Bab I - Staff UNY

advertisement
Dr. Maman Suryaman
Wiyatmi, M.Hum
Dr. Nurhadi
Else Liliani, M.Hum
SEJARAH SASTRA INDONESIA BERPERSPEKTIF
GENDER
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
1
2010
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt.,
yang telah melimpahkan rachmat dan hidayah-Nya,
sehingga penulisan buku yang berjudul Sejarah Sastra
Indonesia Berperspektif Gender ini dapat terwujud.
Proses penulisan buku ini diawali dengan sebuah
penelitian yang mengkaji buku-buku sejarah sastra
Indonesia yang telah ditulis sejumlah sejarawan sastra
dan digunakan sebagai bahan ajar di sekolah dan
perguruan tinggi dengan menggunakan perspektif
gender. Dari kajian tersebut terungkap masih adanya
bias gender pada sejumlah buku. Di samping itu,
penelitian juga mencoba mengungkapkan aspek gender
dalam pelaksanaan pembelajaran di program studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan program
studi Bahasa dan Sastra Indonesia di empat universitas
di Yogyakarta, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta
(UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas
Sanata Dharma (USD), dan Universitas Ahmad Dahlan
(UAD), persepsi dosen dan mahasiswa terhadap aspek
gender dalam pembelajaran Sejarah Sastra.
Dengan selesainya penulisan buku ini, kami
perlu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang ikut terlibat dalam penelitian dan penyusunan buku
ini yaitu Lembaga Penelitian UNY, Fakultas Bahasa dan
Seni UNY, para dosen dan mahasiswa di UNY, UGM,
USD, dan UAD yang telah bersedia menjadi nara
sumber, juga Prof. Dr. Suminto A. Sayuti sebagai atas
reviuw dan saran-sarannya untuk peneyempurnaan
proposal, instrument, laporan penelitian, dan draft buku
ini. Kami menyadari sepenuhnya akan kekurangan
dalam buku ini. Oleh karena itu, saran yang bersifat
3
membangun demi penyempurnaan buku ini kami terima
dengan tangan terbuka.
Yogyakarta, Agustus 2010
Tim Penulis
4
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
BAB I SEJARAH SASTRA INDONESIA
BERPERSPEKTIF GENDER
A. Tujuan Pembelajaran
B. Materi Pembelajaran
1
1
1.Sejarah Sastra Indonesia
2. Perlunya Sejarah Sastra Berperspektif Gender
3. Penulisan Sejarah Sastra Indonesia
Berperspektif Gender
4. Metode Penulisan Sejarah Sastra Indonesia
Berperspektif Gender
C. Rangkuman
D. Latihan dan Tugas
1
2
BAB II PERKEMBANGAN FIKSI INDONESIA
DAN ISU KESETARAAN GENDER
A. Tujuan Pembelajaran
B. Materi Pembelajaran
1. Perkembangan Fiksi Indonesia
2. Dominasi Penulis Laki-laki dalam
Perkembangan Fiksi Indonesia
8
9
9
10
10
10
10
15
3. Armijn Pane, Marco Kartodikromo, dan
Marah Rusli sebagai Pelopor Penulisan
Novel Indonesia
18
5
4.
PEREMPUAN DALAM
INDONESIA 16
PERKEMBANGAN
FIKSI
A. Tujuan Pembelajaran
16
B. Materi Pembelajaran
16
1. Novelis dan Cerpenis Perempuan dan
Karyanya
16
2. Isu Gender dalam Fiksi Indonesia
58
C. Rangkuman
152
D. Latihan dan Tugas
154
BAB III PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN
DRAMA
INDONESIA
157
A. Tujuan Pembelajaran
157
B. Materi Pembelajaran
157
1.
Penulis dan Pelaku Drama (Aktres)
Perempuan
157
6
2. Isu Gender dalam Sejarah Drama
Indonesia
224
C. Rangkuman
235
D. Latihan dan Tugas
235
BAB IV
PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN
PUISI
INDONESIA
235
A. Tujuan Pembelajaran
235
B. Materi Pembelajaran
235
1. Penyair Perempuan dan Karyanya
235
2. Isu Gender dalam Puisi Indonesia
293
C. Rangkuman
325
D. Latihan dan Tugas
326
DAFTAR PUSTAKA
328
7
BAB I
SEJARAH SASTRA INDONESIA
BERPERSPEKTIF GENDER
A.
