JURNAL ILMIAH NON SEMINAR
Teori-Teori Masuknya Islam ke Wilayah Timur Indonesia
Oleh:
Muhammad Syarif Hidayatullah
1006714494
Program Studi Sastra Arab
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
2013
1
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
2
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
3
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Teori-Teori Masuknya Islam ke Wilayah Timur Indonesia
Muhammad Syarif H / 1006714494
[email protected]
Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Desember, 2013
Abstrak
Sejarah masuknya Islam di Indonesia, yaitu pada abad ke-VII. Perkembangan agama Islam di
Indonesia menimbulkan pengaruh besar bagi negara Indonesia pada saat itu. Masuknya agama Islam di
Nusantara dipelopori oleh pedagang-pedagang yang berasal dari Gujarat, India. Proses perkembangan
Islam di Indonesia tidak dilakukan dengan kekerasan ataupun kekuatan militer, penyebaran Islam tersebut
dilakukan secara damai dan berangsur-angsur melalui beberapa jalur, di antaranya melalui jalur
perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan, dan lain sebagai-nya. Akan tetapi jalur yang
paling utama dalam proses Islamisasi di Nusantara ini melalui jalur perdagangan, yang pada akhirnya
melalui jalur damai perdagangan inilah Islam kemudian semakin menyebar luas sampai ke wilayah timur
Indonesia seperti Maluku dan Papua. Sementara itu pada abad ke- XVII & XVIII, daerah timur Indonesia
masih menganut animisme. Islamisasi di wilayah tersebut juga masih sangat terbatas, yaitu hanya
disekitar pelabuhan. Para pedagang dan ulama-lah yang menjadi peran penting dalam Islamisasi di
wilayah Timur Indonesia.
Kata Kunci: Jalur Perdagangan, Maluku, Papua.
Theories Influx of Islam Into Eastern Region of Indonesia
Abstract
History of Islam was entered in Indonesia, namely in the VII century. Islam in Indonesia, brings
a great influence to the country of Indonesia at that time. Arrival of Islam in the archipelago pioneered by
traders from Gujarat, India. The process of the development of Islam in Indonesia was not performed by
violence or military force, the spread of Islam carried out peacefully and gradually through multiple ways,
including through a trade, marriage, establishment of educational institu-tions, and others as his.
However, the most important pathway in the process of Islamization in the archipelago via trade, that the
end through peaceful trade is Islam then progressively spread to the eastern parts of Indonesia such as
Maluku and Papua. Meanwhile, in the XVII & XVIII century, eastern Indonesia still adhered to animism.
Islamization in the region is still very limited, which is just around the harbor. The traders and the clerics
who became an important role in the Islamization in Eastern Indonesia.
Keywords: Trade Lines, Maluku, Papua.
4
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
1. Pendahuluan
Agama Islam di daerah timur Indonesia tidak terlalu terdengar akibat dari
masyarakat yang kurang mau peduli dengan kerohanian. Mereka menganggap bahwa
menjunjung tinggi leluhur mereka dengan persembahan-persembahan kepada nenek
moyang akan membuat mereka sukses menjalani kehidupan. Kegiatan seperti itulah
pendalaman rohani mereka para suku di daerah timur Indonesia. Kehidupan mereka
sebelum datangnya agama Islam di sana lebih memprihatinkan dibanding sekarang.
Masyarakat timur Indonesia terkenal dengan penganut Animisme, atau yang biasa
disebut penyembah “roh”.
Masyarakat Indonesia banyak yang masih mempercayai mitos ataupun legenda.
Mereka percaya akibat dari cerita turun temurun yang diceritakan dari nenek moyang
mereka sampai ke zaman sekarang ini. Jadi tidak heran masih banyak yang melakukan
hal-hal aneh untuk pemujaan leluhur mereka, yang konon apabil tidak dilakukan akan
mendapat kesialan bahkan sampai turun temurun. Kepercayaan tersebut itulah yang
disebut dengan ‘Animisme’.
Animisme berasal dari kata ‘Anima’, adalah serapan dari bahasa latin ‘Animus’,
dari bahasa Yunani ‘Avepos’, dan dalam bahasa Sansekerta disebut ‘Prana’, serta dalam
bahasa Ibrani disebut ‘Ruah’. Semuanya mengandung arti yang sama yaitu napas atau
jiwa, yang berarti ajaran dari doktrin tentang realitas jiwa. Kebudayaan animisme
terbentuk ketika masyarakat masih belum mengenal agama, dimana masyarakat masih
menggunakan bahasa isyarat dalam berkomuni-kasi.
