Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
Kajian teori yang akan di bahas adalah sebagai berikut: (1) IPA (hakikat
IPA, ruang lingkup pembelajaran IPA, tujuan pelajaran IPA, dan pembelajaran
IPA di sekolah dasar), (2) model pembelajaran kooperatif (pengertian
pembelajaran kooperatif, ciri-ciri model pembelajaran kooperatif, langkahlangkah pembelajaran kooperatif, serta kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran kooperatif), (3) model pembelajaran kooperatif tipe group
investigation (pengertian group investigation, karakteristik group investigation,
langkah-langkah group investigation, serta kelebihan dan kelemahan group
investigation), (4) benda nyata, (5) hasil belajar IPA, (6) hubungan pembelajaran
IPA, model kooperatif tipe group investigation berbantuan benda nyata dan hasil
belajar IPA.
2.1.1 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
2.1.1.1 Hakikat IPA
Hendro Darmojo dan Jenny R.E Kaligis (1992: 3), menyatkan bahwa:
IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam berarti “Ilmu” tentang
“Pengetahuan Alam”. Ilmu artinya suatu pengetahuan yang benar.
Pengetahuan yang benar artinya pengetahuan yang dibenarkan
menurut tolok ukur kebenaran ilmu, yaitu rasional dan objektif.
Rasional artinya masuk akal atau logis, diterima oleh akal sehat;
sedangkan objektif artinya sesuai dengan objeknya, sesuai dengan
kenyataannya, atau sesuai dengan pengalaman pengamatan melalui
panca indera. Pengetahuan alam artinya pengetahuan tentang alam
semesta dengan segala isinya. Pengetahuan itu sendiri artinya
segala sesuatu yang diketahui oleh manusia. Jadi secara singkat
IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam
semesta dengan segala isinya.
Dalam KTSP 2006, dijelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
7
8
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik
untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan
lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses
pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara
ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat
membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
tentang alam sekitar.
Menurut Powler dalam Usman Samatowa (2011: 3) juga menyatakan
bahwa:
IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam
dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku
umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen.
Sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu tersusun dalam suatu
sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lainnya saling
berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu
kesatuan yang utuh. Sedangkan berlaku umum artinya pengetahuan
itu tidak hanya berlaku untuk sebagian orang saja tetapi untuk
semua apabila melakukan penelitian yang sama, maka akan
memperoleh hasil yang sama.
Selain itu, Nash 1963 (Hendro Darmojo, 1992: 3) menyatakan bahwa IPA
itu adalah suatu cara atau metode untuk mengamati dunia ini bersifat analisis,
lengkap, cermat, serta menghubungkannya antara suatu fenomena dengan
fenomena yang lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang
baru tentang objek yang diamatinya. Sedangkan menurut Ahmad Susanto (2013:
167), sains atau IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta
melalui pengamatan yang tepat pada sasaran serta menggunakan prosedur dan
dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.
Berdasarkan pemaparan para ahli mengenai hakikat IPA, dapat disimpulkan
bahwa IPA merupakan pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam
semesta yang tersusun secara sistematis, teratur, dan berlaku umum. Pembelajaran
IPA di sekolah hendaknya memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk
9
menemukan sendiri sebagai proses lebih lanjut untuk mengembangkan dalam
kehidupan sehari-hari.
2.1.1.2 Ruang Lingkup Pembelajaran IPA
Berdasarkan KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) ruang
lingkup mata pelajaran IPA meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1) Tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta
kesehatan,
2) Benda / materi sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair,
padat dan gas,
3) Energi dan perubahannya meliputi gaya bunyi panas magnet
listrik cahaya dan pesawat sederhana,
4) Bumi dan alam semesta meliputi tanah bumi tata surya dan
benda-benda langit lainnya.
Mata pelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar terdiri dari beberapa pokok
bahasan yang dikelompokkan ke dalam beberapa Standar Kompetensi, yaitu:
Tabel 2.1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 5 Sekolah Dasar
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Makhluk Hidup dan Proses
Kehidupan
2. Memahami cara tumbuhan
hijau membuat makanan
3. Mengidentifikasi cara
makhluk hidup menyesuaikan
diri dengan lingkungan
Benda dan Sifatnya
4. Memahami hubungan antara
sifat bahan dengan
penyusunnya dan perubahan
sifat benda sebagai hasil
suatu proses
2.1 Mengidentifikasi cara tumbuhan
hijau membuat makanan.
