BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kepercayaan (Trust)

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan merupakan kesediaan seseorang untuk bertumpu dan
memiliki perasaan yakin yang kemudian diberikan orang lain dalam suatu situasi
tertentu. Bagaimana kepercayaan ini didasari oleh ketidak paksaan atas perasaan
menerima apa adanya. Kepercayaan juga
merupakan kondisi mental yang
didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Secara umum,
kepercayaan menjadi dasar dari hubungan jangka panjang antara karyawan
terhadap organisasi perusahaan. Kepercayaan menjadi kompleksitas hubungan
antar relasi manusia. Kepercayaan (trust) adalah suatu keadaan psikologis berupa
keinginan untuk menerima kerentanan berdasarkan pengharapan yang positif
terhadap keinginan ataupun tujuan dari perilaku orang lain (Rousseau, 2007).
Konsep ini mewakili komponen hubungan kualitas yang berpusat pada
masa depan Trust menurut Johnson & Johnson, (1997) merupakan aspek dalam
suatu hubungan dan secara terus menerus berubah. Johnson,(2006) trust
merupakan
dasar
dalam
membangun
dan
mempertahankan
hubungan
intrapersonal. dengan hubungan interpersonal yang baik tentunya akan menjadi
peluang yang besar dalam menjalin kelekatan dan dukungan sosial antara
karyawan kepada organisasi perusahaan. Kepercayaan terjadi ketika seseorang
yakin dengan reliabilitas dan integritas dari orang yang dipercaya (Morgan &
Hunt, 1994). Keyakinan terhadap pihak yang memiliki reliabilitas dan integritas
http://digilib.mercubuana.ac.id/
akan memberikan nilai kepercayaan terhadap pihak tersebut sehingga seseorang
dapat memberikan kayakinan terhadap suatu.
Henslin,(dalam King, 2002) memandang trust sebagai harapan dan
kepercayaan individu terhadap reliabilitas orang lain. Pondasi trust meliputi saling
menghargai satu dengan lainnya dan menerima adanya perbedaan (Carter, 2001).
Individu yang memiliki trust tinggi cenderung lebih disukai, lebih bahagia,
dianggap sebagai orang yang paling dekat dibandingkan individu yang memiliki
trust rendah (Marriages, 2001).
Hanks,(2002) menyatakan bahwa trust
merupakan elemen dasar bagi terciptanya suatu hubungan yang baik.
Trust yang dibentuk dalam lingkungan perusahaan dimulai dari
kepercayaan yang ditanamkan oleh para karyawan. Sebagai harapan dan
keyakinan terhadap reliabilitas organisasi kepada karyawan. Kepercayaan yang
dibentuk meliputi perasaan saling menghargai satu dengan lainnya, menerina
adanya perbedaan – perbedaan yang terjadi sesama karyawan ataupun dengan
organisasi sekalipun. Menerima adanya perbedaan serta menghargai satu sama
lain membutuhkan menerimaan dan dukungan antar pribadi.
Keuntungan dan kerugian tersebut adalah tergantung pada orang yang
dipercaya dan ada kemungkinan bahwa kerugian yang diperoleh lebih besar dari
pada keuntungan, dan sebaliknya ada juga kemungkinan bahwa keuntungan yang
diperoleh lebih besar dari pada kerugian Deutsch (dalam Johnson & Johson,
2000). (Johnson dan Johnson, 2000) berpendapat bahwa kepercayaan (trust)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
adalah adanya keyakinan bahwa anggota lain akan memberikan keuntungan dan
terbentuk melalui sikap terbuka, menerima, mendukung, berbagi, dan kerja sama
di antara anggota kelompok.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas ditarik
kesimpulan bahwa definisi trust adalah suatu elemen dasar bagi terciptanya suatu
hubungan baik antara kedua belah pihak yang berisi tentang harapan dan
kepercayaan individu terhadap reliabilitas seseorang.
2.1.1 Aspek Kepercayaan (Trust)
Johnson dan Johnson,( 2000) mengemukakan bahwa kepercayaan (trust)
terdiri dari 5 (lima) aspek, yaitu:
1) Keterbukaan (Openness) Keterbukaan meliputi kesediaan individu untuk
berbagi informasi, ide, pemikiran, perasaan, pendapat, dan reaksi terhadap hal
yang sedang dialami.
2) Berbagi (Sharing) Berbagi berarti kesediaan individu untuk membagikan
kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya kepada orang lain untuk
membantu pencapaian tujuan bersama.
3) Penerimaan (Acceptance) Penerimaan berarti melakukan komunikasi dengan
orang lain dan menghargai pendapat orang lain tersebut tentang suatu hal yang
sedang dibicarakan.
4) Dukungan (Support) Dukungan meliputi komunikasi yang dilakukan individu
dengan orang lain sehingga orang lain mengenal kelebihannya dan percaya
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bahwa orang lain tersebut mampu mengatur secara produktif situasi di mana
mereka berada.
5) Bekerjasama (Cooperative Intentions) Bekerja sama meliputi harapan individu
untuk bisa bersikap kooperatif dan bahwa orang lain juga akan bersikap
kooperatif untuk mencapai tujuan bersama.
2.1.2 Dinamika Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan yang dibentuk dari hubungan interpersonal seseorang
melalui saling menghargai, menerima perbedaan dan memberi kesempatan untuk
orang lain. Dari hubungan interpersonal bukan hanya berisi sekumpulan kebiasaan
yang seharusnya terjalin pada sesama karyawan dan juga kepada organisasi
perusahaan. Di dalamnya terdapat suatu struktur, perilaku yang stabil, memberi
dan menerima, tuntutan dan komitmen Solomon,(2001). Dan dasar untuk
membangun suatu hubungan interpersonal yang baik diperlukan rasa saling
percaya (trust) antara satu dengan lainnya. Semua itu dapat dilakukan dengan
keadaan yang stabil dan berlaku dalam pembentukan kepercayaan bersama.
Adapun beberapa tahapan dalam dinamika trust, yaitu:
1) Membangun trust
Menurut Falcone & Castelfranci, (2004), trust merupakan suatu fenomena
yang dinamis yang terjadi secara intrinsik pada suatu keadaan yang alamiah,
dimana trust merupakan hal yang menyangkut masalah mental yang didasarkan
oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya, misalnya ketika seseorang untuk
mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
dari orang-orang yang lebih dapat ia percayai dari pada yang kurang ia percayai.
