7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebangkrutan Kebangkrutan

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kebangkrutan
Kebangkrutan merupakan suatu kondisi dimana perusahaan atau bisnis
tidak dapat beroperasi lagi dan menghasilkan keuntungan/laba. Menurut Yani dan
Widjaja (2004 dalam Wardhani, 2007), menurut undang-undang kepailitan no.4
tahun 1998, debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar
sedikitnya satu hutang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih dinyatakan pailit
dengan putusan pengadilan yang berwenang, baik atas permohonan sendiri,
maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya.
Menurut Supardi (2003 dalam Fakhrurozie, 2007), kebangkrutan diartikan
sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk
menghasilkan laba. Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada
sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian yaitu :
1.
Kegagalan ekonomi (economic distressed)
Kegagalan dalam ekonomi berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau
pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti
tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas
perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya
dari perusahaan tersebut jauh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan
kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan atas biaya historis dari
investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk
sebuah investasi tersebut.
7
8
2.
Kegagalan Keuangan (Financial Distressed)
Kegagalan keuangan bisa juga diartikan sebagai insolvensi yang
membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar
arus kas ada dua bentuk yaitu :
1) Insolvensi teknis
Perusahaan bisa dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat
memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Walaupun total aktiva
melebihi total utang atau terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi
salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio
aktiva lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau rasio
kekayaan bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi teknis
juga terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran bunga
atau pembayaran kembali pokok pada tanggal tertentu.
2) Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan
Dalam pengertian ini kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran
sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai
sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.
2.2
Penyebab Kegagalan Perusahaan
Menurut Riyanto (2001) faktor penyebab kegagalan suatu perusahaan
dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1.
Sebab intern adalah sebab-sebab yang timbul dari dalam perusahaan itu
sendiri, yang meliputi sebab finansial maupun non finansial.
1) Sebab-sebab yang menyangkut bidang finansial meliputi:
9
a. Adanya utang yang terlalu besar sehingga memberikan beban tetap
yang berat bagi perusahaan.
b. Adanya “current liabilities” yang terlalu besar diatas “current assets”.
c. Lambatnya pengumpulan piutang atau banyaknya “Bad-Debts”
(piutang tak tertagih).
d. Kesalahan dalam “dividend-policy”.
e. Tidak cukupnya dana-dana penyusutan.
2) Sebab-sebab yang menyangkut bidang non finansiil meliputi:
a. Adanya kesalahan pada para pendiri perusahaan, yaitu antara lain:
a) Kesalahan dalam pemilihan tempat kedudukan perusahaan.
b) Kesalahan dalam penentuan produk yang dihasilkan.
c) Kesalahan dalam penentuan besarnya perusahaan.
b. Kurang baiknya struktur organisasi perusahaan.
c. Kesalahan dalam pemilihan pimpinan perusahaan.
d. Adanya “managerial incompetence”.
a) Kesalahan dalam policy pembelian.
b) Kesalahan dalam policy produksi.
c) Kesalahan dalam policy marketing.
d) Adanya ekspansi yang berlebih-lebihan.
2.
Sebab ekstern adalah sebab-sebab yang timbul atau berasal dari luar
perusahaan dan yang berada diluar kekuasaan atau kontrol dari pimpinan
perusahaan atau badan usaha, yaitu antara lain:
1) Adanya persaingan yang hebat.
2) Berkurangnya permintaan terhadap produk yang dihasilkannya.
10
3) Turunnya harga-harga, dan lain sebagainya.
2.3
Manfaat Informasi Kebangkrutan
Menurut Hanafi dan Halim (2000) informasi kebangkrutan sangat
bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini:
1.
Pemberi Pinjaman
Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan
siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk
kebijakan memonitor pinjaman yang ada.
2.
Investor
Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan
tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan
bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut.
Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan model
prediksi kebangkrutan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan seawal
mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut.
3.
Pemerintah
Pada beberapa sektor usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggung
jawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut. Pemerintah juga
mempunyai badan-badan usaha yang harus selalu diawasi. Lembaga
pemerintah
mempunyai
kepentingan
untuk
melihat
tanda-tanda
kebangkrutan lebih awal supaya tindakan yang perlu bisa dilakukan lebih
awal.
4.
Akuntan
11
Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu
usaha karena akuntan akan menilai kemampuan keberlangsungan usaha
suatu perusahaan.
5.
Manajemen
Apabila manajemen bisa mendeteksi kebangkrutan lebih awal, maka
tindakan-tindakan penghematan bisa dilakukan yang berkaitan dengan
munculnya biaya yang diakibatkan oleh kebangkrutan.
2.4
Kinerja Keuangan
Menurut Hanafi (2003) kinerja adalah suatu usaha yang dilaksanakan
perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektifitas dari aktivitas perusahaan
yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.
Lebih lanjut menurut Mulyadi (2001 dalam Purnomo, 2007), kinerja
keuangan adalah suatu tampilan tentang kondisi keuangan perusahaan selama
periode tertentu. Untuk mengukur keberhasilan suatu perusahaan pada umumnya
berfokus pada laporan keuangannya disamping data-data non keuangan lain yang
bersifat sebagai penunjang. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi
kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber dana yang ada.
Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik tampilan perusahaan yang
berupa kegiatan operasional, struktur organisasi, dan karyawan berdasarkan
sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia IAI (1996 dalam Purnomo, 2007),
kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisis dan mengevaluasi laporan
keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu seringkali
12
digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa
depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai seperti
pembayaran dividen, upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan
perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
2.5
Pengukuran Kinerja Berdasarkan Pada Laporan Keuangan
Manajemen konvensional ukuran kinerja yang sering digunakan adalah
ukuran keuangan, karena ukuran keuangan inilah yang dengan mudah dilakukan
pengukurannya (Mulyadi dan Setiawan, 2001). Dalam manajemen konvensional,
pencapaian visi misi organisasi diukur hanya dengan menggunakan
ukuran
keuangan yang bertolak pada hasil akhir yang nampak dari laporan keuangan
terutama dari neraca dan laporan laba rugi yang merupakan rekaman data
keuangan historis dan hasil realisasi anggaran yang merupakan refleksi dari proses
operasional manajemen perusahaan (Ikhsan, 2005).
