Transplantasi organ secara umum digunakan untuk menyelamatkan

advertisement
PRINCIPLES OF MEDICINE
part II
Kelainan Immunologi
IMUNOLOGI
 Imunitas : pertahanan terhadap penyakit
 Definisi :
semua mekanisme fisiologis yang membantu individu
untuk mengenal materi asing pada dirinya kemudian
menetralkan,mengeliminasi benda asing tsb dgn/tanpa
kerusakan pada jaringan tubuh.
FUNGSI RESPON IMUN
 1.Defence
 2.Homeostatic
 3.Surveillance
Ketiganya seimbang = sehat
Tidak seimbang = sakit/kelainan
Sel-sel imunokompeten
 I.Limfosit (sel-sel yg mampu mendeteksi materi asing),
tdd:
-Limfosit.B (sel B) : disintesa dlm sumsum tulang  menjadi
sel B mature sel Plasma
-Limfosit.T(sel T) : disintesa pada sumsum tulang Diolah
dalam Timus Limfosit mature Limfoblas yg
memperantarai fogositosis.
 II. RES (sel-sel yg mampu mfagosit sel asing dgn
kekuatan besar dan umur lebih panjang dibanding sel
fagosit lain c/sel polimorf),sel RES terdapat pada
Limpa, hati,nodus limfatikus, sumsum tlg.
RESPON IMUN
Non
spesifik
Respon
imun
Humoral
seluler
Humoral
spesifik
seluler
Respon Imun NonSpesifik
Pertahanan pertama thdp benda asing lewat sel-sel yg tidak spesifik :
 Reaksi infalamasi ( sel tertentu )
 Reaksi pertahanan fisik (kulit,mukosa,silia,batuk)
 Reaksi pertahan biokimia(keringat,saliva,mukus,HCl)
Tdpt 2 mekanisme :
1.Sistem seluler ; melibatkan secara langsung sel-sel imunokompeten
2.Sistem humoral ; melibatkan perangkat yaitu enzzim,komplemen,dan
interferon
Respon Imun Spesifik
 Benda asing (Ag) merangsang terbentuknya Ab
yang spesifik thd Ag yang masuk tadi
 3 sifat respon imun spesifik :
1. Spesifisitas; memp. Kepekaan tinggi
membedakan Ag satu dengan lainnya
2. Heterogenesitas; berbagai jenis sel dan
produk-nya dpt bereaksi dgn Ag yang berbedabeda
3. Memori; kemampuan utk mengenali dan
mengingat kembali Ag yang pernah masuk
2 mekanisme pada respon imun SPESIFIK
1. Seluler; adalah mekanisme yang diperantarai
oleh limfosit T yang tersensitisasi,terdiri
dari:
Thelper,Tsupresor,Tkontrasupresor,Tsitotoksik
2. Humoral; adalah Reaksi yang diperantarai
oleh produk sel B (limfosit B dan Sel Plasma)
yaitu Antibodi/Ab, yang disebut
Imunoglobulin/Ig,tdd:
- IgA
- IgD
- IgE
- IgG
- IgM
 TOLERANSI
IMUNOLOGIK
Mrpk resp.imun NORMAL utk dapat membedakan antara
jaringan sendiri dengan benda asing, shg tidak
terbentuk penyerangan terhadap jaringan tubuh sendiri
Ada 2 jenis toleransi imun :
tol.imun perolehan/dapatan;
tubuh tidak mampu merespon thd.Ag dari
luar tubuh (eksogen)
tol.imun alami;
tubuh tidak mampu merespon thd. Ag dari
dalam tubuh sendiri (endogen), hal ini
bisa terjadi krn genetik
Respon imun dapat menyebabkan kelainan jika respon ini
bereaksi melawan jaringan tubuh sendiri. Sistem imun dapat
menyimpang melalui 3 cara :
1. Imunodefisiensi ,respon imun yang
inefektif
2. Hipersensitivitas ,respon imun yg over
reactive
3. Peny.Autoimun, aktivitas respon imun
yang
menyerang molekul, sel, atau
jaringan tubuh
sendiri akibat
kegagalan toleransi karena
sistem
homeostatik tidak berfungsi.
3 teori tentang PENYAKIT AUTOIMUN
 1.Teori Klon Terlarang; ada suatu klon dari Limfosit
yg timbul karena mutasi somatik, ada 2 kemungkinan;
-Sel mutan membawa Ag asing
-Sel mutan mengalami proliferasi shg dianggap asg
 2. Teori Antigen Terasing; selama masa embrio
jaringan yg secara anatomi terletak jauh dari
sistem limforetikuler/ terasing maka akan
dianggap sbg asing, maka akan terjadi perlawanan
thd sel ini.
 3. Teori Defisiensi Imunologik; menjelaskan adanya
hubungan antara sindroma def.imun. dengan
kenaikan insidensi abnormalitas autoimun
ETIOLOGI PENYAKIT AUTOIMUN
Penyakit auto
imun
genetik
Infeksi bakteri
& virus
Kerusakan
regulasi
sistem imun
 KLASIFIKASI PENYAKIT AUTOIMUN
Tanda-tanda umum :
-AutoAb yang beredar akan bereaksi dgn
unsur-unsur jaringan normal
-Ig meningkat dalam serum
-Lebih sering mengenai wanita
-Perjalanan peny. Bisa progresif,
eksaserbasi , bisa menyembuhkan
- AutoAb-nya bernilai diagnostik secara
laboratoris
PATOFISIOLOGI Penyakit
Autoimun
PATOFISIOLOGI
Penyakit Autoimun
Ag
Respon Imun
Non Spesifik
SPESIFIK
TOLERANSI
Gagal
Humoral
(Limf B)
Seluler
(Limf T)
Ab/Ig
Penyakit
Autoimun
Limf T
tersensitisasi
Fungsi Sistem Imun dan Penyimpangannya
Fungsi
Asal
Contoh
rangsang
