rcep - Repository UIN Jakarta

advertisement
POSISI INDONESIA MENGHADAPI PEMBENTUKAN REGIONAL COMPREHENSIVE
ECONOMIC PARTNERSHIP (RCEP) TAHUN 2011
DAN TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP (TPP) TAHUN 2013
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)
Oleh:
NAELI FITRIA
1111113000062
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
ABSTRAKSI
Skripsi ini menjelaskan mengenai posisi Indonesia menghadapai
pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) tahun
2011 dan pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) tahun 2013. Penelitian
ini dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan
Rational Choice Theory beserta dua konsepnya yaitu motif negara dan kalkulasi.
Selain itu, skripsi ini juga menggunakan konsep kepentingan nasional untuk
menjelaskan hal-hal yang menjadi pertimbangan Indonesia untuk diperjuangkan
dan dipertahankan serta analisis menggunakan konsep rational actor model
(RAM). Adapun posisi Indonesia antara lain berupa: bersikap open-minded dengan
tetap berfokus kepada kepentingan nasional, mengedepankan implementasi politik
luar negeri bebas-aktif, mempertahankan sentralitas ASEAN dan bergabung ke
Regional Comprehensive Economic Pertnership (RCEP) didasarkan pada
berbagai pertimbangan yang merupakan cerminan dari kepentingan nasional
Indonesia dalam merespon pembentukan TPP tahun 2013,antara lain posisi dan
kendala-kendala yang akan dihadapi jika Indonesia bergabung ke TPP.
Kata kunci: Indonesia, TPP, RCEP, Rational Actor Model (RAM)
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala
karena berkat rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad salallahu
‘alaihi wa sallam.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat selesai tanpa adanya
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terimakasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan adik yang tak pernah
berhenti memberikan dukungan baik materil maupun non materil kepada penulis
dalam pengerjaan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Debbie Affianty, MA
selaku dosen pembimbing yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini
dengan sangat baik. serta Bapak Nazaruddin Nasution, SH, MA dan Bapak Drs.
Aiyub Mohsin, MA, MM. selaku dosen penguji Terimakasih atas motivasi,
arahan, dukungan dan doa yang diberikan sehingga penulisan skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik.
Terimakasih juga kepada Bapak Dr. Agus Nugraha selaku dosen
pembimbing akademik. Juga kepada seluruh dosen dan staf, kepada Pak Jajang
dan Pak Amali di Program Studi Hubungan Internasional yang telah memberikan
ilmu, motivasi, inspirasi dan bantuan kepada penulis selama menempuh studi di
FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Reza Pahlevi
Chairul beserta staf di Direktorat Kerjasama ASEAN Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia yang telah bersedia menjadi narasumber dalam wawancara
dan memberikan data kepada penulis dengan sangat baik sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Kehadiran sahabat-sahabat juga merupakan hal utama yang memotivasi
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kepada Estri Hardianti dan Mohamad
Reza Tri Satriakhan yang telah menjadi sahabat terdekat sejak duduk di semester
vi
4. Terimakasih atas motivasi, saran dan kritiknya selama studi, KKN, magang
hingga penyelesaian skripsi.
Kepada teman-teman HIVEN (HI-Eleven) angkatan 2011 khususnya kelas
B, terimakasih atas canda tawa dan kebersamaan yang telah dilalui selama hampir
empat tahun menempuh masa studi. Terimakasih sudah membantu tugas ketua
kelas selama studi dengan sangat kooperatif. Kepada Zahra, Shofi, Nisa, Icha,
Ahel, Ganang, Ero, Fadhil, Nadia, Ahsan, Ana, Mela, Fitra, Mawaddah, Sheren,
Suger, Aci, Zakia, Sarah serta teman-teman angkatan 2011 lainnya, kepada Une,
Rina, Ocha, Desica, Reta, Acit, Bobby, Lenny, Intan, Farah Dina, Mahar, Dicky,
Afina serta adik kelas Whya, Lita dan Euis, Ola, Dzikri, Nisa, Opin, Fahri, Dzikri
dan yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Terimakasih banyak, temanteman atas segalanya.
Kepada teman-teman KKN Merdeka 2014, terimakasih atas doa dan
dukungannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Juga kepada teman-teman yang
telah menjadi rekan baru pada The Asia Pacific Model United Nations (AMUNC)
2013 di Wellington, New Zealand dan Multi Stage Negotiation Simulation
Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (MSNS
SESPARLU) 2015, para tentor Primagama Bojonggede, rekan-rekan di les
Bahasa Arab LBI FIB UI, Fakta Bahasa Bogor dan Remaja Islam Sunda Kelapa
(RISKA) SDTNI 44. Terimakasih atas segala doa dan dukungannya.
Harapan penulis, semoga Allah Membalas segala kebaikan yang telah
diberikan kepada penulis dengan kebaikan yang berlipat ganda. Penulis menyadari
skripsi ini jauh dari sempurna namun penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi para pembaca.
Bogor, Juni 2015
Naeli Fitria
vii
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ............................................................................................. v
KATA PENGANTAR ............................................................................... vi
DAFTAR ISI .............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ...................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xii
DAFTAR GRAFIK .................................................................................... xiii
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................
1
1.1 Pernyataan Masalah ................................................................. 1
1.2 Pertanyaan Penelitian ............................................................... 7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................. 7
1.4 Tinjauan Pustaka ...................................................................... 8
1.5 Kerangka Pemikiran ................................................................. 12
1.5.1 Konsep Kepentingan Nasional ................................... 12
1.5.2 Rational Choice Theory ............................................. 14
1.5.2.1 Motif Negara ................................................. 16
1.5.2.2 Kalkulasi ....................................................... 17
1.6 Metode Penelitian ....................................................................
19
1.7 Sistematika Penulisan .............................................................. 21
viii
BAB II KETERLIBATAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN
INTERNASIONAL .................................................................... 24
2.1 Perekonomian Indonesia Tahun 2013 ...................................... 24
2.2 Peran Indonesia dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA),
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan World
Trade Organization (WTO) ......................................................... 34
2.3 Pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP) ...................................................................................
57
2.4 Pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) ......................
60
2.4.1 Manfaat Trans Pacific Partnership (TPP) ...................... 65
2.4.2 Implikasi Trans Pacific Partnership (TPP) bagi
Negara-negara di Asia Tenggara ..................................
72
BAB III POSISI INDONESIA MENGHADAPI PEMBENTUKAN RCEP
TAHUN 2011 DAN TPP TAHUN 2013 ................................... 80
3.1 Mempertahankan ASEAN Centrality Melalui ASEAN Economic
Community (AEC) 2015........................................................... 80
3.2 Mendukung RCEP .................................................................... 88
3.3 Menolak Bergabung ke TPP ..................................................... 90
BAB IV ALASAN INDONESIA MENDUKUNG RCEP DAN MENOLAK
TPP .............................................................................................. 96
4.1 Lemahnya Daya Saing Produk Indonesia ................................. 96
4.2 Bergabung ke dalam Regional Comprehensive Economic
Partnership (RCEP) ................................................................. 100
ix
4.3 Perhitungan Kalkulatif Dengan Konsep Rational Actor
Model (RAM) ............................................................................
106
BAB V KESIMPULAN ............................................................................ 124
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.2.2 Peta Asia Pasifik ................................................................. 34
Gambar II.2.3.1 Cakupan Isu di TPP .......................................................... 66
Gambar II 2.3.2.1 Negara-negara Anggota Berdasarkan Organisasi:
ASEAN, TPP dan ASEAN, Non ASEAN, TPP ........... 73
Gambar II 2.3.2.2 Pembagian GDP untuk TPP, AFTA dan Negara di Asia
Lainnya ........................................................................ 75
xii
DAFTAR GRAFIK
Grafik II.2.1.1 Ekspor Riil, iHEx dan Volume Perdagangan Dunia ................ 26
Grafik II.2.1.2. Neraca Perdagangan Migas Indonesia,
Januari 2008 – April 2013 ..................................................... 31
Grafik II.2.1.3 Neraca Perdagangan Non-Migas Indonesia,
Januari 2008 – April 2013................................................... ...
33
Grafik II.2.2 Nilai Perdagangan Indonesia dengan ASEAN (USD Juta)
2009-2013 .................................................................................
xiii
46
DAFTAR SINGKATAN
ABAC
: APEC Business Advisory Council
ACIA
: ASEAN Comprehensive Investment Agreement
AEC
: ASEAN Economic Community
AELM
: APEC Economic Leaders’ Meeting
AFAS
: ASEAN Framework Agreement on Services
AFED
: ASEAN Framework on Equitable Economic Development
AFTA
: ASEAN Free Trade Area
AIA
: ASEAN Investment Area
AIGA
: ASEAN Investment Guarantee Agreement
APEC
: Asia Pacific Economic Cooperation
ATDAG
: Atase Perdagangan
ATIGA
: ASEAN Trade in Goods Agreement
BUMN
: Badan Usaha Milik Negara
CCS
: Coordinating Committee on Services
CEPT
: Common Effective Preferential Tariff
CLMV
: Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam
CPO
: Crude Palm Oil
DDA
: Doha Development Agenda
EPA
: Economic Partnership Agreements
FDI
: Foreign Direct Investment
FTA
: Free Trade Agreement
FTAAP
: Free Trade Area of Asia Pacific
G-20
: Government 20
G-33
: Government 33
GATS
: The General Agreement on Trade in Services
GATT
: General Agreement on Tariffs and Trade
GDP
: Gross Domestic Product
HIPPMI
: Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
xiv
IL
: Inclusion List
IPR
: Intellectual Property Rights
ITPC
: Indonesian Trade Promotion Center
KTM
: Konferensi Tingkat Menteri
LIPI
: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
MFN
: Most-Favored Nations
MRA
: Mutual Recognition Arrangement
NAMA
: Non-Agricultural Market Access
NTBs
: Non-Tariff Barries
NTM
: Non-Tariff Measured
OECD
: Organisation for Economic Cooperation dan
Development
P4
: Pacific Four
PDB
: Produk Domestik Bruto
PECC
: Pacific Economic Cooperation Council
PIF
: Pacific Islands Forum
PPP
: Purchasing Power Parity
RAM
: Rational Actor Model
RCEP
: Regional Comprehensive Economic Partnership
RPJPN
: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
SDT
: Special and Different Treatment
SLOC
: Sea Lanes of Communication
SOM
: Senior Officials Meeting
SPS
: Sanitary dan Phytosanitary
TIG
: Trade in Goods
TIS
: Trade in Services
TPP
: Trans-Pacific Partnership
TSEP
: Trans-Pacific Strategic Economic Partnership
UKM
: Usaha Kecil Menengah
Uni Eropa
: UE
WTO
: World Trade Organization
xv
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Wawancara 1 dengan Deputi Direktur ASEAN Cooperation
Kemendag RI Reza Pahlevi Chairul ........................................................ xvii
Lampiran 2. Hasil Wawancara 2 dengan Deputi Direktur ASEAN Cooperation
Kemendag RI Reza Pahlevi Chairul ........................................................ xxiv
Lampiran 3. Hasil Wawancara 3 dengan Jedut S Sutoyo. Kepala Seksi Perdagangan
Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN. Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia ……………………………………………………… xxviii
Lampiran 4. Hasil Wawancara 4 dengan Arif Sulaksono. Kepala Seksi
APEC SOM Committee On Ecotech Dan Working Groups,
Direktorat Kerja Sama Intrakawasan Asia Pasifik dan Afrika, Ditjen
Asia pasifik dan Afrika. Kementerian Luar Negeri RI …………………..
xvi
xxx
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pernyataan Masalah
Skripsi ini akan berfokus menganalisa tentang respon Indonesia terhadap
pembentukan Trans-Pacific Partnership (TPP) pada tahun 2013. Indonesia
merupakan negara maritim yang berada di jalur strategis dalam perdagangan
internasional atau Sea Lanes of Communication.. Garis pantai Indonesia yang
memiliki total luas 54.716 kilometer membentang di sepanjang Samudera Hindia,
Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Laut Sulawesi dan wilayah kecil
lainnya.1
Indonesia yang tergolong sebagai negara berkembang (developing countries)2
merupakan sebuah negara dengan sumber daya manusia terpadat di dunia yang
berada pada urutan keempat setelah Cina, India dan Amerika Serikat dengan jumlah
penduduk 253.899.536 jiwa.3 Di sisi lain, Indonesia juga memiliki potensi kemajuan
ekonomi yang sangat besar karena pengaruh geo-strategis. Indonesia terletak di jalur
Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lebih dari
50.000 kapal per tahunnya transit di Selat Malaka, padahal lebar selat ini hanya 1,5
1
http://kemhubri.dephub.go.id/portal-mp3ei/index.php?page=mp3ei&categori=strategis. Diakses pada
Kamis, 2 Oktober 2014
2
List of Developing Countries. A Mandatory References for ADS Chapter 310. New Edition.2012
3
http://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-population. Diakses pada Kamis, 24 April
2014
1
mil dengan kedalaman 19,8 meter. Kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka ini
merupakan 1/3 bagian dari jumlah kapal dagang dalam perdagangan dunia.4
Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam perdagangan
internasional, salah satunya pada industri manufaktur. Pada tahun 2013 produk
manufaktur berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan ekspor, antara lain
kapal laut meningkat 542,8 juta dollar AS, naik 294,9% dari periode yang sama pada
tahun sebelumnya yaitu tahun 2012. Ekspor produk alas kaki juga meningkat sebesar
176,8 juta dollar AS (naik 9,9%), dan produk pakaian jadi naik sebesar 74,9 juta
dollar AS (3,9%) pada tahun 2013.5
Selain produk manufaktur, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar
untuk menjadi nilai tambah bagi kemajuan ekonomi Indonesia. Melalui akselerasi
hilirisasi atau proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku industri6 seperti
sektor migas meliputi mineral dan barang tambang serta sektor non migas meliputi
makanan, pupuk, gula, semen, dan lain-lain7. Akselerasi hilirisasi industri ini yang
sedang ditingkatkan oleh pemerintah Indonesia, hal ini berdasar pada keyakinan
akan besarnya potensi sumber daya alam seperti minyak dan gas yang dimiliki
4
Triwahyuni Dewi. Signifikansi Kawasan Asia Tenggara dalam Kepentingan Amerika Serikat.
Majalah Ilmiah Unikom Vol.9, No.1. Hal 36
5
Sumber: http://www.setkab.go.id/artikel-9931-wto-dan-peluang-indonesia.html. Diakses pada
Minggu, 13 April 2014
6
Iwan Kurniawan. Hilirisasi Industri Tambang Pantang Mundur. Dikutip dari
http://www.kemenperin.go.id/artikel/7311/Hilirisasi-Industri-Tambang-Pantang-Mundur. Diakses pada
Kamis, 4 Juni 2015. Pukul 11.27 WIB
7
Siaran Pers. Kemenperin Prioritaskan Program Hilirisasi Industri. Dikutip dari
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5642/Kemenperin-Prioritaskan-Program-Hilirisasi-Industri.
Diakses pada Kamis, 4 Juni 2015. Pukul 11.35 WIB
2
Indonesia agar tidak hanya bergantung kepada ekspor bahan mentah saja seperti
bahan tambang dan mineral dan diharapkan memiliki nilai tambah ekonomi.8
Dengan potensi dalam perdagangan internasional yang dimilikinya, Indonesia
telah melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi baik bilateral maupun multilateral
serta di berbagai skala baik di skala regional, sub-regional maupun global.
Keunggulan komoditas Indonesia dalam perdagangan internasional seperti komoditas
tekstil, karet, elektronik, sawit, produk hasil hutan, produk alas kaki, otomotif, kako
dan kopi9. Hal ini terkati dengan keanggotaan Indonesia dalam kerjasama ekonomi
multilateral contohnya menjadi anggota World Trade Organization (WTO) dalam
skala global, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) dalam skala regional dan
ASEAN Free Trade Area (AFTA) dalam skala sub-regional.
Pada tahun 2013, di Asia Pasifik terdapat kerjasama ekonomi yang diprediksi
akan menjadi model atau percontohan perdagangan bebas di abad ke-21 yang disebut
Trans Pacific Partnership (TPP).10 Awalnya kerjasama tersebut bernama TransPacific Strategic Economic Partnership (TSEP). TPP terbentuk melalui proses
negosiasi yang panjang. Hal ini disebabkan masing-masing negara anggota harus
8
Iwan Kurniawan. Hilirisasi Industri Tambang Pantang Mundur. Dikutip dari
http://www.kemenperin.go.id/artikel/7311/Hilirisasi-Industri-Tambang-Pantang-Mundur. Diakses pada
Kamis, 4 Juni 2015. Pukul 11.41 WIB
9
Negara Tujuan Ekspor 10 Komoditi Utama. Dikutip dari http://www.kemendag.go.id/id/economicprofile/10-main-and-potential-commodities/10-main-commodities. Diakses pada Kamis, 4 Juni 2015.
Pukul 11.45 WIB
10
Ezzel J Stephen J dan Robert D Atkinson. Gold Standard or WTO-Lite?: Shaping the Trans-Pacific
Partnership. The Information and Technology & Innovation Foundation. May 2011. Hal 2
3
menyelesaikan perundingannya terlebih dahulu dalam di dalam TSEP.11 Hal ini
dilakukan agar TPP dapat menjadi penerus bagi perjanjian perdagangan yang
menghubungkan kedua sisi di Pasifik yaitu Pasifik Utara seperti Amerika Serikat,
Kanada, Jepang dan Pasifik Selatan seperti New Zealand, Australia dan negaranegara lainnya.12
Pada tahun 2010 TSEP berganti nama menjadi Trans-Pacific Partnership
(TPP) yang hingga saat ini memiliki 12 negara anggota. Hal ini terjadi sejak Amerika
Serikat masuk menjadi ketua di TPP.13 Negara lainnya seperti Malaysia, Jepang,
Kanada dan Meksiko melihat bahwa Amerika Serikat merupakan mitra strategis bagi
perdagangan mereka. Ditambah lagi Amerika Serikat merupakan negara dengan
ekonomi terbesar di dunia.14 Perluasan negara anggota ini menjadikannya memiliki
posisi dalam perekonomi global. TPP dipandang sebagai arus baru liberalisasi
perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik yang sebelumnya sempat tertunda karena
adanya perundingan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Dari segi ekonomi,
negara-negara anggota TPP memberikan kontribusi terhadap 40% PDB dunia.15
11
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Hal 64
12
Deardorff Alan V. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other Asian
Countries. 2013. The University of Michigan. Hal 1
13
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Hal 64-65
14
Ibid
15
Ibid. Hal 65
4
Populasi negara-negara anggota TPP juga cukup signifikan karena merepresentasikan
11,35 % penduduk dunia atau 783 juta jiwa.16
Berdasarkan isi perjanjiannya, TPP merancang liberalisasi perdagangan
barang dan jasa secara komprehensif, terjadwal, dan mengikat.17 Setiap negara
anggota diharapkan dapat menurunkan tarifnya hingga 0 % secara bertahap pada
semua pos tarif di semua sektor, seperti barang dan jasa, investasi, dan modal.
Termasuk diantara sektor-sektor yang juga sangat mendapat perhatian adalah
liberalisasi sektor kesehatan, asuransi, dan jasa keuangan yang selama ini dianggap
sebagai sektor sensitif di banyak negara.18 Ketentuan ini berlaku resiprokal atau
timbal balik terhadap sesama negara anggota saja dan tidak berlaku terhadap negara
non-anggota. Setiap negara anggota juga harus mengikuti jadwal liberalisasi dengan
ketentuan yang mengikat (legally binding) dan tidak bisa diubah (irreversible).19
Berbagai macam daya tarik yang ditawarkan oleh TPP ini pada akhirnya
menarik negara-negara lain untuk ikut serta. Beberapa negara yang menunjukkan
ketertarikan untuk bergabung, seperti Thailand, Taiwan, Filipina, Laos, Kolombia,
dan Kosta Rika.20 Empat negara anggota ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei
16
Ibid
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Hal 65
17
18
19
20
Ibid
Ibid
Ibid
5
dan Vietnam juga telah ikut bergabung.21 Selain itu, Jepang juga turut serta untuk
bergabung ke dalam TPP.22 Mantan Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menjelaskan
bahwa dengan bergabung ke dalam TPP, Jepang dapat meningkatkan perannya di
tengah meningkatnya regionalisme Asia Timur.
23
Keputusan Jepang untuk pro
terhadap TPP menunjukkan manfaat dari TPP sebagai strategi untuk membalas
percepatan kemajuan ekonomi Republik Korea dalam melaksanakan FTA dengan
mitra dagang utama seperti Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat.24
Namun hal ini tidak sejalan dengan respon Indonesia terhadap pembetukan TPP.
Indonesia memberikan respon berbeda dengan negara-negara di atas. Hal ini menarik
untuk diteliti karena selama ini Indonesia terlibat aktif dalam kegiatan organisasi
ekonomi internasional, seperti terlihat di penejelasan sebelumnya. Oleh karena itu
penelitian ini akan menjelaskan alasan Indonesia memutuskan untuk memberikan
beberapa respon terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) pada tahun
2013. Tahun 2013 dipilih karena pada tahun tersebut Indonesia melalui Menteri
Perdagangan Gita Wirjawan secara resmi memberikan pernyataan bahwa Indonesia
menolak untuk bergabung ke TPP.
21
Ibid
Ibid
23
Inkyo Cheong. Negotiations for the Trans-Pacific Partnership Agreement: Evaluation and
Implications for East Asian Regionalism. Asian Development Bank Institute Working Paper Series.
July 2013
24
Ibid.
22
6
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka
penelitian ini akan berfokus untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana
posisi Indonesia menghadapi pembentukan Regional Comprehensive Economic
Partnership (RCEP) pada tahun 2011 dan pembentukan Trans Pacific Partnership
(TPP) pada tahun 2013?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui adanya pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) dalam
perdagangan internasional.
2. Mengetahui respon Indonesia terhadap pembentukan Trans Pacific
Partnership (TPP) pada tahun 2013.
3. Menganalisa faktor-faktor yang melatarbelakangi Indonesia memutuskan
untuk memberikan beberapa respon terhadap pembentukan Trans Pacific
Partnership (TPP).
4. Mengetahui kontribusi konsep Kepentingan Nasional dan Rational Choice
Theory dengan dua konsepnya yaitu Motif Negara dan Kalkulasi dalam
menganalisa tentang latar belakang Indonesia menolak bergabung ke TPP
dan
menghitung
keuntungan
pembentukan TPP.
7
dan
kerugian
Indonesia
terhadap
5. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan Hubungan Internasional dalam kaitannya dengan
kepentingan nasional, studi Kawasan Asia Tenggara dan ekonomi politik
internasional.
1.4 Tinjauan Pustaka
Pembahasan mengenai Trans Pacific Partnership (TPP) tentu sudah banyak
dikaji baik dari segi ekonomi, politik, maupun strategis. Melalui beberapa tinjauan
pustaka di bawah ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa penelitian ini tidak hanya
penting untuk dikaji namun juga perlu untuk dilakukan.
Pada tahun 2012, Lydia Lancay Li dalam sebuah LiY fellowship paper yang
berjudul Trans-Pacific Partnership Agreement: An Analysis of Opportunities and
Agreement membahas mengenai daya tarik dan manfaat TPP. Namun, di dalamnya
juga terdapat tantangan dari negara anggota maupun calon anggota yang hendak
bergabung mengenai perbedaan keadaan ekonomi domestik dan perbedaan motivasi
strategis.
Penelitian tersebut juga membahas mengenai manfaat yang terdapat dalam
TPP, yaitu pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota serta potensi untuk meraih
keuntungan dari investasi. Penelitian tersebut memiliki fokus yang berbeda dengan
penelitian ini baik dari segi manfaat maupun potensi negara-negara anggota.
Secara teoritis, penelitian tersebut menggunakan konsep multilateralisme dan
regionalisme. Selain itu, untuk menjabarkan keuntungan serta potensi TPP untuk
8
menjadi organisasi perdagangan bebas percontohan di abad ke-21, penelitian ini
menggunakan data statistik mengenai pendapatan nasional masing-masing negara
anggota. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini karena penelitian ini
menggunakan konsep kepentingan nasional dan rational choice theory yang di
dalamnya dibahas mengenai motif negara dan kalkulasi rasional. Perbedaan lainnya
yaitu di dalamnya tidak dibahas mengenai peluang dan potensi negara yang termasuk
strategic market seperti Indonesia dan cenderung terfokus kepada negara anggota
TPP saja.
Pada tahun 2013, Andri, mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dalam skripsinya yang berjudul Kebijakan Amerika Serikat
untuk Memenuhi Kepentingan Ekonominya melalui Trans Pacific Partnership
Periode 2011-2013 membahas mengenai berbagai kepentingan Amerika Serikat
melalui TPP.
Penelitian ini menemukan bahwa beberapa upaya telah dilakukan Amerika
Serikat dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Amerika Serikat berperan
sebagai penggerak utama TPP dengan cara membuka kesempatan keanggotaan bagi
negara lain untuk memperluas pasar.
Secara teoritis, penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini. Hal ini
disebabkan penelitian tersebut menggunakan teori Neoliberalisme dengan konsep
comparative advantage. Sedangkan penelitian ini menggunakan rational choice
theory yang merupakan turunan dari Neorealisme dengan konsep motif negara dan
9
kalkulasi rasional sehingga akan terlihat mengapa Indonesia memutuskan untuk
memberikan serangkaian respon terhadap pembentukan TPP.
Pada tahun 2013, Asian Development Bank Institute dalam sebuah working
paper yang berjudul Negotiations for the Trans-Pacific Partnership Agreement:
Evaluation and Implications for East Asian Regionalism membahas mengenai
implikasi TPP terhadap negara-negara di kawasan Asia Timur.
Penelitian ini menemukan dampak TPP bagi stabilitas ekonomi di kawasan
Asia Timur. Negara yang menjadi spesifikasi pembahasan dalam penelitian tersebut
adalah Jepang yang pada akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam TPP.
Kekhawatiran akan terjadi efek domino di kawasan Asia Timur jika Jepang sebagai
salah satu negara dengan ekonomi terkuat di dunia namun tidak ikut serta di dalam
TPP juga dibahas dalam penelitian tersebut. Perbedaan dengan penelitian ini adalah
karena di dalamnya hanya terfokus kepada kawasan Asia Timur. Sedangkan posisi
Indonesia yang terdapat di kawasan Asia Tenggara belum dibahas.
Secara teoritis, penelitian tersebut menggunakan konsep regionalisme.
Konsep ini digunakan untuk menganalisis pengaruh dan prospek perdagangan
internasional di Kawasan Asia Timur jika bergabung ke dalam TPP. Penelitian
tersebut berbeda dengan penelitian ini disebabkan penelitian ini akan menggunakan
konsep motif negara dan kalkulasi untuk menganalisis pengaruh dan prospek TPP
bagi negara-negara di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Pada tahun 2014, Inriani Margaretha Sitohang, mahasiswi Hubungan
Internasional Universitas Mulawarman dalam sebuah artikel yang berjudul Penolakan
10
Indonesia Bergabug dalam Trans Pacific Partnership dalam eJournal Ilmu
Hubungan Internasional, Volume 2, Nomor 2, 2014 membahas mengenai alasan
penolakan Indonesia tidak bergabung ke dalam TPP.
Penelitian tersebut menemukan bahwa Indonesia tidak siap jika bergabung ke
dalam TPP. Hal tersebut disebabkan adanya negara-negara dengan ekonomi terkuat
seperti Amerika Serikat dan Jepang serta negara-negara di Pasifik seperti Australia
dan New Zealand yang jika Indonesia bergabung maka hal itu akan mengancam
perekonomian dalam negeri Indonesia.
Secara teoritis, penelitian tersebut menggunakan konsep kebijakan luar negeri
berdasarkan faktor internal dan eksternal serta konsep integrasi ekonomi. Konsep
tersebut digunakan untuk menganalisis keuntungan dan kerugian Indonesia jika
bergabung di TPP dengan cara membandingkan GDP (Gross Domestic Product)
negara-negara anggota TPP dengan Indonesia.
Perbedaannya dengan penelitian ini adalah karena penelitian ini akan
menjelaskan berdasarkan konsep kepentingan nasional serta dikalkulasi melalui
rational choice theory yang akan berpengaruh terhadap respon Indonesia terhadap
pembentukan TPP.
Tentu saja penelitian ini akan berbeda dengan penelitian
sebelumnya karena disamping belum ada studi dan penelitian yang membahas
mengenai hal ini, penelitian ini akan menjelaskan dari sisi politik-strategis alasan
Indonesia memutuskan untuk tidak bergabung ke dalam TPP.
11
1.5 Kerangka Pemikiran
Penelitian ini akan menggunakan konsep Kepentingan Nasional dan Rational
Choice Theory yang disertai dengan konsep-konsepnya antara lain: Motif Negara dan
Kalkulasi agar dapat memudahkan sekaligus membantu membentuk kerangka berfikir
yang akademis.
1.5.1 Konsep Kepentingan Nasional
Menurut Hans Morgenthau, kepentingan nasional diartikan sebagai segala
sesuatu yang harus dipertahankan oleh suatu negara dalam berbagai aspek
baik politik, fisik maupun identitas budaya dari bahaya atau gangguan negara
lain.25
Hans Morgenthau juga melihat bahwa kepentingan nasional memilki
beberapa dimensi. Antara lain kepentingan nasional yang termasuk vital dan
sekunder. Kepentingan vital merupakan kepentingan nasional yang terkait
dengan kedaulatan dan keamanan negara. Untuk mencapainya tidak ada jalan
lain bagi suatu negara selain berperang. Sedangkan kepentingan nasional yang
bersifat sekunder yaitu kepentingan nasional yang cara mencapainya dapat
dikompromikan dan tidak terkait dengan keamanan atau pun kedaulatan
negara.26
25
Kiyono Ken. A Study on The Concept of The National Interest of Hans J Morgenthau: As a
Standard of American Foreign Policy. Nagasaki University’s Academic Output Site. Hal 2
26
Michael G. Roskin. National Interest: From Abstraction to Strategy. Director, Strategic Studies
Institute, U.S. Army War College, Carlisle Barracks. 1994
12
Hans Morgenthau juga melanjutkan bahwa kepentingan nasional ada
yang bersifat spesifik dan general. Kepentingan nasional yang bersifat spesifik
yaitu yang terkait dengan kepentingan khusus suatu negara yang ingin dicapai
dalam aspek tertentu misalnya politik, ekonomi atau sosial budaya.
Sedangkan kepentingan yang bersifat general yaitu yang terkait dengan
pencapaian negara pada umumnya, misalnya menjaga kedaulatan negara.
Adapun kepentingan nasional menurut Martin Griffith dan Terry O’
Callaghan diartikan sebagai sesuatu yang harus dicapai dan dikejar oleh
pemerintah suatu negara yang menjadi tujuan dari politik luar negeri negara
tersebut.27
Selanjutnya menurut Martin Griffith dan Terry O’ Callaghan kepentingan
nasional juga merupakan sesuatu yang dirumuskan berdasarkan perhitungan
yang
telah
dilakukan
oleh
para
pembuat
kebijakan
dan
akan
diimplementasikan di dalam kebijakan luar negeri suatu negara. Kebijakan
luar negeri itulah yang nantinya menjadi suatu alat tawar dalam hubungan
dengan negara lain.
