(Kewirausahaan) Istilah Kewirausahaan merupakan pedoman dari

advertisement
BAB III
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Entrepreneurship (Kewirausahaan)
Istilah Kewirausahaan merupakan pedoman dari kata Entrepreneurship
dalam bahasa inggris23. Kata Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, yaitu
Entreprendre yang sudah dikenal sejak abad ke 1724, yang artinya
menjalankan, melakukan, dan berusaha.
Kewirausahaan adalah pandanan kata dari Entrepreneurship dalam
bahasa inggris, Unternehmer dalam bahasa jerman, Ondernemer dalam bahasa
belanda. Adapun di Indonesia diberi nama kewirausahaan. Kata Entrepreneur
berasal dari bahasa perancis, yaitu Entreprende yang berarti petualangan,
pengambil resiko, kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu
pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil ciptaannya.25
Kewirausahaan yang sering dikenal dengan sebutan Entrepreneurship
berasal dari bahasa Perancis yang diterjemahkan secara harfiah adalah
perantara. Secara lebih luas kewirausahaan didefinisikan sebagai proses
penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan
waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang
menyertainya serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. 26
23
Suryana, Op.cit, hlm. 12.
Alma, Op.cit, hlm. 24.
25
Muhammad Anwar, Pengantar Kewirausahaan Teori dan aplikasi, (Jakarta: Prenada,
2014), hlm. 2.
26
Adi Sutanto, Kewiraswastaan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), hlm. 11.
24
27
28
Dalam kamus umum bahasa Indonesia wirausaha yaitu sebagai orang
yang pandai dan berbakat dalam mengenali produk baru. Menentukan cara
produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkan
produk yang dihasilkan, dan mengatur permodalan operasinya.27
Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu
yang ada dalam diri untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal
(baik) sehingga bisa meningkatkan taraf hidup dimasa mendatang.28
Entrepreneurship merupakan suatu kualitas dari sikap seseorang
daripada hanya sekedar keahlian. Seorang entrepreneur memiliki kualifikasi
kepribadian yang tahan banting, selalu mencari peluang dan memiliki visi dan
entrepreneur yang berhasil berangkat dari pandangan untuk berhasil, tidak
hanya sekedar berbuat.29
Didalam dunia modern, wiraswastawan adalah orang yang memulai
dan mengerjakan usahanya sendirian, mengorganisasi dan membangun
perusahaan sejak revolusi industri, orang-orang yang memulai usaha mereka
sendiri bisa mendapatkan manfaat dari studi mengenai karakteristik
kewiraswastawan.30
Adapun
inti
dari
kewirausahaan
(Entrepreneurship)
adalah
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Create New
27
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
(Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2008), Edisi ke-4, hlm. 1562.
28
Hendro, Dasar-Dasar Kewirausahaan, Panduan Bagi Mahasiswa Untuk
Mengenal,Memahami,dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2011), hlm. 30.
29
Tarmudji, Op.cit, hlm. 12.
30
Masykur Wiratmo, Pengantar Kewiraswastaan,Kerangka Dasar Memasuki Dunia
Bisnis, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1996), hlm. 2.
29
and Different) melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk
menciptakan peluang.31
Entrepreneur merupakan seseorang yang memiliki kreativitas suatu
bisnis baru dengan berani menanggung risiko dan ketidak pastian yang
bertujuan untuk mencapai laba dan pertumbuhan usaha berdasarkan
identifikasi peluang dan mampu mendayagunakan sumber-sumber serta
memodali peluang ini.32
Wirausahawan atau Entrepreneur adalah suatu sikap mental yang
berani menanggung resiko, berpikiran maju, berani berdiri di atas kaki sendiri.
Sikap mental inilah yang akan membawa seorang pengusaha untuk dapat
berkembang secara terus menerus dalam jangka panjang. Sikap mental ini
perlu ditanamkan serta ditumbuh kembangkan dalam diri angkatan muda
bangsa Indonesia, agar dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa
lain didunia.33
Entrepreneur bukan sekedar pengusaha swasta, karena terkesan untuk
membedakan seseorang yang makan gaji dengan seseorang yang dapat
menggaji dirinya sendiri, akan tetapi mereka yang mengerti dan dapat
membedakan antara tantangan dan peluang, lalu memanfaatkannya untuk
keuntungan mereka.
Secara sederhana, arti wirausahawan (Entrepreneur) aadalah orang
yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai
31
Suryana, Op.cit, hlm. 24.
Ibid, hlm. 26.
33
Tarmudji, loc.cit.
32
30
kesempatan. Berjiwa berani mengambil risiko artinya bermental mandiri dan
berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam
kondisi tidak pasti.34
Kemampuan Entrepreneur adalah kemampuan dan kemandirian dalam
mengkombinasikan tenaga kerja, barang modal, dan uang untuk menghasilkan
barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari,
mereka yang disebut kewirausahaan (Entrepreneur) adalah pengusaha
swasta.35
Jadi seorang wirausaha dapat diartikan sebagai berikut: “Seorang yang
berkemauan keras dalam melakukan tindakan yang bermanfaat dan patut
menjadi teladan hidup, atau lebih sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:
Seseorang yang berkemauan keras dalam bisnis yang patut menjadi teladan
hidup”.36
B. Entrepreneurship Dalam Islam
Entrepreneurship dalam pandangan islam merupakan aspek kehidupan
yang dikelompokkan ke dalam masalah mu’amalah, yakni masalah yang
berkenaan dengan hubungan yang bersifat horizontal dalam kehidupan
manusia. Sekalipun sifatnya adalah hubungan yang horizontal namun sesuai
dengan ajaran islam, rambu-rambunya tetap mengacu pada Alquran dan
hadits.37
34
35
hlm. 6.
36
37
Kasmir, Op.cit, hlm.19.
Ali Musa Pasaribu, Kewirausahaan Berbasis Agribisnis, (Yogyakarta: Andi, 2012),
Tarmudji, Op.cit, hlm. 4.
Jusmaliani, dkk, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008).
31
Dalam islam, Entrepreneurship digunakan dengan istilah kerja keras.
Setidaknya terdapat beberapa ayat Al-Qur’an maupun hadits yang dapat
menjadi rujukan tentang semangat kerja keras dan kemandirian.
Seseorang dikatakan Entrepreneur sejati apabila ia tetap konsisten
mempertahankan nilai-nilai keadilan dalam berkarya, tidak luntur oleh imingiming kenikmatan sesaat kemudian mengorbankan nilai-nilai keadilan yang
telah menjadi prinsip atau kebenaran yang ia yakini. Bagi Entrepreneur sejati
menggantungkan cita-citanya sekedar keberhasilan duniawi adalah merupakan
kepicikan dan kesia-siaan. Entrepreneur sejati adalah visionaris yang berhati
mulia yang dengan kecerdasan spritualnya senantiasa mengerahkan seluruh
energinya untuk membangun kemashalatan manusia.38
Dalam islam yang bertanggung jawab memang orang sehingga disebut
Mukalaf, maka manusianya tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya kepada
Allah. Manusia adalah khalifatullah pengganti Allah dan semua tindakannya
tidak dapat lepas dari tanggung jawabnya. Dalam paradigma ini, perusahaan
wajib menjaga agar semua aturan yang menyangkut kehidupan masyarakat
dapat dipatuhi. Semua tindakan yang dilakukan perusahaan tidak boleh
melanggar hokum masyarakat atau merugikan masyarakat, bahkan harus
memberikan manfaat kepada masyarakat (social benefit) dan menghindari
segala yang merugikan masyarakat (social cost).39
38
Wasi Darmolono, Winning Mindset Potret Entrepreneur Sejati, (Jogjakarta: Nuha
Litera, 2009), hlm. 11.
39
Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam Persepektif Islam, (Jakarta: Salemba Empat,
2011), hlm. 100.
32
Pengusaha islam adalah manusia yang bertujuan untuk mendapatkan
kebutuhan hidupnya melalui usaha perdagangan, dan selanjutnya memberikan
pelayanan kepada masyarakat
melalui perdagangan tersebut.
Dalam
menentukan jenis perusahaan yang hendak didirikan dan dijalankan dan lain
sebagainya, pengusaha tersebut akan berusaha dengan sungguh-sungguh agar
tujuan tersebut dapat dipenuhi, walaupun permasalahan ini tergantung pada
kemampuan keuangan dan juga kemampuannya dalam menjalankan
perusahaan tersebut. Hal-hal yang disebut sebagai ‘keuntungan yang
memuaskan’ akan menentukan sejauh manakah dia dapat mengorbankan
kepentingan pribadi untuk mencapai kehendak dan kepentingan masyarakat.
Pandangannya sendiri mengenai kebutuhan masyarakat dan sejauh manakah
dia dapat memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada masyarakat
dalam keadaan tertentu, akan menentukan saluran manakah yang akan
digunakannya untuk mendapatkan keuntungan dan selanjutnya melayani
kepentingan masyarakat.40
Islam sangat membenci kehidupan yang melarat, karena manusia
dikaruniakan dengan akal dan tenaga. Perubahan keadaan yang demikian
menuju kehidupan yang lebih baik merupakan suatu tuntutan. sebagaimana
yang tersebut dalam beberapa ayat al-Qur’an sebagai berikut, QS (At-Taubah :
28).
40
Muhammad Nejatullah Siddiqi, Kegiatan Ekonomi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1991), hlm. 144.
33
  