2.6
Laporan Keuangan
Dari bermacam laporan yang diterbitkan perusahaan untuk para pemegang
sahamnya, laporan tahunan (annual report) mungkin adalah yang paling penting.
Dua jenis informasi diberikan dalam laporan ini. Pertama, yaitu bagian verbal,
sering kali disajikan sebagai surat dari direktur utama, yang menguraikan hasil
operasi
perusahaan
selama
tahun
lalu
dan
membahas
perkembangan-
perkembangan baru yang akan mempengaruhi operasi dimasa mendatang. Kedua,
laporan tahunan menyajikan empat laporan keuangan dasar neraca , laporan laba
rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas. Jika disajikan bersama, semua
13
laporan ini memberikan gambaran akuntansi atas operasi dan posisi keuangan
perusahaan (Brigham dan Houston, 2009).
Menurut Munawir (2002) laporan keuangan adalah hasil dari proses
akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data
keuangan
atau
aktivitas
suatu
perusahaan
dengan
pihak-pihak
yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Lebih lanjut menurut Apriyono (2008), laporan keuangan adalah ringkasan
dari proses akuntansi selama tahun buku yang bersangkutan yang digunakan
sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap data atau aktivitas
perusahaan tersebut.
Menurut Dahlan (2008), laporan keuangan terdiri atas: (1) Neraca yang
menginformasikan posisi keuangan pada saat tertentu, yang tercermin pada
jumlah harta yang dimiliki, jumlah kewajiban, dan modal perusahaan.
(2) Perhitungan laba rugi yang menginformasikan hasil-hasil yang telah dicapai
oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu. (3) Laporan
perubahan modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang
menyebabkan perubahan modal perusahaan. (4) Laporan arus kas yang
menginformasikan perubahan dalam posisi keuangan sebagai akibat dari kegiatan
usaha, pembelanjaan, dan investasi selama periode yang bersangkutan. (5) Catatan
atas laporan keuangan yang menginformasikan kebijaksanaan akuntansi yang
mempengaruhi posisi keuangan dari hasil keuangan perusahaan.
14
2.6.1 Keterbatasan laporan keuangan
Menurut SAK (Standard Akuntansi Keuangan) (dalam Harahap, 2010),
sifat dan keterbatasan laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1.
Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian
yang telah lewat bukan masa kini. Karenanya laporan keuangan tidak
dianggap
sebagai
satu-satunya
sumber
informasi
dalam
proses
pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan
atau menentukan nilai (harga) perusahaan saat ini.
2.
Laporan keuangan bersifat umum,
dan bukan dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti untuk
pihak yang akan membeli perusahaan.
3.
Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan tafsiran
dan berbagai pertimbangan.
4.
Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula,
penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu
mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh
secara material terhadap kelayakan laporan keuangan.
5.
Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian.
Bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti
mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang
menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. Laba yang
belum direalisasi tidak dicatat namun rugi kendati pun belum direalisasi
tetapi sudak berlaku di pasar maka dapat dicatat, misalnya jika harga
persediaan di pasar berada di bawah harga pokok maka perbedaan ini
15
dapat dicatat sebagai rugi namun jika harga melebihi harga pokok tidak
dicatat sebagai laba.
6.
Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu
peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas). (Substannce
over Form). Misalnya jika perusahaan memiliki plafon kredit 1 miliar,
artinya perusahaan memiliki dana yang dapat ditarik setiap saat sebesar
jumlah itu. Namun jika itu belum ditarik, kita tidak boleh mencatatnya
sebagai unsur kas di neraca.
7.
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan
pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat
dari informasi yang dilaporkan.
8.
Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan
menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan
tingkat kesuksesan antar perusahaan. Metode penilaian persediaan boleh
menggunakan metode LIFO (Last In First Out), FIFO (First In First Out),
Average, yang hasilnya pasti berbeda. Demikian juga metode penyusutan :
Garis lurus, saldo menurun, sum of years digit, dan sebagainya.
9.
Informasi
yang bersifat
kualitatif
dan
fakta
yang tidak
dapat
dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
2.6.2 Pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
Menurut Djarwanto (1999) pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
laporan keuangan adalah (1) Pemilik perusahaan, dimana pemilik perusahaan
sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan terutama pemilik perusahaan
16
yang menyerahkan kepemimpinan usahanya kepada orang lain sehingga dengan
mengetahui laporan keuangan pemiilik dapat menilai sukses tidaknya seorang
manajer dalam memimpin perusahaan. Jika kinerja manajemen tidak mampu
memuaskan pemiliknya dalam hal ini pemegang saham maka pemegang saham
bisa mengganti manajemennya atau bahkan menjual saham yang dimilikinya.
(2) Manajer atau pemimpin perusahaan berkepentingan terhadap laporan
keuangan untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan periode yang baru,
kemudian akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki sistem
pengawasannya dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanannya yang lebih tepat.
Bagi mannajemen yang penting adalah bahwa laba yang dicapai cukup tinggi,
cara kerja yang efisien, aktiva aman, tenaga kerja baik, struktur pemodalan sehat,
dan perusahaan mempunyai rencana yang baik mengenai har depan baik dibidang
keuangan maupun dibidang operasi. (3) Para investor (Penanam modal jangka
panjang) yang menanamkan modalnya di perusahaan berkepentingan terhadap
prospek keuntungan di masa mendatang dan perkembangan perusahaan
selanjutnya untuk mengetahui jaminan investasinya dan untuk mengetahui kondisi
kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut. Dari hasil analia
laporan keuangan tersebut para investor akan ddapat menentukan langkah-langkah
yang harus ditempuh. (4) Para kreditur dan bannker berkepentingan terhadap
laporan keuangan karena sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau
menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan maka terlebih dahulu mereka
perlu mengetahui posisi keuangan perusahaan yyang bersangkutan. Posisi atau
keadaan
keuangan
perusahaan
debitur
akan
dapat
diketahui
melalui
penganalisisan laporan keuangan perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan baik oleh
17
kreditur jangkka pendek atau kreditur jangka panjang. (5) Para pedagang besar
berkepentingan
2.7
Pengertian Pengukuran Kinerja
Menurut Mulyadi (2001) pengukuran kinerja adalah penentuan secara
periodik tampilan perusahaan yang berupa kegiatan operasional, struktur
organisasi dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Penilaian kinerja menurut Yuwono (2002) adalah tindakan penilaian yang
dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada dalam
organisasi.
