PERENCANAAN REKONFIGURASI SALURAN KABEL UDARA

advertisement
PERENCANAAN REKONFIGURASI
SALURAN KABEL UDARA TEGANGAN RENDAH
PADA KAWASAN RUMAH SAKIT JIWA HB SAANIN PADANG
Tia Yuni Saputri.1, Ir. Yani Ridal, MT.2 dan Ir. NH.Kresna, MT.2
1)
Mahasiswa dan 2)Dosen Jurusan Teknik Elektro,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Bung Hatta
Jl. Gajah Mada No.19 Kampus Proklamator III Padang,
Sumatera Barat, Indonesia 2015
Email : [email protected]
ABSTRAK
Dalam suatu perencanaan sistem kelistrikan diperlukan kriteria antara lain, handal, aman
(ramah lingkungan), estetika, efesiensi, dan fleksibel. Seiring dengan pertumbuhan pembangunan
gedung, maka beban listrik ikut bertambah. Saat ini banyak terdapat dalam pemasangan jaringan
listrik TR (tegangan rendah) suatu kawasan, setiap kali penambahan gedung, sumber listriknya
diambilkan dari gedung sebelumnya. Hal ini menyebabkan terjadinya losses dan beban yang tidak
seimbang, serta drop tegangan yang cukup besar, karena ukuran saluran tidak sesuai dengan
kapasitas (beban) yang dilayani. Dalam penelitian ini, RSJ Prof HB Saanin Padang sering
mengalami gangguan pada SKUTR yang disebabkan sistem kelistrikan yang tidak sesuai dengan
kriteria yang dimaksudkan. Oleh karena itu perlu diupayakan rekonfigurasi SKUTR pada kawasan
RSJ Prof HB Saanin Padang. Pendistribusian SKUTR menggunakan kabel TC Al, dibagi dalam 4
line. Line A menggunakan kabel udara 2 x (3 x 70 + 1 x 50) mm 2, line B menggunakan kabel
udara 3 x 95 + 1 x 70 mm2, line C menggunakan kabel udara 3 x 70 + 1 x 50 mm2, dan line D
mengunakan kabel udara 2 x ( 3 x 70 + 1 x 5) mm2. Total beban adalah 956 A. Untuk
pendistribusian alternatif menggunakan kabel tanah NYFGbY, dibagi dalam 3 line dan PJU 3 line.
Drop tegangan yang terbesar untuk SKUTR terdapat pada line A dan untuk kabel tanah terdapat
pada line A.
Kata kunci : Rekonfigurasi Jaringan, SKUTR, Losees/Drop Tegangan.
ABSTRACT
In an electrical system planning needed among other criteria, reliable, safe
(environmentally friendly), aesthetics, efficiency, and flexibility. Along with the growth of the
construction of the building, then the burden of the rising electricity. Currently there are many in
the installation of low voltage electrical network of the region, whenever the addition of the
building, the source of electricity taken from the previous building. This leads to losses and
expenses that are not balanced, and the voltage drop is large enough, because the size of the
channel is not in accordance with the capacity (load) are served. In this study, Prof. HB Saanin
RSJ Padang often impaired in low voltage aerial cable channel due to the electrical system that
does not comply with the criteria intended. Therefore, it is necessary reconfiguration low voltage
aerial cable channel in the region Prof. HB Saanin RSJ Padang. Distribution of low voltage aerial
cable channels using the cable TC Al, divided in 4 line. Line A using aerial cable 2 x (3 x 70 + 1 x
50) mm 2, line B using aerial cable 3 x 95 + 1 x 70 mm2, line C using aerial cable 3 x 70 + 1 x 50
mm2, and the line D using aerial cable 2 x (3 x 70 + 1 x 5) mm2. The total load is 956 A. For an
alternative distribution using ground cable NYFGbY, divided into 3 line and 3-line street lighting.
Voltage drop low voltage aerial cables are in line A and for ground wires are on the line A.