Masyarakat yang menganut kebudayaan animisme mempercayai bahwa benda
mati seperti batu, pohon besar, dan hal semacamnya memiliki roh atau bisa disebut
dikeramatkan. Selain percaya bahwa benda tersebut memiliki roh, mereka juga percaya
bahwa roh orang yang sudah mati dapat hidup diantara mereka. Masyarakat seperti itu
banyak kita jumpai di wilayah timur Indonesia, yang mana masyarakat di sana masih
ada sebagian penganut animisme walaupun pada masa kini sudah mulai berkembangnya
zaman.
Masyarakat penganut ‘Animisme’ di daerah timur Indonesia adalah mereka yang
menganggap leluhur mereka sebagai ‘Tuhan’ yang memberikan mereka kehidupan serta
kemakmuran lingkungan mereka. Dalam jurnal ini akan dijelaskan bagaimana agama
5
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Islam bisa masuk ke daerah maluku dan papua, serta masyarakat timur Indonesia yang
menganut Animisme menjadi pemeluk agama Islam, dan jalur perdaganganlah yang
menjadi pengaruh besar bagi proses berkembangnya agama Islam di sana.
Kedatangan Islam di Nusantara membawa tamaddun (kemajuan) dan
kecerdasan. Islam juga telah merubah kehidupan-kehidupan sosial budaya dan tradisi
kerohanian masyarakat Indonesia. Kedatangan Islam merupakan titik terang bagi
kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia, karena dalam ajaran Islam sangat
mendukung intelektualisme yang tidak terdapat pada masa Hindu-Budha.
Dengan pengaruh ajaran Islam, Indonesia menjadi lebih maju dalam bidang
perdagangan terutama dalam hubungan perdagangan Internasional dengan Timur
Tengah. Khususnya dengan bangsa Arab, Persia, serta India. Berkat para pedagang
muslim inilah Islam diperkenalkan serta disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia.
Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara bertahap dan perlahan mengenalkan
ajaran yang bertoleran serta persamaan derajat antar sesama makhluk.
Hal ini tentu saja menjadi hal yang sangat menarik bagi masyarakat Indonesia,
terlebih lagi selama ini kebudayaan Hindu-Budha justru lebih menekan-kan pada
perbedaan derajat atau kasta. Sampai pada akhirnya sebagian besar masyarakat di
Indonesia memeluk agama Islam.
2. Metode Penulisan dan Kerangka Teori
Dalam penulisan jurnal ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah
karena berkenaan dengan tema dan lingkup penelitian yang difokuskan pada upaya
pengungkapan sejarah. Langkah pertama yang dilakukan penulis adalah pengumpulan
sumber (teori heuristik). Dalam proses ini sumber-sumber yang di-kumpulkan terdiri
dari sumber primer dan sekunder, kemudian diambil dari berbagai perpustakaan.
Sumber lainnya diperoleh dari sejumlah buku, artikel, majalah, tesis, serta
tulisan lainnya yang berkenaan dengan tema penulisan ini. Berbagai sumber di atas
digunakan sebagai bahan perbandingan demi membantu eksplanasi jurnal.
Langkah kedua adalah dengan melakukan penilaian serta kritik terhadap sumber
yang telah dikumpulkan. Berhubung penulisan jurnal ini berdasarkan penelitian sejarah,
6
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
maka sumber utama yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sumber tertulis.
Sedangkan sumber lisan berupa hasil wawancara tidak dilakukan oleh penulis karena
sumber tertulis sudah dianggap memadai dalam jurnal ini.
Langkah terakhir adalah dengan melakukan interpretasi atau analisis yang
bertujuan untuk mendapatkan sejumlah fakta, yang terkandung dalam berbagai sumber.
Fakta tersebut selanjutnya disusun dalam kesatuan yang serasi dan logis, sehingga
menghasilkan cerita sejarah.
