Renungan 1 s/d 9 September 2014

advertisement
1 Kor. 2:1-5
Senin, 1 September 2014
Luk.4:16-30
-----------------------Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke
rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan
setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia
telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus
Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang
buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah
datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata
semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya:
"Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia
dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini
anak Yusuf? Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku:
Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami
dengar yang telah terjadi di Kapernaum! Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak
ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman
Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan
dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah
seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada
zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,
selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah
ibadat itu Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung,
tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu Tetapi Ia berjalan lewat dari tengahtengah mereka, lalu pergi.
Renungan
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, pengalaman saya
menunjukkan bahwa tidak semua perbuatan baik kita akan ditanggapi dengan baik pula. Masih lumayan
jika hanya ditanggapi biasa-biasa saja, ekstrimnya sangat mungkin justru penolakan atau bahkan aroma
permusuhan yang akan kita terima. Pertanyaannya adalah, pada saat seperti itu, apa yang akan kita
lakukan? Kebanyakan dari kita merasa kecewa, tersinggung, marah, putus asa, benci atau bahkan sampai
dendam yang tertanam dalam hati kita. Bisa jadi kemudian kita akan menyusun rencana dan mencari
kesempatan untuk membalas penolakan mereka. Minimal kita akan menghentikan perbuatan baik kita,
menjadi masa bodoh atau bahkan kemudian mengabaikan kewajiban kita. Jika ini semua yang kita
lakukan, maka sesungguhnya sia-sia sudah perbuatan baik yang telah kita lakukan.
Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk tetap setia dan tetap berbuat baik, meski penolakan
dan pengkhinatan yang kita terima. Kebaikan yang kita perjuangkan, bukanlah demi mencari kesan,
tanggapan, balasan atau kebaikan yang sama. Hal-hal baik yang yang kita lakukan semuanya demi Dia
yang telah mengutus kita. Penegasan Yesus akan kehadiran Roh Kudus yang menaungi-Nya dalam
tindakan dan pengajaran-Nya mau membawa para pendengarnya untuk lebih mencermati kuasa Ilahi yang
bekerja dalam dan melalui diri-Nya. Namun demikian, kebanyakan pendengar Yesus tidak mampu
menyadari ini semua dan lebih cenderung mengambil sikap menolak. Karena itu, kebaikan sejati tak akan
mempedulikan bagaimana respon orang lain, melainkan lebih pada apakah yang kita lakukan sudah
berkenan kepada Allah. Dengan dasar ini, kita tak akan menjadi sakit hati, kecewa patah arang untuk
terus melakukan kebaikan bagi semua orang. Maka menjadi penting untuk memurnikan motivasi dengan
cara melibatkan Allah dalam setiap tindakan kita.
Marilah kita meneladan Bapa Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen yang tetap teguh dan setia
meskipun banyak hambatan yang harus dihadapinya. Bukan hanya dari orang lain, tetapi juga dari
keluarganya sendiri. Bapa Fransiskus harus melepaskan hak waris keluarga demi tetap setia menjalankan
tugas perutusannya. Ia harus bertentangan dengan ayahnya sendiri. Pada akhirnya waktu juga yang akan
memberikan jawabannya. Satu hal yang perlu digarisbawahi, Nabi sejati diutus kepada orang asing. Itulah
yang diwartakan oleh Injil hari ini. Elia diutus pada janda di Safrat, Elisa kepada Naaman, orang Siria dan
Yesus kepada orang-orang bukan sekampung-Nya. Kita semua dipanggil menjadi nabi, pertama-tama
bagi orang-orang yang kita anggap asing. Orang-orang asing bukan hanya mereka yang tinggal jauh dari
kita. Mereka bisa ada di sekitar kita: orang-orang miskin, para tawanan dan orang sakit. Apakah aku
sudah menjadi nabi bagi mereka? Jika belum, maukah kita terus mengupayakannya?
Marilah Berdoa:
Allah Bapa di surga, St. Paulus telah melaksanakan tugas pewartaan iman dengan kuasa-MU yang
menjadi kekuatannya. Teguhkanlah imanku di saat aku lemah karena diperdaya oleh kenikmatan dunia.
