Pelaporan dan Evaluasi Kinerja

advertisement
DIKLAT PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN BAGI KASUBBAG UMUM
BAHAN AJAR
Pelaporan dan Evaluasi Kinerja
Oleh:
Mukhtaromin, SST., Ak., MM.
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT ANGGARAN DAN PERBENDAHARAAN
2014
DAFTAR ISI
KEGIATAN BELAJAR 1 LAPORAN KEUANGAN
A. Indikator . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1
B. Dasar Hukum Laporan Keuangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1
C. Peranan Laporan Keuangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1
D. Tujuan Laporan Keuangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2
E. Komponen Laporan Keuangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3
F.
Laporan Realisasi Anggaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
G. Neraca . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7
H. Laporan Operasional . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8
I.
Laporan Perubahan Ekuitas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
9
J.
Catatan Atas Laporan Keuangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
10
KEGIATAN BELAJAR 2 LAPORAN KINERJA
A. Indikator . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
12
B. Dasar Hukum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
12
C. Bentuk Laporan Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13
D. Penyusunan Laporan Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13
E. Hubungan Laporan Keuangan Dengan Laporan Kinerja . . . . . . . . . . . .
14
KEGIATAN BELAJAR 3 EVALUASI KINERJA
A.
Indikator . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
B.
Dasar Hukum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
C.
Tujuan dan Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
D.
Aspek Evaluasi Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
16
E.
Proses Evaluasi Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
17
F.
Pelaporan Hasil Evaluasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
20
KEGIATAN BELAJAR 1
LAPORAN KEUANGAN
A. INDIKATOR
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, para peserta diklat diharapkan mampu
menjelaskan peranan laporan keuangan dalam perencanaan dan penganggaran.
B. DASAR HUKUM LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan
APBN. Dasar hukum penyusunan laporan keuangan pemerintah antara lain:
1. UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara khususnya Pasal 8, 9, dan 30
2. UU 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara khususnya Pasal 55
3. PP 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Pemerintah
4. PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah
5. PMK 213 Tahun 2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
Pusat
6. PMK 219 Tahun 2013 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat
7. Perdirjen Perbendaharaan 57 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Laporan
Keuangan Kementerian/Lembaga
C. PERANAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai
posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama
satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk mengetahui nilai
sumber daya ekonomi yang dimanfatkan untuk melaksanakan kegiatan operasional
pemerintahan, menilai kodisi keuangan, mengevaluasi efektivita dan efisiensi suatu entitas
pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangan.
Setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya
yang telah dilakukan serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara
sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan:
1. Akuntabilitas
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
1
Artinya mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan secara periodik.
2. Manajemen
Artinya membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu
entitas pelaporan dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan,
pengelolan, dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban, dan ekuitas pemerintah
untuk kepentingan masyarakat.
3. Transparansi
Artinya memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat
berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara
terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan
perundangan.
4. Keseimbangan antar generasi
Artinya membantu para pengguna dalam mengatahui kecukupan penerimaan
pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang
dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung
beban pengeluaran tersebut.
5. Evaluasi kinerja
Artinya mengevaluasi kinerja entitas pelaporan terutama dalam penggunaan sumber
daya yang dikelola pemerintah untuk mencapai kinerja yang direncanakan.
D. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat
bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan
ekonomi, sosial, maupun polotik dengan:
1. Menyediakan informasi tentang sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
keuangan
2. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk
membiayai seluruh pengeluaran
3. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam
kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
2
4. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh
kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya
5. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan
berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka
panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman
6. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah
mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama
periode pelaporan.
Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan menyediakan informasi
menganai sumber dan penggunaan sumber daya keuangan/ekonomi, transfer, pembiayaan,
sisa lebih/kurang pelaksanaan anggaran, saldo anggaran lebih, surplus/defisit Laporan
Operasional, aset, kewajiban, ekuitas, dan arus kas entitas pelaporan.
E. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan pemerintah pusat merupakan konsolidasi dari laporan keuangan
kementerian/lembaga dan laporan keuangan bendahara umum negara. Laporan keuangan
kementerian/lembaga terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, dan catatan atas
laporan keuangan. Laporan tersebut akan bertambah dengan Laporan Operasional.
