ANALISIS FAKTOR FUNDAMENTAL

advertisement
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
ANALISIS FAKTOR FUNDAMENTAL
TERHADAP
HARGA SAHAM INDUSTRI PERTAMBANGAN DAN PERTANIAN
DI BEI
Dhita Ayudia Wulandari
[email protected]
Mahasiswi, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi – Universitas Gunadarma
ABSTRAK
Pasar modal merupakan salah satu tempat bagi perusahaan untuk mendapatkan
dana demi menunjang kelancaran kegiatan operasinya dan menjaga kelangsungan
hidupnya dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Bagi perusahaan yang go public,
harga saham yang diperjualbelikan dibursa merupakan indikator nilai perusahaan.
Sehingga apabila harga saham meningkat maka nilai perusahaan juga akan meningkat.
Apabila nilai perusahaan meningkat maka kemakmuran pemegang saham juga akan
meningkat.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh faktor
fundamental terhadap harga saham khususnya saham industri pertambangan dan
pertanian. Industri pertambangan dan pertanian (agro bisnis) merupakan industri yang
menjadi pilihan para calon investor, dikarenakan Indonesia kaya akan Sumber Daya
Alam. Metode pengambilan sample dilakukan dengan purposive sampling method. Dari
seluruh perusahaan pada industri pertambangan hanya terdapat 10 perusahaan yang
sesuai, sedangkan dari industri pertanian ada 8 perusahaan yang sesuai.
Hasil Penelitian pada industri pertambangan menunjukkan seluruh variabel
independent berpengaruh signifikan terhadap harga saham baik secara parsial maupun
simultan. Sedangkan pada industri pertanian hanya variabel EPS, PER, BVS, ROI, PBV,
DER, serta Beta yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham baik secara simultan
maupun parsial.
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
1
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perusahaan selalu membutuhkan dana untuk menunjang kelancaran kegiatan
operasinya dan menjaga kelangsungan hidupnya dalam persaingan bisnis yang semakin
ketat (Husnan & Pudjiastuti, 1996). Salah satu cara untuk memperoleh sumber dana
perusahaan adalah dengan cara menarik dana dari luar perusahaan. Dana dari luar ini,
salah satunya dapat diperoleh dari pasar modal. Dari pasar modal ini perusahaan harus
berusaha agar investor bersedia menanamkan modalnya kedalam perusahaan. Dengan
kata lain agar dapat menghimpun dana tersebut maka perusahaan harus dapat
meyakinkan pihak investor bahwa mereka akan memperoleh return atas investasinya.
Dengan demikian pasar modal merupakan wahana bagi perusahaan untuk memperoleh
dana dan memberikan peluang kepada investor untuk memperoleh imbalan ( return ) atas
investasi yang telah dilakukannya.
Tujuan utama dari investor dalam berinvestasi adalah untuk memperoleh imbalan
(return) atas investasinya, berupa deviden dan capital gain, yaitu selisih antara harga
pasar saham dengan harga nominalnya. Selanjutnya tujuan perusahaan menerima
investasi tersebut adalah untuk memperoleh hasil yang diharapkan (expected return),
walaupun ada kemungkinan dihadapinya resiko. Dengan demikian dalam menghimpun
dana dari masyarakat atau dana dari para pemegang saham, perusahaan berkewajiban
untuk menjaga dan memelihara kondisi keuangan perusahaan dengan baik serta
memperhatikan dan menjaga likuiditas, laverage, prospek perusahaan, profitabilitas dan
kinerja (performance) perusahaan ( Mulyamah, 2000 ).
Bagi perusahaan yang tidak go publik nilai perusahaan merupakan harga yang
bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan bagi
perusahaan yang go publik harga saham yang diperjualbelikan dibursa merupakan
indikator nilai perusahaan. Sehingga apabila harga saham meningkat maka nilai
perusahaan juga akan meningkat. Apabila nilai perusahaan meningkat maka kemakmuran
pemegang saham juga akan meningkat. Karena dengan harga saham yang meningkat
tersebut maka pemegang saham akan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
2
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
( Husnan & Pudjiastuty, 1996 ). Harga saham yang diperjual belikan di bursa sangat
berkaitan dengan prestasi yang dicapai oleh perusahaan. Prestasi perusahaan dapat dinilai
dari besarnya kinerja keuangan selama periode tertentu. Kinerja keuangan perusahaan
bisa diamati dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik (Purnomo, 1998).