2.2 Mendeskripsikan ketergantungan
manusia dan hewan pada tumbuhan
hijau sebagai sumber makanan
3.1 Mengidentifikasi penyesuaian diri
hewan dengan lingkungan tertentu
untuk mempertahankan hidup
3.2 Mengidentifikasi penyesuaian diri
tumbuhan dengan lingkungan
tertentu untuk mempertahankan
hidup
4.1 Mendeskripsikan hubungan antara
sifat bahan dengan bahan
penyusunnya, misalnya benang,
kain, dan kertas.
4.2 Menyimpulkan hasil penyelidikan
10
tentang perubahan sifat benda, baik
sementara maupun tetap
Energi dan Perubahannya
5. Memahami hubungan antara 5.1 Mendeskripsikan hubungan antara
gaya, gerak, dan energi, serta
gaya, gerak dan energi melalui
fungsinya
percobaan (gaya gravitasi, gaya
gesek, gaya magnet)
5.2 Menjelaskan pesawat sederhana
yang dapat membuat pekerjaan lebih
mudah dan lebih cepat;
Cahaya dan Sifat-sifatnya
6. Menerapkan
sifat-sifat 6.1 Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya
cahaya
melalui
kegiatan 6.2 Membuat suatu karya/model,
membuat suatu karya/model
misalnya periskop atau lensa dari
bahan sederhana dengan menerapkan
sifat-sifat cahaya
Bumi dan Alam Semesta
7. Memahami perubahan yang 7.1 Mendeskripsikan proses
terjadi di
alam
dan
pembentukan tanah karena
hubungannya
dengan
pelapukan
penggunaan sumber daya 7.2 Mengidentifikasi jenis-jenis tanah
alam
7.3 Mendeskripsikan struktur bumi
7.4 Mendeskripsikan proses daur air dan
kegiatan manusia yang dapat
mempengaruhinya
7.5 Mendeskripsikan perlunya
penghematan air.
7.6 Mengidentifikasi peristiwa alam
yang terjadi di Indonesia dan
dampaknya bagi makhluk hidup dan
lingkungan
7.7 Mengidentifikasi beberapa kegiatan
manusia yang dapat mengubah
permukaan bumi (pertanian,
perkotaan, dsb)
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dipergunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 2.2
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi
6. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui
kegiatan membuat suatu karya/model.
Kompetensi Dasar
6.1 Mendeskripsikan sifat-sifat
cahaya.
11
Materi esensial:
Cahaya adalah gelombang elektro magnetik yang dapat ditangkap oleh mata.
Sifat-sifat cahaya diantaranya adalah: (1) cahaya merambat lurus, (2) cahaya dapat
menembus benda bening, (3) cahaya dapat dipantulkan, (4) cahaya dapat
dibiaskan. Berbagai macam alat optik diantaranya adalah: (1) mata, (2)
mikroskop, (3) lup, (4) teleskop, (5) kamera.
2.1.1.3 Tujuan Pelajaran IPA
Tujuan mata pelajaran IPA di SD dalam kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) 2006 yaitu:
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang
Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan
keteraturan alam ciptaanNya,
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsepkonsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari,
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran
tentang adanya hubungan yang saling mempengarui antara
IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat,
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan,
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam,
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturan sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan
7) Memperoleh bakal pengetahuan, konsep, dan keterampilan
IPA sebagai dasar untuk melanjudkan pendidikan ke
SMP/MTs.
2.1.1.4 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Menurut Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi,
pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific
inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah
serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh
karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman
belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan
proses dan sikap ilmiah.
12
Menurut Piaget dalam Heruman (2007: 1), anak SD berada pada fase
operasional konkret dimana dalam proses pembelajaran, anak berpikir dengan
memperhatikan benda konkret atau nyata terutama benda yang ada di sekitar
lingkungan mereka. Kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran hendaknya
disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Pembelajaran IPA di sekolah dasar harus disesuaikan dengan karakteristik
siswa. Siswa akan lebih mudah menerima pelajaran yang berkaitan dengan
kehidupan mereka sehari-hari. Dalam pembelajaran IPA, siswa diarahkan untuk
lebih aktif dan melakukan pengamatan langsung saat proses pembelajaran
berlangsung agar siswa bisa mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan benda-benda nyata yang ada di lingkungan siswa juga dapat
membantu siswa
membangun pengetahuannya sendiri dan memberikan
pengalaman yang nyata dalam kehidupan siswa.
