numbered heads together

advertisement
PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE
NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) BERBANTUAN
MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR MENGATASI PERMASALAHAN BANJIR PADA
PESERTA DIDIK KELAS IV SDN LENGGERONG SEMESTER
2 TH 2015/ 2016
Lilik Septiyani
[email protected]
ABSTRAK: Penggunaan Model Cooperative Learning tipe NHT
(Numbered Heads Together) berbantu media audio visual untuk
meningkatkan hasil belajar mengatasi permasalahan banjir. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan hasil
belajar IPA tentang banjir dengan penggunaan media audio visual
dengan model Numbered
Heads
Together. Penelitian
ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua
siklus. Berdasarkan data hasil penelitian diperoleh hasil yang cukup
memuaskan. Hal ini dapat dilihat ketuntasan klasikal meningkat pada
siklus I menjadi 75% dengan rata-rata 68, kemudian peningkatan yang
signifikan pada siklus II menjadi 100% dengan rata-rata 82.
Kata Kunci: Cooperative Learning Tipe NHT, Media Audio Visual, Banjir
PENDAHULUAN
Dalam Pasal 3 Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 diungkapkan
bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi
siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Hakikat pembelajaran IPA adalah kumpulan dari pengetahuan yang
mengandung fakta-fakta, konsep atau prinsip-prinsip dalam proses penemuan.
Dengan tujuan pembelajaran IPA mengacu kepada KTSP bahwa seorang guru
harus menumbuhkan sikap peserta didik untuk bersyukur kepada ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa, menerapkan pembelajaran IPA dalam kehidupan sehari-hari,
mengembangkan rasa ingin tahu terhadap sains, teknologi, dan masyarakat,
memelihara serta menjaga kelestarian lingkungan. Jadi pembelajaran IPA di
SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung
melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Berdasarkan pengamatan hasil belajar peserta didik yang dilakukan di
SDN Lenggerong Kecamatan Bantarbolang pada hari Jum’at tanggal 10 Mei
2015, mendapatkan nilai dibawah KKM sebesar 56%. Saat pembelajaran
berlangsung tidak dapat menguasai materi secara konkrit dan mengeluarkan
pendapatnya.Dari permasalahan di atas ditemukan beberapa penyebab peserta
didik merasa kesulitan dalam pembelajaran IPA adalah pertama guru hanya
menggunakan satu metode pembelajaran yaitu ceramah. Kedua guru tidak
menggunakan
media
pembelajaran,
sehingga
peserta
didik
tidak
bisa
membayangkan konsep kerusakan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga guru tidak menggunakan variasi dalam mengajar. Keempat guru hanya
memberikan konsep tanpa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menemukan sendiri. Kelima guru memberikan banyak materi pelajaran, sehingga
banyak peserta didik yang tidak tuntasan.
Peneliti melakukan diskusi dengan guru IPA kelas IV. Dihasilkan bahwa
pembelajaran yang akan diteliti ialah tentang banjir, sedangkan solusi untuk
mengatasi permasalahan dan penyebab yang timbul dalam pembelajaran IPA
tentang
banjir
pertama
adalah
menggunakan
media
gambar,
dengan
menggunakan gambar peserta didik dapat melihat gambar sebagai ilustrasi
banjir. Kedua picture and picture, dalam pembelajaran ini peserta didik
menyusun gambar-gambar dari kondisi awal sebelum terjadi banjir hingga
terjadinya serta cara pencegahannya. Ketiga metode demontrasi dengan
melakukan
percobaan
tentang
banjir,
dengan
kegiatan
ini
peserta
didikmempraktekan kejadian banjir. Keempat dengan menggunakan model
cooperative learning tipe NHT (Numbered Heads Together) sebagai proses
pembelajaran berkelompok, agar peserta didik dapat memecahkan masalah
bersama-sama sehingga dapat menemukan konsep banjir sendiri, dan saat
presentasi pembelajaran tidak saling tunjuk-tunjukan. Melainkan menggunakan
pembanggilan nomor kepalanya.
Permasalahan yang telah dikemukakan tersebut dapat diatasi melalui
kolaborasi penggunaan media audio visual dengan model cooperative learning
tipe NHT (Numbered Heads Together), yang akan diaplikasikan dalam
pembelajaran IPA pada materi banjir. Melalui media audio visual peserta didik
dapat berpikir secara konkrit sehingga dapat menyimpulkan sendiri tentang banjir
dan model Cooperative Learning tipe NHT (Numbered Heads Together)dalam
proses pembelajarannya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1). Bagaimana
model cooperative learning tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat
meningkatkan aktivitas peserta didik serta mengembangkan keterampilan social
peserta
didik
2).
Bagaimana
penggunaan media
audio
visual
untuk
mengembangkan kemampuan kognitif dengan memberikan rangsangan berupa
gambar bergerak dan suara pada peserta didik kelas IV SDN Lenggerong
semester 2 Th 2015/ 2016.
Tujuan penelitian adalah 1). Mendeskripsikan model cooperative learning
tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan aktivitas peserta
didik
serta
mengembangkan
keterampilan
social
peserta
didik
2).
Mendeskripsikan penggunaan media audio visual untuk mengembangkan
kemampuan kognitif dengan memberikan rangsangan berupa gambar bergerak
dan suara pada peserta didik kelas IV SDN Lenggerong semester 2 Th 2015/
2016.
Manfaat penelitian peserta didik dapat bekerja sama menyelesaikan
tugas/ permasalahan yang diberikan oleh guru, memahami setiap bagian dari
suatu permasalahan dan berani mengemukakan pendapatnya. Selain itu
menggunakan media audio visual berguna untuk menarik perhatian peserta didik
dalam menyampaikan materi ajar, menumbuhkan motivasi belajar dan
memberikan pengalaman belajar dengan menyimpulkan pembelajaran dari
sebuah video yang disajikan
LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN.
Menurut Anderson (1994: 99), “media audio visual adalah merupakan
rangkaian gambar elektronis yang disertai oleh unsur suara audio juga
mempunyai unsur gambar yang dituangkan melalui pita video”. Dalam hal ini,
guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi tetapi karena penyajian materi
bisa digantikan oleh media, maka peran guru perlu menyiapkan video yang
berkaitan dengan materi pembelajaran.