Kinerja perusahaan dapat diukur dari laporan keuangan yang dikeluarkan
secara periodik, laporan berupa neraca, rugi laba, arus kas, dan perubahan modal
yang secara bersama-sama memberikan suatu gambaran tentang posisi keuangan
perusahaan (Purnomo, 2007).
2.8
Analisis Laporan Keuangan
2.8.1
Pengertian analisis laporan keuangan
Analisis laporan keuangan terdiri dari dua kata yaitu analisis dan laporan
keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini, kita dapat menjelaskannya dari
masing-masing kata. Kata analisis adalah memecahkan atau menguraikan sesuatu
unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan keuangna adalah neraca,
laba/rugi, dan arus kas (dana). Kalau dua pengertian ini digabungkan, analisis
laporan keuangan berarti menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit
18
informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau
yang mempunyai makna antara satu dnegan yang lain baikn antara data kuantitatif
maupunn data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan
lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat
(Harahap, 2010).
Analisis laporan keuangan adalah suatu proses penguraian pos-pos
laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil sehingga dapat
dipahami dengan tujuan mengetahui kondisi keuangan dalam proses pengambilan
keputusan (Syafri , 2002).
Menurut Sartono (1997 dalam Oktavianingtyas, 2006) analisis keuangan
untuk melaksanakannya dapat dengan cara membandingkan prestasi satu periode
dibandingkan
dengan
periode
sebelumnya
sehingga
diketahui
adanya
kecenderungan selama periode tertentu. Selain itu dapat pula dilakukan dengan
cara membandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri itu sehingga dapat
diketahui bagaimana posisi dalam industri.
2.8.2
Kegiatan analisis laporan keuangan
Menurut Harahap (2010) kegiatan yang selalu lazim dilakukan dalam
analisis laporan keuangan dari berbagai teknik yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut :
1.
Menghitung rasio, indeks, kenaikan, penurunan atau persentase.
2.
Membandingkan laporan keuangn baik dengan menggambarkannya,
membuat indeks, membuat angka asli. Angka ini dibandingkan dengan :
19
periode sebelumnya, perusahaan sejenis, industrial norm (rasio rata-rata
industri).
3.
Menilai angka-angka : kenaikan, perbedaan dengan lainnya, penurunan
atau rasio lainnya.
4.
Menganalisis hubungan satu sama lain atau mencari kemungkinan
penyebab
persoalan
yang
menyebabkan
perbedaan
atau
penurunan/kenaikan.
5.
Menghubungkan antara satu data dengan data lain baik antara data
kuantitatif dengan data kualitatif misalnya antara kenaikan penjualan
dengan kenaikan biaya. Antara data kuantitatif dengan data kaulitatif
misalnya antara angka penjualan dengan kondisi ekonomi nasional.
6.
Menggunakan model atau rumus-rumus tertentu dengan menggunakan
metode
interplasi,
mengujinya
sekaligus
melihat
hasilnya
dan
membandingkannya dengan kenyataan yang terjadi.
2.8.3
Metode dan teknik analisis laporan keuangan
Menurut Munawir (1995) metode analisis ada dua macam :
1.
Metode Analisis Horizontal
Yaitu analisis dengan mengadakan perbandingan laporan keuangan untuk
beberapa
periode
atau
beberapa
saat,
sehingga
perkembangannya.
2.
Metode Analisis Vertikal
Yaitu apabila laporan keuangan yang dianalisis hanya
akan
diketahui
20
meliputi satu periode atau satu saat saja, yaitu dengan memperbandingkan
antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan
tersebut,sehingga hanya dapat diketahui keadaan keuangan atau hasil
operasi pada saat itu saja.
Sedangkan menurut Harahap (2010), adapun pedoman dan beberapa
teknik kritis atau teknik terintegrasi dalam menganalisis laporan keuangan itu
secara lengkap adalah sebagai berikut :
1.
Menilai “Realibility Laporan” dan periode laporannya
Sejauhmana laporan keuangan yang akan dianalisis dapat dipercaya, kita
bisa melihat dari segi apakah laporan itu sudah diaudit, belum diaudit.
Apakah laporannya tahun ini (up to date) atau periodenya sudah lama (out
of date).
2.
Lakukan analisis perubahan modal kerja atau arus kas
Analisis laporan perubahan modal kerja atau arus kas ini sebagian
dilakukan dengan melalui penelusuran kembali transaksi perusahaan.
Dengan menyusun laporan perusahaan modal kerja sekaligus kita
melakukan analisis laporan keuangan dua periode. Analisis ini sangat
banyak membantu mengetahui kesalahan pembukuan.
3.
Membuat laporan konsolidasi
Laporan konsolidasi hanya bisa disusun dengan melakukan dua atau lebih
laporan tentang perusahaan anak. Objek yang dianalisis menyangkut
berbagai transaksi yang dilakukan antar perusahaan yang seinduk yang
mau tidak mau memiliki pos tersendiri di
masing-masing laporan
keuangan perusahaan individu. Dengan menyusun laporan konsolidasi
21
maka akan dapat ditelusuri transaksi antar perusahhaan sehingga akan
kelihatan kemungkinan kesalahan-kesalahan.
4.
