pengaruh urea terhadap produksi tanaman tomat

advertisement
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
ISSN 1858-4330
PENGARUH UREA TERHADAP PRODUKSI TANAMAN TOMAT
THE EFFECT OF UREA ON TOMATO PRODUCTION
Syaifuddin*, Dahlan dan Buhaerah
Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa
*
email: [email protected]
ABSTRAK
Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas tanah adalah dengan penggunaan
pupuk anorganik seperti urea. Namun pengaruh negatif pemupukan urea terhadap tanah
masih kurang diperhatikan. Penggunaan pupuk urea mempunyai pengaruh yang merugikan
karena dapat menurunkan produktivitas tanah. Penelitian bertujuan untuk mempelajari
seberapa signifikan pengaruh urea terhadap degradasi tanah dan dampaknya terhadap
produksi tanaman tomat dan mempelajari pengaruh regim air selama pertumbuhan
tanaman terhadap produksi tomat pada tanah yang terdegradasi oleh urea. Penelitian
dilakukan di rumah kaca. Di rumah kaca pot-pot diatur menurut Rancangan Petak-Petak
Terpisah. Perlakuan pada percobaan ini terdiri atas regim air yang dikendalikan pada
potensial matriks sekitar -5 kPa dan bervariasi antara -5 kPa -100 kPa (PU), jenis pupuk
masing-masing urea dan ZA (AP), dan 4 dosis (AAP). Aplikasi pupuk urea dengan dosis 0,
125, 250 dan 500 kg ha-1 dan pupuk ZA dengan dosis setara N urea diberikan 2 hari
sebelum dihujani dengan simulator hujan. Parameter yang diamati meliputi parameter
tanah dan tanaman. Parameter tanah yaitu bulk density. Sementara parameter tanaman
meliputi tinggi tanaman (cm), berat kering bagian atas tanaman (g), produksi (g). Hasil
percobaan menunjukkan bahwa pemupukan dengan menggunakan urea mengakibatkan
bulk densit/kerapatan lindak lebih padat, sehingga produksi tanaman tomat yang dihasilkan
lebih rendah. Sementara pemupukan dengan menggunakan ZA menyebabkan terjadinya
flokulasi, sehingga produksi tanaman tomat meningkat.
Kata kunci: Urea, ZA, dispersi tanah, dan regim air
ABSTRACT
An effort to improve soil productivity is the use of inorganic fertilizers such as urea.
However, the negative effect of urea on the ground is still less attention. The use of urea
fertilizer has an adverse effect because it can reduce the productivity of the land. This
study aims to study the significant effect of urea on soil degradation and its impact on the
production of tomato plants and study the effect of water regime for plant growth on
tomato production on degraded soil by urea. The study was conducted in a greenhouse. In
greenhouse pots was arranged split split by plot design. Treatment in this experiment
consists of water-controlled regime at about -5 kPa matrix potential and varies between -5
kPa -100 kPa (main plot), each type of fertilizer urea and ZA (sub plot), and 4 doses (subsub plot). Application of urea fertilizer with doses of 0, 125, 250 and 500 kg ha-1 and ZA
with equivalent doses of urea N was given 2 days before wasered with a rain simulator.
The parameters observed were soil and plant parameters. Parameters of soil bulk density.
1
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
ISSN 1858-4330
While the parameters of the plant include plant height (cm), the top of the plant dry weight
(g), yield (g). The results show that using urea fertilization resulted in more dense bulk
density, resulting in the production of tomato plants produced lower. While fertilization
with the use of ZA caused flocculation, thus increasing the production of tomato plants.
Keywords: Urea, ZA, soil dispersion, and water regime.
PENDAHULUAN
Pupuk
nitrogen
khususnya
urea,
merupakan sarana produksi yang vital
untuk produksi pangan, terlebih pada
tanah
marginal
seperti
Ultisol.
Penggunaan pupuk urea sebagai pupuk
nitrogen di Indonesia merupakan yang
terbanyak dan paling dikenal di kalangan
petani dibanding pupuk nitrogen lainnya,
seperti amonium sulfat. Hal ini
disebabkan karena urea mengandung
nitrogen yang tinggi (45-46 persen) dan
tertinggi diantara pupuk nitrogen padat
lainnya, dan mudah ditemukan dipasaran,
tanpa
pemakaian
pupuk
urea,
produktivitas tanaman akan rendah.
