BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia hidup di alam semesta memerlukan berbagai jenis kebutuhan untuk
melangsungkan kehidupannya. Mengingat ketersediaan sumber daya alam yang
dibutuhkan
semakin
berkurang,
maka
manusia
perlu
mengelola
dan
memanfaatkan sumber daya alam secara bijak. Sebagai makhluk yang sempurna
dengan dibekali akal dan kemampuan untuk berpikir, manusia harus mampu
menciptakan suatu teknologi yang menerapkan pendekatan sains dalam mengelola
dan memanfaatkan sumber daya alam. Oleh karena itu, upaya yang dapat
dilakukan saat ini ialah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui
pendidikan.
Pendidikan secara luas
diartikan sebagai
“Usaha manusia untuk
meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat”
(Sadulloh, 2012, hlm. 55). “Pendidikan berfungsi membekali seseorang dengan
berbagai kecakapan hidup yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya” (Sujana, 2014, hlm. 12). Dengan kata lain pendidikan dapat digunakan
manusia untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam perikehidupan termasuk
masalah kelangkaan sumber daya alam. Pendidikan yang sesuai untuk mengkaji
permasalahan tersebut ialah pendidikan IPA.
IPA merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang diajarkan dan ada di
setiap jenjang pendidikan. Cabang ilmu pengetahuan ini menjadi salah satu
muatan mata pelajaran yang penting untuk diajarkan di sekolah dasar. Ilmu
pengetahuan alam merupakan sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji
dan mempelajari gejala alam semesta beserta seluruh isinya. IPA diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam
memecahkan masalah-masalah yang dijumpai seiring dengan perkembangan
zaman. Menurut Sujana (2014, hlm. 6) “Pendidikan IPA merupakan salah satu
wahana yang dianggap paling tepat untuk menanamkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan pada peserta didik melalui proses pembelajaran”.
1
Manfaat pendidikan IPA bagi siswa ialah untuk mempelajari dirinya sendiri,
mempelajari lingkungannya, serta mempelajari alam semesta secara utuh yang
pada akhirnya siswa dapat menjaga dan memanfaatkan alam semesta ini dengan
arif dan bijaksana. Penerapan IPA haruslah dilakukan secara bijaksana agar tidak
berdampak buruk terhadap lingkungan.
IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta
gejala alam, sehingga pembelajaran IPA tidak hanya dilakukan secara verbal
tetapi juga harus faktual. Pembelajaran IPA di sekolah dasar hendaknya
menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan
kompetensi yang dimiliki siswa agar mereka mampu memahami alam
disekitarnya secara ilmiah. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu mengenai
alam secara sistematis, karena pada dasarnya hakikat IPA merupakan seperangkat
pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Berdasarkan Badan Standar
Nasional Pendidikan (2006, hlm. 161), “IPA berhubungan dengan cara mencari
tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan”. Dengan demikian kegiatan pembelajaran IPA yang
dilakukan guru harus dapat menumbuhkan keterampilan siswa dalam mengajukan
pertanyaan dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut melalui cara-cara yang
sistematis. Siswa harus dapat menyadari keterbatasan dan kekurangan akan
pengetahuannya sehingga ia tidak puas dengan apa yang telah diketahuinya.
Dengan demikian akan tertanam dalam dirinya rasa ingin tahu untuk menggali
berbagai pengetahuan baru untuk diaplikasikan dalam kehidupannya. Beberapa
aspek penting yang harus diperhatikan guru dalam memberdayakan siswa pada
pembelajaran IPAmenurut Samatowa (2006, hlm. 5) ialah sebagai berikut.
1) Pentingnya memahami bahwa pada saat memulai kegiatan
pembelajarannya, anak telah memiliki berbagai konsepsi, pengetahuan
yang relevan dengan apa yang mereka pelajari.
2) Aktivitas anak melalui berbagai kegiatan yang nyata dengan alam
menjadi hal utama dalam pembelajaran IPA.
3) Dalam setiap pembelajaran IPA kegiatan bertanyalah yang menjadi
bagian yang penting, bahkan menjadi bagian yang paling utama dalam
pembelajaran.
4) Dalam pembelajaran IPA memberikan kesempatan pada anak untuk
mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam menjelaskan suatu
masalah.