Keywords: Network reconfiguration, , Losees / Drop Voltage
tahun 2004. Rumah Sakit Jiwa Daerah Prof.
DR. HB. Sa’anin ini mempunyai 37 gedung.
Sistem kelistrikan kabelnya dibagi dua
kelompok, SKUTR, kabel udara dalam tanah.
Saluran kabel udara tegangan rendah ini
memiliki dua komponen: tiang dan kabel.
Saluran udara saluran distribusi yang
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah Sakit Jiwa Daerah Prof. DR.
HB. Sa’anin merupakan Rumah Sakit Jiwa
merupakan
Rumah
Sakit
UPTD
Pemerintahan Daerah Propinsi Sumatra Barat
Kelas “A” yang mengacu pada UU No. 32
i
menyalurkan energi listrik melalui kawatkawat yang digantung pada isolator antar
menara atau tiang distribusi. Keuntungan dari
saluran distribusi adalah lebih murah, mudah
dalam perawatan, mudah dalam mengetahui
letak gangguan, mudah dalam perbaikan, dan
lainnya. Namun juga memiliki kerugian,
antara lain: karena berada di ruang terbuka,
maka cuaca sangat berpengaruh terhadap
keandalannya, dengan kata lain mudah terjadi
gangguan, seperti gangguan hubung singkat,
gangguan tegangan lebih karena tersambar
petir, dan gangguan-gangguan lainnya. Kabel
udaradalam tanah Saluran distribusi yang
menyalurkan energi listrik melalui kabel yang
ditanam didalam tanah. Keuntungan yang
dapat diperoleh dari suatu jaringan bawah
tanah adalah bebasnya kabel dari gangguan
pohon, sambaran petir maupun dari gangguan
manusia.
Sejalan berkembangnya pembangunan
gedung RSJ dengan sitem yang lebih baik,
maka untuk menunjang itu semua maka
diperlukannya sistem tenaga listrik dengan
tingkat keandalannya yang baik, agar losees
yang selama ini banyak di temukan
terminimalisir. Saluran distribusinya adalah
faktor utama yang menentukan kualitas dari
sistem tenaga listrik itu sendiri.
Untuk itu dilakukan Perencanaan
Rekonfigurasi
Saluran
Kabel
Udara
Tegangan Rendah Pada Kawasan Rumah
Sakit Jiwa Padang Prof. HB Saanin Padang,
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
memilih konfiguras sistem distribusi adalah :
kontiniuitas kualitas tegangan listrik yang
baik. Maka dalam hal ini rekonfigurasi yang
akan dilakukan pada Rumah Sakit Jiwa
Padang Prof.HB Saanin Padang adalah
instalasi ulang dan pengalihan jaringan yang
meliputi : penggantian kabel SKUTR, dan
mengatur penampatan konstruksi tiang.
Nantinya rekonfigurasi dilakukan dengan
memperhatikan
faktor-faktor
dalam
pemilihan konfigurasi, yaitu faktor kualitas
hasl dan teknis pemasangan di lapangan serta
faktor efesiensi biaya investasi pembuatannya
sehingga rekonfigurasi jaringan merupakan
cara untuk memperbaiki drop tegangan pada
SKUTR di Rumah Sakit Jiwa Padang Prof.
HB saanin Padang.
ketenagalistrikan tegangan rendah dengan
saluran kabel udara tegangan rendah
(SKUTR), dan saluran kabel tanah tegangan
rendah, sesuai dengan standar yang
ditentukan .
2. SISTEM DISTRIBUSI TENAGA
LISTRIK
2.1 Umum
Proses penyaluran listrik ini memiliki
beberapa tahap yaitu, dari pusat pembangkit
listrik dihasilkan energi listrik, kemudian
disalurkan ke jaringan transmisi melalui
SUTET yang dinaikkan tegangannya
menggunakan gardu step up yang terdapat di
gardu induk. Sistem distribusi tenaga listrik
berfungsi untuk membagikan tenaga listrik
kepada konsumen yang memiliki jaringan
tegangan rendah (SUTR).
