Analisis Tingkat Kematangan Manajemen Proyek Pengembangan

advertisement
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
ISSN : 2442-8337
Analisis Tingkat Kematangan Manajemen Proyek
Pengembangan Perangkat Lunak Menggunakan Scrum
Maturity Model: Studi Kasus PT. XYZ
Ahlijati Nuraminah
Program Studi Sistem Informasi, STIMIK ESQ
Jl. TB Simatupang Kavling 1, Cilandak, Jakarta Selatan – 12560
Email: [email protected]
Abstract: Scrum is an agile framework designed for simplicity to produce software incrementally and
iteratively involving collaboration between a team of developers and consumers. PT. XYZ has
implemented Scrum since 2012, but there are problems in the implementation that projects don't
achieve the time target of software development timeline. This research examines the maturity level of
project management of software development that implement Scrum frameworks with quantitative
research methodology using Scrum Maturity Model. Data were collected through questionnaires to the
Scrum Master on software development projects that have implemented Scrum work. The conclusion
from this research is PT. XYZ reached maturity level 2 Scrum Maturity Model. Recommendations for
improvement are given to improve processes to achieve maturity level 3, 4, and 5.
Keywords: Maturity Level, Project Management, Scrum, Scrum Maturity Model.
Abstrak: Scrum adalah kerangka tangkas dirancang untuk kesederhanaan untuk menghasilkan
perangkat lunak secara bertahap dan iteratif yang melibatkan kolaborasi antara tim pengembang dan
konsumen. PT. XYZ telah menerapkan Scrum sejak 2012, tetapi ada masalah dalam pelaksanaan,
dimana proyek-proyek tidak mencapai target waktu dari timeline pengembangan perangkat lunak.
Penelitian ini menguji tingkat kematangan manajemen proyek pengembangan perangkat lunak yang
menerapkan kerangka kerja Scrum dengan metodologi penelitian kuantitatif dengan menggunakan
Scrum Maturity Model. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada Scrum Master di proyek-proyek
pengembangan perangkat lunak yang telah menerapkan Scrum kerja. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah PT. XYZ mencapai tingkat kematangan 2 dari Scrum Maturity Model. Rekomendasi perbaikan
diberikan untuk meningkatkan proses untuk mencapai kematangan level 3, 4, dan 5.
Kata kunci: Maturity Level, Project Management, Scrum, Scrum Maturity Model.
1. PENDAHULUAN
Di era perkembangan teknologi informasi saat
ini, peranan perangkat lunak semakin penting
sehingga dikatakan sebagai business enabler
bagi organisasi [1]. Dalam mengembangkan
perangkat lunak dikenal beberapa metodologi
pengembangan, diantaranya Waterfall, Spiral,
dan Agile. Metodologi agile adalah metodologi
Ahlijati Nuraminah
Page 1
yang berbasis kolaborasi antara semua pihak
yang
berkepentingan
dalam
proses
pengembangan
dengan
menerapkan
kesederhanaan
dalam
mengadaptasi
perubahan kebutuhan produk perangkat lunak
dan menerapkan strategi bertahap dalam
merilis produk.
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Salah satu implementasi agile methodology
Sprint
Daily
Scrum
Sprint
Planning
Sprin
t
Revie
w
Sprint
Retrospe
ctive
Proyek
A
17
2
17
17
4
Proyek
B
9
5
9
9
9
Proyek
C
13
2
13
13
13
Tabel 1 menampilkan data jumlah pelaksanaan
Daily Scrum, Sprint Planning Meeting, Sprint
Review, dan Sprint Retrospective pada proyek
pengembangan perangkat lunak berbasis
Scrum yang dikumpulkan pada kurun waktu 1–
31 Januari 2013 yang dilakukan pada tiga
proyek di PT. XYZ yaitu Proyek A, B, dan C.
Tabel 1. Data Scrum Events pada PT. XYZ
adalah Scrum. Scrum adalah sebuah kerangka
kerja bersifat agile yang didesain secara
sederhana dimana orang-orang yang terlibat
dalam pengembangan produk perangkat lunak
akan bekerja bersama secara kolaboratif untuk
menyelesaikan masalah-masalah kompleks
yang terjadi sehingga bisa mengembangkan
produk dengan nilai setinggi mungkin secara
produktif dan kreatif [2]. Prinsip kerja Scrum
adalah bekerja secara iteratif dan bertahap
hingga mencapai waktu yang telah ditentukan
sehingga produk perangkat lunak yang
dikembangkan dapat memenuhi kebutuhan
yang diinginkan oleh konsumen.
PT. XYZ adalah sebuah perusahaan penyedia
layanan Teknologi Informasi dengan fokus
utama pada aplikasi bisnis, solusi mobile dan
infrastruktur jaringan. Sejak tahun 2012 PT.
XYZ mulai menerapkan Scrum pada proyekproyek pengembangan perangkat lunak. Hasil
evaluasi tahunan pada akhir 2013 diperoleh
data adanya ketidakefektifan penerapan
kerangka kerja Scrum dilihat dari rata-rata sisa
pekerjaan pada Sprint yang selalu tidak tuntas.
Sprint
Daily
Scrum
Sprint
Planning
Sprin
t
Revie
w
Sprint
Retrospe
ctive
Proyek
A
17
2
17
17
4
Proyek
B
9
5
9
9
9
Proyek
C
13
2
13
13
13
Ahlijati Nuraminah
Page 2
Pada Tabel 2 disajikan data total jumlah Sprint
Backlog yang direncakan untuk dikerjakan,
jumlah Sprint Backlog yang selesai dikerjakan,
dan sisa Sprint Backlog yang tidak selesai
dikerjakan.
Tabel 2. Data Capaian Sprint pada PT. XYZ
Jumlah
target
backlog
Jumlah
backlog
yang
selesai
Sisa
pekerjaan
(%)
Capaian
Sprint
Proyek
A
196
122
74
62.24%
Proyek
B
154
121
33
78.57%
Proyek
C
401
243
158
60.59
Rata-rata capaian pada Sprint masih di bawah
70% sementara harapan pencapaian Sprint
ditargetkan di atas 80%. Untuk mencari
sumber masalah dari rendahnya pencapaian
Sprint dilakukan analisis dengan menggunakan
diagram Ishikawa yang disajikan pada Gambar
1.
Gambar 1. Diagram Ishikawa Analisis Akar
Masalah
Diagram Ishikawa pada Gambar 1 membagi
akar masalah menjadi empat, yaitu manusia,
metode, material, dan proses. Akar-akar
permasalahan yang mungkin menjadi
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
penyebab diidentifikasi dari keempat domain.
