BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Studi Kelayakan Studi kelayakan

advertisement
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1
Studi Kelayakan
Studi kelayakan yang juga sering disebut juga dengan studi kelayakan
proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya suatu
proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil. Dalam hal ini studi kelayakan
sering disebut juga dengan Feasibility study merupakan bahan pertimbangan
dalam mengambil suatu keputusan. Apakah akan menerima atau menolak suatu
gagasan usaha yang telah direncanakan ( Ibrahim, 1998:1). Pengertian layak
tersebut dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari gagasan proyek yang akan
dilaksanakan memberikan manfaat baik dalam arti finasial benefit maupun social
benefit.
Sedangkan menurut Jumingan (2011:3) Studi kelayakan bisnis sering
disebut juga kelayakan proyek adalan penelitian tentang dapat tidaknya suatu
proyek dilaksanakan berhasil. Istilahnya proyek mempunyai arti suatu pendirian
usaha baru atau pengenalan suatu (barang atau jasa) yang baru kedalam suatu
produk mix yang sudah ada selama ini. Pengertian keberhasilan bagi pihak
berorentasi profit semata, biasanya mengartikan keberhasilan suatu proyek dalam
artian yang lebih terbatas dibandingkan dengan pihak non profit yaitu diukur
diukur dengan keberhasilan proyek tersebut dalam menghasilkan profit.
Sedangkan bagi pihak non profit (pemerintah dan lembaga non profit
lainnya) pengertian berhasil berupa seberapa besar penyerapan tenaga kerjanya,
pemanfaatan sumber daya yang melimpah ditempat tersebut, dan faktor-faktor
lain dipertimbangkan terutama manfaatnya bagi masyarakat luas.
2.1.1 Tahapan Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Jumingan ( 2009 11-14) Tahapan- tahapan studi kelayakan bisnis
adalah:
1. Menemukan Ide/Gagasan Usaha
Pada tahap ini menemukan ide/gagasan
usaha yang layak diwjudkan
biasanya timbul melalui serangkaian kegiatan berikut:
a.
Melalui Bacaan
Bacaan yang berkaitan langsung dengan bidang usaha yang diminati.
Dengan cara ini diketahui sudah seberapa jauh perkembangan bidang
usaha tersebut saat ini, apa saja yang sudah dilakukan, teknologi yang
sudah digunakan sampai saat ini apakah ada catatan data statistik yang
menggambarkan realisasi dari kegiatan yang telah dilakukan pelaku
bidang bissnis ini. Setelah itu akan muncul pertanyaan untuk melihat
apakah masih ada peluang, jika ada kira-kira bagaimana caranya untuk
merealisasikan peluang tersebut. Jika ide/gagasan itu sudah terbentuk
biasanya akan terus-menerus mendorong pelaku untuk menggali
sebanyak mungkin informasi yang berhubungan dengan ide/gagasan.
b.
Melalui Survei
Pelaku sengaja merancang suatu survei secara umum dalam salah satu
bidang usaha. Fokus kegiatan mungkin belum tergambar secara nyata,
tetapi pelaku berkeyakinan bahwa hasil temuannya merupakan suatu
produk/jasa yang memang belum pernah ada sebelumnya dan
temuannya merupakan suatu hasil temuan secara tidak langsung atau
kebetulan, dan ternyata banyak hasil temuan dari teknologi yang ada
sekarang adalah hasil dari ide/gagasan yang muncul melalui survei.
c.
Melalui Pengalaman Kerja
Ide/gagasan muncul setelah pelaku mengalami sendiri kegiatan apa
saja yang harus dilakukan jika suatu usaha akan menghasilkan produk
atau jasa. Dalam konteks ini pelaku terbiasa dengan kegiatan kerja
secara menyeluruh
sehingga
sekecil
apapun
pekerjaan
yang
berhubungan dengan proses penciptaan produk dan jasa sudah
dikuasai dengan baik. Istilah populer proses transfer teknologi kepada
pelaku sudah berjalan dengan sempurna sehingga dapat menganalisis
apakah masih ada peluang dan apakah mudah dan mungkin baginya
untuk memulai usaha sendiri seperti yang sedang dilakukan sekarang.