Hiperakti
vitas
Hipoaktivi
tas
Defence
(pertahan
an)
Eksogen
Perlawanan
thd m.o
Alergi
Defisiensi
imun
HomeostaTic
Eksogen
Endogen
Penghancur
an sel-sel
rusak dan
tidak
berguna
Penyakit
autoimun
Surveillance Eksogen
(pengawas Endogen
an)
Pemusnah
an sel-sel
mutan dan
sel
neoplasma
_
_
Penyakit
keganasan
TRANSPLANTATION MEDICINE
T R A N S P L A N TA S I O R G A N S E C A R A U M U M
D I G U N A K A N U N T U K M E N Y E L A M AT K A N J I WA
SESORANG
Klasifikasi
Sangat penting diketahui berhubungan dengan
manajemen dan prognosis
Tipe
jaringan
Solid
organ/jaringan
seperti janutng, liver
,ginjal, pankreas,
kulit komponen
mata, intestin
HCT (hematopoietic
cell transplantation)
 bone marrow
autologous
xenogeneic
hubungan
genetik dari
penerima
ke donor
allogeneic
isograft
 transplantasi autologous ke atau dari satu orang
 Isografttransplantasi dari kembar identik
 transplantasi allogeneic transplantasi didapat dari
pendonor yang tidak identik secara genetik kepada
penerima nya
 transplantasi xenogeneic  transplantasi dari pendonor
ke satu spesies ke penerima spesies lain
Oral Health Considerations
 Pasien transplamtasi organ  lebih mudah untuk
terkena bakteri, virus dan jamur yang dapat
menyebabkan infeksi oral
 Tanda-tanda infeksi oral bergantung pada penurunan
respon radang, tingkat imunosupresi dan respon imun
pasien, dan adanya ulserasi oral
Obat-obatan dan efek
sampingnya biasanya
berhubungan dengan
kerusakan periodontal
Infeksi virus  sering muncul
pada pasien immunosupresi
 herpes simplex, virus
varicella-zoster dan oral hairy
leykoplakia
 Infeksi jamur 
pseudomembranous
candidiasis, termasuk
aspergillosis,
cryptocococsis,
mucormycosis dan
blastomycosis
 Oral mucositis (OM)  keluhan yang sering muncul
pada pasien kemoterapi agen paliatif, seperti
gabungan dari anestesi, antihistamin dan obat-obatan
lainnya
 Pencegahan : profilaksis tretinoin topikal
 Disfungsi kelenjar saliva  sering muncul pada pasien
pasca HCT
Dental Management
 Perawatan gigi untuk pasien yang sedang
mempersiapkan untuk transplantasi atau bagi mereka
yang sudah memiliki transplantasi harus
dikoordinasikan dengan petunjuk dokter
 Dokter biasanya berkonsultasi dengan dokter gigi
pasien, untuk memastikan pasien tidak memiliki
infeksi oral akut yang dapat mempersulit proses
transplantasi
 Komunikasi yang dekat dan detail antar pekerja
kesehatan sangat penting
Dental
manegement
pretransplantation
Post
transplantation
Pre transplantations Considerations
 Pasien yang menunggu transplantasi ginjal  kerusakan
ginjal tingkat akhir  hemodialisis  memerlukan
antibiotik profilaksis sebelum perawatan gigi untuk
mencegah bakteri endokarditis
 Biasanya kelebihan cairan dan hipertensi  tekanan
darah harus dimonitor
 Variasi metabolisme dan ekskresi obat juga harus
dipertimbangkan  perubahan dosis obat-obatan
 Pasien yang menunggu transplantasi jantung(CAD)
dan gagal jantung kongestif tidak diindikasikan rawat
jalan dental treatment
 Biasanya tidak boleh keluar RS sebelum mendapat
transplantasi
 Pasien yang menunggu transplantasi paru-paru sulit
bernapas dan terapi oksigen
 Perawatan gigi harus menghindari penggunaan sumbersumber yang mudah terbakar di dekat pasien jika ia
menggunakan terapi oksigen
 Menghirup anestesi dan obat narkotika kontraindikasi 
depressi pernafasan
 Pasien menunggu transplantasi pankreas pengelolaan
glukosa abnormal  pertimbangan tingkat glukosa
serum sebelum memulai pengobatan harus dilakukan
 Rentan infeksi dan perdarahan  hati –hati dalam dental
treatment
 dokter gigi yg merawat pasien pretransplantation harus
mempertimbangkan potensi komplikasi gigi yang secara
signifikan dapat berdampak pada proses transplantasi
 Sebaiknya dilakukan pemeriksaan klinis gigi,
periodontium, dan mukosa oral serta kepala dan leher
daerah, termasuk kelenjar getah bening dan kelenjar liur
secara rinci
 Dokter gigi menghilangkan infeksi sebelum
transplantasi
 Perencanaan perawatan gigi harus memperhitungkan
kondisi pasien, evaluasi lab, termasuk parameter seperti
sel darah dan trombosit, serum kimia untuk menentukan
derajat disfungsi organ, dan studi koagulasi
Post-transplantation Consideration
Immediate post transplantation period
 Kondisi pasien paling rentan terhadap penolakan dan




