BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB merupakan total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi
di wilayah (regional) tertentu dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) (BPS,
2010). Untuk menghitung angka PDRB ada tiga pendekatan yang dapat
digunakan, yaitu:
1. Pendekatan Produksi, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang
dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu daerah dalam jangka
waktu tertentu (biasanya satu tahun).
2. Pendekatan Pengeluaran, PDRB adalah semua komponen permintaan akhir
seperti: (a) pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga nirlaba, (b)
konsumsi pemerintah, (c) pembentukan modal tetap domestik bruto, (d)
perubahan stok, dan (e) ekspor neto, dalam jangka waktu tertentu (biasanya
satu tahun).
3. Pendekatan Pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima
oleh faktor-faktor produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menunjukkan pendapatan
yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta menggambarkan nilai
tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun.
PDRB ADHB ini digunakan untuk melihat struktur ekonomi pada suatu tahun.
12
Perkembangan PDRB ADHB dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan
yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa
yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya. Oleh karenanya untuk
dapat mengukur perubahan volume produksi atau perkembangan produktivitas
secara nyata, faktor pengaruh atas perubahan harga perlu dihilangkan dengan cara
menghitung PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). Penghitungan atas dasar
harga konstan ini berguna antara lain dalam perencanaan ekonomi, proyeksi dan
untuk menilai pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan maupun sektoral.
PDRB per kapita merupakan gambaran nilai tambah yang bisa
diciptakan oleh masing-masing penduduk akibat dari adanya aktivitas produksi.
Nilai PDRB per kapita didapatkan dari hasil bagi antara total PDRB dengan
jumlah penduduk pertengahan tahun. PDRB per kapita sering digunakan untuk
mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah. Apabila data tersebut
disajikan secara berkala akan menunjukkan adanya perubahan kemakmuran.
Menurut Jhingan (2010), kenaikan pendapatan per kapita dapat tidak
menaikkan standar hidup riil masyarakat apabila pendapatan per kapita meningkat
akan tetapi konsumsi per kapita turun. Hal ini disebabkan kenaikan pendapatan
tersebut hanya dinikmati oleh beberapa orang kaya dan tidak oleh banyak orang
miskin. Di samping itu, rakyat mungkin meningkatkan tabungan mereka atau
bahkan pemerintah sendiri menghabiskan pendapatan yang meningkat itu untuk
keperluan militer atau keperluan lain.
13
2.1.2. Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan ekonomi dari
waktu ke waktu dan menyebabkan pendapatan nasional riil berubah. Tingkat
pertumbuhan ekonomi menunjukkan persentase kenaikan pendapatan nasional riil
pada suatu tahun tertentu dibandingkan dengan pendapatan nasional riil pada
tahun sebelumnya (Sukirno, 2004).
Todaro (2006), mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai suatu
proses peningkatan kapasitas produktif dalam suatu perekonomian secara terus
menerus atau berkesinambungan sepanjang waktu sehingga menghasilkan tingkat
pendapatan dan output nasional yang semakin lama semakin besar. Menurut
Todaro (2006), ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan
ekonomi yaitu:
1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang
ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.
2. Pertumbuhan
penduduk
yang
pada
tahun-tahun
berikutnya
akan
memperbanyak jumlah angkatan kerja.
3. Kemajuan teknologi.
Pertumbuhan ekonomi belum tentu melahirkan pembangunan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan (pendapatan) masyarakat. Hal tersebut disebabkan
karena bersamaan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi akan berlaku pula
pertambahan penduduk. Apabila tingkat pertumbuhan ekonomi selalu rendah dan
tidak melebihi tingkat pertambahan penduduk, pendapatan rata-rata masyarakat
(pendapatan per kapita) akan mengalami penurunan. Sedangkan apabila dalam
14
jangka panjang pertumbuhan ekonomi sama dengan pertambahan penduduk, maka
perekonomian negara tersebut tidak mengalami perkembangan (stagnan) dan
tingkat kemakmuran masyarakat tidak mengalami kemajuan. Dengan demikian,
salah satu syarat penting yang akan mewujudkan pembangunan ekonomi adalah
tingkat pertumbuhan ekonomi harus melebihi tingkat pertambahan penduduk
(Sukirno, 2007).
