tugas dan wewenang presiden, dpr, bpkp dan

advertisement
TUGAS DAN WEWENANG PRESIDEN, DPR, BPKP
DAN MAHKAMAH KONSTITUSI(MK)
DISUSUN OLEH
NAMA
: RICKI SETIAWAN
NIM
: 11.02.7939
KELOMPOK
:A
JURUSAN
: D3 MANAJEMEN INFORMATIKA
DOSEN
: Drs. KHALIS PURWANTO. MM
ABSTRAK
Kondisi bangsa saat ini mencerminkan bahwa Pancasila dirasakan belum
dipraktekkan secara langsung. Segala perpecahan dan konflik yang terjadi sungguh tidak
mencerminkan Jati diri Bangsa.
Pancasila yang dijadikan sumber hukum dalam melaksanakan kehidupan
berbangsa dan bernegara, kini sudah terjadi penyelewengan dalam melaksanakannya. R
Ketidak selarasan paham menjadikan sumber hukum hanya sebagai identitas saja. Butir –
butir makna pancasila-pun sudah tanpa makna lagi. Kejahatan – kejahatan terjadi
dikarenakan ketidak pahaman akan makna dari butir-butir pancasila.
Perampasan hak dan penghilangan nyawa merupakan salah satu penyimpangan
nilai sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Kejahatan ini bertujuan perampas hak
manusia untuk hidup ataupun mendapatkan hak dari negara dimana dia hidup.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Diskursus mengenai lembaga-lembaga Negara selalu menjadi bahasan yang menarik,
UUD 1945 belum memberikan batasan yang jelas antara wewenang Lembaga Eksekutif,
Yudikatif dan Legislatif, fenomena yang terjadi selama 4 dekade terakhir ini bahkan
menunjukan kecenderungan pengaturan sistem bernegara yang lebih berat ke Lembaga
Eksekutif. Posisi Presiden sebagai kepala Negara sekaligus sebagai kepala pemerintah
yang tidak jelas batasan wewenangnya semakin mendorong kecenderungan ini kearah
yang negatif. UUD 1945 memberikan wewenang tertentu kepada Presiden dalam
menjalankan tugas pemerintahan, namun demikian pemberian wewenang tersebut tidak
diikuti dengan batasan-batasan terhadap penggunaannya. Soekarno, mantan Presiden RI,
dalam rapat pertama panitia persiapan kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945
menyatakan bahwa UUD 1945 adalah “UUD Kilat” ini dikarenakan mendesaknya
keinginan untuk memproklamasikan kemerdekaan pada saat itu sehingga insfrastruktur
bagi sebuah Negara yang merdeka harus segera disiapkan, hal ini menyebabkan UUD
1945 menjadi UUD yang singkat.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
A. Tugas Dan Wewenang Presiden
Presiden Republik Indonesia dalam menjalankan tugas sebagai kepala Negara dibantu oleh
satu orang wakil Presiden(Wapres) dan dibantu oleh Mentri-Mentri yang masing-masing
Mentri mengepalai bidang-bidang tertentu. Presiden memiliki kewenangan dan kekuasaan
untuk melakukan hal-hal tersebut di bawah ini,
1. Menetapkan dan mengajukan anggota dari hakim Konstitusi.
2. Mengangkat duta dan konsul untuk Negara lain dengan pertimbangan DPR.
3. Menerima duta dari Negara lain dengan pertimbangan DPR.
4. Memberikan Grasi dan Rehabilitasi dengan pertimbangan dari MA(Mahkamah Agung).
5. Memberikan Amnesti dan Abolisasi Rehabilitasi dengan pertimbangan dari DPR.
6. Memegang kekuasan tertinggi atas AU(Angkatan Udara), AD(Angkatan Darat) dan
AL(Angkatan Laut)
7. Menyatakan keadaan bahaya yang syarat-syaratnya ditetapkan oleh Undang-Undang.
8. Menyatakan perang dengan Negara lain, damai dengan Negara lain dan perjanjian
dengan Negara lain dengan persetujuan DPR.
9. Membuat perjanjian yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mempengaruhi beban
keuangan Negara dan mengharuskan adanya perubahan/pembentukan Undang-Undan
harus dengan persetujuan DPR.