3. Pembahasan
3.1 Pengaruh Jalur Perdagangan pada Penyebaran Agama Islam
Dalam proses Islamisasi di Nusantara para pedagang muslim sangatlah berperan
penting. Perkenalannya dimulai dari kawasan Asia Tenggara, namun masih dalam
frekuensi yang tidak terlalu besar. Ini terjadi pada saat para pedagang muslim yang
berlayar di kawasan tersebut singgah untuk beberapa saat. Di wilayah semenanjung
melayu dan nusantara pengenalan Islam terjadi lebih intensif.
Bukti tertua peninggalan arkeologi Islam di wilayah Asia Tenggara adalah
ditemukannya dua makam muslim yang berangka tahun sekitar abad ke-5 H atau 11 M,
yang terdapat didua tempat tidak berjauhan yaitu di Padurangga (Panrang di Vietnam)
dan Juda di Leran (Gresik, Jawa Timur).
Ditinjau dari segi bahan yang dibuat, dapat terlihat jelas makam ini bukan
buatan lokal. Bahan serta tulisan dalam nisan tersebut bergaya Kufi, ini berkesan kuat
bahwa kedua batu nisan tersebut dibuat di Gujarat, India. Dan sejak saat itu Islam terus
berkembang di kepulauan Nusantara. Dari wilayah Malaka, proses Islamisasi kemudian
berkembang ke daerah pesisir utara pulau Jawa.
Tidak ada kejelasan pasti mengenai kapan dan dari mananya Islam masuk ke
Nusantara, namun setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang proses
Islamisasi tersebut. Tiga teori itu adalah Teori Gujarat, Teori Mekkah, dan Teori Persia.
Ketiga teori tersebut saling berbeda pendapat mengenai waktu masuknya Islam di
Nusantara, asal negara yang menjadi sumber atau perantara pengambilan ajaran agama
Islam, serta pelaku penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara.
7
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
3.1.1 Teori Gujarat
Teori ini merupakan teori tertua yang menjelaskan proses Islamisasi di
Nusantara. Dinamakan teori Gujarat karena berpatokan pada pandangannya yang
mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke13 M.
Ada dugaan bahwa pencipta dasar teori ini adalah Snouck Hurgronje, beliau
berpaku pada pandangannya berdasarkan pada kurangnya fakta yang dapat menjelaskan
peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Adanya kenyataan
hubungan dagang India dengan Indonesia yang sudah lama terjalin, serta Inskripsi tertua
mengenai Islam yang terdapat di Sumatera, membuktikan bahwa hubungan antara
Sumatera dan India sangat erat. Ahli dari berbagai pendapat yang disampaikan oleh para
teori Gujarat, dapat disimpulkan bahwa para ahli tersebut sangat menganut kebudayaan
Hindu, membuat seakan-akan segala perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya serta
agama di Nusantara tidak lepas dari pengaruh India.
Selain itu mereka lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya
kekuasaan politik Islam di Nusantara. Pandangan tersebut membuat Islam terkesan
masuk di Nusantara dan langsung menguasai struktur politik di sana, padahal tidak
dapat dipungkiri bahwa Islam masuk Indonesia melalui infiltrasi kultural oleh para
pedagang muslim dan sufi.
3.1.2 Teori Mekkah
Teori ini dicetuskan oleh Hamka didalam pidatonya saat Dies Natalis PTAIN
ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958. Di sini Hamka berpendapat bahwa ia menolak
pandangan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari Gujarat.
Hamka menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam baru masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, karena pada kenyataannya pada abad itu di Indonesia sudah
berdiri suatu politik Islam. Jadi sudah tentu Islam sudah masuk jauh sebelumnya, yaitu
sekitar abad ke-7 Masehi atau pada abad pertama Hijriyah.
8
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Bila dihubungkan dengan penjelasan dari studi kepustakaan Arab kuno,
disebutkan al-Hind sebagai India atau pulau-pulau Cina. Maka besar kemungkinan pada
abad ke-2 SM bangsa Arab telah sampai di Indonesia. Bahkan Arab sebagai bangsa
asing yang pertama kali sampai di Nusantara.
3.1.3 Teori Persia
Pencetus teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat, yang berpendapat bahwa
agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara berasal dari Persia, singgah ke
Gujarat, itu terjadi sekitar abad ke-13.
Pandangan dalam teori ini berbeda dengan teori Gujarat dan Mekkah. Dalam
teori ini lebih memusatkan kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat
Islam di Indonesia, dan disinyalir memiliki persamaan dengan Persia. Di antaranya
adalah:
-
Peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai peringatan Syi’ah atas Syahidnya
Husein.
