pengumpulan data penelitian kebijakan

advertisement
PENGUMPULAN DATA
PENELITIAN KEBIJAKAN
PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
2011
DAFTAR ISI
I
II
III
PENDAHULUAN ..........................................................................................1
A.
Pengertian Pengumpulan Data ..............................................................1
B.
Data .......................................................................................................2
TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA.........................................4
A.
Teknik Pengumpulan Data....................................................................4
B.
Alat pengumpul data .............................................................................5
TEKNIK PENGUMPULAN DATA DENGAN WAWANCARA................7
A.
Membuat Butir-butir Pertanyaan...........................................................7
B.
Merakit Instrumen.................................................................................8
C.
Mengukur validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan kualitas
instrumen penelitian ..............................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................13
I
PENDAHULUAN
Pada Bab I ini diuraikan tentang pengertian pengumpulan data, jenis data, sumber
data dan cara memperoleh data. Secara lengkap diuraikan di bawah ini.
A.
Pengertian Pengumpulan Data
Dalam setiap kegiatan penelitian selalu ada beberapa tahap yang perlu dilakukan.
Dimulai dari penyusunan rencana, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan dan tahap
terakhir adalah penyusunan laporan. Untuk setiap tahapan tersebut ada beberapa
kegiatan yang lebih rinci.
Pada tahap pelaksanaan salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan
data. Seperti telah diketahui bahwa hakekat dari penelitian pada dasarnya adalah
selalu berhubungan dengan data. Secara umum penelitian diartikan sebagai suatu
upaya/proses ilmiah yang dilakukan secara sistematis dan teratur, untuk
menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Sifat
ilmiah menitik beratkan kegiatan penelitian sebagai usaha menemukan kebenaran
yang obyektif. Oleh karena itu pengumpulan / dukungan adanya data dan informasi
yang bersifat empiris sangat diperlukan sebagai bukti ilmiah. (1989, Sutrisno Hadi,
1973, Leedy, 1980).
Dalam suatu penelitian, pengumpulan data dengan sendirinya juga merupakan
aktivitas ilmiah artinya pelaksanaannya menggunakan metode ilmiah dam landasan
berpikir ilmiah. Hal ini juga berarti bahwa pengumpulan data dalam suatu
penelitian bukanlah aktivitas yang insidental dan trial and error, bukanlah suatu
aktivitas coba-coba, yaitu mengumpulkan apa saja yang dijumpai secara kebetulan.
Pengumpulan data dalam penelitian merupakan kegiatan yang terarah, dengan
sengaja mencari bahan-bahan yang telah ditentukan lebih dahulu dalam rencana
penelitian.
Dalam pelaksanaannya pengumpulan data dilaksanakan setelah ditentukan data apa
yang diperlukan dan dimana data tersebut diperoleh. Bila mana kedua hal tersebut
telah ditentukan maka perlu ditentukan cara apa yang digunakan untuk
mendapatkan/mengumpulkan data. Setelah cara ditentukan, untuk mendapatkan
data diperlukan alat untuk mengumpulkan data yang sering disebut sebagai
instrumen penelitian. Dengan demikian bila (a) data yang diperlukan sudah
Penyusunan Instrumen
-1-
ditentukan, (b) sumber data sudah diketahui, (c) cara dan (d) alat yang digunakan
untuk memperoleh data ditetapkan, kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan
pengumpulan data.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengumpulan data adalah masalah
metodologik yaitu masalah yang khusus membicarakan tentang desain dan tehnik
pengumpulan data.
B.
Data
Seperti telah disebutkan di atas bahwa pada dasarnya suatu penelitian itu selalu
berhubungan dengan data. Oleh karena itu ada aktivitas pengumpulan data dan
bahkan data yang diperlukan menentukan cara pengumpulan data. Data dalam
suatu penelitian adalah catatan–catatan berupa fakta yang diperoleh dalam kegiatan
pengumpulan data. Data tersebut harus tepat dan cukup sehingga dapat
mengantarkan seorang peneliti pada perumusan kesimpulan yang baik dan benar.
Ketepatan dan kecukupan data dalam suatu penelitian dipengaruhi banyak faktor,
seperti misalnya tingkat pemahaman peneliti terhadap masalah yang diteliti, alat
yang digunakan dalam pengumpulan data, cara pengumpulan data dan dengan
sendirinya pemahaman terhadap data itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu ada
baiknya kita bicarakan secara singkat tentang data dalam kaitannya dengan suatu
penelitian.
