LAPORAN PENELITIAN MANUSIA MENURUT SEYYED HOSSEIN

advertisement
LAPORAN PENELITIAN
MANUSIA MENURUT SEYYED HOSSEIN NASR
Oleh :
DRA. HJ. RAFI`AH GAZALI, M.Ag
NIP. 19530423 198603 2 001
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
BANJARMASIN
2013
IDENTIFIKASI PENGESAHAN
1. Judul Penelitian
:
Manusia Menurut Seyyed Hossein Nasr
2. Penelitian
a. Nama
b. NIP
c. Pangkat/ Gol
d. Jabatan Sekarang
e. Bidang Keahlian
f. Fakultas/Jurusan
g. Universitas
:
:
:
:
:
:
:
Dra. Hj. Rafi`ah Gazali, M.Ag
19530423 198603 2 001
Lektor / III/d
Tenaga Pengajar
Pendidikan Agama Islam
FKIP/PGSD
Lambung Mangkurat
:
:
:
:
:
:
:
Dr. H. Sarbaini, M.Pd
19591227 198603 1 003
Lektor Kepala ( IV/c)
Ketua UPT MPK-MBB UNLAM
Pendidikan Nilai
FKIP / PKn
Lambung Mangkurat
3. Pembimbing
a. Nama
b. NIP
c. Pangkat/Gol
d. Jabatan Sekarang
e. Bidang Keahlian
f. Fakultas/ Jurusan
g. Universitas
4. Sumber Dana Penelitian
: Mandiri
5. Jangka Waktu Penelitian : 3 (Tiga) Bulan
Banjarmasin, 10 September 2013
Dekan FKIP
Peneliti,
Drs. H. Ahmad Sofyan, M.A
NIP. 19511110 197703 1 003
Dra. Hj. Rafi`ah Gazali, M.Ag
NIP. 19530423 198603 2 00
Mengetahui,
Kepala Lembaga Penelitian
Dr. Ahmad Alim Bachri, SE.,M.Si
NIP. 19671231 199512 1 002
ii
KATA PENGANTAR
Dengan rasa puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat taufik dan
hidayah-Nya dapatlah peneliti menyelesaikan penelitian dengan berjudul
"Manusia Menurut Seyyed Hossein Nasr".
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW, serta seluruh keluarga, para sahabat dan para pengikut
beliau hingga akhir zaman.
Peneliti menyadari bahwa di dalam penelitian ini banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun material. Hal ini tentunya
tak lepas dari terbatasnya kemampuan yang peneliti miliki, namun walaupun
demikian masih terbersit satu harapan semoga penelitian yang sederhana dan
penuh ketidaksempurnaan ini membawa manfaat. Oleh sebab itu dalam
kesempatan ini peneliti menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak, terutama kepada yang terhormat:
1. Bapak Dekan FKIP Banjarmasin Drs.H. Ahmad Sofyan, MA yang berkenan
menyetujui penelitian ini.
2. Bapak Drs. H.Sarbaini,M.Pd. selaku pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti dalam penelitian ini.
3. Pimpinan Perpustakaan UNLAM Banjarmasin beserta staf yang telah
memberikan jasa pelayanan yang baik dalam peminjaman buku-buku yang
diperlukan peneliti.
Akhirnya, peneliti hanya dapat berdo'a, semoga segala bantuan, bimbingan
dan pengarahan yang telah diberikan kepada peneliti mendapat ganjaran yang
berlipat ganda. Semoga penelitian mandiri ini bermanfaat bagi peneliti khususnya
dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan umumnya,
amien.
Banjarmasin, 10 September 2013
Peneliti,
Dra.Hj. Rafi`ah Gazali, M.Ag
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................
i
IDENTIFIKASI PENGESAHAN ................................................................
ii
KATA PENGANTAR .................................................................................
iii
DAFTAR ISI ................................................................................................
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .........................................................
1
B. Perumusan Masalah ................................................................
6
C. Penegasan Judul .....................................................................
6
D. Tujuan Penelitian dan Signifikansi Penelitian .......................
7
E. Metode Penelitian...................................................................
8
F. Sistematika Penulisan .............................................................
10
BAB II LATAR BELAKANG HISTORIS SEYYED HOSSEIN NASR
A. Riwayat Hidup dan Pendidikan ..............................................
12
B. Aktivitas ................................................................................
16
C. Karya-Karya ..........................................................................
18
BAB III MANUSIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN TUHAN
MENURUT SEYYED HOSSEIN NASR
A. Hakikat Manusia ...................................................................
24
B. Hubungan Manusia dengan Tuhan ........................................
41
C. Tanggung Jawab dan Hak Manusia ......................................
49
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................
56
B. Saran-saran .............................................................................
57
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................
58
iv
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang manusia dan karakteristiknya, sedikit banyak tidak
dapat terlepas dari sejumlah sistem budaya, tradisi, agama dan filsafat dengan
segala perbedaan latar belakang budaya dan pemikiran yang melingkupinya.
Filsafat manusia telah dirumuskan sebagai suatu refleksi atas pengalaman
manusiawi untuk memperoleh paham tentang kedudukannya yang khas di tengahtengah makhluk lainnya. Dalam refleksi tersebut, eksistensi ditemukan sebagai
suatu pengalaman induk, hingga dinyatakan bahwa dengan keluar dari diri,
manusia menjadi diri.1
Kebudayaan merupakan jawaban khas manusia atas segala macam
situasi yang dihadapinya. Situasi itu beraneka ragam. Manusia sebagai makhluk
biologis berbeda situasi dengan manusia sebagai makhluk sosial, dan lain lagi
dengan manusia sebagai makhluk religius. Situasi juga bisa menjadi lain karena
perbedaan zaman dan daerah. Zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang.
Kebudayan Timur berbeda dengan kebudayaan Barat.2
Hubungan manusia dengan dunia secara khusus nyata dalam
kebudayaan. Lain halnya dengan hewan yang hanya merupakan bagian dari alam
belaka. Interaksi hewan bersifat deterministis. Jawabannya atas segala aksi dari
luar bersifat pasif belaka. Hewan tidak memiliki tanggung jawab dan tidak
1
Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat: Manusia, Paradoks dan Seruan, (Yogyakarta:
Kanusius, 2004), h. 58.
2
Ibid.
1
2
membudaya, sehingga fenomena kebudayaan adalah sesuatu yang khas insani.
Manusia sekaligus bagian dari alam dan bertransendensi terhadapnya. Dunia alam
menjadi dunia budaya berkat manusia dan proses peralihan ini disebut juga
dengan proses humanisasi.3
Alquran telah menjelaskan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di
muka bumi, sebagaimana firman Allah:
ِ ‫ك لِْلماَئِ َك ِة إِ يِ ج‬
ِ
ِ ‫اع ٌل ِِ اأ َْر‬
ْ‫ض َخلِي َفةً قَالُوا‬
َ
َ َ ‫َوإ ْذ قَ َال َرب‬
ِ ‫أ َََعل فِيها من ي ْف ِس ُد فِيها ويس‬
‫يماء َوَْن ُن نُ َسبي ُح َِِ ْم ِد َك‬
‫د‬
‫ال‬
‫ك‬
‫ف‬
َ ُ ْ ََ َ
ُ َ َ ُ َْ
ِ‫ك قَ َال إ‬
َ ٠ : ‫َعلَم َما اَ تَ ْعلَ ُمو َن ُالبقرة‬
‫أ‬
ِ
‫ي‬
َ َ‫يس ل‬
ْ
ُ ‫َونُ َقد‬
ُ
Kemudian dalam ayat:
ِ ‫ْاأ َْر‬
َ ٥ : ‫ ُص‬...‫ض‬
ِِ ً‫اك َخلِي َفة‬
َ َ‫ود إِنا َج َع ْلن‬
ُ ‫يَا َد ُاو‬
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah
yang dalam kajian tematik adalah berarti siapa yang diberi kekuasaan mengelola
wilayah, baik luas maupun terbatas. Pada ayat di atas yaitu Nabi Adam yang
secara potensial diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa
sejarah kemanusiaan, dan Nabi Daud yang diberi tugas mengelola wilayah
Palestina.4
Pertanyaan tentang siapakah manusia, asal-usul dan tugasnya di dunia
sebenarnya adalah pertanyaan yang telah ada sejak lama. Sejarah pemikiran Barat
modern sejak Descartes ditandai dengan usaha menjawab pertanyaan tersebut.
3
4
Ibid, h. 62.
Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1994), h. 158.
3
Dan seiring dengan berkembangnya pemikiran, muncul berbagai aliran
filsafat yang masing-masing memiliki corak pemikiran tersendiri. Salah satu
aliran yang ada ialah filsafat perennial, yaitu sebuah filsafat yang dipandang bisa
menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, yang menjadi hakikat seluruh
agama dan tradisi spiritual manusia.5
Salah satu tokoh dari aliran filsafat ini adalah Seyyed Hossein Nasr.
Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah bahwa manusia modern telah
membakar tangannya dengan api yang dinyalakannya; karena ia telah lupa
siapakah ia sesungguhnya.6
Ungkapan ini disampaikan Nasr dalam mengomentari cara pandang
manusia terhadap alam. Dikatakannya bahwa dunia modern tidak lagi memiliki
horizon spiritual.
Hal itu terjadi bukan karena horizon spiritual itu tak ada, tapi karena
manusia modern – dalam istilah filsafat perennial yang sering diintrodisir
oleh Nasr – “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia modern
melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensinya
itu, tidak pada “pusat spiritualitas dirinya”, sehingga mengakibatkan ia
lupa siapa dirinya. Memang dengan apa yang dilakukannya sekarang –
memberi perhatian pada dunia dan eksistensi di luar dirinya – ia
memperoleh pengetahuan dunia material yang secara kuantitas sangat
mengagumkan, tetapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya –
menyangkut pengertian-pengertian mengenai dirinya sendiri – ternyata
dangkal. Dekadensi atau kejatuhan manusia di zaman modern ini terjadi
karena manusia kehilangan pengetahuan langsung mengenai dirinya itu,
dan menjadi bergantung pada pengetahuan eksternal, yang tak langsung
berhubungan dengan dirinya.7
5
Lihat, Budhy Munawar-Rachman, Pengantar Komarudin Hidayat dan Muhammad
Wahyudi Nafis, Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: Gramedia, 2003), h.
7.
6
Ibid, h. 1.
7
Ibid, h. 2.
4
Dalam pandangan Nasr, manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu
manusia modern dan manusia tradisional, yang terakhir ini disebutnya pula
sebagai manusia suci, sebagaimana dijelaskannya dalam salah satu karyanya:
Konsep tentang manusia suci, pontifex, atau jembatan antara surga
dan bumi, yang merupakan pandangan tradisional anthropos, terletak
pada antipoda konsep manusia modern yang membayangkan manusia
sebagai ciptaan Promethean di bumi, melawan surga dan berusaha
menyalahgunakan peranan Tuhan bagi dirinya sendiri. Manusia suci,
dalam pengertiannya di sini, tidak lain daripada manusia tradisional,
hidup di dalam dunia yang mempunyai Asal maupun Pusat. Dia hidup
dalam kesadaran penuh sejak Asal yang mengandung kesempurnaannya
sendiri dan berupaya untuk menyamai, memiliki kembali, dan
mentransmisikan kesucian awal dan keutuhannya...8
Dari penjelasannya ini, tampak pula bahwa Nasr berusaha menegaskan
bahwa manusia dengan segala karakteristiknya tidak dapat terlepas dari dimensi
ketuhanan, untuk mendapatkan pengetahuan tentang hakikat diri manusia
sebenarnya dapat dilakukan dengan menggali teks-teks keagamaan, tetapi manusia
sekarang cenderung mengabaikannya sehingga ia tidak mengetahui arti kearifan
spiritual dalam kehidupannya.
Menurut Nasr, fungsi kesalehan mausia tidak pernah bisa dipisahkan
dari realitas dan dari mana manusia itu sesungguhnya berasal, inilah sebabnya
mengapa ajaran-ajaran tradisional selalu menggambarkan kebahagiaan manusia di
dalam kesadaran dan kehidupannya menurut alam pontifikalnya, seperti jembatan
antara surga dan bumi. Hukum-hukum keagamaan dan ritus-ritusnya mempunyai
fungsi-sungsi kosmik untuk menyadarkan bahwa tidak mungkin manusia
menghindari tanggung jawab sebagai makhluk yang hidup di bumi yang tidak
8
Seyyed Hossein Nasr, The Knowledge and The Sacred , terj. Suharsono, et. al. dengan
judul Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama, (Depok: Inisiasi Press, 2004), h 185.
5
sekedar berhubungan dengan keduniaan semata, tetapi untuk merefleksikan
kekuasaan Tuhan di dunia.9
Situasi manusia sebagai jembatan antara surga dan bumi
direfleksikan dalam seluruh keberadaan dan seluruh kemampuannya.
Manusia adalah dirinya sendiri, keberadaan alamiah secara supra natural.
Ketika dia berjalan-jalan di muka bumi, pada satu sisi dia muncul sebagai
makhluk bumi; pada sisi yang lain, dia merupakan keberadaan surgawi
yang turun ke keberadaan duniawi. Sebaliknya, memori, pembicaraan
dan imajinasinya ikut serta seketika itu juga dari beberapa tatanan
realitas. Sebagian besar dari inteligensinya merupakan kemampuan
alamiah yang bersifat supra natural...10
Seyyed Hossein Nasr berusaha menjelaskan hakikat diri manusia
melalui perspektif filsafat perennial - yang disebut sebagai filsafat tradisional –
yang pembahasannya justru berbeda dengan perspektif modern yang didasarkan
kepada sains.11 Nasr berkeyakinan bahwa penjelasan tuntas tentang hakikat
manusia dapat ditemukan secara jelas dalam teks-teks tradisional dan keagamaan.
Hal inilah yang menimbulkan ketertarikan peneliti untuk melakukan
penelitian lebih jauh dan mendalam berkenaan dengan pendapat Seyyed Hossein
Nasr tentang manusia, hasil penelitian
tersebut selanjutnya akan dituangkan
dalam dengan judul : “MANUSIA MENURUT SEYYED HOSSEIN NASR”.
B. Rumusan Masalah
9
Ibid, h. 193-194.
Ibid, h. 194.
11
Lihat, Budhy Munawar-Rachman, Op. Cit., h. 5. Lihat juga, Seyyed Hossein Nasr, Op.
Cit., h. 195.
10
6
Masalah pokok yang akan penulis teliti dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana hakikat manusia menurut Seyyed Hossein Nasr?
2. Bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan menurut Seyyed Hossein
Nasr?
3. Apa saja tanggung jawab dan hak manusia menurut Seyyed Hossein Nasr?
C. Penegasan Judul
Agar tidak terjadi kesalahan pengertian dalam memahami kandungan
dari judul tulisan ini, maka penulis memberikan batasan-batasan sebagai berikut :
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia diartikan sebagai
makhluk yang berakal budi yang mampu menguasai makhluk lain 12, adapun
menurut Alquran, manusia dikatakan sebagai makhluk yang lemah, tetapi
memiliki akal dan hati yang diberi tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi
sehingga kedudukannya lebih mulia daripada makhluk ciptaan Allah lainnya.