Sedangkan menurut Theodore A. Coloumbis dan James H. Wolfe,
kepentingan nasional merupakan sesuatu yang sangat penting untuk
menggambarkan dan memprediksi aksi suatu negara terhadap negara lainnya
dalam hubungan internasional.
27
Martin Griffith dan Terry O’ Callaghan. International Relations: The Key Concepts. 2002. London
and New York: Routledge. Hal 203
13
Theodore A. Coloumbis dan James H. Wolfe juga menjelaskan bahwa
kepentingan nasional dapat tercapai jika para pembuat kebijakan dapat
mengaitkan dan mensinergikan personalitas dan idealitas dari para pembuat
kebijakan, tipe dan filosofi dari struktur pemerintahan, kondisi geopolitik dan
kemampuan negara lain dalam persaingan global.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepentingan
nasional adalah segala sesuatu yang diperjuangkan oleh negara agar dapat
bertahan dalam hubungannya dengan negara lain melalui serangkaian proses
penghitungan atau kalkulasi yang tepat dan diimplementasikan dalam
berubungan dengan negara lain.
Penelitian ini menggunakan konsep kepentingan nasional menurut Martin
Griffith dan Terry O’ Callaghan karena penelitian ini menduga bahwa alasan
Indonesia memutuskan untuk tidak bergabung ke dalam Trans Pacific
Partnership adalah adanya suatu tujuan yang harus dicapai dan dipertahankan
yaitu menjaga sentralitas Indonesia di kawasan Asia Tenggara melalui
organisasi ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) agar tidak
didominasi oleh kehadiran TPP (Trans Pacific Partnership).
1.5.2 Rational Choice Theory
Rational Choice Theory menurut Charles L Glaser adalah segala
sesuatu yang menjadikan sebuah negara memutuskan untuk berkompetisi atau
bekerjasama. Teori ini juga menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan
14
oleh negara untuk mencapai tujuan mereka di tengah kendala yang sedang
dihadapi.
Selain itu, suatu negara juga harus memahami bahwa akan ada negara
lain yang merespon kebijakan yang telah dibuat lalu membuat strategi untuk
mengantisipasi kebijakan tersebut.28
Sedangkan menurut Valerie Hudson, Rational Choice Theory adalah
segala sesuatu yang diambil oleh para pembuat keputusan atau decision
makers yang disertai dengan tujuan yang jelas dan informasi yang memadai.29
Adapun Rational Choice Theory menurut Raymond Boudon yakni setiap
tindakan aktor bersifat instrumental. Maksudnya adalah segala tujuan yang
sudah jelas ditetapkan oleh aktor harus dijelaskan secara rasional.30
Dari ketiga penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Rational Choice
Theory adalah segala tindakan yang diambil oleh pembuat keputusan, dalam
hal ini adalah negara, melalui perhitungan rasional sehingga negara tersebut
dapat memutuskan apakah akan berkompetisi atau bekerja sama.
Penelitian ini akan menggunakan Rational Choice Theory menurut
Charles L Glaser karena hal ini sesuai dengan respon yang diambil oleh
Indonesia terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) serta
strategi Indonesia untuk menghadapinya.
28
Charles L Glaser. The Rational Theory of International Politics: The Logic of Competition and
Cooperation. 2010. New Jersey: Priceton University Press. Hal 23
29
Valerie Hudson, et al. Foreign Policy Making (Revisited). 2002. New York: Palgrave Macmillan.
Hal 18
30
Raymond Boudon. The Limitations of Rational Choice Theory. American Journal of Sociology, Vol.
104, No. 3 (November 1998). The University of Chicago Press. Hal 818
15
Adapun konsep dari Rational Choice Theory yang akan digunakan dalam
penelitian ini antara lain: Motif Negara dan Kalkulasi.
1.5.2.1 Motif Negara
Setiap negara tentu memiliki motif yang dapat
mempengaruhi proses pengambilan keputusan apakah akan
berkompetisi atau bekerjasama.31
Sebuah
memutuskan
negara
apakah
memiliki
akan
motif
bekerjasama
tertentu
atau
untuk
bersaing
berdasarkan kondisi atau lingkungan internasional yang ada di
sekitarnya. Lingkungan internasional inilah yang nantinya akan
memberikan
pengaruh
kepada
sebuah
negara
untuk
memperjuangkan kepentingan nasionalnya dan melakukan
stateginya untuk menghadapi perilaku negara lain. Konsep
motif negara ini juga menjelaskan bagaimana suatu negara
dapat memahami dan mengetahui secara lebih dalam mengenai
motif negara lain.
Penelitian ini menduga bahwa salah satu motif
Indonesia tidak bergabung ke dalam Trans Pacific Partnership
(TPP) adalah karena TPP terdiri dari negara-negara dengan
kekuatan ekonomi terbesar di dunia seperti Amerika Serikat
31
Charles L Glaser. The Rational Theory of International Politics: The Logic of Competition and
Cooperation. 2010. New Jersey: Priceton University Press. Hal 53
16
dan Jepang sehingga Indonesia harus menciptakan strategi
untuk menghadapinya.
Oleh karena itu konsep ini tepat bila digunakan untuk
menganalisis motif negara sebagai respon Indonesia terhadap
pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP).
1.5.2.2 Kalkulasi
Dalam kaitannya dengan kalkulasi, sebuah negara
berhak melakukan perhitungan atau kalkulasi untuk menyusun
strategi sebagai penyeimbang kekuatan negara lain dalam
berkompetisi atau bekerjasama.32
Selain itu, kalkulasi juga dilakukan suatu negara untuk
meyeimbangkan kekuatannya dengan negara lain. Kalkulasi
merupakan hal penting yang harus dilakukan agar suatu negara
dapat mengetahui keuntungan dan kerugian jika bekerjasama
atau pun berkompetisi dengan negara lain.
Kalkulasi dilakukan sebuah negara dengan cara
menganalisa dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya
mengenai
hal-hal
yang
berkaitan
dengan
kepentingan
nasionalnya, letak geografis negara, reaksi negara lain terkait
dengan
32
keputusan
Ibid. Hal 197
17
yang
diambil
serta
dampak
yang
ditimbulkan apakah akan menguntungkan atau merugikan jika
keputusan tersebut diimplementasikan.33
Dalam hal ini negara melakukan kalkulasi atau
perhitungan
melalui
dua
tahap:
Pertama,
melakukan
perhitungan rasional dalam menganalisa berbagai pilihan
keputusan dan selanjutnya hanya akan menjadi satu keputusan.
Kedua, dari satu keputusan yang didapat kembali dianalisa
keuntungan (benefit) dan kerugian (cost) nya. Pada akhirnya
negara akan memutuskan apakah akan mengimplementasikan
keputusan yang telah dibuat atau tidak.34
Sedangkan menurut Alex Mintz, terdapat sebuah model
dalam pengambilan keputusan yaitu Rational Actor Model
(RAM). Proses pengambilan keputusan melalui konsep
Rational Actor Model (RAM) yaitu pembuat keputusan atau
stakeholder mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
lalu melakukan kalkulasi atau pehitungan yang pada akhirnya
merumuskan beberapa kebijakan alternatif.35
Setelah merumuskan beberapa kebijakan alternatif yang
dapat dipilih, tahap selanjutnya dalam konsep Rational Actor
33
Bruce Bueno de Mesquita. Foreign Policy Analysis and Rational Choice Models. New York
University/Stanford University
34
Alex Mintz. How Do Leaders Makes Decision? A Poliheuristic Perpective. Journal of Conflict
Resolution, Vol. 48 No.1, February. Sage Publications. 2004
35
Alex Mintz dan Karl DeRouen. Understanding Foreign Policy Decision Making. Cambridge
University Press. 2010. Hal 87-88
18
Model (RAM) adalah memilih keputusan yang sangat penting
dan menjadi prioritas serta tetap dapat mempertahankan
kepentingan nasional.36
Terkait
dengan
pola
di
atas,
penelitian
ini
memperkirakan bahwa Indonesia telah melakukan kalkulasi
berdasarkan keuntungan dan kerugian untuk memberikan
respon terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP)
yaitu dengan lebih memfokuskan kerjasama di ASEAN
melalui Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP).
1.6 Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yang juga terkait
dengan jenis penelitiannya yaitu kualitatif. Adapun pengertian penelitian
kualitatif menurut Denzin Norman K dan Yvonna S Lincoln adalah penelitian
yang disajikan dalam bentuk teks.37 Selain itu, menurut Patton Michael Quinn
penelitian
kualitatif
juga
dapat
diartikan
sebagai
penelitian
yang
menggunakan kata-kata sebagai penjabaran dari objek yang diteliti.38
36
Marijke Breuning. Foreign Policy Analysis: A Comparative Introduction. Palgrave Macmillan.
2007. Hal 97
37
Denzin Norman K dan Yvonna S Lincoln. Handbook of Qualitative Research Second Edition. Sage
Publications, Inc. Hal 769
38
Patton Michael Quinn. A Guide To Using Qualitative Research Methodology. Medecins Sans
Frontieres. Hal 2
19
Penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui
studi pustaka sebagai data sekunder yang bersumber dari jurnal, buku, media
nasional dan internasional serta website. Adapun perpustakaan yang
dikunjungi untuk mendapatkan referensi terkait antara lain: Perpustakaan Ali
Alatas di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Perpustakaan FISIP
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan
FISIP Universitas Indonesia.
Selain itu, penelitian ini juga akan menggunakan sumber data primer
yaitu melalui dokumen resmi pemerintah berupa hasil analisa respon
Indonesia terhadap pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP) dan juga
melalui wawancara atau in-depth interview. Adapun narasumber yang
diwawancarai yaitu Reza Pahlevi Chairul selaku Deputy Director of ASEAN
Cooperation Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Adapun teknik analisa penelitian ini akan menggunakan deskriptif
analitis yaitu menganalisa variabel-variabel yang ada. Teknik ini juga akan
menghubungkan masalah dengan konsep-konsep yang digunakan.
Sedangkan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan kaitannya
dengan kerangka pemikiran, penelitian ini akan menggunakan teknik deduktif
yaitu pemaparan masalah dan penjabarannya terlebih dahulu lalu ditarik
kesimpulan di akhir penelitian.
20
1.7 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pernyataan Masalah
1.2 Pertanyaan Penelitian
1.3 Tinjauan Pustaka
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5 Kerangka Pemikiran
1.5.1 Konsep Kepentingan Nasional
1.5.2 Rational Choice Theory
1.5.2.1 Motif Negara
1.5.2.2 Kalkulasi
1.6 Metode Penelitian
1.7 Sistematika Penulisan
BAB II KETERLIBATAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN
INTERNASIONAL
2.1 Perekonomian Indonesia Tahun 2013
21
2.2 Peran Indonesia dalam AFTA ASEAN Free Trade Agreement
(AFTA), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) dan World
Trade Organization (WTO)
2.3 Pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP)
2.4 Pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP)
2.4.1 Manfaat Trans Pacific Partnership (TPP)
2.4.2 Implikasi Trans Pacific Partnership (TPP) bagi negaranegara di Asia Tenggara
BAB
III
RESPON
INDONESIA
TERHADAP
PEMBENTUKAN
REGIONAL COMPREHENSIVE ECONOMIC PARTNERSHIP
(RCEP) TAHUN 2011 DAN PEMBENTUKAN TRANSPACIFIC PARTNERSHIP (TPP) TAHUN 2013
3.1 Mendukung RCEP
3.2 Mempertahankan ASEAN Centrality melalui ASEAN Economic
Community 2015
3.3 Menolak Bergabung ke TPP
22
BAB IV ALASAN INDONESIA MENDUKUNG RCEP DAN
MENOLAK
PEMBENTUKAN
TRANS
PACIFIC
PARTNERSHIP (TPP)
4.1 Kalkulasi Ekonomi: Daya Saing Komoditas
4.2 Kalkulasi Politik: Bergabung ke dalam Kerjasama Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP)
4.3 Perhitungan Kalkulatif Melalui Konsep Rational Actor Model (RAM)
BAB V KESIMPULAN
23
BAB II
KETERLIBATAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN
INTERNASIONAL
Pada bab ini akan dibahas mengenai kondisi perekonomian Indonesia
pada tahun 2013 yang meliputi aktivitas perdagangan domestik dan perdagangan
internasional. Selain itu juga akan dibahas mengenai keterlibatan Indonesia di
beberapa organisasi kerjasama internasional seperti WTO, APEC dan AFTA.
2.1 Perekonomian Indonesia Tahun 2013
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai kondisi perekonomian Indonesia
pada tahun 2013. Kondisi perekonomian domestik suatu negara merupakan hal
penting yang digunakan sebagai indikator pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.
Pada tahun 2013, kondisi perekonomian Indonesia mengalami dinamika. Hal ini
terjadi tentu tak bisa lepas dari pengaruh kondisi perekonomian global. Pengaruh
kondisi perekonomian global yaitu ditandai dengan menurunnya permintaan global
serta menurunnya harga komoditas sehingga berdampak pada menurunnya ekspor
Indonesia.39
39
Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2013. Dipetik dari
http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporantahunan/perekonomian/Documents/LPI%202013%20ID%20%20Bagian%20II%20Perekonomian%20Domestik.pdf. Diakses pada Jumat, 5 Juni 2015 Pukul 10.16
WIB. Hal 36
24
Selain itu, kondisi perekonomian domestik yang mendapatkan pengaruh
akibat adanya dinamika perekonomian global. Pengaruh tersebut antara lain terjadi
melalui jalur perdagangan (trade channel), tetapi juga melalui jalur pasar keuangan
(financial market channel). Di samping pengaruh global, faktor domestik yang
bersifat struktural juga menjadi salah satu akar permasalahan ekonomi. Permasalahan
struktural tersebut terjadi akibat adanya keterbatasan kapasitas industri domestik
dalam memenuhi permintaan konsumen serta semakin tingginya jumlah ekonomi
kelas menengah yang dibarengi dengan kebutuhan yang semakin kompleks.40
Permasalahan struktural yang semakin mengemuka di tengah stabilitas yang
terganggu, dibarengi dengan tantangan global, menekan kondisi perekonomian
domestik.41
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 mengalami perlambatan
yang tercatat 5,8% dari pertumbuhan tahun 2012 sebesar 6,2% yang tidak sesuai
harapan dan topangan struktur ekonomi domestik yang tidak mendukung. 42 Ekonomi
global yang melambat dan dibarengi oleh harga komoditas global yang menurun
menjadikan perbaikan kinerja ekspor riil Indomesia menjadi lemah. Ekspor yang
semakin lemah ditandai dengan menurunnya angka kinerja ekspor menjadi 5,8% pada
tahun 2013 menurun dari 6,2% dari tahun 201243 dan masih tingginya ketidakpastian
40
Ibid
Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2013. Dipetik dari
http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporantahunan/perekonomian/Documents/LPI%202013%20ID%20%20Bagian%20II%20Perekonomian%20Domestik.pdf. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015 Pukul
10.52 WIB. Hal 36
42
Ibid
43
Ibid
41
25
bagi para investor yang ditunjukkan dengan adanya pelemahan nilai rupiah yang
berdampak pada terjadinya inflasi sebesar 8,4% pada tahun 2013 dari sebelumnya
yaitu 4,3% pada tahun 2012 berdampak pada menurunnya investasi.44
Grafik II.2.1.1 Ekspor Riil, iHEx dan Volume Perdagangan Dunia
Sumber: Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2013.
Grafik di atas menjelaskan bahwa kinerja ekspor rill masih diperngaruhi
oleh kondisi perekonomian global yang semakin melambat dan harga komoditas yang
semakin menurun. Kedua faktor tersebut kemudian mempengaruhi volume
perdagangan dunia yang berakibat pada pertumbuhan ekspor yang masih lemah
44
Ibid. Hal 37
26
meskipun di saat yang bersamaan daya saing rupiah meningkat namun pelemahan
rupiah juga terjadi.45
Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2013 tumbuh
sebesar 5,78% dibandingkan dengan tahun 2012. Pertumbuhan terjadi pada semua
sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan
Komunikasi sebesar 10,19% dan terendah di Sektor Pertambangan dan Penggalian
sebesar 1,34%. Sementara PDB non migas tahun 2013 tumbuh 6,25%.46
Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 tumbuh sebesar 5,78%
dibanding tahun 2012, dimana semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan.47
Berdasarkan tabel, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan
Komunikasi yang mencapai 10,19 %, diikuti oleh Sektor Keuangan, Real Estat, dan
Jasa Perusahaan 7,56 %, Sektor Konstruksi 6,57 persen, Sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran 5,93 %, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 5,58 %, Sektor Industri
Pengolahan 5,56 %, Sektor Jasa-jasa 5,46 %, Sektor Pertanian 3,54 %, dan Sektor
Pertambangan dan Penggalian 1,34 %.48 Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun
2013 mencapai 6,25 % yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB.49 Sektor
Industri Pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap total pertumbuhan
45
Ibid. Hal 41
Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan PDB
2013 Mencapai 5,78%. Dikutip dari http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_05feb14.pdf . Diakses pada
Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 10.24 WIB. Hal 1
47
Ibid
48
Ibid
49
Ibid
46
27
PDB, dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,42 %.50 Selanjutnya diikuti oleh Sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang
memberikan sumber pertumbuhan masing-masing 1,07 % dan 1,03 %.51
Tabel II.2.1.1 PDB dan Laju Pertumbuhan
Sumber: Badan Pusat Statistik. Tahun 201352
50
Ibid
Ibid Hal. 2
52
Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan PDB
2013 Mencapai 5,78%. Dikutip dari http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_05feb14.pdf . Diakses pada
Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 10.24 WIB. Hal 1
51
28
Sementara itu, aktivitas perekonomian Indonesia dalam perdagangan
internasional juga mengalami dinamika. Kinerja neraca perdagangan Indonesia
mengalami pertumbuhan meskipun sedikit yaitu Januari 2013 dibandingkan dengan
Desember 2012. Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2012 sebesar
0,17 milyar Dollar AS menurun dibandingkan pada defisit neraca perdagangan pada
Desember 2012 yaitu 0,19 milyar Dollar AS.53 Penurunan defisit neraca perdagangan
pada Januari 2013 ini disebabkan oleh penurunan nilai impor dari 15,58 milyar Dollar
AS pada Desember 2012 menjadi 15,55 milyar Dollar AS pada Januari 2013.54
Jika dibandingkan dengan bulan Januari tahun 2012, maka kinerja neraca
perdagangan Indonesia bulan Januari 2013 mengalami penurunan. Neraca
perdagangan Indonesia pada Januari 2012 surplus 1,02 milyar Dollar AS, menurun
menjadi defisit 0,17 milyar Dollar AS pada Januari 2013.55 Defisit neraca
perdagangan pada Januari 2013 disebabkan oleh nilai impor yang meningkat dari
14,55 milyar Dollar AS pada Januari 2012 menjadi 15,55 milyar Dollar AS pada
Januari 2013, disamping kinerja ekspor pada Januari 2013 yang menurun sebesar
1,24% dibanding Januari 2012. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan
perekonomian global masih berdampak negatif bagi ekspor Indonesia.56
Hal serupa juga terjadi dalam kurun Januari-April 2013 dimana kinerja ekspor
migas maupun non-migas Indonesia semakin memburuk. Dibandingkan dengan
53
Perkembangan Internasional 2013: 1. Indonesian Economic Review and Outlook Macroeconomic
Dashboard FEB UGM. Dikutip dari http://macroeconomicdashboard.com/index.php/internasional/106perkembangan-internasional-2013-i Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 10.33 WIB
54
Ibid
55
Ibid
56
Ibid
29
April 2012, neraca perdagangan Indonesia memburuk pada April 2013. Defisit neraca
perdagangan meningkat dari 0,8 miliar Dollar AS menjadi 1,6 miliar Dollar AS.57
Memburuknya kinerja neraca perdagangan disebabkan oleh penurunan ekspor sebesar
9,1% yang ditopang oleh penurunan ekspor migas sebesar 32,9% dan ekspor non
migas sebesar 2,4%.58
Secara keseluruhan kinerja neraca perdagangan pada periode Januari - April
2013 mengalami penurunan dibandingkan periode Januari - April 2012. Neraca
perdagangan yang semula surplus 2 miliar Dollar AS pada Januari – April 2012 turun
menjadi defisit 1,9 miliar Dollar AS pada Januari – April 2013.59 Penurunan neraca
perdagangan masih disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor dari 64,7 miliar Dollar
AS pada Januari – April 2012 menjadi 60,1 miliar Dollar AS pada periode yang sama
tahun 2013. Penurunan nilai ekspor ini menunjukkan bahwa rendahnya daya saing
internasional dan pelemahan perekonomian global masih berpengaruh negatif
terhadap ekspor Indonesia.60 Hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
57
Ibid
Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Defisit. Indonesian Economic Review and Outlook
Macroeconomic Dashboard FEB UGM. Dikutip dari
http://macroeconomicdashboard.com/index.php/internasional/122-perkembangan-internasional-2013ii. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 10.38 WIB
59
Ibid
60
Ibid
58
30
Grafik II.2.1.2. Neraca Perdagangan Migas Indonesia, Januari 2008 – April 2013
Selain itu, defisit juga terjadi pada sektor perdagangan non-migas. Neraca
perdagangan non migas tercatat defisit 0,41 miliar Dollar AS pada April 2013,
memburuk setelah sebelumnya surplus 1,1 miliar Dollar AS pada Maret 2013.61
Penurunan neraca perdagangan non migas ini ditopang oleh meningkatnya impor non
migas sebesar 15,8%, meskipun pada bulan yang sama ekspor non migas juga
meningkat sebesar 1,7% .62
Jika dibandingkan dengan neraca perdagangan non migas pada April tahun
sebelumnya, maka defisit neraca perdagangan non migas meningkat dari 0,2 miliar
61
62
Ibid
Ibid
31
Dollar AS pada April 2012 menjadi 0,4 miliar Dollar AS pada April 2013.63
Memburuknya kinerja neraca perdagangan non migas tersebut disebabkan oleh
penurunan kinerja ekspor sebesar 2,4% dalam kurun waktu April 2012 hingga April
2013.64
Secara keseluruhan, kinerja neraca perdagangan non migas pada April 2013
mengalami penurunan dibandingkan kinerja neraca perdagangan periode yang sama
tahun sebelumnya. Pada Januari-April 2013, neraca perdagangan non migas tercatat
surplus 2,7 miliar Dollar AS, menurun dari neraca perdagangan non migas pada
Januari-April 2012 yaitu surplus 3,1 miliar Dollar AS.65 Penurunan surplus tersebut
didukung oleh penurunan ekspor non migas sebesar 3% dibandingkan nilai ekspor
pada Januari-April 2012.66
Selama Januari – April 2013, ekspor dari 10 golongan barang yang terdiri dari
bahan bakar minyak, lemak dan minyak nabati, mesin/peralatan listrik, karet dan
barang dari karet, mesin-mesin/ pesawat mekanik, bijih, kerak dan abu logam,
kendaraan dan bagiannya, pakaian jadi bukan rajutan, alas kaki, dan kayu, barang dari
kayu memberikan kontribusi sebesar 62,10% terhadap total ekspor non migas. 67 Hal
ini dapat diihat pada grafik di bawah ini:
63
Ibid
Ibid
65
Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Defisit. Indonesian Economic Review and Outlook
Macroeconomic Dashboard FEB UGM. Dikutip dari
http://macroeconomicdashboard.com/index.php/internasional/122-perkembangan-internasional-2013ii. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 10.38 WIB
66
Ibid
67
Ibid
64
32
Grafik II.2.1.3 Neraca Perdagangan Non-Migas Indonesia, Januari 2008 – April
2013
33
2.2 Peran Indonesia dalam ASEAN Free Trade Agreement (AFTA), Asia Pacific
Economic Cooperation (APEC) dan World Trade Organization (WTO)
Gambar II.2.2 Peta Asia Pasifik
Setelah sebelumnya telah dibahas mengenai kondisi perekonomian
Indonesia serta potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam perdagangan
internasional, maka sub bab ini akan membahas mengenai keaktifan serta peran
Indonesia di beberapa kerjasama ekonomi internasional seperti AFTA, APEC dan
WTO.
34
Dengan menganut asas politik luar negeri Bebas Aktif, Indonesia telah
melibatkan diri secara aktif dalam berbagai forum dan kerjasama internasional di
berbagai bidang baik politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan serta sosial budaya.
Dalam bidang ekonomi Indonesia telah bergabung dan berperan secara aktif di dalam
kerjasama mulai dari skala sub regional seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA),
skala regional yaitu Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) hingga skala global
yaitu World Trade Organization (WTO).
Indonesia telah aktif di dalam Association of Southeast Asia Nations
(ASEAN) karena Indonesia merupakan salah satu pendirinya. ASEAN didirikan pada
8 Agustus 1967 atas prakarsa lima negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura,
Filipina dan Thailand. Adapun salah satu tujuan didirikannya ASEAN adalah
menciptakan kerja sama di bidang perdagangan, penanaman modal, ketenagakerjaan,
pengentasan
masyarakat
dari
kemiskinan,
dan
pengurangan
kesenjangan
pembangunan di kawasan.68
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967,
negara-negara anggota telah menjadikan kerjasama ekonomi sebagai salah satu
agenda utama yang perlu dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi
difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential
trade),
usaha
patungan
(joint
ventures),
68
dan
skema
saling
melengkapi
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Ayo Kita
Kenali ASEAN. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Documents/Tentang%20ASEAN/Buku%20Ayo%20Kita%20Kenali%20ASE
AN.pdf. Diakses pada Minggu, 25 Januari 2015. Pukul 22.04 WIB
35
(complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak
swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan (1976),
Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation
scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced
Preferential Trading arrangement (1987).69
Berkaitan dengan AFTA, pada pertemuan ke-21 AFTA Council tanggal 23
Agustus 2007, kemajuan yang cukup signifikan telah dicapai mengenai implementasi
Work Programme on Elimination of Non-Tariff Barries (NTBs) serta dalam
melakukan revisi mengenai Common Effective Preferential Tarrif (CEPT) AFTA
Rules of Origin, yang diharapkan akan mengurangi biaya transaksi perdagangan serta
memfasilitasi perdagangan di kawasan.70
Terkait dengan liberalisasi perdagangan ini,
ASEAN juga
berhasil
menyelesaikan pembahasan substantif mengenai ASEAN Trade in Goods Agreement
(ATIGA), yang diharapkan akan ditandatangani pada bulan Desember 2008. ATIGA
mengintegrasikan semua inisiatif ASEAN yang berkaitan dengan perdagangan barang
ke dalam suatu comprehensive framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara
berbagai inisiatif. ATIGA akan meningkatkan transparansi, kepastian dan
69
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Ekonomi ASEAN. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Lists/ASEAN/DispForm.aspx?ID=6. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015.
Pukul 12.07 WIB
70
Ibid.
36
meningkatkan AFTA-rules-based system yang merupakan hal yang sangat penting
bagi komunitas bisnis ASEAN.71
ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan capaian penting yang
mengkodifikasi dan menyempurnakan kesepakatan ASEAN di bidang perdagangan
barang, yakni Agreement on Common Effective Preferential Tariff Scheme for the
ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA,1992), Mutual Recognition Arrangement
(MRA, 1998), e-ASEAN (2000), Sektor Prioritas Integrasi (2004), dan perjanjian
ASEAN Single Window (ASW, 2005). Khusus untuk pengurangan / penghapusan tarif
dan hambatan non-tarif internal ASEAN, ATIGA menegaskan kembali kesepakatan
yang telah dicapai sebelumnya, yakni penghapusan seluruh tarif atas produk dalam
kategori Inclusion List (IL) pada 1 Januari 2010 bagi ASEAN-6, dan 2015-2018 bagi
ASEAN-4 (Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam – CLMV), serta penghapusan
hambatan non tarif pada 1 Januari 2010 bagi ASEAN-5, 1 Januari 2012 bagi
Philippines, dan 2015 bagi CLMV (Cambodia-Laos-Myanmar-Vietnam).72 Adapun
ASEAN memberikan pembedaan perlakuan atau treatment bagi negara-negara yang
tergabung dalam CLMV.73 Pembedaan tersebut didasarkan pada perbedaan
kemampuan negara-negara CLMV dalam meliberalisasi produk-produknya yang
masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lainnya di ASEAN.74 Sebagai
71
Ibid
Ibid
73
Wawancara dengan Jedut S Sutoyo. Kepala Seksi Perdagangan Direktorat Kerja Sama Ekonomi
ASEAN. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Senin, 22 Juni 2015.
74
Ibid
72
37
contoh yaitu pembedaan jadwal penuruan tarif bagi negara-negara CLMV yang
diperpanjang oleh ASEAN.75
Pemberlakuan pembedaan jadwal penuruan tarif oleh ASEAN disebut Common
Effective Preferrential Tariff (CEPT).76 Adapun beberapa perubahan terjadi di
negara- negara CLMV, antara lain: Bagi Kamboja, pemberlakukan CEPT turut
meningkatkan pendapatannya sebesar 470 juta Dollar AS. Laos mengalami
peningkatan pendapatan dari CEPT sebesar 30-70 juta Dollar AS atau meyumbang
sebesar 12,9% dari total pendapatannya. Sedangkan Myanmar mendapatkan
keuntungan sebesar 67 juta Dollar AS dari pemberlakukan CEPT meski hanya
menyumbang sekitar 0,4 % - 0,5% dari total pendapatan pemerintah Myanmar.
Adapun bagi Vietnam, pemberlakuan CEPT meningkatkan pendapatan sebesar 320
juta Dollar AS atau sekitar 75% dari pendapatannya di ASEAN.
Sedangkan dalam bidang liberalisasi jasa, sektor Jasa memegang peranan
penting di ASEAN dengan rata-rata 40-50% GDP negara ASEAN berasal dari sektor
jasa.77 Jasa juga berperan penting dalam perekonomian Indonesia dengan porsi 46%
total GDP pada tahun 2007.78 Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi melalui
liberalisasi perdagangan di bidang jasa, negara-negara ASEAN telah menyepakati dan
mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada tanggal 15
Desember 1995 di Bangkok, Thailand. Selanjutnya untuk menindaklanjuti
75
Ibid
CLMV Countries Under AFTA: Coping With Revenue Losses. ASEAN One. April. 2005
77
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Ekonomi ASEAN. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Lists/ASEAN/DispForm.aspx?ID=6. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015.