Sebagai upaya untuk lebih memaksimalkan berfikir konkrit dalam
menemukan tentang banjir maka media audio visual dikolaborasikan dengan
model cooperative
pembelajaran
learning tipe NHT
cooperative
learning
(Numbered
tipe
Heads
NHT
Together). Model
(Numbered
Heads
Together memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling memberikan ide
dan mempertimbangkan jawaban yang saling tepat, selain itu tipe ini juga
mendorong
siswa
untuk
meningkatkan
59). Sedangkankata cooperative
kerja
learning berasal
sama
dari
(Lie,
bahasa
2007:
Inggris
yaitu Cooperative artinya bekerja sama sedangkan learning berarti pembelajaran.
Jadi cooperative learning dapat diartikan belajar yang dilakukan secara bersamasama. Menurut Slavin (Isjoni, 2011: 15) mendefinisikan bahwa ‘cooperative
learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja
dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4–6 orang dengan
struktur kelompok heterogen’.
Rahayu (2012) pernah melakukan penelitian menggunakan media audio
visual, hasilnya yaitu siswa sangat antusias dan senang melihat organ tubuh
secara konkrit dalam pembelajaran. Kemudian Effendi (2012) pernah melakukan
penelitian dengan menerapkan model cooperative learning tipe NHT (Numbered
Heads Together) hasilnya yaitu menerima pembagian kelompok dengan lapang
dada, saling membantu sesama teman, dan mau tampil kedepan dengan berani.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan Penelitian tindakan
Kelas (PTK) dalam rangka meningkatkan kemampuan proses dan konsep
terhadap pembelajaran IPA tentang banjir di SDN Lenggerong Kecamatan
Bantarbolang
dengan
judul:
“Penggunaan
Media
Audio
Visual
pada
Pembelajaran IPA dengan Model cooperative learning tipe NHT (Numbered
Heads Together) untuk Meningkatkan Hasil Belajar”.
‘Hasil
belajar
adalah
suatu
akibat
dari
proses
belajar
dengan
menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana,
baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan’ Sudjana (Kunandar, 2008:
76).Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat
dilakukan melalui alat penilaian post tes diakhir pembelajaran.
Adapun langkah pembelajaran dalam menggunakan media audio visual
dengan cooperative learning tipe NHT (Numbered Heads Together) terdiri dari
(1)
fase
pembagian
kelompok,
perdik dibagi
menjadi
beberapa
kelompok yang terdiri dari empat orang dengan kemampuan yang berbeda. (2)
fase pemberian nomor, setiap anggota kelompok diberikan ikat kepala bernomor
dengan nomor satu sampai dengan empat. (3) Fase pemberian pertanyaan,
perdik diberikan pertanyaan dalam bentuk lembar kerja peserta didik (LKPD)
seputar isi videobanjir. (4) Fase menyaksikan video, perdik menyaksikan
tayangan video tentang banjir. (5) Fase berfikir bersama, perdik diskusi bersama
untuk menyelesaikan pertanyaan yang diajukan. (6) Fase menjawab, perdik yang
dipanggil oleh gurudengan menyebutkan nomor kepalanya, kemudian peserta
diidk
menjawab
pertanyaan
di
depan
kelas.
dan
(7)
Fase
evaluasi,
perdik mengerjakan lembar evaluasi untuk mengukur keberhasilan pembelajaran
yang telah berlangsung
Berdasarkan
permasalahan
bertujuan (1) untukmendeskripsikan
di
atas,
pelaksanaan
penelitian
pembelajaran IPA
ini
tentang
banjir melaluipenggunaan media audio visual dengan model cooverative learning
tipe NHT (Numbered Head Together) di kelas IV SDN Lenggerong Kecamatan
Bantarbolang, (2) untuk mendeskripsikan hasil
pembelajaran
IPA
tentang
belajar
banjir melalui
peserta
didik
dalam
penggunaan media
audio
visual denganmodel cooperative learning tipe NHT (Numbered Head Together) di
kelas IV SDN Lenggerong Kecamatan Bantarbolang.
Kerangka Berpikir
Hasil belajar pada peserta didik kelas IV SD Negeri Lenggerong tentang
mengatasi permasalahan banjir melalui model cooperative learning tipe NHT
(Numbered Heads Together) berbantuan media audio visual.
Hipotesis Tindakan
Berdasar kerangka berpikir di atas hipotesis tindakan dalam penelitian ini
adalah: 1). Penggunaan model cooperative learning tipe NHT (Numbered Heads
Together) dapat meningkatkan aktivitas peserta didik serta mengembangkan
keterampilan social peserta didik 2). Penggunaan media audio visual dapat
mengembangkan kemampuan kognitif dengan memberikan rangsangan berupa
gambar bergerak dan suara pada peserta didik kelas IV SDN Lenggerong
semester 2 Th 2015/ 2016.
METODE PENELITIAN
Penelitian Kelas ini dilaksanakan bulan Januari sampai dengan bulan
Maret 2015. Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas, menurut
Subyantoro (2012:12) “Penelitian Tindakan Kelas ialah suatu penelitian yang
dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan
oleh guru sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan
sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas, yang berupa kegiatan
belajar mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.”
Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus. Siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan
bulan Januari 2015.
Subjek penelitian
adalah
peserta
didik kelas IV
semester
1
pada SD Negeri Lenggerong 3 dengan jumlah siswa sebanyak 16 orang yang
terdiri dari 8 laki laki dan 8 perempuan.
Instrumen pengumpulan data adalah sesuai dengan tujuan penelitian,
proses
pengumpulan
data
diperoleh
melalui: evaluasi,
observasi
dan
dokumentasi. Untuk evaluasi pembelajaran dilakukan dengan dua cara. Pertama
melalui LKPD dan cara post tes di akhir pembelajaran. Tes yang digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
tes essay.