Me-review interrelated account
Interrelated account maksudnya adalah perkiraan yang saling berkaitan
antara pos satu dnegan pos lainnya. Misalnya antara pos piutang dengan
penjualan kredit, antara kas dengan biaya, antara pembelian barang kredit
dengan utang dagang, antara kantor pusat dengan cabang, antara kas dan
bank dan sebagainya. Menganalisis pos yang sangat berkaitan ini sangat
bermanfaat dalam menilai kondisi keuangan perusahaan dan ketelitiannya.
Interrelated account ini bisa juga dilihat hubungan peristiwa dengan pos
pembukuan. Misalnya jika ada kebakaran, pasti ada kerugian karena
kebakaran, penerimaan asuransi, dan sebagainya. Sejalan dengan ini dalam
auditing dikenal pemeriksaan analitis (analitycal review). Di sini kita
menghubungkan satu pos dengan pos lainnya yang muncul akibat suatu
transaksi.
5.
Penggunaan segmen bisnis perusahaan yang dianalisis
Untuk mengetahui kondisi ekonomi perusahaan kita bisa melepaskan diri
dengan
situasi
ekonomi,
atau
segmen
bisnis
perusahaan
yang
bersangkutan. Seseorang yang mengenal bidang usaha yang bersangkutan.
Seseorang yang dapat mengenal bidang usaha tertentu secara mendalam
akan dapat menilai kewajaran suatu laporan mengenai laporan keuangan
perusahaan perkebunan sawit dibandingkan dengan mereka yang belum
tahu jenis bisnis ini. Seorang direktur akan mengetahui kesalahan laporan
keuangan perusahaannya kendatipun dibandingkan dengan bagian
22
akuntansi, khususnya dalam hal sistem akuntansi perusahaan ia tidak
mengatahui secara mendalam.
6.
Meneliti lebih dalam beberapa transaksi yang bersifat : Related Parties
Transaction (Hubungan Istimewa)
Transaksi ini adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan atau individu
seafiliasi. Misalnya transaksi antara perusahaan dengan direksi, komisaris,
cabang, anak perusahaan, atau induk, dan lain sebagainya. Misalnya dari
Transfer Pricing atau harga yang ditetapkan antara perusahaan dengan
pihak terafiliasi. Pos antara cabang (inter branch). Antara perkiraan yang
berbalikan misalnya antara pos kantor pusat di cabang dengan pos cabang
di kantor pusat.
7.
Menghitung dan menafsirkan rasio keuangan yang lazim. Kemudian rasio
ini dibandingkan dengan situasi :
1) Ekonomi internasional
2) Ekonomi nasional
3) Rasio rata-rata industri/bisnis
4) Rasio periode demi periode
5) Rasio standar/budget
8.
Memahami metode dan cara penyusunan laporan keuangan
Dengan memahami dan menguasai cara dan metode penyusunan suatu
laporan keuangan, maka secara otomatis kita dapat menganalisis laporan
keuangan dan mengetahui kesalahan yang dikandungnya.
23
9.
Menilai laporan akuntan
Kita juga dapat menilai laporan keuangan dari hasil audit akuntan. Kita
memahami bunyi pendapat akuntan, prosedur akuntansinya, dan teknik
pemeriksaan yang dilakukannya. Bahkan kita juga bisa menilai dan
mencari tahu integritas atau bonafiditas akuntan yang memeriksa.
10.
Menguasai konsep dan teknik analisis laporan keuangan, filosofi rasio,
tujuan, dan kegunaanya
Sebagaimana diketahui konsep analisis ini adalah memaksimalkan
informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Untuk itu kita
menggunakan beberapa teknik analisis laporan keuangan. Karenna itulah
kita harus dapat menguasai teknik ini semua.
11.
Memahami prinsip dan kebijakan akuntansi
Prinsip dan kebijakan akuntansi menentukan isi laporan keuangan yang
menjadi objek analisis. Perbedaan standar yang dianut akan menimbulkan
perbedaan laporan keuangan. Oleh karena itu kita harus menguasai prinsip
dan kebijakan akuntansi yang dianut.
12.
Memahami situasi yang dihadapi perusahaan, termasuk bidang usaha, jenis
industri, sejarah perusahaan, risiko yang mungkin dihadapi, gaya
manajemen, pemilikan, dan prospek industri yang bersangkutan.
13.
Tujuan disusunnya laporan keuangan
Di Indonesia khususnya budaya audit laporan keuangan belum lazim
sehingga sering terjadi laporan keuangan disusun untuk tujuan yang
berbeda. Ada laporan keuangan yang disusun untuk kepentingan pajak,
bank, persero, dan sebagainya. Analis harus melihat fenomena ini.
24
Laporan keuangan yang disususn untuk bank biasanya optimis cenderung
overstated, sedangkan laporan keuangan yang disusun untuk kepentingan
pajak sering pesimis atau understated.
14.
Bentuk perusahaan
Laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan yang go public akan
lebih diyakini dibandingkan dengan yang bukan go public. Laporan
keuangan perusahaan firma atau CV lebih diyakini daripada laporan
keuangan berbentuk perseorangan.
15.
Sistem pengawasan dalam perusahaan yang menghasilkan laporan
keuangan
Laporan keuangan yang lahir dalam suatu perusahaan yang sistem
akuntansinya tertata dengan baik dan rapi dengan sistem pengawasan
intern dengan baik akan lebih diyakini dan lebih lengkap dibandingkan
dengan laporan yang lahir dari situasi internal control yang lemah.
16.
Ketaatan pada peraturan maupun agama
Laporan keuangan yang lahir dari suatu perusahaan yang dikomando oleh
manajemen yang relatif taat kepada aturan dan/atau agama relatif lebih
diyakini daripada manajemen yang kurang taat kepada norma agamanya.
17.
Menilai kualitas comparability
Salah satu teknik laporan keuangan adalah perbandingan. Jika laporan
keuangan dibandingkan maka manfaat perbandingan itu hanya diperoleh
jika dasar penyusunan masing-masing periode diperbandingkan sama.