Ada beberapa pengelompokan data yang menurut beberapa penulis disebutkan
dengan cara berbeda walaupun intinya sama (Hadari Nawawi, 1992, Sutrisno Hadi,
1973, Soeratno, 1988). Dalam hal ini pengelompokan data akan dijelaskan
berdasarkan(1) jenis, (2)sumber, dan (3) cara memperolehnya.
1.
Jenis Data
Berdasarkan jenis (atau sering disebut sifat), data dalam suatu penelitian bisa
dikelompokkan menjadi dua yaitu (a) data kuantitatif dan (b) data kualitatif.
a.
Data kuantitatif adalah data yang ditunjukkan dalam bentuk angka
atau numerik yang merupakan hasil penghitungan secara matematik
dan dapat diukur secara langsung. Untuk memperjelas hal ini berikut
diberikan suatu ilustrasi. Seorang guru ingin mengetahui rata-rata tinggi
badan siswanya. Diperoleh catatan ada siswa yang tingginya 150 cm,
155 cm, 165 cm, 170 cm, dan seterusnya sampai semua tinggi badan
Penyusunan Instrumen
-2-
siswa diketahui dan dicatat. Catatan tinggi badan yang dinyatakan
dengan angka-angka tersebut merupakan data kuantitaif. Contoh data
kuantitatif lain adalah jumlah guru, jumlah pegawai, jumlah siswa
mengulang kelas, dan lain-lain.
b.
2.
Data kualitatif adalah data yang menunjukkan mutu atau kualitas dari
sesuatu, dapat berupa keadaan, proses, kejadian/peristiwa dan
sebagainya yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Jadi data kualitatif
lebih merupakan wujud kata-kata dari pada deretan angka-angka.
Contoh pernyataan dalam bentuk perkataan yang menunjukkan data
kualitatif adalah: jumlah anak putus sekolah meningkat, orang tua
sekolah tersebut miskin, rerata NEM SD di Kabupaten A merosot, dan
lain-lain.
Sumber Data
Sumber data pada dasarnya berhubungan dengan dimana data dapat
diperoleh. Secara umum sumber data dikelompokkan menjadi (a) sumber
data berupa pribadi-pribadi/seseorang dan (b) sumber data berupa dokumen/
benda yang berupa naskah, laporan , buku harian dan lainnya.
3.
Cara Memperoleh Data
Ditinjau dari cara memperolehnya maka data dapat dibedakan menjadi (a)
data primer dan (b) data sekunder. Data primer adalah data yang
dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan,
sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh oleh suatu organisasi
atau perorangan dalam bentuk yang sudah jadi, seperti misalnya berupa
dokumen dan publikasi.
Penyusunan Instrumen
-3-
II
TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN
DATA
Pada Bab II ini dijelaskan teknik pengumpulan data dan alat pengumpulan data.
Secara lengkap diuraikan di bawah ini.
A.
Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian, yaitu:
1.
Teknik Komunikasi
Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara berkomunikasi baik
secara lisan maupun tertulis antara pengumpul data dengan pihak pemberi
data. Dalam teknik ini terjadi proses bertanya/meminta data dan
menjawab/memberi data. Teknik ini dibedakan menjadi:
a.
Teknik komunikasi langsung; dilakukan dengan mengadakan kontak
langsung secara lisan (face to face relationship) antara pengumpul data
dengan pemberi data. Teknik ini sering disebut dengan teknik
wawancara.
b.
Teknik komunikasi tidak langsung; dilakukan dengan kontak tidak
langsung antara pengumpul data dengan pemberi data, tetapi melalui
alat lain yang pada umumnya berbentuk pertanyaan tertulis untuk
dijawab oleh pemberi data. Teknik ini sering disebut dengan teknik
kuesioner.
Dalam teknik komunikasi ini ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu (a)
bahasa dan (b) pendekatan. Penggunaan bahasa yang baik, jelas, menarik dan
sopan akan sangat membantu keberhasilan teknik ini. Begitu pula pengumpul
data sendiri hendaknya mempunyai sikap yang tidak membuat pemberi data
merasa tidak senang. Pengumpul data perlu bersikap sopan dan simpatik
yang dapat menimbulkan kedekatan dengan pemberi data. Secara rinci
teknik wawancara dan teknik kuesioner akan dijelaskan pada Bab III dan Bab
V.
