PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG

advertisement
LAPORAN AKHIR
PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG
(Zea mays) MELALUI AMELIORASI KESUBURAN TANAH
DENGAN BOKASHI DAN CENDAWAN MIKORIZA
ARBUSKULAR
Tahun ke 2 dari rencana 2 tahun
Ketua
Anggota
: Dr. Ir. Titin Sumarni, MP
: 1. Dr. Ir. Nurul Aini, MS
2. Sisca Fajriani, SP. MP.
0023026215
0012106011
0014038204
Dibiayai oleh :
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Melalui DIPA Universitas Brawijaya
Nomor : 023.04.2.414989/2014, Tanggal 5 Desember 2013, dan berdasarkan
SK Rektor Universitas Brawijaya Nomor 157 Tahun 2014 tanggal 10 April 2014
SKSK Rektor Universitas Brawijaya Nomor 157 Tahun 2014 tanggal 10 AprSio
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Nopember, 2014
ii
iii
RINGKASAN
Judul : “Peningkatan Produktivitas Tanaman Jagung (Zea mays) Melalui Ameliorasi
Kesuburan Tanah Dengan Bokashi dan Cendawan Mikoriza Arbuskular”
Permintaan jagung terus meningkat setiap tahun, sejalan dengan pertumbuhan
penduduk dan kemajuan sektor industri berbahan baku jagung. Dalam mendukung
program swasembada jagung tahun 2014 dengan target produksi 29 juta ton jagung pipilan
kering, maka penanamannya terus ditingkatkan. Produktivitas jagung di tingkat petani
rata-rata mencapai 6,3 ton ha-1, lebih rendah dari potensi jagung hibrida yaitu 10 – 13 ton
ha-1 . Produksi jagung selama ini umumnya dilakukan dilahan kering dan kurang subur
dengan rata-rata kandungan bahan organik <1%. Upaya meningkatkan bahan organik
tanah adalah ameliorasi secara organik yaitu pupuk bokashi dengan bahan dasar kotoran
sapi dan sisa tanaman (jerami), namun karena kandungan haranya rendah, perlu
ditambahkan mikroba tanah yang dapat meningkatkan efektivitasnya yakni cendawan
mikoriza arbuskular (CMA). CMA diketahui dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah
misalnya Rhizobium, mampu meningkatkan resistensi kekeringan melalui jalinan hifa dan
meningkatkan serapan N, P dan K (Rao, 2007). Penelitian bertujuan untuk : 1)
Meningkatkan bahan organik tanah menggunakan bokashi , 2) Menambah efektivitas
penyerapan hara dengan mikoriza, 3) Menentukan dosis pupuk organik dan anorganik
optimal untuk usahatani tanaman jagung. Penelitian meliputi penelitian lapangan menguji
: 1) Penggunaan bokashi dan mikoriza untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil
tanaman jagung (tahap ke-1), 2) Penggunaan bokashi dan mikoriza untuk menurunkan
dosis pupuk anorganik (tahap ke-2).
Penelitian tahun pertama telah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung.