Begitu juga dengan lingkup perusahaan, Karyawan akan memahami apa saja
kebijakan perusahaan, tanpa adanya perasaan dicurangi atau dimanfaatkan
kelemahannya jika karyawan telah percaya kepada organisasi. Ketika karyawan
telah memberikan kepercayaan terhadap perusaaan maka karyawan akan
menerima berbagai resiko yang mungkin muncul atas keputusan ataupun
kebijakan dari organisasi perusahaan. Pengalaman tidak mengecewakan mungkin
menjadi peranan yang juga mempengaruhi kepercayaan antar karyawan kepada
organisasi.
Hal tersebut juga diperkuat oleh Hoogendoorn, Jaffry & Treur, (2009)
yang mengatakan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman tetapi juga
melibatkan hubungan dengan proses mental dimana terdapat adanya aspek
kognitif dan afektif di dalamnya. Seseorang akan melibatkan proses berfikir dan
penerimaan dan pengolahan perasaan atas apa yang diberikan oleh pemimpin, Hal
ini menjelaskan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman sebagai
informasi yang diperoleh dari waktu ke waktu, tetapi juga melibatkan respon
emosi dan perasaan yang berhubungan dengan pengalaman tersebut .
Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of
responsibility, percaya bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat
dipercaya. Untuk dapat trust, seseorang akan berharap bahwa orang yang ingin ia
percaya akan mengerti harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi
keterbatasannya, karena itu hal yang paling esensial dari trust adalah keterbukaan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Keterbukaan karyawan diharapkan dapat memberikan stimulus kepada organisasi
untuk memahami keterbatasan ataupun kendala – kendala yang menghambat
kinerja dari karyawan.
Hal
tersebut
juga
diperkuat
oleh
Gambetta,(dalam
Falcone
&
Castelfranci,2004) yang mengatakan bahwa trust merupakan suatu kemungkinan
yang subjektif dari seorang individu, yang mengharapkan individu lain untuk
menunjukkan suatu tindakan tertentu, segala kemungkinan yang terjadi tergantung
pada bagaimana perilaku yang ditunjukkan orang yang kita percayai tersebut
kepada kita, bagaimana mereka dapat memenuhi perilaku yang kita harapkan.
Karyawan akan menaruh kepercayaan bila dari pihak organisasi perusahaan
menunjukan perilaku yang diharapkan oleh karyawannya. Untuk itu karyawan
harus memahami bagaimana cara yang tepat untuk membangun kepercayan.
Membangun trust diawali dengan menghargai dan menerima kepercayaan (trust)
tersebut, melibatkan rutinitas sehari-hari dan latihan yang terus menerus. Dengan
keadaan yang stabil akan memberikan kualitas kepercayaan yang didapat. Tanpa
adanya perilaku nyata, pemahaman dan penerimaan kita akan trust pun tidak
berarti apapun.
Membangun trust berarti memikirkan suatu kepercayaan (trust) dalam cara
yang positif, membangun langkah demi langkah, komitmen demi komitmen. Jika
trust dianggap sebagai sebuah bentuk resiko dan penuh ancaman, maka tidak ada
hal positif yang bisa kita dapatkan. Memang trust selalu berdampingan dengan
ketidakpastian, tapi kita harus berusaha membuat diri kita sendiri untuk berpikir
bahwa ketidakpastian tersebut sebagai sebuah kemungkinan dan kesempatan,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bukan sebagai halangan (Solomon, dkk, 2001). Johnson & Johnson, (2000)
menyatakan bahwa menerima dan mendukung kontribusi orang lain tidak berarti
kita harus setuju dengan segala sesuatu yang mereka katakan. Kita bisa
mengungkapkan rasa menerima dan mendukung atas keterbukaan dan sharing dari
anggota lain dan saat yang sama mengungkapkan ide dan pandangan yang
berbeda.
Kunci untuk membangun dan mempertahankan trust adalah menjadi
trustworthy. Semakin acceptance dan supportive seseorang terhadap orang lain,
maka orang lain akan semakin dapat mengemukakan pemikiranpemikirannya, ideide, teori-teori, kesimpulan-kesimpulan, perasaan dan reaksinya. Jika seseorang
dalam merespon keterbukaan orang lain bersifat trustworthy, maka semakin dalam
dan personal pemikiran yang akan dibagikan orang lain. Jika seseorang ingin
meningkatkan trust, maka perlu ditingkatkan trustworthiness
Individu mengembangkan harapannya mengenai tingkat bagaimana
seseorang dapat kepercayaan (trust) kepada orang lain, bergantung pada faktorfaktor dibawah ini Lewicki, (dalam Deutsch dan Coleman, 2006):
a. Predisposisi Kepribadian (Personality Presdiposition)
Penelitian menunjukkan bahwa individu berbeda di dalam predisposisi
mereka untuk percaya kepada orang lain. Semakin tinggi tingkat individu
dalam predisposisi untuk percaya, semakin besar harapan untuk dipercaya
oleh orang lain.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
b. Reputasi dan Stereotip (Reputation and Stereotype)
Meskipun individu tidak memiliki pengalaman langsung dengan orang
lain, harapan individu dapat terbentuk melalui apa yang dipelajari dari teman
ataupun dari apa yang telah didengar. Reputasi orang lain biasanya
membentuk harapan yang kuat yang membawa individu untuk melihat elemen
untuk trust dan distrust serta membawa pada pendekatan pada hubungan untuk
saling percaya.
c. Pengalaman Aktual (Actual Experience)
Pada kebanyakan orang, individu membangun faset dari pengalaman
untuk berbicara, bekerja, berkoordinasi, dan berkomunikasi. Beberapa dari
faset tersebut sangat kuat di dalam kepercayaan (trust), dan sebagian mungkin
kuat pada distrust. Sepanjang berjalannya waktu, baik elemen trust maupun
distrust memulai untuk mendominasi pengalaman, untuk menstabilkan dan
secara mudah mendefinisikan sebuah hubungan. Ketika polanya sudah stabil,
individu cenderung untuk menggeneralisasikan sebuah hubungan dan
menggambarkannya dengan tinggi atau rendahnya trust atau distrust.
d. Orientasi Psikologis (Psychological Orientation)
Deutsch, (dalam Deutsch dan Coleman, 2006) menyatakan bahwa individu
membangun dan mempertahankan hubungan sosial berdasarkan orientasi
psikologisnya. Orientasi ini dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk dan
sebaliknya. Dalam artian, agar orientasinya tetap konsisten, maka individu
akan mencari hubungan yang sesuai dengan jiwa mereka.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2) Terbentuknya Trust
Trust terjadi dikarenakan adanya keyakinan bahwa pasangan akan
memberikan keuntungan, dan terbentuk melalui sikap menerima, mendukung,
sharing, dan kerjasama pada diri seseorang (Johnson & Johnson, 1997). Artinya
bahwa trust merupakan suatu situasi kita menerima pengaruh dari orang lain, dan
kita percaya bahwa orang lain akan memberikan keuntungan bagi kita. Interaksi
dan transaksi yang terjalin dalam perusahaan lebih kepada keyakinan masing –
masing pihak untuk sama – sama saling menguntungkan dari bidang – bidang
yang dijalani. Dalam perusahaan karyawan akan menaruh kepercayaan bila
pengalaman yang didapat telah didapat karyawan. Pengalaman tersebut antara
lain, organisasi memberikan fasilitas dan juga dukungan emosional yang
memotivasi dan memberikan kepuasan kepada karyawanya.