Penyusunan Instrumen
-4-
2.
Teknik Observasi/Pengamatan
Teknik pengumpulan data ini dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan
gejala-gejala (data) yang tampak pada objek penelitian. Teknik ini juga
dilakukan secara langsung maupun tidak secara langsung serta dengan
partisipasi. Rincian tentang hal ini ada pada Bab IV.
3.
Teknik Pengukuran
Teknik ini digunakan untuk mengetahui tingkat atau derajat aspek atau
bidang tertentu yang diukur kemudian dibandingkan dengan suatu norma
ideal yang relevan dengan maksud penelitian. Dibidang pendidikan, teknik
ini misalnya dilakukan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar yang
dalam pelaksanaannya dilakukan melalui tes.
4.
Teknik documenter
Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan tertulis sebagai
dokumen dan juga bentuk lainnya seperti buku-buku, koran, majalah dan
lainnya yang sejenis. Data tertulis itu diklasifikasikan dan dibuat kategorinya
agar dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah penelitian. Contoh
penggunaan teknik ini misalnya adalah dalam studi tentang perkembangan
kurikulum SD di Indonesa. Pada penelitian seperti ini pengumpulan data
dilakukan dengan mengadakan telahan pedoman kurikulum SD dari tahun ke
tahun untuk mendapat data tentang perubahan dan perkembangan yang sudah
terjadi.
Berkaitan dengan teknik pengumpulan data, sesuai dengan tujuan penulisan
buku ini dalam Bab-Bab berikutnya akan diuraikan tentang
tehnik
pengumpulan data dengan (a) wawancara, (b) kuesioner dan (c) observasi.
B.
Alat pengumpul data
Alat untuk mengumpulkan data sering disebut dengan instrument. Bentuk alat
pengumpul data tersebut sangat erat hubungannya dengan teknik pengumpulan data
yang digunakan. Dalam pelaksanaan sering juga digunakan dua alat pengumpul
data untuk mendapat suatu data yang diinginkan. Dengan kata lain, sering ada
Penyusunan Instrumen
-5-
penggabungan penggunaan alat pengumpul data untuk mendapatkan data yang
lebih komprehensif.
1.
Alat pengumpul data dalam bentuk catatan
Berbagai bentuk catatan digunakan mulai dari lembaran/buku catatan yang
sederhana (disebut anecdotal record dan incidental record) sampai dengan
catatan yang sudah diberi rambu-rambu yang disebut dengan check list.
Anecdotal record adalah alat untuk mencatat kejadian/gejala yang muncul
seketika dan perlu segera dicatat. Sedangkan incidental record pada dasarnya
sama dengan anecdotal record hanya pemanfaatannya pada waktu-waktu
tertentu, misalnya setiap 3 jam, 1 hari, dll. Selanjutnya checklist digunakan
untuk mencatat data yang rincian gejala atau unsur yang ingin diketahui telah
disusun secara teratur dalam suatu daftar. Pengumpul data tinggal
membubuhkan tanda chek (misalnya dengan tanda V) setiap gejala yang
diamati muncul atau terjadi. Catatan ini pada umumnya digunakan dalam
teknik pengumpulan data komunikatif/wawancara dan
pengamatan/
observasi.
2.
Alat pengumpul data: kuesioner
Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang sudah atau belum diberi
alternatif jawabannya. Penggunaan alat penelitian ini sangat popular karena
relative mudah dilakukan dan bisa masuk dalam penelitian kuantitatif dan
kualitatif.
3.
Alat pengumpul data dengan menggunakan kartu ikhtisar, kartu
kutipan, kartu ulasan
Alat ini digunakan dalam pengumpulan data dengan tehnik dokumenter. Pada
kartu-kartu tersebut pada umumnya dicantumkan sumber/nama dokumen
yang bersangkutan.
4.
Alat pengumpul data dengan berbagai jenis tes
Tes pada umumnya diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang disampaikan
kepada seseorang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan atau
tingkat perkembangan salah satu atau beberapa aspek psikologis dalam
dirinya. Aspek psikologis itu dapat berupa kecerdasan, sikap, minat, bakat,
dan lain-lain.
Penyusunan Instrumen
-6-
III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
DENGAN WAWANCARA
Bab III akan diuraikan tentang langkah-langkah membuat instrument penelitian.