Ajarilah aku untuk percaya bahwa Engkau mampu memberikan apa yang tidak dapat diberikan oleh
dunia. Amin.
Sumbangan dari TK Marsudirini Bekasi
1 Kor. 2:10b-16
Selasa 2 September 2014
Luk. 4:31-37
--------------------Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada harihari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di
dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
"Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak
membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus
menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan
orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak
menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya:
"Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah
kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana
di daerah itu.
Renungan
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, dari bacaan injill
hari ini kita bisa mengetahui kalau setan merasa terusik dan terganggu dengan kehadiran dan
kebaikan hati Yesus. Berangkat dari fakta ini ada satu pertanyaan refleksi bagi kita. Adakah kita
pernah merasa terganggu saat melihat kebaikan hati orang lain? Pernahkah kita merasa terganggu
melihat kesetiaan, kerajinan dan kesungguhan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya? Jika
sikap tersebut ada dalam hati kita, maka kita perlu mawas diri dan bertanya kepada diri kita
sendiri, “Roh apakah yang sedang menguasai aku?” Sangat mungkin roh jahat yang sedang
bersinggasana dalam diri kita.
Refleksi bisa kita buat lebih jauh dan lebih dalam lagi. Misal orang kita golongkan
menjadi tiga (3) golongan, yaitu golongan orang jahat, golongan orang biasa, dan golongan
orang baik. Jika orang jahat merasa terusik melihat perbuatan baik, maka bagi orang biasa
perbuatan baik itu akan menjadi inspirasi sekaligus motivasi untuk ikut berbuat baik. Melihat
kebaikan ia akan terdorong untuk ikut melakukannya. Sedangkan bagi orang baik, perbuatan
baik yang kita lakukan akan menjadi peneguhan bagi dia untuk berbuat kebaikan lebih banyak
lagi. Tentu saja sebaliknya juga akan terjadi. Jika kita lebih senang melakukan perbuatan jahat,
maka orang baik akan terusik, orang biasa akan terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan
kejahatan dan orang jahat akan mendapat peneguhan untuk berbuat lebih banyak kejahatan lagi.
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kehadiran Yesus
bukan sekedar mewahyukan kebijaksanaan dan keunggulan dalam memahami dan mengolah
persoalan kehidupan. Dia juga mewahyukan kuasa Ilahi yang hadir dan mengalir dari dalam diriNya. Setan-setan takluk kepada Yesus yang penuh dengan wibawa dan kuasa. Mereka disuruh
diam dan segera pergi setelah dihardik oleh Yesus. Tampaknya inilah satu-satunya cara jitu yang
dibuat Yesus untuk mengusir setan itu. Kita pun mampu mengusir setan jika kita punya kuasa
dan berani menghardiknya dengan penuh wibawa serta ketegasan. Namun sayang, seringkali kita
tak kuasa mengusirnya. Kita tak mampu menolaknya karena kita tak tegas, tak berwibawa
dihadapan si jahat itu. Karena itu, bertindaklah dengan tegas sebelum si jahat menguasai.
Maka penting bagi kita saat ini untuk dalam dan bersama rahmat Tuhan kita mohon,
biarlah KUASA KASIH ALLAH yang bekerja dan menguasai diri kita. Hanya dengan demikian
kita akan dimampukan untuk mengupayakan agar di setiap jejak langkah hidup kita menebarkan
aora positif bagi lingkungan kita. Semoga perbuatan baik yang kita lakukan setiap hari akan
memperlihatkan jejak-jejak keindahan yang menggambarkan kemurnian dan kedamaian hati di
dalamnya, sebagaimana yang telah ibu Magdalena Daemen teladankan kepada kita. Dikisahkan,
sesudah bersusah payah mengusahakan rumah besar yang dibelinya itu menjadi biara, dan
setelah ia mempunyai sejumlah pengikut, maka terpikirlah olehnya untuk menaburkan benih
rohani dalam hati para pengikutnya yang terbuka supaya tetap bertunas dan menghasilkan
bunga indah di taman bunga st Fransiskus dan yang keharumannya menyenangkan Bapa Suci
Fransiskus. Selamat berkarya, berkah Dalem.