Namun,
penggunaan
urea
juga
mempunyai
pengaruh
yang
tidak
menguntungkan produktivitas tanah.
Pemberian urea dapat menyebabkan
kerusakan struktur tanah, yang berakibat
pada hancurnya agregat tanah. Dispersi
tanah akibat pemberian urea ditentukan
oleh tingginya dosis urea yang digunakan,
kadar air tanah pada saat pengolahan serta
sifat tanah yang bersangkutan.
Berlainan dengan urea, amonium sulfat
dapat membantu flokulasi liat, yaitu suatu
proses bersatunya partikel-partikel koloid
menjadi unit yang lebih besar.
Pemberian urea meningkatkan pH tanah,
peningkatan pH menyebabkan muatan
bersih (net) dari liat menjadi negatif,
sehingga liat cenderung saling menjauh
satu dengan yang lainnya, kondisi ini
menyebabkan terjadinya dispersi liat.
Beberapa petani di Indonesia, khususnya
di Sulawesi Selatan menemukan bahwa
2
pemakaian urea secara terus menerus pada
lahan sawah tadah hujan dapat
memberikan pengaruh yang merugikan
struktur tanah untuk tanaman musim
kering yang ditanam pada periode
berikutnya (Gusli et al, 1996a,b).
Tanaman
tomat
(Lycopersicum
esculentum) merupakan salah satu
tanaman yang banyak membutuhkan N
untuk
pertumbuhannya,
untuk
menghasilkan produksi sebesar 45 ton ha-1
dibutuhkan unsur hara masing-masing 220
kg N, 39 kg P, dan 370 kg K. Tanaman
tomat juga peka terhadap kekeringan atau
perubahan kadar lengas tanah. Oleh
karena itu, akan diteliti seberapa
signifikan pengaruh urea terhadap
degradasi
tanah
serta
dampaknya
terhadap produksi tanaman tomat.
Ghildyal
dan
Tripathi
(1987)
mendefinisikan dispersi adalah sebagai
suatu proses yang mengakibatkan
terlepasnya (terdispersinya) partikelpartikel tanah satu sama lain. Dispersi
partikel liat mengakibatkan penghancuran
unit tanah dalam susunan hirarki tanah
paling dasar. Dalam keadaan terdispersi,
partikel-partikel tanah terpisah dan
menolak satu sama lain. Jelas bahwa
dispersi merupakan sesuatu yang tidak
diinginkan karena akan menghambat
agregasi dan menciptakan kondisi tanah
yang buruk. Tujuan dari penelitian ini
untuk
mengetahui
pengaruh
urea
degradasi tanah dan dampaknya terhadap
produksi tanaman tomat, serta mengetahui
regim air selama pertumbuhan tanaman
terhadap produksi tomat pada tanah yang
terdegradasi oleh urea.
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
BAHAN DAN METODE
Penelitian dan analisis sifat fisik tanah
dilaksanakan di rumah kaca dan
laboratorium Ilmu Tanah STPP Gowa.
Waktu pelaksanaan bulan Februari sampai
Agustus 2011.
Bahan-bahan yang digunakan adalah
tanah Ultisol asal Malino, pupuk urea,
amonium sulfat (ZA), TSP, KCl, pipa
paralon PVC dengan diameter 21 cm dan
tinggi 20 cm, kawat kasa dengan diameter
2 mm, sedangkan alat yang digunakan
adalah simulator hujan sebanyak 1 buah,
semprotan 4 buah, stopwatch, timbangan
elektronik, sintered funnel, ring sampel,
gunting, pisau, cangkul.
C. Desain Penelitian
Desain penelitian di dalam rumah kaca
disusun menurut Rancangan Petak-petak
Terpisah (RPPT). Petak utama, adalah
pengelolaan air dengan 2 taraf, yaitu
potensial matriksnya dikonstankan pada -5
kPa diberi notasi A1 dan potensial
matriksnya antara -5 dan -100 kPa dengan
notasi A2. Adapun sebagai anak petaknya
adalah jenis pupuk ZA dan urea dengan
notasi ZA dan U, sedangkan anak
petaknya adalah dosis urea dan ZA yaitu
0, 125, 250, 500 kg ha-1 atau setara
dengan 0, 0,37, 0,75, 1,5 g urea pot-1
dengan notasi U0, U1, U2, U3. Dosis ZA
yang digunakan kadar N nya sama dengan
kadar N untuk tiap dosis urea. Kombinasi
perlakuan sebanyak 16 dan diulang
sebanyak 3 kali.
