Untitled - Journal | Unair

advertisement
Table of Contents
No.
Title
Page
1
ANALISIS KANDUNGAN MERKURI (Hg) PADA AIR, SEDIMEN, IKAN KETING
(Arius caelatus), DAN IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) DI KALI JAGIR
SURABAYA
-
2
EFEKTIVITAS PERASAN ASAM JAWA (Tamarindus indica L) TERHADAP
PERTUMBUHAN BAKTERI Aeromonas hydrophila DENGAN METODE DIFUSI
KERTAS CAKRAM
-
3
POLA PERTUMBUHAN Nannochloropsis oculata PADA KULTUR SKALA
LABORATORIUM, INTERMEDIET, DAN MASSAL
-
4
KELIMPAHAN BAKTERI Vibrio sp. PADA AIR PEMBESARAN UDANG
VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) SEBAGAI DETEKSI DINI SERANGAN
PENYAKIT VIBRIOSIS
-
5
PENGARUH PENAMBAHAN ATRAKTAN YANG BERBEDA DALAM PAKAN
PASTA TERHADAP RETENSI PROTEIN, LEMAK DAN ENERGI BENIH IKAN
SIDAT (Anguilla bicolor) STADIA ELVER
-
6
PENGARUH PENUMBUHAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME
POLA INTENSIF DI TAMBAK
-
7
POTENSI DAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT
(Kappaphycus alvarezii) DI SEKITAR PERAIRAN KABUPATEN WAKATOBI
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
-
8
KANDUNGAN BAHAN KERING, SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR PADA
DAUN LAMTORO (Leucaena glauca) YANG DIFERMENTASI DENGAN
PROBIOTIK SEBAGAI BAHAN PAKAN IKAN
-
9
TINGKAT KEJADIAN AEROMONASIS PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio carpio)
YANG TERINFEKSI Myxobolus koi PADA DERAJAT INFEKSI YANG BERBEDA
-
10
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN TAMBAK DI KECAMATAN PULAU DERAWAN
DAN SAMBALIUNG, KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
-
11
PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR SERAT KASAR YANG BERBEDA
TERHADAP DAYA CERNA PAKAN PADA IKAN BERLAMBUNG DAN IKAN
TIDAK BERLAMBUNG
-
12
EKSPLORASI BAKTERI INDIGEN PADA PEMBENIHAN IKAN LELE DUMBO
(Clarias sp) SISTEM RESIRKULASI TERTUTUP
-
13
STRATEGI BAKTERI PROBIOTIK UNTUK MENEKAN PERTUMBUHAN
BAKTERI PATOGEN DIDALAM PENCERNAAN KERAPU Chromileptes altivelis
DENGAN MEMPRODUKSI BEBERAPA BAKTERIAL SUBSTANSI
-
Vol. 4 - No. 2 / 2012-11
TOC : , and page : POTENSI DAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI SEKITAR PERAIRAN
KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA
POTENTIAL AND SUITABILITY OF LAND SEAWEED FARMING (Kappaphycus alvarezii) WATER AROUND THE
DISTRICT WAKATOBI SOUTHEAST SULAWESI
Author :
Nur Ansari Rangka | Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Jl. Makmur Daeng Sitakkan No. 129, Maros, Sulawesi Selatan
Mudian Paena | Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Jl. Makmur Daeng Sitakkan No. 129, Maros, Sulawesi Selatan
Abstract
Ragulasi government of commodities in the field of aquaculture developed into a major trigger of the mushrooming
development of seaweed farming. (Kappaphycus alvarezii) in most coastal areas in Indonesia, not least in district
Wakatobi Southeast Sulawesi. In development, the local government in this case the relevant agencies do not yet
have data on potential and suitability of the land to be used as a reference in determining the development strategy.
Based on this research has been done to calculate the potential and aimed to determine the suitability of land for
seaweed cultivation in the district of Wakatobi. The study was conducted with the direct survey method to extract the
characteristics of the study sites for hydro-oceanographic dynamics which is closely linked with the growth of seaweed.
