Korelasi antara Keterampilan Mengajar Guru dan Gaya Belajar

advertisement
Korelasi antara Keterampilan Mengajar Guru dan Gaya Belajar
Visual dengan Kecerdasan Emosional Siswa pada Pelajaran Fiqih Kelas
VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang Tahun
Pelajaran 2014/2015
Rofiqotun Ni’mah
Abstrak
Penelitian
bersifat
kuantitatif
tujuan
penelitian
ini
adalah
untuk
mengetahhui apakah terdapat hubungan antara keterampilan mengajar guru dan
gaya belajar visual dengan kecerdasan emosional siswa pada pelajaran fiqih
kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulo. Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian kuantitatif dengan uji analisis statistik korelasi ganda (multiple
correclation). Pengambilan sampel penelitian dalam penelitian ini yaitu varibel 2
independen yaitu keterampilan mengajar guru dan gaya belajar visual 1 variabel
dependen, yaitu kecerdasan emosional siswa di madrasah.
Dari data penelitian dapat diketahui bahwa keterampilan mengajar guru
tergolong lemah, yaitu sebesar 8,4% dan gaya belajar visual tergolong sedang,
yaitu 20,1%. Sedangkan kecerdasan emosional tergolong
sangat lemah 0,124.
Dan dari analisis data dengan mengunakan korelasi ganda didapat hasil angket
sebesar 0,172 dimana taraf signifikannya adalah 5% jumlah subyek 25 siswa
diketahu f
tabel
3, 44 sehingga rx1,x2,y < f
tabel
dapat disimpulkan bahwa secara
simultan tidak terdapat korelasi (hubungan) yang signifikan antara keterampilan
mengajar guru dan gaya belajar visual dengan kecerdasan emosional.
Kata Kunci : Keterampilan Mengajar Guru, Gaya Belajar Visual, Kecerdasan
Emosional, Fiqih.
1
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks
pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah
yang berada dibarisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang langsung
berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi
sekaligus mendidik dengan nilai- nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan
Kemampuan mengajar guru merupakan cerminan penguasaan guru atas
kompetensinya. Dengan memiliki keterampilan mengajar, guru dapat mengelola
proses pembelajaran dengan baik yang berimplikasi pada pelajaran Fiqih pada
peningkatan kualitas pembelajaran.1
Kecerdasan emosional bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek “nonintelektual” yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek-aspek
emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian
kesuksesan seseorang.2
Kecerdasan emosional adalah kemampun merasakan, memahami orang lain dan
secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan
informasi dalam berinteraksi dengan orang lain.3 Kunci dari kecerdasan emosi adalah
kejujuran pada suara hati. Ini yang seharusnya dijadikan sebagai pusat prinsip yang
akan memberikan rasa aman, pedoman, daya dan kebijaksanaan.
Pendapat De Porter, Bobby (2001). Beberapa teknik peningkatan diri yang
sudah populer digunakan dan direvisi, menambah serta merangkai dengan berbagai
potensi yang lain, teknik itu menjadi mudah dan dapat mengembangkan
Bobby
sering
mengulangi
materi,
potensi diri.
sering menegaskannya kembali dengan cara
1
Abd. Wahab, Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual (Jogjakarta: Ar-ruzz Media,
2011), 129
2
Ratna Yudhawati, Dany Haryanto, Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Prestasi
Pustakarya, 2011), 103.
3
Khanifatul, Pembelajaran Inovatif (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2013), 52
2
yang berbeda, gaya yang berbeda dalam bentuk grafik. Bobby menggunakan teknik ini
dan teknik lainnya karena semua selaras dengan kerja otak anak.4
Maka keterampilan mengajar sangat mempengaruhi terhadap proses belajar pada
gaya
belajar
anak-anak
yang
tidak
lepas
dari
kecerdasan emosional siswa
sehingga anak-anak dalam melaksanakan pembelajaran tidak bosan anak-anak akan
tertarik dan merasa seperti bermain karena keterampilan guru dalam mengajar. Dengan
memiliki keterampilan mengajar, guru dapat mengelola proses pembelajaran dengan
baik yang berimplikasi pada peningkatan kualitas lulusan sekolah.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana keterampilan mengajar guru dalam menjelaskan mata pelajaran Fiqih
siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon pada tahun pelajaran
2014/2015?
2. Bagaimana gaya belajar visual siswa mata pelajaran Fiqih siswa kelas VA MI
Miftahul Ulum Jarak Kulon pada tahun pelajaran 2014/2015?
3. Bagaimana kecerdasan emosional siswa mata pelajaran Fiqih siswa kelas VA
MI Miftahul Ulum Jarak Kulon pada tahun pelajaran 2014/2015?
4. Bagaimana hubungan keterampilan mengajar guru dan gaya belajar visual
dengan kecerdasan emosional siswa mata pelajaran Fiqih siswa kelas VA MI
Miftahul Ulum Jarak Kulon pada tahun pelajaran 2014/2015?
Kerangka Konseptual
X1: Keterampilan Mengajar Guru
Menganalisis masalah secara menyeluruh, Menghubungkan antara unsur yang
satu dengan materi lain, Menggunakan dalil, tujuan dan manfaat , Kesiapan siswa,
Kejelasan bahasa , Penggunaan contoh, Memberikan kesimpulan dan Memberikan
evaluasi
4
Yatim Riyanto, Para Digma Baru Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009),
180.