D. Pelaksanaan
1. Penyiapan Media Tanah
Tanah Ultisol asal Malino, Kabupaten
Gowa diambil pada kedalaman 0 sampai
200 mm. Contoh tanah ini dikering
udarakan, kemudian diayak melewati
saringan berdiameter 5 mm. Tanah yang
telah dikeringkan di masukkan ke dalam
pot paralon sebanyak 6 kg pot-1.
ISSN 1858-4330
2. Aplikasi Pupuk
Pot yang telah berisi tanah di beri
perlakuan pemupukan sesuai dengan dosis
yang telah ditetapkan. Kemudian ditutup
dengan plastik hitam dan diinkubasi
selama 2 x 24 jam.
3. Ekspose Ke Hujan Buatan
Ekspose ke hujan buatan ini dilakukan di
lapangan, bukan di rumah kaca.
Penempatan pot-pot yang akan di ekspose
ke hujan buatan dengan intensitas hujan
100 mm jam-1 dan diameter hujan 2,4 mm
dilakukan secara random, melingkar, dan
disesuaikan dengan radius simulator hujan
yaitu 140 cm.
Ekspose ke hujan buatan dilaksanakan
selama 50 menit. Setelah ekspose, seluruh
pot-pot ditutup dengan plastik untuk
menghindari menguapnya pupuk, dan
dilakukan selama 2 x 24 jam.
4. Penentuan Retensi Air
Penentuan retensi air dianalisis dengan
menggunakan metode sintered funnel.
Penentuan retensi air -5 kPa dilakukan
dengan cara: sampel tanah kering udara
yang berasal dari lapangan ditimbang,
selanjutnya dimasukkan ke dalam funnel.
Funnel dan selang plastik penghubung
diisi penuh dengan air tanpa gelembung
udara. Funnel bersama contoh tanah di
dalamnya di klemp pada posisi stand
setinggi kolom air tanah, yaitu 50 cm.
Setelah 24 jam, berat contoh tanah
ditimbang untuk diketahui kadar airnya.
Kemudian contoh tanah tersebut dikering
ovenkan selama 24 jam.
Penentuan retensi air -100 kPa adalah
sebagai berikut, sampel tanah yang berasal
dari
lapangan
ditimbang
untuk
mengetahui berat basahnya, kemudian di
kering ovenkan selama 24 jam dengan
suhu 1050C. Setelah 24 jam, sampel tanah
tersebut ditimbang kembali untuk
mengetahui berat keringnya.
4
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
ISSN 1858-4330
jelasnya jumlah air yang ditambahkan ke
dalam tanah untuk mencapai potensial
matriks antara -5 sampai -100 kPa dapat
dilihat pada Tabel 1.
5. Pemeliharaan
Penyiraman
dilakukan
untuk
mempertahankan potensial matriks (kadar
air) yang diterapkan sesuai perlakuan. Air
yang ditambahkan diketahui melalui
perhitungan kadar air yang telah
ditetapkan sebelumnya untuk masingmasing potensial matriks. Jumlah air yang
ditambahkan pertama kali ke dalam tanah
untuk mencapai kapasitas lapang (ψm= -5
kPa) sebanyak 2,82 l. Selanjutnya air yang
ditambahkan dalam penelitian untuk
mempertahankan kondisi kapasitas lapang
(ψm= -5 kPa) berkisar 200-250 ml dengan
interval penyiraman setiap 24 jam. Pada
potensial matriks (ψm= -100 kPa) air yang
ditambahkan untuk mempertahankan
kondisi kapasitas lapang (ψm= -5 kPa)
berkisar 450-500 ml dengan interval
penyiraman setiap 2 x 24 jam. Untuk lebih
E. Parameter yang diamati
Parameter yang diamati adalah parameter
tanah dan tanaman. Parameter tanah yang
diamati adalah bulk density/kerapatan lindak.
Sementara parameter tanaman adalah : tinggi
tanaman (cm), berat kering bagian atas
tanaman (g), produksi (g).
F. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunkan
Rancangan
Petak-petak
Terpisah (RPPT), bila hasil perlakuan
signifikan selanjutnya dengan Uji Duncan
pada taraf 0,05.