2.2 Konsep Dasar Jaringan Distribusi
Konsep dasar jaringan distribusi ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu
sistem pendistribusian tenaga listrik dan
struktur jaringan distribusinya.
2.3 Jaringan Pada Sistem Distribusi
Primer
Jaringan pada sistem distribusi
tegangan menengah ( primer 20kV ) dapat
dikelompokkan menjadi lima model, yaitu
jaringan
radial,
jaringan
hantaran
penghubung (tie line), jaringan lingkaran
(loop), jaringan spindel dan sistem gugus atau
kluster.
2.4 Sistem Distribusi Sekunder (Jaringan
Tegagan Rendah 380/220V)
Melihat letaknya, sistem distribusi ini
merupakan
bagian
yang
langsung
berhubungan dengan konsumen, jadi sistem
ini selain berfungsi menerima daya listrik
dari sumber daya (trafo distribusi), juga akan
mengirimkan serta mendistribusikan daya
tersebut ke konsumen.
2.5 Klasifikasi Jaringan Distribusi
Klasifikasi jaringan distribusi dibagi
berdasarkan berdasarkan ukuran tegangan,
ukuran arus listrik, sistem penyaluran,
konstruksi jaringan, dan bentuk jaringan.
1.2 Tujuan
Penelitian ini
bertujuan
untuk
merencanakan kembali (rekonfigurasi) sistem
2
lokal atau internasional seperti SPLN, IEC
60947-2 harus diperhatikan. Penanaman tipe
MCB beragam, tergantung pada pabrik
pembuat, data pemakaian yang perlu adalah
karakteristik tiap MCB untuk disesuaikan
dengan kebutuhan sistem.
2.6 Sistem Tegangan
a. Sistem tegangan yang dianut ada 3
macam : Sistem 1 fasa ( fasa satu) : 110
Volt, 220 Volt, 250 Volt.
b. Sistem tegangan dipilih mengikuti konsep
teknis (distribution system engineering)
yang dianut satu sama lain dapat berbeda,
misalnya :
 Sistem kontinental : 3 fasa – 3 kawat
(distribution substation concept) 3 fasa –
4 kawat
 Sistem Amerika : 2 fasa – 3 netral (Multi
Grounded)
 Sistem kanada : 1 kawat
2.11 Kabel
Kabel adalah panjang dari satu atau
lebih inti ( urat ), baik yang berbentuk solid
maupun serabut yang masing – masing
dilengkapi dengan isolasinya sendiri dan
membentuk suatu kesatuan.
Saluran Udara Tegangan Rendah
memakai penghantar jenis Kabel Twisted /
kabel pilin (NFAAX-T) dengan penampang
berukuran luas penampang 35 mm2, 50
mm2 dan 70 mm2 serta penghantar tak
berisolasi AllAluminium conductor (AAC), All
Aluminium Alloy Conductor (AAAC) dengan
penampang 25 mm2, 35 mm2 dan 50 mm2.
Saluran bawah tanah (underground cable)
merupakan sistem penyaluran tenaga listrik
melalui kabel-kabel yang ditanamkan di
dalam tanah. Saluran distribusi yang
menyalurkan energi listrik melalui kabel yang
ditanam didalam tanah.
2.7 Tiang Penyangga Jaringan
Dalam menggunakan tiang penyangga
jaringan agar mampu menahan beban agar
tidak roboh, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu : gaya –gaya mekanis pada
tiang penyangga, tingi tiang diatas
permukaan tanah, pengaruh kondisi tanah,
pengunaan kawat peregang, kekuatan tiang
ujung, dan kekuatan tiang sudut.
2.8 Penggunaan Isolator Pada Jaringan
Distribusi
Isolator adalah suatu alat untuk
mengisolasi kawat penghantar dengan tiang
dan traves. Isolator yang baik harus memiliki
cirri-ciri, yaitu sudut dan lekukkan yang licin
dan tidak tajam, guna menghindari kerusakan
kawat penghantar akibat tekanan mekanis
pada saat pemasangan.