Isinya antara lain membuat butir-butir pertanyaan, merakit instrument, dan
mengukur validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan kualitas instrumen
penelitian Secara lengkap diuraikan di bawah ini.
Dalam penelitian kuantitatif, instrumen atau alat pengumpul data kadang-kadang
tidak perlu dibuat sendiri, karena telah tersedia instrumen baku untuk
mengumpulkan data variabel-variabel tertentu, sepanjang teori/ konsep yang
digunakan sebagai landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori/
konsep yang diacu dalam penelitian kita. Namun bila tidak ada instrumen baku,
maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1. Membuat butir-butir pertanyaan,
2. Merakit instrument,
3. Mengukur validitas dan reliabilitas.
A.
Membuat Butir-butir Pertanyaan
Menulis butir-butir instrumen dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan.
Perumusan isi pertanyaan harus jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami
pengisi instrument (responden). Ada beberapa hal yang harus dihindari, yakni:
1.
Penggunaan kata-kata/ bahasa yang tidak sesuai dengan kemampuan
responden, seperti pengunaan jargon-jargon teknis tertentu,
2.
Penggunaan kalimat-kalimat yang menggiring ke arah jawaban tertentu
(leading question),
3.
Penggunaan kalimat-kalimat yang tidak jelas relevansinya dengan indikator
penelitian,
4.
Penggunaan kalimat-kalimat yang mengandung makna ganda sehingga
membingungkan (double barreled question),
5.
Penggunaan kalimat-kalimat yang panjang sehingga sulit untuk dimengerti.
Penyusunan Instrumen
-7-
B.
Merakit Instrumen
Dalam pengemasan butir-butir pertanyaan menjadi suatu perangkat instrument
yang rapih dan siap digunakan, peneliti hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1.
Menata urutan butir-butir pertanyaan/ pernyataan secara logis, serta mengalir
dari pertanyaan yang mudah ke pertanyaan yang sulit dan dari pertanyaan
yang umum ke pertanyaan yang sensitive,
2.
Memberikan penjelasan tentang tata cara mengisi pertanyaan (seperti apakah
jawaban dilingkari/ disilang, diisi atau diberi tanda centang),
3.
Memberikan kata pengantar yang antara lain berisi tentang tujuan penelitian,
penyelenggara penelitian),
4.
Mencetak dan mendesain tampilan daftar pertanyaan sedemikian rupa
sehingga rapih dan menarik untuk dijawab responden.
C.
Mengukur validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan kualitas
instrumen penelitian
Kualitas instrumen penelitian mempengaruhi kualitas data yang dikumpulkan. Pada
penelitian kebijakan, kebenaran dan kualitas usulan kebijakan dan juga dapat
berarti kebenaran dan kualitas kebijakan pimpinan, sangat tergantung dari data
yang digunakan. Oleh sebab itu kualitas instrumen secara tidak langsung
berpengaruh kepada kualitas kebijakan yang ditetapkan. Dengan ini maka jelas
bahwa kualitas instrumen merupakan faktor yang sangat penting pada penelitian
kebijakan. Secara teknis, ukuran “berkualitas” suatu instrumen dilihat dari dua hal,
yaitu validitas dan reliablitas.
1.
Kualitas Instrumen Penelitian
Kualitas alat pengumpul data mempengaruhi kualitas data yang
dikumpulkan. Pada penelitian kebijakan, kebenaran dan kualitas usulan
kebijakan dan juga dapat berarti kebenaran dan kualitas kebijakan pimpinan,
sangat tergantung dari data yang digunakan. Oleh sebab itu kualitas
instrumen secara tidak langsung berpengaruh kepada kualitas kebijakan yang
ditetapkan. Dengan ini maka jelas bahwa kualitas instrumen merupakan
faktor yang sangat penting pada penelitian kebijakan. Berturut-turut berikut
ini disajikan secara singkat bahasan tentang faktor-faktor yang menentukan
kualitas data dan cara praktis dan sederhana yang lazim digunakan dalam
menguji instrumen guna meningkatkan kualitasnya.
Penyusunan Instrumen
-8-
2.
Faktor Penentu Kualitas Instrumen
Kualitas instrumen ditentukan oleh dua hal, yaitu validitas, dan reliabilitas.