Menurut
Purwanto
(1984:35)
“tes essayadalah tes yang berbentuk pertanyaan tulisan, yang jawabanya
merupakan karangan atau kalimat yang panjang-panjang”. Kedua observasi
yang dilakukan oleh peneliti melalui pengamatan dan mencatat kejadian penting
dalam proses pembelajaran IPA tentang banjir. Sebelum melaksanakan
observasi peneliti menyiapkan lembar observasi sesuai dengan apa yang akan
diamati, kemudian mendiskusikan lembar observasi bersama observer. Observer
I merupakan guru SD Negeri Lenggerong dan observer II merupakan teman
sejawat dari PPG. Saat pelaksanaan pembelajaran meminta bantuan observer
untuk mengamati proses pembelajaran dan menuliskan temuan-temuannya ke
dalam lembar observasi. Setelah selesai observasi kemudian hasilnya
dikumpulkan kemudian dilakukan refleksi. Ketiga dokumentasi yang dilakukan
oleh peneliti ialah dengan mengidentifikasi data sekolah dan subjek yang akan
dijadikan penelitian, kemudian mengambil foto saat proses pembelajaran yang
berlangsung, setelah itu menganalisis hasil foto guna memperkuat hasil
penelitian.
Analisi data yang dilakukan adalah teknik kualitatif dan kuantitatif. Data
kualitatif merupakan data berupa deskripsi kejadian yang bersumber dari data
observasi dan dokumentasi. Untuk data kualitatif dilakukan dengan lima tahap.
Pertama tahap reduksi data dengan cara memilah dan memilih data yang
diperlukan
dan membuang
data
yang
tidak
diperlukan.
Tahap kedua
klasifikasi data dengan cara mengklasifikasikan data yang diperoleh dari siklus I
dan II dengan mengacu pada RPP. Tujuannya untuk mengetahui aktivitas guru
dan peserta didik yang diharapkan terjadi atau yang tidak diharapkan terjadi
untuk mengetahui hasil belajar peserta didik yang diperoleh. Dan untuk
mempermudah data-data kemudian diklasifikasikan sesuai dengan datanya,
misalnya data tentang aktivitas guru, aktivitas peserta didik dan dokumentasi
kegiatannya. Tahap ketiga display data dengan mendeskripsikan data yang
sudah diperoleh baik dalam bentuk narasi, uraian atau dalam bentuk table juga
grafik. Tahap keempat Interpretasi data dengan cara menafsirkan data-data yang
sudah di display baik data dalam bentuk table atau dalam bentuk grafik. Tahap
terakhir refleksi dengan cara meninjau kembali perencanaan dan pelaksanaan
yang telah dilakukan dengan cara melihat kelebihan yang sudah diperoleh atau
kelemahan apa yang harus ditingkatkan, kemudian kelebihan dan kelemahan
dianalisis mengapa masih terjadi kelemahan dan bagaimana cara mengatasi
kelemahan tersebut kemudian ditingkatkan pada tindakan berikutnya.
Sedangkan data kuantitatif merupakan data dalam bentuk angka-angka
yang diambil dari data hasil evaluasi dengan cara post tes setelah pembelajaran
berlangsung. Untuk mengolahan data kuantitatif menggunakan cara penskoran
diambil dari nilai individu peserta didik, rata-rata nilai subjek penelitian, dan daya
serap klasikal (DSK). Adapun rumus penhitungannya sebagai berikut:
1.
Penskoran
Nilai Akhir = jawaban benar x 10 = 100
2.
Rata-rata
Rata-rata = jumlah nilai : jumlah siswa
3.
DSK (Daya Serap Klasikal)
HASIL PENELITIAN
Siklus I
Hasil penelitian pada siklus I. pada tahap perencanaan siklus I ini peneliti
melakukan
persiapan-persiapan
untuk
melaksanakan
tindakan
siklus
I.
Persiapan-persiapan yang dilakukan diantaranya: mencari video animasi tentang
banjir, kemudian mendengar video berulang-ulang untuk membuat intisari dari
video animasi banjir, setelah itu merumuskan pertanyaan lembar kerja yang
dapat menggali pengetahuan peserta didik tentang banjir dan menguasai materi
banjir secara konkrit, selanjutnya menyusun RPP dengan langkah pembelajaran
dengan penggunaan media audio visual, langkah terakhir membuat soal evaluasi
yang dapat mencapai tujuan pembelajaran. Saat pembelajaran di kelas harus
dipersiapkan laptop sebagai alat bantu menyaksikan video dan speaker untuk
mendengarkan suara yang dikeluarkan dari video, selain itu kabel panjang untuk
menyambungkan ke sumber listrik.
Pelaksanaan siklus I pada hari kamis, 23 Mei 2015. kegiatan diawali
dengan berdo’a bersama untuk mengawali pembelajaran bersama-sama
dipimpin oleh ketua kelas, kemudian memeriksa kehadiran peserta didik. Setelah
itu mengkondisikan dan merapihkan posisi duduk peserta didik agar terlihat rapih
, dan memberikan motivasi berupa tanya jawab dan bernyanyi bersama “Pagiku
cerah”. Ibu Ayu melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab kepada
peserta didik sebagai berikut: “Jika kamu membuang sampah, kamu akan
membuang kemana?”, peserta didik menjawab “Ke tempat sampah bu!”, satu
orang yang duduk paling belakang menjawab “Ke selokan” sambil bercanda.
Kemudian mengajukan pertanyaan lanjutan kepada anak itu “coba kamu
bayangkan selama satu tahun sampah tersebut menumpuk di selokan?”, ia
menjawab “mmm… penuh bu, di dekat rumah saya juga banyak sampah di
sekitar selokan”. Selanjutnya Ibu Ayu memberikan pertanyaan kembali “Apa
dampak bagi lingkunganmu?”, peserta didik yang duduk di depan mengacungkan
tangan dan menjawab “Banyak lalat dan kalau hujan suka banjir terus
dampaknya terbawa ke daerah banjirnya bu!”. Lalu Ibu Ayu mengajukan
pertanyaan “Bagaimana cara pencegahannya?”. Kemudian teman yang duduk
disampingnya menjawab “ya….jangan buang sampah ke selokan atuh”.
Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan memberikan
pernyataan kepada peserta didik, “Pada pembelajaran hari ini, ibu harapkan
kalian peduli terhadap lingkungan setelah menyaksikan tayangan video tentang
banjir!”
Pada kegiatan inti peserta didik dibentuk menjadi beberapa kelompok,
yang terdiri dari empat orang yang mempunyai kemampuan yang berbeda dan
jenis kelamin yang berbeda pula, adapun nama-nama kelompok satu adalah Alfi,
Alya, Desti, Safira. Kelompok dua adalah April, Abdul, Anisa, Aulia. Kelompok
tiga adalah Dani, Andi, Haris, Mira, dan kelompok empat adalah Jimy, Riki,
Moniq, Gafari. Setiap kelompok terdiri dari atas laki-laki dan perempuan, yang
mempunyai kemampuan lebih dan lemah.