Hubungan dapat berjalan dengan baik dan efektif apabila individu dapat
membangun perasaan saling percaya (mutual trust). Trust terbentuk melalui
rangkaian perilaku antara orang yang memberikan kepercayaan dan orang yang
dipercayakan tersebut. Perilku – perilaku yang diharapkan karyawan dari
organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kadar kepercayaan ataupun keyakinan
karyawan. Interpersonal trust dibangun melalui adanya resiko dan penerimaan
dan dapat hancur karena adanya resiko dan tidak adanya sikap penerimaan. Tanpa
resiko maka trust tidak akan terbentuk, dan hubungan tidak dapat maju dan
berjalan (Johnson & Johnson, 1997).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Ketika karyawan harus memberikan keputusan maka karyawan akan
bertumpu dan menyerahkan keputusan itu atas pertimbangan yang terbaik untuk
karyawan atau organisasi perusahaan, berbagai pemikiran penerimaan resiko
menjadi sesuatu yang telah diterima dan tidak menjadi suatu beban paksaan.
Ketika seseorang mengambil resiko dengan terbuka (disclosing) dalam
membicarakan pemikiran-pemikirannya, informasi, kesimpulan, perasaan dan
reaksi pada suatu situasi dan pasangan akan memberikan respon yang positif
berupa penerimaan, support, kooperatif dan membalas kita dengan menjadi
terbuka (disclosing) dalam membicarakan pemikiran, ide, dan perasaan mereka,
disitulah trust dapat terbentuk dan berkembang (Johnson & Johnson, 1997).
Berbagai pertimbangan kognitif dan juga pengolahan emosi daripada karyawan
akan memberikan respon yang baik terhadap kebijakan organisasi perusahaan.
Dengan kepercayaan yag telah diberikan kepada karyawan tentunya akan menjalin
suatu kelekatan dimana karyawan merasa nyaman sehingga karyawan akan lebih
terbuka atas ide, pemikiran ataupun aspirasi lainnya, hal itu akan menjadi bahan
evaluasi organisasi untuk lebih mengoptimalkan produktivitas perusahaan.
3) Fase Distrust
Menjalin suatu Trust bukan suatu yang mudah, Trust dapat berubah dari
waktu ke waktu, karena orang yang terlibat di dalam trust tersebut juga pasti akan
mengalami perubahan (Falcone & Castelfranci, 2004). Hal tersebut didukung oleh
pendapat Johnson & Johnson, (1997) yang menyatakan bahwa Trust bukan suatu
jaminan untuk tidak dapat berubah karena keadaan bisa menghilangkan
kemampuan seseorang untuk trust. Karyawan yang telah mengambil sikap atas
http://digilib.mercubuana.ac.id/
kebijakan – kebijakan yang diberikan organisasi perusahaan tidak selamanya akan
menetap pada perilaku tertentu. Di dalam interaksi nyata, karyawan tidak akan
pernah mendapatkan situasi interaksi yang benar-benar sama dalam suatu waktu,
dengan begitu suatu keadaan tertentu bisa saja mempengaruhi trust seseorang
pada orang yang ia percayai. Trust berubah bukan hanya karena adanya suatu
pengalaman tertentu, belum tentu suatu pengalaman yang menyenangkan akan
meningkatkan trust dan sebaliknya. tetapi juga dengan adanya modifikasi dari
berbagai sumber trust tersebut, misalnya pengalaman langsung di masa lalu,
reputasi trustee (bagaimana pengalaman dan opini orang lain mempengaruhi
kepercayaan trustier kepada trustee), perubahan sikap dan perilaku dari seseorang
yang dipercayai, keadaan emosional trustier, dan dengan adanya modifikasi dari
lingkungan yang menuntut seseorang untuk berperilaku tertentu (Falcone &
Castelfranci, 2004).
Kesalahan ataupun perilaku yang tidak menyengkan yang ditampilkan
oleh organisasi memberikan pengaruh yang cukup dominan untuk merubah
kepercayaan karyawan. Hal – hal lainnya tergantung pada situasi yang dialami
oleh karyawan atau organisasi perusahaan sekalipun. Dalam teori lain dapat
dijelaskan bahwa Trust berubah juga karena adanya suatu faktor sebab akibat
(causal attribution), kepercayaan seseorang pada orang lain akan bergantung pada
bagaimana orang lain tersebut berperilaku dan sebaliknya. Karyawan akan
berprilaku tertentu, atas dasar bagaimana organisasi perusahaan memperlakukan
karyawan, baik itu menyenangkan ataupun perilaku yang tidak menyenangakan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Solomon,(2001) menjelaskan bahwa, ada kalanya seseorang berada di
dalam periode distrust yang ekstrim. Hal tersebut terjadi karena adanya
pengkhianatan yang dilakukan oleh organisasi perusahaan ataupun para karyawan
– karyawan yang melakukan pelanggaran yang tentunya merugikan salah satu
pihak dan pelanggaran terhadap trust dan komitmen tersebut. Trust memang
meliputi resiko dan konsekuensi dari resiko seringkali membuat kita kecewa dan
merasa gagal. Walaupun trust merupakan sesuatu yang bersifat bebas, trust juga
melibatkan resiko. Ada beberapa katagori dari kekecewaan tersebut, yang pertama
adalah kekecewaan karena sesuatu tidak berjalan sebagai mana mestinya. Ada
kemungkinan besar bahwa sesuatu tdk berjalan sebagai mana mestinya. Ini bukan
berarti kesalahan seseorang. Disini trust merupakan dirinya sendiri dan trust di
dalam perilaku nyata dan proses yang terhubung, menjadi sesuatu yang krusial.
Dan hal yang paling esensial dari bagian ini adalah ketika orang tersebut tetap
melanjutkan untuk percaya dengan orang lain dan dapat berpikir bahwa ini
merupakan sebuah kebijaksanaan dan penerimaan kita setiap hari. Katagori
kekecewaan yang kedua adalah karena adanya kesalahan. Terkadang hal ini
disebabkan oleh sesuatu yang tidak berjalan sebagai mana mestinya dan karena
kesalahan dari seseorang.