-
Kesamaan antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj, meskipun
al-Hallaj telah meninggal pada 310 H atau 922 M, akan tetapi ajarannya terus
berkembang dalam bentuk puisi.
-
Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja atau membaca huruf
Arab.
-
Nisan pada makam Malik Saleh pada tahun 1297 dan makam Malik Ibrahim
tahun 1419 di Gresik dipesan dari Gujarat.
-
Pengakuan umat Islam di Nusantara terhadap Madzhab Syafi’i sebagai madzhab
utama di wilayah malabar.
3.2 Islamisasi di Tanah Maluku
Tanah Maluku terkenal sebagai pulau penghasil rempah-rempah terbesar di
dunia. Rempah-rempah yang dihasilkan antara lain cengkeh dan pala. Karena kekayaan
alam di tanah Maluku menyebabkan tanah Maluku banyak dikunjungi oleh pedagang
9
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
diseluruh dunia. Seiring dengan gerak niaga tersebut, agama Islam menyebar luas di
Maluku melalui jalur perdagangan. Agama Islam memasuki Maluku melalui para
pedagang dari muballigh-muballigh Islam yang ikut serta bersama para pedagang.
Pengaruh agama Hindu juga masuk ke tanah Maluku, akan tetapi unsur dari
pengaruh agama Hindu tersebut kurang kuat untuk menumbuhkan suatu kebudayaan
agama di sana. Dengan sendirinya pengaruh agama tersebut menghilang perlahan-lahan.
Kemudia pada tahun 1500 agama Islam sudah mulai berkembang luas di antara
kerajaan-kerajaan Maluku Utara.
Tokoh pemeluk agama Islam yang pertama adalah Kolano Marhum (1465-1486)
adalah seorang Raja (penguasa Ternate ke-18) pertama yang memeluk agama Islam
bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Kemudian menurun ke anaknya yaitu Zainal
Abidin (1486-1500) yang meninggalkan gelar keluarga kerajaannya ‘Kolano’ menjadi
‘Sultan’. Sultan Zainal Abidin menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, dan
syariat Islam diberlakukan untuk membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam
dengan melibatkan para ulama.
Hal tersebut diikuti oleh kerajaan lain di Maluku tanpa diubah sedikitpun.
Kemudian Sultan Zainal Abidin sang pencetus, mendirikan madrasah yang pertama di
Ternate. Beliau mempunyai cukup ilmu untuk menyebarkan agama Islam, karkabarnya
ia pernah berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa dan dikenal sebagai “Sultan Bualawa”
(Sultan Cengkih).
Pada abad ke-13, Kampung Wawane Provinsi Maluku, adalah tempat dimana
penduduk lokal asli Maluku menganut animisme. Satu abad kemudian, datanglah para
pedagang-pedagang dari Jawa ke wilayah ini. Mereka tidak hanya berdagang, namun
tujuan utama mereka adalah mengenalkan agama Islam di daerah tersebut. Masyarakat
kampung Wawane yang menganut animisme, sedikit demi sedikit meninggalkan paham
itu demi agama Islam yang dibawa oleh para pedagang Jawa.
Masjid Wapaue, adalah masjid tertua di Indonesia yang menjadi simbol bahwa
agama Islam masuk ke daerah Maluku pada tahun 1414. Masjid ini dinamakan
‘Wapaue’ karena letaknya di bawah pohon mangga. Dalam bahasa Maluku ‘Wapa’
berarti bawah, sementara ‘Uwe’ adalah mangga. Masjid ini didirikan oleh saudagar
kaya yang bernama Perdana Jamillu dan Alahulu.
10
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
3.3 Islamisasi di Tanah Papua
Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Papua sama halnya dengan sejarah
Islamisasi di daerah-daerah lain Nusantara. Sebagian besar juga melalui jalur
perdagangan. Letak Papua yang strategis inilah menjadi perhatian dunia barat serta para
pedagang lokal. Papua kaya akan barang galian atau tambang yang tidak ternilai
harganya, serta kekayaan rempah-rempah, sehingga papua dijadikan target oleh para
pedagang untuk mencari hasil.