2.1.3. Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu
dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau
pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Meskipun perdagangan
internasional telah terjadi selama ribuan tahun dampaknya terhadap kepentingan
ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan.
Perdagangan internasional pun turut mendorong industrialisasi, kemajuan
transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Dalam perdagangan domestik para pelaku ekonomi bertujuan untuk
memperoleh keuntungan dari aktivitas ekonomi yang dilakukannya. Demikian
halnya dengan perdagangan internasional. Setiap negara yang melakukan
perdagangan bertujuan mencari keuntungan dari perdagangan tersebut. Selain
motif mencari keuntungan, Krugman (2004) mengungkapkan bahwa alasan utama
terjadinya perdagangan internasional:
15
1. Negara-negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain.
2. Negara-negara melakukan perdagangan dengan tujuan untuk mencapai skala
ekonomis (economies of scale).
Sementara
itu
menurut
Sukirno
(2007),
manfaat
perdagangan
internasional adalah :
1. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negara sendiri. Banyak
faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi setiap negara.
Faktor-faktor tersebut antara lain : kondisi geografis, iklim, tingkat pengusaan
iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara
mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
2. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan perdagangan
luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh
spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang
sama jenisnya dengan yang diproduksi negara lain, tapi ada kalanya lebih baik
apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
3. Memperluas pasar dan menambah keuntungan. Terkadang, para pengusaha
tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal
karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan
turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional,
pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual
kelebihan produk tersebut keluar negeri.
16
4. Transfer teknologi modern. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu
negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efisien dan cara-cara
manajemen yang lebih modern.
Salah satu alasan dalam perdagangan adalah untuk mendapatkan barang
dengan harga yang lebih murah. Proses terjadinya perdagangan internasional yang
dilandasi oleh perbedaan harga dapat dijelaskan melalui analisis keseimbangan
parsial berikut :
Px/Py
Pasar Negara 1
Pasar Internasional
A’
Sx
P3
Pasar Negara 2
Sx
S
Ekspor
E
P2
P1
D
Impor
Dx
A
Dx
Sumber : Salvatore, 1997.
Qx
Gambar 2.1 Harga komoditi relatif ekuilibrium setelah perdagangan ditinjau dari
analisis keseimbangan parsial.
Gambar 2.1 memperlihatkan proses terciptanya keseimbangan harga relatif
dengan adanya perdagangan, ditinjau dari analisis keseimbangan parsial. Kurva
Dx dan Sx di pasar negara 1 dan negara 2, masing-masing melambangkan kurva
permintaan dan kurva penawaran untuk komoditi X di negara 1 dan negara 2.
Sumbu vertikal menunjukkan harga relatif komoditi X (Px/Py) dan sumbu
horisontal menunjukkan kuantitas komoditi X.
17
Sebelum terjadi perdagangan, negara 1 berproduksi dan berkonsumsi di
titik A dengan harga relatif komoditi X sebesar P1. Sedangkan negara 2
berproduksi dan berkonsumsi di titik A’ dengan harga relatif komoditi X sebesar
P3. Setelah hubungan perdagangan berlangsung diantara kedua negara tersebut,
harga relatif komoditi X adalah senilai P2 yang berkisar antara P1 dan P3
seandainya kedua negara tersebut cukup besar (kekuatan ekonominya).
Seandainya harga yang berlaku di atas P1, maka negara 1 akan
memproduksi komoditi X lebih banyak daripada tingkat permintaan (konsumsi)
domestik. Kelebihan itu selanjutnya akan diekspor ke negara 2. Di lain pihak jika
harga yang berlaku lebih kecil dari P3, maka negara 2 akan mengalami
peningkatan permintaan yang jumlahnya lebih tinggi daripada produksi
domestiknya. Hal ini akan mendorong negara 2 untuk mengimpor kekurangan
kebutuhannya atas komodit X itu dari negara 1.