infeksi berat
Periode dimulai segera setelah proses transplantasi sampai
organ transplant dapat berfungsi dengan benar
Pasien ini Imunosupressi ↑  cegah rejection dentist
sebaiknya tidak melakukan dental treatment
Emergency harus konsul dengan dokter transplantasi
Penggunaan chlorhexidin kumur dapat membantu
Stable post-transplantation period
 Saat organ transplantasi sudah stabil
 waktu terbaik untuk melakukan perawatan gigi organ
berfungsi dengan baik
 Untuk keamanantetap konsultasi dengan dokter
transplantasi
 Memperhatikan interaksi obat terhadap obat
imunosupressi
 Pasien dgn CSA (imunosupresive
medicine)klindamisin
Level CSA dapat terpengaruh oleh obat seperti :
 Anti inflamasi : diklofenak, sulindac, naproxen
 Antifungal : itraconazol, fluconazole
 Ketoconazole
 Antibiotik : clarithromycin, eritromisin
Chronic Rejection Period
 Jika organ transplantasi mengalami kegagalan
 Parameter laboratorium menunjukkan kegagalan fungsi
organ
 Dapat dilakukan biopsi
 berisiko dilakukan dental treatmentpasien gagal organ
dan imunosupressi
 Emergency  konsul dengan dokter pertimbangkan
dampak dari kegagalan organ
Diabetes Mellitus
P E N YA K I T M E T A B O L I C YA N G D I T A N D A I D E N G A N
D I S R E G U L A S I D A R I M E TA B O L I S M K A R B O H I D R AT,
PROTEIN, DAN LIPID
Klasifikasi DM
DM tipe 1