Tabel 1. Jumlah air yang ditambahkan ke dalam tanah untuk mencapai potensial matriks
antara -5 sampai -100 kPa
Jumlah air yang perlu
ditambah
kan pada pot yang berisi tanah
kering udara sebanyak 6 kg (l)
Kisaran kebutuhan
air dalam penelitian
(ml)
Interval
penyiraman
-5 kPa
2,82
200-250
24 jam
-5-100 kPa
1,23
450-500
2 x 24 jam
ψm (kPa)
Tabel 2. Bulk density pada kedalaman 0-5 mm
Perlakuan
Urea 3
Urea 2
Urea 1
Kontrol
ZA 1
ZA 2
ZA 3
Keterangan:
5
Rata-rata BD tanah
1,36 a
1,25 b
1,18 bc
1,08 cd
1,02 d
1d
0,97 d
LSD 0,05
0,103
Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Bulk Density/Kerapatan Lindak
Berdasarkan hasil analisis ragam terlihat
bahwa pemupukan berpengaruh nyata
terhadap bulk density/kerapatan lindak
(Tabel 2). Perlakuan dengan mengunakan
pupuk ZA, bulk density menurun dari 1,08
2. Tinggi Tanaman
Data Hasil pengukuran tinggi tanaman
dan analisis ragamnya dapat dilihat pada
Tabel 3 dan Tabel 4. Berdasarkan hasil
analisis ragam terlihat bahwa pemupukan
tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman. Pada perlakuan ZA dengan
meningkatnya dosis pupuk tinggi tanaman
juga bertambah.
Sementara pada
perlakuan urea dengan meningkatnya
dosis pupuk dari 57,5 ke 230 N kg ha-1
tinggi tanaman masing-masing menjadi
34,75 dan 38,5 cm.
3. Berat Kering Bagian Atas Tanaman
Data dan hasil analisis ragam dapat dilihat
pada Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis
ragam terlihat bahwa jenis pupuk,
interaksi antara dosis dan jenis pupuk
berpengaruh nyata terhadap berat kering
bagian atas tanaman.
ISSN 1858-4330
ke 1,02 mg m-3, dengan bertambahnya
dosis pupuk dari 0 ke 57,5 N kg ha-1.
Sementara
pemupukan
dengan
menggunakan
urea,
bulk
density
meningkat dari 1,18 ke 1,25 Mg m-3
dengan bertambahnya dosis pupuk dari
57,5 menjadi 115 N kg ha-1. Penambahan
dosis selanjutnya sampai 230 N kg ha-1
meningkatkan bulk density secara nyata.
Perlakuan
yang
regim
airnya
dipertahankan sekitar -5 kPa, berat kering
tanaman
tomat
meningkat
secara
proporsional sesuai dengan meningkatnya
dosis dari 15,10 g menjadi 24,08 g pada
dosis ZA 230 kg ha-1, Sebaliknya bila
diberi urea, berat kering tanaman
berkurang dari 15,10 g ke 14,36 g dengan
bertambahnya dosis dari 0 ke 57,5 kg ha-1.
Data yang sama ditunjukkan untuk regim
air yang divariasikan antara -5 kPa sampai
-100 kPa.
4. Produksi
Data berat buah disajikan pada Tabel 6
dan 7. Berdasarkan hasil analisis
ragamnya terlihat bahwa jenis pupuk,
interaksi jenis pupuk dan air, dosis,
interaksi dosis dan air, interaksi dosis dan
jenis
berpengaruh
nyata
terhadap
produksi.
Tabel 3. Tinggi tanaman pada perlakuan jenis pupuk
Jenis pupuk
Rata-rata tinggi tanaman (cm)
ZA
36,46 a
Urea
LSD 0,05
3,73
34,67 a
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
5
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
ISSN 1858-4330
Tabel 4. Tinggi tanaman pada perlakuan regim pengelolaan air
Pengelolaan Air
Rata-rata Tinggi Tanaman (cm)
LSD 0,05
-5 kPa
40,12 a
15,28
-5 sampai -100 kPa
31 a
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
Tabel 5. Berat kering tanaman pada perlakuan jenis pupuk
Jenis Pupuk
Rata-rata berat kering bagian atas tanaman (g)
ZA
19,46 a
Urea
12,55 b
LSD 0,05
3,81
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
Tabel 6. Produksi buah tomat sesuai dosis pupuk
Dosis (kg ha-1)
Rata-rata berat buah (g)
500
225,51 a
250
196,28 b
125
181,71 bc
0
171,01 c
LSD 0,05
14,69
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
Tabel 7. Produksi buah tomat pada perlakuan jenis pupuk
Pupuk
Rata-rata Berat Buah (g)
ZA
211,40 a
Urea
175,85 b
LSD 0,05
14,66
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang berbeda berarti berbeda nyata pada
uji Duncan 0,05
6
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
B. Pembahasan
Hasil penelitian secara keseluruhan
menunjukkan bahwa pemupukan urea
meningkatkan bulk density/kerapatan
lindak, Sementara produksi tomat yang
dihasilkan rendah.