Data were tabulated and the field measurement results were analyzed descriptively, whereas spatial analysis for
thematic map creation and distribution of the potential suitability of land is done by applying the technology
of geographic information systems (GIS) utilizing software Arc-View 3.3. The results showed that the distribution
characteristics of hydro-dynamics-osenaografi around Wakatobi waters are bersubstrat sand, coral sand and coral; flow
rate between 0.011 to 0.07 m / sec; brightness from 2.5 to 15 meters; depth of 2.5 to 13.7 meters; temperature of
29.42 to 30.2 ° C; pH 7.58 to 8.23; salinity 34.95 to 36.88 ppt; okesigen dissolved from 6.06 to 6.25 m / L;
total organic matter (BOT) from 35.52 to 42.6 mg / L; ammonia (NH3) from 0.0096 to 0.0136 mg / L; Nitrate (NO3)
from 0.003 to 0.1593 mg / L; Nitrite (NO2) 0.001 - 0.0085 mg / L; Phosphate (PO4) 0.045 to 0.198 mg / L; Iron (Fe) 0.035
to 0.652 mg / L; and Total Suspendet Solit (TSS) 34-125 mg / L. The potential for seaweed cultivation of 17,391.87
hectares of land in accordance with the level of compliance and inappropriate 9,858.62 7,533.25 ha ha, whereas
eksisiting 9,614.42 ha of land.
Keyword : potential, land, suitability, seaweed, farming, Wakatobi, ,
Daftar Pustaka :
1. J.W.Nybakken, (1992). Biologi Laut. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
2. A.Parenreng, (2008). Budidaya rumput laut berkelanjutan dengan dukungan teknologi penyediaan benih secara in
vitro. Jakarta : Teknologi Perikanan Budidaya. Pusat Riset Perikanan Budidaya
3. Sulaeman, Yamin , (2008). Polikultur kepiting bakau (Scylla paramamossain) dan rumput laut (Gracilaria verrucosa)
di Tambak. Jakarta : Teknologi Perikanan Budidaya. Pusat Riset Perikanan Budidaya
4. AB. Susanto, (2007). Prospek pengembangan rumput laut di Indonesia. Prosiding Pengembangan Teknologi
Budidaya Perikanan. Jakarta : Prosiding Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan. Badan Riset Kelautan dan
Perikanan
5. J.M. Umar, S.Jafar, (2007). Tingkat kesuburan perairan di Pantai Paradiso Kota Kupang ditinjau dari komposisi,
kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton. Jakarta : Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 4 No. 2, November 2012
POTENSI DAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI
SEKITAR PERAIRAN KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA
POTENTIAL AND SUITABILITY OF LAND SEAWEED FARMING (Kappaphycus alvarezii)
WATER AROUND THE DISTRICT WAKATOBI SOUTHEAST SULAWESI
Nur Ansari Rangka dan Mudian Paena
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP)
Jl. Makmur Daeng Sitakkan No. 129, Maros, Sulawesi Selatan, 90512 Telp. 0411-371544
[email protected]
Abstract
Ragulasi government of commodities in the field of aquaculture developed into a major trigger
of the mushrooming development of seaweed farming. (Kappaphycus alvarezii) in most coastal areas in
Indonesia, not least in district Wakatobi Southeast Sulawesi. In development, the local government in
this case the relevant agencies do not yet have data on potential and suitability of the land to be used as a
reference in determining the development strategy. Based on this research has been done to calculate the
potential and aimed to determine the suitability of land for seaweed cultivation in the district of Wakatobi.
The study was conducted with the direct survey method to extract the characteristics of the study sites for
hydro-oceanographic dynamics which is closely linked with the growth of seaweed. Data were tabulated
and the field measurement results were analyzed descriptively, whereas spatial analysis for thematic map
creation and distribution of the potential suitability of land is done by applying the technology of
geographic information systems (GIS) utilizing software Arc-View 3.3. The results showed that the
distribution characteristics of hydro-dynamics-osenaografi around Wakatobi waters are bersubstrat sand,
coral sand and coral; flow rate between 0.011 to 0.07 m / sec; brightness from 2.5 to 15 meters; depth of
2.5 to 13.7 meters; temperature of 29.42 to 30.2 ° C; pH 7.58 to 8.23; salinity 34.95 to 36.88 ppt;
okesigen dissolved from 6.06 to 6.25 m / L; total organic matter (BOT) from 35.52 to 42.6 mg / L;
ammonia (NH3) from 0.0096 to 0.0136 mg / L; Nitrate (NO3) from 0.003 to 0.1593 mg / L; Nitrite (NO2)
0.001 - 0.0085 mg / L; Phosphate (PO4) 0.045 to 0.198 mg / L; Iron (Fe) 0.035 to 0.652 mg / L; and Total
Suspendet Solit (TSS) 34-125 mg / L. The potential for seaweed cultivation of 17,391.87 hectares of land
in accordance with the level of compliance and inappropriate 9,858.62 7,533.25 ha ha, whereas eksisiting
9,614.42 ha of land.
