Persepsi terhadap Kompetensi Mengajar Guru dan Dukungan

advertisement
LATAR BELAKANG
Dunia pendidikan menjadi faktor kebutuhan yang
paling utama dalam kehidupan
karena bertujuan untuk
mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas
sumber daya manusia dibentuk melalui pendidikan yang
berkualitas. Generasi muda adalah sumber daya manusia yang
sangat diharapkan oleh setiap bangsa terutama bangsa
Indonesia. Berbagai upaya sedang dilaksanakan oleh bangsa
Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia
Indonesia.
Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang
sadar tujuan. Tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha
untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan siswa
setelah melaksanakan pengalaman belajar. Tercapai tidaknya
tujuan pengajaran salah satunya adalah terlihat dari motivasi
belajar yang dimiliki siswa. Dengan motivasi belajar yang
tinggi, para siswa mempunyai prestasi belajar yang baik
(Sadirman, 2004).
Berdasarkan wawancara dengan guru Bimbingan
Konseling SMPN 7 Salatiga pada tanggal 8 Januari 2014,
banyak siswa-siswi dari SMPN tersebut memiliki hasil belajar
yang kurang memuaskan. Guru Bimbingan Konseling
menyatakan bahwa banyak dari siswa-siswinya tersebut
memiliki sifat malas untuk belajar baik di dalam maupun di
luar kelas. Ketika berada di luar sekolah siswa-siswi ini
banyak yang tidak belajar kembali di rumah, orangtua
merekapun terkesan kurang memperdulikan apabila ditanya
85
karena mereka cenderung lebih banyak bekerja di luar rumah
dimana mayoritas pekerjaan dari orangtua siswa-siswi
tersebut
adalah
buruh.
Guru
bahasa
Indonesia
juga
menyatakan bahwa ketika menjelaskan suatu pelajaran di
kelas, hanya sedikit siswa yang memperhatikan sehingga
proses pembelajaran di kelas menjadi kurang efektif.
Salah
satu
faktor
yang
mempengaruhi
proses
pembelajaran siswa adalah motivasi belajar. Dengan adanya
motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan
memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar. Dorongan
motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu
dibangkitkan
dalam
upaya
pembelajaran
di
sekolah
(Sadirman, 2004).
Motivasi belajar (learning motivation) yaitu dorongan
seseorang untuk belajar sesuatu guna mencapai cita-cita
(Djamarah, 2002). Seseorang akan memiliki motivasi belajar
yang tinggi bila ia menyadari dan memahami tujuan yang
akan dicapainya dikemudian hari. Menurut Slameto (2010)
faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu faktor intern dan
faktor ekstern. Untuk faktor intern salah satunya yaitu adanya
motif yang kuat pada diri individu dan juga pengaruh
lingkungan yang kuat. Sedangkan untuk faktor ekstern yaitu
faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Faktor
keluarga bisa dilihat dari cara orang tua yang memperhatikan
pendidikan
anaknya
dengan
adanya
bimbingan
dan
penyuluhan yang akan menimbulkan motivasi pada anak.
Faktor sekolah mencakup metode pembelajaran, kurikulum,
86
relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran
dan waktu sekolah, keadaan gedung merupakan salah satu
yang mempengaruhi motivasi siswa.
Sedangkan faktor
masyarakat dilihat dari media massa yang memberikan beritaberita terkini.
Menurut Schiefelbaum dan Simmons (2002) faktor
keluarga sangat penting dalam menentukan keinginan yang
dicapai
oleh
siswa.
Castejon
dan
Perez
(1998),
mengemukakan bahwa persepsi anak tentang dukungan
keluarga secara langsung mempengaruhi kinerja si anak.
Kompenen keluarga merupakan komponen yang paling
mempengaruhi psikologis anak.
Dukungan keluarga terutama orang tua sangat
diperlukan dalam
motivasi
belajar, mengingat bahwa
dukungan keluarga sangat mempengaruhi psikologis anak.
Dukungan sosial orangtua pada siswa-siswi dapat
memberikan kesempatan untuk mengungkapkan keinginan
siswa-siswi dalam menentukan pilihan, memberikan perasaan
nyaman dan tenang pada diri siswa-siswi, membantu siswasiswi dalam memperoleh dukungan sosial, menciptakan peran
sebuah keluarga sebagai motivator dan fasilitator bagi siswasiswi dan bukan sebagai tekanan pada keinginan siswa-siswi
(Al-Mighwar, 2006). Dalam penelitian skripsi oleh Dian
Setyorini (2012) mengenai hubungan antara dukungan sosial
orangtua dengan motivasi belajar siswa SD Sidorejo Lor 1
Salatiga
didapatkan
hasil
penelitian
menunjukan
ada
hubungan positif signifikan antara dukungan sosial orangtua
87
dengan motivasi belajar siswa SD Sidorejo Lor 1 dengan r
=0,637 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05).
Selain peran keluarga yang penting dalam memotivasi
siswa-siswi, peran sekolah juga sangat dominan dalam
mempengaruhi motivasi belajar siswa karena sekolah
merupakan tempat dimana siswa melaksanakan proses
pembelajaran secara formal. Salah satu faktor yang sering
dianggap menurunkan motivasi siswa untuk belajar di sekolah
adalah
materi
pelajaran
itu
sendiri
dan
guru
yang
menyampaikan materi pelajaran itu. Mengenai materi
pelajaran sering dikeluhkan oleh para siswa sebagai sesuatu
yang membosankan, terlalu sulit, tidak ada manfaatnya untuk
kehidupan sehari-hari, terlalu banyak bahannya untuk waktu
yang terbatas, dan sebagainya. Akan tetapi, hal yang lebih
utama dari faktor materi pelajaran sebenarnya adalah faktor
guru. Keadaan guru sebagai salah satu faktor di dalam
lingkungan sekolah yang turut mempengaruhi minat belajar
menjadi sangat penting tatkala motivasi siswa dapat muncul
atas
dasar
ketertarikan.