Lebih lanjut masih menurut Harahap (2010), adapun beberapa teknik
analisis laporan keuangan biasa dapat disebutkan sebagai berikut :
25
1)
Perbandingan Laporan Keuangan
Perubahan tahun ke tahun
2)
Seri Trend/Angka Indeks
3)
Laporan Keuangan Common Size (Bentuk Awam)
Analisis struktur laporan keuangan
4)
Analisis Rasio
5)
Analisis Khusus
a) Ramalan kas
b) Analisis perubahan posisi keuanggan
c) Laporan variasi gross margin
d) Analisis break even
e) Analisis dupont
2.9
Analisis Rasio
2.9.1
Pengertian analisis rasio
Analisis rasio keuangan adalah suatu pedoman dasar untuk menunjukkan
kinerja suatu perusahaan dan juga sebagai alat kerja perencanaan dan
pengendalian keuangan perusahaan.
Menurut Harahap (2010) rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari
hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Misalnya antara
utang dan modal, antara kas dan total aset, antara harga pokok produksi dengann
total penjualan, dan sebagainya.
26
Menurut Munawir (2002) analisis rasio adalah suatu metode analisis untuk
mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi
secara individu atau kombinansi dari kedua laporan tersebut.
2.9.2
Keunggulan analisis rasio
Menurut Harahap (2010) analisis rasio ini memiliki keunggulan dibanding
teknik analisis lainnya. Keunggulan tersebut adalah :
1.
Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
dibaca dan ditafsirkan;
2.
Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan
laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit;
3.
Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain;
4.
Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan
keputusan dan model prediksi (z-score);
5.
Menstandarisir size perusahaan;
6.
Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau
melihat perkkembangan perusahaan secara periodik atau “time series”;
7.
Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa
yang akan datang.
2.9.3 Keterbatasan Analisis Rasio
Menurut Harahap (2010) disamping keunggulan yang dimiliki analisis
rasio, teknik ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang harus disadari sewaktu
27
penggunaannya agar kita tidak salah dalam penggunaanya. Adapun keterbatasan
analisis rasio itu adalah :
1.
Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk
kepentingan pemakainya.
2.
Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi
keterbatasan teknik ini seperti :
1) Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung
taksiran dan judgment yang dapat dinilai bias atau subyektif;
2) Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai
perolehan (cost) bukan harga pasar;
3) Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio;
4) Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa
diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
3.
Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia, akan menimbulkan
kesulitan menghitung rasio.
4.
Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
5.
Dua perusahaan yang dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi
yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa
menimbulkan kesalahan.
2.10
Penggolongan Angka Rasio
Menurut Harahap (2010) rasio keuangan yang sering digunakan adalah :
1.
Rasio likuiditas;
2.
Rasio solvabilitas;
28
3.
Rasio profitabilitas;
4.
Rasio leverage;
5.
Rasio aktivitas;
6.
Rasio pertumbuhan;
7.
Marked based (penilaian pasar);
8.
Rasio produktivits
Menurut Anggoro (1997 dalam Ananingsih, 2007) rasio keuangan dapat
dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan ruang lingkup atau tujuan yang
ingin dicapai, yaitu:
1.
Rasio likuiditas (liquidity ratio)
2.
Rasio aktivitas ( activity ratio)
3.
Rasio rentabilitas atau profitabilitas (profitability ratio)
4.
Rasio solvabilitas (solvency ratio)
5.
Rasio pasar (market ratio)
Menurut Riyanto (2001) pengelompokan ratio keuangan sebagai berikut :
1.
Rasio likuiditas
2.
Rasio leverage
3.
Rasio-rasio aktivitas
4.
Rasio-rasio profitabilitas
2.10.1 Rasio likuiditas
Menurut Harahap (2010) likuiditas menggambarkan kemampuan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung
melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan
29
utang lancar. Rasio Likuiditas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk
mengukur likuiditas perusahaan (current ratio, Acid test ratio) (Riyanto, 2001).
Likuiditas perusahan, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya. Likuiditas
perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah
untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan.
Dari aktiva lancar tersebut, persediaan merupakan aktiva lancar yang paling
kurang liquid dibanding dengan yang lainnya. Semakin tinggi rasio likuditas ini
berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
finansial jangka pendek (Sartono, 1996 dalam Amrullah, 2007). Rasio ini
menyatakan kemampuan peruasahaan dalam jangka pendek untuk memenuhi
kewajiban yang jatuh tempo (Anggoro, 1997 dalam Ananingsih, 2007). Kategori
rasio likuiditas dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Kategori Rasio Likuiditas
Rasio
Kategori
200%
Likuid
>200%
Sangat Likuid
<200%
Tidak Likuid
Sumber : Djarwanto (1999)
2.10.2 Rasio solvabilitas
Menurut Harahap (2010) rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajibankewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pospos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan utang jangka panjang.
rasio ini menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadap modal
30
maupun asset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh
utang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh
modal (equity). Perusahaan yang baik mestinya memiliki komposisi modal yang
lebih besar dari utang. Kategori rasio solvabilitas dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2
Kategori Rasio Solvabilitas
Rasio
Kategori
200%
Likuid
>200%
Sangat Likuid
<200%
Tidak Likuid
Sumber : Brigham dan Joel (2001)
2.10.3 Rasio rentabilitas/profitabilitas
Menurut Harahap (2010) rasio rentabilitas atau disebut juga profitabilitas
menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua
kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah
karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating ratio. Rasio ini
menunjukkan keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan
(Anggoro, 1997 dalam Ananingsih, 2007).
Rasio Profitabilitas yaitu rasio-rasio yang menunjukkan hasil akhir dari
sejumlah kebijaksanaan dan kemampuan-kemampuan (Profit margin on sales,
Return on total assets, return on net worth dan lain sebagainya) (Riyanto, 2001).
Kategori rasio profitabilitas dalam dilihat pada Tabel 2.3.