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi saham. Tetapi pada
garis besarnya cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis teknikal
dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data perubahan harga dimasa
lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas dimasa yang akan datang,
sedangkan analisis fundamental berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan tentang
efektifitas dan efisiensi perusahaan mencapai sasaran. Untuk menganalisis kinerja
perusahaan dapat digunakan rasio keuangan yang terbagi dalam empat kelompok, rasio
likuiditas, leverage, profitabilitas dan aktivitas. Dengan analisis tersebut para analis
mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi
nilai dari faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang
dan menerapkan hubungan faktor tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Disamping analisis teknikal dan analisis fundamental, investor juga harus memperhatikan
resiko pasar saham dalam investasi saham tersebut. Resiko saham disebut resiko
sistematis, dimana resiko tersebut berhubungan erat dengan perubahan harga saham
kelompok tertentu yang disebabkan antisipasi investor terhadap perubahan tingkat
pengembalian yang diharapkan.
Penulis memilih industri pertambangan dan pertanian sebagai objek penelitian
karena industri ini adalah industri yang memiliki kemungkinan terbesar untuk
berkembang, sebagaimana fakta bahwa Indonesia memiliki banyak sumber daya alam
yang menarik minat para investor untuk menanamkan dananya. Hal ini dibuktikan
dengan pernyataan Co-Chairman Indonesian National Organizing, “Tanri Abeng” pada
02/03/2009, Selain itu, industri ini dapat lebih bertahan dibandingkan dengan industri
lainnya, hal ini terbukti saat terjadi krisis keuangan yang sempat melanda Indonesia,
namun industri ini tidak terlalu parah terkena imbasnya. Alasan lain adalah untuk
melengkapi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang telah meneliti sektor
industri yang lain.
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
3
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
Atas dasar alasan tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
tentang “Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Industri
Pertambangan dan Pertanian Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ”.
2. LANDASAN TEORI
2.1 Kerangka Teori
Dalam investasi saham para investor harus menganalisis faktor - faktor yang
mempengaruhi perubahan harga saham untuk memprediksi harga saham di masa yang
akan datang agar memperoleh keuntungan. Analisis fundamental merupakan salah satu
cara menilai saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait
kondisi ekonomi dan kondisi industri perusahaan termasuk berbagai indikator keuangan
dan manajemen perusahaan (Tjiptono dan Handy, 2006). Dalam penilaian saham,
terdapat beberapa model teoritis yang dapat digunakan terkait dengan analisis
fundamental. Namun secara sederhana variabilitas harga saham tergantung pada earning
dan deviden suatu perusahaan (Fuller dan Farrell, 1987).
Beberapa variabel independen yang menjadi faktor fundamental dalam penelitian
ini adalah EPS, PER, BVS, ROA, ROE, ROI, PBV, DER, dan Beta. Menurut
Mainingrum (2005) Earning Per Share berpengaruh positif terhadap saham karena EPS
yang tinggi mengindikasikan kinerja perusahaan yang baik, Price Earning Ratio
digunakan oleh para investor untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dimasa yang akan datang, Book Value Per Share menunjukkan aktiva
bersih yang dimiliki pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham (Jogiyanto,
2003), Return On Total Assets dan Return On Total Equity merupakan rasio keuangan
yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja keuangan, khususnya menyangkut
profitabilitas (Tjiptono dan Handy, 2006), Return On Total Investment, berguna untuk
mengukur keuntungan investasi dan sebagai evaluasi akhir untuk menentukan keputusan
investasi dalam perusahaan (Gill dan Charton, 2003), Price To Book Value
menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham perusahaan, Debt To
Equitty Ratio, merupakan ratio yang mengukur sejauh mana besarnya hutang dapat
ditutupi dengan modal sendiri, sedangkan Beta merupakan resiko yang tidak dapat
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
4
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena fluktuasi resiko ini dipengaruhi
faktor - faktor makro yang dapat mempengaruhi pasar secara keseluruhan, seperti
perubahan tingkat bunga, kurs valuta asing, kebijakan pemerintah.