Pukul 12.07 WIB
78
Ibid
76
38
kesepakatan tersebut, telah dibentuk Coordinating Committee on Services (CCS)
yang bertugas menyusun modalitas untuk mengelola negosiasi liberalisasi jasa dalam
kerangka AFAS yang mencakup 8 (delapan) sektor, yaitu: Jasa Angkutan Udara dan
Laut, Jasa Bisnis, Jasa Konstruksi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pariwisata,
Jasa
Keuangan, Jasa Kesehatan dan Jasa Logistik.79 Indonesia mendorong liberalisasi
sektor jasa melalui Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan sebagai
koordinator (Tim Koordinator Bidang Jasa) di semua forum dan sektor, termasuk
sebagai pengelola sektor jasa keuangan non-bank dan jasa profesi (akuntan dan
penilai).80
Sejak penandatangan AFAS hingga saat ini, negara-negara anggota ASEAN
telah menyepakati enam paket komitmen liberalisasi jasa. KTT ASEAN ke-13 di
Singapura pada November 2007 telah menyepakati pengesahan paket keenam tersebut
sebagai kelanjutan liberalisasi jasa di bawah AFAS. Prinsip, strategi dan modalitas
untuk liberalisasi jasa tersebut ditujukan guna mewujudkan realisasi bebasnya arus
perdagangan jasa ASEAN dalam rangka pembentukan kawasan ekonomi terintegrasi
“Komunitas Ekonomi ASEAN” tahun 2015. Integrasi perdagangan jasa ASEAN akan
dilaksanakan dengan mengacu pada Cetak Biru Pembentukan Komunitas Ekonomi
ASEAN yang juga telah disepakati pimpinan ASEAN pada kesempatan KTT ASEAN
tersebut.81
79
Ibid
Ibid
81
Ibid
80
39
Dalam bidang investasi, ASEAN Comprehensive Investment Agreement
(ACIA) ditandatangani oleh menteri-menteri ASEAN pada tanggal 26 Februari 2009.
ACIA merupakan hasil konsolidasi dan revisi dari dua Perjanjian Investasi ASEAN:
the 1987 ASEAN Agreement for the Promotion and Protection of Investments (juga
dikenal sebagai ASEAN Investment Guarantee Agreement atau ASEAN IGA) dan
the 1998 Framework Agreement on the ASEAN Investment Area (dikenal sebagai
“AIA Agreement”), serta protokol-protokol yang terkait. Tujuan penggabungan
kedua perjanjian tersebut adalah untuk menghadapi situasi global yang lebih
kompetitif dan dengan pandangan menuju peningkatan daya tarik ASEAN sebagai
tujuan investasi, menciptakan rejim investasi yang bebas dan terbuka, serta
mewujudkan tujuan- tujuan integrasi ekonomi. ACIA merupakan perjanjian investasi
yang komprehensif yang mencakup bidang manufaktur, pertanian, perikanan,
kehutanan, pertambangan dan penggalian, dan jasa-jasa yang terkait dengan lima
sektor tersebut.82
Di bawah ACIA, liberalisasi investasi akan bersifat progresif dengan tujuan
untuk mewujudkan lingkungan investasi yang bebas dan terbuka di kawasan ASEAN
sesuai dengan tujuan ASEAN Economic Community. Hal ini juga membuka
kesempatan untuk liberalisasi sektor lain di masa yang akan datang. Oleh karena itu
82
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Informasi Umum: Masyarakat Ekonomi ASEAN.
2011. Hal 35. Dikutip dari:
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Buku%20Masyarakat%20Ekonomi%20
ASEAN/Buku%20Informasi%20Umum.pdf. Diakses pada Senin, 26 Januari 2015. Pukul11.22 WIB
40
ACIA mencakup: 83 Pertama, ketentuan investasi yang komprehensif pada empat pilar
utama yaitu: liberalisasi, perlindungan, fasilitasi dan promosi. Kedua, batas waktu
yang jelas untuk liberalisasi investasi. Ketiga, manfaat bagi investor kepemilikan
asing yang berbasis di ASEAN. Keempat, mempertahankan perlakuan preferensi
AIA. Kelima, penegasan kembali ketentuan yang relevan dari AIA dan ASEAN IGA,
seperti national treatment dan most favoured-nation treatment.
Dari penjelasan di atas, posisi Indonesia dalam AFTA serta aktivitas
perdagangannya dengan negara lain antara lain:
Tabel II.2.2.1 Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke ASEAN
No.
Jenis Produk
Negara Tujuan
1
Tekstil dan produk tekstil
Malaysia, Thailand, dan Vietnam
2
Elektronik
Singapura,
Malaysia,
Thailand,
dan
Vietnam.
3
Karet
Singapura
4
Produk hutan
Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand.
5
Alas Kaki
Singapura
6
Otomotif
Thailand, Filiipina, Malaysia, Singapura,
dan Myanmar
7
83
Udang
Vietnam, Singapura, dan Malaysia
Ibid
41
8
Coklat
Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand
9
Kopi
Malaysia dan Singapura
10
Kulit dan produk kulit
Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
11
Peralatan
dan
instrumen Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
medis
12
Rempah-rempah untuk obat
Malaysia,
Singapura,
Vietnam,
dan
Thailand.
13
Makanan olahan
Malaysia, Filipina, Singapura, Kamboja,
Thailand, Vietnam.
14
Essential oil
Singapura
15
Ikan dan produk ikan
Thailand,
Vietnam,
Singapura,
dan
Malaysia.
16
Produk Kerajinan
Singapura dan Malaysia
17
Perhiasan
Singapura, Thailand, dan Malaysia.
18
Bumbu
Vietnam,
Singapura,
Malaysia,
dan
Thailand.
19
Peralatan tulis selain kertas
Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.
Sumber: Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Tahun 201384
84
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2013
42
Tabel di atas menjelaskan mengenai produk-produk unggulan Indonesia
yang menjadi komoditas utama. Komoditas-komoditas tersebut dieskpor ke seluruh
negara-negara di ASEAN sehingga perdagangan Indonesia dengan negara-negara di
ASEAN terfokus kepada daftar komoditas di atas.
Dengan diberlakukannya AFTA, beberapa perubahan terjadi dalam
perekonomian Indonesia, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel II.2.2.2 Pengaruh AFTA terhadap Perekonomian Indonesia
Sebelum AFTA Setelah AFTA
No.
1.
2.
Keterangan
(2001-2003)
(2004-2012)
1,1%
6,2%
95,672
245,730
Barang Akhir
4,721
20,028
Barang Antara
58,262
272,221
Pertumbuhan ekonomi
Ekspor (Rp. Milyar)
Impor (Rp. Milyar):
3.
Ouput (Milyar)
300,392
1,023,951
4.
PDB atau NTB (Milyar)
160,201
575,415
5.
Pendapatan Masyarakat (Milyar)
30,856
117,936
43
6
Penyerapan Tenaga Kerja (Ribu Orang)
1,347
5,409
Sumber: Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Tahun 201385
Tabel di atas merupakan tabel perbandingan terhadap perekonomian
Indonesia sebelum dan sesudah diberlakukannya AFTA. Dari perbandingan tersebut
dapat dilihat bahwa keseluruhan aspek dari perekomian Indonesia mengalami
pertumbuhan yang sangat signifikan. Hal tersebut berarti AFTA memberikan dampak
positif bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia.
Adapun sektor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
ASEAN yaitu sektor jasa yang memberikan kontribusi sekitar 47% terhadap
GDP ASEAN dan 47,2% terhadap GDP Indonesia tahun 2012.86 Dengan semakin
terbukanya kesepakatan di sektor jasa, ditargetkan peningkatan kontribusi sebesar
70% pada tahun 2025.87
Selain itu, total ekspor jasa ASEAN sebesar 319,7 Milyar Dollar AS dan
total impor jasa ASEAN sebesar 306,5 Milyar Dollar AS tahun 2012. Dalam
bidang investasi, total investasi Jasa ASEAN sebesar 108, 21 Milyar Dollar AS
(2012).88 Sedangkan aliran investasi intra ASEAN mencapai 26.27 milyar Dollar
85
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2013
Ibid
87
Ibid
88
Ibid
86
44
AS pada tahun 2011 dan sebesar US$ 5.8 milyar atau 22,23% masuk ke
Indonesia.89
Adapun perkembangan aktivitas perdagangan Indonesia dengan negaranegara ASEAN yaitu ekspor Indonesia ke ASEAN pada bulan Februari 2013
menurun sebesar -2,7% dibandingkan Januari 2013.90 Namun secara kumulatif
selama periode Januari-Februari 2013, ekspor Indonesia mengalami peningkatan
sebesar 9,7% ke ASEAN dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012.91
Negara tujuan dengan pangsa ekspor terbesar Indonesia di ASEAN selama
periode ini adalah Singapura, Malaysia dan Thailand, dengan pangsa ekspor
masing-masing sebesar 43,3%, 25,5 persen dan 14,6 persen.92
Jika dilihat dari neraca perdagangan total, Indonesia defisit sebesar -2.075,4
juta Dollar AS selama Januari-Februari 2013 dan -1.114,7 juta Dollar AS pada
Februari 2013.93 Selama Januari-Februari 2013, defisit perdagangan terbesar
terjadi antara Indonesia dengan Singapura dan Thailand, yaitu sebesar -1.652,3
juta Dollar AS dan -773,4 juta Dollar AS.94 Sementara pada Februari 2013, defisit
89
Ibid
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Perkembangan Ekspor Impor dalam Kerangka
ASEAN FTA. Hal 66. Dikutip dari
http://www.bappenas.go.id/files/5313/8078/7636/Laporan_Triwulan_I_Tahun_2013_Deputi_Ekonomi
_Bappenas.pdf. Diakses pada Seninm 26 Januari 2015. Pukul 11.38 WIB
91
Ibid
92
Ibid
93
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Perkemangan Ekonomi Indonesia Triwulan I
2013: Perkembangan Ekspor Impor dalam Kerangka ASEAN FTA. Hal 66. Dikutip dari
http://www.bappenas.go.id/files/5313/8078/7636/Laporan_Triwulan_I_Tahun_2013_Deputi_Ekonomi
_Bappenas.pdf. Diakses pada Senin 26 Januari 2015. Pukul 11.38 WIB
94
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Perkemangan Ekonomi Indonesia Triwulan I
2013: Perkembangan Ekspor Impor dalam Kerangka ASEAN FTA. Hal 66. Dikutip dari
90
45
perdagangan terbesar adalah dengan Singapura dan Thailand, yaitu sebesar -741,1
juta Dollar AS dan -472,7 juta Dollar AS.95
Selain itu, nilai perdagangan Indonesia dengan ASEAN dapat dilihat pada
grafik di bawah ini:
Grafik II.2.2 Nilai Perdagangan Indonesia dengan ASEAN (USD Juta)
2009-2013
Sumber: Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN. Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia96
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa sebelumnya Indonesia mengalami
surplus neraca perdagangan dengan negara ASEAN, namun 2 (dua) tahun terakhir
(2012 & 2013) mengalami defisit, sebagai akibat peningkatan impor dari Thailand
dan Vietnam yang cukup besar, yakni sekitar 800 juta Dollar AS dari Thailand dan
http://www.bappenas.go.id/files/5313/8078/7636/Laporan_Triwulan_I_Tahun_2013_Deputi_Ekonomi
_Bappenas.pdf. Diakses pada Senin 26 Januari 2015. Pukul 11.38 WIB
95
Ibid
96
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2013
46
300 juta Dollar AS dari Vietnam. Impor utama penyumbang defisit adalah sektor
otomotif dan gula dari Thailand dan dari Vietnam97 antara lain sektor besi dan baja,
dan termasuk beras.98
Selain AFTA, di skala regional, Indonesia juga turut berpartisipasi aktif dalam
kerjasama ekonomi yaitu Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Asia-Pacific
Economic Cooperation (APEC) adalah forum kerja sama ekonomi di kawasan
Samudera Pasifik yang didirikan pada tahun 1989. Saat ini terdapat 21 Ekonomi yang
menjadi anggota APEC, antara lain Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cili,
Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, New
Zealand, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika
Serikat, dan Vienam. Kerja sama di APEC merupakan kerja sama non-politis,
ditandai dengan keanggotaan Hong Kong dan Taiwan. Anggota APEC disebut
“Ekonomi” karena setiap anggota saling berinteraksi sebagai entitas ekonomi, bukan
sebagai negara. Selain itu, APEC memiliki tiga pengamat (observer), yaitu ASEAN
Secretariat, Pacific Economic Cooperation Council (PECC), dan Pacific Islands
Forum (PIF) Secretariat.99
Selain itu, APEC memiliki tujuan yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi
dan meningkatkan kesejahteraan di Asia Pasifik. Hal ini dilakukan dengan
97
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2013
Ibid
99
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Dikutip
dari
http://www.kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=RegionalCooperation&IDP=3&P=Regional&l
=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 12.03 WIB
98
47
mendorong dan memfasilitasi perdagangan dan investasi yang lebih bebas dan
terbuka di kawasan, serta meningkatkan kerja sama pengembangan kapasitas
Ekonomi anggota. Untuk itu, telah ditetapkan suatu target “the Bogor Goals”,
sebagai hasil kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Bogor pada tahun
1994 dengan komitmen sebagai berikut:
“… with the industrialized economies achieving the goal of free and open trade
and investment no later than the year 2010 and developing economies no later than
the year 2020.”100
Sedangkan prinsip-prinsip dalam kerjasama APEC, antara lain: prinsip
perdagangan dan investasi bebas, prinsip kerjasama internasional, prinsip solidaritas
regional, prinsip manfaat yang sama, prinsip saling menghormati dan egaliterisme,
prinsip pragmatisme, prinsip pengambilan keputusan berdasarkan konsensus dan
implementasi yang fleksibel, dan rinsip “open regionalism” (regionalisme terbuka)101
Kedelapan prinsip tersebut merupakan landasan fundamental untuk setiap bentuk
kerjasama APEC. Indonesia sebagai anggota dan penggerak lahirnya Bogor Goals
menerima sepenuhnya kedelapan prinsip tersebut sebagai landasan kerjasama dengan
anggota lainnya.102
Selain itu, menurut Awani Erawati, seorang peneliti dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), APEC membawa manfaat bagi Indonesia, antara lain:
100
Ibid
Awani Irewati, et al. Indonesia dan APEC: Dalam Perkembangan Ekonomi Politik Internasional.
PPW-LIPI. 1997. Hal 33
102
Ibid
101
48
Pertama, Sebagai sarana untuk membangun kepercayaan dan hubungan yang saling
menguntungkan dengan negara/ekonomi mitra strategis Indonesia di kawasan Asia
Pasifik. Kedua, sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing
Indonesia, melalui proyek-proyek pelatihan teknis dan capacity building serta sharing
of best practices. Ketiga, sebagai sarana untuk memastikan bahwa pasar Asia-Pasifik
tetap terbuka bagi produk ekspor unggulan Indonesia.103
Terkait dengan aktivitas perdagangan Indonesia dengan negara-negara APEC
terjadi peningkatan total perdagangan yaitu sebesar 276,589.1 Milyar Dollar AS pada
tahun 2013 dibandingkan 29,9 Milyar Dollar AS pada tahun 1989 pada saat Indonesia
turut mendirikan APEC. Keempat, sebagai sarana peningkatan investasi. Selanjutnya
pada tahun 2012 tercatat total investasi portofolio yang masuk ke Indonesia dari
anggota APEC lainnya adalah sebesar 245,200.5 Milyar Dollar AS dibandingkan
45,7 milyar Dollar AS pada tahun 2001.104
APEC merupakan lapisan terbesar dalam arsitektur Kawasan Asia Pasifik dan
memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu pilar utama Arsitektur
Kawasan. Beberapa modalitas utama APEC, yang bermanfaat bagi efektifitas
Arsitektur Kawasan secara umum, antara lain: Pertama, sembilan negara anggota
APEC adalah anggota G-20 sehingga APEC yang juga merupakan Arsitektur
Kawasan memiliki relevansi untuk membahas isu-isu global strategis; Kedua,
103
Awani Irewati, et al. Indonesia dan APEC: Dalam Perkembangan Ekonomi Politik Internasional.
PPW-LIPI. 1997. Hal 47-54
104
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC).
Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=RegionalCooperation&IDP=3&P=Regional&l
=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 12.03 WIB
49
beberapa ekonomi APEC telah bergabung dalam P-4/TPP-4 yang dalam waktu dekat
akan ada kemungkinan akan berkembang menjadi P-8/TPP-8 (dimana AS dan
Australia akan ada di dalamnya, sehingga memiliki potensi menjadi basis Free Trade
Area of Asia Pacific (FTAAP). Ketiga, APEC memiliki modalitas diplomasi yang
relatif kuat karena berdasar pada Leader Summit. Secara de facto Kawasan Asia
Pasifik telah terintegrasi secara ekonomi dalam lingkup APEC.105
Dalam perundingannya, mekanisme kerja APEC bermuara pada para
Pemimpin Ekonomi APEC yang melakukan pertemuan setahun sekali dalam APEC
Economic Leaders‟ Meeting (AELM). Sebelumnya, para Menteri Luar Negeri dan
Menteri Perdagangan APEC menghadiri pertemuan bersama dalam APEC Ministerial
Meeting (AMM). Lalu hasil kesepakatan para Pemimpin Ekonomi dan Menteri
APEC tersebut ditindaklanjuti oleh para Pejabat Tinggi (Senior Officials) APEC yang
bertemu lazimnya tiga kali dalam setahun. Pada tingkatan teknis, hasil-hasil
pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) akan dilaksanakan oleh Komite, Working
Groups, Fora dan Subfora.106
Seiring dengan semakin kompleksnya isu-isu perdagangan dan investasi di
kawasan, kerja sama sektoral di APEC juga semakin luas dan kompleks. Tidak
kurang dari 34 kelompok kerja, fora dan subfora yang menyelenggarakan pertemuan
105
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Republik
Indonesia. Kertas Kebijakan Prospek Perkembangan Strategis Arsitektur Kawasan Asia Pasifik 20102020: Implikasinya Bagi Politik Luar Negeri RI. 2009-2010. Hal 66
106
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC).
Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=RegionalCooperation&IDP=3&P=Regional&l
=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 12.03 WIB
50
secara rutin. Dalam periode Indonesia menjadi ketua dan tuan rumah di APEC pada
tahun 2013, sebanyak 182 pertemuan untuk berbagai tingkatan telah dilaksanakan.107
Sedangkan posisi Indonesia di APEC pada tahun 2013 adalah melalui
keketuaan Indonesia pada APEC 2013, peran dan posisi Indonesia dalam kancah
internasional akan semakin strategis. Posisi Indonesia sebagai salah satu di antara
sembilan negara APEC yang tergabung dalam G-20 sangatlah strategis dalam
menjaga stabilitas kawasan sekaligus sebagai motor penggerak ekonomi kawasan.108
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 merupakan salah satu yang tertinggi di
Asia Pasifik. Pada 2011, aktivitas perdagangan Indonesia-APEC mencapai 76% dari
total perdagangan Indonesia-dunia. Terlebih masuknya sejumlah negara Amerika
Latin seperti Meksiko, Cili, dan Peru memberikan alternatif ekspor produk nasional
di tengah semakin lemahnya ekonomi sejumlah negara yang menjadi pasar tradisional
Indonesia.109
Sedangkan pada 2012 tren ini juga masih menempatkan Indonesia sebagai
salah satu negara sentral dalam menjaga pertumbuhan ekonomi kawasan. Dengan
produk domestik bruto (PDB) berdasarkan purchasing power parity (PPP) lebih dari
1 triliun Dollar AS dan meningkatnya kelas menengah. Hal ini pada akhirnya
107
Ibid
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation. Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Selasa, 14 April 2015
109
Ibid
108
51
memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia yaitu menjadi salah satu tujuan
investasi di Asia Pasifik.110
Sedangkan peran Indonesia di APEC pada tahun 2013 yaitu meningkatkan
kerjasama dengan berbagai pihak seperti pebisnis dan universitas melalui konsep
„Academic, Business & Government‟.111 Industri memiliki peranan penting sebagai
rumah produksi. Adapun dalam bidang industri, Indonesia bekerjasama dengan
APEC Business Advisory Council (ABAC).112 Melalui Surat Keputusan Presiden
Republik Indonesia No 79/M Tahun 2012 tanggal 31 Agustus 2012, telah ditetapkan
tiga anggota ABAC Indonesia, yaitu Wishnu Wardhana, Group Co-CEO dan Vice
President Director PT Indika Energy Tbk; Anindya Bakrie, Chairman PT Bakrie
Global Ventura; dan Karen Agustiawan, President Director dan CEO PT Pertamina
(Persero), dengan Wishnu Wardhana sebagai Chairman ABAC 2013.113 Para anggota
ABAC ini memiliki peran untuk mengidentifikasi permasalahan dan memberikan
rekomendasi di sektor bisnis agar dapat mencapai kebijakan yang lebih efektif dan
kerjasama ekonomi yang lebih erat di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, pemerintah
juga memiliki peran penting sebagai sumber penghubung yang memastikan
pertukaran barang dan jasa yang stabil. Sedangkan universitas memiliki peran dalam
110
Ibid
Peran Pemerintah dan Sektor Bisnis Indonesia dalam Memanfaatkan Peluang APEC 2013 bagi
Pembangunan Ekonomi di Kawasan Asia Pasifik. Dikutip dari
http://www.apec2013ceosummit.com/press/peran-pemerintah-dan-sektor-bisnis-indonesia-dalammemanfaatkan-peluang-apec-2013-bagi-pembangunan-ekonomi-di-kawasan-asia-pasifik.html. Diakses
pada Senin, 8 Juni 2015. Pukul 11.06 WIB
111
112
113
Ibid
Ibid
52
menciptakan inovasi dalam bidang keilmuan dan teknologi serta pengimplementasian
kewirausahaan. Sinergi antar ketiga pihak tersebut sangat diperlukan agar
menciptakan pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan serta tercapainya
integrasi ekonomi yang erat di kawasan Asia Pasifik.114
Selain AFTA dan APEC, Indonesia juga merupakan anggota kerjasama
ekonomi tingkat global yaitu World Trade Organization (WTO). WTO merupakan
satu-satunya organisasi internasional yang mengatur perdagangan internasional.
WTO terbentuk sejak tahun 1995 dan berjalan berdasarkan serangkaian perjanjian
yang dinegosiasikan dan disepakati oleh sejumlah besar negara di dunia dan
diratifikasi melalui parlemen yaitu DPR atau House of Representative. Tujuan dari
perjanjian-perjanjian WTO adalah untuk membantu produsen barang dan jasa,
eksportir dan importir dalam melakukan kegiatannya.115
Dengan diterbitkannya Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tanggal 2
November 1994 tentang pengesahan (ratifikasi) “Agreement Establising the World
Trade Organization”, maka secara resmi Indonesia telah menjadi anggota WTO dan
semua persetujuan yang ada didalamnya telah sah menjadi bagian dari legislasi
nasional.116 Menjadi anggota WTO berarti terikat dengan hak dan kewajiban.
114
Ibid
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World Trade Organization.
Dikutip dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=13&P=Multilateral&
l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.50 WIB
115
116
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. WTO dan Sistem Perdagangan Dunia. Dikutip dari
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/index.php?module=news_detail&news_category_id=4&n
ews_sub_category_id=1. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.54WIB
53
Disamping itu pula, WTO bukan hanya menciptakan peluang (opportunity) tetapi
juga ancaman (threat).117 Peluang Indonesia di WTO yaitu dapat memperluas pasar
dan meningkatkan pendapatan, sedangkan yang menjadi ancaman yaitu karena
Indonesia masih memproteksi sektor pertaniannya. Hal tersebut dikatakan ancaman
karena di WTO sektor pertanian merupakan sektor yang masuk ke dalam daftar
sektor yang diliberalisasi.118
Pendirian WTO berawal dari negosiasi “Uruguay Round” yang berlangsung
pada 1986 - 1994 serta perundingan sebelumnya di bawah “General Agreement on
Tariffs and Trade” (GATT). Saat ini anggota WTO berjumlah 154 negara, di mana
117 di antaranya merupakan negara berkembang atau wilayah kepabeanan terpisah.
Saat ini, WTO menjadi wadah negosiasi sejumlah perjanjian baru di bawah “Doha
Development Agenda” (DDA) yang dimulai tahun 2001.119
Mekanisme
pengambilan
keputusan,
di
WTO
umumnya
dilakukan
berdasarkan konsensus oleh seluruh negara anggota. Badan tertinggi di WTO adalah
Konferensi Tingkat Menteri (KTM) yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Di
antara KTM, kegiatan-kegiatan pengambilan keputusan WTO dilakukan oleh General
Council yang membawahi badan-badan subsider yang meliputi dewan, komite, dan
117
Ibid
Erwidodo dan Deny Wachyudi Kurnia. Tata Perdagangan Dunia dan Upaya Indoensia Memacu
Ekspor Hasil Pertanian. Dikutip dari
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/Pros_2012_01_MU_Erwidodo.pdf. Diakses pada Jumat,
5 Juni 2015. Pukul 14.43 WIB
119
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World Trade Organization.
Dikutip dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=13&P=Multilateral&
l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.50 WIB
118
54
sub-komite yang bertugas untuk melaksanakan dan mengawasi penerapan perjanjianperjanjian WTO oleh negara anggota.120
Sedangkan prinsip pembentukan dan dasar WTO adalah untuk mengupayakan
keterbukaan batas wilayah, memberikan jaminan atas "Most-Favored-Nation
principle" (MFN) dan perlakuan non-diskriminasi oleh dan di antara negara anggota,
serta komitmen terhadap transparansi dalam semua kegiatannya.121 Terbukanya pasar
nasional terhadap perdagangan internasional dengan pengecualian yang patut atau
fleksibilitas yang memadai, berpotensi akan mendorong dan membantu pembangunan
yang berkesinambungan, meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan, dan
membangun perdamaian dan stabilitas. Pada saat yang bersamaan, keterbukaan pasar
juga harus disertai dengan kebijakan nasional dan internasional yang sesuai dan yang
dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi
sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi setiap negara anggota.122 Sebagai contoh adalah
kebijakan Indonesia melalui pemangkasan biaya-biaya di pelabuhan, penyederhanaan
prosedur dan perizinan, penerapan National Single Window, peningkatan transparansi
dan perbaikan fasilitas pelabuhan internasional.123
120
121
Ibid
Ibid
122
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World Trade Organization.
Dikutip dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=13&P=Multilateral&
l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.50 WIB
123
Hasil Kesepakatan Bali: WTO yang Seimbang dan Inklusif. Tabloid Diplomasi Media Komunikasi
dan Interaksi No. 72 Tahun VII 15 Januari – 14 Februari 2014. Kementerian Luar Negeri Republik
Indonesia. Hal 8
55
Selain itu, Indonesia juga memiliki peran yang cukup berpengaruh signifikan
terhadap perdagangan internasional di WTO. Keterlibatan dan posisi Indonesia dalam
proses perundingan Doha Development Agenda (DDA) didasarkan pada kepentingan
nasional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengentasan
kemiskinan.124 Terkait hal tersebut, untuk memperkuat posisi runding Indonesia
bergabung dengan beberapa koalisi. Koalisi-koalisi tersebut antara lain Government
33 (G-33), Government 20 (G-20), Non-Agricultural Market Access (NAMA-11),
yang kurang lebih memiliki kepentingan yang sama.125 Indonesia terlibat aktif dalam
kelompok-kelompok
tersebut
dalam
merumuskan
posisi
bersama
yang
mengedepankan pencapaian development objectives dari DDA. Indonesia juga
senantiasa terlibat aktif di isu-isu yang menjadi kepentingan utama Indonesia, seperti
pembangunan, kekayaan intelektual, lingkungan hidup, dan pembentukan aturan
WTO yang mengatur perdagangan multilateral.126
Sebagai koordinator multiateral di G-33, Indonesia juga terus melaksanakan
komitmen dan peran kepemimpinannya dengan mengadakan serangkaian pertemuan
tingkat pejabat teknis dan Duta Besar/Head of Delegations, Senior Official Meeting
124
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World Trade Organization.
Dikutip dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=13&P=Multilateral&
l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.50 WIB
125
Ibid
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World Trade Organization.
Dikutip dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation&IDP=13&P=Multilateral&
l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015. Pukul 11.50 WIB
126
56
dan Pertemuan Tingkat Menteri, baik secara rutin di Jenewa maupun di luar Jenewa.
Hal ini bertujuan demi tercapainya kesepakatan yang memberikan ruang bagi negara
berkembang untuk melindungi petani kecil dan miskin. Sebagai koalisi negara
berkembang, G-33 tumbuh menjadi kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam
perundingan pertanian dan anggotanya saat ini bertambah menjadi 46 negara.127
Dalam upaya melindungi petani dan sektor pertanian dalam negeri, Indonesia masih
terus memperjuangkan proposal di G33 yaitu dengan mengajukan usulan untuk dapat
memberikan subsidi sebesar 15% terhadap sektor pertanian dari yang telah ditetapkan
WTO sebesar 10%.128 Hal ini dilakukan agar dapat mencapai ketahanan pangan atau
food security dan membantu petani miskin.129
2.3 Pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan
salah satu perjanjian perdagangan bebas yang dicetuskan oleh ASEAN. RCEP
mencakup perdagangan intra kawasan ASEAN dan di luar kawasan tersebut.
127
130
Ibid
Sri Mas Sri. RI Akan Pertahankan Proposal G33. Dikutip dari
http://industri.bisnis.com/read/20131126/12/188993/ri-akan-pertahankan-proposal-g33. Diakses pada
Jumat, 5 Juni 2015. Pukul 15.14 WIB
129
Rika Febriani. Paket Bali WTO: Menggugat Tanggung Jawab Pemerintah Indonesia. Diktuip dari
http://www.beritamoneter.com/paket-bali-wto-menggugat-tanggung-jawab-pemerintah-indonesia/.
Diakses pada Jumat, 5 Juni 2015. Pukul 15.20 WIB
130
TPP Summary Document. The Australia Malaysia Business Council (AMBC)
128
57
RCEP dibentuk oleh para pemimpin ASEAN pada 19th ASEAN Summit pada
November 2011.131
Kerjasama perdagangan bebas ini berpusat di ASEAN dan akan
mencakup kerjasama dengan mitra FTA ASEAN yang sebelumnya sudah melakukan
hubungan dagang dengan ASEAN antara lain Australia, New Zealand, Jepang,
Tiongkok, Korea Selatan dan India (ASEAN+6). RCEP memiliki 16 negara anggota
yang memiliki kinerja perdagangan yang signifikan karena menyumbang sekitar 30%
GDP global.132
Selain itu, RCEP juga dikatakan sebagai perdagangan bebas yang
memiliki inisiatif yang ambisius untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan
kerjasama antar anggota ASEAN+6. RCEP memiliki target yang harus dicapai pada
tahun 2015 yaitu menyumbang 26,2 triliun Dollar AS bagi GDP global atau sekitar
32%.133
RCEP telah melakukan putaran negosiasi sejak tahun 2013 dan
diperkirakan akan selesai pada tahun 2015. Negosiasi RCEP yang diketuai oleh
Indonesia bertujuan untuk membentuk suatu perjanjian perdagangan bebas yang
komprehensif134 yang artinya kerjasama ini akan bersifat mengikat dan terintegrasi.135
131
Ministry of Trade and Industry Singapore. Press Release Factsheet on The Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP). 2012. Hal 1
132
Ibid
133
Sanchita Basu Das. Challenges in Negotiating the Regional Comprehensive Economic Partership
(RCEP). Singapore’s Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Hal 3
134
Ibid
135
Benny Gunawan Ardiansyah. Siapkah Indonesia Menghadapi Liberalisasi Perdagangan?. Dikutip
dari
58
Beberapa agenda utama di dalam negosiasi RCEP mencakup perdagangan barang dan
jasa, investasi, kerjasama teknik dan ekonomi serta penyelesaian sengketa wilayah.136
Berdasarkan putaran negosiasinya, RCEP telah membahas beberapa
agenda. Putaran 1 dilaksanakan pada tanggal 9-13 Mei 2013 di Brunei Darussalam.