1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan dan belanja, yang
masing-masing dibandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
2. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas akuntansi dan entitas pelaporan
mengenai aset, kewajiban, ekuitas dana per tanggal tertentu.
3. Laporan Operasional (LO)
Laporan operasional adalah laporan yang menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi
yang menanbah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah
pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode
pelaporan.
4. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menyajikan informasi kenaikan atau
penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
3
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan, daftar rinci, dan analisis atas nilai
suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca.
F. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
1. Pengertian
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan salah satu komponen laporan keuangan
pemerintah yang menyajikan
ikhtisar sumber, alokasi dan pemakaian sumber daya
keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan
antara anggaran dan realisasinya dalam suatu periode tertentu.
2. Manfaat
a. Menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer,
surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan yang masing-masing
diperbandingkan dengan anggarannya. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna
laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya
ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan:
-
menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
ekonomi;
-
menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang
berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektivitas
penggunaan anggaran.
b. Menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi yang
akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode
mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Laporan Realisasi
Anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi
perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi:
-
telah dilaksanakan secara efisien, efektif, dan hemat;
-
telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD); dan
-
telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
3. Struktur dan Isi
Laporan Realisasi Anggaran tingkat satuan kerja sekurang-kurangnya mencakup pos-pos
sebagai berikut:
a. Pendapatan-LRA;
- Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
4
- Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.
- Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya
penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat dan dana bagi hasil dari
pemerintah provinsi.
- Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
- Dalam hal badan layanan umum,
pendapatan diakui
dengan mengacu pada
peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
- Pengembalian yang sifatnya sistemik (normal) dan berulang (recurring) atas
penerimaan pendapatan-LRA pada periode penerimaan maupun pada periode
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan-LRA.
- Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan-LRA yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan-LRA
dibukukan sebagai pengurang pendapatan-LRA pada periode yang sama.
- Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan-LRA yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan
sebagai pengurang Saldo Anggaran Lebih pada periode ditemukannya koreksi dan
pengembalian tersebut.
b. Belanja;
- Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Negara/Daerah.
- Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai
fungsi perbendaharaan.
- Dalam hal badan layanan umum, belanja diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
- Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan
fungsi.
- Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan
dalam dokumen anggaran.
- Koreksi atas pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada
periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
5
yang sama. Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran
belanja dibukukan dalam pendapatan-LRA dalam pos pendapatan lain-lain-LRA.
4. Illustrasi Format
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
6
G. NERACA
1. Pengertian
Neraca merupakan laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas
pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
2. Manfaat
Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban dan eukitas
pemerintah pada tanggal tertentu.
3. Struktur dan Isi
Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban dan ekuitas.
4. Ilustrasi Format
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
7
H. LAPORAN OPERASIONAL
1. Pengertian
Laporan Operasional (LO) disusun untuk melengkapi pelaporan dari siklus akuntansi berbasis
akrual (full accrual accounting cycle) sehingga penyusunan Laporan Operasional, Laporan
Perubahan Ekuitas, dan Neraca mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Manfaat
Menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang
tercerminkan dalam pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas
pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.
3. Struktur dan Isi
Struktur Laporan Operasional mencakup pos-pos sebagai berikut:
a. Pendapatan-LO
Pendapatan-LO diakui pada saat:
- Timbulnya hak atas pendapatan;
- Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
b. Beban
Beban diakui pada saat:
- timbulnya kewajiban;
- terjadinya konsumsi aset;
- terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.
c. Surplus/Defisit dari operasi
Surplus/defisit dari kegiatan operasional adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan
dan beban selama satu periode pelaporan.
4.5.4
Ilustrasi Format
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
8
I.
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
1. Pengertian
Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas
tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
2. Manfaat
Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah
mengalami kenaikan atau penurunan sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama
periode pelaporan.
3. Struktur dan Isi
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos:
a. Ekuitas awal
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
9
b. Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;
c. Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas, yang antara lain
berasal dari dampak kumulatif yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi
dan koreksi kesalahan mendasar, misalnya:
- koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-periode
sebelumnya;
- perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.
d. Ekuitas akhir.
4. Ilustrasi Format
J.
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
1. Pengertian dan Tujuan
- Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Laporan
Keuangan dan oleh karenanya setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan
Catatan atas Laporan Keuangan.
- Meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan
dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca,
Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula
dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan
dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapanpengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan
keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya.
- Tujuan: Untuk meningkatkan transparansi laporan keuangan dan penyediaan pemahaman
yang lebih baik atas informasi keuangan pemerintah
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
10
2. Manfaat
Memudahkan pengguna dalam memahami laporan keuangan.
3. Struktur dan Isi
Catatan Atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
-
Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi;
-
Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;
-
Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
-
Informasi tentang dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadiankejadian penting lainnya;
-
Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan
keuangan;
-
Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang
belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan; dan
-
Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan
dalam lembar muka laporan keuangan.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
11
KEGIATAN BELAJAR 2
LAPORAN KINERJA
A. INDIKATOR
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan hubungan
antara laporan keuangan dengan laporan kinerja.
B. DASAR HUKUM
Laporan Kinerja adalah ikhtisar yang menjelaskan secara ringkas dan lengkap tentang
capaian kinerja yang disusun berdasarkan rencana kerja yang ditetapkan dalam rangka
pelaksanaan anggaran. Yang dimaksud kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program
yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan
kuantitas dan kualitas terukur. Dasar hukum pelaporan kinerja adalah:
1. UU 17 Tahun 2003:
 Penyusunan dan penyajian LK-K/L adalah dalam rangka akuntabilitas dan
keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara, termasuk prestasi kerja yang
dicapai atas penggunaan anggaran (Penjelasan Pasal 9 huruf g)
 LRA K/L selain menyajikan realisasi pendapatan dan belanja, juga menjelaskan
prestasi kerja setiap K/L (Penjelasan Pasal 30 (2))
2. UU 1 Tahun 2004 Pasal 55 ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai laporan keuangan
dan kinerja instansi pemerintah ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
3. PP 8 Tahun 2006 Pasal 2:
Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN, setiap Entitas Pelaporan wajib
menyusun dan menyajikan Laporan Kinerja.
4. Permenpan 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penetapan Kinerja dan Penyusunan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
12
5. SK LAN 239 Tahun 2003 tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah.
Di pemerintah pusat, instansi yang wajib menyusun laporan akuntabilitas kinerja adalah
kementerian/lembaga dan unit organisasi eselon I.
C. BENTUK LAPORAN KINERJA
Laporan Kinerja adalah ikhtisar yang menjelaskan secara ringkas dan lengkap
tentang capaian kinerja yang disusun berdasarkan rencana kerja yang ditetapkan dalam
rangka pelaksanaan APBN/APBD. Laporan Kinerja menyajikan penyandingan anggaran dan
realisasi, serta rencana dan realisasi keluaran atau hasil atas suatu kegiatan/program
LAPORAN KINERJA TINGKAT SATKER
23
D. PENYUSUNAN LAPORAN KINERJA
Ketentuan umum tentang penyusunan laporan kinerja diatur dalam PP 8 Tahun 2006
Pasal 18 sampai 20. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa penyusunan laporan kinerja
menggunakan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). SAKIP adalah
rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang terselenggara secara
manual atau komputerisasi yang dirancang dan ditetapkan untuk tujuan pengumpulan data,
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
13
pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, baik
secara sendiri-sendiri maupun secara kolektif. SAKIP dikembangkan secara terintegrasi
dengan sistem perencanaan, sistem penganggaran, sistem perbendaharaan, dan sistem
akuntansi pemerintahan. Laporan kinerja disusun dan dilaporkan secara berjenjang dan
berkala dari unit kerja, unit organisasi, sampai kementerian/lembaga.
E. HUBUNGAN LAPORAN KEUANGAN DENGAN LAPORAN KINERJA
Hubungan laporan keuangan dengan laporan kinerja dapat dijelaskan dari kaitan antara
keuangan dengan kinerja.
Gambar:
Kaitan Kinerja dan Keuangan
RENSTRA
Kebijakan
Rencana
Kinerja
Tahunan
Rencana Kerja
RKA – K/L
TAPKIN
RKT
Pelaksanaan Kegiatan
LAKIP
KINERJA
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
Laporan
Realisasi RKT
OPERASIONAL
DIPA
Realisasi & Perbendaharaan Anggaran
LKKIP
KEUANGAN
14
KEGIATAN BELAJAR 3
EVALUASI KINERJA
A. INDIKATOR
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat diharapkan mampu
menjelaskan peranan evaluasi kinerja dalam perencanaan dan penganggaran.