Perlakuan kombinasi pupuk bokashi 20 ton ha-1 dengan mikoriza menghasilkan tinggi
tanaman, luas daun dan bobot kering akar lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan
pupuk anorganik saja, masing-masing sebesar 19,37%, 15,29% dan 67,53%. Perlakuan
bokashi 30 ton ha-1 dikombinasikan dengan mikoriza meningkatkan tinggi tanaman, luas
daun dan bobot kering akar, masing-masing sebesar 19,42%, 16,59% dan 65,45%.%,
dibandingkan dengan kontrol (tanpa bokashi dan mikoriza, hanya menggunakan pupuk
anorganik) . Hasil tanaman jagung berupa tongkol juga meningkat akibat perlakuan pupuk
bokashi dan mikoriza. Kombinasi ini diharapkan mampu
meningkatkan efektivitas
penggunaaan pupuk anorganik sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik
(NPK 15:15:15) pada budidaya tanaman jagung. Untuk itu, penelitian pada tahun kedua
berkonsentrasi pada uji efektivitas pemakaian pupuk bokashi dan mikoriza pada tanaman
jagung sekaligus menurunkan dosis pupuk anorganik pada tanaman jagung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertumbuhan vegetatif maksimal (umur
60 HST), tanaman yang diperlakukan dengan CMA menghasilkan luas daun, klorofil daun,
bobot kering total tanaman dan serapan hara lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan
bokashi pada semua dosis pupuk NPK. Perlakuan kombinasi bokashi dan CMA pada
semua dosis NPK juga menghasilkan peubah seperti tersebut di atas, signifikan lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan bokashi, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan
CMA. Pupuk campuran 10 ton ha-1 bokashi + CMA yang dikombinasi dengan pupuk NPK
anorganik 100%, 80%dan 60% menghasilkan biji 12,92 ton, 12,91 ton dan 12,66 ton ha-1
yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk CMA saja yang menghasilkan
12,89 ton, 12,66 ton dan 12,57 ton ha-1 Pemupukan 10 ton ha-1 pupuk bokashi +
Cendawan Mikoriza arbuskular (CMA) dan CMA saja dapat menurunkan dosis pupuk
anorganik hingga 40%.
Kata kunci : bokashi, mikoriza, pupuk anorganik
iv
2. Pupuk campuran 10 ton ha-1 bokashi + CMA yang dikombinasi dengan pupuk NPK
anorganik 100%, 80%dan 60% menghasilkan biji 12,92 ton, 12,91 ton dan 12,66 ton
ha-1 yang
cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk CMA saja yang
menghasilkan 12,89 ton, 12,66 ton dan 12,57 ton ha-1
3. Pemupukan 10 ton ha-1 pupuk bokashi + Cendawan Mikoriza arbuskular(CMA) dan
CMA saja dapat menurunkan dosis pupuk anorganik hingga 40%.
6.2 Saran
Penggunaan pupuk anorganik sebaiknya diminimalisir untuk menunjang
keberlanjutan ekosistem pertanian, melalui penggunaan CMA dan kombinasi pupuk
bokashi dosis rendah (10 ton ha-1) dengan CMA.
DAFTAR PUSTAKA
Anas, I. 1998. Biologi Tanah dalam Praktek. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat
Antar Universitas Bioteknologi. IPB
Anna, K.P., 2000. Kimia Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Caravaca, F. and L. Ruess. 2013. Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Their Associated
Microbial Community Modulated by Collembola Grazers In Host Plant Free
Substrate. Soil Biology & Biochemistry. 69:25-33.
Celik I, I, Ortas, S, Kilie. 2004. Effects of compost, mycorrhiza, manure and fertilizer
one some physical properties of a chromoxert soil 78: 59-67
Conway, G.R. 1985. Agroecosystem analysis. Agriculture Administration 20: 31-55
FAO, 1989. Sustainable agricultural production: implications for international
agricultural research. Research and Technology Paper 4, FAO, Rome, 152
p.
Farida, R. 2011. Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dan Dosis
Pupuk Kandang Ayam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung.IPB. Bogor.
hal.38-40.
Gange, A. 2000.Arbuscular Mycorrhizal Fungi, Collembola and Plant Growth.Tree.
15:369-372.
Hairiah, K.; Widianto; Utami, S.R.; Suprayogo, D.; Sunaryo; Sitompul, S.M.; Lusiana,
B.; Mulia, R.; van Noordwijk, M. and Cadish, G. 2000. Pengelolaan Tanah
28
Masam Secara Biologi. International Centre for Research in Agroforestri.
Bogor.
Hairiah,K. 2002. Akar Pertanian Sehat. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada
Fakultas Pertanian UNIBRAW. Universitas Brawijaya.
Hasibuan. 2006. Pupuk dan Pemupukan. USU Press, Medan.