Seyyed Hossein Nasr adalah seorang tokoh dalam filsafat perennial
yang banyak mengeluarkan karya-karya filsafat yang bernafaskan Islam. Salah
satunya adalah karyanya mengenai manusia modern, yaitu Islam and the Plight of
Modern Man.
Jadi yang dimaksud dengan judul di atas adalah manusia yang berakal
budi yang bertugas sebagai khalifah Allah di bumi dan dinilai lebih mulia dari
makhluk-makluk lainnya menurut Seyyed Hossein Nasr tokoh filsafat perennial
yang memiliki banyak hasil karya yang antara lain berkenaan dengan manusia.
12
558.
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1990), h.
7
D. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manusia menurut Seyyed
Hossein Nasr.
Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui:
1. Hakikat manusia menurut Seyyed Hossein Nasr.
2. Hubungan manusia dengan Tuhan menurut Seyyed Hossein Nasr.
3. Tanggung jawab dan hak manusai menurut Seyyed Hossein Nasr.
Sedangkan signifikansi atau kegunaan dari hasil penelitian ini nantinya
diharapkan dapat berguna untuk :
1. Bahan informasi dan sumbangan pemikiran dalam menambah khazanah
keilmuan Islam terutama dalam bidang filsafat.
2. Untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuan agama bagi penulis pada
khususnya, dan masyarakat lainnya tentang hal-hal yang berkenaan
dengan pembahasan ini.
3. Sumbangan pemikiran dan bahan dasar bagi penelitian selanjutnya yang
lebih mendalam berkenaan dengan manusia.
E. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sifat Penelitian
8
Suatu penelitian memerlukan pola atau metode dalam pemecahan
permasalahan yang ada melalui pendekatan penelitian yang memadai. Hal ini
merupakan suatu yang penting, mengingat bagaimana peneliti mengarahkan
penelitiannya berkaitan dengan sumber data yang digunakan. Dalam penelitian ini
penulis mengunakan metode penelitian kepustakaan (library research), dengan
mengkaji sumber-sumber pokok penelitian ini dari karya Seyyed Hossein Nasr
sendiri ataupun dari karya-karya tokoh yang lain tentang Seyyed Hossein Nasr.
2. Data dan Sumber Data
a. Data
Data yang digali dalam penelitian ini adalah data yang
berkenaan dengan konsep manusia menurut Seyyed Hossein Nasr,
meliputi eksistensi manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan
tanggung jawab serta hak manusia menurut Seyyed Hossein Nasr.
b. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini terbagi dua, yaitu sumber
data primer dan sumber data sekunder.
1) Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data yang berkaitan
langsung dengan masalah yang diteliti, yaitu buku-buku karangan
Seyyed Hossein Nasr, antara lain:
a) Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama
b) Islam dalam Cita dan Fakta
c) Islam dan Nestapa Manusia Modern
9
d) Menjelajah Dunia Modern: Bimbingan Untuk Kaum Muda
Muslim
e) Tasauf Dulu dan Sekarang
f) The Heart Of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam Untuk
Kemanusiaan
2) Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data pendukung dan
penguat dari masalah yang diteliti diantaranya:
a) Hakekat Manusia Menurut Islam, oleh Hadari Nawawi.
b) Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, oleh
Budhy Munawar-Rachman.
c) Antropologi Filsafat, Manusia Paradoks dan Seruan, Adelbert
Snijders.
d) Membumikan Alquran, oleh M. Quraish Shihab.
3. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisa data, penulis menggunakan metode deskriptif
analisis yaitu memaparkan inti pendapat Seyyed Hossein Nasr tentang
manusia sesuai dengan permasalahan yang diangkat.
F. Telaah Pustaka
Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada penelitian dalam bentuk
skripsi di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari yang berkaitan dengan persoalan
manusia dan hubungannya dengan Tuhan menurut Seyyed Hossein Nasr.
10
Yang ada hanya penelitian yang berkaitan dengan permasalahan
postmodernisme dan Islam kontemporer menurut Seyyed Hossein Nasr dan bukan
bertujuan untuk mengetahui konsep manusia menurut Seyyed Hossein Nasr.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Syadzali (1996),
Mahasiswa Program S1 Fakultas Ushuluddin tersebut, tujuan penelitian adalah
untuk mengetahui bagaimana sosok postmodernisme dan hubungannya dengan
Islam kontemporer dengan judul Postmodernisme dan Islam Kontemporer (Studi
Atas Pemikiran Seyyed Hossein Nasr.
Ada pun penelitian yang penulis ajukan, berkaitan dengan permasalahan
yang lain dari pemikiran Seyyed Hossein Nasr, yaitu manusia dan hubungannya
dengan Tuhan menurut Seyyed Hossein Nasr. Tegasnya, penulis melakukan
penelitian terhadap tokoh yang sama - Seyyed Hossein Nasr - tetapi dari sudut
pandang yang berbeda.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan karya ilmiah atau skripsi ini dibagi dalam empat bab
pembahasan yaitu:
Bab I Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah,
penegasan judul, perumusan masalah, tujuan dan signifikansi penelitian, metode
penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II, Latar belakang historis Seyyed Hossein Nasr yang berisi tentang
riwayat hidup dan pendidikan, aktivitas dan karya-karyanya.
11
Bab III, Konsep manusia dan hubungannya dengan Tuhan menurut
Seyyed Hossein Nasr yang berisi eksistensi manusia, hubungan manusia dengan
Tuhan dan tanggung jawab dan hak manusia.
Bab IV, Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
LATAR BELAKANG HISTORIS SEYYED HOSSEIN NASR
A. Riwayat Hidup dan Pendidikan
Seyyed Hossein Nasr lahir di Teheran pada tanggal 7 April 1933. ia
berasal dari keluarga ulama dan fisikawan tradisional. Ayahnya, Seyyed Valiallah,
seorang yang terpelajar dan saleh, adalah dokter kerajaan Iran pada waktu itu
sebagaimana kakeknya. Nama “Nasr” yang berarti “kejayaan” diambil dari gelar
“nasr al-thibb” (kejayaan para dokter) yang dianugerahkan oleh raja Persia
kepada kakeknya. Nasr berasal dari keluarga sufi, salah satu leluhurnya adalah
Mulla Seyyed Muhammad Taqi Poshtmashhad, salah satu sufi terkenal di Kashan,
makamnya yang terletak dekat makam Safavid King Shah Abbis, masih
dikunjungi oleh peziarah sampai sekarang.1
Ayah Nasr adalah seorang dokter yang berpengalaman baik dalam
pengobatan tradisional maupun modern. Ia juga merupakan guru Nasr pertama
yang mengajarinya secara tradisional membaca dan menghafal surah-surah dalam
al-Quran dan syair-syair Persia terkemuka. Pendidikan tradisional Nasr sangat
berpengaruh terhadap perkembangan intelektualnya.2
Nasr muda mendapatkan pendidikan di sekolah umum di dekat
kediamannya. Pendidikan formalnya di sekolah ditambah pula dengan pendidikan
tentang keislaman dan budaya Persia yang didapatkannya dari ayahnya di rumah.
1
Universitas, George Washington, Seyyed Nasr, http://www.gwu.net/ Lecture Platform
BioBox _ Seyyed Nasr.html.
2
Adnan Aslan, Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen: Seyyed Hossein
Nasr dan John Hick, (Bandung: Alfiya, 2004), h. 20.
12
13
Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah berdiskusi secara panjang lebar
dengan ayahnya terutama dalam masalah filsafat dan keagamaan, hal yang sangat
mempengaruhi perkembangan intelektualnya.3 Ayahnya memiliki peran yang
cukup berarti dalam pendidikan awal Nasr, ia juga mengirimkan Nasr untuk
belajar pada beberapa ulama Syi’ah tradisional seperti Thabathaba’i, Hazbini dan
Muthahhari.4
Tahun 1945, setelah Perang Dunia II, pada usia 12 tahun Nasr dikirim ke
luar negeri untuk melanjutkan pendidikan di Barat. Baginya, Barat berarti wilayah
ilmu pengetahuan dan teknologi di mana terdapat keberhasilan dan kemajuan. Ia
mengawali pendidikannya di Peddie School di Highstown, New Jersey pada tahun
1946. di sekolah ini ia menyelesaikan tingkat kedelapan yang sebelumnya telah
dijalaninya di Teheran. Ia lulus dari Peddie dan mewakili kelasnya sebagai
pemberi sambutan.5 Pada kelulusannya ini ia juga mendapatkan penghargaan
Wyclifte Award yang diberikan sekolahnya sebagai penghargaan kepada siswa
dengan prestasi tertinggi. Selama empat tahun menjalani pendidikan di Peddie,
Nasr mempelajari sastra Inggris, sains, sejarah Amerika, kebudayaan Barat dan
agama Kristen.6
Selanjutnya Nasr melanjutkan pendidikannya ke Massachusetter Institute
of Technology di mana ia menjadi mahasiswa Iran pertama. Di sini ia memilih
mempelajari sains, terutama fisika karena terdorong oleh keinginannya untuk
3
The Seyyed Hossein Nasr Foundation, A Biography of Seyyed Hossein Nasr,
http://www.nasrfoundation.org/ Biography _ Dr. Seyyed Hossein Nasr.html
4
Azyumardi Azra, Tradisionalisme Nasr: Eksposisi dan Refleksi Laporan dari Seminar
Seyyed Hossein Nasr, Ulumul Quran, 1993, h. 106.
5
Adnan Aslan, Op. Cit., h. 21.
6
The Seyyed Hossein Nasr Foundation, Op. Cit..
14
mengungkap hakikat sesuatu.7 Di sinilah ia mendapatkan kesadarannya bahwa
“pencapaian akan hakikat realitas sama sekali bukan peran sains modern” dan ini
mendorongnya untuk mempelajari filsafat dan sejarah sains, meskipun secara
formal ia masih belajar fisika dan matematika di M.I.T.8
Selama masa ini, Nasr menikmati perdebatan antara E. Meyerson dan
H. Poincare. Namun, mendiang Giorgio Di Santillana-lah yang memberi
pengaruh besar atas perkembangan intelektualnya, memperkenalkannya ke
dalam alam pertentangan batin antara sains, filsafat dan agama di Barat.
Dalam kondisi demikian itu, menarik untuk dicatat bahwa ia meminta Di
Santillana untuk mengajar mata kuliah Hinduisme, jauh sebelum disiplin
perbandingan agama secara formal didirikan di universitas-universitas
Barat. Di Santillana tidak hanya memperkenalkannya dengan Galileo, tetapi
juga dengan Dante, yang Divine Comedy-nya membukakan kepada Nasr
aspek-aspek terdalam tradisi Barat, dan menjadikan gagasan “kebijakan
tradisional” sebagai perhatian Nasr.9
Setelah memperoleh gelar B.S. dari M.I.T. pada tahun 1954, Nasr
memasuki Harvard. Sebelumnya ia sudah akrab dengan filsafat perennial dan
menjadikannya sebagai komitmen sepanjang hidup. Di Harvard ia mempelajari
geologi dan geofisika dan menyelesaikan tingkat M.A., di sini ia melakukan riset
dalam bidang sejarah sains di bawah bimbingan Sir Hamilton Gibb, H.A. Wolfson
dan I.B. Cohen. Secara intelektual Nasr sangat aktif; ia tidak ingin kehilangan
setiap kesempatan yang dapat memperluas wawasannya dalam memperdalam
pengetahuannya. Ia bertemu dengan banyak sarjana seperti D.Z. Suzuki dan Sh.
Hisamutsu
dan
mengambil
banyak
manfaat
dari
perpustakaan
Coomaraswamy yang bagi Nasr merupakan rute menuju kebijakan Timur.10
7
Ibid.
Adnan aslan, Op. Cit., h. 22.
9
Ibid.
10
Ibid, h. 23.
8
unik
15
Intelektual lain yang mempengaruhi Nasr adalah Burckhardt yang
merupakan tokoh filsafat perennial dan banyak menulis tentang esoterisme Islam,
seni suci dan seni Islam. Nasr sering berkorespondensi dengannya dan beberapa
kali bertemu bahkan di tahun 1966, pada perayaan 100 tahun berdirinya
Universitas Amerika di Beirut, mereka berdua melakukan ziarah ke makam Ibnu
‘Arabi dan beberapa tahun kemudian bersama-sama melakukan tawaf di Ka’bah.11
Tokoh-tokoh perennialis lain yang mempengaruhi Nasr antara lain adalah
Marco Pallis, Martin Lings, Houston Smith dan Louis Massignon serta Henry
Corbin. Ia bertemu dengan Massignon pada saat masih menjadi mahasiswa,
hubungan mereka terus berlanjut hingga Mssignon meninggal. Perjumpaannya
dengan Corbin terjadi waktu ia kembali ke Teheran pada tahun 1958 dan bekerja
sama dengannya selama hampir dua puluh tahun, mengajar dan menulis berbagai
buku.12
Tahun 1958, ketika berumur 25 tahun, Nasr merampungkan desertasi
doktornya dalam bidang kosmologi Islam yang kemudian diterbitkan dengan
judul An Introductin to Islamic Cosmological Doctrine: Conceptions of Nature
and Methods Used for Its Study by the Ikhwan ash-Shafa, al-Biruni and Ibn Sina
pada tahun 1964. pada tahun yang sama ia memperoleh gelar Ph.D. dari Harvard
dan kembali ke Iran dengan apresisasi baru terhadap tradisi Islam yang hidup
dengan kesadaran utuh terhadap kesalahan-kesalahan serta penyimpanganpenyimpangan yang terjadi di dunia modern.13
11
Ibid, h. 25-26.
Ibid, h. 26.
13
Ibid.
12
16
B. Aktivitas
Setelah kembali ke Iran, dengan pengalaman dan pengetahuannya, Nasr
kemudian terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan tinggi di Iran dan beberapa
tempat lain. Tahun 1958 ia mengajar di Teheran University. Ia juga berkiprah di
dunia akademik di beberapa kampus lainnya, seperti di Pakistan (1966), Australia
(1970), India dan Edinburgh serta Toronto (1983), Inggris (1994), California
(1995) dan San Fransisco (1995).14
Selama 20 tahun di Iran, Nasr hidup secara profesional. Ia menjadi
Professor Sains dan Filsafat di Universitas Teheran dan ikut serta di hampir setiap
dewan pendidikan di Iran. Ia menjadi Dekan dan Wakil Konselor Universita
Teheran dan Presiden Universitas Aryamehr. Di samping itu ia juga memainkan
peran penting dalam membangun kampus universitas di kota Isfahan dan pada
tahun 1974 ia mendirikan Iranian Academy of Philoshophy dan bertindak sebagai
direktur pertamanya. Selama di Iran ini pula, selama hampir sepuluh tahun ia aktif
menghadiri kelas-kelas madrasah tradisional dan tokoh-tokoh agama di Iran yang
mengajarkan filsafat Islam tradisional, termasuk tiga tokoh filosof-wali Iran
terkemuka: Sayyid Muhammad Kazhim Ashar, ‘Allamah Sayyid Muhammad
Husain Thabathaba’i dan Sayyid Abu al-Hasan Rafi’i. Hal ini kemudian menjadi
landasan Nasr ketika bekerja sama dengan Corbin dalam usaha memperkenalkan
filsafat Islam dari perspektif tradisional kepada masyarakat akademis Barat.15
14
Nur Said, Kritik Tradisionalisme Islam Terhadap Krisis Dunia Modern (Studi atas
Pemikiran Seyyed Hossein Nasr), An-Nur, Vol. I, No. 2, Februari 2005, h. 277.