B. DASAR HUKUM
Kinerja adalah prestasi kerja berupa keluaran dari suatu kegiatan atau hasil dari
suatu program dengan kuantitas dan kualitas terukur. Untuk mengetahui capaian
kinerjanya, maka suatu kegiatan dan program harus diukur. Pengukuran dan evaluasi
kinerja yang selanjutnya disebut evaluasi kinerja adalah proses untuk menghasilkan
informasi capaian kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen RKA-KL. Dasar hukum
evaluasi kinerja adalah:
1. UU 17 Tahun 2003 bagian penjelasan;…………. sistem anggaran berbasis kinerja
memerlukan kriteria pengendalian kinerja dan evaluasi kinerja……..dst.
2. PP 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan RKA-KL Pasal 19 ayat (1); Menteri/pimpinan
lembaga melakukan pengukuran dan evaluasi kinerja atas pelaksanaan RKA-KL tahun
sebelumnya dan tahun anggaran berjalan.
3. PMK 249 Tahun 2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja atas Pelaksanaan
RKA-K/L.
Evaluasi kinerja dilakukan per program. Menteri/pimpinan lembaga melakukan
evaluasi kinerja tahun sebelumnya dan tahun berjalan lingkup K/L yang dipimpinnya.
Pelaksanaan evaluasi kinerja dapat didelegasikan kepada pimpinan unit eselon I sebagai
penanggung jawab program berkenaan dengan melibatkan pemangku kepentingan.
C. TUJUAN DAN MANFAAT
Evaluasi kinerja dilakukan dalam rangka pelaksanaan fungsi akuntabilitas dan
fungsi peningkatan kualitas.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
15
-
Fungsi
akuntabilitas
mempertanggungjawabkan
bertujuan
secara
untuk
profesional
membuktikan
kepada
masyarakat
dan
atas
penggunaan anggaran yang dikelola kementerian/lembaga bagi kepentingan
masyarakat.
-
Fungsi peningkatan kualitas bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang
menjadi pendukung dan/atau kendala atas pelaksanaan RKA-KL sebelumnya,
sebagai bahan penyusunan dan pelaksanaan RKA-KL serta upaya peningkatan
kinerja di tahun-tahun berikutnya.
D. ASPEK EVALUASI KINERJA
Evaluasi kinerja terdiri dari 3 (tiga) aspek, yaitu aspek implementasi, aspek
manfaat, dan aspek konteks.
-
Evaluasi kinerja atas aspek implementasi dilakukan dalam rangka menghasilkan
informasi kinerja mengenai pelaksanaan kegiatan dan pencapaian output.
Indikator yang diukur dalam evaluasi kinerja atas aspek implementasi adalah
penyerapan anggaran, konsistensi antara perencanaan dan implementasi,
pencapaian output, dan efisiensi.
-
Evaluasi kinerja atas aspek manfaat dilakukan dalam rangka menghasilkan
informasi mengenai perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan/atau
pemangku kepentingan sebagai penerima manfaat atas output yang telah
dicapai. Indikator yang diukur dalam evaluasi kinerja atas aspek manfaat adalah
capaian indikator kinerja utama.
Evaluasi kinerja atas aspek implementasi dan aspek manfaat dilakukan setiap
tahun.
-
Evaluasi kinerja atas aspek konteks dilakukan dalam rangka menghasilkan
informasi mengenai relevansi masukan, kegiatan, keluaran, dan hasil, dengan
dinamika perkembangan keadaan, termasuk kebijakan pemerintah.
Evaluasi kinerja atas aspek konteks dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun atau sesuai kebutuhan dalam rangka menyesuaikan dengan
perkembangan keadaan.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
16
E. PROSES EVALUASI KINERJA
Evaluasi kinerja dilakukan dengan tahapan persiapan, pengumpulan data,
pengukuran dan penilaian, serta analisis.
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan evaluasi kinerja paling sedikit meliputi:
-
mempersipakan model logika informasi kinerja.
-
inventarisasi dan identifikasi berbagai indikator dan target kinerja.
-
penyusunan desain pengumpulan data.