Pemberian
urea
mengakibatkan
bertambahnya muatan negatif dan
berkurangnya muatan positif pada partikel
liat, sehingga tercipta kondisi penolakan
yang menyebabkan tanah terdipersi (Van
Olphen, 1963; Gusli, 1989). Tanah yang
terdispersi menyumbat pori-pori tanah,
sehingga menurunkan laju infiltrasi dan
mengakibatkan
terjadinya
aliran
permukaan sambil membawa koloidkoloid tanah dan unsur hara, termasuk N.
Dispersi
tanah
meningkat
dengan
bertambahnya dosis urea. Semakin tinggi
dosis urea, ion hidroksil yang dihasilkan
dari proses hidrolisis meningkat. Ion
hidroksil ini diduga merupakan penyebab
meningkatnya pH tanah. Beberapa faktor
yang mempengaruhi dispersi tanah adalah
persentase natrium dapat tukar, daya
hantar listrik, pH Tanah, distribusi ukuran
partikel, dan tipe mineral liat.
Suspensi yang keruh dapat menjadi jernih
dengan adanya pengendapan. Fenomena
ini disebut flokulasi, yaitu suatu proses
bersatunya
partikel-partikel
koloid
menjadi unit yang lebih besar. Flokulasi
terjadi karena adanya gaya tarik menarik
antara partikel liat.
Pemberian Ammonium Sulfat (ZA) ke
dalam tanah akan terurai menjadi ion
ammonium dan sulfat. Ion NH4+ akan
bergerak bebas dalam larutan tanah dan
tersedia bagi tanaman. NH4+ yang ada
dalam larutan tanah akan tertukar pada
kompleks jerapan dan menggantikan
kedudukan H+ pada misel tanah. Dengan
demikian H+ yang semula terikat pada
misel tanah menjadi ion H+ bebas dalam
larutan tanah yang merupakan sumber
kemasaman tanah. Peningkatan ion H+
ISSN 1858-4330
menyebabkan peningkatan muatan positif
pada partikel liat dan menipisnya lapisan
ganda dari liat yang menyebabkan
terjadinya flokulasi. Terjadinya flokulasi
menyebabkan struktur tanah menjadi
stabil atau mantap. Flokulasi terjadi
karena adanya gaya tarik menarik antara
partikel liat. Agregat yang mantap hanya
dapat terbentuk dalam tanah jika liatnya
terflokulasi. Flokulasi merupakan dasar
untuk terpeliharanya stabilitas struktur
tanah (Shainberg, 1983., Gusli, 1989).
Pemupukan
urea
menyebabkan
meningkatnya bulk density seiring dengan
bertambahnya dosis urea. Hal ini
disebabkan
sebagai
konsekuensi
hancurnya struktur tanah. Perubahanperubahan tersebut merupakan indikasi
terjadinya pemadatan tanah. Pemadatan
tanah merubah distribusi ukuran pori, pori
makro berkurang sementara pori mikro
meningkat. Akibatnya difusi dan kapasitas
oksigen berkurang, kekuatan tanah
meningkat, hal ini berpengaruh ke
perkembangan akar sehingga menurunkan
produksi.
Pengolahan tanah pada kadar air yang
relatif tinggi cenderung menciptakan
kondisi yang optimum untuk terjadinya
dispersi. Semakin tinggi kandungan air
tanah semakin tinggi pula derajat dispersi
tanah yang diberi urea. Konsentrasi urea
yang rendah dapat mendispersi tanah
kalau tanah diolah dalam keadaan cukup
basah. Ini mengisyaratkan bahwa kadar air
tanah sebelum pengolahan tanah sangat
penting diperhatikan, terutama bila urea
akan digunakan dalam pertanaman
(Rengasamy, 1983).