diderita oleh pasien pada usia
muda
didiagnosis sebelum akhir usia
remaja  juvenille diabetes
biasanya kurus
DM tipe 2


Adult disorder : >40th
Sering dikaitkan kelebihan
berat badan dan fenotip gemuk
DM tipe 1
DM tipe 2
• Absolute insulin deficiency
 Resistensi insulin (fungsi
• e/


autoimmune destruction sel
beta pankreas
Kehilangan pankreas :
pankreatitis, surgical removal
insulin melemah)
 e/ tidak diketahui, tidak
terjadi destruksi sel beta
 Resiko DM tipe 2 meningkat
seiring umur, obesitas, dan
kurangnya aktifitas fisik
 Sering ditemukan pada
pasien dg hipertensi dan
dyslipidemia
GDM / Gestational DM
Other Specific Types
• Intoleransi glukosa
 Jarang terjadi
didiagnosis pd bumil yg
tidak memiliki DM
• Kebanyakan normal kembali
setelah melahirkan, namun
↑ terjadinya DM tipe 2
 e/






cacat genetik sel beta atau aksi
insulin,
penyakit pankreas,
endokrinopathies,
penggunaan obat / bahan kimia,
infeksi,
Jumlah kortisol, glukagon,
epinefrin, dan GH yg berlebihan
Klasifikasi DM
http://jada.ada.org/conte
nt/139/suppl_5/8S/T1.me
dium.gif
Patofisiologi
Gula darah N : 60150 mg/dL
Glukosa dieksresi
pd urin dan
urinasi↑ =
insulin 
homeostasis
glukosa
Gula darah ↑ =
hiperglikemia
polyuria
Peningkatan
pengeluaran cairan
 dehidrasi & haus
berlebihan =
polydipsia
Sel-sel kelaparan
karena tidak
mendapatkan
glukosa = ↑lapar =
polyphagia
↓ insulin  gula
darah ≠ sumber
energi
Trigycerides 
asam lemak =
sumber energi
cadangan
Kehilangan BB 
sel-selnya tidak bs
menyerap glukosa
DIAGNOSIS
TREATMENT
Insulin therapy
Pramlintide
OHAs / oral hypoglychemic agent
Incretins
Transplantation
Complications
M I K R OVA S C U L A R & M A K R OVA S C U L A R
 Mikrovascular :




Disfungsi endotel & ischemia jaringan
Retinopathy : kebutaan
Neuropathy : nyeri, khlgn sensasi nyeri dan sentuh,
Nephropathy : renal failure & dialysis  cardiomyopathy
 Makrovascular


Atherosclerotic disease  semua arteri mayor  infark
myokardium, stroke
Diperparah oleh : merokok, hipertensi, dyslipidemia
 Orang dg DM yang tidak terkontrol juga memiliki penyembuhan
luka yg lama dan meningkatkan terkenanya infeksi
 two other DM-related