Kemampuan
guru
dalam
meningkatkan ketertarikan siswa sangat penting dan besar
pengaruhnya (Sarwono, 1989). Penelitian Annisa dan Filia
(2005) menunjukkan adanya hubungan positif antara persepsi
tentang kompetensi professional guru matematika dengan
motivasi belajar matematika pada siswa kelas 1 SMA Negeri
1 Medan dengan r=0,244 dan p=0,004 (p<0,05).
Guru merupakan salah satu unsur yang menentukan
dalam keberhasilan suatu pembelajaran, maka untuk dapat
88
mengajar dan menjalankan fungsinya dengan baik guru harus
memiliki kompetensi yang tinggi. Komponen kompetensi
guru meliputi empat hal seperti yang dikemukakan Saragih
(2008) yaitu kompetensi guru pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi
kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.
Penguasaan kompetensi yang tinggi tersebut dapat membantu
guru agar lebih profesional dalam melakukan pekerjaannya.
McCombs (dalam Santrock, 2004) menemukan bahwa
siswa yang merasa didukung dan diperhatikan oleh guru lebih
termotivasi untuk melakukan kegiatan akademik daripada
siswa yang tidak didukung dan diperhatikan gurunya. Hal ini
terkait
dengan
persepsi
siswa
terhadap
kompetensi
profesional gurunya.
Persepsi menurut Irwanto, Elia, Hadisoepandma,
Priyani, Wisimanto & Fernandas (1996) adalah proses
diterimanya rangsang (obyek, kualitas, hubungan antar gejala,
maupun peristiwa) sampai rangsang itu disadari dan
dimengerti.
Proses
penerimaaan
rangsang
ini
disebut
penginderaan (sensation). Tetapi pengertian kita akan
lingkungan atau dunia sekitar kita bukan sekedar hasil
penginderaan itu. Ada unsur interpretasi terhadap rangsangrangsang yang diterima, yang kemudian menjadikan kita
subyek dari pengalaman kita sendiri. Rangsang-rangsang
yang diterima inilah yang menyebabkan kita mempunyai
suatu pengertian terhadap lingkungan. Apa yang dilihat dan
dialami oleh pancaindra seseorang akan berpengamh kepada
89
persepsinya tentang sesuatu dan juga akan mempengaruhi
tindakannya.
Siswa menerima rangsang-rangsang atau stimulusstimulus
berupa
dilakukannya,
guru
yang
dan
proses
selanjutnya
pengajaran
diinterpretasikan
yang
dan
dipahami siswa sebagai suatu pengalaman belajar yang
memberikan efek positif maupun negative bagi dirinya. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan Winkel (1996), bahwa
setiap siswa yang memandang belajar di sekolah pada
umumnya, atau pada bidang studi tertentu, sebagai sesuatu
yang bermanfaat baginya, akan memberikan penilaian yang
positif terhadap semua aspek yang berkaitan dengan hal
tersebut. Berdasarkan permasalahan di atas peneliti ingin
meneliti apakah persepsi terhadap kompetensi mengajar guru
dan dukungan sosial orangtua mempengaruhi motivasi belajar
siswa SMPN 7 Salatiga.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah memberikan
sumbangan ilmiah pada pengembangan psikologi pendidikan
khususnya tentang masalah persepsi terhadap kompetensi
mengajar guru dan dukungan sosial orangtua sebagai
prediktor motivasi belajar siswa. Manfaat praktis dari
penelitian ini adalah : Bagi subjek, hasil penelitian dapat
memberikan informasi tentang keterkaitan antara persepsi
terhadap kompetensi mengajar guru dan dukungan sosial
orangtua dengan motivasi belajar. Bagi orangtua, secara tidak
90
langsung dapat dimanfaatkan sebagai panduan dalam memacu
motivasi belajar anak dengan memberikan dukungan sosial
sehingga anak dapat berprestasi secara optimal. Bagi pihak
sekolah diharapkan dapat memberikan informasi kepada
siswa dan orangtuanya serta memberikan penyuluhan
mengenai pentingnya motivasi belajar melalui dukungan
sosial orangtua dan juga melalui guru-guru yang ada di
sekolah.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Motivasi Belajar
Motif merupakan dorongan dalam diri manusia yang timbul
dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi
oleh manusia tersebut. Motif berasal dari bahasa latin movere
yang berarti bergerak. Karena itu motif diartikan sebagai
kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong
untuk berbuat. Motif sebagai pendorong sangat terikat dengan
faktor - faktor lain, yang disebut dengan motivasi (Walgito,
2010). Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri
(pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan
reaksi untuk mencapai tujuan (Donald, 1950). Motivasi adalah
suatu
proses
untuk
menggiatkan
motif-motif
menjadi
perbuatan/tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai
tujuan/keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong
tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan
(Usman, 2000).
91
Aspek-aspek motivasi belajar
Aspek-aspek motivasi belajar
untuk siswa SMP menurut
Pintrich & Groot (1990) (dalam Wang, 2012) adalah :
a. Learning strategies yaitu strategi belajar yang dimiliki
individu.
a. Self Efficacy yaitu ada tidaknya harga diri untuk belajar
dan bekerja.
b. Intrinsic Value yaitu ada tidaknya orientasi tujuan dari
dalam diri individu.
c. Test Anxiety yaitu ada tidaknya kecemasan saat
mengikuti tes.
d. Lack of Learning Self Regulation yaitu cara mengatur diri
dalam belajar.
Pengertian Dukungan Sosial Orangtua
Dukungan sosial sebagai konsep yang menunjuk pada
hubungan
interpersonal
yang
melindungi
orang-orang
terhadap konsekuensi negatif dari stress dan dianggap
sebagai satu diantara fungsi pertalian atau ikatan sosial
(Rook, 1994). Dukungan sosial yang terdiri dari informasi
atau nasehat verbal atau non verbal yang berupa bantuan
nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial
didapat dari kehadiran mereka dan mempunyai manfaat
emosioanal atau efek perilaku bagi pihak penerima (Gottlieb,
1994).