Setelah berada di dalam periode distrust, beberapa orang ada yang tidak
dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula
mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada pasangannya.
Reestablishing
trust
adalah
membangun
kembali
http://digilib.mercubuana.ac.id/
struktur-struktir
baru,
memulihkan dan kembali melakukan rutinitas sehari-hari dan membangun
kembali hubungannya tersebut
2.1.3 Kepercayaan dalam Organisasi
Deutsch,(2006) mendefinisikan kepercayaan sebagai keyakinan suatu
pihak akan menemukan apa yang diinginkan dari pihak lain bukan apa yang
ditakutkan dari pihak lain. Mayer, Davis dan Schoorman,(1995) setuju bahwa
kepercayaan adalah kemauan dari salah satu pihak untuk menjadi tidak berdaya
(vulnerable) atas tkan pihak lainnya. Sementara Barney dan Hansen, (1994)
berpendapat bahwa kepercayaan merupakan keyakinan mutual dari kedua pihak
bahwa diantara keduanya tidak akan memanfaatkan kelemahan pihak lain.
Costabile,(1998) kepercayaan atau trust didefinisikan sebagai persepsi akan
keterhandalan dari sudut pandang karyawan didasarkan pada pengalaman, atau
lebih pada urut-urutan transaksi atau interaksi yang dicirikan oleh terpenuhinya
harapan akan kinerja dan kepuasan.
Definisi diatas memberikan beberapa elemen penting yaitu kesedian dari
salah satu pihak untuk menjadi tidak berdaya, keyakinan bersama bahwa diantara
mereka tidak akan saling memanfaatkan kelemahan mitranya, serta adanya
harapan bahwa pihak lain dapat memberikan kepuasan atas kebutuhannya. Dapat
dikatakan menurut berbagai definisi tersebut bahwa dalam situasi kepercayaan
terdapat unsur resiko yang biasanya dikaitkan dengan hasil keputusan yang
diambil. Sumber resiko tersebut adalah pada keinginan dan kesediaan pihak yang
terlibat untuk bertindak tepat.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Kepercayaan merupakan sari dari kompleksitas hubungan antar manusia.
Konsep ini mewakili komponen hubungan kualitas yang berpusat pada masa
depan. Kepercayaan dapat dikatakan eksis ketika ada kerelaan konsumen untuk
bersandar sepenuhnya pada perilaku perusahaan dimasa depan (Bruhn, 2003).
Dalam upaya pembentukan kepercayaan ini dibutuhkan salah satu pihak yang
lemah atau tidak berdaya (vulnerable) dimana terdapat ketidakpastian sebagai
hasil dari keputusan yang diambil. Unsur ketidakpastian ini banyak terjadi dalam
bidang jasa karena keunikan jasa seperti telah disebutkan diatas. Kepercayaan
merupakan konsep yang memfokuskan diri pada masa depan, yang memberikan
suatu jaminan bahwa patner termotivasi untuk tidak beralih dalam konteks
pertukaran dengan pihak lain (Gurviez dan Korchia, 2003 )
Kepercayaan merupakan variabel kunci dalam jaringan pertukaran antara
perusahaan dengan mitra-mitranya (Morgant & Hunt,1994). Secara psikologi
kepercayaan merupakan suatu keyakinan dan kemauan atau dapat juga disebut
sebagai kecenderungan perilaku Moorman, Zaltman & Deshpande, (dalam
Ballester dkk 2003) kecenderungan perilaku ini lah yang memberikan stimulus
melalui stategi yang ditampilkan oleh pemimpin ataupun pihak organisasi
perusahaan, hal ini menunjukan bahwa respon yang ditampilkan oleh karyawan
sangat dipengaruhi perilaku pemimpin yang juga ditampilkan kepada karyawan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.1.4 Peran karyawan dalam Pembentukan Kepercayaan
Ada banyak sekali hal – hal yang mempengaruhi dari pada produktivitas
perusahaan. Karyawan merupakan aset yang penting bagi organisasi perusahaan
oleh karena kemampuan elemen ini untuk menciptakan perbedaan yang dapat
menciptakan kepuasan dan loyalitas. Organisasi akan merasa terbantu atas
kesulitan dari hal lain yang mempengaruhi produktivitas dari sebuah perusahaan.
Karna karyawanlah yang memegang peran aktif atas kinerja yang ditampilkan dan
ditrampilkan. Kinerja karyawan sangat menentukan bagaimana proses pertukaran
atau penambahan nilai tersebut berlangsung.
Ketanggapan, empati, jaminan dan kehandalan karyawan selama proses
transfer menjadi stimulus bagi pembentukan persepsi karyawan akan kebijakan
organisasi perusahaan. Emosi dan perasaan karyawan sangat dipengaruhi oleh
pertemuan dengan organisasi. Emosi dan perasaan jangka pendek ini akan
berpengaruh pada emosi dan perasaan jangka panjang tertutama berkaitan dengan
customer retention (Lemmink & Mattsson,
2003). Menumbuhkan rasa
kepercayaan dengan orang lain bukan suatu hal yang mudah, namun juga bukan
suatu hal yang mustahil.
Berikut beberapa
proses yang diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan
adalah Doney & Canon,(1997)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
1. Proses yang terkalkulasi
Menurut proses ini pihak tertentu yakin pada perilaku positif pihak lain ketika
manfaat dari perilaku negatif pihak yang sama memiliki konsekuensi biaya
yang lebih rendah.
2. Proses prediktif
Kepercayaan menurut proses ini sangat bergantung pada kemampuan pihak
tertentu untuk mengantisipasi perilaku pihak lainnya.
3. Proses kemampuan
Proses ini berkaitan erat dengan perkiraan kemampuan pihak lain dalam
memenuhi kewajibannya.
4. Proses intensi
Menurut proses ini kepercayaan didasarkan pada tujuan dan intensi pihak
lain.
5. Proses transfer
Kepercayaan menurut proses ini mengacu pada penilaian pihak lain diluar
pihak-pihak yang terlibat dalam proses transfer.