Pada pemasangan SUTR pemakaian
jenis isolator dibedakan sesuai dengan lokasi
berdiri tiang. Untuk tiang yang berdiri
ditengah-tengah
jaringan
yang
lurus
digunakan isolator pasak type “RM”. Dalam
jaringan SUTM ini mempergunakan isolator
jenis sangga dan isolator suspension (isolator
gantung).
3. PERENCANAAN SISTEM
KELISTRIKAN
3.1 Sistem Distribusi Tegangan Rendah
Sistem distribusi tegangan rendah
merupakan bagian hilir dari suatu sistem
tenaga listrik pada tegangan distribusi
dibawah 1 kilo Volt langsung kepada para
pelanggan tegangan rendah. Radius operasi
jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi
oleh :
 Susut tegangan yang disyaratkan.
 Luas penghantar jaringan.
 Distribusi pelanggan sepanjang jalur
jaringan distribusi
 Sifat daerah pelayanan (desa, kota)
 Kelas pelanggan ( pada beban rendah,
pada beban tinggi)
2.9 Pembumian Pada Distribusi Jaringan
Tegangan Rendah
Ada beberapa hal yang harus d
perhatikan dalam pembumian pada distribusi
taringan tegangan rendah yaitu ketentuanketentuan tentang pembumian, pembumian
pada PHB - TR (Rak TR), penghantar
pembumian dan elektroda bumi.
3.2 Saluran Kabel Udara Tegangan
Rendah
Perencanaan sistem distribusi SKUTR
dibagi dalam 4 line, dapat dilihat pada
gambar 3.1 berikut ini.
2.10 Pengaman (MCB)
Aturan instalasi listrik yang berlaku
seperti PUIL 2000. Standar yang diacu baik
3
√
(
)
Dimana :
A = Luas penampang saluran ( mm2 )
L = Panjang saluran ( m )
ρ = Tahanan jenis pengantar (Ohm mm2/ m)
In = Arus saluran ( A )
Vd = Drop tegangan pada saluran ( Volt )
3.4 Arus Beban Pada Saluran
Untuk menentukan besarnya arus yang
mengalir pada saluran dapat digunakan
persamaan sebagai berikut :
 Untuk sistem satu phasa :
(
)
Gambar 3.1. Perencanaan saluran kabel udara
tegangan rendah

3.2 Saluran Kabel tanah Tegangan
Rendah (SKTR)
Perencanaan sistem distribusi kabel
tanah dibagi dalam 3 line dan untuk PJU 3
line, dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut
ini.
Untuk sistem tiga phasa :
(
√
)
Dimana :
In
= Arus saluran ( A )
P
= Daya ( Watt )
VL-N = Tegangan phasa netral ( Volt )
VL-L = Tegangan phasa phasa ( Volt )
3.5 Jatuh Tegangan pada Saluran
Untuk menentukan besarnya jatuh
tegangan yang terjadi pada saluran dapat
dihitung dengan persamaan berikut :
 Untuk sistem tiga phasa :
√
 Untuk sistem satu phasa
Dimana :
Vd = Jatuh tegangan ( Volt ) 5 % untuk
instalasi tenaga 2 % untuk penerangan
Ir = Arus rating ( Ampere )
Vt = Tegangan terima ( Volt )
Vk = Tegangan kirim ( Volt )
L = Panjang saluran ( m )
A = Luas penampang ( mm2 )
ρ =Tahanan jenis pengantar (Ohm mm2/ m)
Gambar 3.2. Perencanaan saluran kabel tanah
tegangan rendah
3.3 Ukuran Penampang Saluran
Untuk menentukan ukuran penampang
padda saluran dapat menggunakan persamaan
sebagai berikut :
 Untuk hantaran saluran pada sistem
satu phasa ( 1Ø )
(
)

3.6 Rating Pengaman
Untuk menentukan rating arus
pengaman yang akan dipakai pada suatu
jaringan ditentukan dengan persamaan
dibawah ini :
Untuk hantaran saluran pada sistem tiga
phasa ( 3Ø )
4
Dimana :
Ir = Nilai rating Arus ( Ampere )
k = Faktor kelipatan
untuk instalasi penerangan, k = 1,25
Untuk instalasi tenaga, k = 2,5
In = Arus saluran ( Ampere )
4.1.3 Drop Tegangan
Untuk menentukan drop tegangan pada
line A, B, C dan D. Maka dapat digunakan
persamaan :
Line A :
R=
( 3.3 )
=
= 0,10 Ohm
Vd = √
= 1,73 . 234 A . 0,10 . 0,8
= 32,38 V
Vd % =
x 100 % = 8,52 %
Drop tegangan yang terjadi pada line A
adalah 8,52 %.
