BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Istilah pengobatan sendiri, meskipun belum terlalu populer, namun
praktiknya telah berkembang secara luas dan menjadi tren di masyarakat.
Pengobatan sendiri menurut WHO adalah pemilihan dan penggunaan obat
modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi
penyakit atau gejala penyakit (WHO, 1998). The International Pharmaceutical
Federation (FIP) mendefinisikan swamedikasi atau self-medication sebagai
penggunaan obat-obatan tanpa resep oleh seorang individu atas inisiatifnya sendiri
(FIP, 1999). Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk
meningkatkan keterjangkauan pengobatan, dan biasanya dilakukan untuk
mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat
seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare,
penyakit kulit, dan lain-lain (Anonim, 2006).
Pengobatan sendiri menjadi populer sejak ditetapkannya perubahan status
beberapa obat dari golongan obat resep menjadi golongan OTC (Over the
Counter) atau obat tanpa resep. Di Amerika, perubahan status dari obat resep
menjadi obat non-resep/OTC dimulai sejak September 1976. Pada tahun 1976,
perubahan obat resep menjadi obat non-resep diperkenalkan oleh US Food and
Drug Administration (FDA) (Baker, 2013).
1
Pengobatan sendiri adalah salah satu cara pengobatan yang paling banyak
dilakukan di dunia. Suatu survei pada tahun 2002 memperkirakan ada lebih dari
92% orang di dunia pernah menggunakan paling tidak satu jenis obat bebas di
tahun sebelumnya dan 55% orang pernah menggunakan lebih dari satu jenis obat
bebas (World Self-Medication Industry, 2009). Berbagai data menunjukkan
bahwa pengobatan sendiri menjadi alternatif yang paling banyak dipilih oleh
masyarakat
untuk
meredakan/menyembuhkan
keluhan
kesehatan
ringan.
Berdasarkan hasil Susenas 2009, BPS mencatat bahwa terdapat 66% orang sakit
di Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri (Kartajaya dkk., 2011).
Keterampilan
memilih
obat
sangat
dipengaruhi
oleh
pengetahuan
masyarakat itu sendiri dan sikapnya tentang pengobatan sendiri (Supardi dkk.,
2005). Masyarakat dengan berbagai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan faktorfaktor lain sering kali mengkonsumsi obat tertentu tanpa indikasi yang jelas, tanpa
dosis yang yang tepat, dan tidak mengetahui kontraindikasi dan efek samping obat
tersebut. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat
tentang swamedikasi masih terbatas (Supardi dan Notosiswoyo, 2005).
Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang obat dan penggunaannya
merupakan penyebab terjadinya kesalahan pengobatan dalam swamedikasi
(Anonim,
2006b).
Keterbatasan
tersebut
dapat
menyebabkan
rentannya
masyarakat terhadap informasi komersial obat, sehingga memungkinkan
terjadinya pengobatan yang tidak rasional jika tidak diimbangi dengan pemberian
informasi yang benar. Terdapat 52,9% penduduk di masyarakat yang
pengetahuannya rendah mengenai pengobatan sendiri. Pengetahuan dan perilaku
2
swamedikasi dipengaruhi oleh jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan,
pendapatan seseorang. Dalam hal ini pendidikan memiliki hubungan yang paling
signifikan dibandingkan faktor-faktor lain. (Kristina dkk, 2007). Pada penelitian
yang dilakukan oleh da Silva dkk di Rio Grande, Brazil, didapatkan hasil bahwa
terdapat perbedaan yang nyata antara mahasiswa kesehatan dan mahasiswa nonkesehatan terkait pengetahuannya tentang pengobatan sendiri (Da Silva dkk.,
2012).
Melalui latar belakang inilah penelitian tentang gambaran perilaku dan
tingkat pengetahuan pengobatan sendiri pada mahasiswa kluster kesehatan dan
kluster sosio-huaniora Universitas Gadjah Mada dilakukan, dengan tujuan untuk
memperoleh gambaran dan membandingkan perilaku pengobatan sendiri maupun
tingkat pengetahuan pengobatan sendiri pada kedua kluster yang berbeda tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Bila dilihat dari latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah yang
meliputi:
1.
Bagaimana gambaran perilaku pengobatan sendiri pada mahasiswa kluster
kesehatan dan kluster sosio-humaniora?
2.
Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa kluster kesehatan
dan kluster sosio-humaniora mengenai pengobatan sendiri?
3.