Kepulauan Papua secara geografis terletak pada daerah pinggiran Islam di
Nusantara. Sehingga Islam di Papua termasuk dalam kajian para sejarawan lokal
maupun asing. Masuknya Islam di tanah Papua juga masih menjadi perdebatan di antara
pemerhati, peneliti, maupun para keturunan raja-raja di daerah Raja Ampat-Sorong,
Fak-Fak, Kaimana, dan Bintuni-Manokwari. Di-antara mereka saling berpendapat
bahwa Islam lebih dahulu datang di daerahnya yang dapat dibuktikan dengan tradisi
lisan tetapi tanpa didukung dengan bukti-bukti tertulis maupun bukti arkeologis.
Saksi bisu masuknya Islam di tanah Papua adalah berdirinya Masjid Patimburak
di Distrik Kokas, Fak-Fak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertver I, yang memiliki
nama kecil ‘Semempe’.
Pada tahun 1870, agama Islam dan Kristen sudah menjadi agama yang hidup
saling berdampingan di Papua. Wertver sang Raja tak ingin kepercayaan rakyatnya
terpecah belah. Oleh sebab itu Wertver membuat sayembara, dimana masing-masing
agama ditantang untuk membangun tempat ibadahnya masing-masing. Islam
membangun masjid dan Kristen membangun Gereja di sana. Masjid didirikan di daerah
Patimburak, sedangkan Gereja didirikan di Bahirkendik.
Dalam sayembara tersebut dikatakan bahwa, apabila salah satu di antara kedua
agama tersebut dapat menyelesaikan bangunannya dalam jangka waktu yang ditentukan,
maka seluruh rakyat Wertver akan memeluk agama tersebut.
Pada akhirnya masjidlah yang berdiri di tanah Papua untuk pertama kalinya.
Maka Raja dengan bijaksana melaksanakan janji yang ia buat. Raja Wertver beserta
seluruh rakyatnyapun akhirnya memeluk agama Islam pada masa itu. Bahkan raja
11
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Wertver menjadi Imam dengan mengenakan pakaian kebesarannya, yaitu Jubah,
Sorban, serta tanda pangkat dibahu-nya.
Dalam sejarah islamisasi kepulauan Papua, terdapat tujuh pendapat (teori)
mengenai masuknya agama Islam yaitu:
3.3.1 Teori Papua
Teori ini berkembang berdasarkan pandangan adat dan legenda yang melekat
pada sebagian masyarakat papua, terutama yang terdapat di wilayah fak-fak, Kaimana,
Manokwari dan Raja Ampat (sorong). Teori ini berpendapat bahwa Islam tidak berasal
dari luar Papua dan tidak dibawa serta disebarkan oleh kerajaan ternate dan tidore, serta
pedagangan muslim dari Arab, Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi. Mereka meyakini
bahwa Islam berasal dari kepulauan Papua itu sendiri yaitu sejak Allah SWT
menciptakan kepulauan Papua. Mereka juga berpendapat bahwa kepulauan Papua
adalah tempat turunnya nabi Adam dan Hawa.
3.3.2 Teori Aceh
Sejarah masuknya Islam di Fak-fak ditandai dengan datangnya Muballigh yang
berasal dari Aceh yaitu Abdul Ghafar di Fatagar Lama, kampung Rumbati Fak-fak.
Muballigh tersebut berdakwah selama 14 tahun (1360-1374 M) di Rumbati dan
sekitarnya. Setelah menyebarkan agama Islam di daerah tersebut, kemudian beliau
wafat pada tahun 1374 M dan dimakamkan pula di belakang masjid kampung Rumbati.
3.3.3 Teori Arab
Agama Islam mulai masuk dan diperkenalkan di kepulauan Papua pertama kali
yaitu di wilayah Jazirah Onin (Patimunin-Fak-Fak) oleh seorang sufi yaitu Syarif Muaz
Al-Qathan yang bergelar Syekh Jubah Biru dari negri Arab. Hal ini dibuktikan dengan
adanya Masjid Tunasgain yang telah berumur sekitar 400 tahun.
3.3.4 Teori Jawa
12
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Berdasarkan silsilah keluarga Abdullah Arfan pada tanggal 15 Juni 1946, yang
berpendapat bahwa orang pertama yang memeluk agama Islam adalah Kawalen yang
kemudian menikahi seorang Muballigh asal Cirebon yaitu Siti Hawa Farouk. Setelah
memeluk agama Islam Kawalen berganti nama menjadi Bayajid. Jadi jika dilihat dari
silsilah keluarga tersebut, Kawalen merupakan nenek moyang dari keluarga Arfan yang
pertama kali memeluk agama Islam.