2.
Mempertimbangkan Alternatif Usaha
Ide/gagasan yang telah ditemukan dan menurut pertimbangan layak untuk
diwujudkan maka tahap berikutnya adalah melakukan studi ke mungkinan
pemilihan bentuk usaha yang tepat untuk ide/gagasan tersebut. Pilihan itu
antara lain usaha menghasilkan barang (usaha industri), usaha peningkatan dari
usaha yang memang sudah ada sebelumnya atau usaha perdagangan.
Pertimbangannya haruslah dilakukan secara objektif setelah pengumpulan data.
Artinya, keputusan yang akan dibuat memang sudah diperhitungkan dengan
dukungan data yang cukup dan benar. Cara membandingkan dari masingmasing alternatif ditinjau dari segi modal, tenaga kerja, pengalaman,
kemudahan, teknologi, bahan baku, kemungkinan produk/jasa, dan teknik
pembuatan produk/jasa, mudah untuk dipasarkan, dan tidak bertentangan
dengan peraturan dan kebijakan pemerintah.
3. Tahap Analisis Data
Pelaku pada tahap ini melakukan analisis dari keputusan yang dibuat pada
tahap kedua secara lebih detail dan cermat. Secara berurutan analisisnya
meliputi hal-hal berikut:
a. Analisis pasar dalam usaha menentukan besarnya penerimaan dan
biayanya yang dibutuhkan untuk memasarkan produk atau jasa yang
sudah direncanakan sebelumnya.
b. Analisis teknis dan manajemen ditunjukan untuk menentukan mesin
dan peralatan, bahan baku, SDM, prosedur produksi, dan sebagainya
yang semua harus lengkap kedalam kebutuhan dan yang diperlukan
untuk dapat memproduksi barang dan jasa sesuai rencana.
c. Analisis lingkungan tujuan yang ingin dicapai dari analisis ini adalah
untuk memastikan dampak yang terjadi jika produksi atau usaha jasa
yang sudah direncanakan itu terlaksana baik mengenai dampak positif
maupun negatif terhadap lingkungan usaha yang direncanakan. Jika
dampak itu sudah jelas maka analisisnya harus memperhitungkan
apakah ada tambahan penerimaan atau sebaliknya jurus tambahan biaya
yang diperlukan untuk menaggulangi kemungkinan adanya polusi atau
limbah dari usaha yang sudah direncanakan.
d. Analisis Finansial merupakan analisis terakhir yang dilakukan dan
sekaligus sebagi fokus dari seluruh kegiatan mulai dari tahap 1 sampai
dengan tahap 3. Oleh karena itu, jika data atau informasi yang diberikan
sebagai hasil analisis pada tahap ini kurang dapat dipercaya atau kurang
lengkap maka hasil yang akan dicapai pada tahap ini juga akan menjadi
tidak optimal. Dengan kata lain, baik buruknya hasil analisis finansial
sangat tergantung tahap-tahap sebelumnya.
2.2
Fungsi dan Tujuan Studi Kelayakan Bisnis
Jumingan (2011:7) Tujuan yang ingin dicapai dalam konsep studi kelayakan
bisnis sebagaimana telah dijelaskan pada pendahuluan, Bahwa ada banyak pihak
yang berkepentingan dengan studi kelayakan bisnis sehingga jika dirumuskan
secara eksplist tujuan yang ingin dicapai dari konsep studi kelayakan bisnis ini
sekurang-kurangnya ada empat yang berkepentingan, yaitu sebagai berikut:
1. Bagi pihak investor
Studi kelayakan bisnis ditujukan untuk melakukan penilaian dari
kelayakan usaha atau proyek untuk menjadi masukan yang berguna
karena sudah mengkaji berbagai aspek seperti aspek pasar, aspek teknis
dan operasi manajemen, aspek lingkungan dan aspek finasial secara
komprehensif dan detail sehingga dapat dijadikan dasar bagi investor
untuk membuat keputusan investasi yang lebih objektif.