Apakah faktor sosiodemografi mahasiswa berpengaruh terhadap tingkat
pengetahuan mahasiswa mengenai pengobatan sendiri?
3
C.
Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah yang telah dibuat, tujuan penelitian ini secara umum
adalah:
1.
Mengetahui gambaran perilaku mahasiswa kluster kesehatan dan kluster
sosio-humaniora dalam hal pengobatan sendiri.
2.
Mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa kluster kesehatan dan
kluster sosio-humaniora dalam hal pengobatan sendiri.
3.
Mengetahui apakah terdapat pengaruh faktor sosiodemografi mahasiswa
yang meliputi kluster, jenis kelamin, dan tahun angkatan berpengaruh
terhadap pengetahuan mengenai pengobatan sendiri.
D.
Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa kluster kesehatan dan kluster
sosio-humaniora Universitas Gadjah Mada ini dimaksudkan untuk:
1.
Tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi ketepatan dan kerasionalan
pengobatan sendiri yang dilakukan oleh seseorang, sehingga dengan
mengukur tingkat pengetahuannya dapat diketahui pula gambaran ketepatan
pengobatan sendiri yang dilakukan oleh mahasiswa.
2.
Sebagai saran bagi pemerintah untuk membuat suatu kebijakan dan program
yang mendukung terlaksananya pengobatan sendiri yang rasional dan
bertanggungjawab.
3.
Dengan gambaran perilaku dan pengetahuan yang didapatkan, diharapkan
apoteker menyadari tanggung jawabnya dalam pengobatan sendiri sehingga
4
terjadi peningkatan peran apoteker dalam pelaksanaan pengobatan sendiri
untuk menjamin keberhasilan pelaksanaannya.
E.
Tinjauan Pustaka
1. Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu fakta atau kondisi mengetahui sesuatu
dengan baik yang didapat lewat pengalaman dan pelatihan. Adapun definisi
lain dari pengetahuan, yaitu pengetahuan adalah segala maklumat yang akan
berguna bagi tugas yang akan dilakukan.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
seseorang
melakukan
pengindraan
terhadap
suatu
objek
tertentu.
Penginderaan ini terjadi melalui panca indra manusia, yaitu indra
penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku
seseorang.
Jadi dapat disimpulkan pengetahuan adalah persepsi yang jelas
mengenai sesuatu pemahaman, pembelajaran, pengalaman praktikal,
kemahiran, pengecaman, serta kumpulan maklumat tersusun yang dapat
digunakan untuk menyelesaikan masalah, kebiasaan terhadap bahasa,
konsep, ide, fakta-fakta, perhubungan antara fakta maklumat, dan
kesanggupan
menggunakan
semua
5
ini.
Pengetahuan
atau
kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (Notoadmodjo, 2003).
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Pengetahuan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: sosial
ekonomi, kultur atau budaya, pendidikan, dan pengalaman (Notoadmodjo,
2003).
c. Cara Mengukur Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian
ke dalam pengetahuan yang diukur dapat disesuaikan dengan tingkatantingkatan domain kognitif (Notoadmodjo, 2003).
2. Pengobatan Sendiri
a. Definisi Pengobatan Sendiri
Pengobatan sendiri adalah penggunaan setiap zat yang dikemas dan
dijual di masyarakat untuk tujuan pengobatan saat sakit, tanpa resep atau
nasihat dokter (Supardi dkk., 2002), Pengobatan sendiri merupakan bagian
dari upaya masyarakat menjaga kesehatan sendiri. Upaya menjaga
kesehatan sendiri tersebut diangkat dari istilah lay self care yang merupakan
bagian
dari
sistem
penyelenggaraan
kesehatan.
Dalam
sistem
penyelenggaraan kesehatan, pengobatan sendiri menjadi suatu upaya
pertama yang dilakukan masyarakat, sebelum ke tingkat selanjutnya yaitu
konsultasi medik profesional, konsultasi spesialistik, dan konsultasi
6
superspesialistik (Sukasediati, 1996). The International Pharmaceutical
Federation (FIP) mendefinisikan pengobatan sendiri atau self-medication
sebagai penggunaan obat-obatan tanpa resep oleh seorang individu atas
inisiatifnya sendiri (FIP, 1999). Sedangkan definisi pengobatan sendiri
menurut WHO adalah pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal,
maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit
atau gejala penyakit (WHO, 1998).
