Oseana, Volume XIV, Nomor 1 : 19–26, 1989

advertisement
www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XIV, Nomor 1 : 19–26, 1989.
ISSN 0216–1877
PENGARUH AMONIA TERHADAP IKAN DALAM
BUDIDAYA SISTEM TERTUTUP
oleh
Sutomo
1)
ABSTRACT
EFFECT OF AMONIA ON FISH IN CLOSED CULTURE SYSTEM.
Among the metabolits, amonia ranks the most dangerous excretory product Amonia
accumulation causes detrimental effects to basic functions and structures of the cultured animal. Detrimental effects to the basic functions include impairment of gas
exchange and inhibition of fundamental metabolic processes soon cause reductions
in growth rate, physical performance, and tolerance to environmental stress (including tolerance to pollutans) and diseases. While detrimental effects to the structures
include structural damage of epithelia and internal tissues. At critical NH3 concentrations, detrimental effects are augmented by high ambient of pH values, high temperature, low levels of oxygen and the presence of water pollutants. Damage increases with exposure time, and rapidly become irreversible.
Pada prinsipnya, substansi-substansi
yang dapat membahayakan kehidupan ikanikan dalam budidaya sistem tertutup dapat
digolongkan menjadi dua kelompok, yakni:
kontaminan dan metabolit (sisa-sisa metabolisme). Kontaminan umumnya berasal
dari bahan yang digunakan untuk pencucian
dan sterilisasi alat-alat laboratorium seperti
deterjen, pemanasan dan lain-lain. Zat-zat
metabolit secara global dapat dibedakan
menjadi dua golongan. Golongan pertama
adalah ektokrin (metabolit eksternal). Ektokrin ini merupakan zat racun yang dikeluarkan oleh sejenis fitoplankton dinoflagellata, yaitu Gymnodinium veneficium dan
toksin yang dikeluarkan oleh beberapa jenis
PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang sering dihadapi dalam budidaya ikan adalah menurunnya kualitas air pemeliharaan. Hal ini antara
lain disebabkan oleh masuknya substansisubstansi pencemar yang dapat terakumulasi
di dalam media pemeliharaan. Meningkatnya kadar zat-zat pencemar tersebut dapat
mengganggu proses kehidupan dan setelah
mencapai kadar tertentu dapat mematikan
hewan peliharaan. Kasus demikian sering
terjadi terutama pada ikan-ikan yang dipelihara di dalam akuarium atau budidaya
sistem tertutup lainnya, yang airnya tidak
atau jarang diganti.
1) Baku Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi - LIPI, Jakarta.
19
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
www.oseanografi.lipi.go.id
karena itu memerlukan deflnisi yang tepat.
Amonia sering didefinisikan sebagai gas
NH3, nitrogen amonia dan lain sebagainya.
Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan
amonia adalah NH3 dan NH4+, sesuai dengan istilah yang dipakai oleh KINNE
(1976).
Seperti telah disebutkan dalam pendahuluan bahwa amonia merupakan produk
akhir metabolisme nitrogen yang bersifat
racun. Oleh karena itu kehadiran amonia di
dalam lingkungan perairan tentunya dapat
mempengaruhi dan mengganggu hewanhewan yang hidup dalam perairan tersebut.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi amonia dalam air budidaya
mengakibatkan berbagai macam kerusakan
terhadap organisme terutama kerusakan pada fungsi dan struktur organ. Pada kadar
yang sangat rendah kurang berbahaya, tetapi dengan meningkatnya kadar amonia,
secara cepat menjadi berbahaya terhadap
hewan perairan. Pengaruh amonia terhadap
jenis hewan perairan tampak tidak khas.
Studi perbandingan mengenai pengaruh
amonia terhadap fungsi dan struktur organ
tampak tidak berbeda baik hewan perairan
darat maupun hewan laut, walaupun berasal
dari kelompok taksonomik yang berbeda.
Efek subletal NH3 adalah terjadinya
penyempitan permukaan insang. Terjadinya
penyempitan permukaan insang ini akan
mengakibatkan kecepatan proses pertukaran
gas dalam insang menjadi menurun. Selain
itu efek subletal amonia juga bisa menyebabkan penurunan jumlah sel darah, penurunan
kadar oksigen dalam darah, mengurangi ketahanan fisik dan daya tahan terhadap penyakit, serta mengakibatkan kerusakan struktural berbagai jenis organ, termasuk parenkhim hati.