3
X2 : Sarana Belajar
Gedung sekolah, perpustakaan , Musholla, Ruang belajar dan Alat-alat tulis
X2 : Gaya belajara visual
Menggunakan gambar, Menggunakan simbul, Menyampaikan pokok permasalahan,
Pengelompokan materi, Menggunakan spidol warna dan Belajar di luar
Y: Kecerdasan Emosional
Meperhatikan materi tanpa paksaan, Meperhatikan dengan sungguh- sungguh,
Meperhatikan dengan senang hati, Memahami materi yang dijelaskan dan Dapat
menerapkan
A Keterampilan Mengajar Guru
1. Pengertian Keterampilan Mengajar Guru
Guru yang profesional harus mampu mewujudkan atau paling tidak mendekati
praktik pembelajaran yang ideal. Sehingga dengan demikian guru dituntut untuk selalu
menambah kualitas ilmunya, selain itu juga seorang guru harus dapat melakukan variasi
dalam melakukan kegiatan belajar agar dapat menarik perhatian siswa sehingga siswa
mau belajar. Guru
harus
dapat
menciptakan
suasana
belajar
yang
sangat
menyenangkan agar siswa tidak merasa jenuh dalam belajar
2. Pengertian Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan menurut Saidiman (1994) menjelaska berarti
menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan
menunjukkan hubungan. Penekanan memberikan penjelasan adalah proses penalaran
siswa, dan bukan indoktrinasi. Itulah sebabnya beberapa prinsip yang harus diperhatikan
adalah (a) Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pertemuan,
tergantung keperluan, (b) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pelajaran, (c)
Penjelasan dapat diberikan apa bila ada pertanyaan dari siswa atau direncanakan oleh
guru, (d) Materi penjelasan harus bermakna bagi siswa, dan (e) Penjelasan harus
sesuai dengan latar belakang dan kemampuan siswa.5
1) Tujuan pemberian penjelasan dalam pembelajaran adalah;
5
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran (Jakarta:PT. Bumi Aksara,
2008), 173
4
a) Membimbing siswa untuk dapat memahami konsep, hukum, dalil, fakta, dan
prinsip secara objektif dan bernalar.
b) Melibatkan siswa untuk berpikir dengan memecahkan masalahmasalah atau
pertanyaan.
c) Mendapat balikan dari siswa mengenai tingkat pemahamannya dengan untuk
mengatasi kesalah pahaman siswa.
d) Mebimbing siswa untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan
menggunakan bukti-bukti dalam memecahkan masalah.6
2) Komponen Keterampilan Menjelaskan
3) Dalam garis besarnya komponen keterampilan menjelaskan:
a) Merencanakan penjelasan
Penjelasan yang diberikan oleh guru perlu direncanakan dengan baik, terutama
yang berkenaan dengan isi pesan dan penerima pesan
b) Isi pesan
i) Analisis
masalah
secara
keseluruhan
dalam
hal
ini
termasuk
mengidentifikasikan unsur-unsur apa yang akan dihubungkan dalam
penjelasan tersebut
ii) Penemuan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan
tersebut
iii) Penggunaan hukum atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah
ditentukanPenggunaan hukum atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan
yang telah ditentukan
c) Penerima pesan
Merencanakan suatu penjelasan harus mepertimbangkan penerima pesan.
Penjelasan yang disampaikan tersebut sangat bergantung pada kesiapan anak yang
mendengarkannya. Hal ini berkaitan erat dengan jenis kelamin, usia, kemampuan,
latar belakang, sosial, dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, dalam
6
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada, 2013), 87
5
merencanakan suatu penjelasan harus selalu mempertimbangkan factor-faktor
tersebut di atas.7
4) Menyajikan penjelasan
Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam menyajikan penjelasan
antara lain:
a) Kejelasan: Kejelasan tujuan, bahasa, dan proses merupakan kunci dalam
memberikan penjelasan
b) Penggunaan contoh dan ilustrasi. Contoh dan ilustrasi akan mempermudah siswa
yang sulit dalam menerima konsep yang abstrak. Biasanya pola umum untuk
menghubungkan contoh dengan dalil adalah pola induktif dan pola deduktif
c) Memberikan penekanan. Penekanan dapat dikerjakan dengan cara mengadakan
variasi dalam gaya mengajar (variasi suara, mimik) dan membuat struktur sajian,
yaitu memberikan informasi yang menunjukkan arah tujuan utama sajian (dapat
dikerjakan dengan memberikan ihktisar, pengulangan, atau memberi tanda).8
d) Penggunaan balikan
e) Guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
pemahaman, keraguan, atau ketidak mengertiannya ketika penjelasan itu
diberikan. Berdasarkan balikan itu guru perlu melakukan penyesuaian dalam
penyajiannya,
misalnya
kecepatannya,
memberi
contoh
tambahan
atau
mengulangi kembali hal-hal yang penting. Balikan tentang sikap siswa dapat
dijaring bersamaan dengan pertanyaan yang bertujuan menjaring balikan tentang
pemahaman mereka.
5) Prinsip-prinsip keterampilan menjelaskan, yaitu:
a) Penjelasan dapat diberikan pada awal, di tengah, atau pun diakhir jam pertemuan
(pelajaran), tergantung pada keperluannya. Penjelasan itu dapat juga diselingi
dengan tujuan pembelajaran
b) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran
c) Guru dapat memberikan penjelasan apabila ada pertanyaan dari siswa ataupun
yang direncanakan oleh guru sebelumnya
7
8
Udin Syaefudin Sa‟ud, Pengembangan Profesi Guru (Bandung: Alfabeta, 2012), 60
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, 174
6
d) Materi penjelasan harus bermakna bagi siswa
e) Penjelasan harus sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa.9
6) Keterampilan-keterampilan yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan
a) Keterampilan ini berkaitan dengan pelaksanaan bagian utama suatu jam pelajaran.