DM mempengaruhi fungsi sendi : Peningkatan kekakuan dan
kehilangan fleksibilitas
Densitas tulang
Oral Complications of
Diabetes
1. Gingivitis & Periodontal Disease
 Sering disebut kompikasi ke-6 DM  plg sering ditemukan
 Faktor yang mempengaruhi :
 Penurunan fungsi leukosit PMN
 Metabolisme abnormal dari kolagen
 Pembentukan advanced glycation end products (AGE)  mempengaruhi stabilitas
kolagen
 Destruksi jaringan periodontal meningkat seiring umur & lebih tinggi
pd pasien dg DM dibandingkan pasien non-DM pada semua rentang
usia
 Pasien DM yg merokok memiliki resiko 20x lebih besar terkena
periodontitis dengan kehilangan tulang pendukung dibanding nonDM
 Diduga perbedaan host response patogen periodontal 
peningkatan kerusakan jaringan pd pasien DM
 Komplikasi oral pd pasien DM yg tdk terkontrol berkaitan dg :



Perubahan respon infeksi
Perubahan mikrovasular
Peningkatan konsentrasi glukosa di saliva dan cairan gingiva
 Therapy :



Penilaian awal resiko progresi oral disease
Instruksi OH
Kunjungan ke drg diperbanyak dan berkala/teratur
2. Disfungsi Glandula Saliva & Xerostomia
 Dapat terjadi karena :
 Polyuria
 Masalah metabolisme atau endokrin
 Mengakibatkan :
 Kekeringan, atrofi, mukosa pecah-pecah
 Mukositis, ulcer, desquamation, inflamasi, depapilasi lidah
 Kesulitan mengnyah, menelan, merasa  penurunan konsumsi nutrisi
 Penurunan saliva / perubahan jumlah saliva  rentan thd karies
 T/ topical treatment : fluride containing mouthrinses dan salivary
substitute
 Perbaikan kontrol glycemic memiliki peran penting dlm
mengurangi terjadinya komplikasi seperti xerostomia dan
candidiasis
3. Candidiasis
 Infeksi jamur opportunistik; biasanya berkaitan dg hyperglycemia
 Lesi oral:
Median rhomboid glositis
Atrofi glositis
Angular cheilitis
denture stomatitis
pseudomembranous candidiasis
 e/



Immunological compromised conditions
Penggunaan dentures dg poor OH
Penggunaan jangka panjang antibiotik spektrum luas
 Pd pasien DM :
 Compromised immune function
 Salivary hyperglycemia
 Salivary disfunction
4. Burning Mouth Syndrome
 Biasanya tidak ada lesi yang terdeksi klinis
 e/ pd DM yg tidak terkontrol :
 Disfungsi saliva
 Candidiasis
 Abnormalitas neuron : depresi
 Autonomic dan sensory-motor neuropathies adalah bagian dari
sindrom diabetes : 50%, 25th stlh onset DM
 Neuropathy oral simptomp  parestesi & tingling, baal, nyeri,
terbakar.
 Neuropathy pd DM berkaitan dengan nyeri & rasa terbakar di
bagian tubuh lain : kaki
 Gejala nyeri terbakar pd mulut atau lidah ditemukan pada DM tipe
2 yang tidak terdiagnosa dan kebanyakan reda setelah medical
diagnosis  treatment kontrol glycemic
5. Lichen Planus
 Diduga karena:


proses mediasi immunologis : reaksi hipersentifitas
Efek samping OHA atau obat anti-hipertensi
 Tampaknya keadaan ini tidak berhubungan antara lichen planus
dan DM, namun dlm sebuah penelitian ditemukan 28% pasien
dg lichen planus menderita DM dibanding non-DM.
menunjukkan diabetes mungkin berkaitan dengan dg
imunopatogenesis LP
6. Acute Oral Infections
 Ex. Recurrent HSV, periodontal abcess, palatal ulcer.
 Pernah ada kasus dilaporkan infeksi leher bgn dalam yg mengancam
nyawa karena periodontal abcess dan fatal palatal ulcer pd pasien dg
DM
 Akhirnya ulcer tidak hanya superficial, tapi tampak deep
granulomatous disease
 Diduga berkaitan dengan adanya mekanisme patogenik berkaitan
dengan peningkatan kerentanan thd infeksi periodontal (ex. Luka yg
lama sembuh, berkurangnya kemotaksis dan fungsi PMN)
 Kunci utama untuk mengurangi dampak infeksi oral akut adalah
glychemic control
General Management
Considerations
Before initialing dental treatment
Medical history
• Awal pertemuan : take a good medical history & asses glycemic control
Menjadwalkan kunjungan
• Disarankan PAGI
• Untuk pasien dg terapi insulin hrs dijadwalkan agar tidak bertepatan dg
puncak aktivitas insulin
Diet
• Memastikan pasien makan dg normal dan memimum obat
Blood glucose monitoring
• Mengukur kadar gula darah
• Pasien dg kadar gula ↓ oral karbohidrate  ≠ hypoglicemic
event
During treatment
HYPOGLICEMIC EPISODE
• Insulin / obat antidiabetes melebihi kebutuhan fisiologis
• Biasanya pd puncak aktivitas insulin
• Sign : perubahan mood, kelaparan, lemah  berkeringat, takikardia 
tidak sadar, hipotensi, hipotermia, kejang, koma, MATI
• WHAT DENTIST DO?
• Mengakhiri treatment
• 15gr fast-acting oral karbohidrat : tablet glukosa, gula, permen, jus
• Mengukur kadar gula darah dan memastikan sdh cukup memakan
karbohidrat
• PASIEN TIDAK SADAR
• Meminta bantuan medis  Memberikan solusi dekstrosa/glukagon
intravena
SEVERE HYPERGLYCHEMIA
• Resiko krisis hyperglycemic <<< krisis hypoglicemic
• Ketoacidosis  nausea, vomiting, nyeri abdomen,
acetoneodor
• Membutuhkan intervensi medis dan administrasi insulin
• Sulit membedakan hypo dan hyper jika hanya dari gejala 
memberikan sumber karbohidrat pd pasien yg diduga hypo 
mengukur kadar gula segera sesudah treatment
After treatment
HARUS DIINGAT !
 Pasien dg DM tdk terkontrol beresiko tinggi terkena infeksi
dan terjadi penundaan penyembuhan luka
 Infeksi akut dapat mempengaruhi resistensi insulin kurang baik
dan kontrol glycemic  mempengaruhi kemampuan tubuh
untuk sembuh  berikan antibiotik (u/ pasien yg jelas terkena
infeksi dan menjalani bedah)
 Salisilat : ↑ sekresi insulin & sensitifitas, dpt mempengaruhi
sulfonylureas  hypoglycemia
 Jgn diberikan aspirin dan obat yg mengandung aspirin
Endocrine Disease
1. Hypothalamus &
anterior pituary
Hypothalmus and Anterior Pituitary
 Penyakit pituitary dapat timbul dengan penyakit yang
terjadi saat lahir
 tidak terlihat jelas oleh klinisi kesehatan mulut.
 Pasien dengan disfungsi hormonal yang disebabkan oleh
penyakit pituitary dapat ditemukan dengan adanya
abnormalitas signifikan pada pemeriksaan kepala dan
leher.
Hypothalmus and Anterior Pituitary
 sering timbul perubahan pada penglihatan dan
kehilangan integritas penglihatan.

