sengketa tanah dan prosedur penyelesaiannya - USU-IR

advertisement
SENGKETA TANAH DAN PROSEDUR
PENYELESAIANNYA
(Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum Terhadap Sengketa Tanah dan
Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial
Dalam Bidang Antropologi
Disusun Oleh
DOMINIRIA HULU
050905028
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
HALAMAN PERSETUJUAN
Nama
:Dominiria Hulu
Nim
:050905028
Departemen
:Antropologi
Judul
:SENGKETA
TANAH
PENYELESAIANNYA
DAN
(Studi
PROSEDUR
Kasus
tentang
Kemajemukan Hukum Terhadap Sengketa Tanah
dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat
Nias)
Medan, Desember 2009
Pembimbing Skripsi
Ketua Departemen
(Dra. Rytha Tambunan, M.Si)
Drs. Zulkifli Lubis, M. A.
Nip.196308291990032001
Nip. 196401231990031001
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
(Prof. Dr. Arif Nasution, M.A)
Nip. 196207031987111001
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Tritunggal Yesus
Kristus yang dalam kemurahan hati dan kasihnya maka penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini, juga kepada Bunda Maria Anaivelangkani yang turut
memberikan limpahan berkatnya bagi penulis sehingga segala tantangan yang
dihadapi selalu berakhir dengan sukacita.
Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah “Sengketa Tanah dan
Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat
Nias). Penulis menyadari masih banyak kesalahan dalam penyusunan skripsi ini,
untuk itu penulis akan sangat berterimakasih jika kedepan akan ada saran dan
kritik yang tentunya bertujuan untuk penyempurnaan skripsi ini.
Selama penulisan skripsi, penulis banyak menerima bantuan baik dari segi
moral dan materil, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa
terimakasih yang tak terhingga dan mengucapkan penghargaan yang setinggitingginya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, M. A. sebagai Dekan pada Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, M.A sebagai Ketua Departemen Antropologi
dan juga penasehat akademik penulis, yang selama ini banyak memberi
ilmu, arahan, nasehat dan motivasi kepada penulis untuk bekarya.
3. Dra. Rytha Tambunan, selaku dosen pembimbing penulis yang telah
meluangkan waktu, memberikan kontribusi teoritis dalam penulisan
skripsi ini. Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas seluruh
kebijaksanaan, bimbingan, ketulusan dan kesediaan beliau dalam
membantu penulisan skripsi ini.
4. Drs. Ermansyah, M.Hum dan Dra. Mariana Makmur, MA yang telah
menjadi penguji penulis dalam selesainya skripsi ini, terimakasih atas
segala saran, arahan dan motivasi.
5. Ucapan terimakasih penulis kepada dosen Antropologi Mas Agus, Bang
Fikarwin, Bang Edi Saputra, Bang Farid, Bang Lister, Bang Zulkifli, Bang
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Nurman, Bang Yance, Kak Sri Alem, Ibu Chalida, Kak Nita Savitri, Kak
Sabariah, Kak Tjut, Kak Aida, Kak Emiyanti, dan Alm Nurdiani,
terimakasih atas jasa kalian dalam mendidik dan membekali penulis dalam
karya dengan ilmu pengetahuan. Terimakasih penulis untuk Kak Nur, Kak
Sri dan Kak Sofie yang telah membantu penulis dalam memperlancar
proses selesainya skripsi ini.
6. Bapak Christian Harefa selaku kepala desa Dahana Tabaloho, Bapak
P.Joseph Ziraluo selaku ketua pengadilan negeri Gunungsitoli, dan Bapak
Samuely Daely selaku kepala desa Onolimbu Raya yang telah banyak
membantu penulis dalam melaksanakan pengumpulan data guna
selesainya skripsi ini.
7. Penghargaan sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada orangtua
terkasih, almarhum Ayahanda Romanus F. Hulu dan Ibunda Emiliana
Zebua yang dengan penuh kasih dan cinta membimbing penulis untuk
tetap berkarya, untuk tetap menjadi kebanggaan mereka demi kebahagian
dan
keberhasilan
anaknya,
saya
sangat
mencintai
kalian.
Saya
merindukannmu ayah. Untuk Bunda yang menjadi single parents terbaik
bagi penulis, penulis ucapkan terimakasih banyak. Engkau adalah
pahlawan penuh cinta bagiku, kegigihanmu dalam menuntun kami
menjadi landasan kami anak-anakmu untuk tetap bertahan menjalani dan
menikmati hidup ini dengan sukacita, aku mencintaimu..
8. Terkhusus untuk kakak tersayang Miss Maria Sepniawatu Hulu, SPd.
Kakak adalah motivator terbaik untuk kami adik-adikmu, cintamu kepada
kami sungguh berharga, engkau adalah guru serta teladan bagiku.
9. Untuk Brother dan Sisterku terkasih Bro Markus, Miss Yana, Bro OktavMIPA USU, Miss Natalia, Miss Selvi, Bro Vincen, karena kasih,
kebersamaan dan cinta tulus dari kalian semua, penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini, terimakasih.
10. Semua yang menjadi informan penulis Ama Ica Harefa, Bapak Rano, Ama
Isa, Ama Johan, Ibu Masta Yunita, Ibu Saina Ndraha, Bapak Deky,
praktisi adat Nias dalam hal ini Bapak Yas Harefa, Ibu Arniwati Zebua,
kak Wuri Harefa, A/I Dewi, bang Erwin Harefa dan semua warga Desa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dahana Tabaloho dan Desa Onolimbu Raya yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis dalam memperoleh
banyak informasi untuk selesainya skripsi ini.
11. Untuk keluarga Niat Daely dan Ama/Ina Dewi yang telah menerima
penulis untuk tinggal, makan/minum. Terimakasih atas cinta kalian
menggangap saya anak dan memberikan kesempatan kepada saya.
Terkhusus buat adikku Niat yang telah menemani penulis untuk
pengambilan data di Desa Onolimbu Raya, terimakasih atas perjalanan
berliku yang kita lalui untuk dapat bertemu dengan informan penulis.
12. Untuk sahabat sekaligus saudaraku, Meyni, Minar, Santi, Muvida, GraceUKI Jakarta, Marsalina-Purwokerto, Yohanes-Sintang, Christin-Padang,
Belinda-Bogor, Ronald, Ian, Willy, Mas Anton-Solo, Mendio, Yunus, Mas
Dana/kak Mery di Jakarta serta Frangky Suciadi-Jakarta, yang telah
mendukung, mendengar/berbagi cerita suka dan duka, tangis dan tawa
sehingga penulis tetap semangat dan maju terus, terimakasih atas cinta
kalian.
13. Untuk Group Bhumiksara, Group Nias di Facebook, ForMaN-USU,
Buletin Kerabat, INSAN, Koor Gloria st Albertus Magnus, PMKRI cab.
Medan, terimakasih atas semangat kalian kepada penulis, semoga kita
semua menjadi penerus intelektul bangsa, selamat berjuang.
14. Untuk teman-teman kos Hijo gang Sempurna dan Maria CampPembangunan Medan, Erni, kak Dewi, kak Farah, Eva, bang Wija, Tyka,
Ami, Medwin, terkhusus buat adik Oshie-Polmed Medan yang dah jadi
adik sekaligus sahabat terbaik, terimakasih.
15. Buat abang dan kakak terbaik Kak Munthe-dosen Sosiologi USU, Kak
Kekem, Bang Sandrak, Kak Lelyta, Kak Erlin, Kak Tety, Kak Lenti, Kak
Rukun, Bang Hubert-Hukum USU, Bang Juliman Harefa hukum-USU,
Bang Berwaddin- Kessos USU, Bang Onlyhu Ndraha-MIPA USU, Bang
Amrin-Batam dan semuanya yang telah berperan sebagai kakak dan abang
yang penuh talenta dalam membantu penulis merangkai kata dan bertahan
untuk menyelesaikan skripsi ini, terimakasih.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
16. Untuk donatur terbaik saya Fr. Dion, Rm. Anton, Rm. Paulus- Flores, Rm
Aloy-Sibolga, Uskup Anicetus Sinaga-Medan, Uskup Ludovicus-Sibolga,
Bapak Haji Iskandar Leman-Jakarta, Mas Andre Goni-Medan, crew
Training of Trainers Cordia, terimakasih.
17. Semua Tim Bhumiksara Pak Djokdwihatmono-Jakarta, Bapak Slamet S
Sarwono-Universitas Atmajaya Yogyakarta, Bapak Ludovicus Ludin
Lubis-Jakarta, kak Dominic-Singapura, Mas Eko-Jakarta, Tim Trainer
Sanata Dharma –Yogyakarta, Tim Panti Semedi-Klaten, dan semuanya
yang telah meringankan beban saya dalam menjalani perkuliahan baik dari
segi materil dan pelatihan-pelatihan luar biasa yang melatih saya menjadi
pribadi berharga.
18. Untuk crew Japan Disaster Relief-Nias, crew Help e.v Jermany-Nias, crew
Mr-Net-Medan, crew stan Nias-Medan Fair, crew Surveyor KPE
terimakasih atas kesempatan kerja yang telah kalian berikan kepada
penulis sehingga penulis dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat secara
nyata. Terimakasih juga buat crew Jurnal Iman, Ilmu, Budaya, crew Jurnal
Etnovisi, dan crew Buletin Insan Muda Antropologi yang memberikan
nuansa ilmu terbaik yang sangat menunjang kreatifitas berpikir penulis.
19. Terkhusus
Buat
sahabat-sahabat
se-Indonesia,
Happy-Banjarmasin,
komdik Bogor (Adit, Tuti, Rina, Hengky, Lusi, Monic, Yogi, Silver,
Tjan), komdik Jakarta (Tanti, Angel, Bobby, Catrien, Noel, Ino, Lea, Leo,
Marcel, Nikson, Rosa), Komdik Makasar (Cornel, Markus, Simon, Anto,
Henny, Bogdan), Komdik Malang (Aan, Rita, Komang, Anton, Sieni,
Dini, Krista, Mario, Sylvana, Sylvia, Lina, Olin, Yohanes), Komdik
Padang (Mai dan alm Sapri), Komdik Palangkaraya (Arin, Lusia,
Handaru), Yosua-Palembang, Komdik Purwokerto(Yogie, Ardi, Tiwi,
Ayu, Benny, Aswin), Komdik Ruteng(Ana, Ira, Sary) Komdik Samarinda
(Dimas, Marda), Komdik Semarang (Intan, Aurel, Dika, Teguh, Tuti,
Andri, Cyntia, Rina, Sugeng, Wulan, Siska, Iren, Etta, Natalia, Pandu,
Ruben, Lene, Yudith, Bayu), Komdik Sibolga (Imel, Marna), Komdik
Sintang (Apeng, Yusi, Das, Alfung), Komdik Surabaya (Wenny, Kartika,
Panca, Adit, Dety), Leonardus-Komdik Weetebula, Jimmy UsfunanDominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Hukum Univ Udayana-Denpasar. Terimakasih atas kebersamaan kita
dalam pendampingan Jakarta-Yogya-Klaten, kebersamaan dalam dunia
maya, sms/telp dalam berbagi saran/semangat luar biasa, semoga kita
menjadi penerus intelektual dalam dunia realita, terimakasih atas
persaudaraan kalian, miss you all.
20. Spesial buat seseorang yang luar biasa dalam hidup penulis yang telah
menjadi patner terbaik, Mas Timotius Yanuardi Permana SatriawanYogya, yang telah setia berbagi kisah, saran, kebersamaan dan dengan
kesabaran mendukung penulis untuk tetap menyelesaikan skripsi ini, I
miss u and I luv you.
21. Terkhusus buat sahabat seperjuangan stambuk 2005, Very Laia, Andri,
Tuti, Ando, Syahferry, Hery M, Hery S, Toni, Bambang, Alisha, Roseva,
Sri, Salsa, Wendy, Juli, Marsono, Naomi, Fauzi, Mahruzi, Edison,
Remaja, Seri Wedari, Yenni, Eldevia, Dwika, Fitri, Vera, Angga, Mia,
Hendra, Erna, Vivi, Minartina, Ria, Tika, Sukma, Criston, Eva Manurung,
Dangiel, Erold, Sulia Rimbi dan Darwin.
22. Buat pembanding penulis saat seminar Mas Dani dan Erika Nadeak,
terimakasih atas saran dan pertanyaan dari kalian sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dan buat semua kerabat antropologi stambuk
2001, 2002, 2003, 2004, 2006, 2007, 2008, 2009, terimakasih buat kisah
luar biasa yang turut kalian berikan kepada penulis dalam menempuh studi
di Antropologi serta semua pihak yang telah membantu yang tidak
disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terimakasih.
Akhir kata, atas bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, penulis
mendoakan semoga Kasih dari Allah Tritunggal Yesus Kristus selalu memberikan
limpahan kasih dan berkatnya kepada kita dan semoga skripsi ini memberikan
manfaat bagi kita semua.
Medan 13 Desember 2009
Salam Kasih,
DOMINIRIA HULU
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Daftar Isi
KATA PENGANTAR…………………………………………………..…… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………. vi
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………… viii
DAFTAR DIAGRAM……………………………………………………….. xi
DAFTAR TABEL………………………………………………….………… xii
ABSTRAK……………………………………………………………………. xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah…………………………………….
1.2. Ruang Lingkup Masalah dan Lokasi Penelitian....................
1.3. Tujuan penelitian...................................................................
1.4. Manfaat Penelitian.................................................................
1.5. Tinjauan Pustaka……………………………………………
1.6. Metodologi Penelitian............................................................
1.7.Teknik Analisis Data dan Kendala yang Dihadapi
Penelitian...............................................................................
1
8
8
9
9
18
saat
24
BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN NIAS
2.1. Letak dan Keadaan Geografis Kabupaten Nias....................
2.2. Kependudukan .....................................................................
2.3. Sejarah Suku Nias.................................................................
2.4. Keadaan Desa Penelitian.......................................................
2.4.1 Desa Dahana Tabaloho.................................................
2.4.2 Desa Onolimbu Raya.....................................................
2.5. Sistem Kekerabatan Masyarakat Nias……………………...
2.7. Perkawinan Suku Nias..........................................................
26
31
36
38
38
46
48
57
BAB III ARTI TANAH DAN HUKUM PADA MASYARAKAT NIAS
3.1. Arti Tanah pada Masyarakat Nias......................................... 67
3.2. Sistem Kepemilikan Tanah pada Masyarakat Nias............... 75
3.2.1. Berdasarkan Keturunan/Kerajaan Tetehöli Ana’a....... 75
3.2.2. Berdasarkan Fondrakö Bonio oleh Sitölu Tua............. 78
3.2.3. Perolehan Kepemilikan Tanah Berdasarkan Komunitis. 78
3.2.4. Berdasarkan Sistem Kepemilikan Tanah Secara Ideal... 83
3.3. Hukum yang Berlaku pada Masyarakat Nias.......................... 88
3.3.1. Hukum Waris................................................................. 88
3.3.1.1. Kedudukan Pria dan Wanita Nias dalam Memperoleh
Harta Waris.................................................................... 88
3.3.2. Hukum Adat.................................................................. 91
3.3.2.1. Hukum Adat Fondrakö......................................... 91
3.5. Susunan Lembaga Adat Nias................................................. 94
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB IV SENGKETA TANAH DAN PROSEDUR
PENYELESAIANNYA PADA MASYARAKAT NIAS
4.1. Sengketa Tanah yang Terjadi pada Masyarakat Nias……. 100
4.1.1 Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Tanah pada
Masyarakat Nias……………………………………….…
101
4.2. Contoh Kasus Sengketa Tanah yang Terjadi Pada Masyarakat
Nias…………………………………………………………. 104
4.2.1. Kasus Terhadap Harta Waris dari Pihak Suami yang Telah
Meninggal……………………………………….…... 104
4.2.2 Kasus Sengketa Tanah karena Adanya Pembangun… 106
4.2.2.1. Kasus Sengketa Tanah antara Kontraktor dan
Pemberi Bantuan…………………………….. 106
4.2.2.2. Kasus Sengketa Tanah antara Kontraktor dan
Pemilik Lahan……………………………….. 109
4.2.3. Kasus yang berkaitan dengan status kepemilikan tanah dan
kasus pembayaran piutang terjadi di desa Onolimbu
Raya…………………………………………………… 113
4.3. Prosedur Penyelesaian Kasus Sengketa Tanah pada Mayarakat
Nias.............................................................................................. 118
4.4. Peranan Siteoli dengan tokoh adat Nias, peranan Mediator dan
Kepala Desa dalam penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat
Nias......................................................................................... 121
4.5. Analisis Penyelesaian Sengketa Tanah di desa Dahana Tabaloho
dan Desa Onolimbu Raya.........................................................124
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan............................................................................ 129
5.2. Saran...................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 133
Lampiran
1. Daftar Istilah
2. Peta Perjalanan Penelitian di Desa Dahana Tabaloho
3. Peta Perjalanan Penelitian di Desa Onolimbu Raya, Mandrehe
Barat
4. Beberapa Surat Perjanjian dan Surat Penyelesaian Sengketa
Tanah di Desa Dahana Tabaloho dan Desa Onolimbu Raya
5. Contoh Akta Pelepasan Hak dengan Ganti Rugi Tanah
6. Surat Izin Penelitian dan Surat Keterangan Penelitian
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Daftar Gambar
Halaman
Gambar 1. Gambar Pulau Nias yang menunjukkan banyaknya pulau-pulau di
Nias………………………………………………………………………..26
Gambar 2. Gambar Pulau Nias yang menunjukkan keindahan alam Nias yang
kaya akan keindahan pantai …………………………………………………27
Gambar 3. Peta perjalanan ke pulau Nias dari Kota Medan ke Sibolga dan dari
Sibolga ke Nias…………………………………………………………..29
Gambar 4. Peta Pulau Nias ..........................................................................30
Gambar 5. Perumahan di Nias………………………………………………32
Gambar 6. Pertanian sebagai salah satu mata pencaharian terpenting dalam
kehidupan masyarakat Nias……………………………………………33
Gambar 7.
Perkebunan kelapa yang ada di pinggir pantai Sirmbu Nias
………………………………………………………………………33
Gambar 8. Ternak babi yang dimiliki oleh warga Sirombu Nias sebagai salah satu
mata pencaharian dan kegiatan adat perkawinan……………………34
Gambar 9. Batu Megalith di desa Dahana Tabaloho………………………40
Gambar 10. Tradisi perkawinan di Nias dimana pihak laki-laki membuat
penghormatan kepada pihak perempuan dengan memberi sirih…………………51
Gambar 11. Gambar lambang pulau Nias …………………………………64
Gambar 12.
Megalith/tugu kebesaran pada masyarakat Nias dan rumah adat
masyarakat
nias..................................................................................................................69
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 13. Rumah adat bagian utara ………………………………70
Gambar 14. Rumah adat bagian selatan ………………………………….70
Gambar 15. Proyek pembangunan pariwisata di lokasi penelitian desa dahana dan
Sirombu………………………………………………………… 73
Gambar 16. Salah satu contoh pembangunan gedung sekolah…………………70
Gambar 17. Rumah pengungsi……………………………………………74
Gambar 18. Penyebaran kepemilikan tanah pada masyarakat Nias, dari buku asal
usul masyarakat Nias suatu interpretasi …………………………………75
Gambar 19. Pegesahan secara adat di desa dalam kegiatan perkawinan wamozi
aramba………………………………………………86
Gambar 20. Pengesahan adat perkawinan wamozi aramba dihadiri para tokoh2
adat setempat …………………………………………………………… 86
Gambar 21. Daging babi yang digunakan untuk pengesahan adat…..………….86
Gambar 22. Penyerahan daging babi kepada pengetua adat ………………… 86
Gambar 23. Minuman yang disajikan serta sirih yang merupakan simbol dari
pelaksanaan kegiatan adat ………………………………………………………87
Gambar 24. Isi dari larangan di arah pintu masuk lokasi lahan yang
dipersengketakan..................................................................................... 107
Gambar 25. Isi dari larangan di arah pintu keluar lokasi lahan yang
dipersengketakan.............................................................................. 107
Gambar 26. Lahan perumahan pengungsi yang menjadi sengketa……….… 110
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar
27. Lahan yang dijanjikan oleh Ir. Adieli Gulö kepada Ibu Saina
Ndraha...110
Gambar 28. Keadaan rumah Ibu Saina Ndraha yang hingga sekarang belum
direnovasi oleh Alm. Ir. Adieli Gulö……………………………………..
111
Gambar 29. Keadaan lantai dan dinding rumah Ibu Saina Ndraha yang belum juga
direnovasi sesuai janji Alm. Ir. Adieli Gulö…………….. 111
Gambar 30. Ama Johan dan Rumah Ama Johan ……………………. 115
Gambar 31. Istri dari Ama Isa dan rumah dari Ama Isa .............................
117
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Daftar Diagram
Halaman
Diagram 1: diagram kekerabatan asal usul masyarakat Nias Buku Bapak Faogöli
Harefa “Hakayat dan cerita Bangsa dan Adat Nias Diterbitkan oleh
Rapatfonds Residentte Tapanuli, 1939 ............................................... 49
Diagram 2 : Istilah kekerabatan ......................................................................... 52
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Daftar Tabel
Halaman
Tabel 1: tabel analisis sengketa tanah dan prosedur penyelesaian pada masyarakat
Nias…………………………………………………………………………
118
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
ABSTRAK
SENGKETA TANAH DAN PROSEDUR PENYELESAIANNYA,
Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum Terhadap Sengketa Tanah dan
Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias, (Dominiria Hulu, 2009).
Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 137 halaman 1 tabel 2 diagram, 27 daftar
pustaka, lampiran yang terdiri dari contoh surat akta tanah, surat
perjanjian, peta desa dan surat penelitian.
Penelitian ini dilakukan pada dua lokasi di Nias yakni Desa Dahana dan
Desa Onolimbu Raya yang mengkaji hal yang mendasari terjadinya sengketa
tanah, prosedur penyelesaiannya dan sistem hukum yang secara operasional
berlaku pada masyarakat Nias Sengketa tanah pada masyarakat Nias pada
umumnya terjadi disebabkan pada adanya batas-batas tanah yang belum jelas,
sertifikat yang kurang sah, masyarakat yang hanya berpatok pada jenis tanaman
yang dibuat sebagai batas tanah sehingga terkadang menimbulkan adanya
kesalahpahaman ketika tanah tersebut sudah menghasilkan atau bernilai ekonomi
serta permasalahan lainnya ketika anak dari pemilik tanah pergi merantau dan
anaknya tersebut tidak mengetahui batas tanah yang diwariskan kepadanya.
Sengketa tanah yang terjadi telah menunjukan adanya kemajemukan hukum
yang secara operasional terjadi dalam penyelesaiannya yakni dengan adanya tiga
tahapan penyelesaian sengketa tanah tersebut diantaranya kekeluargaan,
musyawarah adat dan pengadilan. Dari ketiga tahapan penyelesaian sengketa
tersebut, tahapan penyelesaian secara kekeluargaan dan musyawarah adat sangat
berperan penting, tentunya dengan menggunakan mediasi.
Hasil penelitian lapangan menunjukan peran dari kepala desa, tokoh agama
dan tokoh adat pada masyarakat Nias telah memberikan pengaruh besar bagi
terselesaikannya masalah-masalah sengketa tanah yang sering terjadi. Hal ini
semakin diperkuat dengan adanya sikap menghargai dari masyarakat Nias
terhadap hal-hal yang diputuskan oleh ketiga tokoh tersebut dalam menyelesaikan
permasalahan sengketa baik secara tertulis maupun secara lisan.
Kesimpulan penelitian bahwasanya kekerabatan masih dijunjung tinggi
dalam menyelesaikan masalah sengketa yang terjadi. Falsafah yang terjalin erat
dalam kehidupan masyarakat Nias yang tertulis dalam jiwa-jiwa Fondrakhö telah
menjadi acuan dalam terselesaikannya persengketaan yang terjadi. Hasil
keputusan dari 5 (lima) kasus yang diteliti terdapat satu kasus yang selesai
dengan cara membiarkan saja, 3 kasus yang tuntas dengan adanya bukti perjanjian
yang dilaksanakan melalui musyawarah adat dan satu kasus yang menggunakan
jasa mediator Pendeta dengan pihak yang memberi bantuan walaupun hingga
sekarang permasalahannya masih belum selesai. Beberapa kasus yang terjadi
awalnya menyebabkan beberapa pihak menjadi renggang namun ada juga
masyarakat yang makin akrab karena terjadinya penyelesaian yang sama-sama
tidak merugikan dan adanya sikap mengalah dari pihak lain demi tercapainya
sebuah penyelesaian ditingkat lokal.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Tanah sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Yakni
sebagai kekuatan dan kekuasaan untuk diolah dan dimanfaatkan secara baik untuk
memenuhi segala kebutuhannya. Sumber penghidupan ini selanjutnya akan
memberikan pengaruh terhadap pola budaya dan sosial masyarakat. Pola budaya
dan sosial masyarakat tersebut terlihat dari tanggapan yang berbeda dari setiap
masyarakat yang ada di Indonesia dalam memaknai arti tanah. Menurut Ahmad
Tohari (2007) tanah bagi masyarakat Jawa yakni ibu kehidupan dan sifatnya
sangat suci, bahkan
ada pepatah Jawa yang mengatakan Sakdumuk bathuk
saknyari bumi dibelani nganti mati1.
A Latief Wiyata (2008) juga mengungkapkan makna tanah pada
masyarakat Madura yakni tanah pertanian merupakan aset kekayaan yang tidak
ternilai harganya. Kehidupan mereka sangat bergantung sekaligus ditopang secara
dominan oleh tanah. Lebih penting lagi, tanah yang mereka miliki merupakan
warisan orangtua atau kakek-nenek secara turun-temurun. Status pemilikan tanah
seperti ini memiliki makna dan kekuatan yang sangat suci. Carol Mampioper
(2007) menuliskan sebuah filosofi tanah bagi orang Papua, bahwasanya tidak ada
kehidupan diatas muka bumi ini jika tidak ada tanah. Tanah sama dengan manusia
dan tanah itu adalah kehidupan, tanpa tanah orang Papua tidak akan hidup.
1
Pepatah yang menggambarkan tekad Masyarakat Jawa membela kepemilikan tanahnya sampai mati
meskipun tanah tersebut hanya seluas jari.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Permasalahan pertanahan merupakan suatu permasalahan yang cukup
komplek dan membutuhkan waktu yang panjang dalam penyelesaiannya.
Masalah-masalah pertanahan tersebut akan menimbulkan sengketa tanah.
Berbicara tentang sengketa tanah seperti dilangsir oleh media Suara Pembaruan
(2007), sedikitnya 3.000 hektare (ha) tanah di kabupaten maupun kota di
Sumatera Utara (Sumut) masih bermasalah. Sumatera Utara berada pada urutan
ketiga dalam kasus sengketa tanah setelah DKI Jakarta, Surabaya dan Jawa Timur.
Persoalan tanah memiliki dampak yang sangat besar, yakni di antara masyarakat
yang terlibat persengketaan tersebut sering bertikai. Persoalan tanah sangat
sensitif
dan
berdampak sangat luas, misalnya satu keluarga rela saling
membunuh hanya demi mempertahankan status tanah yang dianggap sebagai
miliknya.
Pelaksanaan musyawarah dalam penyelesaian sengketa tanah yang
terdapat pada masyarakat Madura merupakan fenomena pluralisme hukum yang
nyata dalam menyelesaikan persoalan sengketa tanah. Hal ini dituliskan oleh Lucy
Dyah Hendrawati (2005) yang mengungkapkan bahwa untuk mempertahankan
harga diri dan kehormatan, bisa dilakukan dengan jalan persahabatan dan
perdamaian yaitu melalui sumpah pocong 2 sebagai upaya penyelesaian sengketa.
Anto Achadiat dalam Ihromi (1993) menyatakan bahwa kasus sengketa
yang terjadi pada dua masyarakat Tenda dan Kumba di kabupaten Manggarai
Flores Barat, Nusa Tenggara Timur pada dasarnya menempati wilayah yang sama,
2
Pelaksanaan sumpah pocong selalu dilakukan di masjid, seperti halnya di mesjid Madegan desa Polagan
sampang-Madura. Hal ini dilakukan di mesjid karena akan menambah kenyakinan bagi orang yang disumpah
dan memiliki keampuhan dari sumpah pocong tersebut. Jadi, sumpah pocong berarti pernyataan tentang janji
yang dilakukan oleh penganut agama Islam dengan cara dibalut seluruh tubuhnya dengan kain kafan seperti
orang meninggal, disumpah di bawah kitab suci Al Qur’an. Sumpah pocong memiliki konsekuensi, apabila
keterangan atau janjinya tidak benar, orang yang disumpah diyakini mendapat hukuman dari Tuhan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
hanya dibatasi dan dipisahkan oleh jalan negara. Kedua warga masyarakat
tersebut merupakan satu kerabat dekat menurut prinsip moety 3. Warga masyarakat
tersebut diatas memperebutkan tanah lingko atau tanah adat yang disebut Lingko
Gewek dan Lingko Poceng.Kasus tanah tersebut menjadi sangat penting karena
penyelesaiannya bertingkat-tingkat mulai dari musyawarah sampai akhirnya pada
keputusan Mahkamah Agung, tetapi penyelesaian yang diharapkan tidak tercapai
bahkan menimbulkan ketegangan dan keretakan dalam kehidupan sosial kedua
warga masyarakat yang pada dasarnya masih kerabat (Achadiat,1983.