Pada mulanya penelitian tentang perdagangan terutama ditujukan untuk
menjelaskan mengapa perdagangan perlu dilakukan dan bagaimana mendapatkan
gains from trade (keuntungan dari perdagangan). Namun dewasa ini yang banyak
penelitian difokuskan pada perilaku perdagangan pada era globalisasi.
2.1.4. Tinjauan Beberapa Studi Terdahulu
Keong, Yusop, dan Sen pada tahun 2005 melakukan penelitian dengan
mengambil judul “Export-Led Growth Hypothesis in Malaysia : An Investigation
Using Bound Test”. Dengan menggunakan data agregat Malaysia tahun 1960
sampai dengan 2001 meliputi GDP, Ekspor, Impor, Nilai Tukar Riil dan Angkatan
18
kerja, melakukan Test Perikatan (Bounds Test) dengan metode Autoregressive
Distribution
Leg,
membuktikan
bahwa
perekonomian
negara
Malaysia
mendukung export led growth.
Oiconta (2006) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Ekspor dan
Output Nasional di Indonesia : Periode 1980–2004 Kajian Tentang Kausalitas dan
Kointegrasi”. Analisis yang digunakan adalah Uji Kausalitas Greger, dengan
mengunakan data output nasional (GDP) dan Ekspor agregat Indonesia tahun
1980 sampai 2004 dalam data kuartalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dalam periode analisis secara keseluruhan diperoleh hubungan pengaruh GDP
terhadap ekspor dan pengaruh ekspor terhadap GPD. Sedangkan untuk periode
flexible exchange rate regime (setelah tahun 1998) diperoleh hubungan hanya
pengaruh GDP terhadap ekspor.
Salomo (2007) melakukan penelitian dengan judul “Peranan Perdagangan
Internasional Sebagai Salah Satu Sumber Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”. Data
yang digunakan adalah data agreagat Indonesia tahun 1980 sampai 2006 meliputi
Pendapatan Domestik Bruto, Ekspor Riil, Impor Riil, Nilai Tukar Riil Rupiah
terhadap Dolar, Jumlah Pekerja dan Krisis yang melanda Indonesia, dengan
metode Bound Testing Cointegration pendekatan ARDL (Autoregressive
Distributed Leg) menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa dalam jangka panjang
ekspor riil, impor riil, nilai tukar riil, jumlah pekerja dan krisis berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Miankhel (2009) melakukan penelitian dengan judul “Foreign Direct
Investment, Exports, and Economic Growth in South Asia and Selected Emerging
19
Countries: A Multivariate VAR Analysis”. Alat analisis yang digunakan adalah
Vector Auto Regressive untuk Multivariate. Penelitian ini mengenai keterkaitan
Penanaman Modal Asing (PMA), ekspor, dan pertumbuhan ekonomi di enam
negara berkembang yang memiliki tahap pertumbuhan berbeda-beda, yaitu India
dan Pakistan di Asia Selatan, Malaysia dan Thailand di Asia Tenggara, serta
Meksiko dan Chili di Amerika Latin.
Hasil penelitiannya mendukung hipotesis bahwa ekspor akan mendorong
pertumbuhan ekonomi (export led growth), khususnya di Asia Selatan. Dalam
jangka panjang pertumbuhan ekonomi akan mendorong perkembangan variabelvariabel lainnya, yaitu mendorong ekspor di Pakistan dan mendorong PMA di
India. Hubungan yang berbeda terlihat dalam jangka pendek di Amerika Latin,
yaitu PMA memengaruhi pertumbuhan melalui ekspor di Chili dan PMA
memengaruhi pertumbuhan secara langsung di Meksiko. Ekspor memengaruhi
pertumbuhan dan PMA di kedua negara tersebut dalam jangka panjang.