   
  
    
   
      
   
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang
musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati
Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi
miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu
dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.41
Rasulullah telah menekankan bahwa perlu bagi setiap individu untuk
berusaha
agar
memperoleh
kebutuhan
hidupnya:
“Berusaha
untuk
memperoleh kehidupan dengan cara yang halal merupakan suatu kewajiban
sesudah kewajiban sembahyang” (Hadis: Riwayat abdullah). “Makanan yang
dimakan oleh seseorang dari hasil pencariannya merupakan usaha yang baik
untuk memenuhi kebutuhan hidup”. (Hadis: diriwayatkan oleh Bukhari). Pada
zamannya, Rasulullah telah menasehati para pengikutnya agar melakukan
perniagaan, bertani, beternak dan melakukan kerja yang produktif lainnya.
Aktivitas ekonomi yang dilaksanakan berdasarkan standar moral masyarakat
dan tujuan yang sempurna benar-benar disanjung tinggi oleh agama dan
perbuatan yang demikian dianggap sama mulianya dengan orang yang
melakukan sembahyang. Rasulullah bersabda: “Para pedagang islam yang
jujur dan bersikap benar dibangkitkan bersama-sama dengan orang yang
mati syahid (Pada Hari kiamat)” (Hadis: diriwayatkan oleh Ibnu majjah).42
41
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 191.
42
Ibid, hlm.12-14.
34
Agama islam telah berulang kali menasehati manusia agar berusaha
mendapatkan kebutuhan hidupnya dan juga agar berusaha keras untuk
menghasilkan barang kebutuhan dan melakukan perdagangan barang yang
berfaedah. QS. ( Al-Jumu’ah : 10).