31
Tabel 2.3
Kategori Rasio Profitabilitas
Rasio
Kategori
200%
Likuid
>200%
Sangat Likuid
<200%
Tidak Likuid
Sumber : Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter
(2010) dalam (Candriasih,2010)
2.10.4 Rasio aktivitas
Menurut Harahap (2010) rasio ini menggambarkan aktivitas yang
dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan
penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini menunjukkan kemampuan
serta efisiensi perusahaan didalam memanfaatkan harta yang dimilikinya
(Anggoro, 1997). Rasio Aktivitas yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk
mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan
sumber-sumber dananya (inventory turnover, average collection period dan lain
sebagainya (Riyanto, 2001). Kategori rasio aktivitas dalam dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4
Kategori Rasio Aktivitas
Rasio
Kategori
200%
Likuid
>200%
Sangat Likuid
<200%
Tidak Likuid
Sumber : Helfret (1991 dalam Candriasih, 2010)
2.11
Multiple Discriminant Analysis
Menurut Wardhani (2007) analisis diskriminan adalah suatu analisis yang
menghasilkan suatu indeks yang memungkinkan penggolongan suatu observasi ke
dalam salah satu kelompok yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Misalnya
32
seorang analisis keuangan memiliki beberapa rasio keuangan dari sebuah
perusahaan dan ingin menggunakan rasio tersebut untuk menggolongkan
perusahaan itu masuk kategori bangkrut atau tidak. Multiple Discriminant
Analysis atau analisis pembeda ganda merupakan suatu metodologi formal yang
digunakan untuk memperkecil rasio dan untuk mempertinggi kerepresentatifan
rasio keuangan yang dipilih sebagai variabel. Model analisis semacam ini dapat
digunakan untuk:
1.
Memprediksi kebangkrutan perusahaan.
2.
Mengevaluasi atas prospek perusahaan secara individual.
3.
Menilai kelayakan dan kewajaran suatu rencana organisasi dalam
memutuskan alternatif-alternatifnya.
2.12
Analisis Z-score Model Altman
Sejumlah studi telah dilakukan untuk mengetahui kegunaan analisis rasio
keuangan dalam memprediksi kegagalan perusahaan. Salah satu studi tentang
prediksi ini adalah studi yang dilakukan oleh Edward I Altman (Widyastuti,
2006).
Altman
menguji
manfaat
rasio
keuangan
dalam
memprediksi
kebangkrutan. Dalam penelitian ini Altman menggunakan sampel sebanyak 66
perusahaan yang terdiri atas 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak
bangkrut. Altman menggunakan Multivariate Discriminant Analysis. Hasil
analisis menunjukkan bahwa rasio keuangan (profitability, liquidity, dan solvency)
bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan dengan tingkat keakuratan 95%
setahun sebelum perusahaan bangkrut. Tingkat keakuratan tersebut turun menjadi
72% untuk periode dua tahun sebelum bangkrut, 29% untuk periode empat tahun
33
sebelum bangkrut, dan 36% untuk periode lima tahun sebelum bangkrut. Hasil
penelitian yang dilakukan Altman ini menunjukkan penurunan kekuatan prediksi
rasio keuangan untuk periode waktu yang lebih lama (Adnan, 2001 dalam
Widyastuti, 2006).
Dalam penelitian ini Altman menyeleksi 22 macam rasio keuangan. Dari
22 macam rasio tersebut Altman menemukan lima macam rasio yang dapat
dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan
tidak bangkrut (Widyastuti, 2006).
Pada tahun 1968, Altman menemukan lima jenis rasio keuangan yang
dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut
dan yang tidak bangkrut. Z-score Altman ditentukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Z-score= 0,012X1+ 0,014X2+ 0,033X3+ 0,006X4+ 0,999X5
Keterangan:
X1= Modal kerja terhadap total harta (working capital to total assets)
X2= Laba yang ditahan terhadap total harta (retained earnings to total assets)
X3= Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (earnings before
interest and taxes to total assets)
X4= Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (market value equity to
book value of total debt)
X5= Penjualan terhadap total harta (sales to total assets)
Selanjutnya pada tahun 1983, karena banyak perusahaan yang tidak gopublic sehingga tidak mempunyai nilai pasar maka Altman mengembangkan
model alternatif dengan menggantikan variabel X4 yang semula merupakan
perbandingan nilai pasar modal sendiri dengan nilai buku total hutang, menjadi
34
perbandingan nilai saham biasa dan preferen dengan nilai buku total hutang. Hasil
revisi ini hanya dapat digunakan pada perusahaan manufaktur.
Persamaan hasil revisi tersebut adalah:
Z-score = 0,717X1+ 0,847X2+ 3,107X3+ 0,420X4+ 0,998X5
Keterangan:
X1= Modal kerja terhadap total harta (working capital to total assets)
X2= Laba yang ditahan terhadap total harta (retained earnings to total assets)
X3= Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (earnings before
interest and taxes to total assets)
X4= Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (market value equity to
book value of total debt)
X5= Penjualan terhadap total harta (sales to total assets)
(Supardi dan Mastuti, 2003) dalam (Wardhani, 2007).
Selanjutnya Altman terus melakukan revisi yang akhirnya menghasilkan
model Z”-score yang dapat digunakan oleh perusahaan public maupun private
secara umum dengan mengganti X4 yang awalnya merupakan perbandingan nilai
pasar atas ekuitas dengan nilai buku total hutang, menjadi perbandingan nilai
buku atas ekuitas dengan nilai buku total hutang serta menghilangkan X5 yang
merupakan rasio penjualan terhadap total harta dengan harapan ukuran perusahaan
terkait dengan asset dan penjualan dapat dihilangkan. Model Altman hasil revisi
terakhir inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Z-score= 6,56X1+ 3,26X2+ 6,72X3+ 1,05X4
Keterangan:
X1= Modal kerja terhadap total harta (working capital to total assets)
X2= Laba yang ditahan terhadap total harta (retained earnings to total assets)
X3= Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (earnings before
interest and taxes to total assets)
X4= Nilai buku ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (book value equity to book
value of total debt)
35
Dengan klasifikasi skor Z > 2,60 diklasifikasikan sebagai perusahaan
sehat, sedangkan perusahaan yang mempunyai skor Z < 1,1 diklasifikasikan
sebagai perusahaan potensial bangkrut. Selanjutnya skor antara 1,1 sampai 2,60
diklasifikasikan sebagai perusahaan yang masuk dalam kategori pada grey area
atau daerah kelabu (Prihadi, 2009).