Masyarakat Nias menggangap tanah merupakan aset berharga, sumber
penghidupan serta sebagai warisan yang tidak boleh dijual karena tanah tersebut
kelak merupakan warisan buat anak cucunya. Dahulunya kekayaan orangtua
diukur dari seberapa luas tanah yang dimilikinya. Seperti seorang Kepala Suku
atau yang disebut Tuhenöri 4 setidaknya mempunyai tanah untuk 7 generasi
berikutnya. Tidak hanya kaum bangsawan saja yang memiliki tanah luas, rakyat
biasa atau Sato/banua 5 juga mempunyai lahan luas yang ditandai dengan
dibukanya perladangan-persawahan baru.
Menurut Pastor Flavius OFM Cap (2005), berharganya tanah bagi
masyarakat Nias sehingga ada ungkapan mengatakan bila membeli tanah di Teluk
Dalam, Kabupaten Nias Selatan, berarti membeli masalah. Masalah timbul ketika
adanya transaksi jual-beli tanah dan masalah tanah ini berlangsung hingga
3
Prinsip paruh masyarakat dimana suatu kesatuan masyarakat terbagi ke dalam dua klen yang dapat
berlandaskan pada prinsip garis keturunan patrilineal atau matirineal atau dapat pula berlandaskan pada
prinsip senioritas yang dihitung dari cikal bakal warga masyarakat tersebut. Paruh masyarakat Manggarai
adalah gambaran gabungan antara patrilineal dan senioritas.
4
Kasta Bangsawan bagi masyarakat Nias. . Tuhenöri (sebutan pemimpin bagi nias utara sedangkan di nias
selatan Si’ulu atau Salaŵa), merupakan orang yang memimpin beberapa kumpulan desa, menjalankan adat
dan yang mengambil keputusan sebuah hukum adat dalam sebuah wilayah atau kampung yang dipimpinnya.
5
Kasta masyarakat biasa bagi masyarakat Nias. Sato merupakan rakyat biasa yang menjalankan perintah dari
Si’ulu. Dalam hal mengamankan ketertiban desa dan sebagainya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
bertahun-tahun. Harian Waspada (2008) juga menuliskan tentang “relokasi rumah
pengungsi di Nias menjadi sengketa”. Pembangunan relokasi 109 unit rumah
pengungsi korban gempa Nias di Desa Dahana, Kecamatan Gunungsitoli menjadi
sengketa. Pasalnya lahan seluas 18.600 M2 untuk pertapakan pembangunan
rumah yang didanai dari anggaran BRR tahun 2005 sampai saat ini masih belum
tuntas.
Dalam hal kepemilikan tanah pada masyarakat Nias, kebanyakan hanya
berpatokan pada pilar-pilar tanah sebagai batas dari kepemilikan tanahnya dan
keabsahannya hanya diketahui pihak keluarganya sendiri atau orang-orang yang
berada disekitarnya. Pembatasan tanah yang dilakukan biasanya menggunakan
berbagai macam tumbuhan seperti pohon pinang, pohon jati dan sebagainya dan
cara penanamannya haruslah tegak lurus sesuai dengan batas tanah yang telah
disepakati. Hal ini yang kemudian menimbulkan adanya sengketa.
Sengketa
terjadi ketika:
1. Penguasaan lahan produktif yang bukan hak milik
2. Status tanah yang tidak pasti
3. masalah penjualan tanah yang tidak jelas ukurannya
4. Masyarakat Nias yang merantau
5. Akibat adanya pembangunan dan;
6. Perolehan harta warisan dari pihak laki-laki (suami dari si pemilik
lahan).
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Masyarakat Nias yang menganut sistem patrilineal memiliki hubungan
kekerabatan antar sesama mado 6 yang cukup erat. Sengketa tanah yang sering
terjadi antar warga desa terkadang meruntuhkan sistem kekerabatan yang telah
erat dibangun selama ini. Akhir-akhir ini mulai terjadi, ketika tanah sudah mulai
berharga. Tanah yang awalnya hanya sebagai lahan pertanian bahkan lahan yang
tidak berproduktif menjadi perebutan antar saudara, tetangga bahkan antar desa
karena adanya pembangunan.
Sengketa tanah yang terjadi di Nias dimulai dari famadöge ola7, hingga
timbul faudusa 8
antar dua pihak dan biasanya dua pihak ini merupakan
tetangganya serta saudara kandungnya. Ketika ketegangan semakin menjadi dan
tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak yang bertikai maka faudusa
tersebut dibawa menjadi farakaro danö 9 kepada penetua-penetua adat untuk
diselesaikan secara kekeluargaan melalui hukum adat.
Menurut Ama Aldo Telambanua (2007), masyarakat Nias menganggap
bahwa hukum adat merupakan buah karya yang tidak dapat ternilai harganya.
Hukum adat ini di kenal dengan sebutan Fondrakō 10 dalam masyarakat Nias.
Fondrakō merupakan hukum yang mengatur segala sesuatu kehidupan masyarakat
Nias yang di dalamnya berisikan aturan-aturan dan hukum yang mengatur
6
Marga
Batas tanah digeser
8
Perkelahian antar dua pihak/dua keluarga
9
Perkara tanah. Perkara ini muncul karena ketidakpuasan salah satu pihak dalam hal memperoleh
hak dalam kepemilikan tanahnya .
10
Fondrakö ialah musyawarah dan upacara penetapan, pengesahan adat dan hukum yang akan
diberlakukan dalam suatu lingkungan masyarakat, dipimpin oleh Pucuk Pimpinan Badan
Kekuasaan Resmi. Fondrakö juga sebagai lembaga konstitusional legislatif dalam masyarakat
tradisional masyarakat Nias dan hukum adat yang sifatnya hidup dan berkembang dengan
fleksibel.
7
11. Desa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
hubungan sosial antar masyarakat yang dapat menjamin keamanan dan
kesejahteraan lahir batin sampai ke anak cucu.
Farakaro tanö tidak hanya terjadi antar warga masyarakat saja namun
antar desa dalam hal batas tanah juga seringkali terjadi bahkan ini menyebabkan
adanya perang antar banua 11. Farakaro yang diselesaikan secara adat
yakni;
Ketua Adat menyuruh dubala (prajurit) untuk mengumpulkan para saksi,
mengumpulkan orang-orang yang tanahnya berbatasan untuk bersama-sama pergi
ke lokasi yang sedang diperebutkan dan melihat dimana batas tanah yang
sebenarnya.
Untuk mengetahui batas tanah yang sebenarnya maka Siteoli akan
mempertanyakannya kepada para saksi yang tertera namanya dalam surat tanah,
apabila terbukti orang yang bersangkutan telah melewati batas tanah dan mengaku
bahwa itu merupakan kepunyaannya maka orang tersebut akan dikenakan
hukuman. Hukuman itu berupa membayar sejumlah uang karena terbukti telah
mengambil milik kepunyaan orang lain (huku zanga’i zitenga khōnia) dan uang
tersebut akan dibagikan kepada para saksi, Ketua Adat, dubala dan orang-orang
yang hadir pada saat itu. Jika pihak penetua adat tidak dapat menyelesaikan
persoalan kedua belah pihak yang bertikai maka farakaro tersebut akan
diserahkan ke pengadilan untuk diselesaikan dengan menggunakan hukum negara
yang disebut huku amadöniwa tanö 12 di Lembaga Pengadilan Nias.
Permasalahan sengketa diatas menimbulkan ketertarikan penulis untuk
melakukan penelitian mengenai proses terjadinya sengketa tanah tersebut dan
prosedur penyelesaiannya. Gempa yang terjadi tanggal 28 maret tahun 2005 telah
12
Hukum sengketa tanah.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
membawa pengaruh yang signifikan dalam kehidupan suku bangsa Nias mulai
dari pola tingkah laku, pola pikir hingga berharganya sejengkal tanah. Tanah
mulai menjadi lahan basah yang menjanjikan bagi masyarakat Nias dan itu terlihat
dari
pelaksanaan
proyek
pengembangan
pembangunan
Nias.
Proyek
pembangunan Nias ini ditandai dengan masuknya Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) dari Indonesia dan Non Government Organization (NGO) yang dari Luar
Negeri, yang prioritasnya mengarah pada pembangunan yang membutuhkan tanah
masyarakat.
Penulis ingin melihat bagaimana proses hukum yang berlaku pada
masyarakat Nias dalam menyelesaikan persoalan sengketa tanah. Mulai dari
proses pra-konflik, konflik hingga terjadinya sengketa tanah. Adapun hukum yang
digunakan dalam menyelesaikan sengketa tanah di Nias adalah Hukum Adat yang
disebut sebagai Fondrakö, Hukum Agama dan Hukum Negara. Hal ini
menunjukan bahwa suatu proses penyelesaian sengketa tingkat apapun selalu
menunjukan gejala yang dikenal dalam ilmu antropologi sebagai gejala
pluralisme hukum (Achdiat,1983).
Keadaan ini dimungkinkan karena sifat yang kompleks dari kehidupan
manusia itu sendiri, karena manusia tidak hanya sebagai bagian dari kehidupan
suatu negara, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan kebudayaannya, baik
kebudayaan suku bangsanya, kebudayaan daerahnya, kebudayaan agamanya, dan
dalam kehidupan sosialnya. Tentunya hal ini digunakan sebagai alat untuk
meperoleh sumber daya yang berharga dan terbatas.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
1.2 Ruang Lingkup Masalah dan Lokasi Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka masalah
penelitian ini adalah bagaimana sistem kepemilikan tanah yang ada di Nias serta
prosedur dari penyelesaian sengketa tanah tersebut dengan mengunakan situasi
pluralisme hukum. Maka penelitian ini akan menggambarkan :
1. Apa saja hal yang mendasari terjadinya sengketa tanah bagi masyarakat
Nias?
2. Bagaimanakah prosedur penyelesaian sengketa tanah di Nias dan siapakah
yang menjadi mediator dalam penyelesaian sengketa tersebut?
3. Bagaimanakah sistem hukum tersebut secara operasional bekerja dalam
kehidupan masyarakat Nias.
Penelitian akan dilakukan di Desa dahana, Kecamatan Gunungsitoli dan
Desa Onolimbu Raya Kecamatan Mandrehe Barat, Kabupaten Nias karena di dua
desa tersebut terdapat masalah sengketa tanah yang menggunakan penyelesaian
secara hukum lokal atau secara adat Nias, selain itu lokasi sangat mudah
dijangkau dengan kendaraan motor maupun mobil.
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini tidak hanya melihat hukum-hukum ideal tetapi
menunjukkan perilaku dan persepsi orang terhadap hukum adat secara aktual.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan dalam status
kepemilikan tanah masyarakat Nias karena proyek pengembangan dan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
pembangunan Nias sesudah gempa 28 maret 2005 yang membutuhkan banyak
tanah. Penelitian ini juga menunjukan secara aktual pilihan-pilihan hukum dalam
penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat Nias dan bagaimana Sitölungasi dan
tokoh adat Nias lainnya memiliki peranan penting dalam menyelesaikan
permasalahan sengketa tanah yang ada sehingga penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap masyarakat Nias maupun masyarakat adat
lainnya dalam menyelesaikan permasalahan tanah dalam konteks kekeluargaan
dan adat atau secara hukum lokal.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dan khasanah
pengetahuan budaya yang dikaitkan dengan hukum. Akibat adanya pluralisme
hukum, diharapkan adanya penelitian lanjutan yang mengulas tentang budaya
yang dihubungkan dengan pluralisme hukum yang ada di Indonesia.
1.5 Tinjauan Pustaka
Pertanahan di Indonesia berperan sentral bagi seluruh rakyatnya. Menurut
Joyo Winoto (2008) mengatakan bahwa tanah memiliki keterkaitan erat dengan
kebangsaan, pembangunan, kemakmuran rakyat, identitas kebangsaan, fungsi
keadilan sosial serta tanah untuk kehidupan.
Suriani (2003) mengungkapkan bahwa di Sulawesi Selatan, tepatnya di
Kabupaten Bulukumba, masih terdapat komunitas masyarakat suku bangsa
Kajang yang berpegang teguh pada adat dan tradisi yang menganggap tanah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
laksana ibu yang harus dijaga dan dipelihara, karena telah memberikan segalagalanya bagi kehidupan manusia.
Masyarakat Nias sangat menjunjung nilai tanah sebagai sesuatu yang
sangat berharga dan merupakan titipan sementara dari Tuhan untuk diolah dan
dimanfaatkan secara baik demi keberlangsungan hidup dan sewaktu-waktu tanah
bisa menjadi masalah yang besar ketika tidak dipergunakan secara adil. Tanah
bagi masyarakat Nias mengambil peranan penting dalam proses aktualisasi diri
sebagai sebuah simbol pulau yang subur yang terdapat pada identitas masyarakat
Nias, selain itu tanah menjadi pertanda kekuasaan seseorang serta laju
perekonomian masyarakat Nias.
Pentingnya arti tanah bagi kehidupan masyarakat lambat laun akan
menimbukan
terjadinya
permasalahan
sengketa
karena
akhir-akhir
ini
permasalahan sengketa selalu dijumpai dalam kehidupan manusia atau kehidupan
bermasyarakat demikian juga pada masyarakat Nias. Ahli Antropologi Hukum
seperti Nader dan Todd mengungkapkan ada tiga tahapan terjadinya suatu
sengketa yakni:
1. Pra-konflik : keadaan yang mendasari rasa tidak puas seseorang
2. Konflik : keadaan dimana para pihak menyadari atau mengetahui tentang
adanya perasaan tidak puas tersebut
3. Sengketa : adalah keadaan dimana konflik tersebut dinyatakan dimuka
umum atau dengan melibatkan pihak ketiga.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Sedangkan, menurut Comaroff dan Roberts dalam Ihromi (1993) sengketa
dapat timbul diantara :
1. Individu -individu dari :
a. kelompok yang berbeda, misalnya pada sengketa tanah yang terjadi
antara individu dari klen yang berbeda.
b. Satu kelompok (within group and inter group), misalnya pada sengketa
tanah waris antar individu dari satu klen yang dinamakan “interhouse”
atau “intergenerational”.
2. Kelompok-kelompok (antar kelompok atau intra group), yaitu sengketa antar
sub-sub kelompok yang otonom dalam satu kelompok atau antar kelompok yang
besar yang otonom dalam masyarakat yang dinamakan sengketa interhouse
(Ihromi, 1993 :225).
Menurut Sally Folk Moore dalam Ihromi (1993) mengatakan bahwa
pendekatan dalam mempelajari hukum sebagai proses akan lebih menguntungkan
karena lebih memungkinkan untuk melihat sejauh mana hukum itu berfungsi
dalam masyarakat senyata-nyatanya. Suatu hukum yang tidak pernah dilanggar
mungkin berupa suatu kebiasaan saja. Sifatnya sebagai hukum itu, barulah akan
diketahui bila aturan itu dipertahankan dalam suatu perbuatan hukum melalui
penerapan suatu sanksi hukum (Hoebel, 1954: 37). Hal ini dapat diketahui bila
yang dikaji adalah kasus-kasus sengketa. Kemudian bila kasus-kasus itu diamati
dan
diperhatikan
siapakah
yang
melakukan
sesuatu
terhadap
perilaku
penyimpangan dari norma, maka hal itu akan mengungkapkan petunjuk-petunjuk
mengenai struktur dari masyarakat bersangkutan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Roscoue Pound (1965) merasa bahwa hukum adalah rekayasa sosial.
Pokok yang mendasari padangan rekayasa sosial ini adalah dugaan bahwa
hubungan -hubungan sosial rentan terhadap kontrol manusia yang terkendali, dan
alat untuk mencapai ini adalah hukum. Hukum adalah istilah ringkasan yang
menggambarkan suatu himpunan yang kompleks dari prinsip-prinsip, normanorma, ide-ide, aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan, dan untuk kegiatan-kegiatan
dari alat-alat perlengkapan negara yang berkenaan dengan perundang-undangan,
pemerintahan, peradilan dan pelaksanaan putusannya yang didukung oleh
kekuatan politik dan legitimasi. Hukum lokal sebagai bagian dari pluralisme
hukum masih berlaku pada masyarakat Nias yang merupakan masyarakat adat
yang hidup dan bersosialisasi berdasarkan garis keturunan laki-laki serta eratnya
kaitan talifusö atau persaudaraan menjadi pemicu terselesaikannya permasalahan
sengketa tanah yang ada.
Pluralisme hukum dimunculkan sebagai tanggapan terhadap adanya paham
sentralisme hukum, yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa hukum sudah
seharusnya merupakan hukum negara, berlaku seragam untuk semua orang,
berdiri sendiri dan terpisah dari semua hukum yang lain dan dijalankan oleh
seperangkat lembaga-lembaga negara. Bahkan Griffith berpendirian bahwa
pluralisme hukum dan sentralisme hukum merupakan dua kutub yang secara tegas
saling berhadapan. Sedangkan konsepsi pluralisme hukum menurutnya adalah
adanya lebih dari satu tatanan hukum dalam suatu arena sosial (Ihromi, 1993).
Frans Von Benda-Beckmann dalam Ihromi (1993) mengatakan bahwa jika
keanekaragaman sistem hukum merupakan situasi yang umum, atau setidakDominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
tidaknya terjadi dalam suatu lapangan kajian tertentu, maka hal yang menarik
bukanlah terletak pada tempat yang ditunjukkannya keanekaragaman peraturan
hukum, tetapi yang lebih penting adalah apakah yang terkandung dalam
keanekaragaman hukum itu, bagaimanakah sistem-sistem hukum itu saling
berinteraksi satu sama lain, bagaimanakah keberadaan sistem-sistem hukum itu
secara bersama-sama dalam suatu lapangan kajian tertentu.
Pendekatan pluralisme hukum dalam suatu lapangan pengkajian apapun
menurut Frans Von Benda-Beckmann akan sampai pada tiga perangkat
pertanyaan mengenai sistem hukum yang beragam itu:
1. Sistem-sistem
normatif
yang
bagaimanakah
yang
tercipta
dan
bagaimanakah sistem itu dipelihara dan diubah (oleh siapa, bagaimana) dalam
setiap lapangan tertentu yang dipilih untuk dikaji. Bagaimanakah dalam sistemsistem normatif yang majemuk itu terbentuk saling hubungan satu sama lain;
Apakah pengaruh dari konstelasi sistem normatif tertentu terhadap perilaku orang;
2. Pertanyaan ketiga berhubungan dengan apakah signifikasi yang terdapat
pada perilaku bagi interaksi selanjutnya dan bagaimanakah pemeliharaan sistem
hukum yang saling berhubungan itu.
Pertanyaan-pertanyaan ini akan ditemukan dalam setiap usaha untuk
melukiskan dan menganalisa setiap peristiwa khusus atau interaksi, meskipun
jawabannya secara analitik akan berbeda dan biasanya jawaban tersebut akan
ditemukan dalam perangkat-perangkat gejala yang sangat berbeda pula (Ihromi,
1993).
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Sulastriyono dalam Ihromi (2000) mengungkapkan bahwa dalam
menyelesaikan kasus penguasaan tanah timbul di muara sungai Citandui
kenyataannya terdapat dua hukum yang berlaku dalam menyelesaikan kasus
tersebut yakni hukum Negara dan hukum lokal yang berlaku secara bersamasama digunakan sebagai dasar hukum oleh para pihak dalam melaksanakan
penguasaan tanah timbul.
Hoebel dalam Ihromi (1993), mengatakan penerapan metode kasus
sengketa dengan memasukkan kajiannya sebagai alat mengungkapkan hukum
secara substantif dan juga prosedur-prosedur yang ditempuh serta untuk dapat
memperlihatkan nilai-nilai dalam hukum, atau malahan postulat-postulat hukum,
maka Nader menekankan pada kajian tentang proses yang berlangsung mulai dari
adanya keluhan-keluhan, ungkapan perasaan, adanya perlakuan yang tidak adil,
selanjutnya melihat apakah sengketa mengalami proses eskalasi atau tidak,
bagaimana penanganan selanjutnya dan adakah penyelesaian atau tidak.
Cara-cara yang ditempuh untuk menyelesaikan sengketa tanah menurut S.
Roberts yakni; penggunaan kekerasan secara langsung amupun pribadi, melalui
upacara atau ritus, mempermalukan misalnya dengan sindiran/kiasan, melalui
makhluk-makuhluk supranatural, pengucilan, melalui pembicaraan yang terdiri
dari pembicaraan langsung atau negosiasi serta pembicaraan tidak langsung atau
dengan bantuan pihak ke-3, baik yang bertindak sebagai penengah maupun
sebagai pihak ikut yang menyelesaikan dalam hal ini peradilan. Sedangkan P.H
Gulliver dan L. Nader secara khusus membahas sengketa dengan menekankan
pada; hasil yang diperoleh dan para pihak yang terlibat atau model keputusan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
yakni yang menyangkut dua pihak yang berkepentingan serta melibatkan pihak
ketiga (Ihromi, 1993:226)
Nader dan Todd dalam Ihromi (1993:210-212) mengungkapkan bahwa
ada berbagai cara yang dilakukan dalam menyelesaikan sengketa yaitu;
a. Membiarkan saja atau lumping it. Pihak yang merasakan perlakuan yang
tidak adil, gagal dalam upaya untuk menekankan tuntutannya. Dia
mengambil keputusan untuk mengabaikan saja masalah atau isu-isu yang
menimbulkan tuntutannya dan dia meneruskan hubungan-hubungannya
dengan pihak yang dirasakannya merugikannya.
b. Mengelak atau Avoidance. Pihak yang merasa dirugikan, memilih untuk
mengurangi hubungan-hubungan dengan pihak yang merugikannya
bahkan sama sekali menghentikan hubungan tersebut.
c. Paksaan atau coercion, satu pihak memaksakan pemecahan pada pihak
lain. Ini bersifat unilateral. Tindakan yang bersifat memaksakan ini atau
ancaman untuk menggunakan kekerasan, pada umumnya mengurangi
kemungkinan penyelesaian secara damai.
d. Perundingan atau negotiation. Dua pihak yang berhadapan merupakan
para pengambil keputusan. Pemecahan dari masalah yang mereka hadapi
dilakukan oleh mereka berdua, mereka sepakat, tanpa adanya pihak ketiga
yang mencampurinya.
e. Mediasi atau mediation. Dalam cara ini ada pihak ketiga yang membantu
kedua pihak yang berselisih pendapat untuk menemukan kesepakatan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
f. Arbitrase. Dua belah pihak yang bersengketa sepakat untuk meminta
perantara pihak ketiga, arbitrator, dan sejak semula telah setuju bahwa
mereka akan menerima keputusan dari arbitrator itu.
g. Peradilan atau adjudication. Disini pihak ketiga mempunyai wewenang
untuk mencampuri pemecahan masalah, lepas dari keinginan para pihak
bersengketa. Pihak ketiga itu juga berhak membuat keputusan dan
menegakkan
keputusan
itu
artinya
berupaya
bahwa
keputusan
dilaksanakan.
Penyelesaian sengketa juga menggunakan proses mediasi. Mediasi dalam
penyelesaian sengketa dikenal sebagai bentuk negosiasi antara dua individu
(kelompok) dengan melibatkan pihak ketiga dengan tujuan membantu tercapainya
penyelesaian yang bersifat kompromistis. Mediasi
terjadi karena kehendak
sendiri (mencalonkan diri sendiri), ditunjuk oleh pihak lain (misalnya tokoh adat)
diminta oleh kedua belah pihak (Ihromi,1993:223).
Alternatif yang biasanya dipergunakan dalam penyelesaian sengketa tanah
pada masyarakat Nias yakni membiarkan saja, negosiasi dan mediasi. Proses
membiarkan saja yang dilakukan dalam hal ini karena rasa kasih terhadap pihak
yang bersengketa, Negosiasi yang dilakukan berdasarkan dari kesepakatan awal
yakni jalan damai tanpa melibatkan banyak hal yang dapat merugikan. Proses
negosiasi adalah proses yang bukan saja mencari kebenaran atau dasar hukum
yang diterapkan namun lebih kepada penyelesaian masalah. Sedangkan mediasi
dapat diterapkan dan dipergunakan sebagai cara penyelesaian sengketa diluar jalur
pengadilan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Proses Mediasi dilakukan oleh seorang mediator yang merupakan
fasilitator yang akan membantu para pihak untuk mencapai kesepakatan yang
dikehendaki oleh para pihak. Mediator tidak akan: membuat keputusan tentang
mana yang salah atau yang benar, menginstruksikan para pihak tentang apa yang
harus dilakukan, atau memaksakan para pihak untuk melaksanakan kesepakatan.
Segala bentuk komentar, pendapat, saran, pernyataan atau rekomendasi yang
dibuat oleh mediator bila ada tidak dapat mengikat para pihak yang bersengketa.
Secara umum mediasi dapat dikategorikan seperti: mediasi untuk
lingkungan tempat tinggal, mediasi untuk keluarga yang antara lain manangani
sengketa dalam rumah tangga atau sengketa waris, mediasi untuk lingkungan
industri yang biasanya menangani masalah-masalah hubungan kerja dan
ketenagakerjaan, mediasi untuk pemulihan yang biasanya bertujuan untuk
memungkinkan korban kejahatan dan remaja pelaku kejahatan dapat tiba pada
penyelesaian sengketa dengan ganti rugi, bentuk mediasi lainnya seperti yang
berkaitan dengan sengketa tanah, ganti rugi dan kejahatan ringan.
Adapun tujuan dilaksanakannya mediasi yakni:
a. Membantu mencarikan jalan keluar/alternative penyelesaian atas
sengketa yang timbul diantara para pihak yang disepakati dan dapat diterima oleh
para pihak yang bersengketa.
b. Melalui proses mediasi diharapkan dapat dicapai terjalinnya komunikasi
yang lebih baik diantara para pihak yang bersengketa.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Menjadikan para pihak yang bersengketa dapat mendengar, memahami
alasan/ penjelasan/ argumentasi yang menjadi dasar/pertimbangan pihak yang
lain.
d. Dengan adanya pertemuan tatap muka, diharapkan dapat mengurangi
rasa marah/bermusuhan antara pihak yang satu dengan yang lain. Memahami
kekurangan/kelebihan/kekuatan masing-masing, dan halini diharapkan dapat
mendekatkan cara pandangdari pihak-pihak yang bersengketa, menuju suatu
kompromi yang dapat diterima para pihak.
Dalam situasi pluralisme hukum, pola-pola penyelesaian sengketa
diasumsikan menampilkan bentuk-bentuk penyelesaian yang dipengaruhi oleh
struktur dari sistem-sistem hukum yang berlaku dan faktor-faktor sosial budaya
lainnya seperti struktur dan organisasi sosial dan perubahan-perubahan nilai yang
diakibatkan oleh proses kebudayaan dari masyarakat tersebut.
1.6 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini akan mengungkapkan pluralisme
hukum dalam sengketa tanah dan prosedur penyelesaiannya pada masyarakat Nias
sesudah terjadinya gempa tanggal 28 maret 2005 dan bagaimana peran hukum
adat dan Siteoli sebagai mediator terhadap penyelesaian sengketa tanah yang
terjadi. Selain itu akan menjelaskan kekuatan hukum atas keputusan yang dibuat
oleh Siteoli sebagai tokoh adat dalam menyelesaikan sengketa tanah yang terjadi .
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Nader dan Todd mengungkapkan ada tiga tahap terjadinya sengketa tanah
yakni pra konflik, konflik dan sengketa. Mengacu pada pendapat Nader dan Todd
diatas penulis ingin mengungkapkan sengketa tanah yang terjadi pada masyarakat
di Nias melalui 3 proses tersebut. Dalam hal ini penulis mengungkapkan 5 kasus
sengketa yang terjadi pada masyarakat Nias baik sebelum gempa maupun sesudah
gempa terjadi. Alasan pengambilan kasus sebelum gempa yakni sebagai analisis
penyelesaian kasus yang sama dengan sesudah gempa yang akan menunjukan
adanya kekuatan hukum lokal yang bekerja terhadap penyelesaian sengketa yang
terjadi.