Setelah pembagian kelompok, guru membagikan LKPD kepada masingmasing kelompok. Kemudian peserta didik menyimak petunjuk pengerjaan
LKPD. Pada saat diskusi dengan kelompoknya, Ibu Ayu membimbing peserta
didik secara berkeliling ke setiap kelompok. Kemudian perwakilan peserta didik
mempresentasikan hasil kerjaanya di depan kelas, namun terjadi saling tunjuktunjukan. Kemudian Ibu Ayu mengambil inisiatif membagi anggota kelompok
dengan menggunakan warna merah, kuning, biru, hijau. Ibu Ayu memanggil
peserta didik dibelakang kelas dengan menggunakan kalimat “warna merah
kelompok 2”, sedangkan peserta didik yang tidak maju memperhatikan teman
yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya. Setiap kelompok yang tampil,
diberikan pertanyaan. Setelah itu Ibu Ayu memanggil kembali peserta didik
dengan nomor kepala untuk menyimpulkan pembelajaran. adapun beberapa
yang diajuakn dalam pertanyaan sebagai berikut: “Apa yang kamu ketahui
tentang banjir?”, “Bagaimana kondisi air saat banjir?”, “Bagaimana kondisi
lingkungan saat banjir?”, “Siapa yang menyebabkan terjadinya banjir?”, “Jadi,
apa arti banjir itu sendiri!”. Adapun hasil pengerjaan LKPD siklus I dijelaskan
pada table 1.
Tabel 1. Perolehan Nilai Kelompok siklus I
NO
NAMA KELOMPOK
NILAI
1
Kelompok 1
83
2
Kelompok 2
89
3
Kelompok 3
75
4
Kelompok 4
62,5
Berdasarkan table 2 di atas, kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi
adalah kelompok dua, sedangkan kelompok yang mendapatkan nilai terendah
adalah kelompok empat. Saat pembelajaran kelompok dua melakukan kerja
sama yang baik, tugasnya dibagi-bagi dari 15 soal dibagi oleh empat orang, jadi
semua bekerja.
Kegiatan akhir selama 10 menit dengan mengkondisikan peserta didik
kembali ke tempat duduk semuala, kemudian guru memberikan soal evaluasi
tentang banjir. Selanjutnya diberikan tindak lanjut dengan mengarahkan peserta
didk untuk belajar tentang berita terjadinya banjir pada pertemuan selanjutnya.
Pembelajaran di tutup dengan mengucapkan rasa syukur. Adapun hasil evaluasi
siklus I dijelaskan pada table 2.
Tabel 2. Ketuntasan Belajar Siklus I
No
Hasil Tes akhir
Jumlah
Presentase
1.
Peserta didik yang tuntas
12
75 %
2.
Peserta didik yang belum tuntas
4
25 %
Berdasarkan data pada table 2 diketahui bahwa peserta didik kelas IV
yang belum mencapai ketuntasan belajar minimum (KKM) dari 16 orang untuk
materi banjir sebanyak 4 orang (25%) sedangkan yang telah mencapai
ketuntasan meningkat menjadi 12 orang (75%). Adapun perolehan hasil belajar
dari jumlah peserta didik 16 orang, peserta didik yang mendapat nilai 54
sebanyak 4 orang, nilai 63 sebanyak 4 orang, nilai 72 sebanyak 5 orang, nilai 81
sebanyak 3 orang.Dapat ditarik kesimpulan bahwa peserta didik yang
mendapatkan nilai tertinggi meningkat menjadi 81 dan nilai terendah meningkat
menjadi 54, dengan jumlah nilai seluruh peserta didik sebesar 1071 dengan nilai
rata-rata 67. Nilai hasil belajar siklus I digambarkan pada tabel 3. Berdasarkan
tabel 3 bahwa hasil belajar siklus I, peserta didik yang mendapatkan nilai ≥ 60
sebanyak 12 orang dibagi jumlah seluruh peserta didik dikaliakan 100% maka
dihasilkan presentase 75%. Hal ini menunjukan bahwa kelas masih belum tuntas.
Karena kelas dikatakan tuntas, jika DSK (daya serap klasikal) mencapai 85%.
Table 3. Nilai Hasil Belajar Siklus I
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
81
2
Nilai Terendah
54
3
Jumlah Nilai
4
Nilai Rata-rata
1071
67
Hasil observasi siklus I
siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2015 di kelas IV SD
Negeri Lenggerong ialah pada fase pembagian kelompok guru membagi
kelompok di awal pembelajaran, kelompok ribut saat berkumpul bersama
temannya, posisi duduk tempat diskusi tidak beraturan sehingga kelas terlihat
tidak rapi, satu orang ke depan memgang proyektor dan memainkan cahayanya,
mungkin karena ia masih baru melihat benda seperti itu.
Pada fase pembagian LKPD, guru membagikan kepada peserta didik,
selanjutnya menjelaskan petunjuk pengerjaan, pada saat bersamaan, ada dua
kelompok yang menuliskan nama-nama kelompok dan membagi ketua
kelompok. Pada fase menyaksikan video guru menunjukan video animasi banjir,
sebagian peserta didik mengatakan “asyik kita nonton kartun”, ketika video
selesai peserta didik yang duduk di tengah mengatakan “Bu… lagi nontonya!”.
Kemudian guru menanyakan “apakah kalian mengerti tentang isi video
tersebut?”. Peserta didik yang duduk di dekat tembok sebelah kanan
mengatakan “lagi bu, videonya cepat sekali”. Akhirnya guru menanyangkan video
kedua kalinya.
Pada
fase
didik,kelompok
berfikir
bersama
dua tunjuk-tunjuk
guru berkeliling
siapa
yang
kepada
peserta
mengerjakan, kelompok
empatmengerjakan seorang diri. Kelompok satu mengungkapkan kembali isi
video “seratuuuuuuuuuuuus”. Saat dihampiri guru kemudian guru bertanya
“kenapa kamu mengungkapkan kata seratu?”. Kata peserta didik kelompok 4 “Itu
ada di video bu, jawaban pak lurah kepada anak kecil”.