Model logika adalah gambaran ringkas yang menjelaskan hubungan antara masukan,
kegiatan, keluaran, dan hasil serta kebutuha amsyarakat dan/atau pemangku
kepentingan. Desain pengumpulan data difokuskan pada penyusunan mekanisme
untuk memperoleh data realisasi indikator kinerja keluaran dan indikator kinerja
utama program.
2. Tahap Pengumpulan Data
a. Data yang diperlukan dalam rangka evaluasi kinerja atas aspek implementasi
meliputi:
1) pagu anggaran.
2) target volume keluaran.
3) target indikator kinerja keluaran.
4) rencana penarikan dana.
5) realisasi anggaran.
6) realisasi volume keluaran, dan
7) realisasi indikator kinerja keluaran.
Dokumen sumber data 1) sampai 4) adalah RKA-KL dan DIPA, sedangkan
dokumen sumber data realisasi anggaran adalah SP2D yang diterbitkan oleh
KPPN. Data realisasi volume keluaran bersumber dari:
-
bukti serah terima barang/jasa,
-
surat pernyataan yang dibuat oleh pejabat pengelola kegiatan, dan/atau
-
bukti atau dokumen lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara data realisasi indikator kinerja keluaran berasal dari:
-
riviu dokumen,
-
survei,
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
17
-
observasi, dan/atau
-
diskusi kelompok terarah (focus group discussion) yang melibatkan
pemangku kepentingan.
b. Data yang diperlukan dalam rangka evaluasi kinerja atas aspek manfaat adalah
target indikator kinerja utama dan realisasi indikator kinerja utama.
c. Data yang diperlukan dalam rangka evaluasi kinerja atas aspek konteks meliputi
data kependudukan, indikator ekonomi, indeks tingkat kemiskinan, data di
bidang ekonomi, sosial, politik, arah kebijakan pemerintah dan prioritas
pembangunan nasional serta informasi lain yang terkait. Data tersebut dapat
diperoleh dari:
-
riviu dokumen,
-
survei,
-
observasi, dan/atau
-
diskusi kelompok terarah (focus group discussion) yang melibatkan
pemangku kepentingan.
3. Tahap Pengukuran dan Penilaian
Proses pengukuran dan penilaian hanya dilakukan untuk evaluasi kinerja atas aspek
implementasi dan aspek manfaat.
a. Pengukuran merupakan proses menghasilkan suatu nilai capaian kinerja untuk
setiap indikator yang dilakukan dengan cara membandingkan data realisasi
dengan data target yang telah direncanakan sebelumnya. Ketentuan
pengukurannya adalah:
-
Pengukuran penyerapan anggaran dilakukan dengan membandingkan
akumulasi realisasi anggaran seluruh satuan kerja dengan akumulasi pagu
anggaran seluruh satuan kerja.
-
Pengukuran konsistensi antara perencanaan dan implementasi dilakukan
berdasarkan rata-rata ketepatan waktu penyerapan setiap bulan dengan
membandingkan jumlah hasil perbandingan akumulasi realisasi anggaran
bulanan seluruh satuan kerja dengan akumulasi rencana penarikan dana
bulanan seluruh satuan kerja dengan jumlah bulan.
-
Pengukuran pencapaian keluaran dilakukan berdasarkan rata-rata dari
perkalian antara perbandingan realisasi dan terget volume keluaran dengan
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
18
rata-rata perbandingan antara realisasi dan target indikator kinerja keluaran
(jika indikator kinerja keluaran belum tersedia dapat memakai indikator
kinerja kegiatan).
-
Pengukuran efisiensi dilakukan berdasarkan rata-rata efisiensi untuk setiap
jenis keluaran yang diperoleh dengan mengurangkan angka 1 (satu) dengan
hasil perbandingan realisasi anggaran per keluaran dengan pagu anggaran
per keluaran, yaitu realisasi anggaran per keluaran per realisasi volume
keluaran dengan pagu anggaran per keluaran per target volume keluaran.
-
Pengukuran capaian hasil dilakukan dengan membandingkan realisasi
indikator kinerja utama dengan target indikator kinerja utama.
b. Penilaian merupakan proses interpretasi atas seluruh nilai capaian kinerja hasil
pengukuran ke dalam informasi yang menggambarkan tingkat keberhasilan
program guna dianalisis lebih lanjut.