Dan yang dimaksud bagian utama adalah penjelasan bahan pelajaran baru, yang
disajikan dalam bagian-bagian. Maka dari itu ada baiknya dalam mengajar
meperhatikan hal-hal sebagai berikut:
i) Membagi bahan pengajararan menjadi beberapa pokok masalah.
ii) Setelah satu pokok masalah selesai dibahas, hendaknya diadakan evaluasi
singkat untuk mengetahui apakah bahan yang dijelaskan telah dimengerti oleh
murid
iii) Mencatat secara teratur sampai dimana suatu pembahasan telah berlangsung
iv) Membedakan secara jelas antara hal pokok dengan hal tambahan
v) Memberi tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pihak
murid. Sebaiknya pengajar mendalami juga makna pertanyaan dari murid itu
b) Keterampilan yang berkaitan dengan cara menyusun bagian inti pelajaran secara
teratur.
Pengajaran dapat melakukan lima langkah berikut ini untuk memperjelas struktur
suatu pokok masalah:
i) Merumuskan pokok masalah yang dimaksud dan memaparkannya secara
singkat
ii) Menulis kata inti atau kata kunci di papan tulis. Untuk setiap pokok masalah
dari suatu pengajaran dapat dirumuskan dan dapat dituliskan kata intinya pada
papan tulis
iii) Menguraikan pokok masalah secara lebih lanjut dengan penjelasan dan
contoh-contoh.
iv) Sebelum menutup uraian suatu pokok masalah, pengajar harus yakin bahwa
murid betul-betul telah mengerti hal yang diuraikan itu
c) Keterampilan ini menyangkut masalah penggunaan alat peraga atau sarana
lainnya, yang dapat menunjukkan hal-hal yang tidak tampak. Alat peraga atau
9
Udin Syaefudin Sa;ud, Pengembangan Profesi Guru, 61.
7
sarana yang mudah diperoleh: papan tulis, lembaran berisi ikhtisar atau bagan
bahan pelajaran dan slide atau sheet yang diisi dengan tulisan atau gambar.10
B Gaya Belajar
(1) Pengertian Gaya Belajar
“Cara dimana anak-anak menerima informasi baru dan proses yang akan mereka gunakan
untuk belajar”.11
(2) Macam-Macam Gaya belajar
Tipe gaya belajar yang bisa kita cermati yaitu:
(a) kecerdasan Visual (Spasial): kecerdasan yang cenderung berpikir dalam
atau cenderung mudah belajar melalui visual atau gambar
(b) kecerdasan Musikal (Auditory Learners): kecerdasan yang mengandalkan
pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya.
(c) kecerdasan Kinestetik: kecerdasan dengan memanfaatkan kelebihan berupa
tenaga / pergerakan
(d) kecerdasan Logis-Matematis: kecerdasan yang berhubungan dengan
kemampuan ilmiah, yakni jenis kecerdasan yang sering dicirikan sebagai
pemikiran kritis dan digunakan sebagai bagian metode ilmiah.
(e) kecerdasan Linguistik: kecerdasan yang mewujudkan dirinya dalam katakata, baik tulisan maupun lisan
(f) kecerdasan Interpersonal: kecerdasan yang ditampakkan pada kegembiraan
dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas social dan ketidak
nyamanan dalam kesendirian.
(g) kecerdasan Intrapersonal: kecerdasan yang tercermin dalam kesadaran
mendalam akan perasaan batin.
(h) kecerdasan Natural (Lingkungan): kecerdasan mengembangkan akan
pengetahuan alam.
10
11
Ad. Rooijakkers, Mengajar Dengan Sukses (Jakarta: PT. Grasindo,1991), 46
Andri Priyatna, Pahami Gaya Belajar Anak (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2013), 3
8
(i) kecerdasan Eksistensial.: kecerdasan menyangkut kemampuan seseorang
untuk menjawab persoalan-persoalan terhadap eksistensi atau keberadaan
manusia.12
(3) Gaya Belajar Visual (Spasial):
“gaya belajar dengan memanfaatkan indra penglihatan, yaitu mata”. Anak yang
mempunyai gaya belajar visual lebih suka membaca dibanding dengan
mendengarkan penjelasan guru. Anak akan lebih aktif bila guru memberikan
penjelasan melalui peraga rangkaian gambar, VCD, layar, dan semua yang
berkaitan dengan mata.13
(4) Karakteristik Kecerdasan Visual (Spasial):
(a) Berpikir dengan gambar. (b) Menggunakan metafora (c) Memiliki
indra konfiguratif (d) Mengingat berdasarkan gambar (e) Memiliki indra
warna yang hebat (f) Menghasilkan citra mental (g) Mudah membaca peta,
grafik, diagram (h) Menggunakan semua indranya untuk membayangkan
(5) Pendekatan Kecerdasan Visual (Spasial) dalam Belajar
(a) Gunakan gambar dalam belajar (b) Buat coretan, simbul (c) Gunakan
pemetaan pikiran (d) Lakukan visualisasi. (e) Buat pengelompokan (f)
Tandai dengan warna. (g) Gunakan grafik computer (h) Berpindah ruang
untuk mendapatkan perspektif yang beda (i) Gunakan organisator tingkat
lanjut atau grafik penetapan sasaran.
(6) Pentingnya Kecerdasan Visual (Spasial)
Memiliki kecerdasan Visual (Spasial) yang kuat mutlak penting untuk
menjadi individu yang mudah menyesuaikan diri dan berhasil. Berikut ini
beberapa alasan untuk mengembagkan kecerdasan visual (spasial) anak:
(a) Meningkatkan kreativitas.
