III. Pengaturan Ujaran Kebencian Indonesia memiliki aturan

advertisement
III. Pengaturan Ujaran Kebencian
Indonesia memiliki aturan hukum yang melarang ujaran kebencian dan menetapkan sanksi pidana
bagi pelakunya. Aturan tersebut memang belum ideal dan masih memerlukan revisi.
Namun demikian, lemahnya penindakan terhadap pelaku ujaran kebencian lebih disebabkan
lemahnya kehendak politik negara ketimbang ketiadaan aturan. Terbitnya Surat Edaran Kapolri
Nomor 6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian memberi sinyal positif menguatnya
kehendak politik negara untuk menindak pelaku ujaran kebencian.
Pengaturan ujaran kebencian dalam hukum Indonesia adalah sebagai berikut.
No.
Aturan
1. Pasal 156
KUHPidana
Bunyi Pasal
Catatan
“Barang siapa di muka umum
 Jika bukan satu-satunya, ini
menyatakan perasaan permusuhan,
pasal paling lengkap yang
kebencian atau penghinaan terhadap
bisa digunakan untuk
suatu atau beherapa golongan rakyat
menjerat pelaku ujaran
Indonesia, diancam dengan pidana
kebencian berdasarkan
penjara paling lama empat tahun atau
agama atau keyakinan.
pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah. Perkataan golongan
 Pasal ini belum ideal karena
dalam pasal ini dan pasal berikutnya
tidak memasukkan delik
berarti tiap-tiap bagian dari rakyat
diskriminasi dan kekerasan
Indonesia yang berbeda dengan suatu
sebagai unsur ujaran
atau beberapa bagian lainnya karena ras,
kebencian.
negeri asal, agama, tempat, asal
keturunan, kebangsaan atau kedudukan  Pasal ini memuat sanksi di
menurut hukum tata negara.”
bawah lima tahun, sehingga
tersangka tak wajib ditahan.
2. Pasal 20 ayat (2) “Segala tindakan yang menganjurkan
 Melengkapi Pasal 156
Undang-Undang
Nomor 12 Tahun
2005 tentang
Pengesahan
Kovenan
Internasional
tentang Hak-Hak
Sipil dan Politik
kebencian atas dasar kebangsaan, ras
atau agama yang merupakan hasutan
untuk melakukan diskriminasi,
permusuhan atau kekerasan harus
dilarang oleh hukum.”
KUHPidana dengan adanya
unsur diskriminasi dan
kekerasan.
 Tak bisa berdiri sendiri
karena tidak memuat sanksi
pidana, harus dipadukan
dengan pasal dalam
undang-undang lain.
3. Pasal 16 juncto
Pasal 1 angka 3
Undang-Undang
Nomor 40 Tahun
2008 tentang
Penghapusan
Diskriminasi
Ras dan Etnis
“Setiap orang yang dengan sengaja
 Terbatas pada diskriminasi
menunjukkan kebencian atau rasa benci
ras dan etnis.
kepada orang lain berdasarkan
diskriminasi ras dan etnis sebagaimana  Karena itu, pasal ini harus
dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1,
dipadukan dengan pasal 1
angka 2, atau angka 3, dipidana dengan
angka 3 yang menyatakan,
pidana penjara paling lama 5 (lima)
“Etnis adalah
tahun dan/atau denda paling banyak
penggolongan manusia
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
berdasarkan kepercayaan,
rupiah).”
nilai, kebiasaan, adat
istiadat, norma bahasa,
sejarah, geografis, dan
hubungan kekerabatan.”
4. Pasal 28 ayat (2)
juncto Pasal 45
ayat (2) UndangUndang Nomor
11 Tahun 2008
tentang
Informasi dan
Transaksi
Elektronik
Pasal 28 ayat (2)
 Memuat sanksi pidana di
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa
atas lima tahun, sehingga
hak menyebarkan informasi yang
tersangka bisa ditahan.
ditujukan untuk menimbulkan rasa
kebencian atau permusuhan individu
 Lebih tepat digunakan
dan/atau kelompok masyarakat tertentu
untuk menjerat penyebar
berdasarkan atas suku, agama, ras, dan
ujaran kebencian melalui
antargolongan (SARA).”
media cetak, elektronik, dan
media sosial. Si penyebar
Pasal 45 ayat (2)
harus memiliki tujuan yang
“Setiap orang yang memenuhi unsur
sama dengan pelaku ujaran
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
kebencian.
ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam)
tahun dan/atau denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).”
5. Pasal 59 ayat (2) “Ormas dilarang melakukan tindakan
huruf a Undang- permusuhan terhadap suku, agama, ras,
Undang Nomor atau golongan.”
17 Tahun 2013
tentang
Organisasi
Kemasyarakatan
 Objek pidana dalam aturan
ini adalah organisasi.
 Kata tindakan dalam pasal
ini tidak cukup jelas untuk
dipandang sebagai ujaran.
 Sanksi diatur sangat ketat
dalam Pasal 60-80, mulai
dari sanksi administratif
hingga pembubaran.
IV. Bentuk Ujaran Kebencian
Berdasarkan aturan yang dirumuskan pasal-pasal di atas, ada beberapa unsur kunci yang mesti
diperhatikan sebelum laporan tindak pidana ujaran kebencian disampaikan ke Kepolisian.
Pertama, ujaran kebencian harus disampaikan kepada publik, baik secara langsung, seperti ceramah
atau orasi di hadapan banyak orang, maupun tak langsung seperti spanduk/poster/pamflet, jejaring
media sosial, serta media cetak dan elektronik.
Kedua, ujaran kebencian harus berisi hasutan dan provokasi yang bertujuan menyulut kebencian,
diskriminasi, dan kekerasan. Kebencian adalah emosi ketidaksukaan irasional yang intens.