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca dan memahami materi ini diharapkan mahasiswa mampu mendapatkan pengetahuan dan menjelaskan konsep sejarah sastra Indonesia,
perlunya sejarah sastra Indonesia berperspektif gender,
dan metode penulisan sejarah sastra Indonesia berperspektif gender.
B. Materi Pembelajaran
1. Sejarah Sastra Indonesia
Sejarah Sastra merupakan salah satu dari tiga
cabang ilmu sastra, di samping Teori Sastra dan Kritik
Sastra (Wellek & Warren, 1990). Sejarah sastra mempelajari perkembangan sastra yang dihasilkan oleh
suatu masyarakat atau bangsa. Dalam konteks Indonesia, maka Sejarah Sastra akan mempelajari perkembangan sastra nasional (Indonesia). Melalui Sejarah
Sastra, maka orang akan memahami karya-karya apa
sajakah yang pernah dihasilkan masyarakat atau bangsa tertentu, siapa sajakah para penulisnya, persoalan
apa sajakah yang ditulis dalam karya-karya sastra
tersebut?
Telah cukup banyak buku sejarah sastra Indonesia ditulis orang dan dipakai sebagai bahan
8
pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa contoh buku tersebut antara lain
adalah Pokok dan Tokoh dalam Sastra Indonesia
(A.Teeuw, 1955), Sastra Baru Indonesia (A. Teeuw,
1980), Sastra Indonesia Modern II (A Teeuw, 1987),
Perkembangan Novel Indonesia (Umar Junus, 1974),
Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Ajip Rosidi, 1969),
dan Perkembangan Sastra Drama dan Teater Indonesia
(Jakob Sumardjo, 1985).
Berdasarkan pembacaan dan kajian terhadap
beberapa buku-buku tersebut, tampak bahwa buku tersebut masih ada kecenderungan bias gender, karena
karya-karya tersebut tampak mengabaikan karya, kreativitas, keberadaan para pengarang perempuan. Artinya,
masih diperlukan penulisan sejarah sastra yang
berperspektif gender. Sejarah sastra, yang tidak hanya
mencatat perkembangan berbagai genre dan fenomena
sastra, tetapi juga sejarah sastra yang memberikan
porsi yang adil dalam mencatat, menganalisis, dan
memberikan tempat tidak hanya pada kegiatan sastra
para sastrawan laki-laki, tetapi juga para sastrawan
perempuan, serta memahami bagaimana relasi gender
yang terefleksi dalam karya-karya sastra tersebut.
2. Perlunya Sejarah Sastra Berperspektif Gender
Di samping disusun kurang mempertimbangkan
aspek gender, buku-buku sejarah sastra yang telah
disebutkan di atas, dalam perspektif teori feminis dapat
dikategori sebagai produk ilmu pengetahuan malestream (“arus laki-laki”) dengan epistemologi modern,
9
yang oleh Halberg (via Brooks, 2005:43) dikatakan sebagai “cara laki-laki mengetahui”. Oleh karena itu, saatnyalah sekarang disusun sejarah sastra yang berperspektif gender, yaitu sejarah sastra yang menggunakan
epistemologi sudut pandang feminis. Yang dimaksud
dengan epistemologi sudut pandang feminis (the feminist standpoint approach), sebagaimana dikemukakan
oleh Sandra Harding (2007; Brooks,2005:46) adalah
metode yang memahami pengetahuan yang lebih dekat
dengan pengalaman yang dimiliki perempuan. Melalui
penyelidikan dari sudut pandang perempuan menurut
Harding dapat diatasi keberpihakan dan penyimpangan
dari ilmu pengetahuan dominan androsentris/borjuis/Barat.
Apa yang dinyatakan oleh Harding, didukung
oleh Shulamit Reinhart (2005:221-222) yang mengatakan bahwa melalui metode feminis ada usaha untuk
menggali informasi yang hilang tentang perempuan tertentu dan tentang perempuan yang umum, mengidentifikasi penghilangan, penghapusan, dan informasi
yang hilang tentang kegiatan para perempuan. Di samping itu, Reinhart (2005: 213-214) juga mengemukakan
bahwa ahli sejarah feminis menggunakan artifak budaya
(dalam konteks ini, salah satunya karya-karya sastra)
untuk meneliti perempuan secara individual atau kelompok, hubungan antara perempuan dengan laki-laki,
hubungan antarperempuan, persinggungan antara identitas ras, gender, kelas, usia, dan lembaga, pribadi, dan
pandangan yang membentuk hidup para perempuan.