Keywords : potential, land suitability, seaweed farming, Wakatobi
Pendahuluan
Kabupaten
Wakatobi
merupakan
kabupaten kepulauan yang terletak di Provinsi
Sulawsi Tenggara. Kabupaten Wakatobi
memiliki luas wilayah daratan ± 823 km2 atau
hanya sekitar 4,5 persen dari total wilayah
Kabupaten Wakatobi secara keseluruhan,
selebihnya merupakan wilayah perairan laut
yang luasnya mencapai ±18.377 km2.
Kabupaten Wakatobi terdiri dari 8 wilayah
kecamatan yang semuanya berada di wilayah
kepulauan (43 pulau) (Anonim, 2009). Luas
perairan tersebut merupakan potensi sumberdaya yang sangat potensial untuk mengembangkan berbagai kegiatan perikanan budidaya
seperti budidaya rumput laut selain parawisata
bahari yang telah berkembang selama ini.
Rumput laut merupakan organisma
fotosintetik di laut, seperti juga halnya
tumbuhan di darat. Perbedaan mendasar dari
system hidupnya adalah dalam hal pengambilan
zat-zat makanan (Atmadja, 1997 dalam Susanto
et al, 2007). Pengembangan rumput lat di
Indonesia saat ini masih terbatas pada jenis
Eucheuma spp yang lebih populer dengan nama
baru Kappaphycus alvarezii. Walaupun menurut
Sulaeman dan Yamin (2008), jenis Gracilaria
sp merupakan komoditas budidaya tambak yang
juga menjadi andalan dalam revitalisasi
perikanan budidaya karena memiliki nilai jual
yang bak dan permintaan pasar yang terus
bertambak.
Rumput laut merupakan sumber utama
penghasil agar-agar, alginate dan karagenan
yang dimanfaatkan dalan industry kosmetik,
farmasi dan industry lainnya (industry kertas,
tekstil, fotografi, pasta dan pengalengan ikan.
Rumput laut memeiliki keunggulan dibandingkan dengn komoditas perikanan budidaya
lainnya, antara lain; teknologi budidaya yang
151
Potensi Dan Kesesuaian Lahan......
sederhana; peluang pasar ekspor yang tinggi;
penyerapan tenaga kerja yang tinggi; modal
yang diperlukan relative kecil; periode
pemeliharaan yang singkat; produk olahan yang
beragam; serta memiliki fungsi produksi dan
ekologis (Parenrengi et al, 2008). Selain itu juga
terdapat keunggulan lainnya yaitu pembudidaya tidak memerlukan kualifikasi ilmu tertentu
sehingga dapat dilakukan oleh semua lapisan
masyarakat. Menurut Parenrengi et al (2008),
keunggulan-keunggulan tersebut memberikan
indicator
yang
positif
dalam
upaya
pengembangan usaha budidaya rumput laut.
Ragulasi pemerintah tentang komoditas
unggulan yang dikembangkan dibidang
perikanan budidaya menjadi pemicu utama
menjamurnya pengembangan budidaya rumput
laut (Kappaphycus alvarezii) di sebagian besar
wilayah pesisir di Indonesia, tidak terkecuali di
Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi
Tenggara. Dibeberapa sentra wilayah budidaya
rumput yang tersebar di pantai barat dan timur
Sulawesi Selatan, telah terbukti mampu
meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan
menyerap banyak tenaga kerja. Olehnya itu
peluang pengembangan budidaya rumput laut
di kawasan timur Indonesia menjadi isu
strategis
dalam
rangka
meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
pesisir, walaupun pengembangan tersebut masih
banyak menemui kendala terutama dalam hal
pemilihan lokasi yang sesuai, ketersediaan bibit
dan teknologi budidaya belum sepenuhnya
dapat dikuasai oleh pembudidaya.