15
Adnan Aslam, Op. Cit., h. 26-27.
17
Pada 1961-1962 Nasr menjadi Dosen Tamu di Centre for the Study of
World Religions di Harvard, kemudian pada 1964-1965 ia diundang ke American
University di Beirut sebagai pejabat pertama Aga Khan Chair of Islamic Studies.16
Nasr juga berkiprah dalam pendirian Husainiyah Irsyad bersama Murtada
Muthahhari dan Ali Syari’ati. Lembaga yang didirikan berdasarkan tujuan
mengembangkan ideologi Islam berdasarkan perspektif Syi’ah ini kemudian
menjadi pusat kaderisasi pemuda militan revolusioner. Kegiatannya meliputi
pemberdayaan intelektual seperti riset, pendidikan, propaganda dan unit
organisasi logistik.17
Pada masa itu, Iran berada di bawah pemerintahan Dinasti Reza Pahlevi
dan mengalami modernisasi di berbagai bidang, terutama pada birokrasi
pemerintahan dan angkatan bersenjata. Gerakan ini kemudian mendapat tantangan
dari kalangan ulama yang dipelopori oleh Ayatullah Khomeini dan dari kaum
intelektual yang dipelopori oleh Ali Syari’ati.18
Namun akhirnya Nasr keluar dari lembaga itu karena Ali Syari’ati telah
menyalahgunakannya untuk kepentingan politik. Alasan yang lebih substantif,
Nasr memandang Syari’ati telah menyajikan Islam sebagai kekuatan revolusioner
dengan mengorbankan dimensi spiritualnya akibat pengaruh Westernisme dan
Marxisme melalui wacana teologi pembebasan yang digagasnya.19
Pada 1979, situasi politik Iran memaksa Nasr meninggalkan negerinya itu
dan membangun kembali kehidupannya di Amerika. Di sini ia kemudian ditunjuk
16
Nur Said, Loc. Cit..
Ibid, h. 276.
18
John L. Esposito dan John O. Voll, Demokrasi di Negar-Negara Muslim, terj.
Rahmany Astuti, (Bandung: Mizan, 1999), h. 80.
19
Nur Said, Loc. Cit..
17
18
sebagai Professor Islamic Studies di Temple University, Philadelphia di mana ia
bekerja sampai 1984. Pada 1981 ia diundang ke Universitas Edinburgh untuk
menyampaikan kuliahnya. Kemudian pada tahun 1984 hingga sekarang, ia
menjadi University Professor di bidang Islamic Studies di The George
Washington University. Pada 1994 ia menyampaikan beberapa ceramah di
Universitas Birmingham.20
Salah satu aktivitas penting Nasr di Washington adalah dengan mendirikan
sebuah yayasan yang berkonsentrasi pada studi tentang tradisionalisme Islam.
Yayasan yang bernama Foundation for Traditional Studies ini didirikan pada 1984
ini telah mempublikasikan berbagai buku terutama yang berkenaan dengan ajaran
tradisional dan filsafat perennial seperti Religion of the Heart karangan Frithjof
Schuon yang diedit oleh Nasr dan william Stoddart, dan In Quest of the Sacred:
The Modern World in the Light of Tradition yang merupakan kumpulan esay dari
para penulis tradisional pada suatu konferensi yang diadakan di Peru oleh yayasan
ini bekerja sama dengan The Peruvian Instituto de Estudios Tradicionales.
Yaysan ini juga menerbitkan jurnal Shopia yang berisi esay-esay tentang berbagai
pandangan tradisional.21
C. Karya-Karya
Selain aktif dalam mengajar dan memberikan ceramah-ceramah, Nasr juga
aktif menulis. Ia telah menulis lebih dari 50 buku dan 500 artikel dan sebagian
besar telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama bahasa-bahasa
20
21
Adnan Aslan, Op. Cit., h. 31, 33 dan 34.
Universitas, George Washington, Op. Cit..
19
umat Islam, bahasa Eropa dan Asia.22 Meskipun menulis dengan menggunakan
bahasa Inggris, akan tetapi Nasr menyebut dirinya sebagai “man of the East” dan
menyatakan bahwa salah satu tugasnya adalah mempertemukan perbedaan antara
Barat dan Timur setidaknya sebagai penengah antara keduanya.23
Di antara tulisan-tulisannya yang sebagian juga merupakan intisari dari
berbagai kuliah dan ceramah yang disampaikannya adalah:
1. Three Muslim Sages (1962).
2. An Introductin to Islamic Cosmological Doctrine: Conceptions of Nature
and Methods Used for Its Study by the Ikhwan ash-Shafa, asl-Biruni and
Ibn Sina (1964).
3. Islamic Science – An Illustrated Study (1964)
4. Ideals and Realitties of Islam (1965), terjemahan bahasa Indonesia
berjudul Islam dalam Cita dan Fakta.
5. Science and Civilization in Islam ( 1968).
6. Man and Nature (1968).
7. Sufi Essays (1972).
8. Islam and The Plight of Modern Man (1975), terjemahan bahasa Indonesia
berjudul Islam dan Nestapa Manusia Modern.
9. Knowledge and the Sacred (1981), terjemahan bahasa Indonesia berjudul
Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama.
10. The Encounter Man and Nature (1984), terjemahan bahasa Indonesia
berjudul Antara Tuhan, Manusia dan Alam.
22
The Seyyed Hossein Nasr Foundation, Op. Cit..
Charles E. Butterworth, Revelation Over Rationalism: The Thought of Seyyed Hossein
Nasr, http://www.echeat.com/essays/butterworth15-2.pdf.
23
20
11. Traditional Islam in the Modern World (1987).
12. Islamic Art and Spirituality (1987).
13. The Need for Sacred Science (1993).
14. Religion and The Order of Nature (1994).
15. The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (2002), terjemahan
bahasa Indonesia berjudul The Heart of Islam: Pesan-Pesan Universal
Islam untuk Kemanusiaan.
BAB III
MANUSIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN TUHAN MENURUT
SEYYED HOSSEIN NASR
Persoalan manusia, baik mengenai asal-usulnya, tugasnya di dunia, dan
berbagai hal lain yang berhubungan dengan diri manusia merupakan topik yang
sering muncul dalam pembahasan filsafat. Hal ini mendorong munculnya berbagai
aliran yang berusaha memberikan penjelasan tentang hakikat manusia menurut
caranya masing-masing.
Salah satu aliran yang berusaha memberikan penjelasan tentang hakikat
manusia ini adalah filsafat perennial. Aliran ini berusaha menguraikan pengertian
tentang hakikat diri manusia dari perspektif yang disebut “tradisional”, karena
sebagaimana diyakini oleh para penganutnya bahwa pada dasarnya penjelasan
mengenai hakikat manusia telah tertuang dalam teks-teks tradisional dan
keagamaan. Tetapi karena manusia sendiri cenderung mengabaikannya, maka hal
itu menjadi seperti tersembunyi apalagi sekarang kehidupan spiritual telah banyak
ditinggalkan manusia.1
Seyyed Hossein Nasr, sebagai salah satu tokoh aliran filsafat ini dengan
pendekatan perennialisme dan sufismenya2 membahas hakekat manusia dengan
memberikan kritik terhadap ideologi dunia modern yang sekarang sedang
dihadapi manusia. Baginya, ideologi dunia modern telah menggeser posisi
1
Budhy Munawar-Rachman, Pengantar Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni
Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
Maret 2003), h. 5.
2
Lihat, Nur Said, Kritik Tradisionalisme Islam Terhadap Krisis Dunia Modern (Studi
atas Pemikiran Seyyed Hossein Nasr), An-Nur, Vol. I, No. 2, Februari 2005, h. 280 dan 282.
21
22
manusia
dari
pusat
eksistensinya,
sehingga
manusia
modern
semakin
terpinggirkan dari esensi kemanusiaannya dan kehidupan menjadi kehilangan
horizon spiritual sehingga menimbulkan berbagai bencana dan krisis lingkungan,
sebagaimana dikatakannya:
... Apabila dua dasawarsa yang lampau setiap orang berbicara mengenai
kemungkinan yang tak terbatas bagi manusia untuk berkembang secara
lahiriah dan materialistis, maka pada masa kini setiap orang berbicara
mengenai “batas-batas pertumbuhan” – sebuah ungkapan yang pada saat ini
sedang populer di Barat – atau bahkan mengenai bencana yang segera akan
menimpa umat manusia. Tetapi konsep-konsep serta faktor-faktor yang
dipergunakan untuk menganalisa krisis yang dihadapi manusia modern ini,
pemecahan-pemecahan yang dicari, dan bahkan warna-warna untuk
melukiskan bencana yang akan menimpa umat manusia itu biasanya
berdasarkan unsur-unsur yang telah menciptakan krisis itu juga. Kehidupan
di dunia ini tampaknya masih tidak memiliki horizon spiritual. Hal ini
bukan karena horizon spiritual itu tidak ada, tetapi karena yang
menyaksikan panorama kehidupan kontemporer ini seringkali adalah
manusia yang hidup di pinggiran lingkaran eksistensi, sehingga ia hanya
dapat menyaksikan segala sesuatu dari sudut pandangannya sendiri. Ia
senantiasa tidak peduli dengan jari-jari lingkaran eksistensi dan sama sekali
lupa dengan sumbu maupun pusat lingkaran eksistensi yang dapat
dicapainya melalui jari-jari tersebut.3
Keadaan tersebut, menurutnya telah membuat manusia lupa dengan
hakikat dirinya yang sebenarnya. Kemajuan masyarakat yang sudah berhasil dan
begitu percaya pada iptek, akhirnya berkembang lepas dari kontrol agama karena
menjadikan manusia sebagai pusat kemajuan, sehingga ilmu pengetahuan dan
teknologi bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi
agama. Segala kebutuhan agama seolah bisa terpenuhi dengan iptek. Namun
dalam kurun waktu yang panjang iptek ternyata menghianati kepercayaan
manusia, kemajuan iptek justru identik dengan bencana, sehingga membuat
3
Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, terj. Anas Muhyiddin
dengan judul Islam dan Nestapa Manusia Modern, (Bandung: Pustaka, 1983), h. 4
23
masyarakat Barat mengalami apa yang disebut krisis epistimologis, mereka tidak
lagi mengetahui makna dan tujuan hidup (meaning and purpose of life).
Hal ini ditambah lagi dengan kecenderungan memformulasikan berbagai
masalah dalam kehidupan manusia kepada perubahan-perubahan fisik yang
biasanya tidak menyentuh aspek batin bahkan sering bertentangan. Dimensi
metafisik dari ilmu pengetahuan menjadi hilang, karena yang dikembangkan
hanyalah ilmu yang bersifat praktis dan dapat diukur dalam kerangka ilmiah yang
diciptakan berdasarkan kebutuhan praktis manusia dengan mengabaikan aspek
moralitas dan nilai.4
Perbenturan di antara penemuan-penemuan beserta manipulasimanipulasi umat manusia di dalam bentuk teknologi dengan kultur mereka,
maupun efek yang mengerikan serta menghancurkan lingkungan dari
aplikasi pengetahuan yang diperoleh mereka sudah sedemikian dahsyatnya,
sehingga banyak pihak di dunia modern ini, terutama sekali di Barat,
akhirnya mulai mempertanyakan validitas konsep manusia yang diyakini
Barat sejak kebangkitan kebudayaan modern. Tetapi walaupun adanya
kesadaran untuk membahas masalah yang sedemikian besar ini dengan cara
yang berarti dan konstruktif, terlebih dahulu kita harus menyingkirkan halhal yang biasanya menghalangi pembahasan terhadap masalah-masalah
yang paling pokok. Manusia modern telah membakar tangannya dengan api
yang telah dinyalakannya karena ia telah lupa siapakah ia itu sesungguhnya.
Seperti yang dilakukan Faust, setelah menjual jiwanya untuk memperoleh
kekuasaan terhadap lingkungan alam manusia, ia menciptakan suatu situasi
di mana kontrol terhadap lingkungan berubah menjadi pencekikan terhadap
lingkungan, yang selanjutnya tidak hanya berubah menjadi kehancuran
ekonomi tetapi juga menjadi perbuatan bunuh diri.5
Hal ini, menurut Nasr yang juga disepakati oleh tokoh-tokoh lain dalam
filsafat perennial, merupakan disebabkan karena peradaban modern yang
dibangun manusia selama ini tidak menyertakan hal yang paling esensial dalam
kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual, sehingga dunia seakan tidak memiliki
4
5
Nur Said, Op. Cit., h. 270.
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., h. 3-4.
24
dimensi transendental (ketuhanan). Krisis mentalitas dan spiritual manusia justru
baru disadari setelah terjadinya kehancuran lingkungan sekitarnya, bukan karena
sifat manusia yang selama ini dilupakan telah disadari kembali.6
Dalam kondisi seperti inilah, Nasr dengan gagasan Tradisionalisme
Islamnya berusaha mengaktualisasikan kembali nilai-nilai tradisional yang
dianggap dapat mengingatkan manusia akan hakikat diri dan dunia di
sekelilingnya dan menunjukkan kepada manusia modern tentang segala kebutuhan
dan tanggung jawab mereka.
A. Hakikat Manusia
Sesuai dengan ide Tradisionalisme Islam yang dibawanya, Nasr selalu
mengaitkan setiap pembahasannya dengan teks-teks Alquran dan Hadits. Manusia
menurut Nasr didefinisikan dalam hubungannya dengan Tuhan, tanggung jawab
dan hak-hak manusia dirumuskan dari hubungan tersebut. Form atau bentuk
manusia merupakan refleksi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Tuhan. Refleksi
Sifat Tuhan dalam diri manusia ini sebagaimana cermin yang merefleksikan
cahaya matahari.7
Nasr berpijak pada term penciptaan manusia dalam Alquran, di mana
dijelaskan bahwa pada mulanya manusia diciptakan dari tanah liat, dan kemudian
Allah meniupkan Ruh-Nya ke dalamnya sebagaimana dalam Surah al-Hijr ayat
28-29:
6
Ibid, h. 19.
Seyyed Hossein Nasr, The Heart Of Islam: Enduring Values for Humanity, terj.
Nurasiah Fakih Sutan Harahap dengan judul The Heart Of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam
Untuk Kemanusiaan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 336.
