberikan gambaran tentang ruang lingkup yang dicakup sebagai pokok
bahasan baku. Jika buku ditujukan pada mahasiswa dan dosen maka buku tersebut
sudah sangat membantu dosen yang mengampu mata kuliah tersebut dan membantu
mahasiswa tentang kedalaman isi matakuliah yang harus diketahui dan dipelajari,
sehingga sewaktu mahasiswa sudah lulus dari suatu matakuliah akan mengetahui
ruang lingkup dan dapat menjelaskan kepada mahasiswa lain tentang ruang lingkup
yang dipelajarinya. Persoalan yang muncul adalah penjelasan ruang lingkup satu buku
dengan buku lainnya cukup bervariasi. Bermula dari bervariasinya isi ruang lingkup
perilaku organisasi ini maka salah satu yang mendapat perhatian dari buku teori dan
perilaku organisasi publik ini membicarakan tentang ruang lingkup.
Perlu ditegaskan kembali bahwa ruang lingkup suatu mata kuliah perlu
digambarkan agar mahasiswa mengetahui dengan persis apa yang harus dimengerti
dan diketahui tentang kedalaman kajian dari suatu mata kuliah. Untuk mengawali
pemahaman tentang ruang lingkup maka ada beberapa hal penting yang perlu
diketahui. Pertama tahu konsep atau definisi perilaku organisasi publik. Konsep ini
penting karena tidak jarang penulis karya ilmiah menjelaskan ruang lingkup berpijak
pada konsep atau pengertian. Kedua diketahui tentang pendekatan-pendekatan
yang dipergunakan. Ketiga sumbangan atau keterkaitan disiplin ilmu lain. Keempat
diketahui isi teorinya. Setelah keempat hal ini diketahui maka kita bisa menemukan
dan menggambarkan bagaimana ruang lingkupnya. Untuk point pertama dan kedua
35
Teori Perilaku Organisasi Publik
dijelaskan pada Bab II buku ini, sedangkan penjelasan keterkaitan dengan ilmu lain
dijelaskan pada Bab III dan teori perilaku organisasi dijelaskan pada Bab IV. Beberapa
gagasan atau pendapat para ahli yang terkait dengan kontribusi ilmu lain terhadap
perilaku organisasi dan ruang lingkup perilaku organisasi (publik) akan didiskusikan
seperti uraian berikut.
3.1.
KETERKAITAN DENGAN DISIPLIN LAIN
Ada beberapa disiplin ilmu yang memiliki kontribusi besar terhadap lahir dan
berkembangnya perilaku organisasi. Bisa juga dikatakan bahwa perilaku organisasi
lahir dan berkembang tidak bisa berdiri sendiri, melainkan ada beberapa disiplin lain
yang berkontribusi sangat besar atas pekembangannya. Robbins (2005) menegaskan
bahwa beberapa disiplin lain yang berkontribusi besar terhadap Perilaku organisasi
adalah psikologi, psikologi sosial, sosiologi, antropologi dan ilmu politik. Penjelasan
kontribusi dari masing-masing disiplin ilmu dimaksud, dapat dijelaskan seperti uraian
berikut.
1.
Psikologi
Psikologi dikaji dari asal-usul kata (secara harfiah) berasal atau bersumber dari bahasa
Yunani, tepatnya bahasa Greek dari 2 (dua) kata yaitu psyche dan logos. Psyche bermakna
atau diberi pengertian sama dengan jiwa, sedangkan logos diberikan maka atau arti
ilmu. Untuk itu, pengertian psikologi menurut asal-usul kata adalah ilmu jiwa atau
ilmu yang mempelajari jiwa (kejiwaan). Jiwa itu sendiri sulit untuk dipelajari karena
jiwa dipandang sebagai sesuatu yang abstrak. Supaya jiwa bisa dipahami lebih baik
maka jiwa itu sendiri lebih dilihat dari raga atau jasmani serta manifestasi dan ekspresi
dari jiwa/mental. Dengan demikian maka ekspresi dari jiwa dapat dilihat dari perilaku
atau tingkah laku manusia yang terlihat dari semua aktivitas, sikap, interaksi, tindakan,
perbuatan dan penampilan diri dalam kehidupannya.
Bruno (2000) menegaskan bahwa pengertian psikologi dapat dijelaskan melalui 3
(tiga) bagian yang saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan)
mengenai “roh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai ”kehidupan
mental”. Ketiga psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku organisme”.
Pandangan Bruno bisa dibandingkan dengan William (1948) yang menyatakan
dan beranggapan bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai kehidupan
mental, sedangkan Watson (1966) menyatakan bahwa psikologi merupakan ilmu
pengetahuan tentang tingkah laku organisme. Berdasarkan pengertian menurut asalusul kata dan pendapat beberapa ahli yang telah diungkapkan maka psikologi menurut
penulis dapat diberikan pengertian atau didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji
atau membahas tingkah laku dan proses mental organisme, khususnya manusia,
36
Bab 3 – Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik
dengan menelusuri semua aktivitas, sikap, interaksi, perbuatan dan penampilan diri
dalam kehidupan manusia, termasuk bagaimana ia berbicara, berjalan, berlari-lari,
berolah-raga, bergerak, melihat, mendengar, mengingat, berpikir, pengenalan kembali,
penampilan emosi-emosi dalam bentuk tangis, senyum, tres dan marah.
Setelah dipahami tentang makna psikologi maka pertanyaan yang harus dijawab
adalah apa sumbangan atau kontribusi psikologi terhadap perilaku organisasi. Secara
spesifik sumbangan psikologi terhadap perilaku organisasi terlihat dan terkait langsung
dengan masalah-masalah kebosanan dan kelelahan manusia, stres, kondisi kerja,
persepsi, kepribadian, perubahan perilaku, emosi, marah, latihan, kepemimpinan,
motivasi, pengambilan keputusan dan pengukuran sikap. Penegasan ini penting karena
perilaku manusia itu sendiri tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dipengaruhi
oleh banyak hal seperti masalah-masalah yang telah dijelaskan, kepentingan, tujuan,
adat, agama, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan dan persuasi serta lainnya, sehingga
dalam praktek ada perilaku manusia yang wajar-wajar saja atau dapat ditoleransi,
perilaku yang dapat diterima orang lain atau publik, perilaku aneh dan perilaku
menyimpang dari norma atau penilaian umum. Hal ini terjadi karena pengaruh
psikologi manusia itu sendiri. Semua ini harus diperhitungkan, sehingga manusia
dapat berperilaku yang dapat diterima oleh orang lain atau publik.
2.
Psikologi Sosial
Psikologis sosial merupakan bidang kajian yang berkembang dari psikologi itu sendiri.
Santoso (2010:1) menegaskan bahwa Psikologis sosial mempelajari tingkah laku
manusia di dalam suatu situasi sosial. Psikologi sosial mempunyai fokus studi pada
pengaruh seseorang terhadap orang lain dalam situasi sosial (kelompok). Robbins
(2003) menegaskan bahwa psikologi sosial memberikan perhatian dalam bidang-bidang
pengukuran, pemahaman dan perubahan sikap, pola komunikasi, pembangunan
kepercayaan, cara kegiatan kelompok memenuhi dan memuaskan kebutuhan individu,
serta proses-proses pengambilan keputusan kelompok.
Oleh karena itu, sumbangan psikologi sosial terhadap perilaku organisasi terlihat
dari pengambilan keputusan kelompok, memecahkan konflik dalam organisasi,
penyelesaian ketegangan, diskriminasi, memahami tingkah laku sosial, mengendalikan
dan memprediksi tingkah laku sosial atau dalam organisasi. Hal ini akan menumbuhkan
keterlibatan atau partisipasi anggota organisasi. Untuk itu, penumbuhan partisipasi
diarahkan untuk melibatkan mental dan emosional individu dalam organisasi
atau situasi kelompok, sehingga anggota organisasi akan termotivasi berkontribusi
mewujudkan tujuan-tujuan kelompok (Organisasi) dan penumbuhan tanggung jawab.
37
Teori Perilaku Organisasi Publik
3.
Sosiologi
Bapak sosiologi yang ditulis oleh ahli sosiologi adalah seorang filsuf yang berasal dari
Perancis bernama Auguste Comte. Ia menulis buku yang begitu populer di kalangan
sosiolog, dengan judul Cours de la Philosovie Positive dan memberikan makna sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan yang memfokuskan kajian tentang masyarakat. Apabila
makna sosiologi dikaji dari asal-usul kata atau makna secara harfiah maka sosiologi
berasal dari bahasa Latin dari kata socius dan logos. Socius diberikan arti teman atau
kawan, sedangkan logos bermakna ilmu pengetahuan. Jadi, secara harfiah sosiologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kawan atau teman atau masyarakat.
Timbul pertanyaan: Apa sumbangan sosiologi terhadap perilaku organisasi?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat mengacu apa yang menjadi fokus kajian sosiologi.
Untuk itu, sumbangan sosiologi terhadap perilaku organisasi berkaitan dengan atau
memberikan masukan terhadap dinamika kelompok, proses sosialisasi, tim kerja,
komunikasi dalam organisasi, budaya organisasi, struktur organisasi formal, birokrasi,
kekuasaan, konflik dan perilaku antar kelompok.
4.
Antropologi
Antropologi dikaji dari asal-usul bahasa dan kata oleh para ahli berasal dari bahasa
Yunani dan 2 (dua) kata yaitu anthropos dan logos. Kata Anthropos diberikan makna
manusia, sedangkan Logos bermakna ilmu. Jadi pengertian Antropologi secara harfiah
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia. William (1948) sebagai ahli
antropologi yang berasal dari Amerika Serikat menegaskan bahwa Antropologi dapat
diberikan pengertian sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman
manusia dan kebudayaannya.
Secara umum ada banyak perbedaan kebudayaan manusia, sehingga ahli
Antropologi melakukan studi dan berusaha menjelaskan tentang berbagai macam
perbedaan dan persamaan kebudayaan manusia. Oleh karena itu, sumbangan
Antropologi terhadap perilaku organisasi terlihat dalam perbedaan-perbedaan
fundamental dalam nilai, sikap dan norma tentang perilaku yang dapat diterima dan
mempengaruhi cara orang bertindak atau berativitas dalam organisasi, analisis lintas
budaya, budaya organisasi dan lingkungan organisasi.
5.
Ilmu Politik
Banyak aspek yang dikaji oleh ilmu politik menurut para ahli. Budiardjo (2002:9)
menyimpulkan dan menegaskan bahwa politik dalam suatu negara selalu berkaitan
dengan masalah: (1) Negara (state); (2) Kekuasaan (power); (3) Pengambilan keputusan
(decision making), (4) Kebijakan (policy, beleid) dan (6) Pembagian (distribution) atau
alokasi (allocation). Khusus tentang Pembagian (distribution) dan alokasi (allocation)
38
Bab 3 – Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik
atau pembagian dan penjatahan nilai-nilai (values) dalam masyarakat, Laswell (1959)
menulis buku yang sangat terkenal yaitu Who Gets What, When and How (Politik itu
selalu berbicara tetang masalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana). Bertitik
tolak pada pemahaman ini maka pembicaraan politik dimanapun, kapanpun dan oleh
siapapun selalu menarik.
Di sisi lain, para ilmuwan politik juga berusaha mempelajari perilaku individu
dan kelompok dalam suatu lingkungan politik. Untuk itu, sumbangan yang dapat
diambil dari ilmu politik terhadap perilaku organisasi berkaitan dengan pengaruh
dan pentingnya struktur konflik, bagaimana alokasi kekuasaan dalam organisasi dan
bagaimana orang memanipulasi dan memaknai kekuasaan untuk kepentingan pribadi
anggota organisasi. Contohnya adalah kekuasaan dalam memberikan penghargaan
didasarkan atas kemampuan pemimpin memberikan ganjaran bagi anggota yang
menyelesaikan pekerjaan seperti yang telah ditargetkan.
3.2.
RUANG LINGKUP PERILAKU ORGANISASI PUBLIK
Ada beberapa jawaban yang dapat dijadikan bahan diskusi untuk pertanyaan ruang
lingkup perilaku organisasi publik. Mengapa demikian? Ada beberapa penulis yang
memberikan jawaban berbeda. Selain masalah motivasi dan kepemimpinan, ilmu
Perilaku Organisasi mengkaji juga beberapa aspek strategis dalam organisasi seperti
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi, stres dan konflik,
produktivitas dan atau kinerja, dan sebagainya. Keseluruhan aspek ini selalu terkait
dengan masalah perilaku manusia dalam organisasi, sehingga hal tersebut berpengaruh
terhadap proses pembentukan perilaku maupun baik buruknya perilaku manusia itu
sendiri.
Selanjutnya, jawaban atas ruang lingkup perilaku organisasi publik dapat
dijelaskan seperti berikut.
1. Kelompok pertama berpandangan bahwa ruang lingkup perilaku organisasi
(organization behavior) mendasarkan kajiannya pada perilaku manusia sebagai
individu, dengan pusat perhatian pada tingkah laku, tindakan, perbuatan, sikap
dan aktivitas manusia dalam organisasi. Ada pula pandangan ruang lingkup
perilaku organisasi mencakup 2 (dua) komponen yaitu: (1) Komponen individuindividu yang berperilaku, baik itu perilaku secara individu, perilaku kelompok,
dan perilaku organisasi; dan (2) Komponen organisasi formal sebagai wadah
dari perilaku individu-individu terebut. Oleh karena itu, mata kuliah Perilaku
Organisasi berusaha menjawab, mengapa berbagai unsur atau komponen tadi
dapat membentuk karakter, sikap, atau perilaku individu dalam kapasitasnya
sebagai anggota suatu organisasi. Thoha (2001:1) menegaskan bahwa Pengetahuan
tentang perilaku organisasi ini didukung oleh dua komponen yakni individu39
Teori Perilaku Organisasi Publik
individu yang berperilaku dan organisasi sebagai wadah perilaku. Bertitik tolak
dari pandangan Thoha ini, selanjutnya dapat diketahui bagaimana pengaruh
organisasi terhadap manusia dan sebaliknya, bagaimana pengaruh manusia
terhadap organisasi atau ada interaksi dan hubungan antara organisasi dengan
perilaku manusia sebagai individu dan sebaliknya. Kesemuanya ini menurut
Krech (1962) dalam Santosa, (2010: 2) mempunyai 2 (dua) tujuan yaitu tujuan
teoritis dan praktis. Tujuan teoritis berupaya memahami, mengendalikan dan
memprediksi tingkah laku sosial, sedangkan tujuan praktis untuk memecahkan
masalah sosial seperti konflik, prasangka, ketegangan sosial, kesukuan dan
diskriminasi serta untuk mengarahkan, mengendalikan atau memanaj perilaku
manusia untuk mencapai tujuan organisasi publik yang telah ditetapkan.
2. Ruang lingkup kelompok kedua mendasarkan kajian dari organisasi publik
yang dicakup. Kelompok kedua menekankan bahwa organisasi publik berisi dan
mengkaji berbagai jenis organisasi publik. Ada kelompok yang menyamakan
organisasi publik tidak berbeda dengan organisasi negara dan pemerintah pusat
atau birokrasi negara atau pemerintah sampai dengan organisasi pemerintah
daerah; Pendukung kelompok ini cukup banyak. Ada pula kelompok yang
mendukung setuju dengan pandangan yang telah diungkapkan, tetapi masih
ditambah dengan organisasi kesehatan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan
daerah seperti (Palang Merah Indoneisa (PMI), Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas), rumah sakit, dan sekolah negeri; Badan usaha milik negara atau
daerah (BUMN/BUMD) seperti Pegadaian, DAMRI, Garuda Indonesia, BNI,
Pertamina, PDAM dan masih banyak lainnya. Ada pula pendukung setuju
dengan yang telah diungkapkan, tetapi ia masih menambah dengan organisasi
partai politik (Parpol), lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang beraneka ragam;
organisasi yayasan; serta organisasi tempat peribadatan seperti masjid, gereja,
vihara, Kuil, Kleteng, Pura dan lainnya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah
mengapa organisasi-organisasi tersebut dikategorikan sebagai organisasi publik
dan begitu banyak yang dicakup? Jawaban yang dijadikan argumentasi para
ahli adalah organisasi tersebut merupakan organisasi publik yang memberikan
pelayanan kepada publik, sehingga organisasi dimaksud merupakan organisasi
publik. Dengan begitu luas cakupan dari organisasi publik maka apa yang dikaji
organisasi publik sangat luas dan beraneka ragam perilaku manusia dalam
Organisasi dimaksud. Persoalan yang kemudian muncul, tidak semua ahli setuju
memaknai organisasi publik sedemikian luas seperti yang telah diungkapkan.
Banyak pandangan yang menganggap bahwa organisasi publik lebih menekankan
pada organisasi negara (birokrasi) atau organisasi pemerintah pusat sampai
daerah. Dalam buku inipun sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya hanya
menekankan pada pembicaraan pada organisasi negara (birokrasi) atau
40
Bab 3 – Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik
pemerintah pusat sampai ke daerah.
3. Ruang lingkup perilaku organisasi publik yang paling banyak pendukungnya
mendasarkan kajian dari yang aspek-aspek atau unsur-unsur, komponen
atau sub sistem perilaku organisasi. Aspek yang dicakup dalam ruang lingkup
organisasi publik adalah kepemimpinan, motivasi, komunikasi, konflik, budaya
organisasi, pembinaan karier, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan,
produktivitas dan atau kinerja (performance), kepuasan, dan pengembangan
organisasi (organizational development) dan lainnya. Persoalan yang kemudian
muncul adalah banyak aspek atau komponen perilaku organisasi publik yang
beragam atau berbeda antara satu ahli dengan ahli lainnya. Oleh karena itu,
penulis sendiri dalam pembicaraan ruang lingkup perilaku organisasi publik
hanya menekankan pada aspek komunikasi dalam organisasi, Organisasi publik,
etika perilaku organisasi publik atau birokrasi, motivasi, konflik dan budaya
organisasi. Hal ini bukan bermakna bahwa aspek yang lain tidak penting.
4. Perilaku Organisasi itu sendiri sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku
individu yang terdapat dalam organisasi. Oleh karena itu, kajian masalah perilaku
organisasi berkaitan dengan pembahasan mengenai perilaku individu. Jadi, ruang
lingkup kajian ilmu perilaku organisasi hanya terbatas pada dimensi internal dari
suatu organisasi. Dalam kaitan ini, aspek-aspek yang menjadi unsur-unsurnya,
komponen atau sub sistem dari ilmu perilaku organisasi antara lain adalah:
motivasi, kepemimpinan, stres dan atau konflik, pembinaan karir, etika birokrasi,
Budaya Organisasi, masalah sistem imbalan, komunikasi, pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan, produktivitas dan atau kinerja (performance), kepuasan,
pembinaan dan pengembangan organisasi (organizational development), dan
sebagainya.
3.3.
GAMBARAN RINGKAS ASPEK KAJIAN
Telah dijelaskan bahwa Aspek yang dicakup dalam ruang lingkup organisasi publik dan
banyak dianalisis oleh ahli perilaku organisasi berkaitan dengan aspek kepemimpinan,
motivasi, komunikasi, konflik, budaya organisasi, pembinaan karier, pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan, produktivitas dan atau kinerja (performance),
kepuasan, dan pengembangan organisasi (organizational development). Berpijak dari
banyak aspek tersebut maka penulis buku hanya akan membicarakan aspek komunikasi
dalam organisasi, Organisasi publik, etika perilaku organisasi publik atau birokrasi,
motivasi dalam perilaku organisasi, konflik dalam perilaku organisasi dan budaya
organisasi. Penjelasan secara garis besar dari aspek ruang lingkup perilaku organisasi
yang dipilih, dapat dijelaskan seperti uraian berikut, sedangkan penjelasan yang lebih
mendalam dapat dibaca dari beberapa bab dalam buku ini.
41
Teori Perilaku Organisasi Publik
1.
Komunikasi Dalam Organisasi
Komunikasi menurut asal-usul kata berasal dari bahasa Inggris Communication dan
bahasa latin communicatio dari kata communis. Jadi, komunikasi menurut asal-usul kata
atau secara harfiah memiliki arti menciptakan kebersamaan dan keharmonisan dalam
hubungan 2 (dua) orang atau lebih. Untuk memahami komunikasi, dalam buku ini
dijelaskan tentang pendapat Lasswell yang begitu terkenal. Lasswell (1961) menegaskan
bahwa pemahaman proses komunikasi dapat dijelaskan melalui paragdigma yang dia
buat, dengan menjawab pertanyaan: Who, Say What, In Which Channel, To Whom,
and With What Effect (Siapa, mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa dan
dengan efek apa).
Paradigma proses komunikasi dari Harold Lasswell (1961) oleh banyak ahli
komunikasi merupakan teori komunikasi yang penting, sehingga setiap bicara komunikasi
selalu mengutif paradigma ini, yang populer dengan paradigmatic question. Lasswell juga
menegaskan bahwa paradigmatic question merupakan unsur-unsur proses komunikasi
yaitu: (1) Communicator (Komunikator), (2) Message (Pesan), (3) Media (Media), (4)
Communican/Receiver (Komunikan/Penerima) dan (5) Effect (Efek).
Komunikasi berperan dan berkontribusi besar pada maju mudurnya atau sukses
tidaknya organisasi. Organisasi hanya akan berjalan dan berfungsi dengan baik apabila
ada komunikasi di dalamnya. Visi dan misi organisasi, instruksi, perintah, koordinasi,
laporan dan lainnya memerlukan proses komunikasi. Semua ini mengandung pesan
dan memerlukan unsur komunikasi sebagai telah dijelaskan oleh Lasswell. Interaksi
antar manusia dalam organisasi tidak mungkin dapat terjadi, tanpa adanya komunikasi.
Kita bisa menerima pesan dan bisa juga sebagai pemberi pesan. Ide atau gagasan tidak
akan bisa dipahami orang atau tidak akan sampai kepada anggota organisasi, tanpa
adanya komunikasi. Kita bisa saling tukar-menukar informasi dan saling belajar
melalui komunikasi.
2.
Etika Birokrasi
Chandler & Plano: 1982 dalam bukunya The Public Administration Dictionary
menegaskan bahwa Ethics is the rules or standards governing, the moral conduct of
the members of an organization or management profession (Aturan atau standar
pengelolaan yang merupakan pedoman moral bagi administrator publik dalam
melaksanakan tugasnya melayani masyarakat). Etika dalam hal ini dapat dipahami
sebagai suatu pedoman bagaimana manusia (administrator) atau birokrat bertingkah
laku atau bertindak, bersikap dan beraktivitas dalam birokrasi yang baik. Etika bisa
juga dimaknai sebagai ajaran mana yang bolah dan mana yang dilarang, atau tentang
ajaran baik dan buruk. Semua ini selanjutnya dibakukan dalam bentuk kaidah, aturan
atau norma yang dijunjung tinggi dan diakui oleh masyarakat, khususnya birokrat.
Oleh karena itu, ada beberapa contoh perilaku birokrat yang tidak baik atau melanggar
42
Bab 3 – Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik
etika Administrasi seperti melakukan kebohongan kepada publik; melakukan korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN); Melanggar nilai-nilai publik seperti: responsibilitas,
akuntabilitas, transparansi, keadilan, dan lain-lain; Mengorbankan, mengabaikan
atau merugikan kepentingan publik dan Melanggar sumpah jabatan, kendaraan Dinas
untuk ngojek, fasilitas kantor disalah-gunakan, melakukan perselingkuhan dengan
pengusaha dan kegiatan lain yang tidak pantas (patut).
Khusus untuk aparatur sipil negara (ASN) diatur melalui undang-undang (UU)
ASN Pasal 5 ayat (1) yang diamanahkan bahwa Kode etik dan kode perilaku yang diatur
di Indonesia bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN. Selanjutnya
ayat (2) mengamanahkan bahwa Kode etik dan kode perilaku sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berisi pengaturan perilaku agar Pegawai ASN:
a.
b.
c.
d.
e.
melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi;
melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan etika pemerintahan;
f. menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
g. menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,
efektif, dan efisien;
h. menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya;
i. memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain
yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
j. tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri
sendiri atau untuk orang lain;
k. memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN;
dan
l. melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
Pegawai ASN.
3.
Motivasi Dalam Perilaku Organisasi
Setiap orang mulai dari yang paling miskin sampai dengan orang paling kaya atau rakyat
jelata sampai presiden sekalipun membutuhkan adanya motivasi. Orang bisa capek,
jenuh, bosan dan perasaan lainnya. Salah satu obatnya diberikan motivasi. Siagian
(2003:132) menegaskan bahwa motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan
seorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan, dalam
43
Teori Perilaku Organisasi Publik
bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dalam menunaikan kewajibannya,
dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan
sebelumnya.
Perilaku anggota organisasi dipengaruhi oleh keinginan dan kemauannya
untuk melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan. Keinginan dan kemauan
merupakan wujud motivasi. Jadi, motivasi menjadi pendorong utama dalam banyak
hal, khususnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) seorang anggota
organisasi. Jika ia tidak memiliki motivasi maka Tupoksi tidak akan berjalan seperti
yang diharapkan. Gambaran singkat ini telah memperkuat bahwa motivasi menjadi
penentu dinamika organisasi.
4.
Konflik Dalam Organisasi
Banyak orang yang berpandangan dan menganggap bahwa konflik merupakan
situasi yang harus dihindari atau konflik sebagai kondisi yang tidak baik dan tidak
menyenangkan. Pandangan demikian terjadi karena mereka memberikan makna
konflik sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang dianut atau mereka belum
paham tentang makna konflik yang konprehensif dan makna yang sesungguhnya. Dalam
kondisi yang demikian, tidak heran apabila banyak orang yang tidak siap menerima
kehadiran konflik secara wajar. Bagi mereka yang telah belajar dan memahami konflik
dengan baik maka mereka akan mengetahui bahwa konflik merupakan bagian dari
kehidupan manusia atau kehadiran konflik pasti terjadi atau tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan manusia.
Mengapa demikian? Hal demikian terjadi karena konflik muncul sebagai
konsekuensi logis adanya interaksi atau hubungan antar manusia atau anggota
organisasi. Jangan berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain, jika tidak
menginginkan atau tidak menghendaki adanya konflik. Boleh juga kita mengatakan,
silahkan hidup di dalam hutan seorang diri, apabila ia ingin terhindar dari konflik.
Persoalan yang perlu didiskusikan adalah menjawab konflik seperti apa yang dapat
dipelihara dan konflik mana yang tidak bisa ditoleransi. Konflik mana yang fungsional
dan mana disfungsional. Tugas utama unsur pimpinan organisasi adalah mengelola
konflik dalam dalam meningkatkan prestasi kerja atau untuk mendukung tercapai
tujuan organisasi. Pertanyaan ini dan pendalaman konflik dalam organisasi akan
dijelaskan pada Bab tersendiri.
5.
Budaya Organisasi
Setiap organisasi apapun memerlukan dan perlu membangun budaya organisasi.
Budaya menentukan hebat tidaknya organisasi dan selalu menjadi identitas utama
organisasi. Untuk itu, budaya organisasi bukan hanya harus ada, tetapi yang jauh lebih
44
Bab 3 – Ruang Lingkup Perilaku Organisasi Publik
penting adalah setiap anggota organisasi wajib mengamalkan dan menjunjung tinggi
budaya organisasi. Sutrisno (2010; 2) menegaskan bahwa budaya organisasi sebagai
perangkat sistem nilai-nilai (values), keyakinan-keyakinan (beliefs) atau norma-norma
yang telah lama berlaku, disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi
sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasi.
45
Teori Perilaku Organisasi Publik
46
BAB 4
Terbentuknya Perilaku
Organisasi Publik
D
alam Bab 4 ini akan dijelaskan dan dianalisis beberapa tokoh yang memiliki
kontribusi cukup besar pada kajian perilaku organisasi. Beberapa pemikir
yang memberikan sumbangan cikal bakal kajian perilaku organisasi sampai
perkembangan dewasa ini antara lain: (1) Plato (Yunani); (2) Max Waber (Jerman);
(3) Frederyc Taylor (Amerika Serikat); (4) Chester Barnard; (5) Henri Fayol; (6) Mary
Parker Follett; (7) Frederick Herzberg; (8) Abraham Maslow; (9) Herbert A. Simon;
(10) David McClelland; (11) Victor Vroom; (12) Elton Mayo; (13) Douglas McGregor;
(14) Warren Bennis; dan (15) Robbins, Stephen P. Beberapa tokoh yang dipilih ini
barangkali tidak memuaskan bagi sebagian penulis atau pemikir. Tidak apa dan hal
ini wajar saja atau sudah biasa terjadi. Selain itu, sebagian pemikir perilaku organisasi
akan dijelaskan ide atau inti gagasannya pada uraian berikut atau tidak semua tokoh
ditampilkan idenya. Untuk penulis buku tentang perilaku organisasi di Indonesia juga
cukup banyak antara lain: (1) Sondang P. Siagian; (2) Miftah Thoha; (3) Taliziduhu
Ndraha; (4) Notoatmodjo; (5) Makmuri Muchlas dan beberapa penulis lainnya.
Bahasan penting berikutnya setelah mengungkap ide atau gagasan perilaku
organisasi dari beberapa tokoh adalah penjelasan tentang terbentuknya perilaku
organisasi (publik) dan hukum-hukum perilaku organisasi. Bahasan ini menjadi
pilihan penulis buku karena terbentuknya perilaku menjadi salah satu kajian wajib
untuk diketahui bagi siapapun yang sedang mempelajari perilaku organisasi (publik).
Demikian juga hukum-hukum perilaku organisasi (publik). Penjelasan tentang
beberapa sub bahasan yang dipilih pada Bab IV dijelaskan seperti uraian berikut.
47
Teori Perilaku Organisasi Publik
4.1
AHLI PERILAKU ORGANISASI
Penulis ulang kembali bahwa ahli atau tokoh pendukung perilaku organisasi antara
lain adalah (1) Plato (Yunani); (2) Max Waber (Jerman); (3) Frederyc Taylor (Amerika
Serikat); (4) Chester Barnard; (5) Henri Fayol; (6) Mary Parker Follett; (7) Frederick
Herzberg; (8) Abraham Maslow; (9) Herbert A. Simon; (10) David McClelland; (11)
Victor Vroom; (12) Elton Mayo; (13) Douglas McGregor; (14) Warren Bennis; dan
(15) Robbins, Stephen P. Beberapa ahli atau tokoh yang dipilih oleh penulis buku ini
tidak semua dijelaskan ide pemikirannya, melainkan hanya beberapa saja yang dipilih.
Bagaimana isi ide atau gagasannya tentang perilaku organisasi, dijelaskan secara garis
besar, seperti penjelasan berikut.
4.1.1
Plato
Tokoh ini dikenal sebagai salah satu filosof Yunani kuno yang begitu terkenal sampai
sekarang. Malahan Plato sendiri diklaim oleh banyak ahli dan ia dianggap sebagai
ahli macam-macam ilmu, sehingga tidak jarang ia diklaim sebagai ahli ekonomi, ahli
politik, ahli perilaku manusia, ahli hukum, ahli negara dan ahli lainnya. Khusus perilaku
manusia yang menjadi pemikiran Plato yang disarikan oleh Indrawijaya (1989: 14) dan
Thoha (2007: 11) dinyatakan pandangannya bahwa jiwa manusia dapat dibagi menjadi
3 (tiga) bagian yakni: (1) Philosopic (filsafat); (2) Sprited (ambisi); dan (3) Appetite
(nafsu makan). Philosopic merupakan keinginan untuk mencapai ilmu pengetahuan,
Sprited merupakan aspek jiwa manusia yang berusaha untuk mencari kekuasaan dan
ambisi, sedanglan Appetite merupakan keinginan manusia untuk memenuhi selera
hidup antara lain makanan, minum, sandang, papan, seks dan uang atau materi. (the
philosophie, the ambitious, and the lovers of gain). Oleh karena itu, manusia menurut
Plato digolongkan menjadi 3 (tiga) tipe yaitu: (1) filosofis; (2) ambisius; dan (3) pencinta
keberuntungan (lovers of gain). keberuntungan (lovers of gain).
1.1.2
Max Weber
Ide dasar Max Weber (1973) tentang perilaku menekankan pada aspek struktur yang
ditimbulkan oleh rasa tidak percaya kepada kesanggupan dan kemampuan manusia
untuk: (1) menciptakan rasionalitas tertentu; (2) mendapatkan informasi yang baik;
dan (3) membuat keputusan yang objektif. Jadi, premis perilaku menusia yang nampak
tercermin pada realitas yang menunjukkan bahwa seseorang selalu membutuhkan
bantuan orang lain untuk sampai kepada pertimbangan-pertimbangan yang baik.
Untuk itu, struktur merupakan jawabannya. Jadi, cara mengatur struktur (tata
hubungan kerja) di dalam organisasi, spesialisasi prosedur dan aturan-aturan menjadi
penentu pengambilan keputusan dapat dibuat secara konsisten dan sistimatis. Unsur
yang berperan sangat besar dalam organisasi adalah kepatuhan pada prosedur oleh
48
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
otoritas dan besarnya rasa tanggung jawab yang ada pada para pejabatnya. Selanjutnya
Weber menyatakan bahwa setiap pejabat dapat memperoleh otoritas dari sumbersumber otoritas yang terdiri dari: (1) Otoritas yang rasional dan sah; (2) Otoritas
yang tradisional; dan (3) Otoritas kharismatik. Dijelaskan lebih lanjut oleh Weber
bahwa otoritas yang rasional dan sah diciptakan oleh tingkat dan posisi yang dipegang
oleh seseorang pejabat didalam suatu hierarki; otoritas yang tradisional diciptakan
oleh kelas-kelas dalam masyarakat dan juga oleh adat kebiasaan, sedangkan otoritas
kharismatik ditimbulkan oleh potensi kepribadian dari sang pejabat.
4.1.3
Henry Fayol
Buku yang sangat terkenal hasil karya Henry Fayol adalah Administrasi Industri dan
Umum (General and Industrial Administration) tahun 1919. Teori administrasi yang
diusulkan oleh Fayol dikenal sebagai pendekatan fungsional. Karya Fayol yang sangat
terkenal terkait dengan 14 prinsip organisasi. Fayol (1949) menegaskan ada 14 Prinsif
organisasi yaitu: (1) Pembagian kerja (Division of work); (2) Wewenang (Authority and
responsibility); (3) Disiplin (Discipline); (4) Kesatuan komando (Unity of command);
(5) Kesatuan arah (Unity of direction); (6) Mendahulukan kepentingan umum di
atas kepentingan individu (Subordinasi kepentingan individu); (7) Remunerasi; (8)
Sentralisasi (Centralization); (9) Rantai scalar (Hierarki/Rantai Skalar/Garis Otoritas
(tingkatan); (10) Tata tertib atau Ketertiban (Order); (11) Keadilan dan kejujuran;
(12) Stabilitas masa kerja para pegawai atau Jenjang Karir Personel; (13) Inisiatif atau
Prakarsa (Inisiative) dan (14) Esprit de corps atau Semangat kesatuan dan semangat
korps.