Marilah berdoa:
Segala pujian kami haturkan kepada-Mu, ya Allah yang penuh belas kasih. Sertailah hari ini dengan
terang Roh Kudus-Mu agar dapat berjalan dengan mantap dalam menapaki peristiwa hidupku sepanjang
hari ini. Amin.
Sumbangan dari TK Marsudirini Bekasi
1Kor. 3:1-9
Rabu, 3 September 2014
Lukas 4 : 38-44
-------------------Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Ada pun ibu mertua
Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri
di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia.
Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang
membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun
meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak
orang itu keluar juga setan-setan sambil berteriak-teriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia
dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka
tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Renungan
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Visi warta
keselamatan yang dibawa oleh Yesus adalah keselamatan untuk seluruh umat manusia, tidak
melulu untuk kelompok tertentu dan golongan tertentu. Karena itulah Yesus berkeliling dari satu
tempat ke tempat lain untuk memberitakan keselamatan Allah. Dari bacaan injill hari ini kita
mengetahui Yesus berkuasa menyembuhkan berbagai penyakit dan mengusir roh-roh jahat.
Betapa mengagumkan karya dan pelayanan-Nya. Orang sakit disembuhkan-Nya dan orang yang
kesurupan dilepaskan-Nya dari setan. Yesus mewartakan Injil yang memberikan kesembuhan
dan pembebasan bukan hanya kepada orang tertentu saja tetapi kepada semua orang.
Rahasia Yesus sebagai Putra Allah sesungguhnya sudah dinampakkan dalam seluruh
karya-Nya. Ia berkuasa menyembuhkan berbagai penyakit dan juga terhadap setan-setan, dan
setan pun tunduk atas perintah-Nya. Kalau Yesus berkenan menyembuhkan orang-orang sakit,
itu terutama karena tergerak oleh belas kasih-Nya. Orang banyak menaruh harapan untuk
kesembuhan yang mereka kasihi kepada Yesus. Dan pada dasarnya mereka akhirnya sembuh
karena mereka menaruh kepercayaannya pada Yesus. Kalau kita beriman kepada Yesus, maka
kita percaya bahwa kesembuan hanya ada pada-Nya. Obat yang kita minum, dokter dan perawat
yang merawat kita, hanyalah sarana yang dipakai Yesus untuk menyembuhkan kita.
Pertanyaannya sekarang adalah, “Ketika Anda sakit, apakah Anda sudah meminta kepada Yesus
untuk menjamah dan menyembuhkan penyakit kita? Dan apakah Anda percaya penuh bahwa
Yesus pasti akan menyembuhkannya? Bagaimana sikap orang-orang sakit yang meminta
kesembuhan pada dukun atau para normal? Apakah orang-orang seperti itu memiliki iman?”
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, iman kepercayaan
seseorang membutuhkan proses untuk terus bertumbuh dan berkembang. Bagaimana iman kita
bertumbuh dan berkembang? Belajar dari ibu Simon dalam bacaan yang kita dengar hari ini,
iman berkembang karena pengalaman disembuhkan Yesus. Dengan mengingat Yesus
menyembuhkan karena belas kasih-Nya, maka tumbuhnya iman kita sebenarnya karena
pengalaman di kasihi Tuhan. Apa pun bentuknya itu. Pengalaman dikasihi Tuhan ini kemudian
mendorong ibu Simon untuk bersyukur yang diwujudkan dengan kesediaan untuk melayani
orang. Dengan demikian pelayanan kepada orang lain ini sesunguhnya merupakan perwujudan
dari keinginan kita untuk membagikan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Dengan dua hal
inilah maka iman kita akan terus bertumbuh dan berkembang. Maka marilah kita membuka diri
untuk disapa, dikunjungi dan disembuhkan Tuhan serta memberikan diri untuk pelayanan bagi
orang lain.
Marilah kita berdoa
Ya Yesus, berilah kami iman, untuk mempercayai Engkau. Sembuhkanlah kami dari segala
penyakit, serta berilah kami kesabaran jika kami sedang sakit. Kami juga berdoa bagi para
penderita yang sedang sakit, semoga mereka segera Engkau beri kesembuhan. Amin.
Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini Bekasi.
1Kor. 3:18-23
Kamis 4 September 2014
Luk. 5:1-11
----------------Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak
mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan
sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia
supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari
atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan
tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami
bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan
menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan,
sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang
lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi
kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun
tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang
mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.
Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan
sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu
mengikut Yesus.
Renungan
“Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam” Demikianlah perintah Yesus kepada Simon
setelah seharian Simon mencari ikan tetapi tak seekor ikan pun yang ia dapatkan. Dalam
kehidupan kita sehari-hari, “tempat yang dalam” menggambarkan suatu tempat, situasi atau
kondisi yang penuh dengan tantangan, ancaman, resiko dan ketidakpastian, tetapi juga
menyimpan sebuah peluang keberhasilan yang besar. Banyak di antara kita yang hanya mau
berhenti di tempat yang tidak terlalu dalam, karena sedikit resiko, sehingga merasa nyaman,
sudah puas dengan apa yang sudah dikuasainya. Sebagai seorang pelajar kadang kita enggan
bertolak ke tempat yang lebih dalam. Misalnya enggan memberanikan diri dalam berpendapat,
kita malas mencari sumber pembelajaran, kita mudah mengeluh dengan tugas-tugas yang
diberikan guru. Selagi rasa takut dan malas itu masih menyelimuti diri kita, selama itu pulalah
kita tidak akan menemukan peluang untuk sebuah keberhasilan yang lebih besar.
Kesetiaan dan keberanian Simon dalam menanggapi perintah Yesus untuk bertolak ke
”tempat yang lebih dalam” telah membawa sebuah keberhasilan dan perubahan besar dalam
hidupnya. Kiranya melalui bacaan injil hari ini kita diajak untuk meyakini bahwa ukuran logika
dan kebiasaan manusia tidak bisa dipakai untuk mengukur kemungkinan-kemungkinan yang
datang dari Allah. Petrus dan teman-temannya mencari ikan dengan kebiasaan dan logika yang
mereka miliki. Namun, Yesus menunjukkan kepada mereka ada kuasa yang mengatasi
kebiasaan dan logika mereka.
Suster, bapak, ibu dan anak-anak yang terkasih, menyadari berkat yang melimpah, Simon
sadar perahunya akan tenggelam jika ia memuat seluruh tangkapannya ke dalam perahunya
sendiri. Maka Simon memanggil kawan-kawannya. Kesediaan Simon untuk berbagi hasil
tangkapan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menyimpan bagi diri sendiri ketika Tuhan
melimpahi kita dengan berkat-Nya yang melimpah. Sebab apa bila demikian, maka jala kita
akan koyak dan perahu kita akan tenggelam. Jala dan perahu menggambarkan daya tampung
yang kita miliki atas berkat Tuhan. Kalau di rumah kita memiliki banyak makanan, hendaknya
kita mau berbagi, karena perut kita juga memiliki daya tampung yang terbatas. Bila kita diberi
kemampuan dan kepandaian yang lebih, hendaknya kita pun juga mau berbagi dengan
membantu teman-teman yang masih mengalami kesulitan. Sebab ketika kita mau berbagi
berkat Tuhan kepada orang lain, kita tidak akan pernah kekurangan suka cita. Sebaliknya, hati
kita akan semakin berlimpah dengan penuh syukur, sebab orang lain ikut merasakan berkat
yang kita terima dari Tuhan.
Marilah kita berdoa :
Ya Yesus, kami bersyukur atas berkat-Mu yang melimpah kepada kami. Berilah semangat pada
kami agar dengan rendah hati mau berbagi dan kami semakin setia dan berani menghadapi
segala bentuk tantangan dalam kehidupan. Amin.
Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini Bekasi
1Kor. 4:1-5
Jumat, 05-09-2014
Luk. 5 : 33 – 39
-------------------Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan
sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan
minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa,
sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu
diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Ia mengatakan juga suatu
perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang
baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak
dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua,
karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan
terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong
yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang
baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."