Sementara itu, untuk kasus di Asia Tenggara ditemukan hubungan kausalitas dua
arah antara PDB dengan PMA di Thailand, dan sebaliknya keduanya tidak
memiliki hubungan sebab-akibat di Malaysia.
Santoso (2010) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Perdagangan
Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”. Penelitian ini
menggunakan data tahun 1994–2008 meliputi Pertumbuhan Ekonomi, Impor
Barang Modal, Ekspor, Investasi, Tenaga kerja dan Kurs Valutas Asing, dengan
metode regresi linier berganda mendapatkan kesimpulan bahwa secara simultan
variabel impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan valutas asing
20
berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akan tetapi secara
parsial variabel impor barang modal, ekspor, investasi, tenaga kerja dan kurs
valuta asing tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Maryen (2006) melakukan penelitian dengan judul “Analisis SektorSektor Potensial Perekonomian Provinsi Papua”. Penelitian ini menggunakan data
PDRB Provinsi Papua dan PDB Nasional periode 1999-2003, dengan alat analisis
Location Quotient dan Shift-Share Klasik mendapatkan kesimpulan bahwa sektor
pertambangan dan penggalian dapat dikategorikan sebagai sektor basis secara
konsisten setiap tahunnya selama periode penelitian. Sementara sektor pertanian
sub sektor kehutanan dan perikanan baru masuk kategori basis pada tahun 2001.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini bermaksud untuk
menganalisis hubungan keterbukaan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi
di Papua selama kurun waktu 2000-2010. Pada penelitian ini akan dianalisis
pengaruh ekspor, impor, tingkat partisipasi angkatan kerja, nilai tukar dan dummy
krisis terhadap pertumbuhan ekonomi Papua baik secara simultan maupun parsial.
Selain itu juga akan dianalisis karakteristik ekonomi yang membangun
perekonomian Papua sehingga dapat digunakan sebagai dasar penentu kebijakan
ekonomi Papua di masa depan. Analisis yang digunakan adalah metode regresi
linier berganda. Data yang digunakan adalah data triwulanan PDRB atas harga
konstan 2000, ekspor riil, impor riil, nilai tukar riil, tingkat partisipasi angkatan
kerja dan dummy krisis.
21
2.2.Kerangka Teori
2.2.1. Teori Pertumbuhan Neoklasik
Inti dari teori pertumbuhan neoklasik Solow yang dikembangkan oleh
Robert Solow adalah bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh faktor modal
dan tenaga kerja. Model pertumbuhan ini berpegang pada konsep skala hasil yang
terus berkurang (deminishing return) dari faktor modal dan tenaga kerja apabila
keduanya dianalisis secara terpisah. Maksudnya apabila modal ditingkatkan akan
tetapi tenaga kerja tidak ditambah maka pada suatu waktu tertentu penambahan
modal tidak akan meningkatkan output. Begitu pula sebaliknya, apabila tenaga
kerja ditambah terus, sedangkan modal tetap maka pada suatu waktu tertentu
penambahan tenaga kerja tidak akan meningkatkan output. Akan tetapi apabila
faktor modal dan tenaga kerja keduanya bertambah maka output akan terus
bertambah (Todaro, 2006).
Dalam teori pertumbuhan neoklasik Solow juga dikenalkan variabel
teknologi sebagai variabel independen. Artinya, walaupun faktor modal dan
tenaga kerja tetap, akan tetapi penemuan teknologi baru dapat membuat faktor
modal atau tenaga kerja lebih efisien, maka output akan bertambah.
Fungsi pertumbuhan neoklasik Solow adalah :
(2.2)
keterangan: Y adalah produk domestik bruto, K adalah stok modal fisik dan
modal manusia, L adalah jumlah tenaga kerja dan A adalah produktivitas tenaga
kerja, yang pertumbuhannya ditentukan secara eksogen.