4.1.4
Taylor
Nama lengkap Taylor adalah Frederick Winsloe Taylor (1919). Ia ahli dari Amerika
Serikat yang mengenalkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah (Principle of Scientific
Manajemen). Taylor menyarankan 3 (tiga) hal mendasar sebagai tujuan dari gerakannya
yaitu: (1) Amerika Serikat telah dirugikan dengan kerugian yang sangat besar
sebagai akibat tidak adanya efisiensi di hampir setiap usaha; (2) Berusaha untuk
meyakinkan masyarakat Amerika Serikat bahwa pengobatan ketidak-efesiennya
selama ini terletak pada manajemen, bukannya mencari orang-orang yang istimewa
dan (3) Ia membuktikan bahwa manajemen yang baik merupakan suatu ilmu yang
tepat yang berdasarkan pada hukum-hukum, aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang
jelas. Prinsip-prinsip manajemen ilmiah ini dapat diterapkan pada setiap bentuk
aktifitas manusia.
49
Teori Perilaku Organisasi Publik
4.1.5
Elton Mayo
Pendekatan neo klasik muncul melalui serangkaian percobaan yang telah dilakukan
oleh Elton Mayo tahun 1927-1932. Pendekatan ini sering disebut sebagai pendekatan
Human Relations karena aspek yang dikaji berkaitan dengan hubungan antar manusia
dalam organisasi. Pendekatan ini bertumpu pada beberapa prinsip sebagaimana
disarikan oleh Lubis dan Huseini (1987: 2-3) sebagai berikut:
a. Organisasi merupakan suatu sistem sosial di mana hubungan antara para
anggotan sebagai wujud interaksi sosial
b. Interaksi sosial yang terjadi menyebabkan munculnya kelompok non formal
dalam organisasi, yang memiliki norma sendiri dan berlaku serta menjadi
pegangan bagi seluruh anggota kelompok.
c. Interaksi sosial tersebut perlu diarahkan agar pengaruhnya positif bagi prestasi
individu maupun kelompok. Untuk mencapai hal ini memerlukan saluran
komunikasi yang efektif yang memudahkan untuk mengarahkan interaksi sosial
antar anggota demi peningkatan prestasi.
d. Kelompok-kelompok non formal tersebut bisa saja mempunyai tujuan yang
berbeda dengan kepentingan organisasi. Oleh karena itu, pola kepemimpinan
tidak hanya memperhatikan struktur formal, melainkan juga meperhatikan
aspek psiko-sosial pekerja, supaya tujuan kelompok non formal dapat diarahkan
sesuai dengan kepentingan organisasi. Untuk itu, manajemen harus memiliki
keterampilan social, selain keterampilan teknis, sehingga manajemen mampu
membina munculnya ikatan sosial yang baik dalam organisasi.
4.1.6
Douglas McGregor
Douglas McGregor (1960) yang menulis tentang The Human Side of Enterprise
berpandangan bahwa ada 2 (dua) tipe manusia yaitu tipe X dan tipe Y, yang selanjutnya
lebih populer dengan teori X dan teori Y. Kedua teori ini dapat diaplikasikan untuk
manajer dan untuk pegawai (karyawan). Teori X menggambarkan perilaku yang
cenderung negatif, sedangkan teori Y lebih mengambarkan pada perilaku yang positif
sebagaimana disarikan oleh Siagian (1994) dan Thoha (2002). Teori ini seringkali
dikategorikan sebagai Teori Organisasi Klasik.
Teori X berpandangan bahwa manusia yang cenderung berperilaku negatif
mempunyai karakteristik: (1) Manusia tidak senang bekerja atau berusaha menghindari
pekerjaan; (2) Untuk itu, supaya manusia mau dan suka bekerja harus dipaksa, diawasi
dengan ketat atau diancam dengan berbagai tindakan, agar tujuan organisasi tercapai
secara maksimal; (3) Manusia (pekerja atau karyawan) akan berusaha mengelakkan
tanggung jawab dan hanya akan bekerja apabila menerima perintah dari atasan;
dan (4) Kebanyakan manusia (pekerja) mencari rasa aman di atas faktor-faktor
50
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
lainnya serta manusia kurang menunjukkan ambisi untuk maju, sedangkan teori Y
berpandangan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berperilaku positif,
dengan karakteristik: (1) Pekerja memandang bekerja sebagai hal yang bersifat alamiah;
(2) Pekerja akan berkerja dengan baik, tanpa harus selalu diarahkan dan diawasi; (3)
Pekerja pada umumnya akan menerima tanggung jawab yang lebih besar; dan (4)
Manusia (pekerja) akan berusaha menunjukkan kreativitasnya, termasuk berperan
dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari tanggung jawab.
Implikasi dari kedua teori (Teori X dan Teori Y McGregor) bagi organisasi adalah
asumsi-asumsi Teori Y lebih dapat diterima dan dapat membantu manajer dalam
mendesain organisasi dalam mencapai tujuan dan bagaimana memotivasi para pegawai
untuk dapat bekerja lebih baik. McGregor (1960) menegaskan bahwa tahun 1960-an
memperlihatkan antusiasme pekerja yang cukup tinggi untuk berpartisipasi dalam
proses pembuatan keputusan organisasi, penciptaan tanggung jawab dan tantangan
pekerjaan, termasuk pembangunan hubungan kelompok-kelompok kerja yang lebih
baik. Antusiasme ini, sebagian besar, diakibatkan oleh Teori Y dari McGregor dimaksud.
4.1.7
Warren Bennis
Warren Gamaliel Bennis merupakan Profesor yang mendirikan Leadership Institute
di University of Southern California. Warren Bennis merupakan salah satu pakar di
bidang manajemen, khususnya kepemimpinan modern. Buku yang ditulis dan sangat
dikenal adalah: (1) Leaders: Strategies for Taking Change, On Becoming A Leader
dan (2) Managing People Is Like Herding Cats: Warren Bennis on Leadership. Warren
Bennis memberikan penekanan tentang pentingnya kepenguasaan lingkungan oleh
seorang pemimpin. Oleh karena itu, Warren Bennis menegaskan bahwa pemimpin
yang efektif tidak sekedar terpengaruh oleh arus perubahan lingkungan, melainkan
harus bisa menantang dan menguasai lingkungan dengan jalan mengubahnya secara
mendasar. Langkah pertama menurut Warren (1994:32) adalah pemimpin menolak
untuk dikendalikan orang lain dan memilih untuk mengendalikan diri sendiri;
Penguasaan terhadap lingkungan dan pemahaman terhadap-hal-hal yang mendasar
seperti visi penuntun (memiliki pandangan yang jelas apa yang akan dilakukan, baik
secara profesional ataupun pribadi serta kekuatan untuk menghadapi kemunduran
atau kegagalan; Keinginan yang Besar; Integritas. Menurut Warren Bennis, ada tiga
bagian penting tentang integritas; Keingintahuan tentang masalah dan lingkungan
serta kemauan yang kuat untuk memahami dan mencari solusi atas setiap problem
sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Seorang pemimpin yang efektif dalam
kepemimpinannya juga, selain mengenal diri sendiri, juga harus memiliki pengetahuan
dunia, atau pengetahuan global. adalah insting positif.
51
Teori Perilaku Organisasi Publik
4.1.8
Abraham Maslow; dan
Maslow (1943) menyumbangkan pemikiran tentang konsep teori yang dikenal dengan
hierarki kebutuhan (hierarchy of needs). Maslow menegaskan bahwa kebutuhankebutuhan manusia dengan sendirinya membentuk semacam hierarki, yakni dari
kebutuhan fisik (psysiological needs), kebutuhan akan keselamatan atau rasa aman
(safety and security needs) kebutuhan sosial (belongingness and love), kebutuhan
akan penghargaan dan status (esteem and status), sampai dengan kebutuhan akan
perwujudan atau aktualisasi diri (self-actualization).
Kebutuhan fisik, keamanan dan sosial merupakan kebutuhan yang diperlukan
oleh setiap manusia atau diusahakan untuk dapat dipenuhi, sedangkan kebutuhan
keempat dan kelima hanya sebagian manusia yang dapat dipenuhi. Hal ini tercermin
dari gambar segitiga di atas. Makin ke atas makin sedikit orang yang dapat
memenuhinya, khususnya kebutuhan keempat dan kelima. Dengan pernyataan
lain, kebutuhan fisik atau fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar dari hidup
manusia seperti makan, air, pakaian, rumah dan kebutuhan seksual, termasuk
didalamnya adalah perlindungan kesehatan. Kebutuhan keselamatan dan rasa aman
menggambarkan dorongan setiap orang untuk mencari perlindungan. Kebutuhan
rasa memiliki dan kasih sayang atau kebutuhan sosial hubungan interpersonal atau
interaksi sosial dengan orang lain, berteman, mempunyai pacar dan berumah tangga.
Dalam konteks organisasi, kebutuhan ini diselenggarakan secara bersama-sama dalam
suatu team work. Kebutuhan akan status dan penghargaan berkaitan dengan simbolsimbol kesuksesan, seperti gelar kesarjanaan, pengakuan dari orang lain dan pemilikan
barang-barang pribadi yang mewah. Manusia dalam hal ini ingin mendemonstrasikan
kemampuannya dan membangun reputasi yang bisa dibanggakan di depan publik.
Untuk kebutuhan aktualisasi diri merefleksikan hasrat dari individu untuk tumbuh
dan berkembang berdasarkan potensinya secara maksimal. Manusia pada tahap ini
menginginkan adanya tantangan atau peluang dalam bekerja, dan dibarengi hasrat
untuk mandiri dan menunjukkan tanggung jawab penuh. Semua ini menjadi alasan
atau penyebab terjadinya perilaku manusia.
4.1.9
Frederick Herzberg
Hasil studi Maslow ini diperluas lebih lanjut oleh Herzberg, yang disarikan oleh
Davis dan Newstrom (1989: 71-72) yang menegaskan bahwa Herzberg menolak
anggapan faktor pekerjaan tertentu hanya membuat pegawai tidak puas apabila tidak
ada kondisi tertentu. Dengan demikian Herzberg membedakan antara faktor iklim
baik (hygiene factors) atau faktor pemeliharaan sebagai faktor yang diperlukan untuk
mempertahankan tingkat kepuasan dalam diri pegawai, dengan faktor motivasi.
Hal ini bermakna kondisi kerja berfungsi untuk menimbulkan motivasi. Faktor
motivasi terutama berhubungan dengan isi pekerjaan (job content), sedangkan faktor
52
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
pemeliharaan berhubungan dengan isi pekerjaan (job context) karena lebih berkaitan
dengan lingkungan di sekitar pekerjaan. Oleh karena teori Herzberg ini membagi
kedalam dua faktor yang populer dengan two-factor model of motivation.
4.2
TERBENTUKNYA PERILAKU ORGANISASI
Hasil Penelitian Rogers (1974) menemukan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku
baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan
yaitu pertama Awareness (kesadaran) dalam makna orang mulai menyadari arti
mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu; Kedua Interest (ketertarikan) di mana
orang mulai tertarik kepada stimulus; Ketiga Evaluation (evaluasi) yang berkaitan
dengan menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya; Keempat Trial
(mencoba) di mana orang telah mulai mencoba perilaku baru serta Kelima Adoption
(menerima) yang bermakna bahwa si subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Notoatmodjo (2009)
menegaskan bahwa apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka
perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting).
Selain itu, ada beberapa faktor pendorong terbentuknya perilaku. Dessier
(1980:99) menegaskan bahwa motode membentuk perilaku yang menyatakan bahwa
perilaku manusia terbentuk melalui proses dari adanya kebutuhan (needs), keinginan
(want), motivasi, sikap dan niat, yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Kebutuhan
Keinginan
Sikap
Motivasi
Niat
Perilaku
Gambar. 4.1: Perubahan Perilaku Manusia
Sumber: Dessier, Organization Theory, 1980:101
Dalam model yang digambarkan pada Gambar 4.1 menunjukkan bahwa
perilaku manusia atau perubahan perilaku manusia dapat terbentuk melalui suatu
proses dorongan akan adanya kebutuhan dan kebutuhan akan melahirkan keinginan,
53
Teori Perilaku Organisasi Publik
keinginan akan melahirkan motivasi, motivasi akan melahirkan sikap, sikap akan
melahirkan niat dan niat akan melahirkan perilaku. Selain itu, Dessier (1980: 105) juga
menegaskan bahwa terdapat beberapa hukum perilaku manusia yaitu:
a. Hukum Perilaku I: menyatakan bahwa manusia bersifat pasif, sementara
lingkungan bersifat aktif. Perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan yakni
reward dan punishment (behavioristic)
b. Hukum Perilaku II: menyatakan bahwa yang dapat merubah perilaku manusia
adalah dirinya sendiri (mentalistic)
c. Hukum Perilaku III: menyatakan bahwa kegagalan dan kesuksesan akan
membentuk perilaku pada masa berikutnya (accomplishment)
Pertimbangan lain yang sangat penting untuk memahami perilaku sesuai
pendapat Nadler (Dalam Thoha, 2003: 37-47) adalah ada sejumlah prinsip dasar yang
membentuk sifat manusia dan menentukan perilaku manusia yaitu:
a. Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya tidak sama
b. Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda
c. Orang berpikir tentang masa depan dan membuat pilihan tentang bagaimana
bertindak
d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman
masa lalu dan kebutuhannya
e. Orang mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang (afektif)
Beberapa prinsip yang membentuk sifat manusia dapat menjadi acuan dalam
memahami perilaku manusia dalam organisasi atau birokrasi pemerintahan. Bermula
dari sini, kita bisa menemukan mengapa perilaku satu orang dengan orang lain
berbeda, walaupun objek yang dibicarakan sama. Hal ini dapat terjadi karena perilaku
mereka sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam membaca situasi dan kondisi
yang berkembang atau yang terjadi, pertimbangan kebutuhan dan masa depan yang
dapat dipergunakan untuk menentukan bagaimana perilaku yang harus mereka
lakukan, pertimbangan pengalaman-pengalaman dalam perjalanan hidupnya dalam
berorganisasi serta rekasi-reaksi yang mereka hadapi. Untuk itu, faktor lingkungan
menjadi salah satu pertimbangan penting dalam membentuk perilaku manusia. Kita
bisa ambil contoh ada karyawan yang berperilaku yang mengedepankan sopan santun
di hadapan atasan dan di sisi lain, ada pula karyawan yang kurang dari segi sopan
santun. Semua ini terjadi karena ada faktor yang dijadikan pertimbangan oleh pegawai
dalam berperilaku.
Thoha (2002:184) menyatakan bahwa hakekat perilaku birokrasi merupakan
hasil interaksi antara individu-individu dengan organisasinya. Oleh karena itu, untuk
memahami perilaku birokrasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu individu-individu
sebagai pendukung organisasi tersebut. Individu membawa ke dalam tatanan birokrasi,
54
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan dan pengalaman masa
lalunya. Ini semua merupakan karakteristik individu dan karakteristik ini akan dibawa
olehnya manakala individu tersebut akan memasuki suatu lingkungan baru, semisal
birokrasi atau oragnisasi. Jika karakteristik individu berinteraksi dengan karakteristik
birokrasi akan menimbulkan perilaku birokrasi. Untuk itu, model perilaku birokrasi
dapat digambarkan seperti Gambar 4.2.
Karakteristik individu
1. Kemampuan
2. Kebutuhan
3. Kepercayaan
4. Pengalaman
5. Penghargaan
6. dan lain-lain
Perilaku
Birokrasi
Karakteristik Birokrasi
1. Hierarki
2. Tugas-tugas
3. Wewenang
4. Tanggung jawab
5. Sistem Reward
6. Sistem Kontrol
Gambar. 4.2: Model Perilaku Birokrasi
Sumber: Thoha, Perspektif Perilaku Birokrasi, 2002: 185
Model perilaku birokrasi seperti Gambar 4.2 menegaskan bahwa karakteristik
individu yang berinteraksi dengan birokrasi akan melahirkan perilaku birokrasi.
Dengan bahasa lain, untuk memahami perilaku birokrasi harus mengetahui dan
memahami karakteristik individu dan birokrasi terlebih dahulu. Pandangan yang
hampir sama diungkapkan oleh Ndraha (2003: 521) yang menegaskan bahwa perilaku
birokrasi terbentuk dari interaksi antara dua variabel yaitu karakteristik birokrasi dan
karakteristik manusia atau lebih spesifik lagi, struktur dan aktor. Setiap karakteristik
menimbulkan perilaku tertentu. Antara karakteristik dengan perilaku terdapat
hubungan yang sedikit banyak bersifat kausal. Misalnya pada variabel organisasi,
hierarki menimbulkan sifat taat bawahan terhadap atasan.
Variabel manusia, kepentingan atau kebutuhan hidup manuntut imbalan yang
memadahi dari organisasi. Tetapi kadar (Tingkat ketaatan variabel itu, tergantung
pada sejauh mana imbalan yang diharapkan dipenuhi oleh organisasi). Lebih lanjut
dinyatakan bahwa perilaku yang berkisar antara soft (perilaku yang penuh amic
dan ethic: ketaatan dan keiklasan) dengan hard (command, force, coercion, violence:
pembangkangan, perlawanan, permusuhan) merupakan resultant interaksi antara
kedua variabel, yang digambarkan Gambar 4.3.
55
Teori Perilaku Organisasi Publik
Struktur Organisasi
Perilaku Birokrasi
Pribadi Pejabat
(Aktor)
Gambar. 4.3: Model Perilaku Birokrasi
Sumber: Ndraha, Kybernology, Ilmu Pemerintahan, 2003: 522
Model yang ditawarkan Ndraha tidak berbeda dengan yang ditawarkan oleh Thoha.
Atasan dalam model ini bisa mempergunakan kewenangannya untuk mengendalikan
konsekuensi yang tidak terantisipasi atau apabila ada akibat yang tidak diharapkan.
Selain model pada Gambar 4.3. ada pula model perilaku birokrasi pemerintahan yang
dikaitkan dengan masyarakat.
Ndraha (2003: 524) menegaskan bahwa perilaku birokrasi jauh berbeda jika
dipahami dalam hubungan pemerintahan. Hubungan birokratik tidak sama dengan
hubungan pemerintahan. Ketika birokrasi pemerintahan bertindak keluar, terjadilah
hubungan birokratik pemerintahan, tetapi hubungan ini tidak identik dan tidak
analog dengan hubungan birokratik. Dalam banyak hal, yang diperintah dan manusia
bukanlah bawahan pemerintah. Bahkan pada saat rakyat berfungsi sebagai pemegang
kedaulatan, pemerintah berada di bawahnya. Tetapi bagaimanapun, antara kedua belah
pihak terjadi proses pengaruh mempengaruhi dan ada proses interaksi. Modelnya
dapat digambarkan seperti Gambar 4.4.
Model pada Gambar 4.4 menegaskan bahwa ada perilaku konsumen (pengguna
jasa pemerintahan) yang berbeda dengan perilaku konsumer produk-produk ekonomi.
Lingkungan produk ekonomi banyak pilihan (mulai dari pilihan murah dan mudah
sampai pada pilihan yang mahal dan sukar), sedangkan konsumen produk pemerintah
mengandung “no easy choice”, “no other choice” dan bahkan “no choice”. Dalam
hubungan birokratik yang bertindak keluar, manusia atau mereka yang diperintah
(publik) bukanlah bawahan pemerintah. Bahkan pada saat rakyat pada posisi pemegang
kedaulatan, posisi pemerintah berada di bawahnya.
56
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
Struktur
Organisasi
Perilaku
Birokrasi
(Aktor)
Pribadi
Pejabat
Konsumer
Produk-Produk
Pemerintahan
Perilaku
Birokrasi
Pemerintahan
(Aktor)
Gambar. 4. 4: Model Perilaku Birokrasi Pemerintahan (Aktor)
Sumber: Ndraha, Kybernology, Ilmu Pemerintahan, 2003: 524
Apter dalam supriatna (1997: 105) menegaskan bahwa perilaku birokrasi
pemerintahan harus mengakomodasi, meyalurkan dan memperjuangkan kepentingan
rakyat melalui berbagai kebijakan-kebijakan yang tetap bertopang pada nilai-nilai
budaya bangsa, sehingga perilaku birokrasi sesuai dengan budaya dan kepentingan
umum (abdi publik) bersifat integral, yang dapat digambarkan pada Gambar 4.5.
Nilai Kultural
Birokrokrasi
Kepentingan
Umum
Perilaku
Gambar 4.5: Perilaku Birokrasi Pemerintahan
Sumber: Apter Dalam Supriatna (1997) Birokrasi, Pemberdayaan dan Pengentasan Kimiskinan
Harapan publik terhadap pejabat birokrasi seperti yang diungkapkan oleh Apter
hingga kini masih sangat relevan. Pejabat birokrasi harus berperilaku yang dapat
mengakomodasi masukan publik, menyalurkan dan memperjuangankan kepentingan
publik, melalui kebijakan-kebijakan yang selalu berlandaskan pada nilai budaya bangsa,
sehingga perilaku mereka sejalan dengan kepentingan umum, bukan sebaliknya.
Gibson (1984: 52) menggambarkan bahwa perilaku individu birokrasi pemerintah
dipengaruhi oleh variabel-variabel seperti Gambar 4.6.
57
Teori Perilaku Organisasi Publik
Perilaku Birokrasi
Variabel Fisiologis
(Kemampuan Fisik
dan Mental)
Perilaku
Birokrasi
Variabel Psikologis
(Persepsi, Sikap, Kepribadian, Belajar dan
Motivasi)
Lingkungan
(Keluarga, Kebudayaan dan Kelas Sosial)
Gambar. 4.6: Perilaku Birokrasi Pemerintahan
Sumber: Gibson, 1984: 52
Gambar 4.6 seperti yang telah diungkapkan makin memperkaya wawasan bahwa
perilaku birokrasi dipengaruhi oleh banyak variabel. Variabel yang berpengaruh dalam
gambar ini terdiri dari variabel fisiologis (dengan penekanan pada kemampuan fisik
dan mental), psikologis (dengan penekanan pada persepsi, sikap, kepribadian, belajar
dan motivasi) dan lingkungan (dengan penekanan pada keluarga, kebudayaan dan
kelas sosial). Perlu ditegaskan pula bahwa kajian atau pendekatan perilaku juga terus
berkembang dan makin canggih. Supriatna (1997: 108) menegaskan bahwa pendekatan
perilaku birokrasi dewasa ini lebih mengembangkan kualitas, nilai, pelayanan, inovasi,
fleksibel, customer dan pemberdayaan masyarakat, yang dapat digambarkan seperti
Gambar 4.7.
Selanjutnya Kast dan James (2002;390) menegaskan bahwa perilaku adalah cara
bertindak dan menunjukkan tingkah laku seseorang. Pola perilaku merupakan model
tingkah laku yang dipakai seseorang dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Proses
perilaku pada umumnya serupa untuk semua individu, walaupun pola perilakunya
mungkin berbeda. Ada 3 asumsi yang saling berkaitan mengenai perilaku manusia
yaitu: (1) Perilaku itu disebabkan (caused), (2) Perilaku itu digerakkan (motivated) dan
(3) Perilaku itu ditunjukan pada sasaran. Ketiga unsur ini saling terkait dan menjadi
modal dasar perilaku individu serta berlaku untuk siapa dan kapan saja.
58
Bab 4 – Terbentuknya Perilaku Organisasi Publik
Karakteristik
Birokrasi
Karakteristik
Individu
Kualitas Fungsi
Birokrasi
Pelayanan Publik
Nilai, Inovasi, Insentif,
Fleksibel dan Pemberdayaan
Gambar 4.7: Model Perilaku Birokrasi Pemerintahan
Sumber: Supriatna, Birokrasi, Pemberdayaan Dan Pengentasan Kemiskinan, 1997
59
Teori Perilaku Organisasi Publik
60
BAB 5
Teori Perilaku Organisasi Dan
Birokrasi
B
ab 5 yang diberi tema teori perilaku organisasi dan birokrasi akan mengupas
dan menganalisis 2 hal pokok yaitu: (1) Teori perilaku organisasi dan (2) Teori
perilaku birokrasi. Kedua sub tema sengaja dipisahkan karena isi teori dari
keduanya memang hampir sama, tetapi obyek dan subyeknya berbeda. Seperti apa
perbedaan keduanya, dapat dijelaskan seperti uraian berikut.
5.1
TEORI PERILAKU ORGANISASI
Telah dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa perilaku manusia merupakan wilayah
kajian dari psikologi, psikologi sosial dan perilaku organisasi atau perilaku birokrasi
pemerintahan atau publik. Perkembangan kajian perilaku juga dipengaruhi oleh
disiplin ilmu lain, seperti Sosiologi, Antropologi, Psikologi, ilmu politik dan Psikologi
Sosial. Selain itu, setiap perilaku dalam birokrasi pemerintahan atau organisasi, ada
faktor-faktor yang turut berperan didalamnya. Santosa, (2010:1) menegaskan bahwa
psikologi sosial mempelajari tingkah laku manusia di dalam suatu situasi sosial.
Selanjutnya, Krech (1962) dalam Santosa, (2010: 2) menegaskan bahwa psikologi sosial
mempunyai 2 (dua) tujuan yaitu tujuan teoritis dan praktis. Tujuan teoritis berupaya
memahami, mengendalikan dan memprediksi tingkah laku sosial, sedangkan tujuan
praktis untuk memecahkan masalah sosial seperti konflik, prasangka, ketegangan
sosial, kesukuan dan diskriminasi.
Berdasarkan pendapat yang telah diungkapkan dapat diketahui bahwa mereka
yang tertarik untuk melakukan kajian perilaku sosial tidak terlepas dari perilaku
individu. Perilaku yang diamati tetap bersumber dari perilaku individu, tetapi perilaku
61
Teori Perilaku Organisasi Publik
tersebut terjadi dalam situasi sosial atau dalam kontek kelompok. Selanjutnya, Santosa,
(2010: 25) menegaskan bahwa setiap orang mempunyai tingkah laku individual
dan sosial. Tingkah laku individual terlihat dari tanggapan, berpikir, dan perasaan,
sedangkan tingkah laku sosial terlihat dari kerjasama, konflik, kebiasaan sosial dan
aktivitas-aktivitas sosial, sedangkan Belione (1980:1) menegaskan bahwa Organization
theory hypothesis about human behavior ranging from tribes to complex government and
administrative theory-hypothesis about human behavior in work groups as the bases of
much public administration theory.
Pemikiran Belione mempertegas bahwa teori organisasi memiliki kajian
yang sangat luas yaitu membicarakan perilaku manusia mulai dari manusia dalam
kelompok suku ke manusia dalam pemerintahan, termasuk perilaku manusia dalam
kerja kelompok. Oleh karena itu, mengkaji perilaku manusia bisa mengambil unit
analisis individu ataupun kelompok. Hal penting lain yang perlu mendapat perhatian
dalam rangka pemahaman organisasi terkait dengan paradigma yang diyakini. Dalam
mempelajari organisasi dikenal 2 (dua) paradigma yaitu paradigma mekanisme dan
paradigma organisme. Thoha (2008:173) menegaskan bahwa paradigma organisme
lebih menitik beratkan pada manusianya dan cara manusia berperilaku dalam
kegiatan-kegiatan organisasi yang senyatanya. Perilaku manusia dalam hal ini banyak
ditentukan oleh faktor lingkungan dan dirinya sendiri.
Selain itu, teori perilaku organisasi atau The Behaviour Theory of Organization
adalah suatu teori yang memandang organisasi dari segi perilaku anggota organisasi.
Teori ini berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil atau tidaknya organisasi
mencapai sasaran yang telah ditetapkan sangat tergantung dari perilaku atau sikap
kelakuan (behaviour) dari para anggotanya. Dengan demikian menurut teori ini
masalah utama yang dihadapi organisasi adalah bagaimana mengarahkan para anggota
untuk berpikir, bersikap, bertingkah laku atau berperilaku sebagai manusia organisasi
yang baik. Wursanto (2009) menegaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku dapat
berupa sikap, tindakan atau tingkah laku. Perilaku dapat dibagi menjadi tiga macam,
yaitu: (1) perilaku formal, (2) perilaku informal, dan (3) perilaku non formal.
Perilaku organisasi sebagaimana telah dijelaskan termasuk ilmu yang
interdisipliner. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dan analisis perilaku organisasi
yang sangat terbantu dari sejumlah disiplin ilmu yaitu Psikologi, Sosiologi, Psikologi
Sosial, Antropologi dan Ilmu Politik. Bermula dari pemahaman yang demikian maka
perilaku organisasi termasuk bidang ilmu perilaku terapan dan merupakan kajian yang
kompleks seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi serta tuntutan manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga perilaku organisasi merupakan bidang
kajian yang sangat dinamis.
62
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
Middleton (2002: 81) menyatakan bahwa organizational behavior (OB) – The study
of human behavior, attitudes and performancewithin an organizational setting. OB draws
on theory, methods, and principles fromsuch disciplines as psychology, sociology, and
cultural anthropology to learn about individual perception, values, learning capabilities,
and actions while working with groups and within the total organization. OB also can
involve analyzing the external environment’s effect on the organization and its learning
resources, missions, objectives, and strategies.
Lebih lanjut Thoha (2008:201) menegaskan bahwa perilaku organisasi merupakan
bidang studi yang berhubungan dengan semua aspek kegiatan manusia di dalam
suatu organisasi. Hal seperti ini termasuk pengaruh manusia terhadap organisasi dan
pengaruh organisasi terhadap manusia, dengan tujuan praktis untuk menentukan
bagaimanakah perilaku manusia dalam suatu organisasi dapat mempengaruhi proses
pencapaian tujuan organisasi. Pandangan yang tidak berbeda tentang perilaku organisasi
diungkapkan oleh Davis dan Newstrom (1989) yang menyatakan bahwa perilaku
organisasi adalah bidang ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan
tentang bagaimana manusia berperilaku atau bertindak di dalam organisasi. Demikian
juga yang diungkapkan oleh Muchlas yang juga sejalan dengan pendapat-pendapat
sebelumnya. Muchlas (2005:12) menyatakan perilaku organisasi mempelajari apa
saja yang dikerjakan orang-orang dalam suatu organisasi dan bagaimana perilaku
atau tindakan itu bisa mempengaruhi penampilan organisasi. Selanjutnya, perilaku
organisasi dalam arti luas mengkaji hubungan antar manusia, kelompok, organisasi dan
sistem sosial, sedangkan Thoha (2008:197) menyatakan bahwa perilaku organisasi pada
hakekatnya mendasarkan pada ilmu perilaku itu sendiri yang dikembangkan dengan
pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi. Selanjutnya,
Davis dan Newstom (1985: 5) menyatakan pendapatnya bahwa perilaku organisasi
adalah telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang-orang bertindak
di dalam organisasi. Ia juga menegaskan bahwa unsur-unsur pokok perilaku organisasi
yaitu orang, struktur, teknologi dan lingkungan tempat organisasi beroperasi.
Pendapat Davis dan Newstom serta ahli lainnya seperti yang telah diungkapkan
makin mempertegas bahwa perilaku organisasi tidak dapat melepaskan diri dari
perilaku manusia sebagai anggota organisasi atau mereka yang bukan anggota
organisasi. Perilaku organisasi dapat mempelajari perilaku perorangan, kelompok
dan struktur seperti pandangan Robbins dan Scenmerhorn. Scenmerhorn et al.,
(1991: 6) menyatakan bahwa organizational behavior is the study of individuals and
groups in organizations, sedangkan Robbins (2003: 10-11) menegaskan bahwa
perilaku organisasi mempelajari tiga determinan perilaku dalam organisasi yaitu
perorangan (individu), kelompok dan struktur. Di samping itu, perilaku organisasi
menerapkan pengetahuan yang diperoleh mengenai perorangan, kelompok dan efek
dari struktur pada perilaku, agar organisasi bekerja lebih efektif. Perilaku organisasi
63
Teori Perilaku Organisasi Publik
ialah studi mengenai (memperhatikan) apa yang dilakukan orang-orang dalam suatu
organisasi dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kinerja organisasi. Oleh
karena itu, Muchlas (2005:12) menyatakan bahwa perilaku seseorang tidak terjadi
secara kebetulan, tetapi muncul karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam
psikologi ditemukan bahwa setiap perilaku pasti mempunyai alasan-alasan yang
umumnya berhubungan dengan kebutuhan manusia.
Pertimbangan perilaku individu atau kelompok dalam berbagai literatur selalu
berhubungan dengan kebutuhan atau kepentingan. Kebutuhan atau kepentingan
tersebut ada yang bersifat subjektif (berhubungan dengan diri atau kelompoknya) dan
ada yang objektif yaitu sesuai dengan kebutuhan publik atau masyarakat. Dalam praktek,
kedua kebutuhan tersebut (subjektif dan objektif) dapat diperjuangkan sekaligus
dan keduanya sangat penting. Perbedaan dalam memperjuangkan kepentingan
tersebut terletak pada bobotnya. Ada yang menekankan kebutuhan objektif, ada yang
menekankan kebutuhan subjektif dan atau keduanya seimbang. Ada pula pandangan
bahwa setiap perilaku manusia selalu dilandasi oleh kepentingan-kepentingan. Hal ini
bermakna bahwa untuk menggerakkan atau memperoleh dukungan anggota organisasi
wajib memahami perilaku anggota organisasi.
Berpijak pada teori perilaku organisasi, dengan mudah kita bisa mengetahui
dan menganalisis perilaku manusia yang ada di sekitar kita, di kantor, di pasar serta
dimanapun. Mengapa ada laki-laki yang masih bujangan berperilaku suka menolong
gadis-gadis? Teori perilaku berpandangan bahwa setiap perilaku seseorang tidak
timbul dengan sendirinya, tetapi ada motif didalamnya. Motif perilaku selalu berkaitan
dengan kepentingan, tujuan atau kebutuhannya. Untuk itu, perilaku bujangan yang
suka membantu gadis-gadis karena ada kepentingan atau kebutuhan seperti ia berharap
dapat pacar, ia berharap dikenal sebagai laki-laki yang baik dan suka membantu
ataupun motif lainnya. Analisis ini sebagai contoh saja. Sungguhpun begitu, apabila
contoh ini diperhatikan dengan baik maka mahasiswa atau pembaca buku lainnya
akan tahu dengan persis isi teori perilaku organisasi dan tahu dengan persis bagaimana
menggunakan teori ini untuk menganalisis perilaku manusia dalam organisasi.
Maslow. (1943)., dalam bukunya Theory of Human Motivation., menegaskan
bahwa manusia mempunyai lima kebutuhan yaitu:
(1) Kebutuhan Fisiologis (Sandang/pakaian, pangan/makanan, papan/rumah, dan
kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain kebutuhan
yang berhubungan dengan fisik), (2) Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Bebas
dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain
sebagainya), (3) Kebutuhan Sosial (memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan
cinta dari lawan jenis, dan lain-lain) (4) Kebutuhan Penghargaan (pujian, piagam, tanda
jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya), serta (5) Kebutuhan Aktualisasi Diri adalah
kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuai dengan bakat dan minatnya (seperti
64
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
mengaktualisasikan diri untuk menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu tertentu, atau
hasrat untuk mengetahui serta memenuhi ketertarikannya akan suatu hal).