Ikan karper, Cyprinus carpio tampak
lebih tahan daripada ikan Salmo gairdnerii
Ikan karper, C. carpio masih dapat tumbuh
hewan budidaya, misalnya oleh siput air,
Biomphalaria sudanica, ikan zebra, Brachydanio rerio dan gurami biru, Trichogaster
trichopterus. Golongan kedua adalah zat-zat
kimia yang merupakan hasil akhir metabolisme nitrogen seperti amonia, urea, asam urat
serta substansi nitrogen lainnya seperti guanin, asam amino dan oksida trimetilamin. Di
antara substansi-substansi berbahaya tersebut, amonia dipandang sebagai substansi berbahaya yang paling potensial dalam sistem
budidaya tertutup. Di samping sangat toksik,
amonia juga merupakan senyawa nitrogen
yang paling banyak diproduksi dari metabolisme nitrogen. Amonia yang terdapat dalam
air tidak hanya berasal dari hasil metabolisme organisme yang hidup, tetapi juga berasal dari proses dekomposisi organisme yang
telah mati dan sisa-sisa makanan. Oleh karena itu amonia sering menjadi salah satu kendala utama dalam usaha budidaya.
CAMBELL (1973) menyatakan bahwa
hampir seluruh hewan perairan bersifat amonotelik, karena sebagian besar hasil akhir metabolisme nitrogen vane dikeluarkan dari tubuhnya adalah amonia. Hasil penelitian
PARRY (1960) menunjukkan bahwa semua
krustasea adalah bersifat amonotelik, kecuali
Cardisoma guanhumi Sejumlah 80% – 90%
dari hasil akhir metabolisme nitrogen yang
dikeluarkan oleh amfipoda dan isopoda adalah amonia. Demikian pula pada jenis kopepoda, Calanus helgolandicus yang dibudidayakan ternyata hampir 90% dari metabolit
nitrogen yang dikeluarkan adalah berbentuk
amonia (CORNER et al. 1972).
Mengingat hal tersebut di atas, maka
pada kesempatan ini penulis ingin mengulas
pengaruh amonia terhadap ikan budidaya.
PENGARUH AMONIA TERHADAP
IKAN BUDIDAYA
Istilah "amonia" sering digunakan secara berbeda dalam literatur biologi dan oleh
20
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
www.oseanografi.lipi.go.id
pada kadar amonia total yang menghambat
pertumbuhan Salmo gairdnerii Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan karper, C.
carpio yang dipelihara pada suhu sekitar 20°
C dan pH mendekati 7, bertambah beratnya
dari 2,74 gram menjadi 3,30 gram selama 91
hari. Tetapi bila dalam tempat pemeliharaan
ditambahkan NH4CI dengan kadar 0,3 mg/1,
ternyata berat ikan tersebut berkurang dari
2,80 gram menjadi 2,77 gram dalam waktu
91 hari. Ikan karper masih dapat hidup dalam kadar NH4C1 1,2 mg/1, tetapi KAWAMOTO (dalam KINNE 1976) berpendapat
bahwa ikan-ikan tersebut akan mati pada
kadar yang sedikit lebih tinggi karena kegagalan dalam pernapasan. Ikan S. gairdnerii
yang diperlakukan pada kadar amonia 1 mg/l,
kandungan oksigen dalam darahnya berkurang sekitar 14% dari keadaan normal, tetapi kandungan karbon dioksida dalam
darahnya naik sekitar 15%. S. gairdnerii
yang diperlakukan dengan kadar NH3 1,64,3 mg/1 selama 24 jam menunjukkan peningkatan dalam konsumsi oksigen (53%
sampai 106% di atas tingkat normal). Kenaikan kadar amonia sampai batas kritis
cenderung merusak keseimbangan pertukaran gas antara organisme dengan lingkungan.