Bibit rumput laut sampai saat ini
sepenuhnya masih mengandalkan bibit yang
berasal dari alam. Jika kondisi tersebut berlangsung lama maka terdapat kemungkinan
akan terjadi kekurangan bibit. Menurut Suryati
et al (2007), teknik kultur jaringan menjanjika
perbanyakan benih secara berkesinambungan
dan berkualitas tinggi.
Sebagaimana daerah pesisir lainnya di
Indonesia, di Kabupaten Wakatobi pada awal
pengembangan budidaya belum mempertimbangkan kesesuaian lahan. Sehingga
produksi yang diperoleh saat ini masih sangat
memungkinkan untuk dikembangkan mengingat
selain lokasi lahan budidaya yang belum
tergarap masih sangat luas dan penentuan
kesesuaian lahan tersebut belum ada. Menurut
Utojo et al (2007), untuk kegiatan budidaya laut
yang berhasil guna dan berdaya guna maka
penentuan lokasi yang sesuai dengan kondisi
perairan dengan jenis komoditi termasuk
metode budidaya yang tepat dan ekonomis perlu
menjadi perhatian yang serius.
152
Dalam
pengembangan
tersebut,
pemerintah daerah dalam hal ini instansi terkait
belum memiliki data potensi dan kesesuaian
lahan yang akan dijadikan sebagai acuan dalam
menetapkan strategi pengembangan. Kesesuaian lahan budidaya rumput laut dibangun
berdasarkn data kualitas perairan. Menurut
Saputra et al. (2007), untuk memastikan
keberlanjutan usaha budidaya perikanan maka
pengukuran dan pemantauan data kualitas
perairan menjadi kunci untuk menghindarai
terjadinya degradasi lingkungan. Selain itu juga
bermanfaat untuk keberlanjutan usaha budidaya
perikanan, karena telah diketahui bahwa kondisi
kualitas perairan sangat menentukan dalam
keberhasilan usaha perikanan budidaya.
Selanjutnya Umar dan Jafar (2007) mempertegas bahwa kualitas fisika-kimia perairan yang
baik harus didukung dengankesuburan perairan
berdasarkan
kandungan
fitoplankton.
Nybakken (1992) bahwa fitoplankton merupakan komponen utama produktifitas perairan.
Berdasarkan hal tersebut telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menghitung
potensi dan menentukan tingkat kesesuaian
lahan budidaya rumput laut di Kabupaten
Wakatobi.
Metodologi
Penelitian dilakukan dengan metode
survei langsung ke lokasi penelitian untuk
mengekstrak karakteristik hidro-dinamikaoseanografi yang memiliki kaitan erat dengan
pertumbuhan rumput laut. Data hasil
pengukuran lapangan ditabulasi dan dianalisis
secara deskriptif, sedangkan analisis spasial
untuk pembuatan peta tematik potensi dan
sebaran kesesuaian lahan dilakukan dengan
menerapkan teknologi sistem informasi
geografis (SIG) memanfaatkan sofware ArcView 3.3. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah peta RBI Sulawesi lembar
2310 nomor 42,51,52, 22, 23, 24, 31 dan lembar
2309 nomor 53 dan 54.
Penelitian ini dilakukan dengan metode
survei. Peralatan yang digunakan dalam
penelitian ini, perahu motor, GPS, planktonet,
cool box, hidrolab, layangan arus, kompas,
water sampler, sechci disk, botol sampel.
Sedangkan bahan kimia yang digunakan adalah
pengawet logam (HNO3), pengawet air
(H2SO4) dan pengawet plankton (lugol).
Krakteristik lahan budidaya dapat
diketahui dengan pengambilan sampel air laut
baik yang berada di dalam maupun di luar
hamparan budidaya, sambil melakukan pula
pengukuran insitu. Sampel air yang diambil
tersebut selanjutnya dianalisis di laboratorium.