2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif
2.1.2.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Isjoni (2009: 22), pembelajaran kooperatif adalah suatu model
pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa
lebih bergairah dalam belajar. Kolaboratif artinya setiap kelompok terdiri atas
campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku.
Menurut Hamdani (2011: 30), model pembelajaran kooperatif adalah
rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang dirumuskan. Dalam menyelesaiakan tugas kelompoknya,
setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu
untuk memahami materi pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum mengusai
bahan pelajaran.
Menurut Tukiran Taniredja (2011: 55) pembelajaran kooperatif merupakan
sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja
sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran
13
kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Namun belajar
kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam
belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif
sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka di antara anggota
kelompok.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian pembelajaran
kooperatif,
dapat
disimpulkan
bahwa
pembelajaran
kooperatif
adalah
pembelajaran yang menggunakan grup kecil yang heterogen dimana siswa bekerja
sama satu sama lain, berdiskusi dan saling berbagi ilmu pengetahuan, saling
membantu memahami materi pembelajaran dan saling berkomunikasi.
2.1.2.2 Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif.
Hamdani (2011: 31) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif
antara lain:
(1) setiap anggota memiliki peran,
(2) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa,
(3) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara
belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya,
(4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan
interpersonal kelompok,
(5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Sementara Bennet (1995) dalam Isjoni (2009: 60) menyatakan ada lima
unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja
kelompok yaitu:
(1) positive interdependence (hubungan timbal balik),
(2) interaction face to face (interaksi langsung antar siswa tanpa
perantara),
(3) adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran
dalam anggota kelompok,
(4) membutuhkan keluwesan,
(5) meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan
masalah.
Roger dan David Johnson (Anita Lie, 2004: 31), mengatakan bahwa tidak
semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai
14
hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus
diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
saling ketergantungan positif,
tanggung jawab perseorangan,
tatap muka,
komunikasi antar anggota,
evaluasi proses kelompok
2.1.2.3 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Agus Suprijono (2009: 85), sintak model pembelajaran
kooperatif terdiri dari 6 (enam) fase yaitu :
Tabel 2.3
Fase Model Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase
Perilaku Guru
Fase 1: Present goals and set
Menjelaskan tujuan pembelajaran
Menyampaikan
tujuan
dan dan mempersiapkan peserta didik
mempersiapkan peserta didik.
siap belajar.
Fase 2: Present information
Mempresentasikan
informasi
Menyajikan informasi
kepada peserta didik secara verbal.
Fase 3: Organize students into Memberikan penjelasan kepada
learning teams.
peserta
didik
tentang
cara
Mengorganisir peserta didik ke pembentukan tim belajar dan
dalam tim-tim belajar.
membantu kelompok melakukan
transisi yang efisien.
Fase 4: Assist team work and study Membantu tim-tim belajar selama
Membantu kerja tim dan belajar
peserta didik mengerjakan tugasnya
Fase 5: Test on the materials
Menguji pengetahuan peserta didik
Mengevaluasi
mengenai
berbagai
materi
pembelajaran
atau
kelompokkelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6: Provide recognition
Mempersiapkan
cara
untuk
Memberikan
pengakuan
atau mengakui usaha dan prestasi
penghargaan
individu maupun kelompok.
2.1.2.4 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif
Jarolimek dan Parker (1993) dalam Isjoni (2009: 44), keunggulan yang
diperoleh dalam pembelajaran kooperatif adalah:
15
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
saling ketergantungan yang positif,
adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu,
siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas,
suasana kelas yang rileks dan menyenangkan,
terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa
dengan guru,
(6) memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan
pengalaman emosi yang menyenangkan.
Penggunaan pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran di
sekolah, memiliki berbagai kelebihan atau manfaat. Kelebihan berorientasi pada
optimalnya kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara efektif melalui dukungan guru dan siswa dalam pembelajaran.
Selain kelebihannya, pendekatan pembelajaran kooperatif juga memiliki
kelemahan. Kelemahan model pembelajaran kooperatif bersumber pada dua
faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari
dalam, yaitu: (1) guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di
samping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu, (2) agar
proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas,
alat dan biaya yang cukup memadai, (3) selama kegiatan diskusi kelompok
berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas
sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan (4)
saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa
yang lain menjadi pasif.
Kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran
kooperatif sebagai strategi mengajar guru, dapat menjadi pertimbangan bagi guru
dalam penggunaannya. Namun, faktor profesionalisme guru menggunakan model
tersebut sangat menentukan dan kesadaran murid mengikuti pembelajaran melalui
strategi kelompok. Sasaran pembelajaran adalah meningkatkan kemampuan
belajar siswa sehingga penggunaan model ini akan memungkinkan siswa lebih
aktif, kreatif, dan mandiri dalam belajar sesuai tuntutan materi pelajaran atau
kurikulum.
16
2.1.3 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
2.1.3.1 Pengertian Group Investigation
Menurut Miftahul Huda (2013: 292), group investigation yang pertama
kali dikembangkan oleh Sharan dan Sharan (1976) ini merupakan salah satu
model dalam pembelajaran kelompok yang mengharuskan siswa untuk
menggunakan skill berpikir level tinggi. Pada prinsipnya, group investigation
sudah banyak diadopsi oleh berbagai bidang pengetahuan, baik humaniora
maupun saintifik. Akan tetapi, dalam konteks pembelajaran kooperatif, group
investigation tetap menekankan pada heterogenitas dan kerja sama antar siswa.
Menurut Hamdani (2011: 90) group investigation melibatkan siswa sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya
melalui investigasi. Model ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan
yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok.
Para guru yang menggunakan investigasi kelompok pada pembelajaran, umumnya
membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan dua
hingga enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok
dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap
topik tertentu. Siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi
mendalam terhadap berbagai sub topik yang telah dipilih kemudian menyiapkan
dan menyajikan laporan di depan kelas secara keseluruhan.
Sejalan dengan pemikiran Miftahul Huda dan Hamdani, Isjoni (2009: 87)
menemukakan bahwa group investigation merupakan model pembelajaran
kooperatif yang paling kompleks karena memadukan antara prinsip belajar
kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip
pembelajaran demokrasi. Group investigation dapat melatih siswa untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat
terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Hal ini akan
memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan
mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat
memperbaiki kesalahan siswa.
17
Group investigation sesuai untuk proyek-proyek studi yang terintegrasi
yang
berhubungan dengan hal-hal semacam penguasaan,
analisis, dan
mensintesiskan informasi sebagai upaya menyelesaikan masalah yang bersifat
multi-aspek. Menurut Slavin dalam Rusman (2011: 221), group investigation
sangatlah ideal bila diterapkan pada mata pelajaran IPA. Sebagai bagian dari
investigasi, para siswa mencari informasi dari berbagai sumber baik di dalam
maupun di luar kelas. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensintesiskan
informasi yang disumbangkan oleh setiap anggota kelompok supaya dapat
menghasilkan buah karya kelompok.
2.1.3.2 Karakteristik Group Investigation
Menurut Sharan dan Sharan dalam Tukiran Taniredja (2011: 75)
karakteristik unik dari group investigation ada pada empat fitur dasar yaitu:
1) Investigasi
Investigasi dimulai saat guru memberikan masalah yang rumit
kepada kelas. Proses investigasi menekankan inisiatif siswa,
dibuktikan dengan pertanyaan yang mereka ajukan, dengan
sumber-sumber yang mereka temukan, dan jawaban yang
mereka rumuskan. Mereka bekerja dalam kelompok merubah
informasi dan gagasan ke dalam pengetahuan baru melalui
proses penafsiran.
2) Interaksi
Interaksi di antara siswa penting bagi investigasi kelompok.
Melalui interaksi dengan anggota kelompok, siswa saling
memberikan dorongan, saling mengembangkan gagasan satu
sama lain dan saling membantu memfokuskan perhatian mereka
terhadap tugas.
3) Penafsiran
Saat melakukan penelitian, siswa dalam kelompok
mengumpulkan banyak informasi dari berbagai sumber yang
berbeda. Bersama-sama mereka membuat penafsiran atas hasil
penelitian mereka.
4) Motivasi Intrinsik
Dengan mengarahkan siswa untuk menghubungkan masalah
yang akan mereka selidiki berdasarkan keingintahuan,
pengetahuan dan perasaan mereka, investigasi kelompok
meningkatkan minat pribadi mereka untuk mencari informasi
yang mereka perlukan. Penyelidikan mereka mendatangkan
motivasi kuat lain yang muncul dari interaksi mereka dengan
orang lain.