Sengketa tanagh yang diteliti terdiri dari kasus terhadap harta waris tanah
dari pihak laki-laki terhadap pihak perempuan, kasus yang berkaitan dengan status
kepemilikan tanah, kasus pembayaran piutang atas sengketa tanah yang terjadi
serta kasus pembangunan sesudah terjadinya gempa 28 maret 2005. Informasi
yang dibutuhkan melalui pengumpulan data dari beberapa jenis informan yang
digunakan, diperoleh melalui:
a. Observasi
Observasi yang dilakukan di dua desa yakni untuk melihat kondisi tanah
yang telah dipersengketakan yang akan berguna untuk menganalisis proses
mengapa terjadinya sengketa dan bagaimana tanah tersebut sangat memiliki nilai
ekonomis sehingga dipersengketakan. Dari observasi tersebut juga akan
mengungkapkan bagaimana kondisi pembangunan yang didasarkan atas
persengketaan apakah masih digunakan atau dibiarkan saja.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan yakni:
1. Informan Pangkal
Informan pangkal adalah informan yang pertama kali dimintai informasi
tentang siapa saja warga masyarakat yang mengetahui tentang masalah sengketa
tanah yang terjadi di Desa Dahana. Informan pangkal yakni Kepala Desa Dahana
yakni bapak Christian Harefa dan Kepala Pengadilan Negri Nias yakni bapak
P.Joseph Ziraluo. Serta Kepala Desa Dahana yakni Bapak Samueli Daeli. Adapun
informasi yang diterima dari dua kepala desa yakni informasi berkaitan dengan
masyarakat yang bersengketa di desa tersebut, proses terjadinya sengketa,
mengenai tokoh-tokoh yang berperan dalam proses penyelesaian sengketa serta
peranan kepala desa sebagai salah satu mediator dalam menangani permasalahan
sengketa tanah. Informasi yang diterima dari Kepala Pengadilan Negri Nias yakni
jumlah kasus yang telah diselesaikan secara pengadilan terutama kasus yang
berasal dari desa dua desa tersebut. Setelah diadakannya penelitian di Pengadilan
Negri Nias penulis mendapatkan informasi bahwasanya dari dua desa yang
menjadi lokasi penelitian tidak terdapat kasus sengketa tanah, artinya kasus
sengketa tanah yang dibawa ke pengadilan sama sekali tidak ada dan ini
menegaskan bahwa peran hukum lokal sebagai landasan penyelesaian sengketa
tanah masih dipertahankan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
2. Informan Pokok atau Informan Kunci
Informan pokok atau kunci adalah informan yang mengetahui tentang
masalah sengketa tanah di desa Dahana atau orang yang berkaitan langsung
dengan masalah tersebut. Informan pokok dalam hal ini yakni keluarga yang
bersengketa, pihak penengah dari masing-masing keluarga yang bersengketa dan
penetua adat. Informasi yang diterima dari keluarga yang bersengketa adalah
bagaimana peristiwa sengketa tanah terjadi dan prosedur penyelesaiannya.
Sengketa tanah yang diteliti terdiri dari kasus terhadap harta warisan berupa tanah
dari pihak laki-laki terhadap pihak perempuan, kasus yang berkaitan dengan status
kepemilikan tanah, kasus pembayaran piutang atas sengketa tanah yang terjadi
serta kasus pembangunan sesudah terjadinya gempa 28 maret 2005.
Kasus pertama yakni kasus terhadap harta waris tanah dari pihak suami
yang telah meninggal. Permasalahan ini terjadi di desa Dahana dengan warga
diluar desa Dahana yang memiliki lahan di desa Dahana yang dalam hal ini yakni
Ina Game’i dangan bapak E Harefa. Penyelesaian ini dilakukan dengan dua proses
yakini negosiasi dimana Ina Game’i mendatangi bapak E Harefa namun tidak
ditanggapi baik oleh E Harefa maka Ina Game’i menggunakan jasa mediator
bapak kepala Desa Dahana dan penetua adat di desa Dahana yang dalam hal ini
bapak Lala’aro Harefa serta penetua adat lainnya.
Kasus pembangunan yang memerlukan tanah sesudah terjadinya gempa 28
maret 2005 terjadi antara kontraktor dengan pemberi bantuan masalah dan
sengketa yang terjadi antara kontraktor dengan pemilik tanah tempat
pembangunan dilaksanakan. Permasalahan antara kontaktor dengan pemberi
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
bantuan terjadi karena tidak terealisasikannya dana pembangunan rumah
pengungsi yang diambil alih oleh Ir. Adieli Gulö. Permasalahan bertambah karena
Ir. Adieli Gulö telah meninggal. Sehingga istrinya dalam hal ini ibu Dra.Masta
Yunita atau Ina Kori yang mengurus proses penyelesaian sengketa tersebut belum
bisa mengambil keputusan secara pasti terhadap lahan yang dipersengketakan.
Penyelesaian sengketa dilakukan dengan mengunakan jasa dari mediator,
pembimbing rohani dari Ina Kori yang dalam hal ini yakni Pendeta Dyah Gea.
Permasalahan kontraktor dengan pemilik lahan dalam hal ini yakni Ibu
Saina Ndraha. Adapun hal yang dipersengketakan yakni tidak terlaksananya janji
dari Bapak Ir. Adieli Gulö sebagai kontraktor yang membeli lahan tersebut.
Hingga sekarang hal yang telah dilakukan oleh Ibu Saina Ndraha terhadap
masalah tersebut yakni dengan cara membiarkan saja.
Kasus yang berkaitan dengan status kepemilikan tanah dan kasus
pembayaran piutang terjadi di desa Onolimbu Raya dimana ada dua keluarga yang
bermasalah terhadap batas tanah mereka yakni keluarga Ama Johan. Ama Johan
dipersengketakan oleh warga desa yang membeli lahan mereka yang telah dijual
oleh ayahnya dalam hal ini warga yang mempersengketakan yakni Ama Rina dan
Ama Fati Hia. Selanjutnya kasus pembayaran piutang yang dituntut oleh Ama
Rina kepada Ama Johan sebagai pembayaran atas ganti rugi tanaman Ama Rina
dan biaya pembicaraan adat yang terjadi pada saat terjadinya penyelesaiaan
sengketa tanah secara adat. Kedua permasalahan yang terjadi diselesaikan secara
kekeluargaan dengan melibatkan tokoh adat dan jasa mediator.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Kasus yang terakhir yakni kasus sengketa tanah dengan saudara kandung
dan penyelesaiannya secara kekeluargaan dan adat.
Permasalahan ini terjadi
antara Ama Isa dan Ama Fati Zebua yang mana tanah yang telah ditanaminya dan
menghasilkan diambil oleh anak-anak dari Ama Fati Zebua.
3. Informan Biasa
Informan biasa adalah masyarakat yang dimintai informasi untuk
melengkapi data yang ada. Informan biasa yakni masyarakat yang ada disekitar
desa tersebut yeng mengetahui tentang sengketa tanah dan bagaimana prosedur
penyelesaiannya selain itu informan biasa juga terdiri dari masyarakat lain yang
menjadi saksi terhadap penyelesaian sengketa yang terjadi. Yang menjadi
informan biasa yakni keluarga/kerabat, tetangga dan teman. Informan yang
diwawancarai dalam hal ini yakni pihak pengadilan dalam hal ini Bapak Deky,
praktisi adat Nias dalam hal ini Bapak Yas Harefa, Ibu Arniwati Zebua, Ama. Ica
Harefa, Wuri Harefa dan warga lainnya yang dilakukan dengan wawancara sambil
lalu. Wawancara yang dilakukan untuk informan biasa berkaitan dengan proses
terjadinya
sengketa
tanah
dan
peran
masyarakat
dalam
membantu
terselesaikannya permasalahan tersebut.
c. Studi Dokumentasi
Data yang diperoleh dari observasi dan wawancara akan lebih
disempurnakan dengan melakukan studi dokumentasi yang diperoleh dari
majalah, jurnal, bulletin, artikel, internet dan lainnya yang berkaitan dangan
masalah sengketa tanah, masyarakat Nias dan sebagainya..
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
1.7. Teknik Analisis Data dan Kendala yang Dihadapi saat Penelitian.
a. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
data kualitatif. Proses Analisis yakni menganalisis kasus-kasus sengketa dimulai
dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari wawancara kepada informan
pangkal, informan pokok dan informan biasa. Data tersebut kemudian dianalisis
dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: membaca keseluruhan
dari kasus sengketa tanah yang telah terjadi mulai dari pra konflik, konflik hingga
terjadinya sengketa tanah. Dengan analisa terjadinya sengketa tanah tersebut maka
penulis dapat mengungkapkan sejauhmana terjadinya sengketa tanah, prosedur
penyeslesaian dan sistem hukum yang secara operasional terjadi dalam kehidupan
masyarakat Nias. Semua data yang telah diperoleh baik melalui pengamatan,
wawancara dan studi dokumentasi kemudian diidentifikasikan dan disusun secara
sistematis.
b. Kendala yang Dihadapi pada Saat Penelitian
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan penelitian yakni pada saat
wawancara, dimana informan takut untuk mengungkapkan informasi yang
ditanyakan. Namun, setelah dijelaskan maksud dan tujuan penelitian akhirnya
mereka memberikan informasi yang ditanyakan. Hal lain yang menjadi masalah
yakni informan yang tidak lagi berada di lokasi penelitian atau pindah ke daerah
lain seperti pada masalah tanah antara Ina Game’i dan Bpk E. Harefa dimana
kedua informan ini sangat susah untuk ditemui, sehingga penulis hanya bisa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
mendatangi dan memperoleh keterangan dari mediator kedua belah pihak.
Masalah lain yakni mediator dari Ina Kori yang mempunyai masalah dengan
pemberi bantuan, dalam hal ini Ibu. Pendeta Dyah Gea sangat susah untuk ditemui
karena kesibukan pelayanan akhirnya informasi yang saya dapat hanya dari
masyarakat yang bersengketa saja.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN NIAS
2.1. Letak dan Keadaan Geografis Kabupaten Nias
Kabupaten Nias adalah salah satu daerah di Kabupaten Provinsi Sumatera
Utara yang disebut Pulau Nias dan mempunyai jarak ±85 mil dari laut Sibolga.
Ibukota Gunungsitoli dapat ditempuh dengan perjalanan darat mengunakan mobil
kijang/taxi yang menempuh perjalanan darat ke sibolga selama 10 jam dan dari
pelabuhan Sibolga menggunakan kapal laut menempuh perjalanan selama 10 jam
dengan naik kapal Barau/Nias Indah, selain itu dari pelabuhan Sibolga menuju
Gunung Sitoli dapat juga menggunakan kapal cepat yakni kapal Ferry selama 3
jam atau dengan perjalanan udara dari Medan selama 1 jam menggunakan
pesawat SMAC (Fokker F-50) dan Merpati (CN 235).
Gambar 1: Gambar Pulau Nias yang menunjukkan banyaknya pulau-pulau di Nias (Google, BPSNias 2009)
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Luas Kabupaten Nias adalah 3.495,40 Km² atau 4,88% dari luas wilayah
Provinsi Sumatera Utara dan merupakan daerah gugusan pulau yang jumlahnya
mencapai 132 pulau, membujur di lepas pantai barat Sumatera menghadap
Samudra Hindia, namun tidak semua pulau-pulau tersebut berpenghuni. Hanya
ada sekitar lima pulau besar yang dihuni oleh manusia, yaitu Pulau Nias (9.550
km²), Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello
(18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²). Di antara kelima pulau tersebut, Pulau
Niaslah yang berpenghuni paling padat, dan menjadi pusat kegiatan ekonomi dan
pemerintahan.
Gambar 2: Gambar pulau Nias yang menunjukan keindahan alam Nias yang kaya akan keindahan
pantai (Google, BPS Nias 2009)
Menurut letak geografis, Kabupaten Nias terletak pada garis 0º12’1º32’LU (Lintang Utara) dan 97º-98ºBT (Bujur Timur) dekat dengan garis
khatulistiwa dengan batas-batas wilayah :
 Sebelah Utara
: berbatasan dengan Pulau-pulau Banyak
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
 Sebelah Selatan
: berbatasan dengan Kabupaten Nias Selatan,
Provinsi Sumatera Utara
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
 Sebelah Timur
:
berbatasan dengan Pulau Mursala,
Kabupaten Tapanuli Tengah.
 Sebelah Barat
: berbatasan dengan Samudera Hindia.
Daerah Kabupaten Nias memiliki 127 sungai besar dan kecil (anak, induk
dan cabang sungai) serta beberapa danau dan air terjun. Daerah Kabupaten Nias
beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi yaitu mencapai 2.927,6 mm
pertahun sedangkan jumlah hari hujan setahun 200-250 hari atau 86 %.
Kelembaban udara rata-rata setiap tahun antara 90 %, dengan suhu udara berkisar
antara 17,0ºC - 32,60ºC.
Kondisi alam daratan Pulau Nias sebagian besar berbukit-bukit dan terjal
serta pegunungan dengan tinggi diatas laut bervariasi antara 0-800 m, yang terdiri
dari dataran rendah hingga bergelombang sebanyak 24% dari tanah bergelombang
hingga berbukit-bukit 28,8% dan dari berbukit hingga pegunungan 51,2% dari
seluruh luas daratan. Akibat kondisi alam yang demikian mengakibatkan adanya
102 sungai-sungai kecil, sedang, atau besar ditemui hampir diseluruh kecamatan.
Ada 443 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Nias, sebanyak 3
desa/kelurahan terletak didaerah pantai, dan 350 desa/kelurahan berada didaerah
bukan pantai/pegunungan. Demikian juga menurut ketinggian diatas permukaan
laut ada sebanyak 236 desa/kelurahan berada pada ketinggian 0-500 m, 114 desa
/kelurahan berada pada ketinggian 500-700 m dan 3 desa/kelurahan berada pada
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
ketinggian diatas 700 m. Luasnya desa menurut ukuran Nias adalah satu lauru
bibit padi atau sambua lauru tanömö13.
Peta Nias
Gambar 3: Peta Perjalanan ke Pulau Nias dari kota Medan ke Sibolga, dan dari Sibolga ke Nias
13
1 lauru = 5 tumba atau 7 teko
1 tumba cukup untuk 1.000 meter persegi di ladang
1 lauru bibit cukup untuk 5.000 meter persegi ladang
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 4: Peta Pulau Nias (Google 2009 & dari buku asal usul masyarakat Nias suatu
interpretasi, P. Johannes, 1999 )
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Iklim
Keadaan iklim Kabupaten Nias dipengaruhi oleh Samudra Hindia. Suhu
udara dalam satu tahun rata-rata 26°C dan rata-rata maksimum 31°C. Kecepatan
rata-rata dalam satu tahun 14 knot/jam dan bisa mencapai rata-rata maksimum
sebesar 16 knot/jam dengan arah angin terbanyak berasal dari arah utara.
2.2. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Nias tahun 2007 adalah
442.548 jiwa
dengan kepadatan penduduk 127 jiwa/km² dan 85.361 rumahtangga. Keadaan
penduduk menunjukan bahwasanya lebih banyak jumlah perempuan daripada
laki-laki.
a. Pendidikan
Pendidikan merupakan patokan utama yang mendukung sumber daya pada
masyarakat Nias. Kemajuan teknologi dan masuknya berbagai komunitas dan halhal modernisasi pada masyarakat Nias telah mengubah perspektif untuk lebih
meningkatkan pendidikan. Jika dulu kebanyakan orangtua masih bersifat primitif
dengan konsep perempuan sebagai pekerja rumah dan laki-laki sebagai pengubah
kondisi keluarga namun dengan diberikannya kesempatan untuk mengecap
pendidikan sehingga perubahan dalam dunia pendidikan sudah menjadi konsumsi
sehari-hari bagi orangtua dengan tidak pilih kasih dan mau menyekolahkan
anaknya
baik
perempuan
maupun
laki-laki.
Terlebih
dengan
adanya
pembangunan-pembangunan pasca gempa tanggal 28 maret 2005 perubahan
tersebut semakin tampak, setidaknya anaknya mengecap pendidikan SD dan tidak
buta huruf.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
b. Perumahan
Rumah tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan yang sangat
diperlukan oleh penduduk karena fungsi utama sebagai tempat berlindung bagi
anggota rumahtangga. Menurut kepemilikannya pada tahun 2005, Nias dalam
angka, BPS terdapat 76.962 rumahtangga di Kabupaten Nias yang mendiami
rumah bangunan fisik artinya bukan tinggal di tenda/camp/barak. Perinciannya
yakni; 65.120 rumahtangga diantaranya mempunyai status milik sendiri, 1.407
rumahtangga mengontrak, 850 rumahtangga menyewa, 1.579 rumahtangga bebas
sewa, 854 rumahtangga mnempati rumah dinas, 6.904 rumahtangga menempati
rumah milik orangtua/keluarganya.
Gambar 5: Perumahan di Nias (dominirria hulu, 2008)
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Mata Pencaharian
1. Pertanian
Bidang pertanian merupakan salah satu mata pencaharian bagi masyarakat
Nias, terutama yakni tanaman pangan. Jumlah produksi
padi sawah sebesar
62.762 ton dan padi ladang sebesar 650 ton.
Gambar 6: Pertanian sebagai salah satu mata pencaharian terpenting dalam kehidupan masyarakat
Nias, Dominiria Hulu 2008
2. Perkebunan
Tanaman perkebunan yang ada di Kabupaten Nias adalah tanaman
perkebunan rakyat dengan komoditi andalan karet, kelapa, kakao dan beberapa
komoditi yang lain seperti kopi, cengkeh, pala dan nilam. Selama tahun 2006
produksi tanaman karet di Kabupaten Nias mencapai 47.334 ton dari luas tanaman
seluas 21.919 ha dan diusahakan oleh 21.033 rumahtangga petani.
Gambar 7: Perkebunan kelapa yang ada di pinggir pantai Sirombu Nias, Dominiria Hulu 2008
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Untuk tanaman kelapa selama tahun 2006 mencapai 23.505 ton dari luas
tanaman seluas 24.256 ha dan yang diusahakan oleh 16.939 rumahtangga petani.
Demikian juga untuk tanaman kopi, produksinya mencapai 43 ton dari luas
tanaman seluas 172 ha dan yang diusahakan oleh 1.254 rumahtangga petani,
produksi cengkeh mencapai 17 ton dari luas tanaman seluas 1.117 ha, yang
diusahakan oelh 2.070 rumahtangga petani. Hasil tanaman perkebunan rakyat dari
Kabupaten Nias pada umumnya hampir seluruhnya dijual keluar daerah dalam
bentuk bahan mentah, melalui para pedagang baik lokal maupun luar daerah.
3. Kehutanan; Luas hutan di Kabupaten Nias tahun 2006 adalah 119.399 ha terdiri
dari hutan lindung seluas 80.836, 68 ha, hutan produksi seluas 4.759, 97 ha, hutan
produksi terbatas seluas 26.063, 01 ha dan hutan konversi seluas 7.739,06 ha.
4. Peternakan
Ternak yang paling dominan adalah ternak babi sebanyak 35.375 ekor,
kambing sebanyak 10.926 ekor, sapi sebanyak 1.618 ekor, kerbau 829 ekor,
kerbau 82 ekor, unggas berupa ayam dan itik, ayam sebanyak 565.154 ekor dan
itik sebanyak 21.500 ekor.
Gambar 8: Ternak babi yang dimiliki oleh warga Sirombu Nias sebagai salah satu mata
pencaharian dan kegiatan adat perkawinan, (dominiria hulu 2008)
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
5. Perikanan; hasil produksi ikan di Kabupaten Nias selama tahun 2006 adalah
8.995, 61 ton terdiri dari produksi ikan laut sebesar 8.970, 31 ton dengan
banyaknya nelayan 6.615 orang, prduksi ikan air tawar sebesar 25.30 ton. Ikan
yang berasal dari sungai 3.6 ton, ikan rawa sebesar 12, 8 ton, ikan kolam 4,8 ton,
dan ikan tambak 4 ton.
6 Perindustrian; selama tahun 2007 di Kabupaten Nias terdapat sebanyak 2.178
unit perusahaan/usaha industri kecil dimana menyerap tenaga kerja sebanyak
4.719 orang.
d. Perhubungan dan komunikasi
Tahun 2007, panjang jalan di daerah Kabupaten Nias adalah 2070, 37 km
dengan kondisi permukaannya yang sudah di aspal sepanjang 466,92 km, jalan
yang masih ada kerikil seluas 313,21 km dan jalan yang berupa tanah seluas 1.20,
44 km. Sarana komunikasi yang digunakan semakin bervariasi mulai dari
penggunanan jasa telekomunikasi hingga dunia maya atau internet. Untuk jasa
telepon, jumlah sambungan telepon yang ada di Kabupaten Nias pada tahun 2007
sebanyak 2.361 sambungan.
e. Transportasi
Tahun 2007 seluruh ibu kota Kecamatan di Kabupaten Nias kecuali
kecamatan Afulu telah dapat dilalui bus umum yang memiliki izin trayek dari kota
Gunungsitoli ke masing-masing ibukota kecamatan. Sarana transpotasi ada
berbagai macam baik berupa roda dua hingga roda empat, mulai dari sepeda
motor, becak bermotor hingga angkutan umum. Transportasi laut Kabupaten Nias
memiliki 3 pelabuhan laut yaitu; pelabuhan laut Sirombu, Lahewa yang melayani
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
pelayaran rakyat khususnya pengangkut barang dan penumpang sedangkan
pelabuhan laut Gunungsitoli melayani pelayaran nasional masyarakat Nias yang
berasal dari Medan, Sibolga dan sebagainya. Pelayaran ini juga mengangkut
barang dan penumpang.
2.3. Sejarah Suku Nias
Nama pulau Nias memiliki cirikhas tersendiri dalam perkembangannya.
Ini terlihat dengan berbagai tulisan dan penelitian yang telah dilakukan oleh
beberapa ahli yang peduli akan perkembangan Nias baik oleh orang Nias sendiri
maupun masyarakat diluar komunitas Nias. Tulisan P. Johannes Maria Harmmerle
dalam bukunya yang berjudul Interpretasi Asal Usul Masyarakat Nias suatu
Interpretasi mengungkapkan bahwasanya ada beberapa nama yang pernah dijuluki
di pulau Nias yakni:
a. Hulo Ge’e, Hulo Ge’e berarti Pulau burung Kekek, yang berarti suatu
pulau kecil yang ditemukan orang dengan susah payah dan tangisan ditengah
lautan atau Me föna latötöi Hulo Ze’e, Eluahania hulo side-ide nisöndra niha
zerege tödö ma sege’ege.
b. Hulo Solaya-laya berarti pulau yang terapung-apung yang mana pulau ini
dinilai kurang aman, yakni sebagai pulau yang menari-nari jika terjadi gempa
bumi.
c. Uli Danö-Uli Ndrao, orang Nias hidup pada kulit tanah atau ba guli danö,
dikatakan juga pada kulit tanah liat keras atau ba guli ndrao. Ada tiga jenis ndrao
di pulau Nias yakni merah, hitam dan putih.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
d. Uli Danö Hae, kelelahan hidup di atas tanah ini, tentu membuat orang
bernafas dengan menghirup udara lewat mulut terbuka, mo-hae-hae. Maka dalam
seni budaya Nias kita menemukan juga lagu atau tarian Böli Hae. Nama ini
mengandung satu nasehat dan bagi yang membawakan tarian Böli Hae artinya
jangan terengah-engah dengan kata lain para pemeran tidak menampilkan atraksi
gemilang, sehingga nafas mereka terengah-engah atau humae-mae.
e. Ölia Ulidanö. Ölia adalah nama dari suatu jenis Liana yang memanjat
batang-batang pohon di hutan rimba dan kemudian mengikat sekian banyak pohon
pada bagian atas sehingga menjadi satu kesatuan. Liana ini disebut Ölia dan
dimanfaatkan oleh manusia sebagai tangga untuk memanjat pohon-pohon raksasa
dalam mendirikan kediaman mereka di atas pohon-pohon raksasa dan
menghindarkan mereka dari berbagai macam ancaman
misalnya; binatang-
binatang buas, suhu yang lembab dan sebagainya
f. Tanö Niha. Secara primodial banyak suku-suku di dunia menggangap
dirinya lebih tinggi dari pada suku-suku lain. Gejala ini ditemukan pula di pulau
Nias. Buktinya, orang Nias menyebut dirinya Niha atau Ono Niha, Artinya
manusia atau anak manusia. Secara konsekwen mereka menyebut pulau tempat
tinggal mereka Tanö Niha artinya Bumi Manusia. Sedangkan orang lain disebut
ndrawa atau pendatang luar, orang asing. Zaman Hindia-Belanda mereka
menyebut orang Belanda Ndrawa Hulandro istilah Hulandro tersebut diambil dari
istilah Holland, lain halnya dengan keturunan Cina yang disebut Gehai atau
Kehai.
g. Payung Matahari,dalam tesis Yoshiko Yamamoto di Universitas Cornell,
1986 dalam Harmmerle (1999:8) mengungkapkan suatu dokumen yang historis
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
dari abad ke-15 yang menuliskan bahwa orang Cina menamakan pulau Nias
sebagai payung matahari. Artinya bahwa di pulau Nias payung matahari
merupakan sesuatu yang penting atau penghuni pulau ini menggemari pemakaian
payung matahari.
h. Teteheli Ana’a dalam tanggapan Pastor Johannes dalam tulisannya tentang
asal-usul masyarakat Nias mengungkapkan bahwa Teteheli Ana’a tidak
merupakan lawan kata dengan daerah tandus seperti gurun pasir. Teteheli Ana’a
diartikan sebagai sebutan suci untuk mengungkapkan asal usul manusia dari rahim
ibu, sebelum dilahirkan ke dunia ini. Tanah dipecahkan (ibago tanö) dalam mite
diartikan sebagai perkawinan dan mengisyaratkan persetubuhan. Dengan berbagai
gambaran bahasa mitos melukiskan, bahwa tubuh wanita makin berkembang.
Perkembangan itu diuraikan dari dunia atau tanah pertama (tanö si sara) sampai
pada dunia kesembilan (tanö si siŵa) . Sembilan bidang tanah atau sembilan dunia
itu diartikan sebagai umur kehamilan . Sembilan bulan lamanya ibu mengandung,
atau kendungan berkembang selama sembilan bulan. Kesimpulan Teteheli Ana’a
atau dengan kata lainTeteheli Hamo adalah kata kiasan terhadap kandungan sang
ibu.
2.4. Keadaan Desa Penelitian
Penelitian tentang
sengketa tanah dan prosedur
penyelesaiannya
dilaksanakan di dua desa yang berbeda di Kabupaten Nias, yakni desa Dahana
Tabaloho dan Desa Onolimbu Raya.
2.4.1 Desa Dahana Tabaloho
Desa Dahana Tabaloho berada di Kecamatan Gunungsitoli, Kabupaten
Nias. Desa Dahana terdiri dari dua dusun. Sejarah Desa Dahana tidak terlepas dari
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
sejarah terbentuknya kota Gunungsitoli, karena awal pembentukan desa ini
menjadi penyebaran terbentuknya Kota Gunungsitoli yang didirikan oleh tiga
tokoh atau Sitölu Tua yakni Harefa, Telaumbanua dan Zebua. Tiga tokoh tersebut
yang akhirnya menjadi marga bagi keturunannya.
Sebelum terbentuk desa Dahana, masyarakat Nias pada awalnya
menempati daerah Gomo Sihaya-haya, setelah daerah tersebut semakin padat
maka tua Harefa melakukan perluasan wilayah. Awalnya beliau berhenti di desa
Onozitoli kecamatan Gidö lalu pindah ke Hilimbelu Tabaloho dan terakhir yakni
di desa Dahana Tabaloho. Sewaktu tua Harefa tiba di desa Dahana, awalnya desa
ini merupakan hutan belantara yang memiliki banyak pohon dengan dahan dan
rantingnya yang berjumlah banyak. Diantara tanaman-tanaman yang ada di hutan
tersebut terdapat satu pohon yang sangat besar dan subur yang memiliki keunikan
ranting. Maka tua Harefa memotong salah satu ranting pohon yang indah itu.
Karena keunikan ranting-ranting dari dahan pohon tersebut maka tua Harefa yang
memiliki gelar Tuada Laowo tersebut menamakan tempat tersebut Desa Dahana
Tabaloho yang memiliki makna kesuburan dan kebersamaan.
Desa Dahana yang didirikan oleh Tuada Laowo merupakan pemukiman
tertua disekitar daerah Gunungsitoli yang mempunyai peninggalan sejarah masa
lalu yang unik dengan berbagai benda budaya yang bersejarah berupa sepasang
Batu Megalith (Gowe) yang tingginya kira-kira 3 m serta adanya rumah adat yang
tingginya sekitar 25 m, namun sayang rumah adat tersebut telah punah dimakan
usia, termasuk batu-batu bersejarah lainnya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 9: Batu Megalith di desa Dahana Tabaloho, Dominiria Hulu 2008
Pendirian Gowe dalam budaya Nias dilakukan melalui proses yang cukup
lama dengan biaya yang sangat besar, sehingga hanya dilaksanakan oleh keluarga
yang memiliki harta yang banyak dan didukung oleh keluarga besar atau sitenga
bö’ö. Mayarakat desa Dahana mengenal Tuada Laowo sebagai salah satu
keturunan Harefa, yang merupakan pendiri Öri adat di Desa Dahana, yaitu suatu
kumpulan masyarakat dalam suatu hokum adat yang lebih kecil yang disebut
banua 14 atau kampung adat.
14
Banua (kampung) mempunyai pengertian sebagai berikut :
• Banua = langit, ini dihubungkan dengan dengan daerah asal datangnya nenek
moyang/leluhur yang berarti religius.