Ketika kita membayangkan dan menggunakan imajinasi kita, kita
bukan hanya melihat hal-hal yang dilihat orang lain, melainkan juga
12
Muhammad Alwi, Tak Hanya Sukses Tetapi Juga Bahagia (Jakarta Selatan: PT. Mizan Publik,
2014), 128
13
Najib Sulhan, Karakter Guru Masa Depan, 138.
9
dapat maju satu langkah dan bermain dengan gambar-gambar ini,
dengan membuat kaitan antara hal-hal yang tidak terpikirkan oleh
orang lain. Sebagai akibatnya, sesuatu yang baru diciptakan dari
gabungan antara hal-hal yang ada yang berasal dari berbagai sumber
inilah kreativitas
(b) Meningkatkan daya ingat
Ahli ingatan sering mengutip bahwa untuk dapat mengingat segala
sesuatu dengan baik, anda harus menggunakan prinsip tertentu
mengenai ingatan. Prinsip yang paling penting adalah visualisasi,
imajinasi, berpikir dalam gambar dan membuat asosiasi antara
gambar-gambar ini. Secara alami anak-anak membuat gambar apa
yang mereka pelajari dan oleh karena itu, mereka belajar dengan
begitu mudah.
(c) Mengembangkan pikiran tingkat tinggi dan keterampilan memecahkan
masalah
Berpikir dengan gambar bukan hanya merangsang kreativitas,
melainkan
juga
memperkaya
proses
berpikir
tingkat
tinggi.
Mengajarkan anak untuk melatih kecerdasan visual spasialnya dan
berpikir secara visual, akan semakin mudah baginya untuk
mengembangkan pemikiran tingkat tingginya dan keterampilannya
memecahkan masalah
(d) Mencapai puncak kinerja
Atlet olimpiade dan olah ragawan sering menggunakan teknik yang
disebut visualisasi atau latihan mental untuk tampil pada kondisi
puncak mereka. Dengan kata lain, sebelum mereka berangkat
mengikuti turnamen olahraga, mereka akan membayangkan berkalikali dalam pikiran mereka mengenai diri mereka berhasil melakukan
rutinitas mereka. Sebagai akibatnya, mereka dapat tampil sebaik
mungkin ketika mereka benar-benar melakukannya
(e) Membantu anak mengungkapkan perasaan dan emosi
10
(f) Menggambar, melukis, memahat, dan aktivitas seni lainnya dapat
merupakan suatu saluran yang sehat untuk mengungkapkan perasaan
dan emosi anak. Tentu saja ada cara lain untuk mengungkapkan
dirinya seperti menulis.14
C Kecerdasan Emosional
1
Pengertian Kecerdasan Emosional
Emosi dirumuskan sebagai keadaan bergolak, gejolak atau
guncangan didalam organisme. Emosi dapat berupa kebencian dan terror yang
berakhir pada perkelahian. Akan tetapi, emosi juga dapat berupa kasih sayang
dan perhatian, cinta dan ambisi.
Emosi dapat pula dirumuskan sebagai keadaan perasaan atau
pengalaman efektif yang mengiringi suasana bergejolak dalam organisme.
Implikasinya adalah bahwa para siswa harus ditolong untuk dapat mengontrol
emosinya agar berkembang ke arah hal-hal yang positif dan kontruktif.15
Jadi
kecerdasan
emosional
adalah
“kemampuan
merasakan,
memahami orang lain, dan secara efektf menerapkan daya dan kepekaan emosi
sebagai sumber energi dan informasi dalam berinteraksi dengan orang lain”16
Dalam hubungannya dengan masalah emosi ini, guru hendaknya
melihatkan dirinya dalam mempelajari keadaan rumah dan masyarakat sekitar
tempat tinggal anak-anak. Apabila anak diliputi perasaan khawatir karena
masalah-masalah dalam keluarga, hal ini akan menghambat kegiatan
belajarnya. Ia secara mental akan tampak lambat dan kurang dorongan untuk
mengerjakan tugas-tugas yang sebenarnya ia mampu untuk melakukannya.
2
Adapun Ciri-Ciri Kecerdasan Emosi, yaitu:
(a) Kesadaran diri (self-awareness): mengetahui apa yang kita
rasakan pada suatu saat. (b) Pengaturan diri (self-regulation): menangani emosi
diri sedemikian rupa sehingga berdampak positif pada pelaksanaan tugas. (c)
Motivasi (motivation): menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk
14
May Lwin dkk, Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan (Yogyakarta: PT.
Indeks, 2008), 82
15
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), 95.
16
Khanifatul, Pembelajaran Inovatif , 93.
11
menggerakkan dan menuntun menuju sasaran (d) Empati (empathy):
merasakan apa yang dirasakan orang lain (e) Keterampilan sosial (social skill):
menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan
dengan cermat membaca situasi dan jaringan social.17
3
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional, yaitu:
a. Kondisi fisik
Apabila keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan,
kesehatan yang buruk, atau perubahan yang berasal dari perkembangan,
seseoarang akan mengalami emosionalitas yang meninggi
i. Kesehatan yang buruk disebabkan oleh gizi yang buruk, gangguan
pencernaan, atau penyakit.
ii. Setiap gangguan yang kronis, seperti asma atau penyakit kencing manis
iii. Perubahan
kelenjar
terutama
pada
saat
puber.