Urea merupakan sumber pupuk nitrogen
yang esensial menunjang produktivitas
tanaman yang tinggi dengan biaya
produksi rendah karena kandungan
nitrogen yng tinggi. Dilain pihak, hasil
penelitian membuktikan bahwa tanah
yang diberi urea menjadi terdispersi,
akibat rusaknya struktur tanah. Oleh
7
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
karena itu, perlu dipikirkan bagaimana
cara pemakaian urea sehingga tidak
merusak struktur tanah.
Dispersi tanah dapat memberikan
pengaruh pada tanah dan akhirnya pada
tanaman. Jika liat terdispersi maka bila
basah, tanah dengan mudah menjadi
lumpur dan jika kering dengan cepat
menjadi padat dan keras. Pemadatan
menurunkan porositas tanah dan infiltrasi,
selanjutnya tanah mudah tererosi,
menghambat aerasi yang dibutuhkan oleh
pertumbuhan akar, yang pada akhirnya
akan mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi tanaman (Syaifuddin, 2010).
Semakin meningkatnya dosis urea, maka
semakin besar pengaruh dispersifnya.
Oleh karena itu, untuk mengurangi
pengaruh urea, aplikasinya dilakukan
sebanyak 2-3 kali. Namun, dari segi
tenaga kerja pemupukan dengan cara
demikian dipandang tidak efisien. Selain
itu, pemupukan dengan menggunakan
urea yaang sifat pelepasan haranya lebih
lambat
(slow
release)
perlu
dipertimbangkan untuk diaplikasikan di
lapangan. Selain itu, perlu mensubtitusi
urea dengan pupuk amonium sulfat (ZA).
Pengaruh dispersif urea dipengaruhi oleh
jenis pupuk urea. Penggunaan urea tablet
dapat menjadi salah satu alternatif
penggunaan urea, hal ini disebabkan
karena pengaruh urea tablet terhadap
dispersi diharapkan lebih kecil karena
pola pelepasan hara lebih terpusat pada
daerah perakaran di bawah permukaan
tanah.
KESIMPULAN
1. Pemupukan urea meningkatkan bulk
density/kerapatan
lindak,
namun
produksi tanaman tomat berkurang.
2. Pemupukan
ZA
menyebabkan
terjadinya flokulasi sehingga produksi
tanaman tomat meningkat.
8
ISSN 1858-4330
3. Pengaruh dispersif urea sangat
ditentukan oleh dosis pupuk dan jenis
tanah, serta kadar air tanah.
4. Mengendalikan regim air pada
potensial matriks sekitar -5 kPa dan
antara -5 kPa sampai -100 kPa pada
tanah yang terdegradasi oleh urea tidak
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
produksi tomat.
DAFTAR PUSTAKA
Ghildyal, B.P., R.P. Tripathi. 1987. Soil
Physics. John Wiley, New York.
Gusli, S., D.A. Macleod., and A. Cass.
1996a. Dispersibility of Urea: I.
Effect
on
Clay
Minerals.
Department of Agronomy and Soil
Science, Univ of New England,
Australia.
Gusli, S., D.A. Macleod., and A. Cass.
1996b. Dispersibility of Urea: II.
Effect
on
Clay
Minerals.
Department of Agronomy and Soil
Science, Univ of New England,
Australia.
Gusli, S. 1989. Structural Collapse and
Strength of Some Australian Soils in
Relation to Hard Setting Behavior.
Master of Rural Science. Thesis the
University of New England,
Armidale Australia.
Rengasamy, P. 1983. Clay Dispersion in
Relation to Changes
in The
Electrolyte Composition of Dialysed
Red-Brown Earths. Journal of Soil
Science 34:723-732.
Shainberg,
I.
1983.
Effect
of
Exchangeeable
Sodium
and
Electrolyte Concentration. Adv.
Soil.Sci 1:110-120.
Syaifuddin
dan
Buhaerah.
2010.
Pengaruh Urea terhadap dispersi
tanah Ultisol pada regim air yang
Jurnal Agrisistem, Juni 2013, Vol. 9 No.1
berbeda. Jurnal Agrisistem Vol 6
No. 2 hal 104-112.
Syaifuddin. 2001. Degradasi Tanah oleh
Urea terhadap Produksi tanaman
Tomat. Tesis Program Pascasarjana
UNHAS, Makassar.
ISSN 1858-4330
Van Olphen. 1963. An Introduction to
Clay
Colloid
Chemistry.
Interscience,
New
York.
9
Download