Line B :
R=
4. PERHITUNGAN DAN
PEMBAHASAN
4.1. Perencanaan Saluran Kabel Udara
Tegangan Rendah
4.1.1 Menentukan Ukuran Penghantar
Untuk menentukan ukuran kabel yang
akan digunakan berdasarkan katalog kabel.
Menentukan Ukuran Pengantar pada rencana
sistem kelistrikan per-Line dapat dihitung
data sebagai berikut :
1. Sistem kelistrikan line A
A=
√
=
= 0,12 Ohm
Vd = √
= 1,73 . 176 A . 0,12 . 0,8
= 29,23 V
Vd % =
x 100 % = 7,69 %
Drop tegangan yang terjadi pada line B
adalah 7,69 %.
Line C :
R=
=
2
Berdasarkan katalog kabel luas
penampang 121,28 mm2, maka ukuran kabel
yang digunakan adalah 2x(3x70+1x50) mm2.
2. Sistem kelistrikan line B
A=
√
=
=
= 0,10 Ohm
Vd = √
= 1,73 . 233 A . 0,10 . 0,8
= 32,24 V
Vd % =
x 100 % = 8,48 %
Drop tegangan yang terjadi pada line C
adalah 8,48 %.
Drop tegang Line D :
R=
2
Berdasarkan katalog kabel luas
penampang 76,81 mm2, maka ukuran kabel
yang digunakan adalah 3x95+1x70 mm2.
3. Sistem kelistrikan line C
A=
√
=
2
Berdasarkan katalog kabel luas
penampang 61,16 mm2, maka ukuran kabel
yang digunakan adalah 3x70+1x50 mm2.
4. Sistem kelistrikan line D
A=
=
= 0,07 Ohm
Vd = √
= 1,73 . 313 A . 0,07 . 0,8
= 30,32 V
Vd % =
x 100 % = 7,97%
Drop tegangan yang terjadi pada line D
adalah 7,97 %.
√
=
2
Berdasarkan katalog kabel luas
penampang 122,58 mm2, maka ukuran kabel
yang digunakan adalah 2 x (3x70+1x50)
mm2.
4.1.4 Rating Pengaman
Untuk menentukan rating pengaman
arus distribusi pada Line A, B, C dan D.
Maka dapat digunakan persamaan :
5
Line A :
4.2.2 Rating Pengaman.
Untuk menentukan rating pengaman
arus distribusi pada line A, B, dan C Maka
dapat digunakan persamaan :
Line A :
I rating = k .In
= 1,1 . 230 = 235 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
250 A.
Line B :
I rating = k .In
= 1,1 . 362,4 = 398,64 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
400 A.
Line C :
I rating = k .In
= 1,1 . 346,6 = 381,26 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
400 A.
In = 235,126 A
I rating = k .In
= 1,1 . 235,126 A = 258,6 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
300 A.
Line B :
In
= 176 A
I rating = k .In
= 1,1 . 176 A = 193,6 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
200 A.
Line C :
In = 233 A
I rating = k .In
= 1,1 . 233 A = 256,3 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
300 A.
Line D :
In
I rating
= 313 A
= k .In
= 1,1 . 313 A = 344,3 A
Maka MCCB yang dipakai 3 phasa
4.3 Analisa Perencanaan
Berdasarkan hasil perencanaan sistem
kelistrikan
tegangan
rendah
dimana
direncanakan
dua
sistem
dengan
menggunakan kabel udara dan kabel tanah.