Pada
fase
menjawab guru meminta
peserta
didik
untuk
mempresentasikan hasil diskusinya. Kemudian banyak peserta didik saling
tunjuk-tunjukan, sehingga tiba-tiba guru memanggil nomor kepala peserta didik
dengan kalimat,
“warna meraaaaaaaaaaaaaah dari kelompok
2”.
Saat
pemanggilan nomor kepala, peserta didik terlihat tegang. Dan ada yang berkata
“semoga bukan aku!” sambil mengelus-elus dada. Peserta didik yang maju ke
depan tampak tegang sehingga ia tidak berani melihat gurunya, matanya
mengarah ke atap kelas dan suaranya pun rendah. Ketika guru berkata “yang
menjawab pertanyaan menentukan nilai kelompok”. Kemudian peserta didik
merah itu menjawab pertanyaan agak keras. Dia menjawab “orang di dalam
hutan menebang pohon”. Dan pertanyaan kedua dia jawab dengan tegas “pohon
tinggal sedikit”. Saat pertanyaan ketiga diajukan dia menengok kepada temanteman sekelompoknya, dan menjawab dengan singkat “banjir”. Saat pertanyaan
keempat diajukan dia menjawab “mmmmmmmm….mmmmm menebang pohon
ya bu!”.Saat guru memberikan kata-kata semangat “kamu sangat pintar, kamu
mampu menjawab pertanyaan yang ibu berikan, dan kamu juga sudah tahu
tentang penyebab terjadinya banjir. Peserta didik tersebut senang dan berkata
“hore…hore”. Ketika guru memanggil kedua kali nomor kepala peserta didik
dengan kalimat, “warna biru dari kelompok 3”. Anak itu ke depan dengan jalan
yang santai kemudian saat menjawab pertanyaan ia menghadap ke depan
gurunya.
Pada fase evaluasi, peserta didik diminta kembali ke tempat duduknya
semula, saat itu ada yang membereskan meja, membalikan kursi, lari-lari dan
ada yang berdiam diri saja. Kemudian mereka mengerjakan soal dengan fokus.
Hasil jawaban lembar evaluasi banyak yang salah dalam soal cerita tentang cara
pencegahan banjir di daerah padat penduduk. Mungkin karena soal ini diluar isi
video. Sedangkan dalam pertanyaan arti, penyebab banjir ada 14 orang dari 16
orang yang menjawab benar.
Refleksi siklus I
Berdasarkan data tentang hasil observasi bahwa refleksi pelaksanaan
pembelajaran siklus I dengan menggunakan media audio visual berjalan lancar,
peserta didik senang saat menyaksikan video animasi banjir, pembagian
kelompok belum tertib, dalam diskusi kelompok saling mengandalkan, ketika
mempresentasikan hasil diskusi saling tuduh dan akhirnya tidak ada yang mau
ke depan, sehingga guru berinisiatif untuk presentasi hasil kerja dengan cara
memanggil
nomor
kepala.
Sedangkan peserta
didik
belum
mencapai
KKMsebanyak 4 orang dari 16 orang dan DSK (Daya Serap Klasikal) mencapai
75%, pembelajaran ini belum dinyatakan tuntakan karena belum mecapai 85%.
Langkah perbaikannya ialah memperbaiki proses pembelajaran, sehingga
meningkatkan hasil belajar. Kedua belum tertib saat duduk dengan kelompok,
langkah perbaikan agar peserta didik tertib saat menempati posisi duduk
perkelompok. Melakukan pembagian kelompok dilakukan di awal pembelajaran
setelah berdo’a, kemudian pemberian tugas dengan cara dua orang bertugas
membalikkan meja, dan dua orang membalikan kursi serta merapihkan posisi
duduk. Ketiga soal LKPD dikerjakan oleh sebagian orang,Agar tidak ada saling
mengandalkan pekerjaan. Salah satunya dengan cara memberikan pembagian
tugas secara adil dan jelas. Keempatpeserta didik tidak mau ke depan langkah
perbaikannya menggunakan model pembelajaran yang tepat, saat peserta didik
dipanggil dengan nama warna, ia mau ke depan. Jadi untuk pertemuan
selanjutnya menerapkan model cooperative learning tipe NHT, supaya tidak ada
saling tuduh untuk mempresentasikan hasil kerja atau menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh guru. Keenam video harus ditayangkan dua kali, karena jika
sekali anak belum semuanya dapat menguasai materi dalam video tersebut.
Ketujuh peserta didik ribut saat kembali ke tempat semula, langkah perbaikannya
dengan cara memberikan pengarahan kepada peserta didik sebelum pengerjaan
lembar evaluasi. Kedelapan soal yang banyak salah tentang cara pencegahan
banjir, jadi guru harus lebih menanamkan konsep tentang cara pencegahan.
Kesimpulannya
langkah
perbaikan
pada
siklus
II
ditambahkan
model cooperative learning tipe NHT untuk memperbaiki aktivitas peserta didik,
kemudian dibuatlah nomor kepala yang terbuat dari karton dan pita supaya
peserta didik termotivasi, kemudian ditambahkan kegiatan POE (predict,
observasi, explain) sebagai langkah pembelajaran. Namun tidak merubah fase
pembelajaran yang disusun. Kegiatan predict dilakukan diawal pembelajaran
saat apersepsi dengan menggali pengetahuan peserta didik melalui tanya jawab
peristiwa terjadinya banjir di Indonesia, pada kegiatan observasi dilakukan
dengan menyaksikan tayangan peristiwa banjir di lingkungan sekitar, agar
peserta didik dapat peduli dengan lingkungan sekitar. Kegiatan explain hampir
sama dengan kegiatan diskusi dan menjawab pertanyaan dari guru.
Dilihat dari hasil siklus I yang kurang optimal, guru perlu mengadakan
siklus II agar nilai yang dihasilkan dapat tercapai secara optimal. Proses
pelaksanaan siklus II sama halnya dengan siklus I. Pada tahap perencanaan ini
peneliti melakukan persiapan-persiapan untuk melaksanakan tindakan siklus
II.Persiapan yang dilakukan diantaranya: mencari video animasi yang tentang
banjir dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mendengar video berulang-ulang
untuk membuat intisari dari video banjir sebagai bahan ajar, setelah itu
merumuskan LKPD yang dapat menggali pengetahuan peserta didik tentang
banjir dan menguasai materi banjir secara konkrit, selanjutnya menyusun RPP
dengan langkah pembelajaran dengan penggunaan media audio visual dengan
model cooperative learning tipe NHT, membuat ikat kepala bernomor agar
peserta didik termotivasi belajar, langkah terakhir membuat soal evaluasi yang
dapat mencapai tujuan pembelajaran. Saat pembelajaran di kelas harus
dipersiapkan laptop sebagai alat bantu menyaksikan video dan speaker untuk
mendengarkan suara yang dikeluarkan dari video, selain itu kabel panjang untuk
menyambungkan ke sumber listrik.