2
Berdasarkan hal tersebut,maka pembelajaran IPA hendaknya dilaksanakan
guru sebagai berikut.
1) Pada saat memulai kegiatan pembelajaran, guru harus memberi pengetahuan
awal bagi siswa mengenai materi yang akan siswa pelajari. Pemahaman awal
yang dimiliki siswa akan membantu dalam memperbaiki konsep yang salah,
kurang lengkap, atau dapat meningkatkan pengetahuan yang sudah siswa
miliki.
2) Guru harus melibatkan aktivitas siswa melalui kegiatan praktikum di
laboratorium atau percobaan sederhana di kelas, dengan menggunakan alat
bantu belajar, atau dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan
tempat belajar.
3) Guru harus mengembangkan kemampuan bertanya siswa. Kegiatan bertanya
dapat membangun pengetahuan siswa serta sebagai sarana latihan dalam
mengungkapkan gagasan, memberikan respons atau tanggapan terhadap suatu
masalah yang dimunculkan, sehingga ilmu pengetahuan alam dapat
dikembangkan. Kegiatan bertanya dapat diimplementasikan dalam kegiatan
diskusi atau tanya jawab.
4) Guru harus mengembangkan pula keterampilan berpikir siswa yang berfungsi
untuk menjelaskan suatu masalah, yakni melalui pemberian tugas atau
pemecahan masalah.
Dengan demikian, siswa belajar dengan merekontruksi pengetahuan
berdasarkan kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajarnya. Peran guru ialah
membimbing siswa dan mengarahkan siswa untuk berpartisipasi aktif baik secara
fisik, intelektual maupun emosionalnya. Sebagai fasilitator dalam pembelajaran,
guru perlu menyediakan media sebagai alat bantu belajar siswa dalam menggali
pengetahuannya.
Hal penting lain yang harus diperhatikan guru dalam membelajarkan IPA
ialah kegiatan pembelajaran IPA harus menyenangkan bagi siswa. Hal tersebut
bertujuan agar siswa tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Seorang
siswa tergerak untuk melakukan suatu aktivitas pembelajaran karena adanya
dorongan, ketertarikan, keinginan atau motivasi dalam dirinyauntuk mempelajari
suatu hal yang baru. Menurut Karwati dan Priansa (2014, hlm. 167) “Motivasi
3
merupakan keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang
menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar serta
memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran yang
dikehendaki peserta didik dapat tercapai”. Dengan demikian, pemberian motivasi
pada saat pembelajaran penting dilaksanakan untuk membangkitkan minat belajar
siswa.
Pada hakikatnya setiap siswa memiliki motivasi yang berbeda-beda
tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang
mempengaruhi motivasi siswa dapat berasal dari dalam dirinya sendiri maupun
berasal dari luar dirinya. Faktor yang berasal dari dalam dirinya bisa berupa
minat, ketertarikan, atau keinginannya untuk belajar atau mempelajari suatu hal.
Sementara faktor yang berasal dari luar bisa berasal dari lingkungan tempat
tinggalnya, yakni orangtua atau pihak lain yang memiliki pengaruh, dan
lingkungan tempat belajarnya, yakni guru atau teman sebayanya. Para siswa dari
rumah dan masuk ke sekolah membawa pengetahuan, keterampilan, dan motivasi
yang berbeda-beda. Dengan kata lain ketika guru memberikan suatu materi
pelajaran di dalam kelas, tidak semua siswa dapat menyerap materi pembelajaran
dengan cara yang sama dan dengan porsi yang sama pula. Artinya siswa belajar
menurut caranya sendiri, siswa dalam belajar ada yang dapat merespon dengan
cepat ada juga siswa yang responnya lambat, sehingga berdampak pada hasil
belajar siswa. Peran motivasi bagi siswa ialah untuk membangkitkan minat belajar
siswa agar siswa antusias dalam belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan
guru untuk meningkatkan keantusiasan dan keaktifan siswa dalam belajar ialah
denganmenerapkanmodel pembelajaran yang menarik.
