A. Latar Belakang Masalah Pada tanggal 31 Desember 2000

advertisement
1
A. Latar Belakang Masalah
Pada tanggal 31 Desember 2000, Amerika Serikat di bawah Pemerintahan
Presiden Clinton menandatangani Statuta Roma. Statuta yang menjadi dasar
pembentukan International Criminal Court (ICC) ini dibentuk melalui suatu
konferensi internasional yang berlangsung di Roma pada tanggal 15 Juni
hingga 17 Juli 1998. Statuta ini disahkan pada tanggal 17 Juli 1998. Sebanyak
120 negara menandatanginya, 7 menolak (Amerika Serikat, China, Irak, Israel,
Yaman, Qatar, Libya), dan 21 negara lainnya abstain. Untuk berlakunya
statuta ini dibutuhkan 60 ratifikasi dari negara peserta.
1
Syarat tersebut
terpenuhi pada tanggal 11 April 2002 karena pada tanggal tersebut sebanyak
66 negara telah meratifikasi statuta tersebut. Oleh karenanya ICC mulai
bekerja sejak 1 Juli 2002. Maka sejak saat itulah ICC resmi berdiri dan hadir
melengkapi sistem hukum internasional.
Pada tanggal 6 Mei 2002 Amerika Serikat menarik diri dari Statuta Roma.
Alasan utama penarikan diri tersebut karena dianggap bertentangan dengan
kedaulatan negara dan kepentingan keamanan nasional. Kedua aspek ini yang
masih menjadi alasan kuat mengapa Amerika Serikat tidak sampai
meratifikasi Statuta Roma. Iman Prihandono 2 dalam tulisannya menyatakan
isu tentang penegakan HAM menjadi penting bagi Amerika Serikat sejak
terkuaknya berbagai bentuk pelanggaran HAM terhadap tahanan di penjara
Guantanamo Bay. Oleh banyak pengamat, penarikan tandatangan pada Statuta
Roma oleh Presiden Bush, dianggap sebagai langkah Amerika Serikat untuk
menghindari penyelidikan dan yurisdiksi International Criminal Court (ICC).
Bagaimana sikap Obama? Menjawab pertanyaan tentang apakah Amerika
Serikat harus meratifikasi Statuta Roma pada sebuah questioner yang diajukan
kepada kandidat presiden, Obama menyatakan bahwa: “Yes. The United States
should cooperate with ICC investigations in a way that reflects American
sovereignty and promotes our national security interests”.
1
Pasal 126 ayat (2) Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
Iman Prihandono, S.H., MH., LL.M , “Obama dan Hukum Internasional”,
www.hukumonline.com, 19 November 2008, diakses pada 5 Februari 2014.
2
2
Bila diamati, jawaban Obama diatas nampak sebagai jawaban khas
seorang politisi yang diplomatis. Namun secara hukum, keikutsertaan negara
kedalam sebuah perjanjian internasional berarti pula menyerahkan sebagian
dari kedaulatannya, sehingga tentunya ratifikasi akan sulit terwujud bila
Obama masih mengedepankan aspek “sovereignty” dan “national security
interests” sebagai syarat utama.3
Ketentuan dalam Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 di mana
Amerika Serikat telah menjadi pihak dalam konvensi ini yaitu pada tanggal 24
April 1970 semakin memperkuat keraguan akan keterlibatan Amerika Serikat
kedalam Statuta Roma. Konvensi ini mengatur bahwa sebuah negara tidak
dapat menggunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalih untuk
menghindar dari kewajibannya dalam sebuah perjanjian internasional.
4
Artinya, bila Obama masih mengedepankan isu “sovereignty” dan “national
security interests”, maka penerimaan Amerika Serikat terhadap yurisdiksi
ICC mungkin masih akan jauh dari kenyataan.
B. Rumusan masalah
1. Apakah tindakan penarikan diri secara unilateral oleh Amerika Serikat
tersebut bertentangan dengan asas good faith?
2. Bagaimanakah konsekuensi atas penarikan diri secara unilateral Amerika
Serikat terhadap Statuta Roma ?
C. Metode penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti ialah penelitian hukum
normatif berdasarkan kerangka hukum internasional. Penelitian hukum
normatif ialah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran
berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatif. Logika keilmuan yang
ada dalam penelitian hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya
hukum itu sendiri.5
3
Ibid.
Pasal 27 Vienna Convention on the Law of Treaties 1969.
5
Johnny Ibrahim, 2006, Teori dan Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia,Malang, hlm.
4
7.
3
2. Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan
kepustakaan. Bahan kepustakaan ini lazimnya disebut data sekunder. 6 Data
sekunder dapat diperoleh dari bahan-bahan hukum yang terdiri atas:
a. Bahan hukum primer, adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif,
artinya mempunyai otoritas. 7 Dalam hal ini berupa ketentuan-ketentuan
hukum internasional yang tertuang dalam konvensi internasional yaitu:
Statuta Roma 1998, Vienna Convention on the Law of Treaty 1969 ,
hukum kebiasaan (customary international law), prinsip-prinsip hukum
umum (the general principles of law), dan deklarasi.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer, seperti pendapat para ahli yang kompeten
yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah,buku dan dokumen-dokumen
yang terkait.
c. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yang menunjang bahan hukum
primer dan sekunder yakni: Kamus Inggris-Indonesia, Kamus IndonesiaInggris, Terminologi Hukum, Oxford Dictionary dan Black’s Law
Dictionary.
3. Cara Mencari Data
Data yang dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan variabel
penelitian. Dengan melihat tempat pengumpulan data yang diperlukan dalam
suatu penelitian, maka penelitian hukum dapat dibedakan menjadi: penelitian
hukum
lapangan, penelitian hukum
pustaka dan penelitian hukum
laboratorium.8
Sebagai penelitian pustaka, pengungkapan kebenaran dalam penelitian ini
dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari studi pustaka. Data yang akan
dikumpulkan dan menjadi bahan kajian dalam penelitian ini adalah data yang
6
Soerjono Soekanto, 2006, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm. 12.
Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, hlm. 141.
8
Sugeng Istanto, 2007, Penelitian Hukum, CV Ganda, Yogyakarta, hlm.57.
7
4
relevan dengan permasalahan. Karena penelitian ini merupakan penelitian
yang akan mengkaji permasalahan yang ada dalam lingkup hukum
internasional, bahan-bahan penelitian yang berupa data dan informasi tentang:
fakta-fakta dan ketentuan hukum yang relevan dengan penarikan diri secara
unilateral suatu negara yang telah menandatangani perjanjian internasional.
4. Cara Menganalisis Data
Data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif yang artinya analisis
ini hendak mencari kebenaran berdasarkan nilai atau kualitas data yang
diperoleh. Untuk melakukan analisis secara kualitatif ini melalui tahap-tahap
sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data;
b. Data yang diperoleh selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan obyek
penelitian;
c. Data yang telah dikelompokkan tadi, kemudian diuraikan dan dijelaskan;
d. Data yang dijelaskan selanjutnya dievaluasi dengan menggunakan
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku untuk melihat kesesuaian atau
sebaliknya, dan kemudian dibandingkan;
e. Menetapkan kesimpulan untuk menjawab/menyelesaikan permasalahan
penelitian.9
5. Analisis Data
Pengolahan data adalah suatu kegiatan mengartikan, membandingbandingkan, menghubung-hubungkan dan mencari kesesuaian antara data
yang terkumpul satu sama lain dalam rangka mengungkapkan suatu kebenaran
yang dipermasalahkan. 10 Akhir pengolahan data ini adalah penarikan suatu
kesimpulan.
Dalam penelitian, pengolahan data merupakan bagian terpenting. Dalam
penenlitian hukum, pengolahan data dilaksanakan untuk menenukan
9
Ibid., hlm. 58-60.
Ibid., hlm. 26.
10
5
kebenaran hukum. Pengolahan data merupakan kegiatan ilmiah yang
menentukan kebenaran jawaban permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian
hukum, pengolahan data mencakup kegiatan: sistematisasi data yang
terkumpul, interpretasi dan evaluasi data yang telah disistematisasi, dan
penarikan kesimpulan berdasarkan interpretasi dan evaluasi data tersebut.
Dalam kesimpulan itu dikemukakan jawaban terhadap permasalahan yang
diteliti.
Untuk mempermudah analisis data dan uraian hasil penelitian, data
penelitian yang diperoleh melalui studi dokumen dan studi pustaka dalam
penelitian ini dilakukan klasifikasi dan sistematisasi. Klasifikasi dan
sistematisasi dilakukan untuk memilah bahan-bahan penelitian yang berupa
ketentuan-ketentuan hukum (das Sollen) dan fakta-fakta (das Sein) tentang:
perjanjian
internasional;
ketentuan-ketentuan
hukum
internasional.
Pembahasan tentang fakta-fakta (das Sein) dan ketentuan-ketentuan hukum
(das Sollen) yang relevan tersebut dilakukan dengan mengacu pada metode
interpretasi hukum yang berlaku dalam hukum internasional.
Klasifikasi dan sistematisasi yang dilakukan dengan mempertimbangkan
permasalahan penelitian dan variabel yang terkait di dalamnya yakni: (1)
hubungan penarikan diri secara unilateral suatu negara dari perjanjian
internasional dengan asas good faith; (2) konsekuensi terhadap tindakan
penarikan diri secara unilateral suatu negara dari perjanjian internasional.
Setelah dilakukan klasifikasi dan sistematisasi terhadap data penelitian,
berikutnya dilakukan interpretasi dan evaluasi. Interpretasi dan evaluasi
dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara satu variabel dengan variabel
yang lain selaras dengan rumusan permasalahan. Interpretasi dan evaluasi
dimaksudkan untuk mengkaji hubungan penarikan diri secara unilateral suatu
negara dari perjanjian
internasional dengan asas good faith; konsekuensi
terhadap tindakan penarikan diri secara unilateral suatu negara dari perjanjian
internasional dilakukan dengan metode deduksi.
6
Berdasarkan interpretasi dan evaluasi terhadap bahan-bahan penelitian
tersebut, dilanjutkan dengan preskripsi. Dalam penelitian ini preskripsi
dimaksudkan untuk merumuskan kejelasan tentang konteks situasi yang
relevan, kerangka hukum internasional yang relevan, dan prinsip-prinsip
umum dalam perjanjian internasional. Preskripsi yang disajikan dalam
penelitian ini mempertimbangkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai keadilan,
kepastian dan kemanfaatan.
D. Pembahasan
1. Rome Statute of the International Criminal Court 1998
a. Latar Belakang Pembentukan Rome Statute of the International
Criminal Court 1998
Latar belakang pembentukan International Criminal Court (ICC) tidak
dapat dilepaskan dari sejarah pembentukan mahkamah-mahkamah
kejahatan internasional sebelumnya. Sejarah yang pertama adalah
pembentukan mahkamah kejahatan internasional pasca Perang Dunia II,
yaitu International Military Tribunal Nuremberg (Mahkamah Nuremberg)
tahun 1945 dan International Tribunal for the Far East (Mahkamah
Tokyo)
tahun 1946. Pembentukan Mahkamah Nuremberg didasarkan
pada inisiatif sekutu yang memenangkan perang untuk mengadili para
pemimpin Nazi-Jerman, baik sipil maupun militer, sebagai penjahat
perang dengan terlebih dahulu dituangkan dalam London Agreement
tanggal 8 Agustus 1945. Sedangkan Mahkamah Tokyo dibentuk
berdasarkan Proklamasi Panglima Tertinggi Tentara Sekutu Jenderal
Douglas MacArthur pada 1946.