Pertemuan berlangsung dalam suasana yang positif dan konstruktif. Tiga kelompok
kerja dibentuk antara lain Barang, Jasa dan Investasi. Diskusi membahas mengenai
bagaimana merencanakan jalan ke depan di tiga bidang tersebut. Negara anggota juga
bertukar pandangan mengenai bidang lain yang selanjutnya akan menjadi Guiding
Priciples untuk RCEP.137
Putaran 2 dilaksanakan di Brisbane pada 23-27 September 2013. Diskusi
berlanjut pada struktur dan unsur-unsur dari pasal jasa. Hal-hal yang dibahas yaitu
mengenai kemungkinan komitmen akses pasar di berbagai bidang yang menarik bagi
para anggota RCEP. Dalam bidang perdagangan barang, negosiasi terjadi pada
prosedur kepabeanan, ketentuan asal yang berguna pada modalitas untuk negosiasi
tarif dan hambatan non-tarif untuk akses pasar. Sedangkan kelompok kerja yang lain
membahas mengenai Tatalaksana Kepabeanan dan Ketentuan Asal khususnya dalam
bidang investasi. Negosiasi juga berlangsung mengenai kebijakan persaingan,
kekayaan intelektual, kerjasama ekonomi dan teknis dan penyelesaian sengketa.138
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Siapkah%20Indonesia%20Menghadapi%20Liberalisasi
%20Perdagangan.pdf. Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 23.18 WIB
136
Sanchita Basu Das. Challenges in Negotiating the Regional Comprehensive Economic Partership
(RCEP). Singapore’s Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Hal 3
137
TU Thuy Anh and CHU Thi Mai Phuong. On the border effect in the Regional Comprehensive
Economic Partnership (RCEP). Foreign Trade University (Vietnam). Agustus 2014
138
Ibid
59
2.4 Pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP)
Setelah membahas mengenai kondisi perekonomian Indonesia pada tahun
2013 serta peran Indonesia dalam beberapa kerjasama ekonomi internasional seperti
AFTA, APEC dan WTO, selajutnya bab ini akan membahas mengenai pembentukan
Trans Pacific Partnership (TPP).
Pada tahun 2005, empat negara di kawasan Pasifik yaitu New Zealand, Chili,
Singapura dan Brunei Darussalam yang dikenal dengan Pacific Four (P4)
menandatangani sebuah kerjasama perdagangan bebas bernama Trans Pacific
Economic Partnership (TSEP). Kerjasama ini mulai berlaku pada tahun 2009.139 TPP
juga diprediksi akan menjadi perdagangan bebas percontohan di abad 21 dengan
standar tinggi serta potensi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi
perdagangan dan investasi.140
Saat ini TPP telah memiliki 12 negara anggota. Adapun kronologi masuknya
negara- negara di Kawasan Pasifik ke dalam TPP bisa dilihat dalam tabel berikut ini:
139
Normaliza Abdul Manaf, et al. The Trans-Pacific Partnership Agreement (TPPA): Impact on health
in Malaysia. International Journal of Innovation and Applied Studies ISSN 2028-9324 Vol. 7 No. 3
Agustus 2014. Hal 1156
140
Ibid
60
Tabel II.2.3 Kronologi Pembentukan TPP
Waktu
Anggota Baru
2005
Chili,
Keterangan
Singapura,
New Awalnya
Zealand, Brunei Darussalam Pacific
September
bernama
Stategic
(P4/Pacific Four)
Partnership (TPSEP)
Amerika Serikat
TPSEP
2008
mulai
TransEconomic
mendapat
perhatian global
November
Australia, Vietnam dan Peru
2008
Oktober
Malaysia
TPESP berganti nama menjadi
2010
TPP
Juni 2012
Kanada dan Meksiko
Disebut sebagai TPP-11 (11
anggota)
Total
12 Negara
Anggota
Diolah dari: Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013
Sedangkan berdasarkan tujuannya, TPP membaginya menjadi tiga
wilayah utama antara lain:
141
Pertama, melanjutkan liberalisasi perdagangan dan
141
Normaliza Abdul Manaf, et al. The Trans-Pacific Partnership Agreement (TPPA): Impact on health
in Malaysia. International Journal of Innovation and Applied Studies ISSN 2028-9324 Vol. 7 No. 3
Agustus 2014. Hal 1158
61
investasi yang telah dilaksanakan melalui WTO dan dan inisiatif perjanjian
perdagangan bebas yang telah dilaksanakan oleh para negara anggota. Kedua,
membangun peraturan yang transparan dan dapat diprediksi serta disiplin dengan cara
yang memadai dalam hal penyelesaian sengketa. Sebagai contoh penyelesaian
sengketa tersebut adalah adanya kesepakatan mengenai Multilateral Environmental
Agreement (MEA) yang di dalamnya terdapat peraturan untuk melindungi flora dan
fauna atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora
and Fauna (CITES).142 Adapun cara yang digunakan dalam proses penyelesaian
sengketa yaitu melalui konsultasi dengan negara lain yang prosesnya meliputi
konsultasi awal, pertemuan komite gabungan yang mewakili pejabat perdagangan
tingkat kabinet masing-masing negara dan pembentukan panel penyelesaian
sengketa.143 Ketiga, membangun lingkungan kerjasama yang inklusif dan transparan
serta membuka kesempatan bagi pihak lain untuk bergabung melalui cara dan
informasi yang memadai bagi pertumbuhan ekonomi yang signifikan.144 Hal tersebut
merupakan salah satu manfaat TPP yang ditawarkan kepada negara lain yang ingin
bergabung. Melalui TPP negrara-negara anggota selain akan mendapatkan
142
Joshua P Meltzer. The Trans-Pacific Partnership Agreement, the Environment and Climate
Change. Trade Liberalisation and International Co-operation: A Legal Analysis of the Trans-Pacific
Partnership Agreement, Edward Elgar. 2014. Hal 6
143
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014. Hal 47
144
Normaliza Abdul Manaf, et al. The Trans-Pacific Partnership Agreement (TPPA): Impact on health
in Malaysia. International Journal of Innovation and Applied Studies ISSN 2028-9324 Vol. 7 No. 3
Agustus 2014. Hal 1158
62
keuntungan berupa akses pasar yang lebih luas juga dapat meningkatkan
perekonomian negara-negara anggota. Hal ini juga ditunjukkan oleh data yang
menyatakan bahwa pendapatan rata-rata per tahun negara-negara anggota TPP
mencapai 57,4% atau setengah dari pendapatan dunia.145
Tiga tahun setelah pembentukannya yaitu tahun 2008, TPP belum menjadi
sorotan dunia internasional. Hal ini disebabkan yang menjadi anggotanya adalah
negara-negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) kecil dan tidak signifikan.
Namun hal itu berubah secara signifikan setelah Amerika Serikat masuk dan menjadi
ketua. Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat
memiliki potensi untuk dapat mengajak negara-negara lain dapat bergabung.146
Selain itu, Amerika Serikat juga memiliki peran penting di TPP dalam
menciptakan keseimbangan kebijakan perdagangan bebasnya di dalam kawasan Asia
Pasifik. Sehingga dapat berfungsi untuk membentuk arsitektur ekonomi di kawasan
tersebut. Hal ini pula yang dapat menjadi potensi bagi Amerika Serikat untuk
menyelaraskan perjanjian dengan mitra perdagangan bebasnya yang lain.147
Sedangkan permasalahan yang dibahas di dalam TPP antara lain; belanja
pemerintah (government procurement), hak kekayaan intelektual (intellectual
145
Andri. Kebijakan Amerika Serikat Untuk Memenuhi Kepentingan Ekonominya Melalui TransPacific Partnership Tahun 2011-2013. Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. 2013. Hal 42
146
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Hal 64
147
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014
63
property rights)¸ peraturan asli, kompetisi, tenaga kerja dan lingkungan.148 Dalam
pelaksanaannya, peraturan yang dibahas akan lebih ketat dibanding apa yang telah
dibahas di WTO. Di TPP, beberapa hal baru juga dibahas yaitu mengenai Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), peraturan koherensi serta daya saing rantai pasokan
(supply chain competitiveness). Hal ini juga akan berdampak kepada pertumbuhan
ekonomi negara anggota yang tergolong sebagai negara yang maju dalam bidang
industri, pendapatan menengah dan ekonomi berkembang, sehingga memungkinkan
negara anggota untuk melakukan restrukturisasi ekonomi yang akan berdampak pada
pertumbuhan ekonomi di kawasan.149 Restrukturisasi tersebut dilakukan melalui
peningkatan kemampuan masing-masing negara anggota di pasar regional maupun
internasional. Sebagai contoh yaitu Jepang yang sudah memiliki “Action Plan for
Economic Structural Reform” yang berdampak pada perubahan lingkungan bisnis
yang sangat signifikan serta adanya perumusan “Growth Strategy” oleh Partai
Demokratik Jepang yang berusaha untuk merestrukturisasi Industri Jepang,
mendorong model bisnis yang canggih, dan meningkatkan integrasi ekonomi antara
Jepang, Berkembang Asia dan lainnya anggota komunitas Asia-Pasifik, termasuk
Amerika Serikat.150 Karena alasan inilah yang pada akhirnya Jepang bergabung ke
TPP.
148
Ibid
Ibid
150
Kenichi Kawamoto. Japan Looks to Trans-Pacific Partnership to Transform its Economy. Japan
External Trade Organization. Februari 2011. Hal 1
149
64
Berdasarkan pelaksanaan perundingannya, negosiasi di TPP telah dilaksanakan
sejak Maret 2010. Dari 29 bab di dalamnya, 14 bab di dalamnya telah dirundingkan
mengenai Sanitary dan Phytosanitary (SPS), bea cukai, perdagangan jasa,
telekomunikasi, pengadaan pemerintah, pembangunan, usaha kecil dan menengah,
definisi pada bab yang akan dibahas serta aturan kelembagaannya.151
2.4.1
Manfaat Trans Pacific Partnership (TPP)
Sebagai sebuah perdagangan bebas yang diprediksi akan menjadi
model terbaik di abad ke-21, TPP menawarkan beberapa manfaat bagi negaranegara yang bergabung di dalamnya. TPP memiliki prospek di masa depan
berdasarkan potensi yang dimilikinya sehingga akan memberikan manfaat
bagi negara-negara yang bergabung di dalamnya.
Terkait dengan manfaat dan potensi yang akan diberikan oleh TPP,
para pemimpin negara dan juga para menteri perdagangan mengkategorikan
TPP sebagai sebuah perjanjian perdagangan yang komprehensif, perjanjian
perdagangan bagi generasi yang akan datang. Hal tersebut disebabkan
kegiatannya akan meliputi liberalisasi perdagangan, investasi dan juga
membicarakan isu tradisional dan mutakhir atau next generation issues seperti
151
Briefing Notes. Malaysia Involvement on The Trans Pacific Partnership. Hal 2. Dikutip dari
http://www.miti.gov.my/storage/documents/c94/com.tms.cms.document.Document_62357eeac0a8156f-2c11008e-9a1ecbed/1/TPP%20-%20Briefing%20Notes.pdf. Diakses pada Minggu, 1
Februari 2015
65
e-commerce, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan kebijakan perburuhan
yang menjadi tantangan di abad ke-21 ini.152
Selain itu, TPP juga sangat penting dalam hal strategis dan ekonomis.
Secara
ekonomis,
TPP
akan
menyatukan
negara-negara
yang
merepresentasikan 40% dari total GDP global dan satu per tiga dari
perdagangan dunia. Secara strategis, TPP merupakan sebuah kesempatan
besar melalui peran Amerika Serikat untuk mempererat kerjasama dengan
mitra dagang lainnya baik yang sudah bergabung di dalam TPP maupun yang
belum. Kesempatan ini akan menjadi sebuah peran untuk memimpin dalam
membuat peraturan perdagangan seiring dengan perubahan kondisi kawasan
yang sedang kritis.153
152
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation. Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Selasa, 14 April 2015
153
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014. Hal 5
66
Gambar II.2.3.1.Issues Covered by the TPP
Sumber: Trans-Pacific Partnership Agreement154
Penjelasan mengenai beberapa aspek yang menjadi manfaat TPP,
antara lain: Pertama, akses Terhadap Pasar Barang dan Jasa. Dalam aspek ini
TPP berusaha menghilangkan sebagian besar tarif dan kuota perdagangan dan
tidak adanya perlakuan diskriminatif atau most favoured nations (MFN).
Penurunan tarif bervariasi dari 0% menjadi hampir 10%. Penurunan hingga
penghilangan tarif ini akan diberlakukan terhadap 11.000 komoditas untuk
154
Australian Government. Trans-Pacific Partnership Agreement. Hal 11
67
masing-masing negara anggota.
155
Komoditas tersebut meliputi komoditas
pertanian, minyak dan gas, elektronik dan otomotif.156
Kedua, Perdagangan Jasa. Merupakan sebuah prioritas tinggi TPP
untuk meningkatkan akses pasar bagi penyedia jasa terutama jasa keuangan,
termasuk asuransi dan perbankan, jasa profesional, termasuk jasa hukum dan
swasta, pelayanan pendidikan, jasa telekomunikasi, pengiriman ekspres dan ecommerce.157 Terkait perdagangan jasa dalam bidang-bidang tesebut sebagai
contoh yaitu perdagangan jasa akuntansi, hukum dan keungan melalui
perdagangan layanan data yang dilakukan oleh Jepang, Chili, Australia,
Kanada dan negara lainnya.158
Ketiga, dalam hal investasi TPP berpotensi untuk tumbuh menjadi
perjanjian investasi multilateral yang siginifikan berdasarkan sejumlah
prospek dan partisipasi dari anggota serta potensi ekonomi dan ruang lingkup
politik yang terdapat dalam sebuah area perdagangan bebas dan investasi.159
Dari partisipasi tersebut TPP dapat menyumbang 40% bagi PDB global.160
Antusiasme terkait dengan investasi TPP yaitu karena TPP dapat melihat ke
155
Ibid. Hal 18
Brock R Williams. Trans Pacific Partnership(TPP) Countries: Comparative Trade and Economic
Analysis. Congressional Research Service. 2013. Hal 15
157
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014. Hal 17
158
Ibid
159
Leon E Trakman. Investment Dispute Resolution Under The Proposed Transpacific Partnership
Agreement: Prelude to A Slippery Slope?. George Mason Journal of International Commercial Law.
Hal 1
160
Murray Hiebert. How Important is TPP to Our Asia Policy?. Center for Strategic and International
Studies. Hal 42
156
68
masa depan sebagai perjanjian perdagangan yang dapat melanjutkan investasi
multilateral yang telah gagal dan berakhir pada 1990. TPP juga dapat menjadi
sebuah acuan bagi kawasan lainnya untuk menirunya.161 Hal ini disebabkan
TPP mendorong dan mempromosikan arus investasi antar negara anggota atas
dasar saling menguntungkan dan sebagai sarana untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi.162
Keempat, pengadaan pemerintah (Government Procurement). TPP
akan berusaha untuk tidak membatasi pengadaan pemerintah namun
diserahkan secara sukarela kepada negara anggota. Hal ini berarti bahwa
praktek pengadaan pemerintah dapat dilakukan oleh negara-negara anggota
siapa saja. Dalam hal praktek pengadaan pemerintah, segala kebijakan yang
terkait
dengan
perdagangan
harus
berlandaskan
prinsip-prinsip
non
diskriminasi, keterbukaan dan transparansi163 sehingga memungkinkan untuk
membatasi peran pemerintah negara-negara anggota.164 Di dalamnya juga
terdapat prinsip timbal balik yaitu dengan mematuhi aturan mengenai
pengadaan pemerintah, maka anggota akan mendapatkan akses pasar yang
161
Ibid
Trans-Pacific Partnership Investment Chapter country negotiators. Trans Pacific Partnership treaty:
Advanced Investment Chapter working document for all 12 nations. WikiLeaks release. 20 Januari
2015.
163
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Hal 66
164
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation. Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Selasa, 14 April 2015
162
69
lebih luas.165 Sebagai contoh yaitu praktek pengadaan pemerintah dalam
menyediakan fasilitas kesehatan melalui pengadaan peralatan medis yang
dilakukan oleh produsen farmasi disertai dengan adanya jaminan keselamatan
produk.166
Kelima, Agrikultur. Bidang agrikultur merupakan salah satu isu yang
dibahas di dalam TPP yang bertujuan untuk meningkatkan signifikansi
liberalisasi pertanian antar anggota TPP.167 Bidang ini merupakan bidang
paling sensitif di dalam perdagangan bebas yang juga ada pada TPP. Hal ini
dikarenakan produk pertanian masih menjadi penopang perekonomian
domestik
negara-negara
anggota.168
Namun,
hal
inilah
yang
akan
dimaksimalkan di dalam TPP agar bisa menjadi salah satu komoditas yang
bisa diperdagangkan secara bebas dan dengan begitu ini akan mencerminkan
perdagangan bebas percontohan di abad ke-21.169 Di sisi lain, bidang
agrikultur juga merupakan isu yang paling signifikan di TPP dan telah
ditetapkan secara komprehensif mengenai penghapusan tarif pertanian.170
Penghapusan tarif ini memiliki potensi merugikan negara-negara yang tidak
165
Ibid. Hal 20
Trans Pacific Partnership Transparency Chapter-Annex on Transparency and Procedural Fairness
for Healthcare Technology. 2011. Hal 4
167
Mary E. Burfisher, et al. Agriculture in The Trans Pacific Partnership. A Report Summary From
The Economic Research Service. United States Department of Agriculture. 2014
168
Why is Agriculture is Difficult for Trade Deals?. Dikutip dari
http://www.asiantradecentre.org/talkingtrade/2015/4/28/why-is-agriculture-so-difficult-for-trade-deals.
Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 10.51 WIB
169
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014. Hal 21
170
Angga Handian Putra. Peluang, Tantangan dan Implikasi Trans Pacific Partnership. Buletin Kerja
Sama Perdagangan Internasional. Direktorat Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Hal 23
166
70
mampu meliberalisasi sektor pertaniannya. Jika penghapusan tarif terjadi
maka akan berdampak kepada hilangnya pekerjaan bagi petani dan
menurunnya jumlah produksi padi.171
Dari sejumlah potensi yang menjadi topik dalam negosiasi TPP di
atas, secara garis besar, manfaat yang diberikan oleh TPP salah satunya yaitu
menghilangkan hambatan non tarif dalam perdagangan dan investasi antar
negara. Hal ini juga berpotensi untuk menjadi sebuah pola yang akan menjadi
acuan bagi perjanjian perdagangan di masa yang akan datang.172
Manfaat TPP yang lainnya yaitu perdagangan bebas ini dapat
menghasilkan perjanjian yang akan menjadi acuan bagi perjanjian
perdagangan bebas yang lebih luas melebihi dari 11 negara yang sudah
bergabung hingga saat ini. Dalam jangka pendek, Jepang bahkan Korea
Selatan akan bergabung. Sedangkan dalam jangka panjang negara-negara
utama yang ada di dalam kerjasama Asia Pacific Economic Cooperation
(APEC), termasuk Tiongkok dan Rusia akan berusaha menjadi anggota.173
Adapun alasan kedua negara besar tersebut untuk bergabung ke TPP adalah
agar tidak tertinggal oleh negara-negara lain yang telah melakukan kerjasama
171
Why is Agriculture is Difficult for Trade Deals?. Dikutip dari
http://www.asiantradecentre.org/talkingtrade/2015/4/28/why-is-agriculture-so-difficult-for-trade-deals.
Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 10.57 WIB
172
Ian F Fergusson, et al. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations and Issues for Congress.
Congressional Research Service. 2014
173
William Krist. Negotiations for A Trans Pacific Partnership Agreement. Wilson Center: Program
on America and the Global Economy. Hal 20
71
perdagangan bebas di TPP.174 Selain itu, kedua negara tersebut juga ingin
meliberalisasi perdagangannya di semua aspek serta untuk meningkatkan
eksistensinya dalam kerjasama ekonomi multilateral.175
2.4.2 Implikasi Trans Pacific Partnership (TPP) Bagi Kawasan Asia
Tenggara
Negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara dan tergabung
dalam Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) telah memiliki
kerjasama perdagangan bebas yang disebut ASEAN Free Trade Area
(AFTA). Secara garis besar, perdagangan bebas ini mencakup liberalisasi
perdagangan barang, jasa dan investasi.
Berdasarkan letaknya yang strategis yaitu dalam jalur Sea Lanes of
Communication (SLOC), kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu
terpenting bagi pasar perdagangan internasional atau dikategorikan sebagai
emerging market. Kawasan ini menjadi pusat kepentingan negara-negara
besar karena jumlah konsumennya meliputi 600 juta dengan persebaran 65%
penduduk kelas menengah yang memiliki tingkat daya beli tinggi serta
didukung dengan prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% pada tahun
174
Wawancara dengan Arif Sulaksono. Kepala Seksi APEC SOM Committee On Ecotech Dan Working
Groups, Direktorat Kerja Sama Intrakawasan Asia Pasifik dan Afrika, Ditjen Asia pasifik dan Afrika.
Kementerian Luar Negeri RI. Senin, 22 Juni 2015
175
Ibid
72
2017.176 Sedangkan dalam bidang investasi, Asia Tenggara menjadi kawasan
yang prospektif dikarenakan pertumbuhan Foreign Direct Investment (FDI)
mencapai 100% sejak tahun 2010.177
Baik TPP maupun AFTA, keduanya merupakan bentuk dari Free
Trade Agreements (FTAs). Keduanya juga sama-sama memiliki tujuan untuk
mereduksi atau menurunkan hambatan tarif dan non tarif dalam aktivitas
perdagangannya. Dibandingkan AFTA
yang hanya
bertujuan untuk
menghilangkan hambatan non tarif atau Non Tariff Barrier (NTB), TPP
memiliki tujuan yang tak sekedar itu namun juga mencakup masalah bea
cukai, penilaian prosedur dan sanitasi.178 Selain itu, praktek pengadaan
pemerintah (government procurement) juga merupakan salah satu isu yang
diutamakan di dalam TPP yakni tindakan yang dilakukan oleh suatu negara
atau pebisnis untuk memperoleh barang dan jasa yang akan digunakan untuk
instansi publik.179 Praktik pengadaan pemerintah juga memiliki tujuan yaitu
untuk memberikan peluang akses pasar yang baru bagi seluruh anggota TPP
176
Lukman Oseman, et al. Jurnal ISAFIS: Kumpulan Tulisan Inspiratif dari Anak Bangsa.
International Student Association for International Studies. 2013. Hal 53
177
Ibid
178
Alan V. Deardorff. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other
Asian Countries. The University of Michigan. Hal 4
179
http://www.businessdictionary.com/definition/government-procurement.html. Diakses pada Selasa,
17 Maret 2015. Pukul 22.17 WIB
73
dan meningkatkan transparansi serta non diskriminatif terhadap semua mitra
dagang di TPP.180
Keanggotaan negara-negara di Asia Tenggara yang juga menjadi
anggota TPP dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar II 2.3.2.1 Countries by Group ASEAN, TPP AND NON ASEAN, TPP &
ASEAN
Sumber: Alan V. Deardorff. 2013181 Trade Implications of the Trans-Pacific
Partnership for ASEAN and Other Asian Countries.
180
Jean Heilman Grier. Government procurement – key element in TPP; Missed opportunity in RCEP?
Dikutip dari .http://www.asiapathways-adbi.org/2014/03/government-procurement-key-element-intpp-missed-opportunity-in-rcep/. Diakses pada Selasa, 17 Maret 2015. Pukul 22.25 WIB
181
Alan V. Deardorff. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other
Asian Countries. The University of Michigan. 2013. Hal 4
74
Gambar di atas menjelaskan mengenai negara-negara yang menjadi
anggota TPP dan ASEAN. Negara-negara yang ditandai dengan warna merah
seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam dan Kamboja merupakan
negara-negara ASEAN yang telah bergabung ke TPP. Warna hijau
menunjukkan negara-negara yang bergabung ke ASEAN saja sedangkan
warna biru menunjukkan negara-negara anggota TPP dan bukan ASEAN.
Sepuluh negara yang berada di AFTA, termasuk enam di antaranya
yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan
Thailand telah menurunkan tarif bahkan hingga mencapai 0%. Sedangkan
negara lainnya yang memiliki pendapatan per kapita lebih rendah seperti
Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam menurunkan tarifnya sedikit demi
sedikit setidaknya hingga 5%.182 Hal ini mencerminkan bahwa negara-negara
yang tergabung di dalam AFTA memiliki kemampuan atau capacity yang
berbeda
dengan
pembedaan
pemberlakuan
penurunan
tarif
dalam
meliberalisasi sektor perdagangannya.183
Sedangkan keberadaan negara-negara anggota AFTA di dalam TPP
seperti Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia dan Vietnam berada pada
zona merah yang artinya GDP jauh berada di bawah negara-negara anggota
TPP lainnya. Selain itu, GDP anggota-anggota TPP berada sepuluh kali lipat
182
Alan V. Deardorff. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other
Asian Countries. The University of Michigan. 2013. Hal 4
183
Ibid
75
dari anggota-anggota AFTA.184 Hal ini menunjukkan bahwa daya saing
negara-negara anggota AFTA yang juga menjadi anggota TPP masih
memiliki kemampuan GDP yang jauh dari negara-negara TPP meskipun
negara-negara tersebut memutuskan untuk bergabung ke TPP.185
Adapun berdasarkan tingkat pembagian GDP antara negara-negara
anggota AFTA dan TPP serta negara lainnya di Asia dapat dilihat pada
gambar di bawah ini:
Gambar II 2.3.2.2 Shares of GDP for TPP, AFTA and Other Asia
Sumber: Alan V. Deardorff. 2013186
184
Ibid. Hal 5
Ibid
186
Alan V. Deardorff. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other
Asian Countries. 2013. Hal 5
185
76
Gambar di atas menjelaskan mengenai GDP negara-negara anggota TPP, TPP
dan AFTA serta negara-negara Asia lainnya. Dari keseluruhan perbandingan GDP
tersebut negara-negara TPP lah yang memiliki prosentasi tertinggi yaitu 51%.
Sedangkan bagi negara-negara yang bergabung dalam AFTA dan juga TPP hanya
memperoleh pembagian GDP sebesar 2%. Hal ini menunjukkan bahwa TPP masih
menduduki peringkat tertinggi dalam pembagian GDP antar negara-negara
anggotanya sedangkan negara lainnya memiliki ketimpangan yang sangat jauh.187
Selain tingkat GDP, dampak yang terjadi dari TPP bagi negara-negara di Asia
Tenggara yaitu adanya keanggotaan yang bersifat tumpang tindih atau overlapping
membership.188 Artinya, TPP akan membentuk FTA dengan beberapa negara yang
sendirinya sudah menjadi bagian dari FTA lain antara negara-negara ASEAN.
Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: pertama, negara-negara anggota TPP
sudah menjadi anggota perjanjian perdagangan bebas sebelumnya, yaitu sebagian
besar sudah dilaporkan oleh WTO sebagai Economic Partnership Agreements
(EPAs). Ada 66 hubungan antar negara yang telah menjalin kerjasama perdagangan,
sedangkan 40 diantaranya adalah perjanjian perdagangan yang telah dilakukan oleh
anggota TPP. Kedua, ada enam negara yang menjadi anggota baik TPP maupun
AFTA yang hanya memiliki EPAs yaitu Brunei Darussalam dan Singapura.
Sedangkan yang lainnya diprediksi akan membentuk perjanjian kerjasama
187
188
Ibid
Ibid
77
perdagangan yang lebih luas dan komprehensif. Ketiga, telah ada perjanjian
kerjasama yang negosiasinya dilakukan secara berkelompok antara Australia, Jepang
dan Selandia Baru sehingga tidak bersinggungan terhadap TPP dan AFTA.189
Adapun secara lebih spesifik, dampak TPP terhadap negara-negara Asia
Tenggara antara lain Laos, Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand yang tergabung
dalam AFTA yaitu semua negara-negara ini memiliki dasarnya konfigurasi yang
sama dari FTA, dalam arti bahwa mereka adalah anggota ASEAN, terkait AFTA,
serta FTA ASEAN dan telah melakukan negosiasi dengan negara-negara lain:
Australia dan Selandia Baru, Jepang, Tiongkok, India, dan Korea Selatan.190 Sebagai
dampaknya yaitu negara-negara ASEAN akan membentuk sebuah konfigurasi
kerjasama ekonomi di luar TPP yang akan menjadi alternatif baru seperti membentuk
FTA dengan Australia, Jepang, Tiongkok, Selandia Baru dan Korea Selatan.191
Satu-satunya perbedaan antara negara-negara tersebut adalah bahwa
perjanjian ASEAN dengan Jepang hanya FTA, sementara beberapa negara-negara
seperti Indonesia, Filipina dan Thailand telah menegosiasikan tambahan perjanjian
integrasi ekonomi bilateral.192 Karena negara-negara ini merupakan bagian dari
AFTA tetapi bukan bagian dari TPP. TPP tidak diharapkan untuk memberi
keuntungan bagi negara-negara anggota AFTA, dan sebagai gantinya yaitu
189
Alan V. Deardorff. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for ASEAN and Other
Asian Countries. The University of Michigan. Hal 7
190
Ibid. Hal 16
191
Brock R. Williams. Trans-Pacific Partnership (TPP) Countries: Comparative Trade and Economic
Analysis. CRS Report for Congress Prepared for Members and Committees of Congress Trans-Pacific
Partnership (TPP) Countries. 2013. Hal 8
192
Ibid
78
dibentuknya perjanjian perdagangan yang berbeda sebagai strategi negara-negara
AFTA yang mencari mitra impor yang lebih murah dari pada mitra TPP.193
193
Ibid
79
BAB III
POSISI INDONESIA MENGHADAPI PEMBENTUKAN REGIONAL
COMPREHENSIVE ECONOMIC PARTNERSHIP (RCEP) TAHUN 2011 DAN
PEMBENTUKAN TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP (TPP) TAHUN 2013
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai mengenai posisi Indonesia
menghadapi pembentukan RCEP tahun 2011 dan pembentukan TPP tahun 2013 yang
akan mencakup mengenai pembahasan mempertahankan ASEAN Centrality melalui
ASEAN Economic Commuity 2015, mendukung RCEP, dan menolak pembentukan
TPP.
3.1 Mempertahankan ASEAN Centrality melalui ASEAN Economic Community
(AEC) 2015
Sebagai salah satu negara pendiri dan penggerak Association of Southeast
Asia Nations (ASEAN), Indonesia memiliki peran penting dalam melakukan
berbagai kegiatan di dalam kerjasama multilateral ini. Berbagai aspek yang ada di
dalamnya seperti politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan
turut memberikan pengaruh bagi pelaksaan politik luar negeri Indonesia. Terkait
dengan aspek-aspek tersebut, ASEAN memutuskan untuk membentuk sebuah
komunitas yang disebut ASEAN Community. Komunitas ini selanjutnya
membentuk tiga pilar kerjasama, antara lain: ASEAN Political Security
80
Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio Cultural
Community.