18
2.1.3.3 Langkah-langkah Group Investigation.
Menurut Miftahul Huda (2013: 292) ada 6 tahap dalam sintak group
investigation yaitu :
(1) Tahap 1: Seleksi Topik
Para siswa memilih berbagai subtopik. Mereka selanjutnya
diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok yang
berorientasi pada tugas yang beranggota 2 hingga 6 orang.
(2) Tahap 2: Perencanaan
Siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar
khusus, tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan
berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih pada langkah
sebelumnya.
(3) Tahap 3: Implementasi
Siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada
langkah sebelumnya. Guru harus mendorong para siswa untuk
melakukan penelitian dengan memanfaatkan berbagai sumber,
baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah.
(4) Tahap 4: Analisis dan Sintesis
Siswa menganalisis dan membuat sintesis atas berbagai
informasi yang didapat lalu meringkasnya menjadi penyajian
yang menarik di depan kelas.
(5) Tahap 5: Penyajian Hasil Akhir
Semua kelompok menyajikan presentasinya atas topik-topik
yang telah dipelajari. Presentasi kelompok dikoordinir oleh
guru.
(6) Tahap 6: Evaluasi
Para siswa dan guru melakukan evaluasi terhadap pekerjaan
kelas. Evaluasi dapat dilakukan secara individu maupun
kelompok, atau keduanya.
Tahap-tahap pembelajaran yang menggunakan group investigation menurut
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005: 29-30) untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 2.4
19
Tabel 2.4
Tahapan Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation
Tahapan
Kegiatan dalam Pembelajaran
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan memberi kontribusi apa yang akan mereka
membagi siswa ke dalam
selidiki.
Kelompok dibentuk berdasarkan
kelompok
heterogenitas.
Kelompok akan membagi sub topik kepada
Tahap II
Merencanakan tugas
seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan
dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses
dan sumber apa yang akan dipakai.
Siswa
mengumpulkan,
menganalisis
dan
Tahap III
Membuat penyelidikan
mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan
dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam
pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah
kelompok.
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang
Tahap IV
Mempersiapkan tugas
akan dipresentasikan di depan kelas.
akhir
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya.
Tahap V
Mempresentasikan tugas
Kelompok lain tetap mengikuti.
akhir
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah
Tahap VI
Evaluasi
diselidiki dan dipresentasikan
2.1.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Group Investigation.
Selain langkah-langkah yang dikemukakan oleh para ahli, group
investigation juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Menurut Miftahul Huda
(2011: 17) kelebihan metode group investigation adalah performa siswa lebih
aktif dibandingkan dengan mereka yang bekerja dalam suasana tradisional ruang
kelas yang mengikutsertakan seluruh anggotanya. Hal itu disebabkan para siswa
yang bekerja pada kelompok-kelompok kecil memiliki rasa tanggung jawab yang
lebih besar untuk membantu siswa-siswa lain dalam satu kelompok daripada
mereka yang bekerja dalam kelompok-kelompok besar.
Kekurangan dari pembelajaran group investigation yaitu memerlukan
waktu yang cukup lama dan memerlukan koordinasi yang baik dari guru
dikarenakan siswa mencari informasi-informasi yang mereka butuhkan tidak
hanya dari buku namun juga melalui internet maupun sumber-sumber lain diluar
20
kelas. Selain itu, siswa yang tidak cocok dengan anggota kelompoknya akan
kurang bisa memahami materi yang dipelajari.
2.1.4 Benda Nyata
Nana Sujana (1997: 207), mengemukakan bahwa penggunaan benda nyata
(real
life
materials)
di
dalam
proses
pembelajaran
bertujuan
untuk
memperkenalkan suatu unit pelajaran tertentu, proses kerja suatu objek studi
tertentu, atau bagian-bagian serta aspek-aspek lain yang dibutuhkan. Benda-benda
nyata dapat memegang peranan penting dalam upaya menunjang proses belajar
mengajar. Nana Sujana juga menambahkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam
memilih media pembelajaran yaitu: (1) benda-benda atau makhluk hidup apakah
yang mungkin dimanfaatkan di kelas secara efisien, (2) bagaimana caranya agar
semua benda itu berkesesuaian terhadap pola belajar siswa, (3) dari mana
sumbernya untuk memperoleh benda-benda tersebut.