Bagaimana organisasi tanggap akan kesulitan yang dihadapi karyawan
jauh sebelum karyawan mengungkapkan kesulitannya pada organisasi membuat
kepercayaan karyawan akan kehandalan organisasi perusahaan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.1.5 Cara Meningkatkan Kepercayaan (Trust)
Menurut Robbins,(2001) terdapat 8 (delapan) cara untuk meningkatkan
kepercayaan (trust), diantaranya:
1. Bersikap terbuka Bersikap terbuka akan membuat orang lain percaya terhadap
kita. Bersikap terbuka yang dimaksud dalam hal ini adalah bersikap terbuka
terhadap informasi yang dimiliki, memberitahu secara rasional bagaimana
suatu keputusan dibuat dan berterus terang dalam menyatakan masalah yang
sedang dihadapi.
2. Bersikap adil Sebelum membuat suatu keputusan, harus mempertimbangkan
bagaimana orang lain akan menilai objektivitas dan keadilan keputusan kita.
3. Menyatakan perasaan dengan terus terang Menyatakan perasaan yang
sebenarnya tanpa memandang jabatan atau posisi kita dalam suatu organisasi
akan membuat orang lain lebih menghargai kita, karena semua orang adalah
manusia yang memiliki masalah dan perasaan.
4. Memberitahukan hal yang sebenarnya Bersikap jujur berarti kita bisa
dipercaya. Apabila kejujuran merupakan hal yang penting dalam membangun
kepercayaan (trust), maka kita harus menjunjung tinggi kejujuran.
5. Menunjukkan konsistensi Semua orang menginginkan sesuatu yang bisa
diprediksi. Ketidakjujuran terjadi karena kita tidak mampu memprediksi sikap
orang tersebut. Pikirkanlah tentang nilai dan kepercayaan yang dimiliki,
kemudian biarkan nilai dan kepercayaan tersebut menjadi panduan dalam
http://digilib.mercubuana.ac.id/
mengambil tindakan. Apabila telah diperoleh suatu tujuan yang jelas, maka
sikap yang dimiliki juga bisa diprediksi.
6. Menepati janji Salah satu dari aspek kepercayaan (trust) adalah orang tersebut
bisa diharapkan, tapi tepatilah setiap komitmen dan janji yang telah diucapkan.
7. Bersikap percaya diri Setiap orang akan mempercayai orang yang bijaksana
dan bisa dipercaya. Apabila kita memberitahukan suatu rahasia kepada orang
lain, maka orang lain juga akan meragukan kita, dan tidak akan memberitahu
rahasianya kepada kita karena kita dianggap sebagai orang yang tidak bisa
dipercaya.
8. Menunjukkan kompetensi Salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan
(trust) adalah dengan membuat orang lain menghargai dan mengagumi kita.
Sehingga kita harus mengembangkan kompetensi kita dalam hal komunikasi,
negoisasi, dan kemampuan interpersonal lainnya. Johnson & Johnson (2000)
mengemukakan bahwa ciri-ciri individu dengan level kepercayaan (trust)
tinggi adalah cenderung lebih terbuka dalam mengekspresikan pikiran,
perasaan, reaksi, pendapat, informasi, dan ide-ide yang dimilikinya.
Sedangkan ciri-ciri individu dengan level kepercayaan (trust) yang rendah
adalah cenderung melakukan penolakan dan tidak jujur dalam melakukan
komunikasi dengan orang lain
2.2 Kepemimpinan
Kartini Kartono,(2008) Pemimpin adalah pribadi yang memiliki
kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
kelomok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada
pencapaian sasaran – sasaran tertentu.
Menurut Henry Pratt Fairchild,(1960), pemimpin yang luas adalah
seseorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsi tingkah laku sosial dengan
mengatur, menunjukan, mengorganisasikanatau mengontrol usaha (upaya) orang
lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Definisi lain dari kepemimpinn
dikemukakan oleh Boone dan Kurtz,(2000) yang mengemukakan bahwa
kpemimpinan adalah tindakan memotivasi orang lain atau menyebabkan orang
lain melakukan tugas tertentu dengan tujuan untuk mencapai tujuan spesifik.
Kepemimpinan adalah aspek yang paling nyata dari kegiatan management.
Wahjosumidjo,(1987)
meyatakan,
bahwa
kepemimpinan
adalah
kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain agar berfikir dan berperilaku
dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan organisasi dalam situasi tertentu.
Dalam mencapai tujuan atau visi dari suatu organisasi, dibutuhkan usaha untuk
memengaruhi para anggotanya yang mendorong karyawannya Mardjiin Sjam ,
(1966) juga mengungkapkan bahwa Kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan
guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk
mencapai tujuan, atau dengan definisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa
Kepemimpinan adalah proses pemberian bimbingan atau pemimpinn tu tuladan
dan pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan orang – orang
yang terorganisir dalam organiasasi formal guna mencapai tujuan yang telah
ditetepkan. hal ini dapat menjelaskan bahwa untuk menggerakan anggora
ataupun karyawan dibutuhkan bimbingan yang memberikan arahan yang tepat
http://digilib.mercubuana.ac.id/
untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi perusahaan. Oleh karenanya
kepemimpinan yang baik haruslah seseorang yang dapat memberikan pengaruh.
Hingga saat ini kepemimpinan masih menjadi topik yang menarik untuk
selalu dibahas, pasalnya walaupun telah banyak teori ataupun kajian – kajian
yang mengupas tentang pemimpin yang efektif menjadi pemimin bukan
merupaan suatu hal yang mudah. Kepemimpinan merupakan tema yang popular,
tanpa adanya pemimpin para karyawan tidak akan dapat bekerja dengan baik,
karena fungsi pemimpin di sini diperlukan untuk mempengaruhi, memotivasi
karyawan serta ikut serta dalam proses pengambilan keputusan. Kepemimpinan
akan berkaitan dengan segala pengaturan sistematis dalam suatu perusahaan itu
sebabnya manajemen seringkali disamakan dengan kepemimpinan. Abraham
Zaleznik, (dalam Robbins, 2002) misalnya, berpendapat bahwa pemimpin dan
manajemen sangat berbeda.
Mereka berbeda dalam motivasi, sejarah pribadi, dan cara berpikir serta
bertindak. Zaleznik Abraham Zaleznik,(dalam Robbins, 2002) mengatakan
bahwa manajer cenderung mengambil sikap impersonal dan pasif terhadap
tujuan, sedangkan pemimpin mengambil sikap pribadi dan aktif terhadap tujuan.
Sedangkan Kotter (dalam Robbins, 2002) menganggap baik kepemimpinan dan
manajemen sama pentingnya bagi keefektifan organisasional yang optimal.
Munandar,(2001) melihat kepemimpinan sendiri lebih berhubungan dengan
efektivitas
sedangkan
manajemen lebih berhubungan dengan
efisiensi.
Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting bagi manajer. Para manajer
http://digilib.mercubuana.ac.id/
merupakan pemimpin (dalam organisasi mereka), sebaliknya pemimpin tidak
perlu menjadi manajer.