Diskriminasi adalah pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau preferensi yang bertujuan
meniadakan atau mengurangi pengakuan atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan warga
negara di bidang sosial-politik, ekonomi, budaya, atau kehidupan publik sebagai dijamin dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya.
Ketiga, ujaran kebencian harus ditujukan kepada satu kelompok warga negara tertentu (bukan orang
per orang), baik berdasarkan ras, etnis, agama, aliran keagamaan maupun kepercayaan.
Berdasarkan tiga unsur kunci di atas, maka bentuk-bentuk ujaran berikut, yang kerap ditujukan
kepada warga Muslim Syiah, bisa dikategorikan termasuk ke dalam ujaran kebencian.
1. Bunuh orang Syiah di mana pun berada!
2. Syiah sesat, usir dari Indonesia!
3. Syiah kafir, halal darahnya!
4. Orang Syiah seperti kanker harus diamputasi
5. Bakar tempat-tempat orang Syiah!
6. Syiah mau makar kepada NKRI. Jangan biarkan mereka hidup!
Namun demikian, terdapat beberapa contoh ujaran yang tidak termasuk ke dalam ujaran kebencian
atau setidak-tidaknya belum memenuhi ketiga unsur kunci di atas. Contoh ujaran berikut lebih
memenuhi delik penyebaran berita bohong, fitnah, dan pencemaran nama baik.
1. Syiah itu bukan Islam
2. Syiah punya al-Quran lain
3. Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib
4. Syiah anti-NKRI dan akan melakukan kudeta.
VII. Mempersiapkan Bukti-Bukti
Bukti yang bisa dikumpulkan dapat berupa:
1. bukti fisik, seperti spanduk, poster, dan pamflet (catatan: pemerolehan bukti fisik tertentu
harus dikoordinasikan dengan kepolisian).
2. bukti dokumentasi, seperti foto, rekaman video, rekaman audio, potongan koran, dan
capture media sosial (Twitter, Facebook, dan lain-lain).
Setelah dikumpulkan, bukti sebaiknya diarsipkan dengan cara sebagai berikut:
1. memasukkan bukti ke dalam amplop
2. memberi keterangan pada amplop dengan deskripsi: jenisnya (foto, video, atau audio), nama
pelaku, lokasi peristiwa, konteks peristiwa, dan tanggal pemerolehan.
3. menuliskan secara singkat substansi dari bukti tersebut
VIII. Melaporkan Ujaran Kebencian
1. menyusun kronologi peristiwa ujaran kebencian serta pasal-pasal yang digunakan
2. pelapor bisa individu atau gabungan individu warga negara Indonesia dan atau organisasi,
seperti yayasan dan ormas
3. melapor ke kantor kepolisian yang terdekat dengan lokasi peristiwa ujaran kebencian
tersebut terjadi, bisa kepolisian sektor untuk kecamatan, kepolisian resor untuk
kabupaten/kota, kepolisian daerah untuk provinsi, atau Markas Besar Kepolisian Republik
Indonesia untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. lebih disarankan melapor minimal ke kepolisian daerah mengingat kasus ujaran kebencian
sensitif dan melibatkan tokoh berpengaruh
5. gunakan akses jika memiliki jaringan di kepolisian
6. setelah menyerahkan laporan, jangan lupa meminta surat tanda penerimaan pelaporan
kepada polisi. Sesuai undang-undang polisi wajib memberikan surat tanda penerimaan
pelaporan
7. pelaporan tindak pidana tidak dipungut biaya
IX. Menyusun Surat Pelaporan
Dalam menyusun surat pelaporan, kita harus mencantumkan setidaknya tiga informasi penting,
yaitu: (1) identitas pelapor; (2) identitas terlapor, dalam hal ini pelaku ujaran kebencian; dan (3)
deskripsi singkat peristiwa (tindak ujaran kebencian)
Contoh Surat Pelaporan
Kepada Yang Terhormat
Bapak Kapolda Metro Jaya
Perihal
Lamporan
: Laporan Penipuan (bisa diganti, sesuaikan dengan perkara Anda)
: 1 (satu) berkas
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama
: MUHAMMAD RIDWAN
Jenis kelamin : Laki-laki
No. KTP
: 002221xxxxxxxxxx
Alamat
: Jalan Minangkabau No. 313, Jakarta Selatan
No. Telp
: 0811xxxxxx
Dengan ini melaporkan seseorang yang namanya saya sebutkan di bawah ini:
Nama
Jenis kelamin
Alamat
No. Telp
: ABU GOSOK
: Laki-laki
: Jalan Rawajati No. 88, Jakarta Selatan
: 0855xxxxxx
Saudara ABU GOSOK telah melakukan tindak ujaran kebencian yang diancam pidana sesuai Pasal
156 KUHPidana juncto Pasal 20 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan
Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. Adapun ujaran kebencian itu berupa
pernyataan, “Bunuh orang Syiah di mana pun!” Ujaran kebencian itu disampaikan Saudara ABU
GOSOK ketika berceramah dalam acara deklarasi ormas pada tanggal 25 November 2015.
Sebagai bahan bukti, berikut saya lampirkan rekaman video ceramah yang bersangkutan.
Demikian laporan ini saya buat. Saya berharap Bapak Kapolda Metro Jaya bersedia untuk
membantu menyelesaikan perkara ujaran kebencian ini. Atas perhatiannya saya mengucapkan
terima kasih.
Surabaya, 16 Desember 2015
Hormat saya,
MUHAMMAD RIDWAN
Pelapor
X. Model Penyelesaian Ujaran Kebencian
XI. Strategi Menghadapi Mediasi Ujaran Kebencian
Download