7
25
ِ‫وإِ ْذ قَ َال ربك لِْلماَئِ َك ِة إِ يِ خال‬
‫ص ٍال يم ْن ٍَََإ‬
‫ل‬
‫ص‬
‫ن‬
‫م‬
‫ا‬
‫ر‬
‫ش‬
‫ب‬
‫ق‬
ْ
‫ي‬
َ
ٌ
َ َ
َ َ َ
َ
ً َ َ
ِ ‫اج‬
ِ ‫وحي فَ َقعواْ لَه س‬
ِ ‫ فَِإ َذا سوي تُه ونَ َفخت فِ ِيه ِمن ر‬، ‫ون‬
ٍ ُ‫مس‬
‫ين‬
‫د‬
ْ
ُ
َ ُ ُ
ََُْ
َ
ْ
َ
-
: ‫ُاحجر‬
Pengaruh sufisme Ibnu ‘Arabi tampak jelas dalam pemikiran Nasr, ia
menegaskan bahwa menurut Islam, tujuan kemunculan manusia di dunia adalah
untuk memperoleh pengetahuan total tentang benda, untuk menjadi Manusia
Universal (al-insan al-kamil), yaitu cermin yang memantulkan semua Nama dan
Sifat Allah. Bagi Tuhan, maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk
“mengetahui” diri-Nya melalui instrumen pengetahuan-Nya yang sempurna, yakni
Manusia Universal.8
Dalam membahas kejadian manusia, Nasr membandingkan konsep Islam
dan agama-agama lain terutama Kristen dan Yahudi. Nasr menyimpulkan adanya
kesamaan konsep dalam setiap agama dan tradisi tentang kejadian manusia
terutama dalam hal adanya aspek Ketuhanan dalam diri manusia, sesuatu yang
merupakan pancaran dunia spiritual.
Kejadian manusia, menurut semua tradisi, terjadi dalam banyak tahap:
pertama, dalam Tuhan itu sendiri, sehingga terdapat suatu “aspek” manusia
yang tidak diciptakan. Itulah mengapa manusia dapat memperoleh
pengalaman an-nihilisasi dalam Tuhan subsistensi dalam Dirinya (al-fana
dan al-baqa pada sufism) dan mencapai penyatuan puncak. Kemudian
manusia dilahirkan dalam logos yang merupakan kenyataan prototipe
manusia dan wajah lain dari realitas yang sama, orang Islam menyebutnya
dengan Manusia Universal dan masing-masing tradisi mengidentifikasikan
dengan pendirinya. Kemudian manusia diciptakan dalam level kosmik dan
apa yang dinyatakan Bible sebagai makhluk surgawi, di mana dia
dikenakan dengan tubuh bercahaya yang sesuai dengan keadaan surga
8
Seyyed Hossein Nasr, The Encounter Man and Nature, terj. Ali Noer Zaman dengan
judul Antara Tuhan, Manusia dan Alam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), h. 115-116.
26
tersebut. Dia kemudian turun ke level taman terestrial9 dan dikenakan tubuh
lain dari alam yang sangat halus dan tidak dapat disuapi. Akhirnya dia
dilahirkan ke dunia fisik dengan tubuh yang binasa tetapi mempunyai
landasan dalam tubuh-tubuh yang halus dan berkilau, termasuk tahap-tahap
awal elaborasi manusia dan kejadiannya sebelum kemunculannya di
bumi.10
Fase pertama penciptaan manusia menurut Nasr adalah ketika manusia
diturunkan dari ruh yang merupakan milik Allah11, dengan demikian terdapat
dimensi Ketuhanan dalam diri
manusia, sebagaimana dijelaskan dalam ayat
Alquran di atas. Di sini Nasr berusaha menegaskan bahwa ruh manusia bukanlah
ciptaan Allah, karena dalam berbagai ayat tentang kejadian manusia, selalu
dijelaskan bahwa Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad manusia, artinya,
menurut Nasr, jasad manusia diciptakan dan kemudian Allah meniupkan ruh-Nya
ke dalam jasad tersebut sebagai karunia yang menunjukkan kedudukan tertentu
yang dimiliki manusia.
Akan tetapi, Nasr menegaskan bahwa konsep ini tidak mengubah Tuhan
menjadi manusia atau sebaliknya, juga tidak ada kemungkinan inkarnasi dimensi
ke-Tuhanan dan kemanusiaan dalam diri manusia, melainkan menggambarkan
manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung dalam
dirinya. Allah dengan sengaja menciptakan manusia sebagai cermin yang
memantulkan Nama dan Sifat-Nya, tegasnya ada sesuatu yang suci dalam diri
9
Terestrial adalah kata sifat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang hidup dari
atau di bumi (of or living on the land), lihat Martin H. Manser, Oxford Learner’s Pocket
Dictionary, (New York: Oxford University Press, 1995), h. 428. Nasr menggunakan istilah ini
untuk menunjukkan manusia yang hidup di bumi dengan segala tanggung jawabnya atas
tindakannya sebagai penjaga dan pelindung bumi, lihat Seyyed Hossein Nasr, The Knowledge and
The Sacred , terj. Suharsono, et. al. dengan judul Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama,
(Depok: Inisiasi Press, 2004), h. 167.
10
Ibid, h. 177.
11
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s Guide to the Modern World, terj. Hasli
Tarekat dengan judul Menjelajah Dunia Modern: Bimbingan Untuk Kaum Muda Muslim,
(Bandung: Mizan, 1994), h. 41.
27
manusia.12 Penyatuan puncak dalam perspektif Nasr di atas lebih berorientasi
pada pengalaman religius manusia yang membuatnya menjadi manusia seutuhnya
sebagaimana penjelasan Nasr:
Manusia, sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifah) dan panggung di
mana nama-nama dan Sifat-Sifat Tuhan dipertunjukkan, bisa mencapai
kebahagiaan hanya dengan tetap memegang teguh kodratnya ini atau
dengan menjadi dirinya secara sungguh-sungguh. Dan ini sebagai akibatnya
berarti ia harus menjadi utuh. Tuhan adalah satu dan demikian manusia
harus menjadi menyeluruh di dalam rangka untuk menjadi satu. Terceraiberai dan terpisah-pisah, tenggelam di dalam permainan gambar dan konsekonsep mental yang tak habis-habisnya, atau mengalami ketegangan dan
tekanan kejiwaan, adalah berarti terpisah jauh dari keadaan menyeluruh
yang dituntut hati nurani kita. Banyak orang dewasa ini lebih menyukai
dirinya melampaui batas dengan segala pengorbanan, malahan lebih
memiliki demikian dan memasuki neraka daripada menjadi wajar dan
berjalan menuju surga; sekalipun demikian, dibanding sifat melampaui
batas, sifat wajar lebih dekat kepada ketakberdosaan dan kemurnian yang
merupakan keadaan surgawi yang indah, seperti Nabi Isa mengatakan
bahwa kita harus menjadi seperti kanak-kanak supaya bisa masuk surga.13
Fase kedua dalam penciptaan manusia adalah ketika ia diciptakan sebagai
logos yang menjadi prototipe semua manusia dan segala ciptaan, dalam Islam
logos, tegas Nasr, adalah Nabi Muhammad.14 Nabi Muhammad, sebagai pembawa
Islam, merupakan Nabi terakhir yang diutus Allah ke dunia, meskipun seluruh
nabi dalam Islam memiliki
aspek logos tersebut, akan tetapi menurut Nasr,
Hakikat Muhammad yang menjadi ciptaan Allah yang pertama – konsep yang
sama dengan konsep Nur Muhammad dalam tasawuf – sehingga secara batin
beliau datang sebelum nabi yang lain pada awal siklus kenabian dan sebagai
12
Lihat, Seyyed Hossein Nasr, Ideals and Realities of Islam, terj. Abdurrahman Wahid
dan Hashim Wahid dengan judul Islam dalam Cita dan Fakta, (Jakarta: LEPPENAS, 1981), h. 4
dan 177.
13
Seyyed Hossein Nasr, Living Sufism, terj. Abdul Hadi WM dengan judul Tasauf Dulu
dan Sekarang, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h. 37-38.
14
Dalam setiap agama, penyebar atau pendirinya selalu diidentifikasikan sebagai logos,
dalam Kristen, logos diidentifikasi sebagai Kristus seperti dijelaskan dalam Injil Yohannes. Lihat,
Ibid, h. 57, juga Seyyed Hossein Nasr, The Knowledge..., Loc. Cit..
28
perwujudan peuh dari sifat kemanusiaan yang sempurna, Muhammad adalah
Manusia Universal (al-insan al-kamil), dan aspek batinnya merupakan logos.15
...Seperti pohon yang tumbuh dari sebuah bibit yang kemudian
berkembang dengan subur dan akhirnya berbuah yang mengandung bibit
yang serupa, begitu pulalah siklus kenabian yang dimuali dengan Hakikat
Muhammad, dan diakhiri dengan manifestasinya sebagai manusia. Secara
batin ia adalah awal silus kenabian dan secara lahir ia adalah akhir siklus
kenabian yang telah ia satukan dan integrasikan dalam dirinya. Pada
lahirnya ia manusia biasa, dan secara batin ia Manusia Universal yang
menjadi norma segala kesempurnaan...16
Keberadaan Nabi Muhammad sebagai logos ini terutama dari fungsi
kenabiannya sebagai pembawa wahyu Ilahi. Peranannya sebagai khatim alanbiya’ memulai sebuah siklus kesucian yang diistilahkan Nasr dengan “kesucian
Muhammad” yang selalu ada dan menjadi kekuatan spiritual dalam Islam,
sehingga tidak lagi diperlukan adanya agama baru sesudah Islam, sebab wahyu
yang dibawa Nabi Muhammad dengan sendirinya mengandung segala hal yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan religius dan spiritual setiap muslim.17
Fase ketiga dalam kejadian manusia adalah manusia dalam level kosmik,
yaitu Nabi Adam sebagai penghuni surga sebelum kejatuhan yang dialaminya
sehingga diturunkan ke bumi dan selanjutnya menjadi manusia terestrial.18
Fase keempat kejadian manusia adalah setelah diturunkan ke bumi, di
mana manusia tidak lagi berada dalam level kosmik, tetapi telah berpindah ke
dunia fisik. Pada fase ini manusia melengkapi penciptaan alam sebagai wakil
(khalifah) Tuhan di bumi yang diberi kemampuan untuk mengetahui segala
15
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 57.
Ibid.
17
Ibid, h. 56.
18
Seyyed Hossein Nasr, The Encounter..., Op. Cit., h. 115.
16
29
sesuatu, menundukkan bumi, kekuasaan untuk melakukan kebaikan tetapi di sisi
lain juga dapat menimbulkan kerusakan dan kehancuran bumi.19
Beberapa tahap penciptaan manusia menurut Nasr ini menunjukkan
adanya penurunan derajat manusia dari manusia yang sepenuhnya mencerminkan
Sifat-Sifat Allah – Nasr mengistilahkannya dengan Manusia Universal – hingga
menjadi manusia terestrial yang menghuni bumi. Penurunan derajat manusia yang
disebabkan kejatuhannya setelah melanggar larangan Allah di surga ini membawa
manusia ke dunia fisik sebagai hukuman atas pelanggaran tersebut. Meski
kejatuhan manusia merupakan hukuman, tetapi Allah tetap memberikan kelebihan
kepada manusia dengan eksistensinya sebagai wakil-Nya untuk menjalankan
semua kehendak-Nya di muka bumi.
Keunikan eksistensi manusia ini menurut Nasr terkandung pada perjanjian
pra eternal (azali) antara manusia dengan Allah sebagaimana dijelaskan dalam
Alquran:
ِ َ ‫وإِ ْذ أَخ َذ رب‬
‫آد َم ِمن ظُ ُهوِرِه ْم ذُيري تَ ُه ْم َوأَ ْش َه َد ُه ْم َعلَى‬
َ َِِ‫ك من ب‬
َ َ َ
ِ
َ
: ‫ ُااعراف‬... ‫ش ِه ْدنَا‬
َ ‫ت بَِربي ُك ْم قَالُواْ بَلَى‬
َ ‫أَن ُفس ِه ْم أَلَ ْس‬
Perjanjian yang terjadi sebelum kelahiran manusia ini menimbulkan
amanah bagi manusia sebagai makhluk yang berakal dan bebas, dengan segala
keuntungan dan bahaya yang terkandung di dalamnya.20 Amanah yang diberikan
Allah ini di dalamnya mengandung pengakuan terhadap Keesaan Allah dan
19
20
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 18.
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit.. h. 21.
30
tindakan-tindakan ibadah dan pelayanan. Menerima perjanjian tersebut berarti
menerima untuk menyembah dan melayani-Nya.21
Sebagai makhluk theomorfis, manusia dikaruniai akal, kehendak yang
bebas (free will) dan kemampuan berbicara. Akal memungkinkan manusia untuk
membedakan kebaikan dan keburukan, kenyataan dan khayalan, serta dengan
sendirinya membawa manusia kepada kesadaran tentang kesatuan Zat (tauhid).
Kemudian kehendak membuat manusia mampu memilih antara yang benar dan
yang salah, manusia dalam Islam, tegas Nasr, bukan makhluk berkehendak serba
buruk yang memiliki akal, tetapi sebaliknya adalah makhluk berakal yang mampu
mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemampuan manusia berbicara membuatnya
mampu untuk menyatakan hubungan dirinya dengan Tuhan.22
...Manusia menduduki posisi tertentu di dunia ini. ia berada di poros dan
pusat miliu kosmos, penjaga dan sekaligus penguasa alam. Dengan
mendapat pelajaran tentang nama-nama segala benda, ia dapat menguasai
benda, tetapi ia diberi kekuasaan ini hanya karena ia adalah khalifah Allah
di bumi dan merupakan alat Kehendak-Nya. Manusia diberi hak untuk
menguasai alam hanya karena watak teomorfiknya, bukan karena
pemberontakannya terhadap langit.23
Sebagai makhluk sentral di dunia, manusia adalah wakil Tuhan (khalifah
Allah) sekaligus hamba-Nya (‘abd Allah). Kedua hal tersebut bersama-sama
membentuk sifat yang fundamental dalam diri manusia. Sebagai hamba, manusia
harus berada dalam ketundukan total kepada Tuhan dan dalam kondisi siap
menerima apa pun yang diinginkan-Nya dari diri manusia itu, menerima semua
petunjuk-Nya dan melaksanakan semua kehendak-Nya. Sementara sebagai
khalifah, manusia harus bersifat aktif terutama menjadi jembatan antara langit dan
21
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 338.
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 4.
23
Seyyed Hossein Nasr, The Encounter..., Op. Cit., h. 116.
22
31
bumi, instrumen yang menjadi perwujudan dan kristalisasi kehendak Tuhan di
dunia.24
Dari sinilah kemudian timbul konsep Nasr tentang Manusia Suci (pontifex)
dan
Manusia
Promethean.
Keduanya
memiliki
sifat
yang
sangat
bertolakbelakang; Manusia Suci senantiasa berada dalam eksistensi dirinya
sebagai khalifah yang menjaga dan menguasai alam, sementara Manusia
Promethean mengingkari eksistensi tersebut, ia melakukan berbagai kerusakan
dan manipulasi terhadap alam.
Manusia Suci dalam pengertian Nasr adalah manusia tradisional yang
hidup di dalam dunia yang mempunyai Asal maupun Pusat. Dia hidup dalam
kesadaran penuh, sejak Asal yang mengandung kesempurnaannya sendiri dan
berusaha untuk menyamai, memiliki kembali, dan mentransmisikan kesucian awal
dan keutuhannya. Dia juga hidup dalam lingkaran pusat yang senantiasa sadar dan
berupaya mencapai, berpikir, dan bertindak dalam hidupnya. Atau dalam
pengertian lain, Manusia Suci adalah Khalifah Allah di bumi yang bertanggung
jawab kepada-Nya atas segala tindakan, penjaga dan pelindung bumi yang
senantiasa percaya diri sebagai figur terestrial pusat yang diciptakan dalam
“bentuk Tuhan”.25
Sementara Manusia Promethean, kebalikan dari Manusia Suci, adalah
manusia yang menganggap alam sebagai dunia artifisial yang diciptakannya
sendiri sehingga memungkinkannya melupakan Tuhan dan realitas batinnya.
Dalam bayangan Manusia Promethean, kehidupan adalah seperti pasar besar di
24
25
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 40.
Seyyed Hossein Nasr, The Knowledge..., Op. Cit., h. 167.
32
mana dia bebas menjelajah dan memiliki berbagai objek sesukanya. Ia kehilangan
makna sakral sehingga menjadi budak dari alam rendahnya dan menyerah kepada
apa yang dianggap sebagai kebebasan. Secara pasif, manusia tipe ini mengikuti
aliran yang menuju ke bawah siklus sejarah manusia dengan mengklaim bahwa
dalam perbuatannya itu ia menentukan nasibnya sendiri.26
Hal ini menurut Nasr, disebabkan oleh ideologi modern yang cenderung
melupakan dimensi ketuhanan dalam kehidupan di alam semesta, sehingga
muncullah golongan manusia yang hidup di pinggir lingkaran eksistensinya dan
memandang sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri tanpa mempedulikan
pusat lingkaran eksistensi tersebut. Manusia Promethean, digambarkan Nasr telah
lupa siapa dirinya sebenarnya karena ideologi modern yang dianutnya ini.
pengetahuan yang dimilikinya, meskipun secara kuantitatif sangat mengagumkan
terutama dalam aspek materi pada dasarnya hanyalah pengetahuan duniawi yang
tidak dapat membawa manusia kepada hakikat dirinya sehingga membawa
manusia bahkan alam semesta kepada serangkaian malapetaka.
Masalah penghancuran lingkungan oleh teknologi, krisis ekologi, dan
lain-lain yang semacamnya, semuanya bersumber dari penyakit amnesis
atau pelupa yang diidap oleh manusia modern. Manusia modern telah lupa,
siapakah ia sesungguhnya. Karena hidup di pinggiran lingkaran
eksistensinya sendiri, ia telah memperoleh pengetahuan dunia yang secara
kualitatif bersifat dangkal tetapi yang secara kuantitatif sangat
mengagumkan. Ia telah memproyeksikan citra pribadinya yang eksternal
dan palsu kepada dunia. Kemudian setelah mengenal dunia dalam
pengertian-pengertian eksternal tersebut ia mencoba merekonstruksikan
citra pribadinya berdasarkan pengetahuan eksternal tersebut. Maka
terjadilah serangkaian “kejatuhan” yang menyebabkan manusia berisolasi
ke arah bawah di antara citra peribadinya yang semakin bersifat eksternal
dengan dunia di sekeliling dirinya, sedang ia semakin jauh dari pusat
eksistensinya dan dari lingkungan kosmisnya. Inti sejarah perkembangan
26
Ibid, h. 168.
33
spiritual manusia Barat modern sejak latar belakang sejarahnya sebagai
manusia tradisional – yang sekaligus mewakili leluhurnya di dalam waktu
dan mewakili pusat eksistensinya di dalam ruang – adalah perpindahan
alienasi yang berkesinambungan dari pusat sumbu melalui jari-jari dan
akhirnya ke pinggir lingkaran eksistensi di mana manusia modern pada saat
ini berada....27
Keadaan ini dimulai pada sekitar abad ke-17 di Barat, yang merupakan
awal kemenangan supremasi rasinalisme, empirisme, dan positifisme dari
dogmatis Agama. Kenyataan ini dapat dipahami karena abad modern Barat
ditandai dengan adanya upaya pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat
dari pengaruh agama (sekulerisme). Perpaduan antara rasionalisme, empirisme
dan positifisme dalam satu paket epistimologi melahirkan apa yang disebut T.H
Huaxley dengan Metode Ilmiah (Scientific Method). Dengan metode ini,
kebenaran sesuatu hanya diperhitungkan dari sudut fisiologis-lahiriah yang sangat
bersifat profanik (keduniawian atau kebendaan), atau dengan istilah lain,
kebenaran ilmu pengetahuan hanya diukur dari sudut koherensi dan korespodensi.
Dengan wataknya tersebut sudah dapat dipastikan bahwa, segala pengetahuan
yang berada diluar jangkauan indra dan rasio serta pengujian ilmiah akan ditolak,
termasuk di dalamnya pengetahuan yang bersumber pada agama. Pada akhirnya
manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan segala
persoalan-persoalan hidupnya. Manusia memandang dirinya sebagai mahluk yang
bebas dan independen dari alam dan Tuhan. Manusia di Barat sengaja
membebaskan diri dari tatanan Ilahiah untuk selanjutnya membangun tatanan
27
Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Plight..., Op. Cit., h. 5.
34
Antropomorphisme yaitu suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada manusia.
Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri.28
Kesan yang sama juga disampaikan oleh Budhy Munawar-Rachman dalam
mengomentari krisis spiritual yang terjadi saat ini:
...Fenomena ini berasal dari kuatnya tradisi humanistik modern dengan
penghargaan yang terlalu berlebihan kepada manusia di satu sisi, tetapi
pada sisi lain juga mengabaikan hak hidup alam secara habis-habisan.
Akibatnya, terjadilah bencana krisis secara besar-besaran, – termasuk krisis
lingkungan hidup, krisis bahan bakar, ancaman akan krisis bahan makanan,
kesehatan, dan lain-lain – yang semua itu berakar pada sebab-sebab (krisis)
pengenalan diri (spiritual): sebab-sebab cara pandang manusia modern
terhadap alam ini, yang telah dikosongkan dari keberadaan Tuhan.
Anehnya, manusia (Barat) dewasa ini baru menyadari bahwa seluruh krisis
di bumi ini, tidak hanya disebabkan oleh alasan material sebagaimana
diungkapkan oleh banyak ahli, tetapi justru berakar – seperti diungkapkan
tadi – pada sebab-sebab cara pandang manusia modern terhadap alam ini.
sehingga, dunia (alam) yang ada sekarang ini tidak lagi memiliki horizon
spiritual. Ini bukan karena horizon spiritual itu tidak ada, tetapi karena
manusia (Barat) modern – dalam istilah filasafat perennial – “hidup di
pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia (Barat) modern melihat segala
sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensi, tidak pada “pusat
spiritualitas dirinya”, sehingga mengakibatkan mereka lupa pada eksistensi
dirinya sendiri – yang dalam konteks tulisan ini – asal dan tujuan hidup
mereka di dunia ini.29
Akibatnya, manusia tidak lagi memperhatikan keadaan lingkungan
sekitarnya, tetapi malah menghancurkannya dengan berbagai dalih eksperimen
untuk kepentingan pengetahuan. Alam tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
perlu dilestarikan, akan tetapi lebih merupakan sumber pemenuhan kebutuhan
individu yang dapat dieksploitasi secara luas. Padahal jika memperhatikan
berbagai teks-teks keagamaan, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun
28
M. Ali Adriansyah, Seyyed Hossein Nasr: Tradisionalisme Islam Sebagai Pencarian
Menuju Shopia Perennis, http://www.pendidikan.net/artikel.us/ali_adrinsyah.html
29
Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman,
(Jakarta: Srigunting, 2004), h. 106.
35
Kitab Suci yang tidak memerintahkan manusia untuk menjaga alam semesta dari
kehancuran.
Perspektif Nasr bahwa Manusia Suci adalah “figur terestrial pusat yang
diciptakan dalam “bentuk Tuhan”” di atas menunjukkan penekanan terhadap
dimensi Ketuhanan dalam diri manusia yang menurut Nasr tidak dapat diingkari.
Seperti dijelaskan di atas, manusia diberi hak untuk menguasai alam karena ia
adalah makhluk theomorfik sehingga dengan demikian, ia harus senantiasa
membawa Sifat-Sifat Tuhan dalam dirinya. Kesadaran dirinya sebagai khalifah
Tuhan di alam semesta tidak hanya menimbulkan konsekuensi bahwa manusia
dapat menguasai alam, tetapi di sisi lain ia harus menjaganya.
Sebenarnya, manusia adalah saluran rahmat bagi alam; melalui
partisipasinya yang aktif di dunia spiritual, ia akan memberikan cahaya ke
dalam dunia alam. Manusia adalah mulut hidup dan nafas alam. Karena
hubungan yang erat antara manusia dan alam, maka keadaan batin manusia
akan tercermin dalam tatanan eksternal. Apabila tidak ada lagi pelaku
kontemplasi dan orang suci, alam akan kehilangan cahaya yang
meneranginya dan udara yang menghidupinya. Ini menjelaskan mengapa,
ketika keadaan batin manusia telah berpaling pada kegelapan dan
kekacauan, alam juga berpaling dari harmoni dan keindahan untuk jatuh ke
dalam ketidakseimbangan dan kekacauan. Di alam, manusia melihat
bagaimana dirinya; ia hanya dapat menembus ke dalam makna batin alam
jika ia dapat menyelidiki keadaan dirinya yang batin dan tidak lagi berada
di pinggir keberadaannya. Manusia yang hanya hidup di permukaan
keberadaannya akan mempelajari alam sebagai sesuatu yang untuk
dimanipulasi dan didominasi. Hanya dengan beralih ke dimensi batin dari
keberadaannya, manusia dapat melihat alam sebagai sebuah simbol, sebagai
sebuah realitas yang transparan, sehingga ia dapat mengetahui dan
memahami alam menurut arti yang riil.30
Jika manusia tetap menjaga spiritualitas dalam dirinya, demikian Nasr, ia
dapat menjadi semacam cahaya yang membawa kebahagiaan kepada seluruh
alam, akal dan kebebasan yang diberikan kepadanya tidak akan digunakannya
30
Seyyed Hossein Nasr, The Encounter..., Loc. Cit...
36
untuk mengingkari eksistensinya sehingga menjadi Manusia Promethean.
Keagungan dalam dirinya tidak malah membuatnya berpaling dari eksistensinya
dengan melupakan esensi dirinya yang paling pokok.
Dalam pandangan perennialis, perkataan human being yang menunjukkan
manusia secara implisit mengandung dua entitas, yaitu kata human yang mengacu
pada tubuh manusia (body and mind), dan kata being yang pada jiwa (soul).
Secara biologis, tubuh seseorang mengalami banyak perubahan sesuai dengan
lama hidupnya, sebagai contoh, manusia yang berumur 80 tahun, telah mengalami
berkali-kali pergantian sel dalam tubuhnya. Tetapi ia masih bisa mengingat
dirinya pada masa kanak-kanak secara baik, dengan demikian ada bagian dari
dirinya yang tidak berubah, yaitu jiwa (soul)nya. Sehingga dapat dikatakan
manusia terdiri dari dua entitas, tubuh dan jiwa. Sebagai tubuh, manusia bersifat
fisikal, tetapi sebagai jiwa manusia bersifat non-fisikal dan sama sekali tidak
tergantung pada manifestasi tubuhnya yang terus berubah.31
Dengan demikian, ada bagian manusia yang dalam istilah Eickhart adalah
sesuatu yang uncreated and uncreatable (tidak dan tidak mungkin diciptakan)32
suatu bagian yang murni bersifat spiritual, suatu pandangan yang bertolak
belakang dengan pandangan Materialisme yang memandang manusia sebagai
makhluk yang murni bersifat materi.
Dalam pandangan Materialisme, manusia dilihat sebagai bagian dari
alam saja. Manusia muncul dalam sejarah sebagai hasil suatu evolusi
fisiologis dan biologis. Manusia hanya merupakan suatu momen dalam
kerangka evolusi kosmos. Pada suatu ketika dalam evolusi kosmos
muncullah “benda yang berpikir”. Dalam pandangan ini segala kegiatan
31
32
Budhy Munawar-Rachman, Pengantar..., Op. Cit., h. 6.
Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis..., Op. Cit., h. 93.
37
spiritual direduksikan kepada suatu proses fisiologis belaka. Manusia
seluruhnya dapat diterangkan sebagai materi saja. Keunggulan manusia tak
tampak lagi.33
Nasr menolak secara tegas pendapat tersebut, karena menurutnya tubuh
manusia itu sendiri adalah bukti bahwa manusia dikembangkan dari asal surgawi
yang mencerminkan dengan jelas sisi spiritual manusia.
Dari perspektif scintie sascra34 tubuh manusia itu sendiri adalah bukti
bahwa manusia dikembangkan dari asal surgawi, dia dilahirkan untuk
tujuan yang melampaui batas-batas kebinatangannya. Definisi manusia
sebagai wujud sentral yang direfleksikan bukan hanya dalam pikiran,
pembicaraan, dan kemampuan internalnya yang lain, tetapi juga dalam
tubuhnya yang berdiri pada pusat lingkaran eksistensi terestrial, memiliki
keindahan dan signifikansi yang berasal dari alam spiritual murni. Tubuh
setiap laki-laki dan perempuan melahirkan takdir kemanusiaan, sebagai
suatu ciptaan yang dilahirkan untuk immortalitas, ciptaan yang
kesempurnaannya menempa peningkatan dimensi eksistensi vertikal,
mencapai pusat dimensi horizontal. Mereka yang mencapai titik silang,
adalah manusia yang mendaki sumbu vertikalnya, yang merupakan jalan
untuk mentransendensikan dirinya sendiri menuju manusia seutuhnya,
menjadi manusia adalah melampaui dirinya sendiri. Sebagaimana Saint
Agustinus menyatakan, untuk tetap menjadi manusia, manusia harus enjadi
superhuman. Manusia juga memiliki berbagai kemampuan internal, suatu
memori yang jauh lebih prestisius daripada yang dapat digambarkan produk
pendidikan modern. Suatu yang memainkan peranan paling positif dalam
aktivitas intelektual dan artistik dari manusia tradisional.35
Keagungan kondisi manusia menurut Nasr terletak pada kenyataan bahwa
manusia memiliki dua kemungkinan dalam hidupnya, yaitu menjadi makhluk
yang paling mulia atau menjadi makhluk yang menolak adanya Tuhan.36
Kenyataan manusia memiliki aspek Ketuhanan dalam dirinya, terutama dengan
33
Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat: Manusia, Paradoks dan Seruan, (Yogyakarta:
Kanisius, 2004), h. 24.
34
Scientia Sacra atau Pengetahuan Suci adalah pengetahuan yang menurut Nasr
merupakan inti dari setiap wahyu yang bersifat langsung, dapat dirasakan an dialami, ruhaniyah.
Dalam istilah lain Nasr menyebutnya dengan al-‘ilm al-hudhuri. Isi pokok pengetahuan ini adalah
tentang Ketuhanan. Dalam pengertian tradisional, ma’rifah atau metafisika dapat diidentikkan
dengan Scientia Sacra. Lihat, Seyyed Hossein Nasr, The Knowledge..., Op. Cit., h. 135-137.
35
Ibid, h. 182-183.
36
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 10.
38
akal dan kebebasan yang dimilikinya memberikan kemungkinan baginya untuk
menjadi – dalam istilah Nasr – “dewa kecil” yang mengingkari Tuhan, satu sikap
yang akhirnya menyebabkan manusia “tidak menjadi manusia” sebagaimana
penjelasan Nasr:
...Di sinilah letak keagungan dan kengerian keadaan manusia. Setiap
makhluk di dunia tetap menjadi dirinya sendiri, sebab ia telah ditetapkan
pada tingkat eksistensi tertentu, hanya manusia yang dapat berhenti menjadi
manusia. Ia dapat naik ke tingkat eksistensi duniawi tertinggi atau pada saat
yang sama jatuh di bawah tingkat makhluk yang paling rendah. Alternatif
sorga-neraka yang diberikan kepadanya menunjukkan kondisi manusia
yang unik. Dilahirkan sebagai manusia, ia memiliki keuntungan yang tidak
dimiliki makhluk-makhluk lain, dan sangat tragis apabila ia menyianyiakan hidupnya untuk mengejar hal-hal yang menjauhkannya dari tujuan
hidup yang sebenarnya, yaitu penyelamatan jiwanya.37
Selanjutnya Nasr menegaskan:
Simbol dari beban berat yang diletakkan Tuhan pada bahu manusia,
adalah hajar al-aswad yang terdapat di Ka’bah: Di dalam Islam, Hajar alAswad ini – yang sebenarnya sebuah meteor – adalah simbol dari perjanjian
(al-mitsaq) antara Tuhan dengan manusia. Tuhan mengajarkan kepada
manusia nama semua makhluk dan benda seperti diterangkan dalam
Alquran maupun Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa Tuhan memberikan
kepada manusia kemungkinan untuk menguasai semua benda dan makhluk,
sebab mengenal nama suatu benda berarti menguasai benda tersebut. Lebih
dari itu, manusia juga diberi kehidupan dan kebebasan untuk menerima
ataupun menolak adanya Tuhan. Adalah aneh bahwa kita, bagian dari
wujud yang mutlak, menolak adanya wujud itu. Kita ada dan terdapat di
antara kita yang menolak wujud, yang menjadi sumber eksistensi kita.
Hanya manusia yang dapat menjadi eksistensialis. Binatang juga
mempunyai eksistensi, tetapi mereka bukan eksistensialis.38
Dengan demikian, di sini dapat dikatakan bahwa dalam perspektif Nasr,
eksistensi manusia didasarkan kepada dua hal, pertama ketika Tuhan menciptakan
manusia sebagai refleksi Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang kemudian
menjadikan manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di dunia; dan kedua
37
38
Ibid.
Ibid.
39
berdasarkan perjanjian pra-eternal antara manusia
dengan Tuhan yang
menjadikan manusia sebagai hamba-Nya. Dari kedua hal tersebut, manusia
menjadi makhluk sentral di muka bumi dengan mendapatkan berbagai kelebihan
dibandingkan makhluk lainnya, terutama berupa akal dan kebebasan.
Tanggung jawab sebagai khalifah dalam pandangan Nasr merupakan
konsekuensi dari kebebasan manusia dalam menerima atau menolak keimanan.39
Tanggung jawab yang demikian besar sehingga langit, bumi dan gunung tidak
berani memikulnya sebagaimana dijelaskan dalam Alquran:
ِ ‫ضَا ْاَْمانَةَ علَى السماو‬
ِْ‫ا‬
ِ
ِ
‫ْ أَن‬
‫َب‬
‫أ‬
‫ف‬
‫ال‬
‫ب‬
‫و‬
‫ض‬
‫َر‬
ْ‫ا‬
‫و‬
‫ات‬
ْ
ْ
َ
ْ ‫إِنا َعَر‬
َ َ
ََْ
َ َ ْ َ ََ
ِ ‫ََ ِم ْلَ ها وأَ ْش َف ْقن‬
ِ
ِ
‫وا ُسورة‬
‫ل‬
‫ظ‬
‫ن‬
‫ا‬
‫ك‬
‫ه‬
‫ن‬
‫إ‬
‫ن‬
‫ا‬
‫نس‬
ْ‫ا‬
‫ا‬
‫ه‬
‫ل‬
َ
‫و‬
‫ا‬
‫ه‬
‫م‬
ْ
ً ‫وما َج ُه‬
ُ
َ
َ
َ
َ
ُ
ْ
َ
ُ َ
ََ َ َ َ َ َ ْ
ً
َ
: ‫اْحزاب‬
Dengan akal dan kebebasannya, manusia diberi pilihan untuk menjaga
eksistensinya, atau mengingkari eksistensi tersebut. Keberadaannya sebagai
makhluk terestrial dapat terangkat menjadi Manusia Suci yang merupakan
pancaran realitas Manusia Universal yang hanya dapat direalisasikan oleh para
nabi; atau terpuruk sepenuhnya sebagai Manusia Promethean yang melakukan
pemberontakan terhadap langit.
Fungsi akal menurut Nasr, pada pokoknya adalah untuk mendekatkan
manusia kepada Tuhan, sebagaimana salah satu arti dari akar kata tersebut yaitu
“ikatan”40 karena itu dalam Alquran Allah menyebutkan orang-orang yang
mengingkari-Nya sebagai orang-orang yang tidak bisa menggunakan akalnya
39
Ibid, h. 9.
Akal berasal dari bahasa arab, ‫ عقل‬yang merupakan masdar dari kata ‫ يعقل–عقل‬, salah
satu artinya adalah ‫ربط‬, yang berarti mengikat/ikatan. Lihat, Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus
Al-Munawwir :Arab-Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progressif, 1997), h. 956.
40
40
dengan baik (la ya’qilun”). Alquran sangat menekankan bahwa keruntuhan iman
tidak
disebabkan
oleh
kehendak
buruk
manusia,
melainkan
karena
penyalahgunaan akal.41
Adapun mengenai kebebasan berkehendak, menurut Nasr manusia
hendaknya menyandarkan kehendaknya kepada kehendak Allah, karena hanya
dengan cara inilah manusia mampu mengarahkan hidupnya menuju kebahagiaan
dalam kehidupan dunia maupun sesudahnya.42 Karena meskipun manusia
memiliki kebebasan untuk berkehendak, tetapi dengan kebebasannya itu ia tidak
pantas melampaui kehendak Tuhan seperti dijelaskan dalam ayat-ayat berikut:
‫ َوَما تَ َش ُاؤو َن إِا أَن‬، ‫إِن َه ِذ ِ تَ ْذكَِرةٌ فَ َمن َشاء اََ َذ إِ ََ َربيِه َسبِ ًيا‬
ِ ‫ي َشاء اه إِن اه َكا َن علِيما ح‬
َ ٩ - ٠: ‫يما ُ اْنسان‬
‫ك‬
َ
ُ
َ
ً َ ً َ
Manusia Promethean dengan segala pengkhianatan yang dilakukannya
berada di pinggir lingkaran eksistensinya dengan mengingkari dimensi
spiritualitas dalam dirinya, tegas Nasr, adalah produk ideologi modern yang telah
mendorongnya untuk “melakukan pemberontakan terhadap langit” dengan
melupakan aspek Ketuhanan dalam kehidupan. Ideologi yang tidak lagi mengakui
bahwa manusia berasal dari Yang Mutlak dan pada akhirnya akan kembali
kepada-Nya sebagaimana ciptaannya yang lain, seperti dijelaskan dalam Alquran:
َ
: ‫ُالبقرة‬
ِ ِ‫إِنا‬
‫ه َوإِنا إِلَْي ِه َر ِاج ُعو َن‬
Akhirnya Nasr menegaskan bahwa kejatuhan manusia dari Manusia
Primordial yang menghuni surga menjadi Manusia Terestrial di bumi ternyata
41
42
Seyyed Hossein Nasr, Islam dalam Cita..., Op. Cit., h. 6.
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 41.
41
tidak serta merta menurunkan derajat manusia secara penuh karena keberadaan
manusia sebagai khalifah dan perjanjiannya dengan Allah menjadikan manusia
sebagai makhluk sentral di alam semesta yang dapat diketahuinya secara lengkap,
jika ia dapat memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan kepadanya, dengan
bantuan kosmos, ia dapat menggapai keadaan yang lebih mulia dibandingkan apa
yang ia peroleh sebelum kejatuhannya.43
B. Hubungan Manusia Dengan Tuhan
Hubungan manusia dengan Tuhan menurut Nasr tergambar dengan jelas
dalam dalam ayat 56 Surah adz-Dzariyat:
َ
: ‫ُالذريات‬
ِْ‫ا‬
ِ ‫اْنس إِا لِي عب ُد‬
ِ
‫ون‬
‫و‬
‫ن‬
ْ
ُ ‫َوَما َخلَ ْق‬
ُْ َ َ َ ْ ‫ت‬
Dan pada Surah Thaha ayat 14:
َ
: ‫ُطه‬
‫اعبُ ْدِِ َوأَقِ ِم الص َا َة لِ ِذ ْك ِري‬
ْ َ‫إِن ِِ أَنَا اهُ َا إِلَهَ إِا أَنَا ف‬
Perintah penyembahan dalam kedua ayat tersebut, menurut Nasr
menegaskan bahwa manusia secara mutlak merupakan hamba Tuhan. Ini juga
menunjukkan bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia dalam Islam adalah
agar manusia beribadah dan melayani Tuhan.44
Konsekuensi dari penghambaan manusia ini adalah perlunya kehidupan
beragama. Hubungan manusia dengan Tuhan berada pada titik pusat setiap agama,
yang merupakan jalan bagi manusia untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan.
Agama juga merupakan motivasi dalam melakukan suatu aktivitas, karena
43
44
Seyyed Hossein Nasr, The Encounter..., Op. Cit., h. 115.
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 339.
42
perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai
mempunyai unsur kesucian serta ketaatan. Keterkaitan ini akan memberikan
pengaruh diri seseorang untuk berbuat sesuatu, yang mana dalam melakukan
tindakan, seseorang akan terikat kepada ketentuan antara mana yang boleh dan
mana yang tidak boleh menurut ajaran agama yang dianutnya dan menjadi
kepercayaannya.45
Hubungan antara manusia dan Tuhan ini, atau antara yang nisbi dan
yang mutlak, menduduki titik pusat dalam setiap agama. Perbedaannya
terletak pada penekanan sesuatu agama atas aspek-aspek dari hubungan ini.
di dalam setiap agama terkandung kebenaran meskipun kebenaran ini
terbatasi oleh bentuk dari agama itu. Karenanya, menjalani suatu agama
secara penuh adalah sama dengan menjalani semua agama dan tidak ada hal
yang lebih sia-sia daripada usaha-usaha untuk menciptakan sinkretisme
dengan tujuan menciptakan universalitas, padahal dalam kenyataannya
usaha itu hanya akan menghancurkan bentuk agama, yang secara sendirisendiri telah memungkinkan pendekatan antara manusia dan Tuhan. Tanpa
“petunjuk langit” dalam artian umum, agama tidak mungkin ada dan
manusia tidak akan mampu mendekatkan diri pada Tuhan, tanpa Tuhan
membuat diri-Nya melalui kemurahan-Nya menyediakan cara bagi manusia
untuk membuat demikian. Setiap agama yang menetap adalah anugerah
Tuhan dan selama masih utuh tetap mengandung doktrin dan metode untuk
“menyelamatkan” manusia dari kondisi duniawinya yang serba tak
menentu, serta membukakan pintu sorga baginya.46
Di sini Nasr dengan pendekatan perennialismenya tampak berusaha
memberikan penekanan terhadap hubungan manusia dengan Tuhan dalam
perspektif Islam dan membedakannya dengan perspektif agama lain. Meskipun
setiap agama dalam level substansi adalah sama, tetapi masing-masing memiliki
konsep sendiri-sendiri dalam menjelaskan hubungan antara manusia dengan
Tuhan.
45
H. Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, PT. Hadikarya Agung,
Jakarta, 1983, cet. XI, h. 6.
46
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 2.
43
Sepanjang sejarah Islam, telah banyak pembahasan mengenai isu
tentang hakikat manusia baik secara filosofis, teologis dan sufistis. Namun
satu hal yang mendasar, di mana semua mazhab pemikiran Islam bahkan
umat Islam kebanyakan sama-sama setuju adalah kebenaran bahwa Tuhan
adalah pencipta manusia, atau secara filosofis, Tuhan adalah penyebab
teologis eksistensi manusia. Dengan demikian, kita adalah orang yang
berutang seluruhnya kepada Tuhan dan hak-hak kita berasal dari
pemenuhan tanggung jawab kita kepada-Nya serta dari kepatuhan kita
kepada kehendak-Nya.47
Nasr memandang bahwa dalam Islam Tuhan secara mutlak adalah
Pencipta dan manusia adalah ciptaan-Nya yang berada dalam tingkatan hamba.
Kemuliaan manusia bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari posisinya
sebagai hamba yang mampu melaksanakan apa Kehendak Majikan Tertinggi alam
semesta. Kemuliaan manusia berasal dari kehidupannya dalam kesaksian dan
kesadaran terhadap Allah dan dari perilakunya sebagai ciptaan yang
merefleksikan aspek Kebijaksanaan Tuhan.48
Ajaran Islam, menurur Nasr, adalah ajaran yang didasarkan pada ajaran
menyeluruh tentang watak Ilahiah, yakni Yang Maha Esa tanpa sekutu apa pun.
Syahadat yang menjadi dasar keislaman seseorang, dikatakannya, berisi ajaran
yang utuh tentang Allah karena menghalau relativitas, kemenduaan dan
kemungkinan lain dari Keilahian dan berisi pengetahuan tentang Tuhan
berdasarkan Keesaan-Nya. Allah adalah Esa, Absolut, Maha Tak Terbatas dan
Sumber seluruh realitas. Manusia hidup dalam sebuah dunia yang sangat
bergantung kepada allahdan membuka setiap kesempatan serta setiap tempat
menuju Transendensi yang tak lain adalah Allah. Islam sangat menekankan
Transendensi Allah, yang berada di atas segalanya adalah Dia. Allah sangat dekat
47
48
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 337.
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 42.
44
dengan manusia, bahkan melebihi diri manusia itu sendiri, pada satu sisi, Allah
benar-benar di luar dan di atas manusia, tetapi di sisi lain Dia menjadi pusat
keberadaan manusia.49
(Di dalam penghadapan manusia kepada Tuhan, Islam tidak
menekankan pada inkarnasi ataupun manifestasi Zat Yang Mutlak, tidak
pula pada kondisi manusia yang tidak sempurna dan penuh dosa. Islam
memandang manusia sebagaimana adanya secara essensiil dan Tuhan
sebagaimana Ia dalam kenyataan-Nya yang mutlak. Perspektif Islam
didasarkan pada pandangan tentang Tuhan sebagaimana Ia ada, bukan
Tuhan sebagai inkarnasi dalam sejarah. Islam didasarkan pada Yang Nyata,
bukan pada penjelmaan Yang Nyata. Serupa dengan itu, Islam memandang
manusia sebagaimana fitrahnya, bukan sebagai makhluk yang penuh dosa
sesudah terjadinya peristiwa yang di dalam Kristen disebut “dosa asal”.)50
Di sini Nasr kembali menegaskan tentang pandangan Islam terhadap
manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah yang mulia, bukan makhluk yang
berlumur dosa. Fitrah setiap manusia ketika ia dilahirkan ke dunia adalah suci.
Dan memang tidak diragukan bahwa kecenderungan fitrah manusia kepada
kebaikan adalah sesuatu yang telah ditanamkan Allah dalam tabiat manusia,
sebaliknya dalam mengerjakan kejahatan, manusia bukanlah didorong oleh
sesuatu yang menjadi tabiat dan fitrahnya, akan tetapi karena sebab-sebab lain
yang datang kemudian.51
Seperti telah dijelaskan di atas, Nasr memandang manusia sebagai
mankhluk theomorfis yang mencerminkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Tuhan
dalam dirinya, diberi tugas sebagai khalifah dengan dikaruniai akan, kebebasan
berkehendak dan kemampuan berbicara. Ketiga hal tersebut, pada dasarnya adalah
49
Ibid, h. 39-40.
Seyyed Hossein Nasr, Ideals and Realities of Islam, http://www.fonsvitae.com/Seyyed
Hossein Nasr - Ideals and Realities of Islam - SEYYED HOSSEIN NASR Preface by Titus
Burckhardt Foreword by Huston Smith (Islamic Texts Society - Fons Vitae books).html.
51
A. Athaillah, Aliran Akidah Tafsir al-Manar, (Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN
Antasari, 1990), h. 158-159.
50
45
milik
Tuhan
sebagaimana
tersirat
dalam
Nama-Nama-Nya.
Ketiganya
dipercayakan kepada manusia dan melalui ketiga hal tersebut manusia akan
dibawa kembali kepada-Nya.52
Akal manusia dalam pandangan Nasr, pada prinsipnya dapat mengetahui
segala sesuatu secara tidak terbatas – selain permasalahan esensi Tuhan – kecuali
terdapat sesuatu yang menghalangi akal untuk berfungsi dengan sempurna.
Dengan dasar ini, setiap akal normal dan sehat secara alamiah akan terbawa untuk
mengakui keesaan Tuhan53, apalagi manusia telah mengikat perjanjian dengan
Tuhan yang merupakan simbol hubungan manusia dengan Tuhan sebelum
dilahirkan yang juga berarti bahwa manusia menyatakan pengakuan secara
bawaan terhadap Keesaan-Nya.
Nurcholish
Madjid
menggambarkan
perjanjian
tersebut
sebagai
pengalaman spiritual manusia yang secara psikologis sangat berpengaruh dalam
kehidupan manusia:
Karena perjanjian dan persaksian primordial (sebelum lahir) itu
mengendap jauh sekali di bawah sadar masing-masing pribadi manusia,
praktis tidak seorang pun menyadarinya. Namun dengan semua pengalaman
psikologis manusia, apalagi pengalaman spiritualnya, meski telah
mengendap di bawah sadar, selamanya perjanjian dengan Tuhan itu akan
mempengaruhi hidup kita. Karena itu ia juga akan selamanya ikut
menentukan bahagia atau sengsaranya hidup kita...
Wujud nyata pengaruh pengalaman spiritual manusia yang amat jauh di
bawah sadar itu ialah dorongan batin yang amat kuat untuk menyembah.
Dalam diri manusia ada kerinduan yang besar sekali untuk kembali kepada
Tuhan, memenuhi janjinya dalam kalimat persaksian tersebut tadi. Inilah –
sekali lagi, seperti ditegaskan dalam filsafat perennial – dorongan untuk
beragama; sehingga sesungguhnya membendung dorongan itu adalah
52
53
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 4.
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 16.
46
pekerjaan melawan alam atau natur manusia, maka tidak akan berhasil.
Contohnya ialah eksperimen komunisme yang kini terbukti gagal.54
Konteks ini juga menunjukkan penolakan Islam terhadap konsep dosa
turunan. Dalam Islam ditegaskan bahwa manusia lahir ke dunia dalam keadaan
suci dan dalam kesadaran tentang Ketuhanan secara penuh.
Nasr menilai bahwa Islam sangat menekankan keimanan terhadap Tuhan
dan kesadaran bahwa hanya Tuhan yang memiliki kebebasan absolut karena
hanya Dia yang Tak Terhingga. Meski demikian, manusia juga memiliki
kehendak yang bebas – yang sebenarnya adalah milik-Nya – dan dengan
kebebasan berkehendak ini, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tetapi
karena kehendak manusia adalah milik-Nya, maka Nasr menyatakan bahwa
persoalan manusia bahkan dunia selalu didominasi oleh kehendak Tuhan.
Begitupun, pentingnya ajaran Alquran tentang kebijaksanaan Allah
SWT yang dikombinasikan dengan dominasi Kehendak-Nya dalam
persoalan manusia tidak dapat diabaikan. Tentu saja, agama lain juga
mengajarkan bahwa Tuhan adalah Maha Kuasa dan Maha Tahu, ajaran
seperti itu tidak baru dalam Islam. Hal itu juga disebutkan dalam Taurat dan
Injil. Dalam Islam, prinsip ini khususnya ditekankan dan diintegrasikan ke
dalam sikap religius kehidupan sehari-hari melalui pengulanganpengulangan seperti kalimat insya Allah (jika Allah berkehendak).
Rumusan-rumusan seperti itu memperkuat kehidupan sehari-hari seorang
Muslim dan mengingatkannya bahwa Kehendak Allah SWT mendominasi
setiap peristiwa kehidupan manusia. Kita selalu hidup sesuai dengan
Kehendak-Nya apakah kita menyukainya atau tidak namun Kehendak-Nya
senantiasa mendominasi dunia. Namun Dia juga memberikan kepada kita
kebebasan dari sudut pandang kemanusiaan, sehingga kita hidup menurut
pilihan kita sendiri sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, ada hal timbal
balik antara kekuatan utuh Kehendak Allah dan kehendak manusia. Kepada
umat manusia Dia memberikan kebebasan menggunakan kehendaknya
untuk mengikuti Kehendak-Nya dan untuk menaati-Nya...55
54
Nurcholish Madjid, Kata Pengantar pada Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis:
Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Srigunting, 2004), h. XV-XVI.
55
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 38.
47
Sementara kemampuan berbicara menurut Nasr adalah manifestasi paling
langsung dari diri manusia, ia tidak dapat menyatakan dirinya lebih jelas dengan
cara selain berbicara sehingga dapat dikatakan bahwa berbicara adalah bentuk
lahir dan batin manusia. Ini pula yang menyebabkan kata-kata menjadi pusat
segala ritus dalam Islam, biasanya berkisar pada doa. Berbagai ritual peribadatan
dalam Islam tidak terlepas dari aspek ini. dalam tasauf, terdapat doa yang dibaca
berulang-ulang yang juga disebut dengan zikir yang secara lahiriah adalah
penggunaan kekuatan kata-kata sebagai doa, tetapi secara batin adalah usaha
untuk mengingat Tuhan dengan menyebut Nama-Nya berulang kali.56
Meskipun manusia telah diberi kelebihan dengan adanya akal, kehendak
yang bebas dan kemampuan berbicara tersebut, tetapi dalam pandangan Nasr
manusia tetap membutuhkan petunjuk Tuhan. Hal ini terutama berkenaan dengan
sifat dasar manusia yang pelupa dan acuh tak acuh sehingga harus selalu diberi
peringatan. Nabi Adam sebagai manusia pertama juga sekaligus nabi pertama.
Jika Nabi Adam memerlukan nubuwwah, maka demikian pula keturunannya.
Manusia tidak dapat mengangkat dirinya secara spiritual dengan begitu saja, ia
harus dibangunkan oleh seseorang yang telah sadar.57
Alasan yang paling kuat tentang pentingnya petunjuk Tuhan bagi manusia
menurut Nasr adalah adanya berbagai hambatan yang menyebabkan manusia tidak
mampu menggunakan akalnya dengan baik, meskipun manusia adalah makhluk
theomorfis, tetapi ia selalu melupakan hakikat dirinya itu.
56
57
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 5-6.
Ibid, h. 7.
48
Dalam konteks ini penting diingat bahwa Islam tidak mengakui dosa
turunan, tetapi sekalipun demikian Islam menerima kejatuhan manusia (alhubuth) dari kesempurnaan primordial dan asalnya tempat ia semula
diciptakan. Menurut Islam, dosa besar manusia adalah kealpaan (alghaflah) dan tujuan pesan kewahyuan adalah untuk memungkinkan
manusia agar senantiasa tidak alpa. Itulah sebabnya mengapa salah satu
nama Alquran sendiri adalah “pengingat Allah” (dzikr Allah) dan mengapa
akhir serta tujuan tertinggi seluruh ritus dan konjungsi Islam adalah
mengingat Allah SWT. Sifat primordial manusia tersebut tidak dapat tidak
menegaskan Keesaan Tuhan. Ia tak lain menyatakan kesaksian at-tauhid.
Namun karena kejatuhannya, kehendak manusia telah menyimpang dari
kepatuhan terhadap Allah SWT kepada nafsunya. Karena itu, Allah SWT
telah mewahyukan peraturan dan perintah tegas agama seperti yang
tercantum dalam syari’ah.
Hukum Tuhan telah diwahyukan untuk menahan nafsu manusia dan
memungkinkannya mengarahkan kehendak kepada berfungsinya kebebasan
akal daripada jeratan nafsu, sehingga akal yang “sehat” (al-‘aql as-salim)
mengakui Keesaan Allah, dan kehendak pun mengikuti konsekuensi
Keesaan ini. maka seseorang akan hidup menurut Kehendak Yang Maha
Esa dengan cara mengikuti segala perintah-Nya.58
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dalam pandangan Nasr, semua
kelebihan yang dimiliki manusia pada dasarnya bertujuan untuk mengantarkan
manusia kepada Tuhan, yang akhirnya akan menyatakan hubungan manusia
dengan Tuhan, yaitu suatu hubungan yang universal di mana manusia berada
dalam fitrahnya yang awal sebagai bentuk manifestasi perjanjiannya dengan
Tuhan, bukan dalam bentuk inkarnasi Tuhan dalam diri manusia atau sebaliknya.
Ringkasnya, Islam didasarkan pada hubungan yang universal antara
Tuhan dengan manusia; Tuhan dalam Kemutlakan-Nya, dan manusia dalam
bentuk theomorfisnya. Hubungan ini didasarkan pada akal, kehendak dan
kemampuan berbicara, serta pada keseimbangan dan kepastian. Islam
menjaga keseimbangan dalam kehidupan dengan mengatur kebutuhan
alamiah manusia melalui syari’at. Dan dengan keseimbangan sebagai dasar,
Islam memungkinkan manusia untuk membangun dunia spiritual yang
didasarkan pada renungan dan kepastian tentang Keesaan Tuhan...59
58
59
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 40-41.
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 20.
49
C. Tanggung Jawab dan Hak Manusia
Ayat-ayat Alquran mengandung segala pola dasar antropologi
(kehidupan budaya manusia) Islam yang sakral serta pandangannya tentang
hakikat laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, pertama-tama Tuhan
memilih manusia sebagai wakil (khalifah)-Nya di bumi, yang artinya bahwa
Tuhan memberikan manusia kekuasaan untuk menguasai dan menundukkan
bumi, tetapi dengan syarat mereka tetap patuh kepada Tuhan, yaitu menjadi
hamba Tuhan atau ‘abd Allah. Terdapat begitu banyak ayat mengenai hal
ini.60
Pendapat yang didasarkan pada ayat penciptaan manusia dan perjanjian
pra-eternal manusia dengan Tuhan ini menurut Nasr menunjukkan bahwa
manusia memiliki sedikitnya dua karakter dalam dirinya yang keduanya
berkenaan dengan kedudukannya sebagai khalifah sekaligus hamba Allah,
kedudukan yang menuntut manusia memiliki sifat aktif sebagai khalifah tetapi di
sisi lain juga bersifat pasif sebagai hamba.
Dua karakter utama manusia adalah pengabdian atau penghambaan dan
kekhalifahan. Yang pertama berlaku pasif terhadap Tuhan dengan
menyerahkan diri kepada Kehendak-Nya, dan yang kedua, berlaku aktif
dalam posisi sebagai wakil Tuhan dan melaksanakan Kehendak-Nya di
dunia. Selain itu, Adam telah diajari tentang semua nama. Artinya, Tuhan
telah menempatkan dalam diri manusia suatu kemampuan berpikir yang
sangat vital, yang dengan kemampuan ini manusia dapat mengetahui segala
sesuatu. Hal ini juga berarti bahwa manusia sendiri adalah bayangan Tuhan
atau manifestasi fisik dari semua Nama-Nama Tuhan.61
Meski seluruh manusia menyimpan kedua karakter tersebut dalam dirinya,
tetapi tidak semua manusia bisa merealisasikannya, karena manusia juga
dipengaruhi oleh kemampuan berpikir masing-masing. Sebagaimana telah
dijelaskan di atas, ketika manusia tidak menggunakan akalnya sebagaimana
60
61
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 16.
Ibid.
50
mestinya, maka besar kemungkinan ia akan mengingkari eksistensinya bahkan
memberontak kepada Tuhan. Dalam konteks ini, manusia melupakan karakter
utamanya sebagai hamba dan khalifah Tuhan.
Perjanjian pra-eternal manusia dengan Tuhan seperti dijelaskan di atas,
memberikan beberapa konsekuensi terhadap manusia, ia harus menyesuaikan
akalnya dengan kebenaran yang mutlak, kehendaknya dengan kehendak Yang
Maha Kuasa, dan kemampuannya berbicara sesuai dengan apa yang diinginkan
Tuhan darinya. Sebagai imbalan atas semua anugerah Tuhan atas dirinya, manusia
harus selalu ingat akan asal-usulnya dan harus berusaha mencapai tujuan
perjalanannya di dunia.62
Dalam perjanjian tersebut, muncul tanggung jawab manusia karena
dengan sendirinya manusia telah menerima amanah Allah yang harus
dilaksanakannya di dunia. Dengan memenuhi semua tanggung jawabnya, manusia
akan memperoleh haknya.
Walaupun setiap orang sekarang ini berbicara setiap hari tentang hal-hal
manusia dan sedikit menyinggung tanggung jawab manusia, dalam
praktiknya, bahkan di Barat modern sendiri, dalam banyak kasus, tanggung
jawab mendahului hak. Sebagai contoh, kita harus menjadi sopir taksi yang
bertanggung jawab sebelum kita diberi hak untuk menyetir di jalan umum,
dan begitu juga kita harus menjalankan tanggung jawab keahlian dalam
hukum pertanahan sebelum kita diberi hak untuk mempraktikkan hukum
tersebut. Dalam Islam, hubungan kewajiban dan hak ini bukan masalah
kelayakan atau berorientasi manfaat, melainkan masalah prinsip dan
penerimaan akan prinsip ini mewarnai pemandangan alam budaya dan
intelektual Islam.63
Ada beberapa macam tanggung jawab manusia dalam perspektif Nasr;
pertama tanggung jawab manusia kepada Tuhan; kedua tanggung jawab terhadap
62
63
Seyyed Hossein Nasr, Ideals..., Op. Cit., h. 11.
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 339.
51
dirinya sendiri; ketiga tanggung jawab kepada masyarakat; dan keempat tanggung
jawab terhadap alam.
Tanggung jawab manusia yang tertinggi adalah kepada Tuhan, yakni
seperti disebutkan di atas terkait dengan posisi manusia sebagai khalifah dan
hamba Tuhan. Wujud dari tanggung jawab ini adalah pelaksanaan ibadah dan
pelayanan serta kepatuhan terhadap hukum-Nya.
Kemudian manusia bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Di sini
manusia wajib menjaga jiwa dan raganya, ia tidak diperkenankan membahayakan
dirinya kecuali karena sebab-sebab tertentu seperti perang atau pembelaan diri.
Islam tidak mengizinkan manusia untuk berbuat sesukanya atas tubuhnya, karena
dalam Islam tubuh manusia bukanlah milik manusia, tubuh manusia adalah
ciptaan Tuhan sehingga manusia wajib menjaga dan merawatnya. Itu sebabnya
bunuh diri adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Tanggung jawab terhadap
diri ini juga berkenaan dengan jiwa dan akal. Manusia tidak dapat berbuat baik
kecuali dirinya menjadi baik, karena itu ia harus menjaga kondisi kejiwaannya
agar selalu dalam kebaikan dan memelihara akalnya dengan jalan mencari
pengetahuan dan kebenaran.64
Islam mengajarkan bahwa keingkaran kepada Allah terjadi pada level
psikis, bukan pada level jasmani. Jasmani hanyalah sebagai sebuah
instrumen bagi kecenderungan-kecenderungan yang berasal dari dalam
jiwa. Jiwa itu harus dilatih dan didisiplinkan untuk mempersiapkannya
kepada spirit. Manifestasi kekuatan-kekuatan Ilahi maupun kekuatankekuatan jahat terjadi pada level psikis...65
64
65
Ibid, h. 340.
Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Plight..., Op. Cit., h. 87.
52
Selanjutnya manusia bertanggung jawab kepada masyarakat yang dimulai
dari keluarganya.
Islam
memberikan penegasan berulang-ulang tentang
pentingnya keluarga yang merupakan unit inti dalam kehidupan masyarakat
manapun. Dalam keluarga seseorang bertanggung jawab terhadap orang tuanya,
anak-anaknya, saudara-saudaranya dan sanak keluarga. Terdapat berbagai
kewajiban tidak hanya bersifat ekonomis seperti nafkah, warisan dan sebagainya,
tetapi juga mencakup pemeliharaan keluarga, berbuat baik kepada mereka dan
melindungi mereka dari segala bentuk kejahatan.66
Manusia juga bertanggung jawab kepada masyarakat secara umum, yang
dimulai dari kehidupan bertetangga. Dalam Islam, hubungan bertetangga
dipandang sangat penting karena kontak pribadi dengan tetangga merupakan dasar
terbentuknya kesadaran tentang masyarakat yang lebih luas yang mencakup
keseluruhan umat. Dan dalam masyarakat Islam terdapat tanggung jawab manusia
terhadap seluruh kemanusiaan. Islam mengajarkan bagaimana berhubungan
dengan umat manusia secara umum termasuk dengan penganut agama dan
kepercayaan lain.67
Kemudian manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam sekitarnya,
termasuk di dalamnya hewan, tanaman bahkan bagian-bagian alam lainnya seperti
air udara dan lain-lain.68 Di sini manusia memiliki tanggung jawab, terutama
berkaitan dengan tugasnya sebagai khalifah yang mewakili Tuhan di alam
semesta, untuk menjaga dan merawatnya. Manusia tidak diperkenankan untuk
mengambil kekayaan alam secara serampangan sehingga menimbulkan kerusakan
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 61-62.
Ibid, h. 62.
68
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Loc. Cit..
66
67
53
alam. Tanggung jawab manusia terhadap alam ini, menurut Nasr dapat disamakan
dengan etika lingkungan dalam pemikiran Barat.
Di samping berbagai kewajiban tersebut, manusia juga memiliki beberapa
hak. Hak manusia, menurut Nasr tidak datang dengan sendirinya, tetapi
sebagaimana dijelaskan di atas, diberikan Allah jika manusia memenuhi
kewajibannya karena pada dasarnya hak-hak tersebut terkait dengan tanggung
jawab manusia.
Sebagaimana halnya kewajiban, manusia juga memiliki beragam hak
berupa hak keagamaan, hak dalam kehidupan pribadi dan keluarga, hak hukum,
dan hak sosial politik.69
Hak pertama manusia berkenaan dengan jiwa abadi mereka. Setiap
manusia berhak atas keselamatan jiwa mereka. Islam, demikian pula agamaagama lain memandang bahwa hal ini adalah tugas utama manusia terhadap diri
dan Tuhan, kepada siapa manusia harus menyerahkan jiwanya. Hak ini adalah
kemerdekaan hati nurani dalam hal keyakinan agama. Tuhan tidak berkeinginan
untuk memaksa makhluk-Nya untuk beriman kepada-Nya, tetapi Dia ingin
manusia beriman atas dasar kehendaknya sendiri.70 Dalam Alquran sendiri telah
ditegaskan tentang hal ini:
َ
: ‫ُالبقرة‬
‫ْ الر ْش ُد ِم َن الْغَ يي‬
َ َ‫اَ إِ ْكَرا َ ِِ الديي ِن قَد ت ب‬
Hak selanjutnya adalah hak-hak pribadi yang berkenaan dengan hidup
seseorang, harta, pilihan-pilihan pribadi dan sejenisnya. Setiap manusia memiliki
hak untuk hidup dan memiliki kekayaan kecuali ia melakukan kejahatan yang
69
70
Ibid, h. 344.
Ibid.
54
akibatnya masyarakat dapat menarik sebagian atau malah seluruh hak-hak ini.
manusia juga berhak untuk memilih jalan hidup pribadi mereka, misalnya
pekerjaan yang disukai, siapa yang akan dinikahi, cara mengasuh keluarga, tempat
tinggal dan sebagainya. Meskipun selalu ada penghalang eksternal yang tidak
memungkinkan terpenuhinya hak-hak tersebut, tetapi pada prinsipnya hukum ini
tetap berlaku.71 Dalam masalah ekonomi, manusia properti atau hak kepemilikan
pribadi adalah suatu kekhususan yang diberikan Tuhan kepada manusia, sehingga
dalam Islam hak ini tidak dapat diganggu gugat oleh pemerintah atau kelompok
sosial mana pun.72
Dalam hak-hak hukum, manusia memiliki persamaan di depan hukum.
Termasuk dalam konteks ini adalah hak proses dan pembelaan yang secara tegas
dipertahankan dalam hukum Islam. Di sini sangat ditekankan adanya jaminan
penghargaan terhadap hak-hak hukum semua anggota masyarakat sehingga setiap
orang dapat hidup sesuai dengan aturan hukum.73
Demikianlah, dari sini dapat dilihat bahwa dalam pandangan Nasr,
tanggung jawab dan hak manusia secara umum ada yang bersifat vertikal, yakni
dalam hubungannya dengan Tuhan; kemudian ada yang bersifat horizontal ketika
berhubungan dengan manusia lain dan alam sekitarnya; dan ada pula yang bersifat
aksis, yaitu dalam hubungannya dengan diri manusia itu sendiri. Tanggung jawab
dan hak manusia, sebagaimana pula eksistensinya dan hubungannya dengan
Tuhan, dalam perspektif Nasr terutama didasarkan pada perjanjian pra-eternal
antara manusian dan Tuhan, serta tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri.
71
Ibid, h. 345.
Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s..., Op. Cit., h. 67-68.
73
Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam..., Op. Cit., h. 347.
72
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian tentang perspektif manusia menurut Seyyed Hossein Nasr
pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua sisi kehidupan
manusia tidak terlepas dari tujuan penciptaan dan perjanjiannya dengan Tuhan.
Dalam perspektif Nasr, eksistensi manusia, hubungannya dengan Tuhan dan
tanggung jawab serta haknya adalah:
1. Manusia adalah makhluk theomorfis yang mencerminkan Nama-Nama
dan Sifat-Sifat Tuhan di dunia. ia adalah makhluk sentral di dunia yang
mengemban tugas sebagai wakil Tuhan sekaligus juga sebagai hambanya,
sebuah keunikan eksistensi yang terdapat dalam perjanjian pra-eternal
antara manusia dan Tuhan yang menuntut manusia untuk mengikuti dan
melaksanakan kehendak Tuhan.
2. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah sebuah hubungan yang
universal, di mana Tuhan dan manusia berada dalam eksistensi masingmasing, Tuhan dalam keberadaannya Yang Mutlak dan manusia dalam
keberadaannya sebagai makhluk theomorfis yang selalu bergantung
kepada Tuhan.
3. Ada beberapa macam tanggung jawab dan hak manusia. Secara umum ada
tanggung jawab yang bersifat vertikal, yakni dalam hubungannya dengan
Tuhan, yaitu tanggung jawabnya sebagai khalifah dan hamba Tuhan.
56
57
Kemudian ada yang bersifat horizontal ketika berhubungan dengan
manusia lain dan alam sekitarnya, seperti tanggung jawab terhadap orang
tua dan keluarga, tanggung jawab dalam hubungan bertetangga, dan
tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan alam semesta. Ada pula
tanggung jawab manusia yang bersifat aksis, yaitu dalam hubungannya
dengan diri manusia itu sendiri, seperti kewajibannya untuk menjaga jiwa
dan raganya. Adapun hak manusia adalah hak keagamaan, yaitu hak
manusia untuk bebas memilih keyakinannya; hak dalam kehidupan pribadi
dan keluarga, seperti hak untuk memiliki harta dan hak untuk memiih
pasangan hidup; hak hukum, yaitu hak untuk hidup sesuai dengan aturan
hukum; dan hak sosial politik, seperti hak manusia dalam interaksi sosial
dengan lingkungannya.
B. Saran-Saran
Sebagai manusia kita hendaknya selalu berada dalam jalur yang sesuai
dengan apa yang dikehendaki Tuhan dari penciptaan manusia, yaitu sebagai
hamba yang patuh kepada seluruh perintah Allah dan khalifah yang menjalankan
segala perintah-Nya dan mewujudkan segala kehendak-Nya di dunia, sehingga
dalam tingkah laku sehari-hari tidak terlepas dari segala ketentuan Allah, karena
hanya dengan cara inilah kita bisa mendapatkan hak-hak sebagai manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Adriansyah, M. Ali, Seyyed Hossein Nasr: Tradisionalisme Islam Sebagai
Pencarian
Menuju
Shopia
Perennis,
http://www.pendidikan.net/artikel.us/ali_adrinsyah.html.
Aslan, Adnan, Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen: Seyyed
Hossein Nasr dan John Hick, Bandung: Alfiya, 2004.
Athaillah, A., Aliran Akidah Tafsir al-Manar, Banjarmasin: Balai Penelitian IAIN
Antasari, 1990.
Azra, Azyumardi, Tradisionalisme Nasr: Eksposisi dan Refleksi Laporan dari
Seminar Seyyed Hossein Nasr, Ulumul Quran, 1993.
Butterworth, Charles E., Revelation Over Rationalism: The Thought of Seyyed
Hossein Nasr, http://www.echeat.com/essays/butterworth15-2.pdf.
Echols, John M. and Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Esposito, John L. dan John O. Voll, Demokrasi di Negar-Negara Muslim, terj.
Rahmany Astuti, Bandung: Mizan, 1999.
George Washington University, Seyyed Nasr, http://www.gwu.net/ Lecture
Platform BioBox _ Seyyed Nasr.html.
Madjid, Nurcholish, Kata Pengantar pada Budhy Munawar-Rachman, Islam
Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Jakarta: Srigunting, 2004.
Manser, Martin H., Oxford Learner’s Pocket Dictionary, New York: Oxford
University Press, 1995.
Munawwir, Ahmad Warson Al, Kamus Al-Munawwir :Arab-Indonesia, Surabaya:
Pustaka Progressif, 1997.
Nasr, Seyyed Hossein, A Young Muslim’s Guide to the Modern World, terj. Hasli
Tarekat dengan judul Menjelajah Dunia Modern: Bimbingan Untuk Kaum
Muda Muslim, Bandung: Mizan, 1994.
, Ideals and Realities of Islam, http://www.fonsvitae.com/Seyyed
Hossein Nasr - Ideals and Realities of Islam - SEYYED HOSSEIN NASR
Preface by Titus Burckhardt Foreword by Huston Smith (Islamic Texts
Society - Fons Vitae books).html.
59
, Ideals and Realities of Islam, terj. Abdurrahman Wahid dan
Hashim Wahid dengan judul Islam dalam Cita dan Fakta, Jakarta:
LEPPENAS, 1981.
, Islam and The Plight of Modern Man, terj. Anas Muhyiddin
dengan judul Islam dan Nestapa Manusia Modern, Bandung: Pustaka,
1983.
, Living Sufism, terj. Abdul Hadi WM dengan judul Tasauf Dulu
dan Sekarang, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
, The Encounter Man and Nature, terj. Ali Noer Zaman dengan
judul Antara Tuhan, Manusia dan Alam, Yogyakarta: IRCiSoD, 2003.
, The Heart Of Islam: Enduring Values for Humanity, terj.
Nurasiah Fakih Sutan Harahap dengan judul The Heart Of Islam: PesanPesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan, Bandung: Mizan, 2003.
, The Knowledge and The Sacred , terj. Suharsono, et. al. dengan
judul Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama, Depok: Inisiasi Press,
2004.
Nawawi, Hadari, Hakekat Manusia Menurut Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, 1993.
Rachman, Budhy Munawar-, Pengantar Komaruddin Hidayat dan Muhammad
Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Maret 2003.
Rachman,.Budhy Munawar-, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman,
Jakarta: Srigunting, 2004.
Said, Nur, Kritik Tradisionalisme Islam Terhadap Krisis Dunia Modern (Studi
atas Pemikiran Seyyed Hossein Nasr), An-Nur, Vol. I, No. 2, Februari
2005.
Shihab, Quraish, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, 1994.
Snijders, Adelbert, Antropologi Filsafat: Manusia, Paradoks dan Seruan,
Yogyakarta: Kanisius, 2004.
The Seyyed Hossein Nasr Foundation, A Biography of Seyyed Hossein Nasr,
http://www.nasrfoundation.org/ Biography _ Dr. Seyyed Hossein
Nasr.html
Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
60
Yunus, H. Mahmud, Metodik Khusus Pendidikan Agama, PT. Hadikarya Agung,
Jakarta, 1983.
DAFTAR TERJEMAH
BAB Hal.
TERJEMAH
I
2 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan
memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (alBaqarah: 30)
III
2
Maka kami ampuni baginya kesalahannya itu. dan Sesungguhnya
dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali
yang baik. (Shaad: 25)
25
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah
meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud. (al-Hijr: 28-29)
92
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi
saksi". (al-A’raf : 172).
39
Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit,
bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh, (al-Ahzab : 72)
40
Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka
barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia
mengambil jalan kepada Tuhannya.
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila
dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui
lagi Maha Bijaksana. (al-Insan: 29-30).
61
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (al-Baqarah :
156).
41
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku. (adz-Dzariyat : 56).
Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain aku, Maka sembahlah Aku dan Dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku. (Thaha : 41).
53
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya
Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu
barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada
Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali
yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar
lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah : 256).
Download