Pelaksanaan siklus II
Pelaksanaan penelitian siklus II dilaksanakan hari senin, tanggal 27 Mei
2015. Sebelum guru masuk ke ruang kelas, lima orang peserta didik menunggu
di depan ruangan dan mengatakan “Bu, sekarang nonton lagi ya?”. Kemudian
Ibu Ayu hanya menganggukan kepala. Dua dari lima orang mengatakan “Yes!”
dengan menggunakan gerakan tangan dan penuh ekspresi rasa senang. Satu
dari lima orang itu mengekspresikan rasa gembiranya dengan menemukan
kedua tangannya dan berkata “Asyik...asyik”. Sedangkan dua orang berkata “Bu,
kami bantu membawa speaker, proyektor dan kabelnya ya!” (sambil memohon).
Kedua orang tersebut membantu Ibu Ayu dalam memasangkan proyektor,
speaker dan kabel kepada stop kontak.
Pada awal pembelajaran peserta didik sudah duduk rapih, tampaknya
mereka sudah siap untuk belajar. Tanpa diinstruksikan oleh guru, ketua kelas
memimpin berdoa. Saat diabsen ternyata semuanya masuk, tidak ada yag izin
maupun sakit. Kemudian peserta didik dibagi menjadi 4 kelompok, yang terdiri.
Kelompok 1 terdiri dari Alfi , Alya, Dezti, Safira. Kelompok 2 terdiri dari April,
Abdul, Anisa, Mira. Kelompok 3 terdiri dari Dani, Andi, Hariz, dan Mei.
Sedangkan kelompok 4 terdiri dari Jimy, Riki, Moniq, Gifar.
Ketua kelompok mengambil ikat kepala dan LKPD di meja yang elah
disiapkan. Kemudian ketua kelompok membagikan ikat kepala bernomor tersebut
kepada anggota kelompoknya. Saat dibagikan terlihat ceria wajah anak-anak.
Untuk mengkondisikan sebelum belajar, peserta didik diberikan motivasi berupa
lagu “Ku takut terjadi banjir”. Selanjutnya guru melakukan kegiatan predict dalam
apersepsi dengan melakukan tanya jawab kepada peserta didik salah satu
pertanyaanny adalah “Masih ingatkah video banjir, pada pertemuan minggu
kemarin?”. Kemudian memberikan pertanyaan yang menggali pengetahuan
mereka tentang peristiwa terjadinya banjir di Indonesia. Selanjutnta guru
menyampaikan tujuan pembelajaran dengan memberikan pernyataan kepada
peserta didik, “Kemarin kalian telah menonton video animasi tentang banjir, hari
ini kalian akan menyaksikan video tantang peristiwa terjadinya banjir di Jakarta
dari sebuah tayangan berita. Ibu harapkan kalian dapat mengidentifikasi
penyebab, dampak dan cara mengatasi banjir tersebut!”
Pada kegiatan inti peserta didik menyimak petunjuk pengerjaan LKPD
dan soal yang akan dijawab berkaiatan dengan video yang dibacakan oleh ketua
kelompok kepada anggota kelompoknya. Ibu Ayu mengatakan “Ilmuan”
kemudian anak-anak menjawab dengan kata “Siap”. Maka semuanya tertuju
kepa pusat suara dan merapihkan posisi duduknya. Selanjutnya peserta didik
melakukan observasi dengan menyaksikan tayangan video berita peristiwa banjir
di Jakarta, setelah itu peserta didik pengerjaan LKPD secara berdiskusi dengan
kelompoknya, guru membimbing dalam berdiskusi dengan kelompoknya.
Kegiatan explain dengan memanggil nomor kepala peserta didik dengan
kata “Nomor satu warna biru”. Saat dipanggil anak-anak sudah tidak terlihat
tegang.
Saat temannya mempresentasikan hasil kerjanya dan menjawab
pertanyaan yang diajukan guru, peserta didik lainnya memperhatikan dan fokus
ke sumber suara. Menyimpulkan hasil belajar dilakukan oleh peserta didik
dengan memanggil nomor kepalanya. Adapun perolehan nilai kelompok pada
siklus II dijelaskan pada table 4 sebagai berikut:
Tabel 4. Perolehan Nilai Kelompok Siklus II
NO
NAMA KELOMPOK
NILAI
1
Kelompok 1
90
2
Kelompok 2
89
3
Kelompok 3
90
4
Kelompok 4
82
Berdasarkan table 4 di atas perolehan hasil diskusi kelompok mengalami
peningkatan dibandingkan siklus I. Kelompok 4 yang awalnya 62 meningkat
menjadi 83. Kemudian peserta didik yang dipanggil nomornya maju ke depan
kelas diberikan kuis tentang mengidentifikasi berita tentang banjir Jakarta
sedangkan
peserta
didik
lainnya
memperhatikan
teman
yang
sedang
mempresentasikan hasil kerjanya. Kemudian guru bersama peserta didik
menyimpulkan pembelajaran dengan melakukan tanya jawab tentang banjir
Setelah peserta didik terkondisikan kemudian guru memberikan soal
evaluasi tentang banjir dengan dibatasi oleh waktu pengerjaan 10 menit. Guru
memberikan arahan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Guru
bersama peserta didik menutup pembelajaran dengan mengucapkan rasa
syukur. Adapun perolehan hasil belajar pada siklus II menggunakan media audio
visual dengan model cooperative learning tipe NHT dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Ketuntasan Belajar Siklus II
No
Hasil Tes akhir
Jumlah
Presentase
1.
Peserta didik yang tuntas
16
100%
2.