Pada Oktober 2003, telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) ASEAN di Bali yang dihadiri oleh para pemimpin ASEAN. KTT ini
merupakan deklarasi dari para pemimpin ASEAN yang menyatakan bahwa
ASEAN Economic Community (AEC) merupakan tujuan integrasi ekonomi
regional (Bali Concord II) pada tahun 2020. Selanjutnya, pada KTT ASEAN ke12, para pemimpin ASEAN menegaskan komitmen yang kuat untuk melakukan
percepatan dalam pembentukan Komunitas ASEAN menjadi tahun 2015.194 Hal
ini sejalan dengan Visi ASEAN 2012 dan Bali Concord II serta penandatanganan
Cebu Declaration on Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community
by 2015. Para pemimpin ASEAN secara khusus sepakat untuk mempercepat
pembentukan AEC dan mentransformasikan Kawasan ASEAN menjadi suatu
kawasan dimana terdapat aliran bebas barang, jasa, investasi dan tenaga kerja
terampil serta aliran modal yang lebih bebas.195
Dalam rangka mengintegrasi Kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN
dalam bidang kerjasama ekonomi, ASEAN membentuk sebuah inisiatif yang
disebut ASEAN Economic Community (AEC). AEC dibentuk berdasarkan tujuan
akhir integrasi ekonomi sesuai dengan visi ASEAN pada tahun 2020. Adapun
dalam pembentukan AEC, ASEAN harus melaksanakan prinsip-prinsip yang
194
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri RI. Cetak Biru Komunitas
Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Blueprint). 2009. Hal 6
195
Ibid
81
sesuai dengan ekonomi terbuka, berwawasan keluar, inklusif dan berorientasi pada
pasar yang sesuai dengan peraturan dalam sebuah kerjasama multilateral. 196 Selain
itu, ASEAN juga harus mematuhi sistem yang berdasarkan aturan hukum agar
implementasi komitmen-komitmen dalam kerjasama ekonomi ini dapat berjalan
efektif.197
Sementara itu, Indonesia kini tengah bersaing dalam menyambut AEC
yang akan dimulai pada tahun 2015. Beberapa sektor perdagangan yang telah
disepakati meliputi sektor barang industri yang terdiri atas produk berbasis
perikanan, elektronik, pertanian, produk berbasis karet, tekstil, otomotif dan
produk berbasis kayu.198 Sedangkan lima sektor lainnya antara lain pelayanan
kesehatan, e-ASEAN, transportasi udara, pariwisata dan jasa logistik.199
Pembentukan AEC juga memiliki pendorong dari faktor internal dan
eksternal. Berdasarkan faktor internal, kekuatan ekonomi ASEAN hingga tahun
2013 telah mencapai GDP sebesar 3,36 triliun Dollar AS dengan laju pertumbuhan
sebesar 5,6 % disertai jumlah penduduk 617, 68 juta jiwa.200 Sedangkan
berdasarkan faktor eksternal, Asia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru
yang didukung oleh India, Tiongkok dan negara-negara di ASEAN.201
196
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri RI. Cetak Biru Komunitas
Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Blueprint). 2009. Hal 7
197
Ibid
198
Humphrey Wangke. Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 10/II/P3DI/Mei/2014. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI. Hal 5
199
Ibid
200
Ibid. Hal 5-6
201
Ibid.
82
Selain itu, sejak Indonesia menjadi ketua ASEAN pada tahun 2011,
Indonesia sudah memberikan gagasan yang tertuang dalam pilar ASEAN Economic
Community yaitu mewujudkan ASEAN Framework on Equitable Economic
Development (FED). Framework ini merupakan sebuah penegasan mengenai
bagaimana komitmen yang harus diwujudkan oleh ASEAN dalam mencapai
kesetaraan dalam pembangunan ekonomi dengan mengedepankan upaya-upaya
seperti menjembatani kesenjangan pembangunan, peningkatan kualitas sumber
daya manusia, peningkatan kesejahteraan sosial serta membuka ruang partisipasi
yang lebih luas dalam proses integrasi ASEAN Economic Community.202
Adapun upaya Indonesia dalam mewujudkan FED tersebut adalah
meluncurkan Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada 27 Mei 2011, Indonesia telah melakukan
sejumlah persiapan dalam menghadapi AEC 2015. Persiapan tersebut antara
lain:203 Pertama, memperkuat Daya Saing Ekonomi. MP3EI merupakan salah satu
program yang dilucurkan pada masa kepemimpian Susilo Bambang Yudhoyono
yang bertujuan untuk meningkatkan dan mentransformasi ekonomi Indonesia yang
berbasis pada kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. Adapun daya saing
Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya dapat dilihat pada tabel di bawah
ini:
202
Peningkatan Peran Indonesia dalam ASEAN Framework On Equitable Economic Development
(EED) dalam rangka Ketahanan Nasional. Jurnal Kajian Lemhanas Edisi 16 November 2013. Hal 57
203
Sholeh. Persiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015.
eJournal Hubungan Internasional, 2013, 1 (2): 509-522. Hal 9
83
Tabel 3.2 Daya Saing Negara-negara ASEAN Tahun 2012 - 2013
Negara
Ranking
Bahan
Penunjang
Inovasi dan
Daya Saing
Dasar
Efisiensi
Perkembangan
Industri
Tekonologi
Indonesia
50
58
58
40
Malaysia
25
27
23
23
Singapura
2
1
1
11
Thailand
38
45
47
55
Filipina
65
80
65
64
Brunei
28
21
68
62
Kamboja
85
97
85
72
Laos
-
-
-
-
Myanmar
-
-
-
-
Vietnam
75
91
71
90
Darussalam
Diterjemahkan dari: Jurnal Kajian Lemhanas Edisi 16 November 2013
Tabel di atas memaparkan daya saing negara-negara ASEAN. Dari tabel
tersebut terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki daya saing yang sangat
baik. Misalnya Singapura yang menduduki peringkat dua di dunia. Namun di sisi
84
lain, masih ada beberapa anggota ASEAN yang menduduki peringkat lebih dari 50
di dunia. 204 Sedangkan Indonesia menduduki posisi 50 dari 144 negara.205
Tabel di atas juga menunjukkan bahwa lemahnya daya saing Indonesia di
ASEAN disebabkan karena pasar ASEAN yang sangat besar dan dalam beberapa
tahun ke depan diprediksi akan terus berkembang dan hal tersebut dapat
dimanfaatkan oleh Indonesia dalam meningkatkan daya saing melalui penguatan
pasar dalam negeri.206 Selain itu, proses hiliriasi industri di Indonesia juga berjalan
belum optimal disebabkan oleh belum bersinerginya berbagai stakeholder industri
di Indonesia dalam proses peningkatan hilirisasi tersebut.207 Dalam hal kinerja
logistik, Indonesia menduduki peringkat ke enam di ASEAN, berada di bawah
Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.208 Kinerja logistik ini dapat
diperkuat
melalui
perbaikan
infrastruktur
di
Indonesia
dalam
aktivitas
perdagangan internasionalnya.209
Sejak MP3EI diluncurkan sampai akhir Desember 2011, upaya yang
dilakukan Indonesia dalam meningkatkan daya saing produk adalah dengan
204
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
205
Increase in Indonesia‟s Global Competitiveness Index Reflects Improvements in Its Economic
Performance. Dikutip dari http://setkab.go.id/en/increase-in-indonesias-global-competitiveness-indexreflects-improvements-in-its-economic-performance/. Diakses pada Selasa, 17 Maret 2015. Pukul
23.14 WIB
206
Siprianus Edi Hardum. Daya Saing Indonesia di ASEAN Masih Lemah. Dikutip dari
http://www.beritasatu.com/ekonomi/171385-daya-saing-indonesia-di-asean-masih-lemah.html.
Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 12.04 WIB
207
Ibid
208
Ibid
209
Bortiandy Tobing.Perbaikan Kinerja Logistik Nasional. Dikutip dari
http://supplychainindonesia.com/new/perbaikan-kinerja-logistik-nasional/. Dikses pada Minggu, 7
Juni 2015. Pukul 12.17 WIB
85
hilirisasi industri. Hilirisasi industri dilakukan karena di sisi hulu, Indonesia telah
memiliki bahan baku yang cukup seperti pertanian, perkebunan dan kelautan,
sedangkan di sisi hilir Indonesia melakukan pengembangan untuk mengurangi
impor barang jadi.210
Kedua, pelaksaan program Aku Cinta Indonesia (ACI). Program ini
dicetuskan sebagai media untuk mensosialisasikan produk-produk Indonesia
kepada masyarakat. Program nation branding ini merupakan bagian dari upaya
ekonomi kreatif melalui kampanye nasional terhadap produk-produk buatan
Indonesia seperti busana, kosmetik, entertainment, pariwisata dan lain-lain.211
Ketiga, Penguatan sektor UMKM. Pada Juni 2013 telah dilaksanakan
Pameran Koperasi dan Festival UKM yang diikuti oleh 463 UKM.212 Dalam
menghadapi AEC 2015 perdagangan Indonesia telah mencapai 80% perdagangan
Indonesia sudah bebas hambatan.213 Ditambah lagi, sektor UMKM juga memiliki
potensi untuk menembus pasar bebas ASEAN.214 Oleh karena itu, pemerintah
Indonesia beruaya untuk melakukan percepatan pemerataan pembangunan telah
melakukan upaya percepatan pemerataan pembangunan sebagai bagian dari untuk
memperkuat ekonomi kerakyatan. Dalam menghadapi AEC 2015, Pemerintah
210
Humphrey Wangke. Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 10/II/P3DI/Mei/2014. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI. Hal 7
211
Ibid. Hal 10
212
Sholeh. Persiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015.
eJournal Hubungan Internasional, 2013, 1 (2): 509-522. Hal 11
213
Humphrey Wangke. Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 10/II/P3DI/Mei/2014. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI. Hal 7
214
Ibid
86
Indonesia memperluas investasi Indonesia pada wilayah-wilayah di luar pulau
jawa. Hal tersebut dilakukan agar sektor UMKM dapat memiliki daya saing yang
lebih baik.215
Keempat, perbaikan infrastruktur. Dalam rangka memperbaiki dan
mempermudah proses perdagangan Indonesia baik di dalam maupun luar negeri,
pemerintah Indonesia pada tahun 2012 menganggarkan belanja modal sebesar Rp
193,8 triliun, atau naik Rp 25,2 triliun (14,9 persen) dari pagu anggaran dalam
APBN-P 201.216 Adapun pembangunan infrastruktur tersebut meliputi Indonesia
berencana untuk meningkatkan kapasitas 188 megawatt, serta pembangunan
transmisi sekitar 3.625 kilometer sirkuit (kms); Gardu Induk 4.740 Mega Volt
Ampere (MVA); Jaringan Distribusi 9.319 kms; dan Gardu Distribusi 213
MVA.217 Selain itu, peningkatan kapasitas jalur Lintas Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua
sepanjang 4.431 km juga dilakukan untuk mendukung kelancaran distribusi
barang, jasa dan manusia.218
Kelima, peningkatan sumber daya manusia. Implementasi AEC yang
akan diberlakukan pada tahun 2015 akan menjadikan ASEAN sebagai pasar
tunggal dan basis produksi. Ini berarti ASEAN akan menjadi pusat arus barang,
215
Humphrey Wangke. Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 10/II/P3DI/Mei/2014. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI. Hal 7
216
Hindra Liauw. Ini Rencana Pembangunan Infrastruktur 2013. Dikutip dari
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/16/21415449/Ini.Rencana.Pembangunan.Infrastruktur
.2013. Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 11.27 WIB
217
Ibid.
218
Ibid.
87
jasa dan investasi dan tenaga terampil dengan bebas. Berdasarkan data tahun 2013,
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia sangat melimpah yaitu
sebanyak 284,8 juta orang.219 Dengan jumlah tenaga kerja yang melimpah,
berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pemerintah
Indonesia melakukan pelatihan tenaga kerja baik kepada calon dan para pekerja
yang sudah bekerja.220 Selain itu, melalui Badan Nasional Seritfikasi Profesi
(BNSP) pemerintah Indonesia memberikan sertifikasi kepada tenaga kerja.221
Dengan demikian, dalam upaya mewujudkan AEC 2015 pemerintah Indonesia
terus melakukan upaya-upaya pencapaian dan perbaikan dalam hal-hal yang telah
dijelaskan di atas sehingga Indonesia tetap bisa menjaga komitmennya terhadap
ASEAN serta dapat mewujudkan sentralitas ASEAN dalam perdagangan
internasional.
3.2 Mendukung Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)
Usulan Indonesia dalam memprakarsai negosiasi Regional Comprehensive
Partnership (RCEP) merupakan sebuah prakarsa yang penting. Menurut Iman
Pambagyo, Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian
Perdagangan, menyatakan bahwa gagasan RCEP merupakan usulan Indonesia
ketika memimpin ASEAN pada 2011. Sehingga, Indonesia ditunjuk sebagai
219
Muhammad Fadli.Optimalisasi Kebijakan Ketenagakerjaan dalam Menghadapi Masyarakat
Ekonomi Asean 2015. Jurnal RechtsVinding, Vol. 3 No. 2, Agustus 2014. Hal 283
220
Ibid
221
Ibid.
88
koordinator sekaligus memimpin Komite Perundingan Perdagangan RCEP yang
membawahi 16 negara. Negara-negara tersebut antara lain 10 negara anggota
ASEAN dan Australia, India, Jepang, Korea, China, dan Selandia Baru.222
Selain itu, Indonesia juga memprioritaskan perundingan RCEP dan di saat
yang sama tetap memonitor perundingan Trans Pacific Partnership (TPP) yang
diketuai oleh Amerika Serikat. Bagi Indonesia, RCEP merupakan proses alamiah
setelah ASEAN Economic Community terbentuk pada 2015, yaitu dengan
mengkonsolidasikan ASEAN+1 FTAs yang sudah ada saat ini.223
Pertimbangan lain adalah bahwa sejumlah isu yang dibahas di dalam TPP
belum menjadi prioritas utama bagi Indonesia. Hal-hal yang dirundingkan dalam
TPP, seperti perpanjangan masa berlaku hak paten bagi obat-obatan tertentu yang
diusulkan hingga 150 tahun, liberalisasi ketentuan government procurement,
pencabutan hak-hak khusus badan usaha milik negara (BUMN), atau pendisiplinan
proses
peraturan
perundangan,
semua
merupakan
kondisi
ideal
untuk
meningkatkan daya saing ekonomi dalam jangka panjang.224
Selain itu, pemerintah Indonesia juga berkomitmen mendorong
pelaksanaan perundingan RCEP serta meyakini bahwa kehadiran RCEP dapat
mendatangkan kentungan karena akan membuat neraca perdagangan meningkat
222
IFT Online. Indonesia Fokus Selesaikan RCEP di ASEAN. Dikutip dari
http://www.ift.co.id/posts/indonesia-fokus-selesaikan-rcep-di-asean. Diakses pada Selasa, 23 Juni
2015. Pukul 15.19 WIB
223
Ibid
224
Ibid
89
positif.225 Keberadaan FTA yang ada saat ini telah berdampak positif terhadap
peningkatan ekspor Indonesia, meskipun masih didominasi barang-barang yang
berbasis pada sumber daya alam.226 Market share produk-produk dari sektor
energi dan sumber daya mineral cenderung meningkat dari 30,32% pada tahun
2007 menjadi 37,56% pada tahun 2011.227
RCEP juga diperkirakan dapat memberikan keuntungan pendapatan sekitar
644 milyar Dollar AS pada tahun 2025 atau sebesar 0,6 % dari PDB dunia.
Menurut sebuah studi oleh Asian Development Bank (ADB), hal tersebut dapat
terjadi disebabkan aliran barang, jasa, investasi dan tenaga kerja di negara yang
berpartisipasi menjadi lebih cepat.228
3.3 Menolak Bergabung ke TPP
Sebagai sebuah negara yang menempati posisi pertama dalam hal
populasi atau jumlah penduduk, Indonesia merupakan negara yang menjadi pasar
terbesar di Asia Tenggara bagi aktivitas perdagangan internasional. Dengan
pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan pada tahun 2013 yaitu sebesar 5,8%
dapat menjadi salah satu penentu posisi Indonesia dalam perekonomian
internasional.
225
Benny Gunawan Ardiansyah. Siapkah Indonesia Menghadapi Liberalisasi Perdagangan?. Dikutip
dari http://www.kemenkeu.go.id/en/node/41244. Diakses pada Selasa, 23 Juni 2015. Pukul 15.34 WIB
226
Ibid
227
Ibid
228
Bagus BT Saragih. ASEAN Members Step Up Consolidation for RCEP. Dikutip dari
http://www.thejakartapost.com/news/2014/02/27/asean-members-step-consolidation-rcep.html.
Diakses pada Selasa, 23 Juni 2015. Pukul 15.42 WIB
90
Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kerjasama ekonomi internasional
seperti Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), ASEAN Free Trade Area
(AFTA) dan World Trade Organization (WTO) telah menjadi suatu upaya untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan yang bersifat
multilateral. Namun berbeda halnya dengan Trans Pacific Partnership (TPP).
Pada tahun 2013, Indonesia memutuskan untuk tidak bergabung ke dalam TPP.
Meski negara-negara lainnya di Kawasan Asia Tenggara seperti
Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam dan Vietnam telah bergabung ke TPP,
namun Indonesia belum berminat untuk bergabung. Hal ini disebabkan Indonesia
harus mempersiapkan industri dalam negeri agar bisa berkompetisi dengan negara
lain.229
Selain itu, menurut Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional
Kemenperin Agus Tjahajana fokus Indonesia untuk tidak bergabung ke TPP
adalah meningkatkan ekonomi domestik. Indonesia tidak bisa dengan mudahnya
memutuskan untuk bergabung dikarenakan akan terlebih dahulu melihat
kemampuan Indonesia apakah dapat bersaing atau tidak di dalam pasar ASEAN.230
Implementasi pasar tunggal ASEAN pada tahun 2015 akan menjadi landasan jika
Indonesia ingin melakukan liberalisasi ekonomi baik secara bilateral maupun
regional degan negara-negara lainnya. Selanjutnya menurut Agus jika Indonesia
229
Luhur Hertanto. Gita Wirjawan Tegaskan RI Tolak Ajakan Obama Masuk „TPP‟. Dikutip dari
http://finance.detik.com/read/2011/11/15/124955/1767659/4/gita-wirjawan-tegaskan-ri-tolak-ajakanobama-masuk-tpp. Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 11. 42 WIB
230
Kerja Sama Ekonomi TPP Cuma Bikin Produk Lokal Tergerus Aja. Dikutip dari
http://m.rmol.co/news.php?id=135484. Diakses pada Rabu, 18 Februari 2015. Pukul 23.18 WIB
91
memaksakan memperbanyak kerja sama liberalisasi dengan negara-negara lain,
dikhawatirkan potensi pasar dalam negeri yang saat ini mencapai 70% bisa
semakin tergerus oleh produk-produk impor.231
Sementara itu, dengan sejumlah peraturan yang bersifat mengikat
Indonesia perlu menghitung secara serius serta mengukur ongkos penyesuaian
(adjustment cost) dalam memenuhi komitmen dalam kerjasama TPP. TPP tidak
hanya seputar masalah penuruan tariff, Intellectual Property Rights (IPR), namun
juga terkait dengan koherensi regulasi. Penolakan Indonesia untuk tidak bergabung
juga dikarenakan Indonesia telah menjalin FTA dengan 6 negara dari 9 negara
yang melakukan negosiasi TPP.232 Sedangkan kondisi mengenai Hak Kekayaan
Intelektual (HAKI) di Indonesia sejak diberlakukannya perdagangan bebas yaitu
semakin tinggi jumlah permintaan hak cipta, paten dan merek serta desain
industri.233 Selain itu, Indonesia juga melakukan penegakan hukum dalam HAKI
melalui Kementerian Kehakiman yang bekerjasama dengan seluruh instansi
pemerintah yang kompeten dalam bidang HAKI. Meningkatkan kesadaran
masyarakat juga merupakan langkah pemerintah Indonesia dalam bidang
perlindungan terhadap HAKI. Peningkatan kesadaran masyarakat tersebut
231
Kerja Sama Ekonomi TPP Cuma Bikin Produk Lokal Tergerus Aja. Dikutip dari
http://m.rmol.co/news.php?id=135484. Diakses pada Rabu, 18 Februari 2015. Pukul 23.18 WIB
232
Siaran Pers. Indonesia Masih Mempertimbangkan Keikutsertaannya dalam Trans Pacific
Partnership. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Hal 2
233
Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian. Kebijakan Pemerintah
dalam Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dan Liberalisasi Perdagangan Jasa Profesi di Bidang
Hukum. 2007. Hal 1-7
92
dilakukan melalui membangun sentra HAKI, klinik HAKI, dan pusat HAKI
lainnya serta perguruan tinggi.234
Alasan lainnya menurut Wakil Menteri Keuangan Mehendra Siregar adalah
Indonesia tidak berminat bergabung ke TPP dikarenakan Indonesia akan berfokus
kepada perdagangan di ASEAN serta penguatan ekonomi di dalamnya.235
Penguatan ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi yang masih
terjadi di Kawasan Asia Tenggara.236 Selain itu, Indonesia juga akan tetap
mempertahankan sentralitasnya di ASEAN demi mendorong terwujudnya ASEAN
Economic Community (AEC) sehingga tidak terdominasi oleh perkembangan
TPP.237 Selain dari sisi pemerintah, penolakan Indonesia bergabung juga
didasarkan atas aspirasi dari para pebisnis yang tergabung dalam Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (Hippmi) dikarenakan produk yang belum siap untuk
bersaing.238 Produk-produk yang belum siap menghadapai pasar bebas antara lain
baja, tekstil, plastik, otomotif dan farmasi. Produk-produk tersebut belum siap
234
Ibid
Indonesia Tolak Ajakan Obama Bergabung ke TPP. Dikutip dari http://www.gatra.com/ekonomi1/5431-indonesia-tolak-ajakan-obama-bergabung-ke-tpp.html. Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul
11.50 WIB
236
Ibid
237
Trans-Pacific Partnership (TPP) dan Proses Integrasi Ekonomi Kawasan Asia-Pasifik. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Lists/PressRelease/DispForm.aspx?ID=1052. Diakses pada Rabu, 18 Februari
2015. Pukul 23.50 WIB
238
Ratnawilis dan Indra Pahlawan. Kepentingan Nasional Indonesia untuk Tidak Bergabung Dalam
Trans Pacific Partnership (TPP) di Asia Pasifik Pada Tahun 2011. Jom FISIP Volume 2 No.1
Februari 2015. Hal 10
235
93
karena belum memenuhi standar mutu produk dengan negara lain, akibatnya
belum bisa diterima dalam perdagangan internasional.239
TPP yang diketuai oleh Amerika Serikat ini disadari oleh Indonesia sebagai
alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan Amerika Serikat.240 Keputusan
Indonesia untuk tidak bergabung terkait dengan politik perdagangan internasional
Indonesia terhadap TPP yang memutuskan untuk tidak akan bergabung. Bagi
Indonesia, TPP merupakan sebuah pakta perdagangan dengan standar yang sangat
tinggi, yang belum merupakan prioritas Indonesia saat ini.241 Topik-topik
perundingan di TPP sangat komprehensif mencakup soal lingkungan hidup,
ketenagakerjaan, transparansi proses pengadaan barang dan yang tidak kalah
penting, mengenai hak kekayaan intelektual.242 TPP juga dinilai oleh Indonesia
sebagai pakta perdagangan yang meminta komitmen yang sangat tinggi di
dunia.243
Faktor penting lainnya terkait keputusan Indonesia Selain itu jika dilihat
dari sisi Indonesia adalah adanya kekhawatiran akan dampak negatif bagi
239
Neneng Zubaidah. 11 Industri Ini Belum Siap Hadapi Pasar Bebas. Dikutip dari
http://economy.okezone.com/read/2014/09/05/320/1034756/11-industri-ini-belum-siap-hadapi-mea.
Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 12.18 WIB
240
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
241
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
242
Direktorat Jenderal Kerjasama Internasional. Hasil-hasil Kesepakatan Perundingan Perdagangan
Indonesia Tahun 2013. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Hal 172
243
Dwi Sulistyo. RI Pastikan Tidak Bergabung dengan Pakta Perdagangan Bikinan AS. Dikutip dari
http://jaringnews.com/ekonomi/umum/52939/ri-pastikan-tidak-bergabung-dengan-pakta-perdaganganbikinan-as. Diakses pada Kamis, 19 Februari 2015. Pukul 10.53 WIB.
94
perekonomian domestik.244 Hal ini dikarenakan selama ini ekspor Indonesia ke
sejumlah negara industri maju yang tergabung dalam TPP hanya mengandalkan
sektor pertambangan dan energi. Kekhawatiran inilah yang dapat mengakibatkan
kerugian produk-produk pasar dalam negeri yang sudah mencapai 70%.
Sedangkan kontribusi ekspor mencapai 30%.245
Selain itu, prinsip “sentralitas ASEAN” yang selama ini menjadi landasan
bagi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia dan hubungannya dengan negaranegara di Asia Timur dan Asia Pasifik perlu digarisbawahi. Kehadiran TPP tidak
sesuai dengan implementasi prinsip tersebut.246
244
Inriani Margaretha Sitohang. Penolakan Indonesia Bergabung ke Trans Pacific Partnership (TPP).
eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 2 , Nomor 2 , 2014. Universitas Mulawarman. Hal 321
245
Ibid
246
Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan
ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional. Jurnal Kajian Lemhanas RI Volume 16, November 2013.
Hal 68
95
BAB IV
ALASAN INDONESIA MENDUKUNG REGIONAL COMPREHENSIVE
ECONOMIC PARTNERSHIP (RCEP) DAN MENOLAK PEMBENTUKAN
TRANS PACIFIC PARTNERSHIP (TPP)
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kalkulasi rasional Indonesia
terhadap pembentukan TPP tahun 2013. Penjelasannya akan mencakup mengenai
lemahnya daya saing produk Indonesia yang menjadi penyebab Indonesia menolak
bergabung ke TPP. Selain itu juga akan dibahas mengenai alasan Indonesia yang pada
akhirnya bergabung ke Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Selanjutnya bab ini akan menjelaskan analisis respon Indonesia terhadap
pembentukan TPP tahun 2013 melaui model Rational Actor Model (RAM).
4.1 Kalkulasi Ekonomi: Lemahnya Daya Saing Produk Indonesia
Menurut Organisation for Economic Cooperation dan Development
(OECD), daya saing (competitiveness) adalah kemampuan perusahaan, industri,
daerah, negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan
faktor pekerjaan yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi
persaingan dalam perdagangan internasional.247 Sebagaimana yang tercantum di
dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
247
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Analisis Daya Saing Karet dan Produk dari Karet
Indonesia Terhadap Cina. Hal 7
96
Jangka Panjang Nasional (RPJPN), agar dapat mencapai kemandirian, Indonesia
harus menjadi negara yang memiliki serta mampu berdaya saing. Untuk mencapai
negara yang memiliki daya saing, di antara komponen utama arah pembangunan
yang harus dicapai adalah adanya penguatan perekonomian domestik dengan
orientasi dan berdaya saing global dimana pembangunan perdagangan berperan
penting dalam mewujudkan arah tersebut.248
Terkait langsung dengan pembangunan perdagangan, pembangunan
jangka panjang perdagangan Indonesia menekankan pada 2 (dua) hal penting
yaitu di bidang perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negeri. Di bidang
perdagangan luar negeri, proses maupun kebijakan perdagangan harus lebih
mendatangkan keuntungan dan mendukung perekonomian nasional agar mampu
memaksimalkan manfaat sekaligus meminimalkan efek negatif dari proses
integrasi dengan dinamika globalisasi.249
Dengan adanya pembentukan TPP dan untuk meminimalkan efek negatif
dari proses integrasi dan dinamika globalisasi tersebut, pemerintah Indonesia
melakukan strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam perdagangan
internasional. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memperjuangkan
kepentingan nasional yaitu melindungi ekonomi dalam negeri.250 Terkait dengan
hal tersebut, selama ini ekspor Indonesia ke sejumlah negara industri maju seperti
248
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Pilar-Pilar Peningkatan Daya Saing dan
Perlindungan Konsumen. Hal 9
249
Ibid
250
Inriani Margaretha Sitohang. Penolakan Indonesia Bergabung dalam Trans Pacific Partnership
(TPP). eJurnal Hubungan Internasional 2014, 2 (2):313-328. Hal 321
97
negara-negara anggota TPP hanya mengandalkan sektor pertambangan dan energi.
Sedangkan Indonesia menerima atau mengimpor produk-produk manufaktur dari
negara-negara anggota TPP. Hal tersebut dikhawatirkan akan merugikan produkproduk dalam negeri karena didominasi oleh produk-produk impor. Saat ini
kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia hanya sekitar 30 %, sisanya Indonesia
masih bisa mengoptimalkan pasar di dalam negeri.251
Dalam upaya mengoptimalkan pasar dalam negeri, Indonesia juga
melakukan pelarangan ekspor terhadap beberapa produk sebagai upaya peningkatan
daya saing dan mempertahankan stabilitas harga. Produk-produk tersebut antara lain:
kopi (untuk mempertahankan stabilitas harga dan meningkatkan nilai tambah),
produk kehutanan seperti rotan, bijih dan pasir timah (industri kehutanan diarahkan
untuk menjamin kebutuhan bahan baku dalam negeri).252
Selain itu, Indonesia juga melakukan kebijakan impor. Kebijakan tersebut
dilakukan
untuk
melindungi
dan
meningkatkan
pendapatan
petani
serta
meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri serta meningkatkan ekspor non
migas, meningkatkan daya saing perdagangan dan pasar domestik serta iklim usaha
yang kondusif, mewujudkan good governance melalui program Indonesia National
Single Window (INSW). Program tersebut merupakan upaya untuk memenuhi
kebutuhan dan kepentingan nasional untuk meningkatkan kinerja ekspor dan
impor. Selain itu INSW juga berupaya untuk mengatasi berbagai permasalahan
251
Ibid
Anastaius Riyanto. Peningkatan Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdagangan Internasional.
Dikutip dari http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/128-maret-2011/1075-peningkatanperan-indonesia-dalam-diplomasi-perdagangan-internasional-.html. Diakses pada Minggu, 7 Juni
2015. Pukul 22.42 WIB
252
98
arus barang seperti waktu dan jarak tempuh yang panjang untuk barang impor,
biaya ekonomi tinggi, minimnya validitas dan akurasi data transaksi serta
pengendalian ekspor dan impor barang.253
Selain itu, untuk meningkatkan daya saing, Indonesia juga meningkatkan
peran sektor UKM. Indonesia memiliki lebih dari 56,5 juta UKM di berbagai
bidang.254 UKM memegang peranan penting sebagai salah satu penopang
ekonomi nasional yang berkontribusi sebesar 57% PDB dan mampu menyerap
97% tenaga kerja.255 Hal ini mencerminkan kontribusi yang sangat signifikan dari
sektor UKM terhadap perekonomian domestik, oleh karena itu, langkah ini
ditempuh oleh pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan pasar dalam negeri
serta peningkatan daya saing.
Berdasarkan penjelasan di atas, kepentingan Indonesia untuk melindungi
pasar dalam negeri merupakan suatu strategi dalam merespon pembentukan TPP
tahun 2013. Sebagai perjanjian perdagangan yang memiliki standar tinggi serta
mencakup semua komponen utama perdagangan serta komitmen yang sangat erat,
TPP memberlakukan tidak hanya penurunan tarif tetapi juga penghapusan tarif.