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 4 No. 2, November 2012
Grafik Ke ce patan Arus
Kec. Wangi2 Selatan
Kecepatan Arus
(m/detik)
4.50
4.00
3.50
3.00
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
Desa.Liabahari
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liatogo
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamaw i
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamalangka
1
Kec. Wangi-Wangi
Ke cam atan/de s a
Desa.Sombu
Gambar 1. Kecepatan Arus Perairan Kabupaten Wakatobi
Grafik Ke ce rahab
Kec. Wangi2 Selatan
12
Desa.Liabahari
Kecerahan (m)
10
Kec. Wangi2 Selatan
8
Desa.Liatogo
6
Kec. Wangi2 Selatan
4
Desa.Liamaw i
2
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamalangka
0
1
Kec. Wangi-Wangi
Ke cam atan/De s a
Desa.Sombu
Gambar 2. Kecerahan Perairan Kabupaten Wakatobi
Grafik Ke dalam an
14
Kec. Wangi2 Selatan
Kedalaman (m)
12
Desa.Liabahari
10
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liatogo
8
Kec. Wangi2 Selatan
6
Desa.Liamaw i
4
Kec. Wangi2 Selatan
2
Desa.Liamalangka
0
Kec. Wangi-Wangi
1
Desa.Sombu
Ke cam atan/De s a
Gambar 3. Kedalaman Perairan Kabupaten Wakatobi
Hasil pengukuran insitu dan
laboratorium
ditabulasi dan analisis secara deskriptif. Untuk
mengetahui potensi lahan budidaya rumput laut
eksisting dilakukan dengan cara mengelilingi
hamparan budidaya rumput laut dengan
menggunakan perahu motor sambil merekam
posisinya dengan menggunakan Global
Potisioning Syistem (GPS), posisi tercatat
dengan format UTM (Universal Transver
Marcator). Posisi hasil perekaman di lapangan
selanjutnya dianalisis dengan memanfaatkan
sistem informasi geografis (SIG).
Masih
dengan analisis yang sama, dilakukan input data
parameter kesesuaian lahan dalam SIG dan akan
dihasilkan peta kesesuaian lahan budidaya
rumput laut di perairan sekitar Kabupaten
Wakatobi.
Hasil dan Pembahasan
Hidrodinamika Oseanografi
Substrad Dasar dan Arus
Kabupaten Wakatobi telah lama dikenal di
Indonesia maupun mancanegara terutama
karena keindahan lautnya dan merupakan salah
satu kabupaten kepulauan di Indoenasi.
Perairan di sekitar Kabupaten Wakatobi
umumnya memiliki subsyrat pasir, karang
berpasir, dan karang. Kecepatan arus saat
penelitian di peraran tersebut berkisar antara
0,011-0,07 m/detik.
153
Potensi Dan Kesesuaian Lahan......
Grafik Tem peratur
Kec. Wangi2 Selatan
Temperatur (oC)
30.2
Desa.Liabahari
30
Kec. Wangi2 Selatan
29.8
Desa.Liatogo
29.6
Kec. Wangi2 Selatan
29.4
Desa.Liamaw i
29.2
Kec. Wangi2 Selatan
29
1
Desa.Liamalangka
Kecam atan/Desa
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 4. Suhu Perairan Kabupaten Wakatobi
Grafik pH M e te r
8.4
Kec. Wangi2 Selatan
8.35
Desa.Liabahari
pH
8.3
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liatogo
8.25
Kec. Wangi2 Selatan
8.2
Desa.Liamaw i
8.15
Kec. Wangi2 Selatan
8.1
Desa.Liamalangka
8.05
Kec. Wangi-Wangi
1
Desa.Sombu
Ke cam atan/De s a
Gambar 5. pH Perairan Kabupaten Wakatobi
Salinitas (ppt)
Grafik Salinitas (ppt)
37.00
Kec. Wangi2 Selatan
36.50
Desa.Liabahari
36.00
Kec. Wangi2 Selatan
35.50
Desa.Liatogo
35.00
Kec. Wangi2 Selatan
34.50
Desa.Liamaw i
34.00
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamalangka
33.50
1
Ke cam atan/De s a
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 6. Salinitas Perairan Kabupaten Wakatobi
Kecerahan dan Kedalaman
Kecerahan perairan di sekitar Kabupaten
Wakatobi berkisar anatar 2,5-10,5 meter.dengan
kedalam antara 2,5-13,7 meter. Dari data
tersebut menunujukkan bahwa kecerahan 100%
pada kedalam 2,5 meter. Banyak faktor yang
menyebabkan kecerahan pada suatu perairan,
antra lain tidak adanya sungai besar yang
bermuara ke laut yang membawa sedimen.