Pengobatan sendiri menjadi alternatif yang banyak dipilih masyarakat
untuk meredakan/menyembuhkan keluhan kesehatan ringan atau untuk
meningkatkan keterjangkauan akses terhadap pengobatan. Berdasarkan hasil
Susenas tahun 2009, BPS mencatat bahwa terdapat 66% orang sakit di
Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri. Angka ini relatif lebih tinggi
dibandingkan persentase penduduk yang berobat jalan ke dokter (44%).
Walaupun demikian, persentase pengobatan sendiri di Indonesia masih lebih
rendah dibandingkan dengan tingkat pengobatan sendiri di Amerika Serikat
yang mencapai 73%. Angka ini bahkan cenderung akan meningkat karena
terdapat enam dari sepuluh orang di Amerika yang mengatakan bahwa
mereka mungkin akan melakukan pengobatan sendiri lagi di masa yang
akan datang terhadap penyakit yang dideritanya (Kartajaya dkk., 2011).
Pada umumnya pengobatan sendiri dilakukan oleh masyarakat untuk
mengatasi keluhan yang dapat dikenali sendiri antara lain sakit
kepala/pusing, demam, batuk, pilek, nyeri sendi, nyeri otot, sakit gigi,
mual/muntah, dan luka ringan. Keluhan-keluhan tersebut umumnya
7
merupakan gejala-gejala penyakit sederhana yang dapat sembuh sendiri
dalam waktu singkat, karena itu biasanya pengobatan sendiri hanya
dilakukan dalam waktu terbatas, lebih kurang 3-4 hari (Sukasediati, 1996).
Pengobatan sendiri mempunyai ciri pokok yang umum, diantaranya
adalah (Sukasediati, 1996):
1) Sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, adat, tradisi dan kepercayaan
yang mempengaruhi perilaku seseorang
2) Dipengaruhi faktor sosial politik dan tingkat pendidikan
3) Dilakukan sewaktu-waktu manakala dibutuhkan
4) Berada di luar kerangka kerja medik profesional
5) Modelnya bervariasi dan dilakukan oleh semua kelompok
masyarakat.
b. Keuntungan dan Kekurangan Pengobatan Sendiri
Keuntungan pengobatan sendiri antara lain aman bila digunakan
sesuai dengan aturan, efisien waktu dan biaya, ikut berperan dalam
mengambil keputusan terapi dan meringankan beban pemerintah dalam
keterbatasan jumlah tenaga dan sarana kesehatan masyarakat (Supardi dkk.,
2002).
Keuntungan pengobatan sendiri misalnya aman bila digunakan sesuai
aturan dengan aturan, efektif untuk menghilangkan keluhan, efisiensi biaya,
efisiensi waktu dibandingkan harus berkunjung ke dokter. Ada pula
kekurangan pengobatan sendiri adalah obat dapat membahayakan kesehatan
apabila tidak digunakan sesuai aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila
8
salah menggunakan obat, kemungkinan besar timbul efek samping dan
resistensi, dan sulit bertindak objektif karena pemilihan obat dipengaruhi
oleh pengalaman menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan sosialnya
(Supardi dan Notosiswoyo, 2005).
Peranan pengobatan sendiri menurut WHO adalah sebagai berikut
(WHO, 1998) :
1) Untuk menghasilkan kesembuhan yang cepat dan efektif dari
gejala-gejala yang tidak memerlukan konsultasi tenaga medis
2) Mengurangi tekanan yang meningkat pada pelayanan kesehatan
terhadap penyembuhan gejala-gejala ringan, terutama bila sumber
daya dan tenaga terbatas
3) Meningkatkan ketersediaan perawatan kesehatan baik populasi
yang berada di pedesaan atau daerah terpencil yang untuk
mendapatkan nasihat media sulit.
Kekurangan pengobatan sendiri menurut Holt antara lain (Holt, 1986) :
1) Obat dapat membahayakan apabila tidak digunakan sesuai dengan
aturan
2) Pemborosan biaya dan waktu apabila salah menggunakan obat
3) Kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak diinginkan,
misalnya sensitifitas, efek samping, atau resistensi
4) Penggunaan obat yang salah akibat informasi yang kurang lengkap
dari iklan obat
5) Tidak efektif akibat salah diagnosis dan salah dalam pemilihan obat
9
6) Sulit bertindak objektif karena pemilihan obat dipengaruhi oleh
pengalaman menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan
sosialnya.
c. Faktor yang mempengaruhi pengobatan sendiri
Ada beberapa faktor yang berperan pada tindakan pengobatan sendiri
pada masyarakat. Menurut Sukasediati (1996), faktor tersebut antara lain
adalah:
1) Persepsi sakit
Persepsi sakit menentukan kapan seseorang mengambil keputusan
untuk melakukan tindakan pengobatan. Seseorang bisa merasakan
sakit ketika orang tersebut tidak dapat bangun dari tempat tidur,
tetapi orang lain dapat merasakan sakit meskipun masih bisa
bekerja.