Contohnya, pada Graves’ disease,  kelainan pada fungsi
motorik cranial nerve III, IV, dan VI.
Hypothalmus and Anterior Pituitary
 Pada acromegaly
dan Cushing’s
disease, adenoma
pituitary
mengeluarkan
hormone aktif, 
perubahan pada
tampilan wajah dan
struktur orofacial
Principle Of Medicine
Pasien akromegali  penyakit dengan kelebihan sekresi Growth Hormone
(GH) pada ptuitari.
Salah satu jaringan target untuk GH dan untuk IGF-I adalah pertumbuhan
kartilago
Pada dewasa, tempat dimana ada pertumbuhan kartilago lebih sedikit 
mandibula  menunjukkan adanya perubahan secara gradual di struktur
wajah,
• panjang dan lebar mandibula yang meningkat,
• hidung, dan telinga menjadi perubahan yang paling menonjol.
Pasien yang didiagnosis akromegali dapat perawatan ortodontik untuk
memperbaiki struktur wajah.
2. Adrenal disease
condition
Adrenal medulla
• Adrenalin, noraderenalin, dopamine,
progesteron
Korteks
• Hormon steroid
• Mineralkortikoid (aldosteron)
• Glukortikoid (cortisol)
• Androgen
ADDISON DISEASE
Hipoadrenokortisisme primer  defisiensi hormon
glukokortikoid dan mineral kortikoid (o/korteks adrenal)
e/ Penyakit autoimun, tuberkulosis adrenal, amiloidosis,
neoplasia, histoplasmosis
gejala
• Hypoglychemia, hypotension, asthenia, kelemahan otot
• Hiperpigmentasi pd kulit/mukosa, berwarna coklat/hitam, sering terjadi pd
daerah yg mudah terkena trauma  ↑ hormon ACTH dan MSH
Dental Management
• t/ kortikosteroid
• Melakukan treatment dipagi hari
• Kontrol kecemasan dan stress emosional
• Menggunakan anestetik jangka panjang
• Treatment nyeri postoperative
• Prevensi fraktur iatrogenik selama bedah
• Hati-hati penggunaan obat  interaksi
glukokortikoid dg obat
CUSHING DISEASE
 e/ terapi glukokortikoid yang berlebihan, ↑produksi
ACTH
 Manifestasi klinis : obesitas dg akumulasi lemak pd
supraklavikular dan leher, hipertensi, intoleransi glukosa,
menstrusi tdk teratur, neuropsychological disturbance
Oral health consideration
Pasien dengan
Sindrom Cushing,
dapat berdarah
dan luka memar
dengan mudah.
berkaitan dengan
cacat pada dinding
pembuluh darah
kecil
penyempitan
pembuluh selama
penyembuhan
perdarahan
Luka juga
terganggu, luka
parut dan luka
hebat dapat
terjadi daripada
subyek yang
normal.
Oral health consideration *cont
 Kerentanan thdp infeksi
 Pasien yang sedang di terapi glukokortikoid kronis 
immunocompromised  rentan terhadap antibiotik profilaksis
infection.
 Pasien dengan Sindrom Cushing juga lebih cenderung terkena
infeksi dan terdapat jamur Candida karena flora abnormal pada
kulit dan mukosa.
Oral health consideration *cont
Pasien yang menerima dosis rendah terapi
glukokortikoid dapat bertahan pada perawatan
gigi baik selama konsekuensi dari insufisiensi
adrenal dihindari.
Pasien dosis Glukokortikoid tinggi sering
menunjukkan tanda-tanda dan gejala dari
sindrom Cushing  kesulitan penyembuhan
luka dan kesulitan kecil dengan hemostasis dan
imunosupresi yang mungkin menyulitkan
penyediaan layanan kesehatan mulut
3. Thyroid disease
Thyroxine (T4)
triidothyronine (T3) 
mempengaruhi proses
metabolisme &
penggunaan oksigen
Calsitonin (brsm dg
hormon parathiroid & vit.
D)  meregulasi serum
kalsium dan fosfor pd
remodelling tulang
Thyroid stimulating
hormone
(TSH/Thyrotropin) : Pituari
anterior  mengatur
sekresi hormon thiroid
HYPERTHYROIDISM / THYROTOXICOSIS
 ↓produksi hormon tiroid; ↓ fungsi tiroid
 e/