B. Deskripsi Umum Pelaksanaan Kekuasaan Presiden Dimasa Orde
Baru
Dalam banyak literatur telah dinyatakan bahwa UUD 1945 memberikan kekuasaan yang
besar pada Presiden RI untuk menyelenggarakan roda kenegaraan, Ismail Suny membagi
kekuasaan Presiden RI berdasarkan UUD 1945 menjadi :
1. Kekuasaan Administratif
2. Kekuasaan Legislatif
3. Kekuasaan Yudikatif
4. Kekuasaan Militer
5. Kekuasaan Diplomatik
6. Kekuasaan Darurat
Sedangkan H.M. Ridwan Indra dan Satya Arinanto membaginya kedalam :
1. Kekuasaan dalam bidang Eksekutif
2. Kekuasaan dalam bidang Legislatif
3. Kekuasaan sebagai kepala Negara
4. Kekuasaan dalam bidang Yudikatif
Kekuasaan Presiden yang luas tersebut tercakup dalam fungsinya sebagai kepala Negara,
kepala pemerintahan dan sekaligus Mandataris MPR. Praktek kenegaraan dan politik yang
dalam sejarah mendasarkan dirinya pada UUD 1945, ternyata cenderung memanfaatkan
secara negatif peluang yang diberikan UUD 1945 yaitu : Kekuasaan yang sangat besar
yang terpusat pada lembaga kepresidenan. Soekarno menjalankan kekuasaannya dengan
mengunakan konsep demokrasi terpimpin. Konsep ini telah terbukti mengandung
karakteristik otoritarian yang kental, dengan terpusatnya kekuasaan pemerintahan pada
satu orang saja.
C. Tugas dan wewenang DPR
1. Membentuk UUD yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama
peraturan pemerintah pengganti UUD menerima dan membahas usulan RUU yang
diajukan DPD yang berkaitan dengan bidang tertentu dalam pembahasan
2. Menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD
3. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan UU, APBN, serta kebijakan
pemerintah
4. Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD
5. Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan
Negara yang disampaikan oleh BPK
6. Memberikan persetujuan kepada Peresiden atas pengangkatan dan pemberhentian
anggota.
D.Tugas dan wewenang BPKP
D.1 Sejarah Singkat BPKP
Sejarah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak dapat
dilepaskan dari sejarah panjang perkembangan lembaga pengawasan sejak sebelum era
kemerdekaan. Dengan besluit Nomor 44 tanggal 31 Oktober 1936 secara eksplisit
ditetapkan bahwa Djawatan Akuntan Negara (Regering Accountantsdienst) bertugas
melakukan penelitian terhadap pembukuan dari berbagai perusahaan negara dan jabatan
tertentu. Dengan demikian, dapat dikatakan aparat pengawasan pertama di Indonesia
adalah Djawatan Akuntan Negara (DAN). Secara struktual DAN yang bertugas
menguasai pengelolaan perusahaan negara berada dibawah Thesauri Jenderal pada
Kementrian
Keuangan.
Dengan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1961 tentang Instruksi bagi Kepala
Djawatan Akuntan Negara (DAN), kedudukan DAN dilepas dari Thesauri Jenderal dan
ditingkatkan kedudukannya langsung di bawah Menteri Keuangan. DAN merupakan
alat pemerintah yang bertugas melakukan semua pekerjaan akuntan bagi pemerintah
atas semua departemen, jabatan, dan instansi di bawah kekuasaannya. Sementara itu
fungsi pengawasan anggaran dilaksanakan oleh Thesauri Jenderal. Selanjutnya dengan
Keputusan Presiden Nomor 239 Tahun 1966 dibentuklah Direktorat Djendral
Pengawasan Keuangan Negara (DDPKN) pada Departemen Keuangan. Tugas DDPKN
(dikenal kemudian sebagai DJPKN) meliputi pengawasan anggaran dan pengawasan
badan usaha/jabatan, yang semula menjadi tugas DAN dan Thesauri Jenderal.
DJPKN mempunyai tugas melaksanakan pengawasan seluruh pelaksanaan anggaran
negara, anggaran daerah, dan badan usaha milik negara/daerah. Berdasarkan Keputusan
Presiden Nomor 70 Tahun 1971 ini, khusus pada Departemen Keuangan, tugas
Inspektorat Jendral dalam bidang pengawasan keuangan negara dilakukan oleh DJPKN.
Dengan diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tanggal 30 Mei 1983.
DJPKN ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah lembaga pemerintah non departemen
(LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Salah
satu pertimbangan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tentang
BPKP adalah diperlukannya badan atau lembaga pengawasan yang dapat melaksanakan
fungsinya secara leluasa tanpa mengalami kemungkinan hambatan dari unit organisasi
pemerintah yang menjadi obyek pemeriksaannya. Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun
1983 tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah telah meletakkan struktur organisasi
BPKP sesuai dengan proporsinya dalam konstelasi lembaga-lembaga Pemerintah yang
ada. BPKP dengan kedudukannya yang terlepas dari semua departemen atau lembaga
sudah barang tentu dapat melaksanakan fungsinya secara lebih baik dan obyektif.
Tahun 2001 dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 103 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah,terakhir dengan Peraturan
Presiden No 64 tahun 2005. Dalam Pasal 52 disebutkan, BPKP mempunyai tugas
melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
D.2 Tugas dan Wewenang BPKP
Sesuai dengan Pasal 52, 53 dan 54 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103
Tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan
Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, BPKP mempunyai tugas melaksanakan
tugas Pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
Dalam melaksanakan tugas, BPKP menyelenggarakan fungsi :
yang
berlaku.
a. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
b. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
c. koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP;
d. pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan
keuangan dan pembangunan;
e. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan
umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan,
hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
Dalam menyelenggarakan fungsi tersebut, BPKP mempunyai kewenangan :
a. penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;
b. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;
c. penetapan sistem informasi di bidangnya;
d. pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi
pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi di bidangnya;
e. penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga
profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidangnya;
f. kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
yaitu :
1. memasuki semua kantor, bengkel, gudang, bangunan, tempat-tempat
penimbunan, dan sebagainya;
2. meneliti semua catatan, data elektronik, dokumen, buku perhitungan, surat-surat
bukti, notulen rapat panitia dan sejenisnya, hasil survei laporan-laporan
pengelolaan, dan surat-surat lainnya yang diperlukan dalam pengawasan;
3. pengawasan kas, surat-surat berharga, gudang persediaan dan lain-lain;
4. meminta keterangan tentang tindak lanjut hasil pengawasan, baik hasil
pengawasan BPKP sendiri maupun hasil pengawasan Badan Pemeriksa
Keuangan, dan lembaga pengawasan lainnya.
D.3 Kegiatan-Kegiatan BPKP
Kegiatan BPKP dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu:
1. Audit
2. Konsultasi, asistensi dan evaluasi
3. Pemberantasan KKN, dan
4. Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan
D.4 Audit
Kegiatan audit mencakup:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Laporan Keuangan dan Kinerja BUMN/D/Badan Usaha Lainnya
Pemanfaatan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri
Kredit Usaha Tani (KUT) dan Kredit Ketahanan Pangan (KKP)
Peningkatan Penerimaan Negara, termasuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Dana Off Balance Sheet BUMN maupun Yayasan yang terkait
Dana Off Balance Budget pada Departemen/LPND
Audit Tindak Lanjut atas Temuan-Temuan Pemeriksaan
Audit Khusus (Audit Investigasi) untuk mengungkapkan adanya indikasi praktik Tindak
Pidana Korupsi (TPK) dan penyimpangan lain sepanjang hal itu membutuhkan keahlian
di bidangnya
Audit lainnya yang menurut pemerintah bersifat perlu dan urgen untuk segera dilakukan
D.5 Konsultasi, asistensi dan evaluasi
Di bidang konsultasi, asistensi dan evaluasi, BPKP berperan sebagai konsultan bagi para
stakeholders menuju tata pemerintahan yang baik (good governance), yang mencakup:
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP), Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
(SAKD), Good Corporate Governance (GCG) pada Badan Usaha Milik Negara/Badan
Usaha Milik Daerah.
D.6 Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan
Di bidang pendidikan dan pelatihan pengawasan, BPKP menjadi instansi pembina untuk
mengembangkan Jabatan Fungsional Auditor (JFA) di lingkungan instansi pemerintah.
Setiap auditor pemerintah harus memiliki sertifikat sebagai Pejabat Fungsional Auditor.
Pusat
Pendidikan
dan
Pelatihan
Pengawasan
(Pusdiklatwas)
BPKP
berperan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sertifikasi kepada seluruh auditor
pemerintah.
E. Tugas dan Wewenang Mahkamah Konstitusi (MK)
Tugas dan Wewenang Mahkamah Konstusi menurut UUD 1945 adalah :
1. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang keputusannya bersifat final
untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
kewewenangan lembaga Negara yang kewewenangannya diberikan oleh UUD1945, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum.
2. Wajib memberi keputusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan
pelanggaran oleh Presiden atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.
Catatan :
Sejarah berdirinya lembaga Mahkamah Konstitusi diawali dengan perubahan ketiga
UUD 1945 dalam Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C, dan Pasal 7B yang disahkan pada 9
November 2001. Setelah disahkannya perubahan ketiga UUD 1945, maka dalam rangka
menunggu pembentukan Mahkamah Konstitusi, MPR menetapkan Mahkamah Agung
menjalankan fungsi MK untuk sementara sebagaimana diatur dalam Pasal III Aturan
Peralihan UUD 1945 hasil perubahan keempat.
DPR dan pemerintahan kemudian membuat Rancangan Undang-Undang tentang Mahkamah
Konstitusi. Setelah melalui pembahasan mendalam, DPR dan Pemerintah menyetujui secara
bersama Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pada 13
Agustus 2003 dan disahkan oleh Presiden pada hari itu. Dua hari kemudian, pada tanggal 15
Agustus 2003, Presiden mengambil sumpah jabatan para hakim Konstitusi di Istana Negara
pada tanggal 16 Agustus 2003.
Ketua Mahkamah Konstitusi RI yang pertama adalah Prof . Dr. Jimly Asshiddiqie SH. Guru
besar hukum tata Negara Universitas Indonesia kelahiran 17 April 1956 ini terpilih pada rapat
internal antar anggota hakim Mahkamah Konstitusi tanggal 19 Agustus 2003.
Sumber : http//id.wikipedia.org/wiki/Mahkamah Konstitusi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan saran
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan pokok permasalahan dibawah ini :
Bahwasannya di Indonesia pengaturan hukum tentang judicial review menjadi suatu hal yang
diperdebatkan secara serius sejak founding fathers membicarakan tentang Undang-Undang
Dasar yang akan diberlakukan apabila Indonesia telah merdeka. Apakah akan memasukkan
judical review atau tidak dalam Konstitusinya.
Sepanjang sejarah kekuasaan kehakiman di Indonesia, kebebasan kekuasaan kehakiman,
selalu mengalami pasang surut, artinya selalu menjadi perdebatan tergantung kondisi sosial
politik yang melingkupi system peradilan dan kekuasaan kehakiman.
Mahkamah Konsttitusi merupakan hal yang baru, namun mengenai sistem Negara hukum,
sudah sejak berdiri Indonesia menganut Negara hukum. Hal ini tercantum dengan jelas dalam
penjelasan UUD tahun 1945 (sebelum diamandemen) yang menyatakan antara lain bahwa
Indonesia adalah Negara yang berlandaskan atas hukum (rechstaat), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (machstaat).
Sebelum amandemen, UUD tahun 1945 kewewenangan kekuasaan kehakiman (peradilan)
berada pada Mahkamah Agung, sebagaimana diatur dalam pasal 24 UUD tahun 1945.
Kewenangan ini yang diatur dalam peraturan perundangan yang lain yaitu Pasal 11 ayat (4)
Ketetapan MPR RI No. III/MPR/1978 tentang kedudukan dan hubungan tata kerja lembaga
tinggi Negara atau antar lembaga tinggi Negara, yang berbunyi : Mahkamah Agung
mempunyai wewenang menguji secara materil hanya terhadap peraturan perundangundangan dibawah undang-undang, Pasal 31 UU No. 14 tahun 1970 jo Undang-Undang No.
31 Tahun 1999 tentang ketentuan pokok-pokok kekuasaan kehakiman.
DAFTAR PUSTAKA
Ismai Suny, Buku UUD 1945, Kewarganegaraan
H.M. Ridwan Indra dan Satya Arinanto
www. Tugas dan wewenang Presiden.co
www.Tugas dan wewenang DPR.co
www.Tugas dan wewenang BPKP
http://www.skripsi-tesis.com
http//id.wikipedia.org/wiki/Mahkamah Konstitusi
Download