Perkembangan Ekonomi Indonesia Turunnya harga

advertisement
Edisi 006/ Februari /2015
Data per tanggal 1 Februari 2015
Perkembangan Ekonomi Indonesia
Turunnya harga BBM memicu deflasi
Pada bulan Januari 2015 tercatat deflasi sebesar 0,24%mom, yang
bersumber dari deflasi kelompok harga yang ditentukan pemerintah dan
meredanya tekanan inflasi harga makanan bergejolak. Secara tahunan
inflasi tercatat sebesar 6,96%yoy. Pendorong deflasi pada bulan Januari
antara lain adalah inflasi kelompok transportasi yang tumbuh -4,04%mom
didorong oleh kebijakan Pemerintah menurunkan harga bensin dan solar,
pertamax, dan tarif angkutan dalam kota. Sementara itu inflasi kelompok
makanan turun signifikan menjadi 0,60%mom dari 3,22%mom, bersumber
dari bersumber dari deflasi aneka cabai.
Kedepannya, risiko inflasi pada tahun ini cenderung mereda seiring dengan
harga BBM yang kebih rendah dari tahun 2014 di tengah tren menurunnya
harga minyak dunia. Sementara itu, inflasi kelompok makanan akan
cenderung lebih stabil seiring ekspektasi produksi padi yang cenderung
meningkat karena program pemerintah untuk mendorong produksi padi
seluruh provinsi di Indonesia. Dengan demikian, ekspektasi inflasi akan
cenderung lebih terkendali. Sehingga inflasi pada akhir tahun 2015 akan
berada di kisaran 4,5%-5,0%.
Inflasi Januari 2015 (%)
Foodstuff
Prepared Food
Housing
Clothing
Medical Care
Education
Transportation
General
Nov-14
2,15
0,71
0,49
-0.08
0,43
0,08
4,29
1,50
Nov-14
7,97
6,79
6,18
2,67
5,17
4,13
6,58
M-on-M changes
Dec-14
3,22
1,96
1,45
0.64
0,74
0,36
5,55
2,46
Y-on-Y changes
Dec-14
10,57
8,11
7,36
3,08
5,71
4,44
12,14
Foodstuff
Prepared Food
Housing
Clothing
Medical Care
Education
Transportation
General
6,23
8,36
Source: Bloomberg & PermataBank Economic Research
Jan-15
0,60
0,65
0,80
0.85
0,66
0,26
-4,04
-0,24
Jan-15
8,24
8,04
7,14
3,38
5,64
4,42
7,40
6,96
Berita Ekonomi :
Februari 2015
Kinerja neraca perdagangan membaik
Kinerja Neraca Perdagangan Indonesia
USD bn
4000
Trade Balance (LHS)
%yoy
80
3000
Export
60
2000
Import
40
1000
20
0
0
-1000
-20
-2000
-40
-3000
-60
Nov-14
Jun-14
Jan-14
Aug-13
Mar-13
Oct-12
May-12
Dec-11
Jul-11
Feb-11
Sep-10
Apr-10
Nov-09
Jun-09
Jan-09
Kinerja neraca perdagangan Indonesia membaik pada Desember 2014.
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD 0,19 miliar setelah
pada bulan sebelumnya mengalami defisit USD 0,42 miliar. Perbaikan
kinerja tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan surplus nonmigas, di
tengah defisit migas yang juga menyempit. Dengan perkembangan
tersebut, kinerja neraca perdagangan keseluruhan 2014 mencatat
perbaikan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Surplus neraca perdagangan nonmigas Desember 2014 tercatat sebesar
USD 1,22 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus bulan sebelumnya
sebesar USD 0,94 miliar, akibat kenaikan ekspor nonmigas sebesar
6,6%mom atau menjadi USD 12,27 miliar. Kenaikan ekspor nonmigas
terutama didominasi oleh ekspor produk manufaktur seperti
perhiasan/permata, mesin/peralatan listrik, kendaraan dan bagiannya,
serta mesin-mesin/pesawat mekanik. Sementara itu, ekspor berbasis
sumber daya alam yang meningkat adalah karet dan barang dari karet.
Surplus neraca perdagangan nonmigas Desember 2014 tertahan oleh
kenaikan impor nonmigas, terutama karena naiknya impor besi dan baja,
serealia, kapas, serta barang dari besi dan baja.
Perbaikan kinerja neraca perdagangan Desember 2014 didukung juga oleh
perbaikan neraca migas. Ekspor migas tumbuh 11,7%mom, didukung oleh
kenaikan ekspor minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Di sisi lain, impor
migas turun 2,4%mom, yang disebabkan oleh turunnya impor gas dan hasil
minyak.
Perkembangan neraca perdagangan sampai dengan Desember 2014
tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja transaksi berjalan
triwulan IV-2014 dan keseluruhan 2014. Perbaikan kinerja neraca
perdagangan ke depan diperkirakan akan didukung oleh peningkatan
aktivitas ekspor seiring dengan perbaikan ekonomi global dan tren
penurunan harga minyak dunia yang dapat mendorong berkurangnya
tekanan pada defisit neraca migas.
Sumber: Bloomberg & PermataBank Economic Research
Kontributor Deflasi bulan Januari 2015 (%)
(%)
0.40
0.20
0.20
0.12
0.06
0.11
0.03
0.02
0.00
-0.20
-0.40
-0.60
-0.80
Kebijakan moneter Bank Indonesia tetap ketat
Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan BI
rate tetap di level 7.75% pada bulan Februari 2015 karena tingkat suku
bunga tersebut masih konsisten untuk memastikan tekanan inflasi jangka
pendek pasca kebijakan realokasi subsidi BBM yang ditempuh Pemerintah
akan tetap terkendali dan temporer sehingga akan kembali normal di
kisaran 5%-5,5% pada 2015. Sementara itu, tingkat suku bunga acuan
masih konsisten dengan fokus Bank Indonesia untuk menekan defisit
transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat.
-0.78
-1.00
Foodstuffs
Prepared foods,
beverages and
cigarettes
Housing
Clothing
Medical Care
Education, Transportation
recreation and
and
sports
Communications
Sumber : Bloomberg & PermataBank Economic Research
BI rate dan Inflasi (%)
Inflation y-y
BI rate
Core Inflation y-y
10.0
8.0
6.0
4.0
2.0
0.0
Jan-15
Nov-14
Sep-14
Jul-14
May-14
Mar-14
Jan-14
Nov-13
Sep-13
Jul-13
May-13
Mar-13
Jan-13
Nov-12
Sep-12
Jul-12
May-12
Mar-12
Jan-12
Nov-11
Sep-11
Jul-11
May-11
Mar-11
Jan-11
Nov-10
Sep-10
Jul-10
May-10
Mar-10
Jan-10
Nov-09
Sep-09
Jul-09
May-09
Mar-09
Jan-09
Sumber : Bloomberg & PermataBank Economic Research
Berita Ekonomi :
Februari 2015
Pertumbuhan ekonomi 2015 diperkirakan membaik
Pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 5,02%, melambat dibandingkan 2013 sebesar 5,58%. Sementara pada 4Q14hanya tumbuh 5,01%. Perlambatan
ini disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga, karena inflasi tinggi akibat kenaikan harga BBM dan berkurangnya bantuan sosial karena
ditiadakannya beras miskin ke13. Pada 2014 pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 5,14% jauh lebih rendah dari tahun lalu 5,38%. Selain itu
perlambatan ekonomi juga dikarenakan perlambatan pertumbuhan sektor konstruksi dan bangunan serta mesin kendaraan. Sementara sisi investasi
hanya tumbuh 4,12% jauh lebih rendah dibandingkan pada 2013 sebesar 5,82%.
Perlambatan juga terjadi karena belanja pemerintah pada 2014 terendah dalam lima tahun terakhir. Hal ini dikarenakan adanya penghematan,
tingginya belanja utang, dan realisasi belanja modal pemerintah hanya 60%. Ekspor dan impor juga masih menjadi pendorong penurunan
pertumbuhan ekonomi karena permintaan global yang masih melambat. Satu-satunya pendorong pertumbuhan ekonomi adalah pengeluaran
konsumsi lembaga non-profit rumah tangga karena adanya pemilihan umum pada 2014. Pengeluaran Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah
Tangga tumbuh 12,43%, lebih tinggi dibandingkan 2013 sebesar 8,18%.
Pertumbuhan ekonomi 1Q15 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan 4Q14. Investasi masih melambat karena investor masih wait and
see, atas janji-janji Presiden Joko Widodo, dan kestabilan hukum dan politik. Dari sisi ekonomi masih cukup stabil. Realisasi Pelayanan Terpadu Satu
Pintu juga cukup baik untuk meningkatkan investasi. Konsumsi masyarakat cenderung masih stabil, apalagi harga bahan bakar minyak sudah mulai
turun. Dari sisi ekspor juga belum ada peningkatan signifikan, apalagi harga minyak dunia dan komoditas masih melambat. Dari sisi belanja
pemerintah pada 1Q15 belum ada perubahan signifikan. Alasannya, penyerapan anggaran baru akan dilakukan pada semester II tahun ini. Dengan
kebijakan presiden yang menetapkan lelang barang dan jasa paling lambat Maret, maka realisasi belanja paling cepat baru mulai pada kuartal II.
Meski pertumbuhan ekonomi pada 1Q15 diprediksi melambat, namun pertumbuhan sepanjang 2015 di perkirakan di kisaran 5,3%. Pasalnya, belanja
pemerintah tahun ini cukup besar meski semua nya sangat tergantung pada realisasi penyerapannya. Investasi juga cenderung meningkat apalagi jika
janji kampanye Presiden Joko Widodo direalisasikan dan kestabilan politik serta hukum dapat ditegakkan.
Macro Economic Indicators
Indicators
Inflation (%YoY)
Exchange Rate Eop (Rp/US$)
Current Account (% GDP)
Fiscal Balance (% GDP)
Interest Rate
BI Rate (%p.a)
Time Deposit 3 month (%p.a)
Lending rate working capital (%p.a)
Credit Growth (% YoY)
Deposit Growth (% YoY)
NPL Commercial Banks (%)
Car Sales (1000 Units)
Car Sales Growth (%)
Motorcycle Sales (1000 Units)
Motorcycle Sales Growth (%)
Government Capital Exp. (Rp tn)
Unemployment Rate (%)
International Reserve (US$ bn)
GDP Growth (%)
Sumber : PermataBank Economic Research
2010
2011
2012
2013
2014F
2015F
6,96
8.991
0,70
-0,73
3,79
9.068
0,20
-1,14
4,30
9.670
-2,74
-1,77
8,38
12.189
-3,30
-2,23
8,36
12.440
-3,10
-2,20
5,50
12.200
-2,80
-1,90
6,50
7,06
12,83
22,80
18,54
2,50
765
57,33
7.373
25,99
80,3
7,14
96,2
6,22
6,00
6,81
12,18
24,59
19,07
2,17
894
16,93
8.013
8,67
117,9
6,56
110,1
6,49
5,75
5,76
11,50
23,08
15,81
1,87
1.116
24,84
7.064
-11,83
145,1
6,14
112,8
6,26
7,50
7,61
12,12
21,60
13,60
1,77
1.220
9,31
7.745
9,63
172,4
6,25
99,4
5,78
7,75
9,40
12,80
13,00
11,00
2,50
1.208
-1,78
7.867
1,59
160,8
5,94
111,9
5,02
8,00
9,50
12,90
16,00
11,00
2,30
1.150
-0,05
7.500
-4,67
156,5
5,93
116,0
5,30
Analisa Market :
Februari 2015
Review dan Outlook Pasar Obligasi Indonesia
Pasar obligasi mengawali tahun 2015 dengan pergerakan yang positif,
tercermin dari kinerja ketiga indeks acuan pasar obligasi di bulan Januari
yang membaik dibanding dengan akhir tahun 2014 lalu. Sempat bergerak
tertekan di pekan pertama yang disebabkan oleh rilisnya data inflasi
bulan Desember dan neraca perdagangan bulan November yang jauh
diatas proyeksi yakni 2,46%mom atau 8,36%yoy untuk inflasi Desember
dan defisit USD0,42 miliar untuk neraca perdagangan November, pasar
obligasi berhasil berbalik positif dari pertengahan bulan hingga akhir
bulan Januari.
Diturunkannya kembali harga BBM bersubsidi jenis premium oleh
pemerintah sebanyak dua kali yakni di awal tahun 2015 yang turun dari
Rp8.500/liter menjadi Rp7.600/liter, dan pada tanggal 19 Januari yang
kembali turun menjadi Rp6.600/liter diperkirakan sebagai salah satu
penyebab positifnya pasar obligasi awal tahun ini. Kembalinya harga
premium bersubsidi di harga Rp6.600/liter mendorong ekspektasi pasar
akan turunnya kembali tingkat inflasi dalam jangka panjang. Ekspektasi
tersebut pada akhirnya memicu kurva yield menurun lebih cepatnya
pergerakan yield pada kelompok obligasi tenor panjang dibanding
dengan kedua tenor lainnya.
Penyebab lain bergerak positifnya pasar obligasi lebih didorong oleh
faktor global. Ditengah bayang-bayang kenaikan the Fed Rate, keputusan
Bank Sentral Eropa (ECB) untuk meluncurkan program stimulusnya
berupa pembelian obligasi senilai 60miliar Euro/bulan dari bulan Maret
2015 s/d September 2016, memberikan optimisme pasar terhadap
berlanjut tingginya demand SBN domestik. Diturunkannya suku bunga
acuan India ke level 7,75% pada tanggal 14 Januari lalu diperkirakan akan
semakin menambah tingginya demand terhadap SBN domestik.
Sebagaimana diketahui, capital inflow yang terjadi di pasar SBN domestik
hingga akhir bulan Januari 2015 yang ditunjukkan oleh naiknya angka
kepemilikan asing sudah tercatat sebesar Rp39,5tn. Kondisi tersebut
otomatis mendorong semakin besarnya dominasi asing terhadap
kepemilikan SBN domestik yakni hingga mencapai 40,3% dari total SBN
yang outstanding atau senilai IDR500,1 triliun.
USD/IDR
Pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut pada bulan Januari yang lalu
dimana Rupiah terdepresiasi secara rata-rata 1,24% ke level 12,583 per
dollar AS dibandingkan rata-rata nilai tukar rupiah pada bulan
sebelumnya di level 12,428 per dollar. Pelemahan nilai tukar rupiah di
bulan Januari 2015 ini didorong oleh meningkatnya probabilitas kenaikan
suku bunga acuan AS serta belum membaiknya kondisi fundamental
ekonomi Indonesia. Meskipun pemerintah Indonesia telah bergerak cepat
untuk menghapus subsidi BBM, USD/IDR masih bertahan di atas level
12,500. Fundamental ekonomi diperkirakan akan membaik ke depannya.
Prospek pertumbuhan tetap redup dalam waktu dekat dengan ekonomi
negara cenderung stagnan di tengah pertumbuhan global yang tidak rata
dan potensi perlambatan ekonomi China. Sementara ruang fiskal telah
meningkat secara signifikan dengan langkah subsidi BBM, namun
indikato fundamental lainnya yang diperkirakan masih di atas 3% dari
PDB, jauh di atas 2,5% dari PDB (target Bank Indonesia dan pemerintah).
Belum membaiknya fundamental ekonomi secara signifikan masih akan
membebani pergerakan niali tukar rupiah. Di samping itu, potensi
ketegangan politik ke depannya berpotensi menjadi penghambat
penguatan rupiah terhadap dollar AS. Di samping faktor domestik,
apresiasi nilai tukar dolar seiring dengan normalisasi kebijakan moneter
Fed juga menjadi potensi risiko pelemahan nilai tukar rupiah ke depannya.
Selain itu, kondisi likuiditas dolar yang ketat juga berpotensi membayangi
nilai tukar dollar. Di pasar keuangan tercatat aksi jual dana asing
mencapai USD3.8 miliar sejak minggu terakhir Desember 2014. Namun,
aksi jual di pasar saham diimbangi dengan akumulasi investro asing di
pasar obligasi yang mencapai IDR34.6 triliun. Bank Indonesia diperkirakan
akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada level fundamentalnya,
Dengan demikian, BI diperkirakan akan mempertahankan kebijakan
moneter ketat pada tahun 2015 ini supaya defisit neraca transaksi berjalan
menuju ke level lebih sehat. BI rate diperkirakan akan bertahan di level
7,75% yang diharapkan dapat menahan keluarnya dana asing dari pasar
keuangan Indonesia. Dengan demikian, USD/IDR diperkirakan akan
berada di rentang 12,200-12,500 pada tahun 2015 ini.
USD/IDR
USD/IDR
9,500
JCI
JCI
5600
5400
10,000
5200
10,500
5000
11,000
4800
11,500
4600
4400
12,000
4200
12,500
4000
13,000
3800
Jan-15
Dec-14
Sumber : Bloomberg & PermataBank Economic Research
Nov-14
Oct-14
Sep-14
Aug-14
Jul-14
Jun-14
May-14
Apr-14
Mar-14
Jan-14
Dec-13
Nov-13
Oct-13
Sep-13
Aug-13
Jul-13
Jun-13
May-13
Apr-13
Mar-13
Ekspektasi positif yang membayangi pasar obligasi ternyata turut
mendorong semaraknya transaksi SBN di pasar sekunder, terutama pada
kelompok obligasi bertenor panjang. Antusiasme pasar juga tercermin
dari tingginya total penawaran yang masuk dari empat kali pelaksanaan
lelang SBN-SBSN di bulan Januari yang mencapai Rp110,5tn. Yang mana
total penawaran yang masuk untuk masing-masing pelaksanaan lelang
tersebut mencatatkan oversubscribed antara 2,0 s/d 9,5 kali dibanding
target indikatifnya.
Analisa Valas :
Februari 2015
USD Index
Dolar terapresiasi sebesar 8% sejak 1 Desember 2014 dan sekitar 5% pada
bulan Januari 2015. Penguatan nilai tukar dollar AS terhadap beberapa
mata uang utama terjaga karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan
bank sentral AS di tahun 2015 masih besar seiring rilis data ekonomi AS
terutama data tenga kerja yang positif. Data Non-Farm Payrolls AS dirilis
lebih bagus dari ekspektasi pasar. Data untuk bulan Januari tersebut dirilis
257,000 pekerja, di atas prediksi 231,000 pekerja. Hasil ini mendorong
penguatan dollar AS dan sempat mengangkat indeks saham AS. Hasil ini
memperlihatkan bahwa kenaikan orang yang dipekerjakan di AS tetap
stabil setiap bulannya di atas angka 200,000 pekerja. Ini membuka
peluang kenaikan suku bunga acuan AS bisa dipercepat. Apalagi juga
dilaporkan bahwa rata-rata upah per jam AS di bulan Januari naik 0,5%
dibandingkan bulan lalu yang turun 0,2%. Kenaikan upah bisa mendorong
kenaikan tingkat inflasi ke depannya. Saat ini tingkat inflasi AS
mengalami penurunan karena tekanan dari penurunan harga minyak
mentah. Hingga hari ini, Bank Sentral AS masih diekspektasikan baru
akan menaikan suku bunga acuan di awal semester II 2015.
AUD/USD
Aussie anjlok terhadap dollar AS setelah Reserve Bank of Australia (RBA)
memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25% menjadi 2,25%. RBA
menyatakan tekanan penurunan harga minyak telah membatasi
pertumbuhan perekonomian Australia. Keputusan pelonggaran moneter
Australia ini diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan.
Aussie meluncur ke level terendah 5,5 tahun dan melemah 2,6% terhadap
Dollar AS walau pesanan pabrik AS dilaporkan menurun. Pemangkasan
suku bunga acuan RBA juga didorong oleh data inflasi pada 4Q14 yang
menurun ke level 1,7%, di bawah target 2-3%. Pertumbuhan GDP 3Q14
juga turun ke level 0,3% dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh
0,5%. AUD/USD diperkirakan akan berada di rentang 0.7600-0.7900
dalam jangka pendek.