2 Bagi analisis studi kelayakan
Suatu alat yang berguna
yang dapat dipakai sebagai penunjang
kelancaran tugas-tugasnya dan melakukan penilaian suatu usaha baru,
pengembangan usaha baru pengembangan usaha atau menilai kembali
usaha yang sudah ada.
3 Bagi masyarakat
Hasil studi kelyakan bisnis merupakan suatu peluang untuk menigkatkan
kesejahteraan dan perokonomian rakyat baik terlibat langsung maupun
muncul karena adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha atau
proyek tersebut.
4 Bagi pemerintah
Dari sudut pandang mikro, hasil dari studi kelayakan ini bagi pemerintah
terutama untuk tujuan pengembangan sumber daya manusia, berupa
penyerapan tenaga kerja. Selain itu, Adapun usaha baru atau
bekembangnya usaha lama sebagai hasil dari kelayakan bisnis yang
dilakukan oleh individu atau badan usaha tentunya akan menambah
pemasukan pemerintah, baik dari pajak pertambahan nilai maupun pajak
penghasilan (pph) dan retribusi berupa biaya perizinan, biaya
pendaftaran, biaya adminitrasi, dan secara makro pemerintah dapat
berharap dari keberhasilan studi kelayakan bisnis ini adalah untuk
mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah ataupun nasional sehingga
tercapai pertumbuhan dan kenaikan income perkapita.
2.3.1 Aspek-aspek studi kelayakan bisnis
2.3.1.1 Aspek Pasar dan Pemasaran
Pasar dan Pemasaran, memliki tingkat ketegantungan yang sangat
tinggi. Dimana harus melingkupi peluang pasar, perkembangan pasar,
penetapan pasar dan langkah-langkah yang perlu dilakukan disamaping
kebijaksanaan yang perlu dilakukan.
1. Menurut Safrizal (2007:43) pasar adalah orang –orang yang
mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk berbelanja, dan
kemauan untuk membelanjakannya.
2. Menurut
Jumingan (2011:67) pasar adalah mengukur dan
memperkirakan permintaan untuk menilaiu ketetapan waktu
dan harga dari proyek dalam memproduksi baranng dan jasa.
2.3.1.2 Bentuk Pasar
Menurut Didit dan Triani (2009:8) pasar dapat dikelompokan
menjadi empat yaitu :
1. Pasar Persaingan Sempurna
Produsen tidak terbatas jumlahnya sehingga aktivitas persaingan tidak
tampak, konsumen dapat menjual barang dan membeli berapa saja
tanpa ada batas asal bersedia membeli atau menjual pada pangsa
pasar.
2. Pasar Monopoli
Bentuk pasar yang dikuasai oleh seorang penjual saja, karena tidak
ada barang subtitusi dan tedapat hambatan untuk masuknya pesaing
dari luar. Monopoli bisa terjadi karena menguasai barang mentah,
penguasaan teknik produksi tertentu, tindakan yuridis atau hak paten
karena luas pasar tidak terlalu besar untuk dilayani.
3. Pasar Oglipoli
Perluasan dari pasar monopoli (terdapat beberapa produsen),
penentuan tingkat harga sangat dipengaruhui oleh pesaing, sehingga
tindakan atau aktivitas pesaing harus dipertimbangkan.
4
Pasar Persaingan Monopolistik
Merupakan bentuk campuran antara persaingan sempurna dan
monopoli. Mirip persaingan sempurna karena ada kebebasan untuk
masuk atau keluar pasar dan barang yang dijual tidak 25efensiv.
Karena barang yang heterogen dimiliki perusahaan-perusahaan yang
besar saja, pasar mirip dengan monopoli.
2.3.1.3 Macam-Macam Pasar
Menurut Didit dan Triani (2009:9) pasar dapat dikelompokan
dalam empat yaitu:
1. Pasar Konsumen
Pasar barang dan jasa yang dibeli atau disewa perorangan atau
keluarga untuk dikonsumsi selain, sendiri oleh perorangan atau
organisasi untuk digunakan pada produksi barang atau jasa .