Dalam Manajemen keuangan, rasio-rasio yang digunakan dalam metode
Altman ini dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu:
1.
Rasio Likuiditas yang terdiri dari X1
2.
Rasio Profitabilitas yang terdiri dari X2 dan X3
3.
Rasio Aktivitas yang terdiri dari X4dan X5
(Riyanto, 2001).
2.13
Analisis Z-Score Model Foster
Dalam Wardhani (2007) mengatakan, Goerge Foster dalam bukunya yang
berjudul “Financial Statement Analysis” melakukan penelitian untuk memprediksi
kebangkrutan perusahaan-perusahaan kereta api di Amerika Serikat periode 19701971. Semula ia menggunakan Univariate Models dengan menggunakan dua
variabel rasio secara terpisah, yaitu Transportation Expense to Operating Revenue
Ratio (TE/OR Ratio) dan Time Interest Earned Ratio(TIE Ratio). Studi dilakukan
terhadap 10 perusahaan kereta api dengan hasil delapan tidak bangkrut dan dua
bangkrut. Hasil perhitungan rasio TE/OR dan TIE dapat dilihat pada Tabel 2.5.
36
Tabel 2.5
Hasil Perhitungan Rasio TE/OR dan TIE
Keterangan
Perusahaan tidak bangkrut (TB)
Perusahaan yang bangkrut (B)
TE/OR
0,356
TIE
2,49
0,473
-0,26
Ternyata terdapat perbedaan rata-rata dari dua kelompok tersebut untuk
rasio-rasio yang dipilih. Untuk mengukur kemampuan meramalkan dari rasiorasio tersebut dibuatlah “Cut-off Point”, dimana untuk TE/OR Ratio adalah 0,403
sedangkan untuk TIE Ratio adalah 1,16. Sehingga dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. TE/OR > 0,403 berarti perusahaan cenderung bangkrut (B).
2. TE/OR < 0,403 berarti perusahaan cenderung tidak bangkrut (TB).
3. TIE > 1,16 berarti perusahaan cenderung tidak bangkrut (TB).
4. TIE < 1,16 berarti perusahaan cenderung bangkrut (B).
Kemudian Foster mengamati kemungkinan terjadinya kesalahan tipe I
maupun tipe II, dimana kesalahan tipe I terjadi apabila perusahaan yang bangkrut
(B) diramalkan tidak bangkrut (TB). Sebaliknya kesalahan tipe II terjadi apabila
perusahaan yang tidak bangkrut (TB) diramalkan bangkrut (B). Untuk mengatasi
hal tersebut maka Foster kemudian mencoba menerapkan sampel perusahaan yang
sama untuk dianalisis dengan Multivariate Models. Rasio yang pertama
menjelaskan seberapa besar biaya operasi dibandingkan dengan penghasilan,
sedangkan rasio kedua menunjukkan seberapa besar laba operasi apabila
dibandingkan dengan bunga yang harus dibayar. Dengan menggunakan data yang
sama seperti Univariate Models, maka didapat persamaan diskriminannya yaitu:
Z-Score= -3,366 X + 0,657 Y
37
Keterangan :
X = TE/OR
Y = TIE
Persamaan ini kemudian digunakan untuk menyusun peringkat nilai-nilai
Z untuk semua perusahaan yang diambil sebagai sampel. Setelah itu dicari “Cutoff Point” untuk memisahkan perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut.
Dalam hal ini Foster mempergunakan “Cut-off Point ” Z = 0,640, sehingga
perusahaan yang mempunyai Z < 0,640 termasuk dalam kelompok perusahaan
yang bangkrut, sedangkan jika Z > 0,640 termasuk dalam kelompok perusahaan
yang tidak bangkrut. Studi ini dinilai berhasil karena dari 10 perusahaan hanya
terdapat satu perusahaan yang salah dalam pengelompokan. Rasio keuangan yang
dianalisis adalah rasio-rasio keuangan yang terdapat pada model Foster yaitu:
1. 𝑇𝐸/𝑂𝑅 =
2. 𝑇𝐼𝐸 =
π‘‡π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘ π‘π‘œπ‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› 𝐸π‘₯𝑝𝑒𝑛𝑠𝑒
π‘‚π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘” 𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑒𝑒
𝐸𝐡𝐼𝑇
πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘ 𝐸π‘₯𝑝𝑒𝑛𝑠𝑒
(Husnan,1998 dalam Wardhani, 2007)
2.14
Kelebihan dan Kelemahan Analisis Z-score
Kelebihan analisis z-score adalah dengan mengetahui nilai z perusahaan
dengan metode diskriminan kebangkrutan maka perusahaan dapat mengetahui
tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Selain itu jika nilai z perusahaan
termasuk dalam kategori bangkrut atau kritis (rawan), maka perusahaan masih
bisa memperbaiki kesehatan keuangan perusahaannya dengan segera. Sehingga
38
dengan mengetahui nilai z ini maka kondisi keuangan perusahaan akan semakin
kuat dan dapat diantisipasi sedini mungkin (early warning system). Selain itu
kelebihan dari analisis z-score ini adalah karena model diskriminan kebangkrutan
ini termasuk kedalam analisis multivariate dimana variabel – variabel bebas dari
model diskriminan ini diambil dari neraca dan laporan laba/rugi perusahaan.