Dari akar-akar masalah yang berhasil
diidentifikasi seperti pada Gambar 1 maka
penelitian difokuskan untuk mengetahui
tingkat kematangan manajemen proyek
pengembangan perangkat lunak menggunakan
Scrum. Atas dasar hal ini, penulis menetapkan
pertanyaan penelitian berikut ini: Berapakah
tingkat kematangan manajemen proyek
pengembangan perangkat lunak yang
menerapkan kerangka kerja Scrum di PT. XYZ
dan apa saja rekomendasi yang diperlukan
untuk memperbaiki tingkat kematangan?
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan
analisis tingkat kematangan manajemen
proyek pengembangan perangkat lunak yang
menerapkan Scrum pada PT. XYZ dan
memberikan rekomendasi perbaikan untuk
memperbaiki tingkat kematangan pada proyek
pengembangan perangkat lunak yang
menerapkan kerangka kerja Scrum pada PT.
XYZ.
Sementara itu manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah sebagai bahan evaluasi
bagi PT. XYZ mengenai tingkat kematangan
manajemen proyek pengembangan perangkat
lunak yang menerapkan kerangka kerja Scrum
dan sebagai acuan perbaikan bagi pelaksanaan
proyek-proyek TI berikutnya yang akan
dikembangkan oleh PT. XYZ, serta sebagai
kajian akademik terhadap Agile Project
Management khususnya pada kerangka kerja
Scrum. Ruang lingkup penelitian ditetapkan
pada proyek TI yang dikerjakan oleh PT. XYZ
dibatasi pada proyek yang telah menerapkan
metode Scrum pada kurun waktu tahun 20122014.
Aturan-aturan
pada
Scrum
mengatur
hubungan dan interaksi diantara events, roles,
dan artifact [4].
Roles dalam Scrum adalah peran-peran yang
dimainkan dalam proses pengembangan
perangkat lunak. Tiga peran utama pada Scrum
yaitu:
1) Product Owner, pihak yang bertanggungjawab
terhadap
suksesnya
pengembangan produk, biasanya adalah
representasi dari konsumen.
2) Scrum Master, fasilitator untuk melayani
tim, tidak bertindak sebagai manajer
proyek
3) Tim Pengembang, sekelompok orang
yang
bertanggung
jawab
untuk
menghasilkan produk perangkat lunak.
Pada proyek pengembangan menggunakan
Scrum, peran manajer proyek berubah dari
fungsi memimpin dan mengontrol perjalanan
proyek dalam mencapai tujuan proyek,
menjadi memfasilitasi kolaborasi tim dan
menyingkirkan penghalang bagi kesuksesan
tim. Karena tim pada Scrum bersifat dapat
mengelola diri sendiri, maka proses
pengambilan keputusan terjadi di tingkat tim
pengembang. Oleh sebab itu fungsi
pengendalian proyek bergeser dari manajer
proyek ke tim pengembang. Scrum Master
bertugas memastikan bahwa setiap anggota
tim berkolaborasi secara efektif dengan Produt
Owner [2].
Scrum juga mengidentifikasikan empat objek
artefak yang dioperasikan oleh tim Scrum
selama siklus pengembangan, yaitu:
1) Product Backlog: daftar fitur prioritas
untuk produk akhir perangkat lunak.
2. TINJAUAN TEORITIS
Scrum adalah sebagai sebuah metodologi agile
untuk mengelola proyek melalui metode
incremental dan iterative [3]. Scrum
Framework terdiri atas tim Scrum beserta
peran-perannya,
pertemuan-pertemuan,
artefak-artefak, dan sekumpulan aturan main.
Setiap komponen pada kerangka kerja Scrum
memiliki tujuan tertentu dan sangat penting
bagi keberhasilan dan penggunaan Scrum.
Ahlijati Nuraminah
Page 3
2)
3)
Sprint Backlog: daftar pekerjaan yang
akan dilaksanakan pada sebuah Sprint
(iterasi
pengembangan)
yaitu
menerjemahkan
bagian-bagian
dari
Product Backlog ke dalam produk jadi.
Release Burndown Charts: Grafik yang
menggambarkan
kemajuan
dari
pelaksanaan proyek dari waktu ke waktu
yang memungkinkan tim Scrum untuk
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
4)
memiliki visi global terhadap proyek
pengembangan.
Sprint Burndown Charts: Grafik yang
menggambarkan progres Sprint dari
waktu ke waktu yang berguna bagi tim
pengembang untuk melihat kemajuan
Sprint.
Interaksi antara peran-peran menggunakan
objek artefak di atas menggunakan beberapa
jenis pertemuan pada Scrum, yaitu:
1) Sprint, kerangka waktu iterasi dengan
durasi maksimal satu bulan untuk
mengembangkan produk.
2) Sprint
Planning
Meeting,
rapat
perencanaan Sprint yang dilakukan di awal
untuk memilih fitur-fitur apa saja yang
akan dikerjakan.
3) Sprint Review, pertemuan evaluasi
pelaksanaan Sprint yang dilakukan di akhir
Sprint. Pada pertemuan ini produk
perangkat lunak akan didemonstrasikan
kepada Product Owner.
4) Daily Scrum, pertemuan harian bagi tim
pengembang.
5) Sprint Retrospective, pertemuan yang
dilakukan setelah Sprint Review dan
sebelum Sprint Planning berikutnya untuk
kilas balik Sprint yang bertujuan mencari
hal-hal yang dapat ditingkatkan pada
Sprint berikutnya.
Scrum memperkenalkan konsep Sprint yang
merepresentasikan sebuah iterasi dari siklus
pengembangan berbasis waktu dengan durasi
selama dua minggu sampai satu bulan. Inti dari
Scrum terdiri dari satu set sprint-sprint yang
menghasilkan perangkat lunak jadi pada setiap
akhir Sprint. Sprint adalah kerangka waktu
iterasi dengan durasi maksimal satu bulan
untuk menghasilkan produk dengan definisi
“Done” atau “Selesai”, dapat digunakan, dan
berpotensi untuk dirilis.
Siklus iterasi Scrum ditampilkan pada Gambar
2.