Pemilihan model pembelajaran yang digunakan dalam IPA harus
memberikan pengalaman yang langsung agar langkah-langkah kegiatan dalam
proses pembelajaran tersebut dapat bermakna bagi siswa.Model pembelajaran
yang digunakan dalam pembelajaran IPA harus dapat mengembangkan
keterampilan siswa dalam bertanya, keterampilan berpikir, dan rasa ingin tahunya
untuk menggali informasi sehingga ia dapat menemukan konsep sendiri, aktif dan
partisipasif dalam belajar. Akan tetapi, pelaksanaan pembelajaran IPA di sekolah
dasar seringkali masih dilaksanakan dengan menggunakan model konvensional,
4
yakni model pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher centred),
sehingga aktivitas siswa dalam belajar kurang, dan berdampak pada hasil belajar
siswa yang rendah. Untuk melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan,
peneliti melakukan observasi dan pengambilan data awal pada siswa kelas V A
SDN Panyingkiran II mengenai materi proses daur air.
Setelah melakukan observasi, peneliti menemukan beberapa permasalahan
yang terjadi pada kinerja guru dan aktivitas siswa sehingga tidak mendukung
terhadap keberhasilan pembelajaran. Beberapa permasalahan tersebut yakni siswa
tidak aktif, antusiasnya dalam belajar kurang, terlihat dari respon siswa yang pasif
dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan guru. Siswa belum terkondisikan
siap untuk belajar karena sebagian siswa masih ada yang ngobrol dengan teman
sebangkunya, ada juga siswa yang memainkan mainannya di bawah meja
belajarnya, serta tidak memperhatikan guru ketika menjelaskan materi. Siswa
tidak dapat menyerap materi dengan baik terlihat ketika guru bertanya, siswa tidak
bisa menjawab dan hasil belajar siswa melalui evaluasi yang dilakukan pada akhir
kegiatan pembelajaran, tidak memuaskan. Hal tersebut disebabkan karena
kegiatan pembelajarannya masih berpusat kepada guru, langkah-langkah kegiatan
pembelajaran didominasi oleh guru, sehingga siswa cenderung pasif. Metode
pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi, yaitu hanya menggunakan
metode ceramah dan tanya jawab saja, sehingga monoton. Dengan demikian
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan siswa menjadi tidak bermakna.
Beberapa permasalahan yang telah dikemukakan tersebut berdampak pada
hasil belajar siswa. Berdasarkan data awal yang diperoleh melalui tes hasil belajar,
hasil belajar siswa kelas VA SDN Panyingkiran II pada materi proses daur air
rendah. Dari 23 orang siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran IPA pada
materi proses daur air, hanya terdapat 5 orang saja yang mampu menyelesaikan
tes dengan tuntas. Apabila dihitung ke dalam persentase, siswa yang tuntas hanya
21,74%, sedangkan siswa yang tidak tuntas terdapat 18 orang atau sebesar 78,26%
dari KKM yang telah ditentukan oleh sekolah terhadap mata pelajaran IPA, yaitu
75. Persentase siswa yang tuntas belajar pada materi proses daur air lebih kecil
daripada persentase siswa yang tidak tuntas. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa hasil belajar siswa kelas V A SDN Panyingkiran II pada materi proses daur
5
air tidak memuaskan sehingga perlu mengadakan suatu tindakan untuk
memperbaiki hasil belajar tersebut.
Berdasarkan beberapa solusi yang ada dan pertimbangan yang telah
dilakukan untuk memecahkan permasalahan tersebut, peneliti mengambil suatu
tindakan dengan menerapkan model learning cycle7E. Model learning cycle7E
merupakan model pembelajaran yang kegiatan pembelajarannya diorientasikan
pada kegiatan siswa. Model learning cycle7Eini bertitik tolak pada pendekatan
pembelajaran yang berbasis kontruktivis (Haris, 2013), yakni pandangan
pembelajaran yang membelajarkan siswa untuk mengkontruksi atau membangun
pengetahuannya sendiri melalui skemata yang telah siswa miliki sebelumnya.
Siswa
belajar
mengkontruksi
pengetahuan
berdasarkan
pengalaman
eksplorasinya, yakni melalui kegiatan percobaan, pengamatan, diskusi, dan tugastugas atau pemecahan masalah. Pada pembelajaran learning cycle7E, siswa
diarahkan untuk aktif, mengalami sendiri, merefleksi tentang temuan yang ia
peroleh, menginterpretasi temuannya terhadap skemata awal yang telah ia miliki,
dan memprediksikan temuan-temuannya itu ke dalam situasi yang baru (Huda,
2013).