Gangguan
kelenjarmungkin juga disebabkan oleh stres yang kronis, misal
kecemasan.
b. Kondisi psikologis
Pengaruh psikologis yang penting antara lain tingkat kecerdasan, tingkat
aspirasi, dan kecemasan.
i. Kegagalan mencapai tingkat aspirasi, kegagalan yang berulangulang
dapat mengakibatkan timbulnya kecemasan atau ketidakberdayaan.
ii. Kecemasan setelah mengalami emosional tertentu yang sangat kuat,
misalnya akibat lanjutan dari pengalaman menakutkan yang akan
membuat anak takut kepada setiap situasi yang dirasakan mengancam
dan
bila
ketakutan
itu
berlanjut
tanpa
ditanggulangi
akan
mengakibatkan trauma.
c. Kondisi lingkungan
Ketegangan yang terus-menerus, jadwal yang ketat, dan terlalu banyak
pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan:
17
Baharuddin, Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-ruzz Media,
2010), 161.
12
i. Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan yang
terus-menerus.
ii. Sikap orang tua yang over-protective
iii. Suasana otoriter di sekolah di mana guru terlalu menuntut atau tugas
sekolah yang kurang sesuai dengan kemampuan anak sehingga anakanak marah dan inginnya pulang ke rumah dalam keadaan kesal.18
d. Fiqih
i. Qurban
Sejarah pelaksanaan qurban oleh manusia setua peradaban
manusia itu sendiri. Sejak Nabi Adam diturunkan Allah kedunia
memperoleh keturunan setelah sekian lama diturunkan Allah kemuka
bumi, qurban sebagai sebuah ritual mulai dilakukan. Setelah itu,
hampir semua generasi manusia dari zaman ke zaman melakukan
qurban dengan berbagai latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda
sebagai bentuk penghambaan diri kepada Tuhan.
Dalam agama Islam, ibadah qurban menjadi salah satu ritual
penting yang telah disyariatkan Allah dan rasul-Nya. Dari berbagai
dalil dalam Al-Qur‟an maupun hadis, kita dapat mengetahui asal mula
persyariatan ibadah qurban. Adapun sejarah seputar ibadah qurban
akan terpapar sebagai berikut.
ii. Pengertian qurban
Kita sering mendengar istilah Qurban, apabila pada saat
Hari Raya Idul Adha. Menurut bahasa Arab, kata qurban berarti
mendekatkan diri kepada sesuatu, yaitu Allah yang telah melimpahkan
segala karunia untuk setiap hamba-Nya19
iii. Hukum melaksanakan qurban.
Hukum melaksanakan qurban menurut kebanyakan ulama
adalah sunah muakkad atau sunah yang diutamakan. Hal ini
berdasarkan beberapa hadis Nabi saw, diantara lain sebagai berikut:
18
Indra Soefandi, Strategi Mengembangkan Potensi Kecerdasan Anak (Jakarta: Bee Media
Indonesia, 2009), 48.
19
Ahmad Taswin, Kurban dan Akikah (Yogyakarta: PT. Pustaka Insan Madani , 2007), 34.
13
Artinya: Aku diperintahkan untuk menyembelih qurban dan qurban
itu sunah bagimu. (H.R. Tirmizi)
Sementara itu, Abu Hurairah mengemukakan tentang sabda
Rasulullah saw di bawah ini:
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. Bersabda, “Siapa saja
yang mempunyai kemampuan tetapi tidak berqurban, maka janganlah
ia mendekati tempat shalatku”. (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
Berdasarkan hadis tersebut, melaksanakan ibadah qurban
adalah sunah. Artinya, hanya orang yang memiliki kemampuan saja
yang diperintahkan Rasul untuk berqurban. Namun demikian, qurban
bisa menjadi wajib apabila seseorang bernazar untuk bequrban,
walaupun ia miskin. Bagaimanapun, melaksanakan sebuah nazar
adalah kewajiban yang harus dipenuhi
iv. Waktu pelaksanaan qurban
Seperti ibadah-ibadah lain, Islam menentukan batas waktu
pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Apabila pemberian zakat
fitrah dilakukan sebelum shalat Id, maka penyembelihan hewan
qurban dilakukan setelah shalat Id dilaksanakan hingga tiga hari
sesudahnya. Artinya, batas waktu penyembelihan hewan qurban
adalah 4 hari, pada tanggal 10 (setelah shalat Idul Adha), 11, 12, dan
13 Zulhijjah.20
Penentuan waktu penyembelihan hewan qurban tersebut berdasarkan
hadis Nabi:
Artinya: Dari Al-Aswad dia mendengar Jundab al-Bajali, dia berkata:
“Aku menyaksikan Rasulullah Saw. Shalat Idul Adha, kemudian
berkhutbah, lalu bersabda: „Barang siapa yang menyembelih (qurban)
sebelum shalat, maka hendaknya dia menyembelih hewan lain sebagai
pengganti, dan barang siapa belum menyembelih, maka sembelilah
dengan nama Allah”. (HR Bukhari Muslim).21
20
21
Ahmad Taswin, Kurban dan Akikah, 38.
Mardani, Hadis Ahkam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012), 218.
14
Selanjutnya, penyembelihan hewan qurban dianjurkan
dilakukan pada siang hari. Jika penyembelihan tersebut dilakukan
pada malam hari, maka akan merepotkan, baik dalam proses
penyembelihan maupun pembagian daging qurban.
v. Syarat orang yang berqurban
Orang yang hendak melaksanakan ibadah qurban harus
memenuhi beberapa persyaratan yang meliputi:
1. Muslim. Syarat utama orang yang berqurban haruslah orang Islam
2. Merdeka. Orang yang berqurban tidak boleh seorang budak atau
hamba sahaya.