2) Ketersediaan informasi tentang obat
Ketersediaan informasi tentang obat dapat menentukan keputusan
pemilihan obat. Sumber informasi yang sampai ke masyarakat
sebagian besar berasal dari media elektronik, sebagian lagi sesama
masyarakat, dan sebagian lagi dari sumber-sumber lain semisal
petugas kesehatan.
3) Ketersediaan obat di masyarakat
Ketersediaan obat di masyarakat merupakan faktor penentu yang
memungkinkan masyarakat mendapatkan dan menggunakan obat.
10
Obat yang digunakan oleh masyarakat biasanya diperoleh dengan
membeli di warung, kios, toko, apotek, dan tempat lain.
4) Sumber informasi cara pemakaian obat.
Sumber informasi cara pemakaian obat dapat diperoleh dari
kemasan atau brosur/insert yang menyertai obat, ada juga perilaku
pengobatan sendiri yang menanyakan kepada petugas apotek atau
penjaga toko.
d. Penggunaan Obat Rasional
Definisi penggunaan obat rasional menurut hasil konferensi WHO
dalam “Conference of Experts on the Rational Use of Drugs” di Nairobi
1985 adalah penggunaan obat yang pasien dapatkan sesuai dengan
kebutuhan secara individu, mendapatkan obat dalam jangka terapi yang
cukup dan biaya pengobatan yang terjangkau bagi masyarakat (Anonim,
2006).
Pola pengobatan yang tidak rasional adalah pola pengobatan yang
tidak mengikuti kaidah pengobatan rasional. Contoh penggunaan obat yang
tidak rasional adalah (Anonim, 2002):
1) Pemakaian obat yang diindikasikan secara medis tidak ada atau
tidak jelas
2) Pemilihan obat yang keliru untuk indikasi penyakit tertentu
3) Cara pemberian obat, dosis, frekuensi, dan lama pemberian yang
tidak sesuai
11
4) Pemberian jenis obat dengan potensi toksisitas atau efek samping
yang lebih besar padahal terdapat obat lain yang sama
kemanfaatannya dengan potensi efek samping yang lebih kecil
5) Pemakaian obat-obat mahal padahal tersedia alternatif yang lebih
murah dengan kemanfaatan dan keamanan yang sama
6) Tidak memberikan pengobatan yang sudah diketahui dan diterima
kemanfaatannya dan keamanannya
7) Memberikan pengobatan dengan obat-obatan yang kemanfaatannya
dan keamanannya masih diragukan
8) Pemakaian obat semata-mata didasarkan pada pengalaman
individual tanpa mengacu pada sumber-sumber informasi yang
tidak dapat dipastikan kebenarannya
9) Pemakaian obat yang didasarkan pada insting dan intuisi tanpa
melihat fakta dan kebenaran ilmiah yang lazim.
Pengobatan sendiri harus dilakukan sesuai dengan penyakit yang
dialami. Pelaksanaannya sedapat mungkin harus memenuhi kriteria
pengobatan yang rasional, antara lain ketepatan pemilihan obat, ketepatan
dosis obat, tidak adanya efek samping, tidak adanya kontraindikasi, tidak
adanya interaksi obat, dan tidak adanya polifarmasi. Dalam praktiknya,
kesalahan penggunaan obat dalam pengobatan sendiri ternyata masih terjadi
terutama karena ketidaktepatan obat dan dosis obat. Apabila kesalahan
terjadi terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, dikhawatirkan dapat
menimbulkan risiko pada kesehatan (Supardi & Notosiswoyo, 2005).