Dukungan sosial menurut Sarafino (2006) adalah
perasaan kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan
yang diterima dari orang atau kelompok lain. Sarafino
92
menambahkan bahwa orang-orang yang menerima dukungan
sosial memiliki keyakinan bahwa mereka dicintai, bernilai,
dan merupakan bagian dari kelompok yang dapat menolong
mereka ketika membutuhkan bantuan. Berdasarkan berbagai
definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan social
adalah segala bentuk bantuan yang diberikan pada individu
berupa kenyaman, perhatian, penghargaan, yang dirasakan
individu dapat memberi efek positif bagi dirinya yang
diperolehnya
melalui
interaksi
dengan
individu
atau
kelompok lain.
Orangtua kandung adalah orangtua biologis dari
seorang
anak,
baik
pria
atau
wanita,
dan
tanpa
mempedulikan apakah orang tua anak telah menikah satu
sama lain, atau sebagaimana ditunjukkan sebagai orangtua
anak dalam akte kelahirannya (Aji,2009).
Berdasarkan uraian di atas, dukungan sosial orangtua
yaitu suatu kesenangan, perhatian, penghargaan atau
pertolongan yang terdiri dari informasi atau nasehat
berbentuk verbal atau non-verbal, baik secara emosional,
penghargaan, dan materi dari orangtua yang diterima oleh
anaknya.
2.Aspek-aspek Dukungan Sosial Orangtua
Weiss (dalam Cutrona, 1986) mengembangkan Social
Provisions Scale untuk mengukur ketersediaan dukungan sosial
93
yang diperoleh dari hubungan individu dengan orang lain.
Terdapat enam aspek di dalamnya, yaitu :
a. Attachment (kasih sayang/kelekatan) merupakan perasaan
akan kedekatan emosional dan rasa aman, meliputi
merasakan
kedekatan
emosional
dengan
orangtua,
merasakan perasaan aman dan terlindung.
b. Social integration (integrasi sosial) merupakan perasaan
menjadi bagian dari keluarga, tempat orangtua berada dan
tempat saling berbagi minat dan aktivitas, meliputi
mempunyai
kesempatan
untuk
berbagi
minat
dan
kesenangan dengan orangtua dan mempunyai kesempatan
untuk melakukan aktivitas bersama orangtua.
c. Reasurance of worth (penghargaan/pengakuan) merupakan
pengakuan akan kompetensi dan kemampuan anak, meliputi
penghargaan yang dirasakan dari orangtua, mendapatkan
persetujuan terhadap ide dan pendapat, mendapatkan
dorongan semangat dari orangtua, dan mendapatkan
perbandingan positif dari pihak lain.
d. Reliable alliance (ikatan/hubungan yang dapat diandalkan)
merupakan kepastian atau jaminan bahwa anak dapat
mengharapkan orangtua untuk membantu dalam semua
keadaan, meliputi mendapatkan kesempatan untuk berbagi
cerita suka dan duka dengan orangtua dan mendapatkan
bantuan dalam bentuk apapun dari orangtua tanpa meminta.
e. Guidance (bimbingan) merupakan nasehat dan pemberian
informasi oleh orangtua kepada anak, meliputi mendapatkan
nasehat/saran
dari
orangtua,
94
mendapatkan
penjelasan/informasi dari orangtua, dan mendapatkan
umpan balik dari orangtua atas perilaku atau pendapat yang
disampaikan.
f. Opportunity
for
nurturance
(kemungkinan
dibantu)
merupakan perasaan anak akan tanggungjawab orangtua
terhadap kesejahteraan anak, meliputi pemenuhan kebutuhan
sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan
belajar.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan aspek-aspek
dukungan social yang disebutkan oleh Weiss (dalam
Cutrona, 1986) yaitu Attachment, Social Integration,
Reassurance of Worth, Reliable Alliance, Guidance, dan
Opportunity for Nurturance. Alasan peneliti menggunakan
teori Weiss (dalam Cutrona, 1986) karena aspek-aspek
tersebut lebih lengkap jika dibandingkan dengan teori yang
lain dan telah dikelompokkan ke dalam beberapa bagian
sehingga tidak menimbulkan kerancuan.
3. Bentuk-bentuk Dukungan Sosial
Menurut House (dalam Weiten, 1992), bentuk-bentuk
dukungan sosial adalah :
a. Emotional Support
Individu membutuhkan simpati, cinta, kepercayaan serta
kebutuhan didengarkan. Individu dapat merasakan bahwa
orang di sekitarnya memberikan perhatian pada dirinya,
mendengarkan, simpati terhadap masalah pribadi maupun
pekerjaan.
95
b. Appraisal Support
Penilaian terhadap individu dengan cara memberi
penghargaan atau memberi penilaian yang mendukung
pekerjaan, prestasi, dan perilaku seseorang dalam
peranan sosial dan memberikan feedback yang saling
tergantung.
c. Informational Support
Menyediakan informasi yang berguna bagi seseorang
untuk mengatasi persoalan pribadi maupun pekerjaan.
Informasi ini dapat berupa nasehat, pengarahan, dan
informasi lain yang sesuai dengan kebutuhan.
d. Instrumental Support
Dukungan instrument juga disebut dukungan nyata atau
dukungan secara materi, seperti bantuan pinjaman uang,
transportasi, membantu pekerjaan tugas, meluangkan
waktu dan lain-lain.
4.Dampak dari Dukungan Sosial
a. Dampak Positif
Dampak positif dari dukungan sosial oleh House (dalam
Smet, 1994) dibagi menjadi 3 kategori :
1) Tangiable assistance adalah pemberian dukungan
material, dimana anak mendapatkan dukungan dalam
bentuk material secara nyata dari orangtua.
2) Information adalah pemberian informasi yang berguna
bagi dirinya dari orangtua.
96
3) Emotional support adalah pemberian dukungan emosi.