  
Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyakbanyak supaya kamu beruntung.43
Dengan demikian seseorang menyandang gelar Entrepreneur sejati
apabila telah memiliki kepahaman agama (islam). Entrepreneur sejati tidak
mungkin mengabaikan fitrahnya sebagai hamba Allah swt yang tidak
diciptakannya melainkan agar mengabdi kepadanya, mentaati perintahnya,
menjauhi larangannya, beriman dan beramal shalih, beramar makruf nahi
mungkar, ridha terhadap segala ajaran yang dibawakan dan dicontohkan
Rasulullah saw. QS. ( Al-Maidah:3 )






    






    







    
   







43
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 554.
35






    
   
     

Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi
nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu,
sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.44
Entrepreneur sejati tidak mau menabrak atau menselisihi nilai-nilai
yang datangnya dari Allah swt dan rasulnya. Entrepreneur sejati memiliki
langkah-langkah bisnis yang ramah lingkungan, taat hukum, dan memiliki
kecerdasan sosial tinggi. Entrepreneur sejati bukanlah orang yang
merobohkan tiang untuk mendirikan tembok, tidak mau mengorbankan nilai A
untuk meraih nilai B. Entrepreneur sejati lebih banyak bekarya dengan cara
menciptakan nilai tambah dari sumber daya tak bernilai. Pada akhirnya
entrepreneur sejati bukan tergolong orang-orang yang megorbankan nilai-nilai
akhirati demi mendapatkan nilai-nilai duniawi.45
Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar menghiasi dirinya
dengan sifat amanah atau trust (kepercayaan), terutama dalam hal melakukan
44
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 107.
45
Darmolono, Op.Cit, hlm. 12.
36
transaksi. Hal ini pula yang menjadi pegangan utama dalam perkembangan
ekonomi.46
Bekerja sebagai salah satu fungsi manusia dalam memenuhi kebutuhan
dan keperluan hidup mendapat landasan yang sangat kuat dalam ekonomi
syariah. Manusia memang diciptakan di muka bumi ini untuk bekerja. Dalam
Al-quran surat Al-Balad : 4, Allah berfirman:


 
 
“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah
payah”47
Sedemikian penting arti bekerja dalam memenuhi kebutuhan dan
keperluan hidup, sehingga Rasulullah sejak dari muda belia tercatat sebagai
sosok pekerja keras. Beliau berkata, “Allah mencintai orang yang selalu
bekerja dan berusaha (untuk penghidupannya)”. Menurut Maqdam, dalam
riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda:
“Tidak seorang pun yang akan memperoleh kehidupan yang lebih baik
daripada orang yang memperoleh penghasilan dengan tangannya (tenaganya)
sendiri. Nabi Daud pun memperoleh nafkah penghidupan dengan tangannya
sendiri”.48
Banyak orang mengira, setelah kehilangan satu pekerjaan atau gagal
dalam mengelola suatu usaha, maka dia telah kehilangan semua pekerjaannya
dan peluang berusaha. Padahal dalam banyak fakta ditemukan, orang-orang
yang terbilang sukses hari ini, ternyata sebelumnya adalah orang-orang yang
46
A.Qodri Azizy, Cara Kaya dan Menuai Surga, (Jakarta: Renaisan, 2005), hlm. 64.
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 594.
48
Nuruddin, Op.Cit, hlm. 17.
47
37
tidak mempunyai pekerjaan, bahkan pernah gagal dalam usaha. Dalam diri
mereka ada semangat dan kemauan yang kuat untuk keluar dari kesulitan dan
menciptakan peluang usaha tanpa pernah kenal menyerah dan takut risiko.
Semangat untuk selalu menciptakan peluang usaha ini pada intinya adalah
semangat yang terkandung dalam ekonomi syariah. Allah memuji sikap yang
dilandasi semangat itu. Qur’an Surah An-nisa: 100.
    




   
   



  



    
   
Artinya: “Barangsiapa yang hijrah di jalan Allah, di bumi ini banyak tempat
dan rezeki yang melimpah. Orang yang meninggalkan rumahnya
berhijrah kepada Allah dan Rasul-nya kemudian maut
menjemputnya, Allah senantiasa memberi upah dan pahala. Allah
maha pengampun, maha penyayang”49
Semangat yang terkandung dalam kata “hijrah” dalam konteks ini
mencakup segala upaya yang dilakukan untuk mengubah pikiran negative
(negative thinking) menjadi pikiran positif (Positive thinking), meninggalkan
segala bentuk kelemahan yang melekat pada diri, seperti sifat malas, tidak
mau bekerja keras, takut dan putus asa, serta dalam waktu yang sama
menggantinya dengan sifat rajin, bersungguh-sungguh, berani, penuh harapan
dan percaya diri. Betapapun beratnya risiko dalam pekerjaan (sekalipun maut
yang akan menjemput), namun dihadapi dengan penuh yakin dan harapan.
49
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 94.
38
Semua bentuk kerja dan jenis usaha yang halal dihargai dalam ekonomi
syariah.
Niaga sebagai aktivitas ekonomi pada sektor riil menempati posisi
penting dalam ekonomi syariah. Rasulullah merekomendasikan dalam banyak
hal bahwa niaga merupakan aktivitas utama yang perlu dikembangkan. Dalam
salah satu dialog, beliau menyatakan bahwa pekerjaan dan usaha (al-kasb)
yang paling baik dilakukan seseorang adalah pekerjaan yang dihasilkan
dengan tangan (‘amal al-rajul bi yadih) dan semua jual beli mabrur (bai’
mabrur), yaitu jual beli halal dan bebas kecurangan.50
Sisi kehidupan Nabi Muhammad SAW yang dewasa ini mulai banyak
mendapat perhatian adalah karier beliau sebagai pengusaha sukses, saudagar
jujur dan wirausahawan sejati. Terhadap perjalanan bisnis yang selalu beliau
lakukan.
Perdagangan juga tidak boleh melalaikan diri manusia dari beribadah
kepada Allah (Zikir, shalat, dan zakat). Hal ini diiungkapkan Allah swt.
Dalam surah An-nur :37:
   
