2.2 Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang
berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam
komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara.
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia adalah
Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan
mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa
kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan.
Namun karena sering terjadi konflik mulailah dibangun benteng. Hampir di setiap kota
besar di Indonesia. Dalam benteng tersebut, mulailah bangsa Eropa membangun beberapa
bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa.
Mereka membangun banyak rumah, gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan
bentuk tata kota dan arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka. Dari era ini pulalah
mulai berkembang arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Setelah memiliki pengalaman yang
cukup dalam membangun rumah dan bangunan di daerah tropis lembab, maka mereka mulai
memodifikasi bangunan mereka dengan bentuk-bentuk yang lebih tepat dan dapat meningkatkan
kenyamanan di dalam bangunan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Arsitektur Kolonial?
2. Bagaimana Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia?
3. Bagaimana Periodesasi Arsitektur Kolonial?
4. Apa yang mempengaruhi Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia?
5. Bagaimana penerapan Arsitektur Kolonial dalam Rumah Sakit?
Arsitektur Indonesia
Page 1
1.3 Tujuan
Tujuan pembahasan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui arti dari Arsitektur Kolonial
2. Untuk mengetahui Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
3. Mengetahui Periodesasi Arsitektur Kolonial
4. Untuk mengetahui apa yang mempengaruhi Perkembangan Arsitektur Kolonial di
Indonesia
5. Untuk mengetahui penerapan Arsitektur Kolonial dalam Rumah Sakit
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari mempelajari makalah ini adalah mengetahui dan
mengerti apa itu Arsitektur Kolonial, kemudian bagaimana penerapannya pada arsitektur rumah
sakit.
Arsitektur Indonesia
Page 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Arsitektur Kolonial
Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang
berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam
komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring
berkembangnya peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga
akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan
globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti
administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan – bangunan inilah
yang disebut dikenal dengan bangunan kolonial
2.2 Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia adalah
Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan
mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa
kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat
dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk. Namun karena sering terjadi konflik mulailah
dibangun benteng. Hampir di setiap kota besar di Indonesia. Dalam benteng tersebut, mulailah
bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan para tukang
didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun banyak rumah, gereja dan bangunanbangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan arsitektur yang sama persis dengan negara
asal mereka. Dari era ini pulalah mulai berkembang arsitektur kolonial Belanda di Indonesia.
Setelah memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun rumah dan bangunan di daerah
tropis lembab, maka mereka mulai memodifikasi bangunan mereka dengan bentuk-bentuk yang
lebih tepat dan dapat meningkatkan kenyamanan di dalam bangunan.
Arsitektur Indonesia
Page 3
2.3 Periodesasi Arsitektur Kolonial
2.3.1 Abad 16 sampai tahun 1800-an
Waktu itu Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda)
di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda, VOC. Arsitektur Kolonial Belanda
selama periode ini cenderung kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di
Belanda. Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini masih bergaya Belanda
dimana bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam dan dinding depan
bertingkat bergaya Belanda di ujung teras. Bangunan ini tidak mempunyai suatu orientasi
bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat.
Kediaman Reine de Klerk (sebelumnya Gubernur Jenderal Belanda) di Batavia.
2.3.2 Tahun 1800-an sampai tahun 1902
Pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari VOC. Setelah
pemerintahan tahun 1811-1815 wilayah Hindia Belanda sepenuhnya dikuasai oleh
Belanda. Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang
dipelopori oleh GubernurJenderal HW yang dikenal engan the Empire Style, atau The
Ducth Colonial Villa: Gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis)
yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra
Kolonial yang disesuaikan dengan ingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada
masa itu. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur
Neo Klasik dikenal Indische Architecture karakter arsitektur seperti :
1. Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang
(ruang makan) dan di dalamnya terdapat serambi tengah yang mejuju ke ruang tidur
dan kamarkamar lainnya.
2. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi
depan dan belakang.
3. Menggunakan atap perisai.
Arsitektur Indonesia
Page 4
2.3.3 Tahun 1902 sampai tahun 1920-an
Secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 19001920-an :
1. Menggunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan
2. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable,
pediment (dengan entablure).