22
Lebih lanjut, dalam teori pertumbuhan neoklasik tradisional dikemukakan
bahwa pada negara yang menggunakan perekonomian tertutup (tidak menjalin
hubungan dengan negara lain) apabila tingkat tabungannya rendah (dalam kondisi
cateris paribus) maka dalam jangka pendek pasti akan mengalami laju
pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan perekonomian lainnya yang
memiliki tingkat tabungan lebih tinggi. Sedangkan pada negara yang
menggunakan perekonomian terbuka, walaupun tingkat tabungannya rendah, pasti
akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan karena adanya arus
permodalan yang masuk dari negara kaya ke negara-negara miskin dimana rasio
modal-tenaga kerjanya masih rendah sehingga pengembalian atas investasi (return
of investment) lebih tinggi.
2.2.2. Teori Pertumbuhan Endogen
Teori
pertumbuhan
endogen
(endogenous
growth
theory)
yang
dipelopori oleh Romer (1986) dan Lucas (1988) memiliki peran dalam
menjelaskan
model pertumbuhan
yang
lebih
maju,
dimana
perubahan
teknologi bersifat endogen (berasal dari dalam sistem ekonomi) dan memiliki
pengaruh pada pertumbuhan jangka panjang. Pengertian modal dalam model
ini tidak sekedar modal fisik (physical capital), tetapi mencakup pula modal
manusia (human capital). Selain itu, teori ini mengasumsikan tingkat
pengembalian yang meningkat (increasing return to scales) pada fungsi
produksi agregatnya dan menekankan peran eksternalitas dalam menentukan
tingkat pengembalian investasi modal (Arsyad, 2010).
23
Teori pertumbuhan endogen merupakan modifikasi dari teori-teori
pertumbuhan tradisional dan dirancang untuk menjelaskan fenomena ekuilibrium
dalam jangka panjang yang bisa positif dan bervariasi antarnegara. Menurut teori
ini, faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat pendapatan per kapita
antarnegara adalah adanya perbedaan stok pengetahuan, kapasitas modal
fisik, kualitas modal manusia, dan ketersediaan infrastruktur. Lebih lanjut, dalam
proses pertumbuhan endogen dimungkinkan pula ruang bagi munculnya
kebijakan, baik pada perekonomian tertutup maupun perekonomian terbuka.
2.2.3. Teori Perdagangan Internasional
Teori perdagangan internasional yang paling awal muncul adalah
merkantilisme. Teori ini menyatakan bahwa satu-satunya cara bagi suatu negara
untuk menjadi kuat dan kaya adalah dengan melakukan sebanyak mungkin ekspor
dan sesedikit mungkin impor. Kelebihan teori merkantilisme ini adalah negara
akan memperbesar jumlah ekspor karena negara akan kaya, makmur dan kuat bila
ekspor lebih besar dari impor. Sedangkan kelemahan teori ini adalah logam mulia
yang digunakan sebagai alat pembayaran akan menyebabkan banyaknya jumlah
uang yang beredar sehingga akan terjadi inflasi dan harga barang impor menjadi
rendah, akhirnya logam mulia berkurang (Oktaviani dan Novianti, 2009).
Dalam teori merkantilisme ini, karena tidak semua negara secara simultan
dapat menghasilkan surplus ekspor, sedangkan jumlah emas dan perak tetap pada
saat tertentu, maka sebuah negara hanya akan memperoleh keuntungan dengan
mengorbankan negara lain. Akibatnya penganut teori merkantilisme ini banyak
24
melakukan penjajahan terhadap negara lain untuk mendapatkan logam mulia lebih
banyak.
Pada tahun 1776, Adam Smith menjelaskan bahwa dua negara hanya akan
melakukan perdagangan secara sukarela jika kedua negara tersebut memperoleh
keuntungan. Maka terciptalah sebuah teori perdagangan yang dinamakan teori
keunggulan absolut. Menurut Adam Smith, jika sebuah negara lebih efisien
(memiliki keunggulan absolut) terhadap negara lain dalam memproduksi sebuah
komoditas, namun kurang efisien dibandingkan (atau memiliki kerugian absolut
terhadap) negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara
tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan
spesialisasi dalam memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan absolut.