Peserta didik yang belum tuntas
0
0%
Berdasarkan data pada table 5 diketahui bahwa peserta didik kelas
IVsudah mencapai ketuntasan belajar minimum (KKM) dari 16 untuk materi banjir
sebanyak 4 orang (100%) tidak ada yang belum tuntas atau kalau di persentase
0%. Sedangkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik pada siklus II secara
lengkap dapat dilihat dalam lampiran 21. Adapun perolehan hasil belajar dari
jumlah peserta didik 16 orang meningkat dibandingkan siklus I, peserta didik
yang mendapat nilai 67 sebanyak 10 orang, nilai 83 sebanyak 4 orang, nilai 100
sebanyak 2 orang. Adapun perolehan nilai post test siklus II di gambarkan pada
gambar 2 sebagai berikut:
Table 6. Nilai Hasil Belajar Siklus II
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
100
2
Nilai Terendah
67
3
Jumlah Nilai
4
Nilai Rata-rata
1298
82
Berdasarkan tabel 6 bahwa hasil belajar siklus II, peserta didik yang
mendapatkan nilai ≥ 60 sebanyak 16 orang dibagi jumlah seluruh peserta didik
dikaliakan 100% maka dihasilkan presentase 100%. Hal ini menunjukan bahwa
kelas mas tuntas. Karena kelas dikatakan tuntas, jika DSK (daya serap klasikal)
mencapai 85%.
Hasil penelitian observasi siklus II pelaksanaan pembelajaran media
audio
visual
dengan cooperative
learning
tipe
NHT
(Numbered
Heads
Together)pada fase pembagian kelompok dilakukan di awal pembelajaran. Pada
kegiatan ini kelompok jauh lebih tertib dibandingkan pada siklus I, jadi proses
pembelajaran berjalan dengan lancar. Pada fase pemberian pertanyaan, LKPD
diambil oleh ketua kelompok ke depan kelas berbarengan dengan mengambil
lembar kerja. Pembacaan pertnayaan dalam lembar kerja oleh ketua kelompok.
Dalam kegiatan ini menumbuhkan karakter kepemimpinan kepada anak, dan
anggota yang lain mendengarkan petunjuk menyaksikan video dan pertanyaan
seputar video sehingga kegiatan ini menumbuhkan karakter rasa ingin tahu. Jadi
pada fase pemberian pertanyaan, anak belajar berorganisasi dalam skala kecil.
Pada fase pemberian nomor dengan menggunakan ikat kepala membuat
peserta didik senang, ada juga yang susah menggunakan ikat kepala sehingga
meminta bantuan guru untuk memasangkan, terutama untuk anak laki-laki. Saat
pengambilan ikat kepala dilakukan oleh ketua kelompok sesuai dengan nama
kelompoknya, sehingga menumbuhkan karakter berani, tanggung jawab dan
kejujuran.
Kegiatan IPA POE (Predict, Observasi dan Explain) tergambar dalam
kegiatan apesepsi dimana peserta didik diberikan pertanyaan seputar peristiwa
banjir di Indonesia. Pada kegiatan ini anak merasa senang, dibuktikan saat
diberikan pertanyaan dia mampu menjawab dan berebutan menjawabnya. Anak
yang diam juga menjadi aktif.
Kegiatan observasi tergambar
pada
fase
menyaksikan
video berita
tentang banjir di Jakarta, peserta didik terfokus pada video. Tidak ada yang
mengobrol atau bermain-main dengan temannya. Peserta didik tidak ada yang
bertanya, melaikan saat selesai guru menanyakan kembali seputar isi video dari
lima orang, empat orang yang dapat menjawab. Hal ini membuktikan peserta
didik sudah dapat menguasai materi secara konkrit.
Pada fase berfikir bersama guru berkeliling ke setiap kelompok. Dari empat
kelompok sudah mulai adanya tanya jawab antar anggota kelompok. Dan
dibacakan kembali pertanyaan LKPD oleh ketua kelompok, temannya yang lain
mendengarkan. Saat guru berkunjung ke kelompok orange, tiba-tiba saat ketua
kelompok membacakan petunjuk pengerjaan dan soal, ada temannya yang
duduk disebelahnya mengambil kertas. Saat ditanya oleh guru “Mengapa kamu
merebut LKPD?”, ia menjawab “Ingin gantian membacanya”.
Pada fase menjawab pertanyaan dilakukan dengan cara memanggil
nomor kepalanya. Ekspresi peserta didik tenang, ada juga yang tersenyum dan
berkata “semoga aku ke depan”. Dan tidak ada saling tunjuk-tunjuk. Ia sudah
berani dan siap untuk menjawab pertanyaan. Pada saat temannya menjawab
pertanyaan, peserta didik lainnya memperhatikan jawaban yang dilontarkan
temannya. Pada fase evaluasi ketika akan mengerjakan soal evaluasi berupa
post tes, guru memberikan arahan agar tertib saat berpindah tempat. Kemudian
ada peningkatan dibandingkan sebelumnya, mereka mengikuti arahan dari
gurunya. Dan tidak ramai saat berpindah tempat duduk. Dari hasil lembar
jawaban evaluasi 2 orang dari 16 orang tidak mengalami kesulitan dalam
mengidentifikasi penyebab, dampak dan cara pencegahan banjir yang terdapat
dalam teks berita banjir di Bandung. Hal ini dibuktikan dengan nilainya betul
semua.