Ketentuan penilaiannya adalah:
-
Penilaian kinerja dilakukan dengan menghitung nilai kinerja atas aspek
implementasi dan nilai kinerja atas aspek manfaat, dikalikan dengan bobot
masing-masing aspek berkenaan.
-
Bobot kinerja atas aspek implementasi adalah 33,3% dan bobot kinerja aspek
manfaat adalah 66,7%.
-
-
Bobot masing-masing indikator pada aspek implementasi adalah:
 penyerapan anggaran
: 9,7%
 konsistensi antara perencanaan dengan implementasi
: 18,2%
 pencapaian keluaran
: 43,5%
 efisiensi
: 28,6%
Nilai kinerja dihitung dengan menjumlahkan hasil perkalian antara nilai
kinerja atas aspek implementasi dan nilai kinerja atas aspek manfaat dengan
masing-masing bobot berkenaan.
-
Nilai kinerja atas aspek implementasi diperoleh dengan menjumlahkan
seluruh perkalian antara nilai masing-masing indikator aspek implementasi
dengan masing-masing bobot berkenaan.
-
Nilai kinerja atas aspek manfaat diperoleh dari perkalian antara nilai capaian
hasil dengan bobot aspek berkenaan.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
19
-
Hasil penilaian kinerja dapat dikategorikan menjadi:
 Nilai kinerja >90 s.d. 100% dikategorikan sangat baik.
 Nilai kinerja >80% s.d. 90% dikategorikan baik.
 Nilai kinerja >60% s.d. 80% dikategorikan cukup/normal
 Nilai kinerja>50% s.d. 60% dikategorikan kurang.
 Nilai kinerja s.d. 50% dikategorikan sangat kurang.
4. Tahap Analisis
Tahapan analisis untuk evaluasi kinerja atas aspek implementasi dan aspek
manfaat meliputi:
a. analisis hubungan sebab akibat atas hasil pengukuran dan penilaian untuk setiap
indikator yang dievaluasi.
b. analisis mengenai keterbatasan yang dihadapi dalam menjalankan setiap proses
evaluasi kinerja.
c. analisis perubahan hasil pengukuran dan penilaian dibandingkan dengan hasil
evaluasi kinerja pada tahun-tahun sebelumnya.
d. identifikasi faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaan kegiatan,
pencapaian keluaran, dan hasil.
Tahapan analisis untuk evaluasi kinerja atas aspek konteks meliputi:
a. identifikasi dan analisis kesesuaian antara kebutuhan dan/atau permasalahan
yang terdapat dalam amsyarakat dengan hasil yang ditargetkan degan.
b. analisis kesesuaian antara keluaran yang ditargetkan dengan capaian hasil.
c. analisis kesesuaian antara kegiatan yang direncanakan dengan pencapaian
keluaran.
d. analisis kesesuaian dan ketepatan masukan untuk mendukung pelaksanaan
kegiatan dan pencapaian keluaran.
Berdasarkan hasil analisis, disusun rekomendasi.
F. PELAPORAN HASIL EVALUASI
Menteri/pimpinan lembaga menyampaikan laporan hasil evaluasi kinerja untuk
setiap program K/L yang dipimpinnya kepada Menteri Keuangan paling lambat 1 April.
Laporan tersebut memuat:
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
20
1. Hasil evaluasi kinerja atas aspek implementasi dan aspek manfaat atas RKA-KL
tahun sebelumnya,
2. hasil evaluasi kinerja atas aspek konteks atas RKA-KL tahun berjalan.
Ketentuan mengenai pengukuran pencapaian keluaran dan capaian hasil
dilaksanakan paling lambat 2 tahun sejak PMK 249/2011 diundangkan tanggal 28
Desember 2011. Jangka waktu 2 tahun merupakan masa transisi yang digunakan untuk
memperbaiki rumusan indikator kinerja keluaran dan indikator kinerja utama.
Selama masa transisi, pengukuran pencapaian keluaran pada evaluasi kinerja atas
aspek implementasi dilakukan berdasarkan rata-rata pencapaian setiap jenis keluaran
pada setiap satker yang diperoleh dengan membandingkan realisasi volume keluaran
dengan target volume keluaran. Selama masa transisi, bobot kinerja atas aspek
implementasi 100% dan aspek manfaat 0%.
PELAPORAN DAN EVALUASI KINERJA
21
Download