9 bab ii penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam

advertisement
BAB II
PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
DALAM UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA MENGENAI
TUMBUHAN DAN BAGIANNYA MATA PELAJARAN IPA
SEKOLAH DASAR
Pada BAB II ini penulis akan memaparkan landasan teori yang berkaitan
dengan permasalahan penelitian.
A. Pendekatan Kontekstual
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Depdiknas (2006 : 8) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual
adalah merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan
memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya
dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari
(konteks pribadi, sosial, dan cultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan,
keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu
permasalahan ke permasalahan lainnya.
Dalam pandangan lain Depdiknas (2006 : 8) mendefinsikan pendekatan
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat
hubungan antara materi yang pelajari dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Waliah, Ely mengatakan, ” Pembelajaran kontekstual adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dalam
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
9
10
sehari-hari. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu pendekatan yang
hakikatnya mengharapkan siswa memahami dan merasakan manfaat dari materi
yang telah dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menciptakan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran
kontekstual ini, guru diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya sebagai
tenaga pendidik yang profesional, termasuk memiliki kemampuan menciptakan
pembelajaran dalam kelas dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang
mampu menjadikan siswa dapat menggali potensi dirinya secara optimal.
Sedangkan Nurhadi (2004:151) mengatakan pembelajaran kontekstual
merupakan konsep belajar yang menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas
dan mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan
penerapannya
dalam
kehidupan
sehari-hari.
Pembelajaran
kontekstual
memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran, seting pembelajaran yang tidak
melulu di dalam kelas, dan media apa saja untuk belajar. Prinsipnya, orang-orang
dan benda-benda di sekitar siswa, semua adalah media belajar.
Gambaran fisik pada pembelajaran kontekstual tampak seperti berikut
ini: dinding kelas penuh dengan tempelan hasil karya siswa (tidak hanya gambar
presiden dan wakil presiden saja). Dinding kelas penuh dengan gambar hasil
karya siswa, peta (baik cetak maupun buatan siswa sendiri, artikel, gambar tokoh
idola, puisi, komentar, foto tokoh, diagram-diagram, dan lain-lain. Setiap saat
berubah. Bahkan lorong-lorong sekolah pun dapat dimanfaatkan. Akibatnya,
kemana pun siswa pergi dikepung oleh informasi. Suasana yang terjadi pada kelas
dengan pembelajaran kontekstual adalah siswa-siswa selalu ramai dan gembira
dalam belajar. Kelas yang aktif bukan kelas yang sepi.
11
Belajar harus didukung oleh lingkungan belajar yang berpusat pada
siswa, dalam arti lingkungan harus mampu memberikan stimulasi kepada siswa
sehingga muncul rasa senang dalam belajar. Oleh karena itu, pembelajaran harus
berubah dari "guru yang berakting di depan kelas dan siswa menonton ke yang
berakting menjadi dalam situasi bekerja dan berkarya. Guru mengarahkan dan
memfasilitasi. Dengan kata lain, dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah
membantu siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Maksudnya, guru
lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberikan informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan
dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri', bukan dari ‘apa kata guru’.
Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual..
Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan
tatanan yang ada.
SALIMAN. (2008:89) berpendapat bahwa pembelajaran kontektual
merupakan suatu proses pendidikan yang holistik untuk tujuan membantu siswa
agar memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya, mengaitkan materi
tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan
kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan, keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan
lainnya.
Dengan memperhatikan pendapat di atas, peneliti mendefinisikan
pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar yang menghadirkan situasi dunia
nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan
12
yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran
kontekstual memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran.
2. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual memiliki karakateristik tertentu. Nurhadi
(2004) mengemukan karakteristiknya sebagai berikut :
a. Problem-Based Learning, yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk
belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam
rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi
pelajaran.
b. Authentic Instruction, yaitu pendekatan pengajaran yang menperkenankan
siswa untuk
mempelajari
konteks
bermakna melalui
pengembangan
keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks
kehidupan nyata.
c. Inquiry-Based
Learning ;
pendekatan
pembelajaran
yang
mengikuti
metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
d. Project-Based Learning ; pendekatan pembelajaran yang memperkenankan
siswa untuk bekerja mandiri dalam mengonstruksi pembelajarannya
(pengetahuan dan keterampilan baru), dan mengkulminasikannya dalam
produk nyata.
e. Work-Based Learning ; pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa
menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi ajar dan
menggunakannya kembali di tempat kerja.