Suhu, pH dan Salinitas
Suhu perairan di sekitar Kabupaten
Wakatobi berkisar antara ra 29,42-30,2oC.
Suhu air di perairan Indonesia secara makro
relative, berbeda dengan suhu perairan di daerah
154
sedang. Akibatnya suhu perairan tersebut tidak
berpengaruh mematikan pada rumput laut atau
hewan budidaya lainnya, demikian pula halnya
dengan pH dan salinitas. Berdasarkan hasil
pengukuran menunjukkan nilai pH antara 7,588,23 dan salinitas antara 34,95-36,88 promil.
Oksigen Terlarut dan Bahan Organik Total
(BOT)
Oksigen terlarut dan BOT di perairan
Kabupaten Wakatobi masing-masing antara
6,06-6,25 m/L dan antara 35,52 – 42,6 mg/L.
Kandungan
oksigen
terlarut
tersebut
menunjukkan bahwa di perairan tersebut
tersedia
cukup
oksigen
yang
dapat
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 4 No. 2, November 2012
Grafik Oksigen Terlarut (O2)
Oksigen Terlarut
(mg/L)
Kec. Wangi2 Selatan
6.25
Desa.Liabahari
6.20
Kec. Wangi2 Selatan
6.15
Desa.Liatogo
6.10
Kec. Wangi2 Selatan
6.05
Desa.Liamaw i
6.00
Kec. Wangi2 Selatan
5.95
1
Desa.Liamalangka
Kecamatan/Desa
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 7. Oksigen Terlarut Perairan Wakatobi
Bahan Organik Total (BOT)
Kec. Wangi2 Selatan
Konsentrasi BOT
(mg/L)
44
Desa.Liabahari
42
Kec. Wangi2 Selatan
40
38
Desa.Liatogo
36
Kec. Wangi2 Selatan
34
Desa.Liamaw i
32
Kec. Wangi2 Selatan
30
Desa.Liamalangka
1
Kec. Wangi-Wangi
Kecam atan/Desa
Desa.Sombu
Gambar 8. Kandungan Total Bahan Organik Di Perairan Kabupaten Wakatobi
Konsentrasi NH3 (mg/L)
Amonia (NH3)
0.014
Kec. Wangi2 Selatan
0.012
Desa.Liabahari
Kec. Wangi2 Selatan
0.01
0.008
Desa.Liatogo
0.006
Kec. Wangi2 Selatan
0.004
Desa.Liamaw i
0.002
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamalangka
0
1
Kecam atan/Desa
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 9. Kandungan Ammonia Di Perairan Kabupaten Wakatobi
dimanfaatkan oleh organisma laut di dalamnya,
sedangkan
kandungan
BOT
tersebut
menggambarkan bahwa perairan Kabupaten
Wakatobi memiliki kandungan bahan organik
yang cukup untuk dimanfaatkan oleh
fitopklanton atau organism tingkat rendah
lainnya untuk melakukan proses-proses
metabolism.
Amonia (NH3)
Hasil pengukuran amonia di perairan
Kabupaten Wakatobi menunjukkan konsentrasi
Ammonia (NH3) antara 0,0096 – 0,0136 mg/L.
Kandungan amonia tersebut termasuk rendah
dan belum berpengaruh negatif terhadap biota
laut. Amonia juga saling berhubungan dengan
suhu, pH dan Oksigen terlarut. Semakin tinggi
pH dan suhu maka konsentrasi amonia juga
akan semakin meningkat, sedangkan pada
oksigen yang tinggi maka amonia jarang
didapatkan sebaliknya pada wilayah oksigen
rendah kadar amonia relatif meningkat.