Pembelajaran dengan menggunakan learning cycle7Emenuntut siswa untuk
mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir sehingga
pengetahuan yang diperolehnya merupakan hasil konstruksi dari pengalaman yang
dialami langsung oleh siswa. Model learning cycle7Ediharapkan dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan menyenangkan
bagi siswa agar siswa termotivasi untuk terlibat secara aktif dalam mengikuti
proses kegiatan pembelajaran, yang pada akhirnya diharapkan mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, judul dalam penelitian ini ialah
“Penerapan Model Learning Cycle7E untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
pada Materi Proses Daur Air” (Penelitian Tindakan Kelas di kelas VA SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang).
6
B. Rumusan dan Pemecahan Masalah
1.
Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil observasi, latar belakang penelitian dan pengambilan data
awal yang dilaksanakan pada kelas V A SDN Panyingkiran II Kecamatan
Sumedang Utara,Kabupaten Sumedang, ditemukan masalah yakni rendahnya hasil
belajar siswa pada materi proses daur air. Oleh karena itu, peneliti membuat
rumusan masalah sebagai berikut.
a.
Bagaimana rencana pembelajaran proses daur air dengan menerapkan model
learning cycle 7Edi kelas V A SDN Panyingkiran II Kecamatan Sumedang
Utara, Kabupaten Sumedang?
b.
Bagaimana peningkatan aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran
proses daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi kelas V A SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang?
c.
Bagaimana peningkatan kinerja guru pada pelaksanaan pembelajaran proses
daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi kelas V A SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang?
d.
Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran materi proses
daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi kelas VA SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang?
Beberapa rumusan permasalah tersebut merupakan bahan kajian penelitian
yang akan diberikan suatu tindakan serta pemecahan masalah berdasarkan tujuan
yang ingin dicapai.
2.
Pemecahan Masalah
Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan pembelajaran di kelas V A SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara,Kabupaten Sumedang, peneliti
menemukan beberapa permasalahan yang berdampak pada hasil belajar siswa.
Hasil belajar merupakan suatu bentuk pernyataan yang menunjukkan bahwa
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berhasil atau tidak. Hasil belajar dapat
dijadikan sebagai tolak ukur dan cerminan kemampuan yang dapat dicapai oleh
seseorang. Seseorang dapat mengukur usaha-usaha dan perubahan yang terjadi
dalam dirinya melalui hasil belajar.
7
Hasil belajar sebagaimana yang dinyatakan oleh Karwati dan Priansa (2014)
ialah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh melalui usahausahanya. Siswa dalam mencapai kecakapan tersebut perlu melibatkan diri secara
aktif, menggali dan mengeksplorasi pengetahuan diri sendiri dengan bertukar
pikiran dengan teman, melakukan diskusi secara berkelompok, melakukan
kegiatan praktikum, melakukan kegiatan pengamatan, bertanya jawab dengan
guru, atau dengan melakukan studi literatur dari berbagai buku sumber.
Rendahnya hasil belajar siswa kelas V A SDN Panyingkiran II sebagai
dampak dari proses kegiatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Siswa
tidak terlibat secara aktif dalam menggali informasi terkait materi yang dibawakan
guru, metode pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi
masih bersifat konvensional, dan guru masih mendominasi kegiatan pembelajaran.
Selain itu, penggunaan media pembelajaran masih kurang sehingga siswa
kesulitan dalam menyerap materi ajar. Rendahnya hasil belajar siswa kelas V A
SDN Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang pada
materi proses daur air menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran yag
dilaksanakan tidak efektif dan tidak bermakna bagi siswa. Proses daur
airmerupakan peristiwa yang terjadi di alam yang sulit diamati meskipun dalam
kegiatan sehari-hari. Pembelajaran materi proses daur air memerlukan
penggunaan
media
visualisasi
dan
praktikum
agar
siswa
dapat
mengetahuigambaran mengenai bagaimana peristiwa daur air yang sesungguhnya
di alam. Selain itu, kegiatan pembelajaran pada materi proses daur air,
memerlukan desain pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Untuk memecahkan permasalahan tersebut, peneliti telah merumuskan
pemecahan masalah dengan menerapkan model learning cycle7Epada materi
proses daur air. Model ini bertitik tolak pada pandangan kontruktivisme.
“Pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme menuntut siswa
aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa harus bisa membangun sendiri
pengetahuannya dengan merefleksikan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari
ke dalam materi pembelajaran” (Wahyuni, 2014, hlm. 10). Model learning cycle
disebut juga sebagai model pembelajaran yang bersiklus atau daur belajar. Model
pembelajaran ini memiliki fase-fase atau tahapan yang sengaja difungsikan secara
8
khusus dalam rangka mendaur ulang pengetahuan awal yang dimiliki siswa untuk
membangun kembali pengetahuan yang baru bagi siswa.
Menurut David Colb (dalam Huda, 2013, hlm. 265), pembelajaran
bersiklusatau learning cycledalam proses pembelajaran memiliki siklus empat
tahap sebagai berikut.
1) Melakukan sesuatu yang konkret atau memiliki pengalaman tertentu
yang bisa menjadi dasar bagi siswa.
2) Diobservasi dan direfleksi atas pengalaman tersebut dan responnya
terhadap pengalaman itu sendiri.
3) Diasimilasikan hasil observasi tersebut ke dalam kerangka konseptual
atau dihubungkan dengan konsep-konsep lain dalam pengalaman atau
pengetahuan sebelumnya yang dimiliki siswa yang implikasiimplikasinya tampak dalam tindakan konkret.
4) Diuji dan diterapkan dalam situasi yang berbeda.
Adapun tahapan model learning cycleyang digunakan dalam penelitian ini
mengacu pada tahapan yang dikembangkan oleh Eisenkraft (2003) yakni learning
cycle dengan tujuh fase yang meliputi faseElicit, Engage, Exploration,
Explanation, Elaboration, Evaluation, dan Extend. Adapun implementasi tahapan
model learning cycle7E pada pelaksanaan pembelajarannya ialah sebagi berikut.
a.
Fase elicit. Pada fase ini guru memberikan stimulus atau rangsangan terhadap
pengetahuan awal siswa, yakni dengan memberikan pertanyaan yang
menantang atau bertentangan sehingga membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
Pada kegiatan ini, guru memberikan apersepsi terkait materi yang akan
disampaikan yakni materi proses daur air.
b.
Fase engagment. Pada fase iniguru mempertunangkan atau menyelaraskan
persepsi siswa dengan konsep yang dibawa oleh guru. Kegiatan guru pada
fase ini ialah memberikan penjelasan materi untuk mengklarifikasi persepsi
siswa yang masih salah. Dengan demikian terjadi sebuah pembentukan
konsep dalam stuktur kognitif siswa. Guru mengundang pengetahuan siswa
dengan mempertunjukkan kegiatan yang menarik sehingga siswa memiliki
rasa ingin tahu tertarik untuk mempelajari materi secara lebih lanjut.
c.
Fase exploration. Pada kegiatan ini, siswa diarahkan untuk mengeksplorasi
pengetahuannya, yakni melalui kegiatan percobaan, pengamatan, dan diskusi.
d.
Fase explanation. Kegiatan siswa pada fase ini ialah melaporkan hasil diskusi
dan percobaannyya dengan melakukan kegiatan persentasi. Siswa dapat
9
menambah pegetahuan konsepnya dari gagasan-gagasan atau temuan-temuan
yang diperoleh dari teman-temannya melalui percobaan.
e.
Fase elaboration. Pada kegiatan ini, guru memberikan tugas untuk melatih
siswa dalam memecahakan permasalahan berdasarkan konsep yang siswa
peroleh.
f.
Fase evaluation. Pada kegiatan ini, guru mengevaluasi siswa atas
pengalaman-pengalaman dan latihannya. Guru menilai perubahan-perubahan
yang terjadi pada siswa atas pengetahuannya.
g.
Fase extend. Pada kegiatan ini, guru memberikan penguatan konsep dengan
memberikan contoh aplikasi dan keterkaitan konsep dengan konsep lain di
dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini memiliki target proses dan hasil yang diharapkan sebagai
berikut.
a. Target proses
Target untuk proses pembelajaran dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu aktivitas
siswa dan kinerja guru. Adapun target keberhasilan yang diharapkan dari
aktivitas siswa dan kinerja guru yaitu sebagai berikut.
1) Kinerja guru
Target kinerja guru pada tahap perencanaan yang diharapkan ialah sebesar
100% dan pelaksanaan 100%. Penilaian kinerja gurupada perencanaan
didasarkan atas penilaian terhadap kinerja guru dalam menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan media, menyiapkan LKS,
menyiapkan evaluasi, menyiapkan instrumen penilaian, dan membuat kegiatan
pembelajaran berdasarkan tahapan model pembelajaran yang diterapkan, yaitu
model learning cycle 7E. Penilaian kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatah akhir.
2) Aktivitas siswa
Target aktivitas siswa yang diharapkan ialah sebesar 87%. Target tersebut
didasarkan atas penilaian aktivitas siswa pada pembelajaran materi proses daur
air dengan menerapkan model learning cycle 7E.
10
b. Target hasil
Target hasil merupakan penilaian yang dilakukan terhadap tes hasil belajar
siswa. Target yang diharapkan dari hasil belajar siswa ialah sebesar 87%, yakni
87% siswa mampu memahami konsep materi daur air dan tuntas dalam
melaksanakan evaluasi.
C. Tujuan Penelitian
Setelah dirumuskan rumusan masalah penelitian yang dipaparkan di atas,
maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.
Untuk mengetahui rencana pembelajaran proses daur air dengan menerapkan
model learning cycle 7Edi kelas V A SDN Panyingkiran II Kecamatan
Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.
b.
Untuk
mengetahui
peningkatan
aktivitas
siswa
pada
pelaksanaan
pembelajaran proses daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi
kelas V A SDN Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten
Sumedang.
c.
Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru pada pelaksanaan pembelajaran
proses daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi kelas V A SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.
d.
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran materi
proses daur air dengan menerapkan model learning cycle7Edi kelas VA SDN
Panyingkiran II Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.
D. Manfaat penelitian
Adapun penelitian yang dilaksanakan di kelas VA SDN Panyingkiran II pada
materi proses daur air dapat bermanfaat untuk khalayak, khususnya:
1.
Bagi Siswa
a.
Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model learning cycle7E.
b.
Meningkatkan motivasi, minat dan aktivitas belajar siswa terutama pada
pembelajaran IPA.
c.
Menanamkan sikap ilmiah siswa.
11
d.
Melatih siswa untuk bekerjasama terhadap tugas kelompok dan melatih siswa
memecahkan suatu permasalahan.
e.
Memberikan pengalaman yang nyata bagi siswa sehingga pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan menambah pengalaman baru bagi siswa.
f.
Menumbuhkan rasa syukur siswa terhadap alam semesta sebagai ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Bagi Guru
a.
Menambah
wawasan
dan pengetahuan
guru mengenai
pelaksanaan
pembelajaran dengan menerapkan model learning cycle7E.
b.
Memupuk kreativitas dan inovasi guru dalam menciptakan situasi
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
c.
Sebagai sumber referensi bagi guru untuk memilih dan menggunakan model
pembelajaran IPA.
d.
Mengembangkan kemampuan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa
terutama dalam pembelajaran IPA.
3.
Bagi Sekolah
a.
Sebagai referensi dalam mengatasi masalah pembelajaran yang ada di kelas.
b.
Memberikan nilai tambahan yang positif bagi sekolah.
c.
Sebagai sumber referensi ilmu pengetahuan bagi sekolah.
d.
Sebagai arsip sekolah.
4.
Bagi Peneliti
a.
Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pemilihan dan penerapan
model dalam pembelajaran.
b.
Meningkatkan keterampilan, teknik, dan taktik dalam mengajar dengan
menerapkan model learning cycle7Edalam pembelajaran IPA.
c.
Meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam menciptakan situasi belajar yang
menyenangkan bagi siswa.
d.
Menambah
pengalaman
dalam
memecahkan
pembelajaran melalui model learning cycle7E.
12
permasalahan
dalam
E. Batasan Istilah
Berikut ini merupakan batasan istilah yang digunakan peneliti berkaitan
dengan judul penelitian yang berfungsi untuk memperjelas fokus penelitian.