Kepemimpinan merupakan tolak ukur dari keberhasilan dalam menentukan
sikap kerja dan juga produktivitas yang optimal pada karyawan. Tanpa adanya
pemimpin yang baik para karyawan tidak akan bisa bekerja dengan maksimal,
karena fungsi pemimpin selain sebagai pengendali hubungan dalam kelompok.
Dengan begitu pemimpin haruslah bisa mempengaruhi karyawannya untuk
meningkatkan motivasinya dengan kinerja terbaik Kepemimpinan menurut
Kartono dalam bukunya yang berjudul Pemimpin dan Kepemimpinan (2005),
“Kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial
pemimpin dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan pada praktek kehidupan
serta organisasi melingkupi konsep-konsep pemikiran perilaku sehari-hari dan
semua peralatan yang dipakainya.
Teknik kepemimpinan dapat juga dirumuskan sebagai cara bertindaknya
pemimpin dengan bantuan alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis
untuk mewujudkan kepemimpinannya.” Kepemimpinan melibatkan serangkaian
teknik – teknik yang mempermudah pemimpin dalam menetapkan target
tujuannya.
Kepemimpinan
menurut
Robbins,(2001)
menjelaskan
bahwa
kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang
akan dilaksanakan dalam organisasi.” Bagaimanapun keadaanya pemimpin
merupkan sosok yang memiliki keputusan dalam beragam kebijakan dalam
organisasi perusahaan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Menurut Slamet,(2002) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah
kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan.
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada
umumnya untuk memengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka
mencapai tujuan tertentu. Hal tersebut berkaitan dengan proses mempengaruhi
dan penetapan kebijakan dengan beragam upaya untuk sampai pada tujuan.
Selain itu kepemimpinan membutuhkan keterampilan dalam hubungan
interpersonal karena kemampuan meyakinkan orang lain merupakan salah satu
tugas dari seorang pemimpin. Menurut Samsudin,(dalam kartobo 2006)
menerangkan kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan dan menggerakkan
orang lain agar mau bekerja sama di bawah kepemimpinannya sebagai suatu tim
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Kepimimpinan
secara
luas
menurut
Robbins,(2002)
yaitu
sebagai
kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan.
Menurut
Siagian,(1995)
kepemimpinan
merupakan
keterampilan
dan
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik
langsung, maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakan orangorang tersebut agar dengan penuh pengertian dan kesadaran bersedia mengikuti
kehendak-kehendak pemimpin tersebut.
Berdasarkan uraian tentang definisi kepemimpinan di atas, menurut
Nitisemito,(dalam kartono,2008) dapat disimpulkan bahwa unsur kunci
kepemimpinan adalah pengaruh yang dimiliki seseorang dan akibat pengaruh itu
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bagi orang yang hendak dipengaruhi. Kemampuan mempengaruhi adalah yang
dominan dari kepemimpinan, dan keberhasilan seorang pemimpin adalah
bagaimana ia bisa memotivasi dan menginspirasi orang lain. Teori-teori
kepemimpinan dengan demikian dapat diterapkan pada manajer. Dalam hal ini
manajemen dapat kita anggap sebagai kepemimpinan dalam perusahaan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan
sebuah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok dengan
berbagai upaya strategi atau keterampilan untuk mencapai tujuan tertentu dalam
mencapai keberhasilan organisasi.
Menurut Munandar,(2001) kepemimpinan merupakan pengertian yang
meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang berisi:
a. Seorang manajer sebagai pemimpin yang mempunyai wewenang untuk
memimpin.
b. Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer sesuai dengan tugas mereka
masing-masing.
c. Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh manajer bersama-sama dengan
bawahannya.
Efektifitas kepemimpinan biasanya dipertimbangkan dari segi tercapainya
suatu tujuan. Orang memandang kepemimpinan itu efektif atau tidak efektif dari
segi kepuasan yang diperoleh dari pengalaman pekerjaan seluruhnya. Penerimaan
dari pengarahan atau perintah seorang pemimpin sebagian besar tergantung dari
harapan para bawahannya, apabila mereka menanggapinya secara baik, maka
http://digilib.mercubuana.ac.id/
akan mendapatkan hasil yang menarik. Pemimpin yang baik harus memiliki
empat macam kualitas yaitu kejujuran, pandangan ke depan, mengilhami
pengikutnya, dan kompeten. Pemimpin yang tidak jujur tidak akan dipercaya dan
akhirnya tidak mendapat dukungan dari pengikutnya. Pemimpin yang memiliki
pandangan ke depan adalah pemimpin yang memiliki ke depan lebih baik.
Pemimpin yang baik juga harus mampu mengilhami pengikutnya dengan penuh
antusiasme dan optimisme. Pemimpin yang baik juga harus memiliki kompetensi
dalam menjalankan tugas secara efektif, mengerti kekuatannya, dan menjadi
pembelajar terus menerus Tampubolon, (dalam kartono 2008).
Selain itu, pemimpin yang efektif adalah yang
1. bersikap luwes,
2. sadar mengenai diri, kelompok, dan situasi,
3. memberi tahu bawahan tentang setiap persoalan dan bagaimana pemimpin
pandai dan bijak menggunakan wewenangnya,
4. mahir menggunakan pengawasan umum di mana bawahan tersebut mampu
menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu yang ditentukan,
5. selalu ingat masalah mendesak, baik keefektifan jangka panjang secara
individual maupun kelompok sebelum bertindak,
6. memastikan bahwa keputuan yang dibuat sesuai dan tepat waktu baik secara
individu maupun kelompok,
7. selalu mudah ditemukan bila bawahan ingin membicarakan masalah dan
pemimpin menunjukan minat dalam setiap gagasannya,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
8. menepati janji yang diberikan kepada bawahan, cepat menangani keluhan,
dan memberikan jawaban secara sungguh-sungguh dan tidak berbelit-belit
serta
9. memberikan petunjuk dan jalan keluar tentang metode/mekanisme pekerjaan
dengan cukup, meningkatkan keamanan dan menghindari kesalahan
seminimal mungkin.
2.2.1
Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan merupakan satu penggeneralisasian dari perilaku
pemimpin dan konsep- konsep kepemimpinannya dengan menonjolkan latar
belakang historis, sebab musabab, timbulnya kepemimpinannya, persyaratan
menjadi pemimpin, sifat – sifat utma pemimpin, tugas – tugas pokok dan
fungsinya serta profesi kepemimpinan.(Kartini Kartono,2008)
Teori kepemimpinan merupakan pembahasan mengenai bagaimana
seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin.