REICHENBACH–KLINKE (dalam KINNE
1976) telah melakukan uji toksisitas amonia
terhadap 240 individu ikan air tawar seperti
Squalis cephalus, Carassius auratus, C. carassius, Gobio gobio, Esox lucius, Cyprinus
carpio, Salmo gairdnerii, Rutihis rutilus dan
Tinca tinca. Percobaan dilakukan dalam akuarium dengan volume 50 liter, pada suhu
16° sampai 17°C, pH 8,4 sampai 8,6; kadar
NH4+ berkisar antara 1 dan 4 mg/1 (0,1 sampai 0,4 mg NH3/l). Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa amonia berpengaruh terhadap sel-sel darah, insang dan hati. Pada
kadar NH4+ 3 mg/1 (0,27 mg NH 3/l) atau
lebih menyebabkan pembengkakkan sel-sel
insang dan hati, pelekatan filamen-filamen
insang dan pertumbuhan yang berlebihan
(hiperplasia). Pada waktu yang sama, jumlah
sel-sel darah merah menurun. Kerusakan pada parenkhim hati dan komponen-komponen darah, secara cepat dapat mengakibatkan kematian.
Anak-anak ikan yang baru menetas
sangat sensitif terhadap amonia. Benih ikan
Salmo gairdnerii akan mengalami kerusakan
darah yang "tidak dapat pulih" (irreversible)
bila dipelihara dalam air yang mengandung
NH3 sebesar 0,27 mg/1. Oleh karena itu diharapkan bahwa dalam budidaya, kadar NH3
yang diperbolehkan harus di bawah konsentrasi yang dapat ditoleransi oleh ikan-ikan
dewasa. Perlakuan dengan amonia hidroksida pada kadar 0,7 mg/1 (setara dengan kadar
NH3 0,014 mg/1 pada suhu 6°C atau 0,018
mg/1 pada suhu 14°C) baik pada suhu 6°C
atau 14°C menunjukkan bahwa tingkat proliferasi dan pelekatan filamen-filamen insang
meningkat pada awal minggu keempat, dan
setelah itu peningkatannya tidak dapat dihitung lagi. Perpanjangan waktu perlakuan
mengakibatkan kerusakan yang bersifat
irreversible (tidak dapat pulih). Pemindahan
ke media budidaya yang normal terbukti tidak menunjukkan pemulihan pada insang
yang telah mengalami proliferasi secara ekstensif.
Menurut KINNE (1976), kadar N–
NH3 yang diperbolehkan dalam sistem budidaya adalah 0,001 mg/1 atau kurang. LIAO
& MAYO (1972) telah membuat kriteria kadar amonia dalam budidaya ikan salmon,
seperti terlihat pada Tabel 1. Kadar NH3
yang diinginkan adalah tidak boleh lebih
dari 0,005 mg/1. Sementara menurut buku
Pedoman Penetapan Baku Mutu lingkungan yang dikeluarkan oleh Sekretariat Menteri
Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1988), ditetapkan bahwa kadar maksi-
21
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
www.oseanografi.lipi.go.id
Tabel 1. Kriteria kadar amonia (mg/l) dalam sistem
budidaya ikan salmon (LIAO & MAYO 1972)
Tingkat (level)
NH3
Optimum
NH4+
0
< 0,4
Diinginkan
< 0,005
< 1,0
Diperbolehkan dalam Periode waktu
pendek
< 0,025
< 1,6
Mulai mematikan
0,08
mum N – NH3 dalam budidaya ikan air
tawar adalah 0,016 mg/1. Sedangkan untuk
budidaya ikan air laut kadar NH3 sebagai N
yang diperbolehkan adalah 1,0 mg/1 atau
kurang, dan yang diinginkan adalah 0,3
mg/1 atau kurang. Namun demikian para
ahli menganjurkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang batas kadar amonia yang dapat diterima untuk berbagai jenis
ikan budidaya.
Sebagai contoh, pada pH air 7,0 persentase
kadar NH3 adalah 0,3, sedangkan pada pH
air 7,9 persentase NH3 bebas naik sekitar
10 kali lipat yaitu 2,9% (suhu air tetap
10°C). Hal yang sama juga terjadi bila suhu
air naik. Pada suhu air 10°C, persentase
amoniak adalah 5,7, kenaikan suhu menjadi 20°C menyebabkan persentase amoniak
naik menjadi 7,3 (pH air tetap 8,2) (Tabel 2).