Oleh karena itu, dengan sejumlah pertimbangan mengenai produk Indonesia yang
masih harus dilindungi dan belum siapnya produk tersebut untuk diliberalisasi
253
Ibid.
Inriani Margaretha Sitohang. Penolakan Indonesia Bergabung dalam Trans Pacific Partnership
(TPP). eJurnal Hubungan Internasional 2014, 2 (2):313-328. Hal 319
255
Ibid
254
99
dalam perdagangan internasional seperti yang telah dijelaskan di atas
menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk bergabung ke TPP.256
4.2 Bergabung ke Dalam Kerjasama Regional Comprehensive Economic
Partnership (RCEP)
Bergabungnya Indonesia ke dalam RCEP tentu didasarkan pada beberapa
manfaat yang didapat dari kerjasama perdagangan tersebut. Adapun manfaat RCEP,
antara lain: pertama, RCEP dapat membantu meregionalisasi rantai penyedia fasilitas
untuk perdagangan global dan akan membuat Asia sebagai pabrik dunia. Kedua,
RCEP mempromosikan arus investasi lebih mudah serta transfer teknologi dengan
perusahaan multinasional. Ketiga, RCEP akan mengurangi tumpang tindih antara
FTA di Asia. Keempat, RCEP dapat membantu mengurangi sentimen proteksionis
dalam ekonomi global, terutama isu NTMs (non-tariff measured) seperti kebutuhan
akan sanitasi dan standar barang.257 Kelima, RCEP akan mengurangi hambatan
perdagangan dan akan membuat impor makanan dan barang-barang konsumsi yang
lebih murah, serta bermanfaat bagi rumah tangga berpendapatan rendah.258
256
Inriani Margaretha Sitohang. Penolakan Indonesia Bergabung dalam Trans Pacific Partnership
(TPP). eJurnal Hubungan Internasional 2014, 2 (2):313-328. Hal 321
257
UNCTAD Programme on Non-Tariff Measures in World Trade. Dikutip dari
http://www.unctad.info/en/Trade-Analysis-Branch/Key-Areas/NTM/. Diakses pada Jumat, 10 April
2015. Pukul 00.08 WIB
258
Ganeshan Wignaraja. Regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (RCEP): An
initial assessment. Asian Development Bank Institute. 2014
100
Dalam bidang perdagangan barang (TIG), RCEP bertujuan untuk
menghilangkan hambatan non tarif bagi semua substansi perdagangan barang. Dari
penghilangan hambatan non tarif ini maka diharapkan akan terbentuk sebuah
kawasan perdagangan bebas antar anggota RCEP.259 Dari sisi Indonesia, perdagangan
dengan negara-negara RCEP akan menguntungkan karena dengan ukuran ekonomi
ASEAN sebesar 3 triliun Dolar AS, melalui TPP dapat mencapai 22 triliun Dolar
AS.260
Dalam bidang perdagangan jasa (TIS), RCEP bertujuan untuk
menghilangkan hambatan dan atau pengukuran yang diskriminatif sebagai upaya
peningkatan terhadap perdagangan jasa antar anggota RCEP. Hal tersebut diharapkan
dapat membangun komitmen anggota RCEP di bawah The General Agreement on
Trade in Services (GATS) serta kerjasama FTA yang telah dimiliki ASEAN dan
mitra-mitra perdagangannya.261 Melalui RCEP, perdagangan jasa yang bersifat
terbuka, aktif dan terus berkembang akan menjadi tantangan bagi Indonesia. Melalui
keterlibatan tenaga kerja, ekonomi di era saat ini bergantung kepada sektor jasa
sebagai penggerak aktivitas perekonomian dan juga penciptaan lapangan kerja.
Sektor jasa seperti logistik, transportasi dan komunikasi dan jasa keuangan dapat
menciptakan basis bagi pembangunan infrastruktur ekonomi. Sedangkan jasa di
259
Ministry of Trade and Industry Singapore. Press Release Factsheet on The Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP). 2012. Hal 2
260
Hatta: RCEP Untungkan Indonesia. Dikutip dari http://hatta-rajasa.info/read/1311/hatta-rcepuntungkan-indonesia. Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 00.23 WIB
261
Ministry of Trade and Industry Singapore. Factsheet: What You Need To Know about The Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP)?. 2014. Hal 2
101
sektor pendidikan, kesehatan dan sosial dapat meningkatkan ketersediaan dan kualitas
tenaga kerja Indonesia.262
Sedangkan dalam bidang investasi, RCEP bertujuan untuk membentuk
kawasan yang bebas, fasitiltatif terhadap investasi dan kompetitif di kawasan.
Negosiasi dalam bidang investasi di RCEP akan mencakup empat pilar yaitu
mengenai promosi, proteksi, fasilitas dan liberalisasi.263 Dalam hal investasi ini,
Indonesia dapat meningkatkan investasinya dengan negara-negara anggota RCEP
lainnya dalam bidang pembangunan infrastruktur dan jasa.264
Pada bidang kerjasama ekonomi dan teknis, RCEP akan membangun
pengaturan kerjasama ekonomi yang telah ada antara mitra ASEAN dan FTA
ASEAN yang berencana untuk berpartisipasi dalam RCEP tersebut. Kegiatan
kerjasama harus mencakup aspek e-commerce dan aspek lainnya yang akan
disepakati bersama oleh negara-negara yang berpartisipasi dalam RCEP.265 Bagi
Indonesia, kerjasama teknik merupakan bagian penting dari kebijakan luar negeri.
Hal tersebut juga didukung oleh kemampuan Indonesia yang semakin meningkat
dalam hal kerjasama teknik yaitu sebagai negara pendonor. Sejak tahun 1981
Indonesia telah bekerjasama dengan Jepang yang juga menjadi salah satu anggota
RCEP yaitu melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan
262
Direktorat Jenderal Kerjasama Internasional. Fokus Indonesia: Prioritas Perundingan RCEP
Dibandingkan TPP. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Hal 175
263
Ibid. Hal
264
Yose Rizal Damuri.RCEP and Indonesia. ASEAN Studies Program The Habibie Center. 2014
265
Wang Yuzhu. The RCEP Initiative and ASEAN “Centrality”. Dikutip dari:
http://www.ciis.org.cn/english/2013-12/06/content_6518129.htm. Diakses pada Kamis, 09 April 2015.
Pukul 22.54 WIB
102
pemberian bantuan teknik kepada negara-negara berkembang di kawasan Asia,
Afrika, Pasifik dan Amerika Latin.266 Selain menjadi negara pendonor, Indonesia juga
tetap melakukan kerjasama dengan negara lain dalam hal teknik karena hal in
bertujuan untuk meningkatkan kapasitas atau capacity building Indonesia.
Impelementasi kerjasama tersebut meliputi pemberian bantuan teknik bagi negaranegara lain melalui program pelatihan, pengiriman ahli, lokakarya, pemagangan dan
pemberian bantuan peralatan yang dibiayai oleh APBN. 267
Adapun berdasarkan keuntungan yang diperoleh Indonesia anatara RCEP
dan TPP dapat dilihat pada tabel di halaman lampiran.268 Dari tabel tersebut dapat
dijelaskan bahwa pada tahun 2012, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota RCEP
adalah sebesar 92,2 Miliar Dollar AS atau 60% dari ekspor nasional, sementara impor
dari negara-negara RCEP sebesar 101,5 Miliar Dollar AS atau 68% dari impor
nasional. Itu artinya negara-negara anggota RCEP merupakan mitra dagang yang
mencakup 64% dari perdagangan dua arah Indonesia dengan keseluruhan anggotanya
sudah memiliki Free Trade Agreement dengan Indonesia.269
266
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Teknik. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=1&l=id. Diakses pada Senin, 8 Juni 2015.
Pukul 08.51 WIB
267
Ibid
268
Tabel Neraca Perdagangan Indonesia dengan Negara-negara RCEP dapat dilihat pada lampiran hal
xxiv-xxv
269
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
103
Sedangkan neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara TPP
dapat dilihat dalam tabel di halaman lampiran.270 Dari tabel tersebut atas dapat
dijelaskan bahwa pada tahun 2012, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota TPP
adalah sebesar 68,6 Miliar Dollar AS atau 45% dari ekspor nasional, sementara impor
dari negara-negara TPP sebesar 79,8 Miliar Dollar AS atau 53% dari impor nasional.
Nilai tersebut mencakup 49% dari perdagangan dua arah Indonesia, dimana Indonesia
sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Australia, Jepang, Selandia
Baru, dan rekan-rekan di ASEAN. Sementara dengan Kanada, Chili, Meksiko, Peru,
dan Amerika Serikat kita belum memiliki perjanjian perdagangan bebas.271
Berdasarkan penjabaran keuntungan dan kerugian RCEP dan TPP,
melalui perhitungan matematis di bawah ini dapat diketahui besarnya jumlah
keuntungan yang didapat oleh Indonesia apabila bergabung ke RCEP:
(Keuntungan ekspor Indonesia-RCEP) – (Keuntungan ekspor Indonesia-TPP) =
92,2 Miliar Dollar AS
-
68,6 Miliar Dollar AS
=
23, 6 Miliar Dollar AS
Dari penjabaran perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah
Indonesia telah melakukan kalkulasi di dalam kerjasama perdagangan dengan negara-
270
Tabel Neraca Perdagangan Indonesia dengan Negara-negara RCEP dapat dilihat pada lampiran hal
xxv-xxvi
271
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
104
negara TPP dan RCEP. Bagi Indonesia RCEP lebih menguntungkan karena dapat
memberikan kontribusi yang lebih banyak bagi ekspor impor Indonesia serta dapat
berkontribusi terhadap pendapatan nasional lebih besar yaitu sebesar 23,6 Miliar
Dollar AS, dibandingkan bergabung di TPP yang hanya memperoleh sebesar 68,6
Miliar Dollar AS.
Sedangkan jika Indonesia bergabung ke dalam TPP, Indonesia hanya
akan mendapatkan sharing GDP sebesar 2% sebagaimana hal ini merupakan
implikasi terhadap negara-negara di Asia Tenggara yang bergabung ke TPP. Maka
perhitungannya akan sebagai berikut:
(Keuntungan Ekspor Indonesia-TPP) + (Sharing GDP di ASEAN dan TPP) =
68,6 Miliar Dollar AS
+
2%
=
68,6 Miliar Dollar AS
+
13,7
=
82,3 Miliar Dollar AS
Dari penjabaran perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan
Indonesia jika bergabung ke TPP ditambah dengan adanya sharing GDP di ASEAN
dan TPP 2%, maka Indonesia akan mendapatkan keuntungan 82,3 Miliar Dollar AS.
Sedangkan jika Indonesia bergabung hanya di RCEP maka selisih perhitungannya
akan sebagai berikut:
(Keuntungan Ekspor Indonesia-RCEP)
105
- (Keuntungan bergabung di TPP) =
92,2 Miliar Dollar AS
-
82,3 Miliar Dollar AS
=
9,9 Miliar Dollar AS (Kerugian jika bergabung ke TPP dan tidak RCEP)
Berdasarkan perhitungan untung rugi bagi Indonesia antara TPP dan
RCEP, maka dapat disimpulkan, jika Indonesia bergabung ke TPP maka hanya akan
mendapatkan 82,3 Miliar Dollar AS. Sedangkan selisih keuntungan dengan RCEP
adalah 9,9 Miliar Dollar AS. Dengan demikian, keuntungan RCEP tetap lebih tinggi
dibanding TPP dan Indonesia akan mengalami kerugian 9,9 Miliar Dollar AS jika
bergabung ke TPP dan tidak bergabung ke RCEP.
4.3 Perhitungan Kalkulatif dengan Rational Actor Model (RAM)
Dari proses kalkulasi keuntungan dan kerugian Indonesia terhadap TPP
dan RCEP dari sisi ekonomi, maka pemerintah Indonesia mengambil empat
kebijakan alternatif sebagai pilihan kebijakan sebagai berikut:
Tahap 1
No.
Alternatif-alternatif Kebijakan
1
Indonesia bersikap “open-minded” dan pada waktu yang bersamaan
berorientasi pada kepentingan nasional dengan langkah terbuka
terhadap keberadaan TPP namun juga melakukan perlindungan
terhadap pasar dalam negeri.
106
2
Indonesia menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas-aktif
degan cara tetap berperan aktif dalam AFTA, APEC dan WTO.
3
Menekankan Sentralitas ASEAN dengan mewujudkan ASEAN
Economic Community 2015.
4
Bergabung ke Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP) pada tahun 2013.
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dalam tahap pertama,seiring
dengan bergabungnya Indonesia ke dalam RCEP, pemerintah Indonesia tetap
mengedepankan sikap “open-minded” yang artinya tetap terbuka terhadap
segala
informasi
mengenai
perkembangan
segala
bentuk
perjanjian
perdagangan bebas. Namun di sisi lain, pemerintah Indonesia harus tetap
melihat kondisi ekonomi domestik dimana kepentingan nasional harus tetap
diperjuangkan yaitu melindungi produsen dalam negeri agar produk buatan
dalam negeri tidak terdominasi oleh produk-produk impor serta peningkatan
ekspor.272 Hal ini ditunjukkan dengan adanya perlindungan terhadap beberapa
produk yang masih menjadi basis pendapatan Indonesia seperti kopi, karet,
timah dan pertanian.273
272
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
273
Anastaius Riyanto. Peningkatan Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdagangan Internasional.
Dikutip dari http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/128-maret-2011/1075-peningkatan-
107
Dalam upaya peningkatan ekspor, pemerintah Indonesia juga melakukan
perbaikan di segala bidang antara lain: infastruktur, sumber daya manusia,
birokrasi serta pemberantasan korupsi. Hal-hal tersebut hingga saat ini masih
menjadi kelemahan Indonesia. Dengan melakukan perbaikan dalam bidang
infrastruktur, birokrasi serta pemberantasan korupsi, Indonesia dapat
melakukan kegiatan ekspor maupun impor semakin efisien sehingga tidak lagi
terkendala sulitnya menjangkau pasar, lamanya jarak tempuh yang
mengakibatkan semakin lambat kinerja ekspor impor Indonesia.274
Selain itu, upaya untuk memperjuangkan kepentingan nasional serta
keberpihakan terhadap produsen domestik lainnya yaitu memberikan
klarifikasi dan penegasan terhadap beberapa produk Indonesia yang tidak
diizinkan untuk diliiberalisasi karena tidak ramah lingkungan.275 Hal inilah
yang terjadi ketika Indonesia masih mempertimbangkan apakah akan
bergabung ke TPP atau tidak. Amerika Serikat sebagai ketua TPP tidak
mengizinkan produk kopi dan kelapa sawit milik Indonesia disertakan dalam
perdagangan bebas di TPP.276
peran-indonesia-dalam-diplomasi-perdagangan-internasional-.html. Diakses pada Minggu, 7 Juni
2015. Pukul 22.42 WIB
274
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
275
Ferdiansyah Ali. Skema Trans Pacific Partnership (TPP) Amerika Serikat Hancurkan Produk
Industri Kelapa Sawit Indonesia. Dikutip dari http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=9554&type=4#.VVRHNuHNPVg. Diakses pada Kamis,
14 Mei 2015. Pukul 14.05 WIB
276
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
108
Terkait dengan hal tersebut, perusakan citra terhadap kelapa sawit yang
terus berkembang disebabkan oleh faktor ketidkasukaan pihak lain terhadap
eksistensi Indonesia memandu bisnis CPO terbesar di dunia. Melalui TPP,
Amerika Serikat menyatakan bahwa CPO Indonesia
telah merusak
lingkungan. Hal ini terlihat sebagai rekayasa dan ingin menurunkan citra CPO
Indonesia dalam kerjasama perdagangan internasional. Sedangkan pada
Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT
APEC), 8-9 September 2012 lalu di Vladiostok, Rusia, crude palm oil/CPO
dinyatakan sebagai produk ramah lingkungan (environmental goods). Hal ini
sangat memperlihatkan bahwa Partnership Amerika Serikat (AS) berhasil
melobi negara-negara satelit AS yang tergabung dalam TPP seperti Malaysia,
Singapura, Jepang, Filipina dan Brunei Darussalam, sehingga citra Kelapa
Sawit dipandang sebagai produk yang tidak ramah lingkungan. 277 Sejak
beberapa tahun terakhir, sejumlah negara (AS, Australia, dan Kanada)
menyebut industri CPO Indonesia merupakan industri tidak ramah
lingkungan. Tentu saja kondisi ini akan mempengaruhi kinerja ekspor CPO
Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.278
Terkait
dengan
keaktifan
Indonesia
dalam
kerjasama
ekonomi
internasional, pemeritah Indonesia yang merupakan bagian dari ASEAN yang
277
Ferdiansyah Ali. Skema Trans Pacific Partnership (TPP) Amerika Serikat Hancurkan Produk
Industri Kelapa Sawit Indonesia. Dikutip dari http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=9554&type=4#.VVRHNuHNPVg. Diakses pada Kamis,
14 Mei 2015. Pukul 14.05 WIB
278
Ibid.
109
tergabung dalam AFTA menganggap bahwa Indonesia tidak dapat
melepaskan diri dari kenyataan bahwa skema kerja sama ekonomi baik secara
bilateral maupun multilateral akan terus berkembang.279 Dengan keaktifan
Indonesia dalam berbagai kerjasama ekonomi internasional seperti WTO,
APEC dan AFTA bukan berarti Indonesia memutuskan dengan mudah ketika
TPP dibentuk. Pemerintah Indonesia tetap mempertahankan keaktifannya di
berbagai FTA yang sudah diikuti, sedangkan tidak dengan TPP dikarenakan
TPP merupakan FTA yang sangat ambisius dengan menerapkan liberalisasi
hampir di semua sektor, sedangkan Indonesia masih memiliki produk yang
harus diproteksi, misalnya pertanian.280 Produk pertanian Indonesia
merupakan produk yang masih menjadi penopang pendapatan nasional,
sehingga produk ini masuk ke dalam kategori Special and Different Treatment
(SDT) dan belum siap untuk diliberalisasi.281
Dari penjelasan pilihan kebijakan alternatif yang diambil oleh pemerintah
Indonesia, maka pada tahap selanjutnya, pemerintah Indonesia menyimpulkan
dan mengambil keputusan final sebagai berikut:
Tahap 2
279
Gita Wirjawan: RI Ikut RCEP Bukan untuk Tandingi TPP. Dikutip dari
http://jaringnews.com/ekonomi/umum/49957/gita-wirjawan-ri-ikut-rcep-bukan-untuk-tandingi-tpp.
Diakses pada Selasa, 12 Mei 2015 Pukul 21.08 WIB
280
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
281
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
110
No.
Kebijakan yang Dipilih
1
Menekankan sentralitas ASEAN
2
Bergabung ke Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP)
Terkait dengan kebijakan alternatif yaitu mempertahankan Sentralitas
ASEAN, hal ini akan menjadi fokus Indonesia. Berdasarakan kesiapan dalam
hal perdagangan bebas, Indonesia akan memfokuskan diri di dalam
perdagangan intra ASEAN dan mitra dagang ASEAN lainnya. Hal ini
dikarenakan
perdagangan
intra
ASEAN
lebih
menekankan
kepada
kemampuan ekonomi domestik setiap negara anggotanya. Selain itu,
mempertahankan sentralitas ASEAN juga sesuai dengan komitmen Indonesia
sebagai anggota ASEAN untuk mewujudkan ASEAN Economic Community
(AEC) 2015.
Kebijakan alternatif terakhir yang diambil dalam merespon pembentukan
TPP tahun 2013 adalah bergabungnya Indonesia ke dalam RCEP. Dalam
menyikapi TPP, bergabungnya Indonesia ke RCEP merupakan keputusan
yang lebih tepat. Hal ini disebabkan pembentukan RCEP diyakini akan
menjadi pasar perdagangan bebas terbesar didunia. Selain itu, RCEP juga
111
dijadikan sebagai batu loncatan dari pembentukan area perdagangan bebas di
Asia-Pasifik pada tahun 2020.282
Secara garis besar, perbedaan keuntungan dan kerugian antara TPP dan
RCEP adalah sebagai berikut:
RCEP
TPP
Diketuai oleh ASEAN dalam TPP diketuai oleh Amerika
pelaksanaannya dan bertujuan Serikat yang menjalankan
untuk menyatukan FTA dengan kepentingan
nasionalnya
negara-negara non ASEAN.
memperluas
PERBDANDINGAN
untuk
pengaruhnya di Asia.
Dibentuk
dengan
ASEAN+1
FTA
konsep Dibentuk
berdasarkan
dengan perjanjian dari 4 negara atau
Tiongkok, India, Jepang, Korea (P4) yaitu Singapura, New
Selatan,
New
Zealand
Australia.
dan Zealand, Chile dan Brunei
Darussalam
pada
tahun
2005.
Mengacu
kepada
keterbukaan
dimana
dapat
semakin
klausa Negara-negara
yang
anggota menjadi
anggota
adalah
bertambah anggota
APEC,
namun
sewaktu-waktu sesuai dengan terbuka terhadap negara non
282
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
112
kesepakatan
FTA
dengan APEC.
ASEAN.
Negosiasi dimulai pada tahun Negosiasi
dimulai
pada
2013 dan akan berakhir pada tahun 2011 dan berakhir
2015.
pada 2013.
Bertujuan
untuk
perjanjian
ekonomi
yang
terintegrasi
membentuk Bertujuan
untuk
regional membentuk FTA kawasan
dan
lebih yang
mampu
menjawab
dalam dari FTA yang sudah tantangan di abad ke-21.
berlaku serta untuk mendukung
KARAKTERISTIK
pembangunan
ekonomi
yang
adil.
Area yang dibahas meliputi Area yang dibahas meliputi
liberalisasi barang, jasa dan liberalisasi
investasi, kerjasama teknik, hak investasi,
kekayaan
intelektual
sengketa wilayah.
barang,
hak
serta intelektual,
alam,
jasa,
kekayaan
perlindungan
perburuhan,
jasa
keuangan serta hambatan
teknis terhadap peraturan
perdagangan.
Pembangunan
113
dilaksanakan Penerapan
standar
tinggi
dengan mengacu pada ASEAN FTA di abad ke-21 yang
Way dan pembedaan perlakuan juga membahas isu generasi
sesuai dengan kapasitas anggota yang akan datang.
yang
masih
lambat
dalam
membangun perekonomiannya.
FOKUS UTAMA
Berusaha
mereduksi
potensi Tidak
mengikutisertakan
konflik antara AS dan Tiongkok. Tiongkok dan India.
ASEAN+1
FTA
memiliki Memisahkan
ASEAN
perbedaan fitur dalam setiap dalam kerjasama sejak tidak
tahap implementasinya.
semua
anggota
ASEAN
bergabung ke dalam TPP
dan
akan
mengurangi
ASEAN.
Sumber: RCEP and TPP Comparisons and Concerns. ISEAS Perspective
Dari tabel di atas terlihat bahwa, perbandingan antara RCEP dan TPP
cukup jelas. Dari segi perdandingan, kedua FTA tersebut terdapat perbedaan
kepemimpinan dan arah implementasi. RCEP lebih berfokus pada penguatan
sentralitas ASEAN sebagai pemimpin dalam menjalankan FTA dan tidak didominasi
oleh satu negara saja. Sedangkan TPP diketuai oleh Amerika Serikat saja dengan
114
berpotensi
sentralitas
memperlihatkan bahwa TPP merupakan FTA yang dibentuk untuk menjalankan
kepentingan nasional Amerika Serikat.
Dari segi karakteristik, RCEP lebih fokus kepada penguatan FTA dalam
kawasan ASEAN dan partner strategis non ASEAN yang tergabung di dalamnya.
Sedangkan TPP lebih kepada standar tinggi untuk menjadi model perdagangan bebas
percontohan abad ke-21. Lalu isu yang dibahas dalam hal liberalisai barang, jasa dan
investasi tidak terlalu berbeda namun TPP lebih luas cakupannya hingga membahas
masalah lingkungan dan perburuhan.
Dari segi fokus utama, RCEP menekankan pada sentralitas dan keketuaan
ASEAN sebagai penggerak utama. Selain itu, RCEP juga menerapkan pembangunan
yang bertumpu pada kemampuan negara anggota masing-masing dan tidak bersifat
memaksa dalam meliberalisai sektor-sektor perdagangannya. Sedangkan TPP, selain
menerapkan standar tinggi juga di dalamnya Tiongkok dan India tidak diikutsertakan.
Hal ini sangat terlihat jelas dari tujuan RCEP dimana FTA ini dibentuk untuk
mengurangi potensi konflik antara AS dan Tiongkok. Selain itu, TPP juga berusaha
mengurangi dominasi ASEAN di dalamnya dikarenakan tidak semua negara anggota
ASEAN bergabung ke TPP. Bagi Indonesia, bergabung ke RCEP merupakan
keputusan yang lebih tepat karena Indonesia akan memperkuat kerjasama dengan
anggota non TPP seperti Tiongkok.
Dari
penjelasan
di
atas,
bagi
Indonesia
RCEP
dinilai
lebih
menguntungkan dibandingkan dengan TPP. Adapun kalkulasi keuntungan dan
kerugiannya adalah sebagai berikut:
115
No.
1
TPP
RCEP
Diketuai oleh Amerika Serikat yang Dengan
berpotensi
menurunkan
bergabung
ke
RCEP,
signifikansi Indonesia memelopori usaha-usaha
ASEAN dan tidak mengikutsertakan untuk
mengarahkan
negara-negara
anggota ASEAN dan Asia Timur
India dan Tiongkok.
untuk lebih fokus pada upaya-upaya
kerjasama ekonomi dalam kerangka
ASEAN,
dengan
berpijak
pada
prinsip “sentralitas ASEAN” yang
secara
eksplisit
tercantum
dalam
Piagam ASEAN. Selain itu RCEP
juga
mengikutsertakan
India
dan
Tiongkok.
2
Membahas isu-isu next-generation of Isu-isu next generation of trade tidak
menjadi pembahasan di RCEP. Hal
trade yang termasuk didalamnya ini
disebabkan
RCEP
lebih
menitikberatkan kepada kemampuan
mengatur
kebijakan
perburuhan,
masing-masing negara anggota.
HAKI, dan e-commerce.
3.
Meliberalisai hampir seluruh aspek RCEP
116
menitikberatkan
kepada
komoditas termasuk pertanian.
kemampuan masing-masing negara
anggota. Dalam hal ini Indonesia
tetap bisa memproteksi produk utama
yang belum siap untuk diliberalisasi
yaitu pertanian.
5.
Indonesia
harus
siap
menghadapi Melalui RCEP, Indonesia akan lebih
tuntutan reformasi kebijakan dalam bersinergi dengan pihak pemerintah
negeri apabila bergabung dengan TPP.
dan
swasta.
Sehingga
pengimplementasian
kebijakan
melalui
RCEP
akan
lebih
menitikberatkan kepada kemampuan
ekonomi domestik sehingga akan
tercapai
untuk
menyejahterakan
rakyat.
Diolah dari: Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN
Cooperation Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April
2015.
Secara keseluruhan, tabel di atas memperlihatkan bahwa Indonesia lebih
siap untuk bergabung ke RCEP dibandingkan TPP. Adapun beberapa penjelasannya
adalah sebagai berikut:
117
Amerika Serikat sebagai ketua TPP menjadi regulator utama bagi
berjalannya perjanjian perdagangan bebas ini. Amerika Serikat berusaha untuk
memperkuat eksistensinya sekaligus memperluas pasar di kawasan Pasifik melalui
TPP. Hal ini memperlihatkan bahwa TPP merupakan alat yang digunakan oleh
Amerika Serikat untuk menurunkan sentralitas ASEAN.283
Hal ini juga diperkuat oleh keterangan bahwa keanggotaan TPP lebih
didominasi oleh banyak negara maju dan kaya seperti Amerika Serikat, Kanada,
Jepang, Australia dan Selandia Baru. Selain itu TPP tidak mengikutsertakan India dan
Tiongkok yang saat ini merupakan dua negara ekonomi terbesar di dunia. 284
Dari segi politik-strategis, Indonesia melihat bahwa secara letak letak
geografis, negara-negara di TPP berada jauh dari pada negara-negara RCEP.285
Indonesia juga menginginkan ASEAN yang menjadi penentu jalannya perjanjian
perdagangan bebas RCEP.286 Hal ini didasarkan pada kemampuan masing-masing
negara-negara di Asia Tenggara yang berbeda sehingga ASEAN dibutuhkan untuk
meningkatkan posisi tawar bagi negara-negara anggotanya.287
283
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
284
Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Fokus Indonesia: Prioritas Perundingan RCEP dibandingkan TPP. Hasil-hasil Kesepakatan
Perundingan Perdagangan Indonesia 2013. Hal 174
285
Wawancara dengan Arif Sulaksono. Kepala Seksi APEC SOM Committee On Ecotech Dan
Working Groups, Direktorat Kerja Sama Intrakawasan Asia Pasifik dan Afrika, Ditjen Asia pasifik dan
Afrika. Kementerian Luar Negeri RI. Senin, 22 Juni 2015
286
287
Ibid
Ibid
118
Selain itu, Indonesia juga melihat bahwa melalui ASEAN, Indonesia bisa
menjalankan politik luar negerinya untuk menyeimbangkan dua kekuatan besar
ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok.288 Hal tersebut dilakukan agar
tidak ada dominasi salah satu negara besar di dalam kerjasama yang diikuti oleh
Indonesia.289 Adapun kesulitan bagi Indonesia jika bergabung ke TPP yaitu
diberlakukannya single undertaking atau harus adanya kesepakatan antar dua
negara.290 Sedangkan dalam hal ini, ASEAN belum memiliki perjanjian kerjasama
dengan Amerika Serikat yang menjadi ketua TPP.291
Secara politis lainnya, dengan peraturan di TPP yang sangat mengikat dan
ambisius, hal tersebut dapat melemahkan posisi Indonesia jika bergabung ke
dalamnya. Sebagai contoh yaitu adanya produk-produk negara anggota TPP yang
memiliki kesamaan dengan produk Indonesia, misalnya CPO.292 Oleh karena itu bagi
Indonesia produk CPO Indonesia yang dikatakan tidak ramah lingkungan tersebut
bisa menjadi salah satu pertimbangan politis di dalam TPP.293 Hal tersebut
288
Ibid
Ibid
290
Ibid
291
Wawancara dengan Jedut S Sutoyo. Kepala Seksi Perdagangan Direktorat Kerja Sama Ekonomi
ASEAN. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Senin, 22 Juni 2015.