2. Pasar Industri
Pasar untuk barang dan jasa yang dibeli atau disewa oleh perorangan
atau organisasi untuk digunakan pada produksi barang atau jasa lain,
baik untuk dijual maupun disewakan.
3. Pasar Reseller (Dijual kembali)
Suatu pasar yang terdiri dari perorangan dan organisasi yang biasa
disebut pedagang menegah terdiri dari dealer, distributor, grosir, agen
dan retail yang menjual kembali untuk mendapat keuntungan.
4. Pasar Pemerintah
Pasar yang terdiri dari unit-unit pemerintah yang membeli atau
menyewa barang atu jasa untuk menjalankan tugas-tugas pemerintah.
2.3.1.4 Strategi Pasar Sasaran
Menurut Syafrizal Helmi Situmorang (2007:49) sejumlah strategi
dapat memandu pilihan pasar sasaran manajer. Adapun tiga srtategi yang
sering digunakan yaitu:
1. Strategi Pasar Masal
Strategi ini dijalankan melalui dua tahap. Pertama mengabaikan semua
perbedaan segmen dan dan mendesaian program pemasaran dan produk
tunggal yang akan menarik sejumlah konsumen. Kedua adalah
merancang produk dan program pemasaran terpisah untuk segmensegmen yang berbeda ini sering disebut pemasaran serba aneka.
2. Strategi Pasar Ceruk
Strategi ini melayani satu atau lebih segmen terdiri atas sejumlah
pelanggan yang mencari manfaat yang sangat khusus dari produk dan
jasa.Strategi ini dirancang untuk mencegah persaingan langsung
dengan perusahaan-perusahaan besar yang sedang memburu segmen
yang lebih besar.
3. Strategi Pasar Pertumbuhan
Strategi ini disukai para pesaing yang lebih kecil untuk mencegah
konfrontasi langsung dengan perusahaan-perusahaan besar sambil
membangun jumlah penjualan dan pangsa pasar untuk masa depan.
2.3.1.5 Aspek Pemasaran
Menurut Syafrizal Helmi Situmorang (2007:56) Pemasaran
adalah suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang ada
melalui penciptaan proses pertukaran yang saling menguntungkan.
Aktivitas pemasaran tersebut antara lain perencanaan produk, kebijakan
harga, melakuka promosi, distribusi, penjualan, pelayanan, membuat
strategi pemasaran, riset pemasaran, sistem informasi pemasaran, dan lainlain yang terkait dengan pemasaran.
Adapun tiga tahapan dalam praktik pemasaran, yaitu:
1. Pemasaran Swadaya
Ketika perusahaan masih kecil dan baru berdiri, dimana jumlah
produk yang dijual tidak begitu banyak dan pengusaha baru belajar,
maka pemasaran dilakukan dari individu ke individu, dari pintu ke
pintu, dari 27 efensiv ke 27 efensiv, serta memasarkan sendiri-sendiri.
2. Pemasaran Terformulasi
Selanjutnya setelah perusahaan semakin maju dan berkembang
diperlukan yang terformulasikan. Ada departemen pemasaran,
pemasangan iklan, sales force, marketing research, dll.
3. Pemasaran Total
Muncul kesulitan dalam memformulasikan pemasaran, mencari
laporan riset pemasaran, mencoba hubungan baik dengan dealer dan
pesan-pesan iklan.
2.3.1.6 Strategi Pemasaran
Persaingan yang ketat dalam dunia usaha mengharuskan para
pengusaha untuk menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat dalam
memasarkan produk agar menjamin kelangsungan ataupun dapat
mengembangkan usaha yang dijalaninya. Pelaksanaan strategi pemasaran
membutuhkan adanya suatu formulasi strategi pemasaran dapat terfokus.
Perumusan dan penerapan strategi pemasaran tidak hanya ditunjukan bagi
perusahaan besar, pada usaha berskala kecil maupun mikro juga
membutuhkannya agar dapat bersaing.