Distribusi NH3 dan NH4+ dalam sistem biologi tergantung pada tingkat permeabilitas membran sel terhadap kedua bentuk
zat tersebut. Secara umum, membran sel
permeabel terhadap NH3, tetapi relatif tidak permeabel terhadap NH4+. Seperti diketahui bahwa tingkat toksisitas amonia
tergantung pada jumlah amonia yang masuk
ke dalam sel. Maka dengan demikian amonia
dalam bentuk NH3 merupakan substansi perusak utama daripada dalam bentuk NH4+.
Anak ikan "Chinook salmon" (Onchorhyncus tshawytscha) yang diperlakukan
dalam air yang mengandung NH3 sebanyak
0,006 mg/1 (suhu 6° – 14°C, pH 7,8) dapat
mengakibatkan hiperplasia secara ekstensif
pada epithelium insang. Perlakuan NH3 secara terus-menerus dapat merangsang timbulnya penyakit pada insang oleh bakteri.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA RACUN AMONIA
Pengaruh pH terhadap distribusi relatif
NH3 dan NH4+ pada kedua sisi membran sel
dilukiskan secara skematis pada Gambar 1.
Pada pH tinggi) sebagian besar NH4+ akan
berubah menjadi NH3. Oleh karena NH3 lebih beracun daripada NH4+, maka budidaya
ikan dalam air dengan pH tinggi lebih berbahaya dibandingkan dengan pH rendah.
Pengaruh amonia terhadap proses biologi tergantung pada proporsi dan distribusi
dari NH3 dan NH4+. Proporsi NH3 dan
NH4+ terutama ditentukan oleh pH dan suhu air. Kenaikan pH air akan menyebabkan
persentase NH3 dalam air semakin tinggi.
22
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
3,0
www.oseanografi.lipi.go.id
I
Tabel 2. Persentase NH3 dalam larutan amonium hidroksida sebagai
fungsi pH dan suhu (WUHRMANN et al. dalam KINNE 1976)
Suhu
°C
10
15
20
Persentase NH3 bebas
pH
7,0
7,5
7,6
7,7
7,8
7,9
8,0
8,1
8,2
8,3
8,4
8,5
8,8
9,0
9,5
0,3
1,1
1,4
1,8
2,3
2,9
3,6
4,6
5,7
7,1
8,9
11,1
20,3
29,1
57,6
Cairan
luar
0,4
1,3
1,6
2,1
2,6
3,3
4,1
5,2
6,5
8,0
9,9
12,3
22,1
32,3
59,8
0,5
1,5
1,9
2,4
3,0
3,8
4,7
6,9
7,3
9,1
11,2
13,7
24,2
35,8
62,1
Cairan
sel
membran
sel
(a)
~ NH4
NH4'
r
J
(b)
NH3
H+
L
H+
Gambar 1.
Pertukaran amonia melalui membran sel. a) Tingkat permeabilitassel untuk NH4+ rendah,
tetapi tinggi untuk NH3; b) Kelebihan ion H+ (pada sisi dengan pH lebih rendah) cenderung menarin NH3 dari sisi dengan pH lebih tinggi. (WARREN & SCHENKER dalam
KINNE 1976).
23
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
www.oseanografi.lipi.go.id
sitas NH3 terhadap ikan S. gairdnerii Pengaruh mematikan (lethal effect) NH 3 terhadap ikan tersebut telah dipelajari oleh
DOWNING & MERKENS (1955). Mereka
menemukan bahwa NH3 pada kadar 0,84
mg/1 dapat mematikan ikan S. gairdnerii (pada kondisi suhu, O2 dan CO2 normal dan pH
8,2). Sedangkan pada suhu 10°C, efek mematikan didapatkan pada kadar 18 mg
NH4+/1.
Di samping pH, suhu dan kandungan
oksigen dalam air, kehadiran beberapa zat
pencemar seperti fenol, garam logam, deterjen dapat juga memperkuat daya racun
amonia. Jaringan-jaringan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah, dengan mudah
dapat dipenetrasi oleh NH3 dan akibatnya
mudah dirusakkan. Senyawa-senyawa yang
mudah mengikat besi (Fe) cenderung mempengaruhi fungsi pernafasan. Sebagai contoh,
H2S masuk melalui membran sel 100 kali
lebih cepat daripada O2 dan menginaktifkan
Fe dalam haemoglobin (Hb). Hal ini dapat
mengurangi kemampuan penjenuhan oksigen
oleh jaringan, dan sebagai akibatnya NH3
lebih mudah masuk ke dalam jaringan.