Refleksi pelaksanaan siklus II
Refleksi pelaksanaan siklus II dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
menggunakan media audio visual dengan model cooperative learning tipe NHT
(Numbered Heads Together), Pembagian kelompok yang dilakukan di awal
pembelajaran membuat suasana kelas tertib tidak rebut, ikat nomor kepala yang
berwarna-warni membuat peserta didik senang, karena ini hal yang baru bagi
mereka dalam proses pembelajaran, video berita banjir membuat peserta didik
belajar dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di lingkungan sekitar, dalam
pembelajaran ini juga peserta didik sudah dapat menceritakan kembali isi video
dengan menggali lewat pertanyaan yang diajukan oleh guru dengan cara
pemanggilan nomor kepala, pada saat ke depan kelas, tanpa harus disuruhsuruh mereka sudah mau ke depan. Secara tidak langsung hal ini menumbuhkan
karakter berani dan bertangggung jawab. Hasil presentasi kelompok meningkat,
hasil belajar peserta didik meningkat yang semula nilai rata-rata 63 meningkat
menjadi 82, KKM pada siklus I 75% meningkat menjadi 100%,
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa
pembelajaran
IPA
melalui
visual dengan model cooperative
learning
penggunaan
tipe
NHT
media
audio
(Numbered
Heads
Together) dalam pembelajaran IPA tentang banjir di kelas IV C meningkat. Hal ini
dibuktikan pada fase pembagian kelompok yang asalnya ribut atau tidak tertib,
pada siklus II menjadi tertib, pembagian kelompok lebih tertib dilaksanakan
sebelum kegiatan inti. Pada fase kedua penomoran awalnya tidak menggunakan
ikat kepala mengakibatkan peserta didik menjadi bingung, saat menggunakan
ikat kepala peserta didik menjadi senang dan bersemangat. Fase ketiga
pemberian
pertanyaan
dengan
pembagian
LKPD
awalnya
guru
yang
membagikan dan dibacakan oleh guru diperbaiki dalam siklus II yang mengambil
dan membacakan oleh ketua kelompok hal ini membuat peserta didik aktif dan
lebih focus terhadap langkah kerja. Fase keempat menyaksikan video pada saat
menonton animasi banjir peserta didik terlihat semangat karena menonton kartun
tetapi pada saat menonton berita banjir peserta didik mengetahui tentang banjir
dalam kehidupan nyata. Fase lima berfikir bersama pada siklus I hanya sebagian
anggota kelompok yang menyelesaikan tugas meningkat saat siklus II peserta
didik sudah dapat bertanggung jawab dengan tugasnya. Fase enammenjawab
pemanggilan nomor kepala saat siklus I peserta didik masih bingung dan lupa
dengan nomor kepalanya tetapi pada siklus II peserta didik ingat dengan nomor
kepala ketika dipanggil juga dia berani ke depan, tanpa disadari hal ini
menumbuhkan karakter berani, jujur dan bertangung jawab dan saat menjawab
pertanyaan pada siklus I masih ada saling tunjuk dan kegugupan pada diri
peserta didik tetapi pada siklus II, peserta didik sudah berani mengungkapkan
pendapatnya.
Fase ketujuh evaluasi pada siklus I terjadi keributan saat merapihkan
meja tetapi pada siklus II peserta didik tertib saat mengembalikan posisi kursi
dan meja. Adapun hasil belajar pada siklus I dari 16 orang peserta didik yang
mendapatkan nilai 6 ke atas sebanyak 12 orang sekitar 75%, peserta didik 4
orang atau 25% belum dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata 67. Namun hasil
pada siklus II dari 16 orang peserta didik yang mendapatkan nilai 6 ke atas
sebanyak 16 orang sekitar 100 % dengan nilai rata-rata 82, Hal ini membuktikan
bahwa
jika
media
audio
visual
dan
model cooperative
learning tipe NHTdipadukan dalam proses pembelajaran, akan meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
Hasil rekapitulasi peningkatan hasil belajarmenggunakan media audio
visual
dengan model cooperative
learning tipe NHT pada
pembelajara
IPA
tentang banjir pada tahap siklus I, dan siklus II kelas IV SD Negeri Lenggerong
dapat dilihat pada diaram 7, 8 dan gambar 3 perolehan nilai rata-rata selama
proses pembelajaran adalah:
Tabel 7. Ketuntasan Belajar Setiap Siklus
No
Hasil Post Tes
1
2
Peserta Didik
Presentase
Pra
I
II
Pra
I
II
Tuntas
10
12
16
56%
75%
100%
Belum Tuntas
6
4
0
44%
25%
0%
Tabel 8. Nilai Rata-rata Setiap Siklus
No
1
Keterangan
Nilai Tertinggi
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
72
81
100
2
Nilai Terendah
16
54
67
3
Jumlah Nilai
883
1071
1298
4
Nilai Rata-rata
49
67
82
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat disimpulkan
hasil penelitian bahwa pelaksanaan pembelajaran menggunakan media audio
visual dengan model cooperative learning tipe NHT (Numbered Heads Together)
meningkat yang asalnya peserta didik tidak menguasai konsep secara konkrit
meningkat menjadi mampu menguasai materi secara konkrit yang asalnya dari
video animasi menjadi video peristiwa bencana banjir di lingkungan sekitar.
Peserta didik yang tadinya malu untuk maju ke depan menjadi berani maju ke
depan. Kerja kelompok pada siklus I dilakukan oleh sebagian anggota kelompok,
meningkat pada siklus II sudah ada tanggung jawab memecahkan masalah
bersama, peserta didik semangat belajar saat menggunakan ikat kepala
bernomor. Penumbuhan karakterk kerjasama, organisasi, rasa ingin tahu, berani,
tangggung jawab, jujur, dan aktif dalam pembelajaran IPA.
Sedangkan hasil belajar peserta didik pada awal siklus mendapatkan nilai
dibawah KKM dari 16 hanya 10 yang lulus dan memperoleh DSK (Daya Serap
Klasikal) sebesar 56% dengan rata-rat 49. Terjadi peningkatan pada siklus I
DSK (Daya Serap Klasikal) menjadi 75% dengan rata-rata 67, kemudian
meningkat yang signifikan pada siklus II DSK (Daya Serap Klasikal) mencapai
100%.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan
media
audio
visual dengan model cooperative
learning
tipe
pembelajaran IPA tentang banjir dapat meningkatkan hasil belajar.
NHT dalam
DAFTAR RUJUKAN
Anderson, Ronald. (1994). Pemilihan dan
Pengembangan Media Audio
Visual.Jakarta: Grafindo Pers
Daryanto.(2010). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
Effendi, Fenty Fitriani. (2012), Penerapan Model Cooperative Learning tipe NHT
(Numbered Heads Together) pada Topik Alat Indera Manusia untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPASkripsi UPI
Bandung: Tidak diterbitkan
Hermawan, Ruswandi. (2007). Metode Penelitian Pendidikan SD. Bandung: UPI
Press
Isjoni. (2011). Pembelajaran Cooperative Learning. Yogyakarta: Pristaka Pelajar
Kunandar. (2009). Langkah
Mudah
Penelitian
Tindakan
Kelas
Sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers
Rahayu, Puji. (2012). Meningkatkan hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan
Media Audio Visual pada Pembelajaran IPA tentang Kerangka Manusia.
Skripsi UPI Bandung: Tidak diterbitkan
Sistem Pendiidkan Nasional.(2003). UU RI No. 20 Th. 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia
Download