Melalui proses ini, sumber daya di kedua negara dapat digunakan dalam cara yang
paling efisien. Output kedua komoditi yang diproduksi pun akan meningkat.
Peningkatan dalam output ini akan mengukur keuntungan dan spesialisasi produk
untuk kedua negara yang melakukan perdagangan (Salvatore, 1997).
Kelemahan teori keunggulan absolut adalah apabila hanya satu negara
yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak akan
terjadi karena tidak ada keuntungan. Maka pada tahun 1817, David Ricardo
menyempurnakan teori keunggulan absolut Adam Smith dengan mengemukakan
teori keunggulan komparatif. David Ricardo mengatakan bahwa meskipun sebuah
negara kurang efisien dalam memproduksi kedua komoditi, namun masih tetap
dapat melakukan perdagangan. Negara satu harus berspesialisasi dalam
memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian terkecil
25
(memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditi yang memiliki
kerugian absolut lebih besar (memiliki kerugian komparatif).
Pada tahun 1936, Haberler menerangkan atau mendasarkan teori
keunggulan komparatif pada teori biaya oportunitas. Teori yang dikemukakan
Haberler ini disebut teori biaya oportunitas. Teori ini mengatakan bahwa biaya
sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk
memperoleh sumber daya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan
komoditi pertama. Implikasi dari teori ini adalah suatu negara yang memiliki
biaya oportunitas lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi akan
memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi tersebut (dan memiliki kerugian
komparatif dalam komoditi kedua) (Salvatore, 1997).
Menyempurnakan model perdagangan klasik yang telah ada, HeckscherOhlin mengemukakan bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditi yang
produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan
murah di negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan mengimpor komoditi
yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di
negara itu. Artinya, sebuah negara yang relatif kaya atau berkelimpahan tenaga
kerja akan mengekspor komoditi-komoditi yang relatif padat tenaga kerja dan
mengimpor komoditi-komoditi yang relatif padat modal (yang merupakan faktor
produksi langka dan mahal di negara yang bersangkutan). Teori yang
dikemukakan oleh Heckscher-Ohlin selanjutnya disebut teori kepemilikan faktor
atau teori proporsi faktor (Salvatore, 1997).
26
Teori
pertumbuhan
endogen
(endogenous
growth
theory)
yang
dipelopori oleh Romer (1986) dan Lucas (1988) mampu menyajikan suatu
ulasan analitis yang lebih menyeluruh dan meyakinkan mengenai hubungan antara
perdagangan internasional dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi
dalam jangka panjang. Secara spesifik teori ini menyatakan bahwa penurunan
hambatan-hambatan perdagangan dalam berbagai bentuk, baik tarif maupun nontarif akan mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di suatu
negara dalam jangka panjang (Salvatore, 1997).
2.3.Faktor-faktor Pendukung Keterbukaan Perdagangan
Manfaat yang diperoleh dari sistem perekonomian terbuka yang dianut
oleh sebagian besar negara-negara di dunia tidak terlepas dari tingkat
kesiapan
dan kekuatan masing-masing negara tersebut dalam menghadapi
persaingan di tingkat global. Berdasarkan penelitian Keong, Yusop dan Sen
(2005) ada lima faktor keterbukaan perdagangan yang memengaruhi pertumbuhan
ekonomi. Kelima faktor tersebut adalah ekspor riil, impor riil, tenaga kerja, nilai
tukar riil dan dummy krisis. Dalam penelitian ini, data tenaga kerja yang
digunakan adalah data tingkat partisipasi angkatan kerja.
2.3.1. Ekspor
Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara
ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor
pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari
dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar
27
umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim
maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional,
lawannya adalah impor (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 2011).