Benda nyata atau benda sebenarnya pada dasarnya adalah benda yang
digunakan supaya kegiatan belajar berlangsung dalam lingkungan yang sangat
mirip dengan kondisi yang sebenarnya, sehingga proses pembelajarannya dapat
lebih efektif. Penyajian materi pelajaran khususnya bagi siswa sekolah dasar akan
lebih mudah dipahami apabila materi yang disajikannya bersifat konkrit. Hal ini
mengingatkan kita bahwa tidak semua siswa sekolah dasar sanggup belajar
dengan cara verbal yang abstrak dikarenakan perkembangan kognitif mereka
masih pada taraf operasional konkret.
Dapat disimpulkan bahwa manfaat benda nyata dalam pembelajaran
adalah benda nyata dapat memberikan informasi yang konkret karena siswa bisa
mengamati objek yang sedang dipelajari secara langsung, bukan hanya melalui
teori saja. Siswa sekolah dasar berada pada fase operasional konkret di mana
mereka belajar melalui hal-hal yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2.1.5 Hasil Belajar IPA
Menurut Agus Suprijono (2009: 5), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.
21
Menurut Sudjana (1997: 49), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajar.
Menurut Rusman (2012: 122) hasil belajar adalah sejumlah pengalaman
yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Belajar bukan hanya penguasaan konsep teori mata pelajaran saja tetapi juga
penguasaan kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian sosial,
keterampilan, cita-cita, keinginan dan harapan. Menurut Bloom (Agus Suprijono,
2009: 6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sedangkan menurut Lindgren, hasil belajar meliputi kecakapan informasi,
pengertian dan sikap.
Selain itu, Ahmad Susanto (2013: 5) mengemukakan bahwa hasil belajar
yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa baik yang menyangkut
aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Nawawi
dalam Ahmad Susanto (2013: 5) juga mengemukakan bahwa hasil belajar dapat
diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran
di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai
sejumlah mata pelajaran tertentu.
Hasil belajar yang diperoleh siswa, dipengaruhi oleh banyak faktor.
Menurut Nana Sudjana (2013: 39) hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi
oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang
dari luar siswa atau faktor lingkungan. Faktor dari diri siswa adalah kemampuan
yang dimiliki siswa itu sendiri. Faktor kemampuan sangat besar pengaruhnya
terhadap hasil belajar yang dicapai.
Menurut Carroll dalam Nana Sudjana (2013: 40) hasil belajar yang dicapai
siswa dipengaruhi oleh lima faktor yaitu:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
bakat,
waktu yang tersedia untuk belajar,
waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran,
kualitas pengajaran,
kemampuan individu.
22
Faktor bakat, waktu untuk belajar, dan kemampuan individu merupakan
faktor dari dalam individu sedangkan faktor kualitas pengajaran adalah faktor dari
luar.
Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Wasliman (2007) dalam
Ahmad Susanto (2013: 12) bahwa hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor
internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kecerdasan, minat, perhatian,
motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan
kesehatan. Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan
yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Selain itu, dengan dilakukan
evaluasi atau penilaian ini dapat dijadikan tindak lanjut atau cara untuk mengukur
tingkat penguasaan siswa. Alat evaluasi yang digunakan hendaknya disesuaikan
dengan apa yang hendak diukur. Hasil belajar yang berupa aspek kognitif, aspek
afektif, dan aspek psikomotorik menggunakan alat penilaian yang berbeda-beda.
Untuk aspek kognitif digunakan alat penilaian yang berupa tes, sedangkan untuk
aspek afektif digunakan alat penilaian yaitu skala sikap (ceklist) untuk mengetahui
sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan aspek psikomotorik digunakan
lembar observasi.
Berdasarkan uraian tentang hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan hasil akhir dari seluruh kegiatan siswa belajar di kelas dalam
rangka mencapai suatu kompetensi yang dapat diukur dengan evaluasi akhir
berupa tes, skala sikap, atau lembar observasi. Hasil belajar mata pelajaran IPA
adalah akumulasi kegiatan belajar mengajar dalam bentuk pemberian ujian oleh
guru sehingga akan diketahui hasil belajar dan mengajar yang dilakukan siswa dan
guru pada mata pembelajaran IPA.