• Susunan masyarakat yang terdiri dari seorang pemimpin yang disebut ”Salawa” dan
onombanua (warga). Salawa didampingi oelh pembantu-pembantunya yaitu tambalina
(orang kedua), fahandrona (orang ketiga), sidaöfa (orang yang ke’empat) dan seterusnya
paling tidak kedelapan atau sampai dua belas orang. Seorang Salawa merupakan orang
yang mendirikan kampung atau banua hada yang ditandai dengan sering mengadakan
pesta
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Untuk mendirikan sebuah banua terlebih satu Öri diperlukan adanya
kesepakatan melalui musyawarah dan mufakat para tokoh masyarakat banua dan
masyarakat Öri yang akan bersama-sama mendukung pengadaan biaya/bahan
yang diperlukan untuk melakukan suatu pesta besar untuk meresmikan pendirian
banua/Öri tersebut. Sebagai pemimpin, harus mampu mempertahankan bahkan
meningkatkan banua tersebut dan melakukan berkali-kali pesta besar. Setelah
melakukan pesta besar maka kepadanya diberikan nama kebesaran Balugu.
Selain Owasa dia juga harus mampu mendirikan rumah adat besar sebagai
tempat kediamannya sekaligus sebagai tempat pertemuan. Untuk meresmikan
rumah adat maka dilaksanakan pesta besar yang dihadiri oleh banua, Öri dan
undangan lainnya termasuk balugu yang ada disekitar ori tersebut. Jadi, dalam
mendirikan sebuah batu megalith atau gowe 15 terlebih dahulu harus melakukan
owasa, mendirikan rumah adat, menjadi pemimpin kesatuan adat baik ditingkat
banua, maupun tingkat Öri sehingga pendirian atau Fanaru’ö Gowe terwujud
setelah terpenuhinya syarat-syarat tersebut diatas. Gowe biasanya didirikan
berpasangan, yaitu kelamin jantan dan betina atau simatua ba si’alawe yang
diletakkan di depan rumah adat.
Gowe yang didirikan di Desa Dahana didatangkan dari lokasi yang jauh.
Gowe Simatua didatangkan dari Sarang Baung (Kecamatan Sawö, ±65 km dari
Desa Dahana), sedangkan Gowe Si’alawe didatangkan dari Desa Ononamölö
•
Desa atau kampung yang kita kenal sekarang, dalam hal ini banua dikepalai salawa juga,
tetapi salawa dalam pengertian kepala kampung. Jadi, sebagai kepala kampung adalah
orang yang bertanggungjawab demi kelancaran roda pemerintahan, yang dipilih oleh
warga desa. Dengan demikian seseorang dapat merangkap sebagai Salawa yang
memimpin banua dan Kepala desa yang memimpin desa. Untuk membedakan salawa
sebagai pemimpin banua dan kepala desa maka yang pertama disebut Salawa Hada dan
yang kedua disebut sebagai Salawa wamareta
15
Suatu simbol bahwa seseorang telah mengadakan suatu pesta besar dengan mengundang
beberapa Öri.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
(Kecamatan Botomuzöi, ±35 km dari Desa Dahana. Dalam pendirian Gowe
tersebut harus dilengkapi juga dengan perlengkapan lainnya berupa binu 16.
Setelah memperoleh binu sebanyak 3 maka kepala binu tersebut ditanam dibawah
dasar kedua tugu, sebagai penambah kekuatan tegaknya Gowe tersebut.
Desa Dahana Tabaloho berada di kecamatan Gunungsitoli, Kabupaten
Nias Utara. Jarak dari desa ke kecamatan sekitar 3 Km. Adapun batas-batas Desa
Dahana sebagai berikut :
-
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tumöri
-
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Madula
-
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sisobahili dan Desa Dahadanö
Sogawu-gawu
-
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Orahili Tumöri dan Desa
Madula
Keadaan alamnya yakni dataran dan berbukit dengan ketinggian dari laut
sekitar 25 m dengan luas keseluruhan ± 300 Ha. Desa Dahana dikelilingi oleh
hutan dan perpohonan yang masih dijaga keasriannya dengan baik oleh penduduk
desa. Pada umumnya penduduk menanam cokelat, karet, pisang, ubi kayu, ubi
jalar dan tanaman lainnya yang berfungsi sebagai bumbu masakan. Adapun ternak
yang dipelihara, seperti babi, ayam, anjing, dan kambing.
Musim hujan rata-rata suhu udara 4 ºC dan pada masa kemarau suhu udara
23 ºC. Jika dulu penduduk dapat memperkirakan saat terjadinya kemarau maupun
hujan baik dilihat dari bulan dan tanggal, tapi sejak terjadinya pemanasan (global
warming) cuaca sangat tidak menentu. Hal ini memberikan pengaruh besar
16
Binu merupakan kepala orang yang dipenggal sebagai hasil buruan yang dicari dari daerah yang
jauh dari lingkungannya dan menurut kepercayaan pada masa itu binu mengandung kekuatan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
terhadap hasil pertanian penduduk. Terlebih bagi penduduk yang jenis usahanya
karet dan cokelat.
Masyarakat di desa Dahana kebanyakan keturunan suku Nias, sedangkan
pendatang yakni suku Batak. Penggunaan bahasa daerah sangatlah kental di desa
ini, ini terlihat dengan kegiatan musyawarah dan perkumpulan-perkumpulan yang
lebih memproritaskan bahasa daerah Nias. Penggunaan bahasa Indonesia hanya
dalam hal pengajaran.
Jumlah penduduk di Desa Dahana dibagi atas 2 dusun yakni dusun I yakni
228 jiwa dan dusun II 568 jiwa. Jadi jumlah keseluruhannya yakni 796 jiwa
dengan jumlah kepala keluarga dusun I yakni 46 kk dan dusun II yakni 108 kk.
Adapun jumlah penduduk lebih didominasi perempuan daripada laki-laki dengan
jumlah perempuan pada dusun I yakni 124 jiwa dengan jumlah laki-laki 106 jiwa
dan dusun II jumlah perempuan yakni 293 jiwa dengan jumlah laki-laki 275
jiwa.
Distribusi penduduk berdasarkan umur yakni, 0-11 bulan 8 orang, 11-36
bulan 44 orang, 36-60 bulan 36 orang, 5-12 tahun 161 orang, 12-14 tahun 44
orang, 14-20 tahun 98 orang, 20-35 tahun 184 orang, 35-39 tahun 42 orang, 3949 tahun 100 orang, 49-60 tahun 46 orang, dan 60 tahun 21 orang.
Masyarakat Desa Dahana Tabaloho mayoritas menganut agama Kristen
Protestan dan secara minoritas agama Katolik juga ada. Perbandingannya dimana
Agama Kristen Protestan berjumlah 773 orang dan agama Katolik yakni 23
orang. Adapun kegiatan ibadah yang dilakukan misalnya acara Paskah, Natal dan
kegiatan Persekutuan Doa. Pemuda-pemudi juga sangat antusias melakukan
kegiatan-kegiatan seperti koor, vokal group dan adanya berbagai perlombaanDominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
perlombaan menjelang upacara keagamaan. Adapun nama gereja yang ada di desa
Dahana yakni Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Angowuloa Masehi
Indonesia Nias (AMIN), dan Gereja Bethel Indonesia (GBI). Untuk masyarakat
yang beragama Katolik mereka mengikuti misa kudus di Gerja Santa Maria
Bunda Para Bangsa.
Sistem mata pencaharian masyarakat pada umumnya yakni petani. Ada
juga yang berprofesi sebagai Pegawai Negri Sipil, Pegawai Swasta, Wiraswasta
dan Buruh dan dalam bidang pendidikan, terdapat sebanyak 796 orang dengan
perincian pendidikan sebagai berikut; SD sebanyak 200 orang, SMP sebanyak 127
orang, SLTA sebanyak 208, Akademi sebanyak 37 orang, Perguruan Tinggi
sebanyak 44 orang, Tidak Sekolah/Belum Sekolah sebanyak 175 orang, dan paket
B sebanyak 5 orang.
Sarana dan Prasarana merupakan penunjang bagi aktivitas penduduk di
desa Dahana, berikut ini merupakan sarana dan prasarana yang sangat penting
yakni:
1. Transportasi dan Komunikasi; Sarana transportasi yang digunakan untuk
menuju desa Dahana yakni Roda
dua dan Roda empat, masyarakat juga
menggunakan sarana komunikasi berupa handphone.
2.Fasilitas Kesehatan; Fasilitas Kesehatan yang disediakan di Desa Dahana dapat
dibagi dalam 2 kategori yakni
a. Pelayanan Kesehatan : Pustu sebanyak 1 unit, Polindes sebanyak1 unit,
Praktek Bidan Swasta sebanyak 2 unit dan Posyandu sebanyak 1 unit
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
b. Tenaga Kesehatan, terdiri dari; Bidan sebanyak 6 orang, Perawat
sebanyak 10 orang, Tenaga
Non Kesehatan sebanyak 10 orang, Kader
Kesehatan sebanyak 10 orang
3. Fasilitas umum, adapun fasilitas umum yang ada di Desa Dahana Tabaloho
yakni Balai Desa. Balai desa ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan
kegiatan-kegiatan desa lainnya seperti tempat pelaksanaan kegiatan PKK,
perlombaan-perlombaan dalam rangka memajukan minat masyarakat di desa
Dahana baik dalam hal olahraga, kesenian dan lain-lain.
4. Fasilitas Ibadah, terdiri dari 3 unit yakni yakni Banua Niha Keriso Protestan,
Gowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN), dan Gereja Bethel Indonesia (GBI).
5. Fasilitas Pendidikan merupakan hal yang penting dalam menunjang sumber
daya manusia yang handal. Desa Dahana Tabaloho merupakan satu desa yang
sangat menjunjung tinggi nilai pendidikan . Ini terlihat dari antusias orangtua
dalam menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Kepedulian
terhadap pendidikan tidak hanya diberikan kepada anak-anak yang tidak cacat
secara fisik namun yang fisiknya kurang beruntung (cacat) juga mendapat tempat
di desa ini. Ini terlihat dengan adanya salah satu sekolah dasar luar biasa (SDLB)
yang merupakan sekolah luar biasa satu-satunya di Nias. Selain Sekolah Dasar,
Taman Kanak-kanak juga ada di desa Dahana ini.
6. Fasilitas Keamanan merupakan hal yang diutamakan di desa Dahana, setiap
orang yang datang ke Desa Dahana akan merasakan kenyamanan luar biasa. Hal
ini dikarenakan sambutan hangat dan bersahabat dari setiap masyarakat yang ada
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
di desa tersebut karena kenyamanan tersebut di dukung dengan adanya sistem
keamanan keliling atau siskamling di desa ini.
7. Fasilitas Olahraga.; Masyarakat di Desa Dahana memiliki fasilitas olahraga,
seperti lapangan bulutangkis, tenis meja dan bola voli. Kegiatan-kegiatan olahraga
diwaktu sore hari sering kita temui, dan ketiga kegiatan olahraga diatas sangatlah
favorit dikalangan pemuda di desa tersebut.
2.4.2. Desa Onolimbu Raya
Sebelum adanya desa Onolimbu Raya, penduduknya berdomisili di desa
Lahagu kecamatan Mandrehe Utara. Akan tetapi karena jauh dari kota Kecamatan
yang jaraknya 12 km kemudian kurangnya fasilitas jalan dan fasilitas lainnya
maka penetua adat mencari lokasi yang strategis dengan kota Kecamatan dan
akhirnya dibentuklah desa Onolimbu Raya yang berada dekat dengan kota
Kecamatan Mandrehe.
Nama Onolimbu karena pertama kali kepala desa yang dipilih dari daerah
Onolimbu sedangkan kata Raya merupakan letak lokasi yang berada di Raya.
Desa Onolimbu Raya diresmikan pada tanggal 13 agustus 1913, dirumah Ama
Zilöbörö Hia Balugu Farokha sebagai pejabat Tuhenöri Ama Ngaebewagö Gulö
Lölö Mboi Moro’o. Desa Onolimbu Raya berbatasan dengan;
a. Sebelah utara berbatasan dengan Sisarahili dan Lasara Bagawu
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Iraono Gambö dan kecamatan
Sirombu
c. Sebelah timur berbatasan dengan Sisobahili
d. Sebelah barat berbatasan dengan Lautan/Laut Nias.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Keadaan geografis desa Onolimbu Raya ketinggiannya dari permukaan
laut yakni 300 meter dengan luas keseluruhan 300 ha, dan keadaan alam yang
berbukit serta dataran yang banyak batu atau disebut tanah lempeng batu. Margamarga yang ada di Desa Onolimbu Raya terdiri dari Daely, Hia, Gulö, Waruwu,
Marulafau, Ziliwu, Halawa, Laia, Ndruru, Zega, Zai dan Zebua.
Desa Onolimbu Raya terdiri dari empat dusun dengan jumlah kepala
keluarga yakni 950 kepala keluarga dimana jumlah laki-laki laki-laki lebih
dominan daripada perempuan dengan jumlah laki-laki sebanyak 520 jiwa,
perempuan sebanyak 409 jiwa. Adapun jenis pekerjaan yang mereka laksanakan
yakni mayoritas bertani, berternak, nelayan dan sebagai guru. Hasil pertanian
berupa kelapa, karet, cokelat, pinang dan padi dengan rata-rata penghasilan kirakira Rp.200.000/bulan.
Sarana dan prasarana yang bisa kita jumpai yakni sarana pendidikan
berupa SD sedangkan untuk mengecap pendidikan SMP, SMA, SLTA, hingga
Perguruan Tinggi mereka ke Kecamatan/Kabupaten Nias atau merantau di luar
daerah Nias. Sarana ibadah sebanyak 5 diantaranya 2 gereja ONKP (Orahua Niha
Keriso Protestan), 1 gereja Katolik dan 1 gereja BNKP (Banua Niha Keriso
Protestan). Sedangkan sarana olehraga terdiri dari lapangan sepakbola dan bola
voli. Sarana kesehatan hanya terdapat satu yakni Posyandu. Kegiatan desa
semakin diperkuat dengan adanya kegiatan ibu-ibu PKK dan adanya
gotongroyong yang masih kuat berlaku di desa ini misalnya dalam membangun
rumah, jalan, membagi hasil panen dan sebagainya. Desa Onolimbu Raya
merupakan salah satu desa percontohan di Kecamatan Mandrehe sebagai apresiasi
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
dari pemerintah Kabupaten Nias melihat kebersamaan dan kekompakan yang
masih terjalin pada masyarakat desa Onolimbu Raya.
2. 5 Sistem Kekerabatan Masyarakat Nias
a. Garis Keturunan
Suku bangsa Nias mengikuti garis keturunan patrilineal, yaitu mengikuti
hitungan hubungan kekerabatan melalui laki-laki. Anak laki-laki maupun
perempuan mengikuti garis keturunan ayah. Apabila anak laki-laki kawin,
biasanya tinggal dirumah orangtuanya dalam waktu satu, dua, tiga tahun sampai
lahir anak pertama. Tapi, anak perempuan yang sudah kawin harus keluar dari
rumah orangtuanya mengikuti suaminya.
Suku bangsa Nias yang berasal dari satu satu garis keturunan disebut
sisambua mado 17. Mereka diikat oleh pertalian darah yang dihitung melalui lakilaki. Setiap nenek moyang dan keluarga keturunannya memiliki atia nadu 18.
Sampai generasi yang kesembilan perkawinan diantara keturunannya dilarang
untuk generasi selanjutnya perkawinan diantara keturunannya tidak menjadi
masalah lagi. Hanya saja persyaratan harus dipenuhi yakni; memisahkan atia nadu
keturunan
tersebut dari kumpulan atia nadu nenek moyang dan membayar
pemisahan itu dengan memotong babi sebesar 4 alisi. Babi tersebut diberikan oleh
pihak laki-laki. Jadi dengan terjadinya perkawinan ini berarti kawin dalam
lingkungan marga atau mado yang sama. Itulah sebabnya di daerah Nias kita
jumpai suami/istri yang marganya sama.
17
Satu margas
Susunan adu satua. Adu merupakan tanda kebesaran pada masyarakat Nias, pada zaman dahulu
biasanya adu ini diukir/terbuat dari batu.Dahulu sebelum agama masuk ke Nias masyarakat Nias
menyembah ada nenek moyang tersebut karena dipercaya sebagai pemberi ketentraman,
kesejahteraan dan keselamatan, tapi saat ini kepercayaan tersebut tidak ada lagi.
18
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
b. Masyarakat Nias dalam Diagram Kekerabatan/Silsilah keturunan di Nias
SIHAI
TUHA SOGÖMI-GÖMI
TUHA SAHONO-HONO
LANGI SAGÖRÖ
BANUA
TUHA SIDUNIA
LÖLÖMBAŴA
MANGOLA TANÖ
SIRAO
MAMOLIKHE BIHARA
NDRURU TANÖ
HALUMÖGIA
BURUTI RAO
SILAUMA
BA’UWA DANÖ
BURUMEHAHA
TALUHAĖ
LAKINDRÖ LAI
BALUGU LUO
MEWÖNA
SILÖGU
NAWAÖNDRU ERE
GOWASA
HIA WALANGI SINADA
LAHARI
GÖZÖ TUHA
ZANGARÖFA
SI ADULO RAO ANA’A
GÖZÖ HELAHELA
DANÖ
HULU HADA ANA’A
DAELI
MANGARAZA LANGI
Diagram 1: diagram kekerabatan asal usul masyarakat Nias Buku Bapak Faogöli Harefa “Hakayat
dan cerita Bangsa dan Adat Nias Diterbitkan oleh Rapatfonds Residentte Tapanuli, 1939
(Ditulis ulang dalam bentuk diagram kekerabatan oleh Dominiria Hulu, 2008)
c. Kelompok Kekerabatan
Kelompok kekerabatan orang Nias terkecil adalah sangambatö yaitu
keluarga batih, tetapi kelompok yang penting adalah sangambatö sebua, yakni
keluarga besar virilokal yang terdiri dari keluarga batih senior ditambah lagi
dengan keluarga batih putra-putranya yang tinggal serumah, sehingga berupa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
sebuah rumah tangga dan satu kesatuan ekonomis. Gabungan–gabungan dari
sangambatö sebua dari satu leluhur disebut Mado (di Nias Utara, Timur dan
Barat) atau Gana (di Nias Tenggara di Nias Selatan).
Fungsi kelompok keluarga dari kedua belah pihak ini, paling menonjol
dalam upacara peralihan dari tingkat hidup remaja ketingkat hidup berkeluarga.
Jadi, apabila anak sangambatö tadi terutama anak perempuan kawin maka yang
banyak memegang peranan ialah keluarga dari pihak suami. Mulai dari awal
upacara sampai berakhir, mereka yang menjadi penghubung antara pihak laki-laki
dan orangtua perempuan serta yang menentukan segala sesuatu yang berhubungan
dengan upacara tersebut. Mereka ini merupakan kelompok kekerabatan yang
disebut menurut dekatnya dengan sangambatö tadi. Kelompok keluarga yang
paling dekat yaitu yang sekandung dan sepupu dihitung dari garis keturunan pihak
laki-laki yang disebut Iwa.
Saudara sepupu tingkat kedua disebut Huwa dan saudara-saudara tingkat
seterusnya disebut banua. Dari kelompok kekerabatan banua yang menerima hak
dalam upacara-upacara adat ialah Salawa dan stafnya. Selain dari kelompok
kekerabatan diatas, masih ada satu kelompok kekerabatan dari pihak suami yaitu
kelompok-kelompok saudara perempuan yang sudah kawin beserta keluarga
mereka masing-masing, yang disebut fadono atau ono alawe, termasuk keluarga
yang mengawini anaknya perempuan.
Fungsi dari fadono berbeda dengan Iwa, Huwa dan Banua. Kelompok
kekerabatan
ini
merupakan
pekerja
dalam
upacara
yang
olehsangambatö tadi. Itulah sebabnya dalam pembagian urakha
19
19
dilaksanakan
yang menjadi
Jambar/makanan yang diberikan dalam hal ini yakni babi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
bagian mereka adalah tangan/kedua kaki sebelah muka sebagai lambang
kecekatan.
Keluarga dari pihak istri merupakan suatu kelompok kekerabatan yang
disebut uwu. Jadi dari merekalah sumber hidup anak-anak sangambatö itu, hal
inilah yang menjadikan derajat
uwu lebih tinggi kedudukannya dari semua
kelompok kekerabatan tadi dan selalu mendapat penghormatan yang tertinggi dari
ngambatö tersebut. Selain itu keluarga yang memeberi istri bagi anak laki-laki
sangambatö merupakan satu kekerabatan yang disebut sitenga bö’ö. Kelompok
ini diundang apabila sangambatö mengawinkan anaknya, mengaadakan pesta
kematian atau pesta adat lainnya.
Gambar 10 : Tradisi perkawinan di Nias dimana pihak laki-laki memberi penghormatan kepada
pihak perempuan dengan memberi sirih.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Sistem istilah kekerabatan
Istilah kekerabatan dibagi 2 yakni istilah menyebut atau terms of address
dan istilah menyapa atau terms of reference. Masyarakat Nias juga memiliki
istilah tersebut seperti yang terurai dalam skema kekerabatan dibawah ini:
▲
ОJ
I
DM
C
ОО ▲
О
▲H
G
A
B
E
▲
О
F
K
N
▲ ▲ О О▲
O
▲A1
L
О ▲P
▲B1
Diagram 2 : Istilah kekerabatan (Rosthina; Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Nias, 1985)
Keterangan :
▲: simbol anak laki-laki
О
: simbol keturunan
: simbol kawin
:simbol anak perempuan
: simbol saudara kandung
▲ : terms of addres
R : terms of reference
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Terms of addres:
1. A A B
: Fo’omo atau istri
2. B A
: Fo’omo atau suami
A
3. A A E F
: La’o atau uwu atau paman anak-anak
4. A A C D
: Talifusö atau saudara
5. A A M
:Fo’omo dalifusö atau fo’omo ga’a/fo’omo
nakhi
atau suami/istri adik.
6. B A C
: Lakha
7. B A D
: Ono Alawe atau anak perempuan
8. B A M
: Kala’edo
9. A A G
: Ina matua atau ibu mertua dari pihak perempuan
10. A A
H
: Ama matua atau ayah mertua dari pihak perempuan.
B
: Umönö atau menantu
12. G A A A
: Umönö atau menantu
13. B A J
: Ina Matua, Ina Sowöli atau ibu mertua dari pihak
11. I
J A
laki-laki.
14. B A I
:Ama Matua, Ama Sowöli atau ayah mertu dari pihak
laki-laki.s
15. A B A E F
: Sibaya atau paman
16. A B A C D
: Talifusö Ama atau saudara ayah
17. A B A M
: Fo’omo Talifusö Amagu atau istri saudaaara ayah.
18. A B A J
: Awegu Khö Namagu, Ina Namagu atau nenek dari
ayah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
19. A B A I
: Tuagu Khö Namagu, Ama Namagu atau kakek dari
ayah
20. E F A A1 B1 : Ono Mbene’ö atau keponakan
21. C A A1 B1
: Tana nono
22. I J G H A A1 B1 : Ma’uwu atau cucu
23. A1 B1 A L
: Talifusö nina atau saudaara ibu
24. L A A1 B1
: Tana Nina
25. G H A I J
: Mbambatö (sebaliknya)
26. A B A A1 B2 : Ono (anak)
27. A1 B1 A A B
: Satua
28. A A K
: Fo’omo La’o
29. A A L
: Akhi Wo’omogu
30. A A N
: Gabalö
31. A1 B1 A O P
: Gasiwa
Terms of reference :
1. A R B
: Gelar waktu kawin atau ina… (nama anaknya)
2.B R A
: Ga’a atau Ama…(nama anak)
3. B R C M
: Ga’a atau Akhi atau Ama/Ina
4. B R D
: Ga’a atau akhi atau namanya dipanggil, jika dia
belum kawin.
5. A R E
: Ga’a atau Akhi Atau namanya
6. A R F
: Ga’a atau akhi/ ama…(nama anak kalau dia adik).
7. A R L
: Ga’a atau akhi (jika belum menikah namanya yang
dipanggil).
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
8. A R G H
: Ina/Ama
9. B R J I
: Ina/Ama
10. A1 B1 R A
: Ama
11. A1 B1 R B
: Ina
12. A1 B1 R E F
: Sibaya
13. A1 B1 R L
: Lawe
14. A B R C
: Za’a (Kalau tua dari Bapak), Dalu (saudara Bapak
yang tengah) dan Zakhi
(kalau lebih muda dari
Bapak.
15. A1 B1 R M
: Za’a, Dalu, Zaki
16. A1 B1 R D
: Za’a
17. A1 B1 R I1 H
: Dua (tua)
18. I J R A1 B1
: Ma’uwu (Menantu)
19. G H R A1 B1
: Ma’uwugu (Menantu saya)
20. A1 B1 R O P
: Ga’a atau akhi
d. Sopan Santun Kekerabatan
Semua anggota keluarga dan kerabat boleh saling menyapa, hanya saja
cara menyapa dibedakan kepada yang lebih tua, daripada yang lebih muda.
Kepada yang lebih tua harus lebih hormat daripada yang lebih muda umurnya.
Antara mertua dengan menantunya perempuan dan antara mertua dengan
menantunya laki-laki mempunyai hubungan yang erat sama seperti hubungan
orangtua dengan anak kandungnya. Demikian juga di antara yang beripar yaitu
suami dengan istri saudara laki-laki istrinya atau istri dengan saudara perempuan
suaminya dianggap seperti saudara kandung. Tidak ada garis pemisah antara
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
mereka, boleh bebas berbicara, hanya saja yang muda harus menghormati yang
lebih tua. Kelakar diantara kedua kelompok diatas boleh tapi harus dalam batasbatas kesopanan. Yang tidak bebas berkelakar ialah antara suami dengan saudara
perempuan istrinya.
Kelompok keluarga pihak istri lebih-lebih orangtua atau saudara laki-laki
istri mendapat penghormatan yang lebih tinggi dari kelompok keluarga lainnya.
Kalau
mereka
baru
pertama
kali
datang/berkunjung
kerumah
saudara
perempuannya, mereka harus memotong seekor anak babi minimal satu alisi.
Tidak ada alasan tidak ada persediaan, harus dicari biarpun berutang. Selain
memotong anak babi biasanya pemilik rumah tersebut haruslah memberikan oleholeh/bawaan berupa satu ekor anak babi. Jika tidak dia akan merasa malu terhadap
tetangga
dan
orang
sekampungnya
apalagi
kalau
mereka
mengetahui
kepergiannya itu. Itu sebabnya pihak keluarga istri jarang datang kerumah anak
perempuan, jika dilihatnya anaknya itu masih diperkirakan belum baik jalan
hidupnya/sengsara.
Perlu juga diketahui bahwa babi yang disuguhkan sebagai lauk, tidaklah
dipotong secara sembarangan, karena yang disuguhkan daribabi itu adalah
rahangnya beserta daging yang senyawa dengan rahang tersebut, jerohan atau
alakhaö dan beberapa potong daging pahanya serta rusuknya. Inilah makanan
penghormatan yang paling tertinggi, karena rahang atau simbi merupakan
lambang sangkutan atau tempat bergantung. Cara memasak daging babi itu
menurut adat hanya direbus saja bersama garam sedikit.
Jika fadono atau ono alawe yang datang dan baru pertama kali datang atau
jika dia telah panen maka ia akan membawa olöwöta/molöwö atau membawa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
bingkisan makanan) berupa daging anak babi yang sudah direbus, nasi dan afo
atau sirih kemudian ia akan dijamu dengan memotong seekor anak babi, tetapi
yang lebih ditonjolkan untuk disuguhkan yakni kaki babi depan atau tangan babi
bersama simbi. Tangan melambangkan kecekatan, jadi yang disuruh-suruh. Jika
mereka pulang harus diserahkan manu atau ayam dan satu ekor anak babi bersama
bingkisan makanan.
Penghormatan diantara anggota kerabat, orang lain atau tamu haruslah
memberi salam yakni ya’ahowu disusul dengan penyuguhan afo disusul dengan
menyediakan minuman dan makanan. Kata ya’ahowu dipergunakan saat bertemu
dengan siapa saja yang berasal dari Nias.
2.7. Perkawinan Suku Nias
Pelaksanaan perkawinan pada suku Nias memperhatikan beberapa hal
berikut, yakni:
a. Tujuan Perkawinan bagi suku Nias
Pada masyarakat Nias perkawinan memiliki empat tujuan yakni; pertama
untuk memperoleh keturunan tempat mewariskan garis keturunannya. Garis
keturunan tersebut diwariskan melalui anak laki-laki. Kedua, untuk memperoleh
tingkatan kedudukan sosial dasar, sebagai batu loncatan untuk meraih tingkat
kedudukan sosial yang lebih tinggi. Fangambatö 20 merupakan syarat untuk
memperoleh bosi yang ketujuh. Dari bosi inilah dia mulai berjuang untuk
memperoleh
bosi
yang
lebih
tinggi,
akhirnya
dia
memperoleh
gelar
kebangsawanan Balugu, suatu gelar yang menjadi cita-cita hidup seorang laki-laki
Nias pada zaman dahulu. Demikian juga dengan perempuan melalui perkawinan
20
perkawinan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
dia memperoleh gelar, misalnya Valen Balaki, Dina Barasi, Lehe Wiro. Gelar
inilah yang dipakai sebagai pengganti namanya. Menurut kebiasaan masyarakat
Nias jika anak perempuan telah menikah maka nama kecilnya tidak pantas
menjadi panggilannya. Apabila anaknya telah lahir barulah nama anaknya tersebut
menjadi panggilan mereka misalnya, nama anaknya Yuda maka Ayah dan Ibunya
dipanggil dengan sebutan Ama Yuda/Ina Yuda.