Renungan
Ada banyak motif orang berpuasa, misalnya agar badannya langsing, agar dapat
mengendalikan hawa nafsu, agar sikap peka terbentuk dalam dirinya, atau bisa juga sebagai
upaya untuk mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya. Orang Yahudi berpuasa untuk
mengungkapkan rasa duka cita, rasa sedih, rasa sesal atas dosa-dosa mereka, dengan suatu
harapan dapat memulihkan kembali citra buruk hidup mereka. Memulihkan citra buruk hidup
dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam
konteks inilah, Yesus melalui bacaan Injil hari ini mau menyampaikan makna puasa yang
sesungguhnya. Yesus membiarkan murid-murid-Nya tak berpuasa selagi Ia masih berada di
tengah-tengah mereka. Selagi pengantin itu berada di tengah-tengah para sahabat-Nya, mereka
boleh makan-minum dan bersuka cita. Kebersamaan dengan Yesus, sudah sepatutnya disyukuri
dan dirayakan dengan ungkapan sukacita. Inilah juga ungkapan cinta Allah yang luar biasa,
manusia diperkenankan untuk berbahagia dan bersukacita ketika mengalami kehadiran dan
kebersamaan dengan Allah. Sebaliknya jika para sahabat-Nya berpuasa selagi Yesus ada
bersama mereka, maka puasa mereka jadi kehilangan makna. Tidak ada yang perlu diperbaiki
sebab mereka masih menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.
Yesus memberikan sebuah penjelasan secara sederhana bahwa seorang murid ada masanya
untuk berpuasa tetapi ada juga masanya untuk berpesta. Artinya ada kalanya seorang murid itu
harus berduka, seperti berpuasa, karena berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Namun ada
masanya juga untuk bergembira bersama Tuhan karena mengalami kasih dan kebaikan-Nya. Dua
sisi kehidupan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dan saling melengkapi. Ketika
menghadapi berbagai kesulitan kita akan tetap dikuatkan, karena adanya sebuah harapan akan
datangnya kegembiraan dan kebahagiaan dari Tuhan. Semoga kita akhirnya boleh menyucikan
hati dan hidup kita demi mencapai kehidupan yang lebih baik dan berkenan di hadapan Allah.
Dalam artian ini maka puasa menjadi lebih bermakna. Yesus mengajar kita untuk tetap memupuk
semangat tobat lewat puasa. Hanya dengan cara inilah kita ikut ambil bagian dalam sengsara dan wafat
Tuhan sendiri.
Doa :
Tuhan Yesus, berilah aku rahmat-Mu agar bisa bangkit kembali untuk memupuk
semangat berpuasa di dalam diriku. Dan setiap kali aku berpuasa, anugerahilah aku
rahmat pertobatan dan kedekatan dengan Engkau. Amin.
Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini Bekasi
1Kor. 4:6b-15
Sabtu, 6 September 2014
Lukas 6 : 1-5
----------------Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir
gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarkan dengan tangannya. Tetapi orang
Farisi berkata: ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan
mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil
roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu
tidak boleh dimakan kecuali oleh imam- imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak
manusia adalah Tuhan atas hari sabat.”
Renungan
Ada seorang ibu yang bernama ibu Vero. Setiap pagi bu Vero mengikuti misa harian di
gereja. Walaupun sibuk atau hujan bu Vero tetap selalu mengupayakan untuk tetap berangkat
mengikuti misa kudus. Baginya perayaan ekaristi harian sungguh sangat berarti bagi hidupnya.
Suatu hari saat dalam perjalanan ke gereja, ibu Vero mendapati seorang anak terbaring
sendiriandi tepi jalan. Tubuhnya berlumuran darah. Rupanya anak tersebut korban tabrak lari.
Tanpa banyak pertimbangan bu Vero menolong anak tersebut. Bergegas ia mencari bantuan
untuk mengantar anak itu ke rumah sakit. Ibu Vero mau mengorbankan kewajibannya mengikuti
perayaan ekaristi yang sangat berarti baginya. Bu Vero memilih tidak pergi ke gereja mengikuti
ekaristi demi menolong anak tersebut.
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, dalam bacaan injil hari ini
Yesus mengkritik orang-orang Farisi, karena mereka terlalu menekankan aturan. Pelaksanaan
hukum Sabat yang hanya menekankan tegaknya aturan, telah menjauhkan umat Israel dari Allah.
Karena cara pandang mereka yang sempit dan picik tentang hukum taurat, maka telah
membentuk mereka menjadi orang yang suka menuntut. Mereka mempersoalkan para murid
yang lapar dan memetik bulir anggur. Hukum Yahudi memperbolehkan orang yang dalam
perjalanan untuk memetik gandum orang lain bila mereka lapar, tetapi tidak di hari Sabat. Orang
Farisi memegang hukum dengan buta. Mereka tidak mempunyai rasa belas kasih.