155
Potensi Dan Kesesuaian Lahan......
Nitrit (NO2)
Kec. Wangi2 Selatan
Konsentrasi NO2
(mg/L)
0.01
Desa.Liabahari
0.008
Kec. Wangi2 Selatan
0.006
Desa.Liatogo
0.004
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamaw i
0.002
Kec. Wangi2 Selatan
0
1
Desa.Liamalangka
Kecam atan/Desa
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 10. Kandungan Nitrit Di Perairan Kabupaten Wakatobi
Nitart (NO3)
Konsentrasi NO3
(mg/L)
Kec. Wangi2 Selatan
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
Desa.Liabahari
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liatogo
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamaw i
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamalangka
1
Kec. Wangi-Wangi
Ke cam atan/De s a
Desa.Sombu
Gambar 11.
Kandungan Nitrat Di Perairan Kabupaten Wakatobi
Fos fat (PO4)
Kec. Wangi2 Selatan
Konsentrasi PO4
(mh/L)
0.2
Desa.Liabahari
Kec. Wangi2 Selatan
0.15
Desa.Liatogo
0.1
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamaw i
0.05
Kec. Wangi2 Selatan
0
1
Desa.Liamalangka
Ke cam atan/De s a
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 12. Kandungan Fosfat Di Perairan Kabupaten Wakatobi
Nitrit (NO2) dan Nitrat (NO3)
Di perairan alami, nitrit (NO2) biasanya
ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit,
lebih sedikit daripada nitrat, karena bersifat
tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit
merupakan bentuk peralihan antara amonia dan
nitrat (nitrifikasi), dan antara nitrat dan gas
nitrogen. Sumber nitrit dapat berupa limbah
industri dan limbah domestik. Oleh karena di
perairan Kabupaten Wakatobi belum tercemar
limbah maka nilai nitrit yang diperoleh masih
relative kecil yaitu antara 0,001 – 0,0085 mg/L.
Sama halnya dengan nitrit, nitrat karena tidak
ada pencemaran maka konsentrasinya masih
rendah yaitu antara 0,003 – 0,1593 mg/L
156
Fosfat (PO4), Besi dan Total Suspendet Solit
(TSS)
Konsentrasi fosfor (PO4) di perairan
Wakatobi anatara 0,045 – 0,198 mg/L. Fosfor
dapat menjadi faktor pembatas terhadap
biomassa dan produksi gel rumput laut. Data
tersebut menunjukkan bahwa fosfat di perairan
Kabupaten Wakatobi masih cukup untuk
pertumbuhan biota laut. Demikian pula dengan
konsentrasi besi di perairan Kabupaten
Wakatobi masih aman untuk biota laut terutama
tumbuhan tingkat rendah seperti fitopklanton
dan rumput laut dengan kadar antara 0,035 –
0,652 mg/L. edangkan TSS konsentrasinya
mencapai antara 34 – 125 mg/L
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 4 No. 2, November 2012
Besi (Fe)
Kec. Wangi2 Selatan
Konsentrasi Fe
(mg/L)
0.7
Desa.Liabahari
0.6
Kec. Wangi2 Selatan
0.5
0.4
Desa.Liatogo
0.3
Kec. Wangi2 Selatan
0.2
Desa.Liamaw i
0.1
Kec. Wangi2 Selatan
0
1
Ke cam atan/De s a
Gambar 13.
Desa.Liamalangka
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Kandungan Besi Di Perairan Wakatobi
Total Sus pe nde d Solid (TSS)
Konsentrasi TSS
(mg/L)
Kec. Wangi2 Selatan
140
120
100
80
60
40
20
0
Desa.Liabahari
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liatogo
Kec. Wangi2 Selatan
Desa.Liamaw i
Kec. Wangi2 Selatan
1
Ke cam atan/De s a
Desa.Liamalangka
Kec. Wangi-Wangi
Desa.Sombu
Gambar 14. Kandungan Total Bahan Organik Di Perairan Kabupaten Wakatobi
Gambar 15. Peta Potensi Pengembangan Rumput Laut Di Kab. Wakatobi
157
Potensi Dan Kesesuaian Lahan......