    





   



Artinya : Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula)
oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan
sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada
50
Ibid, hlm. 32-35.
39
suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang.51
Pedagang yang mengindahkan norma-norma Al-quran tidak akan
melalaikan tugasnya kepada Allah lantaran mengurus dan melakukan aktivitas
perdagangan.52
Dalam pemahaman dari perspektif islam, jelas acuan kejujuran atau
keculasan dalam berdagang harus diletakkan dalam kerangka ukuran-ukuran
yang bersumber dari ajaran islam, yakni Alquran dan sunnah rasul.53
Rasulullah Muhammad saw, pernah mengatakan bahwa sebagian besar
rezeki manusia diperoleh dari aktivitas perdagangan. Hal ini disabdakan beliau
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harabi, “tis’ah al-asyari arrizqi minat tijjarah” artinya berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh
bagian penghidupan, Sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.54
Seseorang akan dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara
terhormat apabila ia bekerja dan berusaha. Terlebih jika seseorang dapat
memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat. Kerjasama dan tolong
menolong kemasyarakatan akan terselenggara apabila para anggotanya bekerja
dan berusaha. Berdiam diri menanti pertolongan orang lain atau berusaha
mencukupkan kebutuhan dengan jalan minta-minta tidak dapat dibenarkan,
bahkan amat tercela. Qs.At-taubah:105:
  
  


51
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 355.
52
Veithzal Rivai, Islamic Marketing, Membangun dan Mengembangkan Bisnis dengan
Praktik Marketing Rasulullah saw , (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), hlm. 97.
53
Jusmaliani, Op.Cit, hlm. 13.
54
Ibid, hlm. 45.
40





  
 
Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang
ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang
telah kamu kerjakan.55
Ayat tersebut menunjukkan suatu anjuran bagi umat manusia dan
kaum muslimin agar bekerja dan berusaha mencari rezeki dalam rangka
memperoleh pendapatan dan kekayaan atau kebutuhan-kebutuhan kehidupan
dalam bidang ekonomi.56
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menciptakan unsur-unsur tertentu untuk
digunakan oleh manusia dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
(Produk). Bekerja mengolah sesuatu (bahan mentah) menjadi suatu barang
yang bermanfaat bagi manusia atau dengan istilah lain “industri” merupakan
usaha (produksi) yang diperbolehkan dalam islam.57
Allah SWT telah mendesain kehidupan manusia menjadi makhluk
yang bisa memanfaatkan potensi alam dengan tepat, sebagaimana dalam surah
Al-A’raaf ayat 74:





   







55
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 203.
56
Muhtadi Ridwan, Al-qur’an dan Sistem Perekonomian, (Malang: UIN-Maliki Press,
2011), hlm. 50.
57
Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 8081.
41



    
  
Artinya:
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu
pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan
memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di
tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya
untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan
janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.58
C. Karakteristik Entrepreneurship
Sebuah kesuksesan yang berhasil diraih para pengusaha merupakan
usaha yang dilakukan mulai dari nol. Dengan tekun,gigih dan kerja keras
mereka membangun usaha untuk mencapai sukses yang diharapkan. Menurut
Goeffrey Meredith, Karakteristik Entrepreneur pada umumnya59, yaitu :
1. Memiliki sikap dan pendirian yang kuat dalam mengambil resiko.
Orang yang berniat menjalankan usaha sendiri harus didukung oleh
pendirian yang kuat. Pendirian yang kuat akan membuat anda merasa
nyaman dan melihat yang ada dihadapannya bukan sebagai halangan atau
rintangan. Ia hanya melihat apa yang dilakukanya kelak akan meraih
keuntungan dan keberhasilan. Sikap seperti ini akan memperbesar
kemungkinan untuk berwirausaha.
2. Memiliki semangat atau motivasi yang kuat untuk bersaing.
Besarnya sikap atau keinginan untuk mencapai sukses telah
memotivasi dirinya untuk bersemangat dalam mengelola usahanya.
Semangat inilah yang menjadi faktor terpenting terhadap kekuatan diri
58
Depag, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: PT.Sygma Examedia
Arkanleema), hlm. 160.
59
Ambadar, Loc.Cit.
42
seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain, dan kemampuan
berpikir keras untuk memajukan usahanya.
3. Percaya diri.
Hanya mereka yang memiliki kepercayaan diri yang kuatlah yang
akan mampu mengelola usahanya dengan baik.
4. Tekun
Sebuah rencana, apabila berhasil anda wujudkan lewat ketekunan,
akan mendatangkan hasil yang mengutungkan. Pengusaha yang maju
adalah mereka yang tekun dan tidak cepat putus asa.
5. Gigih
Kesuksesan akan dapat anda raih, apabila dilakukan dengan gigih
dan tanpa mengenal lelah dalam mengelola semua kemampuan anda untuk
mencapai suatu keberhasilan.
6. Memiliki tujuan yang jelas
Kebanyakan pengusaha yang sukses adalah karena mereka
memiliki konsep atau tujuan yang jelas atas rencana usahanya sehingga
mereka bisa menyetir usahanya sesuai dengan jalur yang diinginkan.
7. Memiliki kejujuran
Kejujuran adalah modal utama yang harus dimiliki dalam diri
seorang pengusaha. Kepribadian yang jujur akan membuat reputasi anda
dapat dipercaya oleh banyak pihak yang menjalin hubungan bisnis dengan
anda.
8. Memiliki sikap kreatif dan inovatif
43
Seorang pengusaha setidaknya harus bias berpikir kreatif dan
inovatif untuk melahirkan konsep-konsep dan pikiran baru bagi
perkembangan usahanya.
Beberapa pendapat dan kesimpulan dari para ahli tentang karakteristik
kewirausahaan berbeda-beda. Tapi pada intinya adalah, bahwa seorang
wirausaha merupakan individu yang mempunyai ciri dan watak untuk
berprestasi lebih tinggi dari kebanyakan individu-individu lainnya, hal ini
dapat dilihat dari pendapat-pendapat berbagai ahli sebagai berikut60:
David Mc Clleland menyatakan 9 karakteristik utama yang terdapat
dalam diri seorang wirausaha sebagai berikut:
1. Dorongan berprestasi: semua wirausahawan yang berhasil memiliki
keinginan besar untuk mencapai suatu prestasi.
2. Bekerja Keras: sebagai besar wirausahawan “mabuk kerja”, demi
mencapai sasaran yang ingin dicita-citakan.
3. Memperhatikan kualitas: wirausahawan menangani dan mengawasi sendiri
bisnisnya sampai mandiri, sebelum ia mulai dengan usaha baru lagi.
4. Sangat bertanggung jawab: wirausahawan sangat bertanggung jawab atas
usaha mereka, baik secara moral,legal, maupun mental.
5. Berorientasi pada imbalan:wirausahawan mau berprestasi, kerja keras, dan
bertanggung jawab, dan mereka mengharapkan imbalan yang sepadan
dengan usahanya. Imbalan itu tidak hanya berupa uang, tetapi juga
pengakuan dan penghormatan.
60
Mudjiarto, Aliaras Wahid, Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausahaan,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hlm. 3-6.
44
6. Optimis: wirausahawan hidup dengan doktrin semua waktu baik untuk
bisnis, dan segala sesuatu mungkin.
7. Berorientasi pada hasil karya yang baik (excellence oriented). Seringkali
wirausahawan ingin mencapai sukses yang menonjol, dan menuntut segala
yang first class.
8. Mampu mengorganisikan: kebanyakan wirausahawan mampu memadukan
bagian-bagian dari usahanya dalam usahanya. Mereka umumnya diakui
sebagai “komandan” yang berhasil.
9. Berorientasi pada uang. Uang yang dikejar oleh para wirausahawan tidak
semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan pengembangan usaha
saja, tetapi juga dilihat sebagai ukuran prestasi kerja dan keberhasilan.
Untuk menjadi seorang wirausahawan, haruslah mampu melihat
kedepan dan bukan melamun atau omong kosong. harus dapat melihat kondisi
masa depan, apa yang akan terjadi dan bagaimana menangkap peluang yang
ada, berpikir dengan penuh perhitungan, menentukan pilihan yang jitu dari
berbagai alternatif solusi yang akan diselesaikan tanpa masalah yang timbul.
Oleh karena itu, seseorang haruslah memiliki karakter dan sifat-sifat sebagai
berikut.61
1. Percaya Diri (PD)
Orang yang percaya dirinya tinggi adalah orang yang sudah matang
secara jasmani maupun rohani. Karakteristik kematangan seseorang adalah
ia tidak tergantung pada orang lain, memiliki rasa tanggung jawab yang
tinggi, objektif, dan kritis. Memiliki emosi yang stabil, tidak gampang
61
Pasaribu, Op.Cit, hlm. 53-71.
45
tersinggung atau naik pitam. Tingkat sosialnya pun tinggi, mau menolong
orang lain, dan yang paling tinggi lagi ialah kedekatannya dengan khaliq
sang pencipta, Allah SWT. Diharapkan wirausahawan seperti ini betulbetul dapat menjalankan usahanya secara mandiri, jujur, dan disenangi
oleh semua relasinya.
2. Bekerja Keras
Kerja keras merupakan modal dasar keberhasilan seseorang.
Rasullullah sangat marah melihat orang pemalas dan suka berpangku
tangan. Sikap kerja keras harus dimiliki seorang wirausahawan. Dalam hal
ini, unsur disiplin memainkan peranan penting.
3. Kalahkan Mitos
Jika ada yang mengatakan bahwa wirausaha dihasilkan dari bakat
dan keturunan atau wirausaha diawali dengan memiliki uang yang banyak,
lupakan hal itu. Semua itu hanyalah disebabkan kurangnya pemahaman
tentang kewirausahaan. Sesungguhnya akal, pikiran, karsa, semangat,
kesempatan, waktu pendidikan, dan pengalaman merupakan benda abstrak
yang dijadikan sebagai modal yang tak ternilai serta sangat menentukan
keberhasilan dalam berbisnis dan dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Kepemimpinan
Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing
individu. Pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dari bawahan. Ia
harus bersifat responsive.
5. Keaslian Ide
46
Sifat orisinal ini tentu tidak selalu ada pada diri seseorang. Yang
dimaksud orisinal di sini ialah ia tidak hanya mengekor orang lain, tetapi
memiliki pendapat sendiri, ada kemampuan untuk melaksanakan sesuatu.
Bobot kreativitas orisinal suatu produk akan tampak pada sejauh mana ia
berbeda dari apa yang sudah ada sebelumnya.
6. Berorientasi ke Masa Depan
Seorang wirausaha haruslah perspektif, mempunyai visi kedepan,
apa yang hendak dilakukan, apa yang ingin dicapai. Sebuah usaha bukan
didirikan untuk sementara, tetapi untuk selamanya. Seorang wirausaha
akan menyusun perencanaan dan strategi dengan matang agar langkahlangkah yang akan dilaksanakan menjadi jelas.
7. Otak Kiri dan Otak Kanan
Seorang wirausahawan adalah mereka yang cenderung didominasi
oleh otak kanan. Itulah yang mendorong cara kerja mereka intuitif dan
inisiatif, seakan-akan memiliki indra keenam.
8. Kreativitas
Sifat kreativitas seorang wirausaha menuntut adanya kreativitas
dalam pelaksanaan tugasnya. Contoh kegiatan kreativitas : seorang
wirausaha membuat berbagai kreasi dalam kegiatan usahanya, seperti
susunan barang, pengaturan rak pajangan, menyebarkan brosur promosi,
dan sebagainya. Jadi kreativitas adalah kemampuan untuk membuat
kombinasi-kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antara
unsur, data, variabel yang sudah ada sebelumnya.
47
9. Hubungan Kreativitas dengan Intelegensi
Kreativitas dan Intelegensi mempunyai perbedaan. Orang yang
kreatif belum tentu intelegensinya tinggi, dan sebaliknya. Bagi kalangan
wirausaha, tingkat kreativitas akan sangat menunjang kemajuan bisnisnya.
10. Konsep 10 dari Bygrave
Beberapa karakteristik dari wirausahawan yang berhasil memiliki
sifat-sifat yang dikenal dengan istilah 10 Bygrave. Yaitu:
a) Mimpi
b) Ketegasan
c) Orang yang Lalim
d) Penentuan
e) Dedikasi
f) Kesetiaan
g) Rincian
h) Takdir
i) Dolar
j) Mendistribusikan
11. Kelemahan Wirausaha Indonesia
Heidjrachman Ranu Pandojo menulis bahwa kelemahan orang kita
bersumber pada kehidupan penuh raga, tanpa pedoman, dan tanpa orientasi
yang tegas. Secara lebih rinci kelemahan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Sifat mental yang meremehkan mutu
48
b) Sifat mental yang suka menerabas
c) Sifat yang tak percaya kepada diri sendiri
d) Sifat tak berdisiplin murni
e) Sifat mental yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh
12. Pemanfaatan Waktu Luang
Firman Allah SWT yang artinya “Demi waktu, sungguh manusia
itu merugi, kecuali bagi orang-orang yang beriman, yang shalat, saling
berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran”. Artinya kita harus
menggunakan waktu untuk kegiatan-kegiatan produktif sekarang dan
untuk masa yang akan dating.
Fadel Muhammad menyatakan bahwa ada tujuh ciri yang merupakan
identitas yang melekat pada diri seorang wirausaha.62
1. Kepemimpinan
Ini adalah faktor kunci bagi seorang wirausaha. Seorang wirausaha
akan sangat memperhatikan orientasi pada sasaran, hubungan kerja/
personal, dan efektivitas. Pemimpin yang berorientasi pada ketiga faktor di
atas senantiasa tampil hangat, mendorong pengembangan karier stafnya,
disenangi bawahan, dan selalu ingat pada sasaran yang hendak dicapai.
2. Inovasi
62
Ibid, hlm. 58-60.
49
Inovasi yang dimaksud bukanlah suatu temuan yang luar biasa,
tetapi suatu temuan yang menyebabkan berdaya gunanya sumber ekonomi
ke arah yang lebih produktif.
3. Cara Pengambilan Keputusan
Orang-orang yang dapat memecahkan masalah secara kreatif sadar
bahwa kedua Hemisphere otak melakukan proses pemikiran.
4. Sikap Tanggap Terhadap Perubahan
Pada wirausahawan sikap tanggap terhadap perubahan relative
lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Setiap perubahan dianggap
mengandung peluang yang merupakan masukan dan rujukan terhadap
pengambilan keputusan.
5. Bekerja dan Ekonomis dan Efisien
Seorang wirausaha melakukan kegiatannya dengan gaya Smart
(cerdas, pintar, bijak), bukan bergaya seorang mandor. Ia bekerja keras,
ekonomis,dan efesien guna mencapai hasil maksimal.
6. Visi Misi Depan
Visi ibarat benang merah yang tidak terlihat, yang ditarik sejak
awal hingga keadaan yang terakhir. Visi pada hakikatnya merupakan
pencerminan komitmen-kompetensi-konsistensi.
7. Sikap terhadap Resiko
Seorang
wirausahawan
penanggung risiko.
adalah
penentu
risiko
dan
bukan
50
Berdasarkan pendapatan para ahli di atas, hasil diskusi, dan beberapa
hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat dirangkum beberapa
karakteristik kewirausahaan yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha yang
dibagi kedalam lima golongan besar63 yaitu:
1. Memiliki motivasi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup,
karakteristik ini terdiri atas:
a. Pekerja keras (Hard Worker).
b. Tidak pernah menyerah (Never Surrender).
c. Memiliki semangat (Spirit).
d. Memiliki komitmen (Comitted) yang tinggi.
2. Orientasi ke masa depan, karakteristik terdiri atas:
a. Visioner.
b. Berpikir positif (Positive Thingking).
c. Memiliki pengetahuan (Knowledge) yang luas.
3. Memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul, karakteristik ini terdiri atas:
a. Keberanian untuk bertindak (Dare to Act).
b. Membangun tim yang baik (Good Team Leader).
c. Berpikir dan berjiwa besar.
d. Berani mengambil risiko.
e. Having mentor.
f. Pikiran yang terbuka (Open Minded).
63
Suryana, Op.cit, hlm. 64.
51
g. Kepercayaan (Trusted).
4. Memiliki jaringan usaha yang luas, karakteristik ini terdiri atas:
a. Jaringan kerja (Net Worker).
b. Teman (Friends).
c. Kerja sama (Cooperative).
5. Tanggap dan kreatif mnghadapi perubahan, karakteristik ini terdiri atas:
a. Berpikir kritis (Critie).
b. Menyenangkan.
c. Proaktif.
d. Kreatif.
e. Inovatif.
f. Efisien.
g. Produktif.
h. Orsinal.
D. Prinsip-prinsip Entrepreneurship
Persaingan yang sangat ketat menyebabkan manusia. Secara pribadi
berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dengan usaha sendiri tanpa bantuan
orang lain. Hal ini dapatlah dimaklumi karena setiap manusia ingin agar
usahanya berhasil dan hasil itu untuk dirinya sendiri tanpa melibatkan orang
lain. Selain alasan di atas ada juga manusia yang tidak mau di bawah perintah
orang lain, maka timbullah suatu pemikiran untuk melakukan suatu usaha
52
sendiri atau dengan kata lain mereka berwirausaha untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya.
Untuk dapat berwirausaha secara berhasil perlu sekali untuk di
perhatikan prinsip-prinsip dibawah ini64 :
1. Mengenal Potensi Diri
Sebelum melangkah untuk melakukan suatu usaha seseorang harus
mampu mengenal dirinya sendiri, baik berupa kelemahan maupun potensi
yang ada dalam dirinya. Hal ini sangat penting untuk dijadikan suatu
modal dalam menjalankan wirausaha.
2. Berani Menghadapi Tantangan
Keberanian untuk menghadapi tantangan harus menjadi suatu
prinsip yang mengakar kuat bagi seseorang yang akan berwirausaha agar
apa yang akan menjadi usahanya dapat berkelanjutan.
3. Mental yang Tangguh dan Berkemauan Keras
Seorang wirausaha yang baik pasti akan memegang prinsip
berkemauan keras dan bermental yang tangguh agar ia dapat memiliki
suatu semangat agar usaha yang dilakukan memiliki grafik yang stabil
bahkan grafik naik.
4. Disiplin Diri
Disiplin diri sangat penting karena seorang wirausahawan tidak
terikat atau dibawah orang lain untuk itu ia perlu mendisiplinkan dirinya
sendiri.
5. Hemat dan Cermat
64
Tarmudji, Op.Cit, hlm. 11-18.
53
Yang dimaksud dengan prinsip hemat dan cermat yaitu suatu
kemampuan untuk memanfaatkan keuangan sesuai dengan kebutuhan dan
keuangan
tersebut
harus
dikeluarkakn
apabila
diperlukan
untuk
menunjang kemajuan usaha.
6. Keterbukaan
Keterbukaan yang dimaksud di sini adalah bahwa setiap orang yang
berwirausaha harus mau untuk menerima saran-saran dari orang lain yang
berguna untuk kemajuan usahanya. Keterbukaan merupakan langkah awal
untuk menuju bijaksana karena saran-saran dan kritik yang bersifat
membangun dan membantu bagi wirausahawan dalam mengambil
kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan usaha yang sedang
dilakukan.
7. Wibawa dan Jujur
Kewibawaan merupakan suatu alat yang dimiliki oleh seorang
untuk membuat orang lain menghormati segala keputusan yang diambil.
Selain wibawa seorang wirausaha yang sedang melaksanakan usahanya
harus memiliki prinsip kejujuran karena dengan kejujuran maka orang lain
akan senantiasa mempercayai terhadap hasil produk yang dibuat oleh
wirausahawan tersebut.
8. Percaya Diri
Kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor keberhasilan dan
kegagalan oleh sebab itu, dalam menjalankan wirausaha seseorang harus
melihat kemampuan diri dalam menjalankan suatu kegiatan usaha.
54
Keberhasilan akan menambah keyakinan seseorang akan dirinya sendiri.
Keberhasilan akan menolong seseorang untuk melakukan pekerjaan atau
usaha yang lebih besar.
9. Berpegang pada Program
Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam berwirausaha seseorang
harus menetapkan planning atau program yang berkaitan dengan bidang
usaha yang dilaksanakan. Dengan program yang jelas akan sangat
membantu kegiatan berwirausaha menuju keberhasilan.
10. Modal Kecil Hasil Besar
Keberhasilan wirausaha ditentukan juga oleh besar kecilnya untung
yang diperoleh tiap kali melaksanakan usaha. Oleh sebab itu kalau ingin
ada perkembangan seorang wirausahawan harus mampu menghasilkan
keuntungan.
11. Memperhatikan Kebutuhan Konsumen
Dalam melakukan wirausaha seseorang harus memperhatikan
kebutuhan diri konsumen atau langganannya. Dalam menjalankan
wirausaha jangan sekali-kali melakukan suatu tindakan penipuan atau
tindakan yang dapat merugikan konsumen yang dapat berakibat hilangnya
kepercayaan konsumen tersebut. Kepercayaan konsumen merupakan suatu
modal yang besar untuk mengembangkan usaha menuju suatu usaha yang
lebih besar lagi.
12. Tepat Waktu
55
Setiap kegitan wirausaha harus memiliki prinsip tepat waktu dalam
menyelesaikan suatu kegiatan.
13. Memperhatikan Keadaan Pasar
Dalam melaksanakan usaha harus berpegang prinsip sesuai keadaan
pasar. Setiap tindakan wirausaha yang ceroboh tanpa memperhatikan
kebutuhan pasar akan dapat menimbulkan kerugian yang besar bahkan
dapat menimbulkan kebangkrutan.
14. Teliti
Prinsip ketelitian juga perlu untuk dimiliki dalam berwirausaha agar
usaha yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Ketelitian dalam
mengerjakan pekerjaan merupakan langkah untuk mengurangi kesalahan.
15. Mandiri
Seorang wirausahawan yang baik pasti akan berusaha untuk
mengerjakan segala sesuatu berdasarkan kekuatan dan kemampuannya
sendiri tanpa memikirkan pertolongan orang lain terlebih dahulu.
16. Berpedoman pada Pengalaman
Dalam
melaksanakan
wirausaha
prinsip
berpedoman
pada
pengalaman jangan sampai dilupakan karena setiap orang yang ingin
berhasil harus mau belajar dari pengalaman.
17. Manejemen yang Baik
56
Seorang wirausahawan akan mampu mengendalikan usahanya
dengan baik dan berhasil apabila ia menggunakan sistem manajemen yang
tepat dan baik.
18. Kreatif
Seorang wirausahawan yang baik akan mampu dengan kreatif
melihat celah-celah penting bagi kegiatan wirausahanya untuk menuju
keberhasilan. Ia harus kreatif dalam membuat suatu produk barang atau
jasa (dalam hal model) disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan pasar.
19. Bijaksana
Seseorang yang ingin berhasil dalam kegiatan wirausahanya harus
mempunyai satu prinsip bahwa ia harus bijaksana dalam mengambil setiap
keputusan baik yang berhubungan dengan kegiatan wirausahanya maupun
dengan orang-orang terlibat atau membantu kegiatan wirausaha yang
sedang ia kerjakan. Yang dimaksud dengan kebijaksanaan atau berlaku
bijaksana adalah suatu kemampuan seseorang untuk menentukan sikap
dan mengambil suatu keputusan dengan melihat beberapa aspek yang
mempengaruhinya.
Prinsip-prinsip etika dan prilaku bisnis menurut pendapat Michael
Josephson (1998) yang dikutip zimmerer (1996:27-28), secara universal, ada
10 prinsip etika yang mengarahkan perilaku65, yaitu:
65
Anwar, Op.Cit, hlm. 97-98.
57
1. Kejujuran, yaitu penuh kepercayaan, bersifat jujur, sungguh-sungguh,
terus terang, tidak curang, tidak mencuri, tidak menggelapkan, tidak
berbohong.
2. Integritas, yaitu memegang prinsip melakukan kegiatan yang terhormat,
tulus hati, berani dan penuh pendirian/keyakinan, tidak bermuka dua, tidak
berbuat jahat, dan dapat dipercaya.
3. Memelihara janji, yaitu selalu menaati janji, patut dipercaya, penuh
komitmen, patuh, tidak menginteprestasikan persetujuan dalam bentuk
teknikal atau legalistic dengan dalil ketidak relaan.
4. Kesetiaan, yaitu hormat dan loyal kepada keluarga, teman, karyawan, dan
Negara, tidak menggunakan atau memperlihatkan informasi rahasia, begitu
juga dalam suatu konteks professional, menjaga/melindungi kemampuan
untuk membuat keputusan professional yang bebas dan teliti, dan
menghindari hal yang tidak pantas serta konflik kepentingan.
5. Kewajaran dan keadilan, yaitu berlaku adil dan berbudi luhur, bersedia
mengakui kesalahan, memperlihatkan komitmen keadilan, persamaan
perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, serta tidak bertindak
melampaui batas atau mengambil keuntungan professional yang bebas dan
teliti, dan menghindari hal yang tidak pantas serta konflik kepentingan.
6. Suka membantu orang lain, yaitu saling membantu, baik hati, tolongmenolong, kebersamaan, dan memnghindari segala sesuatu yang
membahayakan orang lain.
58
7. Hormat kepada orang lain, yaitu menghormati martabat orang lain,
kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri bagi semua orang, bersopan
santun, tidak merendahkan dan memperlakukan martabat orang lain.
8. Warga Negara yang bertanggung jawab, yaitu selalu mentaati hukum atau
aturan, penuh kesadaran sosial, dan menghormati proses demokrasi dalam
pengambilan keputusan.
9. Mengejar keunggulan, yaitu mengejar keunggulan dalam segala hal, baik
dalam pertemuan personal ataupun pertanggung jawaban professional,
tekun, dapat dipercaya/diandalkan, rajin penuh komitmen, melakukan
semua tugas dengan kemampuan terbaik, dan mengembangkan serta
mempertahankan tingkat kompetensi yang tinggi.
10. Dapat dipertanggung jawabkan, yaitu memiliki dan menerima tanggung
jawab atas keputusan dan konsekuensinya serta selalu memberi contoh.
Download