3. Akil balig. Seorang anak yang belum akil balig berqurban, maka
ibadah qurbannya dianggap sebagai sadaqah saja.
4. Mampu.
Orang
yang
hendak
berqurban
harus
mampu
menyediakan binatang qurban tanpa berutang dengan oarang
lain.22
vi. Macam-macam hewan qurban
Macam-macam hewan yang dijadikan qurban adalah:
(1) Unta yang telah berusia 5 tahun. (2) Sapi yang telah
berusia 5 tahun. (3) Kambing yang telah berusia 2 tahun. (4) Biribiri (domba) yang telah berusia 1 tahun.
Hewan yang tidak dipelihara atau liar, seperti kerbau liar,
kijang, dan bagal (peranakan kuda dan keledai) juga tidak boleh
dijadikan hewan qurban. Hewan-hewan tersebut tidak termasuk
hewan ternak atau yang diistilakan dalam Al-Qur‟an sebagai
an’am yang berarti hewan yang dapat diternakkan.23
vii. Syarat-syarat hewan qurban
Syarat-syarat hewan qurban adalah:
(1) Tidak cacat, yakni tidak buta baik salah satu atau
kedua matanya, kakinya tidak pincang, ekornya tidak putus dan
22
23
Ahmad Taswin, Kurban dan Akikah, 36.
Ahmad Taswin, Kurban dan Akikah, 39.
15
lain sebagainya. (2) Tidak kurus, yakni hewan tersebut harus sehat
dan gemuk. (3) Tidak berpenyakit, yakni hewan tersebut harus
sehat dan tidak sakit seperti kudisan, dan lain sebagainya.24
Hasil Analisis Data
Sampel yang digunakan adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Jadi
yang menjadi sampel adalah siswa kels VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto
Jombang. Apabila subyeknya kurang dari 100, maka diambil semua, sedangkan jika
jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%. 25 Populasi dalam
penelitian adalah seluruh siswa kelas VA MI Miftahul ulum yang berjumlah 25 siswa.
Karena populasi dalam penelitian ini berjumlah kurang dari 100, maka seluruh populasi
dijadikan sampel.
1
Data Keterampilan dan Gaya Belajar Visual Mengajar Guru
Data tentang Keterampilan Mengajar Guru dan Gaya Belajar Visual MI
Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang, peneliti menyebarkan angket ke
responden yaitu 25 siswa kelas VA. Untuk memperjelas data yang diperoleh,
peneliti menganalisis data berdasarkan nilai dengan ketentuan tiap-tiap
pertanyaan. tersebut ada empat alternatif jawaban dan tiap-tiap jawaban diberi
skor sebagai berikut: (a) Pilihan jawaban a dengan skor 4. (b) Pilihan jawaban b
dengan skor 3. (c) Pilihan jawaban c dengan skor 2. (d) Pilihan jawaban d dengan
skor 1.
2
Kecerdasan Emosional Siswa Kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto
Jombang.
Untuk mendapatkan data tentang kecerdasan emosional siswa di MI
Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang, peneliti mengambil data dari
penyebaran angket yang disebarkan ke seluruh siswa kelas VA yang berjumlah 25
siswa pada tanggal 30 April 2015. Adapun perolehan nilai tentang kecerdasan
emosional siswa di MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang dari
24
25
Fatkhur Rahman, Pintar Ibadah , 193.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi VI), 134.
16
penyebaran angket. Selanjutnya data dari hasil penelitian yang sudah terkumpul
dilakukan analisis secara kuantitatif dan diambil kesimpulan-kesimpulan
3
Skor Variabel Keterampilan Mengajar Guru dan Gaya Belajar Visual dengan
kecerdasan emosional.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban secara menyeluruh anak sebanyak 20% menyatakan sering sekali, 12%
menyatakan sering, 60% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah menjelaskan materi qurban secara menyeluruh 8%. Jadi sebagian besar
guru fiqih pernah menjelaskan materi qurban secara menyeluruh pada siswa kelas
VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menghubungkan yang satu dengan materi yang lain sebanyak 20%
menyatakan sering sekali, 20% menyatakan sering, 40% menjawab pernah
sedangkan yang menjawab tidak pernah menjelaskan materi qurban secara
menyeluruh 20%. Jadi sebagian besar guru fiqih pernah menghubungkan yang
satu dengan materi yang lain pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menggunaan dalil atau aqli yang sesuai sebanyak 40% menyatakan sering
sekali, 32% menyatakan sering, 28% menjawab pernah sedangkan yang
menjawab tidak pernah tentang guru dalam menjelaskan materi qurban
menggunaan dalil atau aqli yang sesuai tidak ada (0%). Jadi sebagian besar guru
fiqih sering sekali menggunakan dalil dalam materi qurban pada siswa kelas VA
MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menyampaikan tujuan dan mafaat qurban sebanyak 24% menyatakan
sering sekali, 24% menyatakan sering, 48% menjawab pernah sedangkan yang
menjawab tidak pernah 4% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban
menyampaikan tujuan dan mafaat qurban. Jadi sebagian besar guru fiqih pernah
menyampaikan tujuan dan mafaat qurban pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum
Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
17
Responden yang menjawab tentang guru menjelaskan materi qurban kamu
meperhatikan sebanyak 28% menyatakan sering sekali, 36% menyatakan sering,
32% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak pernah 4% siswa
meperhatikan guru dalam menjelaskan. Jadi sebagian besar siswa sering
meperhatikan meperhatikan guru dalam menjelaskan pada siswa kelas VA MI
Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban penggunaan bahasanya jelas sebanyak 52% menyatakan sering sekali,
20% menyatakan sering, 24% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 4% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban penggunaan bahasanya
jelas. Jadi sebagian besar sering sekali guru dalam menjelaskan materi qurban
penggunaan bahasanya jelas pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban memberikan contoh sebanyak 24% menyatakan sering sekali, 32%
menyatakan sering, 36% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 8% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban memberikan contoh.