Anak mendapatkan dukungan emosional dari orangtua,
misalnya dalam bentuk kepedulian yang dapat diberikan
dengan perhatian dan memberikan semangat.
b. Dampak negatif
Dampak negatif dari dukungan sosial oleh Sarafino
(dalam Maulia, 2006) adalah :
1) Dukungan yang tersedia tidak dianggap sebagai sesuatu
yang membantu. Hal ini dapat terjadi karena dukungan
yang diberikan tidak cukup, individu merasa tidak perlu
dibantu atau terlalu khawatir secara emosional sehingga
tidak memperhatikan dukungan yang diberikan.
2) Dukungan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang
dibutuhkan individu.
3) Sumber dukungan memberikan contoh buruk pada
individu, seperti melakukan atau menyarankan perilaku
tidak sehat.
4) Terlalu menjaga atau tidak mendukung individu dalam
melakukan sesuatu yang diinginkannya.
Pengertian Persepsi Terhadap Kompetensi Mengajar
Guru
Gibson
Manajemen
(1989)
Perilaku,
dalam
buku
Struktur;
Organisasi
memberikan
Dan
definisi
persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh
individu
untuk
menafsirkan
97
dan
memahami
dunia
sekitarnya
terhadap obyek.
Gibson juga menjelaskan
bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap
lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu
memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun
objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali
lebih penting daripada situasi itu sendiri.
Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru
dan dosen menyatakan guru adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal
pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengertian
guru diperluas menjadi pendidik yang dibutuhkan secara
dikotomis tentang pendidikan..
Menurut
Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia,
keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan
tugas, sedangkan mengajar adalah melatih. DeQueliy dan
Gazali (dalam Slameto, 2010) mendefinisikan mengajar
adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan
cara paling singkat dan tepat.
Berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud
dengan kompetensi mengajar guru adalah seperangkat
kemampuan/kecakapan guru dalam melatih/membimbing
aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya
berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan.
Jadi, persepsi siswa tentang kompetensi mengajar guru
adalah penilaian berupa tanggapan/pendapat siswa terhadap
98
kemampuan/kecakapan guru dalam proses kegiatan belajar
mengajar.
Faktor-faktor
yang
Mempengaruhi
Kompetensi
Mengajar Guru
Faktor-faktor kompetensi mengajar guru menurut
Irawan (2011) :
a. Profesional
Pada aspek ini, guru dituntut untuk menguasai materi
pelajaran sesuai yang dikehendaki dan diamanatkan oleh
kurikulum, berkaitan dengan bidang yang digelutinya dan
sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
b. Sosial
Sering dan tidaknya guru diberi tugas di sekolah yang
tercermin pada banyak dan tidaknya SK penugasan
kepala sekolah pada guru tersebut, bagaimana peran guru
di lingkungan tempat tinggalnya.
c. Kepribadian
Seorang guru tidak lepas dari kepemilikan kemantapan
dan kematangan kepribadian.
d. Karya Ilmiah
Karya Ilmiah adalah faktor penting yang harus ada
dalam seleksi guru berprestasi. Karya ilmiah ini dapat
berupa laporan penelitian, makalah seminar atau
simposium , dan artikel jurnal.
99
Aspek-aspek Kompetensi Mengajar Guru
Aspek kompetensi mengajar guru menurut Suharsaputra
(2013) terdiri dari :
a. Kemampuan menyusun rencana, guru mampu untuk
merencanakan
suatu program yaitu :
1) Mampu mendeskripsikan tujuan pembelajaran, guru
mampu
menjelaskan
hasil
akhir
dari
proses
pembelajaran.
2) Mampu memilih/menentukan materi, guru mampu
menentukan materi yang tepat untuk pembelajaran.
3) Mampu
mengorganisir
materi,
guru
mampu
menyusun materi dengan baik.
4) Mampu menentukan metode/strategi pembelajaran,
guru mampu memilih strategi pembelajaran yang
tepat dan efisien.
5) Mampu menentukan media/alat pembelajaran, guru
mampu memilih sarana dan prasarana pembelajaran
yang tepat dan menarik.
b. Kemampuan pelaksanaan pembelajaran, guru mampu
melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik
yaitu :
1) Mampu membuka pelajaran, guru mampu membuka
pelajaran dengan baik.
2) Mampu menyajikan materi, guru mampu menjelaskan
materi dengan tepat.
3) Mampu menggunakan metode/strategi, guru mampu
menerapkan metode pembelajaran secara tepat.
100
4) Mampu menggunakan alat peraga, guru mampu
menggunakan alat bantu untuk menjelaskan materi.
5) Mampu menggunakan bahasa yang komunikatif, guru
mampu memakai bahasa yang dapat mengajak siswa
aktif dalam proses pembelajaran.
6) Mampu memotivasi siswa, guru mampu memotivasi
siswa
7) Mampu berinteraksi denga siswa secara komunikatif,
guru mampu menjalin hubungan baik dengan siswa.
8) Mampu mengalokasikan waktu secara tepat, Guru
mampu memanfaatkan waktu dengan baik.
c. Kemampuan mengadakan evaluasi pembelajaran dan
tindak lanjut,guru mampu menilai hasil dari proses
belajar mengajar dan menentukan langkah yang tepat
untuk meningkatkan proses belajar mengajar ke arah
yang lebih baik yaitu :
1) Mampu mengadakan diskusi dengan siswa, guru
mampu berdiskusi dengan siswa.
2) Mampu menyimpulkan pembelajaran, guru mampu
menyimpulkan materi pembelajaran.
3) Memberikan
memberikan
soal/permasalahan,
soal
yang
guru
mampu
sesuai
dengan
tujuan
penilaian,
guru
mampu
pembelajaran
4) Mampu
melaksanakan
melaksanakan penilaian
101
5) Mampu memberikan umpan balik, guru mampu
memberikan umpan balik dari pembelajaran yang
telah dilakukan.