Catatan sejarah yang kedua adalah pembentukan mahkamah kejahatan
internasional usai Perang Dingin yaitu International Criminal Tribunal for
former Yugoslavia (ICTY) dan International Criminal Tribunal for
Rwanda. ICTY dibentuk berdasarkan Resolusi Nomor 827 DK PBB
tanggal 25 Mei 1993 untuk mengadili para pelaku pelanggaran HAM berat
di wilayah bekas Yugoslavia. Sedangkan ICTR dibentuk berdasarkan
7
Resolusi Nomor 995 DK PBB tanggal 8 November 1994 untuk mengadili
para pelaku kejahatan perang dan genosida di Rwanda.
Belajar dari sejarah pembentukan empat mahkamah sebelumnya yang
kesemuanya ad hoc itu ternyata semakin membuka mata masyarakat
internasional tentang perlunya suatu pengadilan pidana internasional yang
permanen dan independen untuk mengadili pelaku kejahatan internasional.
Melalui serangkaian pembicaraan panjang di tingkat internasional, hasil
kerja PrepCom pada akhirnya dibicarakan dalam suatu konferensi
internasional yang berlangsung di Roma pada tanggal 15 Juni hingga 17
Juli 1998. Sebagai hasil dari konferensi tersebut, tersusunlah Satuta Roma
yang akan menjadi dasar pembentukan International Criminal Court
(ICC) permanen. Statuta ini disahkan pada tanggal 17 Juli 1998.
International Criminal Court (ICC) atau biasa disebut dengan
Mahkamah Pidana Internasional yang berada di bawah naungan PBB
mempunyai kekuasaan untuk melaksanakan yurisdiksinya atas orangorang untuk kejahatan paling serius yang menjadi perhatian internasional11
diantaranya genocide (pemusnahan etnis/suku bangsa), crime against
humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan), war crime (kejahatan perang)
dan the crime of aggression (kejahatan agresi).
12
Lembaga ini
diberlakukan atas dasar statuta multilateral, maka ia tidak menjadi bagian
atau organ dari PBB, meskipun kedua organisasi ini akan mempunyai
hubungan yang formal.
13
Lebih jauh lagi, Dewan Keamanan akan
mempunyai peran penting dalam operasional lembaga ini atas dasar
kewenangannya untuk memprakarsai suatu penyelidikan.14
b. Dasar Filosofis Rome Statute of the International Criminal Court
1998
Statuta Roma didasari kontroversi bagaimana kehadiran manusia
dalam kehidupan di bumi harus didefinisikan dan dimaknakan sehingga
11
Pasal 1 Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
Pasal 5 ayat (1), ibid.
13
Pasal 2, ibid.
14
Pasal 13 & Pasal 16, ibid.
12
8
nantinya akan berujung pada suatu konsep penghargaan terhadap hak asasi
manusia. Manusia dilahirkan bebas dan setara dalam hal kehormatan serta
hak-hak yang melekat padanya. Mereka dianugerahi nalar dan hati nurani
dan antara satu dengan lainnya harus berperilaku dalam semangat
persaudaraan.
15
Ketentuan yang tertuang dalam Pasal 1 Deklarasi
Universal tentang Hak Asasi Manusia 1948 ini menegaskan asumsi dasar
dari deklarasi internasional ini bahwa hak atas kebebasan dan kesetaraan
merupakan hak yang melekat pada setiap manusia sejak lahir dan tidak
boleh diambil darinya.
Dalam preamble Rome Statute of the International Criminal Court 1998
disebutkan bahwa “mindful that during this century millions of children, women
and men have been victims of unimaginable atrocities that deeply shock the
conscience of humanity, recognizing that such grave crimes threaten the peace,
security and well-being of the world ”.16 hal ini mensiratkan bahwa telah banyak
terjadi pelanggaran HAM dalam berbagai bentuk sehingga para korban tidak lagi
bisa menikmati haka-hak meeka. ICC sebagai lembaga penegakan hak asasi
manusia wajib untuk melaksanakan amanah tersebut sebagai cerminan komitmen
dan kepedulian terhadap nilai-nilai dan perlindungan hak asasi manusia.
2. Penarikan diri Secara Unilateral Oleh Amerika Serikat terhadap
Rome Statute of the International Criminal Court 1998
a. Latar Belakang Penarikan Diri Oleh Amerika Serikat
Amerika Amerika Serikat, di bawah Presiden Clinton menandatangani
Statuta Roma pada tanggal 31 Desember 2000. Penandatanganan ini
merupakan langkah pertama menuju ratifikasi. Penandatanganan yang
dilakukan suatu negara dalam Statuta Roma tidak mengikat secara hukum
sampai perjanjian tersebut diratifikasi. 17 Bagi Amerika Serikat untuk
menjadi pihak dalam perjanjian dengan penandatanganan dan ratifikasi,
Presiden harus mengajukan perjanjian ke Senat Amerika Serikat untuk
saran dan persetujuan. Senat harus menyetujui dengan 2/3 suara
15
The Universal Declaration of Human Rights 1948, Pasal 1.
Preamble,p.2 & p.3 Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
17
Pasal 125 ayat (2), ibid.