Ketiga, tujuan perkawinan supaya dapat mewarisi kedudukan orangtuanya
dalam adat. Kedudukan tersebut tidak selamanya diwariskan kepada anak sulung,
tapi jika anak sulung tersebut tidak sanggup memenuhinya, maka saudaranya lakilaki yang sanggup menerima memenuhi persyaratan, itulah yang menerimanya.
Jadi, jika belum kawin maka harta warisan berupa kedudukan dalam adat tidak
dapat diwariskan kepadanya.
Keempat, ialah untuk menyelesaikan permusuhan dalam kampung. Pada
zaman dahulu sering terjadi peperangan antar kampung yang disebabkan ingin
menguasai kampung orang lain, terhina dalam adat, dan lain-lainnya. Terjadinya
perkawinan diantara anak Salawa kedua kampung yang bermusuhan tersebut,
maka permusuhan diatara keduanya dapat diselesaikan.
b. Bentuk-bentuk perkawinan
Bentuk perkawinan yang telah diakui secara adat di Nias yakni :
1. Perkawinan yang didahului dengan famatuasa 21
Famatuasa yang sering dilaksanakan di Nias yakni Si’o 22 dan
Sanema li 23 atau Samatöro24.
21
pertunangan
telangkai dari pihak laki-laki
23
yang menerima permohonan si Si’o untuk disampaikan kepada orangtua si gadis yang dituju di
pihak perempuan
22
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
2. Perkawinan yang disebut famalali bate’e25
Perkawinan ini merupakan perkawinan antara janda dengan saudara lakilaki suaminya. Perkawinan ini adalah suatu keharusan, karena seorang istri adalah
hak keluarga suami. Apabila suaminya meninggal, maka saudara laki-laki
suaminya berhak mengawininya.
Mengenai böwö 26 dalam perkawinan ini dibayar juga oleh pihak laki-laki,
hanya saja böwö yang dibayar besarnya berbeda dengan besarnya böwö dalam
bentuk famatuasa. Böwö dalam bentuk perkawinan ini disebut böwö lakha 27,
ketentuannya sebagai berikut :
1. Böwö yang dibayarkan kepada orangtua janda sebesar, emas 1 siwalu 28
dan satu ekor babi 4 alisi 29
2. Böwö yang dibayarkan kepada banua si laki-laki yakni 4 alisi.
3. Wajib membayar semua utang mendiang
4. Ana’a Fanöngöni yang dibayarkan kepada salawa sebesar tambali siwalu.
Jika, janda tersebut dikawini oleh orang lain maka besarnya böwö lakha
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Böwö untuk orangtua janda tersebut sebesar, emas =sara siwalu dan satu
ekor babi sebesar 4 alisi.
2. Dibayar kepada saudara mendiang berupa böwö lakha yaitu: satu ekor babi
4 alisi.
24
Penunjuk jalan
Ganti tikar/bilik/kamar
26
jujuran
27
Jujuran untuk mengawini janda
28
1 pau emas muda
29
Alisi adalah satuan ukuran asli Nias untuk mengukur lingkar dada babi. Sistem ukuran ini
disebut afore , cara mengambil ukuran adalah menggunakan pita dari daun kelapa muda yang
dililitkan pada dada batas ketiak tungkai depannya. Hasilnya kemudian diukur dengan tongkat
pengukur. Hitungan pokok (tuhe gafore) adalah 32 cm.
25
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3. Howuhowu Zolakha, yang diterima oleh ahli waris almarhum berupa emas
sebesar sara balaki 30
4. Fangali ŵe zusu, yang diterima oleh anak janda sebesar sara balaki
5. Famatörö zalawa, yang diterima oleh para salawa di desanya berupa emas
sebesar fulu saga siwalu 31
6. Aya Nuwu,diterima oleh paman janda tersebut, berupa emas sebesar sara
siwalu
Diluar bentuk perkawinan yang biasa seperti diatas, ada juga bentuk
perkawinan yang lainnya yang disebut :
1. Perkawinan sifagasiwa 32. Besarnya böwö dalam bentuk ini sama dengan
böwö perkawinan pada perkawinan famatuasa.
2. Perkawinan sangawuli ba nuwu 33 dalam bentuk ini sama dengan böwö
perkawinan pada perkawinan famatuasa.
3. Perkawinan lahalö ono yomo 34
4. Perkawinan duda dengan saudara istrinya. Bentuk perkawinan ini
dilaksanakan supaya anak lebih terjamin pengurusannya dan supaya harta milik si
mendiang tidak menjadi milik perempuan lain. Pembayaran böwö pada
perkawinan pertama dan harus dimulai dari peminangan lagi.
30
1 pau emas perada = 10 gram, dizaman Belanda
Fulu saga siwalu = ¼ siwalu (2,5 gram)
32
Dari pihak ibu
33
Dari pihak ibu
34
Perkawinan yang terjadi karena orangtua si perempuan tidak mempunyai anak laki-laki. Jadi,
menantunya dianggapnya sebagai anaknya laki-laki. Dan dia harus tinggal dirumah mertuanya
sampai mertuanya meninggal. Dialah yang mengurus pemakaman. Mado-nya tidak hilang
demikian juga dengan anak-anaknya tetap mengikuti garis keturunannya. Setelah kedua mertuanya
meninggal, dia bebas mencari tempat tinggalnya.
31
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Syarat perkawinan
Tingkatan yang harus dilalui oleh seorang anak laki-laki sebelum ia kawin
adalah:
A. Tingkat I atau bosi si sara yakni fangaruwusi dengan merestui anak dalam
kandungan ibu.
B. Masa kanak-kanak atau bosi wa’iraono terdiri dari:
1. Bosi si dua atau meminta periuk
2. Bosi sitölu atau pemberian nama
3. Bosi siöfa atau penyunatan
C. Masa Pemuda terdiri dari :
1. Bosi si Lima atau Pemberian Keris
2. Bosi si Önö atau keris dihias
Keenam tingkatan Bosi tersebut disebut bosi wairaono, bosi selanjutnya
diperoleh jika si laki-laki telah kawin. Sedangkan bosi 8, 10 dan 12 diperoleh
dengan berbagai persyaratan yang diresmikan dengan pelaksanaan pesta-pesta dan
pesta adat yang disyahkan oleh raja-raja adat atau balugu yang tertua diantara
balugu didalam dan diluar wilayah banua.
Perkawinan dianggap sah apabila böwö wangowalu 35 sudah diselesaikan.
böwö wangowalu terdiri dari emas, babi dan padi. Böwö diberikan oleh pihak
laki-laki kepada pihak perempuan, jadi semua pengeluaran dari pihak perempuan
berupa alat perlengkapan dan sebagainya sudah diperhitungkan dari böwö yang
diberikan pihak laki-laki.
35
Secara harafiah, Böwö artinya pemberian dan wangowalu artinya perkawinan. Jadi artinya
pemeberian perkainan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Böwö tidak sekaligus diberikan, tetapi bertahap sejalan dengan tahapan
upacara yang dilaksanakan. Upacara tersebut yakni :
1. Fame’e li merupakan upacara penyampaian lamaran atau pinangan.
Penyampaian lamaran bisa oleh keluarga pihak laki-laki, tapi alangkah baiknya
jika menggunakan pihak perantara atau telangkai yang disebut samatöfa 36 dan
Si’o 37. Pihak perempuan juga menyediakan orang yang berfungsi sebagai
penerima penyampaian lamaran dari pihak laki-laki yakni samatöfa yang
fungsinya sama dengan pihak laki-laki sebagai penghubung kedua belah pihak
dan sanema li 38.
2.
Fame’e laeduru atau memberikan cincin pertunangan dengan
membawa jujuran ; emas sebanyak 2 siwalu, 2 ekor babi 4 alisi. Fame’e Laeduru
merupakan pemberian cincin sebagai tanda telah melaksanakan famatuasa.
Upacara ini bertujuan agar orang lain tidak mendekati gadis tersebut dan
mempererat tali hubungan kekeluargaan antar kedua belah pihak. Adapun
kegiatan yang dilaksanakan yakni;
a. fame’e bola nafo atau penyerahan kembut sirih yang lengkap
dengan lima jenis kembut diantaranya sirih, pinang, gambir, kapur,
tembakau dan membawa alöwota atau bingkisan daging babi yang
berisi simbi, alakhaö, daging
b. famidi afo atau menyuguhkan sirih
c. Olola huhuo atau musyawarah adat.
d. Femanga atau acara makan bersama
s36 Samatöfa berfungsi sebagai yang mendekatkan atau memperkenalkan kedua belah pihak
keluarga. Samatöfa hanya berfungsi sampai pada acara penyampaian cincin.
37
Si’o merupakan telangkai yang berfungsi sampai upacara perkawinan selesai.
38
Sanema Li berfungsi untuk menerima segala apa yang disampaikan keluarga atau Si’o dari pihak
laki-laki sampai terlaksana pesta perkawinan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
e. Fanou’ laeduru atau penyerahan cincin
f. Famöhögö ba ziraha afasi atau mengikatkan cincin tersebut pada
patung Siraha Afasi.
3. Fanunu manu atau membakar ayam dengan membawa jujuran emas 1
balaki, 2 siwalu dan 3 ekor babi. Fanunu Manu berfungsi sebagai pemberitahuan
kepada semua sanak keluarga. Dalam upacara ini sanak keluarga dan banua dari
kedua belah pihak diundang. Upacara ini juga menandakan telah terjalinnya
sebuah ikatan hubungan kekeluargaan atau fambabatö.
4. Famalua li atau menyampaikan hasrat dengan membawa jujuran emas
tambali siwalu sebesar 5 gram. Famalua li merupakan peryataan bahwa upacara
perkawinan tersebut akan dilanjutkan. Pihak laki-laki dalam upacara ini
menanyakan kepada pihak perempuan berapakiranya jumlah jujuran yang harus
dipenuhi. Adapun tahap-tahap yang dilaksanakan dalam famalua li yakni:
a. pihak tome 39 mengirimkan utusan si’o kerumah sowatö 40 dengan
membawa bola nafo dan olöwö famangelama41.
b. tahap kedua dilaksanakan fangowai atau penyampaian tujuan
c. tahap ketiga yakni fame’e afo atau pemberian sirih
d. tahap keempat yakni fanaba’ö olola zumange atau pemotongan babi
yang diberikan kepada pihak perempuan.
e. tahap kelima yakni olola huhuo atau musyawarah adat.
f. tahap keenam yakni femanga atau pemberian makan
39
Tome yakni sebutan untuk pihak laki, uwu:paman pihak perempuan.
Sowatö yakni sebutan pihak perempuan
41
olöwö famangelama merupakan bingkisan untuk memperingatkan /mengingatkan sowatö bahwa
pihak tome akan datang menanyakan böwö.
40
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
g. tahap ketujuh yakni fame’e bawi famalua li atau penyerahan babi untuk
upacara famalua li.
h. tahap kedelapan yakni fame’e sinulo atau penyerahan emas jujuran
sebagai perjanjian.
i. tahap kesembilan yakni fame’e ana’a famariŵa atau penyerahan emas
jujuran sebagai perjanjian.
j.
tahap
kesepuluh
yakni
fangötö
bongi
atau
penentuan
hari
berlangsungnya perkawinan oleh salawa-salawa pihak sowatö.
k. tahap terakhir yakni famözi atau pemukulan aramba/gong.
5.
Fame’e fakhe toho atau membawa padi jujuran dengan membawa
jujuran emas 1 siwalu, 2 saga tambali siwalu dan 4 ngaso’e padi. Fame’e fakhe
toho maksudnya yakni mengantarkan padi/beras untuk keperluan pada pesta
perkawinan. Tahap-tahap pelaksanaannya yakni:
a. Si’o dan beberapa orang dari pihak keluarga laki-laki mengantarkan
fakhe toho kerumah orangtua perempuan.
b. Salawa dipihak sowatö menakar banyaknya padi/beras, apakah sesuai
dengan yang sudah ditentukan.
c. Menyerahkan sua’a wakhe 42 yang bertujuan untuk membayar adat
untuk penakaran padi tersebut.
d. Orang yang membawa fakhe toho dijamu dengan makan sederhana
dengan lauk babi ni’owuru.
6.
Fangandrö li nina atau memohon waktu dari ibu gadis dengan
membawa jujuran emas 1 balaki dan 2 ekor babi. Fangandrö li nina maksudnya
42
Su’a wakhe yakni ukuran/takaran padi/beras.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
yakni memohon kepada ibu perempuan supaya ia menentukan hari perkawinan
yang sebenarnya, karena hari perkawinan yang ditentukan oleh salawa-salawa
dapat diubah atau diundur. Hari yang ditentukan oleh ibu disebut bongi adulo
yakni hari/malam yang segera akan terjadi atau terlaksanakan dan pasti tidak
dapat diubah oleh siapapun, kecuali kalau ada kemalangan.
7. Fame’e atau menasehati calon pengantin dengan membawa jujuran
emas 1 siwalu dan babi 3 ekor.
8. Famaola ba nuwu atau memberitahukan kepada paman gadis dengan
membawa jujuran emas 1 balaki, 2 siwalu dan 2 ekor babi.
9.
Famaigi bawi walö
ŵa
atau menengok babi jujuran adat dengan
membawa jujuran emas 2 siwalu dan suguhan makanan dengan lauk babi 4 alisi.
Famaigi bawi yakni melihat keadaan atau besarnya babi jujuran perkawinan oleh
pihak sowatö atau orangtua perempuan bersama dengan beberapa orang utusan
warga kampung perempuan dirumah orangtua si laki-laki calon penganten.
10 . Foalau bawi/folohe bawi atau membawa babi jujuran
dengan
membawa jujuran emas tambali siwalu, 3 ekor anak babi yang sudah masak
dengan cara dibungkus dan daging babi sebesar 4 alisi yang sudah dipotongpotong.
11. Falöŵa atau melangsungkan uapacara pernikahan dengan membawa
emas 1 balaki dan 6,5 sese.
12. Fame’e gö atau memberi makan penganten dengan membawa emas 1
balaki dan 2 ekor babi.
13. Famuli nukha atau mengembalikan peralatan/pakaian dengan
membawa emas jujuran 1,5 siwalu dan 2 ekor babi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
14. Fanöröi Omo atau rumah saudara bapak yang disebut tana nama
dengan membawa sirih.
Semua böwö ini diterima oleh keluarga pihak perempuan yaitu, orangtua
yang lazim disebut soboto, iwa, huwa, banua, uwu dan ere. Apabila böwö tersebut
kurang atau tidak diberikan kepada keluarga yang disebut diatas dapat
menyebabkan perkelahian. Pihak keluarga menyerang orangtua si perempuan,
karena beranggapan bahwa semua böwö tersebut telah diberikan oleh pihak lakilaki, tetapi orangtua perempuan menggelapkannya. Jika hal tersebut terjadi maka
penganten perempuan tidak akan diturunkan dari rumah karena keluarga
menahannya. Böwö memberikan pengaruh yang cukup besar ditunda maupun
dibatalkannya upacara perkawinan.
Rangkaian kegiatan perkawinan diatas mengisyaratkan pentingnya suatu
hubungan kekerabatan satu sama lain dalam memperoleh harta warisan berupa
tanah maupun adanya kedudukan seseorang dalam menyelesaikan/ikut serta
dalam penyelesaian sengketa tanah ataupun perebutan harta waris yang terjadi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB III
ARTI TANAH DAN HUKUM YANG BERLAKU PADA
MASYARAKAT NIAS
3.1. Arti Tanah pada Masyarakat Nias
Tanah merupakan pemberian dari Tuhan yang mana setiap orang di dunia
ini memiliki bagian masing-masing baik dalam struktur sosial, organisasi atau
dalam kehidupan bermasyarakat. Tanah juga menyediakan makanan dan bahanbahan lainnya untuk bertahan hidup, dari tanah segala kebutuhan manusia dapat
berjalan dengan lancar. Memiliki tanah yang banyak akan menjadi salah satu
tolak ukur kekayaan yang kemudian dengan sendirinya membuat orang tersebut
menjadi terpandang. Umumnya orang yang mempunyai tanah yang luas disebut
tuan tanah atau Sokhötanö dan biasanya ia memiliki beberapa pekerja
Ada beberapa alasan begitu pentingnya tanah dalam kehidupan masyarakat
Nias yakni:
a. Tanah sebagai identitas
Tanah dalam bahasa daerah Nias disebut Tanö atau Danö hal ini semakin
dipertegas dengan adanya lambang Kabupaten Nias yang bertuliskan Tanö Niha
yang merupakan identitas yang tidak terlepas pada masyarakat Nias. Tulisan Tano
Niha yang terdapat di lambang kabupaten adalah nama resmi Kabupaten Nias
dalam bahasa daerah Nias.
Gambar 11: Lambang pulau Nias, Google BPS-Nias 2009
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Sedangkan tulisan Datatuwu dengan warna hitam adalah semboyan
Pemerintah
Daerah
Kabupaten
Nias
sebagai
pemersatu
untuk
lebih
membangkitkan semangat dan penyatuan tekad dalam meningkatkan laju
pembangunan daerah Nias. Buah kelapa dengan warna kuning coklat
menunjukkan salah satu hasil bumi utama daerah Nias, sedangkan jumlahnya
yang yang 17 (tujuh belas) buah mengingatkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia adalah tanggal 17 (tujuh belas).
Mayang padi dan butirnya yang berjumlah 45 (empat puluh lima) buah
mengingatkan tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah tahun
45 (empat puluh lima). Deretan Bukit Barisan yang kelihatan delapan buah
berwarna hijau melambangkan keindahan alam Daerah Nias serta mengingatkan
bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah bulan 8 (Agustus).
Gambar Bintang dengan warna kuning mencerminkan kehidupan kerohanian
masyarakat Nias yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tanö Niha banua somasido, Tanö si tumbu ya’o wöna.. Hemukoli ndrao ba
zaröu, balö olifudo sa’ia... .Tanö si Tumbu do, mohili ba ebolo ndraso.. so nungoni
tanö ba mbombo wasui asi sebolo... (tanah Nias tanah yang kucintai, tanah
kebanggaanku... dimanapun aku berada, tidak akan terlupakan... tanah
kelahiranku, berbukit dan sangat luas...tanah yang berada ditengah lautan yang
sangat luas)
Lirik lagu diatas merupakan lagu kebangsaan masyarakat Nias yang
berjudul Tanö Niha yang selalu dinyanyikan pada acara-acara kebesaran misalnya
acara peresmian, pesta Ya’ahowu dan sebagainya. Lirik lagu tersebut juga
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
mengisyaratkan secara nyata begitu dekatnya serta sangat berharganya nilai tanah
dipandang sebagai identitas yang mempersatukan dan memberikan kekuasaan
pada masyarakat Nias. Lirik lagu ini juga menandakan hubungan emosional dari
masyarakat Nias untuk tetap menjaga dan mempertahankan kepemilikan tanahnya
dari gangguan masyarakat luar yang belum sah secara adat menjadi penduduk di
Nias. Lambang dan slogan Kabupaten Nias serta Lagu kebangsaan masyarakat
Nias telah mengungkapkan tanah sebagai identitas pada masyarakat Nias yang
secara turun temurun telah diwariskan dan dipertahankan.
b. Tanah sebagai Kekuasaan
Tanah sebagai kekuasaan terungkap dari sistem kekerabatan masyarakat
Nias yang digariskan menurut garis keturunan laki-laki atau berdasarkan marga,
selain itu tanah sebagai kekuasaan mempererat hubungan kekeluargaan atau
talifusö pada masyarakat Nias. Tanah sebagai kekuasaan terungkap dengan
pendirian rumah adat dan pendirian kampung atau banua sebagai kekuasaan tanah
marga
Gambar 12: megalith/tugu kebesaran pada masyarakat Nias dan rumah adat masyarakat Nias,
Dominiria Hulu dan google photo, 2008.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Masyarakat Nias dahulunya dalam memperoleh kekuasaan atas sebidang
tanah, haruslah mengadakan kegiatan pesta adat atau owasa yang bertujuan untuk
meneguhkan kekuasaannya terhadap tanah tempat tinggalnya. Peneguhan tersebut
akan dihadiri penetua/petinggi adat dan akan mensyahkan batas kekuasaan berupa
luas tanah dari yang mendirikan rumah tersebut, biasanya yang melaksanakan
kegiatan adat ini yakni orang-orang yang telah memiliki kekuasaan dan ingin
memperluas daerah kekuasaanya. Setelah disyahkan maka orang tersebut akan
diberi julukan Balugu. Kemudian Balugu inilah yang akan mewariskan tanah
miliknya yang sangat luas kepada anak-anaknya sebagai penerus daerah
kekuasaanya.
Adapun bentuk rumah adat pada masyarakat Nias terdiri dari dua yakni:
a. Bagian utara : bentuknya oval (lonjong) dan atapnya dari rumbia
b. Bagian selatan: bentuknya persegi panjang berpetak
Gambar 13: Rumah adat bagian utara (domi, 2008)
Gambar 14: B.Rumah adat bagian selatan (google,2008)
Kedua rumah adat diatas disebut sebagai Omo Hada. Tiang rumah adat
Nias ukurannya besar mempunyai kolong, tangganya tinggi, dindingnya dirakit
tanpa paku, tiang dinding diberi relief dengan motif khas Nias. Rumah adat pada
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
masyarakat Nias memiliki bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan kegunaan
dan tingkat kedudukannya dalam adat.
Bentuk rumah adat dibedakan atas empat kelompok yakni:
1. Omo Arö Gosali: berupa balai adat/balai pertemuan/tempat musyawarah
seluruh warga kampung termasuk pemimpin, dalam rangka menyelesaikan
permasalahan dan mendengarkan keberhasilan dari kegiatan desa baik adat,
hukum, sosial dan kegiatan lainnya)
2. Omo Hada: berupa rumah adat tempat tinggal pimpinan masyarakat atau
disebut Si’ulu atau penghulu di daerah Nias bagian selatan dan Balugu/Salawa
pada masyarakat Nias bagian utara. Pada bagian bangunan Omo Hada terdapat
ukiran-ukiran yang unik yang melambangkan kekuasaan dan kekayaan.
3. Omo Ni’olasara: berupa rumah adat yang tiangnya berukiran dengan
motif ni’olasara, dan biasanya rumah ini ditempati oleh kaum bangsawan atau
tokoh adat.
4. Omo Niha Sigölötö: berupa rumah rakyat biasa, berbentuk sama dengan
rumah adat tetapi tiangnya tidak berukiran.
Bangunan rumah adat diatas menegaskan pentingnya tanah sebagai tempat
malaksanakan berbagai kegiatan misalnya pesta adat perkawinan, kegiatan
musyawarah, pengembangan desa dan sebagainya. Luasnya tanah dan
perkarangan pemilik rumah adat juga menandakan kekuasaan
mutlak dari si
pemilik tanah untuk memperoleh penghargaan pada acara-acara adat yang
dilaksanakan di desanya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Tanah sebagai Laju Perekonomian Masyarakat Nias
Tanah sebagai lahan perekonomian terlihat jelas dari beberapa kegunaan
tanah yakni sebagai lahan pertanian dan perkebunan yang
produktif seperti
menanam tanaman durian, kelapa, padi, pisang, cokelat, karet dan tanamantanaman palawija. Selain itu tanah juga dijadikan sebagai tempat usaha, misalnya
sebagai tempat industri skala besar maupun rumahtangga, sebagai pasar tempat
terjadinya transaksi penjualan hasil-hasil usaha masyarakat di bidang pertanian
dan sebagainya, selain itu digunakan sebagai tempat usaha peternakan babi,
kambing, kerbau, ayam dan ternak unggas lainnya. Usaha pertokoan juga menjadi
suatu cara pemanfaatan tanah tidak hanya bagi masyarakat Nias namun
masyarakat
lain
seperti orang
Tionghoa dengan usaha-usaha dibidang
elektronik/bahan-bahan bangunan serta suku Minang dengan usaha rumah makan,
toko pakaian dan sebagainya. Tanah juga bisa dijual sebagai modal usaha serta
sebagai modal pendidikan untuk melanjutkan sekolah. Biasanya, tanah digadaikan
atau dijual agar kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi.
d. Tanah Digunakan sebagai Laju Pembangunan
Perkembangan suatu daerah ditunjang dengan adanya pembangunan yang
menggunakan banyak tanah, misalnya:
1) Pembangunan lokasi pariwisata atau tempat rekreasi. Pembangunan lokasi
pariwisata menggunakan tanah masyarakat menjadi prioritas pemerintah
Kabupaten Nias, mengingat Nias merupakan lokasi wisata yang memiliki banyak
kekayaan alam maupun wisata sejarah, contohnya; wisata alam pantai Lagundri
dan Sorakhe di Nias Selatan, wisata alam Pantai Bunda di daerah Fodo, wisata
alam Pantai Sirombu, wisata sejarah megalit di desa Dahana dan wisata sejarah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Tögi Nifo di Sirombu dan objek wisata lainnya. Pembangunan lokasi pariwisata
tentunya membawa dampak ekonomis terhadap daerah maupun masyarakat yang
berada disekitar objek wisata.
Kebutuhan tanah akan perkembangan lokasi paeriwisata tentunya sebagian
menggunakan tanah masyarakat, baik yang diberikan secara percuma oleh
masyarakat maupun yang diberikan berdasarkan perjanjian penggunaan.
Misalnya, objek wisata megalit yang dalam penggunaanya harus dipelihara dan
dirawat dengan baik.
Gambar 15: Proyek pembangunan pariwisata di lokasi penelitian desa dahana dan Sirombu,
Dominiria Hulu, 2008
2). Terjadinya gempa 28 maret 2005 telah membawa pengaruh signifikan terhadap
penggunaan tanah sebagai lokasi pembangunan yang tidak terelakkan. Tanah
tersebut menjadi lahan komoditi yang diperjualbelikan kepada pihak luar untuk
pembangunan dan hal ini telah membawa dampak adanya lahan kosong yang
selama ini menjadi lahan tak berfungsi menjadi lahan produktif, hal ini ditandai
dengan adanya kegiatan-kegiatan pengembangan usaha pertanian dari lembagaDominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
lembaga swadaya masyarakat berupa
program livelihood 43 misalnya tempat
peternakan, bibit cokelat, pembangunan jalan, pembangunan gedung perkantoran
dan sekolah-sekolah serta program rekonstruksi pembangunan rumah pengungsi.
.
Gambar 16: Salah satu contoh pembangunan gedung sekolah, Dominiria Hulu 2008
Gambar 17: Rumah pengungsi, dominiria hulu;2008
43
Program-program dalam bidang pertanian misalnya sebagai lahan pembibitan coklat, tanah
percontohan dan sebagainya
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3. 2. Sistem Kepemilikan Tanah pada Masyarakat Nias
Kepemilikan tanah pada Masyarakat di Kabupaten Nias yakni:
3.2.1. Berdasarkan Keturunan/ Kerajaan Tetehöli Ana’a.
Silima Börödanömö yang merupakan pusat penyebaran penduduk yang
memenuhi pelosok tanö niha sampai ke Kepulauan Hinako dan Kepulauan Batu.
Penyebarannya tersebut dapat dilihat melalu peta etnografi dibawah ini:
Gambar 18: Penyebaran kepemilikan tanah pada masyarakat Nias, dari buku asal usul masyarakat
Nias suatu interpretasi, P. Johannes, 1999
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar diatas menunjukan penyebaran marga dan tanah pada masyarakat
Nias berdasarkan keturunan Kerajaan Tetehöli Ana’a dan Silima Börödanömö
merupakan anak Raja Balugu Sirao yang melaksanakan penyebaran tersebut, hal
ini terdiri dari:
1. Hiawalangi’adu yang tiba di bagian selatan Tanö Niha dan bermukim
dikawasan hulu sungai Gomo. Beliau kemudian mendirikan banua atau kampung
pertamanya Sifalagö-Gomo yang lebih terkenal dengan sebutan banua Börönadu,
sampai sekarang masih dihuni penduduk dan disana-sini tampak peninggalan
kuno megalitkultur seperti kuburan Hia Walangi’adu, tugu-tugu batu dan
sebagainya.
2. Gözö Helaheladanö yang tiba dibagian utara Tanö Niha atau termasuk tanö
nihayöu termasuk daerah Laraga Kecamatan Gunungsitoli dan Tuhemberua.
Kemudian beliau pindah ke sebelah utara di daerah Kecamatan Lahewa dan
mendirikan banua pertamanya di Gunung Hili Gözö bernama Hili Gözö, bukti
peninggalannya sepasang tugu batu.