10
Dalam wacana ilmu sastra, sejarah sastra
berperspektif gender dapat disusun dengan mendasarkan pada kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis
merupakan salah satu ragam kritik sastra (kajian sastra)
yang mendasarkan pada pemikiran feminisme yang
menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun
dalam karya sastra-karya sastranya. Lahirnya kritik
sastra feminis tidak dapat dipisahkan dari gerakan
feminisme yang pada awalnya muncul di Amerika
Serikat pada tahun 1700-an (Madsen, 2000:1).
Dalam paradigma perkembangan kritik sastra,
kritik sastra feminis dianggap sebagai kritik yang bersifat
revolusioner yang ingin menumbangkan wacana yang
dominan yang dibentuk oleh suara tradisional yang
bersifat patriarki (Ruthven, 1985:6). Tujuan utama kritik
sastra feminis adalah menganalisis relasi gender, yaitu
situasi ketika perempuan berada dalam dominasi lakilaki (Flax, dalam Nicholson, 1990: 40). Melalui kritik
sastra feminis akan dideskripsikan opresi perempuan
yang terdapat dalam karya sastra (Humm, 1986:22).
Dalam hubungannya dengan penulisan sejarah
sastra Humm (1986:14-15) menyatakan bahwa penulisan sejarah sastra sebelum munculnya kritik sastra
feminis, dikonstruksi oleh fiksi laki-laki. Oleh karena itu,
kritik sastra feminis melakukan rekonstruksi dan membaca kembali karya-karya tersebut dengan fokus pada
perempuan, sifat sosiolinguistiknya, mendeskipsikan
tulisan perempuan dengan perhatian khusus pada
penggunaan kata-kata dalam tulisannya.
11
3. Penulisan Sejarah Sastra Indonesia Berperspektif Gender
Gender mengacu kelompok atribut dan perilaku
yang dibentuk secara sosial yang melekat pada kaum
laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara
sosial maupun kultural (Humm, 2007:177; Flax, dalam
Nicholson, 1990:45; Fakih, 2006:8). Konsep gender
dibedakan dengan seks, yang mengacu pada perbedaan jenis kelamin yang bersifat biologis (Humm,
2007:177-178). Dalam hal ini jenis kelamin laki-laki
sering dikaitkan dengan gender maskulin, sementara
jenis kelamin perempuan dikaitkan dengan gender feminin (Humm, 2007: 177-178; Fakih, 2006:8-9; Abdullah, 2000).
Dalam masyarakat perbedaan gender tersebut
telah menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan isu gender. Beberapa isu gender tersebut antara lain berhubungan dengan relasi gender,
peran gender, juga ketidakadilan gender yang dialami
perempuan maupun dialami oleh laki-laki (Fakih, 2006:8-19). Isu-isu gender tersebut memiliki implikasi yang
sangat luas dalam kehidupan sosial, budaya, hukum,
bahkan juga politik. Karena merupakan hasil dari
konstruksi sosial, maka ciri dari sifat-sifat tersebut
menurut Fakih (2006:8) dapat saling dipertukarkan.
Artinya, ada laki-laki yang emosional, lemah lembut,
keibuan, sementara itu juga ada perempuan yang kuat,
rasional, dan perkasa. Sejarah perbedaan gender
antara laki-laki dengan perempuan terjadi melalui suatu
12
proses yang panjang, melalui proses sosialisasi, penguatan, dan kontruksi sosial, kultural, keagamaan, bahkan
juga melalui kekuatan negara (Fakih, 2006:9).
Perbedaan gender (gender differences) tersebut
telah melahirkan berbagai ketidakadilan terutama bagi
kaum perempuan. Fakih (2006:12-19) mengemukakan
berbagai bentuk ketidakadilan gender bagi perempuan
antara lain adalah marginalisasi, subordinasi, stereotipe,
kekerasan, dan beban kerja lebih berat pada perempuan. Anggapan bahwa ada jenis pekerjaan tertentu
yang dianggap cocok untuk perempuan karena
keyakinan gender merupakan bentuk dari maeginalisiasi
perempuan. Dalam konstruksi gender, karena perempuan dianggap tekun, sabar, pendidik, dan ramah, maka
pekerjaan yang dianggap cocok bagi mereka adalah
sekretaris, guru TK, penerima tamu, bahkan juga pembantu rumah tangga. Sementara jabatan seperti direktur, kepala sekolah, atau sopir yang memungkinkan
mendapatkan gaji lebih besar dipegang oleh para lakilaki.