Rumus EPS
Rumus : Laba Bersih/ Jumlah lembaran Saham Umum
Rumus PER
Rumus : Harga pasar saham per lembar saham/ Earnings Per Share
Rumus BVS
Rumus : Total Ekuitas/ Jumlah Saham
Rumus ROA
Rumus : (Laba Bersih Sebelum Pajak / Total Assets) x 100%
Rumus ROE
Rumus : ( Laba Bersih Sebelum Pajak / Total Ekuitas ) x 100%
Rumus ROI
Rumus : ( Laba Usaha Setelah Pajak / Total Rata rata Aktiva ) x 100%
Rumus PBV
Rumus : Harga Saham/ BVS
Rumus DER
Rumus : Total Hutang/ Total Ekuitas
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
5
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
Rumus Beta
Rumus Beta : (∑data ∑ Return Pasar * Return Saham i – ∑ Return Pasar ∑ Return Saham i)
(∑data ∑ Return Pasar ² – (∑Return Pasar)²)
2.2 Hipotesis
•
Ha1 : Faktor fundamental (EPS, PER, BVS, ROA, ROE, ROI, PBV, DER, resiko
sistematik BETA (β) ) mempengaruhi harga saham secara simultan.
•
Ha2 : Faktor fundamental (EPS, PER, BVS, ROA, ROE, ROI, PBV, DER, resiko
sistematik BETA (β) ) mempengaruhi harga saham secara parsial.
3. METODE PENELITIAN
3.1
Metode Pengumpulan Data dan Sampel Penelitian
Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode
purposive sampling. Sampel yang diambil adalah seluruh perusahaan industri
pertambangan dan pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang memiliki
laporan keuangan lengkap selama lima tahun terakhir dari tahun 2004 sampai 2008.
Berdasarkan kriteria di atas maka, ada 10 sampel yang dapat mewakili populasi dari
industri pertambangan dan 8 sampel yang dapat mewakili populasi dari industri
pertanian.
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
6
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
Tabel 3.1A
Perusahaan Industri Pertambangan yang terdaftar di BEI
Singkatan
Nama Perusahaan
Terdaftar Di
Kategori
BEI
ATPK
ATPK Resources Tbk
17 Apr 2002
Batu bara
BUMI
BUMI Resources Tbk
30 Jul 1990
Batu bara
PTBA
Tambang Batu Bara Bukit Asam
23 Des 2002
Batu bara
APEX
Apexindo Pratama Duta Tbk
10 Jul 2002
Minyak & Gas Bumi
MEDC
MEDCO Energi Internasional Tbk
12 Okt 1994
Minyak & Gas Bumi
CITA
CITA Mineral Investindo Tbk
20 Mar 2002
Logam & Mineral Lainnya
INCO
Internasional Nickel Ind. Tbk
16 Mei 1990
Logam & Mineral Lainnya
TINS
Timah Tbk
19 Okt 1995
Logam & Mineral Lainnya
CNKO
Central Korporindo Intl Tbk
21 Nov 2001
Batu batuan
CTTH
Citatah Industri Marmer Tbk
30 Jul 1996
Batu batuan
Tabel 3.1B
Perusahaan Industri Pertanian yang terdaftar di BEI
Singkatan
Nama Perusahaan
Terdaftar Di
Kategori
BEI
AALI
Astra Agro Lestari Tbk
09 Des 1997
Perkebunan
LSIP
PP London Sumatera Tbk
05 Jul 1996
Perkebunan
TBLA
Tunas Baru Lampung Tbk
14 Feb 2000
Perkebunan
UNSP
Bakrie Sumatera Plantation Tbk
06 Mar 1990
Perkebunan
CPDW
Cipendawa AgroIndustri Tbk
18 Jun 1990
Perternakan
MBAI
Multibreeder Adirama Ind Tbk
28 Feb 1994
Perternakan
DSFI
Dharma Samudera Fishing Intl Tbk
24 Mar 2000
Perikanan
BTEK
BUMI Teknokultural Unggul Tbk
14 May 2003
Lainnya
Sumber : http://hn-technical.blogspot.com
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
7
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
3.2
Metode Analisis Data
Analisis Regresi
Untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio
(PER), Book Value Per Share (BVS), Return on Asset (ROA), Return On Total Equity
(ROE), Return On Investment (ROI), Price To Book Value (PBV), Debt To Equitty
Ratio(DER), dan resiko sistematis (BETA) terhadap harga saham pada perusahaan
industri pertambangan dan pertanian digunakan analisis regresi berganda.