Menurut bennet dalam buku strategi pemasaran Fandy Tjiptono
(2008:6) strategi pemasaran merupakan pernyataan (baik secara implist
maupun eksplist) mengenai bagaimana suatu merek atau lini produk
mencapai tujuannya. Dalam merumuskan strategi pemasaran dibutuhkan
pendekatan-pendekatan anilitis. Menurut Fandy Tjiptono (2008:7)
kemampuan strategi pemasaran suatu perusahaan menanggapi setiap
perubahan kondisi pasar dan faktor biaya tergantung pada analisis terhadap
faktor-faktor berikut:
a. Faktor Lingkungan
Analisis terhadap faktor seperti pertumbuhan populasi dan peraturan
pemerintah
sangat
penting
untuk
mengetahui
pengaruh
yang
ditimbulkan pada bisnis peusahaan. Selain itu faktor-faktor seperti
perkembangan teknologi, tingkat inflasi, dan gaya hidup juga tak boleh
diabaikan. Hal-hal tersebut merupakan faktor lingkungan yang harus
dipertimbangkan sesuai dengan produk dan pasar perusahaan.
b. Faktor Pasar
Perusahaan perlu selalu memperhatikan dan mempertimbangkan faktorfaktor
seperti
ukuran
pasaran,
tingkat
pertumbuhan,
tahap
perkembangan, trend dalamn sistem distribusi, pola prilaku konsumen,
permintaan musiman, segmen pasar yang ada saat ini atau yang
dikembangkan lagi, dan peluang-peluang yang belum terpenuhi.
c. Persaingan
Dalam kaitannya dengan persaingan, setiap perusahaan
perlu
memahami siapa pesaingnya, bagaimana posisi produk/pasar pesaing
tersebut, apa strategi mereka, kekuatan dan kelemahan pesaing, struktur
biaya pesaing, dan kapasitas produksi para pesaing.
d. Analisis Kemampuan Internal
Setiap perusahaan perlu menilai kekkuatan dan kelemahannya
dibandingkan para pesaingnya. Penilaian tersebut dapat didasarkan pada
faktor-faktor seperti teknologi, sumber daya financial, kemampuan
pemanufakturan, kekuatan pemasaran, dan basis pelanggan yang
dimiliki.
e. Prilaku Konsumen
Prilaku konsumen perlu dipantau dan analisis karena hal ini sangat
bermanfaat bagi pengembangan produk, desain produk, penetapan
harga, pemilihan saluran distribusi, dan penentuan strategi promosi.
Analisis prilaku konsemen dapat dilakukan dengan riset pasar. Baik
melalui observasi maupun metode survai.
f. Analisis Ekonomi
Dalam analisis ekonomi perusahaan dapat memperkirakan pengaruh
setiap peluang pemasaran terhadap kemungkina mendapat laba.
Analisis ekonomoi terdiri atas analisis terhadap komitmen yang
diperlukan, analisis BEP (break event point), penilaian resiko/laba, dan
analisis ekonomi pesaing.
2.3.2 Aspek Manajemen
2.3.2.1 Manajemen
Menurut Kasmir dan jakfar (2003:245), untuk keperluanstudi
kelayakan bisnis yang perlu dianalisis adalah bagaimana fungsi-fungsi
manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan diterapkan secara benar.
Fungsi-fungsi yang ada didalam manajemen adalah:
1. Planning/Perencanan
adalah proses menentukan arah yang akan ditempuh dan kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses
ini ditentukan tentang apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana
melakukannya serta cara apa hal tersebut dilaksanakan.
2. Organizing/pengorganisasian
adalah proses mengelompokan kegiatan-kegiatan atau pekerjaan dalam
unit-unit. Tujuannya adalah supaya tertata dengan jelas antara tugas,
wewenang dan tanggung jawab serta hubungan kerja dengan sebaik
mungkin dalam bidangnya masing-masing.
3. Actuating /menggerakan
adalah proses untuk menjalankan kegiatan dalam organisasi. Dalam
menjalankan organisasi para pemimpin menggerakan bawahannya
untuk mengerjakan pekerjaan yang telah ditentukan dengan cara
memimpin, 30efens perintah, 30efens petunjuk, 30efens motivasi.