13
f. Service Learning , yaitu pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu
penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat melalui proyek atau tugas terstruktur dan
kegiatan lainnya.
g. Cooperative Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan
kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan
kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
SALIMAN.
(2008)
membedakan
karakteristik
pembelajaran
kontekstual dan tradisional sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
TRADISIONAL
PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
Siswa secara pasif menerima Siswa terlibat secara aktif dalam
informasi
proses pembelajaran
Pemilihan informasi di-tentukan Pemilihan informasi berdasarkan
oleh guru
kebutuh-an siswa
Menyandarkan pada memori spasial
Menyandarkan pada hapalan
(pemahaman makna)
Cenderung terfokus pada satu Cenderung
mengintegrasikan
bidang (disiplin) tertentu
beberapa bidang
Memberikan tumpukan informasi Selalu mengaitkan informasi dengan
kepada siswa sampai saatnya pengetahuan yang telah dimiliki
diperlukan
siswa
Pembelajaran
dikaitkan
dengan
Pembelajaran sangat abstrak dan
kehidupan nyata/-masalah yang disiteoritis
mulasikan
Perilaku dibangun atas kebiasaan
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Waktu belajar siswa se-bagian
besar
dipergu-nakan
untuk
mengerja-kan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi
latihan
yang
membosankan
(melalui kerja individual)
Siswa tidak melakukan sesuatu
yang buruk karena takut akan
hukuman
Hadiah dari perilaku baik adalah
Siswa
menggunakan
waktu
belajarnya
untuk
menemukan,
menggali, berdiskusi, berpikir kritis,
atau mengerjakan proyek dan
pemecahan masalah (melalui kerja
kelompok)
Siswa tidak melakukan hal yang
buruk karena sadar hal tsb keliru dan
merugikan
Hadiah dari perilaku baik adalah
14
11.
12.
13.
14.
pujian atau nilai (angka) rapor
Keterampilan dikembangkan atas
dasar latihan
Hasil belajar diukur melalui
kegiatan akademik dalam bentuk
tes/ujian/ulangan.
Pembelajaran hanya terjadi dalam
kelas
Perilaku
baik
berdasar-kan
motivasi ekstrinsik
kepuasan diri
Keterampilan dikembangkan
dasar pemahaman
atas
Hasil
belajar
diukur
melalui
penerapan penilaian autentik.
Pembelajaran terjadi di berbagai
tempat, konteks dan setting
Perilaku baik berdasar-kan motivasi
intrinsik
Dalam pandangan lain Saliman mengemukakan bahwa pembelajaran
kontekstual memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.
Membuat hubungan yang bermakna ( making meaningful connections )
antara sekolah dan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa merasakan
bahwa belajar penting untuk masa depannya.
b.
Melakukan pekerjaan yang signifikan ( doing significant work ). Pekerjaan
yang memiliki suatu tujuan, memiliki kepedulian terhadap orang lain, ikut
serta dalam menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
c.
Pembelajaran mandiri ( self-regulated learning ) yang membangun minat
individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka
mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan
konteks kehidupan sehari-hari.
d.
Bekerjasama ( collaborating ) untuk membantu siswa bekerja secara efektif
dalam
kelompok,
membantu
mereka
untuk
mengerti
bagaimana
berkomunikasi/ berinteraksi dengan yang lain dan dampak apa yang
ditimbulkannya.
15
e.
Berpikir kritis dan kreatif ( critical and creative thingking ); siswa diwajibkan
untuk memanfaatkan berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan,
analisis dan sintesa data, memahami suatu isu/fakta dan pemecahan masalah.
f.
Pendewasaan individu ( nurturing individual ) dengan mengenalnya,
memberikan perhatian, mempunyai harapan tinggi terhadap siswa dan
memotivasinya.
g.
Pencapaian standar yang tinggi ( reaching high standards ) melalui
pengidentifikasian tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.
h.