Teori-teori kepemimpinan menurut Thoha,(2003) yaitu :
1. Teori Sifat
Dalam teori ini menjelaskan bahwa dalam kepemimpinan tidak ada korelasi
antara sebab dan akibat dalam keberhasilan pemimpin, pendapat itu dikemukakan
oleh Keith Davis yang menyimpulkan ada empat sifat umum yang berpengaruh
terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu :
a. Kecerdasan, Kecerdasan ini menerangkan bahwa pemimpin memiliki
tingkat kecerdasan yang lebih tinggi bila dibandingkn oleh yang dipimpin.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Namun demikian pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari
kecerdasan pengikutnya
b. Kedewasaan dan keleluasaan hubungan social, Seorang pemimpin memiliki
emosi yang stabil sehingga memiliki kecenderungan menjadi lebih matang,
serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas social.
Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai
c. Motivasi dan dorongan prestasi, para pemimpin memiliki orientasi untuk
berprestasi sehingga pemimpin memiliki
dorongan motivasi yang kuat
untuk terus mencapai kepuasan prestasi. Mereka berusaha mendapatkan
penghargaan yang instrinsik dibandingkan dari yang ekstrinsik.
d. Sikap - sikap hubungan kemanusiaan, para pemimpin yang berhasil mau
mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu
berpihak kepadanya, dalam istilah penelitian Universitas Ohio, pemimpin
itu mempunyai perhatian, dan kalau mengikuti istilah penemuan Michigan,
pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukan berorientasi pada produksi.
2. Teori kelompok
Teori ini beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuannya,
maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan
pengikut-pengikutnya. Teori kelompok ini dasar perkembangannya pada
psikologi sosial. Thoha, (2003)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
3. Teori Situasional
Dalam teori ini menyatakan bahwa beberapa variable situasional
mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan
pelakunya termasuk pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya. Beberapa
variable situasional diidentifikasikan, tetapi tidak semua ditarik oleh situasional
ini. (Thoha, 2003).
4. Teori kepemimpinan kontijensi
Model kepemimpinan yang dikemukakan oleh Fielder sebagai hasil
pengujian hipotesa yang telah dirumuskan dari penelitiannya terdahulu. Model
ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang
menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut ini
(Thoha, 2003) :
a. Hubungan pimpinan anggota, variable ini sebagai hal yang paling
menentukan dalam menciptakan situasi yang menyenangkan.
b. Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan urutan kedua dalam
menciptakan situasi yang menyenangkan.
c. Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini
merupakan urutan ketiga dalam menciptakan situasi yang menyenangkan.
5. Teori jalan tujuan (Path-Goal theory)
Teori path-goal dipergunakan untuk menganalisis dan menjelaskan
pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan kerja
bawahan. Ada dua factor situasional yang telah diidentifikasikan yaitu sifat
http://digilib.mercubuana.ac.id/
personal para bawahan, dan tekanan lingkungan dengan tuntutan-tuntutan yang
dihadapi oleh para bawahan. Untuk situasi pertama teori pathgoal memberikan
penilaian bahwa perilaku pemimpin akan bias diterima oleh bawahan jika para
bawahan melihat perilaku tersebut merupakan sumber yang segera bisa
memberikan kepuasan, atau sebagai suatu instrument bagi kepuasan masa depan.
Adapun factor situasional kedua, path-goal, menyatakan bahwa perilaku
pemimpin akan bias menjadi factor motivasi terhadap para bawahan, yang
diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaan kerja (Thoha, 2003).
2.2.2
Gaya kepemimpinan
Dalam mensukseskan kepemimpinan dalam organisasi, pemimpin perlu
memikirkan dan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan
kepada pegawainya (Mulyadi dan Rivai, 2009). Stoner dkk,(1995) memberikan
definisi tentang gaya kepemimpinan yaitu berbagai pola tingkah laku yang
disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja.
Paul Hersey dan K. H Blanchard, 1982(dalam Marcian 2008) menyebutkan gaya
kepemimpinan adalah pola perilaku yang dilakukan oleh seseorang pada waktu
tertentu dan berupaya mempengaruhi aktivitas orang lain.
Menurut Umar ,(2004) gaya kepemimpinan adalah suatu cara atau teknik
seseorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan dan dapat pula diartikan
sebagai norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut
mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat, dalam hal ini
usaha menselaraskan persepsi diantara orang yang akan mempengaruhi perilaku
http://digilib.mercubuana.ac.id/
dengan yang akan dipengaruhi menjadi amat penting. Gaya atau cara/norma
perilaku yang dipergunakan oleh sesorang pada saat orang tersebut mencoba
mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia inginkan. Menurut
Thoha,(2003) disebut gaya kepemimpinan. gaya kepemimpinan yaitu pola
perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan pemimpin, dengan
menyatukan tujuan atau sasaran yang telah menjadi komitmen bersama (Abdilah,
2011).
Gaya kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai pola tingkah laku yang
dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu
untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Heidjrachman dan Husnan, 2002). Setiap
pemimpin bisa mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda antara yang satu
dengan yang lain, dan tidak mesti suatu gaya kepemimpinan lebih baik atau lebih
jelek dari pada gaya kepemimpinan yang lainnya. Gaya kepemimpinan adalah
suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya
(Tjiptono, 2001). Pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah
pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang
dirasakan oleh orang lain (Hersey, 2004).
Jadi dari hasil definisi gaya kepemimpinan diatas, dapat diketahui bahwa
gaya kepemimpinan itu didasarkan pada situasi dan kondisi, karena pemimpin
yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mengadaptasikan gayanya agar
sesuai dengan situasi tertentu Heidjrachman dan Husnan,(2002). Pada saat
menjelaskan tugas-tugas kelompok maka ia harus bergaya direktif, pada saat
menunjukkan hal-hal yang dapat menarik minat anggotanya maka ia harus
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bergaya konsultatif, untuk merumuskan tujuan kelompok ia bergaya partisipatif
sedangkan pada saat bawahan telah mampu dan berpengalaman dalam
menghadapi siatu tugas maka ia bergaya delegatif (Sugiyono, 2008).
2.2.3
Macam-macam gaya kepemimpinan
Menurut Lewin yang dikutip oleh Maman Ukas, (dalam kartono, 2008)
mengemukakan gaya kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja keras, bersungguh-sungguh,
teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan
intruksi-intruksinya harus ditaati.
b. Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian
dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha
bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya dan bersifat terbuka. Agar
setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan,
penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap
sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang
diinginkan.
c. Laissez faire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan
diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para
bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya
dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil
inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan
kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Menurut White & Lippit Harbani,(2008) gaya kepemimpinan terdiri dari 3 macam
yaitu :
1.