23
2.1.6 Hubungan Pembelajaran IPA, Model Kooperatif Tipe Group
Investigation Berbantuan Benda Nyata dan Hasil Belajar IPA
Menurut Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific
inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah
serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh
karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman
belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan
proses dan sikap ilmiah.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah
siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuaannya berbeda.
Dalam menyelesaiakan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus
saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pembelajaran.
Menurut Hamdani (2011: 90) group investigation melibatkan siswa sejak
perencanaan, baik menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Model ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik
dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Group
investigation
sesuai untuk proyek-proyek studi yang terintegrasi yang
berhubungan dengan hal-hal semacam penguasaan, analisis, dan mensintesiskan
informasi sebagai upaya menyelesaikan masalah yang bersifat multi-aspek.
Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari informasi dari berbagai
sumber baik di dalam maupun di luar kelas. Para siswa selanjutnya mengevaluasi
dan mensintesiskan informasi yang disumbangkan oleh setiap anggota kelompok
supaya dapat menghasilkan buah karya kelompok.
Benda nyata atau benda sebenarnya pada dasarnya adalah benda yang
digunakan supaya kegiatan belajar berlangsung dalam lingkungan yang sangat
mirip dengan kondisi yang sebenarnya, sehingga proses pembelajarannya dapat
lebih efektif. Penyajian materi pelajaran khususnya bagi siswa sekolah dasar akan
lebih mudah dipahami apabila materi yang disajikannya bersifat konkret. Hal ini
mengingatkan kita bahwa tidak semua siswa sanggup belajar dengan cara verbal
24
yang abstrak dikarenakan perkembangan kognitif mereka masih pada taraf
operasional konkret.
Dari uraian tentang pembelajaran IPA, model pembelajaran kooperatif tipe
group investigation berbantuan benda nyata dan hasil belajar, penulis
menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara pembelajaran IPA, model
pembelajaran kooperatif tipe group investigation berbantuan benda nyata dan
hasil belajar IPA karena karakteristik IPA yang cenderung dilaksanakan dengan
inkuiri ilmiah dapat dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe
group investigation. Model pembelajaran tersebut juga merupakan model dengan
prinsip investigasi atau penemuan. Dengan bantuan benda nyata sebagai sumber
informasi langsung maka dapat
meminimalisir kekurangan dari model
pembelajaran kooperatif tipe group investigation yang memerlukan waktu cukup
lama untuk mencari informasi di luar kelas. Dengan pembelajaran yang menuntut
keaktifan siswa maka akan membantu dalam pemahaman materi dan secara tidak
langsung juga akan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA.
2.2 Kajian Penelitian yang Relevan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sugiyanto tahun 2012 dalam
skripsinya yang berjudul ”Peningkatan Hasil Belajar Matematika Menggunakan
Model Pembelajaran Group Investigation pada Siswa Kelas V SD Negeri 3
Rejosari Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan Semester II Tahun Pelajaran
2011/2012” menyatakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dengan
menggunakan model group investigation. Hasil belajar pada siklus I diperoleh
dari tes yang dilaksanakan pada akhir pertemuan siklus I dengan ketuntasan
klasikal 71% atau 28 siswa yang tuntas, meningkat pada siklus 2 yaitu ketuntasan
klasikal belajar siswa mencapai 92% atau 35 siswa tuntas dari 38 siswa.
Berdasarkan penelitian Yulia Devi Anggurina tahun 2012 dalam
skripsinya yang berjudul ” Peningkatan Keaktifan Siswa dan Hasil Belajar
Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Mata Pelajaran
Kewirausahaan Kelas XI.6 di SMK Kristen Salatiga” menyatakan bahwa
penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat
25
meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran
kewirausahaan pokok bahasan Menganalisis Peluang Usaha kelas XI.6 Program
Keahlian Multi Media Semester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012 SMK Kristen
Salatiga. Sebelum tindakan rata-rata hasil belajar yang disapai siswa sebesar 63,08
dan ketuntasan belajar sebesar 36,00 % . Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I
sebesar 87,88 dan ketuntasan belajar sebesar 96,00 %. Rata-rata hasil belajar
siswa pada siklus II sebesar 94,92 dan ketuntasan belajar sebesar 100 %.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Untari tahun 2012 dalam
skripsinya yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Pokok Bahasan Energi Melalui Model Pembelajaran Kooperaatif Tipe Group
Investigation pada Siswa Kelas IV SD Negeri Madyogondo 03 Kecamatan
Ngablak Kabupaten Magelang Semester
II Tahun Ajaran 2011/2012”
menyatakan bahwa diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe group
investigation dapat meningkatkan hasil belajar IPA pokok bahasan energy pada
siswa kelas IV SD Negeri Madyogondo 03 Kecamatan Ngablak Kabupaten
Magelang Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. Terjadi peningkatan yang cukup
signifikan yaitu pada siklus 1 terdapat 26 siswa (72,22 %) memenuhi KKM dan
10 siswa (27,78%) belum memenuhi KKM yang ditetapkan. Kemudian pada
siklus II terjadi peningkatan sangat signifikan yaitu 34 siswa (94,44%) yang sudah
memenuhi KKM dan hanya ada 2 siswa (5,56%) yang belum memenuhi KKM.