1.
Model pembelajaran learning cycle7E
Learning cycle atau pembelajaran bersiklus adalah model pembelajaran
yang terdiri atas serangkaian tahap-tahap kegiatan yang diorganisir sedemikian
rupa sehingga siswa mampu menguasai kompetensi secara aktif (Wahyuni, 2014,
hlm. 10). Model Learning Cycle7E terdiri atas fase elicit, engage, exploration,
explanation, elaboration, evaluation, dan extend (Eisenkraft, 2003).
2.
Hasil belajar
Menurut Karwati dan Priansa (2014, hlm. 216),
hasil belajar merupakan sesuatu yang dicapai atau diperoleh peserta didik
berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam
bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam
berbagai aspek kehidupan sehingga nampak perubahan tingkah laku pada
diri individu.
3.
Daur air
Daur air merupakan proses perputaran atau siklus yang terjadi di alam
semesta. Siklus air terjadi karena adanya penguapan sebagai akibat dari panas
matahari. Uap air menyatu dengan udara dan terjadi proses kondensasi dan
menggumpal membentuk awan.Lama kelamaan, berubah menjadi butir-butir air
dan kembali jatuh ke bumi sebagai hujan. Air hujan kembali meresap ke dalam
tanah, muncul lagi kepermukaan sebagai mata air, dan kembali mengalami
penguapan (Azmiyawati, 2008).
F. Struktur Organisasi Skripsi
Adapun struktur organisasi skripsi penelitian yang berjudul “Penerapan
Model Learning Cycle 7E untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi
Proses Daur Air (Penelitia Tindakan Kelas di Kelas V A SDN Panyingkiran II
Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang)” ini tersusun atas lima BAB,
yakni BAB I Pendahuluan, BAB II Landasan Teoretis, BAB III Metode
Penelitian, BAB IV Pembahasan, dan BAB V Penutup.
13
BAB I pendahuluan berisi latar belakang, rumusan dan pemecahan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan struktur organisasi
skripsi. Latar belakang menjelaskan masalah-masalah yang ditemukan peneliti
pada saat melaksanakan observasi dan pengambilan data awal. Peneliti
menguraikan
perlunya
suatu
tindakan
untuk
mengatasi
permasalahan-
permasalahan yang terjadi sehingga lahirlah penelitian tindakan yang berjudul
“Penerapan Model Learning Cycle7E untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
pada Materi Proses Daur Air”. Pada rumusan dan Pemecahan masalah peneliti
merumuskan masalah yang akan dijadikan sebagai bahan kajian penelitian dan
diberikan suatu pemecahan masalah. Adapun pemecahan masalah yang
dirumuskan peneliti ialah dengan menerapkan model learning cycle 7E. Tujuan
penelitian, menguraikan tujuan dilakukannya penelitian berdasarkan rumusan
masalah penelitian yang telah dibuat. Manfaat penelitian menguraikan gambaran
mengenai dampak positif dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Batasan isilah
memberikan gambaran definisi secara oprasional mengenai fokus kajian
penelitian. Struktur organisasi skripsi merupakan susuanan atau sistematika
penulisan skripsi.
BAB II kajian pustaka berisi landasan teoretis bidang kajian penelitian,
yakni hakikat ilmu pengetahuan alam, model leraning cycle, teori belajar yang
mendukung model leraning cycle, hasil belajar, materi proses daur air, dan
hipotesis tindakan.
BAB III metode penelitian berisi penjelasan mengenai prosedural penelitian,
yakni lokasi dan waktu penelitian, metode dan desain penelitian, prosedur
penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengolahan dan
analisis data, dan validasi data. Hal tersebut berfungsi sebagai gambaran untuk
mengetahui rancangan alur penelitian yang dilakukan.
BAB IV pembahasan berisi paparan data awal dan paparan data pelaksanaan
tindakan. Pada bagian ini dijelaskan mengenai pembahasan temuan-temuan
penelitian berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data serta pembahasan
temuan untuk menjawab rumusan masalah penelitian yang telah dibuat
sebelumnya.
BAB V penutup berisi simpulan dan saran.
14
Download

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia hidup di alam