16
9
mayoritas. 18 Presiden kemudian harus menyelesaikan proses ratifikasi
dengan
menyimpan
perjanjian
kepada
Sekretaris
Jenderal
PBB,
penyimpanan perjanjian, mengekspresikan Amerika Serikat setuju untuk
terikat dengan perjanjian tersebut.19
Presiden Clinton menandatangani Statuta Roma untuk terlibat dengan
pengadilan dan mempengaruhi evolusinya. Penandatanganan perjanjian
juga menegaskan kembali dukungan Amerika Serikat bagi akuntabilitas
internasional dan untuk membawa para pelaku genosida, kejahatan perang
dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Presiden Clinton, bagaimanapun,
tidak menyerahkan perjanjian ke Senat untuk persetujuan ratifikasi karena
kekhawatiran tentang Pengadilan dan karena ia tidak ingin warga Amerika
Serikat tunduk pada yurisdiksi Pengadilan. Sebuah perhatian utama dari
pemerintahan Clinton dan pemerintahan Bush adalah takut penuntutan
dipolitisasi terhadap personil militer dan pejabat pemerintah.20
Hingga akhirnya, pada tanggal 6 Mei 2002, Amerika Serikat, di bawah
Presiden Bush, menyerahkan catatan kepada Sekretaris Jenderal PBB
mengenai penandatanganan Statuta Roma. Catatan menyatakan bahwa:
"this is to inform you, in connection with the Rome Statute of the
International Criminal Court adopted on July, 1998, that the United
States does not intend to become a party to the treaty. Accordingly, the
United States has no legal obligations arising from its signature on
December 31, 2000. The United States requests that its intention no to
become a party, as expressed in this latter, be reflected in the
depositary’s status lists listening to this treaty”.21
18
Pasal 1 s.7 Constitution of the United States yang menyatakan: All Bills for raising
Revenue shall originate in the House of Representatives; but the Senate may propose or concur
with Amendments as on other Bills. Every Bill which shall have passed the House of
Representatives and the Senate, shall, before it become a Law, be presented to the President of the
United States: If he approve he shall sign it, but if not he shall return it, with his Objections to that
House in which it shall have originated, who shall enter the Objections at large on their Journal,
and proceed to reconsider it. If after such Reconsideration two thirds of that House shall agree to
pass the Bill, it shall be sent, together with the Objections, to the other House, by which it shall
likewise be reconsidered, and if approved by two thirds of that House, it shall become a Law.
19
Aurelie Coppin, 2008, Status of the US Signature of the Rome Statute of the
International Criminal Court, http://www.amicc.org/usicc/bush, diakses tanggal 21 Agustus 2014.
20
Ibid.
21
Under Secretary of State for Arms Control and International Security John Bolton,
Letter to the UN Secretary-General, 2002, http://www.amicc.org/usicc/bush, diakses tanggal 27
Agustus 2014.
10
Inti dari pernyataan Amerika Serikat tersebut bahwa Amerika Serikat tidak
berniat untuk menjadi pihak dalam perjanjian. Dengan demikian, Amerika
Serikat
tidak
memiliki
kewajiban
hukum
yang
timbul
dari
penandatanganan pada 31 Desember 2000.
b. Dasar Pertimbangan Penarikan Diri Amerika Serikat
Dalam pidatonya, Wakil Menteri Luar Negeri Marc Grossman
menyampaikan dasar pertimbangan penolakan Amerika Serikat terhadap
Statuta Roma.22 Pertama, ICC dianggap telah mengurangi peran Dewan
Keamanan PBB (DK PBB). Kedua, ICC dibangun berlandaskan sistem
yang cacat, sehingga memungkinkan adanya eksploitasi dan penuntutan
bermotif politik. Ketiga, bahwa ICC dibangun tanpa pengawasan.
Keempat, ICC dianggap mengancam kedaulatan Amerika Serikat.
Atas dasar pertimbangan itulah sehingga pada tanggal 6 Mei 2002
Pemerintah Amerika Serikat mengirimkan pemberitahuan resmi kepada
Sekretaris
Jenderal
Perserikatan
Bangsa-Bangsa,
sebagai
tempat
penyimpanan untuk Statuta Roma, menyatakan Amerika Serikat tidak
akan menjadi pihak dalam perjanjian pembentukan Mahkamah Pidana
Internasional.
c. Implikasi Penarikan Diri Amerika Serikat
1. Internal
Sebagai negara bukan peserta Statuta, Amerika Serikat tidak akan
memiliki suara di Majelis Negara Pihak (ASP) dan pada saat Konferensi
Peninjauan. Namun, ia akan bisa berpartisipasi sebagai observer.23
Peran observer akan ditentukan oleh aturan prosedur yang diadopsi
dari dua badan ini.24 Jika rancangan aturan selesai diadopsi, observer akan
berhak berpartisipasi dalam musyawarah ASP dan setiap badan pendukung
22
Marc Grossman, 2002, American Foreign Policy and the International Criminal Court,
http://www.amicc.org/usicc/bush, diakses tanggal 21 Agustus 2014.
23
Pasal 112 ayat (1), Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
24
U.N. Doc.,PCNICC/2001/1/Add.4, Draft Rules of Procedure of the Assembly of
States Parties (2002), dalam tulisan Jennifer Elsea, 2002, Congressional Research
Service,US Policy Regarding the International Criminal Court, hlm. 20,
http://www.amicc.org/usicc/bush, diakses tanggal 21 Agustus 2014.
11
yang bisa dibentuk. Negara observer akan menerima pemberitahuan semua
proses pertemuan dan catatan ASP atas dasar yang sama dengan negaranegara anggota. Mereka tidak akan diijinkan untuk mengusulkan sesuatu
selama pertemuan berlangsung, seperti perintah atau usulan untuk suatu
penundaan.
Dengan
demikian,
Amerika
Serikat
mungkin
dapat
berpartisipasi secara substansial dalam pertemuan ASP, walau ia tidak
menjadi pihak dalam Statuta. Amerika Serikat juga dapat menggunakan
posisinya di PBB untuk berkomunikasi dengan ASP.25
Amerika Serikat tidak akan bisa memberikan suara dalam ASP jika
tidak meratifikasi Statuta Roma. Ia tidak bisa mencalonkan warganya
untuk menjadi hakim atau memberikan suara dalam pemilihan para hakim
atau jaksa (atau penghapusan mereka). Amerika Serikat tidak bisa
memberikan suara untuk anggaran ICC. Ia bahkan tidak bisa memberikan
suara untuk mendefinisikan kejahatan agresi atau dimasukkan dalam
yurisdiksi ICC, ketika hal ini dipertimbangkan dalam Konferensi
Peninjauan Awal, atau pada setiap perubahan lain untuk Statuta Roma.26
Amerika Serikat, sebagai non-party tidak akan memiliki hak untuk
merujuk ke Jaksa Penuntut terkait penyelidikan; sebagai anggota tetap
Dewan Keamanan, bagaimanapun Amerika Serikat bisa berusaha
mempengaruhi melalui Dewan Keamanan. 27 Demikian pula, Amerika
Serikat masih bisa berpartisipasi dalam permohonan Dewan Keamanan
kepada Jaksa untuk menunda penyelidikan atau penuntutan 28 dan PreTrial Chamber (Kamar Pra-Peradilan) untuk meninjau kembali keputusan
dari Jaksa untuk tidak menyelidiki atau mengadili. 29 Sebagai non-party
dalam perjanjian, Amerika Serikat bisa, tetapi tidak akan diwajibkan
untuk, bekerja sama dalam hal investigasi dan penuntutan ICC 30; dan di
25
U.N. Doc., PCNICC/2001/1/Add.1,Draft Relationship Agreement between the Court
and the United Nations, dalam tulisan Jennifer Elsea, ibid.