Untuk kabel udara digunakan jenis
tiang besi ukuran 9 m - 156 daN, ukuran
kabel line A TCAL 2x(3x70+1x50) mm2.,
line B TCAL 3x95+1x70 mm2., line C
TCAL 3x70+1x50 mm2., line D 2 x (3 x 70 +
1 x 50 ) mm2.
Untuk penerangan jalan umum (PJU)
sumber listrik diambil dari jaringan yang
melewati kabel udara pada tiang. PJU yang
digunakan jenis HRC SON-T 150W +
Ornament (komplit) menggunakan photosel.
Jenis konstruksi yang digunakan TR-1
33 unit, TR-2 30 unit, TR-3 29 unit, dan TR6 14 unit. Panel utama ( LVMDP ) diletakan
pada rumah genset. MCCB yang dipakai
untuk line A 3 phasa 300 A, line B 3 phasa
200 A, line C 3 phasa 300 A, dan line D 3
phasa 400 A. Drop tegangan masing –
masing line adalah line A 8,52 %, line B 7,69
%, line C 8,48 %, dan line D 7,97 %.
Untuk
perencanaaan
dengan
menggunakan kabel tanah dipakai kabel
jenis NYFGbY. Untuk penerangan jalan
umum (PJU) sumber listrik diambil dari
tarikan jaringan yang baru pada saluran kabel
tanah. PJU yang digunakan jenis HRC SONT 150W + Ornament (komplit) dengan
menggunakan timer. MCCB yang dipakai
untuk line A 3 phasa 250 A, line B 3 phasa
400 A, line C 3 phasa 400 A, dan
400 A.
4.2 Perencanaan Kabel Tanah
4.2.1 Perhitungan Data Perencanaan Kabel
Tanah
Perhitungan data perencaaan saluran
kabel tanah tegangan rendah dibagi menajadi
3 line, yaitu line A, line B, dan line C.
1. Perhitungan line A
NO JALUR KABEL
1 LVMDP - BC1
2 BC1 - BC2
3 BC2 - BC3
4 BC3 - BC4
BEBAN PANJANG UKURAN
(A)
(m ) KABEL ( mm² )
230
585
4 x 120
200
51
4 x 95
123
79
4 x 70
65
101
4 x 50
Vd Tegangan yang
(volt)
diterima
27,05
352,92
2,49
350,43
3,23
347,2
3,14
344,06
2. Perhitungan Line B
NO JALUR KABEL
1 LVMDP - BC1
2 BC1 - BC2
3 BC2 - BC3
4 BC3 - BC4
5 BC4 - BC5
6 BC3 - BC6
7 BC6 - BC7
3.
Vd Tegangan yang
(volt)
diterima
1
379
4,41
374,59
3,1
371,4
2,2
369,2
4,27
364,93
6,36
357,64
1,76
355,88
Perhitungan Line C
BEBAN PANJANG UKURAN
(A)
(m ) KABEL ( mm² )
LVMDP - BC1 346,6
162
4 x 150
BC1 - BC2
309
35
4 x 120
BC2 - BC3
306
130
4 x 95
BC3 - BC4
243
40
4 x 70
BC4 - BC5
180
48
4 x 50
BC3 - BC6
120
30
4 x 35
NO JALUR KABEL
1
2
3
4
5
6
BEBAN PANJANG UKURAN
(A)
(m ) KABEL ( mm² )
362
37
4 x 240
354
104
4 x 185
321
63
4 x 150
199
34
4 x 70
103
73
4 x 35
92
73
4 x 725
21,2
36
2 x 10
Vd Tegangan yang
(volt)
diterima
863
371,37
2,13
369,24
8,47
360,77
3,36
357,41
3,98
353,43
2,49
350,94
6
menggunakan MCB untuk PJU 3 phasa 16 A.