3.3.5 Teori Banda
Halwany Michrob berpendapat bahwa Islamisasi di Papua khususnya wilayah
Fak-fak disebarkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda yang kemudian
diteruskan ke Fak-fak melalui Seram Timur oleh Hawaten Attamimi, yaitu seorang
pedagang dari Arab yang telah lama menetap di Ambon. Michrob juga berpendapat
Islamisasi yang telah dilakukan oleh dua orang yang berasal dari Banda yaitu
Salahuddin dan Jainun dengan cara ‘Khitanan’, tetapi pada saat itu kedua Muballigh
tersebut dibawah tekanan penduduk setempat. Mereka ditekan oleh penduduk dengan
perjanjian khitan, apabila yang di’khitan’ meninggal, maka kedua muballigh tersebut
akan dibunuh. Jika tidak, maka penduduk akan masuk Islam. Namun kedua muballigh
tersebut berhasil dalam khitanan yang mereka lakukan, dan penduduk berduyun-duyun
masuk agama Islam.
3.3.6 Teori Bacan
Arnold berpendapat bahwa Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah
Zainal Abidin yang memerintah pada tahun 1521 M. Pada saat itu raja bacan telah
menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau disebelah barat lautnya seperti
Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati. Kemudian beliau memperluas daerah
kekuasaannya sampai ke semenanjung Onin Fak-fak. Berkat pengaruhnya dan para
pedagang muslim maka penduduk sekitar pulau tersebut memeluk agama Islam.
3.3.7 Teori Maluku Utara (Ternate-Tidore)
13
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Penyebaran Islam dikabupaten Fak-fak terjadi sekitar pertengahan abad ke-15.
Proses masuknya melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan non formal, dan
politik. Islam masuk ke wilayah tersebut tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Ternate
dan Tidore sebagai pelopor Islamisasi di Indonesia bagian Timur.
4. Penutup
Dari semua sumber dan informasi yang telah dijelaskan oleh penulis di atas
maka dapat disimpulkan bahwa jalur perdagangan adalah sarana terpenting dalam
masuknya serta menyebarnya Islam di Indonesia. Proses Islamisasi di Indonesia terjadi
berkat para pedagang-pedagang muslim yang singgah lalu memperkenalkan ajaran
agama Islam yang mula-mulanya hanya diperkenalkan kepada masyarakat pesisir atau
masyarakat sekitar pelabuhan. Namun seiring berjalannya waktu ajaran agama Islam
berkembang luas keseluruh masyarakat Indonesia, dan bahkan sampai ke masyarakat
Indonesia bagian timur.
Dalam teori gujarat, makkah, serta persia pada umumnya memiliki pan-dangan
yang sama yaitu jalur perdaganganlah yang berperan penting dalam masuk dan
berkembangnya agama Islam. Namun perbedaan prinsip mengenai siapa orang yang
pertama kali mengenalkan agama Islam di Indonesia, membuat teori tersebut terkesan
bertentangan.
14
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Referensi:
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. RajaGrafindo Persada,
Jakarta, 2005.
Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta, 1997.
Yusuf, Mundzirin dkk. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Pustaka, Yogyakarta, 2006.
Muhammad, Syahril. Kesultanan Ternate, Sejarah Sosial Ekonomi & Politik. Ombak,
Yogyakarta, 2004.
Alfian, Teuku Ibrahim. Dari Babad Sampai Sejarah Kritis. UGM Press, Yogyakarta,
1992.
Woolford, Don. Papua New Guinea : Initation and independence. University of
Queensland Press, Australia, 1976.
Al-Habib Alwi bin Thahir, Al-Haddad. Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh.
Lentera, Jakarta, 2007.
Toni Victor, Wanggai. Rekonstruksi Umat Islam Di Tanah Papua. Badan Litbang dan
Diklat Depag RI, Jakarta, 2009.
http://www.republika.co.id
http://tokoone.com/sejarah-peradaban-islam/
15
Teori-teori masuknya ..., Muhammad Syarif Hidayatullah, FIB UI, 2014
Download

JURNAL ILMIAH NON SEMINAR Teori-Teori