Persepsi Terhadap Kompetensi Mengajar Guru dan
Dukungan Sosial Orangtua sebagai Prediktor Motivasi
Belajar
Menurut Joni (dalam Alfiyah, 1998) guru sesuai
dengan tugasnya adalah sebagai fasilitator dan motivator serta
sekaligus inspirator dalam kelas. Hal ini menunjukkan
pentingnya peranan guru dalam menumbuhkan motivasi dalam
belajar siswa. Guru sebagai fasilitator, ia harus dapat
memberikan berbagai kemudahan petunjuk, bantuan, dorongan
kepada siswa, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Memberikan petunjuk belajar atau mengarahkan bagaimana
agar siswa dapat belajar dengan mudah, dan sekaligus
memberikan dorongan yang dibutuhkan siswa. Setiap siswa
harus dapat dibuat senang, baik dalam mengikuti pelajaran
maupun bergaul.
Guru sebagai pengajar juga perlu memilki kompetensi
dalam melaksanakan tugas- tugas kependidikannya. Guru yang
berkompeten akan mentransfer pengetahuan dan mendidik
serta membimbing siswa dalam proses belajar mengajar. Hal
ini dilakukan untuk membangkitkan semangat siswa untuk
lebih berprestasi dalam belajar. Untuk itu diperlukan guru yang
berkompeten yang bisa menguasai kelas dan siswanya.
Timbulnya motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh adanya
102
persepsi siswa terhadap kompetensi guru. Kompetensi guru
bisa dijadikan sebagai stimulus yang menghendaki adanya
respons pada diri siswa apakah siswa tersebut akan menyikapi
sebagai hal yang positif atau menyikapi sebagai hal yang
negatif. Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
secara konseptual adanya hubungan antara persepsi siswa
tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar siswa
(Suharsaputra, 2010).
Berdasarkan penelitian korelasional yang bertujuan
untuk mengetahui hubungan persepsi tentang keterampilan
guru mengajar dengan motivasi belajar siswa kelas akselerasi
untuk mata pelajaran sosiologi di SMA Swasta Al-Azhar
Medan menunjukkan bahwa dilihat dari aspek keterampilan
guru mengajar, motivasi belajar siswa rendah pada mata
pelajaran sosiologi walaupun kriteria kemampuan guru
mengajar
sama
(Damanik,
2010).
Jika
diasumsikan
kemampuan guru mengajar sudah relatif baik, maka hal yang
mungkin berkaitan dengan motivasi belajar siswa adalah
persepsi siswa tentang kemampuan guru mengajar yang
tampak pada keterampilan guru mengajar.
Motivasi belajar siswa adalah keterlibatan siswa dalam
aktivitas belajar untuk mendapatkan imbalan dan menghindari
hukuman (ekstrinsik), serta karena keinginan dan tanggung
jawab personal, dan untuk menghadapi tantangan (intrinsik).
Persepsi tentang keterampilan guru mengajar yaitu adanya
proses kognisi, afeksi, interpretasi, dan evaluasi siswa
mengenai keterampilan guru melaksanakan pembelajaran yang
103
meliputi mengulas pembelajaran sebelumnya, memberikan
materi baru, memberikan latihan dengan bimbingan guru,
memberikan umpan balik (feedback), memberikan latihan
mandiri, dan mengulas kembali materi yang telah diajarkan
secara berkala. Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas
akselerasi SMA Swasta Al-Azhar Medan tahun ajaran
2009/2010, yaitu sebanyak 34 siswa. Hipotesis penelitian ini
adalah terdapat hubungan antara persepsi tentang keterampilan
guru mengajar dengan motivasi belajar, baik ekstrinsik
mauipun intrinsik. Pembuatan alat ukur dan analisa data pada
variabel motivasi belajar dilakukan secara terpisah antara
motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik karena berdasarkan
teori Santrock (2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara persepsi tentang
keterampilan guru mengajar dengan motivasi belajar pada
siswa kelas akselerasi untuk mata pelajaran sosiologi di SMA
Swasta Al-Azhar Medan dengan r=0,42 dan signifikansi=0,01
(p<0,05) (Damanik, 2010).
Dukungan
diperlukan
dalam
keluarga
terutama
motivasi
belajar,
orang
tua
sangat
mengingat
bahwa
dukungan keluarga sangat mempengaruhi psikologis anak.
Dalam hal ini komunikasi sangat diperlukan oleh anak dan
keluarga dalam menumbuhkan motivasi anak untuk mencapai
tujuan atau sesuatu yang diinginkannya termasuk anak ingin
melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan sesuai dengan
cita-citanya (Sukmadinata, 2011). Siswa dengan dukungan
104
social yang tinggi akan mempunyai pikiran yang lebih positif
terhadap situasi yang sulit.
Menurut Santrock (2003), keluarga merupakan pilar
utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
Dukungan yang paling besar di dalam lingkungan rumah
adalah bersumber dari orang tua. Orangtua diharapkan dapat
memberikan
kesempatan
mengembangkan
pada
kemampuan
anak
yang
agar
dapat
dimilikinya,
belajar
mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang
ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala
perbuatannya. Hal ini dapat membentuk anak mengalami
perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada
orang tua menjadi mandiri.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Swan & Shea,
2005;
Garton,
Haythornthwaite,
&
Wellman,
1997;
Haythornthwaite, 1996; Haythornthwaite, 1998 (dalam Corey,
2007) bahwa salah satu komponen penting yang berpengaruh
terhadap kemandirian belajar adalah perkembangan komunitas
tempat siswa belajar dan berkembang. Selain itu menurut
Bandura (1997), selain faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap kemandirian dalam belajar, ada lagi faktor yang
mempengaruhi, yaitu faktor kepribadian siswa, atribut personal
(seperti pengetahuan, kesiapan, nilai, locus of control) dan
atribut perilaku seperti ketrampilan serta motivasi pada diri
siswa.
Dalam mengembangkan motivasi pada diri siswa,
peran orangtua merupakan hal yang penting. Persepsi anak
105
terhadap dukungan orangtua dan harapan anak terhadap
orangtua dapat berfungsi sebagai motivator positif bagi pelajar
(Ethington,
1991).