Jadi sebagian besar sering sekali guru dalam menjelaskan materi qurban
memberikan contoh pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban memberikan kesimpulan sebanyak 12% menyatakan sering sekali, 48%
menyatakan sering, 36% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 4% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban memberikan
kesimpulan. Jadi sebagian besar sering sekali guru dalam menjelaskan materi
qurban memberikan kesimpulan pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak
Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru setelah selasai menjelaskan
materi qurban memberikan pertanyaan atau evaluasi sebanyak 36% menyatakan
sering sekali, 16% menyatakan sering, 40% menjawab pernah sedangkan yang
menjawab tidak pernah 8% tentang guru setelah selasai menjelaskan materi
18
qurban memberikan pertanyaan atau evaluasi. Jadi sebagian besar pernah guru
setelah selasai menjelaskan materi qurban memberikan pertanyaan atau evaluasi
pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menggunakan gambar sebanyak 16% menyatakan sering sekali, 12%
menyatakan sering, 48% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 24% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban menggunakan
gambar. Jadi sebagian besar pernah guru menjelaskan materi qurban
menggunakan gambar pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menggunakan simbul sebanyak 16% menyatakan sering sekali, 16%
menyatakan sering, 44% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 24% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban menggunakan simbul.
Jadi sebagian besar guru pernah menjelaskan materi qurban menggunakan simbol
pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban menyampaikan pokok permasalahan sebanyak 24% menyatakan sering
sekali, 20% menyatakan sering, 44% menjawab pernah sedangkan yang
menjawab tidak pernah 12% tentang guru dalam menjelaskan materi qurban
menyampaikan
pokok
permasalahan
Jadi
sebagian
besar
guru
pernah
menyampaikan pokok permasalahan pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum
Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru dalam menjelaskan materi
qurban mebuat pengelompokan materi, sebanyak 12% menyatakan sering sekali,
28% menyatakan sering, 52% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah
8%
tentang
guru
dalam
menjelaskan
materi
qurban
mebuat
pengelompokan materi Jadi sebagian besar guru pernah mebuat pengelompokan
materi pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru menggunakan spidol warna yang
menarik sebanyak 8% menyatakan sering sekali, 12% menyatakan sering, 16%
19
menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak pernah 64% tentang guru
menggunakan spidol warna yang menarik. Jadi guru tidak pernah menggunakan
spidol warna yang menarik pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab tentang guru pernah mengajak belajar diluar
kelas sebanyak 4% menyatakan sering sekali, 4% menyatakan sering, 44%
menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak pernah 48% tentang guru
pernah mengajak belajar diluar kelas. Jadi guru tidak pernah mengajak belajar
diluar kelas pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto
Jombang.
Responden yang menjawab waktu guru menjelaskan materi qurban apakah
kamu meperhatikan tanpa paksaan sebanyak 16% menyatakan sering sekali, 8%
menyatakan sering, 44% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 32% meperhatikan tanpa paksaan. Jadi siswa pernah meperhatikan
penjelasan guru tanpa paksaan pada siswa kelas VA MI Miftahul Uulum Jarak
Kulon Jogoroto Jombang. responden yang menjawab waktu guru menjelaskan
materi qurban apakah kamu meperhatikan sungguh-sungguh sebanyak 36%
menyatakan sering sekali, 20% menyatakan sering, 36% menjawab pernah
sedangkan yang menjawab tidak pernah 8% meperhatikan sungguh-sungguh. Jadi
siswa pernah meperhatikan penjelasan guru tanpa paksaan pada siswa kelas VA
MI Miftahul Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab waktu guru menjelaskan materi qurban apakah
kamu meperhatikan dengan senang hati sebanyak 12% menyatakan sering sekali,
48% menyatakan sering, 36% menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak
pernah 4% meperhatikandengan senang hati. Jadi siswa sering meperhatikan
penjelasan guru dengan senang hati pada siswa kelas VA MI Miftahul Ulum Jarak
Kulon Jogoroto Jombang
Responden yang menjawab bisa memahami materi qurban yang dijelaskan
oleh guru sebanyak 48% menyatakan sering sekali, 20% menyatakan sering, 32%
menjawab pernah sedangkan yang menjawab tidak pernah tidak ada (0% ). Jadi
20
siswa sering sekali bisa memahami materi qurban yang dijelaskan oleh guru pada
siswa kelas VA MI Miftahul Uulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Responden yang menjawab yang mengikuti hari raya qurban sebanyak
48% menyatakan sering sekali, 12% menyatakan sering, 36% menjawab pernah
sedangkan yang menjawab tidak pernah 4% tidak pernah mengikuti gari raya
qurban. Jadi siswa sering sekali mengikuti hari raya qurban pada siswa kelas VA
MI Miftahul Uulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang.
Dari hasil yang diperoleh menunjukkan variasi jawaban yang telah di berikan
responden dari tiap-tiap item pertanyaan yang ada dalam angket. Sedangkan untuk
mengetahui tingkat persentase dari masing-masing alternatif jawaban yang dipilih
responden pada tiap-tiap item pertanyaan, maka jawaban tersebut dihitung dengan
menggunakan persentase.