Gambar 16. Peta Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Di Kabupaten Wakatobi
Potensi Dan Kesesuaian Lahan
Potensi
Berdasarkan analisis yang dilakukan
menunjukkan
bahwa
potensi
areal
pengembangan rumput laut di Kabupaten
Wakatobi mencapai 17,391.87 ha, sementara itu
daerah tergarap masih sangat rendah baru
mencapai kurang lebih 1000 ha. Dengan
demikian masih terdapat kemungkinan untuk
meningkatkan produksi.
Kesesuaian Lahan
Dari luas lahan 17,391.87 yang
berpotensi untuk dikembangkan menjadi areal
budidaya rumput laut terdapat 9,858.62 ha yang
sesuai dan sisanya 7,533.25 ha tidak sesuai.
Tidak sesuai tersebut lebih banyak disebabkan
oleh areal yang tersedia masuk dalam kawasan
lindung.
Kesimpulan
Kondisi hidro-oseanografi perairan
Kabupaten Wakatobi masih tergolong alami
(belum tercemar) dan memungkinkan untuk
mengembangkan usaha budidaya rumput laut.
Potensi areal budidaya di perairan Kabupaten
wakatobi mencapai 17,391.87 ha yang
tergolong sesuai seluas 9,858.62 ha. Perlu
dilakukan penelitian kalender musim (musim
158
tanam) untuk mengetahui waktu dimana dapat
dilakukan budidaya secara optimal.
Daftar Pustaka
Anonim, 2009. Kabupaten Wakatobi dalam
angka Badan Perencanaan Pembangunan, Penanaman Modal, Penelitian dan
Pengembangan Daerah dan Badan
Pusat Statistik Kabupaten Wakatobi.
252 hal.
Nybakken, J.W., 1992. Biologi Laut. Suatu
pendekatan ekologis. PT. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Parenrengi, A., Rachmansyah dan Suryati, E.,
2008.
Budidaya
rumput
laut
berkelanjutan
dengan
dukungan
teknologi penyediaan benih secara in
vitro. Teknologi Perikanan Budidaya.
Pusat Riset Perikanan Budidaya.
Jakarta. Hal 25-38.
Saputra, A., Radiarta, I.N., Prihadi, T.H.,
Priono, B., dan Kusrini, E., 2007.
Kajian kualitas air Teluk Kapontori
untuk mendukung perikanan budidaya
yang
berkelanjutan dan ramah
lingkungan. Prosiding Pengembangan
Teknologi Budidaya Perikanan. Badan
Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
132-136.
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 4 No. 2, November 2012
Sulaeman dan Yamin, M., 2008. Polikultur
kepiting bakau (Scylla paramamossain)
dan rumput laut (Gracilaria verrucosa)
di Tambak. Teknologi Perikanan
Budidaya. Pusat Riset Perikanan
Budidaya. Jakarta. Hal 193-198.
Susanto, AB., Limantara, L., dan Pangestuti, R.
2007. Prospek pengembangan rumput
laut
di
Indonesia.
Prosiding
Pengembangan Teknologi Budidaya
Perikanan. Badan Riset Kelautan dan
Perikanan. Jakarta. Hal 7-19.
Suryati, E., Tenriulo, A., dan Rezeki, S., 2007.
Isolasi
protoplas
rumput
laut
(Kappaphycus alvarevii) menggunakan
enzyme komersial dan viscera mas
(Pila polita). Prosiding Pengembangan
Teknologi Budidaya Perikanan. Badan
Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
132-136.
Umar, J.M., dan Jafar, S., 2007. Tingkat
kesuburan perairan di Pantai Paradiso
Kota Kupang ditinjau dari komposisi,
kelimpahan dan keanekaragaman
fitoplankton. Prosiding Pengembangan
Teknologi Budidaya Perikanan. Badan
Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
211-215.
Utojo, Mansyur, A., Tangko, A.M., Hasnawi
dan Mulia, T., 2007. Pemilihan lokasi
budidaya ikan, rumput laut, dan kerang
mutiara yang ramah lingkungan di
Teluk Tomini Sulawesi Tengah.
Prosiding Pengembangan Teknologi
Budidaya Perikanan.
Badan Riset
Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 200210.
159
Download