289
292
Wawancara dengan Arif Sulaksono. Kepala Seksi APEC SOM Committee On Ecotech Dan
Working Groups, Direktorat Kerja Sama Intrakawasan Asia Pasifik dan Afrika, Ditjen Asia pasifik dan
Afrika. Kementerian Luar Negeri RI. Senin, 22 Juni 2015
293
Ibid
119
disebabkan negara-negara anggota TPP misalnya negara-negara Eropa juga memiliki
kepentingan agar produk CPO nya bisa bersaing di TPP.294
Sedangkan dalam RCEP, India dan Tiongkok diikutsertakan. Dengan
perluasan pasar dan keikutsertaan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia serta
didukung oleh jumlah penduduk yang banyak maka peluang pasar bagi RCEP lebih
luas jika dibandingkan dengan TPP. India dan Tiongkok merupakan dua mitra dagang
paling strategis bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia merasa bahwa
bergabung ke RCEP merupakan keputusan yang tepat.295
Selain itu, bagi Indonesia dan ASEAN, RCEP meski tidak melibatkan
Amerika Serikat tetap menjadi keputusan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan
RCEP melibatkan Jepang dan Korea Selatan serta tiga negara berkembang dengan
ekonomi terbesar yaitu Indonesia, India dan Tiongkok. RCEP diprediksi akan
dapat menyumbang 260-644 miliar Dollar AS kepada ekonomi dunia.296
Dalam hal isu yang dibahas di dalam TPP dan RCEP, keduanya memiliki
fokus yang berbeda serta pengaruhnya terhadap posisi Indonesia. TPP membahas
mengenai next-generation of trade issues yang mengatur tentang kebijakan
perburuhan, HAKI, dan e-commerce.297 Terkait isu-isu tersebut, TPP digunakan
oleh Amerika Serikat untuk menjalankan kepentingan nasionalnya. Dalam hal ini
294
Ibid
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
296
Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Fokus Indonesia: Prioritas Perundingan RCEP dibandingkan TPP. Hasil-hasil Kesepakatan
Perundingan Perdagangan Indonesia 2013. Hal 175
297
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
295
120
Amerika Serikat mengajukan proposalnya untuk menambahkan isu mengenai
HAKI, investasi dan lingkungan. Amerika Serikat membutuhkan TPP untuk
menumbuhkan perekonomian dan lapangan pekerjaan.298
Di dalam RCEP, isu mengenai lingkungan, HAKI dan perburuhan
tidaklah menjadi pembahasan. Hal tersebut dikarenakan fokus kerjasama RCEP
bukan dalam lingkup pembahasan isu tersebut. Meski tidak tergolong terlalu
ambisisus namun RCEP dapat menjadi pilihan keputusan bagi Indonesia yang
masih perlu penguatan dalam sektor perdagangan barang, jasa dan investasi yang
sesuai dengan kerangka RCEP. 299
Aspek lainnya yang membedakan TPP dan RCEP adalah dalam hal
liberalisasi sektor perdagangan. TPP mendorong liberalisasi bagi seluruh sektor
perdagangan termasuk sektor pertanian. Berbeda dengan RCEP, liberalisasi
perdagangan yang diberlakukan oleh RCEP berpihak kepada kemampuan masingmasing negara anggota dalam meliberalisasi sektor perdagangannya.
Pertanian merupakan salah satu sektor sensitif bagi negara-negara
anggota RCEP. Bagi Indonesia, bergabung ke RCEP lebih tepat dikarenakan
Indonesia masih memproteksi dan tidak mengikutsertakan produk pertanian ke
dalam liberalisasi karena masing tergolong sebagai Special and Differential
Treatment (SDT). Dengan demikian Indonesia tetap dapat melakukan stabilisasi
298
Andri. Kebijakan Amerika Serikat Untuk Memenuhi Kepentingan Nasionalnya Melalui Trans
Pacific Partnership Periode 2011-2013. Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. 2013. Hal 51-52
299
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
121
harga beras dan perlindungan petani.300 Oleh karena itu, RCEP juga memperkuat
capacity building dalam kerjasamanya agar manfaat dari kerjasama ini dapat
benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota RCEP.301
Selain itu, terkait dengan kebijakan yang harus diterapkan, TPP
memberlakukan reformasi kebijakan terhadap negara-negara anggotanya. Dalam
hal ini kebijakan yang sudah disepakati oleh negara-negara anggota TPP maka
harus diimplementasikan di negaranya masing-masing. Sedangkan di dalam
RCEP, pemberlakuan perubahan atau reformasi kebijakan di negara-negara
anggota tidaklah bersifat mengikat namun mengedepankan fleksibilitas.302
Dengan sifatnya yang tidak mengikat dan fleksibel, maka keputusan
untuk bergabung ke RCEP adalah tepat bagi Indonesia. Indonesia yang masih
membutuhkan proses dan reformasi struktural
karena
Indonesia masih
membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dengan kemampuan Indonesia terkait
reformasi yang akan diimplementasikan terhadap ekonomi domestik.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan final yang
diambil oleh pemerintah Indonesia terkait pembentukan TPP pada tahun 2013
yaitu mempertahankan sentralitas ASEAN dan bergabung dengan RCEP
merupakan keputusan yang tepat. Melalui kalkulasi keuntungan dan kerugian
300
Wawancara dengan Reza Pahlevi Chairul. Deputy Director of ASEAN Cooperation Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia. Pada Selasa, 14 April 2015.
301
Julia Tijaja. Talking ASEAN: Progress and Further Agendas of The Regional Comprehensive
Economic Partnership (RCEP). Presentation and Discussion Report ASEAN Studies Program The
Habibie Center. 2014. Hal 5
302
Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Fokus Indonesia: Prioritas Perundingan RCEP dibandingkan TPP. Hasil-hasil Kesepakatan
Perundingan Perdagangan Indonesia 2013. Hal 173
122
antara TPP dan RCEP, Indonesia lebih sesuai jika bergabung ke dalam RCEP.
Melalui RCEP pula sentralitas ASEAN akan tetap bertahan dengan memusatkan
seluruh kegiatan perdagangan bebas di ASEAN. Dengan fleksibilitas dan
keberpihakan terhadap kemampuan masing-masing negara anggota RCEP,
pemerintah Indonesia merasa bahwa ruang gerak untuk mempekuat pertumbuhan
ekonomi akan lebih luas jika bergabung ke RCEP dibandingkan TPP.
123
BAB V
KESIMPULAN
TPP adalah kerjasama perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik yang
memiliki tujuan ambisius untuk menjadi model perdagangan percontohan abad 21.
TPP tidak hanya mencakup kerjasama liberalisasi perdagangan barang, jasa dan
investasi namun juga membahas next generation trade issues seperti e-commerce,
HAKI dan kebijakan perburuhan.
Melalui model analisa Rational Actor Model (RAM), skripsi ini
menjelaskan bagaimana pemerintah Indonesia melakukan pengambilan keputusan
terhadap TPP melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu dengan merumuskan
kebijakan-kebijakan alternatif yang menjadi respon Indonesia terhadap pembentukan
TPP. Tahap kedua yaitu memutuskan kebijakan final yang menjadi pilihan
pemerintah Indonesia.
Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberikan lima respon
sebagai kebijakan alternatif. Pertama, Indonesia tetap bersikap open-minded terhadap
potensi terbentuknya dan munculnya perjanjian-perjanjian perdagangan bebas (FTAs)
baru dalam perdagangan internasional. Namun di sisi lain, pemerintah Indonesia juga
tetap memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia yaitu melindungi konsumen
dan produsen dalam negeri serta meningkatkan ekspor.
Pertimbangan berikutnya yang menjadi pilihan kebijakan pemerintah
Indonesia yaitu Indonesia akan tetap melaksanakan politik luar negeri bebas dan
124
aktif. Keaktifan Indonesia di dalam berbagai fora internasional seperti AFTA, WTO
dan APEC tetap akan menjadi fokus karena pada ketiga ogranisasi ekonomi
multilateral tersebut Indonesia memiliki peran yang sangat penting misalnya menjadi
ketua APEC, AFTA serta WTO di mana Indonesia memiliki pengaruh dalam
pelaksanaan perjanjian-perjanjian di dalamnya. Namun di sisi lain, pemerintah
Indonesia perlu bersikap hati-hati ketika memutuskan untuk bergabung ke dalam
TPP. Hal ini terkait dengan produk kelapa sawit (crude palm oil) milik Indonesia
yang oleh Amerika Serikat dinilai sebagai produk yang tidak ramah lingkungan.
Produk CPO Indonesia ini ditolak oleh TPP dan negara-negara anggota lainnya di
dalam TPP juga menyatakan bahwa produk CPO ini tidak ramah lingkungan. Padahal
di sisi lain, ketika diadakan Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Ekonomi
Asia Pasifik (KTT APEC), 8-9 September 2012 di Vladivostok, Rusia pada tahun
2013 produk CPO milik Indonesia dinyatakan sebagai produk ramah lingkungan.
Dengan demikian pemerintah Indonesia merasa bahwa jika produk CPO Indonesia
semakin lemah jika diikutsertakan di dalam TPP dan akan berdampak buruk terhadap
ekspor Indonesia di masa yang akan datang.
Pertimbangan berikutnya yang pada akhirnya menjadi kebijakan utama
yang dipilih oleh pemerintah Indonesia yaitu menekankan sentralitas ASEAN.
Sebagaimana TPP diketuai oleh Amerika Serikat maka semua regulasi terkait dengan
pelaksaan perjanjian di TPP akan mengendepankan kepentingan nasional Amerika
Serikat. Untuk mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Amerika Serikat,
melalui TPP, Amerika Serikat mengajukan proposal yang terkait dengan isu next125
generation trade seperti Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), lingkungan hidup dan ecommerce. Adapun semua isu tersebut bukan merupakan fokus Indonesia saat ini.
Yang menjadi fokus Indonesia saat ini adalah mengimplementasikan komitmen
terhadap ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dengan menekankan dan
meningkatkan perdagangan intra ASEAN.
Adapun pertimbangan kedua yang utama dan yang difokuskan oleh
pemerintah Indonesia dalam merespon pembentukan TPP tahun 2013 adalah
bergabung ke dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Jika di
TPP yang diketuai oleh Amerika Serikat tidak mengikutsertakan India dan Tiongkok,
di RCEP yang diketuai oleh ASEAN kedua negara tersebut justru diikutsertakan. Hal
ini mengingat India dan Tiongkok adalah dua mitra dagang utama ASEAN. Selain
itu, Indonesia sebagai inisiator dan ketua di dalam RCEP juga akan semakin luas
pasarnya dengan keberadaan India dan Tiongkok
yang didukung oleh jumlah
penduduknya sebagai mitra dagang terbesar dan utama bagi Indonesia.
Dengan demikian, alasan-alasan pemerintah Indonesia untuk memberikan
beberapa respon terhadap pembentukan TPP tahun 2013 merupakan hasil dari
perhitungan keuntungan dan kerugian yang rasional dan tidak merugikan Indonesia
sekalipun tidak bergabung ke TPP. RCEP akan tetap menjadi tempat bagi Indonesia
untuk meningkatkan perannya di kawasan intra ASEAN dan non ASEAN yaitu
dengan India dan Tiongkok yang secara alamiah RCEP akan menjadi kelanjutan dari
implementasi prinsip sentralitas ASEAN setelah terwujudnya ASEAN Economic
Community 2015.
126
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Alex Mintz dan Karl DeRouen. 2010. Understanding Foreign Policy Decision
Making. Cambridge University Press.
Awani Irewati, et al. 1997. Indonesia dan APEC: Dalam Perkembangan Ekonomi
Politik Internasional. PPW-LIPI.
Charles L Glaser. 2010. The Rational Theory of International Politics: The Logic
of Competition and Cooperation. New Jersey: Priceton University Press.
Denzin Norman K dan Yvonna S Lincoln. Handbook of Qualitative Research
Second Edition. Sage Publications, Inc.
Marijke Breuning. 2007. Foreign Policy Analysis: A Comparative Introduction.
Palgrave Macmillan.
Martin Griffith dan Terry O’ Callaghan. 2002. International Relations: The Key
Concepts. London and New York: Routledge.
Patton Michael Quinn. A Guide To Using Qualitative Research Methodology.
Medecins Sans Frontieres.
Valerie Hudson, et al. 2002. Foreign Policy Making (Revisited). New York:
Palgrave Macmillan.
JURNAL
--------. 2014. (TPP) Negotiations and Issues for Congress. Congressional
Research Service.
Alan V. Deardorff. 2013. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for
ASEAN and Other Asian Countries. The University of Michigan.
Alex Mintz. 2004. How Do Leaders Makes Decision? A Poliheuristic Perpective.
Journal of Conflict Resolution, Vol. 48 No.1, February. Sage Publications.
Andri. 2013. Kebijakan Amerika Serikat untuk Memenuhi Kepentingan
Ekonominya melalui Trans Pacific Partnership Periode 2011-2013.
Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Asian Development Bank Institute. 2012. Negotiations for the Trans-Pacific
Partnership Agreement: Evaluation and Implications for East Asian
Regionalism.
Brock R Williams. Trans Pacific Partnership(TPP)
Countries: Comparative
Trade and Economic Analysis. Congressional Research Service.
Bruce Bueno de Mesquita. 2013. Foreign Policy Analysis and Rational Choice
Models. New York University/Stanford University
Deardorff Alan V. 2013. Trade Implications of the Trans-Pacific Partnership for
ASEAN and Other Asian Countries. The University of Michigan.
Direktorat Jenderal Kerjasama Internasional. Fokus Indonesia: Prioritas
Perundingan RCEP Dibandingkan TPP. Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia.
Edward Elgar. 2014. Partnership Agreement.
Ezzel J Stephen J dan Robert D Atkinson. 2011. Gold Standard or WTO-Lite?:
Shaping the Trans-Pacific Partnership. The Information and Technology
& Innovation Foundation. May 2011.
Ganeshan Wignaraja. 2014. Regional Comprehensive Economic Partnership
Agreement (RCEP): An initial assessment. Asian Development Bank
Institute.
Ian F Fergusson, et al. 2014. The Trans-Pacific Partnership (TPP) Negotiations
and Issues for Congress. Congressional Research Service.
--------. 2013. Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership guna Meningkatkan
Peran Indonesia di Kawasan ASEAN dalam rangka Ketahanan Regional.
Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 16. November 2013.
Inkyo Cheong. 2013. Negotiations for the Trans-Pacific Partnership Agreement:
Evaluation and Implications for East Asian Regionalism.
Asian
Development Bank Institute Working Paper Series. July 2013.
Inriani Margaretha Sitohang. 2014. Penolakan Indonesia Bergabug dalam Trans
Pacific Partnership. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 2,
Nomor 2. Hubungan Internasional Universitas Mulawarman.
Joshua P Meltzer. The Trans-Pacific Partnership Agreement, the Environment
and Climate Change. Trade Liberalisation and International Co-operation:
A Legal Analysis of the Trans-Pacific.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Analisis Daya Saing Karet dan
Produk dari Karet Indonesia Terhadap Cina.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Pilar-Pilar Peningkatan Daya
Saing dan Perlindungan Konsumen.
Kenichi Kawamoto. 2011. Japan Looks to Trans-Pacific Partnership to
Transform its Economy. Japan External Trade Organization. Februari
2011.
Kiyono Ken. A Study on
The Concept of The National Interest of Hans J
Morgenthau: As a Standard of American Foreign Policy. Nagasaki
University’s Academic Output Site.
Leon E Trakman. Investment Dispute Resolution Under The Proposed
Transpacific Partnership Agreement: Prelude to A Slippery Slope?.
George Mason Journal of International Commercial Law.
Lukman Oseman, et al. 2013. Jurnal ISAFIS: Kumpulan Tulisan Inspiratif dari
Anak Bangsa. International Student Association for International Studies.
Lydia Lancay Li. 2012. Trans-Pacific Partnership Agreement: An Analysis of
Opportunities and Agreement. LiY fellowship paper.
Mary E. Burfisher, et al. 2014. Agriculture in The Trans Pacific Partnership. A
Report Summary From The Economic Research Service. United States
Department of Agriculture.
Michael G. Roskin. 1994. National Interest: From Abstraction to Strategy.
Director, Strategic Studies Institute, U.S. Army War College, Carlisle
Barracks.
Ministry of Trade and Industry Singapore. 2014. Factsheet: What You Need To
Know about The Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP)?.
Ministry of Trade and Industry Singapore. 2012. Press Release Factsheet on The
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Muhammad Fadli. 2014. Optimalisasi Kebijakan Ketenagakerjaan dalam
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Jurnal RechtsVinding,
Vol. 3 No. 2, Agustus 2014.
Murray Hiebert. How Important is TPP to Our Asia Policy?. Center for Strategic
and International Studies.
Normaliza Abdul Manaf, et al. 2014. The Trans-Pacific Partnership Agreement
(TPPA): Impact on health in Malaysia. International Journal of Innovation
and Applied Studies ISSN 2028-9324 Vol. 7 No. 3 Agustus 2014.
----------. 2013. Peningkatan Peran Indonesia dalam ASEAN Framework On
Equitable Economic Development (EED) dalam rangka Ketahanan
Nasional. Jurnal Kajian Lemhanas Edisi 16 November 2013.
Ratnawilis dan Indra Pahlawan. 2015. Kepentingan Nasional Indonesia untuk
Tidak Bergabung Dalam Trans Pacific Partnership (TPP) di Asia Pasifik
Pada Tahun 2011. Jom FISIP Volume 2 No.1 Februari 2015.
Raymond Boudon. 1998. The Limitations of Rational Choice Theory. American
Journal of Sociology, Vol. 104, No. 3 (November 1998). The University of
Chicago Press.
Sanchita Basu Das. Challenges in Negotiating the Regional Comprehensive
Economic Partership (RCEP). Singapore’s Institute of Southeast Asian
Studies (ISEAS).
Sholeh. 2013. Persiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic
Community (AEC) 2015. eJournal Hubungan Internasional, 2013, 1 (2):
509-522.
---------. 2011.Trans Pacific Partnership Transparency Chapter-Annex on
Transparency and Procedural Fairness for Healthcare Technology.
---------. 2015. Trans-Pacific Partnership Investment Chapter country negotiators.
Trans Pacific Partnership treaty: Advanced Investment Chapter working
document for all 12 nations. WikiLeaks release. 20 Januari 2015.
TU Thuy Anh and CHU Thi Mai Phuong. 2014. On the border effect in the
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Foreign Trade
University (Vietnam). Agustus 2014.
William Krist. Negotiations for A Trans Pacific Partnership Agreement. Wilson
Center: Program on America and the Global Economy.
WEBSITE
Anastaius Riyanto. Peningkatan Peran Indonesia dalam Diplomasi Perdagangan
Internasional. Dikutip dari http://www.tabloiddiplomasi.org/previousisuue/128-maret-2011/1075-peningkatan-peran-indonesia-dalamdiplomasi-perdagangan-internasional-.html. Diakses pada Minggu, 7 Juni
2015. Pukul 22.42 WIB
Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia:
Pertumbuhan
PDB
2013
Mencapai
5,78%.
Dikutip
dari
http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_05feb14.pdf . Diakses pada Rabu, 21
Januari 2015. Pukul 10.24 WIB.
Bagus BT Saragih. ASEAN Members Step Up Consolidation for RCEP. Dikutip
dari
http://www.thejakartapost.com/news/2014/02/27/asean-members-
step-consolidation-rcep.html. Diakses pada Selasa, 23 Juni 2015. Pukul
15.42 WIB
Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2013. Dipetik dari
http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporantahunan/perekonomian/Document
s/LPI%202013%20ID%20%20Bagian%20II%20Perekonomian%20Domestik.pdf.
Diakses
pada
Jumat, 5 Juni 2015 Pukul 10.16 WIB.
Benny Gunawan Ardiansyah. Siapkah Indonesia Menghadapi Liberalisasi
Perdagangan?.
Dikutip
dari
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Siapkah%20Indonesia%20
Menghadapi%20Liberalisasi%20Perdagangan.pdf. Diakses pada Minggu,
7 Juni 2015. Pukul 23.18 WIB
Bortiandy Tobing.
Perbaikan
Kinerja
Logistik Nasional. Dikutip dari
http://supplychainindonesia.com/new/perbaikan-kinerja-logistik-nasional/.
Dikses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 12.17 WIB
Dwi Sulistyo. RI Pastikan Tidak Bergabung dengan Pakta Perdagangan Bikinan
AS. Dikutip dari http://jaringnews.com/ekonomi/umum/52939/ri-pastikantidak-bergabung-dengan-pakta-perdagangan-bikinan-as.
Diakses
pada
Kamis, 19 Februari 2015. Pukul 10.53 WIB.
Erwidodo dan Deny Wachyudi Kurnia. Tata Perdagangan Dunia dan Upaya
Indoensia
Memacu
Ekspor
Hasil
Pertanian.
Dikutip
dari
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/Pros_2012_01_MU_Erwidod
o.pdf. Diakses pada Jumat, 5 Juni 2015. Pukul 14.43 WIB
Ferdiansyah Ali. Skema Trans Pacific Partnership (TPP) Amerika Serikat
Hancurkan Produk Industri Kelapa Sawit Indonesia. Dikutip dari
http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=9554&type=4#.VVRHNuHN
PVg. Diakses pada Kamis, 14 Mei 2015. Pukul 14.05 WIB
---------. Gita Wirjawan: RI Ikut RCEP Bukan untuk Tandingi TPP. Dikutip dari
Hatta:
RCEP
Untungkan
Indonesia.
Dikutip
rajasa.info/read/1311/hatta-rcep-untungkan-indonesia.
Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 00.23 WIB
dari
http://hatta-
Diakses
pada
Hindra Liauw. Ini Rencana Pembangunan Infrastruktur 2013. Dikutip dari
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/16/21415449/Ini.Rencana
.Pembangunan.Infrastruktur.2013. Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015.
Pukul 11.27 WIB
IFT Online. Indonesia Fokus Selesaikan RCEP di ASEAN. Dikutip dari
http://www.ift.co.id/posts/indonesia-fokus-selesaikan-rcep-di-asean.
Diakses pada Selasa, 23 Juni 2015. Pukul 15.19 WIB
---------.http://jaringnews.com/ekonomi/umum/49957/gita-wirjawan-ri-ikut-rcepbukanuntuk-tandingi-tpp. Diakses pada Selasa, 12 Mei 2015 Pukul 21.08
WIB
http://kemhubri.dephub.go.id/portal-
mp3ei/index.php?page=mp3ei&categori=strategis. Diakses pada Kamis, 2
Oktober 2014
---------.http://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-population.
Diakses pada Kamis, 24 April 2014
----------.http://www.businessdictionary.com/definition/governmentprocurement.html. Diakses pada Selasa, 17 Maret 2015. Pukul 22.17 WIB
-----------.http://www.setkab.go.id/artikel-9931-wto-dan-peluang-indonesia.html.
Diakses pada Minggu, 13 April 2014
-----------.Increase in Indonesia‟s Global Competitiveness Index Reflects
Improvements
in
Its
Economic
Performance.
Dikutip
http://setkab.go.id/en/increase-in-indonesias-global-competitiveness-
dari
index-reflects-improvements-in-its-economic-performance/. Diakses pada
Selasa, 17 Maret 2015. Pukul 23.14 WIB
----------.Indonesia Tolak Ajakan Obama Bergabung ke TPP. Dikutip dari
http://www.gatra.com/ekonomi-1/5431-indonesia-tolak-ajakan-obamabergabung-ke-tpp.html. Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 11.50
WIB
Iwan Kurniawan. Hilirisasi Industri Tambang Pantang Mundur. Dikutip dari
http://www.kemenperin.go.id/artikel/7311/Hilirisasi-Industri-TambangPantang-Mundur. Diakses pada Kamis, 4 Juni 2015. Pukul 11.27 WIB
Jean Heilman Grier. Government procurement – key element in TPP; Missed
opportunity
in
RCEP?
Dikutip
dari
.http://www.asiapathways-
adbi.org/2014/03/government-procurement-key-element-in-tpp-missedopportunity-in-rcep/. Diakses pada Selasa, 17 Maret 2015. Pukul 22.25
WIB
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Multilateral: World
Trade
Organization.
Dikutip
dari
http://kemlu.go.id/Pages/IFPDisplay.aspx?Name=MultilateralCooperation
&IDP=13&P=Multilateral&l=id. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015.
Pukul 11.50 WIB
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kerjasama Teknik. Dikutip dari
http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=1&l=id.
pada Senin, 8 Juni 2015. Pukul 08.51 WIB
Diakses
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. WTO dan Sistem Perdagangan
Dunia.
Dikutip
dari
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/index.php?module=news_det
ail&news_category_id=4&news_sub_category_id=1. Diakses pada Rabu,
21 Januari 2015. Pukul 11.54WIB
-----------.Kerja Sama Ekonomi TPP Cuma Bikin Produk Lokal Tergerus Aja.
Dikutip dari http://m.rmol.co/news.php?id=135484. Diakses pada Rabu,
18 Februari 2015. Pukul 23.18 WIB
Luhur Hertanto. Gita Wirjawan Tegaskan RI Tolak Ajakan Obama Masuk „TPP‟.
Dikutip
dari
http://finance.detik.com/read/2011/11/15/124955/1767659/4/gitawirjawan-tegaskan-ri-tolak-ajakan-obama-masuk-tpp. Diakses pada Sabtu,
6 Juni 2015. Pukul 11. 42 WIB
-----------.Negara
Tujuan
Ekspor
10
Komoditi
Utama.
Dikutip
dari
http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/10-main-and-potentialcommodities/10-main-commodities. Diakses pada Kamis, 4 Juni 2015.
Pukul 11.45 WIB
Neneng Zubaidah. 11 Industri Ini Belum Siap Hadapi Pasar Bebas. Dikutip dari
http://economy.okezone.com/read/2014/09/05/320/1034756/11-industriini-belum-siap-hadapi-mea. Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015. Pukul 12.18
WIB
---------. Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Defisit. Indonesian Economic
Review and Outlook Macroeconomic Dashboard FEB UGM. Dikutip dari
http://macroeconomicdashboard.com/index.php/internasional/122perkembangan-internasional-2013-ii. Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015.
Pukul 10.38 WIB
---------. Peran Pemerintah dan Sektor Bisnis Indonesia dalam Memanfaatkan
Peluang APEC 2013 bagi Pembangunan Ekonomi di Kawasan Asia
Pasifik. Dikutip dari http://www.apec2013ceosummit.com/press/peranpemerintah-dan-sektor-bisnis-indonesia-dalam-memanfaatkan-peluangapec-2013-bagi-pembangunan-ekonomi-di-kawasan-asia-pasifik.html.
Diakses pada Senin, 8 Juni 2015. Pukul 11.06 WIB
---------.Perkembangan Internasional 2013: 1. Indonesian Economic Review and
Outlook
Macroeconomic
Dashboard
FEB
UGM.
Dikutip
dari
http://macroeconomicdashboard.com/index.php/internasional/106perkembangan-internasional-2013-i Diakses pada Rabu, 21 Januari 2015.
Pukul 10.33 WIB
Sanchita Basu Das. Challenges in Negotiating the Regional Comprehensive
Economic Partership (RCEP). Singapore’s Institute of Southeast Asian
Studies (ISEAS). Hal 3
---------.Siaran Pers. Kemenperin Prioritaskan Program Hilirisasi Industri.
Dikutip
dari
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5642/Kemenperin-
Prioritaskan-Program-Hilirisasi-Industri. Diakses pada Kamis, 4 Juni
2015. Pukul 11.35 WIB
Siprianus Edi Hardum. Daya Saing Indonesia di ASEAN Masih Lemah. Dikutip
dari http://www.beritasatu.com/ekonomi/171385-daya-saing-indonesia-di-
asean-masih-lemah.html. Diakses pada Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 12.04
WIB
---------. Trans-Pacific Partnership (TPP) dan Proses Integrasi Ekonomi Kawasan
Asia-Pasifik.
Dikutip
dari
http://www.kemlu.go.id/Lists/PressRelease/DispForm.aspx?ID=1052.
Diakses pada Rabu, 18 Februari 2015. Pukul 23.50 WIB
---------. UNCTAD Programme on Non-Tariff Measures in World Trade. Dikutip
dari http://www.unctad.info/en/Trade-Analysis-Branch/Key-Areas/NTM/.
Diakses pada Jumat, 10 April 2015. Pukul 00.08 WIB
Wang Yuzhu. The RCEP Initiative and ASEAN “Centrality”. Dikutip dari:
http://www.ciis.org.cn/english/2013-12/06/content_6518129.htm. Diakses
pada Kamis, 09 April 2015. Pukul 22.54 WIB
---------.Why is Agriculture is Difficult for Trade Deals?. Dikutip dari
http://www.asiantradecentre.org/talkingtrade/2015/4/28/why-isagriculture-so-difficult-for-trade-deals. Diakses pada Sabtu, 6 Juni 2015.
Pukul 10.51 WIB
KARYA ILMIAH & DOKUMEN
Andri. 2013. Kebijakan Amerika Serikat Untuk Memenuhi Kepentingan
Nasionalnya Melalui Trans Pacific Partnership Periode 2011-2013.
Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Angga Handian Putra. Peluang, Tantangan dan Implikasi Trans Pacific
Partnership. Buletin Kerja Sama Perdagangan Internasional. Direktorat
Kerja Sama Perdagangan
Internasional Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia.
CLMV Countries Under AFTA: Coping With Revenue Losses. ASEAN One.
April. 2005
Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian. 2007.
Kebijakan Pemerintah dalam Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dan
Liberalisasi Perdagangan Jasa Profesi di Bidang Hukum.
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri RI. 2009. Cetak
Biru Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community
Blueprint).
Humphrey Wangke. Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
2015. 2014. Info Singkat Hubungan Internasional Vol. VI, No.
10/II/P3DI/Mei/2014. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi
(P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI.
Imam
Mustofa.
WTO
dan
Kedaulatan
Pangan.
Dikutip
dari
http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/129037%5B_Konten_%5D-WTO-Rep0001.pdf. Diakses pada Selasa, 9 Juni
2015.
Julia Tijaja. 2014. Talking ASEAN: Progress and Further Agendas of The
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Presentation and
Discussion Report ASEAN Studies Program The Habibie Center.
---------. List of Developing Countries. A Mandatory References for ADS Chapter
310. New Edition.
Siaran Pers. Indonesia Masih Mempertimbangkan Keikutsertaannya dalam Trans
Pacific Partnership. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
TPP Summary Document. The Australia Malaysia Business Council (AMBC)
Triwahyuni Dewi. Signifikansi Kawasan Asia Tenggara dalam Kepentingan
Amerika Serikat. Majalah Ilmiah Unikom Vol.9, No.1.
Yose Rizal Damuri. 2014. RCEP and Indonesia. ASEAN Studies Program The
Habibie Center.
LAMPIRAN 1
WAWANCARA
Narasumber
Jabatan
: Reza Pahlevi Chairul
: Deputy Director of ASEAN Cooperation
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Tanggal wawancara : Selasa, 14 April 2015
1. Apa konsep perdagangan Internasional Indonesia pada tahun 2013.
Peningkatan ekspor barang dan jasa termasuk jasa konstruksi diarahkan pada
penganekaragaman jenis komoditas ekspor, peningkatan jumlah serta mutu
barang dan jasa ekspor serta meningkatkan daya saing melalui upaya
perluasan pasar, penyebaran informasi dan peningkatan promosi, didukung
oleh sarana dan prasarana telekomunikasi, komunikasi, dan transportasi serta
lembaga keuangan yang andal. Impor barang dan jasa diarahkan untuk
meningkatkan produksi dalam negeri yang berorientasi pada ekspor,
penghematan devisa, dan pola hidup sederhana.
Perlunya melindungi kepentingan produsen dan konsumen dalam rangka
memantapkan stabilitas ekonomi, mempercepat pembangunan, menyebarkan
dan memeratakan hasil pembangunan ke seluruh wilayah tanah air sehingga
kesempatan usaha dan lapangan kerja terbuka lebih luas serta lebih
mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan
masyarakat.
