ETHICS **ETIKA**

advertisement
ETHICS
‘’ETIKA’’
By
Kurnia Sh
Dini Haryanti
Maria Rhosita
Nunuk Ichda
Yosepha Ika
What’s Ethics ... ????
Kode moral dari suatu profesi tertentu
Standar penyelenggaraan suatu profesi
Persetujuan diantara manusia untuk melakukan yang benar
dan menghindari yang salah.
‘’apa yang tidak etis tidak berarti illegal. Dalam
lingkungan yang kompleks, definisi benar dan salah tidak selalu
jelas. Juga perbedaan antara illegal dan tidak beretika tidak
selalu jelas’’
SIFAT ETIKA ...
1.
Non-empiris
Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris
adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang
kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat
berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah
menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret.
Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti
pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan,
tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan
atau tidak boleh dilakukan.
2. Praktis
Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu
“yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa
itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu,
melainkan bertanya tentang “apa yang harus
dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang
filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan
dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis
dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika
tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya
etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati
nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil
melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki
kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita
mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.
ReLatiVism
Relativis berpendapat bahwa seseorang
dapat membuat keputusan etis bermakna
hanya dalam konteks sosial di mana
masalah etika terjadi.
Dengan kata lain, apa yang benar di satu
tempat atau waktu mungkin salah di
tempat lain atau waktu.
cOntecXtuaLism
• kontekstualis ini berpendapat bahwa kriteria yang relevan
untuk membuat keputusan etis yang berarti dapat ditemukan
hanya dalam konteks setiap masalah etika yang konkret.
• Setiap situasi etis sebenarnya unik, dan solusi yang benarbenar etis untuk masalah dapat tiba di hanya bila semua
faktor dari situasi unik yang dapat ditimbang oleh mereka
yang terlibat dalam masalah.
• Setiap orang membuat keputusan terbaik yang bisa, dengan
menggunakan pengetahuan terbaik yang ia miliki pada waktu
itu keputusan.
• Seperti penilaian etika yang bermakna hanya dapat
dilakukan setelah ada situasi masalah, bukan sebelumnya.
• ide-ide seperti "jangan membunuh," "jangan mencuri," dll,
dapat digunakan sebagai pedoman, tetapi mereka harus
ditinggalkan jika situasi tertentu panggilan untuk itu.
PENDEKATAN TINGKAH LAKU
ETIKA
1. Utilitarian Approach
Setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh
karena itu seseorang harus mengikuti cara-cara yang dapat
memberi manfaat sebesar-besarnya.
2. Individual Right Approach
Setiap orang dalam tindakan kelakuannya memiliki hak
dasar yang harus dihormati. Namun tindakan atau tingkah
laku tersebut harus dihindari apabila akan menyebabkan
benturan dengan pihak lain
3. Justice Approach
Pembuat keputusan mempunyai hak sama dan bertindak
adil
PERBEDAAN ETIKET DENGAN
ETIKA
1. Etiket menyangkut cara (tata acara) suatu
perbuatan harus dilakukan manusia. Misal :
Ketika saya menyerahkan sesuatu kepada
orang lain, saya harus menyerahkannya
dengan menggunakan tangan kanan. Jika
saya menyerahkannya dengan tangan kiri,
maka saya dianggap melanggar etiket.
Etika menyangkut cara dilakukannya suatu
perbuatan sekaligus memberi norma dari
perbuatan itu sendiri. Misal : Dilarang
mengambil barang milik orang lain tanpa izin
karena mengambil barang milik orang lain
tanpa izin sama artinya dengan mencuri.
“Jangan mencuri” merupakan suatu norma
etika. Di sini tidak dipersoalkan apakah pencuri
tersebut mencuri dengan tangan kanan atau
tangan kiri.
2. Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak
seorang diri (ada orang lain di sekitar kita). Bila tidak
ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada saksi mata,
maka etiket tidak berlaku. Misal : Saya sedang makan
bersama bersama teman sambil meletakkan kaki saya
di atas meja makan, maka saya dianggap melanggat
etiket. Tetapi kalau saya sedang makan sendirian (tidak
ada orang lain), maka saya tidak melanggar etiket jika
saya makan dengan cara demikian.
Etika selalu berlaku, baik kita sedang sendiri atau
bersama orang lain. Misal: Larangan mencuri selalu
berlaku, baik sedang sendiri atau ada orang lain. Atau
barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan
meskipun si empunya barang sudah lupa.
3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak
sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja
dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Misal :
makan dengan tangan atau bersendawa waktu
makan.Etika bersifat absolut. “Jangan mencuri”,
“Jangan membunuh” merupakan prinsip-prinsip
etika yang tidak bisa ditawar-tawar.
4.. Etiket memandang manusia dari segi lahiriah
saja. Orang yang berpegang pada etiket bisa juga
bersifat munafik. Misal : Bisa saja orang tampi
sebagai “manusia berbulu ayam”, dari luar sangan
sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan.
Etika memandang manusia dari segi dalam. Orang
yang etis tidak mungkin bersifat munafik, sebab
orang yang bersikap etis pasti orang yang sungguhsungguh baik.
auTonoMouS eThics
eTika OtoNomi
Timbul dari dalam diri sendiri,
untuk individu sendiri telah pada
pembuatan keputusan mengenai
apa yang merupakan tindakan
moral / tidak bermoral.
Seperti otonomi menyiratkan kata,
individu-diri ditentukan;
tindakannya adalah manifestasi
keputusan sendiri.
kontras dua bentuk etika.
Yang pertama adalah perilaku yang
sesuai dengan kode yang diberikan
dan kebiasaan sosial,
yang kedua adalah otonom-perilaku
etis yang dalam-termotivasi dan
didasarkan pada kepentingan moral
yang tulus pada kesejahteraan orang
lain.
Otonomi etika sebagian besar
merupakan produk dari pengalaman
sendiri, dalam pengertian ini adalah
sangat pribadi, yang mencerminkan
kepekaan sendiri dan nilai-nilai.
Download