GBP/USD
program stimulus ini bertujuan untuk melepaskan zona euro dari zona
deflasi. ECB memprogramkan pembelian surat hutang negara dan swasta
Poundsterling melesat terhadap dollar AS pasca rilis laporan PMI sektor
jasa Inggris bulan Januari yang naik lebih tinggi dari ekspektasi. Proyeksi
sektor jasa industri Inggris meningkat ke level 57.2 melampaui ekspektasi
56.6 dan naik dari level 55.8 di bulan sebelumnya. Sinyal pertumbuhan
industri Inggris semakin menguat setelah sebelumnya PMI sektor
konstruksi Inggris di bulan Januari juga naik ke level 59.1 lebih tinggi dari
ekspektasi 56.9. Secara umum, pasar terlihat antusias merespon sinyal
pertumbuhan perekonomian Inggris yang mulai pulih sehingga
memberikan dorongan penguatan Sterling terhadap Dollar AS. Di
samping itu, bank sentral Inggris (BOE) diperkirakan akan
mempertahankan suku bunga acuannya di level terendahnya yaitu 0,5%
dalam jangka pendek-menengah karena rendahnya harga minyak
menjauhkan laju inflasi dari target. GBP/USD diperkirakan akan berada di
rentang 1.5200-1.5400.
sebesar 60 miliar euro setiap bulannya mulai Maret 2015-September
2016. Dengan program ini, ECB akan memperbesar neraca keuanganya
USD/JPY
EUR/USD
Bank Sentral Eropa (ECB) menambah program stimulus. Penambahan
sekitar 1,08 triliun euro. Program stimulus yang masif ini akan mengikuti
kesuksesan program stimulus yang dilakukan Bank Sentral AS dan
Jepang. Aksi ECB ini membawa EUR/USD melemah ke level terendah
dalam 11 tahun di 1.1. Di samping stimulus ECB, EUR juga tertekan oleh
isu keluarnya Yunani dari Zona Euro dimana pertentangan antara Yunani
dengan pihak kreditor akan menimbulkan ketidakpastian di pasar
keuangan global, terlebihi
lagi pergerakan mata uang Euro.
Ketidakpastian akan mendorong pelaku pasar mencari instrumen safe
haven. Yunani akan menghadapi batas waktu perpanjangan program
bailout pada tanggal 28 Februari. EUR/USD diperkirakan akan bergerak di
Penolakan Yunani Dan Data China Menopang Yen. Yen merangkak naik
dari level terendah 4-pekan terhadap Dollar dengan adanya tanda
perlambatan perekonomian di China, negara perekonomian terbesar
kedua dunia. Outlook pesimis terhadap China ini kemudian mengangkat
permintaan mata uang Jepang sebagai haven. Yen juga mendapatkan
dukungan pelemahan bursa Eropa dan surat hutang dengan imbal hasil
tinggi karena setelah berita pemerintah Yunani yang mensinyalkan
penolakan untuk bertahan dalam program dana talangan internasional.
Ketegangan di blok Euro membuat investor kemudian melirik aset haven
seperti Yen Jepang. Dengan demikain, USD/JPY diperkirakan akan berada
di rentang 117-120 dalam jangka pendek.
rentang 1.1200-1.1500.
This document is issued by Global Markets PT. Bank Permata, Tbk. (PermataBank) for information and private circulation purpose only. It does not constitute any offer,
proposal, recommendation or solicitation to any person to enter into any transaction or adopt any hedging, trading or investment strategy, nor does it constitute any prediction of
likely future movement in rates or prices or any representation that any such future movement will not exceed those shown in any illustration. All reasonable care has been
taken in preparing this document, no responsibility or liability is accepted for error, omissions, negligence, and/or inaccuracy of fact or for any opinion expressed herein.
Opinion, projection and estimates are subject to change without notice. PermataBank and/or its members of Board of Director and Commissioners, employees, affiliates, agents
and/or its advisors disclaims any and all responsibility or liability relating to or resulting from the use of this documents whatsoever which may be brought against or suffered by
any person as a result of acting in reliance upon the whole or any part of the contents of this document. You are advised to make your own independent judgment with respect
to any matter contained herein, by fully aware of any consequences obtained on said judgment.
Download