Rasa
percaya
orangtua
terhadap
kemampuan akademis anak, mengarahkan anak agar mandiri,
memberikan
penguat
bagi
perilaku
berprestasi,
serta
keterlibatan di dalam pembelajaran anak dapat memunculkan
persepsi diri positif dan motivasi akademis (Eccles, Wigfiled
&, 1998 ; Gonzalez-DeHass, Wiwms, & Holbein, 2005).
Selain itu menurut Lamborn dan Steinberg (1993) dukungan
yang suportif dari orangtua dapat dihubungkan dengan
motivasi anak dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan
penelitian
Dian
(2012)
mengenai
hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan motivasi
belajar siswa SD Sidorejo Lor 1 Salatiga menunjukan ada
hubungan positif signifikan antara dukungan sosial orangtua
dengan motivasi belajar siswa SD Sidorejo Lor 1 Salatiga.
Dalam penelitian ini menggunakan teknik saturation sampling
dengan subjek penelitian 120 siswa-siswi SD Sidorejo Lor 1
Salatiga.
Variabel
dukungan
sosial
diukur
dengan
menggunakan skala dukungan sosial orangtua yang berjumlah
30 item dan variabel motivasi belajar diukur dengan
menggunakan skala motivasi belajar yang terdiri dari 28 item.
Analisis data dengan menggunakan teknik analisis korelasi
Pearson Product Moment dan diperoleh r =0,637 dengan
signifikansi 0,000 (p<0,05).
106
Hipotesis
1. Ada korelasi positif signifikan antara kompetensi mengajar
guru terhadap motivasi belajar.
2. Ada korelasi positif signifikan antara dukungan sosial
terhadap motivasi belajar.
3. Persepsi terhadap kompetensi mengajar guru dan dukungan
sosial orangtua sebagai prediktor yang signifikan terhadap
motivasi belajar.
METODOLOGI PENELITIAN
Variabel Penelitian
Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini yaitu Variabel
bebas (Persepsi terhadap kompetensi mengajar guru dan
Dukungan sosial orangtua) serta Variabel terikat (Motivasi
belajar siswa). Kompetensi mengajar guru diukur dengan
menggunakan skala Kompetensi Guru dalam Proses Belajar.
Dukungan sosial orangtua diukur dengan menggunakan Social
Provisions Scale yang disusun berdasarkan aspek-aspek
dukungan sosial yang dikemukakan oleh Weiss (dalam
Russell & Cutrona, 1984). Motivasi belajar siswa diukur
dengan menggunakan Motivated Strategies for Learning
Questionnaire (MSLQ) for Junior High School yang disusun
berdasarkan aspek-aspek motivasi belajar yang dikemukakan
oleh Pintrich & Groot (dalam Wang, 2012).
107
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
menggunakan sakala pengukuran psikologi, yang terdiri dari 3
skala. Item dalam skala-skala tersebut dikelompokkan dalam
pernyataan favorable dan unfavorable dengan menggunakan 4
alternatif jawaban dari skala Likert yang telah dimodifikasi
yaitu, Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan
Sangat Tidak Sesuai (STS). Keseluruhan data diperoleh dari
skala psikologi yang telah dibagikan kepada subjek.
Hasil Seleksi Item dan Reliabilitas Alat Ukur
1. Persepsi Kompetensi Guru
Berdasarkan pada perhitungan uji seleksi item dan
reliabilitas skala pada pengujian ketiga (lampiran C)
didapatkan koefisien reliabilitas
yaitu sebesar 0,805
dengan minimal indeks daya diskriminan item sebesar 0,
25.
2. Dukungan Sosial Orangtua
Sedangkan pada pengujian ketiga (lampiran C)
didapatkan koefisien reliabilitas
yaitu sebesar 0,820
dengan minimal indeks daya diskriminan item sebesar 0,
25.
3. Motivasi Belajar
Pada putaran kedua, hasil pengujian reliabilitas skala
mengalami perubahan menjadi 0,810 dengan minimal indeks
daya diskriminan item sebesar 0, 25
108
Analisis Data
Teknik yang digunakan untuk menguji hubungan antara
ketiga variabel penelitian adalah regresi berganda. Dalam
penelitian ini, analisis data akan dilakukan dengan bantuan
program khusus komputer statistik yaitu SPSS version 16.0
for windows.
HASIL PENELITIAN
Hasil Uji Regresi Berganda Signifikansi Nilai F
b
ANOVA
ANOVAb
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
513.009
2
256.504
Residual
1966.434
67
29.350
Total
2479.443
69
a. Predictors: (Constant), PERSEPSI, DUKUNGAN
b. Dependent Variable: MOTIVASI
109
F
8.740
Sig.
.000
a
Berdasarkan tabel anova, diperoleh nilai Fhitung sebesar 8.740
dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p<0.05) yang berarti ada
pengaruh yang signifikan persepsi terhadap kompetensi mengajar
guru dan dukungan social orangtua terhadap motivasi belajar.
Hasil Uji Regresi Berganda Nilai Koefisien Beta dan
Nilai t Variabel Independent Terhadap Variabel Dependent
Coefficients
a
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
Coefficients
Std. Error
(Constant)
21.143
9.301
DUKUNGAN
.117
.125
PERSEPSI
1.036
.259
Beta
T
Sig.
2.273
.026
.102
.937
.035
.437
4.007
.000
a. Dependent Variable: MOTIV
Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi sebagai
berikut:
Y+ 0.437 X1 = 0.102 X2
Keterangan:
1. Konstanta sebesar 21.143 mengandung arti bahwa jika
variabel independen dianggap konstan, maka nilai
motivasi belajar sebesar 21.143.
110
2. Koefisien regresi persepsi kompetensi mengajar guru
sebesar 0.437 memberikan pemahaman bahwa setiap
penambahan satu satuan atau satu tingkatan persepsi
kompetensi
mengajar
guru
akan
berdampak
pada
meningkatnya motivasi belajar belajar sebesar 0.437
satuan.