Green [5] memaparkan metode yang
digunakan oleh Adobe Systems untuk
mengukur dampak penerapan Scrum terhadap
proses pengembangan perangkat lunak. Ada
tiga macam area pengukuran yang
diprediksikan oleh Adobe System sebagai
faktor yang dapat memberikan indikator yang
baik dari pengaruh Scrum terhadap proyek
yaitu: 1) Rating subyektif dari anggota tim
Scrum tentang bagaimana proses Scrum telah
mempengaruhi proyek dan bagaimana cara tim
melakukan Scrum. 2) Data tentang defect
produk, seperti defect counts, deferral rates,
cycle-to-cycle curve information, dan 3) Net
Promoter Scores, yaitu skor yang mengukur
tingkat kepuasan customer sebelum dan
sesudah adopsi Scrum. Dari ketiga area
pengukuran, dapat disimpulkan bahwa adopsi
Scrum dapat dibuktikan telah memberikan
dampak yang positif dalam proyek
pengembangan perangkat lunak.
Gambar 2. Scrum Framework
Sumber: Schwaber & Beedle [3]
V. Mahnic, N. Zabkar [6] memberikan
gambaran
tentang
sebuah
perangkat
pengukuran yang memberikan wawasan
berkelanjutan bagi pihak manajemen TI
tentang proses pengembangan perangkat
lunak berbasis Scrum. Data yang dijadikan basis
pengukuran adalah velocity proyek, Release
Burndown Chart, Sprint Burndown Chart dan
Earned Value Management menggunakan
Schedule Performance Index (SPI) dan Cost
Performance Index (SPI). Kesimpulan yang
diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa
setiap
pengukuran
yang
diajukan
mengindikasikan aspek yang penting dalam
mengukur kemajuan proyek pengembangan
perangkat lunak berbasis Scrum. Kemajuan
Ahlijati Nuraminah
Page 4
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
proyek diperlukan oleh pihak manajemen
untuk mengambil keputusan terkait proyek.
Lee (2012) menggali faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kesuksesan dalam penerapan
metodologi Scrum melalui penelitian kualitatif.
Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah
bahwa tidak mudah untuk melakukan
generalisasi teori tentang kemudahan dan
kepraktisan dalam penerapan metodologi
Scrum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
kombinasi faktor-faktor yang mempengaruhi
kesuksesan penerapan Scrum methodology
yaitu kinerja pengembangan software,
karakteristik tim pengembang, kompetensi
tim, ketangkasan pengembangan software.
Bustard, Wilkie, & Greer [7] melakukan
penelitian untuk memahami kemajuan tingkat
kematangan pengembangan perangkat lunak
yang menggunakan metode agile melalui
survei pada industri perangkat lunak. Survei ini
memberikan dua wawasan baru dalam
penerapan metodologi agile yaitu 1)
Metodologi agile menggantikan Waterfall
sebagai
pendekatan
standar
dalam
pengembangan perangkat lunak dan 2)
penerapan metode agile telah dapat diterima
dengan baik oleh perusahaan pengembang
perangkat lunak namun definisi metode agile
yang lebih jelas lagi masih dibutuhkan untuk
peningkatan proses dan manfaat.
Untuk memecahkan masalah pada penelitian
ini, dilakukan kajian terhadap metodologimetodologi yang relevan yaitu Project
Management Maturity Model (PMMM),
Portfolio,
Programme
and
Project
Management Maturity Model (P3M3),
Capability Maturity Model Integration (CMMI),
Agile Maturity Model (AMM), dan Scrum
Maturity Model.
Project Management Maturity Model (PMMM)
adalah sebuah perangkat formal yang
dikembangkan oleh PM Solutions [8] dan
digunakan untuk mengukur kematangan
manajemen proyek organisasi. Setelah tingkat
kematangan manajemen proyek diidentifikasi,
PMMM menyediakan roadmap dan langkahAhlijati Nuraminah
Page 5
langkah yang dibutuhkan untuk memperbaiki
tingkat kematangan. PMMM mengukur tingkat
kematangam melalui sepuluh knowledge area
di dalam Project Management Body of
Knowledge [9].
Portfolio, Programme & Project Management
Maturity Model (P3M3) adalah versi
pengembangan dari Project Management
Maturity Model [10]. P3M3 bertujuan untuk
menyediakan penilaian dan pengukuran skor
terhadap portfolio, programme dan aktivitas
terkait proyek di dalam proses area yang
memberikan kontribusi untuk mencapai
kesuksesan proyek. PMMM dan P3M3 sesuai
digunakan
untuk
pengukuran
tingkat
kematangan manajemen proyek yang
menggunakan knowledge area dari PMBOK
Project Management Body of Knowledge [9].
Untuk penelitian ini PMMM kurang relevan
karena proyek-proyek yang diteliti tidak
menggunakan PMBOK.
Capability Maturity Model Integration (CMMI)
diperkenalkan pada tahun 2002 oleh Software
Engineering Institute yang mendeskripsikan
prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang
mendasari kematangan proses pengembangan
perangkat lunak. Tingkat kematangan
(maturity level) ditandai dengan satu rangkaian
proses area yang telah ditetapkan. Tingkat
kematangan dievaluasi dari specific goal dan
generic goal yang juga berlaku bagi berbagai
area lainnya [11]. Ada lima tingkat kematangan
pada staged representation yaitu Initial,
Managed, Defined, Quantitatively Managed
dan Optimizing. Namun model CMMI belum
cukup komprehensif untuk menilai tingkat
kematangan manajemen proyek Scrum.
Agile Maturity Model (AMM) dikemukakan
oleh Patel & Ramachandran [12] yang
menghubungkan
praktik-praktik
pengembangan perangkat lunak dengan
metode agile dengan konsep tingkat
kematangan pada CMMI. AMM dirancang
berdasarkan agile values, agile principles, dan
agile practices. Ada lima tingkat kematangan
pada AMM yaitu Initial, Explored, Defined,
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Improved, dan Mature. AMM cukup relevan
untuk menilai kematangan proyek yang
menerapkan metode agile. Namun, untuk
menilai tingkat kematangan proyek yang
menerapkan kerangka kerja Scrum AMM dinilai
masih terlalu umum.
Kerangka Agile Maturity Model yang
dikembangkan oleh Patel & Ramachandran
[12] kemudian dilanjutkan oleh Yin, Figueiredo,
& Miguel [13] yang memperkenalkan konsep
Scrum Maturity Model untuk menilai tingkat
kematangan Scrum. Scrum Maturity Model
juga terinspirasi dari process area di dalam
CMMI dan dibuat pemetaan antara proces area
dengan praktik-praktik Scrum. SMM memiliki
lima tingkat kematangan yaitu Initial.
