arif peningkatan kinerja - dppka diy

advertisement
PENINGKATAN KINERJA APARATUR
BERBASIS BUDAYA BIROKRASI
( Refleksi 5 Tahun SATRIYA )
Arif Noor Hartanto, SIP
Anggota Komisi A DPRD DIY
Disampaikan Dalam Acara :
“Internalisasi Budaya pemeritahan”
Biro Organisasi, 14 April 2014
Fakta Birokrasi Indonesia
( Masa Lalu )
Fakta bahwa sistem administrasi yang berlaku
sekarang adalah warisan pemerintah kolonial.
Mendasarkan pada dasar-dasar hukum dan
kepentingan kolonial.
Mempertahankan kekuasaan dan mengontrol
perilaku individu.
Lanjutan......
Fakta Birokrasi Indonesia (Masa Lalu)
Mempertahankan kekuasaan (politisasi) dan mengontrol
perilaku individu (otoriter).
Tidak muncul upaya untuk membangun sistem ketugasan
pemerintah.
Mengabaikan pelayanan kepada masyarakat.
Belum tercipta budaya pelayanan publik yang
berorientasi kepada kebutuhan pelanggan.
Transformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi
Komitmen untuk melakukan
perubahan (nasional – lokal).
Paradigma peran, kedudukan dan
fungsi administrasi negara.
Perumusan Kebijakan
(Grand Design).
Idealnya merupakan satu
kesatuan yang utuh.
Transformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi
Aspek Eksternal
Paradigma baru relasi :
birokrasi - citizens.
Pemberian insentif (Remunerasi, TPP).
Aspek Internal
Debirokratisasi Struktur
Right Sizing.
Peningkatan kemampuan SDM.
Membangun budaya kerja.
Desain Menyeluruh Reformasi Birokrasi
Perubahan sistem birokrasi.
Perubahan sikap & mental birokrasi.
Perubahan sikap & mental masyarakat.
Perubahan mindset dan komitmen pemerintah.
Perubahan mindset dan komitmen partai politik.
Budaya Birokrasi : Pelayanan Publik
Pokok-Pokok Pikiran Reformasi Birokrasi
Kemenpan dan RB 2004
Kelembagaan: Organisasi ramping struktur dan banyak/kaya
fungsi, efisien, dan efektif.
SDM yang ingin dibangun adalah PNS yang profesional, netral, dan
sejahtera, manajemen kepegawaian modern.
Ketatalaksanaan aparatur pemerintah disederhanakan, ditandai oleh
mekanisme, sistem, prosedur, dan tata kerja yang tertib, efisien, dan
efektif.
Pelayanan publik sebagai barometer transparansi dan akuntabilitas,
didorong untuk mewujudkan pelayanan publik yang prima.
Penumbuhkembangan budaya kerja agar terbangun kultur birokrasi
pemerintah yang produktif, efisien, dan efektif.
Budaya Birokrasi : Pelayanan Publik
Relasi Reformasi Birokrasi dengan
Good Governance
Good Governance/
Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.
Kunci keberhasilannya pada Reformasi
Birokrasi.
Melindungi segenap tumpah darah
Indonesia.
Memajukan kesejahteraan umum.
Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Pemerintah sebagai elemen
penanggung jawab.
Pemerintah
Nasional/
Pusat
Provinsi
Kabupaten/
Kota
Otonomi Daerah
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Filosofi Otonomi Daerah :
1. Mendekatkan pemerintahan dengan masyarakat.
2. Pembuatan kebijakan lebih sesuai dengan kebutuhan
masyarakat (lebih bdekat dengan permasalahan).
3. Eksistensi Pemerintah Daerah adalah untuk
menciptakan kesejahteraan secara demokratis.
4. Setiap kewenangan yang diserahkan ke daerah harus
mampu menciptakan kesejahteraan dan demokrasi.
5. Kesejahteraan dicapai melalui pelayanan publik yang
bersifat pelayanan dasar (basic services) dan ada yang
bersifat
pengembangan
sektor
unggulan
(core
competence).
Amandemen UUD 1945
Posisi Provinsi selalu “serba tanggung”
karena kewenangan koordinasi dan
pengawasan.
Posisi sebagai Wakil Pemerintah Pusat
terkendala dengan perangkat dan anggaran
yang tersedia.
Provinsi tetap “tidak berwibawa”
dihadapan Kabupaten/Kota.
Untuk Menjalankan Kewajiban
Penyelenggaraan Pemda :
Diperlukan mesin birokrasi yang
handal sesuai dengan kapasitas
untuk menyelesaikan berbagai
problem masyarakat serta dalam
rangka pelayanan publik untuk
mewujudkan kesejahteraan
masyarakat.
Untuk membentuk mesin birokrasi yang handal
diperlukan reformasi/penataan birokrasi.
Agenda untuk Melakukan
Reformasi Birokrasi
Modernisasi Manajemen Kepegawaian
Perencanaan Pembangunan Partisipatif
Perbaikan sistem administrasi
Restrukturisasi (rightsizing)
Anggaran berbasis kinerja
Restrukturisasi/penataan kelembagaan, manajemen
kepegawaian, anggaran berbasis kinerja, merupakan poinpoin penting yang membutuhkan sinergi dengan lembaga
legislatif (DPRD).
Penataan Kelembagaan
(Rightsizing)
Peraturan Daerah
Dibahas bersama Legislatif
Orientasi kebutuhan bukan bagi-bagi posisi
Dibutuhkan “frekuensi” yang sama dalam penataan
kelembagaan. Struktur yang gemuk belum tentu bagus,
dan struktur yang kurus bukan berarti selalu sehat.