Artinya bahwa adanya keterkaitan antara variabel – variabel dari z-score dengan
analisis rasio keuangan dimana variabel – variabel rasio keuangan juga diambil
dari laporan keuangan. Sehingga sama halnya dengan analisis rasio keuangan
dimana nilai dari rasio keuanggan dan z-score juga akan berpengaruh pada
pengambilan keputusan perusahaan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan
khususnya masalah prestasi (performance) serta kesehatan keuangan perusahaan.
Sedangkan kelemahan analisis z-score ini adalah bahwa analisis ini
hanyalah bersifat “prediksi” atau ramalan keuangan perusahaan sehingga nilai z
ini tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam penentu apakah perusahaan tersebut akan
benar – benar bangkrut ataupun tidak bangkrut, karena manajemen harus melihat
dari segi indikator – indikator kegagalan perusahaan. Selain itu juga kekurangan
z-score lainnya adalah model diskriminan kabangkrutan yang dikembangkan oleh
Altman didalamnya terdapat variabel-variabel yang diambil dari laporan keuangan
sehingga jika penyusunan laporan keuangan terdapat kesalahan maka hasil dari
nnilai z ini juga tidak akan akurat lagi (Sriati, 2015).
2.15
Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dijadikan pedoman dalam penelitian ini adalah :
39
1. Penelitian oleh Evi Wardhani tahun 2007 yang berjudul “Analisis Tingkat
Kebangkrutan Model Altman dan Foster Pada Perusahaan Textile dan
Garment Go-Public di Bursa Efek Jakarta”. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui bahwa laporan keuangan sebelum terjadi
kebangkrutan dapat digunakan untuk mengukur tingkat kebangkrutan
dengan Model Altman dan Foster pada perusahaan textile dan garment gopublic di Bursa Efek Jakarta dan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan tingkat kebangkrutan antara Model Altman dan Foster pada
perusahaan textile dan garment go-public di Bursa Efek Jakarta. Analisis
yang digunakan adalah analisis z’-score model Altman atau analisis
kebangkrutan model Altman hasil revisi kedua dan z-score Foster. Dalam
analisis z’score model Altman menggunakan rumus yang berbeda dan
lima variabel X1 ,X2 ,X3 ,X4 , X5 yaitu working capital to total asset ratio,
retained earning to total asset ratio, EBIT to total asset ratio, market
value of equity to book value of debt ratio dan sales to total asset ratio.
2. Penelitian oleh Rini Widyastuti yang berjudul analisis kinerja keuangan
pendekatan Altman dan pengaruhnya terhadap harga saham pada
perusahaan jasa go-public di Bursa Efek Jakarta. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menganalsiis kinerja keuangan pendekatan Altman
perusahaan jasa go-public di Bursa Efek Jakarta khususnya perusahaan
yang bergerak dibidang restoran,hotel dan pariwisata. Analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kebangkrutan altman
pertama atau z-score Altman.
40
Originalitas dalam penelitian ini terletak pada subjek penelitian yaitu 16
perusahaan
perkebunan
yang
terdaftar
di
Bursa
Efek
Indonesia
dan
pengembangan pada analisis data yang digunakan. Analisis data yang digunakan
adalah z”-score Altman revisi terbaru atau ketiga dan z-score Foster. Sehingga
rumus z”-score yang digunakan berbeda serta variabel pengukuran yang
digunakan juga berbeda yaitu terdiri dari working capital to total asset ratio,
retained earning to total asset ratio, EBIT to total asset ratio dan book value of
equity to book value of debt ratio.
2.16
Kerangka Pemikiran
Segala aktivitas perusahaan baik dari segi manajemen, operasi dan kinerja
karyawan akan menghasilkan suatu hasil (produk) yang diharapkan dapat
mendatangkan keuntungan. Aktivitas perusahaan disusun dalam laporan, dimana
laporan yang lebih dianggap sebagai penentu suatu perusahaan untung atau rugi
adalah laporan keuangan. Untuk menghitung tingkat kinerja keungan suatu
perusahaan, sering digunakan perhitungan analisis rasio keuangan.
Namun analisis rasio keuangan belum cukup dalam menilai kinerja keuangan
perusahaan dilihat dari tingkat kebangkrutan yang mungkin dialami perusahaan di
masa mendatang. Sehingga dibutuhkan perkembangan dari analisis rasio
keuangan yaitu dengan melakukan perhitungan analisis z-score model Altman dan
z-score model Foster. Analisis z-score model Altman digunakan untuk
memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan menggabungkan beberapa rasio
keuangan menjadi satu formula yang lebih dikenal dengan Altman z-score.
Adapun rasio yang digunakan pada analisis z-score model Altman adalah working
41
capital to total assets ratio, retained earning to total assets ratio, earning before
interest and taxes to total assets ratio, market of equity to book value of total debt
ratio, sales to total assets ratio. Sedangkan z-score model Foster juga merupakan
model prediksi kebangkrutan, perhitungan yang digunakan dalam perhitungan zscore model Foster dengan menghitung nilai rasio yang berbeda dengan model zscore model Altman. Adapun rasio yang digunakan dalam analisis z-score model
Foster adalah transportation expense to operating revenue ratio dan time interest
earned ratio.
AKTIVITAS
PERUSAHAAN
KONDISI KEUANGAN :
LAPORAN KEUANGAN
ANALISIS KEUANGAN:
ANALISIS RASIO
ANALISIS ALTMAN ZSCORE
ANALISIS FOSTER Z-SCORE
TINGKAT
KEBANGKRUTAN
REKOMENDASI
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Analisis Tingkat Kebangkrutan Model Altman dan Foster
pada Perusahaan Perkebunan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
2.17 Hipotesis
Penelitian ini menggunakan uji beda (uji-T) untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan secara statistik antara tingkat kebangkrutan model Altman
42
dengan model Foster pada perusahaan perkebunan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
tahun 2013 – 2014 .
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir diatas, diajukan hipotesis
penelitian yaitu bahwa analisis tingkat kebangkrutan model Altman dengan model
Foster pada perusahaan perkebunan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 20132014 terdapat perbedaan hasil analisis.
Download