Kebutuhan manusia sebagaimana dijelaskan oleh Maslow merupakan kebutuhan
yang membentuk tingkatan-tingkatan atau memiliki hierarki dari yang paling
penting hingga menurun nilai pentingnya dan dari yang mudah hingga yang sulit
untuk mewujudkannya. Pemenuhan berbagai tingkatan kebutuhan manusia yang
diungkapkan oleh Maslow menjadi faktor pendorong munculnya motivasi dan perilaku
tertentu. Untuk itu, perilaku anggota organisasi (unsur bawahan maupun atasan) juga
dapat dijelaskan dengan mempergunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan manusia.
Abcanian dan Masannat (1970:124) menegaskan bahwa persons of higher socioeconomic status (SES), such as businessmen and professionals, are more involved ini
political opinions. Poor information and no-voting are closely associated with low SES levels,
while the converses is true at higher SES levels. Jadi, kondisi sosial ekonomi mempunyai
pengaruh besar terhadap sikap dan perilaku seseorang. Selain itu, kelas dan status
seseorang sangat ditentukan oleh pekerjaan dan penghasilan. Ada pula pandangan
bahwa setiap perilaku manusia selalu dilandasi oleh kepentingan-kepentingan. Hal ini
bermakna bahwa untuk menggerakkan atau memperoleh dukungan anggota organisasi
wajib memahami perilaku anggota organisasi. Oleh karena itu, mempelajari perilaku
organisasi tidak terlepas dari perilaku manusia di dalamnya.
Muchlas (2005:30-31) menyatakan bahwa filosofi perilaku organisasi selalu
mempertimbangkan dua premis yaitu premis kenyataan dan premis nilai. Premis
kenyataan berisi pandangan deskriptif tentang perilaku dunia dari hasil penelitian
ilmu perilaku dan pengalaman-pengalaman, sedangkan premis nilai mewakili
pandangan tentang sesuatu yang lebih disenangi dari sasaran tertentu. Lebih tegas
Winardi (1989: 140), Hersey (1995:15) berpandangan bahwa perilaku manusia pada
dasarnya berorientasi pada tujuan. Pandangan ini dapat mengilhami setiap orang yang
membacanya bahwa setiap perilaku manusia secara individu maupun sebagai anggota
organisasi serta perilaku sosial, selalu diarahkan untuk mencapai atau mewujudkan
tujuan yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Hersey (1995:16) juga menyatakan
bahwa untuk memahami atau memperkirakan perilaku manusia dapat tercermin atau
terlihat melalui aktivitas-aktivitasnya, perlu diketahui motif atau kebutuhan seseorang,
yang menimbulkan suatu aktivitas, sedangkan motif adalah ikhwal “mengapanya
perilaku. Selanjutnya, Hersey (1995:16) berpendapat bahwa motif dianggap sebagai
kebutuhan, keinginan, dorongan atau gerak hati dalam diri seseorang. Menurut
esensinya, motif merupakan dorongan utama aktivitas manusia.
Dengan pemahaman yang demikian, setiap perilaku manusia dapat diketahui
dari aktivitas-aktivitas yang dilakukannya. Di sisi lain, perilaku manusia tidak muncul
dengan sendirinya, tetapi selalu dimotivasi dan memiliki pertimbangan-pertimbangan
tertentu seperti tujuan, kebutuhan, keinginan atau harapan, sikap dan kepentingan
65
Teori Perilaku Organisasi Publik
mereka. Selain itu, pengaruh penting yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang
menurut Ndraha (1997:36) terkait dengan kemampuan, kebutuhan, cara berpikir
untuk menentukan pilihan, pengalaman dan reaksi terhadap sesuatu. Senada dengan
pendapat Hersey sebagaimana yang ditegaskan oleh Ndraha (1997:33) yang menyatakan
bahwa perilaku (behavior) adalah operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang
atau suatu kelompok dalam atau terhadap sesuatu (situasi dan kondisi) lingkungan
(masyarakat, alam, teknologi, atau organisasi), sementara sikap adalah operasionalisasi
dan aktualisasi pendirian.
Beberapa pendapat yang telah diungkap semakin mempertegas bahwa untuk
memahami perilaku organisasi dapat dilihat dari sikap seseorang dan aktivitasaktivitas yang dilakukannya. Sikap dan aktivitas yang mencerminkan perilaku tidak
akan terlepas dari dorongan akan adanya kebutuhan, keinginan atau harapan dan
kepentingan, cara berpikir untuk menentukan pilihan, pengalaman dan reaksi mereka
terhadap sesuatu (situasi dan kondisi lingkungan). Thoha (2002:184) menyatakan
bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan
lingkungannya, dan mempunyai kandungan pengertian bahwa perilaku seseorang itu
tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan ditentukan sampai seberapa
jauh interaksi antara dirinya dengan lingkungannya, sekaligus merumuskan formula
perilaku individu dengan lingkungannya sebebagai berikut:
P = f (I,L)
P = Perilaku
F = fungsi
I = Individu
L = Lingkungan
Gambar 5.1: Interaksi Individu Dengan Lingkungan
Sumber: Thoha, Perspektif Perilaku Birokrasi, 2002:184
Formula yang telah diungkapkan menurut Thoha bermakna bahwa perilaku
merupakan fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungan. Dengan kondisi
lingkungan yang berbeda, akan menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap
perilaku. Formula ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengamati dan menganalisis
perilaku anggota organisasi. Perilaku organisasi berdasarkan formula tersebut
merupakan hasil interaksi antara individu-individu dengan organisasinya. Selanjutnya,
66
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
perilaku individu yang ditujukan kepada kelompok akan melahirkan perilaku sosial,
yang terwujud melalui interaksi individu dengan kelompok yang dalam dunia akademis
menjadi kajian Psikologi Sosial, perilaku organisasi dan atau birokrasi pemerintahan.
5.2
TEORI PERILAKU BIROKRASI
Kajian tentang perilaku organisasi oleh banyak ahli dianggap lebih luas cakupannya
dibandingkan dengan perilaku birokrasi atau organisasi publik. Dengan pernyataan
lain, perilaku birokrasi merupakan bagian dari perilaku organisasi. Jadi, organisasi
dalam kajian ini bisa berlaku untuk organisasi pemerintah dan non pemerintah,
sedangkan birokrasi lebih dipahami sebagai kajian tentang organisasi pemerintahan
atau publik. Sungguhpun ada perbedaan yang signifikan antar keduanya, tetapi banyak
ahli yang silih berganti menggunakan istilah perilaku organisasi atau birokrasi atau ia
kadang-kadang menyebut perilaku organisasi dan kadang menyebut perilaku birokrasi
atau organisasi publik. Oleh karena tulisan ini berkaitan dengan organisasi publik atau
pemerintahan maka dasar teori yang dipergunakan adalah perilaku birokrasi, dengan
tetap meminjam teori perilaku organisasi.
Perilaku sumber daya aparatur pemerintah atau mereka yang bekerja di birokrasi
pemerintahan, dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masih sering
mendapat sorotan dan kritik publik, terutama pada saat mereka kurang berhasil
memenuhi harapan publik. Kritik dan sorotan publik di Indonesia makin terasa gencar
atau meningkat tajam frekuensinya, setelah berbagai media cetak maupun elektronik
juga memberikan dukungan dalam wujud mempublikasikan kritik dan sorotan publik.
Kedua hal tersebut semakin mendapat soroton publik apabila media sosial juga gencar
mengkritisi. Saking dahsatnya penggunaan media sosial maka media sosial menjadi
media penekan ataupun pendukung yang sangat diperhitungkan. Realitas ini dengan
mudah dapat didengar, disaksikan dan dibaca setiap harinya di berbagai media massa
dan media sosial, setelah bangsa ini memasuki era reformasi. Sorotan dan kritik juga
banyak yang ditujukan pada aktor atau elit birokrasi karena sebagian mereka masih
dianggap kurang melibatkan dan kurang berpihak ke publik.
Dalam praktek birokrasi pemerintahan masih banyak ditemukan patologi
birokrasi atau penyakit birokrasi atau penyimpangan birokrasi (disfunction of
bureaucracy). Siagian (1995: 92-99) menyatakan bahwa patologi atau penyakit birokrasi
terdiri dari: (1) Bertindak sewenang-wenang, (2) Pura-pura sibuk , (3) Paksaan, (4)
Konspirasi, (5) Sikap takut, (6) Penurunan mutu, (7) Tidak sopan, (8) Diskriminasi, (9)
cara kerja yang legalistik, (10) Dramatisasi, (11) Sulit dijangkau, (12) sikap tidak acuh,
(13) tidak disiplin, (14) Inersia, (15) Sikap kaku, (16) Tidak berperikemaunusiaan, (17)
Tidak Peka, (18) Sikap Tidak sopan, (19) sikap lunak, (20) tidak peduli mutu kerja,
(21) salah tindak, (22) semangat yang salah tempat, (23) Negativisme, (24) Melalaikan
67
Teori Perilaku Organisasi Publik
tugas, (25) Rasa tanggung jawab yang rendah, (26) Lesu darah, (27) Paperasserie, (28)
Melaksanakan kegiatan yang tidak relevan, (29) Cara kerja yang berbelit-belit (redtape), (30) Kerahasian, (31) Mengutamakan kepentingan sendiri, (32) Sabotisme, (33)
Sycophancy, (34) Tampering, (35) Imperatif Wilayah kekuasaan, (36) Tokenisme, (37)
tidak professional, (38) sikap tidak wajar, (39) melampui wewenang, (40) Vested interst,
(41) Petentangan kepentingan dan (42) Pemborosan.
Memang pandangan Siagian tersebut sudah lama diungkapkan, tetapi realitas
birokrasi di Indonesia masih sangat relevan untuk ditelusuri melalui pendapatnya.
Untuk itu, perubahan perilaku birokrat mau tidak mau harus dilakukan karena dewasa
ini ada perubahan budaya (culture change) dan perubahan pola pikir (mind set) dalam
berbagai aspek kehidupan. Perubahan dalam hal ini dipicu oleh adanya reformasi
birokrasi. Reformasi birokrasi penting dan harus terus-menerus dilakukan karena
dalam praktek masih terjadi patologi birokrasi. Penyakit ini sudah ada sejak jaman
kerajaan, masa penjajahan, masa awal kemerdekaan dan perjungan fisik sampai masa
reformasi dewasa ini. Dalam masa kerajaan, sistem birokrasi dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan raja (the king assessment).
Arif Saiful (2006), Dwiyanto (2006) dan Sedarmayanti (2009) menegaskan
bahwa ciri-ciri birokrasi masa kerajaan: (1) Penguasa menganggap dan menggunakan
administrasi publik sebagai urusan pribadi, (2) Administrasi adalah perluasan rumah
tangga istana, (3) Tugas pelayanan ditujukan kepada pribadi raja, (4) Gaji para pegawai
adalah kewenangan raja, jadi pegawai mendapat gaji atau tidak adalah kehendak
raja, (5) Para pejabat kerajaan dapat bertindak sekehendak hatinya terhadap rakyat.
Selanjutnya para pejabat lokal dalam urusan birokrasi seperti raja-raja kecil. Tindakan
apapun tidak akan mendapat sanksi raja, sepanjang mereka tetap loyal kepada raja
seperti tetap mengirim upeti atau pajak secara teratur. Perilaku birokrat di masa
kerajaan seperti yang telah diungkapkan tetap dipertahankan di masa penjajahan.
Birokrasi masa penjajahan secara substansial tidak berbeda dengan masa kerajaan.
Corak birokrasi dalam hubungannya dengan publik menurut Arief Saiful (2006:
117-118) dapat dirinci sebagai berikut: (1) Sentralisasi kekuasaan dalam birokrasi
masih tetap dominan dalam praktek penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, (2)
Keputusan dan kebijakan publik tidak pernah bergeser dari penggunaan pola topdown, (3) Kecenderungan semakin tingginya peran pemerintah pusat dalam proses
formulasi kebijakan. Hal demikian masih sangat mewarnai sistem pemerintahan yang
terbentuk. Kondisi demikian ditandai dengan beberapa hal yaitu: (a) Mandulnya
inisiatif dan peran dari birokrasi pemerintahan lokal. Semua berasal dari pemerintah
pusat, (b) Hierarki kekuasaan sangat dominan pada semua tingkat, (c) Semua unit-unit
yang ada dalam birokrasi di daerah secara formal bertanggung jawab kepada puncak
birokrasi yaitu Gubernur Jenderal Belanda, (4) Stuktur birokrasi ramping, tetapi efisien
yang ditopang oleh kekuatan militer yang kuat dan profesional.
68
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
Selanjutnya birokrasi di masa Orde Lama makin pelik lagi problemnya. Pengaturan
birokrasi sangat dipengaruhi oleh perbedaan bentuk negara (Kesatuan atau federal) yang
masih menjadi polemik, ancaman disintegrasi dan keutuhan aparatur negara. Menteri
Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan): (1995) menegaskan bahwa ada 2 persoalan
dilematis seputar birokrasi. Pertama, bagaimana cara menempatkan pegawai republik
Indonesia yang telah berjasa mempertahankan Indonesia dari penjajahan, tetapi dalam
satu sisi mereka tidak memiliki keahlian dan pengalaman dalam bekerja. Kedua,
bagaimana menempatkan mantan para pegawai yang telah bekerja saat pemerintahan
kolonial Belanda, yang mana mereka mempunyai keahlian dan keterampilan dalam
bekerja, akan tetapi mereka dinilai telah berkhianat kepada Indonesia.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa peran sumber daya aparatur pemerintah
dalam beberapa aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial budaya dan hukum,
termasuk kebijakan anggaran juga sangat besar, memiliki posisi yang menentukan dan
strategis. Mereka bukan hanya sebagai pemikir dan perencana, melainkan juga sebagai
pelaksana, pemberi motivator, pengawas pembangunan dan penentu sukses tidaknya
pembangunan dalam rangka memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat, bangsa dan negara. Peran besar, penentu dan strategis dari sumber daya
aparatur pemerintahan juga sangat terlibat pada formulasi kebijakan anggaran. Dalam
proses formulasi kebijakan tersebut, ada perilaku birokrasi pemerintahan yang dapat
diamati dan dianalisis.
Oleh karena itu, birokrasi yang harus diciptakan adalah birokrasi yang terbuka,
profesional dan akuntabel. Birokrasi yang dapat memicu pemberdayaan masyarakat,
dan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat tanpa diskriminasi. Birokrasi
demikian dapat terwujud apabila terbentuk suatu sistem di mana terjadi mekanisme
birokrasi yang efisien dan efektif dengan menjaga sinergi yang konstruktif di antara
pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Untuk sampai kepada harapan tersebut
maka pembangunan birokrasi harus berangkat dari titik yang sama. Titik tersebut
terkait dengan pilihan untuk membangun birokrasi yang harus dimulai dari elit
birokrasi, elit legislatif atau elit yudikatif. Pembangunan birokrasi juga bisa berlangsung
bersamaan di ketiga elit tersebut. Pilihan fokus kepada elit penting karena kelompok
ini mempunyai pengaruh yang besar dan menentukan di masyarakat. Banyak pakar
sosiologi yang menegaskan bahwa masyarakat Indonesia lebih bersifat paternalistik.
Masyarakat demikian membetuk pola hubungan yang dalam sosiologi dikenal sebagai
pola patron-klien. Patron mewakili kelompok elit, aktor, tokoh, pemimpin, sedangkan
klien mewakil masyarakat bawah, pengikut atau bukan aktor dan elit. Kelas elit sebagai
penentu, sedangkan klien sebagai pengikut. Untuk itu, apa yang dilakukan oleh kelas
elit dengan mudah akan ditiru dan diikuti kelas bawah. Jika elit berperilaku korup
maka kelas bawah menjadi tidak percaya atau menjadi ikut-ikutan dengan yang di atas.
69
Teori Perilaku Organisasi Publik
Dalam rancangan induk reformasi birokrasi pemerintahan tahun 2005 – 2025
yang dirumuskan oleh Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN),
reformasi birokrasi (RB) memiliki visi terwujudnya pemerintahan negara yang
baik (Good Governance). Untuk mewujudkan visi tersebut, dirumuskan misi untuk
mewujudkan birokrasi yang bersih, profesional, transparan dan akuntabel dalam
merumuskan kebijakan pemerintah, melayani dan memberdayakan masyarakat,
dengan sasaran reformasi birokrasi yang mencakup: (1) menciptakan birokrasi yang
bersih, (2) birokrasi yang efisien, (3) birokrasi yang transparan, (4) birokrasi yang
melayani dan (5) birokrasi yang terdesentralisasi.
Berdasarkan rancangan ini maka reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara
terus-menerus dan konsisten, sehingga hasil dan kemajuan reformasi dapat dinilai dan
diukur keberhasilannya, sekaligus tujuan reformasi dapat diwujudkan. Kristiadi (2009:
2) menegaskan bahwa tujuan praktis reformasi birokrasi adalah menjadikan Instansi
Pemerintah sebagai organisasi yang: (1) Memiliki kinerja tinggi dalam menjalankan
tugas dan fungsinya, (2) Efektif, efisien, akuntable, dan terukur, (3) Bersih, disiplin
dan memiliki sumber daya manusia yang beretos kerja baik, (4) Responsif terhadap
tuntutan dan kebutuhan masyarakat, (5) Professional dan berbudaya melayani.
Dalam dunia akademis, reformasi birokrasi dapat dikelompokan menjadi reformasi
fisik atau organisasi atau Lembaga atau struktur dan reformasi budaya (mental) atau
Minset, yang terlihat pada perilaku birokrat. Perilaku birokrat dapat dijelaskan dari teori
psikologi, psikologi sosial dan teori perilaku organisasi atau teori perilaku birokrasi
pemerintahan, sebagaimana telah dijelaskan. Selain itu, perkembangan kajian perilaku
juga dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain, seperti Sosiologi, Antropologi dan Psikologi.
Selain itu, setiap perilaku dalam birokrasi pemerintahan atau organisasi, ada faktorfaktor yang turut berperan didalamnya.
Pandangan menarik berikutnya seperti yang didiskusikan oleh Marx dan
Hegel. Salah satu yang dapat dicatat bahwa birokrasi merupakan instrument yang
dipergunakan oleh kelas yang dominan untuk melaksanakan dominasinya atas kelaskelas sosial lainnya. Diskusi selengkapnya seperti yang disarikan oleh Thoha. Thoha
(2005: 22-23) merangkum perbedaan dan perdebatan antara Marx dan Hegel: Hegel
berpandangan bahwa birokrasi merupakan jembatan antara Negara dan rakyat. Rakyat
terdiri dari kelompok-kelompok profesional, usahawan dan kelompok-kelompok
tertentu yang mewakili kepentingan particular (khusus), sedangkan Negara mewakili
kepentingan umum (the general interst). Di antara keduanya, birokrasi pemerintah
merupakan medium yang bisa dipergunakan untuk menghubungkan kepentingnan
khusus tersebut dengan kepentingan general (umum). Marx sendiri berbeda dengan
Hegel. Marx berpandangan bahwa birokrasi tidak mewakili publik, tetapi mewakili diri
sendiri. Negara bukan mewakili kepentingan umum. Tidak ada kepentingan umum
(general) itu, yang ada adalah kepentingan particular mendominasi kepentingan
70
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
particular lainnya. Kepentingan particular yang memenangkan perjuangan kelas
menjadi kelas yang dominan dan berkuasa. Birokrasi adalah Negara atau pemerintah
itu sendiri. Birokrasi merupakan instrument yang dipergunakan oleh kelas yang
dominan untuk melaksanakan dominasinya atas kelas-kelas sosial lainnya. Birokrasi
memihak kepada kelas partikuler yang mendominasi tersebut.
Berpijak dari beberapa penjelasan yang telah diungkapkan maka kita dapat
mempelajari perilaku birokrasi tidak akan dapat melepaskan diri dari perilaku manusia
di dalamnya. Thoha (2008:198) menegaskan bahwa secara tradisional, birokrat
memahami dimensi manusia dalam organisasi didekati dari asumsi-asumsi ekonomi,
sekuriti, produktivitas, efektivitas dan efisiensi. Selanjutnya, analisis perilaku organisasi
dapat dianalisis dari 3 tingkatan yaitu analisis pada tingkat individu, tingkat kelompok
dan tingkat organisasi. Birokrasi adalah negara atau pemerintah itu sendiri. Pandangan
ini dalam praktek dapat diaplikasikan dan salah satu contohnya dalam formulasi
kebijakan perencanaan pembangunan dan anggaran yang banyak didominasi oleh
pendekatan dari atas (pejabat birokrasi). Menurut pandangan Rasyid (1999: 4) bahwa
birokrasi merupakan pihak yang paling aktif dalam kegiatan pengelolaan kekuasaan
negara sehari-hari.
Selanjutnya Ndraha (2003: 521) menyatakan bahwa birokrasi pemerintahan
didefinisikan sebagai struktur pemerintahan yang berfungsi memproduksi jasa
publik atau layanan civil tertentu berdasarkan kebijakan yang ditetapkan dengan
mempertimbangkan pilihan dari lingkungan, sedangkan Abdullah (1991: 17)
menegaskan bahwa ada beberapa karakteristik birokrasi yang melekat pada tubuh
pemerintahan Indonesia yaitu: (1) Aparatur Negara (terutama aparatur pemerintah)
masih belum efisien dan efektif, (2) Telah dilaksanakan debirokratisasi dan deregulasi,
namun beberapa fungsi, misalnya perijinan masih berbelit-belit, (3) Koordinasi,
integritas dan sinkronisasi antara aparat pemerintah terutama dalam perumusan politik
pemerintah (public policy) masih sangat lemah, (4) Selain korupsi dan nepotisme,
masih terjadi pemborosan keuangan Negara karena kekurang mampuan pejabat
(Pegawai Negeri) dan belum berkembangnya profesionalisme (5) Sistem karier dengan
sistem prestasi juga belum mapan, (6) Aparat pemerintah masih terlalu sentralisasi, (7)
Jumlah pegawai negeri sipil yang besar.
Beberapa karakteristik birokrasi yang masih banyak ditemukan antara lain
sentralisasi masih kuat, terutama yang terkait dengan kebijakan publik, koordinasi,
integritas dan sinkronisasi antara aparat pemerintah masih lemah, belum efisien dan
efektif serta belum profesionalisme. Sentralisasi yang kuat akan menyulitkan partisipasi
publik, koordinasi menjadi penyakit abadi birokrasi dan profesionalisme yang belum
berkembang. Thoha (2002:184) menyatakan bahwa hakekat perilaku birokrasi
merupakan hasil interaksi antara individu-individu dengan organisasinya. Oleh
karena itu, untuk memahami perilaku birokrasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu
71
Teori Perilaku Organisasi Publik
individu-individu sebagai pendukung organisasi tersebut. Individu membawa ke
dalam tatanan birokrasi, kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan
dan pengalamanan masa lalunya. Ini semua merupakan karakteristik individu dan
karakteristik ini akan dibawa olehnya manakala individu tersebut akan memasuki
suatu lingkungan baru, semisal birokrasi atau oragnisasi.
Berpijak pada beberapa permasalahan tentang birokrasi maka Ngusmanto (2015:
110) menegaskan bahwa ada beberapa argumentasi atau alasan penting mengapa
reformasi birokrasi perlu mendapat prioritas utama, yaitu:
(1) Kemampuan birokrasi dalam menyelenggarakan pembangunan masih kurang
memadahi;
(2) Netralitas birokrasi belum terbangun, sehingga birokrasi dalam realita cenderung
berorientasi kepada yang kuat (mengabdi kepada penguasa) atau mudah ditariktarik atau digoda oleh kelompok elit yang berkuasa;
(3) Makin kuatnya politik transaksi dalam birokrasi, sehingga kondisi ini makin
menyulitkan upaya mewujudkan clean and good government;
(4) Unsur-unsur nonbirokratik sangat berpengaruh terhadap birokrasi, sehingga
birokrasi sering kali menjadi tidak berdaya atau dijadikan alat;
(5) Birokrasi sangat lamban dan ada kecenderungan makin bertambah birokratik;
(6) Belum diterapkannya prinsif ramping dalam struktur, tetapi kaya dalam hal
fungsi. Praktek yang terjadi malahan menerapkan struktur yang gemuk, tetapi
fungsi yang minim, sehingga fenomena yang bermunculan tidak efisien, sulit
melakukan perubahan atau penyesuaian atau boros dalam penganggaran;
(7) Tumbuhnya organisasi baru dengan tugas dan fungsi yang overlapping dengan
organisasi yang sudah ada serta masih banyak masalah lainnya. Hal demikian
juga bermakna bahwa birokrasi pemerintah belum tepat fungsi dan ukuran (right
sizing). Di sisi lain, struktur birokrasi gemuk atau gendut, sehingga kondisi ini
akan memunculkan penyakit seperti lamban, menimbulkan rantai atau prosedur
yang panjang dan makin menjamurnya KKN.
Atas dasar permasalahan yang ada dalam birokrasi dan tahapan kemajuan
reformasi yang telah dilakukan pemerintah maka tujuan reformasi birokrasi di
Indonesia yang dirumuskan oleh kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi (Men PAN-RB) dalam Ngusmanto (2015: 111) adalah menciptakan
birokrasi yang profesional, dengan karakteristik:
a.
b.
c.
d.
e.
72
Berintegritas tinggi
Berkinerja tinggi
Bebas dan bersih dari KKN
Mampu melayani publik
Netral
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
f. Sejahtera
g. Berdedikasi
h. Memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara
Berpijak pada beberapa argumentasi permasalahan birokrasi yang telah dijelaskan
maka Ngusmanto (2015: 111) menegaskan bahwa pembangunan atau perbaikan
birokrasi harus dapat mewujudkan:
(1)
(2)
(3)
(4)
Birokrasi yang memiliki struktur yang ramping, tetapi kaya akan fungsi
Birokrasi yang bersih dan berkualitas;
Birokrasi yang transparan (terbuka), profesional dan akuntabel;
Birokrasi yang dapat memberdayakan dan menumbuhkan partipasipasi
masyarakat
(5) Birokrasi yang efisien
(6) Birokrasi yang berbudaya melayani
(7) Birokrasi yang terdesentralisasi
(8) Birokrasi yang memiliki kapasitas untuk melaksanakan tugas dan fungsi umum
dan pembangunan
(9) Birokrasi yang responsif terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat
Hal penting berikutnya terkait dengan teori perilaku birokrasi. Muchlas
(2005:12) menyatakan bahwa perilaku seseorang tidak terjadi secara kebetulan, tetapi
muncul karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam psikologi ditemukan
bahwa setiap perilaku pasti mempunyai alasan-alasan yang umumnya berhubungan
dengan kebutuhan manusia. Selanjutnya, Winardi (1992: 140), Hersey dan Balnchard
(1995:15) berpandangan bahwa perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada
tujuan. Pandangan ini dapat mengilhami setiap orang yang membacanya bahwa setiap
perilaku manusia secara individu maupun sebagai anggota organisasi atau birokrasi
pemerintahan serta perilaku sosial, selalu diarahkan untuk mencapai atau mewujudkan
tujuan yang telah mereka tetapkan sebelumnya.
Hersey (1995:16) juga menyatakan bahwa untuk memahami atau memperkirakan
perilaku manusia dapat tercermin atau terlihat melalui aktivitas-aktivitasnya, perlu
diketahui motif atau kebutuhan seseorang, yang menimbulkan suatu aktivitas,
sedangkan motif adalah ikhwal “mengapanya perilaku. Selanjutnya, Hersey (1995:16)
berpendapat bahwa motif dianggap sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan atau
gerak hati dalam diri seseorang. Menurut esensinya, motif merupakan dorongan
utama aktivitas manusia. Pertimbanan lain yang sangat penting untuk memahami
perilaku sesuai pendapat Nadler (Dalam Thoha, 2003: 37-47) adalah ada sejumlah
prinsip dasar yang membentuk sifat manusia dan menentukan kenapa ada perbedaan
dalam berperilaku. Prinsip tersebut yaitu:
a. Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya tidak sama
73
Teori Perilaku Organisasi Publik
b. Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda
c. Orang berpikir tentang masa depan dan membuat pilihan tentang bagaimana
bertindak
d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman
masa lalu dan kebutuhannya
e. Orang mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang (afektif)
Sejumlah prinsif yang telah diungkapkan dan berpengaruh besar terhadap
perilaku birokrasi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan ada faktor yang
pendorongnya. Faktor pendorong terjadinya perilaku birokrasi sangat berkaitan
dengan kebutuhan atau kepentingan manusia. Dalam kaitannya dengan kebutuhan
maka Maslow (1943) dalam bukunya Theory of Human Motivation menegaskan bahwa
manusia mempunyai lima kebutuhan yaitu: (1) Kebutuhan Fisiologis (Sandang/
pakaian, pangan/makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang
air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain kebutuhan yang berhubungan dengan
fisik), (2) Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Bebas dari penjajahan, bebas dari
ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya), (3) Kebutuhan
Sosial (memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lainlain) (4) Kebutuhan Penghargaan (pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi
lainnya), serta (5) Kebutuhan Aktualisasi Diri adalah kebutuhan dan keinginan untuk
bertindak sesuai dengan bakat dan minatnya (seperti mengaktualisasikan diri untuk
menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu tertentu, atau hasrat untuk mengetahui serta
memenuhi ketertarikannya akan suatu hal).
Penulis tegaskan lagi bahwa berpijak pada teori perilaku birokrasi yang telah
diungkapkan maka perilaku birokrasi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan
setiap perilaku pasti mempunyai alasan atau kepentingan dan motif di dalamnya.
Pertimbangan utama berkaitan dengan kebutuhan atau kepentingannya. Muchlas
(2005) dan Thoha (2008) menegaskan bahwa inti teori perilaku birokrasi menganalisis
tentang perilaku seseorang dan alasannya. Jadi, perilaku seseorang tidak muncul secara
tiba-tiba atau secara kebetulan, melainkan memiliki motif atau alasan tetentu. Dengan
meminjam teori ini, kita dapat menganalisis dan mengetahui perilaku pejabat negara
atau publik, pejabat birokrasi, pimpinan dan anggota DPR/DPRD, politisi, dosen,
mahasiswa dan atau boleh perilaku siapa saja.
Salah satu contoh aplikasi teori perilaku birokrasi dapat diperhatikan penjelasan
berikut. Dalam beberapa bulan terakhir, kita disuguhi oleh banyak kebijakan pemerintah
yang dapat memberatkan masyarakat alias belum pro rakyat. Seperti membangun
infrastruktur, tetapi sumber utama pembiayaan berasal dari utang, menghapus dana
bantuan sosial, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, kenaikan iuran BPJS, Harga
tiket sejumlah kereta api (KA) kelas ekonomi dinaikkan, kenaikan Tarif dasar Listrik,
masuknya tenaga kerja asing di satu sisi dan di sisi lain, pengangguran dalam negeri
74
Bab 5 – Teori Perilaku Organisasi Dan Birokrasi
tinggi, LPG 5,5 kg (tidak ada subsidi) didorong dapat menekan LPG 3 kg (bersubsidi),
produk baru bahan bakar minyak pertalite terus ditingkatkan pasokannya, sedangkan
jenis premium dikurangi dan Kenaikan tarif baru STNK dan BPKB yang mulai berlaku
sejak 6 Januari 2017.
Tarif dasar listrik terpaksa naik karena harga jual selama ini belum memenuhi nilai
keekonomian atau PLN rugi terus jika harga tetap rendah, sehingga hutangnya makin
membengkak. Oleh karena itu, kebijakan instannya (mudahnya), tarif dasar listrik
wajib dinaikkan secara berkelanjutan (setiap dua bulan atau secara berkala). Alasan
penting berikutnya, rakyat juga harus diberi pembelajaran untuk hidup hemat listrik
dan bahkan tidak tergantung terus-menerus dengan subsidi listrik. Inilah argumentasi
pengambil kebijakan dan publik diharapkan dapat memahami dan menerimanya.
Naik sih boleh-boleh saja. Persoalannya adalah jangan naik secara berkelanjutan atau
berkala setiap 2 -3 bulan sekali, sehingga masyarakat ada kesempatan untuk bernapas
atau dapat mengatur biaya hidup, untuk mengatasi harga barang yang semuanya
berlomba-lomba naik.
Bagaimana dengan produk baru LPG 5,5 kg dan bahan bakar pertalite. Kebijakan
ini tidak banyak dipersoalkan publik karena banyak diantara mereka yang belum
mencermati dan bahkan tidak tahu. Kebijakan LPG 5,5 kg menurut pengambil
kebijakan untuk menghindari penyelewengan elpiji 3 kg di lapangan atau menekan
subsidi yang salah sasaran. Selama ini banyak pengguna LPG 3 kg yang sebenarnya
bukan haknya. Untuk menarik konsumen pengguna tabung LPG 3 kg dan dapat segera
berlalih ke tabung LPG 5,5 kg maka pengambil kebijakan menawarkan kepada mereka
untuk tukar langsung tabung LPG 3 kg dengan 5,5 kg tanpa tambahan biaya. Memang
di masa awal kebijakan, pemerintah (Pertamina) akan merugi, tetapi hanya sekali dan
setelah itu beban subsidi akan berkurang dan bahkan negara bisa terbebas dari beban
subsidi serta mendapat keuntungan yang besar tanpa ada demo, protes dan kemarahan
publik.
Kebijakan kenaikan tarif baru STNK dan BPKB yang mulai berlaku efektif 6
Januari 2017 mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016 tentang
Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB). Besaran kenaikan biaya
kepengurusan surat-surat kendaraan ini naik dua sampai tiga kali lipat dibandingkan
dengan tarif lama. Untuk penerbitan STNK roda dua maupun roda tiga, pada peraturan
lama hanya membayar Rp 50.000, peraturan baru membuat tarif menjadi Rp 100.000.
Untuk roda empat, dari Rp 75.000 menjadi Rp 200.000. Kenaikan cukup besar terjadi
pada penerbitan BPKB baru dan ganti kepemilikan (mutasi). Roda dua dan tiga yang
sebelumya dikenakan biaya Rp 80.000, dengan peraturan baru ini, akan menjadi Rp
225.000. Roda empat yang sebelumnya Rp 100.000 kini dikenakan biaya Rp 375.000
atau meningkat tiga kali lipat. Naiknya kelewatan besar dan tentu sangat membebani
kehidupan masyarakat menengah ke bawah.