4. Controlling/pengawasan
adalah proses untuk mengukur dan menilai pelaksanaan tugas apakah
telah sesuai rencana jika proses tersebut terjadi penyimpangan maka
akan segera dikendalikan.
2.3.2.2 Pendekatan dalam pembuatan perencanaan
Menurut Didit dan Triani (2009:33) Pendekatan dalam pembuatan
terbagi atas tiga yaitu:
1. Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down)
Dalam pendekatan ini perencanaan dilakukan oleh pemimpin
perusahaan. Unit organisasi dibawahnya hanya melaksanakan hal-hal
yang telah direncanakan..
2. Pendekatan Bawah-Atas (Boottom-up)
Dalam pendekatan ini pimpinan memberikan gambaran situasi dan
kondisi yang dihadapi organisasi, termasuk visi, misi, tujuan sasaran
dan sumber daya yang dimiliki. Selanjutnya memberikan kewenangan
kepada manajemen ditingkat bawahnya untuk menyusun perencanaan.
3. Pendekatan Campuran
Dalam
pendekatan
ini
cara
pimpinan
memberikan
petunjuk
perencanaan organisasi secara garis besar, sedangkan secara detail,
diserahkan kepada kreativitas unit perusahaan dibawahnya, dengan
mematuhi aturan yang berlaku.
2.3.2.3 Aspek Produksi, Teknis dan Operasi
Keputusan yang diambil oleh sebuah organisasi mengenai produk
yang ditawarkan mempunyai dampak penting terhadap kinerja perusahaan.
Sebagian keputusan bisnis mempunyai dampak yang cukup luas, misalnya
pilihan mengenai produk baru dan pengembangan-pengembangan produk,
Keputusan-keputusan seperti ini menyentuh setiap bidang fungsional dan
mempengaruhui segala lapisan organisasi.
Menurut Situmorang (2007:104) Produksi biasanya timbul setelah
dulakukan riset atau penelitian terhadap konsumen, produk apa yang
sedang diinginkan konsumen serta sesuai dengan kebutuhan. Perencanaan
dan pengembangan produk pada hakikatnya adalah meliputi berbagai
macam aktivitas marketing dan hal tersebut merupakan sebuah fungsi
berorientasi pada konsumen.
Analisis dalam aspek produks adalah untuk menilai kesiapan
perusahaan dalam menjalankan usahanya dengan menilai ketetapan lokasi
dan layout serta kesiagaan mesin yang digunakan. Tujuan yang hendak
dicapai dalam aspek produksi adalah:
1.
Agar perusahaan dapat menentukan lokasi yang tepat.
2.
Agar perusahaan dapat mememtukan layout yang sesuai dengan
proses produksi yang dipilih sehingga memberikan efisiensi.
3.
Agar perusahaan dapat menentukan teknologi yang tepat dalam
menjalankan produksinya/
4.
Agar perusahaan dapat menentukan metode perusahaan yang paling
baik.
5. Agar dapat menentukan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan
sekarang dan dimasa yang akan datang.
2.4
ANALISIS SWOT
Menurut Rangkuti (2013:19) Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai
faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan
peluang
(opportunities), namun
secara bersamaan
dapat
meminimalkan
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Elemen-elemen yang terdapat
dalam analisis SWOT antara lain ialah:
1. Kekuatan
Kekuatan adalah segala sesuatu yang bagus yang dapat diperbarui oleh
perusahaan, atau suatu karekteristik yang memiliki kapabilitas penting.
2.
Kelemahan
Kelemahan adalah segala sesuatu yang merupakan kekurangan
perusahaan, atau suatu kondisi yang tidak menguntungkan perusahaan
3.
Peluang
Peluang adalah wilayah kebutuhan dan minat pembeli diantara lain
perusahaan mempunyai protabilitas tinggi untuk memuaskan kebutuhan
tersebut dengan menguntungkan.
4.