Prosentase untuk jawaban :
A bernilai 4 yaitu 24, 8 %. B bernilai 3 yaitu 22 % C bernilai 2 yaitu 30,6%. D
bernilai 1 yaitu 12,8%. Jadi dapat dikatakan bahwa keterampilan mengajar guru dan gaya
belajar visual dengan kecerdasan emosional siswa pada pelajaran fiqih kelas VA MI
Miftahul UlumJarak Kulon Jogoroto Jombang sangat kurang 30,6%.
Analisis korelasi Y atas X1. Hubungan antara pengaruh kecerdasan emosional
terhadap keterampilan mengajar guru sebesar 0, 289 tergolong sangat lemah dimana
kontribusi yang diberikan hanya sebesar 8, 3521% sedangkan 91, 6479% dipengaruhi
oleh faktor lain.
Analisis korelasi Y atas X2. Hubungan antara gaya belajar visual terhadap
kecerdasan emosional sebesar 0, 4582 tergolong sangat lemah dimana kontribusi yang
diberikan hanya sebesar 20, 1% sedangkan 79, 9 dipengaruhi oleh faktor lain.
Pengujian hipotesis korelasi ganda. Pengaruh secara simultan (bersama-sama
antara keterampilan mengajar guru (X1) dan gaya belajar visual (X2) terhadap kecerdasan
emosional (Y) sebesar 0, 124 tergolong sangat lemah dengan dengan kontribusi yang
21
diberikan bersama-sama (simultan) variabel keterampilan mengajar guru (X1) dan gaya
belajar visual (X2) terhadap kecerdasan emosional (Y) sebesar 1,54% sisanya 54%
dipengaruhi oleh faktor lain. Tingkat signifikasi korelasi sebesar Fhitung 0, 172 < 3, 44
Ftabel pada taraf signifikasi 0, 05 disimpulkan bahwa secara simultan tidak terdapat
korelasi (hubungan) yang signifikan antara keterampilan mengajar guru dan gaya belajar
visual dengan kecerdasan emosional.
Kesimpulan
Dari uraian bab IV tentang penyajian data dan analisis data di atas, maka peneliti
menyimpulkan sebagai berikut :
1
Keterampilan mengajar guru dalam menjelaskan mata pelajaran fiqih MI Miftahul
Ulum Jarak Kulon Jogoroto Jombang khususnya kelas VA pada tahun pelajaran
2014/2015 sebesar 0,289 tergolong lemah dimana kontribusi yang diberikan
hanya sebesar 8, 3521% sedangkan 91, 6479% dipengaruhi oleh faktor lain,
bahwa dari hasil analisis Keterampilan mengajar guru dalam menjelaskan mata
pelajaran fiqih MI Miftahul Ulum Jarak Kulon.
2
Gaya belajar visual siswa mata pelajaran fiqih MI Miftahul Ulum Jarak Kulon
Jogoroto Jombang khususnya kelas VA pada tahun pelajaran 2014/2015 sebesar
0, 4582 tergolong sedang dimana kontribusi yang diberikan hanya sebesar 20, 1%
sedangkan 79, 9 dipengaruhi oleh factor lain.
3
Kecerdasan emosional siswa siswa mata pelajaran fiqih MI Miftahul Ulum Jarak
Kulon Jogoroto Jombang khususnya kelas VA pada tahun pelajaran 2014/2015
sebesar 0, 124 tergolong sangat lemah.
4
Pengaruh secara simultan (bersama-sama) antara keterampilan mengajar guru
(X1) dan gaya belajar visual (X2) terhadap kecerdasan emosional (Y) sebesar 0,
124 tergolong sangat lemah. Variabel keterampilan mengajar guru (X1) dan gaya
belajar visual (X2) terhadap kecerdasan emosional (Y) sebesar 1,54% sisanya
54% dipengaruhi oleh factor lain. Tingkat signifikasi korelasi sebesar Fhitung 0, 172
< 3, 44 Ftabel pada taraf signifikasi 0, 05 disimpulkan bahwa secara simultan tidak
22
terdapat korelasi (hubungan) yang signifikan antara keterampilan mengajar guru
dan gaya belajar visual dengan kecerdasan emosional.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Muhammad. 2014. Tak Hanya Sukses Tetapi Juga Bahagia. Jakarta Selatan: PT.
Mizan Publika.
Arikunto, Suharsimi. 2006. ProsedurPenelitianSuatuPendekatanPraktek (Edisi Revisi
VI). Jakarta: PT. RinekaCipta.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta:
Ar-ruzz Media.
Hamalik, Oemar. 2010. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Haryanto, Dany dan Ratna Yudhawati. 2011. Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.
Khanifatul. 2013. Pembelajaran Inovatif. Jogjakarta: AR-Ruzz Media.
Lwin, May, dkk. 2008. Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan.
Yogyakarta: PT. Indeks.
Mardani. 2012. Hadis Ahkam. Jakarta. PT. Raja Grafindo.
Priyatna, Andri. 2013. Pahami Gaya Belajar Anak. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Rahman, Fatkhur. 2004. Pintar Ibadah. Surabaya: Pustaka Media.
Riyanto, Yatim. 2009. Para Digma Baru Pembelajarab. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta: PT. Grasindo.
Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Sa‟ud, Udin Syaefudin. 2012. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.
23
Soefandi, Indra. 2009. Strategi Mengembangkan Potensi Kecerdasan Anak. Jakarta: Bee
Media Indonesia.
Taswin, Ahmad. 2007. Kurban dan Akikah. Yogyakarta: PT. Pustaka Insan Madani.
Umiarso dan Abd.Wahab. 2011. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual.
Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta:PT. Bumi
Aksara.
24
Download