3. Penggunaan Tower pada bangunan
4. Tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oelh
bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20.
5. Bentuknya bermacam-macam, ada yang bulat, segiempat ramping, dan ada yang
dikombinasikan dengan gevel depan.
6. Penggunaaan Dormer pada bangunan
7. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah

Ventilasi yang lebar dan tinggi.
 Membuat Galeri atau serambi sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan
sinar matahari.
2.3.4 Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
Gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik di tingkat nasional maupun
internasional. Hal ini mempengaruhi arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Pada awal
abad 20, arsitek-arsitek yang baru datang dari negeri Belanda memunculkan pendekatan
untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda. Aliran baru ini, semula masih memegang
unsur-unsur mendasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur yang terutama dirancang
untuk mengantisipasi matahari hujan lebat tropik. Selain unsur-unsur arsitektur tropis,
juga memasukkan unsur-unsur arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi
konsep yang eklektis. Konsep ini nampak pada karya Maclaine Pont seperti kampus
Technische Hogeschool (ITB), Gereja Poh sarang di Kediri.
2.4 Aliran yang Mempengaruhi Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
2.4.1 Gaya Neo Klasik (the Empire Style / the Dutch Colonial Villa) (tahun 1800)
Ciri – Ciri dan Karakteristik :
Arsitektur Indonesia
Page 5
1. Denah simetris penuh dengan satu lanmtai atas dan ditutup dengan atap perisai.
2. Temboknya tebal
3. Langit – langitnya tinggi
4. Lantainya dari marmer
5. Beranda depan dan belakang sangat luas dan terbuka
6. Diujung beranda terdapat barisan pilar atau kolom bergaya Yunani (doric, ionic,
korinthia)
7. Pilar menjulang ke atas sebagai pendukung atap
8. Terdapat gevel dan mahkota diatas beranda depan dan belakang
9. Terdapat central room yang berhubungan langsung dengan beranda depan dan
belakang, kiri kananya terdapat kamar tidur
10. Daerah servis dibagian belakang dihubungkan dengan rumah induk oleh galeri.
Beranda belakang sebagai ruang makan.
11. Terletak ditanah luas dengan kebun di depan, samping dan belakang.
2.4.2 Bentuk Vernacular Belanda dan Penyesuaian Terhadap Iklim Tropis (sesudah
tahun 1900)
Ciri dan karakteristik
1. Penggunaan gevel(gable) pada tampak depan bangunan
2.
Penggunaan tower pada bangunan
3. Penggunaan dormer pada bangunan
4. Denah tipis bentuk bangunan ramping, banyak bukaan untuk aliran udara
memudahkan cross ventilasi yang diperlukan iklim tropis basah
5. Galeri sepanjang bangunan untuk menghindari tampias hujandan sinar matahari
langsung
6. Layout bangunan menghadap Utara Selatan dengan orientasi tepat terhadap
sinar matahari tropis Timur Barat.
2.4.3 Gaya Neogothic ( sesudah tahun 1900)
Ciri-ciri dan karakteristik
1. Denah tidak berbentuk salib tetapi berbentuk kotak
Arsitektur Indonesia
Page 6
2. Tidak ada penyangga( flying buttress) karena atapnya tidak begitu tinggi tidak
runga yang dinamakan double aisle atau nave seperti layaknya gereja gothic.
3. Disebelah depan dari denahnya disisi kanan dan kiri terdapat tangga yang
dipakai untuk naik ke lantai 2 yang tidak penuh.
4. Terdapat dua tower( menara ) pada tampak mukanya, dimana tangga tersebut
ditempatkan dengan konstruksi rangka khas gothic
5. Jendela kacanya berbentuk busur lancip
6. Plafond pada langit-langit berbentuk lekukan khas gothic yang terbuat dari besi.
2.4.4 Nieuwe Bouwen / International Style( sesudah tahun 1900-an)
Ciri-ciri dan karakteristik ;
1. Atap datar
2. Gevel horizontal
3. Volume bangunan berbentuk kubus
4. Berwarna putih
2.4.5 Nieuwe Bouwen / International Style di Hindia Belanda mempunyai 2 aliran
utama.
A. Nieuwe Zakelijkheid
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Mencoba mencari keseimbangan terhadap garis dan massa Bentuk-bentuk asimetris
void saling tindih ( interplay dari garis hoeizontal dan vertical) Contoh ; Kantor
Borsumij ( GC. Citroen)
B. Ekspresionistik ;
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Wujud curvilinie
Contoh : villa Isola ( CP.Wolf ), Hotel Savoy Homann( AF aalbers)
2.4.6 Art Deco
Ciri – ciri dan karakteristik :
1. Gaya yang ditampilkan berkesan mewahdan menimbulkan rasa romantisme
Arsitektur Indonesia
Page 7
2. Pemakaian bahan – bahan dasar yang langka serta material yang mahal
3. Bentuk massif
4. Atap datar
5. Perletakan asimetris dari bentukan geometris
6. Dominasi garis lengkung plastis
2.5 Arsitektur Kolonial Rumah Sakit Darmo
Rumah Sakit Darmo adalah salah satu bangunan kolonial yang terletak di Kota Surabaya
dan merupakan bangunan banda cagar budaya yang sampai sekarang masih digunakan dan
terawat dengan baik. Bangunan Rumah Sakit Darmo terkait dengan perjalanan sejarah
kepahlawanan kota Surabaya dimasa revolusi kemerdekaan dimana tempat ini pernah menjadi
pusat interniran tawanan Eropa di jaman Jepang. Disamping itu Rumah Sakit Darmo merupakan
bangunan monumental buah karya arsitek legendaris C. Citroen Arsitektur bangunan Rumah
Sakit Darmo mendapat pengaruh gaya arsitektur Modern Fungsional dan memiliki unsur gaya
Art Deco. Terlihat pada bentuk dan elemen pendukung yang memperlihatkan ciri arsitektur
Modern dengan gaya Art Deco
2.5.1 Sejarah
Rumah Sakit Darmo didirikan oleh Belanda yang dipimpin HJ. Offerhaus pada
tanggal 9 Juni 1897. Awalnya, Rumah Sakit Darmo diberi nama “Soerabajasche Zieken
Verpleging”.
Pada permulaan tahun 1898, sebuah klinik didirikan di Jalan Ngemplak,
Surabaya, dengan kapasitas 78 tempat tidur. Klinik tersebut dipimpin oleh Zr.
Bonnekamp. Klinik tersebut kemudian diubah menjadi Hotel Ngemplak dan saat ini
dikenal sebagai Asrama Brimob Ngemplak. Tahun 1921, Perkumpulan “Soerabajasche
Zieken Verpleging” (SZV) membeli sebidang tanah di Jl. Raya Darmo 90 Surabaya dan
pada tanggal 15 Januari 1921 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah
Sakit Darmo oleh Mejuffr G. Hempenius (Directrice SZV).
Arsitektur Indonesia
Page 8
Sewaktu pemerintahan Jepang, gedung RS digunakan sebagai bengkel untuk
memperbaiki dan menyimpan senjata berat serta kendaran perang seperti tank. Gedung
RS juga pernah dipakai Jepang sebagai Kamp Interniran anak-anak dan wanita. Setelah
pasukan Sekutu datang ke Surabaya, kamp diambil alih oleh Letkol Rendall pada tanggal
27 Oktober 1945 dan menjadi pusat pertahanan pasukan Brigjen AWS Mallaby.
Tahapan bersejarah RS Darmo.

2003 : Peletakan Batu pertama Gedung Bedah Sentral oleh Ketua Yayasan RS
Darmo, Prof. Dr. Basoeki Wiryo Widjojo, Sp.BS (20 Maret 2003)

2004 : Peresmian Gedung Bedah Sentral oleh Gubernur Jawa Timur, H Imam
Utomo.S (20 Januari 2004).

2005 : Peresmian Gedung Rawat intensif oleh ketua Yayasan RS Darmo, Prof. Dr.
Basoeki Wiryo Widjojo, Sp.BS (19 November 2005)

2008 : Pemasangan plakat RS Darmo sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya.

2010 : Peresmian Gedung Rawat Jalan oleh Walikota Surabaya, Drs Bambang Dwi
Hartono, MPd dan Ketua Pembina Yayasan RS Darmo, Prof. Dr. IGN Gde Ranuh,
SpA (K) (07 Agustus 2010)
2.5.2 Karakteristik
Gambar : Bagian depan Rumah Sakit Darmo
(Sumber : www.thearoengbinangproject.com)
Arsitektur Indonesia
Page 9
Bagian depan Rumah Sakit Darmo yang berbentuk segitiga mengikuti bentuk
atap, khas kolonial. Pada puncak gevel terdapat ornamen menara kayu pendek dengan
penangkal petir di pucuknya. Pada gevel terdapat logo Rumah Sakit Darmo, dengan
tulisan pada bidang lengkung berbunyi “Salus Aegroti Suprema Lex Est” yang secara
harafiah berarti “Kesehatan orang sakit adalah hukum tertinggi”. Rumah Sakit Darmo
memiliki selasar dengan tiga lengkung busur di bagian depan, dan akses utama yang juga
berbentuk lengkung dengan ukuran lebih kecil, dan dua pasang jendela ganda simetris.
Setelah kemerdekaan sempat timbul semacam penolakan terhadap gaya arsitektur
colonial yang memunculkan gaya arsitektur yang disebut jengki, dengan diantara ciricirinya adalah atap pelana, gevel miring, adanya teras, kusen jendela asimetris, dan
interior yang lebih cair.
Gambar : Prasasti pada Rumah Sakit Darmo
(Sumber : www.thearoengbinangproject.com)
Gambar : Lorong pada Rumah Sakit Darmo
(Sumber : www.thearoengbinangproject.com)
Arsitektur Indonesia
Page 10
Lorong masuk utama Rumah Sakit Darmo dengan logo dan tulisan “Salus Aegroti
Suprema Lex Est” di atas gerbang lengkung. Pada lorong ini menggunakan finising
berwarna putih dimana warna putih dominan digunakan pada bangunan kolonial.
Gambar : Pavilium
(Sumber : www.thearoengbinangproject.com)
Paviliun di bagian depan Rumah Sakit Darmo yang berada di sebelah kiri dan
kanan bangunan.
Gambar : Lanscape pada Rumah Sakit Darmo
(Sumber : rumahcomplit.ga)
Lorong pedestrian Rumah Sakit Darmo diteduhi dengan pohon-pohon dan di
depannya terdapat taman-taman.
Arsitektur Indonesia
Page 11
Gambar : Desain pintu pada Rumah Sakit Darmo
(Sumber : wisatasurabaya.50webs.com)
Desain pintu pada Rumah Sakit Darmo dimana terdapat lubang-lubang pada pintu dimana sebagai
sirkulasi udara dan terdapat ventilasi pada bagian atas kusen sebagai penghawaan dan pencahayaan alami.
Arsitektur Indonesia
Page 12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu Arsitektur kolonial
merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan
Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah
kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama
kali datang ke Indonesia adalah Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan
Belanda. Pada mulanya kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Aliran yang
mempengaruhi arsitektur colonial di Indonesia di antaranaya Gaya Neo Klasik, Bentuk
Vernacular Belanda dan Penyesuaian Terhadap Iklim Tropis, Gaya Neogothic, Nieuwe Bouwen /
International Style, Art Deco.
3.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan masyarakat mengerti serta mengetahui apa itu
arsitektur colonial dan bagaimana penerapannya di Indonesia serta penerapannya dalam
arsitektur rumah sakit.
Arsitektur Indonesia
Page 13
DAFTAR PUSTAKA
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Sakit_Darmo
http://www.thearoengbinangproject.com/rumah-sakit-darmo-surabaya/
http : portalgaruda.org
wisatasurabaya.50webs.com
rumahcomplit.ga
www.thearoengbinangproject.com)
Arsitektur Indonesia
Page 14
Download