Ectopic thyroid tissue
Toxic thyroid adenoma
Toxic multinodular goiter
Subacute thyroiditis
Grave’s disease
MANIFESTASI KLINIS
• Gastrointestinal : kurus, nausea, vomitting
• Rambut, kulit, kuku : tipis, rambut mudah rontok,
soft nail, kulitnya hangat & lembab, ↑pigmentasi kulit
• Tangan : palmar erythema, tremor, berkeringat
• Neuromuscular : fatigue, atrofi, lemah, nyeri
• Cardiovaskuler : takikardia, palpitasi, hipertensi
sistolik, dyspnea
• Psychological : anxiety, nervousness, imsomnia, sulit
konsentrasi,
• Ocular : ptosis, edema periorbital, retraksi kelopak
mata krn kontaksi otot
ORAL MANIFESTATION
•
•
•
•
•
•
Erupsi gigi lebih cepat pd anak
Osteoporosis maksila / mandibula
Pembesaran tiroid
Peningkatan karies
Penyakit periodontal
Burning mouth syndrome
DENTAL MANAGEMENT
• Sebelum dental treatment dilakukan kta harus mengetahui
riwayat penyakitnya dan disarankan berkonsultasi pd spesialis
• Pada pasien yg terkontrol kita melakukan dental treatment yang
sama seperti pd individu sehat
• Pada kasus yang tidak terkontrol :
• Menghindari penggunaan epineprin sbg lokal anestetik
• Sebisa mungkin menghindari surgical procedure
• Treatment harus dihentikan jika mucul gejala thyrotoxic :
takikardia, berkeringat, hipertensi, tremor, nausea, vomiting,
nyeri abdomen
HYPOTHYROIDISM
Defisiensi hormon
thyroid
dewasamyxedema
Masa kecil 
creatinism
Gejala klinis : retardasi
mental, perkembangan
dan pertumbuhan
tertunda
Gejala klinis : metabolisme
menurun, depresi, overweight,
penurunan kardiak output dan
pernapasan, kulitnya menipis dan
kering
Oral manifestation
• Erupsi gigi terlambat
• Hipoplasia enamel
• Mikrognatia
• Makroglosia
Oral management
• Mengindari infeksi oral
• Menghindari prosedur bedah
• Menghindari penggunaan obat yang menekan saraf pusat :
narkotik dan barbiturates
• Mudah terkena penyakit kardiovaskular  terapi
antikoagulan
Neuromuscular Disease
1. Cerebrovascular
disease
Definisi
Penyakit Cerebrovascular mencakup semua gangguan yang
menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang mensuplai
otak, sehingga menghasilkan kerusakan neurologis.
"Stroke" dan "Cerebrovascular Accident" (CVA) adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan
cedera neurologis akut akibat dari
gangguan parah pada aliran darah ke otak.
• Gejala umum stroke
• lumpuh motorik,
• kehilangan sensori,
• kesulitan melihat
• gangguan berbicara.
Manifestasi klinis stroke
Sebagai baris pertama manajemen pada medis pasien stroke yaitu terapi
antikoagulan, pasien mungkin memiliki kecenderungan untuk perdarahan yang
berlebihan.
Xerostomia adalah efek samping yang umum dari obat yang digunakan dalam
pengelolaan penyakit serebrovaskular dan proses penyakit yang terkait.
Pasien yang terpengaruh sehingga kemudian dapat rentan terhadap tingkat
karies lebih tinggi.
Teliti terhadap kebersihan mulut, lebih sering diingatkan, substitusi air liur, dan
aplikasi fluoride dapat membantu dalam pemeliharaan gigi.
Pasien stroke juga dapat memiliki cacat fisik, yang dapat mempengaruhi
area orofacial dan dapat mengubah penyediaan perawatan gigi.
Pasien dengan kelemahan pada otot daerah orofacial mungkin memiliki
kontrol yang buruk pada sekresi oral, lelucon mengurangi refleks, dan
perubahan dalam kemampuan mereka untuk mengunyah, mengarah ke gizi
buruk.
Pasien dengan apraxia yang berpengaruh terhadap wilayah orofacial
mungkin dapat mengganggu gerakan, seperti menonjol lidah,
expectorating, dan mengerutkan bibir.
Secara umum, perawatan gigi tidak menjadi masalah utama
bagi pasien poststroke kebanyakan.
Anamnesis hati-hati, memeriksa tekanan darah sebelum
perawatan, menghindari janji panjang, dan kepastian umum
merupakan faktor-faktor penting dalam penyediaan
perawatan gigi untuk pasien dengan riwayat stroke.
Download