Validitas instrumen penelitian adalah kemampuan instrumen tersebut untuk
mengukur sesuatu yang hendak diukur (valid = sah). Misalnya, sebatang
meteran kayu (sebatang kayu panjangnya satu meter dengan skala sampai
tingkat sentimeter) valid sebagai instrumen untuk mengukur panjang rumah
(katakan, sembilan setengah meter). Namun demikian kemampuan untuk
mengukur sesuatu yang akan diukur tersebut tergantung kepada apa yang
akan diukur. Dengan kata lain, instrumen yang valid untuk mengukur suatu
variabel belum tentu valid untuk mengukur variabel yang lain. Dengan
contoh yang sama maka meteran tersebut tidak valid untuk mengukur lebar
celah antara kedua kutub busi, yang misalnya berjarak 2 milimeter.
Reliabilitas instrumen penelitian adalah tingkat kekonsistenan dan
ketepatan hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen tersebut
(reliable = dapat dipercaya).
Instrumen penelitian kebijakan harus
menunjukkan hasil yang relatif sama ketika pengukuran diulang atau
pengukuran terhadap kelompok lain yang memang kurang lebih sama.
Berikut adalah contoh sebuah pertanyaan dari instrumen yang tidak akan
memberikan hasil yang konsisten.
1.
Seberapa jauh jarak dari pemukiman penduduk ke SD terdekat?
(a) Sepelemparan batu
(b) Dekat
(c) Perjalanan sehari
Pada contoh di atas, kita sering salah persepsi terhadap arti dekat yang
diberikan oleh penduduk desa. Mereka menjawab pertanyaan kita bahwa
jarak ke balai desa adalah dekat, tetapi setelah kita jalani selama dua jam
jalan kaki belum sampai juga. Dalam kasus ini, dekat tidak memberikan
hasil pengukuran yang konsisten apabila ditanyakan oleh orang yang
berbeda. Oleh karena itu seharusnya menggunakan pengukuran yang jelas
satuannya, misalnya 100 m, 300 m dan seterusnya.
3.
Cara Praktis Menguji Kualitas Instrumen
Terdapat berbagai cara untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen
penelitian, dari yang rumit dan canggih sampai ke yang praktis dan
sederhana. Cara yang praktis dan sering digunakan adalah dengan
Penyusunan Instrumen
-9-
mengujicobakan instrumen tersebut terhadap kelompok kecil yang serupa
dengan calon responden penelitian. Namun demikian, masih ada cara yang
lebih praktis sebelum ujicoba terhadap kelompok kecil tersebut dilakukan,
yaitu meminta pendapat/pandangan atau reviu dengan teman-teman sendiri.
Reviu dengan teman-teman ini digunakan untuk meningkatkan kualitas
instrumen sebelum dicobakan kepada kelompok kecil, yang jelas makan
waktu dan biaya. Reviu dengan teman ini sekedar melengkapi dan tidak
dapat menggantikan ujicoba kepada kelompok kecil yang serupa dengan
calon responden tersebut.
Hasil ujicoba kemudian diperiksa untuk
mengetahui apakah responden dapat menjawab pertanyaan, lalu kalau dapat
menjawab apakah jawaban yang diberikan telah sesuai dengan yang
diinginkan. Setelah hasil ujicoba dianalisis, instrumen tersebut mungkin
perlu perbaikan. Setelah diperbaiki, instrumen perbaikan tersebut perlu
dicobakan lagi kepada kelompok kecil yang lain yang juga serupa dengan
calon responden.
Dalam analisis hasil ujicoba perlu dilihat apakah hasil pengukuran memang
ternyata mengukur sesuatu yang hendak diukur. Contoh berikut berasal dari
pertanyaan tentang latarbelakang responden. Pertanyaan-pertanyaannya a.l.
adalah:
1.
2.
3.
Umur?
Jenis kelamin?
Status?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut jawaban yang diberikan
kemungkinan dapat berupa: sudah tua (umur), besar dan panjang (jenis
kelamin), dan menganggur (status).
Analisis validitas menyatakan bahwa pengukuran tidak menghasilkan sesuatu
yang hendak diukur. Dari pertanyaan tentang jenis kelamin diharapkan
dijawab dengan pria, atau wanita dan dari status diharapkan dijawab dengan
menikah atau belum menikah. Dengan ini maka kedua pertanyaan tersebut
tidak mengukur sesuatu yang ingin diukur oleh peneliti, sehingga data yang
diperoleh salah sama sekali.