12
Penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas yang sesuai dengan
aturan dan kondisi penderita akan mendukung upaya pengobatan obat yang
rasional. Kerasionalan penggunaan obat terdiri dari beberapa aspek, di
antaranya: ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada tidaknya kontraindikasi,
ada tidaknya efek samping dan interaksi dengan obat dan makanan, serta
ada tidaknya polifarmasi (penggunaan lebih dari 2 obat untuk indikasi
penyakit yang sama). Dalam mendukung penggunaan obat yang rasional,
WHO telah mengatur upaya pengobatan sendiri di masyarakat dengan
mengeluarkan kriteria etik promosi obat sejak tahun 1988. WHO Ethical
Criteria for Medical Drug Promotion mencakup etika promosi yang
ditujukan bagi kalangan industri farmasi, profesi kesehatan maupun
masyarakat. Berdasarkan informasi obat yang objektif, diharapkan
masyarakat mendapatkan pengetahuan yang benar dan penggunaan obat
yang rasional (Suryawati, 1997).
Pengobatan sendiri yang sesuai aturan mencangkup 4 kriteria yaitu
(Supardi dkk, 2002):
1) Tepat golongan
Menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas atau obat
bebas terbatas.
2) Tepat indikasi
Menggunakan obat yang termasuk obat bebas atau obat bebas
terbatas sesuai dengan keluhan yang dirasakan.
3) Tepat dosis
13
Menggunakan obat dengan dosis sekali dan sehari pakai sesuai
dengan umur.
4) Lama pengobatan terbatas
Apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter.
e. Penggolongan dan Informasi Umum Obat
Obat dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu (Anonim, 2006)
1) Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat
dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket
obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi warna hitam.
Contoh : Parasetamol
Gambar 1. Logo Obat Bebas
2) Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat
keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter,
disertai dengan tanda peringatan dan leaflet. Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru
dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh : CTM
Gambar 2. Logo Obat Bebas Terbatas
14
3) Obat Keras dan Psikotropika
Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan
resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf
K dalam lingkaran merah dengan garis tepi warna hitam.
Contoh : Kaptopril
Gambar 3. Logo Obat Keras
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintesis
bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh : Diazepam, Phenobarbital
4) Obat Narkotika
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintesis
ataupun semi
sintesis
yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan
ketergantungan
Contoh : Morfin dan Petidin
Gambar 4. Logo Obat Bebas Terbatas
Selain obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, dan psikotropika
serta obat narkotika, terdapat pula Obat Wajib Apotek (OWA). Obat Wajib
Apotek (OWA) merupakan daftar obat-obat keras yang dapat diserahkan
15
oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter. Sampai saat ini
sudah ada 3 (tiga) daftar obat yang diperbolehkan diserahkan tanpa resep
dokter, yang tercantum dalam (Asti dan Widiya, 2004):
1) Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990
tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No.1
2) Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/MenKes/Per/X/1993
tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.2
3) Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/MenKes/SK/X/1999
tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3.
Sesuai Permenkes No. 919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang
dapat diserahkan tanpa resep dokter antara lain (Anonim, 1996):
1) Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil,
anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun
2) Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko
pada kelanjutan penyakit
3) Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan
4) Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya
tinggi di Indonesia
5) Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri
6) Sebelum menggunakan obat, termasuk obat bebas dan bebas
terbatas harus diketahui sifat dan cara pemakainnya agar
16
penggunaannya tepat dan aman. Informasi tersebut dapat diperoleh
dari etiket atau brosur pada kemasan obat bebas dan bebas terbatas.
f. Leaflet obat
Leaflet obat merupakan informasi singkat berkaitan dengan obat.
Biasanya merupakan tulisan pada kertas kecil yang ditempelkan pada strip
obat atau lembaran lepas pada tiap dos, atau bisa juga tertera pada kemasan
obat.
Informasi yang diberikan umumnya meliputi (Widodo, 2004):
1) Komposisi, yakni obat atau zat aktif yang ada di dalam obat beserta
jumlah masing-masing
2) Cara kerja obat, yakni mekanisme obat bekerja di dalam tubuh
3) Indikasi, yaitu penggunaan obat dalam pengobatan penyakit
4) Dosis atau cara pemakaian, besarnya obat yang boleh digunakan
dalam sekali pakai dan dalam sehari sesuai dengan berat badan atau
umur pengguna
5) Kontraindikasi, yaitu pasien yang tidak boleh menggunakan obat
berkaitan dengan kondisi tubuh pengguna obat
6) Efek samping, efek-efek yang tidak diinginkan yang dapat muncul
akibat penggunaan obat
7) Interaksi obat, yaitu pengaruh yang disebabkan obat ataupun
makanan bila digunakan bersamaan dengan obat tersebut
17
8) Waktu kadaluarsa, yaitu waktu yang menunjukkan batas akhir obat
masih memenuhi persyaratan seperti semula, sehingga sebaiknya
obat digunakan sebelum batas waktu tersebut.