75
Teori Perilaku Organisasi Publik
Kebijakan yang dijadikan contoh di atas mengesankan tidak ada masalah bagi
pejabat dan orang-orang berduwit atau kelas atas. Berbeda halnya bagi mereka yang
kritis dan pro publik. Mereka akan bilang ini contoh kebijakan tidak fair atau akalakalan pemerintah. Mengapa demikian? Karena kebijakan ini kurang transparan dan
sangat memberatkan beban keuangan rakyat menengah ke bawah. Premium yang
sampai sekarang masih dinikmati oleh masyarakat, telah lama tidak ada subsidi atau
sudah sesuai dengan harga pasar (harga yang menguntungkan Pertamina), tetapi
tetap lebih murah dibandingkan pertalite. Persoalan yang sudah muncul, beberapa
SPBU di Kota Pontianak tidak lagi menjual premium dan beberapa kali premium
habis, sedangkan pertalite selalu tersedia. Kita dengan mudah menduga bahwa
pasokan premium dikurangi dan pertalite ditambah. Hal ini bermakna bahwa motif
bisnisnya lebih menonjol. Di sisi lain, ada kemungkinan juga pasokan premium terus
dikurangi dan bahkan di suatu saat tidak diproduksi. Hal ini juga tidak berbeda dengan
pengurangan pasokan LPG 3 kg yang disubsidi dan LPG 5,5 kg diperbanyak. Kebijakan
sunyi senyap ini tidak terlalu terlihat, berjalan pelan-pelan tetapi pasti akan mengarah
pada penghapusan subsidi. Cara demikian tidak akan menimbulkan demo dan
kemarahan publik. Berbeda halnya jika diumumkan secara terbuka bahwa pemerintah
akan menghapus premium dan LPG 3 kg. Kebijakan ini pasti akan menimbulkan
kemarahan dan demo turun ke jalan.
Analisis yang telah diungkap dapat ditegaskan bahwa motif utama pengambil
kebijakan untuk mengurangi dan bahkan menghapus subsidi. Selama ini subsidi
sangat membebani APBN (keuangan negara) dan negara juga memerlukan uang
yang banyak untuk melaksanakan program-programnya. Untuk itu, cara instannya
adalah menambah utang, mengurangi atau menghapus subsidi dan kebijakan yang
terbaru menaikan pelayanan STNK dan BPKB. Publik dalam hal ini, khususnya kelas
menengah ke bawah harus siap-siap tidak mendapat subsidi dan siap-siap menghadapi
kehidupan yang makin berat sebagai akibat pelayanan yang makin mahal dan harga
barang-barang kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Semoga analisis ini dapat
menjadi pembelajaran bagi siapapun. Jangan semuanya cari mudahnya (instannya).
Mental indomie demikian sangat berbahaya bagi bangsa dan negara ke depan.
76
BAB 6
Konflik Dalam Organisasi
Publik
T
opik kajian penting dari perilaku organisasi berikutnya berkaitan dengan
pembahasan tentang konflik dalam organisasi. Bahasan ini penting karena
konflik dalam organisasi pasti terjadi dan di sisi lain, banyak yang memahami
bahwa konflik sebagai sesuatu yang buruk atau bertentangan dengan norma yang
berlaku dalam masyarakat. Pandangan ini ada yang benar, tetapi di sisi lain ada pula
yang salah. Untuk memahami konflik dengan benar maka kita harus mempelajari topik
ini dengan baik. Oleh karena itu, konflik dalam organisasi publik menjadi salah satu
ruang lingkup dari perilaku organisasi publik karena konflik itu sendiri merupakan
masalah sehari-hari dan selalu terjadi dalam kehidupan organisasi atau tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia. Agar pemahaman akan konflik menjadi lebih
baik maka dalam bab ini akan dibahas tentang: (1) Konsep konflik, (2) Konflik Dalam
Organisasi, (3) Teori Konflik dan (4) Resolusi konflik. Penjelasan sub topik yang
terpilih ini seperti uraian berikut.
6.1.
KONSEP KONFLIK
Sebelum memberikan pejelasan pengertian atau konsep atau definisi konflik pada bab
ini maka kita akan memulai berbicara konflik dengan mengajukan beberapa pertanyaan
awal antara lain: Mengapa kebanyakan orang (Indonesia) belum dapat menerima
kehadiran konflik secara wajar dalam kehidupan masyarakat/organisasi? Jawaban
pertanyaan ini akan bermacam-macam dan banyak faktor penyebabnya. Selanjutnya
kita bisa bertanya juga: Mengapa konflik kita perlukan dalam kehidupan organisasi?
2 (dua) pertanyaan ini akan dijawab dalam bab ini. Hasil penelitian, pengalaman
77
Teori Perilaku Organisasi Publik
hidup dan interaksi dengan mahasiswa strata 1 dan 2 tentang jawaban atas pertanyaan:
mengapa kebanyakan orang belum siap menerima kehadiran konflik secara wajar?
Jawaban dari pertanyaan yang telah diungkap karena ada beberapa sebab/Faktor yang
berpengaruh. Faktor yang berpengaruh antara lain:
1. Pengetahuan dan pemahaman seseorang atau banyak orang yang masih
kurang atau minim tetang apa itu konflik. Siapapun mereka yang masuk dalam
kelompok ini, dengan mudah dapat kita prediksi bahwa kelompok ini tidak
siap menerima kehadiran konflik secara wajar dan banyak yang beranggapan
bahwa konflik sebagai sesuatu yang buruk dan menolok akan kehadirannya.
Banyak yang memahami konflik sebagai sesuatu yang negatif, sama dengan
kekerasan, pertikaian dan ancaman-ancaman. Ada pula yang memahami konflik
bertentangan dengan perdamaian, keharmonisan, keselarasan dan keserasian.
2. Sebagian dari nilai budaya yang tertanam dalam kehidupan kita belum dapat juga
menerima atau anti terhadap kehadiran konflik. Hidup kita akan lebih enjoi dalam
situasi dan kondisi yang tenang, tertib, selaras, serasi dan harmonis dan tidak ada
konflik. Dalam kehidupan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat muncul
pandangan dan larangan jangan ada konflik antara anak dengan orang tua.
Anak tidak boleh menentang atau berbeda dengan orang tua. Orang tua sudah
kenyang dengan pengalaman. Pendapatnya pasti benar. Orang tua mengajarkan
bahwa melawan pendapat orang tua sebagai sesuatu yang dipandang tidak sopan,
kurang ajar, tidak tahu adat dan lain-lain. Anak yang baik adalah anak yang selalu
menurut orang tua. Murid yang baik adalah murid yang patuh pada guru, tidak
melawan dan tidak ribud di dalam dan di luar kelas. Guru yang sukses adalah
guru yang dapat menertibkan anak didik.
3. Banyak pemimpin kita yang anti konflik. Ia tidak mau ada perbedaan dengan anak
buah; Banyak di antara pemimpin yang memegang prinsip harus selalu menang
dalam segala hal terhadap anak buah. Banyak juga diantara mereka yang tidak
mau dikritik. Jika ada masukan atau kritik, pemimpin tersebut akan menjawab
dengan kata: saya sudah tahu atau saya lebih tahu dari anda, sehingga banyak
anak buah menjadi takut memberikan masukan dan bahkan anti pati dengan
bosnya. Banyak pandangan bahwa manajer yang sukses adalah manajer yang
dapat menciptakan ketenangan dan tidak terjadi gejolak di lingkungan bawahan.
4. Dalam kehidupan organisasi juga muncul pandangan bahwa konflik dipandang
negatif, sedangkan keharmonisan dipandang positif. Untuk itu, jangan ada atau
terjadi konflik.
5. Situasi kehidupan politik kita dalam jangka waktu yang relatif lama, dengan
sengaja menanamkan dan menekankan bahwa stabilitas merupakan indikator
keberhasilan dan menjadi kunci sukses pembangunan, sehingga perbedaan
dianggap sebagai ancaman bagi organisasi dan manajemen (penguasa).
78
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
6. Agama (Islam) mengajarkan bahwa setiap perbedaan merupakan rahmatan lil
allamiin, tetapi dalam praktek sering kurang dipahami, sehingga setiap muncul
perbedaan dianggap lain aliran dan bahkan ada yang memandang bukan kawan,
tetapi lawan.
Realitas lain juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dari Sabang –
Merauke dan sejak kelahirannya merupakan masyarakat yang dikategorikan sebagai
masyarakat yang majemuk atau heterogin. Dimensi majemuk dalam hal ini berkaitkan
dengan banyak etnik (suku bangsa), budaya (adat istiadat dan bahasa), agama dan asal
daerah atau diistilahkan multikultur, multietnik, multiagama dan multi asal daerah.
Hal ini tidak dapat dipungkiri atau terbantahkan oleh siapapun. Belum lagi kita bicara
wilayah Indonesia yang begitu luas atau ada 18.100 pulau dan kepulauan berdasarkan
hasil survei terbaru atau meningkat dibandingkan 17.508 pulau dan kepulauan yang
selama ini dikenal. Masyarakat dengan karakteristik demikian dikaji dari teori konflik,
memiliki potensi konflik yang sangat besar. Potensi tersebut makin bertambah besar
apabila ada pemicu dan “tukang kompor”nya.
Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa konflik pribadi, konflik kecil atau
“sepele”, kesalahpahaman informasi yang bersumber dari mulut-kemulut, persoalanpersoalan kecil dengan sengaja dibesar-besarkan atau “didramatisir”, dan munculnya
isu-isu liar (hoax) yang bertebaran di internet dalam beberapa kasus, dengan mudah
melahirkan kekerasan massa atau “amuk” massa atau kekerasan komunal. Lebih
prihatin lagi, situasi ini dengan mudah membakar emosi kelompok apabila dibumbui
sentimen primordial, dengan “aroma” SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan),
sehingga konflik ini bisa merugikan semua pihak seperti terjadi pembakaran,
masyarakat bertindak sewenang-wenang, tawuran antar warga, main hakim sendiri,
hak-hak kemanusian (humanis) terabaikan dan “kekisruan etnis”.
Beberapa contoh penyebab konflik seperti yang telah dijelaskan merupakan
konflik dalam makna yang luas (Berkaitan dengan konflik dalam masyarakat pada
umumnya dan konflik dalam organisasi). Selain itu, semua pandangan yang telah
diungkapkan ada yang benar dan ada yang salah. Persoalan yang perlu didiskusikan
berkaitan dengan kapan pandangan tersebut salah dan kapan pandangan tersebut benar
atau dapat diterima? Lantas timbul pertanyaan penting berikutnya: Konflik yang mana,
kapan dan seperti apa yang harus kita terima secara wajar dan konflik yang mana yang
tidak dapat kita terima atau tidak dapat diberikan toleransi sama sekali? Mana konflik
yang fungsional dan mana yang disfungsional? Sehubungan dengan potensi besar
adanya konflik seperti yang telah diungkapkan, mudah terjadi dan maraknya konflik di
masyarakat di negeri ini yang dengan mudah disaksikan dalam kehidupan kita seharihari, lebih khusus lagi konflik dalam organisasi (banyak kegaduhan), sekaligus untuk
menjawab beberapa pertanyaan yang telah diungkapkan maka penjelasan berikut akan
diawali dari konsep (definisi) atau pengertian konflik.
79
Teori Perilaku Organisasi Publik
Pengertian konflik dalam literatur yang dibaca oleh penulis buku cukup banyak
dan beragam. Tadjudin (2000) berusaha mengumpulkan dan mengutip beberapa
pengertian tentang konflik antara lain:
(1) Thomson (1960) Dalam Rabbins (1990) konflik adalah perilaku anggota organisasi
yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota yang lain;
(2) Thomas (1976) Konflik adalah proses yang dimulai jika satu pihak merasa bahwa
pihak lainnya telah menghalangi sesuatu yang ada kaitannya dengan dirinya;
(3) Deutch (1976) Konflik adalah jika ada kegiatan yang tidak cocok dengan
kepentingannya
Pengertian lain dari Robbins (1993) menegaskan bahwa definisi konflik
adalah sebagai suatu proses yang dimulai tatkala suatu pihak merasa ada pihak lain
yang memberikan pengaruh negatif kepadanya atau tatkala suatu pihak merasa
kepentingannya itu memberikan pengaruh negatif kepada pihak lainnya. Pengertian
lain tentang konflik menurut Fuad dan Maskanah (2000:51) adalah benturan yang
terjadi antara dua pihak atau lebih, yang disebabkan adanya perbedaan nilai, status,
kekuasaan dan kelangkaan sumber daya. Berpijak dari definisi-definisi konflik seperti
yang telah dingkapkan maka penulis berpendapat tentang pengertian konflik adalah
proses hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antar
kelompok yang memiliki perbedaan dan pertentangan dalam hal nilai, kepentingan,
persepsi dan pandangan tentang sesuatu.
Selanjutnya, Robbins (1993) menggolongkan konflik menurut Intensitasnya, yang
dapat dirinci sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Memiliki sedikit ketidaksetujuan atau kesalahpahaman
Mempertanyakan hal-hal yang berbeda
Mengajukan serangan-serangan verbal
Mengajukan ancaman/ultimatum
Melakukan serangan fisik secara agresif
Melakukan upaya merusak atau penghancuran kepada pihak lain
Perselisihan yang berkaitan dengan: (a) Tujuan; (b) Status; (c) Nilai dan (d)
Persepsi atau kepribadian
Pandangan Robbins tentang konflik menurut Intensitasnya dapat ditegaskan
bahwa point satu merupakan hal yang tidak sulit untuk diterima secara wajar karena hal
ini merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Intensitas konflik makin meningkat
terus sejalan dengan nomor urutnya sampai pada kekerasan fisik dan konflik jenis
inilah yang tidak dapat ditoleransi. Berdasarkan makna konflik dan intensitas konflik
maka pertanyaan penting yang perlu dijawab berikutnya adalah konflik mana yang
dapat diterima secara wajar dan konflik mana yang tidak dapat ditoleransi. Konflik
yang dapat kita terima secara wajar dan mana yang perlu dihindari dapat dijelaskan
80
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
seperti uraian berikut. Konflik dapat diterima secara wajar apabila hanya berhenti
pada tataran perbedaan pendapat, tujuan, metode dan nilai, sedangkan konflik perlu
dihindari apabila: (1) Telah terjadi pertikaian; (2) Telah terjadi kekerasan fisik; (3)
Telah membahayakan kehidupan dan (4) Konflik yang mengarah kepada konflik SARA
(suku, agama, ras dan antar golongan). Oleh karena itu, berikut ini dibuat skema atau
Gambar 6.1 tentang konflik yang mana bisa diterima secara wajar atau ditolerasi dan
konflik mana yang tidak bisa ditolerasi, seperti skema berikut.
Belum Ada Konflik
Ada Perbedaan
1
2
Pertikaian
3
Kekerasan
4
Gambar 6.1 : Batas tentang Konflik mana yang dapat diterima dan mana yang tidak
dapat ditoleransi
Titik 1 (satu) sampai dengan titik nomor 2 (dua) merupakan batas titik konflik
yang dapat diterima secara wajar atau dapat ditoleransi, sedangkan titik 3 (tiga) dan 4
(empat) merupakan titik batas konflik yang tidak dapat ditolerasi. Suatu perbedaan,
pertentangan, ketidaksetujuan atau tidak cocok dalam hal nilai, tujuan, metode,
kekuasaan, status, persepsi, kepentingan dan pendapat inilah batas konflik yang dapat
diterima secara wajar, sedangkan pertikaian dan kekerasan fisik merupakan batas
konflik yang tidak mendapat tolerasi sama sekali.
Pengertian konflik seperti yang telah diungkapkan menegaskan bahwa pemicu
dan sumber konflik umumnya bermuara pada adanya perbedaan nilai, tujuan, metode,
status, kekuasaan dan kelangkaan sumber daya, tidak cocok, tidak sepaham, tidak
kompak, ada gangguan dan bahkan ketidaknyamanan dengan pihak lain. Realitas
demikian banyak dijumpai dalam kehidupan manusia dan organisasi publik. Dalam
kehidupan kita akan terkait langsung dengan hak dan kewajiban, baik yang diatur oleh
81
Teori Perilaku Organisasi Publik
negara atau organisasi publik dan atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Untuk
memperjuangkan hak dan kewajiban maka setiap orang akan berinteraksi dengan
orang lain, sehingga interaksi tersebut akan menimbulkan gesekan, benturan, ketidakcocokan, perbedaan dan atau konflik.
6.2.
KONFLIK DALAM ORGANISASI
Apabila pengertian konflik yang telah diungkapkan dicermati maka konflik dapat
dipastikan selalu hadir atau ada dalam kehidupan kita dan bahkan tidak dapat
dihindari, baik konflik yang terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, organisasi,
aparatur negara dan bangsa serta antar bangsa. Kita juga dapat menyaksikan bahwa
konflik yang selalu terjadi, termasuk konflik antar kelompok karena ada hukum
konflik antar kelompok yaitu setiap kelompok mewarisi konflik antar kelompok. Setiap
perbedaan dalam hal nilai, status, kekuasaan dan kelangkaan sumber daya merupakan
potensi konflik.
Ada kata kunci yang selalu menjadi ciri adanya konflik yaitu ada perbedaan atau
ketidaksetujuan dan atau pertentangan/tidak cocok bahkan sulit didamaikan. Situasi
demikian dapat terjadi dalam berbagai kesempatan dan lingkungan. Analisis situasi
konflik secara umum dapat pula terjadi karena (1) Benturan kepentingan, (2) Berbeda/
bertentangan pendapat, (3) Berbeda metode, (4) Berbeda nilai, (5) Berbeda persepsi;
(6) Berbeda/bertentangan tujuan, (7) Berbeda/bertentangan pandangan dan (8)
Ketidak sepakatan alokasi sumber daya yang langka.
Usman (2007:5-15) menegaskan bahwa konflik mudah muncul, apabila: (1)
Perebutan sumber daya langka; (2) Komunikasi jelek atau tidak ada; (3) Persepsi-salah
mengenai masing-masing pihak, (4) Tidak ada rasa saling-percaya; (5) Penyelesaian
pertikaian yang tidak tuntas dan (6) Masing-masing pihak meremehkan hubungan
antar mereka. Salah satu contoh masalah adalah bayangkan metafora berikut ini: Pohon
mangga dengan buah yang lebat tumbuh di pagar batas pekarangan keluarga A dan
keluarga B. Akar dan pokok ada di tanah si A, tetapi buahnya bergelantungan di atas
tanah B. Masing-masing yakin memiliki hak atas buah mangga itu. Berikan solusi untuk
mengatasi konflik yang akan terjadi. Ingat bahwa menyelesaikan konflik di atas kertas
sangat mudah, tetapi menyelesaikan konflik yang sesungguhnya terjadi di lapangan
memang tidak mudah. Apabila dalam penyelesaian konflik memerlukan penengah
atau mediator maka si mediator memerlukan waktu yang panjang, berpengalaman,
sabar, tidak memihak, transparan, loby antarpihak beberapa kali, menemukan pihakpihak yang berkonflik, melakukan negosiasi dan baru dapat mengambil keputusan
yang tepat, sekaligus memuaskan pihak-pihak yang berkonflik. Dalam budaya di
Indonesia, sesuai dengan ajaran Pancasila bahwa masalah konflik dalam banyak hal
akan dapat diatasi dan penyelesaiannya dapat memuaskan banyak pihak apabila kita
mau menggunakan musyawarah.
82
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
Perlu ditegaskan bahwa konflik yang telah diungkapkan merupakan pemahaman
konflik secara umum. Konflik dalam makna umum ini, berbeda dengan konflik dalam
organisasi. Robbins (1996) menegaskan bahwa konflik organisasi sebagai sebuah proses
di mana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghalangi usaha
yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan yang menjadikan
orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mancapai tujuan yang diinginkan
atau merealisasi minatnya. Osborn (1998) menegaskan bahwa konflik dalam organisasi
merupakan situasi di mana dua orang atau lebih yang saling tidak setuju terhadap suatu
permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan timbulnya permusuhan
satu anggota dengan anggota lainnya.
Konflik dalam organisasi itu sendiri dapat berkembang sejalan atau seirama
dengan perkembangan dan makin besarnya organisasi. Organisasi yang bertambah
besar (usaha, jangkauan, aktivitas dan sumber daya manusianya) akan menjadi
bertambah komplek yang terkait langsung dengan arus informasi atau komunikasi,
pengambilan keputusan dan kebijakan, pendelegasian wewenang dan pengendaliannya.
Belum lagi kompleksitas yang berhubungan langsung dengan sumber daya manusia
seperti jabatan dan pola rekruitmen, kompleksitas tugas, kompleksitas kedudukan
dan status, hak dan wewenang dan lain-lain. Kompleksitas yang telah diungkapkan
menjadi sumber potensial bagi timbulnya konflik dalam organisasi, khususnya konflik
sumber daya manusia karena akibat perbedaan tujuan, sikap, persepsi dan motivasi
dalam bekerja untuk memajukan dan pengembangan organisasi.
Realitas di dunia organisasi menegaskan bahwa setiap anggota organisasi ingin
sukses, sehingga mereka memiliki harapan-harapan dan motivasi-motivasi para
anggotanya (bawahan maupun atasan), sehingga kompetisi di dalam organisasi
bertambah ketat. Bagi mereka yang tidak berhasil atau belum beruntung akan merasa
tertekan, sehingga ada di antara mereka melakukan pelanggaran hukum atau peraturan
dan terlibat dalam praktik-praktik yang dapat menurunkan nilai kejujuran (trust)
seperti penyalah-gunaan jabatan dan finansial serta tidak siap menghadapi persainganpersaingan secara sehat dan ujungnya akan menimbulkan konflik.
Konflik dalam organisasi tidak muncul secara tiba-tiba dan langsung menjadi
rumit dan besar. Konflik itu sendiri berkembang dan makin menyebar secara bertahap
melalui pembicaraan terang-terangan, sembunyi-sembunyi dan “desas-desus”, melalui
media massa dan nirmasa. Belum lagi faktor pemicu dalam wujud sikap dan perilaku
tidak puas, tidak setuju, atau harapan-harapan yang tidak terealisasi. Selain itu,
kebijakan-kebijakan manajemen organisasi dan proses komunikasi yang berlangsung
berpengaruh terhadap munculnya konflik serta perkembangan organisasi di masa kini
dan mendatang. Konflik organisasi dapat juga terjadi dan diawali dari masalah alokasi
sumber daya yang langka (jabatan) dan bisa juga karena faktor tujuan, kekuasaan,
status, nilai, persepsi, kepentingan, hak dan kewajiban, anggaran, metode atau cara
83
Teori Perilaku Organisasi Publik
mewujudkan tujuan dan kepribadian. Setiap orang dalam organisasi akan berusaha
untuk mendapatkan sumber daya langka tersebut dan tidak jarang terjadi hambat
menghambat dan menghalangi pihak lain karena alasan mempunyai kepentingan.
Kondisi demikian telah menggambarkan atau mencerminkan kondisi konflik.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dalam organisasi
karena: (1) Komunikasi yang jelek; (2) Kelangkaan sumber daya (terutama jabatan
dan finansial); (3) Struktur tugas maupun struktur organisasi; (4) Faktor personal;
(5) Perbedaan kepentingan dan nilai serta (6) Faktor lingkungan. Selanjutnya, konflik
dikaji dari posisi seseorang dalam struktur organisasi menurut Winardi (1992:174)
dirinci menjadi empat macam. Keempat jenis konflik dalam hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Konflik vertical merupakan konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki
kedudukan yang tidak selevel atau tidak sama dalam organisasi. Contohnya
adalah unsur atasan atau manajemen dan bawahan.
2. Konflik horizontal merupakan konflik yang terjandi antar mereka yang memiliki
kedudukan yang sama atau setingkat (selevel) dalam organisasi. Contonya konflik
antar karyawan, atau antar departemen yang setingkat dan antar satuan kerja
perangkat daerah (SKPD).
3. Konflik garis-staf, merupakan konflik yang terjadi antara karyawan lini yang
biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi
sebagai penasehat dalam organisasi.
4. Konflik peran, merupakan konflik yang terjadi karena seseorang mengemban
lebih dari satu peran yang saling bertentangan. Di samping klasifikasi tersebut
di atas, ada juga klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn,
et al. (1991), yang membagi konflik atas: substantive conflict, emotional conflict,
constructive conflict, dan destructive conflict.
Menurut Robbins (2005) konflik dapat muncul karena ada kondisi yang melatarbelakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai
sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu: komunikasi, struktur, dan
variabel pribadi. Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan
kesalah-pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak
cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap
komunikasi, sehingga hal ini menjadi pemicu atau sumber terciptanya konflik. Struktur
dalam konteks ini mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan
kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan
anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat
ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok
dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik.
84
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
Sumber konflik berikutnya berkaitan dengan faktor pribadi, yang mecakup: sistem
nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan
individu memiliki keunikan dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan
menunjukkan ada tipe kepribadian sangat otoriter, dogmatik, dan tidak menghargai
kepada pihak atau orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Kemudian
jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi,
atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan
(felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya
itu akan berubah menjadi konflik yang nyata seperti serangan secara verbal, ancaman
terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya.
6.3.
TEORI KONFLIK
Pembicaraan tentang teori konflik akan diawali dari pendapat Fuad dan Maskanah
(2000:55-58) yang menegaskan bahwa untuk memahami konflik dan teori konflik, ada
beberapa hal penting yang harus dipahami yaitu: (1) Perspektif konflik; (2) Peta konflik
dan (3) Wujud dan jenis konflik. Ketiga hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut seperti
uraian berikut. Perspektif konflik bermacam-macam isinya. Ada perspektif mitologi
dan historis, perspektif ekonomi-politik, perspektif sosio kultural. Perspektif mitologi
dan sejarah merujuk bahwa konflik atas sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan
manusia dapat ditelusuri dari sejarah umat manusia. Melalui perspektif ini maka
banyak kisah, mitologi dan cerita rakyat yang menggambarkan banyaknya konflik.
Perspektif ekonomi politik memandang bahwa konflik merupakan bagian dari
pola hubungan antar manusia, kelompok, golongan, masyarakat, bangsa dan negara
yang seharusnya dipahami sebagai kenyataan. Scott (1993) dalam Fuad dan Maskanah
(2000:55) menegaskan bahwa penyebab utama konflik dapat ditelusuri dari akar
ekonomi dan politik, sehingga upaya penyelesaiannya harus mempertimbangan faktor
ekonomi dan politik. Konflik menurut perspektif ini merupakan bagian dari proses
pembangunan yang mengutamakan industrialisasi, namun tanpa mempertimbangkan
kepentingan penduduk yang kurang memiliki posisi tawar yang kuat dalam mengakses
sumber daya pembangunan.
Untuk perspektif sosial-kultural berpandangan bahwa proses industrialisasi
mensyaratkan adanya penyesuaian sikap mental, wawasan budaya (terutama yang
menyangkut aspek disiplin, penghargaan terhadap waktu, etos kerja yang kuat,
kebutuhan untuk berprestasi dan kesediaan untuk masuk dalam persaingan).
Penyesuaian ini memerlukan waktu yang lama atau panjang dan jika proses penyesuaian
mengalami kegagalan maka hal ini akan terjadi konflik. Dalam realitas menunjukkan
bahwa nilai sosio-kultural sangat berperan dalam menjaga harmoni, keselarasan dan
kerukunan sosial.
85
Teori Perilaku Organisasi Publik
Setelah penjelasan perspektif konflik maka pemahaman penting berikutnya
terkait dengan peta konflik. Kebanyakan konflik mempunyai sebab ganda yakni sebagai
konsekuensi dari masalah hubungan antar pihak yang bertikai dan mengarah pada
konflik yang terbuka. Kita menemukan konflik yang sangat rumit, sehingga pemetaan
konflik seperti mendefinisikan situasi kritisnya, permasalahan pokoknya, penyebab
pertikaiannya dengan mengamati dan mamahami pihak-pihak yang bertikai. Fuad dan
Maskanah (2000:56) menegaskan bahwa pemetaan konflik melalui pengelompokkan
dalam ruang-ruang konflik dengan menggunakan kriteria:
a. Konflik data terjadi ketika orang mengalami kekurangan informasi yang
dibutuhkan untuk mengambil keputusan yang bijak atau mendapat informasi
yang salah.
b. Konflik kepentingan disebabkan oleh persaingan kepentingan. Konflik ini terjadi
ketiga suatu pihak atau lebih meyakini bahwa untuk memuaskan kebutuannya,
pihak lain yang harus berkorban. Konflik yang berdasarkan kepentingan terjadi
karena masalah mendasar atau substantif seperti sumber daya atau uang.
c. Konflik hubungan antar manusia terjadi karena adanya emosi-emosi negatif yang
kuat, salah persepsi atau stereotif, salah komunikasi dan tingkah laku yang negatif
yang berulang (repetitif).
d. Konflik nilai terjadi karena disebabkan oleh sistem kepercayaan yang tidak
bersesuaian, entah itu dirasakan atau memang ada. Nilai adalah kepercayaan yang
dipakai orang untuk memberi arti pada hidupnya. Nilai menjelaskan mana yang
baik dan buruk, mana yang benar dan salah, mana yang adil dan mana yang tidak
adil.
e. Konflik struktural terjadi ketika terjadi ketimpangan untuk melakukan akses atau
kontrol terhadap sumber daya, pihak yang berkuasa dan memiliki wewenang
formal untuk menetapkan kebijakan umum, yang biasa memiliki peluang untuk
memperoleh akses dan melakukan kontrol.
Kelima ruang konflik tersebut umumnya tidak berdiri sendiri, namun merupakan
suatu sistem dan saling terkait satu sama lainnya. Hal penting berikutnya adalah wujud
dan jenis konflik. Wijardjo dalam Fuad dan Maskanah (2000:57) menegaskan bahwa
Konflik dapat berwujud konflik tertutup (laten), mencuat (emerging) dan terbuka
(manifest). Konflik tertutup dicirikan dengan adanya tekanan-tekanan yang tidak
tampak, tidak sepenuhnya berkembang dan belum terangkat ke puncak kutup-kutup
konflik. Konflik mencuat adalah perselisihan di mana pihak-pihak yang berselisih
telah teridentifikasi, diakui adanya perselisihan, kebanyakan permasalahannya jelas,
tetapi proses penyelesaian masalahnya sendiri belum berkembang. Konflik terbuka
merupakan konflik di mana pihak-pihak yang berselisih terlihat secara aktif dalam
perselisihan yang terjadi, mungkin sudah memulai untuk bernegosiasi, mungkin juga
telah mencapai jalan buntu.
86
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
Jenis konflik lain dapat dilihat dari level permasalahan. Berpijak pada level
permasalahan maka ada 2 (dua) jenis konflik yaitu konflik vertikal dan horizontal.
Konflik vertikal terjadi apabila pihak yang dilawan oleh pihak lainnya berada pada
level yang berbeda, sedangkan konflik horizontal terjadi antara masyarakat dengan
anggota masyarakat lainnya. Level dari mereka yang berkonflik selevel atau sejajar.
Hendricks (1996) dalam Fuad dan Maskanah (2000:57) menegaskan bahwa ada konflik
intra personal dan inter personal. Konflik intrapersonal melibatkan ketidaksesuaian
emosi individu ketika keahlian, kepentingan dan nilai-nilai yang dihadapinya jauh
dari menyenangkan, sedangkan konflik interpersonal melibatkan ketidaksesuaian
emosi, kepentingan, tujuan dan nilai-nilai antara satu individu/kelompok dengan
individu/kelompok lainnya.
Beberapa pemikiran yang telah diungkapkan merupakan kajian konflik dalam arti
yang luas atau umum, sedangkan jenis konflik dalam organisasi menurut Donnelly (1997:
270) dibagi 2 (dua) yaitu konflik fungsional dan tidak fungsional atau disfungsional.
Konflik fungsional adalah pertentangan antara kelompok yang mempertinggi atau
menguntungkan prestasi organisasi. Misalnya pertentangan tentang pilihan metode
yang paling efisien, sedangkan konflik tidak fungsional atau disfungsional adalah
setiap pertentangan antau interaksi antara kelompok yang mengnganggu organisasi
atau merintangi upaya pencapaian tujuan organisasi.
Sebagai bahan perbandingan Robbins (2003:430) membagi konflik menurut
fungsinya menjadi dua macam, yaitu: konflik fungsional (Functional Conflict) dan
konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict). Konflik fungsional adalah konflik yang
mendukung pencapaian tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok. Untuk
konflik disfungsional bermakna sebaliknya. Konflik disfungsional adalah konflik yang
merintangi atau dapat menghalangi (menghambat) pencapaian tujuan kelompok.
Robbins menjelaskan lebih jauh bahwa batas yang menentukan apakah suatu konflik
fungsional atau disfungsional seringkali tidak jelas atau tidak mudah membedakan.
Kriteria yang membedakan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional adalah
dampak konflik tersebut terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika
konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan
bagi individu, maka konflik tersebut dikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika
konflik tersebut hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok
maka konflik tersebut disfungsional.
Munculnya konflik fungsional dan tidak fungsional dalam organisasi menjadi
tugas pimpinan organisasi atau atasan bagaimana mengoptimalkan konflik yang
fungsional dan menghilangkan atau mengurangi terjadinya konflik yang tidak
fungsional atau disfungsional. Hal penting berikutnya yang perlu dipahami terkait
dengan pergeseran pemikiran tentang konflik. Pergeseran pemikiran tentang konflik
oleh Fisher, dkk. (2001) dan Tadjudin (2000: 36-37) dikelompokkan menjadi 3 (tiga)
87
Teori Perilaku Organisasi Publik
yaitu pandangan tradisional, pemikiran konflik tentang hubungan antarmanusia dan
pemikiran mutakhir. Masing-masing kelompok dan isi pemikirannya dapat dijelaskan
seperti uraian berikut.
Pertama: Pandangan Tradisional (1930 – 1940) menyatakan: (1) Konflik dianggap
sebagai penyimpangan terhadap norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat/
organisasi; (2) Konflik sebagai sesuatu yang buruk; (3) Konflik dianggap sepadan
dengan tindakan kekerasan, perusakan dan tindakan irasional; (4) Konflik dipandang
sebagai sesuatu yang membahayakan, sesuatu yang negatif. Untuk itu, konflik perlu
dihindari serta (5) Konflik dianggap disfungsional. Untuk itu, resolusi konflik
menurut pandangan Tradisional boleh dibilang cukup simpel atau sederhana yakni:
(1) Mengusahakan tidak terjadi konflik dan (2) Jika konflik tidak dapat dihindari
maka: (a) Menyingkirkan/menghilangkan sumber konflik dan (b) Memperbaiki mutu
komunikasi. Pemicu dan sekaligus sumber konflik menurut pandangan Tradisional
adalah: (1) Komunikasi yang buruk; (2) Kurangnya keterbukaan; (3) Kegagalan
manajer/bos untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi bawahan serta (4) Kurangnya
kepercayaan di antara orang-orang yang berinteraksi.
Kedua: Aliran Pemikiran yang Memandang Konflik sebagai bagian
hubungan antar manusia (1940–1970). Aliran kedua berpandangan: (1) Konflik
sebagai hal yang alamiah sebagai dampak dari hubungan antar manusia dan (2)
Konflik diterima secara wajar dan diakui bahwa konflik bisa bersifat fungsional.
Ketiga: Pandangan Mutakhir yang disebut pemikiran interaksi (1970–sekarang)
Mereka berpandangan bahwa mereka bukan hanya menerima konflik, melainkan
memanfaatkan konflik itu sendiri untuk membangun masyarakat yang lebih dinamik.
Jika dalam masyarakat tidak ada konflik maka masyarakat akan menjadi statik, apatis
dan tidak responsif terhadap perubahan dan inovasi. Oleh karena itu, konflik harus
dioptimumkan agar tercipta kondisi yang kondosif dan masyarakat memiliki daya
tahan, kritis dan kreatif.
Fisher, dkk. (2001:7) menegaskan bahwa ada 6 (enam) teori yang dapat Menjelaskan
berbagai penyebab terjadinya Konflik yaitu: (1) Teori hubungan masyarakat; (2)
Teori negosiasi prinsip; (3) Teori kebutuhan manusia; (4) Teori identitas; (5) Teori
kesalahpahaman antar budaya dan (6) Teori transformasi konflik. Masing-masing
teori ini memiliki ide dasar pemikiran dan juga menjelaskan bagaimana teori-teori ini
menjelaskan langkah pemecahan masalah konflik secara garis besar. Penjelasan secara
garis besar sebagaimana dijelaskan oleh Fisher, dkk, seperti uraian berikut.
Teori hubungan masyarakat beranggapan bahwa konflik yang terjadi karena
disebabkan oleh: (1) Polarisasi yang terus terjadi dan (2) Adanya ketidakpercayaan dan
permusuhan diantara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Oleh karena
itu, sasaran yang ingin dicapai oleh teori ini adalah: (1) Meningkatkan komunikasi dan
saling pengertian antara kelompok-kelompok yang berkonflik serta (2) Mengusahakan
88
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragamanan yang ada
didalamnya. Teori Negosiasi Prinsip Beranggapan atau mempunyai ide dasar bahwa
konflik terjadi karena disebabkan oleh: (1) Oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan
(2) Perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang berkonflik. Untuk
itu, sasaran yang ingin dicapai oleh teori ini adalah: (1) Membantu pihak-pihak yang
mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah
dan isu; (2) Membantu mereka untuk meningkatkan negosiasi serta (3) Melancarkan
proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak/semua pihak.
Teori Kebutuhan Manusia beranggapan bahwa konflik yang berakar
dalam karena disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (kebutuhan fisik,
mental dan social) yang tidak terpenuhi/terhalangi seperti keamanan, identitas,
pengakuan, partisipasi dan otonomi. Untuk itu, sasaran yang ingin dicapai oleh
teori ini adalah: (1) Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk
mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak
terpenuhi dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan tesebut
dan (2) Agar pihak-pihak yang berkonflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi
kebutuhan dasar semua pihak. Teori Identitas beranggapan/berasumsi bahwa
konflik terjadi karena disebabkan identitas yang terancam, yang sering berakar pada
hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak terselesaikan. Sasaran
yang ingin dicapai oleh teori ini adalah: (1) Fasilitasi lokakarya dan dialog antar pihak
yang berkonflik, sehingga mereka dapat menidentifikasi ancaman-ancaman dan
ketakutan yang mereka rasakan oleh masing-masing serta untut membangun empati
dan rekonsiliasi diantara mereka dan (2) Meraih kesepakatan bersama yang mengakui
kebutuhan identitas pokok semua pihak.
Teori Kesalahpahaman Antar Budaya beranggapan/berasumsi bahwa
konflik terjadi karena disebabkan oleh ketidak-cocokan dalam cara-cara berkomunikasi
diantara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran yang ingin dicapai oleh teori ini adalah:
(1) Menambah pengetahuan budaya pihak lain; (2) Mengurangi stereotif negatif yang
dimiliki tehadap pihak lain serta (3) Meningkatkan komunikasi antar budaya. Teori
terakhir adalah teori Transpormasi Konflik. Teori ini beranggapan bahwa konflik
terjadi karena disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan,
yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi. Sasaran yang ingin
dicapai oleh teori ini adalah: (1) Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang
menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi;
(2) Meningkatkan jalinan hubungan diantara pihak-pihak yang berkonflik serta (3)
Mengembangkan berbagai proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan,
keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi dan pengakuan.
89
Teori Perilaku Organisasi Publik
6.4.
RESOLUSI KONFLIK
Banyak masalah dalam organisasi dan masalah-masalah tersebut dapat menimbulkan
konflik dalam organisasi. Beberapa masalah organisasi anatara lain: (1) Penggunaan
sarana serta sumber daya yang kurang efisiensi; (2) Pelayanan yang kurang memuaskan;
(3) Pelayanan publik masih terjadi diskriminasi; (4) Aturan main belum diinformasikan
secara transparan dan pasti; (5) Pelayanan lamban, mahal dan berbelit-belit; (6)
Persyaratan administrasi tidak diinformasikan; (7) Terjadi pemborosan penggunaan
alat tulis kantor; (8) Sulit menemukan dokumen atau arsip penting; (9) Tidak ada
koordinasi, (10) Pengambilan keputusan lamban, (11) Data kepegawaian tidak lengkap,
(12) Sistem pertanggung jawaban tidak jelas; (13) Bukti-bukti pendukung administrasi
tidak ada; (14) Masalah kesimpangsiuran hubungan kerjasama; (15) Surat yang dikirim
tidak sampai ke alamat yang dituju; (16) Pekerjaan yang menggunung; (17) Kemacetan
dalam pelaksanaan pekerjaan serta (18) Terjadi pemborosan-pemborosan yang tidak
perlu; (19) Tujuan organisasi sulit tercapai secara optimal; (20) Tidak adanya daya saing
atau daya saing rendah serta (21) Daya tanggap terhadap tuntutan serta perkembangan
situasi dan kondisi kurang.
Beberapa contoh yang telah diungkapkan bisa menimbulkan konflik antar
bagian dalam organisasi. Konflik lain yang sering terjadi dan sangat menarik untuk
didiskusikan adalah konflik jabatan publik, khususnya jabatan birokrasi seperti pejabat
eselon I, II, III dan IV. Kelebihan dari mereka yang menjabat dapat dikaji dari 2 (dua)
sisi yaitu materi dan non materi. Kelebihan materi terlihat dari mempunyai tunjangan
struktural dan kinerja yang sangat besar, pejabat menjadi sumber gula bagi anak buah,
mendapat fasilitas kerja seperti ruang kerja yang bagus, ber-AC dan fasilitas kendaraan
dinas, sering melakukan perjalanan dinas dan mendapat uang perjalanan dinas. Untuk
kelebihan dari segi non materi terlihat dari posisi si pejabat yang lebih dihormati
dibandingkan yang tidak menjabat, memiliki pengaruh besar di kantor, informasinya
lebih didengar dan bahkan bisa menentukan baik atau tidaknya masa depan pegawai.
Berpijak pada kelebihan pejabat birokrasi inilah akar persoalan mengapa orang
(birokrat) berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan tersebut, sehingga antar
mereka bisa terjadi konflik dan mengganggu upaya mewujudkan prestasi organisasi.
Untuk mengatasi konflik disfungsional (resolusi), ada beberapa strategi yang
ditawarkan oleh ahli-ahli manajemen konflik. Donnelly (1997: 280-281) menawarkan
4 (empat) strategi yaitu: (1) Perluasan sumber daya; (2) Penghindaran; (3) Pelunakan
dan (4) Kompromi; (5) Perintah otoritatif; (6) Mengubah variabel manusia; (7)
Mengubah variabel struktural dan (8) Mengidefitifikasi musuh bersama. Donnelly
menjelaskan lebih lanjut bahwa salah satu sebab konflik antar kelompok karena
terbatasnya sumber daya. Sumber daya langka antara lain jabatan atau kedudukan
khusus seperti direktur, kepala dinas atau jabatan lainnya, dana, ruang dan sebagainya.
90
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
Agar konflik disfungsional dapat dikelola dengan baik maka perluasan sumber daya
dapat menjadi strategi yang tepat. Jika perusahaan maka perluasan sumber daya bisa
dalam wujud pembukaan cabang baru atau perluasan perusahaan, sedangkan untuk
jabatan birokrasi mungkin bisa menambah unit baru atau penambahan staf ahli dan
lain sebagainya.
Ada pula strategi penghindaran (avoidance). Penghindaran konflik memang
salah satu solusi, tetapi hanya cocok untuk jangka pendek atau tidak cocok untuk
jangka panjang atau tidak dapat menyelesaikan masalah secara efektif karena bersifat
sementara. Strategi berikutnya adalah pelunakan (Smoothing) yaitu strategi yang
menekankan pada kepentingan bersama daripada kelompok yang sedang berkomplik
dan mengabaikan perbedaan antar mereka. Dengan penekanan pada sudut yang sama
atas masalah-masalah tertentu, dapat memudahkan jalan menuju satu tujuan yang sama,
sedangkan strategi kompromi merupakan strategi yang banyak dimanfaatkan untuk
resolusi konflik. Menurut Notz dan Starke dalam Donnelly (1997: 281) menegaskan
bahwa kompromi merupakan metode tradisional untuk menanggulangi konflik antar
kelompok. Dalam kompromi tidak ada pemenang maupun yang kalah serta keputusan
yang diambil atau dicapai mungkin tidak baik bagi kelompok manapun. Kompromi
akan efektif apabila masalah konflik terkait dengan dana. Mengapa? Dana dapat dibagi
sesuai kesepakatan. Untuk Indonesia maka strategi penyelesaian yang bisa diterima
oleh banyak pihak melalui kompromi. Mengapa? Budaya kita memang lebih pas pada
jalan kompromi.
Strategi perintah otoritatif merupakan penyelesaian konflik dengan penggunaan
wewenang. Dalam banyak kasus di birokrasi pemerintah, penggunaan perintah
otoritatif paling sering dipergunakan oleh top manajemen atau atasan dalam
penyelesaian konflik antar anggota organisasi. Oleh karena ini perintah atasan maka
bawahan akan mematuhi perintah ini, sehingga metode ini tidak terlalu efektif dan
konflik dapat tumbuh kembali. Untuk metode mengubah variabel manusia melibatkan
usaha perubahan perilaku anggota kelompok yang terlibat. Metode ini memfokuskan
perhatian pada sebab-sebab terjadinya konflik dan atas sikap orang-orang yang
terlibat. Jadi, penekanan ada pada perubahan perilaku anggota kelompok. Metode
berikutnya adalah mengubah variabel struktural yakni metode penyelesaian pertikaian
antar kelompok melalui perubahan struktural formal organisasi. Struktur berkenaan
dengan hubungan yang tetap diantara berbagai pekerjaan dalam organisasi dan
mencakup desain pekerjaan dan departemenya. Perubahan struktural dalam praktek
berhubungan langsung dengan pemindahan, pertukaran atau pergiliran anggota
kelompok atau menunjuk seseorang sebagai koordinator, penghubung atau penengah
yang memungkinkan terjadi komunikasi antar kelompok. Dengan komunikasi yang
terbangun, akan menumbuhkan hubungan baik dan peningkatan kepercayaan,
sehingga konflik akan dapat dikelola lebih baik.
91
Teori Perilaku Organisasi Publik
Metode terakhir adalah mengidentifikasi musuh bersama. Kelompok yang
bersengketa dapat menyelesaikan perbedaan mereka untuk sementara dan bersatu
menghancurkan musuh bersama. Musuh bersama bisa saja sebagai pihak pesaing
yang baru saja memperkenalkan produk yang lebih baik. Dengan memandang pesaing
baru sebagai musuh bersama maka antar mereka dapat menyelesaikan perbedaan.
Beberapa strategi atau metode menyelesaikan konflik seperti yang telah dijelaskan
menegaskan bahwa konflik merupakan fenomena sosial, riil ada dalam masyarakat
atau organisasi publik dan konflik menjadi bagian dari kehidupan manusia atau tidak
dapat dipisahkan dari hidup manusia.
Usman (2007:5-15) menegaskan bahwa ada 2 (dua) pendekatan terhadap konflik
yaitu: (1) Competitive approach dan (2) Co-operative or collaborative approach. Ada
beberapa karasteristik pendekatan kompetitif yaitu: (1) Zero-sum gains (satu menang,
yang lain kalah); (2) Kompetisi diantara pihak-pihak, yang masing-masing berusaha
saling-mengalahkan, (3) Masing-masing berusaha membuat pihak lain rugi besar kalau
meneruskan kompetisi, (4) Paling banter “settlement”, bukan “resolution”, (5) Tingkat
kepercayaan sangat rendah dan (6) Hubungan masing-masing pihak memburuk,
sedangkan karakteristik pendekatan kooperatif adalah: (1) Positive-sum gains (tidak
ada kalah/menang mutlak); (2) Kedua pihak bersama-sama membahas persoalan;
(3) Komunikasi tingkat tinggi; (4) Tingkat kepercayaan meningkat; (5) Hubungan
membaik dan (6) Hasilnya saling-memuaskan: “resolution” and “transformation”.
Kedua pendekatan yang telah diungkapkan juga dapat menjadi resolusi konflik.
Pendekatan kompetitif cocok untuk masyarakat tertentu seperti masyarakat sudah
dewasa dan menghormati perbedaan, sedangkan pendekatan kompromi atau
kooperatif barangkali cocok dalam menyelesaikan kasus-kasus konflik seperti budaya
masyarakat mendukung dengan pendekatan kompromi. Untuk Indonesia, pendekatan
kompromi atau kooperatif sangat sejalan dengan musyawarah untuk mufakat. Banyak
manfaat yang diperoleh dari mereka yang sedang bertikai apabila mau mempraktekkan
musyawarah mufakat antara lain: (1) Banyak pihak yang merasa diuntungkan; (2) Hasil
lebih memuaskan; (3) Penyelesaian masalah konflik menjadi tuntas; (4) Hubungan
menjadi baik; dan (5) Komunikasi lancar.
Selanjutnya Donnelly (1997: 285) menawarkan beberapa teknik untuk
menumbuhkan atau merangsang timbulnya konflik fungsional yaitu: (1) Komunikasi;
(2) Membawa orang luar ke dalam kelompok; (3) Mengubah struktur organisasi dan
(4) Merangsang kompetisi. Beberapa teknik penumbuhan konflik fungsional dapat
dijelaskan seperti uraian berikut. Teknik komunikasi berfokus pada penggunaan
saluran komunikasi secara cerdas, seorang manajer dapat merangsang konflik yang
bermanfaat. Misal sengaja digulirkan informasi tentang mutasi. Tujuan penyampaian
informasi agar meningkatkan disiplin kerja dan persaingan mencapai tujuan atau
prestasi kerja. Hal ini bisa menimbulkan konflik yang fungsional.
92
Bab 6 – Konflik Dalam Organisasi Publik
Teknik membawa orang dari luar ke dalam kelompok dapat membangkitkan gairah
kerja atau prestasi. Organisasi bisa mengalami staknasi apabila tidak dibangkitkan
melalui persaingan. Salah satu teknik dengan memasukkan orang luar ke dalam
organisasi melalui penerimaan pegawai baru atau memidahkan orang-orang yang
sikap, nilai dan latar belakangnya berbeda dari anggota kelompok yang lain. Masuknya
orang luar dapat menjadi teknik meningkatkan konflik fungsional. Berikutnya adalah
teknik mengubah struktur organisasi. Teknik ini bukan hanya dapat menyelesaikan
konflik antar kelompok, tetapi sangat baik juga untuk menciptakan konflik. Praktek
mengubah struktur organisasi melalui reorganisasi. Reorganisasi merupakan
perubahan organisasi yang dilakukan dalam rangka menciptakan kompetensi yang
sehat. Teknik terakhir adalah merangsang kompetisi. Banyak teknik yang dapat dipilih
oleh manajer atau atasan untuk merangsang kompetisi. Seperti penggunaan berbagai
insentif seperti hadiah dan bonus bagi mereka yang berprestasi seperti mahasiswa dan
dosen berprestasi, karyawan atau staf yang rajin dan lain sebagainya.
93
Teori Perilaku Organisasi Publik
94
BAB 7
Komunikasi Dalam Organisasi
Publik
K
omunikasi menjadi kajian penting dalam Bab 7 karena komunikasi diperlukan
dan pasti dilakukan oleh setiap anggota organisasi apapun kedudukan atau
jabatannya (atasan dan bawahan) dalam rangka pelaksanaan pekerjaan untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Selain itu, komunikasi menjadi
kunci sukses dalam mengenali dan memahami persepsi, sikap, respon atau reaksi
dan perilaku semua anggota organisasi. Tidak ada komunikasi, organisasi akan mati.
Pernyataan ini membuktikan bahwa komunikasi sangat menentukan maju mudurnya
organisasi bahkan mati atau hidupnya organisasi.
Berpijak pada arti penting komunikasi dalam organisasi publik maka ada
beberapa sub bab dalam Bab ini yang akan dianalisis yaitu: (1) Pengertian komunikasi
dalam organisasi; (2) Proses komunikasi; (3) Jenis komunikasi dan (4) Pentingnya
komunikasi organisasi. Penjelasan dari masing-masing sub bab seperti uraian berikut.
7.1.
PENGERTIAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Komunikasi menurut asal-usul kata berasal dari bahasa Inggris Communication dan
bahasa Latin communicatio dari kata communis. Jadi, komunikasi menurut asal-usul
kata atau secara harfiah memiliki arti menciptakan kebersamaan dan keharmonisan
dalam hubungan 2 (dua) orang atau lebih. Untuk memahami komunikasi, dalam
buku ini dijelaskan tentang pendapat Lasswell yang begitu terkenal. Lasswell (1961)
menegaskan bahwa pemahaman proses komunikasi dapat dijelaskan melalui
paragdigma yang dia buat, dengan menjawab pertanyaan: Who, Say What, In Which
Channel, To Whom, and With What Effect (Siapa, mengatakan apa, melalui saluran apa,
kepada siapa dan dengan efek apa).
95
Teori Perilaku Organisasi Publik
Pengertian komunikasi dapat ditinjau dalam dua arti. Pertama, komunikasi dalam
arti umum dan kedua, komunikasi dalam arti khusus. Komunikasi dalam arti umum
dapat dilakukan oleh siapa saja (laki-laki, perempuan, dan tua muda), kapan saja (pagi,
siang, sore dan malam hari) dan di manapun (menunjuk tempat seperti di kantor, di
pasar, di hotel, di jalan, di warung makan dan tempat lainnya). Dengan pernyataan lain,
komunikasi dapat dilakukan oleh pemuda dan pemudi, anak-anak, remaja, orang tua,
laki-laki atau perempuan. Komunikasi dapat pula dilakukan di malam hari, sore hari,
siang hari, tengah malam, atau bahkan dini hari. Komunikasi juga dapat dilakukan
di tengah jalan, di gedung film, di pasar, di warung kopi, di tempat rekreasi, di ruang
sekolah atau kuliah dan dimanapun.
Komunikasi dalam arti umum tersebut akan berubah menjadi komunikasi dalam
arti khusus, apabila dikaitkan dengan sandaran komunikasi. Dalam pokok bahasan ini
sandaran komunikasi adalah organisasi. Oleh karena itu, komunikasi dalam organisasi
atau komunikasi organisasi termasuk kategori komunikasi dalam arti khusus.
Komunikasi organisasi mempunyai makna komunikasi yang dilakukan oleh anggota
organisasi dan terjadi di dalam organisasi, dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Beberapa definisi komunikasi organisasi yang minimal perlu diketahui oleh
mahasiswa antara lain:
a. Davis dalam F.X. Soedjadi (1995)
Communication is the process of passing information and understanding from one
person to another (komunikasi adalah sebagai proses penyampaian keterangan
dan pengertian dari orang satu kepada orang yang lain).
b. Redfield, Charles dalam S. Yuwono (1985)
Communication is the process of transferring a selected bit of information (a massage)
from an information source to a destination. Administrative communication can
best regarded as a form of social of human communication in which there are these
five elements: a communicator ( a speaker, sender, issuer) who transmits (says,
sends, issues) messages (orders, report, suggestions) to a communicatee (addresser,
respondent, audience) to influence the behavior of the communicatee as seen in his
response (reply, reaction) (Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari
suatu sumber informasi ke suatu tujuan. Komunikasi administrasi/organisasi
dapat dipandang sebagai suatu komunikasi sosial atau suatu komunikasi antar
manusia yang mengandung 5 (lima) unsur yaitu PEMBERI BERITA (pembicara,
pengirim), yang MENYAMPAIKAN (mengatakan, mengirim, menyiarkan)
BERITA-BERITA (perintah-perintah, laporan-laporan, saran-saran) kepada
seseorang PENERIMA BERITA (orang yang dituju, responden, pendengar) untuk
mempengaruhi penerima berita sebagaimana dapat dilihat pada REAKSINYA
(jawaban).
96
Bab 7 – Komunikasi Dalam Organisasi Publik
c. Lasswell (1961)
Pengertian komunikasi menurut Lasswell (1961) didefinisikan Siapa (who);
Bicara apa (says what); Dengan saluran mana (in which channel); Kepada siapa (to
whom) serta dengan pengaruh seperti apa (with what effect).
7.2.
PROSES KOMUNIKASI
Proses komunikasi itu sendiri dapat terjadi ketika sumber informasi (komunikan)
menyampaikan pesan kepada penerima pesan (audience) melalui saluran tertentu
atau media (channel). Oleh karena itu, paradigma proses komunikasi yang
dikenalkan oleh Harold Lasswell (1961) dinamakan paradigmatic question. Selain itu,
paradigma ini oleh banyak ahli komunikasi dianggap sebagai teori komunikasi yang
penting, sehingga setiap bicara komunikasi tidak akan terlepas dari pembicaraan
paradigmatic question. Lasswell (1961) juga menegaskan bahwa paradigmatic question
berisi unsur-unsur komunikasi yang terdiri dari: (1) Communicator (Komunikator), (2) Message (Pesan), (3) Media (Media), (4) Communican/Receiver (Komunikan/
Penerima) dan (5) Effect (Efek).
Lebih lanjut Lasswell (1961) menegaskan bahwa komunikasi sebagai suatu proses
selalu berbicara tentang siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa?
dengan akibat atau hasil apa atau efek yang bagaimana? (who? says what? in which channel?
to whom? with what effect?). Selanjutnya Lasswell (1961) memberikan penjelasan secara
garis seperti uraian berikut. Pertama: Who? (siapa) membicarakan tentang sumber/
komunikator. Komunikator adalah pelaku utama/pihak yang menyampaikan pesan
atau pihak yang memulai komunikasi. Komunikator bisa seorang individu, kelompok,
organisasi maupun pemerintah. Kedua, Says What? membicarakan tentang mengatakan
apa (isi pesan atau komunikasi). Ketiga, In Which Channel? membicarakan tentang
saluran atau media apa (saluran/media) yang dipergunakan agar pesan sampai kepada
penerima pesan (komunikan). Media dalam hal ini bisa media massa dan nirmasa
atau media sosial seperti Whats App (WA) dan facebook secara on line. Keempat, To
Whom? membicarakan tentang kepada siapa pesan harus disampaikan atau penerima
pesan (penerima pesan atau audience atau komunikan). Terakhir atau kelima, With
What Effect? membicarakan tentang dengan efek apa atau ada perubahan apa atau
dampak apa), setelah penerima pesan (audience atau komunikan) menerima pesan.
Dampak/efek/perubahan yang terjadi pada diri si komunikan (penerima) pesan dapat
dilihat atau diukur dari tujuan komunikasi. Jika tujuan komunikasi ingin melakukan
perubahan perilaku maka perilaku seseorang sebagai penerima pesan juga akan
mengalami perubahan. Jika tujuan untuk menambah pengetahuan maka komunikan
sebagai penerima pesan juga akan bertambah pengetahuannya.
97
Teori Perilaku Organisasi Publik
Komunikasi berperan dan berkontribusi besar pada maju mudurnya atau sukses
tidaknya organisasi. Organisasi hanya akan berjalan dan berfungsi dengan baik apabila
ada komunikasi di dalamnya. Visi dan misi organisasi, instruksi, perintah, koordinasi,
laporan dan lainnya memerlukan proses komunikasi. Semua ini mengandung pesan
dan memerlukan unsur komunikasi sebagai telah dijelaskan oleh Lasswell. Interaksi
antar manusia dalam organisasi tidak mungkin dapat terjadi, tanpa adanya komunikasi.
Kita bisa menerima pesan dan bisa juga sebagai pemberi pesan. Ide atau gagasan tidak
akan bisa dipahami orang atau tidak akan sampai kepada anggota organisasi, tanpa
adanya komunikasi. Kita bisa saling tukar-menukar informasi dan saling belajar
melalui komunikasi.
7.3.
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Komunikasi penting dipelajari karena komunikasi diperlukan dan pasti dilakukan
oleh setiap anggota organisasi dalam rangka pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Penegasan demikian menunjukkan
bahwa komunikasi menjadi salah satu faktor yang menentukan terhadap sukses atau
tidaknya setiap kegiatan yang harus dilakukan oleh anggota organisasi. Setiap anggota
organisasi dalam pelaksanaan kegiatan memerlukan informasi yang cukup, jelas dan
lengkap. Demikian pula, agar fungsi dan tugas pemimpin dapat dilaksanakan dengan
baik, ia juga memerlukan informasi yang cukup, jelas dan lengkap. Apabila informasi
yang mereka perlukan tidak mencukupi kebutuhan, maka pelaksanaan tugas dan
fungsi kepemimpinan menjadi terhambat atau bahkan gagal sama sekali, termasuk
pelaksanaan tugas setiap anggota organisasi lainnya.
Beberapa contoh kegiatan pimpinan yang memerlukan informasi yang cukup dan
jelas antara lain terkait dengan kegiatan pengarahan kepada bawahan, penyusunan
rencana atau program kerja, pengambilan keputusan dalam rangka penyelesaian
masalah, perbaikan kelemahan, dan pengangkatan pembantu-pembatunya. Informasiinformasi yang mereka perlukan dapat diperoleh melalui laporan lisan maupun tertulis
dari para bawahan serta dapat pula diperoleh melalui kunjungan langsung ke lapangan
di mana bawahan sedang melaksanakan tugas. Sehubungan dengan pentingnya
komunikasi dalam organisasi maka uraian berikut akan menjelaskan jenis-jenis
komunikasi dalam organisasi yang selalu dipraktekkan dalam kehidupan organisasi.
Yuwono (1985) menyatakan bahwa ada bermacam-macam komunikasi organisasi
dan komunikasi ini dapat digolongkan ke dalam: (1) Komunikasi menurut struktur
organisasi, (2) Menurut bentuk pyramida dan (3) Komunikasi menurut skopenya.
Macam-macam komunikasi organisasi yang telah disebutkan, menurut Yuwono dapat
dijelaskan secara garis besar seperti uraian berikut.
98
Bab 7 – Komunikasi Dalam Organisasi Publik
7.3.1. Menurut Struktur Organisasi
Komunikasi organisasi menurut struktur organisasi dapat dibagi ke dalam komunikasi
formal dan komunikasi informal.
1. Komunikasi Formal
Komunikasi yang terjadi antar anggota organisasi yang secara tegas telah diatur,
direncanakan atau ditentukan secara tegas dalam struktur organisasi. Komunikasi
formal dapat mengambil contoh dalam pelaksanaan tugas anggota organisasi,
selaku atasan atau pejabat. Dalam pelaksanaan tugas, terjadilah komunikasi yang
struktural antara pejabat atau dengan penyataan lain, orang yang menduduki
suatu jabatan diwajibkan mengadakan komunikasi yang sesuai dengan jabatannya
sampai batas-batas tertentu.
Misalnya seorang kepala kantor menolak permohonan seorang pegawai bawahan
yang meminta ijin tidak masuk kantor selama setengah hari kerja. Larangan ini
dalam kontek hubungan formal. Realitas demikian harus dipahami oleh semua
anggota organisasi. Apabila permintaan ijin selalu diberikan, dengan alasan yang
tidak jelas maka kondisi ini merupakan contoh buruk untuk pegawai-pegawai
lainnya. Oleh karena itu, sebagai kepala kantor saya dengan terpaksa tidak dapat
mengabulkan permintaan saudara. Tindakan ini harus mendapar dukungan
setiap orang dan tidak boleh merusak hubungan baik di luar hubungan formal.
2. Komunikasi Informal
Dalam praktek komunikasi formal tidak selalu mengikuti garis relnya atau sesuai
dengan struktur, karena jabatan-jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang
yang bermacam-macam kepribadian. Untuk itu, muncul atau lahir komunikasi
informal. Jadi, komunikasi informal adalah komunikasi yang terjadi di antara
para anggota organisasi atas dasar kehendak atau hasrat pribadi, dan persamaan
kepentingan atau hoby yang sama. Komunikasi informal memang perlu ada dalam
setiap organisasi karena komunikasi formal belum dapat memenuhi kebutuhan
setiap anggota organisasi. Namun demikian, komunikasi informal yang baik
perlu mendapat perhatian. Komunikasi informal yang baik adalah komunikasi
yang dapat melengkapi komunikasi formal.
7.3.2. Komunikasi Menurut Pyramida
Komunikasi menurut pyramida dalam realitas dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam
komunikasi yaitu komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas dan komunikasi horizontal.
Penjelaskan secara rinci, contoh dan perbedaan dari ketiganya, dapat dijelaskan seperti
uraian berikut.
1. Komunikasi Ke Bawah
Komunikasi ke bawah merupakan komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan
99
Teori Perilaku Organisasi Publik
kepada para anggota organisasi (bawahan) dengan maksud untuk memberikan
pengertian dan pemahaman kepada mereka mengenai apa yang harus mereka
kerjakan dalam kedudukannya sebagai anggota organisasi. Pemberian pengertian
dan pemahaman, sekaligus contoh macam-macam kegiatan yang tergolong ke
dalam komunikasi ke bawah antara lain:
a. Pemberian petunjuk
b. Pemberian keterangan umum
c. Pemberian perintah
d. Pemberian teguran
e. Pemberian penghargaan
Komunikasi ke bawah dapat diberikan oleh atasan kepada bawahan melalui dan
dapat dilakukan secara lisan, tertulis, dengan mempergunakan gambar-gambar
atau simbol-simbol, dalam bentuk surat-surat edaran, pengumuman atau bukubuku pedoman pegawai. Untuk dewasa ini dapat dilakukan melalui email, SMS,
komunikasi melalui media sosial khususnya Whats App (WA) dan facebook secara
on line.
2. Komunikasi Ke Atas
Komunikasi ke atas merupakan komunikasi yang diberikan oleh para anggota
organisasi (bawahan) kepada pimpinan dengan maksud untuk memberikan
bahan-bahan keterangan yang diperlukan oleh pimpinan, agar fungsi-fungsi
kepemimpinan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, komunikasi
ke atas merupakan saluran bagi penyampaian pikiran perasaan para anggota
organisasi yang bertalian dengan tugas-tugasnya, termasuk kesulitan-kesulitan
atau hambatan-hambatan yang dialami oleh bawahan, yang idealnya harus
sampai dan diketahui oleh pimpinan.
Komunikasi ke atas dapat diberikan melalui macam-macam kegiatan. Contohcontoh komunikasi ke atas antara lain:
a. Pemberian laporan
b. Pemberian saran
c. Pemberian pendapat
Komunikasi ke atas sama juga dengan komunikasi ke bawah, dapat dilakukan
secara lisan, tertulis, dengan mempergunakan gambar-gambar atau simbolsimbol. Selain itu, komunikasi ke atas termasuk kategori sangat penting.
Namun demikian, di antara jenis komunikasi organisasi yang paling sulit untuk
ditumbuhkan adalah komunikasi ke atas. Contoh kesulitan dimaksud adalah
soal penggunaan telepon. Telepon yang sebenarnya menjadi sarana komunikasi
yang dapat memudahkan anggota organisasi untuk berhubungan dengan anggota
organisasi yang lain, termasuk kepada atasan, dalam kenyataannya jarang
100
Bab 7 – Komunikasi Dalam Organisasi Publik
dipergunakan oleh bawahan untuk berkomunikasi dengan atasan. Bawahan masih
merasa sungkan, kawatir dianggap kurang sopan dan alasan-alasan psikologis
lainnya. Konsekuensinya, banyak waktu dan tenaga bawahan yang terbuang
sia-sia karena mereka harus antri dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk
mengatasi persoalan tersebut, sekaligus dalam rangka memotivasi tumbuhnya
komunikasi ke atas, beberapa pimpinan organisasi melakukan langkah-langkah
ke arah penumbuhan komunikasi ke atas. Contohnya, perusahaan Pitney – Bowes
dalam sebulan sekali menutup perusahaan sebentar guna memberi kesempatan
kepada buruh-buruhnya guna mencurahkan rasa ketidakpuasan mereka. Seorang
mandor dan seorang buruh yang dipilih diminta untuk mengemukakan masalahmasalah yang tidak dapat dipecahkan kepada kepala-kepala bagiannya. Contoh
berikutnya yang dilakukan oleh Presiden United Air Lines pernah mengatakan
bahwa ia sendiri akan menjawab setiap surat pegawai bawahan yang dikirimkan
kepadanya. Ada pula perusahaan yang pernah mengadakan perlombaan
mengarang bagi buruh-buruhnya dengan judul Why I like My Job dan ada pula
dengan judul karangan: What I Dislike Most about my Company.
3. Komunikasi Mendatar
Komunikasi mendatar merupakan komunikasi dalam organisasi yang dapat
dilakukan di antara para pejabat dalam organisasi yang menduduki jabatan
kurang lebih sama atau sederajad. Komunikasi mendatar dapat dilakukan dengan:
a. Memintakan persetujuan dengan jalan review
b. Mengadakan rapat kerja
7.3.3. Komunikasi Menurut Skope
Tujuan organisasi aparatur pemerintah tidak dapat diwujudkan oleh organisasi
aparatur pemerintah itu sendiri, tanpa melibatkan partisipasi publik (masyarakat).
Untuk itu, meskipun organisasi aparatur pemerintah telah dijalankan dengan
baik, tetapi kalau masyarakat tidak percaya, maka ketidak percayaan tersebut akan
membawa akibat buruk seperti kesulitan menciptakan kewibawaan aparat-aparat
pemerintah dan sulitnya memperoleh dukungan. Untuk mengatasi persoalan tersebut,
organisasi pemerintah memerlukan kehadiran public-opinion. Mereka ini yang akan
terus berusaha untuk memperoleh kepercayaan masyarakat, sehingga masyarakat pada
gilirannya akan memberikan dukungan yang sebesar-besarnya atau secara negatif tidak
menimbulkan rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan. Sehubungan dengan itu,
komunikasi organisasi dikaji dari skopenya, dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu
komunikasi intern dan komunikasi ekstern. Penjelasan secara garis besar kedua jenis
komunikasi tersebut, dapat dijelaskan seperti uraian berikut.
101
Teori Perilaku Organisasi Publik
1. Komunikasi Intern
Komunikasi intern adalah komunikasi yang terjadi dalam lingkungan organisasi
sendiri. Macam-macam komunikasi intern terdiri dari:
a. Komunikasi formal
b. Komunikasi informal
c. Komunikasi ke bawah
d. Komunikasi ke atas
e. Komunikasi mendatar
Penjelasan tentang jenis komunikasi intern, dapat dilihat penjelasan yang telah
diungkapkan di atas.
2. Komunikasi Ekstern
Komunikasi ekstern adalah komunikasi yang terjadi dalam hubungannya dengan
publik. Komunikasi ekstern ini mempunyai 2 (dua) fungsi yaitu:
a. Fungsi keluar yaitu memberikan informasi dan ide kepada masyarakat (publik)
untuk menimbulkan kepercayaan dan memperoleh dukungan masyarakat.
Selain itu, komunikasi ini dilakukan dalam rangka agar masyarakat dapat
mengetahui banyak mengenai seluk beluk organisasi aparatur pemerintah.
Fungsi ini dapat dilakukan melalui pengeluaran publikasi, penyelenggaraan
pidato-pidato di muka umum, mengadakan demontrasi, exposisi atau pameran
dan memelihara kelangsungan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat
yang erat hubungannya dengan pelaksanaan tugas-tugas dinasnya
b. Fungsi ke dalam yaitu fungsi untuk menjamin organisasi aparatur pemerintah
terpelihara pengetahuannya dengan apa yang dipikirkan oleh masyarakat.
Dengan melakukan komunikasi ke luar yang teratur diharapkan bahwa organisasi
aparatur pemerintah mengetahui kebutuhan-kebutuhan, aspirasi-aspirasi yang
hidup serta reaksi-reaksi masyarakat terhadap tindakan-tindakan yang sedang
atau akan dilaksanakan. Hal ini bermakna bahwa komunikasi keluar mempunyai
fungsi penasehatan (advisory) yakni memberikan nasehat kepada pimpinan
organisasi tentang segala sesuatu yang hidup dalam masyarakat yang perlu
mendapat perhatian. Komunikasi ke luar untuk pelaksanaan fungsi ke dalam,
dapat dilakukan dengan jalan:
(1) Memperhatikan tulisan-tulisan mengenai seluk beluk aparaturnya yang
dimuat dalam surat khabar, baik dalam surat pembaca atau artikel atau
dalam kolom-kolom khusus yang disediakan. Termasuk memperhatikan
komentar publik yang dilakukan melalui media sosial. Kritik atau masukan
yang disampaikan melalui media pers perlu ditanggapi dengan bijak dan
dipandang sebagai sumbangan yang cukup berarti bagi kemajuan dan
perkembangan organisasi, bukan dipandang sebaliknya
102
Bab 7 – Komunikasi Dalam Organisasi Publik
(2) Mengadakan kesempatan untuk menerima dan menanggapi surat-surat
pengaduan yang berisi keluh kesah, kritik dari warga masyarakat yang
ditujukan kepada organisasinya
(3) Mengikutsertakan warga masyarakat untuk ikut berkomunikasi secara
formal dengan cara mendudukan mereka ke dalam badan-badan penasehat
pada aparatur pemerintah
7.4.
ARTI PENTING KOMUNIKASI DALAMORGANISASI
Komunikasi dalam organisasi yang dilakukan oleh anggota organisasi mempunyai arti
penting, baik untuk anggota organisasi pada umumnya maupun pimpinan organisasi.
Arti penting komunikasi bagi anggota organisasi pada umumnya, dapat dirinci sebagai
berikut:
a. Timbulnya kemahiran kerja para personil yang dapat diukur dari personil tidak
banyak melakukan kesalahan dalam penanganan tugas dan terampil dalam
penanganan tugas
b. Timbulnya kemauan kerja para personil yang dapat diukur dari personil
menangani tugas tepat pada waktunya, tidak meninggalkan kantor waktu dinas
untuk kepentingan pribadi atau golongan
c. Timbulnya kerjasama di antara para personil yang dapat diukur dari tidak ada
kekembaran pandangan atau penanganan dan tidak ada kekosongan perhatian
mengenai hal yang harus ditangani di antara seluruh personil.
Sedangkan arti penting komunikasi bagi pimpinan yang dilakukan dengan setepattepatnya mempunyai arti penting, yang dapat dirinci sebagai berikut:
a. Melalui komunikasi dapat diperoleh data, informasi dan faktor-faktor lain
yang sangat diperlukan dalam rangka pengambilan keputusan, sebagai sarana
pembinaan kerjasama kelompok dan demi pemanfaatan sumber-sumber yang ada
dapat dilakukan dengan setepat-tepatnya. Supaya data komunikasi dapat menjadi
masukan bagi pengambilan keputusan yang perlu dilakukan oleh pimpinan,
maka data komunikasi tersebut perlu memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai
berikut:
(1) Benar
Data yang dikehendaki oleh pimpinan yang baik adalah data yang benar.
Apabila data tidak benar, dapat menimbulkan macam-macam akibat seperti
pandangannya tentang sesuatu hal menjadi keliru, obyek yang terkena dapat
menderita kerugian dan apabila yang terkena kekeliruan tersebut pejabat yang
kebetulan telah memiliki prasangka jelek maka upaya perbaikan akan sangat
sulit dilakukan
103
Teori Perilaku Organisasi Publik
(2) Waktu atau kebasian data
Persyaratan waktu sangat penting bagi data komunikasi. Persyaratan waktu
mengandung makna bahwa data yang diperoleh adalah data yang hangat. Apabila
data yang diperoleh adalah data yang basi atau tidak hangat, maka nilai kegunaan
data menjadi rendah bahkan tidak berguna sama sekali. Data demikian bisa
terkait dengan peluang pasar, badan intelijen, penerimaan pegawai, dan yang
sejenis
(3) Tempat
Perhatian anggota organisasi yang terutama terkait dengan bidang tugas
pekerjaannya sendiri. Untuk itu, mereka selalu melihat apakah informasi tersebut
penting bagi pelaksanaan tugas-tugas pekerjaannya. Apabila tempat kedudukan
data semakin dekat, maka nilai kegunaan data bagi personil yang bersangkutan
semakin besar.
Persyaratan berikutnya yang perlu diperhitungkan, terkait dengan kegiatan
penyampaian informasi. Agar penyampaian informasi berlangsung efektif atau
mencapai hasil seperti yang diharapkan, ada beberapa pedoman yang dapat
dipergunakan sebagai acuan.
b. Jelas
Informasi yang jelas akan memudahkan bagi si penerima untuk mengerti dan
memahami isi informasi.
c. Konsekuen
Penyampaian informasi yang dilakukan oleh pejabat perlu memperhatikan
jangan sampai terjadi pertentangan satu sama lainnya. Ada informasi tentang
kewajiban tertentu, tetapi pejabat lain memberikan informasi yang bertentangan.
Konsekuen juga dapat bermakna bahwa isi komunikasi sesuai dengan tujuan
organisasi. Beberapa contoh konkrit bentuk ketidak konsekuenan antara lain:
(1) Mengumumkan adanya sistem penampungan saran tetapi dalam praktek
tidak ada kelanjutannya dan (2) Mengumumkan adanya jaminan pintu terbuka
untuk pengajuan pendapat para anggota organisasi, tetapi dalam kenyataannya
mempersulit anggota dengan bermacam-macam alasan
d. Berkecukupan
Penyampaian informasi perlu juga berpedoman kepada asas memadahi kebutuhan
atau dapat menyampaikan maksud secara cukup
e. Pertimbangan waktu
Pertimbangan waktu yang perlu mendapat perhatian dalam penyampaian
informasi terdiri dari: (1) Penggunaan waktu yang setepat-tepatnya. Kapan
informasi dapat dicerna dengan baik dan kapan waktu yang tidak tepat dan
(2) Informasi tersebut dapat dipergunakan pada waktunya. Jadi penyampaian
104
Bab 7 – Komunikasi Dalam Organisasi Publik
informasi perlu berpedoman pada asas bahwa informasi yang disampaikan dapat
dipergunakan pada waktunya oleh anggota atau pejabat yang menerima
f.
Pengedaran
Informasi di dalam organisasi harus dapat mencapai pejabat-pejabat atau personil
yang tepat. Pertanyaan dalam hal ini adalah Siapa yang harus menerima informasi.
g. Penyajian data, analisis dan informasi dalam rangka membina kesatuan gerak dan
arah yang setepat-tepatnya sehingga pemanfaatan segala sumber yang diperlukan
dapat diadakan koordinasi dengan sebaik-baiknya.
105
Teori Perilaku Organisasi Publik
106
BAB 8
Motivasi Dalam Organisasi
Publik
S
etiap orang mulai dari yang paling miskin sampai dengan orang paling kaya atau
rakyat jelata sampai presiden sekalipun membutuhkan adanya motivasi. Orang
bisa capek, jenuh, bosan dan perasaan lainnya. Salah satu obatnya diberikan
motivasi. Siagian (2003:132) menegaskan bahwa motivasi adalah daya pendorong
yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan
kemampuan, dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk
menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dalam
menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran
organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam realitas banyak ditemukan bahwa tidak mudah membuat orang untuk selalu
termotivasi dalam bekerja, belajar, berjuang dan aktivitas lain. Mengapa hal demikian
terjadi? Pertanyaan ini setelah ditelusuri penyebabnya ternyata ada bermacam-macam
seperti ada rasa bosan atau jenuh dengan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari,
apa yang dilakukan kurang atau tidak mendapat penghargaan yang sepadan, tidak
pernah atau sangat jarang melakukan represing, terlalu serius dan penyebab lainnya.
Situasi yang demikian makin menegaskan bahwa kita tidak mudah mempertahankan
motivasi yang hebat dan tidak mudah mengobati penurunan motivasi karena motivasi
itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, seiring dengan keunikan manusia itu
sendiri.
Kita bisa juga menemukan bahwa perilaku anggota organisasi dipengaruhi oleh
keinginan dan kemauannya untuk melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan.
Keinginan dan kemauan merupakan wujud motivasi. Jadi, motivasi menjadi pendorong
utama dalam banyak hal, khususnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi)
107
Teori Perilaku Organisasi Publik
seorang anggota organisasi. Jika ia tidak memiliki motivasi maka Tupoksi tidak akan
berjalan seperti yang diharapkan. Gambaran singkat ini telah memperkuat bahwa
motivasi menjadi penentu dinamika organisasi. Bermula dari sini terlihat dengan jelas
bahwa motivasi dalam organisasi sangat penting akan kehadirannya.
Muchlas (2005: 181) menegaskan bahwa motivasi sebenarnya adalah hasil interaksi
antara individu dengan situasinya, sedangkan motivasi dalam perilaku organisasi
Muchlas (2005: 181-182) dan Robbins (1993) merupakan kemauan untuk berjuang/
berusaha ke tingkat yang lebih tinggi menuju tercapainya tujuan organisasi, dengan
syarat tidak mengabaikkan kemampuannya untuk memperoleh kepuasan dalam
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi. Pengertian ini makin memperkuat bahwa
obat terhebat untuk mempertahankan tingkat motivasi seseorang sangat ditentukan
dari dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki motivasi untuk bekerja, ia akan
bekerja dengan sebaik-baiknya, walaupun lingkungan tidak ada upaya memberikan
motivasi, termasuk unsur pimpinan dan bawahan. Jadi obat motivasi bersumber dari
dalam diri manusia (individu). Sungguhpun begitu, motivasi bekerja seseorang selain
ditentukan dari dalam dirinya sendiri, tentu akan jauh lebih baik apabila motivasi dari
dalam diri tersebut didukung oleh lingkungannya atau motivasi yang bersumber dari
lingkungan (orang sekitar seperti keluarga, teman sejawat dan atasan).
Selanjutkan untuk memahami motivasi maka kita tidak bisa melepaskan diri
dari teori-teori klasik dan teori kontemporer yang berkembang hingga dewasa ini.
Teori klasik yang banyak diacu untuk menjelaskan motivasi antara lain adalah teori
hierarki kebutuhan yang ditulis oleh Maslow, teori X dan Y yang ditulis oleh McGregor,
teori motivasi higienis yang ditulis oleh Herzberg. Masing-masing pemikir yang
dikategorikan ke dalam teori klasik ini akan dijelaskan secara garis, seperti uraian
berikut.
Douglas McGregor (1960) yang menulis tentang The Human Side of Enterprise
berpandangan bahwa ada 2 (dua) tipe manusia yaitu tipe X dan tipe Y, yang selanjutnya
lebih populer dengan teori X dan teori Y. Kedua teori ini dapat diaplikasikan untuk
manajer dan untuk pegawai (karyawan). Teori X menggambarkan perilaku yang
cenderung negatif, sedangkan teori Y lebih mengambarkan pada perilaku yang positif
sebagaimana disarikan oleh Siagian (1994) dan Thoha (2002). Teori ini seringkali
dikategorikan sebagai Teori Organisasi Klasik.
Teori X berpandangan bahwa manusia yang cenderung berperilaku negatif
mempunyai karakteristik: (1) Manusia tidak senang bekerja atau berusaha menghindari
pekerjaan; (2) Untuk itu, supaya manusia mau dan suka bekerja harus dipaksa, diawasi
dengan ketat atau diancam dengan berbagai tindakan, agar tujuan organisasi tercapai
secara maksimal; (3) Manusia (pekerja atau karyawan) akan berusaha mengelakkan
tanggung jawab dan hanya akan bekerja apabila menerima perintah dari atasan;
dan (4) Kebanyakan manusia (pekerja) mencari rasa aman di atas faktor-faktor
108
Bab 8 – Motivasi Dalam Organisasi Publik
lainnya serta manusia kurang menunjukkan ambisi untuk maju, sedangkan teori Y
berpandangan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berperilaku positif,
dengan karakteristik: (1) Pekerja memandang bekerja sebagai hal yang bersifat alamiah;
(2) Pekerja akan berkerja dengan baik, tanpa harus selalu diarahkan dan diawasi; (3)
Pekerja pada umumnya akan menerima tanggung jawab yang lebih besar; dan (4)
Manusia (pekerja) akan berusaha menunjukkan kreativitasnya, termasuk berperan
dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari tanggung jawab.
Implikasi dari kedua teori (Teori X dan Teori Y McGregor) bagi organisasi adalah
asumsi-asumsi Teori Y lebih dapat diterima dan dapat membantu manajer dalam
mendesain organisasi dalam mencapai tujuan dan bagaimana memotivasi para pegawai
untuk dapat bekerja lebih baik. McGregor (1960) menegaskan bahwa tahun 1960-an
memperlihatkan antusiasme pekerja yang cukup tinggi untuk berpartisipasi dalam
proses pembuatan keputusan organisasi, penciptaan tanggung jawab dan tantangan
pekerjaan, termasuk pembangunan hubungan kelompok-kelompok kerja yang lebih
baik. Antusiasme ini, sebagian besar, diakibatkan oleh Teori Y dari McGregor dimaksud.
Maslow (1943) menyumbangkan pemikiran tentang konsep teori yang dikenal
dengan hierarki kebutuhan (hierarchy of needs). Maslow menegaskan bahwa
kebutuhan-kebutuhan manusia dengan sendirinya membentuk semacam hierarki,
yakni dari kebutuhan fisik (psysiological needs), kebutuhan akan keselamatan atau rasa
aman (safety and security needs) kebutuhan sosial (belongingness and love), kebutuhan
akan penghargaan dan status (esteem and status), sampai dengan kebutuhan akan
perwujudan atau aktualisasi diri (self-actualization), yang secara skematis dapat dibuat
gambar sebagai berikut:
self-actualization needs
esteem and status needs
belongingness and love
safety and security needs
psysiological needs
Gambar 8.1 : Hierarki Kebutuhan Maslow
Sumber : Maslow (1943)
109
Teori Perilaku Organisasi Publik
Kebutuhan fisik, keamanan dan sosial merupakan kebutuhan yang diperlukan
oleh setiap manusia atau diusahakan untuk dapat dipenuhi, sedangkan kebutuhan
keempat dan kelima hanya sebagian manusia yang dapat dipenuhi. Hal ini tercermin
dari gambar segitiga di atas. Makin ke atas makin sedikit orang yang dapat
memenuhinya, khususnya kebutuhan keempat dan kelima. Dengan pernyataan
lain, kebutuhan fisik atau fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar dari hidup
manusia seperti makan, air, pakaian, rumah dan kebutuhan seksual, termasuk
didalamnya adalah perlindungan kesehatan. Kebutuhan keselamatan dan rasa aman
menggambarkan dorongan setiap orang untuk mencari perlindungan. Kebutuhan
rasa memiliki dan kasih sayang atau kebutuhan sosial hubungan interpersonal atau
interaksi sosial dengan orang lain, berteman, mempunyai pacar dan berumah tangga.
Dalam konteks organisasi, kebutuhan ini diselenggarakan secara bersama-sama dalam
suatu team work. Kebutuhan akan status dan penghargaan berkaitan dengan simbolsimbol kesuksesan, seperti gelar kesarjanaan, pengakuan dari orang lain dan pemilikan
barang-barang pribadi yang mewah. Manusia dalam hal ini ingin mendemonstrasikan
kemampuannya dan membangun reputasi yang bisa dibanggakan di depan publik.
Untuk kebutuhan aktualisasi diri merefleksikan hasrat dari individu untuk tumbuh
dan berkembang berdasarkan potensinya secara maksimal. Manusia pada tahap ini
menginginkan adanya tantangan atau peluang dalam bekerja, dan dibarengi hasrat
untuk mandiri dan menunjukkan tanggung jawab penuh. Semua ini menjadi alasan
atau penyebab terjadinya perilaku manusia.
Hasil studi Maslow ini diperluas lebih lanjut oleh Herzberg, yang disarikan
oleh Davis dan Newstrom (1989: 71-72) yang menegaskan bahwa Herzberg menolak
anggapan faktor pekerjaan tertentu hanya membuat pegawai tidak puas apabila tidak
ada kondisi tertentu. Dengan demikian Herzberg membedakan antara faktor iklim
baik (hygiene factors) atau faktor pemeliharaan sebagai faktor yang diperlukan untuk
mempertahankan tingkat kepuasan dalam diri pegawai, dengan faktor motivasi.
Hal ini bermakna kondisi kerja berfungsi untuk menimbulkan motivasi. Faktor
motivasi terutama berhubungan dengan isi pekerjaan (job content), sedangkan faktor
pemeliharaan berhubungan dengan isi pekerjaan (job context) karena lebih berkaitan
dengan lingkungan di sekitar pekerjaan. Oleh karena teori Herzberg ini membagi
kedalam dua faktor yang populer dengan two-factor model of motivation.
Untuk teori kontemporer yang disarikan oleh Muchlas (2005: 189-207) antara lain
teori tentang Existence, Relatedness dan Growth (ERG) dari Clayton Alderfer yang oleh
beberapa ahli dikategorikan sebagai wujud modifikasi dari hierarki kebutuhan Maslow,
Teori Kebutuhan MeClelland; Teori Evaluasi Kognitif; Teori Karakteristik Tugas; Teori
Penetapan Tujuan; Teori Penguatan; Teori Persamaan; Teori Ekspektasi dan Teori
Kemampuan dan Kesempatan. Teori ERG dari Clayton Alderfer yang memodifikasi
teori Maslow membagi dan mengelompokkan kebutuhan manusia menjadi 3 (tiga)
110
Bab 8 – Motivasi Dalam Organisasi Publik
kebutuhan yaitu: (1) Kebutuhan akan keberadaan, terutama mencakup keperluan
material pokok; (2) Kebutuhan akan adanya saling berhubungan, suatu keinginan untuk
mempertahankan hubungan-hubungan penting sesama manusia atau hubungan sosial
dalam rangka memperoleh kepuasan dan (3) Kebutuhan pertumbuhan yaitu keinginan
intrinsik untuk pengembangan pribadi (Maslow menamakan kebutuhan penghargaan
dan aktualisasi diri).
Teori kebutuhan MeClelland yang berfokus pada 3 (tiga) kebutahan yaitu:
(1) Keberhasilan; (2) Kekuatan/Kewenangan; dan (3) Afiliasi. Kebutuhan akan
keberhasilan menjadi dorongan kuat bagi manusia untuk menjadi yang terbaik,
tersukses, untuk mencapai keberhasilan sesuai standar yang telah ditetapkan dan
berjuang untuk menjadi sukses. Kebutuhan akan kekuatan dapat mempengaruhi
dan menjadikan orang lain berperilaku dengan cara-cara yang dikehendaki oleh si
penggerak dan diusahakan, agar orang lain tidak berprilaku yang menyimpang dari
yang telah ditentukan. Kebutuhan akan afiliasi merupakan keinginan untuk memiliki
hubungan-hubungan persahatan atau hubungan antar manusia secara lebih akrap
atau dekat. Pembelajaran dari teori ini adalah banyak orang yang memiliki dorongan
kuat untuk berhasil, sehingga ia terus berjuang untuk mencapai keberhasilan daripada
mengharapkan penghargaan dari orang lain untuk keberhasilannya.
Dalam perilaku organisasi publik, perilaku manusia tidak muncul secara tibatiba. Perilaku manusia muncul karena ada alasan atau penyebab atau memiliki
motivasi tertentu. Alasan atau motivasi dibelakang perilaku manusia pada umumnya
berhubungan dengan kepentingan dan kebutuhannya. Kepentingan atau kebutuhan
manusia pada umumnya berhubungan materi, finansial, jabatan dan non materi
yang lain. Mengapa orang memiliki perilaku yang berbeda waktu menghadap atasan,
dibandingkan bukan atasan. Mengapa orang berprilaku begitu sopan ketika mau
ketemu calon mertua? Beberapa contoh ini salah satu jawabannya adalah manusia
berbeda perilakunya karena berbeda motivasi.
111
Teori Perilaku Organisasi Publik
112
BAB 9
Budaya Organisasi Publik
O
rganisasi dan organisasi publik seperti yang telah dijelaskan pada Bab II
telah ditegaskan bahwa makna organisasi dapat ditelusuri dari teori Klasik
dan teori sistem. Teori klasik memandang organisasi identik dengan tempat,
wadah dan atau alat bagi kegiatan administrasi dan manajemen, sedangkan teori
sistem memandang organisasi sebagai sesuatu yang dinamis dan atau menggambarkan
interaksi atasan-bawahan dan atau interaksi antar anggota organisasi. Hal ini bermakna
bahwa organisasi itu hidup seperti layaknya organisme, sehingga kita mengenal siklus
kehidupam organisasi dari lahir, tumbuh, berkembang makin besar dan maju sampai
ada yang mengalami kegagalan dan kematian. Siklus kehidupan organisasi yang
demikian dapat terjadi pada organisasi apapun, termasuk organisasi publik. Salah
satu faktor penentu di antara faktor-faktor yang ada adalah budaya organisasi. Budaya
organisasi dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku anggota organisasi publik.
Anggota organisasi itu sendiri akan dipengaruhi oleh budaya setempat atau budaya
organisasi di mana manusia (anggota) bekerja. Budaya di luar organisasi dan budaya
anggota organisasi yang dibawa ke dalam organisasi juga dapat mempengaruhi budaya
organisasi, termasuk perilaku organisasi publik.
Sehubungan dengan budaya organisasi yang menjadi tema Bab IX maka sub-sub
tema yang akan menjadi bahasan yaitu: (1) Konsep Dan Proses Terbentuknya Budaya
Organisasi; dan (2) Peran Budaya Organisasi. Pilihan sub topik ini sangat subjektif
dari penulis buku. Penjelasan secara mendalam dari masing-masing sub tema, seperti
uraian berikut.
113
Teori Perilaku Organisasi Publik
9.1.
KONSEP DAN TERBENTUKNYA BUDAYA
ORGANISASI
Sutrisno (2010 ; 2) menegaskan bahwa budaya organisasi sebagai perangkat sistem
nilai-nilai (values), keyakinan-keyakinan (beliefs) atau norma-norma yang telah lama
berlaku, disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman
perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasi. Oleh karena itu, apabila
budaya organisasi demikian telah membudaya atau terinternalkan dalam organisasi
dan anggotanya maka kelangsungan hidup organisasi akan terjamin. Persoalan yang
muncul terkait dengan anggota organisasi itu sendiri. Mengapa Demikian? Sebelum
manusia menjadi anggota suatu organisasi, ia sebenarnya telah memiliki budaya yang
telah tertanam dalam hidupnya, sehingga ia memerlukan waktu untuk menghayati dan
mengamalkan budaya organisasi.
Selanjutnya Schein (1990) dalam Muchlas (2005:531) menegaskan secara
konprehensif budaya organisasi dapat didefiniskan sebagai sebuah corak dari asumsiasumsi dasar, yang ditemukan atau dikembangkan oleh sebuah kelompok tertentu
untuk belajar mengatasi problem-problem kelompok dari adaptasi eksternal dan
integrasi internal, yang telah bekerja dengan baik. Pengertian ini terlalu komplek untuk
dipahami maka kita dapat memilih pendapat Sutrisno di atas atau Robbins (2003) yang
menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan persepsi umum yang dipegang teguh
oleh para anggota organisasi dan menjadi sebuah sistem yang memiliki kebersamaan
kepentingan.
Gagasan Robbins dalam praktek budaya organisasi yang sederhana terlihat dari
atribut atau simbul-simbul yang terlihat dari seragam pakaian dinas yang mencirikan
dari organisasi mana orang tersebut berasal. Contoh lain dapat diamati bagaimana
hormat anak buah pada atasan. Hal ini akan terlihat dengan nyata di lingkungan
kepolisian atau kemiliteran. Mereka yang tidak memberikan hormat kepada mereka
yang memiliki pangkat lebih tinggi dianggap sebagai bentuk pelanggaran dan orang
yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi. Dalam dunia kemiliteran barangkali tidak
ada persoalan menginternalkan budaya organisasi. Berbeda halnya dengan organisasi
non militer. Pimpinan organisasi dan anggotanya harus berjuang ekstra keras agar
dapat menghayati dan mengamalkan budaya organisasi.
Hal penting berikutnya, dalam organisasi ada budaya kuat dan ada budaya lemah.
Kedua jenis budaya ini hidup dan ada di setiap organisasi. Robbins (2003) menegaskan
bahwa budaya organisasi kuat adalah budaya di mana nilai-nilai inti organisasi
dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas anggota organisasi. FaktorFaktor yang Menentukan Kekuatan Budaya Organisasi adalah: (1) Kebersamaan dan
(2) Intensitas. Ciri-ciri Budaya Organisasi Kuat adalah: (1) Anggota-anggota organisasi
loyal kepada organisasi, (2) Pedoman bertingkah laku bagi orang-orang di dalam
114
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
perusahaan digariskan dengan jelas, dimengerti, dipatuhi dan dilaksanakan oleh
orang-orang di dalam perusahaan sehingga orang-orang yang bekerja menjadi sangat
kohesif, (3) Nilai-nilai yang dianut organisasi tidak hanya berhenti pada slogan, tetapi
dihayati dan dinyatakan dalam tingkah laku sehari-hari secara konsisten oleh orangorang yang bekerja dalam perusahaan, (4) Organisasi memberikan tempat khusus
kepada pahlawan-pahlawan organisasi dan secara sistematis menciptakan bermacammacam tingkat pahlawan, (5) Dijumpai banyak ritual, mulai dari ritual sederhana
hingga yang mewah, (6) Memiliki jaringan kulturan yang menampung cerita-cerita
kehebatan para karyawannya, sedangkan Ciri-Ciri Budaya Organisasi Lemah menurut
Deal dan Kennedy dalam Robbins (2003) terdiri dari: (1) Mudah terbentuk kelompokkelompok yang bertentangan satu sama lain, (2) Kesetiaan kepada kelompok melebihi
kesetiaan kepada organisasi, (3) Anggota organisasi tidak segan-segan mengorbankan
kepentingan organisasi untuk kepentingan kelompok atau kepentingan diri sendiri.
Berdasarkan budaya organisasi kuat dan lemah tersebut maka menginternalkan
budaya kuat ke dalam organisasi dan anggota organisasi menjadi pekerjaan yang
tidak mudah. Selain itu, pendapat yang telah diungkapkan dapat ditegaskan bahwa
budaya organisasi yang kuat tidak cukup hanya berhenti pada slogan semata, tetapi
wajib dihayati, dinyatakan dan diimplementasikan dalam tingkah laku sehari-hari
secara konsisten oleh orang-orang yang bekerja dalam organisasi. Hal ini akan menjadi
penentu atau sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Kotter dan Heskett (1997:13) menegaskan bahwa walaupun sulit untuk diubah,
budaya organisasi dapat dibuat agar bersifat lebih meningkatkan kinerja, sedangkan
Garna (1998: 2-3) menegaskan bahwa budaya usaha adalah pola pikir dan perangkat
tingkah laku, sedangkan budaya perusahaan adalah institusi sosial wadah dari pola
pikir dan tingkah laku tersebut, yaitu sejumlah kohesi, mitos, hero dan simbul-simbul
tertentu yang mempunyai makna sangat berarti bagi orang-orang yang bekerja di dalam
organisasi (perusahaan) tersebut. Budaya usaha itu berpengaruh terhadap organisasi,
para karyawan, jenjang promosinya, pembuatan dan proses pengambilan keputusan,
model dan cara berpakainnya sampai kepada jenis olah raga dan tolok ukur status yang
ditunjukkan oleh olah raga tertentu bagi para stafnya.
Salah satu contoh aplikasi budaya organisasi dalam hal ini mengambil studi di
PTPN XIII. Pemahaman budaya organisasi penting karena budaya organisasi menjadi
pedoman tingkah laku pelaku bisnis yang bernaung dan berhubungan langsung dengan
PTPN XIII. Ngusmanto (2016:321) menegaskan bahwa sistem nilai yang dijadikan
pedoman tingkah di lingkungan PTPN XIII mengacu pada tata nilai yang ditetapkan
oleh PTPN XIII yang terdiri dari: (1) Integritas (integrity), (2) Disiplin (Diciplin),
(3) Perbaikan terus-menerus (continual Improvement), (4) Bertindak segera (Prompt
Action), (5) Tanggung jawab (Responsibility), (6) Inovasi (Inovation), (7) Komunikasi
(Communication) dan (8) Kerukunan (Harmony).
115
Teori Perilaku Organisasi Publik
Jadi, semua pelaku bisnis di bawah naungan PTP XIII dan yang terkait harus
berpedoman pada tata nilai yang menjadi budaya organisasi tersebut dalam pola
pikir, pola sikap dan pola tindaknya. Mereka harus sama-sama bertekat untuk
dapat berkolaborasi dan bersinergi untuk tumbuh dan berkembang bersama secara
berkelanjutan. Hal ini dimungkinkan dan dapat diwujudkan karena mereka memiliki
visi dan motif yang sama yaitu mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya
dalam membangun bisnisnya sebagai perwujudan budaya organisasi bisnis. Hal inilah
yang dapat menjadikan mereka bisa berkembang bersama, maju dan mendapatkan
keuntungan secara berkelanjutan.
Nilai-nilai mendasar yang minimal menjadi budaya organisasi dan diimplematikan
oleh pelaku bisnis di bawah naungan PTPN XIII adalah adanya kebersamaan
(kerukunan), memiliki integritas, tanggung jawab, loyal, mematuhi norma perusahaan
dan disiplin untuk bisa maju bersama secara berkelanjutan. Mereka yang berjuang
untuk mendapatkan “gula” dari usahanya dan memiliki motif untuk mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya merupakan logika bisnis yang dapat diterima secara
wajar. Hal demikian juga wajar terjadi pada pelaku usaha perkebunan kelapa sawit di
bawah naungan PTPN XIII Kebun Ngabang.
Perilaku bisnis di bawah naungan PTPN, khususnya kebun Ngabang dikaji
dari perspektif budaya organisasi telah terjadi penyimpangan atau beberapa
persoalan. Penyimpangan perilaku mereka pada prinsipnya terkait dengan tidak
diimplementasikannya budaya organisasi yang dibangun oleh PTPN XIII Kebun
Ngabang. Beberapa perilaku yang tidak sejalan dengan budaya organisasi antara lain
ada diantara pelaku bisnis yang terlibat “permainan” dengan motif untuk “mengeruk”
dan “menggerogoti” PTPN demi kepentingan dan mengejar keuntungan pribadi,
keluarga, dan kelompok, mereka “menghalalkan” segala cara melalui penyalahgunakan jabatan, memanfaatkan fasilitas PTPN untuk kepentingan pribadi, keluarga
dan kelompok, tidak jujur dan tidak komitmen, sehingga budaya organisasi sebagai
pedoman perilaku yang terdiri dari kebersamaan (kerukunan) antar pelaku bisnis,
integritas, tanggung jawab, loyalitas, kepatuhan terhadap norma perusahaan dan
disiplin dalam rangka mewujudkan usaha untuk maju bersama antar mereka secara
berkelanjutan, masih mengalami kesulitan untuk diwujudkan. Ngusmanto (2016: 328332) menegaskan penjelasan yang lebih rinci dari perilaku yang tergolong menyimpang
dari budaya organisasi dan dapat mengancam kelangsungan usaha bisnis, sekaligus
untuk menjawab terhadap permasalahan penelitian yang dirumuskan, dapat dijelaskan
seperti uraian berikut.
Pertama perilaku sebagian unsur pimpinan sampai dengan karyawan kebun serta
pabrik pengolahan CPO. Perilaku sebagian unsur pimpinan di lokasi penelitian tidak
dapat dijadikan contoh bagi karyawan dan pelaku bisnis di bawah naungan PTPN.
Memang tidak ada yang salah dengan bisnis kebun dan bibit sawit. Bisnis dalam hal
116
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
ini akan berdampak tidak positif apabila mereka mendapat perhatian khusus dan
kemudahan. Banyak pelaku bisnis di bawah naungan PTPN yang tidak mengetahui
dengan apa yang terjadi di dalam perusahaan karena lokasi jauh atau karena kesibukan
mengelola kebun sawitnya. Sebagian dari mereka menerapkan prinsip “tahu sama tahu”.
Sebagian pelaku bisnis timbul kecemburuan terhadap unsur pimpinan dan karyawan
yang berbisnis kelapa sawit, terutama terhadap perlakuan pelayanan yang tidak sama
antar pelaku bisnis. Sebagian pelaku bisnis bertanya: apakah pelayanan yang diberikan
manajemen sama antara unsur pimpinan dan karyawan yang ikut berbisnis dengan
mereka yang bukan unsur pimpinan dan karyawan?. Teori pelayanan publik masih
melihat praktek pelayanan di negeri ini yang diskriminatif atau masih melihat siapa
yang dilayani.
Mereka yang kuat dari segi posisi atau kedudukan sosial di masyarakat akan
mendapat pelayanan prima. Demikian juga bagi mereka yang telah dikenal dan
memiliki kedekatan dengan bagian pelayanan akan mendapat pelayanan yang lebih
cepat dan lebih diperhatikan dibandingkan yang lain. Fenomena kecemburuan yang
demikian jika terus dibiarkan akan menimbulkan hubungan yang tidak harmonis.
Beberapa ungkapan yang ditemukan antara lain: mereka sih nyaman berbisnis kebun
dan bibit sawit, karena ia atau mereka telah memiliki jaringan yang luas. Mereka pasti
sulit disaingi. Realitas sejak reformasi di negeri ini, khususnya di kebun sawit adalah
adanya perubahan mendasar di lingkungan unsur pimpinan sampai karyawan golongan
kecil dari dilarang membeli dan membangun kebun sawit menjadi bebas memiliki
kapling kebun kepala sawit dan atau menanam kelapa sawit secara mandiri, termasuk
usaha pembibitan kelapa sawit. Beberapa karyawan yang diwawancarai menegaskan
bahwa kepemilikan kapling sawit atau menanam sawit sudah terjadi dari dulu. Awalnya
diam-diam, tetapi sejak reformasi, mereka sudah terang-terangan. Karyawan yang
tidak punya kapling dan hanya mengandalkan gaji, tentu secara ekonomi akan kalah
dibandingkan mereka yang memiliki kebun kapling. Hal demikian tidak dilakukan
oleh unsur pimpinan sampai karyawan kecil di awal pembangunan PTPN XIII, yang
dulu dikenal sebagai PTPN VII karena perusahaan melalui direksi utama (Dirut)
melarangnya.
Larangan ini sangat relepan apabila dihungan dengan teori sosiologi. Banyak pakar
sosiologi yang menegaskan bahwa masyarakat Indonesia lebih bersifat paternalistik.
Masyarakat demikian membetuk pola hubungan yang dalam sosiologi dikenal sebagai
pola patron-klien. Patron mewakili kelompok elit, aktor, tokoh, pemimpin, sedangkan
klien mewakil masyarakat bawah, pengikut atau bukan aktor dan elit. Kelas elit sebagai
penentu, sedangkan klien sebagai pengikut. Untuk itu, apa yang dilakukan oleh kelas
elit dengan mudah akan ditiru dan diikuti kelas bawah. Sebagian dari kelompok elit
di PTPN XIII berpandangan bahwa “jangan bodoh” apabila bekerja di PTPN. Makna
jangan bodoh dalam hal ini adalah bekerja di PTPN itu penting, tetapi jangan tidak
117
Teori Perilaku Organisasi Publik
ikut berbisnis. Tidak ikut berbisnis berarti suatu “kebodohan” dan secara ekonomi
akan tertinggal jauh dengan yang ikut berbisnis kebun dan bibit sawit. Perilaku elit
yang demikian inilah yang diikuti oleh karyawan bawah dan pelaku usaha yang terkait.
Kedua, perilaku menyimpang dari sebagian karyawan kebun. Sebagian dari
mereka menggunakan fasilitas PTPN XIII untuk kepentingan pribadi seperti alat
panen. Selesai manen, alat panen dibawa pulang dan dipergunakan untuk memanen
di kebun plasma milik teman atau kebun sendiri. Apabila perilaku demikian dibiarkan
oleh manajemen, perilaku ini akan dicontoh dan dipraktekkan karyawan lain, yang
secara kumulatif dapat merugikan perusahaan. Persoalan yang lebih rumit lagi adalah
ada kecenderungan sangat kuat bahwa karyawan panen lebih banyak bekerja untuk
mencapai target minimal atau mencapai prestasi normal (PN) = 30 TBS, sedangkan
kelebihan PN yang akan dikonversi menjadi bonus kerja atau kerja lembur tidak dan
atau belum menjadi prioritas atau nomor dua. Budaya kerja yang telah tertanam pada
karyawan adalah asal PN sudah tercapai, mereka sudah cukup aman dari sangsi dan
menjadi “merdeka”.
PN penting bagi karyawan panen karena mereka mendapat perlengkapan panen,
rumah, gaji tetap, tunjangan hari-hari besar agama 1 (satu) tahun sekali dan pengobatan
gratis bagi karyawan, istri dan 2 (dua) anaknya. Realitas budaya kerja yang demikian
menjadi fenomena menarik karena ada 2 (dua) alasan mendasar yaitu: (1) Banyak
karyawan yang memiliki kebun sawit sendiri karena membeli kapling atau menanam
sawit secara mandiri, dan (2) Upah memanen di kebun Plasma atau pihak III jauh lebih
menguntungkan dibandingkan besar upah di kebun inti. Upah di kebun inti mulai
dari Rp 68, 70 dan 72 setiap kg TBS (didasarkan ketinggian kepala sawit, makin tinggi
makin mahal), sedangkan upah manen di kebun Plasa dan pihak III mulai dari Rp.
90 – 250/kg. Perbedaan besar upah yang begitu tajam inilah yang menjadi penyebab
mengapa banyak karyawan yang hanya termotivasi untuk mengejar PN, sedangkan sisa
waktu lainnya untuk bekerja dikebun sendiri atau mencari upah memanen di kebun
Plasma temannya. Dalam kontek ini, mereka termasuk kurang kerja keras, kurang
disiplin, kurang bertanggung jawab dan kurang integritas atau mereka belum banyak
mengimplementasikan budaya organisasi.
Ketiga, Petani Kebun Plasma dan Koperasi Unit Desa. Perilaku tidak positif dari
sebagian petani Plasma dan pengurus KUD terlihat dari: (1) Sebagian dari mereka
mau menerima titipan TBS dari pihak III. Titipan buah dari pihak ketiga tidak terlalu
menimbulkan persoalan apabila umur tanaman sudah di atas 9 tahun dan kualitas
buah terjamin, sekaligus quotanya belum terlampaui. Persoalannya adalah kualitas
TBS dan umur tanam tidak sama. Hal demikian sangat merugikan perusahaan karena
umur dan kualitas buah belum memenuhi standar, perusahaan harus membayar
mahal. Perilaku demikian dipraktekkan karena mereka sama-sama diuntungkan (yang
118
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
titip maupun dititipi ada komitmen dalam pembagian keuntungan), (2) Menambah
berat TBS dengan cara mencampur batu atau pasir yang masih melekat di TBS, (3)
Mencampur TBS dari tanaman yang berbeda umur atau kualitas. Tanaman sawit yang
sudah berumur 9 tahun ke atas – sampai 20 tahun memililiki kualitas yang bagus
dibandingkan dengan umur tanam 3 – 8 tahun, (4) Mencampur TBS matang dengan
TBS jelek. Perilaku demikian jika dilakukan oleh banyak petani akan merugikan
PTPN secara sistematis dan berkelanjutan, (5) Menjual panen TBS kepada pabrik di
luar PTPN XIII untuk menghindari potongan kredit. Perilaku demikian sudah pasti
diketahui oleh pihak manajemen KUD. Mereka tidak terlalu perduli dengan perilaku
menyimpang karena mereka merupakan kelompok yang mendapatkan keuntungan.
Semakin banyak TBS petani plasma, semakin besar vee yang didapat oleh pengurus
KUD. Memang tidak semua pengurus berperilaku menyimpang demikian. Ada pula
petani Plasma yang memanen TBS, tetapi mereka menjual kepada pabrik swasta,
dalam rangka menghindari pemotongan kredit. Memang jumlah mereka tidak banyak
dan belum mengganggu aktivitas pabrik karena TBS yang masuk ke pabrik sudah over
kapasitas. Perilaku menyimpang demikian tidak boleh dibiarkan terus terjadi.
Keempat, perilaku Petani pihak ke III. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki
posisi penting di pemerintahan, wakil rakyat dan PTPN atau karyawan dan orangorang kaya di masyarakat yang bermukim di Ngabang atau di luar kabupaten Landak.
Pertumbuhan kebun kelapa sawit terus bertambah dan atau tiada hari tanpa menanam
kelapa sawit. Untuk itu, wajar sekali apabila pertumbuhan produk TBS sudah melebihi
kapasitas pabrik pengolahan CPO. Memang manajamen kebun dan pabrik Ngabang
menempatkan petani Plasma, kebun KKPA dan kebun inti menjadi prioritas pelayanan
dibandingkan pihak ke III. Manajemen juga menerapkan budaya antri dan siapa yang
duluan, akan dilayani lebih dahulu, sehingga tidak ada pelayanan yang diskriminatif.
Hal demikian memang dilakukan oleh manajemen. Sungguhpun begitu, tetap ada
kecemburuan terhadap orang-orang “hebat dan berkuasa” dibelakang petani pihak ke
III. Mengapa sudah menjelang tutup buku, tetapi pabrik masih menerima TBS yang
masuk dan mengapa mereka belum memiliki PK, tetapi bisa memasukkan TBS. Untuk
itu, wajar apabila ada kelompok petani Plasma yang memprotes dengan menyatakan:
TBS dari kebunnya baru diangkut sebagian, tetapi Quota yang menjadi haknya telah
penuh atau terisi. Hal ini tentu ada yang menitip TBS kepada pihak lain. Persoalan
demikian bisa makin menyulitkan manajemen di masa-masa mendatang apabila
mereka tidak segera mengambil kebijakan. Selama 4 (empat) bulan penerapan sistem
quota dalam tahun 2012, sudah 2 (dua) kali permasalahan quota kelompok tani
diisi kelompok lain, sehingga mereka yang merasa quotanya diambil oleh pihak lain
memprotes manajemen dan mendesak agar TBS-nya tetap diterima perusahaan.
Kelima, perilaku pengusaha angkutan TBS. Tidak sedikit pengusaha angkutan
yang terlibat dalam bisnis angkutan TBS. Hasil wawancara dengan beberapa sopir
119
Teori Perilaku Organisasi Publik
truck diperoleh informasi bahwa mereka menghadapi persoalan: (1) Sulit mendatkan
minyak solar, (2) Mereka harus antri memasukkan TBS rata-rata selama 2 hari dan,
(3) Infrastruktur jalan yang kurang mendukung, sehingga kebun yang jauh akan
menghabiskan waktu hampir satu hari. Mereka memang dibayar dengan upah yang
besar, tetapi karena mulai dari mengangkut TBS dari kebun sawit sampai pabrik
memerlukan waktu antara 3 – 4 hari, sehingga upah yang besar menjadi kecil. Belum
lagi biaya makan dan minum yang harus mereka keluarkan selama menunggu antrian.
Hal ini bukan hanya merugikan sang sopir, dan pengusaha angkutan, melainkan juga
sangat merugikan petani sawit karena kualitas TBS akan menurun sebagai konsekuensi
harus menginap beberapa hari sebelum diolah menjadi CPO. Persoalan yang beberapa
kali terjadi adalah sopir truck lebih banyak termotivasi untuk mendapatkan upah,
tetapi kurang peduli dengan TBS. Mereka memuat, mengangkut, menimbang dan
memasukkan TBS ke pabrik, tanpa memperhatikan kematangan buah dan kualitas TBS
yang diangkut. Ia tahu bahwa ada TBS yang kurang matang dan ada yang tercampur
dengan pasir dan batu. Persoalannya adalah mereka telah mendapatkan muatan,
diangkut dan ditimbang, tetapi setelah disortir oleh petugas pabrik, ada buah yang
dikembalikan atau ditolak dan ada yang dipotong beratnya. Kondisi ini bukan hanya
merugikan petani dan karyawan sortir, melainkan juga antrian orang lain karena
menghabiskan waktu yang sia-sia.
Beberapa perilaku menyimpang dari pelaku bisnis perkebunan kelapa sawit
terhadap budaya organisasi seperti yang telah dijelaskan, dapat merugikan perusahaan
secara terus-menerus dan bahkan akan mengancam kelangsungan hidupnya. Antar
pelaku bisnis tersebut berprinsip “tahu sama tahu”, tidak saling mengganggu dan saling
membiarkan apabila ada perilaku yang tidak sejalan atau menyimpang. Oleh karena
itu, budaya organisasi PTPN XIII seperti yang telah diungkapkan harus bisa dicermati
dan diimplementasikan oleh pelaku bisnis perkebunan mulai dari pola pikir dan pola
sikap sampai pada pola tindaknya, sehingga mereka bisa berkolaborasi dan bersinergi
untuk maju bersama secara berkelanjutan.
Ngusmanto (2016: 233) menegaskan bahwa perilaku menyimpang dikaji dari
budaya organisasi yang dilakukan oleh pelaku bisnis di bawah naungan PTPN XIII
secara perlahan tetapi pasti akan menjauhkan mereka untuk bisa maju bersama secara
berkelanjutan. Visi ini penting diwujudkan karena hubungan bisnis yang sebenarnya
mereka bangun bukan hanya untuk hubungan jangka pendek atau sesaat, melainkan
merupakan hubungan bisnis dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Berdasarkan
beberapa perilaku menyimpang seperti yang telah diungkapkan maka ada beberapa
langkah kebijakan yang ditempuh oleh manajemen PTPN XIII kebun Ngabang dalam
rangka mengimplementasikan budaya organisasi dan meminimalkan kerugian.
Langkah tersebut dijelaskan secara rinci seperti uraian berikut.
120
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
Pertama penerapan kebijakan sistem quota. Sistem ini untuk mengetahui besar
produksi setiap lahan kebun sawit milik petani plasma, KKPA dan petani pihak III
yang telah memiliki PK. Sistem ini penting dalam rangka mengendalikan dan menekan
serendah mungkin terjadinya perilaku menyimpang, terutama yang terkait dengan
titip-menitip TBS. Perilaku menitip TBS ini dilakukan oleh petani pihak III yang
belum memiliki PK, sedangkan petani plasma dan KKPA serta kebun Inti sudah dapat
diketahui besar produk TBS-nya dan tidak menimbulkan permasalahan bagi pabrik
pengolahan CPO Ngabang. Penegasan ini penting karena mereka telah memiliki
ikatan dengan PTPN, sehingga besar produksi TBS-nya sudah diketahui dengan persis.
Di sisi lain, supaya sistem quota ini tidak merugikan pelaku bisnis di bawah naungan
PTPN maka besar qouto yang ditetapkan telah dinaikkan sebesar 10% dari produksi
normal. Untuk itu, jika produksi TBS mengalami kenaikan maka kenaikan yang terjadi
tidak akan melebihi quota yang telah ditetapkan. Manajer kebun Ngabang menegaskan
bahwa penetapan sistem quota menggunakan rumus tertentu, sehingga kemungkinan
salah perhitungan sangat kecil, sekaligus besar produksi sudah ditambah atau dinaikan
sebesar 10% dari produksi normal.
Sehubungan dengan sistem quota ini maka manajer produksi akan dapat
mengetahui kelompok kebun kelapa sawit mana yang quotanya sudah penuh dan mana
yang belum penuh. Bagi kelompok yang telah cukup terisi quotanya, mereka tidak dapat
lagi memasukkan TBS ke pabrik pengolahan. Apabila masih ada produk TBS yang
masuk, sedangkan quota sudah penuh maka manajemen produksi dan manejemen
pabrik dengan mudah akan mengetahui bahwa ada TBS titipan dari kelompok tani
lain (pihak III). Hal demikian dapat dipastikan akan menimbulkan konflik antara
manajemen dengan kelompok tani kelapa sawit. Untuk tahap awal, manajemen masih
bisa diajak kompromi dan bersedia menerima TBS, tetapi jika masalah demikian
terulang kembali maka manajemen tidak akan memberikan toleransi lagi. Untuk
menghindari terulangnya konflik yang sama maka manajemen produksi menyiapkan
surat pernyataan untuk ditandatangani ketua kelompok tani. Inti dari surat pernyataan
untuk tidak mengulangi perilaku titip-menitip dan akan disanksi berat jika mengulangi
kembali. Selama 4 (empat) bulan pemberlakukan sistem quota berdasarkan informasi
manajemen PTPN XIII kebun Ngabang sudah terjadi 2 (dua) kali kasus melebihi quota
dari kelompok tani yang berbeda. Dengan sistem quota ini, tanggung jawab pelaku
usaha di bawah naungan PTPN XIII semakin meningkat.
Kedua, penerapan kebijakan Sertifikasi Mutu Penerimaan Buah (SMPB). Sistem
ini untuk mengawasi mutu TBS yang akan masuk ke penimbangan TBS yang akan
dimasukkan ke pabrik pengolahan, dengan pembutan Pos SMPB. Setiap kendaraan
pengangkut TBS sebelum masuk ke timbangan, mereka wajib mendapatkan keterangan
SMPB. Surat keterangan ini ada 3 (tiga) jenis yaitu TBS baik, perlu pemeriksaan lebih
lanjut dan sangat mencurikan (buah jelek). Umumnya sopir truck yang mengurus
121
Teori Perilaku Organisasi Publik
keterangan SMPB tidak mengetahui jika ada 3 (tiga) jenis keterangan SMPB karena
ketiganya sangat mirif dan hanya petugas yang dengan mudah mengetahuinya. Jadi,
semua sopir truck dengan mudah mendapatkan keterangan SMPB. Kebijakan ini
ditempuh untuk menghindari kerugian yang lebih besar yang dialami oleh PTPN
XIII. Kerugian-kerugian yang dialami PTPN XIII antara lain: (1) Buah belum matang
dicampur dengan buah yang sudah matang, (2) buah yang tidak layak atau jelek tetap
dimasukkan seperti buah yang sudah kadaluarsa dan buah matang yang diperam, (3)
buah yang dicampur dari tahun tanam yang berbeda, dengan kualitas yang belum
sama, (4) Buah yang dicampur pasir dan batu. Semua ini sangat merugikan PTPN
XIII. Melalui sistem SMPB, kerugian dapat diminimalkan. Kebijakan ini pun baru
berlangsung selama 4 bulan terakhir.
Pembentukan Tim Sorting di Loading Ram. Tim ini sudah ada sejak dulu dan
dalam 4 (empat) bulan terakhir makin diberdayakan dan harus tegas dalam menangani
persoalan kualitas TBS yang akan dimasukkan ke pabrik pengolahan CPO. Setiap
truck pengangkut sawit yang masuk pabrik harus melewati sorting loding ram. Tim
yang bertugas pada bagian ini akan menerima surat keterangan SMPB dari setiap sopir
pengangkut TBS. Mereka akan memeriksa mana yang perlu dicermati atau diperiksa
dan mana yang tidak memenuhi persyaratan. Kedua hal inilah yang akan diperiksa.
Jika benar bahwa TBS tidak memenuhi persyaratan maka tim akan meminta sopir
untuk menurunkan TBS-nya dan menjelaskan kepada sopir tentang permasalahan
TBS. Sebagian dari TBS ada yang harus dibawa pulang oleh truck yang besangkutan.
Bagi mereka yang dianggap melakukan pelanggaran atau tidak sesuai ketentuan maka
petugas sorting akan memberikan sanksi. Beberapa sanksi yang dijatuhkan adalah:
(1) memotong berat TBS dan (2) menyuruh sopir untuk membawa pulang TBS atau
dikembalikan kepada pemilik TBS.
Keempat, bagi karyawan yang hanya bekerja untuk memenuhi PN dan lebih
banyak bekerja di luar kebun inti akan dibina dan dimotivasi untuk bisa bekerja
mencapai target perusahaan. Mereka yang melakukan pelanggaran akan diberikan
teguran lisan, teguran tertulis dan jika tidak ada perubahan maka perusahaan akan
memberhentikan orang yang bersangkutan. Hal demikian normal saja dilakukan oleh
manajemen karena mereka mendapat gaji tetap, perumahan, tunjangan hari besar
agama dan biaya gratis berobat untuk diri dan keluarganya. Oleh karena mereka
mendapatkan beberapa hak maka perusahaan juga dapat menjatuhkan sanksi sesuai
peraturan yang berlaku.
9.2.
PERAN BUDAYA ORGANISASI
Peran budaya organisasi dalam hal ini akan diaplikasi dalam lingkungan organisasi
negara (birokrasi). Ngusmanto (2015) menegaskan bahwa dalam berbagai peraturan
122
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
tersebut dengan jelas diamanahkan bagaimana menjadi PNS yang ideal atau
seharusnya antara lain: melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang bertanggung
jawab, tidak melakukan tindakan tercela, bersih dari KKN, setia pada Pancasila, UUD
1945 dan Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI), berdisiplin, mentaati peraturan
yang berlaku, tidak berpolitik praktis, menjaga rahasia Negara, melaksanakan
kewajibannya sebaik mungkin, menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas
kepentingan pribadi dan golongan, profesional, serta masih banyak contoh lainnya.
Persoalannya adalah ada kesenjangan yang lebar antara yang diatur (harapan) dengan
yang dilaksanakan oleh PNS (kenyataan). Sebagai konsekuensi, banyak PNS yang
melakukan KKN, tidak disiplin dan ada yang melakukan tindakan tercela dan masih
banyak kelemahan lainnya. Pertanyaannya: Mengapa hal demikian terjadi? Hal ini
terjadi karena internalisasi budaya organisasi selama ini baru lebih banyak berhenti
pada tataran slogan.
Oleh karena itu, Ngusmanto (2015) menegaskan budaya organisasi apa dan yang
mana yang diperlukan oleh birokrasi pemerintah agar birokrasi dapat melaksanakan
tugas pokok dan fungsi, termasuk fungsi pembangunan. Beberapa budaya organisasi
yang harusnya diinternalisasi antara lain: (1) Integritas (integrity), (2) Disiplin
(diciplin), (3) Perbaikan terus-menerus (continual improvement), (4) Bertindak
segera (Prompt Action), (5) Tanggung jawab (responsibility), (6) Inovasi (inovation),
(7) Komunikasi (communication), (8) Profesional, (9) Bebas dari KKN, (10) Ramah,
(11) Memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik birokrasi, (12) Jujur, (13) Tidak
boros, (14) Efisien, (15) Transparan, (16) Adil, (17) Setia atau loyal kepada bangsa dan
negara, (18) Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
dan golongan, (19) Kerja keras, (20) Malu berbuat tercela, (21) Tidak diskriminatif,
(22) Menghargai kualitas, (23) Menunjukkan keteladanan dan masih banyak lainnya.
Pilihan budaya organisasi mana yang perlu diprioritaskan, sangat ditentukan oleh
permasalahan yang terjadi pada unit kerja masing-masing. Untuk itu, kita bisa
menggunakan budaya organisasi yang kuat sebagai prioritas dan yang lemah sebagai
tambahan.
Budaya organisasi apa dan yang mana yang diperlukan untuk membangun
birokrasi? Salah satu contohnya adalah budaya efisien. Mengapa hal ini dipilih? Banyak
perilaku birokrasi yang boros yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan
fasilitas, Sarana dan prasarana kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS). Demikian juga ada
masalah yang terkait dengan efektifitas dan efisiensi alokasi sumber daya yang terdiri
dari Men, Money, Machines, Methods dan Materials. Hal ini mengindikasikan bahwa
budaya efisien belum menjadi budaya organisasi, sehingga banyak perilaku yang boros.
Di sisi lain, seringkali kita tidak menyadari bahwa masih banyak warga (rakyat) di
Indonesia dan NSB yang miskin yang memerlukan perhatian serius, tetapi banyak di
antara kita malahan bergaya hidup yang tidak efisien (boros), yang dapat menciderai
rasa keadilan rakyat.
123
Teori Perilaku Organisasi Publik
Efisiensi dalam segala hal, khususnya manajemen dan organisasi makin relevan
dan penting untuk menjadi budaya organisasi karena perkembangan dunia yang
makin mengglobal. Globalisasi ditandai oleh kemajuan pesat dibidang teknologi
komunikasi elektronik, komputer dan informasi, sekaligus pergantian milenium II
ke III yang terjadi dewasa ini, serta era pasar bebas, yang menuntut kompetensi dan
kualitas di segala bidang. Mereka yang tidak efisien akan tertinggal dan tergilas oleh
persaingan. Mereka yang efisien akan dapat memanfaatkan peluang dan kesempatan,
dapat menikmati keuntungan di bidang ekonomi, politik dan sosial budaya atau sesuai
dengan aspek yang ditekuninya. Jadi, efisiensi wajib menjadi budaya manajemen
pemerintah dan swasta di masa kini dan mendatang dalam rangka memenangkan
persaingan global.
Pengelola manajemen dan organisasi Negara yang tidak memperhitungkan
efisiensi akan berada dibelakang, selalu tertinggal, tidak mampu bersaing, tidak
akan memiliki keunggulan komperatif dan malahan akan menghadapi ancaman
kebangkrutan atau kematian organisasi. Kebutuhan akan efisiensi makin terasa
terutama di negara-negara sedang berkembang. Realitas menunjukkan bahwa banyak
organisasi di negara sedang berkembang dapat hidup karena fasilitas negara atau
pejabat pemerintah atau publik bukan karena kerja keras, disiplin dan kemampuan
bersaing. Indikasinya banyak organisasi yang terjebak oleh konsfirasi, kolusi, korupsi
dan nepotisme (K3N). Efisiensi manajemen dan organisasi dalam berbagai tingkatan
menjadi penentu tercapainya tujuan organisasi (Negara).
Ngusmanto (2015) menegaskan bahwa organisasi ekonomi yang tidak efisien
akan mengami kesulitan dan tidak mampu bersaing. Organisasi Pemerintah (birokrasi)
yang tidak efisien akan menimbulkan persoalan sebagai berikut:
a. Akan menciptakan berbagai kelambanan dan hambatan dalam mewujudkan
iklim usaha (investasi) yang kondosif dan menguntungkan
b. Pelayanan yang kurang memuaskan
c. Menimbulkan berbagai keluhan, prustasi dan kerawanan sosial
d. Akan terjadi pemborosan penggunaan sarana yang terdiri dari Men, Money,
Machines, Methods dan Materials
e. Sulit bersaing, tidak memiliki keunggulan komperatif, dan selalu tertinggal dari
bangsa lain.
Realitas yang telah diungkapkan menjadi pembelajaran bahwa efisiensi menjadi
salah satu prioritas pembangunan administrasi sebagai bagian dari budaya organisasi.
Oleh karena begitu pentingnya efisiensi maka efisiensi harus menjadi gerakan bersama
dan menjadi budaya warga negara dalam bekerja, kegiatan di luar kerja dan di rumah
masing-masing. Supaya budaya organisasi yang dijadikan komitmen birokrasi tidak
berhenti pada tahapan slogan semata, tetapi dihayati, dinyatakan dan diimplementasikan
124
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
dalam tingkah laku sehari-hari secara konsisten oleh semua anggota organisasi maka
banyak cara yang harus dilakukan. Cara-cara yang harus dilakukan antara lain:
(1) Jika ingin mencegah dan memberantas KKN maka semua anggota harus tahu,
memiliki kependulian, mau dan mampu melakukan (tercermin dalam tingkah
laku sehari-hari)
(2) Membangun budaya organisasi merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sehingga
upaya ini harus secara konsisten dilaksanakan dan semua pihak mau bekerjasama
untuk mewujudkan
(3) Internalisasi budaya organisasi memerlukan perubahan mindset dan ada
dukungan komitmen yang kuat dari semua pihak dan kalangan (dari dalam dan
luar birokrasi)
(4) Gerakan membangun budaya harus dilakukan secara sistematis, terarah,
didukung oleh political will yang kuat, konsisten, dan konsekuen; dan
(5) Semua orang dalam birokrasi harus membuat pernyataan komitmen bersama
tentang berbagai nilai yang akan diinternalkan dalam birokrasi. Misalnya tidak
melakukan tindak pidana KKN, bekerja profesional dan tidak diskriminatif serta
siap diberikan sanksi apabila melakukan pelanggaran (sekedar contoh) melalui
penandatanganan dokumen pakta integritas.
Lebih tegas lagi, Ngusmanto (2015) menegaskan bahwa internalisasi budaya
organisasi memerlukan langkah-langkah yang dimulai dari tahap pengenalan dan
pemahaman (knowing the good atau learning to know) tentang isi budaya organisasi.
Cara yang dapat ditempuh melalui pendidikan informal, sosialisasi, penulisan
buku praktis untuk diserbarluaskan dan bisa juga melalui diskusi, FGD, publikasi
melalui media massa dan media sosial. Dilanjutkan dengan langkah kedua yaitu
penumbuhan rasa cinta dan penandatangan dokumen fakta integritas. Akhirnya
dihayati, diimplementasikan atau diamalkan melalui tingkah laku sehari-hari, sebagai
gerakan bersama. Langkah ini dianggap berhasil apabila semua orang dalam birokrasi
paham dan mengetahui dengan persis budaya organisasi, tumbuh rasa cinta dan
bertanda tangan pada dokumen fakta integritas dan akhirnya diikuti penghayatan dan
pengamalan (doing the good, learning to do, learning to live together dan learning to
be) yang tercermin dari tingkah laku semua orang dalam birokrasi; menjadi gerakan
bersama yang masif dan menjadi basis gerakan moral.
Prioritas pembangunan administrasi selanjutnya adalah pembangunan sinergitas
dan partisipasi kekuatan bangsa. Fakta menarik untuk mengawali betapa pentingnya
sinergitas kekuatan bangsa terlihat dari makin menguatnya ego dan ego dalam berbagai
aktivitas. Kita mengenal munculnya dan begitu kuatnya ego sektoral atau unit kerja
sebagai fenomena umum di negeri ini. Ada sisi positif dari ego ini yaitu mereka akan
membela sektoralnya atau unit kerjanya, melindungi dan bila diperlukan akan ditutupi
kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Ego dalam hal ini akan menjadi persoalan besar
125
Teori Perilaku Organisasi Publik
apabila mereka akan mewujudkan birokrasi yang lebih berkualitas dan profesional.
Mengapa bisa demikian? karena ego hanya akan menyulitkan menentukan titik mulai
suatu kegiatan, langkah-langkah yang harus ditempuh dan penentuan tujuan, sehingga
ego yang terjadi akan menyulitkan untuk mewujudkan pencapaian tujuan. Oleh karena
itu, ego sektoral atau unit kerja menjadi persoalan yang perlu dicarikan solusi. Salah
satu solusi untuk mengatasi ego dapat dilakukan melalui Penguatan sinergitas.
Pembangunan atau penguatan sinergitas menjadi keniscayaan karena sinergitas
menjadi kebutuhan setiap bangsa untuk mewujudkan pencapain tujuan secara optimal.
Tidak semua aparatur Negara telah berusaha untuk mewujudkan tata pemerintahan
yang baik dan bersih secara bersama sebagai suatu gerakan. Sudah banyak di antara
mereka yang telah berusaha masing-masing, tetapi tidak disinergikan dan tentu saja
ada di antara mereka yang masa “bodoh” karena sudah berada di zona nyaman dengan
kondisi yang ada. Sebagai konsekuensi tidak bersinergi, hasil kurang optimal atau
terkesan tidak ada kemajuan. Idealnya, semua harus bersinergis dalam mewujudkan
tujuan. Semua harus bergerak menuju dan mewujutkan titik yang sama yaitu birokrasi
yang lebih berkualitas, baik, profesional, cepat, tanggap, bersih, efisien, efektif, tepat
ukuran dan fungsi, produktif dan berkinerja tinggi atau apa saja yang akan diwujudkan.
Apabila titik yang akan dituju untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik
dan bersih maka semua orang harus bersenirgis ke sana untuk mewujudkannya. Titik
yang akan dituju akan dapat diwujudkan apabila:
a. Semua pihak mengetahui dan memahami dengan baik dan benar titik mana yang
akan dituju
b. Semua pihak mempunyai keinginan dan komitmen yang sama ke satu titik
c. Semua pihak bersinergis menuju ke titik yang akan dituju, termasuk sinergi dalam
konsep (pemikiran) dan tindakan.
d. Ada kepedulian, ada yang mengingatkan jika ada kesalahan dan siap dikoreksi
dan disanksi apabila melakukan kesalahan.
Sinergitas akan makin terbangun dan semakin memudahkan dalam menyelesaikan
masalah-masalah besar bangsa dan Negara, apabila sinergitas dalam hal ini didukung
oleh partisipasi masyarakat. Tjokrowinoto (1993:48) menegaskan bahwa partisipasi
secara aktif dalam pembangunan di lingkungan masyarakat pedesaan sangat dibutuhkan
bahkan sudah menjadi mitos dari pembangunan itu sendiri, sehingga hampir semua
negara mengumumkan secara luas kebutuhan partisipasi dalam semua proses
pembangunan. Partisipasi masyarakat merupakan hak dan kewajiban setiap warga
negara untuk memberikan kontribusi kepada siapa saja dengan maksud dan tujuan
yaitu untuk mencapai tujuan kelompok, sehingga mereka diberikan kesempatan dalam
berpartisipasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan mengevaluasi
126
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
pelaksanaan pembangunan dengan mengembangkan kreatifitas yang ada dalam pola
pikir dan mata hati mereka yang akan disampaikan dalam musyawarah desa (disebut
juga “Rapat Desa”).
Oleh karena pentingnya partisipasi atau dukungan atau kontribusi atau keikutsertaan masyarakat maka partisipasi menjadi kunci segala sesuatu, termasuk sukses
atau tidaknya pelaksanaan pembangunan. Apabila partisipasi ada di mana-mana dan
dilakukan oleh banyak orang maka tidak ada pekerjaan yang tidak sukses. Hasil bisa
lebih optimal, semua biaya menjadi lebih ringan, pekerjaan lebih lancar, sekaligus
partisipasi dalam hal ini akan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan memiliki
terhadap hasil pekerjaan. Persoalan yang muncul dalam 15 tahun terakhir adalah
ada penurunan yang signifikan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan
pembangunan. Mengapa fenomena ini terjadi dan faktor apa penyebabnya? Pertanyaan
ini harus dapat dijawab oleh administrasi pembangunan karena salah satu tugas pokok
dan fungsi administrasi pembangunan adalah membangun partisipasi masyarakat.
Jawaban atas pertanyaan ini dijelaskan pada Bab tersendiri.
Pembangunan berikutnya terkait dengan pemantapan dan penyempurnaan sistem
dan prosedur dalam pelayanan publik. Mengapa sistem dan prosedur menjadi salah
satu prioritas dalam pembangunan administrasi? Pertanyaan demikian muncul karena
ada beberapa alasan: (1) Masih menimbulkan banyak keluhan karena lama dan lambat;
(2) Menjadi salah satu sumber atau titik korupsi atau penyalahgunaan jabatan atau
wewenang; (3) Menjadi sumber atau titik penyebab mengapa investor membatalkan
niatnya untuk berinvestasi karena sulitnya mengurus perijinan; dan (4) Menjadi
sumber perusak citra bangsa. Persoalan ini tidak terlepas dari keberadaan birokrasi
dan tingkah laku birokrat. Birokrasi dalam hal ini menjadi cermin dari proses dan
sistem untuk menjamin mekanisme dan sistem kerja yang teratur dan pasti. Berpijak
pada persoalan demikian maka Menteri PAN dan RB sudah lama menggariskan kepada
birokrasi publik tentang berbagai rambu-rambu dalam pemberian pelayanan seperti
kesederhanaan, kejelasan, kepastian, keamanan, keterbukaan, efisien, ekonomis, dan
keadilan yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.