Gaya kepemimpinan Otokratis
Dalam tipe ini, pemimpin menentukan sendiri “policy” dan dalam
rencana untuk kelompoknya, membuat keputusan-keputusan sendiri namun
mendapatkan tanggung jawab penuh. Bawahan harus patuh dan mengikuti
perintahnya, jadi pemimpin tersebut menetukan atau mendiktekan aktivitas dari
anggotanya. Pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa mereka mengetahui apa
yang mereka inginkan dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan
tersebut dalam bentuk perintah-perintah langsung kepada bawahan. Dalam
kepemimpinan otokrasi terjadi adanya keketatan dalam pengawasan, sehingga
sukar bagi bawahan dalam memuaskan kebutuhan egoistisnya.
A. Kelebihan dari gaya kepemimpinan adalah :
1) Keputusan dapat diambil secara tepat.
2) Tipe ini baik digunakan pada bawahan yang kurang disiplin,
kurang inisiatif, bergantung pada atasan dan kurang kecakapan.
3) Pemusatan kekuasaan, tanggung jawab serta membuat keputusan
terletak pada satu orang yaitu pemimpin.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
B. Kelemahannya adalah :
1) Dengan tidak diikutsertakannya bawahan dalam mengambil
keputusan atau tindakan maka bawahan tersebut tidak dapat
belajar mengenai hal tersebut.
2) Kurang mendorong inisiatif bawahan dan dapat mematikan
inisiatif bawahannya tersebut.
3) Dapat menimbulkan rasa tidak puas dan tertekan.
4) Bawahan kurang mampu menerima tanggung jawab dan
tergantung pada atasan saja.
2. Gaya kepemimpinan Demokrasi (Demokratis)
Dalam gaya ini pemimpin sering mengadakan konsultasi dengan
mengikuti bawahannya dan aktif dalam menentukan rencana kerja yang
berhubungan dengan kelompok. Disini pemimpin seperti moderator atau
koordinator dan tidak memegang peranan seperti pada kepemimpinan
otoriter. Partisipan digunakan dalam kondisi yang tepat akan menjadikan
hal yang efektif. Maksudnya supaya dapat memberikan kesempatan
pada
bawahannya
untuk
mengisi
atau
memperoleh
kebutuhan
egoistisnya dan memotivasi bawahan dalam menyelesaikan tugasnya
untuk meningkatkan produktivitasnya pada pemimpin demokratis, sering
mendorong bawahan untuk ikut ambil bagian dalam hal tujuan-tujuan
dan metode - metode serta menyokong ide-ide dan saran-saran. Disini
pemimpin mencoba mengutamakan “human relation” (hubungan antar
manusia) yang baik dan mengerjakan secara lancar.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
A. Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini adalah :
1) Memberikan kebebasan lebih besar kepada kelompok untuk
megadakan kontrol terhadap supervisor.
2) Merasa lebih bertanggungjawab dalam menjalankan pekerjaan.
3) Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengan
catatan bila situasi memungkinkan.
4) Lebih matang dan bertanggung jawab terhadap status dan pangkat
yang lebih tinggi.
B. Kelemahannya adalah :
1) Harus banyak membutuhkan koordinasi dan komunikasi.
2) Membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengambil keputusan.
3) Memberikan persyaratan tingkat “skilled” (kepandaian) yang relatif
tinggi bagi pimpinan.
4) Diperlukan adanya toleransi yang besar pada kedua belah pihak
karena dapat menimbulkan perselisihan.
3. Gaya kepemimpinan Laissez Faire
Yaitu gaya kepemimpinan kendali bebas. Pendekatan ini bukan
berarti tidak adanya sama sekali pimpinan. Gaya ini berasumsi bahwa
suatu tugas disajikan kepada kelompok yang biasanya menentukan teknikteknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut dalam rangka
mencapai sasaran-sasaran dan kebijakan organisasi. Kepemimpinan pada
tipe ini melaksanakan perannya atas dasar aktivitas kelompok dan
pimpinan kurang mengadakan pengontrolan terhadap bawahannya. Pada
http://digilib.mercubuana.ac.id/
tipe ini pemimpin akan meletakkan
tanggung jawab keputusan
sepenuhnya kepada para bawahannya, pemimpin akan sedikit saja atau
hampir tidak sama sekali memberikan pengarahan. Pemimpin pada gaya
ini sifatnya positif dan seolah-olah tidak mampu memberikan pengaruh
kepada bawahannya.
A. Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini :
1) Ada kemungkinan bawahan dapat mengembangkan kemampuannya,
daya kreativitasnya untuk memikirkan dan memecahkan persoalan
serta mengembangkan rasa tanggung jawab.
2) Bawahan lebih bebas untuk menunjukkan persoalan yang ia anggap
penting dan tidak bergantung pada atasan sehingga proses yang lebih
cepat.
B. Kelemahannya adalah :
1) Bila bawahan terlalu bebas tanpa pengawasan, ada kemungkinan
terjadi penyimpangan dari peraturan yang berlaku dari bawahan serta
dapat mengakibatkan salah tindak dan memakan banyak waktu bila
bawahan kurang pengalaman.
2) Pemimpin sering sibuk sendiri dengan tugas-tugas dan terpisah dari
bawahan. Beberapa tidak membuat tujuan tanpa suatu peraturan
tertentu.
3) Kelompok dapat mengkambing hitamkan sesuatu, kurang stabil,
frustasi, dan merasa kurang aman.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.3 Kerangka Berfikir
Pencapaian visi, misi dan target perusahaan ditentukan oleh pemimpin
perusahaan karena pemimpin perusahaanlah yang memiliki wewenang untuk
mengendalikan kayawan dan menentukan keputusan. Kepemimpinan
menjadi tolak ukur dari keberhasilan dalam menentukan sikap kerja dan juga
produktivitas.
Sikap
kerja
atau
gaya
kepemimpinan
inilah
yang
mempengaruhi karyawannya untuk lebih termotivasi dan memiliki kinerja
yang optimal. Maka, komunikasi menjadi hal yang utama untuk
meningkatkan kepercayaan pada karyawan, dengan komunikasi yang baik
akan menghilangkan rasa kecurigaan dan menjauhkan timbulnya konfilik
sehingga karyawan selalu memberikan kepercayaan kepada organisasi
perusahaan.
Gambar 2.1
2.4 Hipotesa Penelitian
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Hipotesis alternative
Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti kebenarannya.
Ha : Terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepercayaan
(Trust)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download