3. Hulu Hada yang tiba di bagian barat Tanö Niha dan mendirikan banua
pertamanya Laehuwa di tepi sungai Oyo, Kecamatan Mandrehe, bukt i
peninggalannya berupa tugu batu.
4. Daeli yang tiba di bagian timur Tanö Niha dan mendirikan banua pertamanya
Tölamaera di tepi sungai Idanoi, Kecamatan Gidö, bukti peninggalannya yakni
kuburan Daeli bernisan batu.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
5. Silögubanua yang tiba di sebelah barat Tanö Niha, lalu bermukim dan
mendirikan banua pertamanya Hiambua di tepi sungai Oyo, sebelah timur banua
Laehuwa, Kecamatan Mandrehe. Sekarang masih dihuni penduduk dan masih
terdapat
peninggalan kuno beberapa Tugu Batu. Silögu Banua adalah cucu,
putera sulung dari Balugu Luomewöna.
Keturunan dari masing-masing leluhur Silima Börödanömö memakai
identitas. Mula-mula mereka memakai istilah ono atau anak atau iraono, misalnya
Ono Delau, Ono Dohu, Iraono Las, Iraono Huna, dan sebagainya. Tetapi
kemudian pada masa Pemerintahan Belanda sewaktu dikeluarkan Surat Pas atau
kartu penduduk mulai dipergunakan istilah mado. Mado bukan hanya diambil dari
leluhur pertama tetapi juga dari leluhur berikutnya yang lebih terkenal jaya
menurut gelar karena pesta adat yang disebut owasa. Demikianlah hingga
sekarang kita mengenal sampai ratusan nama mado atau marga pada masyarakat
Nias, misalnya:
-
Dari keturunan Hiawalangi’adu yakni mado Hia, Lai’a, Dachi,Waruwu,
Harefa, Telaumbanua, dan lain-lain.
-
Dari keturunan Gözö Helaheladanö yakni mado Baeha dan Dawölö
-
Dari keturunan Hulu Hada yakni mado Hulu, Nazara, Zaluchu dan lainlain.
-
Dari keturunan Daeli yakni mado Daeli, Gea, Larosa dan lain-lain.
-
Dari keturunan Silögubanua yakni mado Zebua, Zai, Zega, dan lain-lain.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3.2.2. Berdasarkan Fondrakö Bonio oleh Sitölu Tua.
Fondrakö Bonio atau Fondrakö Ni’owuluwulu memiliki teritorial huku m
adat yang meliputi Kerajaan Öri Tumöri (Mado Zebua), Kerajaan Öri Dahana
(Mado Harefa), Öri Ulu (Mado Telaumbanua). Ketetapan Fondrakö Bonio
menetapkan batas teritorial yurisdiksi antara masing-masing Sitölu Tua atau yang
tiga mado yakni:
-
Bagian untuk mado Zebua adalah kawasan tengah, terbentang antara anak
sungai Bogalitö sebelah utara sampai sungai Nou sebelah selatan.
-
Bagian untuk mado Harefa adalah kawasan sebelah selatan yang
berbatasan pada sungai Nou dengan bagian Mado Zebua
-
Bagian untuk Mado Telaumbanua adalah kawasan sebelah utara yang
berbatas pada anak sungai Bogalitö dengan Mado Zebua.
-
Saota Luaha Nou atau pelabuhan Kuala Nou adalah hak kuasa bersama
Sitölu Tua dalam hal ini yakni Mado Zebua, Harefa dan Telaumbanua.
3.2.3. Perolehan Hak Kepemilikan Tanah Berdasarkan Komunitis
Perkembangan
kota
Gunungsitoli
sebagai
pusat
dari
kegiatan
perekonomian Kabupaten Nias, telah mendatangkan berbagai etnis lain
diantaranya yakni:
1. Kedatangan Etnis Aceh
Pada tahun 1058 H atau 1639AD, dari Preumbeu-Melaboh (Aceh Utara),
seorang Aceh bernama Lebai Pulit alias Tengku Polem dengan menumpang
perahu seorang diri terdampar di kuala sungai Laraga dekat Kampung
Luahalaraga. Karena dianggap emali dawa Ace atau orang Aceh penculik dan
perampok, penduduk menangkapnya dan dianiaya kemudian dihadapkan kepada
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Raja Laraga, Tuhenöri Balugu Samönö Tuhabadanö Zebua. Setelah melalui
proses, ia ditawan dan dikurung selama beberapa waktu.
Kemudian Baginda Harimao Harefa dengan puteranya dari Onozitoli
dating dari Luahalaraga menanyakan perihal Tengku Polem. Setelah dimengerti
maka mereka meminta kepada Raja Laraga untuk menebusnya. Raja Laraga
mengizinkannya, sehingga ia dibawa ke Onozitoli dan menjadi pekerja dalam
keluarga Harimao Harefa.
Beberapa tahun kemudian, karena telah bekerja baik dan jujur maka
Tengku Polem dikawinkan dengan Kabowo, anak perempuan Harimao Harefa
dengan sistem ono yomo atau menantu yang diangkat sementara, dari perkawinan
tersebut mereka mendapat anak laki-laki yang bernama Simaöga atau Simeugung
serta anak perempuan yang bernama Siti atau Siti Zahora.
Setelah baginda Harimao Harefa meninggal dunia, Tengku Polem
bersama dengan ipar-mertuanya Ka’owa Kahemanu Harefa pindah dari Onozitoli.
Mula-mula mereka bermukim di Osalafache-Turewodo, lalu di Tetehesi-Miga
terus ke Dahana’uwe yang merupakan kampung Bawölaraga Harefa dan
kemudian di Lasara . Untuk sementara Tengku Polem sekeluarga tinggal bersama
ipar-mertuanya Ka’owa Kahemanu Harefa di Lasara, kemudian diberikan tempat
pemukimannya di Siwulu yang merupakan desa Mudik. Setelah bermukim di
Siwulu, Tengku Polem menyuruh anaknya Simeugang belajar agama Islam di
Meulaboh sampai belasan tahun di sana.
2. Kedatangan Etnis Minangkabau.
Pada tahun 1109 H, sebuah perahu layar dari Minangkabau menuju Aceh
Barat diserang angina taufan, sehingga terdampar di Teluk Tölubalugu atau Teluk
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Belukar 15 Km dari Gunungsitoli. Setelah mendapat informasi dari penduduk
setempat, perahu tersebut kembali berlayar melalui pelabuhan Luahanou di
Gunungsitoli. Pimpinannya ialah Datuk Ahmad Caniago bersama Ahmad Linto
atau Rinto dan Datuk Kumango serta beberapa teman lain. Mereka berasal dari
Kampung Dalam, Negeri Pariaman Padang Panjang, Luhak Tanah Datar,
Minangkabau. Mereka berlabuh di Luahanou dan menemukan Tengku Polem di
Siwulu.
Kedatangan perahu Minangkabau itu, kemudian diberitahukan oleh
penjaga pelabuhan kepada Raja-raja Sitölu Tua. Kemudian mereka datang ke
Gunungsitoli di Luahanou untuk meminta bea pelabuhan. Maka Datuk Ahmad
membayarkan bea pelabuhan itu sebagaimana mestinya dalam situasi damai.
Beberapa hari kemudian Datuk Ahmad melamar Siti Zahora, anak perempuan
Tengku Polem, dengan persetujuan ipar-mertua Tengku Polem di Lasara dan
dengan syarat Datuk Ahmad harus tinggal menetap di Nias, lamaran itu terwujud
dengan perkawinan yang dilangsungkan di Lasara, di rumah Kö’öwa Kahemanu
Harefa. Saat itu, sesuai dengan tradisi mereka kepada Datuk Ahmad diberikan
nama baru yaitu Raja Ahmad, sejak itu Raja Ahmad tinggal bersama temantemannya di Kampung Lasara.
Setelah terjalin hubungan perkawinan tersebut maka Raja
Ahmad
meminta tempat pemukimannya dengan paman-mertuanya. Baginda Kö’öwa
Kahemanu Harefa memberi lokasi sebelah hilir dari Siwulu. Raja Ahmad segera
membangun rumahnya pada 11 syafar 1111 H. Pemukiman itu dinamakannya
Kampung Dalam. Kemudian putera bungsu Raja Ahmad, Datuk Raja Meulimpah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
mengembangkan kampung tersebut dan diberi nama Kampung Ilir, dalam
perkembangannya kemudian dinamakan Kampung Baru.
Karena Simeugang belum pulang dari Meulaboh, maka Raja Ahmad
membawa kedua puteranya di rumahnya, hingga kedua mertuanya meninggal di
situ. Setelah Simeugang kembali dari Meulaboh, tidak berapa lama kemudian ia
menikah dengan seorang gadis dari mado Zebua. Setelah itu ia membangun
rumahnya di Siwulu. Setelah rumahnya selesai, barulah ia mengadati kematian
kedua orang tuanya sesuai dengan adat Islam dan sesuai dengan adat Nias dengan
enam ekor babi untuk pihak pamannya di Lasara. Pada saat itulah pamannya
memberi gelar kepadanya Amazihönö dan pemukimannya di Siwulu dinamakan
Kampung Mudik.
3. Pengibahan Kuasa dan Tanah Wilayah oleh Salawa Lasara.
Atas usul Simeugang dan Raja Ahmad, pamannya Kö’öwa Kahemanu
Harefa melakukan musyawarah bersama untuk penentuan kekuasaan dan tanah
wilayah mereka tersebut yang disyahkan dalam Fondrakö Heleduna dengan
ketetapan sebagai berikut:
a. Simeugang menjadi Kepala di kampung Mudik dan Raja Ahmad menjadi
kepala di Kampung Dalam-Ilir, dengan menjalankan adatnya masing-masing,
dengan tetap mengakui kebesaran pihak pamannya di Lasara hingga keturunan
mereka.
b. Tanah wilayah untuk kampung Mudik dan Ilir, mulai dari Heleduna,
menyusur kaki gunung sampai Landatar dan terus di pinggir laut, dan dari
Heleduna sampai di sungai Nou.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. Kalau ada musuh saling membantu, bila musuh dari laut maka Raja
Ahmad dan Simeugang di depan dan bila musuh dari darat maka pihak pamannya
yang di depan.
4. Kedatangan Orang Tionghoa
Orang-orang Tionghoa atau Cina dinamai oleh Ono Niha Dawa Sina atau
lebih populernya disebut Kehai.
Sebenarnya orang Cina telah lama datang
berdagang di Tanö Niha dan di Gunungsitoli. Mereka, selain sebagai pedagang
biasa juga sebagai calo atau agen perdagangan budak dari orang Aceh, jauh
sebelum VOC Belanda datang. Tetapi mereka tetap tinggal di daerah ini.
Setelah pemerintahan Belanda berkeduduka n di Gunungsitoli tahun 1840
keamanan mulai terjamin, maka sekitar tahun 1850 orang Cina mulai berdomisili
di kota Gunungsitoli. Mereka terdiri dari empat orang yakni Kehai Adulo, Kehai
Bule, Kehai Saitö Bewe, dan Kehai Timba yang keturunanya yakni Sitorosi, Si
Peng, Si Lem. Pertama-tama mereka mengambil lokasi pemukiman di pinggir
sungai Nou sebelah utara dekat pelabuhan Luahanou. Sejak itu orang Cina
berangsur-angsur datang dan berdomisili di Kota Gunungsitoli dengan pekerjaan
sebagai pedagang.
Pertambahan penduduk di Kota Gunungsitoli yang terasa padat dan
kekurangan tempat perumahan, maka Pemerintah Belanda mengadakan perluasan
lokasi kota dengan melokalisasi penduduk menurut etnisnya. Sistem ini,
membentuk perkampungan dalam kota yaitu Kampung Cina mulai dari pinggir
sungai Nou kearah utara terus Kampung Melayu. Kemudian diangkatlah kepala
pemerintahannya yang disebut Kapitan. Demikianlah kampung Cina itu terbentuk
dan dan sekarang masih tampak dalam kota Gunungsitoli.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3.2.4. Berdasarkan Sistem Kepemilikan Tanah Secara Ideal
Tanah pada masyarakat Nias terdiri dari tanah anak berdasarkan atas
pembagian harta warisan, tanah ulayat yang merupakan tanah leluhur yang
diwariskan kepada keturunan berdasarkan marga dan tanah milik pribadi yakni
tanah yang dibeli dengan uang pribadi dan tidak di sahkan secara hukum adat.
.
Secara umum kepemilikan tanah bagi masyarakat Nias ada dua macam :
a. Secara adat (tanah ulayat/tanah leluhur); ini biasanya diperoleh dari pembagian
harta nenek moyang, yang dibagikan secara turun temurun berdasarkan garis
keturunan laki-laki namun kebanyakan belum bersertifikat secara hukum atau
belum terdaftar di kantor Pertanahan Negara.
b. Milik Pribadi; kepemilikan tanah yang seperti ini, diperoleh dari pembelian
pribadi yg tidak dipengaruhi oleh hukum adat dan biasanya memiliki sertifikat
dari instansi pemerintah terkait sebagai bukti kepemilikan.
Sedangkan secara khusus pada masyarakat Nias kepemilikan tanah dibagi
atas empat yakni:
a. Sotanö yakni yang mempunyai tanah, biasanya ini masyarakat asli dari desa
tempat tinggalnya
b.
Nifotanö yakni kepemilikan tanah berdasarkan pemberian dari masyarakat
setempat dimana seseorang ingin tinggal. Jika dulu biasanya ini dilakukan
dengan adat :
-
ibe’e famaböbö löwi-löwi yakni sebuah ikatan janji bahwasanya ia akan
bertanggungjawab/sepenuh hati memberikan yang terbaik terhadap desa
tempat tinggalnya jika ada kejadian-kejadian yang mempertaruhkan nama
desa.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
-
Famolala bahele-hele dimana jika seseorang telah sah menjadi warga di
desa tersebut dan memiliki tanah maka ia akan diterima untuk bergabung
dengan masyarakat misalnya ke sumur, acara adat dan sebagainya.
c.
Nifobanua atau Sowaunua yakni seseorang yang telah sah menjadi warga di
desa tempat ia tinggal, contohnya etnis Dawa keturunan Aceh dan
Minangkabau yang telah disahkan secara adat Fondrakö Heleduna.
d.
Sifatewu yakni pendatang/penumpang
yang belum terikat dengan adat
setempat dan tidak memiliki hak atas tanah dan pemerintahan, kecuali kalau
mereka telah mengikat dirinya dengan hukum adat dengan memenuhi syarat
dan norma tertentu.
Masyarakat Nias pada zaman dahulu jika ingin meneguhkan kepemilikan
tanahnya maka ia mengadakan suatu kegiatan adat yang disebut Fanaru’ö Tanö 44.
Adapun hal yang dipersiapkan dalam kegiatan tersebut yakni :
1. Mengundang Balugu/tokoh adat dan Salawa.
2. Menyiapkan sarigi firö yang merupakan mata uang dari logam pada
zaman Belanda dan sekarang harganya kira-kira 700.000 dan diberikan
kepada Tuhenöri.
3. Babi 1 ekor dan biasanya simbi merupakan penghormatan kepada
Salawa.
4. Mengundang pihak-pihak yang berbatasan dengan tanahnya
5. Mengundang masyarakat di lingkungannya
44
Menancapkan batsa tanah berupa tanaman atau pilar yang terbuat dari semen.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Setelah menyiapkan beberapa hal tersebut diatas, maka dibuatlah hukum
yang disebut dalam bahasa Nias Lafatörö goi’goi yang disahkan oleh Tuhenöri
dengan mengatakan
“Da’a banuagu, sino ufatörö nola, andrö haniha zangai sitenga khönia
ba göna ia huku yaia daö öfa alisi bawi ba ibe’e gö mbanua“. Artinya,
ini merupakan kebun saya, maka saya tancapkanlah batas kebun saya
ini
melalui
kegiatan adat,
jika
kelak tanah
saya
diganggu/
dipersengketakan maka orang yang mempersentakan tersebut akan
dihukum dengan membayar adat berupa membawa 4 alisi babi dan
memberikan makanan kepada warga disini.”
Keabsahan dari kepemilikan tanah pada masyarakat Nias juga terihat
dengan adanya kegiatan adat perkawinan dan biasanya pengesahan secara tidak
tertulis tersebut ketika diadakan pada saat pesta adat wamozi aramba. Wamözi
Aramba yakni jika seorang laki-laki menikah dan disahkan secara adat di desanya
maka secara otomatis dia akan memiliki hak dalam desa baik dalam hal
kepemilikan tanah warisan orangtuanya maupun hak-hak lain dalam pelaksanaan
musyawarah adat, seperti dalam penyelesaian sengketa, selain itu perkawinan juga
sebagai tanda kepemilikan lahan kepada pihak wanita nias yang akan secara
otomatis memiliki tanah dari warisan suaminya, sehingga dalam pengerjaan lahan
ladang, sawah, atau mendirikan rumah di tanah warisan suaminya tidak akan
diganggu gugat oleh masyarakat desa. Hal inilah yang menunjukkan bahwa
perkawinan dalam adat Nias dapat memberi kemudahan dalam penyelesaian
sengketa tanah, karena ini akan mendorong adanya ikatan kekerabatan berupa
marga yang kelak dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 19: pegesahan secara adat di desa dalam kegiatan perkawinan wamozi aramba foto:
Dominiria Hulu, 2009
Gambar 20: Pengesahan adat perkawinan wamozi aramba dihadiri para tokoh2 adat setempat,
Dominiria Hulu, 2009
Gambar 21: Daging babi yang digunakan untuk
pengesahan adat, Dominiria Hulu 2009
Gambar 22 :Penyerahan daging babi kepada
pengetua adat, Dominiria Hulu 2009
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Pengesahan adat menggunakan babi dan uang serta minuman tuak/brendi
sebagai simbol sangat berartinya kegiatan adat tersebut yang mana daging babi
tersebut akan diberikan kepada pengetua adat dan pihak perempuan dari pengantin
laki-laki yang disebut uwu. Pembagian kepada pengetua adat sesuai dengan
kedudukan dari pengetua adat tersebut.
Gambar 23 : minuman yang disajikan serta sirih yang merupakan simbol dari pelaksanaan kegiatan
adat, Dominiria Hulu: 2009
Sistem kepemilikan lahan secara tradisional baik secara adat fanaru’ö tanö
ataupun acara adat perkawinan Famözi Aramba
hanyalah berfungsi sebagai
peneguhan secara adat di desa tersebut. Peneguhan secara adat tanpa adanya bukti
tertulis telah membawa pengaruh signifikan terhadap terjadinya sengketa tanah.
Hal ini terjadi karena kurangnya bukti-bukti kepemilikan tanah yang selalu hanya
didasarkan konsep kejujuran dan tanpa sertifikat yang dikeluarkan oleh Badan
Hukum seperti Badan Pertahanan Nasional. Oleh karena itu, akhir-akhir ini mulai
adanya penyadaran akan pentingnya sertifikat tanah sebagai kekuatan hukum
untuk menghindari terjadinya pemanfaatan situasi misalnya, situasi tanaman yang
sudah produktif dan ingin dikuasai, situasi pendidikan yang buta huruf dan
sebagainya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3.3. Hukum yang Berlaku pada Mayarakat Nias
Masyarakat Nias mengenal beberapa hukum yang satu sama lain sangat
mendukung terhadap adanya ketentuan yang dijalani, baik hukum yang tertulis
maupun yang tidak tertulis. Hukum tersebut yakni:
3.3.1. Hukum Waris
Hukum Waris adalah suatu
hukum
yang mengatur peninggalan harta
seseorang yang telah meninggal dunia dan diberikan kepada yang berhak, seperti
keluarga dan masyarakat yang lebih berhak. Hukum Waris yang berlaku di
Indonesia
ada tiga yakni: Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam dan Hukum
Waris Perdata. Pada masyarakat Nias ketiga hukum tersebut berlaku. Secara
hukum waris adat Nias, yang berhak memperoleh harta peninggalan yakni lakilaki karena suku Nias menganut sistem patrilineal.
3.3.1.1. Kedudukan Pria dan Wanita Nias dalam Memperoleh Harta Waris
1. Kedudukan sebagai anak kandung
Kedudukan sebagai anak kandung pembagian warisan masih berpatok
pada sistem patrilineal yakni anak laki-laki yang berhak mendapat warisan, namun
sekarang sudah adanya perubahan pola pikir dari pemberi warisan bahwasanya
perempuan juga memiliki hak yang sama. Hanya saja dalam perolehan hak waris
tidak sebanding dengan pemberian terhadap laki-laki karena pemberian warisan
terhadap pihak perempuan dalam hal ini merupakan pembagian warisan yang
disebut masi-masi atau pemberian karena rasa sayang, pemberian tersebut
biasanya sebidang tanah untuk membangun rumah maupun berupa perhiasanDominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
perhiasan dengan syarat turut serta membantu orangtuanya mencari nafkah
keluarga dengan bekerja di ladang, kebun dan melaksanakan pekerjaan rumah
dengan baik.
2. Kedudukan sebagai Anak Angkat
Pada masyarakat Nias anak angkat dibagi dua yakni ono yomo atau
menantu laki-laki karena dalam keluarga tersebut hanya memiliki anak kandung
yang perempuan maka suami dari anak perempuannya akan dijadikan ono yomo
yang memiliki hak atas warisan orangtua kandung si perempuan. Untuk menjadi
ono yomo maka harus mengikuti persyaratan yakni marga orangtua si perempuan
menjadi marganya..
Selain ono yomo istilah lain yakni ono nisou. Ono nisou biasanya ada
karena suatu keluarga tidak memiliki anak laki-laki maka keluarga tersebut
mengambil anak saudaranya. Dalam hal ini anak saudara yang diambil berasal
dari pihak laki-laki bukan dari pihak perempuan dengan alasan sebagai penerus
marga. Biasanya dalam pengangkatan ono nisou diadakan acara peneguhan secara
adat dengan menyediakan babi, membayar emas sebesar 3 fanulo atau 30 gram
untuk berikan kepada pengetua adat dan pihak paman (saudara laki-laki dari ibu si
anak) serta mengundang seluruh kerabat dan masyarakat yang berada di desanya
Pada akhir acara penetua adat biasanya mengucapkan kata-kata peneguhan
yakni Höli-höli wanuhugö sihasara tödö yang bermakna kesepakatan bersama
telah sah dan sebagai tanda berakhirnya acara peneguhan ono nisou. Pembagian
harta warisan terhadap ono nisou jika sudah sah menjadi anak dalam keluarga
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
yang mengangkatnya akan sama dengan anak kandung dari keluarga tersebut
bahkan berlebih jika ono nisou berperilaku baik, menghargai kebaikan orangtua
angkatnya, bekerja giat dan menyayangi saudara angkatnya.
Masyarakat Nias mengenal beberapa jenis warisan yakni :
g. Rumah
h. Pertapakan
i.
Alat-alat rumah tangga yang berharga
j.
Harta emas
k. Kebun
l.
Tanah kosong atau lahan kosong yang belum ditanami
m. Kedudukan dalam hukum adat
n. Hutang piutang
Hukum waris Islam yang berlaku pada masyarakat Nias sama dengan
hukum waris yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia yakni perolehan hak waris
lebih diutamakan terhadap pihak laki-laki. Sedangkan Hukum waris perdata
dalam hal ini diperoleh dari selesainya sengketa atau permasalahan hak waris di
pengadilan, jadi pihak yang menang akan berhak atas warisan yang
dipersengketakan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3.3.2. Hukum Adat
Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan
kehidupan sosial yang sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis
yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum
masyarakatnya. Peraturan-peraturan hukum adat tidak tertulis dan memiliki
kemampuan menyesuaikan diri serta elastis.
Sistem hukum adat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Hukum Adat mengenai tata negara
2. Hukum Adat mengenai warga (hukum pertalian sanak, hukum tanah,
hukum perhutangan).
3. Hukum Adat menganai delik (hukum pidana).
Nias merupakan salah satu wilayah yang menggunakan hukum adat dalam
kehidupan sosialnya. Hukum adat yang digunakan berasal dari aturan yang telah
diamanahkan oleh para leluhur dan merupakan hasil kesepakatan pertama kalinya
yang dimusyawarahkan di Arö Gosali 45 di desa Börönadu Gomo yang disebut
Fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai
kematian.
3.3.2.1. Hukum Adat Fondrakö
Asal kata Fondrakö yaitu dari Fo dan Rako yang merupakan kata kerja
yang berarti tetapkan dengan sumpah yang bersanksi kutuk bagi pelanggar. Fo di
45
Rumah raha atau tempat bermusyawarah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
sini berarti Pe atau Ke sehingga fondrakö berarti penetapan, ketetapan-ketetapan
dengan penyumpahan dan kutuk bagi yang melanggar. Istilah Rako adalah satu
kata yang demikian tinggi dan dalam pengertiannya.
Fondrakö merupakan kumpulan dan sumber segala hukum yang menjadi
landasan hidup Ono Niha baik perorangan maupun masyarakat banyak. Pada
dasarnya Fondrakö menekankan pada sikap agar berbuat baik dan melarang
segala corak kejahatan serta memberi dorongan dan petunjuk
untuk berbuat
menurut jiwa dari Fondrakö tersebut.
Jiwa Fondrakö tesebut dikenal menurut istilah aslinya, yang mengatakan :
Masi-masi atau kasih sayang, Möli-möli atau pengasuhan/pencegahan dan
Rourou atau pendorong berbuat/pengasahan. Dalam istilah Indonesia umum, kita
dapat mengatakan: Asih, asuh dan asah.
. Adapaun yang telah ditetapkan dalam Fondrakö Laraga Talu Idanoi
seperti:
a. Amakhöita dan Huku dalam hal-hal yang mengembirakan sepeti: pemberian
nama anak, sunat, perkawinan, mendirikan rumah, menempa perhiasan
rumah, melakukan owasa, mendirikan banua, mendirikan gowe (tugu),
mendirikan Öri, bercocok tanam.
b.Amakhöita dan Huku dalam dukacita seperti kematian, kebakaran,
peperangan dan lain-lain.
c. Amakhöita dan Huku dalam hal harta seperti harta pusaka, ternak, tanah,
harta hibah, utang piutang dan lain-lain.
d.Membuat dan menetapkan peraturan tentang alat ukur, yaitu: lauru (takaran
padi), afore (meteran babi), fali’era (neraca emas), sagani’omanu-manu
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
(bungkal neraca), balö gondrekhata (pengukur nilai/gram emas), timbanga
mbawi (alat penimbang babi) dan lain-lain.
e. Amakhöita dan Huku tentang kegiatan menyangkut acara religius, dimana
setiap kegiatan dimulai dengan doa.
f. Amakhöita dan Huku tentang berburu dan menangkap ikan.
g.Amakhöita dan Huku tentang kekeluargaan, pergaulan dan lain-lain
h.Amakhöita dan Huku tentang pelabuhan seperti bea dan cukai, izin
pendaratan, pandu pelabuhan dan lain-lain.
i. Huku dan Ogauta pada pelanggaran susila, mulai dari mengedip mata pada
wanita sampai pada kehamilan diluar nikah.
j. Huku dan Ogauta mencuri, mulai dari mencuri ubi sampai menculik orang
k.Huku dan Ogauta dalam hal persengketaan, mulai dari bertengkar sampai
membunuh dan meracuni orang.
Demikianlah Salawa dan Ono Salawa bersama semua warga laraga
melakukan Fondrakö Laraga Talu Idanoi di Onositoli Tamomboho dengan
musyawarah, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan Laraga, berpedoman pada
falsafah hidup nenek moyang kita :
“Salawa Fa’atulöö, Salawa Fa’atuatua, Salawa Fa’abölö, Salawa
Ökhöta,dan dan Salawa Söfu”46
Walaupun ketetapan fondrakö itu tidak tertulis, namun sangat di taati dan
pelanggaran fondrakö di yakini berbahaya bagi pelanggarnya oleh karena di
ikrarkan oleh semua warga dengan sumapah sakral fondrakö yang dipimpin oleh
ere. Orang yang taat diberkati dan orang yang melanggar dikutuki dan dikenakan
46
Tinggi dalam hal : keadilan, ilmu dan kebijaksanaan, kuat jasmani dan rohani, berkeadaan dan
berwibawa.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
hukuman yang setimpal melalui sidang pengadilan banua yang dipimpin oleh
Salawa atau Tuhenöri.
3. 4. Susunan Lembaga Adat Nias
Pemerintahan asli suku Nias adalah bentuk pemerintahan adat yang terdiri
dari dua tingkatan yaitu:
1.Banua yang dipimpin oleh Salawa (istilah Nias bagian Utara) atau Si’ulu (istilah
Nias bagian Selatan).
2.Õri yaitu merupakan perluasan dari banua yang dipimpin oleh Tuhenõri atau
Si’ulu.
Dalam setiap kesatuan masyarakat hukum, baik tingkat banua maupun
tingkat ÕriI terdapat satu badan Pemerintahan adat (eksekutif) dengan susunan
sebagai berikut:
a. Sanuhe merupakan pemimpin didalam lingkungan adat dan berkewajiban
mengadakan pesta yang disebut
Fanaru’ö Banua atau mendirikan kampung.