Orientasinya penataan kelembagaan adalah untuk
terbentuknya mesin birokrasi yang handal.
Manajemen Kepegawaian
Akibat Penataan Kelembagaan
Struktur berubah (lebih ramping)
Jabatan struktural menjadi terbatas
Struktur yang semakin ramping berimplikasi pada
ketersediaan jabatan struktural yang semakin sedikit.
Perlunya gagasan cerdas untuk memposisikan jabatan
fungsional sebagai titian karier jajaran birokrasi.
Lanjutan…..
Manajemen Kepegawaian
Jabatan struktural terbatas.
Diperlukan alternatif non-struktural.
Jabatan fungsional sebagai pilihan utama.
Agar jabatan fungsional lebih menarik sebagai titian
karier, maka diperlukan “penghargaan” yang tidak
terlalu “njomplang” dibandingkan dengan jabatan
struktural.
Daya Dukung Reformasi Birokrasi Pemda
DIY
Komitmen Pimpinan Daerah.
Kemauan (kesadaran) jajaran birokrasi untuk
berubah.
Perangkat Nilai Budaya Lokal.
Dukungan Lembaga Legislatif dalam reformasi
birokrasi.
Perda Kelembagaan yang tepat.
Daya dukung anggaran untuk :
proses penataan, penanaman value/nilai, tunjangan,
skema promosi jabatan, dll.
Membangun Budaya Kerja
Birokrasi DIY
Budaya Organisasi adalah semua ciri yang menunjukkan
kepribadian suatu organisasi (keyakinan bersama, perilaku
yang dianut anggota, merupakan tradisi yang sangat sukar
diubah).
Birokrasi Publik
Birokrasi Bisnis.
Perubahan budaya ini bukan revolusioner, tetapi
bertahap.
Perubahan terukur dan jelas tahapannya.
Perubahan sering berliku dan seringkali tidak atabil.
Organisasi harus disiapkan adaptif dan berani gagal.
Perangkat Hukum
Budaya Birokrasi di DIY
Peraturan
Gubernur
Nomor 72
Tahun 2008
tentangt
Budaya
Pemerintahan di
DIY.
30 Desember 2008
Perda DIY
Nomor 4 Tahun
2011 tentahng
Tata Nilai
Budaya
Yogyakarta
12 Mei 2011
Peraturan
Menteri PAN dan
RB Nomor 39
Tahun 2012
Tentang
Pedoman
Pengembangan
Budaya Kerja
9 Juli 2012
Pergub No 72 Tahun 2008 tentang Budaya
Pemerintahan di DIY
Mewujudkan penyelenggara negara yang bersih
dan bebas KKN diperlukan
budaya pemerintahan.
Kekhasan budaya DIY dengan filosofi hamemayu
hayuninbg bawana, ajaran moral sawiji, greget,
sengguh, ora mingkuh, semangat golong gilig.
Tujuan Pergub : efisiensi, efektifitas, transparansi
dan akuntabilitas dalam pelaksanaan tugas.
Konsep Budaya Pemerintahan SATRIYA.
Internalisasi dilakukan secara terus menerus dengan
Kepala Instansi sebagai penanggung jawab.
Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang
Tata Nilai Budaya Yogyakarta
Manusia pada hakikatnya bukan hanya produk kebudayaan, tetapi juga
pencipta kebudayaan yang dapat merancang suatu strategi kebudayaan
bagi masa depannya, menuju kehidupan bersama yang lebih berkeadaban.
Tata Nilai Budaya Yogyakarta merupakan kekayaan daerah
tidak berwujud (intangible) yang tak ternilai sehingga perlu
dilestarikan, dikembangkan.
Tata Nilai Budaya Yogyakarta bertujuan sebagai:
Pedoman pelaksana bagi setiap warga masyarakat dalam
bertingkah laku dan dalam melaksanakan pembangunan di
daerah .
Pedoman pelaksana bagi Pemerintah Daerah dan Pemerintah
Kabupaten/Kota untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
dalam melaksanakan pembangunan di daerah.
Posisioning Budaya Birokrasi di DIY
Perangkat Nilai SATRIYA
Sudah sangat cukup sebagai karakter Birokrasi DIY.
Kuncinya internalisasi yang terukur dari
Pimpinan Daerah dan Kepala Instansi.
• Dibutuhkan dorongan personal/individual untuk
memiliki karakter SATRIYA.
• Apresiasi yang jelas bagi setiap insan PNS yang
berkarakter SATRIYA (reward and punishment).
Matur nuwun
kawigatosanipun.......
Daftar Pustaka
Eko Prasojo dan Teguh Kurniawan, Reformasi Birokrasi dan Good
Governance : Kasus Best Practices dari Sejumlah Daerah di Indonesia,
Makalah Dipresentasikan dalam “The 5th International Symposium of
Jurnal Antropolgi Indonesia, Banjarmasin 22-25 Juli 2008.
Dr. Agus Pramusinto dan Dr. Erwan Agus Purwanto, Reformasi
Birokrasi, Kepemimpinan dan Pelayanan Publik, Kajian tentang
Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia, Diterbitkan kerjasama
Gava Media-JIAN UGM-MAP UGM, Yogyakarta, 2009.
Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM,Teladan dan Pantangan
dalam Tata Kepemerintahan yang Baik, Yogyakarta, PSKK, 2002.
Download