Birokrasi bagi sebagian orang dimaknai sebagai prosedur yang berbelit-belit,
menyulitkan, menjengkelkan dan mahal. Ada pula yang memandang birokrasi
dimaknai sebagai upaya untuk mengatur dan mengendalikan perilaku masyarakat
agar lebih tertib, memahami hak dan kewajiban serta berbagai pengaturan lainnya.
Lebih tegas lagi, ada pandangan bahwa birokrasi menjadi alat yang efisien dan efektif
untuk mencapai tujuan organisasi, dan ada pula pandangan negatif bahwa birokrasi
menjadi alat untuk memperoleh, mempertahankan dan melaksanakan kekuasaan
melalui berbagai sistem dan prosedur yang kaku, berlebihan, penyimpangan dan
menutup diri dari kritik. Oleh karena itu, salah satu yang harus diwujudkan dalam
pelayanan publik terkait dengan rambu-rambu kesederhanaan. Kesederhanaan dalam
127
Teori Perilaku Organisasi Publik
pelayanan mempunyai maksud bahwa prosedur atau tata cara pemberian pelayanan
kepada masyarakat (publik) harus menjadi lebih mudah, lancar, cepat, tidak berbelitbelit, mudah dipahami dan dilaksanakan, sehingga birokrasi tidak dipandang negatif.
Perlu ditegaskan pula bahwa pandangan negatif terhadap birokrasi seperti
yang telah diungkapkan dapat menimbulkan pandangan tidak optimis. Mengapa?
Kompleksnya permasalahan birokrasi perizinan telah dianggap sebagai masalah abadi
dan tidak ada solusinya. Pengalaman beberapa sahabat penulis menuturkan bahwa
ada 2 (dua) jalan dalam birokrasi yaitu jalan lurus, tapi lama dan jalan cepat (kilat
atau ekspres), tetapi mahal. Ada pula yang memberikan istilah jalan depan (lama) dan
jalan belakang, tetapi cepat. Kedua jalan ada harga yang harus dibayar. Dalam rangka
memberikan solusi dari kerumitan sistem dan prosedur perizinan seperti yang telah
diungkapkan maka pemerintah menetapkan kebijakan dalam wujud penyederhanaan
Perizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan terintegrasi (one-stop service);
Kebijakan ini sangat baik, tetapi dalam implementasinya belum didukung komitmen
yang optimal dari birokrat. Jadi, kebijakan yang baik belum berarti atau bermakna,
sebelum mendapat dukungan yang optimal dari implementor. Implementor dalam hal
ini harus siap memberikan pelayanan yang terbaik, murah, sederhana dan cepat.
Perlu ditegaskan bahwa dengan mengacu pada UU Aparatur Sipil Negara (ASN)
No. 5 Tahun 2014 diamahkan tentang Nilai Dasar serta kode etik dan kode perilaku
ASN. Tujuan Kode Etik dan Kode Perilaku diberlakukan untuk menjaga martabat dan
kehormatan ASN. Untuk Nilai Dasar berisi: (1) Memegang teguh idiologi Pancasila;
(2) Setia dan mempertahankan UUD 1945 serta pemerintah yang sah; (3) Mengabdi
kepada negara dan rakyat Indonesia; (4) Menjalankan tugas secara profesional dan
tidak berpihak; (5) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian; (6) Menciptakan
lingkungan kerja yang non diskriminatif, (7) Memelihara dan menjunjung tinggi
standar etika yang luhur; (8) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya
kepada publik; (9) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah; (10) Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna, da santun; (11) Mengutamakan kepemimpinan
berkualitas tinggi; (12) Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja sama; (13)
Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai; (14) Mendorong
kesetaraan dalam pekerjaan dan (15) Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan
yang demokratis sebagai perangkat sistem karier.
Untuk Kode Etik dan Kode Perilaku berisi pengaturan perilaku agar pegawai
ASN : (1) Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas
tinggi; (2) Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin; (3) Melayani dengan
sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan; (4) Melaksanakan tugasnya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan (5) Melaksanakan tugasnya sesuai
dengan perintah atasan atau pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan
128
Bab 9 – Budaya Organisasi Publik
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan; (6)
Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang berwenang
sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
etika pemerintahan; (7) Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara; (8)
Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif
dan efisien; (9) Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya; (10) Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
fihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan; (11) Tidak
menyalahgunakan informasi interen negara, tugas, status kekuasaan dan jabatannya
untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk
orang lain; (12) Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN serta (13) Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai disiplin ASN.
Nilai Dasar serta kode etik dan kode perilaku ASN ini idialnya menjadi budaya
organisasi ASN. Untuk sampai pada tahapan dipahami, dihayati dan diamalkan Nilai
Dasar serta kode etik dan kode perilaku maka kementerian pemberdayaan aparatur
negara dan Reformasi Birokrasi beserta jajarannya perlu kerja keras, sekaligus
didukung oleh ASN itu sendiri. Di sisi lain, sanksi tegas bagi ASN yang melanggar
harus dilakukan.
129
Teori Perilaku Organisasi Publik
130
BAB 10
Penutup
P
erilaku Organisasi dalam kehidupan kita perlu dipahami dan dipelajari agar
dapat mengendalikan jalannya suatu organisasi yang jauh lebih optimal.
Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dan sangat menentukan
bagi perkembangan organisasi dan keberhasilan kerjanya di masa kini dan mendatang,
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Perilaku organisasi
mempelajari dan mengkaji perilaku manusia baik secara individu, kelompok atau
organisasi dan organisasi sebagai wadah perilaku manusia untuk mencapai tujuan
organisasi yang lebih efektif dan efisien, sekaligus mempelajari pengaruh manusia
sebagai individu dan kelompok terhadap organisasi serta interaksi antara individu
dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok dalam
organisasi.
Thoha (2001) memprediksi bahwa organisasi-organisasi di masa mendatang di
bidang penataan organisasi di masa kini dan mendatang akan mempunyai sifat-sifat
yang unik. Struktur organisasi formal akan mengalami penambahan dan perubahan
yang bervariasi, sehingga banyak dijumpai organisasi-organisasi baru, yang kadangkadang tanpa menganalisis lebih lanjut struktur formal yang ada. Dalam praktek akan
banyak dijumpai organisasi-organisasi tandingan yang non struktural atau muncul
organisasi-organisasi non struktural baru. Keadaan seperti ini dinamakan gejala
proliferation dalam organisasi yang mengandung makna suatu pertumbuhan yang
cepat dari segi struktural yang dibentuk untuk menerobos kesulitan dalam birokrasi.
Perkembangan demikian dalam beberapa tahun terakhir telah terlihat dengan jelas,
sehingga prinsif organisasi yang diacu bukan raping dalam struktur, melainkan gemuk
dalam stuktur. Belum lagi muncul pembentukan badan-badan baru non struktural
131
Teori Perilaku Organisasi Publik
seperti komisi pengawas haji Indonesia, Komisi Banding Paten, Dewan Pengupahan
Nasional, Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, Dewan Pertimbangan Kesehatan
Nasional, Dewan Koperasi Nasional, Komisi Nasional Lanjut Usia, Komisi Ekonomi
Industri Nasional, Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia, Dewan Nasional
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Badan Koordinasi Keamanan Laut,
Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur, Dewan Gula Nasional, Badan
Pengawas Pasar Tenaga Listrik sekedar contoh, yang sebenarnya masih banyak sekali.
Hal ini menjadi bukti bahwa ada pandangan organisasi yang sudah ada
dipandang kurang mamadahi untuk menjalankan tugas dan fungsi baru yang
berkembang. Di satu sisi, memang ada kebutuhan objektif organisasi atau unit baru,
tetapi di sisi lain dipertanyakan mengapa tidak mengoptimalkan organisasi yang
sudah ada. Pertanyaan ini muncul karena pembentukan organisasi non struktural
baru, belum dapat memberikan jaminan mempunyai kinerja yang bagus. Satu hal
yang pasti dengan penambahan organisasi bahwa beban rutin negara akan meningkat
dan hal ini bisa mengarah pada suatu pemborosan. Belum lagi kepentingan yang
ada dibalik pembentukan berbagai organisasi non struktural. Di era pemilihan
langsung dalam bentuk pemilihan presiden dan wakilnya, gubernur dan wakilnya,
walikota dan wakilnya serta bupati dan wakilnya tidak bisa berjuang sendiri. Mereka
harus membentuk tim sukses. Tim sukses yang terbentuk, sudah pasti mempunyai
kepentingan. Kepentingan-kepentingan inilah yang harus diakomodasi. Mereka
harus dipelihara selama yang diusungnya berkuasa dan cara memelihara yang sangat
populer dipenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Dalam praktek yang demikian
sudah menjadi kelaziman dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Untuk itu,
pembentukan organisasi non struktural dipandang sebagai upaya balas jasa terhadap
tim sukses. Balas jasa bisa dalam bentuk jabatan dan atau proyek atau finansial.
Jadi, setiap organisasi dalam menjalankan roda organisasi atau kiprahnya selalu
dituntut untuk melakukan perubahan dan mengantisipasi perubahan global yang
terjadi. Hal ini harus dilakukan oleh semua orang dalam organisasi, sebagai upaya
menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang semakin komplek dan modern.
Jika tuntutan demikian tidak mendapat perhatian maka organisasi yang sudah ada
akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan keberadaannya (existence) dan
melakukan perkembangan (of growth) serta akan terlindas dalam persaingan global
(global emulation). Proses perubahan dalam hal ini berpengaruh signifikan terhadap
sikap dari individu/kelompok anggota organisasi. Mereka yang siap mendukung akan
menyambut secara positif dengan adanya perubahan, tetapi tentu ada juga yang tidak
siap, sehingga mereka mengesankan menolak perubahan. Situasi demikian akan
terjadi dan hal ini sebagai wujud adanya konflik, akan menimbulkan keresahan dan
menjadi salah satu penyebab mengapa organisasi tidak dapat hidup sehat. Kondisi ini
tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena pada akhirnya akan menurunkan kinerja,
132
Bab 10 – Penutup
produktivitas, semangat, kerjasama dan kualitas pelayanan. Apabila hal demikian
terjadi maka organisasi tersebut sulit berkembang dan bahkan bisa menjadi mati,
khususnya organisasi non pemerintah.
133
Teori Perilaku Organisasi Publik
134
Daftar Pustaka
Abcarian, Gilbert dan George S. Masannat,. 1970. Contemporary Political Systems,
Charles Scribner’s Sons, New York,
Abdullah, Syukur, 1991, Budaya Birokrasi di Indonesia, dalam Alfian dan Nazaruddin
Sjamsuddin (eds), Profil Budaya Politik Indonesia, Jakarta, Pustaka Utama Grafit
Arif, Syofian, Mirian., 1995. Organisasi dan Manajemen., Jakarta, Universitas Terbuka
Arif, Saiful. 2006. Malang., Reformasi Birokrasi dan Demokratisasi Kebijakan Publik,
Program Penguatan Simpul Demokrasi Kabupaten Malang
Azwar, Azrul., 2012., Gerakan Pramuka sebagai Wadah Pembentuk Karakter Bangsa.,
disampaikan pada Kuliah Umum Civitas Akademika Universitas Tanjungpura,
Pontianak
Barnard, M. 2009, Fashion Sebagai Komunikasi: Cara Mengkomunikasikan Identitas
Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender, Jalasutra, Yogyakarta dan Bandung.
Belione, J. Carl., 1980. Organization Theory and the New Public Administration,
Boston, Allyn and Bacon, Inc.
Bennis, Warren. 1994., Menjadi Pemimpin Efektif (On Becaming A Leader)., Elek
Media Komputindo
Budiardjo, Miriam. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta., Gramedia
Bloom, Benjamin., http://www.definisi-pengertian.com/2015/07/definisi-pengertianperilaku-menurut -ahli.html, diakses, Juli 2015
Bratakusumah, D.S, dan Riyadi., 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Bruno, F.J. 2000. Menaklukkan Kesepian. Jakarta: PT. Gramedia PustakaUtama.
135
Teori Perilaku Organisasi Publik
Budiman, Arief., 1995. Teori Pembangunan Dunia Keiga., Jakarta, PT. Gramedia
Pustaka Utama
Candler, Ralph C. & Plano Jack, C., 1982. The Public Administration dictionary. New
York: John Wiley & Sons.
Chalid, Pheni,. 2006. Teori dan Isu Pembangunan., Jakarta, Universitas Terbuka
Davis, Keith. 1962. Human Relation At Work. Tokyo: Kogakusha Company LTD.
Davis, Keith, & Newsstrom, W, Jhon, 1989, Human Behavior A Work; Organizational
Behavior, New York McGraw Hill International
Dharmawan, 2006., Konflik-Sosial dan Resolusi Konflik: Analisis Sosio-Budaya
(Dengan Fokus Perhatian Kalimantan Barat) Seminar PERAGI Pontianak 10-11
Januari 2006
Dessier. Gary. 1980. Organization Theory: Integrating Structure and Behavior.,
Englewood Cliffs-New Jersey, Prentice-hall,Inc.
Djohan dan Milwan., 2007, Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gramedia Press
Dunn. Willian. 2000. Pengantar Analisis kebijakan Publik. Edisi Kedua, Jogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Durbin, P. T. (1988). Dictionary of Concepts in the Philosophy of Science, New York:
Greenwood Press.
Donnelly, Ivancevich, Gibson., 1997. Organisasi, Perilaku, Struktur dan Proses., Alih
Bahasa oleh Djakarsih, Jakarta., Erlangga
Dwiyanto, Agus. 2006., Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik,
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Elton, Mayo, George., 1972., Psychology of Pierre Janet, London: Greenwood Press
Fayol, Henry. (1841-1925). 1949. General and Industrial management. Controle
Paris., Dunod
Fuad, H. Faisal dan Maskanah, Siti. 2000. Inovasi Penyelesaian Sengketa Pengelolaan
Sumberdaya Alam,. Bogor, Pustaka Latin
Fisher, Simon, dkk. 2000. Mengelola Konflik: Keterampilan & Strategi Untuk
Bertindak. The British Council: ZED Books
Garna, Judistira K., 1998. Budaya Usaha dan Perusahaan, Business and Corporate
Culture. Bandung: PPs Unpad.
Gibson, James L., et al., 1977. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Alih bahasa oleh
Adriani. Jakarta: Binarupa Aksara.
Greenhalgh, Leonard, 1999. “Menangani Konflik”. Dalam A. Dale Timpe, (Ed.),
Memimpin Manusia. Alih bahasa oleh Sofyan Cikmat. Jakarta: PT.Gramedia.
URLS
Harold D. Laswell, 1959., Who Gets What, When, How. New York, Meridian Books,
Inc.
136
Daftar Pustaka
................................, 1961., Political Communication: The Public Language of Political
Elites In India, New York
Hersey, Faul, Blanchard, 1995. Management of Organization Behavior. Terjemahan
Agus Darma. Jakarta, Erlangga.
Hick, Herbert, G. and Gullet, G. Ray, (1975). Organization Theory and Behavior.
Terjemahan Ali Saefullah. Usaha Nasional: Surabaya.
Hettne, Bjorn., 2001. Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia., Jakarta, PT. Gramedia
Pustaka Utama
Ikatan Primordial, Identitas Sosial dan Konflik Komunal, http://juliefisipuns.blogspot.
com/
Indrawijaya,. 1989. Perilaku Organisasi. Bandung., Sinar Baru
Jones, Gareth R. 1995. Organizational Theory : Text and Cases, Addison Wesley
Kast, Feremont E, James F Rosenweig, 2002., Organisasi dan Manajemen. Edisi ke
empat, Terjamahan Hasymi Ali, Jakarta. Penerbit Bumi Aksara
Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men PANRB), 2010., Jakarta.
Kerlinger, N. Fred. 2006, Azas-Azas Penelitian Behavioral, Jogyakarta, Gadjah Mada
University Press, Terjemahan Landung R. Simatupang, Cetakan kedua
Kristiadi, J.B. 2009. Reformasi Birokrasi, Konsep dan Implementasi, Bandung. Bahan
Kuliah, Tidak dipublikasi, Pasca Sarjana UNPAD
Koentjoroningrat. 1994. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Kotter, John P. Dan James L., Heskett. 1998. Dampak Budaya Perusahaan Terhadap
Kinerja, Alih Bahasa Oleh Benyamin Molan, dari Corporate Culture and
Performances, Jakarta, Pearson Education Asia Ptc. Ltd. Dan PT. Prenhallindo
Kesadaran Kewargaan Bisa Atasi Konflik Komunal, http://nurulhuda.wordpress.
com/2007/10/19/kesadaran-kewargaan-bisa-atasi-konflik-komunal/
Konflik Komunal Di Indonesia. http://indonesianmindset.blogspot.com/2011/10/
konflik-komunal-di-indonesia.html
Lepawsky, Albert; 1960. Administration; The Art and Science of Organization and
management, New York, alfred A. Knoff.
Lubis, Hari dan Martani Huseini. (1987). Teori Organisasi ; Suatu Pendekatan Makro.
Jakarta: Pusat Antar Ilmu-ilmu Sosial UI.
Maslow.1943., Theory of Human Motivation., Psychological Review
McGregor, D. 1960., The Human Side of Enterprise, New York
Middleton, John. 2002, Organizational Behavior, First published by Capstone
Publishing (a Wiley company), United Kingdom.
137
Teori Perilaku Organisasi Publik
Muchlas. Makmuri. 2005. Perilaku Organisasi. Yogyakarta, Gadjah Mada University
Press,
Nazir, 2005, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kybernologi (Ilmu Pemerintahan Baru) I. Jakarta: Reneka
Cipta
............, .................. 2003. Kybernologi (Ilmu Pemerintahan Baru) II. Jakarta: Reneka
Cipta
Ngusmanto. 2013. Perilaku Birokrasi Dalam Formulasi Kebijakan Umum Anggaran.
Jakarta. Dapur Buku.
--------------. 2015., Pemikiran Dan Praktek Administrasi Pembangunan, Jakarta,
Mitra Wacana Media.
--------------. 2016., Implementasi Budaya Organisasi Oleh Pelaku Bisnis Perkebunan
Kelapa Sawit, Srudi di PTPN XIII, Ngabang Kabupaten Landak Kalimantan Barat,
Dalam Buku Kebudayaan, Interaksi Sosial, Konflik dan Perdamaian, Pontianak,
Alqadrie Center Press.
Notoatmodjo, Soekidjo, & Sarwono, Solita. 1987. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Badan Penerbit Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
.....................,..............., 2009. Pengembangan Sumberdaya Manusia, Jakarta., PT.
Renika Cipta
Osborne, David dan Gaebler, Ted., 1998. Mewirausahakan Birokrasi, Reinventing
Government, Terjemahan, Jakarta, PT. Pustaka Binawan Pressindo.
Otomo, W., Widodo, Tri. 1998. Perilaku Organisasi., Bandung, Sekolah Tinggi Ilmu
Administrasi, Lembaga Administrasi Negara, Kampus Bandung
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi
Birokrasi 2010–2025
Perjanjian Kerja Bersama Antara Direksi PTPN XIII Dengan Serikat Pekerja
Perkebunan Nusantara 2012-2014, PTPN XIII, Pontianak
Price, Don K., 1968. The Study of Policy Content: A Framework for Choce, In Austin
Ranny (Ed), Political Science and Public Policy, Chicago: Markham.
PTPN XIII. 2010. Pedoman Etika Kerja, Pontianak
PTPN XIII. 2012. Laporan Produksi Kebun Ngabang, Ngabang
Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psiokologi Komunikasi. Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Rasyid, Ryas, 1999, Kajian Awal Birokrasi Pemerintahan Politik Orde Baru, Jakarta,
Yasriwatampone
Riggs. W. Fred., 1994. Administrasi Pembangunan Sistem Administrasi dan Birokrasi,
Terjemahan oleh Luqman Hakim, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada
138
Daftar Pustaka
Robbins, Stephen P., dan Timothy A. Judge. 1979. Perilaku organisasi/Organization
Behaviour. Jakarta: Salemba Empat.
..............,.........................., 1994. Teori Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi, Edisi
ke 3, Penerbit Arcan
..............,..........................,. 2000., Managing Today, 2nd Ed, Prentice Hall
..............,.........................., 2003. Organizational Behavior, Thent Edition. New
Jersey: Pearson Education, Inc. alih bahasa: Molan, Benyamin. (2006). Perilaku
Organisasi. Jakarta: Gramedia.
..............,.........................., 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Rogers, Everett M., 1974., Communication In Organization., New York, The Free
Press, Macmillan Publising
Said, M. Mas’ud. Birokrasi Di Negara Birokratis, Makna, Masalah Dan Dekonstuksi
Birokrasi Indonesia. 2007. Yogyakarta: UMM Press.
Santoso, Priyo Budi., 1997, Birokrasi Pemerintah Orde Baru, Perspektif Kultural dan
Struktural. Jakarta: Rajawali Press.
Santosa, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial, PT. Refika Aditama, Bandung
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Press
Sedarmayanti. 2009. Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi dan
Kepemimpinan Masa Depan (Mewujudkan Pelayanan Prima dan Kepemerintahan
Yang Baik), Bandung: PT. Refika Aditama.
Schwandt, T.A. 2001, Dictionary of Qualitative Inquiry, 2nd ed. Thousand Oaks : Sage
Publications
Schermerhorn., R, John., 1991., Managing Organization Behavior, New York, John
Publishing Inc.
Siagian, Sondang P. 1994., Patologi Birokrasi, Analisis, Identifikasi Dan Terapinya,
Jakarta, Ghalia Indonesia
----------------------------. 2003. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Bumi Angkasa.
Soedjadi, FX., 1995., Organization and Methods, Penunjang Berhasilnya Proses
Manajemen, Jakarta, Gunung Agung.
Sugiyono, 2013., Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), Bandung; Alfabeta,
Cetakan Keempat
Sukmadinata, N.S., 1999., Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sutrisno, Edy. 2010. Budaya Organisasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta
Soekanto, Soerjono. 1983. Kamus Sosiologi. Edisi Baru, Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Stoner, James A.F., et al., 1995., Management, 6th Ed., Prentice Hall Inc, Englewood
Cliffs
139
Teori Perilaku Organisasi Publik
Tadjudin, Djuhendi., 2000., Manajemen Kolaborasi., Bogor. Pustaka Latin.
Taylor, Frederick, Winslow., 1919. The Principles Of Scientific Management, New
York, Haper and Brothers Publishers.
Terry, George R., Franklin, S.G. 1982, Principles of Management, Eight Edition,
Homewood : Richard Irwin, Inc.,
Teori Persekongkolan atau Teori Konspirasi (conspiracy theory), http://id.wikipedia.
org/wiki/Teori_persekongkolan
Thoha, Miftah. 2001. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
-----------------. 2002. Perspektif Perilaku Birokrasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada
........,............ 2010. Birokrasi dan Politik Di Indonesia., Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada
Thomas, Kuhn, 1989. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Bandung: Remadja
Karya,
Tim Prima Pena. Tanpa Tahun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Press
Usman, Sunyoto., 2007. Konflik Sosial, Yogyakarta, Pusat Penelitian Lingkungan
Hidup UGM
Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara Republik Indonesia
Varma., P.S., 1987., Teori Politik Modern., Jakarta, CV. Rajawali
Watson, David., L., 1966., Social Psychology. New Jersey: Scoft Foresmen and
Campany Glanview
Weber, Max., 1973., Bureaucracy, Dalam Hans H. Gerth, From Max Weber: Essay In
Sociology. London, Oxford University Press.
Winardi, 1992., Perilaku Organisasi (Organizational Behavior), Bandung : Tarsito
William, James., 1948., The Principles Of Psychology., Haramet Press University
Wursanto. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Organisasi, Yogyakarta: Andi
Yuwono, S. 1985., Ikhtisar komunikasi administrasi, Yogyakarta, Liberty
140
Daftar Istilah
ASN
: Aparatur Sipil Negara
APBD
: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN
: Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional
BNI
: Bank Negara Indonesia
BUMN/BUMD: Badan Usaha Milik Negara/Daerah
BPKB
: Buku Pemilik Kendaraan Bermotor
DPR
: Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD
: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
F
: Fungsi
FGD
: Focus Group Discustion
FISIP
: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
I
: Individu
KA
: Kereta Api
KALBAR
: Kalimantan Barat
KKN
: Korupsi, Kolosi dan Nepotisme
KUD
: Koperasi Unit Desa
L
: Lingkungan
LSM
: Lembaga Swadaya Masyarakat
OB
: Organizational Behaviora
SDM
: Sumber Daya Manusia
SMPB
: Sertifikasi Mutu Penerimaan Buah
141
Teori Perilaku Organisasi Publik
TBS
STNK
P
PMI
PAN-RB
PLN
PP
PNS
PTPN
PT
ERG
SKPD
Tupoksi
UNTAN
UUD
UU
WA
WNI
142
: Tandan Buah Segar
: Surat Tanda Nomor Kendaraan
: Perilaku
: Palang Merah Indonesia
: Pemberdayaan Aparatur Negara – Reformasi Birokrasi
: Perusahaan Listrik Negara
: Peraturan Pemerintah
: Pegawai Negeri Sipil
: Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara
: Perseroan Terbatas
: Existence, Relatedness dan Growth
: Satuan Kerja Perangkat Daerah
: Tugas Pokok dan Fungsi
: Universitas Tanjungpura
: Undang-Undang Dasar
: Undang-Undang
: Whats App
: Warga Negara Indonesia
Indek
A
Abcarian, Gilbert 135
Abdullah, Syukur 135
Adat istiadat 79
Aktivitas iii, 4, 7, 13, 17, 18, 19, 32, 36, 37, 39, 62, 65, 66, 73, 83, 107, 119, 125
Aparatur Pemerintah 67, 69, 71, 101, 102, 103
Arif, Saiful 135
Arif, Syofian, Mirian 135
Azwar, Azrul 135
B
Barnard, M 135
Belione, J. Carl 135
Bennis, Warren 135
Birokrasi 1, 42, 55, 56, 57, 58, 59, 61, 66, 67, 68, 69, 71, 72, 73, 127, 129, 135, 137, 138, 139, 140
Bloom, Benjamin 135
Bratakusumah, D.S 135
Bruno, F.J 135
Budaya 4, 7, 41, 44, 89, 91, 113, 114, 115, 118, 122, 123, 135, 136, 137, 138, 139
Budiardjo, Miriam 135
Budiman, Arief 136
C
Candler, Ralph C 136
Chalid, Pheni 136
Contoh 3, 14, 17, 18, 25, 43, 54, 64, 74, 76, 79, 82, 90, 98, 99, 100, 104, 111, 115, 116, 123,
143
Teori Perilaku Organisasi Publik
D
Daerah 3, 5, 17, 22, 29, 40, 41, 68, 79, 84
Davis, Keith 136
Davis, Keith, & Newsstrom 136
definisi 12, 13, 15, 16, 19, 21, 22, 30, 35, 77, 79, 80, 96, 135
Dessier. Gary 136
Dharmawan 136
Djohan dan Milwan 14, 136
Donnelly, Ivancevich, Gibson 136
Dorongan 52, 53, 65, 66, 73, 110, 111
DPRD 14, 15, 74, 141
Dunn. Willian 136
Durbin, P. T 136
Dwiyanto, Agus 136
E
Efisien 6, 21, 22, 25, 43, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 87, 123, 124, 126, 127, 129, 131
Ekonomi 4, 7, 15, 20, 22, 29, 33, 48, 56, 65, 69, 71, 74, 85, 89, 117, 118, 124
Elton, Mayo, George 136
Etika 3, 20, 37, 41, 43, 128, 129
F
Fayol, Henry 136
Fisher, Simon 136
Fisik 7, 52, 58, 64, 68, 70, 74, 80, 81, 85, 89, 109, 110
Fuad, H. Faisal dan Maskanah 136
Fungsi 5, 12, 15, 16, 21, 25, 27, 44, 66, 71, 72, 73, 98, 100, 102, 107, 123, 126, 127, 132
G
Gagasan 5, 6, 12, 20, 36, 42, 47, 98
Garna, Judistira K 136
Gibson, James L 136
Greenhalgh, Leonard 136
H
Harold D. Laswell 136
Hersey, Faul, Blanchard 137
Hettne, Bjorn 137
Hick, Herbert, G 137
Hierarki 23, 24, 27, 49, 52, 55, 65, 108, 109, 110
Hukum 15, 22, 23, 47, 48, 49, 54, 69, 82, 83
144
Indek
I
Ikatan Primordial 137
Ilmu 8, 11, 12, 33, 38, 56, 57, 62, 135, 137, 138, 140, 141
Indonesia 3, 14, 15, 19, 28, 29, 40, 43, 47, 67, 68, 69, 71, 72, 77, 79, 82, 91, 92, 117, 123, 128
Indrawijaya 48, 137
Informasi 2, 14, 42, 43, 48, 79, 83, 84, 86, 92, 96, 97, 98, 102, 103, 104, 105, 120, 121, 124, 129
Infrastruktur 74
Interaksi 42, 50, 66, 98, 138
J
Jabatan 5, 23, 27, 43, 83, 84, 90, 91, 99, 101, 111, 116, 127, 132
Jawaban 1, 21, 29, 33, 38, 40, 77, 78, 127
Jones, Gareth R 137
K
Kast, Feremont E 137
Kebijakan 13, 14, 15, 43, 57, 68, 69, 70, 71, 74, 75, 76, 83, 86, 119, 120, 121, 128, 129, 136
Kebutuhan 2, 5, 14, 15, 20, 23, 33, 37, 52, 53, 54, 55, 62, 64, 65, 66, 68, 70, 72, 73, 74, 76, 85, 88
Kelompok 5, 7, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 26, 30, 31, 32, 37, 38, 39, 40, 50, 51, 62, 63, 64, 66, 67, 69
Kementerian 70, 137
Kepentingan 14, 20, 23, 24, 26, 28, 29, 37, 39, 43, 49, 50, 55, 57, 64, 65, 66, 68, 70, 74, 80, 81, 82
Keputusan 23, 68
Kerjasama 14, 15
Kerlinger, N. Fred 137
Kesadaran 137
Koentjoroningrat 137
Komunikasi 3, 27, 42, 82, 84, 88, 92, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 115, 123, 135, 138
Konflik 3, 44, 77, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 136, 137, 138, 140
Kotter, John P 137
Kristiadi, J.B 137
L
Lembaga 70, 138, 141
Lepawsky, Albert 137
Lubis, Hari 137
M
Mahasiswa 2, 8, 9, 35, 64, 74, 78, 93, 96
Manajemen 5, 8, 21, 24, 27, 31, 34, 49, 50, 51, 78, 83, 84, 90, 91, 113, 117, 118, 119, 120, 121,
Manusia 4, 5, 6, 7, 8, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38, 39, 40
Maslow 47, 48, 52, 64, 65, 74, 108, 109, 110, 111, 137
Masyarakat 3, 6, 14, 15, 18, 19, 20, 28, 29, 30, 34, 38, 39, 40, 42, 49, 51, 56, 58, 64, 66, 69, 70, 73
Mcgregor, D 137
Media 67, 83, 97, 100, 102, 125
145
Teori Perilaku Organisasi Publik
Menteri 23, 69, 127
Middleton, John 137
Motivasi 3, 4, 31, 37, 39, 41, 43, 44, 52, 53, 58, 65, 83, 107, 108, 110, 111
Muchlas. Makmuri 138
N
Nazir 15, 16, 138
Ndraha, Taliziduhu 138
Negara 28, 30, 38, 69, 70, 71, 72, 75, 123, 124, 126, 128, 137, 138, 139, 140, 141, 142
Ngusmanto 2, 4, 14, 15, 72, 73, 115, 116, 120, 122, 123, 124, 125, 138
Nilai 4, 8, 14, 19, 24, 37, 38, 39, 43, 44, 45, 57, 58, 65, 73, 75, 78, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87
Notoatmodjo, Soekidjo 138
O
Objek 18, 19, 53, 54
Organisasi Publik 1, 2, 3, 4, 7, 8, 28, 29, 30, 33, 35, 39, 40, 41, 67, 77, 81, 82, 92, 95, 111, 113
Osborne, David 138
Otomo, W 138
Otoritas 24, 27, 49
P
Paradigma 42, 140
Pegawai Negeri Sipil 28, 123, 142
Pejabat Birokrasi, 57, 71, 74, 90
Pelayanan Publik 29, 90
Pembangunan 8, 14, 37, 51, 69, 71, 72, 73, 78, 85, 109, 117, 123, 124, 125, 126, 127
Pembangunan Administrasi 124, 125, 127
Pemerintah 3, 14, 15, 23, 28, 29, 30, 40, 41, 56, 57, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 74, 75, 76, 91, 97, 101
Pendekatan 4, 5, 6, 7, 33, 34, 50, 92, 137
Peraturan 23, 30, 75, 138, 142
Perilaku Organisasi 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 18, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 41, 47, 48, 61,
Perspektif 55, 66, 85, 139, 140
Plato 47, 48
Price, Don K 138
Psikologi 5, 14, 30, 33, 36, 37, 61, 64, 70, 73
Publik 1, 2, 3, 4, 7, 8, 13, 14, 28, 29, 30, 32, 33, 35, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 47, 52, 56, 57, 61
R
Rakhmat, Jalaludin 138
Rasyid, Ryas 138
Reformasi 139
Riggs. W. Fred 138
Robbins 31, 36, 37, 47, 48, 63, 80, 83, 84, 87, 108, 114, 115, 139
Rogers, Everett M 139
146
Indek
S
Said, M. Mas’ud 139
Santosa, Slamet 139
Santoso, Priyo Budi 139
Sarwono, Sarlito Wirawan 139
Schermerhorn., R, John 139
Schwandt, T.A 139
Sedarmayanti 68, 139
Siagian, Sondang P 139
Sistem 1, 71, 90, 121, 138
Soedjadi, FX 139
Soekanto, Soerjono 139
Stoner, James A.F 139
Struktur 84, 91, 99, 131, 136, 139
Subjek 18, 53
Sugiyono 13, 139
Sukmadinata, N.S 139
Sumbangan 35, 37, 38, 39, 47, 102
Sumber Daya 6, 67, 69, 70, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 90, 91, 123
Sumber Daya Manusia 6, 70, 83
Sutrisno, Edy 139
T
Tadjudin, Djuhendi 140
Tanggung jawab 14, 15, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 37, 49, 50, 51, 52, 68, 108, 109, 110, 116, 121, 127
Taylor, Frederick, Winslow 140
Teori 1, 2, 3, 4, 8, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 21, 49, 50, 51, 61, 62, 64, 67, 77, 85, 88, 89, 108,
Terry, George R 140
Thoha, Miftah 140
Thomas, Kuhn 140
Tugas Pokok dan fungsi 27, 44, 107, 123, 127
Tujuan 3, 4, 7, 8, 12, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 33, 37, 40, 44, 49, 50, 51,
U
Undang-Undang 12
Usman, Sunyoto 140
Utang 74, 76
V
Varma 15, 140
W
Watson, David 140
Weber, Max 140
147
Teori Perilaku Organisasi Publik
William, James 140
Winardi 65, 73, 84, 140
Wursanto 62, 140
Y
Yuwono, S 140
148
Download