2. Bagaimana potensi pasar domestik Indonesia dalam perdagangan Internasional.
 Selama lima tahun terakhir (2005-2009) pertumbuhan ekspor Indonesia cenderung
meningkat sebesar 20% pertahun, begitu pula pertumbuhan impor cenderung
meningkat sebesar 9,7% pertahun. Pada Tahun 2009 Indonesia menduduki
peringkat ke-29 dalam ekspor dunia dan posisi ke-28 dalam impor dunia. Selama
tahun 2009, sektor Industri menyumbang 75,3%, pertambangan 20,2% dan
pertanian 4,5 % terhadap total eskpor Indonesia. Negara yang menjadi mitra
Dagang utama Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat Singapura, RRT dan
India.
 Pertumbuhan ekonomi Indonesia relative lebih baik daripada pertumbuhan ratarata ekonomi ASEAN.
 Stabilitas makro ekonomi cukup baik, denngan tingkat inflasi terkendali.
 Potensi pasar yang terbuka dan tenaga kerja yang banyak (625 juta jiwa)
 Kemudahan informasiakan kebutuhan barang dan jasa
xvii
 Kemudahan fasilitasi perdagangan
 Indikator lain yang dapat mengukur perkembangan perdagangan adalah
diversifikasi produk dan diversifikasi pasar. Kinerja ekspor dapat dikatakan bagus
jika produk yang diekspor bervariasi dan juga pasar ekspornya luas.
Posisi Indonesia pada beberapa index ekonomi jika dibandingkan dengan negara lain:
 Logistic Performance Index (2014): Singapura (5), Jepang (10), Australia
(16),Korea Selatan (21), Selandia Baru (23), Malaysia (25), Tiongkok (28),
Thailand (35), Vietnam (48), Indonesia (53), India (54).
 Global Competitiveness Index (2013): Singapura (2), Malyasia (24), Brunei (26),
Tiongkok (29), Thailand (37), Indonesia (38), India (60), Vietnam (70).
 Human Development Index (2012): Singapura (18), Malaysia (64), Thailand
(103), Filipina (114), Indonesia (121).
3. Bagaimana posisi Indonesia tahun 2013 di berbagai kerjasama ekonomi internasional
seperti WTO, APEC dan AFTA
a. AFTA
No
Keterangan
Sebelum AFTA
(2001 – 2003)
Setelah AFTA
(2004 – 2012)
1
Pertumbuhan Ekonomi
1,1%
6,2%
2
Ekspor (Rp. Milyar)
95,672
245,730
Impor (Rp. Milyar)

-
Barang Akhir
4,721
20,028
-
Barang Antara
58,262
272,221
3
Output (Milyar)
300,392
1,023,951
4
PDB atau NTB (Milyar)
160,201
575,415
5
Pendapatan Masyarakat (Milyar)
30,856
117,936
6
Penyerapan Tenaga Kerja (Ribu
Orang)
1,347
5,409
Sektor Jasa memberikan kontribusi sekitar 47% terhadap GDP ASEAN dan 47,2%
terhadap GDP Indonesia tahun 2012. Dengan semakin terbukanya kesepakatan di
sektor jasa, ditargetkan peningkatan kontribusi sebesar 70% pada tahun 2025.
Penyerapan Tenaga Kerja Nasional sebesar 15% (2012). Total ekspor jasa ASEAN
xviii

sebesar US$ 319,7 Milyar dan total impor jasa ASEAN sebesar US$ 306,5 Milyar
tahun 2012; Total investasi Jasa ASEAN sebesar USD$108, 21 Milyar (2012);
Aliran investasi intra ASEAN mencapai US$ 26.27 milyar pada tahun 2011 dan
sebesar US$ 5.8 milyar atau 22,23% masuk ke Indonesia.
b. WTO
Keterlibatan dan posisi Indonesia dalam proses perundingan Doha Development
Agenda (DDA) didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka mendorong
pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Dalam kaitan ini, untuk memperkuat
posisi runding Indonesia bergabung dengan beberapa koalisi. Koalisi-koalisi tersebut
antara lain G-33, G-20, NAMA-11, yang kurang lebih memiliki kepentingan yang sama.
Indonesia terlibat aktif dalam kelompok-kelompok tersebut dalam merumuskan posisi
bersama yang mengedepankan pencapaian development objectives dari DDA. Indonesia
juga senantiasa terlibat aktif di isu-isu yang menjadi kepentingan utama Indonesia, seperti
pembangunan, kekayaan intelektual, lingkungan hidup, dan pembentukan aturan WTO
yang mengatur perdagangan multilateral.
Indonesia selaku koordinator G-33 juga terus melaksanakan komitmen dan peran
kepemimpinannya dengan mengadakan serangkaian pertemuan tingkat pejabat teknis dan
Duta Besar/Head of Delegations, Senior Official Meeting dan Pertemuan Tingkat
Menteri; baik secara rutin di Jenewa maupun di luar Jenewa. Hal ini bertujuan demi
tercapainya kesepakatan yang memberikan ruang bagi negara berkembang untuk
melindungi petani kecil dan miskin. Sebagai koalisi negara berkembang, G-33 tumbuh
menjadi kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam perundingan pertanian;
anggotanya saat ini bertambah menjadi 46 negara.
Indonesia memiliki kepentingan untuk tetap aktif mendorong komitmen WTO untuk
melanjutkan perundingan Doha. Indonesia terbuka atas cara-cara baru untuk
menyelesaikan perundingan dengan tetap mengedepankan prinsip single undertaking dan
mengutamakan pembangunan bagi negara berkembang dan LDCs.
c. APEC
Melalui keketuaan Indonesia pada APEC 2013, peran dan posisi Indonesia dalam
kancah internasional akan semakin strategis. Posisi Indonesia sebagai salah satu di antara
sembilan negara APEC yang masuk G-20 sangatlah strategis dalam menjaga stabilitas
kawasan sekaligus sebagai motor penggerak ekonomi kawasan. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2011 merupakan salah satu yang tertinggi di Asia Pasifik.
Pada 2011, aktivitas perdagangan Indonesia-APEC mencapai 76 persen dari total
perdagangan Indonesia-dunia. Terlebih masuknya sejumlah negara Amerika Latin seperti
Meksiko, Cile, dan Peru memberikan alternatif ekspor produk nasional di tengah
pelemahan ekonomi sejumlah negara yang menjadi pasar tradisional Indonesia. Pada
xix
2012 tren ini juga masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara sentral dalam
menjaga pertumbuhan kawasan. Dengan produk domestik bruto (PDB)
berdasarkan purchasing power parity (PPP) lebih dari USD1 triliun dan meningkatnya
kelas menengah, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi di Asia Pasifik.
Asia Pasifik terintegrasi dengan kawasan lain sehingga perlu adanya kemampuan
adaptasi (adaptive capacity) untuk merespons setiap sentimen negatif. Ketidakpastian
pasokan pangan dan minyak dunia membutuhkan koordinasi dan kerja sama kawasan
untuk terhindar dari persaingan yang berpotensi menciptakan destabilitas kawasan.
Kepemimpinan Indonesia juga akan sangat menentukan bagi tidak hanya terciptanya
ketahanan ekonomi,tetapi juga pengondisian bagi terciptanya kawasan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi di Asia Pasifik. Hal ini terlihat pada semakin menurunnya biaya
transaksi perdagangan periode 2007–2010 sebesar lima persen dengan nilai penghematan
mencapai USD58,7 juta. Penurunan tarif pada 2010 dapat ditekan menjadi 5,8 persen dari
17 persen pada 1989. Kerja sama ekonomi APEC juga berhasil meningkatkan penyerapan
tenaga kerja sebesar 10,8 persen dalam kurun waktu satu dekade (1999-2009) sehingga
tingkat kemiskinan di kawasan APEC dapat ditekan dan berkurang 35 persen dalam
kurun 1999-2009.
4. Apa saja kerugian dan keuntungan yang diperoleh Indonesia selama menjadi anggota
kerjasama ekonomi internasional hingga tahun 2013.
No
1
Peneliti
BP2KP
Keuntungan
Kerugian
- Peningkatan kesejahteraan - Defisit
perdagangan
sebesar US$ 1,516 Juta
sebesar USD 579,5 juta
- Peningkatan pertumbuhan
ekonomi sebesar 0,26%
2
CSIS
3
BAPPENAS
- Indonesia’s position in the - Kurangnya daya saing
regional value chain
- Keterlibatan
Indonesia
dalam Regional Value
Chain di RCEP masih
didominasi oleh
Low
Technololgy
Industries
yang menghasilkan bahan
baku/penolong.
- Mendorong
Indonesia - Kurangnya daya saing
menuju
“Regional
Production Hub” terutama
untuk sektor otomotif
4
ERIA
- Dampak
RCEP
thdp
pertumbuhan ekonomi cukup
substantial
and
larger
dibandingkan
dengan
ASEAN, ASEANFTA +CJK,
xx
ASEAN+3 FTA
- Politically, RCEP is beyond
economic integration.
5. Apa respon Indonesia saat pertama kalo TPP dibentuk:
 Keberadaan TPP secara aktual dan potensial mengarah pada penurunan
signifikansi ASEAN yang diharapkan sebagai motor kerjasama regional di
kawasan Asia Tenggara dan Asia.
 Indonesia perlu memelopori usaha-usaha untuk mengarahkan negara-negara
anggota ASEAN dan Asia Timur untuk lebih fokus pada upaya-upaya kerjasama
ekonomi dalam kerangka ASEAN, dengan berpijak pada prinsip “sentralitas
ASEAN” yang secara eksplisit tercantum dalam Piagam ASEAN.
 Dalam konteks dinamika regional dan internasional yang lebih luas, Indonesia
tidak semestinya terlarut dalam agenda kekuatan besar dunia tertentu, khususnya
AS, yang menggunakan TPP bukan hanya untuk tujuan ekonomis, tapi juga untuk
tujuan geopolitik dan geostrategik dalam rangka memperkuat kembali
pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik dan mengurangi pengaruh dari kebangkitan
ekonomi dan militer China secara regional dan internasional
 Pada tataran strategis, kepentingan Indonesia tetap dapat digambarkan dengan
dynamic equilibrium, utamanya supaya tidak ada prepondering power di kawasan.
 Terkait dengan investasi, keleluasaan kebijakan nasional pemerintah akan dibatasi
oleh komitmen terhadap investor. (ISDS  Komitmen investasi di bidang
pertambangan berpotensi sengketa.)
 Indonesia harus siap menghadapi tuntutan reformasi kebijakan dalam negeri
apabila bergabung dengan TPP.
 Indonesia masih perlu memberikan perlakuan khusus seperti subsidi, kredit
ringan, perlindungan dagang, serta pengadaan pemerintah.
 Untuk memahami posisi Indonesia lebih lanjut dalam isu TPP, sila dilihat link
berikut:http://www.sr-indonesia.com/in-the-journal/view/indonesia-connecting-tothe-region-and-beyond.
6. Bagaimana daya saing Indonesia dalam perdagangan intra ASEAN
Produk Unggulan Ekspor Indonesia ke ASEAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Tekstil dan produk tekstil: Malaysia, Thailand, dan Vietnam
Elektronik: Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Karet: Singapura
Produk hutan: Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand.
Alas kaki: Singapura
Otomotif: Thailand, Filiipina, Malaysia, Singapura, dan Myanmar
Udang: Vietnam, Singapura, dan Malaysia
Coklat: Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand
Kopi: Malaysia dan Singapura
xxi
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
Kulit dan produk kulit: Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Peralatan dan instrumen medis: Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Rempah-rempah untuk obat: Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand.
Makanan olahan: Malaysia, Filipina, Singapura, Kamboja, Thailand,
Vietnam.
Essential oil: Singapura.
Ikan dan produk ikan: Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.
Produk Kerajinan: Singapura dan Malaysia.
Perhiasan: Singapura, Thailand, dan Malaysia.
Bumbu (spices): Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Peralatan tulis selain kertas: Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.
Nilai Perdagangan Indonesia dengan ASEAN (USD Juta)
Note:
Sebelumnya Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dengan negara
ASEAN, namun 2 (dua) tahun terakhir (2012 & 2013) mengalami defisit, sebagai
akibat peningkatan impor dari Thailand dan Vietnam yang cukup besar, yakni sekitar
USD 800 juta dari Thailand dan USD 300 juta dari Vietnam. Impor utama
penyumbang defisit adalah sektor otomotif dan gula dari Thailand dan dari Vietnam
antara lain sektor besi dan baja, dan termasuk beras.
7. Bagaimana proses pengambilan kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dalam merespon TPP
TPP saat ini merupakan isu perdagangan internasional yang penting dan kompleks.
Perkembangan TPP diperkirakan akan memiliki pengaruh terhadap arah dan masa
depan ASEAN dan kerjasama regional lainnya, sekaligus arsitektur kawasan Asia
Pasifik. Oleh karena itu, arah diplomasi ekonomi Indonesia terhadap TPP sudah harus
jelas sejak awal. Terkait hal itu, Indonesia hendaknya menyelesaikan terlebih dahulu
xxii
perundingan RCEP yang dijadwalkan selesai 2015, baru kemudian melihat kepada
TPP. Indonesia harus mampu menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan adanya
kesamaan visi dan misi di antara para stakeholders di dalam negeri.
8. Kebijakan-kebijakan alternatif apa sajakah yang telah diambil pemerintah Indonesia
sebelum merespon untuk tidak bergabung ke TPP


Indonesia bersikap “open-minded” dan pada waktu yang bersamaan berorientasi
pada kepentingan nasional.
RI menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas-aktif.
9. Adakah pengaruh internal negara dalam proses pengambilan keputusan atau
perumusan kebijakan luar negeri yang terkait dengan TPP?
Indonesia mempertimbangkan fakor kesiapan pelaku usaha, dan infrastruktur
perdagangan (hardware dan software) di dalam Negeri sebelum mengambil posisi
terhadap TPP. Indonesia memandang isu perdagangan di TPP pada saat ini terlalu
advanced untuk diikuti oleh pelaku usaha dan perdagangan di dalam Negeri.
Kebanyakan isu yang diangkat dalam TPP merupakan isu next-generation of trade
yang termasuk didalamnya mengatur kebijakan perburuhan, HAKI, dan e-commerce.
Indonesia berpandangan bahwa institusional next-genaration of trade di Indonesia
perlu diberikan kesempatan untuk tumbuh sesuai kebutuhan Indonesia sendiri
daripada mengacu pada standard Negara-Negara maju yang tergabung dalam TPP.
10. Akankah Indonesia merubah sikapnya untuk bergabung ke TPP di masa yang akan
datang.
Secara internal, ekonomi Indonesia sendiri belum cukup kuat untuk melibatkan diri
dalam sebuah perjanjian perdagangan bebas yang sangat komprehensif dan mengikat,
mengingat masih rendahnya daya saing ekonomi nasional secara umum dan
banyaknya kelemahan-kelemahan dalam ekonomi domestik yang harus lebih dahulu
dibenahi. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih membutuhkan Special and
Differential Treatment (SDT) untuk pertanian, stabilisasi harga beras dan
perlindungan petani. Dalam hal ini pemerintah perlu meningkatkan keseriusan untuk
memelopori usaha peningkatan daya saing ekonomi nasional, dengan melibatkan
semua pihak yang terkait, seperti pengusaha nasional, pengusaha di daerah,
pemerintah daerah dan masyarakat secara umum.
xxiii
LAMPIRAN 2
WAWANCARA
Narasumber
Jabatan
: Reza Pahlevi Chairul
: Deputy Director of ASEAN Cooperation
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
1. Mengapa pemerintah Indonesia lebih memilih RCEP dibandingkan dengan TPP?
Bagaimana perhitungan rasionalnya?
2. Kebijakan apa saja yang telah ditetapkan sebelum akhirnya pemerintah Indonesia
memutuskan untuk bergabung ke RCEP?
3. Apa perbedaan mempertahankan sentralitas ASEAN dengan dibentuknya RCEP?
1. Pilihan antara memilih RCEP dan TPP sebenarnya lebih bersifat politis (dapat dicari dari
inisiasi awal pembentukan RCEP). Tetapi mungkin saya akan menjelaskannya dari sisi
benefit dalam trade yang akan Indonesia dapatkan.
 Negara yang berpartisipasi dalam RCEP adalah mitra ekonomi yang penting dan
tetangga regional untuk Indonesia.
 Mitra dagang utama Indonesia ( Jepang, Amerika Serikat, Singapura, China dan India
) yang berpartisipasi dalam negosiasi RCEP.
 Dll.
Neraca Perdagangan Indonesia Dengan Negara-Negara RCEP
Countries
Populations*
Trade
INA
Export INA
Import Balances
GDP (US$ (US$
(US$
(US$
Billions)** Thousand)*** Thousand)*** Thousand)
22,262,501
961.0
3,358,465.0
5,078,466.7
-1,720,001.7
415,717
21.6
81,754.9
14,714.1
67,040.8
INA-FTA
Australia
Yes
Brunei
Darussalam
Yes
Burma
Yes
55,167,330
102.6
400,835.6
63,532.6
337,303.0
Cambodia
Yes
15,205,539
36.5
291,645.8
11,572.3
280,073.5
xxiv
India
Yes
1,220,800,359 4,716.0
12,446,748.3
4,016,527.4
8,430,220.9
Japan
Yes
127,253,075
4,576.0
17,231,238.7
22,721,469.3
-5,490,230.6
Laos
Yes
6,695,166
18.9
6,684,564.0
8,301,466.6
-1,616,902.6
Malaysia
Yes
29,628,392
494.7
23,783.0
3,301.2
20,481.8
New
Zealand
Yes
4,365,113
130.9
6,321,100.4
2,147,943.8
Philippines
Yes
105,720,644
419.6
366,070.0
696,253.4
-330,183.4
PR of China
Yes
1,349,585,838 12,260.0
3,688,003.4
793,464.7
2,894,538.7
Singapore
Yes
5,460,302
323.0
20,864,072.7
28,961,956.8
-8,097,884.1
South
Korea
Yes
48,955,203
1,598.0
10,637,778.1
-86,875.5
Thailand
Yes
67,497,151
645.2
5,490,150.2
11,298,778.5
-5,808,628.3
Viet Nam
Yes
92,477,857
336.2
2,256,462.2
2,570,208.1
-313,745.9
251,160,124
1,204.0
92,203,740.6
101,490,590.2
-9,286,849.6
153,042,800.0
149,125,300.0
3,917,500.0
Indonesia
TOTAL
TRADE
COUNTRIES 2012
BALANCE
8,469,044.2
10,550,902.6
INDONESIA-RCEP
TOTAL INDONESIAN TRADE BALANCE 2012
Pada tahun 2012, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota RCEP adalah sebesar US$ 92,2
Miliar atau 60% dari ekspor nasional, sementara impor dari negara-negara RCEP sebesar
US$ 101,5 Miliar atau 68% dari impor nasional. Itu artinya negara-negara anggota RCEP
merupakan mitra dagang yang mencakup 64% dari perdagangan dua arah Indonesia dengan
keseluruhan anggotanya sudah memiliki Free Trade Agreement dengan Indonesia. (bisa di
cari untuk update data terbaru)
Neraca Perdagangan Indonesia Dengan Negara-NegaraTrans-Pacific Partnership(TPP)
Countries
Australia
Populations*
INA
Export INA
Import Trade
GDP (US$ (US$
(US$
Balances (US$
Billions)** Thousand)*** Thousand)*** Thousand)
22,262,501
961.0
INA-FTA
Yes
xxv
3,358,465.0
5,078,466.7
-1,720,001.7
Brunei
Yes
Darussalam
415,717
21.6
81,754.9
14,714.1
67,040.8
Canada
No
34,568,211
1,474.0
792,445.9
1,810,253.5
-1,017,807.6
Chile
No
17,216,945
316.9
175,346.5
206,640.9
-31,294.4
Japan
Yes
127,253,075
4,576.0
17,231,238.7
22,721,469.3
-5,490,230.6
Malaysia
Yes
29,628,392
494.7
23,783.0
3,301.2
20,481.8
Mexico
No
118,818,228
1,798.0
593,493.4
568,427.0
25,066.4
New
Zealand
Yes
4,365,113
130.9
6,321,100.4
2,147,943.8
Peru
No
29,849,303
322.9
159,648.3
72,679.0
86,969.3
Singapore
Yes
5,460,302
323.0
20,864,072.7
28,961,956.8
-8,097,884.1
United
States
No
316,438,601
16,240.0
14,590,941.0
11,468,858.6
3,122,082.4
Viet Nam
Yes
92,477,857
336.2
2,256,462.2
2,570,208.1
-313,745.9
251,160,124
1,204.0
68,596,695.8
79,798,075.6
-11,201,379.8
153,042,800.0
149,125,300.0
3,917,500.0
Indonesia
TOTAL
TRADE
COUNTRIES 2012
BALANCE
8,469,044.2
INDONESIA-TPP
TOTAL INDONESIAN TRADE BALANCE 2012
Pada tahun 2012, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota TPP adalah sebesar US$ 68,6
Miliar atau 45% dari ekspor nasional, sementara impor dari negara-negara TPP sebesar US$
79,8 Miliar atau 53% dari impor nasional. Nilai tersebut mencakup 49% dari perdagangan
dua arah Indonesia, dimana Indonesia sudah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan
Australia, Jepang, Selandia Baru, dan rekan-rekan di ASEAN. Sementara dengan Kanada,
Chili, Meksiko, Peru, dan Amerika Serikat kita belum memiliki perjanjian perdagangan
bebas. (bisa di cari untuk update data terbaru)
2. Kebijakan itu di ambil oleh ASEAN jadi kesepakatan negara anggota ASEAN. Disini
yang perlu di tekankan adalah Indonesia adalah bagian dari ASEAN itu sendiri. Apabila
dilihat dari perjalanannya Indonesia adalah sebagai salah satu negara yang mengusulkan
terbentuknya RCEP. RCEP merupakan langkah yang signifikan dalam evolusi kerangka
kebijakan perdagangan di Asia Timur selama dekade terakhir. Sejarah RCEP dimulai
sekitar 10 tahun lalu dengan diadakannya proses studi kelayakan untuk FTA antara
ASEAN, China, Jepang, dan Korea ( dikenal sebagai ASEAN +3 ). Hal ini didukung pada
xxvi
tahun 2007 dengan suatu proses studi paralel untuk sebuah FTA ASEAN +6, yang
mencakup mitra ASEAN +3 ditambah Australia, India, dan Selandia Baru. Kedua proses
studi ini rampung pada tahun 2011 dan konsep RCEP ASEAN mulai dikedepankan.
(pertanyaanya kurang jelas, kebijakan yang di ambil sebelum bergabung dengan rcep).
3. RCEP ini terbentuk dari ASEAN+6 disana ASEAN pun tetep menjadi sentral dan dalam
perkembangannya konsep RCEP ini barulah di kedepankan. Pembentukan RCEP diyakini
akan menjadi pasar perdagangan bebas terbesar didunia. Selain itu, RCEP juga dijadikan
sebagai batu loncatan dari pembentukan area perdagangan bebas di Asia-Pasifik pada
tahun 2020 dibawah Free Trade Area of The Asia-Pacific (FTAAP) dalam komitmen
negara-negara APEC. Hal ini didasari atas argumentasi bahwa ASEAN merupakan pusat
dari pertumbuhan ekonomi dunia ditengah-tengah krisis ekonomi global. Sentralitas
ASEAN dianggap penting dalam mengembangkan arsitektur Asia-Pasifik yang lebih luas,
dimana negara-negara anggota ASEAN dan ke enam mitra FTA ASEAN terlibat
didalamnya. Namun, yang lebih penting dari sentralitas ASEAN adalah bahwa
pertumbuhan ekonomi di ASEAN melalui pasar yang besar dan produktifitas yang tinggi
dapat membawa perbaikan bagi perekonomian dunia. Sehingga di masa depan, ASEAN
akan menjadi arena pertarungan negara maju dalam memperebutkan pasar. Dengan kata
lain RCEP adalah salah satu cara untuk mencapai sentralitas ASEAN di dunia.
xxvii
LAMPIRAN 3
WAWANCARA
Narasumber
Jabatan
: Jedut A. Sutoyo
: Kepala Seksi Perdagangan
Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN
Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN
Tanggal Wawancara : Senin, 22 Juni 2015
1. Bagaimana posisi Indonesia terkait pembentukan TPP dan RCEP?
Saat ini TPP bukan menjadi fokus Indonesia. TPP pembahasannya dan cakupan
kerjasamanya lebih luas dan mendalam. Pada kenyataannya, negara-negara ASEAN
yang telah bergabung ke TPP saja mengalami kesulitan. Bagi Indonesia TPP masih
tergolong kerjasama perdagangan bebas yang sulit karena tidak ada batasan-batasan
tertentu dalam kerjasamanya dan tergolong sangat ambisius dan berstandar tinggi atau
spophisticated.
Sedangkan dengan RCEP, Indonesia lebih sesuai jika bergabung ke dalamnya. Di
RCEP, terdapat batasan-batasan tertentu dalam kerjasamanya. Selain itu, Indonesia
lebih memilih RCEP karena lebih menekankan kepada kemampuan negara-negara di
ASEAN. Melalui RCEP, Indonesia bisa memfokuskan kerjasama dalam kerangka
perdagangan bebas intra ASEAN yang membahas mengenai liberalisasi barang, jasa
dan investasi. Sedangkan isu-isu di TPP seperti HAKI, liberalisasi pertanian, ecommerce, pengadaan pemerintah (government procurement) belum menjadi fokus
Indonesia terkait dengan kemampuan Indonesia yang masih lemah dalam isu-isu
tersebut.
2. Apa alasan politik strategis Indonesia terhadap pembentukan keduanya?
Saat ini di berbagai kawasan mulai banyak berkembang kerjasama perdagangan bebas
atau FTAs. Hal ini terjadi disebabkan di beberapa kerjasama ekonomi mulitlateral
seperti WTO, perundingan yang terjadi di dalamnya tidak menghasilkan
perkembangan yang signifikan bahkan cenderung stagnan atau jalan di tempat. Secara
politik strategis, Indonesia menginginkan ASEAN menjadi pusat kerjasama
perdagangan bebas atau ASEAN led. Hal ini disebabkan leverage negara-negara
ASEAN sedikit, yang artinya belum bisa berjalan sendiri sehingga membutuhkan
ASEAN sebagai alat tawar dan perundingan yang bersifat multilateral. Oleh karena
itu, dalam kerjasama RCEP, ASEAN berperang penting yang mengendalikan
berjalannya perjanjian tersebut. Selain itu, kesulitan Indonesia jika berabung dengan
TPP adalah RCEP belum memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika
Serikat. Selain itu, secara politis, Indonesia memastikan kerjasama yang ada di RCEP
tidak keluar dari kerangka ASEAN Summit. Maksudnya adalah tidak ada pembedaan
xxviii
pemberlakuan tarif misalnya baik terhadap anggota RCEP maupun bukan. Adapun
dari segi persaingan produk, di TPP kepenitngan Indonesia berbenturan dengan
kepentingan negara-negara Eropa yang juga memperjuangkan produk utamanya
misalnya CPO, sedangkan CPO Indonesia di TPP dinyatakan tidak ramah lingkungan.
3. Adakah indikasi dominasi Amerika Serikat atau Tiongkok dalam kerjasama
keduanya?
Di dalam TPP, sangat terlihat dominasi Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari
keinginan AS untuk tetap mempertahankan hak patennya dalam produk-produknya
contohnya yaitu produk obat generik. Hal ini juga terkait dengan ketidakikutsertaan
India di TPP disebabkan karena India sebagai produsen obat-obatan generik di dunia.
Sedangkan mengenai adanya Tiongkok di RCEP, hal ini didasarkan pada kerjasama
ASEAN +3 yang telah berlangsung sehingga ASEAN dalam hal ini melalui RCEP
tidak bisa meninggalkan Tiongkok yang memilki potensi besar dalam perdagangan
internasionalnya.
xxix
LAMPIRAN 4
WAWANCARA
Narasumber
Jabatan
: Arif Sulaksono
: Kepala Seksi APEC SOM Committee On Ecotech Dan
Working Groups, Direktorat Kerja Sama Intrakawasan Asia
Pasifik dan Afrika, Ditjen Asia pasifik dan Afrika.
Tanggal Wawancara : Senin, 22 Juni 2015
1. Bagaimana posisi Indonesia terkait pembentukan TPP dan RCEP?
Sampai saat ini Indonesia belum menentukan apakah akan bergabung atau
tidak ke TPP. Indonesia masih terus memonitor perkembangan yang terjadi di TPP
dan mengantisipasi supaya apa yang terjadi di TPP tidak merugikan Indonesia. Selain
itu, Indonesia juga tidak mau terbentuk adanya blok baru dalam kerjasama
perdagangan bebas, misalnya dengan membuat preferensi tarif yang berbeda. TPP
juga bersifat single undertaking yaitu mengharuskan adanya kesepakatan antar dua
negara yang bekerjasama.
Adapun dengan RCEP, Indonesia lebih memilih RCEP karena secara
kompetisi dalam produk, Indonesia cenderung lebih siap bersaing dengan negaranegara anggota di RCEP. Sebagai contoh Indonesia memiliki kesamaan produk
dengan Tiongkok, maka peluang kerjasama liberlisasi akan sama-sama dibuka yang
pada akhirnya Indonesia dan Tiongkok memiliki suara dan kepentingan yang sama
yang diperjuangkan dalam kerjasama tersebut.
2. Apa alasan politik strategis Indonesia terhadap pembentukan keduanya?
Secara politik strategis, Indonesia dan TPP letak geografisnya berjauhan jika
dibandingkan dengan negara-negara di RCEP. RCEP lebih dekat dengan Indonesia.
Alasan politisnya yaitu melalui RCEP, ASEAN akan memimpin dan menentukan arah
perundingannya. Indonesia bergabung ke RCEP melalui ASEAN agar dapat menjadi
penyeimbang antara dua kekuatan ekonomi besar yaitu Amerika Serikat dan
Tiongkok. Sedangkan dalam hal produk, Indonesia akan bersaing dengan produkproduk di TPP yang sama dengan yang dimiliki oleh Indonesia, misalnya CPO yang
juga dimiliki oleh negara-negara Eropa di TPP. Dalam hal ini, negara-negara Eropa di
TPP sangat memperjuangkan kepentingannya dengan produk CPO nya dan tidak
ingin bersaing dengan CPO Indonesia.
xxx
3. Adakah indikasi dominasi Amerika Serikat atau Tiongkok dalam kerjasama
keduanya?
Dalam kerjasama multilateral semua negara pasti berusaha akan mendominasi
dan tidak dapat dipungkiri bahwa sekilas TPP dan RCEP memang terlihat adanya
kompetisi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Oleh karena itu, Indonesia tidak mau
ada dominasi satu negara tertentu. Melalui ASEAN yang pengambilan kebijakannya
dilakukan secara konsensus, di RCEP berusaha untuk meminimalisir dominasi satu
negara tertentu. Sedangkan jika di dalam kerjasama ekonomi multilateral lainnya
seperti WTO dan APEC juga dilaksanakan pengambilan keputusan secara konsensus
sehingga tidak ada satu negara yang mendominasi. Adapun seperti Tiongkok dan
Rusia yang akan bergabung ke dalam salah satu kerjasamanya, maka itu hanya untuk
meningkatkan eksistensi dan bukan untuk mendominasi.
xxxi
Download