Analisis reliabilitas memperlihatkan unsur ketepatan jawaban belum
diperoleh dari pertanyaan tentang umur, karena sebetulnya yang diinginkan
adalah umur yang pasti berapa tahun. Sudah tua dapat memberikan
penafsiran tentang usia seseorang dalam satuan tahun yang berbeda-beda.
Selanjutnya, unsur kekonsistenan ditinjau dengan membandingkan jawaban
Penyusunan Instrumen
- 10 -
dari responden yang satu dengan responden yang lain. Sebagai contoh, pada
pertanyaan tentang umur, responden yang lain menjawab bahwa ia adalah
agak tua. Dalam hal ini jawaban yang diperoleh dapat dianggap tidak
konsisten karena tua, dapat terdiri dari agak tua, tua, dan sangat tua. Apakah
sudah tua pada jawaban pertama mengacu kepada tua pada jawaban ke dua?
Tidak ada sumber informasi yang dapat membantu memilih jawaban yang
dimaksud sehingga unsur kekonsistenan, khususnva dalam kasus ini adalah
skala yang digunakan, tidak terpenuhi.
Dari hasil ujicoba dan analisis yang mengikutinya, diperoleh penyempurnaan
berikut.
1.
2.
3.
Umur?
…. tahun.
Jenis kelamin?
Pria / wanita
Status perkawinan?
Menikah / belum menikah
Setelah diujicoba lagi, maka analisis validitas masih belum memuaskan
karena jawaban responden adalah sebagai berikut
Reponden 1
1. Umur?
24 tahun.
2. Jenis kelamin?
Pria / wanita
3. Status perkawinan?
Menikah/ belum menikah
Responden 2
1. Umur?
35 tahun
2. Jenis kelamin?
Pria / wanita
3. Status perkawinan?
Menikah / belum menikah
Data Yang meragukan adalah apakah kedua responden tersebut semuanya
wanita, ataukah yang pertama wanita dan yang kedua pria? Demikian juga
dengan status perkawinannya. Peneliti tidak dapat memperoleh dasar yang
kuat untuk menetapkan bahwa responden ke dua adalah pria yang sudah
menikah, mungkin saja ia adalah wanita yang belum menikah.
Melihat hasil ujicoba ke dua yang semacam itu maka, perbaikan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Umur?
…. tahun.
2. Jenis kelamin?
Pria/wanita (lingkari pilihan yang sesuai).
3. Status perkawinan? Menikah/belum menikah (lingkari pilihan yang
sesuai).
Penyusunan Instrumen
- 11 -
Setelah diuji coba lagi, jawaban yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Reponden 7
1. Umur?
44 tahun.
2. Jenis kelamin?
Pria / wanita (lingkari pilihan yang sesuai).
3. Status perkawinan? Menikahlbelum menikah (lingkari pilihan yang
sesuai).
Responden 22
1. Umur?
49 tahun.
2. Jenis kelamin?
Pria/wanita (lingkari pilihan yang sesuai).
3. Status perkawinan? Menikahl belum menikah (lingkari pilihan yang
sesuai).
Mengapa peneliti tidak memperoleh data tentang status perkawinan dari
responden 7 dan 22? Apakah kejadian serupa dalam pengumpulan data yang
sebenarnya nanti dibiarkan saja (dan risikonya adalah semua data dari
responden-responden semacam itu tidak digunakan?). Mengapa reponden
tersebut tidak menjawab pertanyaan status perkawinan? Ternyata alasannya
adalah karena pilihan yang disediakan tidak lengkap sehingga mereka tidak
dapat memilih. Responden 7 ternyata sudah hidup sendiri lagi dan responden
22 ternyata memang telah memutuskan tidak akan menikah selamanya.
Dengan demikian seharusnya dalam pilihan jawaban status perkawinan
terdapat janda serta duda. Untuk mengakomodasikan jawaban responden 22
dapat ditambah “tidak menikah”.
Penyusunan Instrumen
- 12 -
DAFTAR PUSTAKA
Keppel, G. 1982. Design & Analysis: A Reseacher’s Handbook. New Jersey,
Prentice-Hall
Oppenheim, A. N. 1966. Questionnaire Design and Attitude Measurement. New
York, Basic Book, Inc.
Thorndike, R. L. 1982. Applied Psychometrics. Boston, Houghton Mifflin Co.
Penyusunan Instrumen
- 13 -
Download