3.
Kuesioner
Kuesioner adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan
sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden
(Nawawi, 1995). Kuesioner sebagai alat pengumpul informasi memiliki kelebihan
dan kekurangan.
Keuntungan metode pengumpulan data dengan kuesioner antara lain karena
metode ini paling murah dan nyaman untuk diaplikasikan, serta ideal untuk
mendapatkan gambaran singkat pandangan kuesioner. Adapun kekurangan dari
metode ini adalah adanya kemungkinan beberapa orang tidak mengerti pertanyaan
yang diajukan sehingga memberikan respon yang tidak sempurna. (Anonim,
1999)
Kuesioner tersebut dipergunakan dalam penelitian ilmiah pada dasarnya
bertolak dari anggapan sebagai berikut (Nawawi, 1995):
a. Reponden adalah orang yang paling mengetahui dirinya sendiri sehingga
data atau informasi yang tidak dapat diamati atau tidak dapat diperoleh
dengan alat lain, akan dapat diketahui dengan alat tersebut. Misalnya
informasi tentang tanggapan, keyakinan, perasaan, pendapat, cita-cita, dan
lain-lain
18
b. Bahwa responden terdiri dari orang-orang yang mampu dan bersedia
memberikan informasi secara jujur, sehingga data yang diperoleh akan dapat
dipercaya sebagai data yang objektif (benar)
c. Bahwa
responden
adalah
orang-orang
yang
mampu
menafsirkan
pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan, sebagaimana dimaksudkan oleh
peneliti. Dengan kata lain sekurang-kurangnya bagi responden yang akan
mengisi angket adalah orang-orang yang mampu membaca dan menulis.
Berdasarkan bentuk pertanyaan kuesioner dapat dibedakan menjadi
(Nawawi, 1995):
a. Kuesioner dengan pertanyaan bebas (kuesioner tak terstruktur)
b. Jawaban responden terhadap tiap pertanyaan kuesioner berbentuk dapat
diberikan secara bebas atau menurut pendapat sendiri, berupa uraian tentang
informasi yang diminta setiap pertanyaan
c. Kuesioner dengan pertanyaan terikat (kuesioner tak berstruktur)
Jawaban responden dalam kuesioner tersebut terikat pada sejumlah alternatif
yang disediakan sebagai kemungkinan jawaban yang dapat dipilih.
Kuesioner bentuk tersebut terdiri dari:
a. Kuesioner dengan pertanyaan tertutup
Setiap kuesioner dalam bentuk telah tersedia alternatif jawaban yang harus
dipilih salah satu diantaranya sebagai jawaban yang paling tepat.
Berdasarkan jumlah pilihan yang tersedia maka dikenal bentuk force choice
item, berupa pertanyaan yang hanya memberikan dua alternatif jawaban
untuk dipilih. Kemudian dikenal bentuk lain yang disebut multiple choice
19
item, berupa pertanyaan yang memberikan lebih dari dua alternatif jawaban
yang dapat dipilih.
b. Kuesioner dengan pertanyaan terbuka
Dalam bentuk multiple choice item ada kemungkinan responden
memberikan jawaban yang tersedia sehingga peneliti menyediakaan ruangan
terbatas berupa titik-titik sebanyak dua atau tiga baris.
c. Kuesioner dengan jawaban singkat
Bentuk tersebut mirip dengan kuesioner dengan pertanyaan bebas. Tetapi
karena sifat jawaban singkat dan tertentu maka bentuknya tidak banyak
berbeda dengan kuesioner dengan pertanyaan terikat.
F. Keterangan Empiris yang Diharapkan
Penelitian yang dilakukan di Kluster Kesehatan dan Kluster SosioHumaniora Universitas Gadjah Mada ini adalah untuk memperoleh gambaran
tingkat pengetahuan mahasiwa pada kedua kluster mengenai pengobatan sendiri
(pengobatan sendiri), yang diharapkan mendapat informasi seperti:
1.
Mengetahui gambaran perilaku pengobatan sendiri mahasiswa Kluster
Kesehatan dan Kluster Sosio-Humaniora.
2.
Mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswa Kluster Kesehatan dan
Kluster Sosio-Humaniora dalam pengobatan sendiri
3.
Mengetahui adanya pengaruh faktor sosiodemografi mahasiswa terhadap
tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai pengobatan sendiri.
20
Download

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah