State of the Art

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Sebelumnya (State of the Art)
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Marlene dan Sergio, membahas
mengenai bagaimana membentuk strategi komunikasi yang baik dengan melibatkan
seluruh anggota organisasi dan juga lingkungan yang ada disekitar perusahaan.
Tabel 2.1
Nama
Marlene Marchiori & Sergio Bulgacov
Judul
Strategy as Communicational Practice in Organizations
Volume
Volume 6, halaman 199-211
dan Sumber www.tandfonline.com
Tahun dan
Tahun 2012, Brazil
Lokasi
Metode
Kualitatif
Subjek
Itaipu Technological Park
Penelitian
Kesimpulan Kasus ini mengungkapkan wawasan mengenai interaksi strategi dan
praktek sebagai proses mendasar untuk penciptaan makna yang
ekspresif berasal dari komunikasi dan bahasa. Strategi ini sebagai
praktek komunikasi yang dapat terjadi pada berbagai tingkat
hubungan organisasi, dan kami bergantung pada hal itu untuk
membangun sebuah realitas organisasi. Isu utamanya adalah bahwa
manusia komunikatif membentuk strategi dengan cara interaksi
sosial dan praktek yang melibatkan seluruh organisasi dan
lingkungannya.
9
10
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Jespes dan Mats, memiliki
tujuan penelitian yang pertama untuk menggambarkan dan mencerminkan
pengembangan dan pelembagaan pendidikan public relations dan penelitian di
Swedia. Kedua, berdasarkan lintas batas yang perubahan yang kita lihat di industri,
pendidikan dan penelitian, kami berpendapat bahwa komunikasi strategis adalah
kerangka konseptual dan holistik yang lebih valid dan relevan daripada public
relations.
Tabel 2.2
Nama
Jesper Falkheimer & Mats Heide
Judul
From Public Relations to Strategic Communication in Sweden
The Emergence of a Transboundary Field of Knowledge
Volume
Volume 2, halaman 123-138
dan Sumber www.nordicom.gu.se
Tahun dan
Tahun 2014
Lokasi
Swedia
Metode
Kualitatif
Subjek
Industri public relations di Swedia
Penelitian
Kesimpulan Strategi komunikasi merupakan sebuah konsep yang dapat
mendukung penelitian yang menarik dan relevan dan sebagai cara
untuk mencerminkan lintas batas yang perkembangan yang terjadi
dalam organisasi dan masyarakat. Konsep ini tidak fokus pada
integrasi, dan bahwa gagasan yang transparansi juga harus ditangani
dengan hati-hati.
11
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Marianne, membahas mengenai
bagaimana strategi komunikasi yang efektif untuk merubah perilaku dan
meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai program Earth Hour.
Tabel 2.3
Nama
Marianne D. Sison
Judul
Creative Strategic Communications: A Case Study of Earth Hour
Volume dan Volume 7, Issue 4, halaman 227-240
researchbank.rmit.edu.au
Sumber
Tahun dan
Tahun 2013
Lokasi
Australia
Metode
Kualitatif
Subjek
Earth Hour
Penelitian
Kesimpulan
Membahas bagaimana Earth Hour digunakan strategi komunikasi
yang kreatif untuk meningkatkan acara komunitas lokal untuk acara
global mempromosikan perubahan iklim. Dikembangkan dan
dijalankan sebagai World Wildlife Fund (WWF) proyek di Sydney.
Menggunakan pendekatan studi kasus, artikel ini membahas elemen
kunci dari pengembangan kampanye Earth Hour dan menimbulkan
pertanyaan tentang dampak dan keberlanjutan peristiwa tunggal
dalam perubahan perilaku.
12
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Arief, Hadi dan Teddy, mereka
membahas mengenai bagaimana strategi komunikasi pemasaran Trans Studio
Bandung agar menumbuhkan minat masyarakat untuk berkunjung ke wahana Trans
Studio Bandung.
Tabel 2.4
Nama
Arief Mulyawan, Hadi Suprapto Arifin dan Teddy Kurnia
Wirakusumah
Judul
Strategi Komunikasi Pemasaran Trans Studio Bandung Dalam
Menumbuhkan Minat Konsumen Untuk Berkunjung
Volume dan Volume 1, No 1
Sumber
www.jurnal.unpad.ac.id
Tahun dan
Tahun 2012
Lokasi
Indonesia
Metode
Kualitatif
Subjek
Trans Studio Bandung
Penelitian
Kesimpulan
Wahana bermain Trans Studio Bandung yang usianya belum genap
satu tahun akan membuat masyarakat penasaran mengenai wahana
tersebut. Kegiatan promosi yang dilakukan
menggunakan dua
sarana media yang sangat besar yaitu Trans TV dan Trans 7. Konsep
yang sudah direncanakan dimulai dari pemanfaatan sarana dan
prasarana yang telah dimiliki Trans Corp. Trans Studio Bandung
memanfaatkan
sarana
tersebut
dengan
baik,
dengan
cara
memanfaatkan program acara yang retingnya tinggi untuk syuting di
dalam wahana bermain Trans Studio agar dapat dilihat oleh seluruh
masyarakat di dunia dan tertarik untuk mengunjungi Trans Studio
Bandung.
13
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Arizal, membahas mengenai
bagaimana strategi komunikasi pemasaran Roodedburg untuk meningkatkan
kepedulian masyarakat dengan menerapkan relationship marketing sebagai strategi
pemasarannya.
Tabel 2.5
Nama
Arizal Monticelli Kadarsan
Judul
Strategi Komunikasi Pemasaran Roodebrug Di Surabaya
Volume
Vol. 1 / No. 2
dan Sumber www.journal.unair.ac.id
Tahun dan
Tahun 2013
Lokasi
Indonesia
Metode
Kualitatif
Subjek
Roodebrug
Penelitian
Kesimpulan Penerapan relationship marketing di dalam strategi komunikasi
pemasarannya, “Roodebrug” dapat menerapkan promotional tools
dengan
biaya
yang
rendah
hal
ini
karena
“Rooderbug”
menggunakan kedekatannya dengan media dan konsumennya yang
merupakan salah satu karakteristik relationship marketing. Selain
itu salah satu program dalam relationship marketing yaitu
community building, sangat membantu dalam pelaksanaan strategi
komunikasi
komunitas.
pemasaran
“Roodebrug”
dengan
menggunakan
14
2.2.
Landasan Konseptual
2.2.1 Komunikasi
2.2.1.1 Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata
latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama
disini maksudnya adalah sama makna. Jadi, kalau dua orang terlibat dalam
komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau
berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan.
Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu
menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya saja
belum tentu mengerti makna yang dibawakan bahasa itu. Jelas bahwa percakapan
kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya, selain mengerti
bahasa yang dipergunakan, juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan.
Pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti
kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua
pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya
informatif, yaitu agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar
orang bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan sesuatu perbuatan
atau kegiatan, dan lain lain (Effendy, 2013)
Menurut Frank Dance dalam Morissan (2013) melakukan terobosan penting
dalam upayanya memberikan klarifikasi terhadap pengertian komunikasi. Ia
mengklasifikasikan teori komunikasi yang banyak itu berdasarkan sifat-sifatnya.
Dance mengajukan sejumlah elemen dasar yang digunakan untuk membedakan
komunikasi. Ia menemukan tiga hal yang disebut dengan ‘diferensiasi konseptual
kritis’ (critical conceptual differentiation) yang membentuk dimensi dasar teori
komunikasi, yang terdiri atas:
1. Dimensi level observasi. Menurut Dance, beberapa definisi mengenai komunikasi
bersifat sangat luas (inclusive), sementara definisi lainnya bersifat terbatas,
misalnya definisi komunikasi yang menyatakan komunikasi adalah ‘proses yang
menghubungkan bagian-bagian yang terputus dari dunia yang hidup satu sama
lainnya’ dinilai sebagai definisi yang terlalu umum atau luas. Sebaliknya, definisi
yang menyatakan ‘komunikasi adalah alat untuk mengirim pesan militer, perintah
dan sebagainya melalui telepon, telegraf, radio, kurir) sebagai terlalu sempit.
15
2. Dimensi kesengajaan. Sebagai definisi mengenai komunikasi yang dikemukakan
para ahli hanya memasukkan faktor pengiriman dan penerimaan pesan yang
memiliki kesengajaan atau maksud tertentu (purposefull), sementara definisi lain
tidak memasukkan batasan ini. Definisi berikut ini merupakan contoh definisi
yang memasukkan faktor kesengajaan atau maksud tertentu, misalnya komunikasi
adalah ‘situasi dimana sumber mengirimkan pesan kepada penerima dengan
sengaja untuk memengaruhi tingkah laku penerima’. Sedangkan definisi yang
tidak memerlukan kesengajaan atau maksud tertentu, misalnya ‘komunikasi
adalah proses yang membuat dua atau beberapa orang memahani apa yang
menjadi monopoli satu atau beberapa orang lainnya’.
3. Dimensi penilaian normatif. Sebagai definisi mengenai komunikasi memasukkan
pernyataan keberhasilan atau keakuratan (accuracy), sedangkan definisi lainnya
tidak memiliki penilaian implisit semacam itu. Definisi berikut ini, misalnya
menganggap proses komunikasi selalu berakhir dengan kesuksesan: komunikasi
adalah pertukaran verbal dari pemikiran dan gagasan. Asumsi dari definisi ini
adalah pemikiran atau gagasan itu selalu berhasil dipertukarkan. Defini lainnya,
sebaliknya, tidak menilai hasil komunikasi itu akan berhasil atau tidak, misalnya
communication is the transmission of information. Disini terjadi pengiriman
informasi, namun pengiriman itu tidak harus berhasil (diterima atau dipahami).
2.2.1.2 Elemen Komunikasi
Menurut Joseph Dominick dalam Morissan (2013), setiap peristiwa
komunikasi akan melibatkan delapan elemen komunikasi yang meliputi: sumber,
enkoding, pesan, saluran, dekoding, penerima, umpan balik, dan gangguan. Pada
dasarnya, gagasan mengenai elemen komunikasi ini adalah juga teori yang melihat
komunikasi berdasarkan unsur-unsur atau elemen yang membentuknya. Kita akan
membahas elemen komunikasi ini satu persatu.
a. Komunikator: proses komunikasi dimulai atau berawal dari sumber (source) atau
pengirim pesan, yaitu dimana gagasan, ide atau pikiran berasal, yang kemudian
disampaikan kepada pihak lainnya yaitu penerima pesan.
b. Enkoding: kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran dan
ide-idenya ke dalam suatu bentuk yang dapat diterima oleh indra pihak penerima.
16
c. Pesan: ketika anda penulis surat, maka apa yang anda tuliskan di atas kertas
adalah pesan. Jika anda tengah menonton televisi, maka program yang tengah
anda saksikan atau dengar adalah pesan. Pesan memiliki wujud (physical) yang
dapat dirasakan atau diterima oleh indra.
d. Saluran: jalan yang dilalui pesan untuk sampai kepada penerima.
e. Dekoding: kegiatan penerimaan pesan diawali dengan proses dekoding, yang
merupakan kegiatan yang berlawanan dengan proses enkoding. Dekoding adalah
kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik ke
dalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima.
f. Komunikan: sasaran atau target dari pesan, dapat berupa satu individu, satu
kelompok, lembaga, atau bahkan suatu kumpulan besar manusia yang tidak saling
mengenal.
g. Gangguan: dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengintervensi proses
pengiriman pesan. Gangguan yang sangat kecil mungkin dapat diabaikan, namun
terlalu banyak gangguan dapat menghambat pesan untuk mencapai tujuannya.
2.2.1.3 Unsur Komunikasi
Menurut Lasswell dalam Effendy (2013) bahwa cara yang baik untuk
menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What
In Which Channel To Whom With What Effect? Paradigma Lasswell ini
menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari
pertanyaan yang diajukan itu, yakni:
a) Komunikator (source, sender)
b) Pesan (message)
c) Media (channel)
d) Komunikan (receiver)
e) Efek (effect, impact, influence)
Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang
menimbulkan efek tertentu.
17
2.2.1.4 Proses Komunikasi
Menurut
Osgood
dalam
Suryanto
(2015)
menjelaskan
berdasarkan
tahapannya proses komunikasi dibedakan menjadi berikut ini.
1.
Proses komunikasi primer, yaitu proses penyampaian pikiran/ pesan seseorang
kepada orang lain denganmenggunakan simbol/ lambang sebagai media utama.
Lambang dapat berwujud bahasa lisan, kial, isyarat, gambar yang secara
langsung mampu menerjemahkan pikiran/ perasaan audiens.
2. Proses komunikasi sekunder, yaitu proses penyampaian pesan dengan
menggunakan media kedua setelah memakai lambang sebagai media utama/
pertama.
3.
Proses komunikasi linier, yaitu penyampaian pesan dari komunikator kepada
komunikan sebagai titik terminal.
4.
Proses komunikasi sirkular, yaitu terjadinya feedback atau umpan balik dari
komunikan ke komunikator.
2.2.1.5 Strategi Komunikasi
Strategi
(communication
komunikasi
planning)
merupakan
dengan
paduan
manajemen
perencanaan
komunikasi
komunikasi
(communication
management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini
harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus
dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu
bergantung pada situasi dan kondisi.
Menurut R. Wayne Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas Burnett dalam
bukunya Techniques for Effective Communication yang dikutip Effendy (2013),
menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri atas tiga tujuan utama,
yaitu:
a) To secure understanding;
b) To establish acceptance;
c) To motivate action.
Pertama adalah to secure understanding, memastikan bahwa komunikan
mengerti pesan yang diterimanya. Andaikata ia sudah dapat mengerti dan menerima,
maka penerimaannya itu harus dibina (to establish acceptance). Pada akhirnya
kegiatan dimotivasikan (to motivate action).
18
Komunikasi merupakan proses yang rumit. Dalam rangka menyusun strategi
komunikasi diperlukan suatu pemikiran dengan memperhitungkan fakor-faktor
pendukung dan faktor-faktor penghambat (Effendy, 2013). Akan lebih baik apabila
dalam strategi itu diperhatikan komponen-komponen komunikasi dan faktor-faktor
pendukung dan penghambat pada setiap komponen tersebut, karena adanya korelasi
antarkomponen dalam strategi komunikasi diantaranya:
a) Mengenali sasaran komunikasi. Sebelum kita melancarkan komunikasi, kita harus
mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi kita itu. Hal ini
ditentukan berdasarkan tujuan komunikasi, metodenya dan banyaknya sasaran.
b) Pemilihan media komunikasi. Media komunikasi ada banyak jumlahnya, mulai
dari media tradisional sampai yang modern. Untuk mencapai sasaran komunikasi
kita dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung
pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang disampaikan, dan teknik yang akan
dipergunakan.
c) Pengkajian tujuan pesan komunikasi. Pesan komunikasi mempunyai tujuan
tertentu. Isi pesan dapat komunikasi bisa satu, tetapi lambang yang dipergunakan
bisa macam-macam. Lambang yang bisa digunakan untuk menyampaikan isi
komunikasi ialah bahasa, gambar, warna, kial (gesture), dan sebagainya.
d) Peranan komunikator dalam komunikasi. Ada faktor yang penting pada diri
komunikator bila ia melancarkan komunikasi, yaitu: daya tarik sumber (source
attractiveness) dan kredibilitas sumber (source credibility).
Strategi komunikasi (communication strategy) harus mendukung program
aksi (action program) yang meliputi serangkaian tindakan sebagai berikut:
(Morrisan, 2010).
a) Memberi tahu khalayak sasaran, internal dan eksternal, mengenai tindakan yang
akan dilakukan.
b) Membujuk khalayak sasaran untuk mendukung dan menerima tindakan dimaksud
c) Mendorong khalayak yang sudah memiliki sikap mendukung atau menerima
untuk melakukan tindakan.
19
2.2.2 Komunikasi Organisasi
Menurut Sendjaja dalah Suryanto (2015), komunikasi organisasi pada
umumnya membahas struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia,
komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi
organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifatnya
saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horizontal.
Beberapa
penelitian
mengungkapkan
bahwa
komunikasi
organisasi
menunjukkan korelasi dengan pelaksanaan organisasi secara keseluruhan. Penelitian
Fred T. Allen mengungkapkan bahwa karyawan yang memiliki informasi yang lebih
baik akan menjadi karyawan yang baik pula. Menurut para ahli, organisasi
merupakan suatu kesatuan atau perkumpulan yang terdiri atas orang/ bagian yang di
dalamnya terdapat aktivitas kerja sama berdasarkan pola dan aturan untuk mencapai
tujuan bersama. Apabila dikaitkan atau diterapkan terhadap kelompok manusia,
dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah:
1) kelompok secara keseluruhan, mempunyai tujuan primer;
2) anggota kelompok bekerja sebagai suatu unit untuk mencapai sasaran primer;
3) setiap individu mempunyai fungsi yang didesain memberikan kontribusi melalui
pencapaian tujuan atau sasaran;
4) pekerjaan setiap orang tidak mungkin atau tidak terlepas dari usaha-usaha orang
lain;
5) setiap anggota berhubungan dengan anggota-anggota lain dengan cara khusus,
menurut Gerald dalam dalam Suryanto (2015).
2.2.2.1 Komunikasi Internal
Organisasi sebagai kerangka (framework) menunjukkan adanya pembagian
tugas antara orang-orang di dalam organisasi itu dan dapat diklasifikasikan sebagai
tenaga pimpinan dan tenaga yang dipimpin. Dimensi komunikasi inernal terdiri dari
komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal (Effendy, 2013).
1) Komunikasi vertikal, yakni komunikasi dari atas ke bawah (downward
communication) dan dari bawah ke atas (upward communication), adalah
komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan
secara timbal-balik (two-way traffic communication). Dalam komunikasi vertikal,
pimpinan memberikan intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi,
20
penjelasan-penjelasan, dan lain-lain kepada bawahannya. Bawahan memberikan
laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dan sebagainya kepada
pimpinan.
2) Komunikasi horizontal, ialah komunikasi secara mendatar antara anggota staf
dengan anggota staf, karyawan sesama karyawan, dan sebagainya. Berbeda
dengan komunikasi vertikal yang sifatnya lebih formal, komunikasi horizontal
sering kali berlangsung secara tidak formal. Mereka berkomunikasi satu sama lain
bukan pada waktu mereka kerja, melainkan pada saat istirahat atau pada waktu
pulang kerja.
2.2.2.2 Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal merupakan komunikasi antara pimpinan organisasi
dengan khalayak di luar organisasi. Pada instansi-instansi pemerintah seperti
departemen, direktorat, jawatan, komunikasi lebih banyak dilakukan oleh kepala
hubungan masyarakat (public relations officer) daripada oleh pimpinan sendiri.
Komunikasi eksternal terdiri atas dua jalur secara timbal balik, yakni komunikasi
dari organisasi kepada khalayak dan dari khayalak kepada organisasi (Effendy,
2013).
2.2.3 Komunikasi Efektif
Agar komunikasi efektif maka komunikator harus tahu khalayak mana yang
diajadikannnya sasaran dan tanggapan apa yang diinginkannya. Komunikator harus
mengirimkan pesan melalui media yang efisien dalam mencapai khalayak sasaran.
Proses penyandian oleh komunikator harus bertatutan dengan proses pengawasansian
oleh komunikan.Wilbur Shramm melihat pesan sebagai tanda essensial yang harus
dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang tindih pengalaman komunikator dengan
bidang pengalaman komunikan akan semakin efektif pesan yang dikomunikasikan,
hal ini merupakan jaringan komunikasi yang efektif dimana pesan yang disampaikan
baik oleh komunikator maupun komunikan akan efektif (Ramli, 2013).
Efektifnya komunikasi persuasif dalam situasi komunikasi yang terjadi ialah
karena adanya personal contact yang memungkinkan komunikator untuk dapat
mengetahui,
memahami,
dan
menguasai:
frame
of
reference
komunikan
21
selengkapnya; kondisi fisik dan mental komunikan sepenuhnya; suasana lingkungan
pada saat terjadinya komunikasi; dan tanggapan komunikan secara langsung
(Effendy, 2013).
2.2.4 Hambatan Komunikasi
Menurut Suryanto (2015) adapun macam-macam hambatan dalam proses
komunikasi meliputi hal berikut.
1. Hambatan teknis/ mekanis, yaitu gangguan yang timbul pada alat penyampai
(medium) komunikasi. Hambatan ini dapat dijumpai pada media yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, seperti suara radio yang hanya terdengar seperti
angin, telepon yang terganggu, gambar dan warna televisi yang meliuk-liuk tidak
jelas, tidak bersuara. Hal penting yang harus diperhatikan dalam komunikasi
adalah sebelum suatu pesan dikomunikasikan harus dipertimbangkan bahwa pesan
itu dapat diterima secara inderawi, dalam arti kata bebas dari hambatan mekanis.
2. Hambatan psikologis, yaitu gangguan atau hambatan yang bersifat kejiwaan yang
cenderung negatif. Dalam proses komunikasi, aktivitas manusia ketika
berkomunikasi didasarkan pada proses berpikir sehingga berpikir merupakan
dasar dari tindakan komunikasi.
Hal ini umumnya disebabkan komunikator sebelum melakukan komunikasinya
tidak mengkaji diri komunikan sehingga komunikasi gagal. Hal ini disebabkan
komunikan sedang sedih, bingung, marah, kecewa, iri hati, dan berbagai kondisi
psikologis yang lain, termasuk perasaan prasangka sehingga tidak dapat
berkomunikasi secara wajar proporsional.
Prasangka merupakan salah satu hambatan yang paling berat dalam kegiatan
komunikasi.
Pada
umumnya,
komunikan
sering
berprasangka
terhadap
komunikator, atau sebaliknya, apalagi jika di antara keduanya belum saling
mengenal. Individu yang berprasangka pada saat berkomunikasi cenderung
melibatkan emosional yang menyebabkan cepat menarik kesimpulan berdasarkan
pikiran yang kurang rasional. Emosi sering membutakan pikiran dan perasaan
terhadap fakta yang jelas.
22
3. Hambatan biogenetis, yaitu gangguan
komunikasi yang disebabkan oleh
pengaruh berikut ini.
a.
Pancaindra. Gangguan yang bersumber dari organisme manusia sebab tiaptiap indra manusia memiliki kemampuan berbeda dalam merespons stimulus
yang diterimanya.
b.
Faktor naluri. Menurut Sergey Chakotin (Jalaludin Rakhmat, 1982), ada
empat naluri manusia, yaitu naluri berjuang (combative instinct), makan
minum (nutritive instinct), seksualitas (sexual instinct), dan keibubapakan
(parential instinct). Pemenuhan kebutuhan naluri seseorang juga akan
berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikis seseorang sehingga
berpengaruh terhadap proses aktivitas komunikasi.
c.
Sistem saraf, yang secara umum terdiri atas saraf pusat (otak besar dan kecil),
saraf tepi (urat saraf dari pancaindra ke otak), dan saraf simpatis (saraf yang
mengatur jasmani).
4. Hambatan sosiologis. Ferdinand Tonies (Onong, Uchyana Effendy, 1986)
mengklasifikasikan kehidupan manusia dalam masyarakat menjadi dua jenis
pergaulan yang dinamakan gemeinschaft dan gesellschaft. Gemeinschaft adalah
pergaulan hidup yang bersifat pribadi, statis, dan tidak rasional, seperti kehidupan
rumah tangga, sedangkan gesellschaft adalah pergaulan hidup yang bersifat tidak
pribadi, dinamis, dan rasional, seperti pergaulan dalam masyarakat, di kantor,
organisasi, dan lain-lain.
5. Hambatan antropologis. Manusia, sebagai homosapiens, satu sama lain berbeda
dalam jenis kelamin, postur tubuh, warna kulit, gaya hidup, kebiasaan, norma,
bahasa, dan sebagainya. Dalam berkomunikasi, komunikator tidak akan berhasil
apabila tidak mengenal komunikan yang dijadikan sasarannya.
6. Hambatan ekologis. Hambatan ini dapat terjadi disebabkan kondisi lingkungan
yang ada pada saat terjadinya proses komunikasi. Misalnya, bisingnya suara,
tempat yang dekat dengan lalu lintas ramai, gangguan pesawat terbang, petir, dan
sebagainya.
23
7. R. Kreitner (1989), pakar manajemen Amerika Serikat, dalam bukunya yang
berjudul Manajemen (1989) menerangkan empat macam hambatan yang dapat
mengganggu dalam sistem komunikasi, yaitu sebagai berikut.
a.
Hambatan dalam proses (process barriers), yaitu hambatan yang muncul
sebagai akibat komunikatornya (sender barrier) belum memiliki kemampuan.
Penerima pesan (receiver barriers) mengalami kesulitan dalam memahami
pesan dengan baik akibat rendahnya tingkat pendidikan, penguasaan bahasa,
intelektual, dan sebagainya.
b.
Hambatan secara fisik (physical barrier), yaitu hambatan yang ditimbulkan
adanya sarana fisik yang dapat menghambat komunikasi yang efektif,
misalnya kurangnya pendengaran, gangguan yang ada pada sistem pengeras
suara (sound system).
c.
Hambatan semantik (semantic barriers), menyangkut aspek bahasa yang
dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan
perasaan kepada komunikan. Agar kelancaran proses komunikasinya dapat
tercapai, komunikator harus memerhatikan gangguan semantis ini sebab salah
ucap
atau
salah
tulis
dapat
menimbulkan
salah
(missunderstanding),
salah
tafsir
(missinterpretation)
pengertian
yang
dapat
menimbulkan salah komunikasi (misscommunication).
d.
Hambatan psiko-sosial (psychosocial barriers), yaitu hambatan yang timbul
akibat adanya perbedaan yang cukup lebar dan nilai-nilai yang dianut
sehingga kecenderungan, kebutuhan, serta harapan dari kedua belah pihak
yang berkomunikasi juga berbeda yang dapat membuat citra yang
bersangkutan (komunikator) dapat menjadi turun karena adanya salah
pengertian.
2.2.5 Perkembangan Tekonologi Komunikasi
Dunia ini memang terus berubah. Tetapi perubahan itu bisa secara evolusi
dan juga secara revolusi. Perkembangan teknologi komunikasi dipahami semua
sumber data penelitian telah memastikan munculnya revolusi perubahan peredaran
pesan. Kenyataan sebagaimana digambarkan di atas juga diakui oleh Heny
24
Maslukhah dalam Nurudin (2013) “Revolusi media sosial begitu pesat dan akan
terus berkembang. Semua pasti akan mengalami perubahan baik itu pada tiap
individu atau masyarakat secara umum. Sekarang tergantung dari setiap manusia
untuk menyikapinya seperti apa. Media sosial sebenarnya muncul bertujuan untuk
mempermudah aktivitas komunikasi. Kalau itu dimanfaatkan dengan baik maka akan
berdampak positif dan sebaliknya kalau dimanfaatkan untuk hal kejelekan maka ya
akan berdampak negatif dan bahkan bisa menghancurkan”. Pernyataan Heny ini
menyiratkan bahwa media sosial mempunyai dampak positif dan negatif. Terhadap
dampak positif, ia mengatakan bahwa orang dengan mudah memperoleh informasi
lewat media sosial.
Dengan media sosial seseorang juga bisa menjalin link dengan siapapun,
bahkan mampu menyambungkan tali silaturrahmi yang sempat terputus oleh jauhnya
jarak yang memisahkan. Media sosial juga bisa dijadikan sarana untuk
mempromosikan suatu barang dalam rangkaian kegiatan pemasaran. Lewat media
sosial juga suatu brand barang tertentu bisa menerima keluhan, saran dari konsumen
dan konsumen dapat mengetahui secara langsung feedback yang diberikan. Media
sosial juga dapat memberikan suatu hiburan. Sementara itu dampak negatifnya,
antara lain munculnya tingkat konsumerisme yang semakin meningkat. Orang akan
terlena dengan kenikmatan berkomunikasi lewat media sosial dan pekerjaan kadang
bisa terbengkalai. Media sosial juga bisa memicu timbulnya kriminalitas, patologi
sosial pun kerap terjadi dalam media sosial. Muhammad Nor Gusti senada dengan
pendapat Heny. Ia mengungkapkan, bahwa media sosial sangat berkembang begitu
pesat. Sekarang ini orang-orang banyak yang beralih ke media sosial daripada
menggunakan media konvensional. “Daripada dianggap ketinggalan zaman lebih
baik mengikuti teknologi toh itu sekarang menjadi kebutuhan kita sekarang,
“katanya. Jika diamati, perubahan sosial yang drastis yang diakibatkan oleh
teknologi komunikasi yang di dalamnya ada media sosial membawa konsekuensi
sebagai berikut; (a) perubahan hubungan sosial ; (b) jurang kaya dan miskin
informasi makin lebar; (c) privasi terganggu; (d) orang terpencil dari lingkungan
sosial; dan (e) informasi “sampah” disusupkan, jurnal Media Sosial Baru dan
Munculnya Revolusi Proses Komunikasi (Nurudin, 2013).
25
2.2.6 Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan
elektronik). Sebab, awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari
pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa).
Media massa (atau saluran) yang dihasilkan oleh teknologi modern. Hal ini perlu
ditekankan sebab ada media yang bukan media massa yakni media tradisional seperti
kentongan, angklung, gamelan, dan lain-lain. Jadi, disini jelas media massa
menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran komunikasi massa.
(Nurudin, 2007).
Media massa (mass media) adalah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi
pesan-pesan massa. Media massa dapat berupa surat kabar, video, CD-ROM,
kompyter, TV, radio dan sebagainya. Komunikasi massa (mass communication)
adalah komunikasi kepada khalayak luas dengan menggunakan saluran-saluran
komunikasi ini. Walaupun komunikasi massa biasanya merujuk pada surat kabar,
video, CD-ROM, dan radio, kita akan melebarkan diskusi kita dan membahas media
baru (new media), yang terdiri atas teknologi berbasis komputer. Tekonologi
komunikasi ini termasuk e-mail, internet, televisi kabel digital, teknologi video
seperti DVD, pesan instan (instant messaging-IM) dan telepon genggam. Untuk
kepentingan kita, komunikasi massa akan didefinisikan sebagai komunikasi kepada
khalayak dalam jumlah besar melalui banyak saluran komunikasi. Oleh karenanya,
konteks komunikasi massa mencakup baik saluran maupun khalayak (West &
Turner. 2008)
2.2.6.1 Fungsi Media Massa:
Dalam buku Media Relations: Sarana Membangun Reputasi Organisasi,
dijabarkan fungsi-fungsi media massa secara universal (Wardhani, 2008), yakni
sebagai berikut:
a) Fungsi menyiarkan informasi (to inform). Penyampai informasi yang berkaitan
dengan peristiwa, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain,
apa yang dikatakan orang lain atau special event. Pesan yang informative adalah
pesan yang bersifat baru (actual) berupa data, gambar, fakta, opini dan komentar
yang memberikan pemahaman baru/penambahan wawasan terhadap sesuatu.
26
b) Fungsi mendidik (to educate). Media massa mendidik dengan menyampaikan
pengetahuan dalam bentuk tajuk, artikel, laporan khusus, atau cerita yang
memiliki misi pendidikan. Berfungsi mendidik apabila pesannya dapat menambah
pengembanga
intelektual,
pembentukan
watak,penambahan
keterampilan/
kemahiran bagi khalayaknya serta mampu memecahkan permasalahan yang
dihadapi masyarakat.
c) Fungsi
menghibur
(to
entertain),
yakni
memerikan
pesan
yang
bisa
menghilangkan ketegangan pikiran masyarakat dalam bentuk berita, cerita
pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, sinetron, drama, musik, tari, dan
lainnya. Berfungsi menghibur apabila kahlayak bisa terhibur atau dapat
mengurangi ketegangan, kelelahan dan bisa lebih santai.
d) Fungsi mempengaruhi (to influence). Fungsi mempengaruhi pendapat, pikiran dan
bahkan perilaku masyarakat inilah yang merupakan hal paling penting dalam
kehidupan masyarakat. Karena itulah, media yang memiliki kemandirian
(independent) akan mampu bersuara atau berpendapat, dan bebas melakukan
pengawasan social (social control).
Fungsi utama media massa bagi individu: Denis McQuail dalam Rosmawaty (2010).
a. Informasi : Mencarikan berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan
dengan lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia. Mencari bimbingan yang
menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat dan hal-hal yang berkaitan
dengan penentuan pilihan. Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum. Belajar,
pendidikan
diri
sendiri.
Memperoleh
rasa
damai
melalui penambahan
pengetahuan.
b. Identitas Pribadi : Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi. Menemukan model
prilaku. Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media).
Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
c. Integrasi dan Interaksi Sosial : Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang
lain; empati sosial. Mengidentifikasi diri dengan orang lain dan meningkatkan
rasa memiliki. Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial. Memperoleh
teman selain diri manusia. Membantu menjalankan peran sosial. Memperoleh
teman selain dari manusia. Membantu menjalankan peran sosial. Memungkinkan
seseorang untuk dapat mengubungi sanak-keluarga, teman dan masyarakat.
27
d. Hiburan : Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan. Bersantai dan mengisi
waktu luang. Memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis. Penyaluran emosi.
Membangkitkan gairah seks.
2.2.6.2 Elemen-Elemen Komunikasi Massa
Menurut Nurudin (2013) terdapat beberapa elemen di dalam komunikasi
massa, diantaranya:
a) Komunikator: komunikator di sini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur, dan
staf teknis yang berkaitan dengan sebuah acara televisi. Komunikator dalam
media massa bersifat mencari keuntungan.
b) Isi: media massa mempunyai kebijakan sendiri-sendiri dalam pengelolaan isinya.
Sebab, masing-masing media melayani masyarakat yang beragam juga
menyangkut individu atau kelompok sosial.
c) Audience: audience yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam,
dari jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal
ilmiah. Masing-masing audience berbeda satu sama lain di antaranya dalam hal
berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan
orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing individu bisa saling mereaksi
pesan yang diterimanya.
d) Umpan balik: Ada dua umpan balik dalam komunikasi, yakni umpan balik
langsung dan tidak langsung. Umpan balik langsung terjadi jika komunikator dan
komunikan berhadapan langsung atau ada kemungkinan bisa berbicara langsung.
Dan untuk umpan balik secara tidak langsung biasanya ditunjukkan dalam surat
pembaca.
e) Gangguan: terdapat dua jenis gangguan
Gangguan saluran: di dalam media gangguan berupa sesuatu hal, seperti
kesalahan cetak, kata yang hilang, atau paragraf yang dihilangkan dari surat kabar.
Gangguan semantik: gangguan yang berhubungan dengan bahasa. Gangguan ini
lebih rumit, kompleks, dan sering kali muncul. Bisa dikatakan, gangguan
semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang diakibatkan oleh
pengirim atau penerima pesan itu sendiri.
f) Gatekeeper: istilah yang digunakan tidak hanya untuk menunjuk orang atau
organisasi yang memberi izin suatu kegiatan, tetapi memengaruhi keluar
masuknya “sesuatu”. Di dalam komunikasi massa dengan salah satu elemennya
28
adalah informasi, mereka yang bertugas untuk memengaruhi informasi itu (dalam
media massa) bisa disebut dengan gatekeeper. Hal itu juga bisa dikatakan,
gatekeeper yang memberi izin bagi tersebarnya sebuah berita.
g) Pengatur: yang dimaksud pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara
tidak langsung ikut memengaruhi proses aliran pesan media massa. Pengatur ini
tidak berasal dari dalam media tersebut, tetapi di luar media.
h) Filter: kerangka pikir melalui mana audience menerima pesan. Filter ibarat sebuah
bingkai kacamata tempat audience bisa melihat dunia. Hal ini berarti dunial rill
yang diterima dalam memori sangat bergantung dari bingkai tersebut.
2.2.7 Pengaruh Komunikasi terhadap Perilaku Organisasional
Mengenai hubungan organisasi dengan komunikasi, William V. Hanney
dalam bukunya, Communication and Organizational Behavior, menyatakan,
“Organisasi terdiri dari sejumlah orang; ia melibatkan keadaan saling bergantung;
kebergantungan memerlukan koordinasi; koordinasi mensyaratkan komunikasi”.
Oleh karena itu, kata William V. Hanney, komunikasi adalah suatu sine qua non bagi
organisasi.
Dalam berbagai literatur dapat dijumpai arti koordinasi di mana disebutkan
bahwa koordinasi bersumber pada perkataan bahasa latin coordinatio yang berarti
“kombinasi atau interaksi yang harmonis”. Interaksi yang harmonis di atara para
karyawan suatu organisasi, baik dalam hubungannya secara timbal-balik maupun
secara horizontal di antara para karyawan secara timbal balik pula, disebabkan oleh
komunikasi. Demikian pula interaksi antara pimpinan organisasi, apakah ia manajer
tingkat tinggi (top manager) atau manajer tingkat menengah (middle manager)
dengan khalayak luar organisasi.
Sebagai komunikator, seorang manajer harus menyesuaikan penyampaian
pesannya kepada peranan yang sedang dilakukannya. Karena pentingnya hubungan
manajer sebagai pemimpin organisasi dengan komunikasi, maka peranannya itu
perlu dijelaskan sehingga nantinya akan jelas pula dalam menelaah pengaruhnya
kepada perilaku organisasional para karyawan (internal public) dan mereka yang
berada di luar organisasi, tetapi ada sangkut-pautnya (external public) (Effendy,
2013).
29
2.3. Kerangka Pemikiran
Komunikasi
Organisasi
Komunikasi Internal
1. Komunikasi vertikal
2. Komunikasi horizontal
Perencanaan
Komunikasi
Strategi komunikasi
Pelaksanaan
Komunikasi
Hambatan-hambatan
komunikasi
Solusi dari hambatan
komunikasi
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Sumber: Peneliti
Kerangka pemikiran diatas menggambarkan bahwa pertama, penelitian ini
akan meneliti bagaiaman proses komunikasi yang terjadi didalam organisasi Binus
Online Learning. Selanjutnya, bagaimana proses dalam pembentukan strategi
komunikasi di Binus Online Learning. Kemudian hambatan-hambatan apa saja yang
terjadi didalam pelaksanaannya, dan solusi apa yang dilakukan untuk mengatasi
hambatan tersebut.
30
Download