Ini berarti bahwa penelitian telah berhasil, dibuktikan dengan indikator
pencapaian yang diharapkan oleh peneliti yaitu sebanyak 80% siswa telah
mencapai nilai ≥ 60.
Dari ketiga penelitian yang telah dipaparkan, semua menunjukkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Namun ketiganya belum mencari solusi dari kelemahan group
investigation yaitu diperlukan waktu yang lama karena siswa mencari sumber
belajar di dalam kelas dan diluar kelas. Lebih baik jika ketiga penelitian yang
telah dipaparkan menggunakan bahan atau media yang dapat langsung dijadikan
sumber informasi sebagai tambahan untuk mengatasi kelemahan dari group
investigation.
26
2.3 Kerangka Berpikir
Keberhasilan mengajar oleh seorang guru dipengaruhi oleh banyak faktor
diantaranya penggunaan model dan media pembelajaran dalam kegiatan belajar
mengajar. Model pembelajaran yang digunakan guru sebaiknya melibatkan siswa
secara aktif agar tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Pada kondisi awal, cara mengajar guru masih bersifat konfensional dan
siswa tidak terlibat secara aktif. Hal ini membuat hasil belajar siswa rendah.
Selain itu, siswa juga merasa bosan dan kurang memahami materi yang
disampaikan oleh guru. Maka dari itu, penulis akan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe group investigation berbantuan benda nyata untuk
mengatasi permasalahan tersebut.
Langkah-langkah group investigation berbantuan benda nyata adalah (1)
seleksi topik, para siswa memilih berbagai subtopik dan membentuk kelompok 46 orang, (2) perencanaan, siswa dan guru merencanakan rencana pembelajaran,
(3) implementasi, siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada
langkah sebelumnya kemudian guru membagikan benda nyata untuk membantu
siswa mencari jawaban dari topik yang mereka bahas, (4) analisis dan sintesis,
siswa menyusun hasil investigasi kelompok untuk dipresentasikan di depan kelas,
(5) penyajian hasil akhir, perwakilan masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil diskusinya dan kelompok lain boleh menanggapi, (6) evaluasi, guru
memberikan evaluasi terhadap hasil presentasi masing-masing kelompok dan
mengadakan evaluasi akhir pembelajaran. Setelah diterapkan model pembelajaran
kooperatif tipe group investigation berbantuan benda nyata diharapkan hasil
belajar siswa bisa meningkat dan siswa lebih bersemangat dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan latar
belakang
masalah dan kajian
digambarkan bagan kerangka berpikir sebagai berikut.
pustaka,
dapat
27
Guru tidak melibatkan siswa agar aktif
dalam pembelajaran
Hasil belajar siswa mata pelajaran IPA
rendah, di bawah KKM < 70
Kondisi Awal
Siswa merasa bosan dan kurang memahami
materi yang disampaikan oleh guru
Tindakan
Diterapkan model pembelajaran kooperatif
tipe group investigation berbantuan benda
nyata yang dilaksanakan pada siklus I dan II.
Langkah-langkah model pembelajaran
kooperatif tipe group investigation
berbantuan benda nyata:
1. Seleksi Topik.
2. Perencanaan.
3. Implementasi.
4. Analisis dan sintesis.
5. Penyajian hasil akhir.
6. Evaluasi.
Kegiatan pembelajaran lebih menarik dan
menyenangkan
Siswa lebih aktif dan bisa menyerap
pembelajaran dengan baik
Kondisi Akhir
Hasil belajar 85% siswa tinggi di atas KKM
≥70
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir, maka dapat dirumuskan
hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation
berbantuan benda nyata, diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa
kelas V SDN 2 Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung
Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.
Download