3. Koefisien regresi dukungan social orangtua 0.102
memberikan pemahaman bahwa setiap penambahan satu
satuan atau tingkat dukungan social orangtua akan
berdampak pada meningkatnya motivasi belajar sebesar
0.102 satuan.
Pembahasan
Berdasarkan
penelitian
mengenai
persepsi
terhadap
kompetensi mengajar guru dan dukung social orangtua
sebagai predictor motivasi belajar siswa SMP Negeri 7
Salatiga, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang
positif signifikan antara persepsi terhadap kompetensi
mengajar guru dan dukungan social orangtua dengan motivasi
belajar.
Hasil pengukuran diatas membuktikan bahwa hipotesis
yang menyatakan bahwa persepsi terhadap kompetensi
mengajar guru dan dukung social orangtua sebagai predictor
motivasi belajar siswa SMP Negeri 7 diterima. Hal ini terlihat
dari Nilai nilai F sebesar 8,740 pada taraf signifikansi 0.000
(p<0.05). kedua variabel memberikan sumbangan efektif
sebesar 20.7% yang berarti 20.7% dari variasi yang terjadi
111
pada variabel motivasi belajar dapat dijelaskan oleh variasi
dari variabel persepsi terhadap kompetensi mengajar guru dan
variabel dukungan social orangtua.
Salah
satu
faktor
yang
mempengaruhi
proses
pembelajaran siswa adalah motivasi belajar. Dengan adanya
motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan
memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar. Dorongan
motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu
dibangkitkan
dalam
upaya
pembelajaran
di
sekolah
(Sadirman, 2004).
Motivasi belajar (learning motivation) yaitu dorongan
seseorang untuk belajar sesuatu guna mencapai cita-cita
(Djamarah, 2002). Seseorang akan memiliki motivasi belajar
yang tinggi bila ia menyadari dan memahami tujuan yang
akan dicapainya dikemudian hari. Bila seseorang memahami
cita-citanya secara baik, maka ia akan terdorong untuk
semakin giat dalam belajar. Dalam proses belajar, motivasi
sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melaksanakan
aktivitas belajar. Motivasi diperlukan dalam menentukan
intensitas usaha belajar bagi para siswa. Menurut Djamarah
(2002) ada tiga fungsi motivasi yaitu motivasi sebagai
pendorong perbuatan yang berfungsi sebagai pendorong
untuk mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik
ambil dalam rangka belajar, motivasi juga sebagai penggerak
perbuatan dimana dorongan psikologis melahirkan sikap
terhadap anak didik yang merupakan suatu kekuatan yang tak
112
terbendung yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan
psikofisik serta motivasi sebagai pengarah perbuatan dimana
anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana
perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang
diabaikan.
Menurut Slameto (2010) faktor yang mempengaruhi
motivasi yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Untuk faktor
intern salah satunya yaitu adanya motif yang kuat pada diri
individu dan juga pengaruh lingkungan yang kuat. Sedangkan
untuk faktor ekstern yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan
faktor masyarakat. Faktor keluarga bisa dilihat dari cara orang
tua yang memperhatikan pendidikan anaknya dengan adanya
bimbingan dan penyuluhan yang akan menimbulkan motivasi
pada anak. Faktor sekolah mencakup metode pembelajaran,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan
siswa, pelajaran dan waktu sekolah, keadaan gedung
merupakan salah satu yang mempengaruhi motivasi siswa.
Sedangkan faktor masyarakat dilihat dari media massa yang
memberikan berita-berita terkini..
Dari uraian di atas, penulis dapat mengatakan bahwa
semakin tinggi dukungan social orangtua yang ada pada diri
siswa, maka tinggi pula mtivasi belajarnya, sehingga hasil
belajar yang mereka peroleh juga
akan maksimal. Hal
tersebut dikarenakan para siswa-siswi SMP Negeri 7 Salatiga
mampu memotivasi diri mereka untuk belajar apabila
didukung oleh orangtua. Selain itu, persepsi siswa terhadap
113
kompetensi
mengajar
guru
mempengaruhi
motivasi
belajarnya.
Banyak faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya
keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, motivasi belajar
merupakan salah satu faktor pendukung dari semua faktor
yang memengaruhi tinggi rendahnya keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran. Faktor lain di luar dukungan social
orangtua yang dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar,
seperti faktor dari lingkungan misalnya pendampingan dari
pihak Guru kepada siswa dan pengaruh dari siswa yang lain
(Winkel, 2009).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
persepsi terhadap kompetensi mengajar guru dan dukungan
social orangtua memberikan kontribusi terhadap motivasi
belajar, sehingga nampak jelas bahwa persepsi terhadap
kompetensi mengajar guru dan dukungan social orangtua
mempunyai hubungan positif dengan motivasi belajar.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai persepsi terhadap
kompetensi mengajar guru dan dukungan sosial orangtua sebagai
prediktor motivasi belajar pada siswa SMP Negeri 7 Salatiga,
diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan uraian dan
hasil analisis statistik dalam bab sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa persepsi terhadap kompetensi mengajar guru
dan dukungan social orangtua dapat dijadikan sebagai prediktor
terhadap motivasi belajar siswa SMPN 7 Salatiga. Sebagian besar
114
subjek (50%) memiliki tingkat persepsi terhadap kompetensi
mengajar guru berada pada kategori tinggi, sebagian besar subjek
(58,57%) memiliki tingkat dukungan social orangtua berada pada
kategori tinggi dan sebagian besar subjek (60%) memiliki tingkat
motivasi belajar berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka penulis
menyarankan hal-hal sebagai berikut:
Bagi siswa siswi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
motivasi belajar berada pada kategori tinggi. Para siswa
disarankan dapat mempertahankan bahkan bisa mengembangkan
lagi motivasi belajarnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu dengan terus
mengembangkan kemampuan yang ada pada diri siswa.