Istilah adatnya yakni solobö hili-hili danö atau sanekhe hili-hili danö maksudnya
yakni yang menyusun lembaga baru di desa sedangkan Nias bagian selatan
Sanuhe disebut sebagai Si’ulu. Proses perolehan gelar Sanuhe jika seseorang
sudah menduduki Bosi kesembilan atau bosi kesepuluh dan telah beberapa kali
melaksanakan pesta adat.
Adapun tugas Sanuhe yakni sebagai:
1. Sebagai fulitö li atau tempat bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu;
2. Sebagai sangila huku atau yang mengerti akan hukum serta dapat
memutuskan hukuman warga sesuai kesalahan yang diperbuat.;
3. Sebagai orangtua yang tahu tentang Fondrakö;
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
4. sebagai orangtua yang dapat membela warganya dari tekanan luar desanya
dari segala hal.
b. Tambalina merupakan orang kedua setelah Sanuhe. Tugasnya yakni
membantu Sanuhe dalam melaksanakan tugasnya Istilah tambalina sering disebut
solohe ba ngai danö, artinya yang menggariskan dan menjalankan segala
peraturan dan nilai adat yang disesuaikan dalam hukum fondrakö. Adapun tugas
tambalina yakni:
1. Mewakili sanuhe apabila berhalangan
2. Membantu sanuhe dalam menegakkan hukum fondrakö
3. Membantu sanuhe dalam memutuskan hukuman
4. Membantu sanuhe dalam mengadakan hubungan dengan desa lain
c. Fahandrona
Fahandrona dalam istilah Nias disebut sangehaogö lala ba hele artinya
yang membuat atau membersihkan jalan ke permandian/sumur/pancuran. Adapun
tugasnya yakni:
1. Membantu tambalina dalam memberikan petunjuk kepada seluruh warga
untuk dapat mematuhi semua garis hukum adat sesuai dengan fondrakö
2. Membantu tambalina untuk memberikan dorongan kepada selutruh warga
desa adat dalam mencari nafkah
3. Membantu tambalina dalam menggerakan masyarakat membangun desa
dan bergotongroyong
4. Menerima dan melayani segala keluhan warga utuk disampaikan kepada
sanuhe agar mendapat keringanan atau pertimbangan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
d. Si Daöfa dalam istilah Nias disebut sanuturu lala ba nidanö artinya yang
menunjuk jalan ke permandian/pancuran/sumur atau yang menunjuk jalan untuk
mendapat kebaikan. Adapun tugasnya yakni:
1. Membantu pemimpin lainnya dalam melaksanakan kebersihan desa.
2. Membantu warga untuk mengatur pengukuran dan letak perumahan warga
desa, serta mengatur bentuk rumah.
3. Membantu melaksanakan penguburan warga desa yang telah meninggal,
letak dan tempatnya, serta melaksanakan apa yang perlu untuk penguburan
dan segala pengorbanan lainnya.
4. Membantu fahandrona dalam menunjukan tempat bertani dan berternak
warga desa.
5. Membantu menegakkan hukum adat dan hukuman bagi seluruh warga yang
melanggar peraturan dalam desa.
Keempat pilar ini secara simbolis biasanya diwujudkan pada keempat
tiang utama dalam rumah adat Nias. Dewan pimpinan dalam bahasa Nias di kenal
dengan istilah SITE’OLI. Baik di tingkat banua maupun di tingkat Öri seuua
SITE’OLI (Dewan Pimpinan) disebut Salawa. Yang berkedudukan dan berfungsi
di banua di sebut Salawa Mbanua dan yang berkedudukan di tingkat Öri di sebut
Salawa Nöri. Masyarakat umum dewasa ini mengenal istilah Sanuhe (yang kini di
sebut Ketua) untuk tingkat banua yang lazim disebut Salawa dan di tingkat Öri
disebut Tuhenöri. Pemerintahan adat suku Nias juga mengenal adanya lembaga
legislatif yang di sebut FONDRAKÕ, yaitu suatu badan musyawarah dari tokoh–
tokoh adat untuk menetapkan hukum tentang berbagai bidang kehidupan dalam
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
suatu kelompok masyarakat (dapat berupa kelompok marga) dalam suatu wilayah
tertentu dengan sangsi-sangsinya yang yuridis dan sakral yang sangat keras.
Tugas empat orang ini juga mengunjungi seluruh warga setiap hari,
melihat apakah warga sudah turun berladang, apakah sudah berternak apakah
sudah bangun dari tidurnya atau diantara mereka sakit, dan sebagainya. Ke empat
orang ini disebut Si’ao ba mbawa duwu tuwu artinya yang berteriak diatas tingkap
untuk mendorong warga untuk bekerja dan lain-lain.
e. Si Dalima dalam istilah Nias yakni soaya tugawa fondrani artinya
pandai emas. Adapun tugasnya yakni: selain menempa perhiasan warga desa dan
perhiasan ke empat pemimpin dan istri ke empat pemimpin diatas juga membantu
dengan cara lainnya untuk mendukung segala pembangunan dalam desa,
membantu tambalina dalam menegakkan adat, membantu fahandrona dalam
membersihkan jalan serta turut membersihkan jalan serta turut bergotong royong,
mambantu sidaöfa dalam mendorong warga untuk bertani, menjaga kesehatan,
serta mengukur dan mengatur letak perumahan warga.
f. Si Daönö adalah orang ke enam yang bekerja untuk membantu warga
desa mengenai; membantu warga untuk menunjukkan segala kebutuhan hidup
warga desa dalam bertani yang baik dan berterna dan membantu warga untuk
penentuan waktu turun berladang, ia disebut samataro wangahalö ba danö atau
sanuturu tanö anga’iwa .
g. Si Dafitu yang ketujuh, tugasnya yakni:membantu sinuhe sampai sidaönö
untuk menemukan tempat perburuan binmatang hutan yang disebut sanuturu naha
mbolokha, orang ini biasanya disebut Fu, membantu para warga untuk
melaksanakan gotongroyong, membantu warga untuk mencari dan menunjukan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
letak perladangan yang baik dan tanaman apa yang perlu ditanam di daerah itu,
mendorong warga untuk kebersihan lingkungan dan kesehatan dan membantu
warga untuk mendorong mendirikan rumahnya dan menunjukan dimana kayu
dapa diambil yang baik.
h. Si dawalu juga disebut hogu artinya pangkal atau puncak/ujung. Tugasya
yakni membantu
Sinuhe sampai ke si dafitu untuk mencari dimana tempat
menunggu ikan di sungai, istilahnya di sebut fafuasa atau berburu ikan, udang
dan belut disungai, istilah lainnya disebut manakhe.
i. Si Dasiwa mempunyai tugas sebagai penempa peralatan dari besi yang di
buat menjadi alat-alat pertanian, seperti cangkul, parang, kapak serta peralatan
senjata misalnya tombak, keris, menempa baju besi dan perisai yang disebut
dange dan tetenaulu. Biasanya orang ini disebut si ambu atau pandai besi
j. Si Dafulu disebut samatötö artinya yang bisa menerobos atau sebagai
mata-mata dari pada sanuhe, tambalina, fahandrona dan sidaöfa. Adapun
tugasnya yakni: sebagai mata-mata dan penerobos segala sesuatu yang terjadi,
untuk mencari kebenaran dan menangkap pelaku yang lari atau pembangkang dan
samaeri fatuwusö artinya yang mendidik dan melatih pemuda-pemuda untuk
segala kepandaian berperang, bela diri, berjiwa berani, gagah dan tangguh sebagai
pembela warga desa serta sebagai pasukan perang dan membantu mendorong
pemuda unuk berjiwa gotongroyong membangun desa dan membela kebenaran.
k. Si Felezara, orang yang berada di tingkat ini mempunyai tugas yang
sangat penting membantu sanuhe, tambalina sampai ke sidaöfa. Si felezara sering
juga disebut bohalima atau balözanuwö yang selalu memakai alat perang sehingga
disebut soaya dange. Adapun tugasnya yakni: membantu si dafulu dalam
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
ketertiban desa dan keamanan, membantu si dafulu dalam menyusun bala pasukan
atau prajurit desa, membantu menjadi mata-mata dan membantu memilih para
fatuwusö yang baik dan berani.
l. Si Felendrua, orang-orang yang berada pada tingkat ini adalah seluruh
warga masyarakat yang disebut istilahnya ono wobarahao. Seluruh warga harus
tunduk kepada pimpinan dan mematuhi segala hokum yang berlaku sesuai yang
telah digariskan dalam hukum adat fondrakö yang melanggar akan dihukum.
Tugas mereka secara merata adalah mencari nafkah dan berperang bila ada yang
menyerang, dibawah pimpinan bohalima dan para fatuwusuö yang gagah dan
berani.
Susunan kepengurusan adat tersebut sangat membantu warga terhadap
adanya penyelesaian sengketa tanah yang terjadi pada masyarakat Nias, karena
semuanya mempunyai peran dan tugas mengupayakan adanya perdamaian secara
kekeluargaan atau adat dan berusaha untuk tidak melibatkan pihak pengadilan
dalam penyelesaian sengketa yang terjadi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB IV
SENGKETA TANAH DAN PROSEDUR PENYELESAIANNYA
PADA MASYARAKAT NIAS
4.1. Sengketa Tanah yang terjadi pada masyarakat Nias
Masyarakat Nias merupakan masyarakat yang masih hidup dalam
lingkaran kebudayaan dan adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan
dan kekeluargaan. Tanah merupakan wadah untuk mencari dan mempertahankan
keberlangsungan hidupnya. Pentingnya arti tanah dalam kehidupan masyarakat
Nias menyebabkan sering terjadinya kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi
persengketaan.
Kepemilikan tanah pada masyarakat adat 47 Nias yang didasarkan atas
kepemilikan bersama berdasar marga dan kekuasaan hingga sekarang masih
berlaku, namun karena hukum adat kepemilikan tanah berdasarkan hak ulayat 48
yang tertuang dalam Fondrakö masih bersifat lisan tidak tertulis menyebabkan
kekuatan hukum adat itu sendiri semakin jauh dari harapan apalagi dengan
keadaan generasi sekarang yang sudah tidak mengerti dengan adat Fondrakö dan
lebih mengunakan jalur hukum kepemilikan tanah menurut Undang-undang
Agraria.
Akhir-akhir ini tanah memiliki peranan penting dalam kehidupan
masyarakat Nias, bahkan tanah dekat pantai pun bernilai sangat ekonomis.
Pentingnya arti tanah tersebut kemudian menimbulkan masalah pertanahan yang
akhir-akhir ini menjadi masalah yang semakin banyak kita jumpai dimana-mana
47
Masyarakat adat adalah warga masyarakat asli Nias yang hidup dalam wilayah dan terikat serta
tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi diantara para anggotanya.
48
Hak ulayat adalah hak persekutuan yang dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu yang
merupakan lingkungan hidup para warganya yang meliputi hak memanfaatkan tanah, hutan, dan
air serta isinya sesai dengan peraturan perundang-undangan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
termasuk wilayah adat Nias. Sebenarnya masalah tanah telah terjadi jauh sebelum
adanya kemajuan di wilayah kabupaten Nias, misalnya saja persengketaan antar
desa dalam memperebutkan tanah kekuasaan yang hingga sekarang masih bisa
kita jumpai di daerah pelosok-pelosok Kabupaten Nias, dan lain sebagainya.
4.1.1 Faktor Penyebab terjadinya Sengketa Tanah pada Masyarakat Nias
Terjadinya masalah pertanahan di Nias biasanya terjadi karena beberapa
faktor diantaranya:
a. Penguasaan Lahan Produktif Yang Bukan Hak Milik
Penguasaan akan lahan produktif ini terjadi ketika tanah yang dahulunya
tidak memiliki nilai namun setelah dikerjakan dan diolah serta menghasilkan
menjadikan tanah itu semakin bernilai. Namun, berharganya tanah tersebut
kemudian menimbulkan adanya konflik kepentingan dan pemanfaatan situasi oleh
pihak-pihak yang ingin memperoleh tanah yang bukan miliknya. Hal ini semakin
bermasalah ketika tanah tersebut hanya diukur berdasarkan tanaman atau tanpa
sertifikat dan kepemilikannya hanya diketahui oleh beberapa saksi yang
menandatangani surat tanah yang dikeluarkan oleh kepala desa. Permasalahan
makin rumit ketika yang menjadi saksi telah meninggal dan hal inilah yang
kemudian menjadikan pihak lain memanfaatkan kesempatan tersebut, karena ia
yakin akan menang pada saat adanya penyelesaian sengketa.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
b. Status Tanah Yang Tidak Pasti
Permasalahan status tanah yang tidak mempunyai kekuatan badan hukum
menjadi permasalahan yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Apalagi dalam
kehidupan masyarakat Nias bukti surat akan tanah itu sendiri hanya diperoleh dari
adanya kekuatan hukum lokal diatas materai, terlebih lagi pada masyarakat yang
berada jauh dari pusat perekonomian masyarakat Nias, kepemilikan tanah makin
tidak jelas karena kepemilikan tanah masih bersifat bersama berdasarkan atas
tanah ulayat. Tanah ulayat dalam hal ini seperti perladangan baru yang dibuka,
otomatis kepemilikannya masih didasarkan atas kepercayaan bersama dengan
warga yang juga sama-sama membuka lahan disekitar tempat tersebut.
c. Masalah Penjualan Tanah Yang Tidak Jelas Ukurannya
Masyarakat Nias dahulunya dalam pembagian harta warisan bahkan dalam
penjualan tanah hanya didasarkan sejauh orangtua melemparkan bibit tanaman,
misalnya jika ia melemparkan bibit tanaman durian sejauh 5 km maka sejauh
itulah tanah yang akan diperoleh masing-masing anaknya atau jika tanaman itu
tumbuh maka tanaman tersebutlah yang akan menjadi batas tanaman anakanaknya satu sama lain.
Kondisi inilah yang akhirnya menjadikan kepemilikan tanah makin rumit,
terlebih lagi jika orangtua yang mewariskan tanah tersebut meninggal dunia,
akhirnya meninggalkan konflik berkepanjangan dalam kehidupan anak-cucunya
kelak. Jika dulu sistem tersebut sah-sah saja berlaku karena tanah di Nias cukup
luas, tapi kondisi sekarang tidaklah menunjang diberlakukannya cara demikian
malah lambat laun sistem tersebut akan punah disebabkan cucu-cucunya yang
memperoleh warisan berupa tanah tidak akan mendapat warisan.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
d. Masyarakat Nias Yang Merantau
Permasalahan sengketa tanah juga terjadi karena situasi keluarga. Desakan
ekonomi dan kurangnya ketrampilan dalam mengolah lahan pertanian menjadikan
anak-anak dari orangtua yang akan mewariskan tanah orangtuanya pergi
merantau. Keputusan merantau dan tanpa mengetahui batas tanah dari
orangtuanya menjadi masalah di kemudian hari, masalah juga semakin rumit
ketika orangtua si anak tersebut meninggal dunia. Permasalahan lainnya ketika
orangtuanya semasa hidupnya telah menjual beberapa bagian tanahnya kepada
orang lain karena tidak sanggup mengolah maupun karena desakan ekonomi,
hubungannya kelak dengan terjadinya sengketa ketika pihak yang membeli tanah
tersebut memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan.
d. Akibat Adanya pembangunan
Pembangunan
sangatlah
penting
bagi
berlangsungnya
kehidupan
masyarakat Nias. Terlebih di era modernisasi yang semakin canggih,
pembangunan itu sendiri mengambil peranan penting. Kegiatan pembangunan di
Nias semakin marak ketika terjadinya gempa 28 maret 2005, gempa yang telah
meluluhlantakan bangunan dan sistem perekonomian masyarakat Nias menjadi
salah satu motivasi berharganya dan sangat dibutuhkannya tanah. Masalah
kemudian timbul ketika terjadinya proses pembelian tanah didasarkan
kepercayaan, janji dan ketidaktahuan hukum oleh si pemilik lahan.
e. Perolehan Harta Warisan Dari Pihak Laki-Laki (suami dari si pemilik
lahan)
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Pernikahan secara adat Nias sekaligus menjadi pengesahan bagi
kepemilikan tanah berdasarkan warisan dari pihak laki-laki terhadap istrinya.
Permasalahan sengketa tanah terjadi ketika suaminya meninggal dunia sementara
si istri pergi merantau ke desa lain. Hal ini pun dimanfaatkan oleh beberapa pihak
yang merasa bisa mempermainkan situasi tersebut, dengan cara mengambil secara
diam-diam hasil-hasil dari lahan tersebut bahkan mengeser batas tanah agar kelak
tanah tersebut menjadi miliknya.
4. 2. Contoh Kasus Sengketa Tanah yang Terjadi pada Masyarakat Nias
Adapun contoh kasus sengketa tanah yang didasarkan beberapa faktor
diatas yang terjadi pada masyarakat Nias pada umumnya dan masyarakat desa
Dahana Tabaloho serta masyarakat desa Onolimbu Raya pada khususnya yakni:
4.2.1. Kasus Terhadap Harta Waris Tanah dari Pihak Suami yang Telah
Meninggal
Permasalahan yang terjadi dengan warga diluar desa dahana ini karena
sebagian dari tanah warga yang bersengketa memiliki lahan di desa dahana.
Permasalahan ini terjadi pada tahun 1986 antara Ina Game’i yang berstatus janda
berselisih paham dengan dengan E. Harefa. Permasalahan terjadi karena tanah
milik Ina Game’i diatasnamakan sebagai milik E harefa dan E Harefa mengambil
hasil dari tanaman yang ditanam diatas tanah milik Ina Game’i. Padahal seluruh
masyarakat desa maupun yang berbatasan tanah dengan Ina Game’i mengetahui
bahwa tanah tersebut merupakan milik Ina Game’i,
namun E harefa terus
mengklaim bahwa itu merupakan tanah miliknya.
Berartinya tanah walaupun sejengkal telah mendorong niat Ina Game’i
untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya. Ia pun menemui Kepala Desa
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dahana dan juga tokoh adat di desa tersebut. Mempertimbangkan laporan tersebut
maka dibuatlah surat panggilan untuk memanggil kedua pihak yang bersengketa
tersebut. Karena Ina Game’i yang melapor maka dalam hal ini segala biaya pada
saat kegiatan musyawarah tersebut Ina Game’i yang sediakan seperti membawa 4
kilo babi, 15 botol minuman tuak khas Nias dan uang sebesar Rp.25.000.
Permasalahan yang diselesaikan secara kekeluargaan tersebut akhirnya
dimenangkan oleh pihak Ina Game’i, karena ia mempunyai bukti-bukti yang sah
berupa surat tanah dan juga adanya keterangan-keterangan dari saksi serta
masyarakat desa dahana yang hadir pada saat itu. Hal ini juga semakin diperkuat
karena Ina Game’i sudah menjalankan adat perkawinan yang merupakan bukti sah
tanpa tertulis kepemilikan lahan dari suaminya yang telah meninggal.
Sebagai bukti telah selesainya sengketa tersebut maka kepala desa
membuat surat yang isinya :
1. tanah tersebut sah milik Ina Game’i
artinya, dalam hal ini tanah serta tanaman yang selama ini dipergunakan
oleh E Harefa kembali sah menjadi milik Ina Game’i. Ina Game’i kembali berhak
menanam tanaman apapun diatas tanah tersebut tanpa di permasalahkan lagi oleh
E. Harefa.
2. Jika E Harefa keberatan dan ingin mengajukan kembali pengaduan atas
tanah tersebut maka yang menyelesaikan sengketa tersebut yakni tokoh adat.
Artinya, jika ke depan E Harefa mengungkit kembali permasalahan tanah tersebut
ataupun mengambil tanaman yang telah menjadi milik Ina Game’i maka E Harefa
tidak berhak mengklaim Ina Game’i secara langsung, melainkan akan bermasalah
dengan tokoh adat yang mensyahkan penyelesaian dan memberi keputusan atas
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
sengketa tanah tersebut. Jadi, tokoh adat dalam hal ini menjadi keamanan bagi Ina
Game’i untuk kembali mengolah tanah miliknya tanpa ragu lagi akan
dipersengketakan.
Sahnya perjanjian tersebut di tandatangani di atas materai oleh kedua
belah pihak yang bersengketa serta diketahui oleh saksi-saksi, tokoh adat dan
kepala desa. Mengenai biaya adat yang dikeluarkan oleh Ina Game’i tidak diganti
lagi oleh E Harefa karena Ina Game’i tidak menuntut kerugian tersebut karena
yang diinginkannya yakni kejelasan dari kepemilikan tanahnya.
4.2.2. Kasus Sengketa Tanah karena Adanya Pembangunan
Pembangunan yang terjadi setelah peristiwa gempa 28 Maret 2005 telah
menimbulkan masalah baru dalam kehidupan masyarakat Nias. Salah satu
masalah tersebut yakni masalah pertanahan karena pembangunan yang telah dan
akan dilaksanakan sangat membutuhkan tanah yang jumlahnya banyak.
4.2.2.1.Kasus Sengketa Tanah antara Kontraktor dan Pemberi Bantuan
Permasalahan ini tejadi pada tahun 2005, sengketa tanah yang terjadi yakni
antara kontraktor Ir. Adieli Gulö atau Ama Kori Gulö dengan pemberi bantuan
rumah pengungsi. Hal ini disebabkan karena pihak pemberi bantuan yang
menangani pembangunan rumah pengungsi di desa Dahana belum melunasi
segala dana yang dikeluarkan oleh Ir. Adieli Gulö sebagai kontraktor atas proyek
tersebut.
Permasalahan bertambah parah karena Ir. Adieli Gulö meninggal
sementara permasalahan belum selesai. Akhirnya istri dari Ir. Adieli Gulö dalam
hal ini Ibu Dra. Masta Yunita atau Ina Kori Gulö mengambil tindakan dengan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
memasang plangkat yang isinya larangan untuk menempati lahan rumah
pengungsi tersebut.
Gambar 24: Isi dari larangan di arah pintu masuk lokasi lahan yang dipersengketakan, Dominiria
Hulu, 2008
Gambar 25 : Isi dari larangan di arah pintu keluar lokasi lahan yang dipersengketakan
Dominiria Hulu, 2008
Plangkat larangan tersebut menjadikan masyarakat yang membutuhkan
bantuan rumah tidak bisa menempati rumah tersebut, padahal rumah tersebut
kondisinya sangat layak untuk ditempati oleh para pengungsi yang tidak
mempunyai rumah atau masih tidur di tenda. Plangkat tersebut dibuat oleh Ina
Kori bukan dengan sengaja, itu merupakan bentuk kekecewaanya terhadap pihak
pemberi bantuan yang telah berjanji kepadanya akan melunasi segala macam
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
pengeluaran yang telah di pergunakan oleh suaminya saat menjadi kontraktor
bangunan tersebut.
Tuntutan keras dari Ina Kori, sebenarnya dilandasi oleh desakan pihak lain
terhadapnya, karena saat pembangunan rumah tersebut di laksanakan seluruh
bahan bangunan hingga gaji tukang bangunan tersebut merupakan hasil pinjaman
dari Bank, yang saat itu dipinjam oleh suaminya. Sehingga ketika suaminya
meninggal, utang tersebut terbebani kepada Ina Kori selaku istri dari Ama Kori.
Permasalahan tersebut akhirnya oleh Ina Kori diselesaikan melalui jalur
mediasi dengan pihak pemberi bantuan. Adapun pihak yang menjadi mediatornya
yakni pembimbing rohani dari Ina Kori yakni Pendeta Dyah Gea. Pada bulan
November tahun 2008 permasalahan tesebut di bicarakan secara kekeluargaan
dan di selesaikan dengan beberapa ketentuan :
a. Pihak pemberi bantuan melunasi segala utang-piutang yang berkenaan
dengan pembangunan rumah pengungsi tersebut.
b. Jika telah selesai maka rumah tesebut boleh ditempati oleh para
pengungsi.
Namun dalam kenyataanya, perjanjian tersebut hanya ditetapkan tanpa
dilaksanakan. Hal ini terbukti ketika penulis ke lapangan pada pelaksanaannya
permasalahan tersebut semakin rumit dan tidak terselesaikan bahkan terkesan
diperlambat dan di tandai dengan tidak di tempatinya rumah tersebut oleh para
pengungsi.
Saat ini permasalahan tersebut masih belum menemukan titik terangnya,
walaupun pada tahun 2008 sudah pernah diselesaikan melalui jalur mediasi
dengan pihak pihak pemberi bantuan, namun masih belum ditempati bahkan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
larangan keras untuk tidak menempati/melewati bangunan tersebut makin
dipertegas oleh Ina Kori dengan meminta bantuan pengawalnya untuk mengusir
bilamana ada pihak-pihak yang mencoba memasuki/menemparti areal bangunan
tersebut.
Gambar 26: Lahan perumahan pengungsi yang dipersengketakan, Dominiria Hulu, 2008
4.2.2.2 Kasus Sengketa Tanah antara Kontraktor dan Pemilik Lahan
Sengketa tanah yang terjadi antara kontraktor Bapak Ir. Adieli Gulö
dengan pemilik lahan Ibu Saina Ndraha dikarenakan janji dari kontraktor kepada
pemilik lahan. Adapun kesepakatan tersebut yakni :
a. Ir. Adieli Gulö berkewajiban menyediakan tanah kosong 10m X 20m
kepada Ibu Saina Ndraha
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 27 : Lahan yang dijanjikan oleh Ir. Adieli Gulö kepada Ibu Saina Ndraha (Dominiria Hulu, 2008)
Gambar diatas menunjukan adanya tanah kosong yang telah disediakan oleh
Alm.Ama Kori untuk Ibu Saina Ndraha. Namun, hingga sekarang status
penggunaan tanah tersebut belum diserahterimakan oleh Almarhum kepada Ibu
Saina Ndraha.
b. Ir. Adieli Gulö berkewajiban membangun rumah yang rusak berat akibat
gempa berupa perbaikan dinding, plaster luar-dalam rumah, lantai keramik,
plavon dan daun jendela. Sesuai dengan kesepakatan mereka, maka janji tersebut
ditepati saat pembangunan di lokasi tanah penampungan bila pihak pemberi
bantuan telah merealisasi janjinya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Gambar 28: Keadaan rumah Ibu Saina Ndraha yang hingga sekarang belum direnovasi oleh Alm.
Ir. Adieli Gulö , Dominiria Hulu, 2008
Gambar 29 keadaan lantai dan dinding rumah Ibu Saina Ndraha yang belum juga direnovasi sesuai
janji Ir. Adieli Gulö, Dominiria Hulu, 2008
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Kesepakatan diatas hingga sekarang belum ditepati, hanya kesepakatan
lahan kosong yang di janjikan Ama Kori yang telah disepakati itupun belum bisa
dipergunakan oleh Ibu Saina Ndraha dikarenakan Ama Kori telah meninggal
dunia dan Ina Kori belum meberi izin penggunaan lahan tersebut.
Penyelesaian permasalahan ini dibiarkan begitu saja oleh pihak keluarga
karena masih belum selesainya permasalahan Ina Kori dengan pihak pemberi
bantuan namun, karena permasalahan tersebut semakin tidak jelas akhirnya
permasalahan tersebut dilaporkan kepada anggota DPRD Kabupaten Nias yang
kebetulan saat itu mengadakan kunjungan kerja di desa Dahana. Dari diskui Ibu
Saina Ndraha dengan anggota DPRD tersebut maka Ibu Saina Ndraha disarankan
untuk membuat laporan kepada pemerintahan desa Dahana Tabaloho agar dapat
di tindaklanjuti. Namun, saat mengadakan penelitian di desa ini belum ada juga
titik terang dari realisasi permasalahan tersebut.
Tanggapan yang masih kurang dari pihak desa maupun Ina Kori sebagai
ganti dari suaminya untuk menepati janji-janji tersebut membuat pihak Ibu Saina
Ndraha memilih metode dari Nader dan Todd yang membiarkan saja masalah
tersebut dikarenakan Ir. Adieli Gulö telah meninggal dan rasa kasihan terhadap
istri Ir. Adieli Gulö.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
4.2.3. Kasus yang berkaitan dengan status kepemilikan tanah dan kasus
pembayaran piutang terjadi di desa Onolimbu Raya
1. Kasus sengketa tanah dengan tiga pihak dari tiga desa yang berbeda.
Permasalahan ini terjadi di Desa Onolimbu Raya kecamatan Mandrehe
Barat dengan Masyarakat Desa Lasara Bagawu dan Desa Ononamölö kecamatan
Mandrehe. Adapun masyarakat yang bersengketa yakni :
- yang mempunyai lahan
: Ama Johan atau Peringatan Daeli
- yang membeli tanah
: Ama Rina atau Atofona Gulö
- yang berbatasan dengan lahan A. Rina
: Ama Fati Hia atau Yohane Hia
Sengketa tanah yang terjadi antara Ama Johan dengan Ama Rina dan Ama
Fati Hia merupakan kelalaian dari orangtua Ama Johan atau Nurdin Daeli (Ama
Muna) pada saat menjual tanahnya sepuluh tahun yang lalu kepada Ama Rina.