Managed, Defined, Quantively Managed dan
Optimizing. Scrum Maturity Model sudah
cukup relevan untuk menilai kematangan
proyek Scrum sehingga dipilih sebagai rujukan
utama dalam menilai tingkat kematangan
manajemen proyek yang menerapkan
kerangka kerja Scrum.
Dari berbagai topik yang telah dibahas,
dirancang kerangka teoritis penelitian seperti
diagram pemikiran sistem yang ditunjukkan
pada Gambar 3.
Gambar 3. Kerangka Teoritis
3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
dengan langkah penelitian yang dirancang
sesuai dengan diagram yang disajikan pada
Ahlijati Nuraminah
Page 6
Gambar 4.
Gambar 4. Kerangka Penelitian
Gambar 4 menggambarkan alur desain
penelitian. Berikut penjabaran tahapan
penelitian yang dilakukan:
1. Identifikasi Permasalahan. Bertujuan
untuk mendefiniskan latar belakang
permasalahan yang mendasari penelitian
yang dilakukan dengan metode studi
dokumen menggunakan masukan dari
dokumen jadwal pengembangan proyek
yang menerapkan Scrum di PT. XYZ.
Keluaran dari tahapan ini adalah
permasalahan utama penelitian.
2. Pendalaman Masalah. Pemetaan akar
masalah dengan menggunakan metode
analisis Fishbone. Keluaran dari proses ini
berupa pertanyaan penelitian.
3. Studi Literatur. Pelaksanaan tinjauan
pustaka dilakukan untuk mencari teori,
penelitian, serta metodologi yang
relevan dengan pertanyaan penelitian
yang telah didefinisikan pada tahapan
sebelumnya yang besumber dari buku
teks, makalah dan jurnal internasional
sehingga menghasilkan keluaran berupa
kerangka teoritis yang mendasari
penelitian.
4. Penyusunan Kuesioner. Pembuatan
instrumen penelitian berupa proses
penyusunan kuesioner yang diadaptasi
dari pertanyaan pada Scrum Maturity
Model. Keluaran dari proses ini berupa
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
5.
6.
7.
8.
draft daftar pertanyaan.
Uji Keterbacaan Kuesioner. Sebelum
disusun dalam bentuk final, daftar
pertanyaan awal harus diuji coba kepada
calon responden yang dinilai mempunyai
karakteristik yang relatif sama dengan
responden sesungguhnya. Kuesioner
akan diperbaiki berdasarkan input balik
dari calon responden. Jika daftar final
kuesioner sudah dianggap layak untuk
disebarkan, maka dilanjutkan ke tahap
berikutnya yaitu penyebaran kuesioner.
Penyebaran Kuesioner. Pengumpulan
data dilakukan dengan menyebarkan
kuesioner yang telah tersusun pada
tahap sebelumnya melalui surat
elektronik kepada responden. Keluaran
dari proses ini adalah kuesioner yang
telah terisi.
Analisis Kuesioner. Setelah kuesioner
terkumpul kembali kemudian dilakukan
analisis
terhadap
kuesioner
menggunakan metode statistik. Keluaran
dari proses ini adalah tingkat
kematangan proyek pengembangan
perangkat lunak yang menerapkan
Scrum.
Identifikasi Sasaran Perbaikan. Dari
tingkat kematangan yang diperoleh
kemudian dilakukan identifikasi sasaran
perbaikan untuk mencapai tingkat
kematangan yang lebih tinggi. Tahapan
ini dilakukan dengan menggunakan
9.
metode analisis terhadap KPA (Key
Process Area). Keluaran dari tahapan ini
adalah rekomendasi sasaran perbaikan.
Penyusunan Kesimpulan dan Saran.
Langkah terakhir adalah pembuatan
kesimpulan dan saran berdasarkan hasil
dan analisis dari tahapan sebelumnya.
Ada dua jenis yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer didapatkan dari
observasi, penyebaran kuesioner
dan
wawancara terhadap obyek penelitian. Data
sekunder didapatkan dari studi dokumentasi
proyek pengembangan perangkat lunak pada
PT. XYZ.
Berdasarkan pertimbangan jenis data yang
dibutuhkan maka subyek penelitian yang
ditetapkan adalah individu yang berperan
Scrum Master pada proyek pengembangan
perangkat lunak yang sudah menerapkan
Scrum. Ada empat proyek akan diteliti yaitu
Proyek TE, Proyek NV, Proyek HMS, dan Proyek
TR. Deskripsi dari keempat proyek dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Deskripsi Proyek
No.
1.
2.
Nama
Proyek
TE
NV
Keterangan
Deskripsi
Proyek pengembangan aplikasi sistem back office untuk perusahaan
travel agent.
Tipe Proyek
Proyek
Client
PT. AB
Platform Teknologi
Desktop Application (Microsoft WPF, SQL Server)
Durasi Proyek
Juni 2012 – Desember 2012
Tim Pengembang
Delapan orang.
Scrum Master
Satu orang. Berlatar belakang programmer.
Deskripsi
Proyek pengembangan aplikasi back office dan sistem akuntansi untuk
sasaran perusahaan kecil dan menengah.
Ahlijati Nuraminah
Page 7
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
No.
3.
4.
Nama
Proyek
HMS
TR
Keterangan
Tipe Proyek
Produk internal PT. XYZ
Client
Internal perusahaan
Platform Teknologi
Cloud Application (Microsoft ASP.NET, SQL Server, Windows Azure)
Durasi Proyek
Maret 2013 – Februari 2014
Tim Pengembang
Tujuh orang
Scrum Master
Satu orang. Berlatar belakang programmer. Pengalaman sebagai Scrum
Master satu kali pada proyek TE.
Deskripsi
Proyek pengembangan aplikasi pengelolaan hotel.
Tipe Proyek
Proyek
Client
PT. AB
Platform Teknologi
Cloud Application (Microsoft ASP.NET, SQL Server, Windows Azure)
Durasi Proyek
Mei 2013 – Februari 2014
Jumlah Anggota Tim
Pengembang
Lima belas orang yang dibagi-bagi menjadi tiga tim kecil terdiri atas
masing-masing lima orang
Scrum Master
Dua orang. Satu orang berlatar belakang programmer dan satu orang
berlatar belakang system analyst.
Deskripsi
Proyek pengembangan portal dan aplikasi document management
system
Tipe Proyek
Proyek
Client
PT. TR
Platform Teknologi
Web Application (Microsoft Sharepoint)
Durasi Proyek
Agustus 2014 – Desember 2014
Jumlah Anggota Tim
Pengembang
Empat orang
Scrum Master
Dua orang. Satu orang berlatar belakang programmer dan satu orang
berlatar belakang system analyst. Pengalaman masing-masing satu kali
sebagai Scrum Master.