Adapun model yang akan di uji dalam penelitian ini adalah :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8 + b9X9 + e
Penjelasan :
Y = Harga Saham
X6 = ROI
a = Konstanta
X7 = PBV
X1= EPS
X8 = DER
X2= PER
X9 = Resiko Sistematis
X3 = BVS
e
X4 = ROA
b1 – b9
= Tingkat Kesalahan
= Koefisien Korelasi
X5 = ROE
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
8
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
4. PEMBAHASAN
Tabel 4.1
Tabel Hasil Pembahasan
Industri Pertambangan
Industri Pertanian
EPS
Nilai tertinggi diperoleh pada tahun 2006 Nilai tertinggi diperoleh pada tahun 2008
sebesar Rp.561.99 dan nilai terendah pada sebesar Rp. 458.15, sedangkan terendah
tahun 2004 sebesar Rp. 323.85
pada tahun 2004 sebesar Rp. 133.29.
PER
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2005 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2007
sebesar Rp. 337.6, sedangkan terendah sebesar Rp.33.29 sedangkan terendah
pada tahun 2004 sebesar Rp.-62.11
pada tahun 2008 sebesar Rp.-5.13
BVS
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2006 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2008
sebesar Rp.2240,01, sedangkan terendah sebesar Rp. 1365.77, sedangkan terendah
pada tahun 2004 sebesar Rp1264,82.
pada tahun 2004 sebesar Rp.502.42
ROA
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2007 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2004
sebesar 20.33% , sedangkan terendah pada sebesar 22.59%, sedangkan terendah
tahun 2004 sebesar 5.59%.
pada tahun 2006 sebesar 4.63%.
ROE
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2006 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2005
sebesar 99.09% sedangkan terendah terjadi sebesar 74.92% sedangkan yang terendah
pada tahun 2005 sebesar 4.33%.
terjadi pada tahun 2005 sebesar 13.19%.
ROI
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2007 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2004
sebesar 11.88% sedangkan terendah terjadi sebesar 15.86% sedangkan yang terendah
pada tahun 2006 sebesar 2.69%.
terjadi pada tahun 2006 sebesar 2.59%.
PBV
Nilai tertinggi diperoleh pada tahun 2004 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2006
sebesar 4.38 sedangkan terendah terjadi sebesar 3.75 sedangkan yang terendah
pada tahun 2006 sebesar 1.69
terjadi pada tahun 2004 sebesar 0.96.
DER
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2005 Nilai tertinggi diperoleh tahun 2005
sebesar 3.66 sedangkan terendah terjadi sebesar 58.25 sedangkan yang terendah
pada tahun 2006 sebesar -3.06
terjadi pada tahun 2004 sebesar 0.96.
H.Shm
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2006
sebesar Rp.9440.1 sedangkan terendah
terjadi pada tahun 2004 sebesar
Rp.2289.25
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2006
sebesar 7.23 sedangkan yang terendah
terjadi pada tahun 2005 sebesar -4.24
Beta
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2005
sebesar 58.25 sedangkan yang terendah
terjadi pada tahun 2004 sebesar 0.96.
Nilai tertinggi diperoleh tahun 2004
sebesar 8.52 sedangkan yang terendah
terjadi pada tahun 2005 sebesar -13.69
Sumber : Data Laporan Keuangan Tahunan yang telah diolah
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
9
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Kinerja manajemen kedua industri baik pertambangan maupun pertanian menunjukkan
pertumbuhan dari tahun ke tahun yang ditandai dengan meningkatnya jumlah laba bersih,
jumlah ekuitas, jumlah asset dan jumlah harga saham rata - rata bila dibandingkan dengan
jumlah saham umum yang beredar, jumlah hutang, dan jumlah pajak per tahun.
2. Pada tahun 2004 hingga tahun 2008 terdapat beberapa saham yang selalu memiliki beta
lebih dari 1 yaitu saham PTBA, APEX, LSIP, UNSP, BTEK.dan BUMI.