26
Jennifer Elsea, ibid, hlm.21.
27
Pasal 13b Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
28
Pasal 16 , ibid.
29
Pasal 53 ibid..
30
Pasal 86, 87,93, ibid.
12
bawah Statuta, Amerika Serikat bisa, tetapi tidak akan diwajibkan untuk,
menangkap orang yang dimaksud dalam permintaan untuk penahanan
sementara atau penangkapan dan penyerahan dari ICC.31 Amerika Serikat
juga akan mempertahankan hak untuk tidak memberikan informasi atau
dokumen pengungkapan yang akan merugikan kepentingan keamanan
nasional32 dan menolak untuk menyetujui pengungkapan oleh suatu negara
peserta dari informasi atau dokumen yang diberikan kepada negara secara
rahasia.33
2. Eksternal
Satu Satu bulan setelah ICC resmi muncul pada tanggal 1 Juli 2002,
Presiden Amerika Serikat menandatangani American Servicemembers
Protection Act of 2002 (ASPA) yang membatasi dukungan dan bantuan
pemerintah Amerika Serikat kepada ICC, membatasi bantuan militer ke
berbagai negara yang telah meratifikasi Statuta Roma yang membentuk
ICC, dan yang paling kontroversial di antara sekutu Eropa, kewenangan
Presiden untuk menggunakan "segala cara yang diperlukan dan untuk
membebaskan personil Amerika Seikat dan orang-orang sekutu yang
mungkin ditahan atau diadili oleh ICC.34
Pemerintah Amerika Serikat awalnya memveto resolusi PBB untuk
memperpanjang misi penjaga perdamaian di Bosnia karena tidak
mengandung jaminan bahwa personil Amerika Serikat akan kebal terhadap
penuntutan oleh ICC. Pada akhirnya, Dewan Keamanan dan delegasi
Amerika Serikat mampu mencapai kompromi yang menunda selama satu
tahun segala tuntutan dari pasukan yang terlibat dalam misi penjaga
perdamaian PBB, terlebih kepada negara-negara yang belum meratifikasi
Statuta Roma.35
31
Pasal 59, 89, ibid.
Pasal 72, ibid.
33
Pasal 73, ibid.
34
Jennifer Elsea, op.cit, hlm.1.
35
Ibid.
32
13
Dengan menuntut perlakuan khusus dalam bentuk kekebalan dari ICC,
makin memperkuat persepsi terhadap keengganan untuk mematuhi hukum
yang sama yang berlaku untuk negara-negara lain. Persepsi ini, bisa
merusak
upaya
internasional
Amerika
terhadap
Serikat
untuk
upayanya melawan
mendapatkan
dukungan
terorisme serta upaya
internasional di masa mendatang.36
d. Praktik Negara terhadap Penarikan Diri dari Perjanjian
Internasional
1. Upaya Penarikan Diri Kenya Terhadap Statuta Roma
Kenya merupakan negara penandatangan dan peratifikasi Statuta Roma. 37
Pada tanggal 6 September 2013 mayoritas suara Majelis Nasional Kenya
mendukung gerakan yang diperkenalkan oleh Pemimpin Partai Mayoritas,
Aden Duale, mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkahlangkah untuk segera menarik diri dari Rome Statute of the International
Criminal Court
1998.
Gerakan ini menyatakan bahwa telah terjadi
"perubahan mendasar dalam situasi yang berkaitan dengan pemerintahan
negara” mengingat bahwa Presiden Uhuru Kenyatta dan Wakil Presiden
William Ruto, keduanya berada di bawah dakwaan oleh ICC karena
dituduh terlibat dengan kejahatan terhadap kemanusiaan di Kenya pasca
pemilu tahun 2007.38
Adapun langkah Kenya untuk menarik diri dari Statuta ini tidak akan
memiliki efek penghentian pada kasus yang sedang berlangsung di International
Criminal Court (ICC). Ada beberapa alasan, pertama, memang benar di dalam
Pasal 127 ayat (1) dari Statuta ini suatu negara peserta, dengan
memberitahukan kepada Sekretaris Jenderal PBB, dapat menarik diri dari
Statuta ini. Namun penarikan diri akan berlaku tidak lebih awal dari satu
tahun setelah tanggal diterimanya pemberitahuan. Dan penekanan yang
36
Ibid, hlm. 22.
Pada tanggal 11 Agustus 1999, Kenya merupakan negara yang menandatangani Rome
Statute of the International Criminal Court 1998. Untuk selanjutnya pada tanggal 15 Maret 2005,
Kenya meratifikasi Statuta ini.
38
Charles Jalloh, 2013, Kenya Should Reconsider Proposed Withdrawal from the ICC,
www.ejiltalk.org/kenya-should-reconsider-proposed-withdrawal-from-the-icc/,
diakses
pada
tanggal 14 Maret 2014.
37
14
lebih penting adalah penarikan diri tidak dapat digunakan untuk merusak
investigasi dan penuntutan yang berlaku di ICC. Dengan demikian tidak
akan serta merta terlepas dari kewajiban yang timbul dari Statuta ini.