Pandangan gender juga menimbulkan subordinasi perempuan dalam hubungannya dengan relasi
gender. Karena perempuan dianggap lebih emosional,
maka dianggap tidak bisa memimpin dan karena itu
ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Contoh
subordinasi tersebut, misalnya jika dalam rumah tangga
keuangan terbatas dan harus mengambil keputusan
untuk menyekolahkan anak, maka anak lelaki yang
mendapatkan prioritas. Contoh lainnya, adanya anggapan bahwa semua pekerjaan yang dikategorikan
13
sebagai “reproduksi” dianggap lebih rendah dan menjadi
subordinasi dari pekerjaan “produksi” yang dikuasai oleh
laki-laki (Fakih, 2006:15).
Perbedaan gender juga telah menimbulkan beban kerja yang lebih berat pada perempuan. Karena
adanya anggapan bahwa kaum perempuan bersifat memelihara dan rajin, serta tidak akan menjadi kepala
rumah tangga, maka semua pekerjaan domestik
dibebankan pada perempuan (Fakih, 20006:21). Dalam
kasus perempuan juga bekerja di sektor publik, maka
beban kerja perempuan menjadi lebih berat, karena dia
juga harus melakukan semua kerja domestik. Dalam
lingkup domestik (rumah tangga) terdapat tata nilai yang
berbasis gender, misalnya pada masyarakat patriarki
yang menganut ideologi familialisme, yang mengatur
peran gender antara perempuan dengan laki-laki.
Menurut ideologi familialisme, peran utama perempuan
adalah di rumah sebagai ibu dan istri, sementara peran
utama laki-laki adalah sebagai penguasa utama rumah
tangga yang memiliki hak-hak istimewa dan otoritas
terbesar dalam keluarga, sehingga anggota keluarga
yang lain, termasuk istri harus tunduk kepadanya.
4.
Metode Penulisan Sejarah Sastra Indonesia
Berperspktif Gender
Dalam konteks penulisan Sejarah Sastra Indonesia berperspektif gender, kritik sastra feminis tidak boleh dilupakan. Showalter (1986) menawarkan dua model
pendekatan kritik sastra feminis yang dapat diman14
faatkan sebagai metode penelitian dan penulisan sejarah sastra, yaitu (1) kritik sastra feminis yang melihat
perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/feminist critique) dan (2) kritik sastra feminis yang
melihat perempuan sebagai penulis (the woman as
writer/gynocritics). Kritik sastra feminis model perempuan sebagai pembaca (woman as reader) memfokuskan kajian pada citra dan stereotipe perempuan
dalam sastra, pengabaian dan kesalahpahaman tentang
perempuan dalam kritik sebelumnya, dan celah-celah
dalam sejarah sastra yang dibentuk oleh laki-laki (Showalter, 1985;130). Kritik sastra feminis ginokritik meneliti sejarah karya sastra perempuan (perempuan sebagai
penulis), gaya penulisan, tema, genre, struktur tulisan
perempuan, kreativitas penulis perempuan, profesi penulis perempuan sebagai suatu perkumpulan, serta
perkembangan dan peraturan tradisi penulis perempuan
(Showalter, 1986:131).
C.
Rangkuman
Sejarah sastra merupakan salah satu dari tiga
cabang ilmu sastra, di samping teori sastra dan kritik
sastra (Wellek & Warren, 1990). Sejarah sastra mempelajari perkembangan sastra yang dihasilkan oleh
suatu masyarakat atau bangsa. Dalam konteks Indonesia, maka sejarah sastra akan mempelajari perkembangan sastra nasional (Indonesia). Karena sejarah
sastra mencatat pelaku dan fenomena kesusastraan
yang melibatkan sastrawan laki-laki dan perempuan,
15
idealnya, buku-buku sejarah sastra tidaklah bias gender. Oleh karena itu, perlu dilakukan penulisan buku
sejarah sastra yang mengakomodasi keberadaan para
sastrawan perempuan, selain sastrawan laki-laki dalam
perkembangan sastra Indonesia.
D. Latihan dan Tugas
1. Untuk memperdalam pemahaman Anda terhadap
materi pembelajaran yang telah Anda pahami,
bacalah, ringkaslah, dan analisislah buku-buku sejarah sastra Indonesia yang telah disebutkan dalam
materi ini. Berikan perdapat Anda mengenai aspek
gender dalam buku-buku tersebut!
2. Jelaskan apa yang mendasari pandangan bahwa
penulisan sejarah sastra berperspektif gender perlu
dilakukan!
16
Download