Menggunakan penilaian autentik ( using authentic assessment ) yang
menantang siswa agar dapat menggunakan informasi akademis baru dan
keterampilannya kedalam situasi nyata untuk tujuan yang signifikan.
3. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Menurut pandangan Waliah Ely bahwa pendekatan kontekstual memiliki
tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme, menemukan (inquiry), bertanya
( questioning ), komunikasi, pemodelan (modelling), refleksi dan penilaian
autentik (authentic assessment).
a.
Konstruktivisme
artinya guru harus mampu membimbing siswa agar mampu membangun
pengetahuan di dalam benaknya sehingga apa yang telah dipelajarinya sangat
bermanfaat bagi kehidupan mereka.
b.
Menemukan (inquiry)
Proses menemukan merupakan kegiatan inti dari pembelajaran kontekstual.
Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa diharapkan diperoleh
siswa bukan dari hasil proses mengingat materi yag disajikan guru, melainkan
16
hasil dari menemukan sendiri fakta-fakta yang dipelajarinya. Kegiatan inquiry
yang dirancang guru harus meliputi observasi, bertanya, mengajukan dugaan
(hipotesis), pengumpulan data, dan penyimpulan.
c.
Bertanya ( questioning )
Pengetahuan dan keterampilan siswa yang berkesan pada dirinya adalah
pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dengan dorongan perasaan
ingin tahu sehingga siswa berusaha untuk bertanya kepada guru.
d.
Masyarakat belajar dapat terjadi jika terjadi komunikasi dua arah antara guru
dan siswa, siswa dan siswa. Siswa saling bertukar pikiran dan pengalaman
satu sama lain.
e.
Pemodelan (modelling).
Dalam proses pembelajaran di dalam kelas,baik guru maupun siswa dapat
dijadikan model pembelajaran, bahkan jika perlu seorang guru dapat
mendatangkan siswa dari kelas lain yang dianggap mempunyai kemampuan
lebih dibandingkan dengan siswa di kelasnya.
f.
Refleksi ( Reflection )
Refleksi adalah sebuah proses perenungan pada diri siswa. Perenungan
terhadap pengetahuan dan keterampilan yang baru saja dipelajarinya.
g.
Penilaian autentik (authentic assessment).
Kegiatan penilaian ini dilakukan tidak hanya berdasarkan pada hasil semata,
melainkan juga pada penilaian proses.
Jika seorang guru telah memahami dirinya sebagai pendidik
profesional, secara sadar dalam dirinya akan merasa tertuntut untuk selalu kreatif
dan inovatif dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
17
Jika seorang guru telah memahami dirinya sebagai pendidik profesional,
secara sadar dalam dirinya akan merasa tertuntut untuk selalu kreatif dan inovatif
dalam melaksanakan tugas profesinya.
B. Belajar dan Pembelajaran IPA
1. Pengertian Belajar dan Mengajar
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku,
akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Purwanto (1998 : 84)
mengemukakan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian
belajar, yaitu:
a.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan
itu bisa mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada
kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b.
Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman.
c.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus
merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang.
d.
Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan
sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap,
kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. (Witherington, 1952 h. 165).
2.
Prinsip – Prinsip Belajar
Proses belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi dari hasil
pengalaman oleh karena itu, dapat dikatakan terjadi proses belajar apabila
seseorang meninjukkan tingkah laku yang berbeda. Menurut Bloom perubahan
18
tingkah laku harus meliputi tiga ranah diantaranya : ranah kognitif, afektif dan
pesikomotor.
Beberapa prinsip belajar diantaranya adalah :
a. Belajar merupakan bagian dari perkembangan
b. Belajar berlangsung seumur hidup
c. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor – faktor bawaan, lingkungan,
kematangan serta usaha dari individu sendiri.
d. Belajar mencakup semua asfek kehidupan
e. Kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu
f. Belajar berlangsung dengan guru ataupun tanpa guru
g. Belajar yang di rencanakan dan disengaja menuntut motifasi yang tinggi
h. Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana ke yang sangat
komplek
i. Dalam belajar terdapat hambatan – hambatan
j. Untuk kegiatan tertentu dperlukan adanya bimbingan dari orang lain
3.