Kedua, bahkan jika jaksa ICC memutuskan untuk memulai kasus
tambahan sebelum tanggal bahwa penarikan satu tahun menjadi efektif ,
proses tersebut akan juga memerlukan tugas lanjutan bagi Kenya untuk
bekerja sama dengan pengadilan.
2. Penarikan Diri Amerika Serikat Terhadap Protokol Kyoto
Penarikan diri Amerika Serikat dari Protokol Kyoto terjadi pada
tanggal 13 Maret 2001. Pemerintahan Bush memberikan tiga alasan
penarikan dirinya. Pertama, pemerintah menyebutkan "incomplete state of
scientific knowledge" yang dapat digunakan untuk bekerja dalam hal
membatasi pemanasan. Kedua, pemerintah mengklaim bahwa Amerika
Serikat tidak akan menjadi pihak untuk setiap undang-undang lingkungan
internasional yang merugikan ekonomi Amerika Serikat. Ketiga,
pemerintah menyatakan fakta bahwa negara-negara berkembang seperti
China dan India dibebaskan dari jadwal wajib Protokol Kyoto dan sebagai
target pembenaran untuk penarikan, Amerika Serikat memberikan alasan
bahwa negara-negara berkembang harus terikat jika Amerika Serikat
diwajibkan untuk terikat.39
Tindakan penarikan diri Amerika Serikat tidak menimbulkan akibat
hukum yang berarti karena dalam Pasal 27 Protokol disebutkan bahwa:
“(1) pada suatu saat setelah 3 tahun sejak protokol ini berlaku bagi
suatu pihak, pihak itu boleh mengundurkan diri dari protokol ini
dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada Depositori;
(2) setiap pengunduran diri harus berlaku setelah satu tahun
kadaluarsa terhitung dari tanggal penerimaan oleh Depositori,
tentang pemberitahuan pengunduran diri atau pada tanggal yang
lebih dulu mundur yang ditentukan dalam pemberitahuan
pengunduran diri;
39
Paul Kevin Waterman, 2003, From Kyoto To Anwr: Critiquing The Bush
Administration's Withdrawalfrom The Kyoto Protocol To The Framework Convention On Climate
Change, hlm. 758,
15
(3) setiap pihak yang mengundurkan diri dari Konvensi harus juga
dianggap telah mengundurkan diri dari protokol ini”.
Tindakan Amerika Serikat ini secara normatif diperbolehkan, akan
tetapi dengan penarikan dirinya ini, Amerika Serikat dianggap telah
mengabaikan ancaman pemanasan global dan penipisan lapisan ozon.
Padahal sebagai salah satu negara penghasil polusi terbesar di dunia,
seharusnya Amerika Serikat membuat kebijakan-kebijakan yang lebih
bersahabat dengan lingkungan.
3. Pengaturan Penarikan Diri dalam Hukum Internasional
a. Rome Statute of the International Criminal Court 1998 (Statuta
Roma)
Pengaturan penarikan diri suatu negara diatur berdasarkan ketentuan
dalam Pasal 127 Statuta yang menyatakan bahwa:
“(1) suatu negara peserta, dengan pemberitahuan tertulis yang
dialamatkan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa,
dapat menarik dari dari Statuta ini. Penarikan diri itu mulai berlaku
satu tahun setelah tanggal diterimanya pemberitahuan tersebut,
kecuali kalau pemberitahuan itu menetapkan suatu tanggal yang lebih
kemudian;
(2) suatu negara tidak akan dikeluarkan, dengan alasan penarikan
dirinya, dari kewajiban yang timbul dari Statuta ini ketika negara itu
masih menjadi peserta pada Statuta ini, termasuk setiap kewajiban
keuangan yang mungkin terkumpul. Penarikan dirinya tidak
mempengaruhi setiap kerjasama dengan Mahkamah dalam hubungan
dengan investigasi dan penuntutan pidana yang mengenai hal itu.
Negara yang menarik diri sebelumnya mempunyai kewajiban untuk
bekerjasama dan dimulai sebelum tanggal dimana penarikan diri itu
menjadi efektif, ataupun hal itu tidak akan merugikan dengan cara
apapun pertimbangan yang berkelanjutan mengenai setiap hal yang
sudah dipertimbangkan oleh Mahkamah sebelum tanggal dimana
penarikan diri itu menjadi efektif.”
b. Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 (Konvensi Wina
1969)
Konvensi Wina 1969 menetapkan ketentuan berakhirnya dan
penangguhan berlakunya suatu perjanjian yaitu terdapat dalam Pasal 54
hingga Pasal 72 Konvensi.
16
Yang dimaksud dengan berakhirnya suatu perjanjian adalah punahnya
atau lenyapnya suatu perjanjian internasional karena sebab-sebab tertentu.
Pada umumnya, sebab-sebab berakhirnya suatu perjanjian internasional
disebabkan karena:40 (1) Telah tercapainya tujuan dari perjanjian tersebut;
(2) Habis waktu berlakunya perjanjian tersebut; (3) Punahnya salah satu
pihak peserta perjanjian; (4) Punahnya objek perjanjian; (5) Adanya
persetujuan dari peserta-peserta untuk mengakhiri perjanjian; (6)
Diadakannya perjanjian antara para peserta kemudian meniadakan
perjanjian terdahulu; (7) Dipenuhinya syarat-syarat tentang pengakhiran
perjanjian sesuai dengan ketentuan-ketentuan perjanjian itu sendiri; (8)
Diakhirinya perjanjian secara sepihak oleh suatu peserta dan diterimanya
pengakhiran itu oleh pihak lain.