ELUS (dalam KINNE 1976) mendapatkan
bahwa pengaruh pencemaran amonia dalam
sungai dan perairan pantai, pada pH tinggi
lebih berat dibanding pada pH rendah. Ikan
"rainbow trout", Salmo gairdnerii dapat hidup dalam kadar amonia sepuluh kali lipat
pada pH = 7, daripada dalam air dengan pH=
8 (DOWNING & MERKENS 1955).
Tingkat toksisitas NH3 juga tergantung pada kadar oksigen terlarut. Pada percobaan dengan menggunakan tiga perlakuan
kadar NH3 (0,86; 1,38; 1,96 ppm). pada suhu 19,8°C terhadap ikan S. gairdnerii ternyata didapatkan bahwa periode ketahanan
hidup meningkat dengan bertambahnya kadar oksigen terlarut (Gambar 2). Sebagai
contoh, pada kadar NH3 – N sebesar 0,86
ppm dan O2 sebesar 1,5 ppm ikan & gairdnerii hanya dapat hidup selama sekitar 10
menit, tetapi bila kadar oksigen dinaikkan
menjadi 8,5 ppm, ikan tersebut dapat hidup
lebih lama yaitu sekitar 1000 menit (DOWNING & MERKENS 1955).
Kenaikan kadar CO2 dalam medium
budidaya cenderung menambah daya toksi-
1.000
2 3 4 56 7
2
34
56
7
I
1.00
1,38
ppm
1
NH3 1
I
OH
1,96
ppm
8
1.0
2
8
3 4 5
6 7
8 Oksigen terlarut
(ppm)
Gambar 2. Toksisitas amonia pada beberapa kadar N - NH3 dan oksigen terlarut
terhadap ikan Salmo gairdnerii Lingkaran terbuka : pH 7,0; lingkaran
tertutup : pH 8,2; suhu 19,8°C; air tawar. (DOWNING & MERKENS
dalam KINNE 1976).
24
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
www.oseanografi.lipi.go.id
"Amonia oksidase"
CARA PENANGGULANGAN
BAHAYA NH 3 DALAM BUDIDAYA
SISTEM TERTUTUP
a) 2NH 3 + 3,5 O 2
NO 2
Dalam pembahasan terdahulu telah dikemukakan bahwa amonia dapat mengganggu kehidupan bahkan mematikan hewanhewan yang dibudidayakan. Oleh karena
itu untuk melindungi hewan-hewan budidaya dari bahaya racun amonia diperlukan
usaha penanggulangan.
Usaha untuk menanggulangi bahaya
NH3 dalam budidaya sistem tertutup dapat
dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
1. Secara mekanis, yaitu dengan cara penyaringan. Bahan yang dapat digunakan
sebagai penyaring bisa berupa pasir, kerikil,
wool, keramik, tanah diatomae, plastik berpori, kertas saring dan lain-lain.
2. Secara fisika-kimia. Cara yang umum digunakan dalam perlakuan ini adalah absorbsi
dengan karbon aktif, pengudaraan (aerasi),
oksigenasi, atau ozonisasi.
Menurut KINNE (1976) kedua cara
mekanis dan fisika-kimia tersebut kurang
efisien, tetapi baik juga dipakai sebagai metode pelengkap dalam pengurangan bahaya
NH3.
3. Secara biologis. Cara ini dianggap cukup
efisien dalam menanggulangi bahaya NH3 .