Hukum itu diberlakukan bukan demi tegaknya aturan itu sendiri tetapi lebih demi upaya
menyelamatkan. Syarat supaya peraturan itu menyelamatkan dan membebaskan adalah jika
peraturan-peraturan itu mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Syarat itulah yang tidak tampak
dalam pelaksanaan hukum dan peraturan hari sabat yang dilakukan orang Yahudi. Alhasil, Yesus
mengecam ahli-ahli hukum Yahudi. Kehadiran Yesus hendak menunjukkan relasi kedekatan
yang dibangun antara “ Tuhan hukum sabat “ dan pelaksana hukum tersebut. Bagi Yesus hukum
dibuat untuk mengembangkan diri manusia. Manusia di bantu untuk menghargai dan
menghormati sesamanya, maka hukum harus memiliki cinta dan kemanusiaan. Yesus memberi
contoh tentang raja Daud dan pengikutnya yang makan roti sajian. Ia mengakhiri penjelasan
dengan mengutip ayat kitab suci yakni: “Yang Kukehendaki ialah belas kasih dan bukan
persembahan.”
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Bapa Fransiskus juga
melaksanakan teladan Yesus. Bapa Fransiskus Assisi memiliki belas kasih dengan cara
memelihara alam ciptaan Tuhan, dan menjadikan semua menjadi sahabatnya. Bahkan dalam
doanya ia ingin dirinya sebagai pembawa damai. Hari ini kita belajar dari Yesus, kita mau
melakukan kebaikan kepada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Di sekitar kita ada begitu
banyak peraturan yang membebani, mencekik, dan tidak berporos pada keadilan maupun
kemanusiaan. Sebagai pengikut Kristus, apakah kita berani mengkritik peraturan yang tak
menyelamatkan itu? Marilah kita memperjuangkan kebaikan meskipun hal itu menuntut
pengorbanan dari kita.
Marilah kita berdoa :
Yesus, bimbinglah kami agar kami dengan penuh kesadaran dan kasih melaksanakan aturan yang
kami sepakati baik di rumah maupun di sekolah, supaya hidup kami berkenan kepada-Mu. Amin.
Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini Bekasi.
Yeh. 33:7-9
Minggu, 7 September 2014
Mat. 18: 15-20
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan
nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah
seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak
disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan
jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak
mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang
kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di
surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta
apapun juga, permintaan itu akan di kabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada
ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Renungan
Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, setiap hari Minggu
kita pasti mendengarkan firman Tuhan. Dalam setiap ekaristi hari minggu pasti disampaikan
bacaan pertama, bacaan kedua dan bacaan Injil. Setelah mendengarkan pembacaan firman, kita
diajak merenungkan makna firman itu bagi hidup kita melalui homili. Demikian pula halnya
pada hari Minggu ini. Tetapi secara istimewa hari ini gereja merayakannya sebagai Minggu kitab
Suci. Bulan September dinyatakan Gereja sebagai bulan kitab suci. Diharapkan umat baik secara
pribadi ataupun kelompok-kelompok kecil mau membaca dan merenungkan Kitab Suci. Dengan
membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam Kitab Suci, maka kita akan mendapatkan
tuntunan hidup yang dapat kita pakai sebagai pegangan dalam menjalani hidup keseharian kita.
Sabda Tuhan hari ini berbicara tentang kasih. Kasih adalah perwujudan seluruh hukum
Tuhan. Seluruh peraturan akan menjadi ringan bila ada kasih dalam diri kita. Aturan tidak
membebani bila ada kasih. Bacaan injil hari ini mengajarkan tentang kesabaran serta
kebijaksanaan dalam memberi nasihat atau menegur seseorang, baik itu teman atau sahabat yang
berbuat salah. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.” Betapa
bijaksananya kita, bila menegur saudara, teman, sahabat yang bersalah, di bawah empat mata.