3. Pada industri pertambangan dan pertanian diperoleh Angka R Square adalah 1.00. Hal ini
berarti 100% dari variasi harga saham bisa dijelaskan oleh variabel independen.
4. Pada industri pertambangan uji Anova atau F.test menunjukkan Fhitung dengan tingkat
signifikansi 0.00, maka model regresi bisa dipakai untuk memprediksi harga saham. Atau
bisa dikatakan semua variabel independen secara bersama sama berpengaruh terhadap
harga saham. Pada industri pertanian hanya variabel EPS, PER, BVS, ROI, PBV, DER,
serta Beta yang secara bersama sama berpengaruh terhadap harga saham.
5. Pada industri pertambangan, Uji t menunjukkan angka SIG berada jauh di bawah 0.025.
Dapat dikatakan bahwa semua variabel independen secara individu berpengaruh terhadap
harga saham. Sedangkan pada industri pertanian,hanya variabel EPS, PER, BVS, ROI,
PBV, DER, serta Beta yang secara individu berpengaruh terhadap harga saham.
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
10
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
5.2 Saran
Saran yang dapat dikemukakan melalui penelitian ini adalah :
1. Investor yang ingin investasi di sektor pertambangan dan pertanian, hendaknya
mempertimbangkan faktor fundamental dan psikologi pasar saham secara umum.
2. Perusahaan harus mewaspadai jumlah hutang/ Leverage yang dimiliki karena bila terlalu
banyak maka hal tersebut akan mendatangkan resiko tidak terbayarnya hutang dan
membuat calon investor ragu untuk menanamkan dananya.
3. Perusahaan diharapkan mampu meningkatkan laba untuk tiap lembar sahamnya karena
investor menganggap bahwa perusahaan tersebut dapat memberikan keuntungan yang
besar, hal ini akan berdampak pada kenaikan harga saham.
4. Perusahaan diharapkan dapat meningkatkan nilai bukunya karena nilai buku tersebut
mewakili aktiva fisik perusahaan, berarti perusahaan yang memiliki aset yang banyak dan
dikelola dengan baik akan cenderung memiliki nilai pasar sama bahkan lebih besar dari
nilai bukunya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadji, Tjiptono dan Hendy M.F. 2006. Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba
Halim, Abdul. Drs. MM. AK. 2005. Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Hendricksen, Eldon dan Michael F. Van Breda. 2004. Accounting Theory.
USA: Mc Grow. Hill
Kurniawati, Restu. 2005. Pengaruh Publikasi Laporan Keuangan Terhadap Pelaporan
Perusahaan Sekuritas di BEJ. Jakarta: Universitas Gunadarma
Margaretha, Dra. Farah, M. E. 2004. Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan:
Investasi dan Sumber Dana Jangka Panjang.
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
11
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia
Martin, John D. Et. Al. 1999. Dasar – dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo
Med Press Teamwork. 1998. Kiat Investasi dan Penyelamatan Assets. Jakarta: Gramedia
Njo Anastasia, 2001. Analisis Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap
Harga Saham Properti di BEJ. Universitas Kristen Petra.
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
Prastito, Arif . 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan
Percobaan Dengan SPSS 12. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Priyatno, Dwi . 2008. Mandiri Belajar SPSS. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Redaksi Sinar Grafika. 2003. Himpunan Peraturan Pasar Modal.
Jakarta: Sinar Grafika
Saptahadi, Anung. 2007. Pengaruh Return On Investment, Price Earning Ratio, dan
Earning Per Share Terhadap Harga Saham Yang Terdaftar di BEJ.
Semarang : Universitas Negeri Semarang
Sharpe, F William dan Gordon J. Alexander. 2005. Investasi. Jakarta: Index
Sutyanto, Merziu Ribkah. 2005. Analisa Hubungan antara Financial Leverage dengan
Harga Saham PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Jakarta: Universitas Gunadarma
Tim Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
12
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Oktober 2009
William F. Sharpe, Gordon J, Jeffery V. Bailey. 1997. Investasi. Jakarta: PT.
Prenhallindo
http://www.yahoofinance.com
http://www.idx.com
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Gunadarma
13
Download