Teori – Teori Belajar
Teori–teori belajar bersumber dari aliran–aliran psikologi. Ada tiga
rumpun besar psikologi yaitu : Teori Disiplin Mental, Behaviorisme dan
Cognitive – Gestalt dan Field.
a. Teori Disiplin Mental
Menurut rumpun psikologi ini individu memiliki kekuatan dan potensi –
potensi tertentu. Belajar adalah pengembangan dari kekuatan, kemampuan
dan potensi tersebut.
19
Menurut psikologi daya atau Fakulti Psikologi, individu memiliki sejumlah
daya-daya : daya mengenal, mengingat, menangkap, mengkhayal, berpikir,
merasakan, berbuat dan sebagainya. Daya-daya itu dapat dikembangangkan
melaluai latihan dalam bentuk ulangan-ulangan.
Teori disiplin mental lainnya adalah Naturalisme Romantik dari Rousseau.
Menurut Jean Jacques Rousseau anak memiliki potensi-potensi yang masih
terpendam,
melalui
belajar
anak
harus
diberikan
kesempatan
mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya
anak memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan
mengembagkan dirinya sendiri. Pendidik tidak terlalu banyak ikut campur,
biarkan ia belajar sendiri yang penting perlu diciptakan situasi belajar yang
rilek, menarik dan bersifat alamiah.
b. Teori Behaviorisme
Rumpun ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan prilaku atau
tingkah laku yang diamati. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekuler
karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur molekul.
c. Teori Cognitive - Gestalt – Field
Teori ini bersifat molar atau menyeluruh atau terpadu.
Teori Cognitive dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitive. Teori ini
menekankan pada peristiwa mental bukan hubungan stimulus-respons.
Teori Gestalt berkembang di Jerman dengan pendirinya yang pertama adalah
Maxswetheimer. Tokoh lainnya adalah Wolfgang Kohler, Kurt Kofka dan
Kurt Lewin. Menurut Gestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan ke
bagian-bagian.
20
Mengajar merupakan proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar
menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. banyak kegiatan maupun
tindakan harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik
pada seluruh siswa.
Menurut Slameto (1995 : 29) mengajar adalah penyerahan kebudayaan
berupa pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Adapun definisi lain di
negara-negara modern yang sudah maju mengatakan bahwa mengajar adalah
bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa
yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Guru hanya
membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa.
Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada
siswa.
Mengajar di definisikan oleh Sudjana (2000 : 37) sebagai alat yang
direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan
siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin.
4.
Hakekat Pembelajaran IPA
Hakikat pembelajaran IPA meliputi 4 unsur utama, yaitu : sikap, proses,
produk dan aplikasi. Sikap menunjukkan rasa ingin tahu akan sesuatu, fenomena
alam, makhluk hidup serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan sesuatu
yang baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Proses
menunjukkan prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah meliputi
penyusunan hipotesis, eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran dan
penarikan kesimpulan. Produk menunjuk pada fakta, prinsip, teori dan hukum.
21
Aplikasi menunjuk pada penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang pasti melakukan interaksi yang
terjadi antara dua orang atau lebih. Begitupun dalam kegiatan belajar mengajar di
kelas akan terjadi interaksi antara guru dengan murid yang kita kenal dengan
pembelajaran. Pembelajaran yang baik dan efektif dapat terwujud melalui
pemberian
kemudahan
belajar
kepada
siswa
sehingga
mereka
dapat
mengembangkan potensinya secara optimal.
Mengajar didefinisikan oleh Sudjana (2000 : 37) sebagai alat yang
direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan
siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin.
5. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains di SD/MI
Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran sains di SD/MI adalah sebagai
berikut:
a. Mampu bersikap ilmiah dengan penekanan pada sikap ingin tahu, bertanya,
bekerjasama dan peka terhadap makhluk hidup dan lingkungan.
b. Mampu menerjemahkan perilaku alam tentang diri dan lingkungan di sekitar
rumah dan sekolah.
c. Mampu memahami proses pembentukan ilmu dan melakukan inkuiri ilmiah
melalui pengamatan dan sesekali melakukan penelitian sederhana dalam
lingkup pengalamannya.
d. Mampu memanfaatkan sains dan merancang/membuat produk teknologi
sederhana dengan menerapkan sains dan mampu mengelola lingkungan di
22
sekitar rumah dan sekolah serta memiliki saran/usul untuk mengatasi dampak
negatif teknologi di sekitar rumah dan sekolah.
6. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains di SD/MI Kelas IV
Pada jenjang pendidikan SD, materi yang diajarkan di kelas IV adalah
Organ Tubuh Manusia dan Fungsinya, Hewan dan Makanannya, Daur Hidup
Hewan, Hubungan Makhluk Hidup dan Lingkungannya, Benda dan Sifatnya,
Gaya, Benda, Energi dan Kegunaaannya, Perubahan Kenampakan Bumi dan
Benda Lainnya, Pengaruh Perubahan Fisik terhadap Daratan, Sumber Daya Alam
dan Masyarakat.
Pada subpokok bahasan Bagian Tumbuhan dan Fungsinya, Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar adalah sebagai berikut :
Standar
Kompetensi
Kompetensi Dasar (KD)
No.
(SK)
1.
Memahami
1.1 Menjelaskan hubung-an
hubungan antara
antara struktur akar
struktur bagian
tumbuhan dengan
tumbuhan
fungsinya
dengan
1.2 Menjelaskan hubungan
fungsinya
struktur batang dengan
fungsinya
1.3 Menjelaskan hubungan
antara struktur daun
dengan fungsinya
1.4 Menjelaskan hubungan
struktur bunga dengan
fungsinya
Indikator
1. Mengidentifikasi
bagian - bagian tubuh
tumbuhan : akar,
batang, daun, bunga,
dan buah.
2. Menjelaskan struktur
akar, batang, daun dan
bunga.
3. Membedakan jenisjenis akar, batang,
daun dan bunga.
4. Mengklasifikasi jenisjenis akar, batang,
daun dan bunga.
C. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran IPA
Dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual pemilihan
strategi pembelajaan lebih mengutamakan dan lebih memberdayakan siswa.
23
Pendekatan kontekstual dapat diterapkan dalam kelas yang jumlah siswanya
banyak. Dalam penerapannya tidak perlu mengubah kurikulum sapalagi saat
sekarang ini sudah dipakai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
pendekatan kontekstual sangat sesuai dengan KTSP. Selama pembelajaran ini
berlangsung guru mengutamakan kegiatan siswa untuk mengutamakan sendiri
konsep IPA sebagai contoh siswa memecahkan permasalahan yang terdapat dalam
kehidupan siswa sehari-hari.
Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan
cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan baru. Lakukan kegiatan menemukan untuk semua topik.
Mengembangkan sifat keingintahuan siswa dengan cara bertanya.
Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan.
Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukan kemampuan siswa.
Untuk melihat kemajuan belajar siswa sebagai sumber data dapat
diperoleh dari hasil tes, observasi, wawancara, dan jurnal. Dengan pendekatan
kontekstual dalam memberdayakan siswa lebih berfokus pada siswa sehingga
kelas menjadi hidup, kondusif, dan menyenangkan. Sehingga dalam hal ini pun
siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajarannya. Siswa dapat belajar dari
teman melalui kerja kelompok, diskusi, dan saling mengoreksi serta
pembelajarannya pun dikaitkan dengan kehidupan nyata.
D. Hasil Belajar
Salah satu keberhasilan proses belajar mengajar dapat kita lihat dari hasil
belajar yang dicapai oleh siswa (Sudjana dalam Olive 2006). Oleh karena itu
24
belajar sangat tergantung kepada proses belajar mengajar karena hasil
pembelajaran terlihat setelah diberi tindakan pada proses belajar yang dianggap
sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Hasil belajar mengharapkan
perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri siswa.
E. Materi Pembelajaran IPA SD Kelas IV
Dipermukaan bumi terdapat berbagai jenis tumbuhan yang sangat
bermanfaat bagi makhluk hidup. Mulai dari bagian akar, batang, daun, dan
bunganya. Pada umumnya tumbuhan dapat dibagi menjadi bagian akar, batang,
daun dan bunga.