Sebab jika demikian yang mengetahui hanyalah dua orang saja, dan mereka pun bisa menjaga
rahasia atas permasalahan tersebut. Ini tidak mudah mengingat kecenderungan saat ini dimana
orang sangat senang membicarakan kesalahan dan kejelekan orang lain.
Bila semua orang mau berkata aku yang salah, maka dunia akan damai. Sayang sekali yang
kerap terjadi adalah pernyataan kamu yang salah, sebab semua orang merasa diri benar. Semua
orang cenderung saling menuduh dan menyalahkan. Kalau kita mau mengaku salah, dan kata itu
keluar dari sanubari kita, banyak persoalan terselesaikan dengan baik. Banyak kesulitan dan
musibah dapat dihindari, banyak kemelut dapat dipadamkan. Mengakui aku salah dan tidak
mengulangi lagi, bukanlah sikap orang lemah, bodoh atau frustasi. Justru sebaliknya itu adalah
cerminan orang bijak yang berani bertanggung jawab serta siap berubah. Sebaliknya keberanian
untuk memaafkan kesalahan orang lain hanya dapat terwujud jika ia berani mengakui
kesalahannya.
Menjadi seorang pengikut Kristus merupakan suatu panggilan, panggilan untuk mencintai
dan mengasihi Tuhan dan sesama. Hari ini adalah pekan biasa ke 23, Gereja merayakan pesta
pelindung santa Regina. Regina di suruh oleh ayahnya supaya menikah dengan gubernur yang
masih kafir, namun ia menolaknya. Sang gubernur marah dan memenjarakannya, mendera dan
akhirnya memenggal kepalanya. Regina rela mengalami perlakuan seperti itu karena kasihnya
kepada Yesus. Karena kasihnya yang sangat besar, ia dikuatkan untuk mengalami penderitaan
dan bahkan mengorbankan nyawanya. Mari kita juga belajar dari Bapa Fransiskus yang
mengasihi orang-orang kecil. Ia rela mengorbankan harta bendanya untuk kepentingan orang
miskin.
Marilah kita berdoa :
Ya Yesus, berilah kami keberanian untuk mengakui kesalahan dan berani menunjukkan
kesalahan yang dibuat teman, sehingga kami saling mendukung untuk menjadi orang yang
berlaku benar dihadapan –Mu dan dihadapan sesama. Amin.
Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini bekasi.
Mi. 5:2-5a
Senin, 8 September
2014
Mat. 1:1-16;18-23
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak
memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda
memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron
memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason,
Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari rahab, Boas
memperanakkan Obed dari rut, Obed meperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud, raja
Daud memperanakkan salomo dari istri Uria, Salomo meperanakkan Rehabeam, Rehabeam
memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa meperanakkan Yosafat, Yosafat
meperanakkanYoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam
memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manashe,
Manashe memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan
Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke
Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel
memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,
Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,
Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan
Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di
muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia
mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata:
"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang
di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau
akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa
mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi "Sesungguhnya,
anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan
menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
Renungan
Bunda Maria dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Yoakim dan ibunya
bernama Anna. Dalam tradisi Kristiani keluarga Yoakim dan Anna digambarkan sebagai
keluarga yang sangat saleh. Oleh kedua orang tuanya Maria sejak kecil sudah diserahkan kepada
pemuka agama dan dipersembahkan kepada Allah. Citra Maria yang demikian bisa diterima
mengingat peranan khususnya sebagai “Bunda Mesias” yang disandangnya. Bagi “Sang Mesias”
Tuhan telah menyiapkan “Wadah” atau tempat khusus sebagai sarana kehadiran-Nya. Sebagai
pribadi yang suci, murni, jujur serta rendah hati Maria diperkenankan mengandung Immanuel
dari Roh Kudus. “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Itulah
jawaban Bunda Maria saat menerima tawaran untuk menjadi Bunda Sang Penebus Dunia. Bunda
Maria telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi Sang Mesias. Maka dari itu Maria sungguh
menjadi contoh, menjadi teladan bagi kita dalam hal kesucian serta penyerahan dirinya secara
total kepada Tuhan.