Pada metode biologis, organisme yang memegang peranan penting adalah bakteri nitrifikasi dan alga. Kedua jenis organisme ini
dapat melenyapkan atau setidak-tidaknya
mengurangi NH3 dalam air budidaya dengan
caranya masing-masing. Menurut SCHLE–
GEL (1975), ada dua proses dasar transformasi NH3 yaitu nitrifikasi (oksidasi amonia
menjadi nitrit atau nitrat) yang dilakukan
oleh bakteri nitrifikasi, serta proses denitrifikasi (reduksi nitrat menjadi nitrit, atau
nitrit menjadi nitrous oksida atau nitrogen
bebas. Reaksi kimianya adalah sebagai berikut:
b)NO 2
"Nitrit oksidase"
---------------- s* NO 3
"Denitrifikasi"
c) NO 3 + NO 3 + CH 2 O
N2, N2O
Perubahan NH3 menjadi NO3 berlangsung
melalui dua tahapan. Tahap pertama ialah
oksidasi amonia menjadi nitrit secara enzimatis yang dilakukan oleh bakteri-bakteri
seperti Nitrosomonas europaea, Nitrosocystis javaensis, Nitrosococcus oceanus, Nitrosospira briensis, dan Nitrosolobus multiformis. Tahap kedua adalah oksidasi nitrit
menjadi nitrat secara enzimatis oleh bakteribakteri seperti Nitrobacter winogradskyi, N.
agilis, Nitrococcus mobilis, dan Nitrospina
gracilis. Molekul nitrogen dapat difiksasi
oleh bakteri tertentu, ragi (yeast) dan alga
hijau-biru. Nitrogen yang terdapat dalam
bentuk amonia dapat dimetabolisir secara
langsung oleh alga untuk pembuatan senyawa asam amino melalui proses transsaminase. Dengan demikian hadirnya amonia
dalam air akan segera diserap oleh alga sehingga bahaya amonia dapat dihindari.
Untuk mengurangi bahaya NH3 dapat juga
dilakukan dengan menghindari jumlah ikan
yang melampaui kapasitas pemeliharaan atau
terjadinya akumulasi limbah makanan. Apabila keadaannya kritis, maka segera dilakukan pergantian sebagian air budidaya dengan
yang baru, dan dianjurkan untuk dilakukan
resirkulasi melalui perlakuan air secara biologis serta dilengkapi dengan pemisahan busa.
Pengaturan pH air juga merupakan
faktor penting dalam pengurangan bahaya
NH3. pH air yang tinggi dapat memperkuat
daya toksisitas NH3, tetapi pH yang rendah-
25
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
+ O2
+ 3H2 O
www.oseanografi.lipi.go.id
pun kurang baik karena dapat menekan bakteri pengoksida amonia dan mengakibatkan
air tidak nyaman lagi bagi hewan-hewan laut.
Oleh karena itu pH air budidaya sebaiknya
diusahakan agar tetap berkisar antara 7,6 –
8,2. Apabila pH air terlalu rendah, maka
untuk menaikkannya bisa ditambahkan kalsium oksida atau magnesium oksida.
KINNE, O. 1976. Cultivation of marine
organisms : water quality management
and technology. In : "Marine Ecology"
(O, KINNE ed.). Vol. III Part. I. Wiley,
London : 19–268.
DAFTAR PUSTAKA
PARRY, G. 1960. Excretion. In : "The
physiology of Crustacea metabolism and
growth" (J.H. WATERMAN ed.). vol. 1
Acad. Press. New York : 341–366.
LIAO, P.B. and R.O. MAYO 1972. Salmonid hatchery water reuse systems.
Aquaculture 1 : 317–335.
CAMPBELL, J.W. 1973. Nitrogen excretion
In: "Comparative animal physiology"
(PROSSER, C.L. ed.). W.B. Saunders
Company. Philadelpia: 234–257.
CORNER, E.D.S., R.N. HEAD and C.C.
KILVINGTON 1972. On the nutrition and
metabolism of zooplankton. VI : The
form of nitrogen excreted by Calarnus.
J. Mar. Biol. Ass. U.K. 47: 113–120.
DOWNING, KM. and J.C. MERKENS 1955.
The influence of dissolved oxygen concentration on the toxicity of un-ionized
ammonia to rainbow trout (Salmo gairdnerii RICHARDSON). Ann. Appl. Biol.
43 : 243–246.
SCHLEGEL, H.G. 1975. Mechanism of
chemo-autotrophy. In : "Marine Ecology". (O, KINNE. ed.). Vol. II, Part I.
Wiley, London : 9 – 60.
SEKRETARIAT
MENTERI
NEGARA
KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1988. Pedoman Penetapan
Baku Mutu Lingkungan Keputusan
Menteri Negara Kependudukan dan lingkungan Hidup. Nomor Kep-02/–MENKLH/I/1988 : 57 hal.
26
Oseana, Volume XIV No. 1, 1989
Download