Keterangan :
1. Daun
2. Bunga
3. Buah
4. Batang
5. Akar
Gambar 2.1: Tumbuhan dan bagian-bagiannya
Dari berbagai jenis tumbuhan terdapat beberapa perbedaan, baik pada akar,
batang, daun, maupun bunganya.
1. Akar dan Fungsinya
Akar tumbuhan biasanya terdapat di dalam tanah atau mendekati tempat
dimana air berada. Bentuk ujung akar pada umumnya meruncing sehingga dapat
memudahkan menembus tanah.
Berdasarkan bentuknya, akar dibedakan menjadi dua, yaitu akar tunggang
dan akar serabut. Bagian-bagian akar terdiri atas tudung akar, bulu-bulu akar,
pangkal akar, ujung akar, batang akar, cabang-cabang akar, dan serabut akar
25
(untuk cabang-cabang akar yang berbentuk serabut). Tudung akar berfungsi
sebagai pelindung ujung akar.
Akar memiliki fungsi-fungsi yang tertentu. Berdasarkan fungsinya itu, ada
akar yang berfungsi untuk penggerek (pengisap), seperti pada tumbuhan benalu.
Akar tumbuhan benalu berfungsi untuk menghisap atau menggerk makanan dari
inangnya. Jenis akar lainnya adalah akar lekat. Akar-akar lekat keluar dari batang
tumbuhan. Akar ini berfungsi untuk menempel pada tumbuhan lain yang tidak
sampai mengambil makanan dari tumbuhan yang ditumpanginya. Contoh
tumbuhan yang memiliki akar lekat adalah anggrek dan sirih. Tumbuhan bakau
dan beringin memiliki akar napas. Akar ini tumbuh tegak lurus ke permukaan air
atau tanah. Akar napas berguna untuk mengisap oksigen.
Jenis-jenis akar lain pada tumbuhan antara lain adalah akar tunjang, akar
tinggal, akar sulur, dan akar papan. Akar tunjang berfungsi sebagai penunjang
atau penopang batang. Jenis akar tunjang dimiliki oleh tumbuhan pandan. Akar
tinggal (rhizoma) sebenarnya bukan akar, melainkan batang yang tumbuh
mendatar di dalam tanah. Contoh tumbuhan yang memiliki akar tinggal adalah
kunyit, lengkuas, jahe dan temu lawak. Akar sulur atau akar pembelit dimiliki
oleh tumbuhan yang tumbuh memanjat dengan menggunakan akarnya.
26
Gambar 2.2 Akar penggerek
Gambar 2.3 Akar lekat
Gambar 2.4 Akar napas
Gambar 2.5 Akar tunjang
Gambar 2.6 Akar Tinggal
Gambar 2.7 Akar sulur
27
2. Batang dan Fungsinya
Batang tumbuhan memiliki bentuk yang beragam. Berdasarkan bentuknya,
batang tumbuhan dibedakan menjadi dua macam, yaitu batang tidak berkayu dan
batang berkayu. Batang tumbuhan yang tidak berkayu bersifat lunak, mudah
dilipat, dan berwarna agak kehijau-hijauan atau kuning. Tumbuhan yang memiliki
batang tidak berkayu adalah ilalang, pisang, dan padi.
Tumbuhan yang memiliki batang berkayu memiliki warna umumnya
coklat, dengan sifatnya yang keras dan tidak mudah dilipat atau tidak mudah
patah. Contoh tumbuhan yang memiliki batang berkayu antara lain adalah
bilimbing, mangga, nangka dan pohon jati.
Batang tumbuhan baik yang tidak berkayu maupun berkayu memiliki
fungsi untuk melekatnya daun, tempat lalulintas pengangkutan air dan zat
makanan dari akar ke daun. Selain itu batang berfungsi untuk
tempat
penyimpanan cadangan makanan dan untuk perkembangbiakan. Batang tumbuhan
dapat tumbuh membesar dan semakin panjang. Batang tumbuhan dapat mebesar
karena ada kegiatan kambium, selaput lendir yang terdapat setelah kulit batang.
Gambar 2.8 Batang tumbuhan
tidak berkayu
Gambar 2.9 Batang tumbuhan
berkayu
Download