Sekarang ini citra kemurnian atau kesucian harus kita perjuangkan. Kita memang tak bisa
menyamai Bunda Maria, namun kita bisa meniru semangatnya, kesuciannya, kerendahan
hatinya, penyerahan dirinya kepada penyelenggaraan Tuhan. Marilah kita selalu terus berusaha
menjaga kemurnian hati kita dan rela dilahirkan kembali menjadi pribadi yang suci, serta selalu
hidup di dalam tangan-Nya.
Marilah kita berdoa :
Ya Tuhan, tuntunlah kami agar kami bersikap dan berlaku jujur dan rendah hati seperti yang diteladankan
Santa Perawan Maria. Amin.
Sumbangan dari SD Marsudirini Bekasi
1Kor. 6: 1-11
Selasa, 9 September 2014
Luk 6:12-19
---------------Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada
Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari
antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon, yang diberi-Nya
nama Petrus, Andreas, saudara Simon. Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang
Zelot, Yudas anak Yakobus dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi penghianat. Lalu Yesus
turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah
besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari
Yerusalem, dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan
untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat
kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, sebab daripada-Nya keluar suatu
kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Renungan
Manusia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal besar
yang sangat penting dan menentukan dalam hidupnya. Dalam hal kecil memilih dapat kita
lakukan dengan mudah. Sebaliknya kita akan kesulitan memilih bila dihadapkan pada pilihan
yang penting dan menentukan. Perlu permenungan dan pemikiran mendalam, bahkan kalau perlu
meminta pertimbangan kepada orang lain. Sebab bila kita tidak hati-hati, maka pilihan itu bisa
salah.
Dalam Injil hari ini dikisahkan bagaimana Yesus memilih para Rasul-Nya. Ketika mau
memulai karya-Nya, Yesus memilih beberapa orang yang akan menjadi murid-Nya. Mereka
akan bersama dengan Dia dalam mewartakan kabar gembira kepada orang banyak. Yesus tidak
asal memilih. Dia memilih siapa yang layak menjadi murid-Nya. Sebelum menjatuhkan pilihan
itu Yesus terlebih dahulu menyepi dan berdoa bahkan sampai semalaman untuk mencari
kehendak Bapa, sehingga pilihan Yesus adalah pilihan Bapa. Apa yang diputuskan oleh Yesus
berkenan di hati Bapa-Nya. Yesus memilih dua belas Rasul bukan berasal dari tokoh-tokoh
penting di masyarakat, melainkan orang-orang miskin dan sederhana. Para nelayan salah
satunya. Orang-orang sederhana ini biasanya hidupnya memang sungguh menggantungkan diri
pada Penyelenggaraan Ilahi. Mereka telah memiliki semangat bekerja keras, rela berkorban,
kepedulian, kesediaan untuk menjalani hidup prihatin dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang
yang dipilih Yesus merupakan orang-orang yang sudah teruji sehingga sudah siap untuk
melaksanakan kehendak Tuhan.
Tuhan juga mengajak dan memanggil kita semua untuk berpartisipasi dalam karya
penyelamatan-Nya, antara lain menyembuhkan orang-orang sakit. Baik sakit fisik, sakit jiwa
ataupun sakit hati. Tentu saja termasuk penyakit dalam diri anak-anak yang masih
memprihatinkan sampai saat ini yaitu kemalasan, kurang peduli dan kurang sopan terhadap
orang lain. Maka marilah kita sembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Mari kita tanggapi
panggilan Tuhan dengan menjadi lebih peduli, lebih sopan dan lebih rajin.
Melalui Injil hari ini,Yesus juga memberikan teladan kepada kita untuk berdoa. Dalam
hidup dan karya-Nya, Yesus melaluinya di dalam doa. Kita juga hendaknya belajar menjadi
pendoa. Dengan doa kita akan mampu melakukan segalanya. Bahkan apa yang tidak mungkin
dikerjakan, dengan doa akan mampu kita kerjakan. Untuk itu, di tengah kesibukan hidup seharihari, kita hendaknya selalu mengupayakan untuk bisa menarik diri dan DIAM SEJENAK, untuk
berdoa dan mencari kehendak Tuhan.
Marilah kita berdoa :
Ya Yesus, bimbinglah kami agar kami semangat dalam berusaha dan mampu menjadi alat-mu
dalam karya keselamatan-Mu di dunia zaman ini. Amin .
Sumbangan dari SD Marsudirini Bekasi
Download