Hingga pada bulan 8 tahun 2008 yang berbatasan tanah dalam hal ini Ama Fati
mengetahui jika tanahnya telah ditanami oleh Ama Rina, padahal tanah tersebut
telah sah menjadi miliknya. Sementara Ama Rina juga mengklaim bahwasanya
tanah tersebut merupakan miliknya, bahkan ia menunjukkan buktinya kepada
Ama Fati.
Masalah sengketa ini berlanjut karena Ama Fati menebangi tanamantanaman yang telah ditanami Ama Rina. Hal ini membuat kecewa Ama Rina
karena tidak ada pemberitahuan secara baik-baik dari Ama Fati. Ama Rina
kemudian menjumpai Ama Johan untuk memberikan penjelasan mengenai batas
tanah siapa yang salah dan yang benar. Tapi, Ama Johan tidak tahu menahu
tentang penjualan tanah tersebut yang dilakukan oleh ayahnya 10 tahun yang lalu
karena saat itu ia pergi merantau. Maka, Ama Johan menyarankan agar
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
penyelesaian tersebut dilakukan dipihak desa saja. karena secara kekeluargaan
tidak akan bisa diselesaikan.
Merasa diabaikan oleh Ama Johan maka Ama Rina menemui kepala
desanya dan meminta agar ada keadilan diantara mereka. Akhir bulan 8 kepala
desa Ononamölö tempat tinggal Ama Rina memberikan surat panggilan terhadap
ketiga pihak yang bersengketa tersebut. Selain itu Kepala Desa Ononamölö juga
mengundang kepala desa Lasara Bagawu dan tokoh masyarakatnya serta kepala
desa Onolimbu Raya dan tokoh masyarakat desa Onolimbu Raya.
Dalam kegiatan penyelesaian secara adat tersebut Ama Johan yang
bertugas menyediakan keperluan rapat seperti babi sebanyak tiga alisi, beras dua
lauru dan hua meja salawa atau uang meja kepala desa sebesar Rp.500.000,-.
Kegiatan rapat yang dihadiri beberapa pihak tersebut menghasilkan beberapa
keputusan yakni:
a. Bahwasanya persengketaan yang terjadi antara Ama Rina dan Ama Fati
dikarenakan penumbangan tanaman karet milik Ama Rina oleh Ama Fati dan
ketidakjelasan dari luas lahan kepemilikan dari Ama Rina yang ia beli dari
orangtua Ama Johan yang dalam hal ini yakni Ama Muna.
b. Ama Fati Hia melakukan penumbangan tanaman milik Ama Rina karena
tanah tempat tanaman Ama Rina tersebut merupakan milik sah dari Ama Fati
yang ia beli dari Dalimanö Gulö.
c. Keputusan dari kepala desa dan tokoh adat yang terlibat dalam
membicarakan
masalah
tersebut
membenarkan
bahwa
tanah
yang
dipersengketakan merupakan milik A. Fati dan kerugian yang dialami oleh Ama
Rina atas tanaman yang telah ia tanam dilahan Ama Fati merupakan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
tanggungjawab dari Ama Johan yang dalam hal ini telah keliru dalam menentukan
batas tanah dari Ama Rina.
d. Jenis-jenis kerugian Ama Rina yang ditanggung oleh Ama Johan yakni:
1. Ganti rugi tanah dan tanaman karet Ama Rina sebesar Rp. 1.500.000,2. Biaya pembicaraan secara adat dan pemerintahan desa sebesar Rp.1.710.000,e. Tanah tempat tanaman Ama Rina yang telah ditumbangi oleh Ama Fati kembali
menjadi milik Ama Fati.
Demikianlah permasalahan tesebut terselesaikan melalui pembicaraan adat
yang dilakukan oleh ketiga belah pihak.
Gambar 30 : Ama Johan dan Rumah Ama Johan , Dominiria Hulu, 2008
2. kasus pembayaran piutang
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Kasus ini masih berkaitan dengan Ama Johan dan Ama Rina. Pembayaran
piutang yang dituntut oleh Ama Rina kepada Ama Johan sebagai pembayaran atas
ganti rugi tanaman Ama Rina dan biaya pembicaraan adat yang terjadi pada saat
terjadinya penyelesaiaan sengketa tanah secara adat sebanyak Rp. 2. 710.000
mengalami permasalahan karena Ama Johan tidak mempunyai uang untuk
mengganti kerugian Ama Rina. Sehingga dalam hal ini Kepala desa Onolimbu
Raya mengambil alih atas Ama Johan dengan meminjamkan uangnya kepada
Ama Johan agar dibayarkan kepada Ama Rina, akhirnya pada tanggal4 oktober
2008 permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan.
3. Kasus sengketa tanah dengan saudara kandung dan penyelesaiannya secara
kekeluargaan dan adat.
Ama Isa Zebua dan Ama Fati Zebua merupakan saudara kandung yang
mana Ama Fati merupakan paman dari Ama Isa Zebua yang terjadi pada tahun
2008. Sengketa tanah yang terjadi antara mereka merupakan permasalahan yang
pernah tejadi setahun sebelum dilakukan penyelesaian secara adat atau
pemerintahan desa. Perdamaian berdasarkan kekeluargaan tersebut tidak
membawa pengaruh dalam perdamaian antara Ama Isa dan Ama Fati dikarenakan
seringnya anak-anak dari Ama Fati Zebua membuat masalah dengan Ama Isa
dengan cara menderes karet milik Ama Isa. Jika Ama Isa menegur anak-anak dari
Ama Fati maka dengan lantang anak-anak dari Ama Fati mengatakan bahwa tanah
dan karet tersebut merupakan milik dari ayah mereka.
Ama Isa akhirnya mengambil inisiatif dengan mengundang kepala desa
dan tokoh adat lainnya ke rumahnya dan membicarakan hal tersebut. Kepala desa
dan tokoh adat lainnya mendengarkan pengaduan dari Ama Isa dan meninjau
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
lahan yang dipersengketakan kemudian mempertimbangkan beberapa hal dan
akan mengundang pihak Ama Fati Zebua.
Beberapa
hari
kemudian
diadakanlah
musyawarah
adat
dengan
menghadirkan kedua belah pihak dan secara bersama mendengarkan penjelasan
kepemilikan lahan tersebut. Eratnya kaitan kekeluargaan antara Ama Isa dengan
Ama Fati membuat Ama Isa mengalah dan bersedia menganti kerugian kelurga
Ama Fati tehadap karet yang mereka klaim sebagai hak mereka agar ada kejelasan
dari kepemilikan lahannya. Ama Fati sepakat akan keinginan dari Ama Isa dan
perdamaian terjadi dengan menandatangani surat perjanjian kepemilikan lahan
tersebut menjadi milik Ama Isa.
Gambar 31 : istri dari Ama Isa dan rumah dari Ama Isa , Dominiria Hulu, 2008
4. 3. Prosedur Penyelesaian Sengketa Tanah pada Mayarakat Nias
a. Secara kekeluargaan
Sengketa ini juga biasanya berhubungan dengan tanah adat dan tanah
ulayat. Hanya saja, proses penyelesaiaannya dilakukan oleh internal keluarga saja
tanpa dihadiri oleh penetua adat. Atau adanya penyelesaian secara adat yaitu
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
dengan mengundang keluarga yang sedang bersengketa dan juga saksi-saksi
(orang tua yang mengetahui dengan pasti silsilah/ sejarah dari tanah yang
dipersengketakan).
Sengketa tanah ini biasanya terjadi antar saudara kandung yang
mempermasalahkan hak warisan tanah yang diberikan oleh orangtuanya, atau
adanya pergeseran batas tanah. Penyelesaian yang dilakukan tentunya diselesaikan
oleh orangtua mereka atau jika orangtuanya meninggal yang menyelesaikan yakni
paman dari pihak laki-laki atau disebut sibaya. Namun terkadang penyelesaian ini
tetap saja dibawa ke jalur adat karena keputusan yang diambil oleh
orangtua/paman mereka tidak adil, tapi ada juga keluarga yang tetap mengikuti
keputusan orangtuannya.
b. Secara adat
Sengketa tanah yang diselesaikan dengan cara ini adalah tanah adat dan
tanah ulayat. Ini biasanya diselesaikan melalui forum keluarga dengan
mengundang keluarga besar dan penatua adat yg ada pada garis
keturunan
tersebut. Penyelesaian secara adat memerlukan keterlibatan dari Siteoli dan tokoh
adat yang berada di lokasi terjadinya sengketa. Hal ini disebut sebagai
pembicaraan adat, dalam pembicaraan adat akan di saksikan oleh warga yang
bersengketa dan semua masyarakat yang berada di lokasi kejadian sengketa.
Pembicaraan adat akan dilaksanakan untuk menyampaikan informasi
berkaitan dengan keputusan yang akan dilaksanakan dalam penyelesaiaan
sengketa tanah tersebut. Informasi tersebut berupa; keterangan-keterangan dari
saksi kedua belah pihak, keterangan dari pihak mediator kedua belah pihak,
rentetan permasalahan hingga dibawa ke jalur adat dan pengukuran batas tanah
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
kedua belah pihak yang bersengketa atau informasi tentang keadaan tanah yang
di persengketakan.
Setelah diungkapkan informasi tersebut maka Siteoli dan tokoh adat
lainnya melaksanakan pembuktian terhadap laporan dari masing-masing yang
bersengketa dengan bukti yang telah mereka peroleh. Bukti-bukti tersebut berupa
surat tanah atau surat perjanjian, informasi dari saksi yang menandatangani surat
perjanjian. Kemudian merka memutuskan siapakah yang berhak memperoleh
kembali tanah yang dipersengketakan, biasanya keputusan ini disyahkan melalui
surat keputusan hasil rapat musyawarah adat dengan ditandatangani oleh Siteoli
dan tokoh adat lainnya yang kemudian akan menjadi saksi jika di kemudian hari
tanah tersebut dipermasalahkan.
Kegiatan musyawarah adat ini sekaligus sebagai upaya mempererat
hubungan kekerabatan dengan yang bersengketa agar ke depannya menjadi lebih
baik, kegiatan musyawarah yang berdasarkan asas keterbukaan dan kejujuran ini
sangat dipercaya oleh masyarakat Nias sebagai keputusan hukum yang sah.
Konsekuensi jika masalah tersebut dipersengketakan lagi, oleh semua warga
secara otomatis akan mengucilkan masyarakat yang kembali mempersengketakan
tanah.
Sanksi ini berupa masyarakat yang bersengketa tersebut tidak dianggap
dalam kegiatan desa, disindir dengan kata-kata kiasan, bila ada yang ia butuhkan
tidak dibantu, anaknya nikah tidak akan didatangi, kematian keluarganya juga
tidak didatangi dan pada akhirnya warga tersebut lambat laun meninggalkan desa
tersebut. Konsekunsi ini akhirnya menjadi landasan kepercayaan akan segala
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
keputusan dari siteoli dan tokoh adat lainnya dan menjadikan masyarakat saling
menjaga kepercayaan atas kepemilikan tanah satu sama lain.
c. Secara hukum
Sengketa ini biasanya dilakukan pada proses penyelesaian tanah milik
pribadi. Dalam proses ini, pihak yang keberatan harus bisa menunjukkan beberapa
bukti kepemilikan atas tanah tersebut. Seperti : sertifikat, surat pembelian dan
juga izin bangunan jika tanah tersbut telah didrikan bangunan.
Permasalahan sengketa tanah melalui jalur hukum biasanya dilakukan
oleh suku lain yang merantau ke Nias atau warga Nias yang mengalami
perkawinan campur dengan suku lain yang belum diadati secara adat Nias, dan
biasanya permasalahan sengketa tanah yang terjadi hanya di daerah perkotaan
yang sudah bersifat individual atau tidak berada dalam ruang lingkup adat.
Walaupun ia berada di dalam lingkungan adat namun masyarakat tersebut belum
disyahkan secara adat jadi ia berhak mengajukan masalah tanahnya melalui jalur
hukum.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
4.4. Peranan Siteoli dengan tokoh adat Nias, peranan Mediator dan Kepala
Desa dalam penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat Nias.
a. Peranan Siteoli dengan tokoh adat Nias
Adapun peranan Siteoli dengan tokoh adat Nias yakni:
1. menerima informasi yang bersengketa dari kepala desa. Informasi yang
diperoleh dari kepala desa yakni awal terjadinya permasalahan dan hal-hal yang
berkaitan dengan laporan dari masing-masing yang bersengketa.
2. mempertimbangkan permasalahan tersebut apakah layak dimusyawarahkan
secara adat atau secara kekeluargaan serta membuat keputusan terhadap
penyelesaian sengketa tanah tanpa memihak salah satu yang bersengketa tapi
berdasarkan kronologis sengketa yang terjadi.
b. Peranan Mediator
Sebelum kita membahas peranan mediator dalam proses penyelesaian
sengketa tanah pada masyarakat Nias, perlu kita ketahui bahwasanya mediator
ditunjuk sebagai pihak ketiga karena; kehendaknya sendiri, ditunjuk oleh tokoh
adat, dan diminta kedua belah pihak. Sebagai mediator tugas utamanya yakni
bertindak sebagai fasilitator sehingga pertukaran informasi dapat dilaksanakan
serta dituntut untuk bersikap bijaksana, dapat dipercaya, dan cekatan.
Masyarakat Nias dalam menyelesaikan permasalahan sengketa tanah juga
menggunakan mediator sebagai suatu cara agar proses penyelesaian berjalan
dengan lancar. Hal ini didasarkan karena kuatnya kekerabatan antara pihak
mediator dengan yang bersengketa karena biasanya mediator yang digunakan
yakni dari pihak keluarga atau masyarakat desa yang dipercaya sering menjadi
mediator dan dalam hal ini mediator yang bersifat netral atau tidak memihak satu
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
dengan yang lain sehingga proses penyelesaian sengketa tanah dapat dilaksanakan
secara lancar dan tanpa menyimpan dendam kelak jika permasalahan tersebut
selesai terhadap yang menjadi mediator. Adapun yang menjadi peranan mediator
dalam hal ini yakni:
1. Sebagai Perantara Antar Pihak yang Bersengketa
Sebagai perantara antara pihak yang bersengketa mediator berfungsi
mendengarkan permasalahan yang terjadi. Jika ia telah menerima informasi
tersebut maka ia berhak menyampaikan ke pihak siteoli apabila diadakannya
penyelesaian secara adat, apabila secara kekeluargaan maka mediator sekaligus
berhak menjadi penentu terhadap keputusan yang diambil oleh keluarga karena ia
memiliki peran ganda sebagai pendengar dan pengambil keputusan terhadap
selesainya masalah. Hal ini terjadi karena dalam penyelesaian sengeketa tanah
yang terjadi kedua belah pihak yang bersengketa sama-sama mengambil
menjadikan mediator mereka yakni paman atau sibaya mereka tersebut.
2. Sebagai Penasehat Kepada Pihak yang Bersengketa
Nasehat yang diberikan berkaitan dengan permasalahan yang terjadi,
penyampaian nasehat haruslah sesuai dengan proses terjadinya sengketa tanah.
Artinya, mediator berperan menjadi orang yang meredakan emosional dari orang
yang
menunjuknya
menjadi
mediatornya
apabila
terjadi
kemungkinan-
kemungkinan fatal jika diadakannya musyawarah.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3. Peranan Kepala Desa
Adapun peranan kepala desa dalam menyelesaikan sengketa yakni:
a) menerima informasi dari yang bersengketa, informasi yang diterima
berupa kronologis dari kejadian yang ada
b) kemudian menindaklanjuti dengan memanggil kedua pihak yang
bersengketa, mediator dan beberapa tokoh masyarakat.
c) apabila pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan maka kepala
desa kembali mengundang kedua belah pihak beserta seluruh pengurus
desa, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat.
d) membuat surat keputusan penyelesaian sengketa dengan ditandatangani
kedua belah pihak dan tokoh masyarakat serta warga yang ada pada saat
musyawarah adat tersebut.
Peranan Siteoli dengan tokoh adat Nias, peranan mediator dan kepala desa
pada kehidupan masyarakat Nias telah banyak membantu terhadap adanya
keadilan dalam penyelesaian sengketa tanah yang terjadi baik permasalahan desa
maupun permasalahan individual/masyarakat desa.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
BAB V
Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Tanah sebagai sumber penghidupan memberikan pengaruh terhadap pola
budaya dan sosial masyarakat. Persoalan tanah juga memberi pengaruh yang besar
dan sensitif terhadap kehidupan masyarakat baik berdasarkan garis keturunan
maupun karena kepentingan semata.
Berharganya tanah bagi masyarakat Nias sebagai sumber penghidupan dan
warisan yang tidak boleh dijual kini hanya menjadi fenomena semata. Pertikaian
yang terjadi akibat sejengkal tanah seringkali menimbulkan hubungan pertalian
darah menjadi putus walaupun setelah masalah tersebut selesai semua terlihat
lebih baik dari sebelumnya.
Fondrakö yang telah menjadi acuan bagi terciptanya kesejahteraan
kepemilikan tanah mulai pudar hanya karena keinginan menguasai. Hal ini
semakin diperkuat karena adanya batas-batas tanah yang belum jelas dan tanpa
sertifikat serta masyarakat yang hanya berpatok pada jenis tanaman yang dibuat
sebagai batas sehingga terkadang menimbulkan adanya kesalahpahaman ketika
tanah tersebut sudah menghasilkan atau bernilai ekonomis.
Sistem patrilineal yang juga menjadi prioritas utama dalam kehidupan
masyaraka Nias menjadikan kepemilikan tanah lebih didominasi oleh kaum lakilaki, sementara kaum perempuan hanya menerima warisan tanah yang didasarkan
atas kasih sayang dan besar harta yang dimiliki oleh orangtuanya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Ketidaksetaraan dalam pembagian harta warisan juga menjadi pemicu
terjadinya ketidaksenangan antar saudara kandung dan ini terkadang dipicu oleh
keinginan keturunanya yang selalu mempersoalkan mengapa hak dari orangtuanya
tidak sebaik dari keluarganya yang lain.
Pembagian warisan berupa tanah bagi masyarakat Nias dilakukan ketika
orangtuanya sudah lanjut usia dan akan menghembuskan nafasnya dimana anakanaknya akan melakukan pesta adat yang dinamakan fangotome’ö. Kegiatan adat
ini merupakan simbolisasi dari pemberitahuan secara lisan pembagian warisan
dari orangtua kepada anak-anaknya yang dihadiri oleh para kepala desa dan
tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Biasanya apa yang menjadi keputusan dalam
kegiatan pesta tersebut telah sah walaupun suratnya menyusul untuk
ditandatangani.
Penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat Nias didasarkan pada
kekeluargaan, adat dan yang terakhir diselesaikan di pengadilan, tapi kebanyakan
masalah sengketa yang terjadi diselesaikan secara kekeluargaan dan adat.
Masyarakat Nias masih mengenal dan menjunjung tinggi ungkapan dari orangtua
mereka terdahulu yakni jika seseorang keluarga membawa permasalahan di
pengadilan maka tidak akan dianggap sebagai saudara lagi bahkan akan
dikucilkan dalam kegiatan masyarakat. Maka, segala perkara tanah yang terjadi
pada masyarakat Nias selalu diselesaikan secara kekeluargaan dan adat dengan
menggunakan jasa dari pihak ketiga agar mereka dihargai di tempat mereka
tinggal. Pihak ketiga yang diambil tentunya bukan dari garis keturunan
kekerabatan mereka melainkan pihak lain yang bukan dari keluarga mereka.
Biasanya mereka menggunakan jasa dari Pendeta dan tokoh-tokoh agama.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Penyelesaian secara kekeluargaan dan adat bagi masyarakat Nias tidak
terlepas dengan adanya pembayaran adat berupa babi, uang dan hal-hal lainnya
yang menjadi keputusan dalam musyawarah. Jika secara kekeluargaan dan adat
biasanya pihak keluarga yang mengadukan akan menanggung pengeluaran berupa
penyedian makanan, barulah diganti ketika hasil keputusan menyatakan orang
yang dilaporkan telah melanggar batas tanah. Namun, terkadang pihak pelapor
tidak mempersoalkan pengeluaran yang telah ia keluarkan asalkan apa yang
menjadi miliknya terbukti. Jadi, secara operasional hukum yang berlaku dalam
penyelesaian sengketa tanah bagi masyarakat Nias lebih mengarah pada proses
membiarkan, perundingan serta mediasi seperti yang diungkapkan oleh Nader dan
Todd.
5.2. Saran
1. Perlu adanya kejelasan dalam kepemilikan tanah dalam bentuk akta tanah
karena selama ini kepemilikan tanah hanya didasarkan batas tanah berupa
tanaman maupun pilar dan surat tanah yang berupa materai. Jadi, dengan
jelasnya kepemilikan tanah maka akan kecil kemungkinan terjadinya
pertikaian antar saudara maupun warga.
2. Agar pemerintah desa bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam
membantu warganya yang mempunyai kesulitan dana dalam memperoleh
surat tanah yang sah.
3. Jika pemerintah ingin memberikan bantuan kepada masyarakat jangan
hanya berdasarkan janji tetapi merealisasinya dan menindaklanjuti hasil
pembangunan yang dilakukan oleh pihak pemberi bantuan agar bantuan
tersebut benar-benar terealisasikan kepada masyarakat yang membutuhkan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
4. Perlu adanya ketegasan hukum dan sanksi adat yang diberikan kepada
masyarakat yang selalu memperkarakan dan menggeser batas tanah yang
bukan miliknya secara tertulis.
5. Sudah sepantasnya agar Hukum Waris Adat bagi kaum wanita yang sistem
garis Patrilineal perlu ketegasan dalam pembagian harta warisan dengan
tidak pemberian secara prihatin atau karena sayang dengan anaknya
perempuan bila perlu dibuat Undang-undangnya.
6. Perlu adanya inisiatif dari pihak aparat desa dalam menangani pembelian
serta dalam penyelesaian masalah sengketa tanah agar beberapa pihak
tidak dirugikan
7. Dalam pembagian warisan diharapkan agar adanya kesetaraan dilihat dari
keuletan kaum laki-laki dan perempuan dalam mengusahakan ekonomi
keluarga.
8. Pihak yang menjadi mediator tetap adil dan bukan menjadi bumerang bagi
berkembangnya masalah sengketa tanah yang terjadi.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Daftar Pustaka
Achdiat, Anto
1983
“Penyelesaian Sengketa dan Hancurnya Hubungan Kekerabatan”
dalam Ihromi (ed), Antropologi Hukum Sebagai Bunga Rampai.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Benda-Beckmann, K.Von
1993
“The Law of Things : Legalization and Delegalization in the
relationship between the first and the world” dalam Ihromi (ed),
Antropologi Hukum Sebagai Bunga Rampai.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
2000
Goyahnya Tangga Menuju Mufakat: Peradilan Nagari dan
Pegadilan Negri di Minangkabau”
Jakarta: PT Grasindo.
Bungin Burhan
2003
Analisis Data Penelitian Kualitatif.
Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Harefa, Faogöli
1939
Hikajat dan Tjeritera Bangsa dan Adat Nias
Rapatfonds Residentic Tapanoeli.
Ihromi, TO
1993
“Beberapa Catatan Mengenai Metode Kasus Sengketa Yang
Digunakan dalam Antropologi Hukum” dalam Ihromi (ed),
Antropologi Hukum Sebagai Bunga Rampai.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Johanes, P
2001
Asal-usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi
Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias.
J.F Hollemen
1993
“Kasus-kasus Sengketa dan Kasus-kasus diluar Sengketa dalam
pengkajian Mengenai Hukum dan Kebiasaan dan Pembentukan
Hukum” dalam Ihromi (ed), Antropologi Hukum Sebagai Bunga
Rampai
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Krickhoff, L.J Valerine
1993
“Mediasi (Tinjauan dari Segi Antropologi Hukum)” dalam
Ihromi (ed), Antropologi Hukum Sebagai Bunga Rampai”
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Laoli, Rosthina dkk
1985
Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Nias
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara
Lawang M.Z Robert
1999
Konflik Tanah di Manggarai Flores Barat.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Mendröfa, Welther Sökhiaro
1981
Fondrakö Ono Niha (Agama purba-hukum adat mitologi-hikayat
masyarakat Nias
Jakarta : Inkultura Fondation Inc.
Moleong J Lexy
2006
Metodologi Penelitian Kualitatif : edisi revisi
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Moore, Sally Folk
1993
“Hukum dan Perubahan Sosial: Bidang Semi Otonom Sebagai
Suatu
Topik Studi yang tepat” dalam Ihromi (ed), Antropologi
Hukum Sebagai Bunga Rampai.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suandra, I Wayan
1994
Hukum Pertanahan di Indonesia
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sudiyat Iman
1982
Beberapa Masalah Penguasaan Tanah di Berbagai Masyarakat
sedang berkembang.
Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Sulastriyono
2000
“Pluralisme Hukum dan Permasalahan Pertanahan” dalam
Ihromi (ed), Antropologi Hukum Sebagai Bunga Rampai.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tarigan, Talenta
2007
“Peranan Dalihan Na Tolu dalam Proses Penyelesaian Sengketa
Studi Kasus Tentang Penyelesaian Sengketa Waris di Desa
Sitorang Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir, Skripsi
Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
tidak terbit.
Zebua, Faondragö
1996
Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya
Gunungsitoli: …………….
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Sumber-sumber Lain:
Diakses tanggal 19 mei 2008 dan 23 Meis 2008
Gulö, Tolona, dkk
2006
Hasil Rumusan Musyawarah Adat (Fondrakhö) Tingkat
Kecamatan Mandrehe Barat.
Panitia Peyelenggara Musyawarah Adat (Fondrakhö)
Hendrawati, Lucy Dyah & Sri Endah Kinasih
2005
Makna Sumpah Pocong Sebagai Upaya Penyelesaian Sengketa
Pada Masyarakat Madura: Studi Kasus di Masjid Madegan,
Polagan Sampang, Madura
http:// www.journal.unair.ac.id.
MacDougall, John
1995
Arti Tanah bagi Suku Amungme.
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/09/25/0001.html.
[email protected]
Mampioper , Carol
2007
Tanah : Adalah Kehidupan Dan Identitas orang Papua.
http://tabloidjubi.wordpress.com/2007/08/20/html
Suriani
2005
Tanah Laksana Ibu Bagi suku Kajang.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/08/sh06.html.
Susuwongi
2005
Tanah Rekonstruksi Nias
http://:kompas.com/kompascetak/0512/05/daerah/2265114.html
Syalabhi, Ahmad
2005 PEPRES 36 TAHUN 2005 : UNTUK SIAPA?. http://www.mail
archive.com/[email protected]
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Telambanua, Ama Aldo
2005
Famasindro Omo, Banua Ba Öri (Pendirian Rumah, Banua dan
Öri)
…………
Winoto, Joyo
2007
Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan
http://brighten.or.id/index.php.com
…………………
2007
Sumut Urutan Ketiga Kasus Sengketa Tanah
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/08/07/index.html
.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Istilah-istilah dalam Bahasa Daerah Nias
1. Ama
: Ayah
2. Amakhaita
: Hubungan
3. Ambö
: Kurang
4. Ahatö
: Dekat
5. Balugu
: gelar kebangsawanan masyarakat Nias artinya
Raja
6. Banua
: Kampung
7. Böwö
: jujuran
8. Fangambatö
: perkawinan
9. Gowe
: merupakan lambang kebesaran bangsawan
berupa batu megalith
10. Kabu
: Kebun
11. Mado/Gana
: Marga
12. Niha
: Manusia
13. Okhöta
: Harta
14. Ono Niha
: Anak manusia
15. Ono Alawe
: Anak perempuan
16. Ono Matua
: Anak laki-laki
17. Owasa
: pesta
18. Siteoli
: kelompok yang memberikan pengaruh terhadap
adat Nias yang terdiri dari Banua, Talifusö dan uwu
19. Tuhenöri
: Pimpinan
20. Tanö
: Tanah
21. Talifusö
: saudara
22. Sibaya
: Paman
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
LAMPIRAN
1. Peta Perjalanan Penelitian di Desa Dahana Tabaloho
2. Peta Perjalanan Penelitian di Desa Onolimbu Raya, Mandrehe Barat
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
2. Beberapa Surat Perjanjian dan Surat Penyelesaian Sengketa Tanah di
Desa Dahana Tabaloho dan Desa Onolimbu Raya
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
a. Surat Perjanjian antara Ibu Saina Ndraha dan Ir. Adieli Gulö
b. surat perjanjian antara Ama Isa dan Ama Fati Zebua.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
c. surat perjanjian pelunasan piutang dan perjanjian penyelesaian sengketa
tanah antara Ama Rina dan Ama Johan
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
3. Contoh Akta Pelepasan Hak dengan Ganti Rugi Tanah.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
5. Surat Izin Penelitian dan Surat Keterangan Penelitian
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Dominiria Hulu : Sengketa Tanah Dan Prosedur Penyelesaiannya (Studi Kasus Tentang Kemajemukan Hukum
Terhadap Sengketa Tanah dan Prosedur Penyelesaiannya pada Masyarakat Nias), 2010.
Download