Bagi sekolah dan guru. Di sekolah, guru yang memegang peranan
penting dalam mendidik para siswa. Maka kepada pihak sekolah
khususnya guru sebagai seorang fasilitator di sekolah, disarankan
lebih meningkatkan kualitas mendidik dan mengajar siswa,
sehingga siswa mampu meningkatkan motivasi belajarnya agar
lebih maksimal dalam proses pembelajaran
Bagi peneliti selanjutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa masih ada faktor lain di luar persepsi kompetensi mengajar
guru dan dukungan sosial orangtua yang memengaruhi motivasi
belajar. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih
lanjut penelitian ini dengan mengembangkan variabel-variabel
lain yang dapat digunakan, sehingga terungkap faktor-faktor yang
memengaruhi motivasi belajar siswa seperti pendampingan dari
115
pihak guru kepada siswa, relasi siswa dengan siswa, inteligensi,
bakat, kematangan, latar belakang kebudayaan, kurikulum,
keadaan sekolah, dan teman bergaul. Selain itu, penulis
menyadari bahwa dalam penelitian ini terdapat kelemahan dari
penelitian yang dilakukan oleh penulis seperti penentuan sampel
yang tidak maksimal karena dalam wawancara awal yang
dilakukan oleh penulis dengan pihak sekolah, yang dimana
didapati bahwa motivasi belajar itu kurang secara keseluruhan
dari kelas VII sampai dengan kelas IX, sehingga penentuan
sampelnya diwakilkan hanya kelas VIII dan kelas IX, sehingga
nampak motivasi belajar kelas VII dalam penelitian ini tidak ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abrror, A.R. (1998). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Tiara
Wacana
Anni. (2006). Psikologi Belajar. Semarang: UNNES Press
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan
praktek. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, S. (2012). Penyusunan skala psikologi. Edisi 2.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
116
Cozby, P. C. (2009). Methods in behavioral research.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Cutrona & Russell. (1987). The Provisions of Social
Relationships and Adaptation to Stress. Washington, DC:
JAI Press Inc.
Danin, S. (2011). Perkembangan peserta didik. Edisi Kedua.
Jakarta: Alfabeta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2003). Undangundang Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional. Diakses pada tanggal 28
Agustus 2013 dari www.Inherentdikti.net/files/sisdiknas.pdf
Djali, H. (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Djamarah. (2002). Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Esti, S. (1989) .Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grafindo
Efendi, R., & Suliasih. (2008). PKn 1. Jakarta : Erlangga.
Elliot. (2011). Motivasi Belajar dan Faktor-faktornya. Jakarta:
Grafindo
Feist & Feist. (2010). Teori kepribadian. Edisi ketujuh. Jakarta:
Salemba Humanika.
Gie, T. (2002). Cara belajar yang efektif. Yogyakarta: Liberty
Ginting, C. (2003). Kiat belajar di perguruan tinggi. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Gunarsa, S. D. (2000). Psikologi praktis: anak, remaja, dan
keluarga. Jakarta: Gunung Mulia
Hadi, S. (2004). Metodologi research. Yogyakarta: Andi Ofset.
117
Hamalik, O. (2001). Proses belajar mengajar. Jakarta: Penerbit
Bumi Aksara.
Hurlock, E. (2002). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan
sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, E. (2004). Perkembangan Anak (terjemahan).Jakarta:
Erlangga
Irawan. (2011). Kompetensi Mengajar Guru. Bandung : Refika
Aditama
Janda, L. H. (1998). Psychological testing: theory and
applications. Icludes Sonware. Massachusetts: A Viacom
Company
Masrizal. (2004). Teori-teori Persepsi. Bandung: PT Remaja
Rasdakarya
Monks F. J., Knoers A. M. P., & Haditono S. R. (2002). Psikologi
perkembangan:
pengantar
berbagai
bagiannya.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Nasution. (1982). Teknologi Pendidikan. Bandung: Bumi Aksara
Nurgiyantoro, Gunawan, & Marzuki. (2009). Statistik terapan:
untuk penelitian ilmu-ilmu sosial. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2004). Human
development 9th edition. New York: McGraw Hill Inc.
Parsono. (2009).
Erlangga
Pendidikan
Kewarganegaraan.
Jakarta:
Priyitno, E. (1989). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK
Purwanto. (2008). Motivasi Siswa. Jakarta: Erlangga
118
Safrudin. (2011). Analisis Hubungan Supervisi Kepala Sekolah
dan Kualifikasi Akademik Guru Terhadap Kompetensi Guru
Dalam Proses Belajar Mengajar di SMP Satu Atap SeKabupaten
Indramayu.
Diunduh
dari
http://www.thesisui.edu/etd/
Sadirman, A. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rajawali.
Santrock, J. (2004). “Lifespan development”. McGraw-Hill.
Boston,
____________,
“Educational
Psychology”,McGraw-Hill, Boston, 2001.
Setyorini, D. (2012). Hubungan Antara Dukungan Sosial
Orangtua Dengan Motivasi Belajar Siswa SD Sidorejo Lor
1 Salatiga. Skripsi (tidak diterbitkan). Salatiga: Fakultas
Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana.
Shia, R. (2001). Academic Intrinsic And Extrinsic Motivation And
Metacognition. Wheeling Jesuit University
Slameto.
(2010).
Belajar
dan
Faktor-faktor
mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
yang
Sukmadinata, N. S. (2011). Landasan psikologi
pendidikan. Bandung: PT Remaja Rasdakarya.
proses
Suharsaputra. (2013). Administrasi Pendidikan. Bandung: Refika
Aditama
Suparlan. (2006). Kompetensi Mengajar Guru. Jakarta: Erlangga
Sugiyono. (2012). Metodologi penelitian pendidikan: pendekatan
kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Syah. (2001). Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. Jakarta:
Gunung Mulia
Walgito. (2010). Motivasi Belajar Ssiswa. Jakarta: Erlangga
119
Wang. (2012). Revised Motivated Strategies for Learning
Questionnaire for Secondary School Students. The
International Journal of Research and Review
120
1
Download