Pada penelitian ini, definisi ekspor yang digunakan adalah proses transportasi
barang ataupun jasa yang keluar wilayah Papua secara legal.
Ekspor merupakan faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Ekspor akan memperbesar kapasitas konsumsi suatu
negara, meningkatkan output dunia, serta menyajikan akses ke sumber-sumber
daya yang langka ke pasar internasional. Sehingga negara-negara miskin dapat
mengakses produk langka tersebut dan mampu mengembangkan kegiatan
perekonomian nasionalnya. Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam
mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang mereka miliki (Todaro, 2006).
Fungsi ekspor dalam perdagangan luar negeri adalah negara memperoleh
keuntungan sehingga pendapatan nasional akan meningkat. Peningkatan
pendapatan nasional ini akan menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan
ekonomi (Jhingan, 2010).
Ekspor dapat berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi
(Export Led Growth). Alasan yang mendukung hal ini adalah, pertama,
pertumbuhan ekspor dapat mewakili kenaikkan dalam permintaan output negara
yang kemudian menyebabkan kenaikan dalam output riil. Kedua, ekspansi dalam
ekspor dapat mempromosikan spesialisasi dalam produksi komoditi ekspor, yang
kemudian akan meningkatkan tingkat produktivitas, dan dapat meningkatkan skill
secara umum disektor tersebut. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan realokasi
28
sumber daya dari sektor diluar komoditi ekspor yang relatif kurang efisien ke
sektor komoditi ekspor yang lebih produktif. Perubahan produktivitas tersebut
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, peningkatan dalam ekspor
dapat meregangkan kendali nilai tukar sehingga menyebabkan kemudahan dalam
mengimpor bahan baku komoditas ekspor sehingga memungkinkan terjadinya
ekpansi ekpor yang lebih besar lagi (Sitorus, 2008).
Dalam suatu model persamaan dimana pertumbuhan ekonomi sebagai
variabel dependen dan ekspor sebagai variabel independen, apabila hubungannya
bernilai positif dan signifikan maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik
perekonomian wilayah yang diteliti berkategori export led growth. Sebaliknya
apabila hubungannya bernilai negatif dan signifikan maka karakteristik
perekonomian wilayah yang diteliti adalah export reducing growth (Salomo,
2007).
2.3.2. Impor
Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara
ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor
umumnya adalah tindakan memasukkan barang atau komoditas dari negara lain ke
dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan
dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting
dari perdagangan internasional, lawannya adalah ekspor (Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas, 2011). Sedangkan definisi impor yang digunakan
adalah proses transportasi barang ataupun jasa yang masuk wilayah Papua secara
legal.
29
Apabila dilihat dari pendapatan nasional, impor memang akan mengurangi
pendapatan nasional. Akan tetapi impor memegang peran penting dalam
memenuhi kebutuhan ekonomi suatu negara. Dengan impor, bahan baku industri
yang lebih murah akan diperoleh, sehingga proses produksi dapat berjalan lebih
efisien. Maka secara tidak langsung impor ini dapat meningkatkan keuntungan
produksi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah output dan
pertumbuhan ekonomi.
2.3.3. Nilai Tukar
Menurut Mankiw (2007), nilai tukar (exchange rate) antara dua negara
adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk saling
melakukan perdagangan. Para ekonom membedakan nilai tukar menjadi dua
yaitu:
a. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata
uang dua negara. Sebagai contoh, jika nilai tukar antara dolar Amerika dan
rupiah Indonesia adalah 8.000 rupiah per dolar, maka Anda bisa menukar 1
dolar untuk 8.000 rupiah di pasar uang. Orang Indonesia yang ingin memiliki
dolar akan membayar 8.000 rupiah untuk setiap dolar yang dibelinya.
b. Nilai tukar riil (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang di
antara dua negara. Nilai Tukar riil menyatakan tingkat di mana kita bisa
memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari
negara lain. Nilai Tukar riil kadang-kadang disebut terms of trade. Nilai tukar
riil dihitung dengan :
30
(2.1)
Nilai tukar memegang peran penting dalam sistem perdagangan, karena
sekarang perdagangan yang dilakukan menggunakan mata uang sebagai alat
pertukaran. Apabila nilai tukar melemah maka harga produk ekspor akan lebih
murah, pada akhirnya jumlah ekspor akan meningkat, dan juga sebaliknya. Untuk
itulah nilai tukar yang stabil menjadi perhatian pemerintah.