Untuk melakukan analisis data digunakan
pendekatan statistik yang diadaptasi dari untuk
∑(𝑌𝑛) + ½ ∑(𝑃𝑛)
∗ 100%
∑(𝑇𝑛) − ∑(𝑁𝐴𝑛)
Presentase untuk masing-masing KPA dihitung
menggunakan persamaan:
keperluan analisis data dilakukan penilaian
kuesioner menggunakan pendekatan metode
Agile Maturity Model (AMM) [12].
Respon pada kuesioner adalah “Ya” (poin
pertanyaan
dijalankan/ada
seluruhnya),
“Tidak”
(poin
pertanyaan
tidak
dijalankan/tidak ada seluruhnya), “Sebagian”
Ahlijati Nuraminah
(poin pertanyaan hanya dijalankan sebagian),
dan “Tidak Berlaku (N/A)” (poin pertanyaan
tidak dapat diimplementasikan).
Page 8
Dimana Yn = Jumlah jawaban “Ya”
Pn = Jumlah jawaban “Sebagian”
Tn = Jumlah total pertanyaan
NAn = Jumlah jawaban “Tidak Berlaku
(N/A)”
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Dari nilai persentase KPA Rating yang
diperoleh, maka dilakukan penafsiran penilaian
ke dalam kategori berikut :
 Fully Achieved (Tercapai Sepenuhnya):
86% sampai 100%
 Largerly Achieved (Sebagian Besar
Dicapai): 51% sampai 85%
 Partially Achieved (Sebagian Dicapai): 16%
sampai 50%
 Not Achieved (Tidak Tercapai): 0% sampai
15%
Tingkat kematangan proses pengembangan
perangkat lunak yang dinilai akan berada pada
level dimana seluruh KPA-nya tercapai
sepenuhnya (Nilai KPA Rating ≥ 86% untuk
setiap KPA).
Setelah dilakukan penilaian pada masingmasing tingkat kematangan, selanjutnya
dilakukan identifikasi area perbaikan Sasaran
perbaikan diidentifikasi melalui jawaban dari
kuesioner yang bernilai “Sebagian”, “Tidak”,
atau “Tidak Berlaku (N/A)”. Dari jawabanjawaban tersebut dipetakan praktik-praktik
yang seharusnya dilakukan.
4. HASIL PENELITIAN
Penyusunan kuesioner dilakukan dengan
mengacu kepada Scrum Maturity Model [13].
Rincian jumlah pertanyaan untuk setiap tingkat
kematangan pada masing-masing sasaran
umum untuk Scrum Maturity Model dapat
dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Rincian Jumlah Pertanyaan pada Scrum Maturity Model
Tingkat
2
Sasaran Umum
2.1 Basic Scrum Management
2.2 Software Requirements
Engineering
3
3.1 Customer Relationship
Management
3.2 Iteration Management
Sasaran Khusus
Jumlah
Pertanyaan
2.1.1 Ada peran-peran Scrum
3
2.1.2 Ada artefak-artefak Scrum
9
2.1.3 Ada pertemuan-pertemuan Scrum
5
2.1.4 Sprint dilaksanakan dengan benar
2
2.2.1 Definisi Product Owner jelas
4
2.2.2 Manajemen Product Backlog
6
2.2.3 Sprint Planning Meeting yang sukses
6
3.1.1 Ada definisi “Selesai”
2
3.1.2 Product Owner tersedia
1
3.1.3 Sprint Review Meeting yang sukses
2
3.2.1 Pengelolaan Sprint Backlog
7
3.2.2 Iterasi direncanakan
4
3.2.3 Daily Scrum yang sukses
6
3.2.4 Velocity yang terukur
5
4
4.1 Standardized Project
Management
4.1.1 Manajemen proyek yang distandarisasi
1
5
5.1 Performance Management
5.1.1 Sprint Retrospective yang sukses
3
5.1.2 Indikator positif
3
4.1 Penilaian Tingkat Kematangan 2 Sasaran
Umum Basic Scrum Management
Ahlijati Nuraminah
Page 2
Sasaran umum Basic Scrum Management
memiliki empat sasaran khusus yaitu: 1) Ada
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
peran-peran Scrum; 2) Ada artefak-artefak
Scrum; 3) Ada pertemuan-pertemuan Scrum;
dan 4) Sprint dilaksanakan dengan benar.
Berdasarkan
hasil
penilaian
tingkat
kematangan untuk setiap sasaran khusus yang
ada di dalam sasaran umum Basic Scrum
Management diperoleh hasil rekapitulasi KPA
Tabel 5.
Rating dengan nilai rata-rata sebesar 90.09%
sehingga dapat dikatakan sasaran umum ini
Fully Achieved (Tercapai Sepenuhnya).
Rekapitulasi penilaian KPA Rating untuk
sasaran umum Basic Scrum Management
dapat dilihat pada
Tabel 5. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Basic Scrum Management
No.
Proyek
Sasaran Khusus
1
Ada peran-peran Scrum
2
TE
NV
HMS
TR
Rata-rata
100.00%
100.00%
100.00%
100.00%
100.00%
Ada artefak-artefak Scrum
71.43%
80.00%
100.00%
80.00%
82.86%
3
Ada pertemuan-pertemuan Scrum
90.00%
80.00%
100.00%
70.00%
85.00%
4
Sprint dilaksanakan dengan benar
100.00%
100.00%
100.00%
70.00%
92.50%
90.36%
90.00%
100.00%
80.00%
90.09%
Rata-rata
Interpretasi
Fully Achieved (Tercapai Sepenuhnya)
4.2 Penilaian Tingkat Kematangan 2 Sasaran
Umum Software Requirements Engineering
Owner jelas; 2) Manajemen Product Backlog;
dan 3) Sprint Planning Meeting yang sukses.
Hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa nilai
rata-rata KPA Rating untuk sasaran umum
Software Requirement Engineering adalah
sebesar 85.07% dengan interpretasi Fully
Achieved (Tercapai Sepenuhnya). Rata-rata
KPA Rating untuk setiap proyek dapat dilihat
pada
Pada dasarnya proses penilaian tingkat
kematangan untuk sasaran umum Software
Requirement Engineering sama dengan proses
pada subbab sebelumnya. Sasaran umum
Software Requirement Engineering memiliki
tiga sasaran khusus yaitu: 1) Definisi Product
Tabel 6.
Tabel 6. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Software Requirement Engineering
No.