Drop tegangan masing – masing line adalah
line A 9,45 %, line B 6,34 %, line C 7,64 %,
dan PJU line A 3,27 %, line B 3,35 %, dan
line C 1,74 %.
Perbedaan saluran kabel udara dan
saluran kabel tanah dapat dilihat pada tabel
berikut :
No
Kabel Tanah
4 x 240, 4 x 185, 4 x 150, 4 x 120,
Ukuran Pengantar 3 x 70 + 1 x 50 dan 3 x
1
4 x 95, 4 x 70, 4 x 50, 4 x 35, 4 x
(mm²)
95 + 1 x 70
25, 2 x 10, 2 x 6, dan 2 x 4
2
Parameter
Daerah
Banjar
Tulangnyuh
Klungkung, Universitas Udayana.
PT PLN ( PERSERO ). “Buku I, II, III, dan
VI”. PT PLN ( PERSERO ) Jakarta
Selatan. 2010.
Rendra, Prambudhi Setyo. “keandalan
Jaringan Distribusi 20 kv dengan
Penentuan Lokasi dan Jumlah
Sectionalizer”. Institut Teknologi
Seuluh November Surabaya. 2008.
SPLN 56-1, 1993. Jakarta : “ Sambungan
Tenaga Listrik Tegangan Rendah
(SLTR)” Departemen Pertambangan
dan Energi Perusahaan Umum listri
Negara.
Suswanto, Damam. “Sistem Distribusi
Tenaga Listrik untuk Mahasiswa
Teknik Elektro”. Universitas Negeri
Padang. 2009.
Waluyo, Soenarjo, Andi,, ”Perhitungan
Susut Daya Pada Sistem Distribusi
Tegangan Menengah Saluran Udara
dan Kabel” Itenas Bandung, 2007.
Saluran Udara
line A 8, 25, line B 7,69, line A 9,45, line B 6,34, dan line C
Drop Tegangan
line C 8,48, dan line D 7,64. PJU line A 3,27, line B 3,35,
(%)
7,97.
dan line C 1,74.
line A 3 phasa 300 A,
line A 3 phasa 250 A, line B 3
Rating Pengaman line B 3 phasa 200 A, 3
3
phasa 400 A, line C 3 phasa 400 A,
(MCCB / MCB) phasa 300 A, dan line D
dan PJU 3 phasa 16 A
3 phasa 400 A
5 KESIMPULAN
Setelah melakukan perhitungan dan
analisa sistem yang telah dibuat maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Drop tegangan yang paling tinggi untuk
SKUTR terdapat pada line A dengan
menggunakan kabel 2 x (3 x 70 + 1 x 50
) mm2
2. Total beban nominal keseluruhan 1028
A.
3. Kabel tanah yang digunakan jenis
NYFGbY mempunyai drop tegangan
yang paling tinggi pada line A.
4. Rating pengaman pada LVMDP adalah
MCCB 3P 1000 A.
5. Penerangan jalan umum untuk kabel
tanah dioperasikan dengan timer dan
untuk kabel udara dioperasikan dengan
photosel.
DAFTAR PUSTAKA
Arfita, Fauzan,“Perencanaan Saluran Udara
Tegangan Menengah (SUTM) 20kv
Pada Komplek Perkebunan AMP”
Institut Teknologi Padang 2012.
Chandra
Goenaldi,“Keandalan
Sistem
Jaringan Distribusi 20kV di PT.PLN
Distribusi Jawa timur Kediri Dengan
Metode Simulasi section Technique”
Institut Teknologi Sepuluh November,
2012.
Made Surtika, 2010, Rekonfigurasi Jaringan
Tegangan Rendah (JTR) Untuk
Memperbaiki Drop Tegangan di
7
Download