2.3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Menurut BPS (2007) tenaga kerja diartikan sebagai penduduk usia kerja,
yaitu penduduk yang berusia dari 15-64 tahun. Sebelum tahun 1997, definisi
tenaga kerja adalah mereka yang berusia 10 tahun ke atas. Penduduk usia kerja
dikelompokkan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja
adalah penduduk usia kerja yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara
tidak bekerja, dan pengangguran. Sedangkan penduduk usia kerja yang tidak
termasuk angkatan kerja mencakup penduduk yang bersekolah, mengurus rumah
tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya (BPS, 2007).
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) mengindikasikan besarnya
penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah.
TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja terhadap jumlah
penduduk usia kerja. Indikator ini menunjukkan besaran relatif dari pasokan
tenaga kerja (labor supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan
jasa dalam suatu perekonomian.
31
Tenaga kerja adalah salah satu dari faktor produksi yang penting, karena
produktivitas dari faktor produksi lain bergantung pada produktivitas tenaga kerja
dalam menghasilkan produksi. Selain itu, tenaga kerja adalah penggerak
pembangunan. Salah satu cara untuk meningkatkan output adalah dengan
memperbanyak tenaga kerja. Akan tetapi peningkatan jumlah tenaga kerja harus
diimbangi
dengan
peningkatan
jumlah
modal
dan
teknologi
sehingga
pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat. Salah satu indikator tenaga kerja
yang mencerminkan besarnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi
adalah menggunakan data TPAK.
2.3.5. Krisis Ekonomi
Krisis global yang terjadi pada September 2008, sedikit banyak membawa
pengaruh terhadap perekonomian dunia. Efek krisis yang sangat kuat dialami oleh
perekonomian Amerika, Eropa, Australia dan beberapa mitra dari ketiga benua
tersebut. Dengan adanya krisis, nilai tukar bisa melemah dan daya beli bisa
berkurang. Dalam penggunaan variabel dummy krisis, pada periode triwilan
pertama tahun 2000 sampai dengan triwulan kedua tahun 2008, nilai dummy
adalah 0, sedangkan setelah triwulan kedua tahun 2008 bernilai 1.
2.4.Kerangka Pemikiran
Pertumbuhan keterbukaan perdagangan yang tidak sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi Papua menjadi masalah yang harus dianalisis dengan
cermat. Apakah selama ini keterbukaan perdagangan yang dilakukan Papua
menguntungkan perekonomian Papua, ataukah malah merugikan. Untuk
32
menganalisis pengaruh keterbukaan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi
digunakan metode analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Hasil analisis
tersebut dapat digunakan sebagai rekomendasi bagi pemerintah Papua untuk
menentukan kebijakan keterbukaan perdagangan di masa yang akan datang.
Keterbukaan perdagangan dan
Pertumbuhan ekonomi Papua
Pertumbuhan keterbukaan perdagangan Papua
tidak diikuti oleh pertumbuhan ekonominya
Apakah ekspor bisa sebagai motor penggerak bagi
pertumbuhan ekonomi (export-led growth) ?
Keadaan Perekonomian,
ekspor dan impor
Analisis Deskriptif
Faktor-faktor pendukung
keterbukaan perdagangan :
- Ekspor riil
- Impor riil
- Nilai tukar riil
- Tingkat partisipasi angkatan
kerja
- Dummy krisis
Analisis Regresi Linier Berganda
Rekomendasi strategi keterbukaan perdagangan di
masa yang akan datang
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
Download

BAB II Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran