Denudasi Dan Deposisi Terhadap Pembentukan

advertisement
Denudasi Dan Deposisi Terhadap Pembentukan Daerah Jawa Tengah
Tugas Ini disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah
Analisis Lahan
Dosen Pengampu : Dr.Ir. SUDARTO,M.S.
Kelas : C
Disusun oleh :
1. NurFiscaPutrisiwi
115040200111177
2. Naely Rohmah
115040200111038
3. Yunita Nurlatifah
4. Dylan Indra P
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
DENUDASI DAN DEPOSISI
Denudasi adalah pengikisan lapisan atas permukaan bumi oleh tenaga eksogen
sehingga menjadi kurang subur. Lapisan batuan yang lapuk pada lereng – lereng pegunungan
selalu dipengaruhi oleh gaya berat. Jika kecepatan pelapukan tidak dapat mengikuti
kecepatan runtuhnya lapisan batuan, maka batuan asli akan terkelupas dan terbuka.
Hilangnya lapisan atas batuan lapuk juga dipengaruhi oleh deflasi, yaitu tenaga yang berasal
dari air es dan angin.
Proses yang mendorong terjadinya degradasi dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
1. Pelapukan, produk dari regolith dan saprolite (bahan rombakan dari tanah)
2. Transport, yaitu proses perpindahan bahan rombakan terlarut dan tidak terlarut karena erosi
dan gerakan tanah
Sedimentasi merupakan proses tenaga eksogen yang merupakan proses kelanjutan
dari pengikisan atau pelapukan. Setelah lapisan batuan dikikis oleh tenaga eksogen (air,
gletsyer, angin) hasil pengikisan akan mengalami transportasi atau pengangkutan oleh air,
gletsyer, angina, dan apabila daya angkut tenaga berkurang material yang dibawanya akan
terendap (tersedimentasi). Sedimentasi batuan merupakan hasil dari pelapukan, erosi dan
denudasi dengan hasil biasanya berlapis-lapis. Apabila hasil pelapukan pada sedimentasi
tersebut terdiri dari batuan yang berupa hancuran kasar maka batuan tersebut disebut
konglomerat, sedangkan apabila batuan tersebut bersudut tajam, maka disebut breccie.
Struktur dan tektonika Madiun
Lembar Madiun mencakup tiga mandala geologi, yaitu: pegunungan selatan jawa
timur di selatan, lajur kendeng di utara, dan lajur gunungapai diantara keduanya. Struktur
geologi berkembang lebih menonjol di pegunungan selatan dan di lajur Gunungapi Kuarter.
Di pegunungan selatan terjadi dua fasa pengendapan, yaitu pada akhir ologosen-awal
meiosen terbentuk Formasi mandalioka, dan pada akhir meiosen awal sampai Meiosen tengah
terbentuk Formasi Jaten, formasi wuni dan formasi wonosari. Kedua fasa pengendapan itu
dioisahkan oleh bidaang ketakselarasa, yang menunjukkan adanya kegiatan tektonika yang
pertama.
Kegiatan terktonika berikutnya diduga terjadi pda akhir Meiosen tengah yang
mengakibatkan ketiga formasi tersebut terlipat, tersesarkan dan terkekarkan. Bidang
lipatannya secara umum berarah barat-tenggara. Sejumlah kelurusan, baik berupa sesar
maupun kekar, umumnya berarah timurlaut-baratdaya, dan sebagian kecil baratlaut-tenggara
danutara-selatan. Bersamaan dengan kegiatan tektonika ini, terjadi pula kegiatan magmatik
dengan munculnya retas andesit, dasit dan mikrodiorit.
Di lembar ini kegiatan tektonika di lajur kendeng terjadi pada awal pleistosen akhir.
Kegiatan itu ditandau dengan terlipatnya Formasi Notopuro, walau sangat lemah. Dengan
lipatan timur-barat, dan miring ke selatan.
Pola kelurusan dibatuan gunungapi kuarter G. Wilis, umumnya berarah timur lautberat daya dan barat laut-tenggara, dan sedikit yang berarah utara-selatan. Pola ini sama
dengan pola kelurusan di pegunungan selatan. Sebagian kelurusan itu berkembang menjadi
sesar dan kekar. Sesar utama di daerah ini ialah sesar K. Kuncir dan sesar K. Klepon. Kedua
sesaar
itu
merupakan
sesar
turun,
yang
membentuk
terban
diantaranya.
Terbentuknya struktur di batuan gunung api kuarter itu diduga disebaban oleh penggiatan
kembali yang mengalasi batuan gunungapi, perkiraan ini didasarkan kepada pola struktur di
batuan gunungapi yangsama dengan pola struktur batuan ologosen-meiosen di pegunungan
selatan. Penggiatan kembali itu dduga berlangsung pada plistosen akhir, bersamaan dengan
perlipatan Formasi Notopuro.
Secara fisiografi daerah Magetan (Gambar 2.1) termasuk Zona Randublatung dan
Depresi Tengah Jawa serta Zona Gunungapi Kuarter meliputi G. Lawu (Bemmelen, 1949).
Bentang alam Kabupaten Magetan terdiri dari Perbukitan volkanik Kwarter dan Perbukitan
volkanik Tersier. Perbukitan volkanik Kwarter dengan sumber erupsi utamanya G. Lawu
mempunyai penyebaran terluas di wilayah Kabupaten Magetan, diawali dari puncak G.
Lawu, menyebar ke arah timur , timurlaut dan tenggara. Secara morfografi dan morfogenesa,
wilayah Kabupaten Magetan dapat dibagi menjadi lima satuan bentuklahan yaitu:
1. Dataran Aluvial melampar di sebelah utara sampai selatan di bagian timur Kabupaten
Magetan, ketinggian antara 50 sampai 100 m diatas permukaan laut.
2. Kaki Gunungapi melampar di bagian utara ke selatan sampai bagian tengah Kabupaten
Magetan, ketinggian antara 100-150 m diatas permukaan laut.
3. Lereng Gunungapi terdapat dibagian tengah wilayah yang melampar luas dari utara sampai
selatan Kabupaten Magetan dengan ketinggian antara 150-950 m diatas permukaan laut.
4. Kerucut Gunungapi terletak disebelah timur Kabupaten Magetan yang berketinggian antara
550-3265 m diatas permukaan laut dan G. Lawu merupakan puncak tertinggi.
5. Kerucut Parasiter terdapat di bagian tenggara G. Lawu, antara lain di G. Bancak, G.
Bungkuk dan G. Butak.
Berdasarkan karakteristik lereng, Kabupaten Magetan terdiri dari beberapa klas kelerengan,
yaitu:
1. Kemiringan 0-5 % (0-3°), merupakan wilayah datar dengan luas 180.17 km2 atau 25.46%
dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
2. Kemiringan 5-30 % (3-17°), merupakan wilayah bergelombang halus-sedang dengan luas
146.56 km2 atau 20.71% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
3. Kemiringan 30-50 % (17-27°), merupakan wilayah bergelombang agak kasar dengan luas
189.90 km2 atau 26.83% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
4. Kemiringan 50-70 % (27-36°), merupakan wilayah bergelombang kasar dengan luas
wilayah 128.47 km2 atau 18,15% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
5. Kemiringan >70 % (36-90°), merupakan wilayah bergelombang sangat kasar dengan luas
wilayah 62.52 km2 atau 8.83% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
(Kabupaten Magetan, 2008, Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Kabupaten Magetan,
Pemerintah Kabupaten Magetan, hal 2-3.)
Gambar. Peta tatanan fisiografi regional (Bemmelen, 1949).
Struktur geologi yang dijumpai di daerah pemetaan adalah sesar dan kekar yang
berupa sesar normal dan sesar geser, mensesarkan patahan yang lebih dahulu terbentuk. Pada
zona sesar merupakan daerah yang lemah, sehingga umumnya pada daerah ini banyak
berkembang peristiwa alam gerakantanah. Struktur sesar biasanya dicirikan oleh gawir-gawir
tegak memanjang seperti terdapat di daerah G. Cemoro Penganten dan G. Puncakdalang.
Oleh karena itu faktor geologi akan dipertimbangkan dalam pemetaan zona kerentanan
gerakantanah. Struktur kekar dijumpai pada lava andesit, yaitu berupa kekar tiang dan kekar
lembaran, seperti yang dijumpai di daerah G. Lawu. Sesar-sesar lain umumnya berarah barattimur, baratlaut-tenggara, dan baratdaya-timurlaut menempati komplek batuan volkanik
Lawu Tua dan sebagian kecil batuan volkanik Lawu Muda. Sesar atau kekar juga ditemui
pada batuan volkanik Tersier yang mepunyai arah barat daya-timurlaut, seperti didaerah G.
Bungku, G. Bancak dan G. Pacet. Adanya struktur sesar, kekar juga sangat berpengaruh
terhadap terjadinya gerakan tanah
Gambar.Struktur geologi Jawa Timur (Sudrajat, Untung, dkk, 1975).
Gambar. Peta kerangka tektonik Jawa Tengah-Jawa Timur bagian utara (Sutarso &
Suyitno, 1976).
Faktor-faktor penyebab gerakan tanah merupakan fenomena yang mengkondisikan
suatu lereng menjadi berpotensi untuk bergerak atau longsor, meskipun pada saat ini lereng
tersebut masih stabil (belum longsor). Lereng yang berpotensi untuk bergerak ini baru akan
bergerak apabila ada gangguan yang memicu terjadinya gerakan. Faktor-faktor penyebab ini
umumnya merupakan fenomena alam (meskipun ada yang bersifat non alamiah), sedangkon
gangguan pada lereng atau faktor penyebab dapat berupa proses alamiah atau pengaruh dari
aktivitas manusia ataupun kombinasi antara keduanya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan dan mengacu pula pada Varnes (1978) dan
Direktorat Geologi Tata Lingkungan (1996) mengidentifikasi faktor-faktor pengontrol
terjadinya gerakan tanah sebagai berikut:
1. Kondisi geomorfologi (kemiringan lereng)
2. Kondisi tanah/batuan penyusun lereng
3. Kondisi iklim
4. Kondisi hidrologi lereng
5. Erosi sungai
6. Getaran
7. Aktivitas manusia
Sebagian besar wilayah di Indonesia merupakan wilayah perbukitan dan
pegunungan, sehingga banyak dijumpai lahan yang miring. Lereng atau lahan yang miring ini
berpotensi atau berbakat untuk mengalami gerakan tanah. Semakin besar kemiringan suatu
lereng dapat mengakibatkan semakin besarnya gaya penggerak massa tanah/batuan penyusun
lereng.
Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua lahan yang miring selalu rentan
untuk bergerak. Jenis, struktur, dan komposisi tanah/batuan penyusun lereng juga berperan
penting dalam mengontrol terjadinya gerakan tanah. Sering kita jumpai di lapangan, lereng
batuan yang kompak dan masif akan tetap berciri tegak dan stabil, meskipun lereng tersebut
merupakan tebing yang curam. Hal ini disebabkan karena masif dan kompaknya batuan
penyusun lereng (kohesi dan kuat gesernya cukup besar untuk mempertahankan kestabilan
lereng)
Gerakan tipe luncuran dan nendatan cenderung terjadi pada lereng lebih curam dari
20°. Sebaliknya, gerakan tipe rayapan akan terjadi pada lereng dengan kemiringan landai
(20°).
Download