Sedangkan penangguhan berlakunya suatu perjanjian adalah suatu
penundaan pelaksanaan atau kelangsungan atau berlakunya suatu
perjanjian internasional untuk sebahagian atau seluruh isi perjanjian
karena sebab-sebab atau alasan-alasan tertentu yang sah. Adapun sebabsebab ditangguhkan berlakunya suatu perjanjian internasional yaitu:41 (1)
Pembatalan sepihak (denunciation) oleh salah satu peserta atau penarikan
diri dari suatu perjanjian internasional, yang tidak diatur dalam perjanjian
itu sendiri; (2) Pelanggaran perjanjian oleh salah satu pihak; (3)
Ketidakmungkinan salah satu pihak peserta untuk melaksanakan
kewajiban-kewajiban menurut perjanjian (impossibility of performance);
(4) Adanya perubahan fundamental dalam keadaan yang bertalian dengan
perjanjian (fundamental change of circumstances); (5) Adanya pemutusan
hubungan diplomatik atau hubungan konsuler; (6) Pecahnya perang antara
peserta perjanjian.
40
Frans E.Likadja & Daniel Frans Bessie, 1988, Desain Instruksional Dasar Hukum
Internasional, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 123.
41
Ibid., hlm. 124-126.
17
4. Penarikan Diri Secara Unilateral Amerika Serikat terhadap Rome
Statute of the International Criminal Court 1998 Dalam Kaitannya
dengan Asas Good Faith
Asas Good Faith merupakan prinsip dasar dalam pelaksanaan suatu
perjanjian. Hal ini sesuai dengan Preamble Konvensi Wina 1969 yang
menyatakan: “noting that the principles of free consent and of good faith
and the pacta sunt servanda rule are universally recognized 42”. Itikad baik
untuk melaksanakan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian adalah
dasar motivasi untuk menegakkan orde masyarakat internasional yang adil
dan lebih baik.43
Kewajiban menurut Pasal 18 Vienna Convention on the Law of
Treaties 1969 tidak melarang suatu negara dari penarikan suatu perjanjian.
Kewajiban menurut pasal ini adalah untuk menahan diri dari tindakantindakan yang akan menggagalkan maksud dan tujuan perjanjian sebelum
berlakunya. Kewajiban ini menyangkut dengan substansi dari suatu
perjanjian.44
Ukuran itikad baik dalam sutu perjanjian adalah bagaimana suatu
negara melaksanakan perjanjian tersebut sesuai dengan maksud dan tujuan
dari perjanjian yang telah dibuat. Statuta Roma 1998 dibentuk sebagai
sarana penegakan hukum internasional dan penghormatan terhadap HAM
serta pencegahan praktek impunity bagi para pelaku kejahatan.45 Amerika
Serikat, dengan penarikan dirinya ini, menjadi suatu bentuk tindakan yang
bisa menggagalkan maksud dan tujuan dari Statuta Roma 1998 secara
tidak langsung. Walaupun sebenarnya menjadi hak kedaulatan suatu
negara untuk menarik diri dari perjanjian setiap saat sebelum akhirnya
menjadi mengikat. 46 Namun, ketika maksud dan tujuan suatu perjanjian
42
Preamble, p.3 Vienna Convention on the Law of Treaties 1969
Budiono Kusumohamidjojo, 1986, Suatu Studi Terhadap Aspek Operasional Konvensi
Wina Tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional, Binacipta, Bandung, hlm. 16.
44
Anthony Aust, 2000, Modern Treaty Law And Practice, Cambridge University Press,
hlm. 96.
45
Preamble, p.2, p.4, p.5 Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
46
Anthony Aust, loc.cit.
43
18
bekaitan dengan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia,
menjadi kewajiban erga omnes bagi setiap negara. Bertitik tolak dari hal
inilah sehingga kemudian tindakan penarikan diri Amerika Serikat secara
unilateral terhadap Statuta Roma 1998 ini bertentangan dengan Asas Good
Faith.
5. Konsekuensi atas Penarikan Diri Secara Unilateral Amerika Serikat
terhadap Rome Statute of the International Criminal Court terhadap
Amerika Serikat
a. Internal
Konsekuensi penarikan diri Amerika Serikat terhadap Statuta Roma
dapat dilihat dari bagaiamana yurisdiksi ICC masih bisa menjangkau
warga negara yang bukan berasal dari negara anggota Statuta. Telah
diketahui bahwa Amerika Serikat bukanlah negara anggota Statuta Roma.
Dalam Statuta Roma disebutkan bahwa ICC memiliki yurisdiksi terhadap
warga negara yang berasal dari non state party dalam kondisi-kondisi sebagai
berikut:47
1) Dalam kasus yang diserahkan oleh Dewan Keamanan PBB kepada
ICC.48
2) Dalam kasus warga negara dari non state party melakukan kejahatan di
wilayah atau territorial negara anggota Statuta atau negara yang sudah
menerima yurisdiksi ICC berkaitan dengan kejahatan tersebut. 49
3) Dalam kasus negara non state party sudah menyetujui untuk
melaksanakan
tertentu.
yurisdiksi
berkaitan
dengan
kejahatan-kejahatan
50
Selain kondisi-kondisi di atas, dalam menerapkan yurisdiksinya, ICC
menerapkan prinsip universal. Artinya bahwa apabila sebuah kejahatan
serius yang terjadi dalam suatu negara, bisa dihakimi tanpa perlu
47
Dapo Akande, 2003, The Jurisdiction of International Criminal Court Over Nationals of
Non-Parties: Legal Basis and Limits, Journal of International Criminal Justice 1, hlm. 618-650.
48
Pasal 13 Rome Statute of the International Criminal Court 1998.
49
Pasal 12 ayat (2) (a) dan ayat (3) , Ibid.
50
Ibid.
19
memperdulikan batas-batas wilayah dan kewarganegaan pelakunya dan hal
ini tidaklah bertentangan dengan hukum internasional.
b. Eksternal
Penarikan diri Amerika Serikat dari Rome Statute of the International
Criminal
Court
1998
bisa
dikatakan
melemahkan
dasawarsa
kepemimpinan Amerika Serikat di Peradilan Internasional. 51 Berawal dari
pengadilan Nuremberg 1945 sebagai pengadilan ad hoc, di sini terlihat
bagaimana kepemimpinan Amerika Serikat dalam pengembangan keadilan
internasional telah menjadi teladan. Juga bisa dilihat dari turut sertanya
Amerika Serikat terhadap pengadilan ICTY dan ICTR.