Proyek
Sasaran Khusus
TE
NV
HMS
TR
Rata-rata
1
Definisi Product Owner jelas
87.50%
83.33%
83.33%
75.00%
82.29%
2
Manajemen Product Backlog
91.67%
91.67%
91.67%
91.67%
91.67%
3
Sprint Planning Meeting yang sukses
75.00%
83.33%
91.67%
75.00%
81.25%
84.72%
86.11%
88.89%
80.56%
85.07%
Rata-rata
Interpretasi
Fully Achieved (Tercapai Sepenuhnya)
4.3 Penilaian Tingkat Kematangan 3 Sasaran
Umum Customer Relationship Management
Ahlijati Nuraminah
Page 2
Penilaian tingkat kematangan sasaran umum
pada subbab ini akan merinci tingkat
kematangan untuk sasaran umum Customer
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Relationship Management yang memiliki tiga
sasaran khusus yaitu: 1) Ada Definisi Selesai/
Done; 2) Product Owner Tersedia; dan 3) Sprint
Review Meeting yang Sukses. Dari ketiga
sasaran khusus yang terdapat pada sasaran
umum Customer Relationship Management,
diperoleh hasil rekapitulasi KPA Rating dengan
nilai rata-rata sebesar 75.00% sehingga dapat
dikatakan sasaran umum ini Largerly Achieved
(Sebagian Besar Dicapai). Hasil rekapitulasi
secara lengkap untuk sasaran umum Customer
Relationship Management dapat dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Customer Relationship Management
No.
Proyek
Sasaran Khusus
TE
NV
HMS
TR
Rata-rata
1
Ada definisi “Selesai”
75.00%
75.00%
75.00%
75.00%
75.00%
2
Product Owner tersedia
100.00%
50.00%
100.00%
50.00%
75.00%
3
Sprint Review Meeting yang sukses
75.00%
75.00%
75.00%
75.00%
75.00%
83.33%
66.67%
83.33%
66.67%
75.00%
Rata-rata
Interpretasi
Largerly Achieved (Sebagian Besar Dicapai)
4.4 Penilaian Tingkat Kematangan Sasaran
Umum Iteration Management
rekapitulasi KPA Rating adalah rata-rata
sebesar 63.54% sehingga dapat dikatakan
sasaran umum ini Largerly Achieved (Sebagian
Besar Dicapai). Rata-rata KPA Rating untuk
keempat proyek cukup bervariasi yang dapat
dilihat pada Tabel 8.
Proses penilaian tingkat kematangan subbab
ini pada dasarnya sama dengan subbab-subbab
sebelumnya. Sasaran khusus yang dinilai
adalah 1) Pengelolaan Sprint Backlog; 2) Iterasi
direncanakan; dan 3) Velocity yang terukur;
dan 4) Daily Scrum yang sukses. Hasil
.
Tabel 8. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Iteration Management
No.
Proyek
Sasaran Khusus
TE
NV
HMS
TR
Rata-rata
1
Pengelolaan Sprint Backlog
57.14%
57.14%
71.43%
64.29%
62.50%
2
Iterasi direncanakan
87.50%
87.50%
87.50%
87.50%
87.50%
3
Velocity yang terukur
50.00%
33.33%
33.33%
33.33%
37.50%
4
Daily Scrum yang sukses
66.67%
58.33%
75.00%
66.67%
66.67%
65.33%
59.08%
66.82%
62.95%
63.54%
Rata-rata
Interpretasi
Largerly Achieved (Sebagian Besar Dicapai)
4.5 Penilaian Tingkat Kematangan Sasaran
Umum Standardized Project Management
Sasaran
umum
Standardized
Project
Management adalah satu-satunya sasaran
Ahlijati Nuraminah
Page 11
umum yang harus dicapai untuk mencapai
tingkat kematangan 4. Sasaran umum
Standardized Project Management hanya
memiliki sebuah sasaran khusus yaitu
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
“Manajemen proyek yang distandarisasi”. Hasil
rekapitulasi menunjukkan bahwa nilai rata-rata
yang diperoleh keempat proyek adalah sebesar
50.00% sehingga dapat dikatakan sasaran
umum ini Partially Achieved (Sebagian
Dicapai). Hasil rekapitulasi lengkap dapat
dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Standarized Project Management
No.
Sasaran Khusus
1
Manajemen proyek yang distandarisasi
Rata-rata
Proyek
Rata-rata
TE
NV
HMS
TR
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
Interpretasi
Partially Achieved (Sebagian Dicapai)
4.6 Penilaian Tingkat Kematangan Sasaran
Umum Performance Management
KPA Rating dengan nilai rata-rata sebesar
45.83% sehingga dapat dikatakan sasaran
umum ini Partially Achieved (Sebagian
Dicapai). Proyek TE dan NV memperoleh ratarata KPA Rating yang sama sebesar 41.67%,
sedangkan proyek HMS dan proyek TR samasama memperoleh KPA Rating sebesar 50.00%.
Hasil rekapitulasi lengkap dapat dilihat pada
Penilaian tingkat kematangan untuk sasaran
umum Performance Management dilakukan
dengan melakukan penilaian pada dua sasaran
khusus yaitu 1) Sprint Retrospective yang
sukses dan 2) Indikator positif. Dari keempat
proyek yang diteliti, diperoleh hasil rekapitulasi
Tabel 10.
Tabel 10. Rekapitulasi KPA Rating Sasaran Umum Performance Management
No.
Proyek
Sasaran Khusus
TE
NV
HMS
TR
Rata-rata
1
Sprint Retrospective yang sukses
50.00%
50.00%
66.67%
50.00%
54.17%
2
Indikator positif
33.33%
33.33%
33.33%
50.00%
37.50%
41.67%
41.67%
50.00%
50.00%
45.83%
Rata-rata
Interpretasi
Partially Achieved (Sebagian Dicapai)
Dari hasil penilaian tingkat kematangan untuk
masing-masing sasaran umum, kemudian
dilakukan rekapitulasi terhadap perolehan KPA
Rating untuk menetapkan tingkat kematangan
secara keseluruhan. Perolehan KPA Rating
pada setiap sasaran umum akan diinterpretasi
untuk menentukan apakah sebuah sasaran
umum berada pada posisi Fully Achieved
(Tercapai Sepenuhnya), Largerly Achieved
(Sebagian Besar Dicapai), Partially Achieved
(Sebagian Dicapai), atau Not Achieved (Tidak
Tercapai). Tingkat kematangan secara
Ahlijati Nuraminah
Page 12
keseluruhan akan berada pada tingkat dimana
seluruh KPA dari sasaran umum tercapai
sepenuhnya (Nilai KPA Rating ≥ 86% untuk
setiap KPA).
Berdasarkan hasil rekapitulasi KPA Rating dari
seluruh sasaran umum yang telah dinilai pada
semua tingkat, diperoleh hasil bahwa
manajemen proyek PT. XYZ berada pada
tingkat kematangan 2. Rekapitulasi perolehan
KPA Rating lengkap dapat dilihat pada Tabel
11.
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Tabel 11. Hasil Interpretasi KPA Rating
Proyek
TE
NV
HMS
TR
Ratarata
KPA Rating
90.36%
90.00%
100.00%
82.50%
90.71%
Interpretasi
F
F
F
L
F
Software Requirements
Engineering
KPA Rating
84.72%
86.11%
88.89%
80.56%
85.07%
Interpretasi
L
F
F
L
F
Customer
Relationship
Management
KPA Rating
83.33%
66.67%
83.33%
66.67%
75.00%
Interpretasi
L
L
L
L
L
KPA Rating
65.33%
59.08%
66.82%
62.95%
63.54%
Interpretasi
L
L
L
L
L
KPA Rating
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
50.00%
Interpretasi
P
P
P
P
P
KPA Rating
41.67%
41.67%
50.00%
50.00%
45.83%
Interpretasi
P
P
P
P
P
Tingkat
Sasaran Umum
Basic Scrum Management
2
3
Iteration Management
4
Standardized
Management
5
Performance
Management
Project
KPA Rating/
Interpretasi
Keterangan: N: Not Achieved
L: Largerly Achieved
P: Partially Achieved
F: Fully Achieved
Hasil pengukuran tingkat kematangan
diperoleh hasil bahwa PT. XYZ masih berada
pada tingkat kematangan 2. Untuk mencapai
tingkat kematangan yang lebih tinggi
diperlukan perbaikan-perbaikan pada proses
pengembangan perangkat lunak. Sasaran
perbaikan untuk mencapai tingkat di atas 2
diperoleh dengan melakukan identifikasi
praktik-praktik yang harus dilakukan pada
sasaran umum-sasaran umum untuk setiap
tingkat dimana KPA Rating belum tercapai
sepenuhnya. Pemilihan praktik didasarkan
pada hasil penilaian kuesioner terhadap butirbutir pertanyaan yang bernilai “Tidak”,
“Sebagian”, dan “Tidak Berlaku”.
4.7 Rekomendasi Sasaran Perbaikan untuk
Tingkat Kematangan 3
Hasil
pemetaan
rekomendasi sasaran
perbaikan untuk tingkat kematangan 3
ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 12. Rekomendasi Sasaran Perbaikan Tingkat 3
Sasaran Umum
Sasaran Khusus
Praktik Perbaikan
1.
1. Ada definisi
“Selesai”
Customer
Relationship
Management
2. Product Owner
tersedia
2.
1.
2.
1.
3. Sprint Review
Meeting yang sukses
Ahlijati Nuraminah
2.
Setiap proyek perlu memastikan bahwa definisi “Selesai” tercapai
dalam setiap iterasi
Setiap tim harus menghargai definisi ”Selesai”
Setiap proyek harus memastikan bahwa Product Owner tersedia bagi
tim
Setiap proyek harus memastikan bahwa Product Owner dapat
dihubungi dengan mudah
Setiap proyek harus dapat menunjukkan hasil jadi software yang telah
melalui pengujian
Pada setiap Sprint Review Meeting, Product Owner dan stakeholder
lainnya memberikan umpan balik
Page 13
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
Sasaran Umum
Sasaran Khusus
Praktik Perbaikan
1.
1. Pengelolaan Sprint
Backlog
2.
3.
1.
Iteration
Management
2. Daily Scrum yang
sukses
2.
3.
1.
3. Velocity yang
terukur
2.
3.
Sprint Backlog harus dibagi-bagi ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang
lebih kecil.
Semua anggota tim harus ikut melakukan estimasi
Sisa upaya untuk estimasi setiap pekerjaan diperbarui setiap hari
Setiap proyek harus melaksanakan Daily Scrum setiap hari kerja pada
tempat dan waktu yang sama.
Di dalam Daily Scrum harus diidentifikasi masalah-masalah dan
hambatan yang dihadapi.
Setiap anggota tim dapat mengetahui apa yang sedang dikerjakan
anggota lainnya.
Sprint Burndown Chart dibuat dan dapat diakses oleh semua anggota
tim
Sprint Burndown Chart diperbarui setiap hari
Scrum Master melakukan analisis rutin terhadap progres Sprint
4.8 Rekomendasi Sasaran Perbaikan untuk
Tingkat Kematangan 4
Hasil pemetaan sasaran perbaikan untuk
tingkat kematangan 4 ditunjukkan pada Tabel
13.
Tabel 13. Rekomendasi Sasaran Perbaikan Tingkat 4
Sasaran Umum
Standardized
Project
Management
Sasaran Khusus
1. Manajemen Proyek
yang Distandarisasi
Praktik Perbaikan
Semua proyek harus dikelola dengan kesesuaian pada seluruh tujuan,
sasaran, dan praktik-praktik dari tingkat 2 dan 3 pada Scrum Maturity
Model.
4.9 Rekomendasi Sasaran Perbaikan untuk
Tingkat Kematangan 5
Sasaran perbaikan untuk tingkat kematangan 5
ditunjukkan pada Tabel 14.
Tabel 14. Rekomendasi Sasaran Perbaikan Tingkat 5
Sasaran Umum
Performance
Management
Sasaran Khusus
1. Sprint Retrospective
yang Sukses
2. Indikator Positif
Praktik Perbaikan
1.
Sprint Retrospective Meeting harus dapat menghasilkan saran
perbaikan yang konkrit
2.
Beberapa saran yang dihasilkan harus dapat diimplementasikan
3.
1.
3.
Pelajaran yang diambil dicatat
Setiap proyek dapat mencapai tingkat energi dan kepuasan yang
tinggi dari seluruh tim
Setiap proyek dapat mencapai tingkat kepuasan yang tinggi dari
stakeholder
Jam kerja tambahan langka, jika terjadi, dilakukan secara sukarela
4.
Diskusi dan kritik yang membangun terjadi pada proyek
5.
Eksperimen dan perbaikan proses Scrum dapat dilakukan pada
setiap proyek
2.
Ahlijati Nuraminah
Page 14
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
5. KESIMPULAN DAN SARAN
4)
Berdasarkan hasil dan analisis yang telah
dilakukan, berikut uraian kesimpulan
penelitian:
1) PT. XYZ telah mencapai tingkat
kematangan 2 pada Scrum Maturity
Model.
2) Untuk tingkat kematangan 3, PT. XYZ
berada pada posisi Largerly Achieved
(Sebagian Besar Tercapai)
3) Untuk tingkat kematangan 4, PT. XYZ
berada pada posisi Partially Achieved
(Sebagian Tercapai)
4) Untuk tingkat kematangan level 5, PT.
XYZ berada pada posisi Partially Achieved
(Sebagian Tercapai)
5) Rekomendasi perbaikan yang disarankan
ditetapkan untuk masing-masing tingkat
kematangan. Untuk tingkat kematangan
3 disarankan untuk memperbaiki praktikpraktik pada sasaran khusus yang terkait
dengan manajemen hubungan dengan
pelanggan dan manajemen iterasi.
6) Rekomendasi perbaikan untuk tingkat
kematangan 4 disarankan untuk
memperbaiki sebuah praktik pada
sasaran khusus yang terkait standarisasi
manajemen proyek.
7) Rekomendasi perbaikan untuk tingkat
kematangan 5 disarankan untuk
memperbaiki
praktik-praktik
pada
sasaran khusus yang terkait manajemen
kinerja proyek.
Berikut saran bagi PT. XYZ sebagai subyek
penelitian:
1) Pemahaman tentang kerangka kerja
Scrum beserta seluruh praktik, cara kerja
dan aturan-aturannya harus diketahui
dan dipahami oleh seluruh anggota tim.
2) Penerapan kerangka kerja Scrum dapat
memberikan hasil yang maksimal jika
diterapkan secara konsisten di semua
proyek.
3) Product Owner harus diberikan pelatihan
dan pemahaman yang memadai tentang
tugas dan perannya selama proyek
berlangsung, sehingga hubungan dengan
Ahlijati Nuraminah
Page 15
5)
pelanggan dapat dimaksimalkan.
Kerangka
kerja
Scrum
dapat
dikombinasikan dengan manajemen
proyek lain untuk melingkupi aspekaspek proyek yang tidak dicakup oleh
Scrum seperti aspek budget.
Dalam kerangka kerja Scrum, pengujian
yang dilakukan sebelum demonstrasi
produk masih harus ditambahkan dengan
pengujian intensif misalnya system
integration testing.
Dari sisi akademis, berikut saran-saran yang
dapat diberikan:
1) Penelitian dapat melibatkan lebih banyak
proyek untuk menilai tingkat kematangan
yang lebih baik.
2) Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan
mengkombinasikan metode kualitatif
untuk menghasilkan strategi perbaikan
yang lebih sistematis dan komprehensif.
DAFTAR REFERENSI
[1] L. Applegate, R. D. Austin dan D. L. Soule,
Corporate Information Strategy and
Management, New York: McGraw-Hill,
2009.
[2] K. Schwaber, Agile project management
with Scrum, Redmond, WA: Microsoft
Press, 2004.
[3] K. Schwaber dan M. Beedle, Agile Software
Development with Scrum, Series in Agile
Software Development, Prentice Hall,
2002.
[4] K. Schwaber dan J. Sutherland, “The Scrum
Guide,” October 2011. [Online]. Available:
www.scrum.org. [Diakses 20 March 2014].
[5] P. Green, “Measuring the Impact of Scrum
on Product Development at Adobe
Systems,” dalam Proceedings of the 44th
Hawaii International Conference on System
Sciences, Hawaai, 2011.
Scrum, Scrum Maturity Model
I-STATEMENT
STIMIK ESQ | I-4
Volume 2 Nomor 2, Agustus 2016
[6] V. Mahni dan N. Zabkar, “Measuring
Progress of Scrum-based Software
Projects,”
ELEKTRONIKA
IR
ELEKTROTECHNIKA, pp. ISSN 1392-1215,
VOL. 18, NO. 8, 2012.
[7] D. Bustard, G. Wilkie dan D. Greer, “The
Maturation
of
Agile
Software
Development Principles and Practice
Observations on Successive Industrial
Studies in 2010 and 2012,” dalam 20th
Annual IEEE International Conference and
Workshops on the Engineering of
Computer Based Systems (ECBS), 2013.
[8] PM Solutions, “Project Management Maturity
Model,”
2013.
[Online].
Available:
www.pmsolutions.com/resources/view/whatis-the-project-management-maturity-model/.
[9] Project Management Institute, A Guide to
the Project Management Body of
Knowledge (PMBOK Guide), Fifth Edition,
Sylva, North Carolina: PMI Publishing
Division, 2009.
[10] Office of Government Commerce,
Portfolio,
Programme
&
Project
Management Maturity Model (P3M3),
Office of Government Commerce, 2006.
[13] A. Yin, S. Figueiredo dan M. d. S. Miguel ,
“Scrum Maturity Model, Validation for IT
organizations’ roadmap to develop
software centered on the client role,”
dalam International Conference on
Software Engineering Advances(ICSEA),
Barcelona, 2011.
[14] O. Salo dan P. Abrahamsson, “Agile
methods in European embedded software
development organisations: A survey on the
actual use and usefulness of Extreme
Programming and Scrum,” IET Software, pp.
58-64, 2008.
[15] K. Beck, M. Beedle, A. v. Bennekum, A.
Cockburn, W. Cunningham, M. Fowler, J.
Grenning, J. Highsmith, A. Hunt, R. Jeffries,
J. Kern, B. Marick, R. C. Martin, S. Mellor, K.
Schwaber, J. Sutherland dan D. Thomas,
“Manifesto
for
agile
software
development,” 2001. [Online]. Available:
http://www.agilemanifesto.org. [Diakses
20 March 2014].
[16] M. B. Chrissis, M. Konrad dan S. Shrum,
CMMI Guidlines for Process Integration and
Product Improvement, Inc. Boston, MA,
USA: Addison-Wesley Longman Publishing
Co., 2003.
[11] M. Paulk, C. Weber, S. Garcia, M. Chirssis
dan M. Bush, Capability Maturity Model for
Software, Version 1.2, Pittsburgh, PA:
Software Engineering Institute, Carnegie
Mellon University, 2010.
[12] C. Patel dan M. Ramachandran, “Agile
maturity model (amm): A software process
improvement framework for agile
software
development
practices,”
International Journal of Software, pp. 2, 328, 2009.
Ahlijati Nuraminah
Page 16
Scrum, Scrum Maturity Model
Download