Hendroko, R. dan R. Prihamantoro, 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Irianto, G. S. 2009. Perubahan iklim dan ketahanan pangan : Dampak dan Strategi
Antisipasi. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Pemanasan
Global : Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia”.
Universitas Brawijaya, 31 Januari 2009.
Karama, A.S., A.R. Marzuki dan I. Marwan. 1994. Penggunaan Pupuk Organik Pada
Tanaman Pangan. Simposium Hortikultura Nasional.
LAS.I. 2006. Pengelolaan Variabilitas Iklim untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Nasional. Ditjen Tanaman Pangan (tidak dipubliksikan)
Lingga, P., dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Olson, R. A. and D. H. Sander. 1988. Corn Production. In Monograph Agronomy Corn
and Corn Improvement. Wisconsin.
Puspita, D., A. Muhibuddin dan T. Sumarni. 2013. Aplikasi CMA dan Bokashi dalam
Meminimalisir Pemberian Pupuk Anorganik pada Produksi Benih Tanaman
Jagung Ketan. J. Produksi Tanaman. 5(1):398-407.
Rao, N. S. Shuba. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi 2.
Universitas Indonesia.
Sanchez, P.A. 1976. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. ITB. Bandung. p. 23-38.
Sari, P. 2006. Efektifitas Beberapa Formula Pupuk Hayati Rhizobium Toleran Masam
pada Tanaman Kedelai di Tanah Masam Ultisol. Skripsi. Fakultas Sains dan
Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.
Setijono, S. 1996. Intisari Kesuburan Tanah. IKIP Malang. Malang.
Stevenson, F.J., 1982. Humus Chemistry. John Willey and Sons. New York.
Sumarno, I. G. Ismail dan Ph. Soetjipto. 2000. Konsep Usahatani Ramah Lingkungan.
Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Prosiding Simposium
Penelitian Tanaman Pangan IV. Puslitbangtan, Bogor. p. 55-74.
Syafruddin, Faesal, dan M. Akil. 2008. Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung. Balai
Penelitian Tanaman Serelia, Maros.
Syekhfani. 1997. Hara-Air-Tanah-Tanaman. Jurusan Tanah. FP.. UB. pp. 114.
Syib’li. M. A. 2008. Jati Mikoriza, Sebuah Upaya Mengembalikan Eksistensi Hutan dan
Ekonomi Indonesia. http://-www.kabarindonesia.com.
29
Talanca, A. H., dan A. M. Adnan. 2005. Mikoriza dan Manfaatnya Pada
Tanaman.http://www.peipfi-komdasulsel.org/wp content/uploads/2012/01/ 47Talanca-1.pdf
Tomich,T. P., Van Noordwijk, M., Budidarsono,S, Gillison, A., Kusumanto, T.,
Murdyarso, D., Stole,F. and Fagi,A.M. 1998. Alternatives to slash-and-burn
in Indonesia. Summary Report and Synthesis of Phase II. ICRAF, Nairobi,
Kenya. 139 p.
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. MM Press : Malang.
Wang F., L. Wang and S. Yong. 2012Effects Of Arbuscular Mycorrhizal Inoculation
And Cattle Manure On Cadmium Uptake By Tobacco. China. p. 1-4.
www.deptan.go.id. 2009. Rancangan Rencana Strategis Kementrian Pertanian Tahun
2010 – 2014.
Yusnaini, S. 2009. Keberadaan Mikoriza Vesikular Arbuskular Pada Pertanaman Jagung
yang diberi Pupuk Organik dan Anorganik jangka panjang. J. Tanah Trop.
14(3):253-256.
Young, R. D., D. G. Westfall and G. W. Colliver. 1985. Production, Marketing, and
Use of Phosporus Fertilizer. In O. P. Engelstad (ed). Fertilizer Technology
and Use. Soil. Sci. Am, Inc. Madison, Nisconsin, USA. 323 – 357 p.
30
Download