Tindakan Amerika Serikat ini, bisa membawa dampak buruk untuk
negara-negara peserta Statuta Roma 1998 yang lain. Dengan bercermin
terhadap tindakan Amerika Serikat, negara peserta yang lain bisa saja
menarik diri dari Statuta ini dengan anggapan bahwa salah satu negara
yang tingkat kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang
tertinggi tidak menjadi peserta dalam Statuta Roma 1998. Hingga pada
akhirnya nilai eksistensi suatu keadilan yang ingin diciptakan ICC akan
buram di hadapan masyarakat internasional.
6. Aplikasi Rome Statute of the International Criminal Court terhadap
Amerika Serikat
Aplikasi Rome Statute of the International Criminal Court 1998 di
Amerika Serikat bisa dilihat dalam hal penghormatan dan perlindungan
hak asasi manusia. Berkaitan dengan penghormatan dan perlindungan hak
asasi manusia, kini diakui bahwa setiap negara memiliki kepentingan dan
kewajiban untuk melaksanakannya, penghormatan dan perlindungan hak
asasi manusia merupakan kewajiban erga omnes bagi setiap negara. Suatu
negara yang melakukan pelanggaran terhadap kewajiban tersebut telah
kehilangan legitimasi atas kedaulatannya. Karena ada muncul paradigm
51
Richard J. Goldstone, 2002, US Withdrawal From ICC Undermines Decades of
American Ladership in International Justice, International Criminal Court MONITOR,
http://www.thirdworldtraveler.com/international_war_crimes/USWithdrawal_ICC_Goldstone.html
, diakses pada tanggal 14 Maret 2014.
20
baru dalam masyarakat internasional, bahwa hak asasi manusia lebih
utama daripada kedaulatan. Dalam konteks semacam ini, muncul
kebutuhan akan perlindungan hak asasi manusia dan kemanusiaan dalam
bentuk tata kelola yang bersifat multi-level untuk mewujudkan tanggung
jawab masyarakat internasional dalam rangka melestarikan hak asasi
manusia dan humanitarianisme.52
Pemberlakuan prinsip universal dalam kerangka kerja ICC merupakan
salah satu bentuk tata kelola dalam penghormatan dan perlindungan hak
asasi manusia. Bagaimana sebuah kejahatan serius yang terjadi dalam
suatu negara, bisa dihakimi tanpa perlu memperdulikan batas-batas
wilayah dan kewarganegaan pelakunya dan hal ini tidaklah bertentangan
dengan hukum internasional. dengan pertimbangan bahwa perlindungan
hak asasi manusia menjadi landasan moral dan legal yang sahih bagi
tindakan intervensi kemanusiaan dalam sistem hukum saat ini.
E. Kesimpulan
1. Penarikan diri Amerika Serikat secara unilateral terhadap Statuta Roma
bertentangan dengan prinsip Good Faith (itikad baik). Dalam hukum
perjanjian internasional, saat negara telah menandatangani perjanjian
internasional
sebagai
langkah
awal
pengikatan
dirinya,
negara
berkewajiban untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang akan
membatalkan maksud dan tujuan perjanjian itu sampai tiba saatnya negara
tersebut menjelaskan secara jelas maksudnya untuk tidak menjadi pihak
pada perjanjian tersebut. 53 Tindakan penarikan diri ini mengindikasikan
bahwa Amerika Serikat ingin menggagalkan pembentukan ICC serta
membatasi yurisdiksi ICC sebagai lembaga peradilan.
2. Konsekuensi atas penarikan diri secara unilateral Amerika Serikat
terhadap Statuta Roma dapat dikaji dalam 3 hal yaitu: pertama, secara
politis, mempengaruhi hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara
sekutunya yang sebahagian besar menjadi pihak dalam Statuta Roma dan
52
Sigit Riyanto, 2014, Re-Interpretasi Kedaulatan Negara Dalam Hukum Internasional,
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
53
Pasal 18 Vienna Convention on the Law of Treaties 1969.
21
juga mempengaruhi kedudukan Amerika Serikat di kancah internasional
khususnya di peradilan internasional. Kedua, secara prosedural, penarikan
diri Amerika Serikat diperbolehkan, akan tetapi dengan penarikan dirinya
Amerika Serikat hanya bisa berpartisipasi sebagai negara observer dalam
Majelis Negara Pihak (ASP) ICC dan Konferensi Peninjuan tanpa hak
suara. Karena hanya negara yang telah meratifikasi atau mengaksesi
Statuta Roma yang memiliki hak untuk memilih maupun memberikan
masukan dalam ASP ataupun Konferensi Peninjauan. Ketiga, secara
substantif, Statuta Roma dibuat untuk menyelesaikan proses kejahatan
yang selama ini belum terjangkau dalam hukum internasional secara
universal. Hal ini berarti, tidak perduli apakah suatu negara mennjadi
negara pihak atau tidak dalam Statuta Roma, yurisdiksi ICC akan tetap
berlaku bagi mereka yang telah melakukan kejahatan yang tertuang di
dalam Statuta, sehingga pada akhirnya aturan-aturan yang ada dalam
Statuta benar-benar diterapkan.
F. Saran
1. Amerika Serikat seharusnya bisa mentaati segala bentuk kewajiban yang
tertuang
dalam
suatu
perjanjian
dan
diharapkan
memberikan
contoh
kepemimpinan yang baik, dengan mengembangkan kerjasama dan upaya untuk
memperkuat mekanisme global yang institusional untuk memerangi segala
bentuk pelanggaran hak asasi manusia guna menciptakan
perdamaian dan
keamanan internasional.
2. Dengan adanya prinsip universal yang terkandung dalam Statuta Roma,
diharapkan ICC benar-benar bisa melaksanakan tugasnya untuk menangkap dan
mengadili pelaku kejahatan baik itu di wilayah negara pihak ataupun non state
party.
Download