Ancaman
Ancaman adalah tantangan yang ditempatkan oleh tren atau
perkembangan yang tidak disukai yang akan menghasilkan penurunan
penjualan
2.5
Warung Makan
2.5.1
Pengertian Warung Makan
Warung makan merupakan usaha skala kecil yang menjual
makanan (Ayodya, 2008:2). Kebanyakan warung makan merupakan
tempat makan sederhana dan dikunjungi oleh kalangan menengah
kebawah tapi banyak pula kalangan kelas menengah keatas makan disini.
Ciri khas warung makan adalah adanya tempat makan dengan ruang dan
perabot sederhana meskipun demikian banyak warung makan menyajikan
makanan dengan rasa yang sangat enak dan biasanya dijual dengan harga
yang relative murah. Warung makan banyak dipilih orang untuk mengisi
perut, terutama bagi mereka yang memiliki dana terbatas.
2.5.1.1 Jenis-jenis Warung Makan
Ada beberapa jenis dari warung makan, yaitu :
1. Warung Nasi/Warung Tegal (Warteg)
Warung nasi biasanya menyajikan nasi putih beserta lauk pauknya.
Banyak orang bilang jenis makanannya adalah makanan rumah,
yaitu makanan yang sering dimasak dan disediakan dirumah
tinggal.
Menu yang biasa disajikan diwarung makan, antara lain:
1. Nasi putih
2. Aneka lauk yang digoreng seperti
a. Ayam
b. Ikan
c. Tahu dan tempe
d. Telur dadar
dll
3. Aneka Tumisan, seperti
a. Tumis kangkung
b. Tumis sawi
c. Tumis labu
d. Tumis buncis
dll
4. Aneka Balado, seperti
a. Balado kentang
b. Balado teri tempe
c. Balado ikan
d. Balado telur
dll
5. Aneka Sayur, seperti
a. Sayur daun singkong
b. Sayur sop
c. Gulai nangka
d. Gulai telur
dll
6. Aneka Buah
7. Aneka Minuman, seperti
a.Teh manis
b. Kopi
c. Minuman ringan
dll
2. Warung Makan Menu Khusus
Warung makan dengan menu khusus adalah warung makan yang
hanya menyediakan makanan dengan menu tertentu saja. Bahkan
ada yang hanya menjual satu sampai dua menu utama saja. Contoh
dari warung jenis ini,antara lain:
1.Warung sate
2.Warung nasi uduk
3.Warung nasi goreng
4.Warung mie ayam
5.Warung soto
6.Warung bakso
7.Warung seafood
8.Warung mie aceh
9. dan sebagainya
3. Kantin
Merupakan jenis warung makan yang lokasinya berdampingan
dengan tempat lain, seperti kantor, kampus, sekolah, mal, dan
tempat lainnya. Biasanya kantin menyediakan makanan khusus
untuk karyawan kantor, mahasiswa, anak sekolah dalam hal menu
kantin dapat menyediakan beraneka ragam seperti warung menu
khusus.
4. Warung Tenda atau Kaki Lima
Merupakan warung yang berada dipinggir jalan dan beratapkan
tenda seadanya yang lebih popular dengan sebutan kaki lima.
Perbedaan antara kaki lima dengan jenis warung lainnya terletak
pada tempatnya. Bila warung lain mempunyai tempat permanen
(kios makan), kaki lima tempatnya ala kadarnya dan tidak
permanen. Kaki lima hanya mempunyai lapak penjualan dengan
tenda semi permanen sebagai atapnya. Begitu aktivitas warung
selesai, tenda biasanya dibongkar. Setiap warung buka dan tutup,
tenda harus dibongkar pasang terus.
2.6
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian.
BAB II : KERANGKA TEORI
Pada bab ini terdiri dari kerangka teori dan sistematika penulisan.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini terdiri dari bentuk penelitian, tempat dan waktu penelitian, defenisi
konsep, metode pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN
Bab ini berisi lokasi penelitian, penyajian data, analis data.
BAB V : KESIMPULAN
Bab ini merumuskan beberapa kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.
Download